Anda di halaman 1dari 19

PENDEKATAN PERENCANAAN GABUNGAN

STUDI KASUS: PERENCANAAN PROGRAM BAAN MANKONG DI THAILAND


Disusun Oleh: Mufna Mubdiatun Nida Natalia Riza Putri A. Nela Agustin K. Nowo Indriyanto

OUTLINE
PENDAHULUAN

Pendahuluan Profil Program Baan Mankong

ISI

Kajian Pustaka Efektivitas Teori Perencanaan Kesimpulan Rekomendasi

PENUTUP

PERENCANAAN DAN PEMBANGUNAN BAAN MANKONG

PROFIL (apa?)
Subsidi biaya infrastruktur & pinjaman lunak perumahan dari pemerintah Penyaluran dana dari pemerintah diperuntukkan bagi komunitas miskin Koordinasi dana pembangunan menjadi tanggung jawab bersama dalam komunitas miskin dan jaringannya. Komunitas miskin sebagai aktor utama pembangunan Jangka Panjang bagi pembangunan lingkungan dan perumahan mereka. Penyelesaian permasalah tanah dan perumahan di kota secara lebih komprehensif, sustainable dan berbiaya relatif murah.

Profil (Siapa?)

CODI???

Langkah-langkah yang dilakukan para stakeholders dalam program Baan Mankong:


Dukungan Lingkungan & Kebijakan Dukungan Data dan Informasi yang update Pemerintah hanya bersifat sebagai fasilitator Urvei komunitas miskin secara berkala oleh berperan sebagai penyalur dana kelompok kerja dan jaringan untuk subsidi infrastruktur dan pinjaman lunak untuk menentukan kota mana yang paling penting perumahan. untuk diperbaiki. Data yang update dapat mengurangi kegagalan perencanaan. Partisipasi Penuh Masyarakat dalam perencanaan Adanya Pembelajaran langsung learning by Masyarakat miskin sebagai aktor utama, yang Doing diberikan kebebasan untuk merencanakan Pemerintah Thailand sebelumnya telah arah program dan mencari pemecahan menetapkan 10 proyek percontohan masalah sesuai dengan konteks mereka. pertama untuk menasionalisasi proses pembelajaran. Kekuatan Jaringan Adanya kekuatan jaringan komunitas Pemberdayaan Pengelolaan Keuangan pembentukan jaringan komunitas di tiap-tiap Karena komunitas sebagai pengambil kota dan memasukkan ide dan rumusan dari keputusan dan pengelola keuangan, maka komunitas masyarakat miskin ke dalam subsidi yang ada bisa dimanfaatkan rumusan proyek. sehemat , seinovatif, dan sekreatif mungkin sesuai Adanya konsep kemitraan kebutuhan mereka. LSM , pemerintah , akademisi tergabung dalam satu kepanitiaan dalam perencanaan dan pembangunan proyek Baan Mangkong bekerjasama dengan jaringan komunitas.

KAJIAN PUSTAKA

Perencanaan Gabungan (top down dan bottom up)


Perencanaan yang disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat dan program yang diinginkan oleh masyarakat yang merupakan kesepakatan bersama antara pemerintah dan juga masyarakat sehingga peran antar satu dan keduanya saling berkaitan.

KELEBIHAN
Masyarakat mampu berkreasi dalam mengembangkan ide-ide mereka sehingga mampu berjalan beriringan bersama dengan pemerintah sesuai dengan tujuan utama yang diinginkan dalam mencapai kesuksesan dalam menjalankan suatu program tersebut

Masyarakat memiliki kemampuan untuk berpartisipasi, dalam bentuk: 1. Memiliki Informasi. 2. Pengetahuan (Knowledge). 3. Ketrampilan (Skills). 4. Modal (Capital). 5. Tenaga. 6. Posisi tawar (Bargaining Position). 7. Kebersamaan.

Lingkungan mendukung terjadinya partisipasi: 1. Kebijakan pemerintah. 2. Peraturan. 3. Tujuan/sifat program/ proyek. 4. Bentuk program/ proyek. 5. Biaya proyek/ program. 6. Budaya, agama dan adat istiadat.

Masyarakat berpartisipasi, dalam bentuk: 1. Memberikan informasi. 2. Menyumbangkan pendapat. 3. Datang ke pertemuan masyarakat. 4. Menyumbangkan modal. 5. Menyumbangkan tenaga. 6. Memberikan dukungan. 7. Menjadi anggota organisasi.

Teori Perencanaan 9 HW-2004

PROSES PERENCANAAN GABUNGAN (MIX) DALAM PROGRAM BAAN MANKONG

PROSES PERENCANAAN PROGRAM BAAN MANGKONG


Bersama-sama Menuangkannya ke dalam dokumen yang mencakup: peta, rencana lay-out

Masyarakat dan LSM membangu n aktivitas menabung dan pemberian kredit bagi komunitas secara luas

Pembentukan dan penguatan jaringan komunitas miskin dalam skala luas, dan akhirnya menggunakan kemampuan manajerial dari aktivitas menabung dan membuat jaringan untuk memecahkan persoalan perumahan dalam skala yang lebih luas

komunitas,

Bersamasama mengump ulkan memaham i seluruh komunitas miskin di kota mereka

Merencan akan proses pengemba ngan yang mencakup seluruh komunitas yang ada di kota, sebanyak mungkin.

Desain perumahan baru, detail anggaran, dan cara kerja tata ruang kota

menjelaskan bagaimana mereka akan menyediakan lahan yang layak, infrastruktur yang baik, dan rumah yang lebih baik bagi seluruh komunitas miskin kota dalam 3 tahun.

Langkah-langkah yang dilakukan para stakeholders dalam program Baan Mankong:


1. Mengenali pihak-pihak terkait dan mengampanyekan program 2. Mengorganisir pertemuan jaringan 3. Mengorganisir pertemuan kelompok 4. Membentuk panitia bersama 5. Mengadakan pertemuan kota 6. Menyurvei komunitas-komunitas 7. Merencanakan pembangunan seluruh kota 8. Membentuk tabungan kelompok 9. Memilih proyek percontohan Mempersiapkan rencana pembangunan pada proyek percontohan Menyetujui proyek percontohan Memulai pembangunan Menjadikan proyek percontohan sebagai pusat pembelajaran Memperluas proses perbaikan Menintegrasikan rencana pengembangan ke dalam pembangunan perkotaan Membangun jaringan warga yang lebih luas Pertukaran

CODI & Masyarakat

EFEKTIFITAS TEORI PERENCANAAN GABUNGAN (MIX) DALAM PROGRAM BAAN MANKONG

Keberhasilan Program Baan Mankong


Adanya kepemilikan modal sosial yang besar, yaitu dengan terwujudnya perumahan luas, fleksibel, penting, yang terjangkau, berlokasi-terpusat, dan secara sosial mendukung kepada orang-orang yang kerja keras dan semangat kewirausahaannya telah menjadi bagian penting dari peningkatan kesejahteraan negara Dapat mencapai target: membangun perumahan, kondisi hidup, dan jaminan status lahan bagi 300.000 rumah tangga dari 2.000 Komunitas miskin di Thailand. Sejak Desember 2006, proyek perbaikan 773 masyarakat telah diselesaikan atau dalam proses di 158 kota di Thailand, memberi dampak pada 45.504 rumah tangga.

BEFORE AFTER

FAKTOR KEBERHASILAN PROGRAM BAAN MANKONG


Menggunakan pendekatan perencanaan top down sekaligus bottom up: Proses perbaikan pemukiman yang melibatkan pihak pemerintah, LSM,dan yang terpenting: masyarakat penghuni pemukiman itu sendiri, Komunitas miskin bekerjasama secara erat dengan pemerintah daerah, kaum professional, universitas, dan berbagai LSM untuk menyurvei semua komunitas yang ada di kota mereka, kemudian merancang proses pengembangan yang bertujuan memperbaiki seluruh komunitas selama empat tahun kedepan.

Pemerintah Kota (NHA)

LSM (CODI)

MASYARAKAT

PENUTUP

Kesimpulan
1. Perencanaan dan Pembangunan Baan Mankong menerapkan konsep perencanaan gabungan (top down dan bottom up), yang melibatkan peran masyarakat (komunitas) secara besar, dengan tetap menghiraukan kebijakan pemerintah. Komunitas miskin menjadi aktor utama, yang merencanakan, merancang dan membangun perumahan dan lingkungan mereka, sesuai kebutuhan/ keinginan mereka. Pemerintah dengan bantuan CODI (LSM) melakukan pembangunan SDM untuk bisa melakukan perencanaan dengan baik dan melakukan sistem penyaluran dana secara tepat. Program Perencanaan Baan Mankong dianggap sangat efektif dengan beberapa bukti keberhasilan perencanaan dan pembangunan yang ada.

2. 3. 4.

REKOMENDASI
Terkait dengan pembelajaran program perencanaan dan pembangunan di Baan Mankong, maka dapat beberapa poin yang dapat diterapkan pada perencanaan dan pembangunan di Indonesia, seperti: Pembentukan kualitas SDM pada konsep bottom up atau gabungan yang disesuaikan dengan program perencanaan dan pembangunan yang akan diterapkan. Pembentukan sistem pelaksanaan perencanaan dan pembangunan secara jelas dan terorganisir, baik cara maupun pihak yang terlibat dalam setiap langkah perencanaan dan pembangunan. Penerapan koordinasi yang baik antarstakeholder, yang dilakukan secara berkala. Penentuan program perencanaan dan pembangunan yang disesuaikan dengan kondisi eksisting pada waktu tersebut (pemberlakuan sistem update data perencanaan).

SUMBER
http://uplink.urbanpoor.or.id www.unescap.org