Anda di halaman 1dari 10

INSTALASI FARMASI RSU DR.

SOETOMO
DFP 1 - LEMBAR PENGOBATAN

DOKUMEN FARMASI PENDERITA


SMF : OBGYN
Diagnosa : -SOT diduga ganas pro TAH-BSO + VC (17/2/12) -Ca Ovarium III C post debulking ovarium mass + partial omentektomi (incomplete surgical staging) (21/2/12)

Lembar Ke : 1

No. DMK 1212-04-19 Ruangan Asal Poli 10A Rujukan dari Puskesmas Nama/ Umur Ny. Kasmirah/ 47 thn L/P Alamat Manukan Lor 3F/ 5 BB/ TB/ LPT 61 kg/ 150 cm/ 1,59 m2 Riwayat Alergi Tidak Ada

Tgl MRS/ KRS Ket. KRS Pindah ruangan/Tgl Nama Dokter Nama Apoteker

17-2-12/ 2-3-12 Post Kemo Paxus+Carbo UPI Kenari/ 21-2-12 dr. W

Gendhis Putri Medica

Alasan MRS : Mengeluh perut membesar dan mengeras. Setelah USG, ditemukan massa kistik dan asites, sehingga diperlukan pembedahan/ operasi.
Tanggal Pemberian Obat (Mulai MRS) 22/2 23/2 24/2 25/2 26/2 27/2

No

Jenis Obat Nama Dagang/ Generik

Regimen Dosis

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23.

Tab. Ciprofloxacin Fleet Syrup Infus PZ Infus RL : D5 Inj. Ketorolac Inj. Alinamin F Inj. Vitamin C Inj. Transamin Inj. Ceftriaxone Infus Tutofusin : D5 Inj. Kalnex As. Mefenamat Roburansia (SF+Vit.B) As. Tranexamat Bioplacenton Tranfusi Albumin : PZ Inj. Ranitidin Inj. Vitamin K Inj. Dexamethasone Inj. Diphenhidramin Cendancetron Carboplatin Paxus

2 x 500 mg 2 dd 1 fl 100 cc/ h 2:2 3 x 1 amp 3 x 1 amp 3 x 1 amp 3 x 1 amp 2 x 1 g IU


1000 : 500cc /24 j

17/2

18/2

19/2

20/2 O P

21/2

28/2

29/2

1/3

2/3 KRS

1x1

3 x 500 mg 3 x 500 mg 1x1 3 x 500 mg ue 20% 100cc 2 x 50 mg 3 x 1 amp 20 mg 50 mg 8 mg

1x

Catatan: 1. Pasien merupakan rujukan dari puskesmas (Jamkesda), datang ke poli 10 A dengan keluhan perut mengeras dan membesar. 2. Hasil Laboratorium dan USG: Terdapat massa kistik dengan bagian padat di dalamnya. Asites (+). 11,59 x 9,53. Ca 125=506,9. Tidak ada kelainan hepar, ginjal, jantung, dan paru. 3. Berdasarkan hasil lab dan USG, pasien didiagnosa SOT (Solid Ovarium Tumor) diduga ganas dan perlu dilakukan pembedahan/ operasi (pro TAH+BSO) 4. Tanggal 20/2/12, dilaksanakan operasi. Jenis Operasi Lama Operasi Volume Perdarahan DPO DDO : Operasi terencana, operasi bersih terkontaminasi. : 13.00-14.15 : 300 cc : SOT curiga ganas pro TAH+BSO+VC : Ca Ovarium IIIC

Ovarium

Omentum

5. Pada saat KRS, pasien mendapat: Ondansetron 8 mg (9 tab) Dexamethasone (15 tab) Metoclopramide (9 tab) 6. Kemoterapi yang diberikan adalah Paxus-Carbo I (Protokol kemoterapi Ca. Ovarium) a. Dosis Paxus (Rumus LPT) - Berat badan : 61 kg - Tinggi badan : 150 cm - LPT : Tinggi x BB 3600 b. Dosis Carboplatin (Rumus Calvert) = AUC (GFR + 25) GFR = [(140-umur) x BB x 0,85] / [72 x Scr] ml/menit = [(140-47) x 61 x 0,85] / [72 x 0,6] ml/menit = 111,62 ml/menit Dosis Carboplatin = 5 (111,62 +25) = 683,10 mg = 1.59 m 2, Dosis Paxus = 175 mg/m2 x 1.81 m2 = 278,25 mg

Peritonium

Appendix

Gambar Bentukan Massa Tumor

Nama Penderita : Ny. Kasmirah


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Data Klinik
Nadi Suhu Tekanan Darah RR Nyeri Bekas Operasi

No.DMK : 1212.04.19
17/2 84 37
110/70

IRNA/Ruangan : UPI Kenari


21/2 96 36
119/75

Lembar Ke : 2
26/2 88 36
130/80

Normal
< 90 36 - 37 120/80 20 (-)

18/2 84 37
110/70

19/2 84 36
120/80

20/2 90 36
130/90

22/2 109 37
116/82

23/2 88 37
130/90

24/2 104 36
116/79

25/2 92 36
110/70

27/2 84 36
130/80

28/2 84 36
110/20

29/2 80 36
120/80

1/3 84 36
100/80

16

16

18

18 -

20 B 456

18 B 456

18 Nyeri 456

18 Nyeri TB 456

18 Nyeri TB 456

TB 456

20 Nyeri lecet B 456

20 keluar serum

16 B B 456

16 B B 456

Luka Bekas Operasi Kondisi Umum Fluxus GCS

Baik (B) Baik (B) (-) 456 456 456 456

456

B 456

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21.

Data Laboratorium Hb Hct PLT MCV MCH MCHC GDP G2JPP Alb BUN Sc pTT aPTT SGOT SGPT K Na Cl WBC Ca 125 Ca 19-9

Normal 11-18 g/ dL 35-60 % 150-450 /uL 80-99,9 fl 27-31 pg 33-37 g/dL 3,4 5,0 g/ dL
7 18 mg/ dL 0,6 1,3 mg/ dL

17/2 11,8 37,4

18/2

20/2 7,9 24,8 335 82,3 26,1 31,7

21/2 10,6 35,2 305 84,4 25,6 30,2

23/2

26/2

27/2

29/2

11 14 25 40 15 37 u/ L 00 45 u/ L 3,55,1 mmol/ L 136145 mmol/ L 98-107 mmol/ L 4,5 10,5 < 35 < 37

92 114 3,2 8 0,5 23,2 36,5 44 28

KRS
2,5 2,6 2,6 8 0,6 3,0 53 30 4,0 130 97 11,9 506,9 18,51

2,2

15,2 31,7

17 32,9

KRS

3,5 133 98 7,5

3,5 124 12,9

INSTALASI FARMASI RSU DR. SOETOMO


DFP 2-LEMBAR MONITORING OBAT PENDERITA

Nama : Ny. Kasmirah Umur : 47 th Hari dan No. Tanggal BB : 61 kg Kode Masalah TB : 150 cm Uraian Masalah

No. DMK :1212-04-19 Ruangan : UPI Kenari Rekomendasi/ Saran

Dokter

: dr. W

Apoteker : Gendhis Putri Medica Tindak Lanjut

1.

17 & 18 /2/12

AKTUAL Adanya pemberian antibiotik kepada pasien 2 hari pre operasi, dimana pada tanggal tersebut tidak ditemui tanda-tanda infeksi/ abnormalitas SIERS. Jika, terapi antibiotik tersebut dimaksudkan untuk pemberian antibiotik profilaksis pre operasi, Sebaiknya, pasien tidak diberikan antibiotik seharusnya antibiotik diberikan antara 8-10 jam pre tersebut 2 hari pre operasi, dikarenakan tidak operasi. Dan jika, terapi ini dimaksudkan untuk diketemukan tanda-tanda SIERS dan tidak terapi empiris, seharusnya pada kondisi pasien dilakukan pemeriksaan kultur. terlihat positif tanda-tanda SIERS. Akan tetapi, pada tanggal 17 & 18, kondisi pasien stabil dan juga tidak ada pemeriksaan kultur positif. Adanya pemberian infus RL : D5 bersama dengan Inj. Ceftriaxone. Pemberian Injeksi Ceftriaxone bersama dengan infus RL : D5, dapat meningkatkan kadar ceftriaxone di dalam darah. (Drug Information Hanbook 18th) Selama 4 hari pasca operasi, pasien diberi antibiotik terapi empiris ceftriaxone. Akan tetapi, 7 hari pasca operasi, luka bekas operasi tidak bertambah baik dan pada tanggal 28/2/12, pada bekas operasi mengalami luka hingga keluar serum. Adanya pemberian as.tranexamat pada tanggal tersebut tanpa diikuti dengan adanya indikator perdarahan. (tidak ada pemeriksaan darah, fluxus (-), tidak diketahui ada perdarahan yang keluar)

Cek kembali kebenaran adanya tanda-tanda SIERS, dan bila perlu melakukan pemeriksaan kultur.

2.

20/2/12

Pemberian infus RL : D5 di beri jeda jam pemberian dengan Injeksi Ceftriaxone.

3.

20-23, 28 /2/12

2,12

4.

27-29/ 2/12

Adanya luka hingga keluar serum, ditakutkan menunjukan tanda menuju infeksi. Sebaiknya, dilakukan pengecekan kembali tanda-tanda SIERS dan pemeriksaan kultur untuk kepastian adanya infeksi, sehingga dapat diketahui kebutuhan penggunaan antibiotik yang benar. Dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait kadar darah dalam tubuh dan indikator perdarahan lainnya. Seandainya, memang tidak ditemukan adanya indikasi perdarahan, sebaiknya pemberian as.tranexamat tidak dilakukan.

5.

22-28 /2/12

6,8

6.

20-22 /2/12

6,8

7.

22, 24, 28 /2/12

8.

1/3/12

9.

1/3/12

POTENTIAL Dilakukan monitoring pemberian as.mefenamat. As.mefenamat diberikan hanya jika pasien merasa nyeri. Dilakukan monitoring pemberian Injeksi Pemberian Ketorolac dapat menyebabkan bleeding Ketorolac pasca operasi. Inj. Ketorolac bertambah parah (menghambat fungsi platelet), diberikan hanya jika pasien merasakan nyeri mengingat pasien habis melakukan operasi teramat sangat. Selain itu, dipantau pula gejala pembedahan.(Drug Information Hanbook 18th) kemungkinan timbulnya anemia. Kecepatan pemberian infus albumin yang tidak Dilakukan monitoring kecepatan pemberian terkontrol dapat menyebabkan hypervolemia. infus albumin terhadap pasien. th (Drug Information Hanbook 18 ) Premedikasi dengan antihistamin dan Paxus dapat menyebabkan mual muntah dan resiko antiemetik IV kemudian diberikan antiemetik terjadi hipersensitivitas tinggi PO post kemoterapi untuk mencegah ESO (Lacy et al, 2009) delayed Monitoring rasa nyeri Carboplatin dapat menyebabkan nyeri, mual dan Premedikasi dengan antiemetik IV sebelum muntah kemo dan antiemetik PO sesudah kemo untuk (Lacy et al, 2009) mencegah ESO delayed Pemberian Asam Mefenamat selama 1 minggu dimungkinkan dapat menyebabkan gastric ulcer. (Drug Information Hanbook 18th)

Kode Masalah: 1. Indikasi 2. Pemilihan obat 3. Dosis 4. Rute pemberian

5. Frekuensi pemberian 6. Lama pemberian 7. Inkompabilitas obat 8. ESO / ADR / alergi

9. Interaksi dengan obat 10. Interaksi dengan makanan 11. Interaksi dengan tes lab 12. Lain-lain

INSTALASI FARMASI RSU DR. SOETOMO


DFP 3-LEMBAR MONITORING EFEK SAMPING OBAT

Nama : Ny. Kasmirah Umur : 47 th No. Hari dan Tanggal BB : 61 kg Manifestasi ESO TB : 150 cm Nama Obat

No. DMK :1212-04-19 Ruangan : UPI Kenari Regimen Dosis Cara Mengatasi ESO Monitoring pemberian ceftriaxone bila ditemukan kondisi SIERS dan terdapat kultur.

Dokter

: dr. W

Apoteker : Gendhis Putri Medica Evaluasi Tgl Uraian Monitoring tanda-tanda SIERS: a. Suhu < 36oC atau >38oC b. HR > 90x/menit c. RR > 20x/menit

Meningkatnya kadar 1. 27/2/12 SGOT/ SGPT


SGOT (4453) SGPT (2830)

Ceftriaxone

2 x 1 g IU

Dan monitoring adanya peningkatan SGOT/ SGPT. Jika nantinya, peningkatan SGOT/ SGPT menjadi signifikan, pemberian antibiotik ceftriaxone diganti/dibatasi

20-23/2/12

d. WBC > 12.000 Monitoring SGOT dan SGPT Lakukan kultur untuk memastikan terapi antibiotik yang sesuai untuk pasien tersebut.

INSTALASI FARMASI RSU DR. SOETOMO


DFP 4-FORM RENCANA KERJA FARMASIS DAN LEMBAR PEMANTAUAN

Nama Px : Ny. Kasmirah Umur : 47 th


Parameter yg Dipantau Hasil Akhir yg Diinginkan

No. DMK :1212-04-19 Ruangan : UPI Kenari


Tgl 17/2 Tgl 18/2 Tgl 19/2 Tgl 20/2 Tgl 21/2 Tgl 22/2

Apoteker : Gendhis Putri Medica

Tujuan Farmakoterapi

Rekomendasi Terapi

Frekuensi Pemantauan

Tgl 23/2

Tgl. 24/2

Tgl. 25/2

Tgl. 26/2

Tgl. 27/2

Tgl. 28/2

Tgl. 29/2

Tgl. 1/3

WBC Mengatasi infeksi bakteri post OP Menjaga keseimbangan hemodinamik, elektrolit, dan nutrisi Menjaga keseimbangan kadar albumin Mengatasi nausea dan vomiting Mengatasi nyeri
Mengatasi def. faktor koagulan Mengatasi pendarahan post OP Mengatasi lecet luka post OP Memperceppat regenerasi sel post OP

Ceftriaxone

Suhu Nadi Kultur KU

5-10 x103/mm3 36-38oC < 90 kali (-) Baik (B) (mEq/L) 3,5-5,0 135-145 95-105 3,4-5,0 g/dL Mual: Muntah: Nyeri : PTT 14-18 APTT 27-39 Tidak ada perdarahan (-) Baik (B)

3 hari 1 hari 1 hari 3 hari 1 hari 37 84 37 84 36 90

7,5 36 90

12,9 36 96 37 109 37 88 36 104 36 92 36 88

11,9 36 84 36 84 B 36 80 B 36 80 B

Infus RL : D5 Infus PZ Elektrolit Infus K Tutofusin : D5 Na Cl Infus Albumin Alb Mual Muntah Nyeri
PTT APTT Perdarahan Luka Post OP KU

1 minggu

3,5 133 98 3,2

3,5 124

4 130 97 2,5 2,6 2,5 3,0

3 hari

2,2

Ranitidin
Inj. Ketorolac As. Mefenamat Inj. Vitamin K Inj. Transamin Inj. Kalnex As. Tranexamat Bioplacenton

1 hari 1 hari
Setiap 3 hari Setiap hari Setiap hari 23,2 36,5 15,2 31,7

17 32,9

Tdk baik

Tdk baik

Tdk baik

lecet

keluar serum

Inj. Vit C

Baik (B)

Setiap hari

Sebagai multivitamin Multivitamin penambah darah

Vit. BC Inj. Alinamin F Roburansia

KU KU

Baik (B) Baik (B)

Setiap hari Setiap hari

B B

B B

B B

B B

INSTALASI FARMASI RSU DR. SOETOMO


DFP 5-LEMBAR KONSELING

Nama : Ny. Kasmirah Umur : 47 th No. 1. Hari/ Tanggal 2/3 BB : 61 kg TB : 150 cm Uraian Sasaran: Pasien Pada saat KRS, pasien mendapatkan obat dengan konseling terkait: 1. Aturan pakai Metoklorpramid 2. Aturan pakai Ondansentron 3. Aturan pakai Dexamethasone Adanya konseling tersebut, diharapkan pemakaian obat KRS dilakukan dengan benar.

No. DMK : 1212-04-19 Ruangan : UPI Kenari Rekomendasi / Saran

Dokter

: dr. W

Apoteker : Gendhis Putri Medica Evaluasi

1.Aturan pakai Metoclorpamide Pasien mengerti tentang aturan pakai obat a. Diminum, jika pasien merasa mual dan muntah, dan dapat menjelaskan kembali dengan diminum 30 menit sebelum makan, tiga kali sehari, dan sekali minum satu tablet. benar. b. Memberi informasi bahwa obat dapat menyebabkan kantuk, sehingga diharapkan pasien tidak berkendara atau melakukan tugas-tugas lain yang membutuhkan kewaspadaan mental. 2.Aturan pakai Ondancetron a. Diminum, jika pasien merasa mual dan muntah, diminum sebelum makan, dua kali sehari, sekali minum satu tablet. b. Penggunaan obat akan sangat mengurangi kemungkinan mual dan muntah, tetapi keduanya masih mungkin terjadi. c. Memberi informasi pasien bahwa efek samping yang umum dari obat ini adalah sakit kepala. 3.Aturan pakai dexamethasone a. diminun jika pasien merasa mual dan muntah, diminum sebelum makan, tiga kali sehari, dua tablet sekali minum. b. Jika pasien mengalami iritasi saluran pencernaan, obat diminum bersama makanan. c. Memberi informasi pada pasien bahwa menghentikan obat secara tiba-tiba sangat berbahaya. Menjelaskan alasan obat tidak boleh langsung dihentikan, melainkan dengan menurunkan dosis perlahan/tapering off).

2.

2/3

Sasaran: Pasien Konseling tentang ESO mual dan muntah setelah penggunaan obat-obat kemoterapi Sasaran: Dokter & Perawat Pemberian dan efek samping penggunaan Inj. Ketorolac

Diberikan pengertian kepada pasien bahwa obat kemoterapi seringkali menyebabkan mual dan muntah sehingga obatobatan yang diberikan setelah kemo harus diminum secara teratur untuk mencegah efek mual muntah yang muncul kemudian. Inj. Ketorolac tidak boleh diberikan pre operasi, dikarenakan akan memperparah bleeding. Pada penggunaan pasca operasi, pemberiannya dipantau dengan dosis IV 30 mg setiap 6 jam, dosis maksimal per hari 120 mg. Pemberian Inj. Ketorolac pasca operasi diimbangi dengan monitoring gejala anemia. (Drug Information Hanbook 18th)

Pasien mengerti tentang fungsi obat yang diberikan, sisa obat dapat di cek untuk melihat pasien patuh minum obat atau tidak

3.

20/2/12

Sasaran: Dokter dan Perawat Waktu dan lama penggunaan antibiotik terapi pasca operasi 4. 20/2/12 Pemberian dan stabilitas Inj.Ceftriaxone Pemberian antibiotik terapi pasca operasi sebaiknya diimbangi dengan monitoring SIERS dan pemeriksaan kultur. Diinjeksikan melalui infus intravena selama 15-30 menit. Larutan rekonstitusi stabil selama 3 hari dalam suhu ruangan dan 10 hari di dalam lemari es. (Trissel, 2007) PemberianInj. Ceftriaxone diberi jeda dengan pemberian infus RL:D5. (Drug Information Hanbook 18th) Sasaran: Perawat Pemberian dan stabilitas Inj.Ranitidin. 1. Lama pemberian secara i.v bolus adalah 2-5 menit dan laju maksimum 4 mL/menit. 2. Stabilitas : a. Disimpan pada suhu 25-30oC, di tempat kering, dan terlindung dari cahaya. b. Larutan jernih, tidak berwarna sampai kuning muda; terjadinya perubahan warna sedikit gelap tidak berpengaruh pada potensi obat; larutan yang berwarna kecoklatan harus dibuang. 3. Kejadian yang dapat menyertai pemberian obat adalah bradikardia dan mual (apabila diinjeksikan terlalu cepat). (Trissel, 2007; McEvoy, 2008)

5.

20/2/12