Anda di halaman 1dari 34

Antara Kenangan dan Kenyataan 1 Entah suamiku itu tahu atau tidak, karena sejak kami membina hubungan

sebatas te man tetapi layaknya orang yang berpacaran, aku sering kali tertangkap basah seda ng melamun sambil memegangi kalung tersebut, bahkan hingga saat ini dan aku simp ulkan bahwa Suamiku tahu itu tetapi tidak menanyakan lebih lanjut untuk membahas nya, karena dia juga pernah bilang, sebuah kenangan bisa terlahir dari kejadian yang menyakitkan, dan tidak usah dihapuskan, karena hal itu pastilah indah, hany a pemilik kenanganlah yang merasakan keindahannya, dan dia sangat berhak untuk m enikmatinya, tetapi yang tak kalah penting bahwa, kita jangan terlarut terus di dalamnya, jalanilah kehidupan ini dengan penuh resiko dan tanggung jawab sebagai mana mestinya. Begitulah nasihatnya padaku, dan kata-kata itu seringkali dia lon tarkan, setelah itu juga aku akan merengut manja dan memeluk sayang ke dadanya y ang bidang. Diapun pasti membalas pelukan sambil mengecup Cinta di sekitar kenin g dengan penuh kasih sayang. Cekreett !! Aku menoleh ke arah pintu yang terbuka, dimana seseorang berwajah tampan terseny um dibaliknya, suamikuBang Syahrir !! Halo cantikIstriku sayangsudah siap ?? aku, mamah dan yang lain tinggal nungguin ka mu loh..kata suamiku tersenyum hangat. Iya Sayangbentar lagi yahtinggal pake sepatu kokkataku tersenyum manis, masih memega ngi kalung tersebut, dia melihat tanganku yang menjawabnya sambil memegang kalun g itu, dan memperlihatkan mimic wajah Gotcha!! Busted deh gw^ ^, akupun langsung ref lex melepas peganganku pada kalung itu dan langsung menyengir tanda tak enak seo lah-olah meminta maaf. Ya sudahjangan lama-lama ya kalo ngelamun hehehetawanya meledek, Aku hanya menjulurkan lidah sedikit karena malu tertangkap basah olehnya. Iya Sayangmaaf yahbalasku dengan pipi merona karena malu.

Setelah pintu tertutup, aku kembali merias diri dengan cepat, akhirnya selesai d an turun menuju ruang makan. Menyantap makan malam bersama suami beserta segenap famili. Aku sesekali menyuapi suami tercinta dan langsung banyak kata-kata godaan dari o rang sekitar mengenai pengantin baru dsbnya, terutama dari adik wanitanya Bang S yahrir, sebagai pasangan baru tentu kami begitu hangat dan mesra, Ibu mertuaku j uga sudah memaaafkan aku, dia sudah mengerti bahwa siapa sesungguhnya yang menja di korban. Gimana sayangenak gak ayam kremesnya..?? tanya Bang Syahrir sambil menyeka sisa-sisa makanan di sekitar mulutku dengan selembar tissue. Hhmmenak..enak bangetapalagi kalo desert-nya ciuman kamu kataku dengan mengecup tang annya merespon kasih sayangnya. Bang Syahrir mengecup kening-ku dan semua tersenyum karena melihat kami berdua b egitu mesra. Setelah selesai makan malam kami berpamitan hendak kembali ke kamar , kebetulan beberapa teman Bang Syahrir juga ikut dalam perayaan besar-besaran i ni, tapi teman-temanku tidak, teman-teman Bang Syahrir lebih dekat dengan keluar ga Bang Syahrir karena sering menginap bermain gitar Akustik di rumahnya.

RirIstri sih istritapi inget anak orang jangan kasar-kasar hehehe..ledek Didi salah satu teman Bang Syahrir. Hehehe sialan luhjawab Bang Syahrir sambil menyikut perut temannya itu. Mendengar suamiku diledek teman-temannya, aku langsung menggelayut manja pada le ngan Bang Syahrir yang macho itu karena dia seorang pecinta Karate, untuk membua t teman-temannya iri padanya. Setelah itu kami berlalu meninggalkan mereka, di d epan tangga Bang Syahrir tiba-tiba mengangkat tubuhku yang mungil jika dibanding kan dengan tubuhnya itu, pria normal pun kecil jika disejajarkan dengan dia, aku hanya menjerit kecil sambil memukul manja dadanya dan kuakhiri dengan tersenyum semanis mungkin, kedua tanganku bergelayut ke lehernya, menandakan sebuah kepas rahan dari seorang wanita pada lelakinya, betina ke pejantannya, istri terhadap suaminya.

Menuju ke pintu kami beradu mulut dengan mesra, sampailah kami di depan pintu, a ku bertugas membuka pintu yang masih terkunci itu, tiba-tiba, Aaawhiih Abang IiiihhHaawhkataku manja karena dia sengaja menurunkan tubuh pada bagi an leher seakan-akan menginginkan aku jatuh, walaupun aku tahu bahwa itu tak mun gkin. Dia hanya tertawa senang karena berhasil meledekku. Kami masuk ke kamar untuk melakukan ritual malam pertama, Bang Syahrir menaruhku di sisi ranjang, setelah itu dia berlutut di depanku dan mengambil sesuatu dari kantong jas hitamnya, yang berupa kotak perhiasan, bentuknya panjang dan sebaga i wanita aku tahu bahwa itu adalah sebuah kalung. Aku terima pemberiannya dan ku buka, ternyata betul sebuah kalung, jauh lebih indah dari yang kukenakan saat in i, dan pasti jauh lebih mahal karena memang Bang Syahrir seorang eksekutif muda yang sukses, manager keuangan muda, tampaknya secara tak langsung dia ingin aku untuk melupakan semua kenangan, melepas dan menggantinya dengan sebuah lembaran yang baru, lembaran kehidupan yang putih bersih, dimana pada sampulnya tertulis namaku dan namanya. Itu harus dipaksakan, sebagaimana jika kita ingin mengajari anak, jika tidak bisa dengan cara halus, maka harus dengan cara kasar untuk menc ambuknya, karena hidup memang keras, dan semua itu bertujuan untuk kebaikannya k elak. Begitu juga saat ini, maka aku yang langsung mengerti bergerak mencopot ka lung lamaku, kalung yang diberikan oleh Mas Sudartoyah, itulah namanya, kekasih m asa SMU-ku, cinta pertamaku, lelaki yang pertama kali melindungiku bahkan memper taruhkan nyawanya untukku. Aku menaruh kalung itu di meja, Bang Syahrir dengan g entle memakaikan kalungnya ke leher jenjangku yang berkulit putih dan mengakhiri dengan mengecup leherku penuh cinta, aku sangat menyukai pemberian Bang Syahrir suamiku, tetapi kalau boleh jujur saat itu aku masih tak rela melepas kalung Ma s Darto, walaupun aku juga tak menolak pemberian kalung dari suamiku tercinta, h anya saja aku belum siap untuk betul-betul melupakan semua. Naaahhkan kamu lebih cantik sayang !!godanya, Aku hanya menggigit bibir bawah dan tersenyum semanis mungkin ke arahnya, senang akan pemberian sang Suami, aku mengecup kening Suamiku, aku ingin dia tidak mer asa resah dan khawatir bahwa aku masih mencintai lelaki lain dan kurang mencinta inya, itu salah. Aku hanya belum siap untuk memilih antara kenangan dan kenyataa n. Kami bergenggaman tangan, aku memajukan bibir menantang, dan kami pun berpagu tan dengan panas, saling menelanjangi satu sama lain, ranjang pun bergoyang baga i ombak di lautan yang diterpa badai, suara kami bergemuruh menambah ramainya ka mar pengantin bertebar bunga itu, Aku beruntung sekali mendapatkannyaBang Syahrir seorang perjaka!! Pria yang selalu mengenakan jas layaknya eksekutif, tampan, k aya raya, pekerja mapan, baik hati, lemah lembut tutur katanya dan selalu mengal ah padaku yang egois ini ternyata seorang perjaka, sebuah keberuntungan cinta ya ng luar biasa!! Aku yang malah merasa tidak enak terhadapnya, aku merasa tidak p

antas untuknya, pria sepertinya pantas mendapatkan seorang perawan tulen yang ca ntik dan tak kalah mapan, baik itu harta maupun jabatan, tetapi itulah suatu ben tuk keadilan Tuhan, ketetapannya tidak pernah kita ketahui sebagai manusia, aku hanya bisa bersyukur. Tidak ada tes memang untuk keperjakaan itu, tetapi aku tah u dari gerakan sex-nya yang sangat kaku, justru aku yang mengatur tempo, dia han ya tinggal menyerang secara alami dan diapun lama kelamaan terbiasa. Tetapi kupu tuskan memakai gaya konvensional saja, agar prosesi persetubuhan kami lebih muda h, kuselipkan sebuah bantal di pantatku dan diapun langsung pintar menyambutnya. Malam pertamaku bersama Bang Syahrir sangatlah terasa singkat, tak terasa waktu telah menginjak tengah malam, dimana matahari malam tersenyum bulat lebar. Aku terbangun di saat malam hendak meninggalkan gelapnya menuju cerahnya sinar p agi, mendekati waktu subuh, aku menatap sesaat ke arah Bang Syahrir yang tampak masih kelelahan, walaupun dia seorang pemula dalam hal sex, tetapi tenaganya san gat bisa menguras tenagaku dari bertahan, bahkan mampu membuatku orgasme beberap a kali, mungkin dikarenakan badannya yang tegap, jantan dan suka berolah raga ka sar itu. Aku membelai sayang rambutnya, hingga pandanganku tertuju pada suatu be nda di atas meja, yang tadi kutaruh saat memakai pemberian Bang Syahrir, kalung Mas Darto!! Aku mengambil kalung itu dan menggenggamnya, aku melihat kembali sua miku dan akan kuputuskan sesuatu hal yang seharusnya kuputuskan dari dulu disaat aku mengenal Bang Syahrir, yaitu meninggalkan pahitnya sebuah KENANGAN. Kuambil kimono putih hotel dan berjalan keluar, beberapa teman Bang Syahrir ternyata be rgadang, mereka menyapa dan sempat meledek menggodaku mengenai asiknya malam per tama kami, aku hanya tertawa dan melayani obrolan mereka dengan singkat. Akhirny a aku berhasil keluar menuju sisi pantai, mereka sempat menanyakan aku mau keman a namun aku hanya menjawab ada perlu sedikit di lobby hotel. Aku berdiri di sebu ah tembikar, menatap kosong ke gumpalan buih dilautan, aku kembali teringat selu ruh kisah hidupku yang penuh lika-liku, pelik namun banyak sekali hal yang bisa dipetik. Semua hal itu yang dinamakan bumbu kehidupan, pengalaman yang bisa diaj arkan kelak ke anak cucu kita sekalian, dimana isinya Suka Duka Benci Cinta Dend am Rindu Pahit Manis Hitam Putih dsb. Kalung itu kupandang di genggaman tangan k ananku, Akupun melamun teringat semua kenangan, saat itu.Dimulai saat aku masih m engenyam pendidikan di bangku SMP. Sheckti,Joyce & aku Vycowo lu Vykesini ludari tadi gua udah curiga !!kata Shekti sahabatku, Ada apaan sihngagetin aja..gua lagi baca !!kataku protes, Karena sedang bersiap-siap untuk ulangan mendadak. Sini ah!!katanya menarik lenganku paksa, Akupun mengikuti ajakan sahabatku itu, menuju kantin terus berjalan ke belakang, di sana ada sebuah ruangan kecil untuk menaruh obat-obatan yang dipakai ekskul palang merah, karena sedikit sekali peminat ekskulnya ruangan itu menjadi kosong , sebenarnya hanya bisa dikatakan gudang. Salah seorang sahabatku yang lain, sud ah berada di depan pintu ruangan itu yang sedikit terbuka, gadis itu bernama Joy ce, mulutnya meruncing sambil menunjuk-nunjuk ke arah ruangan itu, semakin kuayu nkan langkah kakiku dan semakin dekat ke ruangan itu, jantungku semakin berdegup cepat, Deg!! Aku melihat seorang pria berpakaian basket sedang mencium seorang g adis, yang kutahu mereka adalah Ebrin pacarku dan Silvy adik kelas, teman-temank u akhir-akhir ini sudah sering memberi peringatan atas kelakuan Ebrin, hanya saj a saat itu aku belum melihatnya langsung dengan mata kepala sendiri, bukan aku t ak percaya oleh para sahabatku. Eh Gila!!kataku dengan nada galak dan to the point. Sontak mereka berdua kaget mendengar suaraku, tambah lagi bukan hanya ada aku,

(Damnbusted gw) dari mimik wajah Ebrin. Wajah Silvy ketakutan melihat wajah marah kakak-kakak kelasnya yang terkenal sangar itu ke arahnya, dia berani menyambut ajakan Ebrin karena memang Ebrin salah seorang siswa yang berprestasi dalam bask et, kakak kelas tampan pujaan wanita saat itu. Sebagai gadis yang pada dasarnya feminim, Aku tak lama menatap marah pada mereka , aku langsung lari menuju kelas diikuti para sahabat-sahabatku yang tahu bahwa aku akan menumpahkan air mata kekecewaan Cinta, kecewa sekali aku pada Ebrin man tan pacarku, kesucianku kuserahkan padanya, memang itu kesalahan gadis remaja ma sa kini, tetapi sebagai wanita aku selalu bermimpi dia akan selalu setia padaku selama-lamanya, buaya itu malah mencampakkanku mentah-mentah, dan dalam waktu ya ng singkat. Teman-temanku mencoba menenangkanku karena bel istirahat hendak berb unyi, Betul saja, Teng !! Teng !! Teng !! Bel pun berdentang. Aku mencoba menghapus se mua cairan yang membasahi sekujur wajahku, karena bukan hanya ada lelehan air ma ta yang mengalir. Teman-temanku juga berebutan memberikan aku tissue dan sejenis nya, Guru sempat menanyakan karena wajahku babak belur, aku hanya bisa berdalih tidak sehat, dan saat itu juga aku diijinkan pulang sekolah, syukurlah karena sa at itu ingin ulangan, bisa-bisa jeblok nilaiku gara-gara hal yang tak bisa diput ar balik. Menurut khabar, para sahabatku mendatangi kelas Silvy saat pulang seko lah, menerornya habis-habisan hingga dia juga menangis, sejak itu pula tidak ada yang berani memacari Ebrin mantanku, dia mencari gadis lain di luar sekolah. Sejak saat itu aku berubah, di antara kedua sahabatku ini yang paling badung seb enarnya Joyce, kami bertiga bertemu saat kelas 1 dan terus menjadi sahabat hingg a kelas 3, bukan karena wajah kami bertiga blasteran, kami hanya nyambung dan co cok saja saat bercanda ria. Joyce sudah merokok saat itu, kami berdua hanya mele dek dengan batuk-batuk jika si Joyce baru saja mengambil Zippo dari tasnya, dan dia hanya protes, Belum juga dinyalain..!!omelnya pada kami sambil tersenyum, tahu bahwa sahabatnya sedang meledeknya karena tidak suka dengan asap rokoknya, setelah itu dia tetap akan menyalakan, menghisap dan menghembuskannya sengaja ke arah aku dan Shekti. Kejadian itu merubah perangaiku, aku juga ikut merokok bahkan Shekti pun juga, k arena merasa se-geng otomatis pergaulan menyeretnya. Bahkan yang tadinya aku ini dikenal dikelas dengan siswi berprestasi, dengan berlalunya waktu merasakan pat ah hati semua itu luntur. Ibuku sempat memarahi perubahan itu, dia mengomel-omel dengan keluhan mencari uang susah, uang bayaran sekolah sekarang mahal, dsb. Sa at itu aku belum tahu bagaimana perjuangan keras orang tuaku dalam menghidupi ka mi, yang hutang sana hutang sini untuk mencari sesuap nasi dan uang sekolahku, p ada saat itu persis setahun setelah krisis moneter pertama sekitar tahun 98, dima na banyak Perusahaan besar yang bangkrut, PHK dimana-mana, hingga usaha kecil se perti papa-ku pun gulung tikar. Aku malah berpaling dan mementingkan hal yang sa ma sekali tidak perlu. Aku berbincang sambil menghisap rokok bersama kedua sahab atku di bagian belakang sekolah, Nov..lu ga bisa lah begini terusmending lu luapin aja ke suatu halkata Joyce. Suatu hal gimana Huffjawabku sambil meniupkan asap rokok hingga mengepul. Ya kaya gua aja hehehe jadi lega lohsaran Joyce. Gila lu Jokata Shekti yang tahu maksudnya,. Joyce pernah mengalami masa patah hati sepertiku saat ini sekitar 2 tahun yang l alu, saat ini kami kelas 3 SMU, dia lebih dulu mengalami hal ini, dan waktu itu

kami berdua yang menghiburnya, hal yang serupa juga dialami Shekti setahun setel ahnya. Mereka berdua meluapkan masalah mereka pada sex bebas, Joyce saat itu men ghampiri Pak Martaba satpam sekolah dan bercinta habis-habisan, satpam sekolah i tu tentu ho-oh saja diajak bugil dan fly to the sky oleh gadis SMP blasteran mac am Joyce yang cantik Indo, dan sejak saat itu pula hingga kini mereka masih seri ng melakukan hal itu kapanpun dan dimanapun. Begitu pula Shekti dengan Pak Ismet tukang sapu sekolah kami yang juga mengurusi kebun, tidak jarang aku atau Joyce menangkap basahnya sedang meng-oral Pak Isme t, tukang kebun itu sangat menyukai sekali dengan keahlian Shekti yang satu itu, short time sex mereka pasti hal ini. Shekti memang terkenal dengan wajah manis dan bibir tipis seksinya yang seringkali dihiasi lipgloss pink, sebab itulah Pak Ismet seringkali sange berat dengan sepongan mulut ajaib Shekti. Tadinya Shekti yang dengan nakal menggoda Pak Ismet, tetapi sekarang malah jadi dia yang serin g diseret Pak Ismet untuk menghisap kejantanannya hingga disuruh menelan sperman ya, agar beliau terasa lebih muda dan gagah katanya berdalih mesum. Hhmmhboleh juga tuh Jo..bener juga sih Tikataku pada Shekti, yang sebenarnya tidak ingin kalau aku mengikuti jejak pelacur mereka, karena dar i awal memang mereka berdualah yang nakal, meskipun harus kuakui juga bahwa aku bukanlah wanita yang lurus karena juga sudah melakukan sex di masa belia, hanya saja belum seliar yang dilakukan kedua sahabatku itu. Seru kalee!!tambah Joyce. Iya tapi sama siapa yah??tanyaku pada mereka. Hhmm itutuhnganggur Bandot !!sahut Joyce menunjuk ke arah Mang Udeng. Pria berumur 50-an, hitam legam, berkumis tipis, badan sedang dalam artian tidak gendut seperti Pak Ismet gacoan Shekti, tetapi juga tidak segagah Pak Martaba sa tpam gebetan Joyce itu. Pak Ismet berumur 45-an sementara Pak Martaba atau Baba berumur 40-an. Joyce blasteran U.K England, ayahnya yang sering pulang pergi itu jarang mengawasi anak gadisnya, sementara ibunya sibuk arisan dan suka main gig olo, bisa dibilang Joyce gadis broken home, kedua orang tuanya sudah jarang berb icara walaupun bergelimangan harta benda, itulah yang membuatnya menjadi gadis n akal, sedangkan Shekti blasteran Kanada, orang tuanya tak jauh beda dengan Joyce , hanya saja ayah Shekti tidak sering pulang pergi, tetapi seringkali ribut dan bertengkar dari sebuah hal yang tidak perlu, jika aku dan Joyce main ke rumahnya , pasti hal ini kami temui. Keadaan kami hampir sama. Sedangkan aku yang bernama Novy Andhiny seorang gadis pribumi, ibuku asli Bogor, setelah dinikahi ayahku yang asli Jakarta, mereka pindah dan menetap di Jakarta ini, dari darah ibukulah yang membuat aku memiliki kulit putih, jadi kami adala h 3 gadis berkulit putih, walaupun kulit putih kami bertiga memiliki tipe yang b erbeda, kalau aku putih Asia, Joyce putih khas Eropa dan Shekti putih khas Ameri ka. Mang Udeng tersenyum saja melihat kami bertiga melempar pandangan ke arahnya , dia sedang memegang tempat sampah untuk memenuhi pekerjaannya sebagai pembersi h WC dan tukang sampah. Eh ehtaruhan yuk..siapa yang bisa bikin si Udeng itu paling sange..dia pantes ditr aktir dinner sama clubbing !!kata Joyce jalang. Oksiapa takuttapi ntar kalo dia udah sange gimana??tanya Shekti. Yee kan tanggungan si Novy dongkan emang Udeng buat Novykitakan udah ada!! jawab Joy ce. Iya Nov yaDeal nih ?!tanya Shekti tegas.

Okesiapa takut !!jawabku yang ingin segera menghilangkan stress karena cinta itu. Joyce yang paling jalang diantara kami itu langsung mulai menggoda Mamang dengan menumpukkan kedua kaki jenjangnya seperti para pelacur yang hendak menawarkan d iri, rok biru SMP-nya yang pendek itu menambah pemandangan paha Joyce, beruntung nya Mang Udeng, kali ini para pelacurnya tidak menuntut sesenpun darinya, hanya berniat mengosongkan kantung spermanya yang geleber-geleber karena berumur itu. Mang Udeng langsung menelan ludah melihat betis Joyce yang mulus itu, Udeng Jr. yang berada di selangkangan Mang Udeng langsung bangun tanpa weker, celana Mang Udeng menonjol dibagian itu, kami sebenarnya geli sekali membuatnya mupeng seper ti itu, tapi mengasyikan kadang berbuat jalang seperti ini, melupakan sejenak ma salah hidup. Shekti yang tak mau kalah, berpura-pura menggaruk-garuk pahanya, Aduuh..kok gatel sih katanya sambil menahan tawa melihat Mang Udeng mulai ngos-ngos an nepsong berat. Sruukk..!!, tiba-tiba Shekti gadis manis hypersex itu menarik ke atas rok pendek di atas lututnya hingga terlihat dua buah batang paha putih mulus milik gadis r emaja, dan celana dalam yang berwarna hitam tipis menerawang tanda wanita sedang horny berat. Edededehkata Mang Udeng langsung melepas satu tangan berpegangan pada tiang di situ agar tidak jatuh, tangan satunya masih memegangi tempat sampah. Shekti belaga bloon menggaruk-garuk paha putihnya itu, seolah-olah tidak ada oran g, si Joyce dan aku hanya kembali menahan tawa. (Wah giliran gue nihgimana yah??)pikirku dalam hati, Eleh elehlo juga gatel Ti ?kataku sengaja mengeraskan suara. Iya nih..sahut Shekti juga keras, masih sambil menggaruk kedua paha putihnya. Kalo gua disinikataku, membalikkan badan, menungging dan menarik rokku ke atas, sam bil berpura-pura menggaruk pantatku yang putih padat itu, Gumprang !! Adaawh!!teriak Mang Udeng, karena kakinya kejatuhan tempat sampah dari besi itu dan berputar-putar memegangi sebelah kakinya yang kesakitan, sampah pun langsung be rserakan. Pegangannya pada tempat sampah langsung lepas karena lemas melihat aku menungging dan membuka rok untuk memamerkan body yang kupunya. Ha ha ha hatawa kami bertiga penuh kegelian. Kami langsung toss five menandakan kekompakkan kejalangan kami, sukses besar yan g membuat mupeng makhluk yang dinamakan pria. Mang Udeng langsung jatuh kelelahan karena terus berjingkrakan, aku kasihan juga pada dia dan langsung mendekatinya, kedua sahabatku malah meledekiku, Cie ilehyang pedekate hahahahatawa Joyce meledek, dan Shekti juga menyambutnya deng an tawa manisnya. Aku hanya berbalik ke arah mereka sambil merengut tersenyum kecil, Aduh Mang maaf yahsakit gak ??tanyaku berjongkok di dekat kakinya, Sehingga rok-ku tersingkap dan otomatis paha putihku langsung dipelototinya.

AduuuhhNeng Novy dehhkalo becanda jangan keterlaluan dongh !katanya sambil melirik k e dalam rok-ku, melihat celana dalam hitam super tipisku. Dia protes tapi tidak menunjukkan kemarahannya, mungkin karena dikasih pemandang an gratis yang membuat Udeng Jr. berdiri tegak siap lari marathon itu. Iya Mang maafin kita yahkataku memohon sambil memijiti kakinya yang tertimpa tempat sampah itu. Dia menelan ludah menikmati pijitan tangan putih halusku. Ya udah..tapi Mamang nanyabuat apaan sih pada kaya gitubikin nanggung sabun Mamang p an abis !!katanya protes, dikiranya kami hanya ingin membuatnya onani saja. Hhmmmok dehkalo Mamang pengen tahukataku mengerlingkan mata genit. JoTisini lu!!panggilku pada mereka. Sahabatku itu berjalan dengan nakalnya mendekati kami, melenggak-lenggokkan pant at bagaikan seorang pelacur high class. Apaan Novkan ini jatah lu..!!kata Joyce meledek. Begituannya iya ntar gue sendiritapi Mamang pengen kita bertiga minta maaf bukan g ue sendirikataku. Ooohhok deh kalo gitujawab Joyce mengerti langsung berjongkok disampingku. Mang bangun Mang..!perintah Joyce galak. Hahma..mau pada ngapain Neng ?tanya Mamang bingung-bingung tapi horny, Pikirannya pasti ngeres melihat kami berdua jongkok dihadapannya, dua gadis blas teran yang terkenal cantik dan seksi berlutut di hadapannya belum ditambah Shekt i, walaupun dia belum tahu akan di eksekusi dengan kenikmatan seperti apa oleh k ami. Udah ahdiri cepetmau dikasih enak gak lu?!sahut Joyce galak-galak nafsuin. Membuat Mang Udeng dikirimkan CD demo berjudul Mari Bercinta oleh Udeng Jr. di sel angkangan karena nepsong abis, hingga membuat antrian panjang berjuta-juta sperm a di penisnya yang sudah mengambil nomor urut seperti antri beras saja. Mamang berdiri disusul Shekti berjongkok, kini aku ditengah, disebelah kiri Joyc e dan di sebelah kanan Shekti, tonjolan Mang Udeng tepat dihadapanku, tanganku m embuka kait celana lusuhnya, setelah terlihat reseletingnya, dengan bitchy kugig it reseleting itu dan menariknya turun, kreeett !! Jdugg!! Mmph!! penis Mang Udeng yang sudah mengeras itu langsung keluar sangkar ingi n berkenalan dengan alam barunya dan menampar wajahku. Sontak aku kaget dan menj erit kecil tetapi teredam karena masih menggigit reseleting celananya yang membu at si Joyce dan Shekti tertawa, aku langsung mencubit pantat kedua sahabatku itu karena malu, meraka hanya mengaduh. Aku menarik wajah kedua sahabatku melalui j ambakan lembut pada rambut mereka, aku menarik lebih turun celana Mang Udeng bes erta celana dalamnya yang bermerk Hings, Shekti yang menggemari oral sex itu, mend ahului kami dengan meraih penis Mamang untuk mengocoknya, Joyce berinisiatif men ggelitik buah zakar Mamang, aku memuntir kepala penisnya sambil memijit-mijitnya dengan jari jempol dan telunjukku. Lengkaplah sudah, Mang Udeng bagaikan raja m inyak yang sedang dilayani para selir-selirnya, Joyce kadang-kadang meminta bagi an untuk mengocok-ngocok batang Mamang dengan gencar, Mang Udeng blingsatan deng an kocokan Joyce yang tak kalah ahli pada Shekti, malah Joyce terkesan menunjukk

an keahliannya. Kami bertiga memulai dengan menjilatinya dari buah zakar, pangka l hingga kepala penis, lidah kami bertiga menjilati masing-masing area, Mang Ude ng yang mendongak keenakan sesekali menatap kebawah melihat kenakalan remaja SMP masa kini, dia memandangi wajah kami satu persatu. Kami membalas tatapannya den gan mengerlingkan mata genit, dia hanya menelan ludah dan kami spontan tertawa k ecil sambil terus menjilat, bahkan ditatap Mang Udeng, Joyce langsung menjilat l idah Shekti diseberangnya, bertukar ludah bahkan mencucup pangkal penis Mamang k iri dan kanan berbarengan sambil menatap nakal ke arah Mang Udeng. Sementara aku tetap focus mengemut dan menghisap kepala penisnya, Sruuph!! Hisapku kuat-kuat pada kepala penis hitamnya yang lonjong, Oookhhlenguh Mang Udeng keras, Kepalanya mendongak keatas, penisnya mengacung tinggi dan tubuhnya bergetar nikm at. Kami bertiga memundurkan kepala berbarengan, lalu meludahi penisnya, Cuuh!! Dengan horny kami bergantian mengocoknya, Mang Udeng menjulurkan lidah keenakan dan penis itu kutangkap dengan mulutku, kini batang itu kukuasai sendiri, aku me maju mundurkan mulut sambil mengocok-ngocok memutar pada pangkal batangnya seper ti pemain blue film saja, lalu penis yang masih dimulut itu kuoper ke mulut Shek ti yang langsung disambutnya dengan mulut terbuka, lalu dia oper lagi ke aku dan kuoper ke Joyce, terus begitu, dan terakhir karena mendengar lenguhan Mang Uden g yang sudah berat, tanda spermanya sudah antri di kepala penisnya, aku kuasai s endirian, kedua sahabatku hanya menjulurkan lidah untuk membantunya membangkitka n gairah nafsu Mamang dengan mendesah seksi bersamaan dan memusiki kocokan tanga nku pada penisnya, aku juga menjulurkan lidah di depan Mang Udeng siap dicumshot (semprot sperma) di wajahku bersama kedua sahabat cantik-ku. Mang Udeng ingin m engambil alih penisnya dengan mengocoknya sendiri, tetapi Joyce dan Shekti tampa k tidak mengizinkan, bagaimanapun ini hukuman berupa kenikmatan, si Joyce memega ngi tangan kanan Mamang dengan tangan kirinya, dan Shekti sebaliknya. Beberapa d etik kemudian, ketika tanganku sedang mengocok sambil menjilati penisnya tiba-ti ba dia melenguh panjang dengan wajah mendongak ke atas, mulut hitam Mamang mence racau keenakan, Eeengghh..Nenghbapakh..keluaaarhh..!! Leeehh.dengan Horny kami bertiga menjulurkan lidah sambil mendesah nikmat dan, CROOOTTT!! JRUOOTT !! BLAARR !! CROTT !! Cairan putih kental dan berbau khas mema ncar dengan derasnya membasahi wajah kami dalam kocokanku, baju sekolah kami jug a otomatis kecipratan. Kami mendesah seksi dan mengerang mengiringi erangan nikmat Mamang di setiap sem buran spermanya, seakan-akan kami juga merasakan kenikmatan yang dirasakan oleh Mamang saat itu, penisnya kupompa dengan meremasnya kencang dalam genggamanku ag ar semua tabungan spermanya kosong, bahkan Joyce dan Shekti juga ikut-ikutan men gocok penis Mamang. Joyce malah memencet gemas kepala penis yang sedang sensitif -sensitifnya memuncrati sperma itu. Mang Udeng nampak mendesah-desah keenakan da n kelabakan. Setelah tidak ada yang keluar lagi, kami saling menjilati sperma ya ng membanjiri wajah, beradegan lesbian dengan beradu mulut panas, Mang Udeng yan g masih kelelahan hanya menatap kami kembali bergairah, tangan kananku masih men gocok-ngocok kecil pada batang penisnya yang semakin layu itu. Weleh welehngentot ga ngajak-ngajak lo Dengkata pria bertubuh gempal, yang tidak la in adalah Pak Ismet.

WahNon Joyce kemana ajaBapak cariin dari tadi jugakata pria berpakaian satpam, yang tak lain adalah Baba atau Pak Martaba. Pintu gerbang udah lo kunci Ba..??tanya Pak Ismet pada Pak Martaba, agar situasi a man dalam sekolah. Udah kobisa pesta kita..wah nambah pasangan nih Met..!!sahut Baba. Iya gapapakecuali kalo nambah Udeng doangrugi atuh hehehe !!kata Pak Ismet. Mereka berdua menghampiri kami, Pak Ismet masih memegang sapu lidi di tangannya, dia sehabis menyapu di pekarangan depan karena kami saat itu berada di belakang dekat kantin sekolah, Ehelu padegua juga baru mulai nih!!sahut Mang Udeng. Pak Baba dan Pak Ismet yang telah terbiasa melakukan hal ini pada kedua sahabatk u itu, langsung menurunkan celananya untuk memulai sex party dengan oral, Bagua pinjem mulut lonte lu ya? kata Pak Ismet kurang ajar, mengacungkan penis pada Joyce. Ooohhsama-sama dah yak!! sahut Baba yang juga mengacungkan penis pada Shekti. Teman-temanku yang cantik namun hypersex itu, sudah biasa di lecehkan seperti it u, dan langsung menyambut dengan oral sex pada pria buruk muka di depannya. WelehNeng Joyce lonte lu Ba?? sialan lu ga pernah ngajak-ngajak pada..!!protes si Ud eng. Hehehe sorry Bosmasalah laen bagi-bagimasalah duit sama Mrs.Vnehi !!jawab si gendut I smet. Sambil di oral oleh Joyce, Pak Ismet membuka kancing baju sekolahnya dari atas h ingga bawah dan memelorotkannya lewat atas, sehingga tubuh Joyce yang seksi itu menjadi bahan bakar bagi nafsu birahi Mang Udeng yang baru pertama kali mengalam i sex secara beramai-ramai ini. Begitu juga Shekti yang sedang di oral dan kemud ian ditelanjangi Pak Baba. Mang Udeng kemudian melihat ke arahku, saking nafsuny a, dia melepas celana dan baju yang ia kenakan di depan kami semua, Pak Ismet da n Pak Baba hanya tertawa maklum. Mang Udeng menaruh pakaiannya sembarangan di te mpat biasanya anak-anak sekolah menongkrong dan bergosip setelah makan di kantin . Sambil bugil dia langsung menyeretku ke arah sebuah kelas yang tidak jauh dari situ dan tentunya sudah kosong, dia menuntunku dari belakang, sambil berjalan d ia menyingkap rok-ku dari belakang dan mengangkatnya tinggi-tinggi, tangan hitam nya itu langsung jahil menggerayangi paha belakang dan meremas pantatku, Cuuph!!, Sesekali tukang sampah sekolahku itu menciumnya, hingga membuatku terangsang ju ga dan bersedia untuk digarap sepuas-puasnya. Sesampai di kelas, aku menuju meja belajar terdekat dan menelungkup, menunggingkan pantatku tinggi-tinggi dengan s eksi untuk memancing kembali birahinya yang tadi sudah tersalur melalui ejakulas inya yang pertama, Mang Udeng menyingkap naik rok-ku hingga keatas pinggang, dia melepitnya agar tidak turun saat aku tersodok-sodok, dan langsung menarik lepas celana dalamku, tukang sampah sekolahku itu meremas dan mengecup gemas pantatku memberi peringatan berupa rangsangan. Celana dalamku direngkuhnya, Mang Udeng mencium bagian dalam celana dalamku itu dengan penuh perasaan, lalu dijilatinya bagian tengahnya yang sudah basah oleh l endir kemaluanku akibat horny. Aku semakin terangsang dengan tingkah udiknya itu , aku dan Mang Udeng sama-sama baru pertama kali mengalami sex liar ini, Wangi banget Neng Novyenyak !! baru lendirnya aja udah enak, apalagi memeknya puji si buaya berumur itu. Dia memakai celana dalamku di kepalanya sebagai topi.

(Oh Yess!!) kagumku padanya dalam hati, Melihat ke belakang ke arah penisnya yang belum lama menyemprotkan spermanya itu dan sekarang kembali mengacung tegak siap menembak. Saat itu aku merasa seksi s ekali, aku menggerakkan kedua tanganku ke belakang, kedua jari tengahku yang len tik karena memakai kutek hitam, aku posisikan di bibir vaginaku, membuka lebar-l ebar dan sengaja memamerkan padanya liang vagina yang merekah berwarna merah mud a, Glekk!!suara Mang Udeng menenggak ludah terdengar olehku dan semakin membuatku merasa seksi. Aaannghh!!desahku reflex, karena Mang Udeng tidak tahan dan menusuk vaginaku dengan jari tengah kirinya hingga masuk semua. Tubuhku menggelinjang disertai suara desahan saat tangannya mengorek-ngorek lian g vaginaku, jariku yang tadi membuka vaginaku langsung berpindah meremas ke ping giran meja belajar sekolah itu. Mang Udeng mendekatkan wajahnya yang terlihat pe nuh nafsu itu ke pantatku yang menungging, tangan kanan hitamnya mengelus dan me remas pantat sebelah kananku, dengus nafas beratnya terasa di area selangkangank u. Dengusannya pindah ke bongkahan pantat kiriku, Leeph!! Aauuhh!desahku saat di menjilati salah satu daerah sensitive wanita itu. Tubuhku terasa panas dingin dibuatnya, dengan jilatan di pantat dan korekan jari nya yang nakal itu di vaginaku, jari itu seakan-akan ingin mengetahui apa saja i si di dalamnya. Disapukannya dengan telak lidah kasarnya pada kulit pantat putih sekalku itu, di ciumi, bahkan digigit kecil sehingga aku menjerit menerima rangsangan erotis Man g Udeng. Dia ingin menarik lepas jarinya dari vaginaku, jari yang terdiri dari 3 (tiga) b uku-buku itu mulai terlepas satu-persatu, Satu..Dua.., saat menuju ketiga, vagin aku reflex tidak rela dan menjepitnya, Whuuaa!reaksinya norak, merasa jarinya terje pit kencang vaginaku yang liat namun basah itu. Aku tarik-tarikan dengannya, nam unJleebbh!! Aaannggh!!desahku, karena Mang Udeng mengerjaiku dengan mencoblos vaginaku dalam-da lam. Hak hak hak haktawanya mesum karena berhasil mengerjaiku. (Ehhm..Shiit !! si tua bangka ini pandai membangkitkan gairah)keluhku dalam hati. Dia mengulangi lagi dengan menarik kembali jari tengahnya, Satu..!! Dua..!! saat menuju ketiga, vaginaku kembali reflex tidak rela dan menjepitnya, Aku yang kin i tengah horny bersiap-siap untuk menerima tusukannya, namunPlooph!! Aauuhhdesahku, Sial, Mang Udeng menarik kasar jarinya tiba-tiba sehingga membuatku tidak sanggu p menahan derita birahi ini ditambah sedang horny-hornynya. Dia menghirup jariny a yang sudah berselimut lendir vaginaku. Hhmmhwangi tenaaan..!!katanya. MmmhhEnyaak..gurih rek Mrs.V Neng Novy !!komentarnya, Sambil mengulum jari tengahnya yang belepotan lendirku, aku balik menatapnya. Oohini sex liar pertamaku, aku baru pernah merasa seksi seperti ini, kedua sahaba

tku berhasil menggali bakat hypersex-ku, menanamnya bersama dalam diriku dan mer ubah kehidupan sex-ku seperti mereka. Bahkan Ebrin mantanku pun tidak bisa membu atku melayang, bersamanya aku memang merasa cantik karena mendapatkan salah satu cowok paling keren di sekolah, tetapi tidak membuatku merasa seksi seperti perl akuan Mang Udeng padaku. Mamang memposisikan kedua tangannya pada kedua sisi pin ggangku, matanya menatap nanar pada vaginaku yang terpampang jelas, seolah-olah ingin menelannya, reflex kakiku merentang lebar siap menerima serangan mesumnya, nafas dan degup jantungku seirama semakin cepat, ketika aku melihat wajah Mang Udeng yang sama sekali tidak tampan itu mendekati vaginaku, 30 cm..20 cm..10 cm. .5 cm, HapNyam !! Iyaaaahhh.desahku, saat dia melahap bibir vaginaku dengan ganas. Clek..clek..clek..clek..!! Lidah kasar Mamang keluar masuk vaginaku, aku hanya bisa mendesah dan mendesah m enerima serangan birahinya. Lidahnya nakal sekali menyentil-nyentil itil-ku, mul utnya yang hitam itu mengemut vaginaku dengan penuh nafsu hewani. Tak lama kemudian kurasakan tubuhku terbakar, aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi dan mengerang sejadi-jadinya menggeliat sambil memeluk meja erat-erat. Iyaaahh!!eranganku saat mencapai orgasme. CrreettCretSeerrCrrt !! Erangan panjangku itu menandakan orgasmeku bersamaan dengan mengucurnya lendir cinta dari selangkanganku. Cairan yang meleleh dari vaginaku dilahapnya dengan rakus sampai terdengar suara menyeruputnya, aku mengejat-ngej at di atas meja belajar itu. Neng Novyjangan tidur duluMr.P Mamang belum ngerasain Mrs.V Neng Novy pan..!katanya ditelingaku. Aku merasakan penisnya di bibir vaginaku, Aaahhtubuhku masih merasa lelah sekali sehabis orgasme barusan, dia baru ingin menyentakku lagi. Zrreeekk!! Aaaukkherang kami saat penisnya menyeruak masuk vaginaku. Mang Udeng menekan masuk penisnya paksa sehingga aku merasakan vaginaku seperti tersobek, tubuhku terbelah dua. Kepalaku yang tadinya tergeletak menyamping, lan gsung reflex meringis ke depan, mulutku membentuk huruf U tetapi tubuhku masih t engkurap tiduran di atas meja. Mang Udeng langsung bergerak brutal menyetubuhiku , tampaknya dia tidak perduli dengan kelelahan tubuh yang kuderita, dia ingin me nggapai klimaksnya. Eengghhbusyeetseret tenan Mrs.V Neng NovyHhuuunngghh!!kejannya. Iyyaaahh!!desahku, saat Mang Udeng menghentak kasar masuk penisnya. Sambil menyentak, dia menyibak seragam belakangku hingga punggung putihku terlih at olehnya dan langsung dijilatnya, Bra-ku tidak dilepasnya agar aku tidak meras akan sakit pada payudara karena tidur bergesekan dengan meja. Jilatannya sampai kurasakan pada leher jenjangku hingga akhirnya bertemulah bibir mungilku dengan bibirnya yang tebal dan kasar itu. Huueeekk!!bau nafasnya sungguh tidak sedap, entah makan apa Mamang tadi pagi, tet api lidahku tetap mengikuti permainannya dengan liar sampai ludah kami bertukar dan menetes-netes sekitar bibir. Dia berpegangan pada sisi meja depan dekat waja hku, sementara aku berpegangan di sisi belakang meja dimana bertepukan dengan pa

ha hitam berbulunya yang penuh dengan peluh di sekujur permukaannya. Mang Udeng nampak mendekati ejakulasinya, mulutnya menceracau sambil menyentakku kasar terp ental-pental hingga meja belajar yang kutiduri bergeser searah dengan sentakanny a, terlihat sekali Mang Udeng ini ingin membalaskan dendam birahinya, karena tad i kakinya kubuat memar tertimpa tempat sampah, sentakan penisnya itu seolah-olah menginginkan vaginaku juga memar, AaaannghhAaaannghhMaannghAmpuunnhhIyYaAaaAahHh!! Gila Mrs.V lugilaa Mrs.V luugilaa Mrs.V luuhHuUuunngghh !!lenguhnya, Tak lama kemudian kurasakan beberapa semburan cairan kental hangat yang membanji ri liang vaginaku, yang diikuti oleh meledaknya cairan orgasmeku, Mang Udeng men ikmati sisa-sisa klimaks sambil memelukku, kami berkelojotan berdua bersama-sama dibarengi dengan kejangan-kejangan di vagina dan penis masing-masing. Sisi meja pada bagian dekat vaginaku banjir sudah, lelehan lendir cinta orgasmeku dan spe rma Mang Udeng membanjirinya, setelahnya Mang Udeng duduk di bangku sebelah deka t mejaku, tiba-tiba, Braaakk!!, pintu terbuka, AaahhAaahhYeesssFuck meDeepeer!!desah Shekti, Dia sedang digarap Pak Baba dengan gaya monyet memanjat pohon kelapa, tentu deng an postur satpamnya yang tegap kekar itu, bukan suatu hal yang sulit untuk menga ngkat atau menaik turunkan tubuh Shekti, walaupun tubuh Shekti tergolong tinggi karena blasteran. Karena ini hal yang baru buatku melihat kegilaan kedua sahabat ku ini, maka kupaksakan sedikit tenagaku untuk menoleh melihat kegiatan seks mer eka, Pak Martaba dan Shekti melakukan posisi seks itu sambil berjalan mendekati bangku guru. Tidak jauh dari pintu kudengar erangan Joyce dan lenguhan nikmat Pak Ismet, kule mpar padangan dan betul saja, Pak Ismet sedang asyik men-doggy Joyce, gadis cant ik Indo-Euro se-profile dengan Nadine Chandrawinata itu dijambak rambutnya oleh tukang sapu dan kebun sekolah itu, tangan kiri Pak Ismet menampar-nampar pantatn ya yang putih sekal, wajah cantik Joyce merigis setiap kali tangan gempal Pak Is met mendarat di bongkahan padat nan montok Joyce. Tangan kirinya sesekali juga m embetot pundak Joyce kebelakang berlawanan dengan hentakan penisnya ke depan. Pa k Ismet menyeringai mesum saat mata kami bertemu pandang, dia seolah-olah bangga bisa menggarap sahabat cantikku itu di depanku, memang sahabatku Joyce itu sala h satu gadis incaran para cowok, hanya patah hatinyalah yang membuatnya tidak in gin memiliki pacar lagi sejak kelas 2. Pak Martaba tiba-tiba melenguh keras sepe rti kerbau, Shekti menjadi semakin menjerit-jerit karena vaginanya ditumbuk paks a dalam-dalam agar menjepit dan memberikannya kenikmatan, tiba-tiba Pak Martaba mendudukkan diri sehingga penisnya menghentak dalam-dalam vagina Shekti, Jleeegg! !! Aaaakkhh.!!!erangan nikmat mereka berdua, CROOOTTT !! CROOTT !! CROTT !! Pak Martaba mencapai klimaksnya bersamaan dengan Shekti, cairan mereka meluber d ari vagina Shekti, mereka mengejat-ngejat nikmat sambil berpelukan dan bertataptatapan, setelahnya Pak Baba mendudukkan Shekti pada meja guru, Shekti yang mera sa kelelahan langsung menyenderkan diri di dinding, duduk mengangkang memperliha tkan vaginanya yang memar kemerahan namun dipenuhi gumpalan cairan kental putih pekat yang masih meneretes keluar, Pak Baba yang masih mengenakan baju satpam ta npa celana sepotong pun juga, mengambil rokok dari kantung baju satpamnya, menya lakan dan menawarkan ke Shekti yang disambutnya, si cantik blasteran Kanada itu menaruh rokok di mulut tipis seksinya, dan Baba menyalakan api untuknya, mereka menghisap rokok dan berbincang yang aku tak dengar, Shekti mengerlingkan mata ki rinya dengan genit ke arahku karena aku melihat ke vaginanya yang babak belur ka

rena ulah penis Pak Martaba. Kami mempertemukan senyum karena keadaan kami sama-sama porak poranda akibat okn um petugas sekolah bejat, tidak lama aku mendengar Pak Ismet menggeram seperti s eekor kerbau, Huuunngghh.!! Tukang sapu berbadan gemuk itu mencapai ejakulasi denga n menyentak kasar sahabatku Joyce yang cantik itu dari posisi menungging doggy s tyle hingga jatuh tengkurap ditindih tubuh gendutnya itu, Joyce hanya menjerit-j erit pasrah dengan rambut merahnya yang dijambak Pak Ismet, pantatnya yang sekal itu melekat ketat dengan perut bagian bawah Pak Ismet yang dipenuhi bulu, buah zakarnya bertemu sapa dengan bibir vagina, tukang sapu gemuk itu mengejat-ngejat keenakan, bisa dilihat dari wajahnya, kaki Joyce sampai menekuk dan menendang-n endang punggung berlemak tukang sapu tua itu. Dia terus menekan penis itu di mas a ejakulasinya, Pak Ismet terus saja menggenjotkan penisnya di liang kewanitaan Joyce, dibenamkan penis gemuknya itu dalam-dalam untuk menuntaskan ejakulasinya, sambil memutar-mutar kepalanya seperti orang gila. Tukang sapu sekolah itu samp ai bergidik nikmat menuntaskan ejakulasinya meneteskan sisa-sisa spermanya di da lam vagina Joyce sebelum terkapar lemas dan menindih Joyce. Tak lama kemudian, P ak Ismet pun bangkit meninggalkan Joyce sahabat cantikku yang masih terkapar, ku lihat penisnya masih lemas diselimuti lendir sperma menjijikkannya yang putih pe kat dan kental, Woi Dengnyobain Mrs.V Novy dong!!kata Pak Ismet asal pada Mang Udeng. (Ooh Crapbakal tuker pasangan sampe kelenger nih gue n temen-temen Damn..!), Keluhku dalam hati, Woi wointar dulu Met..lo entotin cewe lo dulu nih, Novy gue duluan si Udeng Joyce, baru elo Novy, gue Joyce, si Udeng Shekti..!!protes Pak Martaba mengatur. Oh iya yaok deh..!!sahut Pak Ismet mudah, tidak memikirkan kondisi tubuh kami. Siap Bosasyiik !kata Mang Udeng semangat sambil hormat, dia berlari menuju pintu lu ar ke arah Joyce yang terkapar, dan membangunkannya untuk dibuatnya lagi pingsan . Pak Ismet meninggalkanku mendekati Shekti dan Pak Baba, Sana Bagarap Novygantiangua udah kaga sabar pengen ngentotin dia ! kata si gendut Ism et. Set dahnafsu bener kagak sabar!! Entot aja dulu nih cewe luhenak banget lo Met memek nya..pantes lu doyan bener !!sahut Pak Baba. Iya tuh Paksi gembrot ini doyan banget ngentotin gue ampe kelenger kaya Joyce tuh! tunjuk Shekti pada Pak Baba keluar. Dimana Joyce masih terkapar dan sedang disad arkan Mang Udeng. Pak Baba hanya tertawa melihat ke arah luar. Ya iyalahNeng Shekti ini kan udah cantik memeknya seret lagi !!pujinya mesum. Shekti hanya tersenyum sambil menghembuskan asap rokok ke arah Pak Ismet, dan Pa k Ismet hanya menyeringai dan melirik ke selangkangan Shekti yang terbuka lebar. Waduuhgile lu BaMrs.V Neng Shekti ampe babak belur gini !!protes Pak Ismet. Ehehehenyoriabis enak pisan sihsahut Pak Baba enteng. Weleehmana banyak pejunya lagi !!omelnya lagi. Ha ha ha hayahh..si Joyce sama Novy juga paling sama keadaannya..kata Pak Baba memb

ela diri. Ya udahkita bersihin dulu aja ya biasa..!!usul Pak Ismet. Ok dehgua bangunin Novy dulu!!jawab Pak Baba. Pak Martaba membangunkan tubuhku yang masih terasa sedikit lemas, dia memapahku untuk menuju keluar kelas, yang entah untuk apa aku tak tahu menahu, dan kemudia n di dudukannya aku di lantai sebelah Joyce yang sudah pulih duduk. Kami melihat ke dalam kelas. Yuk Nengsini !!. Sreet!! tarik Pak Ismet kasar pada pergelangan kak i Shekti yang mengangkang. Hmmphsavar Vak !!kata Shekti tak jelas kata-katanya, karena di bibir tipis seksinya masih terdapat rokok A Mild yang mengepul. Setelah sampai di sisi meja guru, tu kang sapu sekolah itu juga memapah Shekti, tangan gempal si gendut itu memapah S hekti pada bagian paha dan melingkari punggung menangkup payudaranya. Mereka ber tatap-tatapan seperti pasangan bulan madu saja, Shekti memberikan rokok yang dit angannya untuk dihisap Pak Ismet, setelah itu mereka berpagutan sampai keluar ke las. Yak okeylangsung nih ya !!kata Pak Ismet. Ok Bos!!jawab Pak Baba. Aku dan Mang Udeng belum mengerti benar maksudnya. Pak Ismet menurunkan Shekti dan berlalu meninggalkan kami, tak lama dia mengambi l ember berisi air, dan menaruhnya dekat selokan (saluran air dari genteng sekol ah jikalau hujan), juga botol cairan yang kutahu milik Shekti untuk pembersih ke wanitaannya agar vaginanya selalu bersih dan wangi. Ayo lonte-lonte!!kata Pak Ismet dan Pak Martaba sambil menepuk tangan. Seperti pelacur saja, Joyce dan Shekti bangun dan menyeretku, aku bingung apa ma ksud mereka, (Ooh Shiit !!), dalam hatiku. Shekti dan Joyce berjongkok seperti m au pipis di kamar mandi saja, mereka seperti mengambil jarak, mata jelita Joyce mengedipiku agar aku juga berposisi sama dengan mereka. Untuk solidaritas akupun mengikutinya, lalu Pak Ismet dan Pak Baba mengambil posisi berjongkok juga di depanku dan Shekti. Dengitutuhsi Joyce..lu mau gak ??ancam Pak Ismet rakus. Oyayahehehe maklum belum mudeng (nyambung) akujawab Mamang. Pak Ismet dan Pak Baba mengambil air bergantian, membasuh vaginaku dari panasnya gesekan penis Mamang tadi, Pak Ismet juga membersihkan vagina Shekti dan kadang -kadang jari gemuknya ditusukkan ke dalam vagina Shekti hingga si manis itu mend esah seksi. Begitu juga Pak Baba melakukannya padaku, aku dan Shekti yang berpeg angan di bahu mereka, hanya bisa mendesah sambil mencakar atau menancapkan kukukuku jari kami yang lentik ke bahu mereka, jika tusukan jari mereka terlalu dala m. Mang Udeng mengangguk-angguk tanda konek, dia juga mengambil gayung dan henda k disiramkan ke vagina Joyce yang memar dan belepotan sperma menjijikkan hasil k arya Pak Ismet, namun Joyce mencegahnya, Mang Udeng bingung, dia melihat wajah J oyce mengejan cantik dan, Cuuuuurr.!! Pissing, Joyce pipis di depan Mang Udeng, t ukang sampah itu hampir pingsan melihat gadis SMP, berwajah Indo, berambut sedik it pirang, cantik jelita, berkulit putih berbody aduhai, pipis di depan matanya, Jelegeerr!! Bagaikan disambar geledek, akupun belum pernah lihat langsung, secar a walaupun kami sesama wanita, Mang Udeng melotot tajam penuh nafsu, dia yang ju ga sudah bugil dan juga sudah mulai konak sedari tadi melihat para gadis-gadis c antik itu berjongkok, penis itu semakin mengacung tinggi.

Huak hak hakajiiibbaru pernah gua liat cewek kencingcantik pula orangnya !! komentarn ya senang mendapat pengalaman baru. Setelah selesai dia membasuhnya dan membilas nya dengan sabun pembersih kewanitaan milik Shekti yang diambil Joyce. Para pria berumur itu tampak senang sekali memandikan vagina kami, cukup lama ju ga mereka membersihkannya. Mang Udeng yang baru pertama kali paling tidak tahan, dia terkadang mengangkat pinggang Joyce lalu melahap vaginanya hingga air basuh an yang ada di vaginanya kering kerontang, malah lendir vagina yang terproduksi. Selanjutnya dia menyeret Joyce ke dalam kelas untuk disetubuhinya, menyeret Joy ce pun masih dengan wajahnya yang terbenam di selangkangan Joyce. Pak Ismet dan Pak Baba juga menyeret aku dan Shekti untuk kembali disetubuhi, karena masih lem as kami bertiga diposisikan menungging oleh mereka, Joyce di meja pertama dekat pintu kelas, aku ditempatku tadi deret kedua, dan si manis Shekti di deret ketig a di sebelah deretan meja guru. Aku dan teman-temanku hanya bisa mengerang-erang tak berdaya, para pejantan buruk rupa itu seperti berlomba-lomba layaknya pacua n kuda saja, vaginaku terasa dirobek oleh penis Pak Martaba, penisnya panjang se kali menyodok-nyodok vaginaku, sodokannya itu seperti ingin membelah tubuhku mel alui media vagina, keadaanku ini kurasa sama dirasa oleh para sahabatku. Kami be rtiga berteriak seperti orang gila, bahkan Joyce dan Shekti yang telah terbiasa dengan sex bebas seperti ini dengan mereka, tak mampu jua melayani para petugas sekolah rendahan yang haus seks itu, mereka menggebrak-gebrak meja kelas yang di tidurinya, hingga menimbulkan suara gaduh dan menggema, meramaikan suasana perse ngamaan kami. Rasa frustasi karena Cinta dan jengahnya kehidupan di rumah, kami lampiaskan dengan kehancuran diri, kami tidak berfikir lagi untuk masa depan, ke maluan yang seharusnya kami jaga untuk pasangan hidup terCinta kelak tak terpiki rkan, semakin hancur tubuh yang kami rasakan semakin lega perasaan, hancur ya ha ncur, hanya kata-kata itu yang ada di benak kami, kami telah bulat, Ended to be a Broken Bitches. HuUuunngghhHuUuunngghhHuUuunngghhHuUuunngGghh !!!geram mereka, menyentak masuk penis sekuat tenaga, aku sudah tak kuat, kami saling menoleh melihat keadaan masing-ma sing sahabat, mata kami sudah sayu seksi, menuju klimaks seks, meja yang kami ti duri pun terdorong ke depan bersamaan hingga porak poranda sebagaimana vagina ka mi, tamparan demi tamparan keras kami terima di pantat, tidak kuat lagi maka aku pun berteriak menuju orgasme, diikuti Shekti dan Joyce tak lama. IyaaaahhhPaaaakkhh.Aaaaaaaaaaakkhhhhh!!!erang kami lantang. Uwooooooooookkhhhh!!!Pak Ismet, Pak Baba dan Mang Udeng juga mengejang. CROOOOTTTTS !!! CROOOTTT !! CROOTT !! CROTT !! Dan mereka bertiga pun juga menyusul ejakulasi hampir bersamaan, tubuh kami bere nam mengejat-ngejat nikmat, penis dan vagina kami mengejang-ngejang, cairan leng ket dan kental itu bertemu, pertemuan antara lendir vagina dan sperma, vaginaku ngilu sekali saat disembur sperma Pak Martaba yang semprotannya kencang seperti semprotan pemadam kebakaran itu. Penis itupun tak lama berhenti berkedut-kedut b erhenti memancarkan spermanya, para petugas sekolah itu akhirnya menarik lepas p enisnya dan duduk berselonjoran di lantai kelas, meninggalkan kami dalam keadaan porak poranda di selangkangan dengan posisi menungging, vagina memar lebam dan penuh sperma menjijikkan. Mereka bertiga betul-betul memperlakukan kami seperti pelacurnya saja. Berbicara tak senonoh dengan kata-kata yang jorok tentang enakn ya Mrs.V kami dsb. Setelah cukup tenaga, mereka bangkit dan hendak bertukar pasa ngan. Naaahhdari tadi Bapak mau nyobain Mrs.V Neng Novy ini hak hak haktawa Pak Ismet mesu m. (Oooohhcrap !! ancur Mrs.V gue hari ini !!), keluhku dalam hati. Plaaaakk!! Plaaaakk!!, tangan gempalnya menampari pantat sekal putihku. Pak Ismet memasukkan paksa penisnya yang gemuk itu ke liang vaginaku, sekarang a

ku merasakan sesak yang dialami oleh Joyce dan Shekti tadi. Si tua gembrot itu j uga tampak sesak nafas penisnya terjepit vaginaku yang katanya legit. Dia menyod okku sambil meremas pantatku dengan gemas, yang sesekali ditamparnya kasar hingg a menimbulkan bercak merah bergambar telapak tangan, sementara diriku masih berp egangan pada sisi meja, dimana mejaku sudah mendorong habis meja di depannya hin gga mentok ke dinding, jadi saat disodok gahar Pak Ismet menimbulkan bunyi gaduh , Jdukjduk..!!. Kami pun kembali bersenggama bersama-sama, lagi dan terus dan terus, menjadi obj ek pembuangan sperma, setelah keluar sperma, mereka mencabut penis dan beristira hat, lalu bertukar pasangan lagi, aku dan para sahabatku hanya pasrah menungging menjadi media pengosongan kantung sperma dan pelampiasan nafsu hewani mereka. Pokoknya hari itu hingga sore hari dimana mentari hendak menyembunyikan senyumny a, kami berenam ngeseks tanpa mengenal waktu dan rasa lelah, vagina kami bertiga digarap hingga terasa perih karena terus menerus dipaksa menjepit dan menggesek penis mereka, punwalau pada akhirnya disembur cairan hangat dan kental sehingga membasuh lecetnya dinding vagina kami, keluar ruangan keadaan kami seperti sebu ah benteng yang dirudal, berantakan dan awut-awutan, jalan kami bertiga menyeret karena perih di selangkangan, sedangkan para petugas bejat itu tertawa-tawa mel ihat keadaan kami, Joyce yang paling malang karena dengan keadaan itu dia harus mengantar kami pulang dengan mobilnya. Kejadian itu terus terjadi setiap hari, d i samping kami juga menyukai hal itu, jadi baik itu setiap pulang sekolah, hari libur tanggal merah maupun minggu, kami selalu sex party bertiga, berpindah-pind ah lokasi jika kami ingin mengganti suasana, misal : Villa Shekti, sekitar punca k Bogor, Dago Bandung, penginapan mewah Joyce di Pulau Bidadari dsb. Kenangan pertama itulah yang terngiang-ngiang di kepalaku. (Miss U FriendWhere are U? Need U Now !!) keluhku dalam hati ke arah lautan. Wajah para sahabat-ku terbayang melayang di atas langit hitam bertebar bintang. Antara Kenangan dan Kenyataan 2: Far Beyond the Sun Pagi itu, aku sibuk mengepak barang. Kami bertiga sepakat liburan untuk hilangka n stres di pulau Bidadari. Disana ada penginapan mewah milik Joyce, kami ingin g unakan kesempatan liburan pergi bersenang-senang sepuasnya. Aku menyiapkan pakai an renang minim, bisa dibilang hanya CD dan Bra sih. Kegiatan kami pasti akan pe nuh dengan berenang, disamping memang hobi. Oleh sebab itu, tidaklah heran jika tubuh kami bertiga tak ada yang pendek. Kukenakan tank top merah jambu. Joyce pa sti warna favoritnya hitam, ciri cewek horny. Sedangkan Shekti biru muda kesukaa nnya. Tak lupa, kami lingkarkan syal di leher, bandana serta anting-anting bunda r sewarna pakaian. Dipadu dengan bawahan rok jeans pendek abu-abu. Kekontrasan w arna pakaian dan accesoris dengan kulit menambah pesona kami, membuat kaum pria menoleh hingga leher mereka keseleo ^o^. Din, diiiinn !, klakson mobil memanggil. Oi, Novcepetan ! teriak Joyce. Aku tahu dari suara cemprengnya, Shekti lebih lembut. Aku pamit pada kedua ortu, dari raut wajah mereka terlihat sedang kesulitan. Memang usaha Join Papahku dim asa transisi Pailit. Laba (keuntungan) perusahaan, tidak cukup menutupi hutang d i Bank. Mamah menyapu air mata di pipinya. Kuusap-usap punggungnya, coba tenangk an wanita yang mengandungku itu. Seharusnya aku hanyut dalam derita keluarga, bu kan berpesta pora tinggalkan mereka. (Maafkan anakmu Papah Mamah, aku anak yang tidak berbakti. Hanya bisa bersenang senang, lupakan bakti diri terhadap orang y ang bersusah payah membesarkanku sejauh ini), batinku menatap lautan, kini. Nov, hati-hati di jalanjangan lama-lama ya, Mamah kangen kata Mamahku ter-Cinta sam bil menyium kedua pipiku, beliau meneteskan air mata, basahi pipi kami berdua.

Tak sanggup, air mataku pun ikut menitik. Aku hanya bisa membalas dengan ciuman panjang di pipi beliau, sebagai tanda sayangku padanya. Kukecup keningnya, Papah ku pun juga kucium demikian. Setelahnya kulambaikan tangan sebagai tanda perpisa han, pergi tinggalkan mereka dalam kepusingan. Lewat beberapa kilo, aku masih saja termenung di dalam mobil. Shekti dan Joyce y ang tahu tentang keadaan ekonomi keluargaku memakluminya. Mereka coba menghibur agar suasana perjalanan tidak terganggu. Kadang mereka benar, jika terus dipikir kan tanpa solusi yang jelas hanya akan menyiksa diri, meski kami juga tidak memb enarkan apa yang kami lakukan. Oi, ngomong-ngomong kita mau dientot siapa nihga ngajak bokin-bokin kita ? kata Joy ce asal sambil memutar kemudi, pecahkan suasana sunyi diantara kami. Aku terseny um dengar kata-kata spontannya, mereka senang melihatku kembali cerah. Yaa, nti juga dapetmasa sih ga ada yang mau Mrs.V gratis, cantik lagi yang punya jaw ab Shekti narsis, mengibas rambut panjang indahnya kebelakang. Huuw, bolehnya GR ! sahut Joyce. Aku pun melepas tawa, larut dalam indahnya tali p ersahabatan. Abis, bosen gw dientotin Ismet gendut mulukenyang tiap hari disuruh nelen pejunya yang asin, Hueeekk ! kelakar Shekti. Kami tertawa renyah, karena juga sudah terbiasa curhat seks bersama mereka, aku ikut berbicara tentang bagaimana Mang Udeng mengerjaiku. Joyce tak mau kalah, be rcerita tentang Pak Martaba yang tergila-gila dengan toketnya. Tak terasa berbin cang seputar seks, kendaraan kami tiba di Ancol. Siap menyebrang ke pulau Bidada ri dengan Jetfoil mini milik Joyce. Kami bertiga naik ke kapal itu, disambut san g Kapten dan beberapa ABK dengan ramah. *** Semilir angin laut berhembus menerpa wajah, membelai lembut rambut. Aku termenun g di sisi kapal. Menatap dalamnya laut dan cakrawala yang terhampar. Dataran tan pa ujung, lautan tak terlihat dasar serta langit yang tak bertepi. Nov, bejo lu ya hihihi ledek Joyce. Ih, enak ajaa. Mereka berdua menghampiriku, sudah ganti celana dengan rok pantai warna putih co rak kembang, tipis tembus pandang. Dimana belahannya jika tersingkap bisa terlih at celdam si pemakai. Atasan tetap tank top berdada rendah. Kaca mata hitam meng hias wajah Indo mereka, makin memukau mata yang memandang. Harus kuakui kedua sa habatku itu memang luar biasa cantik, aku saja wanita terpesona dibuatnya. Heh, kenapa lu ngeliatin gw gitu ? jangan-jangan, Joyce curiga karena kutatap terus tubuh seksinya. Yee, enggak-lah yauenak aja ! tepisku, dituduh lesbi. Kami pun tertawa riang, menatap lautan bersama sambil berbincang. Canda tawa bua tku terhenyak lupa akan masalah sejenak. Aku juga beranjak ganti pakaian agar se irama. Dalamannya kupakai CD dan bra renang. Agar saat tiba di lokasi dimana bis a berenang langsung bisa menyelam. Selesai berganti pakaian, kupamerkan pada mer eka. Gimana Jo..Ti ? tanyaku, gaya bekacak pinggang bagai Model catwalk.

Wuiiiiizzdahsyat ! ujar Shekti. Iya ya, keren abissumpah ! timpal Joyce. Maacih, aku GR dengar pujian mereka. Ada bakat Nov kata Joyce lagi. Model-kah ?. Bukan, pemain bokep hihihi. Huuhnyebelin !, aku gemas karena gagal GR, ternyata pujian palsu. Langsung kucubit lengan Joyce, dia berlari kecil, aku mengejarnya. Kami tertawatawa berlari mengitari kapal. Para petugas Jetfoil yang diperkerjakan Ayah Joyce ikut tertawa lihat kelakuan gadis ABG anak majikannya. Shekti ikut mengejar dar i belakang, hingga makin ramai saja permainan kejar-kejaran kami. Saat Joyce ber hasil tertangkap, langsung kutindih dia. Kukelitik pinggang rampingnya, Shekti m emperlakukan hal sama padaku, main kelitik-kelitikan deh ^o^. Setelah merasa lel ah, kami tidur berderet di Palka kapal. Menatap langit biru dan indahnya iring-i ringan putih awan. Ehgw kok ngerasa, kita ini udah kayak sodara yah ? tukas Joyce. Iya sahutku dan Shekti bersamaan. Mana sama-sama anak tunggal lagi yah kata Joyce lagi, aku dan Shekti kembali menya hut kompak. Mm, gimana kalokita kaya di film-film kungfu gitu ? usul Shekti. Film kungfu gimana ?, aku tak mengerti. Yaa, kita bikin sumpah gitujadi sodara angkat, gimana ?. Mm, bolehlebih kentel dari sahabat, iya gw juga pernah lihat tuh di film Mandarin jadul di Tv ga sengaja sahut Joyce. Ok deal, kalo gitukita mulai aja yuk ?, Shekti bangkit dari rebahan. Aku dan Joyce menyusul setelahnya, Nah, kita orang berlutut. Biar indahnya laut menj adi saksi atas sumpah kita ! lanjut Shekti. Ok ! jawabku dan Joyce serentak, kami melutut, bergenggaman jemari. Sip Jo, lu mulai duluancoz lu yang paling tua diantara kita ! tandas Shekti. Ok, gw mulai !, genggaman mengeras, jantung berdegup kencang. Entah kenapa terasa seperti itu, kurasa bukan hanya aku yang mengalaminya. Joyce dan Shekti pasti merasakan hal yang sama, karena tangan terasa erat tapi berget ar. Menanti moment sebuah ikatan suci, tanggung jawab yang lebih dari persahabat an, Kakak beradik. Wahai lautandi hadapanmu, kami ingin utarakan sebuah hal. Aku Joyce, disebelah kan anku Shekti, dan di kiriku Novybersumpah untuk mengikat tali persaudaraan. Berhar ap engkau menjadi saksi. Dimana pun kami berada, walaupun jarak memisahkan kami bertigaandaikan pula kami tidak berada dalam satu tempat yang samakami tetap Kakak ber-Adik. Aku, Joyce Johansenbersumpah setia menjadi kakak pertama, bagi Shekti

Oktaviana dan Novy Andiny. Terima semua keluh dan kesah merekasiap membimbing dan dibimbing ! sumpah Joyce. Aku, Shekti Oktavianabersumpah setia untuk menjadi adik bagi Joyce Johansen, dan k akak bagi Novy Andiny. Terima semua bentuk keluh dan kesah mereka, siap dibimbin g dan membimbing ! sumpah Shekti. Dan aku Novy Andinybersumpah setia untuk jadi adik mereka, Joyce Johansen dan Shek ti Oktaviana. Terima semua bentuk keluh kesah mereka, siap untuk dibimbing dan m embimbing ! sumpahku. Kami bersumpah, mengikat tali persaudaraanbersama dalam suka dan duka ! ucap kami s erentak. Rasa canggung pun menyelimuti, terasa sekali formalnya. Kubuka pembicaraan berus aha alih kembangkan perasaan. Mm terusgimana manggilnya ? kataku memulai, tampaknya dipertanyakan juga oleh merek a. Yah gimana, kalo menurut gue sih kaya biasa ajayang penting sumpahnya khan ? kata J oyce. Ya udah boleh manggil De or Kak kalee, musti direalisasiin dongkhan itu bukti rasa sayang. Ibarat peraturan cuma dibuat tapi ga dijalanin percuma juga Kak ! ujar S hekti, kusetujui dengan anggukan. Ok deh, apa tadi barusankata lu De ?. Apaan Kak ? yang mana ?. Itu tadi, bukti rasa sayang ?. Mmm, iya ?, Shekti menjawab singkat karena tidak mengerti maksud Joyce. Sayang kaya gini, MmCuph ! Joyce menyium pipi Shekti penuh kasih sayang, Shekti tidak mengelak dicium Kakak angkat barunya. Pemandangan itu buatku iri, wajahku merengut berat karena ingin di sayang dan dicium juga oleh mereka. Uuuh, mauuuu ! manjaku, bibirku manyun dengan kedua tangan mengepal. Ade mau juga ? ledek mereka, aku mengangguk. Ya udah, niih.MmCuph !. Mereka mencium pipi kiri dan kananku bersamaan, (Uuh senan gnya ^o^). Ciuman buat Kakak mana ?, todong mereka, akupun langsung cekatan menyium pipi mere ka berdua. Wah-wah, mau dong ikut cium-ciuman hehehe, ledek sang Kapten yang tampan. Weeek !, Joyce meleletkan lidah padanya, disambut gelak tawa semua orang yang ada di sekitar kapal. Dia menarik lenganku dan Shekti ke kabin dalam dimana terdapat kasur empuk untuk rebahan. Kak, petugas di kapal ini ganteng-ganteng yah kata Shekti. Mm, gitu dehkenapa, mupeng ya dientot mereka hihihi.

Iiiih, ga-lahenakan sama orang kaya Pak Ismet, lebih brutal hihi. Iya, lagi juga pada hormat banget sama Bokapjadi pada ga berani macem-macem gitu s ama Kakak terang Joyce. Yaah, kasianberarti Kakak mupeng juga tuh, dimacem-macemin sama mereka hihihi aku m eledeknya. Nakal ya Adeku satu ini, Awas ! ancamnya, pinggangku digelitiknya. Aku langsung tertawa kegelian, kubalas dia, Shekti pun ikut dalam permainan itu, main kelitik-kelitikan lagi deh ^o^. Lelah bercanda, kami bertatap-tatapan. Tib a-tiba aku dikagetkan jari-jari Joyce yang menangkup daguku. Dia menariknya hing ga wajah kami berdekatan, adu mulutpun terjadi. Kupagut bibir Joyce, kami bertuk ar liur, telusuri panjang bibir dan saling emut-emutan lidah. Shekti yang iri in gin bergabung, mencucup pertemuan lidahku dengan lidah Joyce. Mmh, Aahhhh ! desah Joyce, saat kugigit kecil lehernya. Emmfhh!, aku bergumam, Shekti mencupang leherku. Desahan Shekti menyusul setelah Joyce mencupang lehernya. Kami saling menggigit dan menjilat lembut. Variasi yang buat leher merah terbasuh ludah, sebuah moment yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Lidahku berpetualang ke leher Joyc e, menuju wajah Indonya lalu kembali adu mulut. Dia mengemut daguku, kubalas den gan kecupan di hidung mancung khas Eropanya, dia balas cium pipiku. Shekti memba ur dengan bibir tipisnya yang selalu terlapis lipgloss pink. Nafas kami sudah ti dak teratur. Dengan nafsu yang menggelora, aku dan para sahabatku yang sudah res mi jadi Kakak adik itu menelanjangi diri sendiri. Secara, kami memang sudah seri ng telanjang bersama saat seks party. Nuts !, were naked !! three Angles in Love desire. Payudaraku dilahap Joyce, aku mendesah, mendesah dan terus mendesah. Lid ah nakal Joyce yang bisa membuat pria tergila-gila lewat oralnya itu menggelitik putingku. Mulutku beradu dengan mulut Shekti, mata kami berdua bertatapan denga n seksi. Aku menggeser kepala menciumi payudaranya yang berfisik panjang, sesuai dengan postur tubuhnya yang tinggi. Dia sendiri tenggelam diantara belahan dada bulat Joyce. Jari-jari lentik kami yang terhias kutek berwarna favorit, ikut ra maikan rangsangan dengan rabaan dan pijatan di sekujur tubuh. Erangan mengeras d ikala kami saling menancapkan jari pada liang vagina lawan tanding. Sampai-sampa i berhenti mengemut. Mata sudah demikian sayu lantaran horny. Seandainya ada yan g masuk, siapapun, mau memperkosa, pasti kami pasrah. Joyce menancapkan jarinya dalam-dalam pada vaginaku, aku menatap melas agar tidak terlalu dalam. Aahhhhh! sek ujur tubuhku bergetar merasakan nikmat. Jariku mengusap-usap bibir kemaluan Shekti, kulampiaskan balasan padanya. Kutanc apkan dalam-dalam jari di vagina, Shekti mengerang panjang. Dia balas perlakuank u pada vagina Joyce, menusuk dalam-dalam vaginanya, lidah Joyce terjulur mendesa h lirih. Kami lakoni Lesbian seks berantai. M.Aahhhh, YessKak Joiii.ii.i.i.icee, Ngghhhjangan dalemdalem, Plisshhh ! mohonku pada Joyce. Em.Aahhhh, Dea.ampunhhjangan terla.ludalem.Aaaawh Sssh ! iba Joyce pada Shekti. De.AhhhhSsshh, udah De.Aahhhhudaaahhhh ! pinta Shekti padaku. Semakin lama, tarik ulur jari semakin cepat, juga tertanam makin dalam. Hahhhh.HahhhhHahhhh, Iyaa.ahIyaaaaaaahhh !, kami orgasme bersama.

Erangan demi erangan berkumandang. Kenikmatan melanda, selubungi tubuh telanjang kami bertiga. Kejatan badan bagai tersengat listrik ribuan Volt, kami menjerit dengan jari masih menancap. Tubuh telanjang kami bertabrakan. Sebuah ledakan org asme yang dahsyat. Untung saja ruangan privacy, sehingga suara yang menggelegar tidak terdengar keluar. Sehabis orgasme kami kelelahan, tidur bertumpuk badan de ngan nafas tak beraturan. Aku memandangi jariku yang belepotan, kaget karena Joy ce tiba-tiba mengemutnya. Dia jilati Jus cinta Shekti di jariku. Shekti meraih j ari Joyce, mengemut Jus cintaku. Agar kompak, aku pun menjilati jari Shekti yang terselimut Jus cinta Joyce. Kami mirip bayi dengan dot botol susunya. Nafas mul ai kembali teratur, Joyce mengatur posisi tubuh (Oh, nonot again !), keluhku. Sahabat sekaligus Kakakku ini betul-betul hypersex, padahal mereka masih terliha t lelah dari mata. Dia mengambil posisi wajahnya ke vaginaku, siap menjilat deng an penuh kasih sayang agar aku meraih kepuasan. Shekti mengambil posisi di selan gkangan Joyce, sedangkan aku ke milik Shekti. Kami saling menjilat untuk memberi kepuasan. Bersama menuju surga dunia, terbang melayang melalui lengkingan nikma t orgasme. Lelah bercinta, kami tidur berdekapan, dilengkapi dengan senyuman. *** Tok ! tok ! tok !, pintu kabin diketuk. Non Joyce, maafsaya hanya ingin sampaikan pesan kalau kita sudah sampai ! kata oran g di balik pintu. Kami terbangun senang, meski masih ngantuk dan Waaw! masih telanjang pula. Joyce yang paling bersemangat tadi tampak loyo, dengan jahil kukelitik pinggangnya aga r dia bangun. Joyce kegelian, memejet hidungku sebagai buah kenakalan. Kukucek m ata dan meregang, keluar dari kapal untuk menginjak daratan. Akhirnya, tiba juga kami di pulau Bidadari. Sangat indah, surga dunia. Udaranya alami dan segar, ja uh dengan udara kota Jakarta yang penuh polusi. Kami melangkah ke penginapan mil ik Joyce. Disana pun disambut ramah oleh Manager dan staf penginapan, dibawa ke tempat istirahat khusus Owner (pemilik) yang telah disiapkan. Langsung showeran dan berendam di bath tub guna hilangkan bekas adegan, tentu sedikit lesbian kare na telanjang tiga-an. Makan kue Tart sedikit, lantas keluar penginapan untuk jal an-jalan. Mas, kalo mau ke pulau itu gimana caranya ? tanya Joyce pada salah seorang staf, m enunjuk ke sebuah kecil yang hampir tak terlihat kasat mata. Oh, musti nyebrang pakai perahubiasanya ada Bapak tukang perahu yang nyebrangin, t amu penginapan juga sering minta dianter keliling pulau sama dia. Tunggu aja, se bentar lagi mungkin dating jelas pria itu, senyuman memperlihatkan giginya yang to nggos. Iya deh, makasih Mas. Sama-sama. Maaf, iniNon Joyce yah, anaknya Mr. Johansen majikan kami ?. Ya iyalaah. Wah, dulu masih kecil pernah kesiniSD kalau ga salah, saya masih seumuran Raffi Ah mad waktu itu kata Mas-mas tonggos itu buat kami tersenyum. Oya, udah lama dong Mas kerja disini ?. Ya lumayan. Nama Mas siapa ?, Joyce mengibaskan rambut mulai TP, jangan-jangan dia horny mau d

ientot si tonggos. Shekti *ehem-ehem* mengingatkannya agar jangan gila, coz kita juga bisa ikut nanti ^o^. Brandon !. Puff !, kami menahan tawa mendengarnya, takut dia tersinggung. (Brandon ? plis deh ). Canda Non, heheheBadongo nama saya. Hihi, kirain Mas serius ?. Emang ga pantes yah ?. Kurang masuk Mas sama mukanya hihihi, si mas-mas tonggos tertawa, berarti dia tida k marah diajak bercanda meski dihina. Kalo gitu, aku panggil Bang Dongo aja ya ?. Yah, jangan dong Non !. Abang dongooabang dongoo hihihi ledek Joyce. Lho, kalo Mas Badongo khan anehkepanjangan. Iya deh, terserahnamanya juga majikan hehehe. Berarti, kita nunggu disana ya Bang ?, tunjuk Joyce ke pinggir laut. Iya Non, sebentar lagi kayanya si Bapak datang. Ok deh, dah Bang Dongo, Joyce mencubit pipinya lalu kissbye. Mas-mas tonggos bernama Badongo itu kaku tak bergerak, belum pernah seumur-umur diperlakukan seperti itu, apalagi oleh gadis Indo secantik Joyce. Waktu kami ber jalan meninggalkannya, terasa sekali pantat dipelototi dari belakang. Sampai di tepian, kami sempat menunggu sekitar 5 menitan, BT juga sih. Namun tak lama, ter lihat sebuah perahu beserta seorang Bapak-bapak di dalamnya. Pria berusia kisara n 35-40 tahun, tubuh gempal, memiliki kumis serta bibir tebal. Bapak itu terus-t erusan memandangi kami meski perahu telah sampai di tepian. Kak-kak, lihat deh kumis si BapakDe bayarin hihihi bisikku pada Shekti dan Joyce, me reka tutup mulut menahan tawa. Pak, kita mau ke pulau seberanganter dong, bisa ? nanti kita bayar deh kata Joyce. Pulau yang mana Non ? disini banyak. Yang itu tuh, Joyce menunjuk ke salah satu pulau kecil. Oo, itu sih kosong Nonga ada yang bisa dilihat. Terus, apa isinya itu pulau ?. Yaa, palinghutan kecil, tanah kosong sama rumah Bapak hehehe. Bapak tinggal disitu ?. Iya Non gubuk, mending ke pulau sebelahnya aja saran si Bapak. Owh, emang ada apa Pak disitu ?.

Ya mirip pulau ini, yang jelas berpenghuniga seperti pulau yang Bapak tempati itu j elas si Bapak mengenai Pulau Sawi. O, ya sudahkalo gituke pulau Bapak aja !. Aku, Shekti dan Bapak tukang perahu terkej ut mendengarnya. Kukira Joyce akan bilang ke pulau satunya. Mau ngapain Non di sana ?. Mau tahu aja Pak, kayak apa sih pulau tak berpenghuni itu ungkap Joyce. , si Bapak terdiam, lalu berkata. Kalau memang itu mau Nonmari saya antar, Joyce berjalan menghampiri perahu, Aku dan Shekti bertatapan sesaat, mau tak mau ikuti kemauan Kakak angkat kami itu. Bapa k tukang perahu menyalakan mesin. Wrrr, wrrrrrrrrrr!!, dan perahu pun berangkat. Ini dayung buat apa Pak ? khan udah ada mesin pendorong ? tanya Joyce terheran. Oh itu, bisa aja kan sewaktu-waktu mesin berhenti di tengah jalan, jadi ada dayun g untuk giring perahu ke daratan jelasnya, kami bertiga mengangguk. Sesampainya di dekat pulau yang kami tuju, air terlihat jernih. Tidak terlalu da lam, pas untuk berenang. Joyce membuka rok pantai corak kembangnya, pamerkan tub uh indah sexy yang terbalut pakaian renang minim. Bapak tukang perahu mupeng mel ihat pemandangan yang tersaji cuma-cuma di hadapannya. Joyce telah terbiasa deng an ekspresi laki-laki seperti itu, cuek bebek memasang kacamata renang, lalu ber tingkah gila membuat kaget kami semua. Bapak ngeliatnya nafsu amatmau ini Pak ?, Joyce menggeser bagian depan celana renan g, tukang perahu sontak melotot. Seusai pamer kelamin, dengan santainya dia terjang lautan, nikmati keindahan ben ing air. Aku dan Shekti hanya menggeleng kepala atas kenakalan Kakak angkat kami itu, lepas pakaian siap menyusul. Wajah si Bapak bagai anak kecil minta dibelik an mainan, ingin kami berlaku sama seperti Joyce tadi. Kami jadi iba, terpaksa m engabulkannya. Pak, kita juga mau berenang sebentarduaduaah, Muach ! saat berucap muach, kami pamerk an vagina kami, seolah vagina yang berkata demikian. Liur si tukang perahu netes tak terbendung, matanya melotot seakan ingin memakannya saja. Kutinggalkan dia dalam kemupengannya. Aku dan Shekti terjun ke laut menyusul Joy ce. Main ciprat-cipratan, nyanyi sambil joget di atas batu karang dan lomba adu kuat tahan nafas, yang kalah kena dicumbu. Tukang perahu makin nepsong lihat kam i lesbian, Joyce mengerlingkan genit sebelah mata, aku dan Shekti mempertontonka n ciuman lesbi super HOT. Puas renang dan bersenda gurau, kami balik ke perahu. Namun dikagetkan dayung yang terbentang, menghalangi kami untuk naik. Apa maksud Bapak ? kata Joyce ketus, si Bapak cengengesan. Bapak pasti mau Mrs.V kita-kita khan ? Minta aja yang sopan, ga perlu pake kekera san ! tambah Joyce, aku dan Shekti mendukung dengan wajah kesal. Betul Non, Bapak memang pengen ngegituin Non bertigatapi untuk selama-lamanya haha ha kata tukang perahu itu. (What ?!? just one fuck sih okebut, jadi Budak!?), batinku. Kami semakin benci padanya, padahal tadi berniat kasih dia sekali-dua kali kecro t gratis.

Oh iya, tadi Bapak belum bilangkalau fungsi dayung satu lagibuat antisipasi Hiu !. HIUUU?!!, kami bertiga serentak kaget. Iya, Hiu hehehe. Jangan nakut-nakutin dong Pak ! kata Joyce dengan wajah pucat, kami bertiga celing ak celinguk kiri kanan, takut yang dikatakannya benar. Ya memang ga selalu ada, tapi bukan ga mungkinkali aja ada yang nyasar hehe kata si Bapak menyebalkan, berhasil menambah rasa takut kami. Tolong Pak, kasih kami naikkita kasih apa yang Bapak mau tawar Joyce dengan suara be rgetar, kami merapat berpelukan. Ya itu tadi Bapak bilangBapak mau Non semua jadi milik Bapak selama-lamanya !. Ga mungkin Pak, kalo Orang tua kita nyari gimana ?. Bapak bikin laporan kalau perahunya bocor dan karam di tengah-tengah, terus jadi kehilangan Non semua karena ombaknya besar waktu berenang nyelametin diri hehehe terang si Bapak, bangga akan rencana cabulnya. Naah, kalau Non sekalian pada ga mau dimakan Hiumau naik ke perahu, musti patuh sa ma perintah Bapakngerti ? lanjutnya. Baik Pak, cepet kataku, paling ketakutan diantara kami. Bapak itu mencari sesuatu, sepertinya di karung yang sempat kulihat sekilas wakt u tadi duduk. Tak lama, dia kembali dengan tiga utas tali tambang terpotong pend ek. Dilemparnya ke Shekti seutas. Non, iket temennya ! si Bapak menunjuk Joyce, tampaknya dia dendam birahi terhadap Joyce, memang Kakak angkatku itu yang memulai godaan. Shekti cepat-cepat mengik at tangan Joyce ke sisi pembatas perahu. Aduuh, pelan-pelan De ! protes Joyce berbisik. Maaf Kak, De ga punya pilihan balas Shekti berbisik, Joyce tersenyum maklum. Bapak tukang perahu melempar kembali seutas tali, kali ini ke arahku. Aku tahu a pa maksudnya, yakni menyuruh untuk mengikat Shekti, Kakakku. Dengan sangat terpa ksa, aku melakukan apa yang tak kusuka. Untung Shekti tersenyum saat kuikat, mer ingankan rasa tidak enakku padanya. Bapak tukang perahu cengengesan ke arahku, s eakan berkata baguusbaguuss. Dia berdiri dan melepas seluruh pakaian. (Shit tuh Mr.P !), batinku, melihat kejantanannya big size. Arti tatapan Shekti dan Joyce pun sama, (Bisa mati orgasme gw !). Sambil menggenggam seutas tali sisa, si Bapak lompat sambil teriak Cihuuy !. JBUUR !!, air laut menyiprati wajah kami. Puaah, tinggal si Non ini ya ? katanya mendekatiku. Pak-pak, Hiu-nya gimana ?, Shekti masih ketakutan. Oo, tenang aja Nonada Bapak, itu Hiu harus ngelangkahin mayat Bapak dulu ! sahut si Bapak angkuh. Kan bukan cuma Hiu yang mau makan NonBapak juga, hehee Slurrp !, dia menjilat bibir seakan melihat makanan lezat.

Aku hanya bisa pasrah melihat tali mengunci tangan, cukup sakit buatku miris. Se lesai mengikat, si Bapak mengecek ulang ikatan Shekti dan Joyce. Naah, sempurnaHm-hm, kalau begitukita mulai dengan ini *Breek !*, Bra renang-ku dita riknya hingga putus, gunung kembarku terombang-ambing mengambang di lautan. Bapa k tukang perahu tersenyum senang, langsung diremas-remasnya buah dadaku. Wah, anak-anak sekarang cepat berkembang ya komentarnya, dilanjut dengan lahapan r akus. Pak, Ssshh aku mendesis nikmat, kepalaku terdongak menatap langit. Bibir tebal si B apak menelan toket bulat-bulat, lidahnya mempermainkan puting, buatku Ahhh Ahhh e m.Ahhhh berkedut nikmat. Kumisnya menggesek dada, buatku geli-geli enak. Puas men yusu, dia beralih ke Shekti. Whuaa, yang ini mirip Pepaya heheh ejek si Bapak, melihat bentuk payudara Shekti. Nasib Shekti sama denganku, dadanya menjadi bulan-bulanan tangan dan mulut si Ba pak. Sebelahnya merenggut Bra renang Joyce, *Breek !*. Gilaaa, tetek paling monto k diantara bertigapantes lebih perek ! katanya kurang ajar. Payudara kedua Kakak angkatku kini jadi permainan. Diremas, dilahap, puting dipu ntir, disentil lidah dan lain sebagainya. Wajah mereka berdua sudah demikian mer ah, si Bapak tertawa cekikikan melihat itu. Bangga pada keberhasilan memancing g airah korbannya. Bleb, si tukang perahu tiba-tiba menyelam, kami bertukar pandang, tak tahu dia akan melakukan apa selanjutnya. Mr.P ! umpat Joyce buatku kaget. Mimik wajahnya seperti kehilangan sesuatu. Damn !, umpatan Shekti menyusul, ekspresinya sama dengan Joyce. (Apa yang terjadi? Hiu-kah ?), aku bertanya-tanya dalam hati. Shit ! akupun refleks mengumpat, sama seperti mereka. Rupa-rupanya, aktivitas si Bapak adalah menarik lepas CD renang dari bawah. Kini aku dan kedua Kakak angkat telanjang bulat di dalam laut. Bapak itu muncul ke p ermukaan. Puaah, akhirnya Bapak lihat juga Mrs.V Non pada hehee. Baru pernah ngelihat Mrs.V anak gadis, apalagi secantik Non bertiga. Nah, mari kita mulaidari yang godain B apak pertama kali dulu ! kata si Bapak sambil melempar pakaian renang kami ke per ahu, setelahnya kacamata renang kami. Hingga tak ada lagi yang tersisa di tubuh, selain anting dan kalung emas 18 Karat. Dia kembali menyelam. Aahhhh, SsssLeehhh, kulihat Joyce menganga dengan lidah terjulur, seperti sedang me rasakan sebuah kenikmatan yang luar biasa. Aku dan Shekti iri melihat itu, sepertinya nikmat sekali. Aku tahu apa yang dila kukan si Bapak, pasti dia jilmek. Rasa takut adanya Hiu sirna, kini berubah menj adi hasrat ingin di jilmek. Joyce menjerit histeris, wajahnya merah kelelahan, o rgasme dikerjai si Bapak. Tukang perahu itu muncul ke permukaan, ambil nafas seb entar lalu kembali menyelam. eM.aAhhhhSssstt, yeahhyeahhhh. Tampaknya mulut tebal si Bapak beralih ke vagina Shekti, karena Kakak angkatku y

ang berpostur tinggi ramping itu keenakan. Shekti mendesah kecil berulang-ulang, dugaanku si Bapak mengobok-obok vaginanya dengan jari. (Kuat juga si Bapak tahan nafas, mungkin sudah biasa bertualang di laut), pikirku . IYAAHHHHH !! rintihku, saat kurasa sebuah jari gemuk menusuk Mrs.V. Yahhhhyahhhyessyesss.hh, aku mendesah seirama dengan jari tukang perahu yang keluar m asuk vaginaku.

Aku dan Shekti berlomba merintih nikmat, tubuh telanjang kami sama kelojotan di dalam laut. Saling tatap satu sama lain untuk mengetahui keadaan dengan wajah sa yu. Noo, its comiing! its comiing, Sssh ! desisku. Iyaahh, Iyyaaaaahhhh!, rintihan pa ng itu menandai orgasmeku. Si Bapak menusukkan jarinya dalam-dalam, membuat tubu hku dan Shekti sedikit terangkat, barulah saat itu Shekti merintih panjang. Kaki ku menendang-nendang tak jelas arah di dalam air, resapi kenikmatan jari yang me nyumpal vagina. Puaahh, heheheheenak Non pada ? ejek si Bapak disertai cengiran, saat muncul ke per mukaan. Kami berdua hanya terdiam, menerima cemoohan karena memang benar adanya. Ronde ke dua ! ujar si Bapak seraya melepas ikatan Joyce. Dibawa ke batu karang tak jauh d ari kami. Mereka berdua naik ke atasnya, setengah tubuh mereka di atas permukaan air, jadi aurat telihat. Si Bapak mengatur posisi berhadap-hadapan. Sebelum memulai, ia berikan sebuah ji latan telak di Mrs.V Joyce, buat Kakak angkatku yang cantik Indo itu mendesah ke enakan. Tanpa membuang waktu lagi, si Bapak membimbing penis ke depan bibir vagi na. Joyce pasrah gelayutkan tangan ke leher si Bapak. Dengan penuh nafsu dan ras a gemas, ia dorong penisnya hingga tertancap keseluruhan, Joyce mengerang panjan g. Pastilah penis si Bapak bukan takaran Mrs.V ABG Joyce. Sebaliknya, si Bapak melenguh lantaran jepitan Mrs.V terlalu liat. Kedua belah k aki Joyce dinaikan ke bahunya. Kakak angkatku yang berdarah Jerman itu pasrah di gagahi, menyambut tiap sodokan dengan rintihan. Dengan mudah tukang perahu itu m enaik turunkan Joyce lewat tangkupan dipantat. Acap kali rintihan Joyce terdenga r keras saat pantatnya dilempar tinggi-tinggi, tentu vagina wajib menumbuk benda yang bersarang di dalam. Adapun vagina istirahat menumbuk, pantatnya tidak, har us siap diremas atau di tampar keras. Si Bapak tersenyum lihat ketidak berdayaan Joyce, lantas kembali menaik turunkannya sambil tertawa sinting. Tak lama kemudian, Joyce didekap erat, si Bapak kulihat menggemeratakan gigi. Tu buh Joyce melengkung, entah dia orgasme atau tidak. Pastinya kulihat ada cairan putih pekat kental menjuntai waktu si Bapak mencabut penisnya dari vagina. Cengi ran jelek tergores di wajah tukang perahu itu, puas berhasil tanamkan benih di r ahim gadis ABG penggoda imannya. Joyce digiring naik ke perahu. Giliran Shekti kena entot, si Bapak menggiringnya ke batu karang. Diperintah untuk memiringkan tubuh, sebelah kakinya diangkat, S hekti pun refleks melingkarkan tangan ke leher si Bapak lantaran takut jatuh. Na mun si Bapak malah menyurukkan wajah ke selangkangannya, jilat-jilat Mrs.V sejen ak. Shekti meracau tak karuan, rambut si Bapak dijambak keras. Rupanya jilatan s i Bapak terasa lebih nikmat baginya di luar air. Si Bapak sendiri ketagihan akan rasa Mrs.V, tidak sebentar dia ciumi Mrs.V wangi Shekti. Puas jilmek, ia arahkan penis ke sasaran tembak sambil mengocok. Sampai di bibir vagina, langsung ditekan hingga amblas. Shekti menjerit, tubuhnya serasa terbel ah dua, dibelah melalui kewanitaan. Si Bapak merem melek menikmati kencangnya je

pitan Mrs.V Shekti, langsung dipenetrasi saat itu juga. Posisi mereka agak sulit di laut, beberapa kali penis lepas dari vagina lantaran mereka tercebur. Si Bapak pantang menyerah, kembali melesakkan penis meski berulang kali. Ia ceki k leher Shekti perlahan sambil menyelupkan jarinya ke mulut, disambut Shekti den gan kuluman, begitu cara mereka bersetubuh. Selang beberapa detik, si Bapak meny entak kasar, ejakulasi. Mereka berdua tercebur ke laut, namun si Bapak terus men dekap Shekti. Iba aku pada Kakak angkatku itu, pasti dia mati-matian menahan naf as. Tubuh si Bapak mengejang beberapa waktu. Setelah kedutan berhenti, barulah S hekti dilepas olehnya, Shekti langsung megap-megap mencari oksigen. Si Bapak kembali tersenyum puas, tubuhnya mengapung terlentang di air menatap la ngit. Dengan sisa tenaga Shekti berenang ke arah perahu, dia sempat menatapku se saat seakan meminta maaf karena tak berdaya dan tak punya cukup tenaga untuk men olong. Selagi aku memperhatikannya naik ke perahu, sebuah jari menusuk telak vag ina. Ahhh.mMff !!, si Bapak memagutku setelah jarinya menancap. Ia melecehkanku, k eluar-masukkan jari sambil melihat ekspresi wajahku yang tentunya lagi ke-enakka n. Puas mencemooh, tali ikatanku di lepas. Giliranku di garap, aku disuruh membalik badan. Ia memeluk, buah dadaku diremasnya sambil menggesek penis ke pantat, lam a kelamaan penis itu mengeras. Bagai kerbau dicocok hidung, aku pasrah saat pung gungku di dorong untuk nungging. Kakiku disepaknya lebar agar ia mudah memasukik u. Hngggh ! ini Mrs.V palinggh, legith..dari yanglainh ! celoteh si Bapak, saat berhas il menanamkan kejantanannya di liang vaginaku. Rintihan nikmat keluar dari mulut karena penuh kurasa. Rintihan itu terus berulang tatkala penis membelah vagina berulang-ulang, kugoyang pinggul agar ia lebih bernafsu menyodok. Kedua tanganku yang mengepal ditariknya kebelakang, dihentaknya berlawanan arah dengan sodokan seakan aku ini kuda dan ia kusirnya. Suara persetubuhan kami sang atlah ramai, tepukan pantatku dengan pinggulnya, kecipak air, di tambah dengusan berat nafas. Yes, YessIyah, Iya-aaahhhhh !, aku orgasme, kuku-ku mencakar lengannya. Syukur ia m engerti keadaan, sodokannya mereda, biarkanku nikmati klimaks sejenak. Mendengar nafasku kembali normal, ia lanjutkan hujaman penis, sambil tertawa sin ting pula. Sodokannya lebih brutal dari sebelumnya, kepala penis terasa menggedo r dinding rahim. Ooohh.Hngkkh !, CROOOT !, semprotan mani dahsyat kurasa di liang vagina. Sedikit memang sperma yang muncrat, telah di-umbar habis di kemaluan ked ua Kakak angkatku. Tubuh kami begitu lekatnya, kejangan tubuh si Bapak terasa hi ngga di tubuh. Penisnya yang masih bersarang di vaginaku meng-kerut. Ia lepas cengkramannya di tanganku, aku pun tercebur ke laut. Sebenarnya aku lemas, namun dinginnya air ke mbali buatku segar. Tak ingin tenggelam, sebagaimana kedua Kakak angkatku, kupak sa tubuh lelahku berenang ke perahu. Untungnya mereka sudah siuman, jadi bisa ba ntuku naik, tak lama Bapak tukang perahu menyusulku naik. Nah, istri-istriku.mari kita ke rumah kalian yang baru ! katanya, seraya menyeringa i. Aku, Shekti dan Joyce diam tak menyahut, sekelompok gadis tanpa daya dan upaya. Si Bapak menyalakan mesin, berangkatlah perahu kami ke pulau yang sudah terlihat itu. Sesampainya, kami yang masih telanjang bulat digiring paksa ke sebuah gubu k, yang tak lain adalah tempat tinggalnya. Kutapaki satu demi satu anak tangga y ang sudah reyot itu kayunya. Sampai di dalam, si Bapak menyuruh kami duduk menun ggu di dipan.

Pak, tolong pulangkan kami !, Joyce memohon. Pulang ? sahut si Bapak, kami mengangguk. Boleh, tapi Bapak dikasih apa dong ? kata si Bapak dengan wajah mengejek. Ia jongk ok di depan Joyce persis. Joyce yang mengerti langsung mengangkangkan kaki, vaginanya dipandangi si Bapak. Coba Non kesini !, ia menyuruh Shekti berdiri di sisi kirinya. Shekti menuruti pe rintah dengan segera, karena pikirnya setelah ini selesai akan di-izinkan pulang . Yang si Non itu kesini ! suruhnya padaku, untuk berdiri di sisi kanan. Tukang pe rahu mencengkram kedua betis Joyce. Nah, Non pegang inisi Non pegang yang ini. Terus angkat tinggi-tinggi ! kata tukang perahu itu, tentu saja aku dan Shekti bertukar pandang. (Bagaimana ini ? Masa kami harus menghidangkan kewanitaan Joyce, Kakak angkat ka mipada orang yang baru kami kenal ?) batinku, Shekti pun kuyakin berpikiran sama. Lho, kok bengong ? Ayopada mau pulang ga ? bujuk si Bapak. Joyce mengangguk pada ka mi, seakan dia mengerti aku dan Shekti ragu menjadikannya umpan. Entah dia ingin b iar kami cepat pulang atau sudah tidak tahan dijilat melihat tatapan lapar si Ba pak pada mekinya. Kami berdua melaksanakan perintah tanpa ragu. Tinggian lagi Non ! Teruspegang di pangkal paha ! suruhnya, aku tak mengerti. Kutur uti perintah cabul itu, Shekti mengikuti. Tiba-tiba, tangan tukang perahu mencap lok buah pantatku dan Shekti. Mendorong hingga vaginaku, Shekti dan Joyce berdek atan. YAHHHH, kami mendesah berurutan. Lidah tukang perahu melakukan jilatan berantai da ri Mrs.V Shekti, Joyce lalu ke memekku. Owh, Yesssshh Joyce berdesis, si Bapak melahap rakus vaginanya. Lahapan itu bergant ian, kadang ke vaginaku kadang ke vagina Shekti. Yang pasti, kami bertiga keenak an dibuatnya. Jari besarnya menelusup dari belakang bawah, mencolok liang, korba nnya adalah liangku dan Shekti. Mulutnya focus pada Mrs.V Joyce. Lidah kami bert iga sama terjulur, sebagaimana wanita yang mendekati puncak kenikmatan. Kepala s i Bapak maju mundur, lidahnya mencolok-colok itil Joyce. Kakak angkatku yang lia r itu mengerang keras, kakinya yang kami pegangi mengamuk. Di saat yang sama, ja ri si Bapak menusuk vagina dalam-dalam. Aku dan Shekti pun juga jadi mengerang p anjang. IYAAAAAHHH!, Joyce melepas orgasme yang membelenggu, tubuhnya menggigil. Aku dan Sh ekti nyusul kemudian, tukang perahu cekatan merangkul pantatku dan Shekti, sehin gga wajahnya terkurung oleh vagina kami yang sedang mengucur jus cinta. Ia telah menduga bahwa waktu orgasme peganganku dan Shekti pada betis Joyce akan melemah , jadi buru-buru ditangkupnya pantat Joyce agar tidak jatuh. Kemi berempat merap at. Mulutnya bergantian jilati jus Mrs.V yang dihasilkan tiga gadis belia. Muaah, seger-seger-seger hehehe komentar tukang perahu itu, seraya merebahkan kami semua di dipan dengan gentle, seakan-akan kami ini istrinya. Ia pandangi kami b ertiga, tersenyum sebentar lalu berkata. Nah, masih pada mau pulang ? enakan disiniBapak bikin Non puas kayak tadi ga berhe nti-berhenti huahaha ejeknya keluar kamar. Rumah memang tak berpintu, tapi sepert inya ia merasa aman, berfikir kami takkan mungkin bisa keluar dari pulau dengan mudah. Di atas dipan kami berpandang-pandangan. Kak, gimana nih ? tanyaku, mereka berdua hanya menggeleng, aku juga tak bisa menya

lahkan mereka. Setelah punya cukup tenaga, Joyce bangkit lebih dulu. Aku dan Shekti mengikutiny a, ia bagai Kakak, juga bagai Induk. Kami jalan telanjang bertiga keluar rumah. Entah kemana tukang perahu itu, kami kembali ke tempat dimana kami pertama berpi jak di pulau tak berpenghuni ini. (Lho, kemana perahu yang kami naiki tadi ?), batinku, Joyce dan Shekti pasti ber pikiran sama. Mungkin dia hilang saat ini sedang menyembunyikan perahu, who know s Aku celingak celinguk ke kiri dan kanan, tak ada? Kemana tukang perahu dan perahu miliknya ? haruskah aku dan kedua Kakak angkatku tinggal selamanya di pulau ini ? Tidak, pasti akan ada pahawan berkuda putih yang akan datang menyelamatkan ka mi. Tetapi saat ini harapan kami hanyalah ada perahu mendekat atau mampir, meski kecil kemungkinan. TEPOKK !!, aku dan Joyce menjerit, sebuah tamparan keras mendarat di pantat kami berdua, Shekti..Joyce dan aku terbelalak kaget. Lagi ngapain disini, hah ? bentak si tukang perahu dengan mata melotot menyeramkan. Lidahku serasa kaku untuk menjawab, Joyce sebagai yang tertua coba bernego. Kita, K ITA APA ?! bentak tukang perahu itu lagi, kami berpelukan karena takut olehnya, t akut dia menyakiti kami nanti. Ayo pulang ke rumah baru kalian ! kata dia seenaknya. Kami pun digiring kembali ke gubuk. Sampai di kamar, disuruh nungging di atas dipan, dari belakang ia tampar i pantat kami hingga terasa perih. Pasti bilur kemerahan, aku tak sempat melihat karena kami kembali disetubuhinya, yang kali ini dengan bengis. Rintihan kami b ukanlah rintih kenikmatan, namun kesakitan. Berkali-kali ia hujam keras penisnya , sampai-sampai tubuh terhempas bergantian. Aku bahkan disodoknya hingga tengkur ap, terus dihujam sampai memekku terasa jebol. Shekti dan Joyce bernasib sama, m ungkin maksudnya untuk memberi pelajaran agar tidak mengulang pelarian, Joyce ya ng bermulut comel hanya mampu memaki, Mr.P anjing ! gila tunge ! maniak Mrs.V ! d lsb. Namun suatu ketika, saat tukang perahu itu asyik menyodok sinting Shekti, a ku dan Joyce sudah K.O tengkurap menahan perih di Mrs.V. BUGG !!, sebuah suara b enturan dua benda keras. Shekti ambruk tengkurap ditindih si Bapak, pikirku tadi ia baru selesai ejakulas i, ternyata tidak. Ayo Non, bangun ! kata suara pria yang sepertinya kukenal. Pria itu mengangkat Joyce, menyingkirkan tubuh tukang perahu yang menindih Shekti la lu membangunkanku. (Bang Dongo ?), aku tak pernah menyangka, tapi senang dengan pertolongannya. Entah bagaimana cara ia kesini, karena memang Jetfoil Joyce sudah kembali ke per airan Ancol, janji jemput hari minggu. Di samping kapal tidak bisa ke pulau ini karena terlalu rendah, bisa menghantam dasar kapal. Makasih ya Mas, Joyce memeluk pria tonggos yang pernah di ledeknya. Badongo terseny um senang dipeluk Joyce telanjang, aku dan Shekti ikut memeluknya. Badongo merob ek sebuah kain usang yang ada disitu, memintalnya jadi pakaian ala kadar untuk k ami bertiga, (serasa jadi Jane Tarzan ^o^). Gimana cara mas kesini ? tanya Joyce dengan mata berbinar haru, baru kali ini kami mengalami ancaman. Penjelasannya nanti aja Non, sekarang kita kembali ke penginapan sahutnya, kami ber tiga mengangguk, terserah kepada si penolong saja.

Bapak ini gimana Mas ? kata Shekti. Biar nanti saya bikin perhitungan sama dia, sekarang Non bertiga harus selamat da n aman dulu !. Tanpa bicara panjang lebar lagi, kami tinggalkan tukang perahu dal am keadaan pingsan. Sebelum pergi, Joyce sempat menendang kaki si Bapak sambil m engeluh, Anjing luMrs.V gw sakit tahu ! omelnya. Biji bangsat, hampir aja lu berhasi l ngancurin Mrs.V gw !, Shekti menyusul. Aku pun ikut-ikutan, kuraih batang kayu yang digunakan Badongo untuk memukulnya tadi, kuayunkan ke tubuhnya sambil berka ta, Bandot sarap ! lu bikin Mrs.V gw kerasa hilangtau ga, Hih ! omelku penuh emosi. Badongo meraih kayu yang masih kuayun, menarikku untuk segera pergi. Sesampainya di pinggir, kami melihat perahu yang dipakai Badongp, ternyata hanya sampan kecil yang muatannya pas-pasan. Tak banyak pilihan, kami naik ke atasnya . Badongo mendorong sampan itu hingga meluncur ke lautan, baru dia naik ke atasn ya mengayuh dayung. Kok perahunya kecil amat sih Mas ? kalo tenggelam gimana ? kata Joyce cemas. Habis ga ada lagi Non, ini aja untung ada. Dulu punya si Bapak tadi, penginapan k ita memutuskan beli untuk cadangan sewaktu-waktu perlu entah buat apa, ternyata kepake juga nih jelasnya. Selagi kami asyik berbincang, Shekti berteriak, Mas, si Bapak kemarii !!. Kutolehk an wajah ke pulau yang baru saja kami tinggalkan, (Aaargh, tukang perahu menuju ke arah kami !). Dengan perahu yang memiliki mesin meski ukuran sama kecil, begi tu mudah ia menyusul sampan kami. Sesudah dekat, ia menyiapkan seutas tali tamba ng yang cukup panjang, di sambung ke sebuah jangkar kecil. Kami bertiga berpeluk an takut melihatnya memutar benda itu bagai koboi memainkan tali laso. Badongo k e depan kami sebagai tameng untuk melindungi, dengan sebuah dayung senjatanya. JDAAK !!, benda itu ternyata untuk dihantamkan tukang perahu itu ke badan sampan . CUUR, air masuk ke sampan kami. Huahaha, rasain biar tenggelem ! ujarnya jahat. Badongo ingin menerjangnya andaika n dekat, sayang ia cukup pintar menjaga jarak, disamping takut jika tukang perah u itu malah melempar jangkarnya ke arah kami. Gilanya lagi ia tambah teror, meng iris jarinya sendiri dengan pisau kecil bergerigi khusus jaring. Ayo Hiu-hiu, makan siang sudah siap Huahahaha !, kami semakin panik, jerit bernada tinggi keluar dari mulut kami bertiga. Badongo semakin kesal karenanya. Dengan gerak cepat ia patahkan dayung menjadi dua, dan dilempar ke arah tukang perahu. BUKK !!, kena tepat di kepala. Darah mengucur, ia mengaduh sakit. Tubuhnya limbu ng, perahu yang dinaikinya bergoyang, Yah, yah, Yaaaaaah *JBUUR !*. Kepanikan kami pun klimaks saat seekor Hiu menyambar tubuhnya. Ternyata apa yang dikatakan olehnya benar, malang termakan kata-katanya sendiri. Hiu mencabik hab is tubuhnya, air laut di sekitar tubuhnya berubah menjadi merah darah. Kami meny aksikan peristiwa itu dari dekat, karena sampan kami sebentar lagi karam. Aku, Shekti dan Joyce menjerit-jerit, takut sasaran Hiu berikutnya adalah kami. Air mata menetes deras saat kulihat sirip yang mengambang semakin banyak. Kami b erpeluk erat pasrah, kalau memang mati ya matilah bertiga disini, tubuh menggigi l karena dinginnya air dan rasa takut akan kematian. Tangisan kami berhenti saat mendengar suara Badongo, Syukurlah Tuhan, terima kasih ! ucapnya, aku belum menge rti. Kuperhatikan lagi, oh ternyata, sirip yang kulihat adalah makhluk jinak, se kelompok lumba-lumba. Kehadiran mereka buat hati kami semua lega. Mereka mendekati kami, seakan menawarkan pertolongan, kupikir tadi gerombolan Hi u. Kupegang siripnya, kami ber-empat mengendarai lumba-lumba, meluncur menuju pu lau Bidadari, meninggalkan Hiu bersama tukang perahu yang pasti sudah berubah me

njadi bangkai. Pastilah lumba-lumba itu datangnya dari doa kedua orang tua yang s elalu menginginkan keselamatan, kapanpun dan dimanapun anaknya berada. (Makasih Papah, makasih Mamah J). Lumba lumba itu mengantarkan tepat di depan pulau, sisanya kami berenang. Mereka bernyanyi meninggalkan kami, kulambaikan tangan ke arah mereka. Manager hotel s udah ada di tepi laut itu ternyata, ia panik dengan kehilangan Joyce sang Nona m ajikan yang seharusnya menyantap jamuan makan siang bersama kedua sahabatnya. Ka mi betiga berpelukan di sisi laut itu, menangis tersedu dan haru. Entah apa jadi nya tanpa Badongo dan Lumba-lumba, kalau tidak jadi budak seks ya santapan Hiu. Badongo dan beberapa staf hotel memapah kami ke dalam kamar penginapan, tahu bah wa lutut kami sudah lemas dengan apa yang terjadi. Aku, Joyce dan Shekti segera mandi, menghilangkan bekas pasir yang menempel juga lengketnya air laut. Selesai itu makan langsung tidur, rencana bersenang-senang kami batalkan. Seharian itu sampai dengan malam kami habiskan waktu di ranjang, berbincang tentang apa yang terjadi, terus itu-itu saja tanpa jemu. Pihak hotel menangani permasalahan hilangnya Bapak tukang perahu atas konfirmasi Badongo, sebelumnya Joyce menyampaikan pesan bahwa kami belum sempat diperkosa, agar tidak terlalu ruwet dengan permasalahan, takut di visum segala, malu. Bebe rapa orang dari pihak Kepolisian datang menginterogasi ala kadarnya, karena sebe lumnya Manager penginapan Joyce menyelipkan segepok ratusan ribu ke Kepala Bagia n agar dibereskan. Kebetulan tukang perahu jahat itu tidak memiliki sanak keluar ga, jadi tidak ada yang merasa kehilangan. Ayah Joyce, Mr Johansen, sampai datang menjenguk di sela kesibukan pekerjaan, de ngar khabar terjadi sesuatu pada anaknya. Sedangkan Ibu Joyce hanya telpon dari rumah, sibuk dengan Gigolo simpanannya. Setelah tahu kami baik-baik saja, dengan sedikit kebohongan yang diatur Joyce, Ayah Joyce kembali. Papah Mamahku dan ora ng tua Shekti belum tahu, jangan sampai juga karena bisa-bisa kami disuruh pulan g lebih cepat dari jadwal. Bagaimanapun, kami masih ingin menghirup udara libura n. *** Keesokan hari, kami masih saja mengurung diri di kamar, enggan keluar. Badongo m embujuk untuk bersenang-senang, yang lalu biarlah berlalu. Kupikir-pikir benar j uga, Joyce dan Shekti pun akhirnya berpikiran sama. Kami berlabuh ke pulau Sawi, pulau yang tak kalah indah dengan pulau Bidadari (masuk dalam hitungan kepulaua n Seribu). Agar kejadian buruk tak berulang, kali ini Badongo sendiri yang mengawal. Menggu nakan perahu Boat milik Joyce yang dikirim dari perairan Ancol melalui staf Ayah -nya. Disana kami foto-foto, lempar-lemparan pasir, mengitari pulau dan masih ba nyak lagi. Banyak orang disana, mirip dengan pulau Bidadari, kaya aktivitas. Bal ik ke penginapan saat waktu menunjuk makan siang. Sorenya, kami kelilingi pulau Bidadari, tentu sambil foto-foto sebagai kenangan. # Menjelang malam. Eh, masa kita ga ngasih hadiah sihbuat Mas Badongo ? Shekti berbisik saat kami Dinn er di ruang makan. Iya ya, iya dehyuk sahut Joyce berbisik, Mas Badongo salting karena kami berbisik s ambil melirik ke arahnya. Aku hanya tersenyum, ikut saja pada kedua Kakak angkat ku yang hyperseks itu, disamping juga setuju sebagai ucapan terima kasih. Selesa i makan, kami bertiga menghampiri Mas Badongo, Joyce membisikkan sesuatu ke teli nganya.

Mas, nanti kalo udah sepidateng ke kamar saya yah ! ada perlu. Mana berani saya Nonkalo keliatan Pak Sukarta gimana ? Ck, alaaahga usah takut, aku khan ownersiapa berani ganggu. Oke Mas, aku ada perlu nih, Joyce mengerlingkan mata genit, aku dan Shekti tersenyum nakal. Yuk daah, Muach ! kami bertiga kissbye ke arahnya, beberapa staf penjamu makanan m elihati Badongo. Dia menelan ludah tak enak, takut dilaporkan macam-macam ke ort u Joyce dan dipecat. *** Tok ! tok ! tok !, Permisii. Yup, sebentar!, Joyce berjalan ke pintu, aku dan Shekti siap menunggu duduk di tepi ranjang. Masuk Mas! kata Joyce dengan senyum ramah, pria bergigi tonggos itu mengangguk sopa n. Mau curhat lagi Non ?. Gak ! Bukan lagi, Joyce menghampiriku dan Shekti yang bangun berdiri. Kita manggil Mas mauu kata-kata Joyce stop sampai disitu, kami bertiga berbarengan menelanjangi diri. Ne-ne-ne-ne-ne-ne-Noonstop Non, jangan !! kata Badongo ketakutan plus mupeng. Jangan apa, niih ! Joyce melempar C String hitam miliknya ke Badongo. La-la-la-la-lhaagi-gi-gi-gimana nih ?, Badongo tergagap menggenggam celdam anak maj ikan yang sangat dihormatinya. Setelah sempurna bugil, kami atur posisi. Joyce di tengah, jarinya seakan mengge nggam pistol. Shekti di kiri menungging, aku di kanan merangkul Joyce, dengan se belah tangan meniru pistol. Kami sluty angelsbertugas memuaskan nafsu lelaki baik hati ! teriak kami serentak ^o ^. Selesai berkata demikian, kami bergerak mendekati Badongo. Si tonggos itu ber ingsut mundur, namun celana di bagian selangkangan memumbul tanda dia konak. Ne-ne-ne-neNooooon!!, Badongo pasrah kami telanjangi. Sehabis melucuti pakaian-nya, kami langsung jongkok berebut Mr.P. Minggir lu De kata Joyce, Lu dong Kak, ngalah sama Ade sahut Shekti. Gw dunk, yang pa ling kecil ! kataku, Ini lagi, kecil-kecil doyan Mr.P ! sahut Shekti dan Joyce pada ku. Badongo hanya melenguh-lenguh, keenakan penisnya kami hisap bergantian. Begi tulah keadaan kami, sampai sebuah suara ketukan pintu yang cukup keras menggangg u. Dok ! dok ! dok !, Non Joyceada masalah Non ?!. Mati aku, suara Pak Sukartaah bisik Badongo takut dipecat. TE-nang ajaTA-kut banget omel Joyce, diawal kalimat ia sertakan tamparan di penis, Badongo mengaduh. Joyce berdiri, jalan ke pintu sambil rapikan rambut. Ia memuta r gagang pintu sambil menyembunyikan tubuh telanjangnya.

Malam Non, sepertinya Non sedang kesulitan ?. Iya Pak, tolong cepat masuk ! kata Joyce pura-pura panik. Manager penginapan yang bernama Pak Sukarta itu lantas masuk. Whaaaa !, mata Pak Sukarta melotot lihat Badongo anak buahnya sedang di-oralku dan Shekti yang tidak berpakaian. M-Maaaahh !! mulutnya ternganga melihat Joyce juga telanjang bulat saat menutup pintu. Dalam keadaan itu, dengan santainya Joyce be rkata padaku dan Shekti. De, Mr.P yang ini buat gw ya ?. Ambiil sahutku dan Shekti ^o^. Ne-ne-ne-neNooooonbisa dipecat sayah sama Bapak !! kata Pak Sukarta beringsut mundu r karena Joyce mendekatinya, tetapi matanya memelototi vagina Joyce. Aku dan She kti memiringkan posisi oral agar adegan Joyce bisa kami lihat. Justru kalo Bapak ga ngelayanin saya dengan baik, saya laporin yang engga-engga b iar Bapak dipecat ! ancam Joyce. Ja-ja-ja-ja-ja-Jangan dong Noon !. Kalo ga mau dipecat, entot gw ! kata Joyce meremas baju Pak Sukarta. Baik kalo Non memaksa !, Pak Sukarta langsung melahap dada Joyce yang bulat mirip bakpau. Joyce mendesah sambil terus lucuti pakaian Pak Sukarta, kini kami telanj ang berlima. Badongo yang tadinya malu-malu, mulai berani setelah melihat atasan nya berani menindih Joyce, sang Nona majikan di ranjang. Ia berdiri, menyuruh ak u dan Shekti mengangkang di pinggir ranjang yang sama. Aahhhhhhhh, Yess desah Joyce, tanda dia dan Pak Sukarta mulai bersetubuh. Aku mendo ngak ke atas sambil di jilmek Badongo, melihat Joyce ditumbuk secara membabi but a oleh anak buah Papahnya. Gila NgooMrs.V Non Joyce enak banget. Ohh anak majikan gwOoh anak majikan gw ! celot eh Pak Sukarta. Doyan khan Mrs.V gwenak lu hah ? entot gw Pak, ayojebolin Mrs.V gw sesuka lu Aaaahh h ! balas Joyce. Badongo tidak tahan, ia menyodokku dan Shekti bergantian. Malam itu, malam terin dah di penginapan. Kami berlima tukar pasangan, saling memuaskan satu sama lain. Hingga terbit fajar di ufuk Timur. *** Esoknya, minggu, pagi-pagi kami telah lepas atas masalah. Mulai berani lagi meny elam, meski masih disertai pengawasan ketat oleh Badongo agar tidak terjadi halhal yang tidak diinginkan. Sorenya, kami siap-siap berangkat pulang. Badongo dan Pak Sukarta melambaikan sapu tangan putih kepada kami, sedih kehilangan vagina untuk dipakai buang sperma ^o^. Kami membalasnya dengan senyuman, berterima kasi h atas pelayanan mereka. Pulang dengan sejuta kenangan. *** Pulau Bidadari, banyak sekali yang terjadi disana. Bapak tukang perahu, perkosaa n, Hiu, Mas Badongo, Pak Sukarta, lumba-lumba. Huufyang penting, aku puas liburan kesana, mendapat experience seks under water sea pula. Persahabatanindahnya persahabatan kami. Aku tersenyum menatap ombak di tepi panta

i itu kini. Terhibur mengingat hal-hal yang kami lalui bersama. Tetapi terpaksa harus kembali hampa, karena tak ada mereka di sisi saat ini. Hanya ada kilatan m emori yang membekas, serta laut bisu. Deru ombak bergemuruh, seakan ingin mengaj akku berbicara. Kukuatkan hati, kutegarkan diri. Sesuai janji, sebagaimana sumpa h kami. Dimanapun kami berada Walaupun tidak dalam satu tempat yang sama Andaikan jarak memisahkan kami bertiga Mereka sahabat dan juga Kakakku, dalam suka maupun duka Untuk selama-lamanya. Bagiku, kalian jauh di matanamun dekat di hati. Walau jauh bagai matahari, bahkan melebihi. Far, far away from me, so farFar Beyond the Sun. Life is so empty and a big mistake without you two guys. Miss n Love u always