Anda di halaman 1dari 4

Wajah Bopeng Itu Bernama Mahasiswa Oleh: Asran Salam

Demonstrasi dalam meruntuhkan tirani Adalah ibadah yang melampaui hari, bulan dan tahun (Imam Khomeni)

Malam sudah menujukkan pukul 20.00, tubuh semakin lelah dan pikiran pun ikut merasakan kelelahan itu, apatahlagi tema yang dibicarakan dalam diskursus kali ini adalah tentang gerakan mahasiswa dan pemuda namun untuk menghormati forum saya sediakan waktu untuk tetap bertahan dan mendengar. Membincang gerakan mahasiswa dan pemuda mengingatkan saya pada yang lalu ketika saya bertemu dan sedang berdiskusi dengan salah satu teman. Pertemuan dengan teman tersebut memberikan saya gambaran tentang kondisi mahasiswa sekarang ini, kata teman saya mahasiswa sekarang ini telah kehilangan identitas, karakter, keberanian untuk berkata tidak kepada ketidakadilan, kepada kekuasaan yang telah merampas hak-hak rakyat. Kalau toh ada mahasiswa yang berani berteriak, itu hanya teriakan yang seolah-seolah berani karena setelah itu mereka datang keteras-teras penguasa menghadapakan wajahnya sambil menundukkan kepala dan melupakan teriakkannya. Saya pikir penggambaran teman saya itu banyak benarnya bila melihat kondisi mahasiswa sekarang ini. Penggambaran teman saya itu pun mengingatkan saya pada cerita Socrates. Saat itu ketika Socrates ditanya dan diberikan pilihan bila dilahirkan untuk kedua kalinya apakah engkau masih ingin menjadi seorang intelektual? Tidak, Jawab Socrates saya memilih menjadi orang kaya, Mengapa? Karena saya menemukan banyak para intelektual yang datang keteras-teras penguasa. Mahasiswa yang mengaku dirinya aktivis dalam wajah yang lain pun dapat kita lihat bagaimana telah kehilangan independesinya karena kontrol partai politik telah menjadi bingkai dalam geraknya. Mereka para mahasiswa tentunya sebagian telah dijadikan sebagai cukong-cukong oleh politisi untuk kepentingan politiknya dan mahasiswa berposisi layaknya buruh yang di upah dengan gaji tertentu. Mahasiswa sebagai pemikir yang kritis terhadap kondisi realitas yang menyimpan pun telah bergeser oreantasinya, sekarang kritis tak lebih sebagai senjata atau amunisi untuk menaikkan harga mahasiswa didepan para politisi ataupun di depan penguasa. Kritis yang bertujuan untuk menemukan kebenaran tak lagi menjadi roh dalam diri mahasiswa, mahasiswa sebagai manusia takut untuk memilih sebagaimana yang dipilh oleh Gie bahwa Saya adalah manusia bukan alat siapapun. Kebenaran tidak

datang dari intruksi dari siapa pun juga tetapi harus dihayati secara kreatif. A man is as he things[1]. Mahasiwa tidak mampu untuk menahan hasratnya untuk menjadi orang yang mapan, mereka tidak tahan untuk menderita, takut akan kemiskinan sehingga pilihan-pilihan hidup terjebak pada arus yang begitu banyak tergadai dengan dalih untuk mempersiapkan masa depan, bagaimana bisa mau merasakan penderataan rakyat, mengetahu bagaimana pedihnya pemiskinan bukankah Hanya seorang miskin yang bisa menghargai nilai kemiskinan. Hanya seorang miskin yang tahu nilai penderitaan[2]. Nurani begitu mudah untuk tergadai, ada ketakutan akan masa depan yang tidak jelas, sehingga sebagai langkah taktis untuk merancang masa depan mahasiswa bersenggama dengan kekuasaan. Mungkin kebenaran kata-kata Soe Hok Gie tidak hanya merekam pada konteks mahasiswa pada zamanya namun hingga sekarang ini tetap benar bahwa dan mereka tidak berpikir kreatif, terlalu pragmatis, takut memikirkan masa depan[3]. Mahasiswa sering pula di identikkan dengan kaun intelektual kritis tapi benarkah demikian? Bukankah terma intelektual adalah suatu terma yang memihak kepada kebenaran? seorang Intelektul dalam Keadaan terdesak lalu tidak bisa berbuat apaapa sama halnya dia teleh meruntuhkan kemanusiaanya[4]. Kata-kata Gie ini bagi saya telah memberikan batasan tentang intelektual sebagai orang yang memihak kepada kemanusiaan. Mahasiswa telah kehilangan arus intelektual dimana keberpihakan kepada kemanusiaan dalam bingkai pengetahuan yang luas, kekuatan batin yang kuat untuk menahan hasrat, dan sibuk kepada hal-hal yang pada dasarnya telah keluar dari habitus-nya. Sikap hedonisme pun tak ketinggalan menjadi wajah bopeng mahasiswa saat ini, kita bisa menyaksikan bagaimana modis, trend dan gaul menjadi keseharian yang begitu dekat. Namun pada sisi lain kita perlu bijak dalam melihat keterpurukan mahasiswa bahwa arus yang kuat dalam mencenkram tubuhnya, ruang untuk menjadi kritis telah di tutup oleh birokrasi. Petinggi-petinggi kampus merepresi mahasiswa dengan tekanan aturan-aturan yang telah merunggut kebebasan mahasiswa untuk berekspresi. Birokrasi bejat, mahasiswa penakut merupakan ciri sempuna dari lonceng kematian gerakan mahasiswa.

Hari ini aku lihat kembali wajah-wajah halus yang keras Yang berbicara tentang kemerdekaan Dan demokrasi dan bercita-cita menggulinkan tiran

Aku mengenali mereka yang tanpa tentara Mau berperang melawan diktator Dan yang tanpa uang Mau memberantas korupsi Kawan-kawan kuberikan cintaku Dan maukah kau berjabat tangan dan selalu dalam hidup[5] (Soe Hok Gie)

Puisi diatas adalah sebuah penggambaran wajah-wajah mahasiswa yang bagi Gie cita-cita dan harapan namun mahaiswa tak sedikitpun memiliki senjata yang ampuh untuk melawan tiran, diktator. Gie secara sedehana menggambar semua itu dalam bait puisi-puisi di atas sehingga mahasiswa saatnya memulai berani untuk bertanya siapakah saya? Apakah yang mesti saya lakukan? Ini adalah sebuah tanya dimana mahasiswa harus memberi ruang kepada keheningan untuk menghayati dirinya. Bukankah keheningan itu adalah Keheningan memiliki daya yang unik dan asli, yang hakiki. Keheningan tidak mengisolasi kita dari keberadaan diri kita tetapi mendekatkan eksistensi kita dengan hakikat segala Sesuatu. Kita menjadi dekat dengan diri kita sendiri[6]. Mahasiswa untuk saat ini baiknya melakukan hijrah dimana hijrah tidak mesti untuk dipahami sebagaimana yang umum selama ini bahwa hijrah itu sebagai dimensi ruang dan waktu akan tetapi sesekali mahasiswa berhijrah ke-dalam melihat titik awal dirinya. Dengan demikian semuanya akan jelas bopeng-bopeng itu hingga mahasiswa dapat mengetahui dirinya bahwa sesuatu yang sakit dalam tubuhnya. Sejenak jedah untuk berteriak tentang idelaisme mahasiswa, intelektual, nurani, bila semua itu hanyalah semu dan penuh dengan dusta. Sekiranya ada kerelaan untuk kembali memaknai idelaisme mahasiswa, intelektual, nuraninya dan bertanya kepada diri seperti anak kecil, seperti anak pemula yang terus bertanya-tanya dan selalu bertanya. Ada harap dengan selalu betanya pada diri adalah sebuah langkah untuk mengenali diri secara geneuin, menemukan diri dalam keadaan telajang serta membersihkan kototran-kotoran yang melekat pada tubuh hingga mahasiswa dapat kembali sempurna dengan atribut intelektual, idealisme yang benar-benar luhur suci dan tulus di gunakan untuk keberpihakan kepada kemanusiaan[*].

Referens:

[1]. Soe Hok Gie, Zaman Perlalihan, Gagas Media 2005. Hlm: 156 [2]. Dominique Lapierre; Negeri Bahagia, Hlm: 709 [3]. Rudy Badil Dkk, Soe Hok Gie, Kompas, 2010. Hlm: 418 [4]. Film Gie, Mira Lesmana [5]. Rudi badil dkk, Soe Hok Gie, Kompas, 2010. Hlm: 104 [6]. Himat Budiman, Pembunuhan yang Selalu Gagal. Hlm: 2