Anda di halaman 1dari 7

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

PENGARUH KUALITAS BIJI PADA BERBAGAI TARAF PEMUPUKAN NITROGEN TERHADAP VIGOR BENIH JAGUNG Oom Komalasari dan Fauziah Koes Balai Penelitian Tanaman Serealia
Abstrak. Percobaan ini bertujuan untuk menentukan takaran pemupukan nitrogen terhadap mutu benih jagung. Kualitas biji yang diteliti berasal dari percobaan lapang kombinasi antara lima varietas (lamuru, sukmaraga, bisi 2, pionir 15 dan NK 77 ) dengan empat takaran pupuk N (0 N kg/ha, 100 N kg/ha. 200 N kg/ha dan 300 N kg/ha). Penelitian dilaksanakan di laboratorium dan rumah kaca Balai Penelitian Serealia (Balitseral) di Maros, mulai bulan desember 2004 hingga Juni 2005. Pengamatan terdiri dari mutu fisiologi yang meliputi daya berkecambah, kecepatan tumbuh, berat kering kecambah, panjang akar, dan daya hantar listrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji yang sesuai dengan standar benih bermutu untuk varietas Lamuru, Sukmaraga, Pionir 15, dan NK 77 harus berasal dari tanaman yang dipupuk nitrogen antara 100 hingga 300 N kg/ha tetapi untuk Bisi-2 cukup dipupuk 100 200 N kg/ha. Kata Kunci : Kualitas Biji, pemupukan, vigor, benih

PENDAHULUAN Sebagai upaya memenuhi kebutuhan jagung yang terus meningkat setiap tahun ( 1.5 juta ton), pemerintah telah memfasilitasi pengembangan jagung pada petani melalui berbagai program seperti PROKSI MANTAP (Program Aksi Masyarakat Agribisnis Tanaman Pangan), GENTATON (Gerakan Tambahan Dua Juta Ton Jagung), MAJ (Masyarakat Agribinis Jagung), CCB (Celebes Corn Belt), dan GERBANG EMAS (Gerakan Pembangunan Ekonomi Masyarakat). Hal ini karena ada dugaan bahwa pada tahun 2005 Indonesia perlu mengimpor jagung 1,8 juta ton dan 2,2 juta ton tahun 2010. Sedangkan kebutuhan jagung dunia hingga tahun 2020 yang diprediksi oleh CIMMYT akan lebih besar lagi, karena kebutuhan jagung negara eksportir juga mengalami peningkatan terutama Cina, dan kebutuhan jagung tersebut akan melebihi kebutuhan beras. Data tahun 1994 Indonesia masih mengimpor jagung sekitar 1,1 juta ton dengan nilai 153,5 juta dollar AS, dan tahun 1996 angka impor itu naik menjadi 1,5 juta ton. Khusus untuk industri pakan ternak Jawa Barat saja, harus diimpor 700.000 ton jagung per tahun untuk memenuhi kebutuhannya. Meskipun daerah ini memiliki areal 172.969 hektar yang potensial untuk ditanami jagung, namun hanya sekitar 34.673 hektar yang dimanfaatkan. Sehingga kegiatan impor jagung masih tetap berlangsung sampai saat ini. Sementara persediaan jagung dunia akan merosot, karena selain produksi negara pengekspor menurun, juga mundurnya Cina dari kelompok negara pengekspor jagung dunia. Kondisi ini merupakan tantangan bagi Indonesia untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga harus berupaya untuk meningkatkan produksi jagung dalam negeri. Laju pertumbuhan dan perkembangan produksi jagung yang pesat belum sejalan dengan ketersediaan pupuk. Saat dibutuhkan sering tidak tersedia pupuk atau harganya mahal, sehingga pupuk sangat langka dikalangan petani. Pupuk nitrogen seperti urea lebih dikenal petani dibanding pupuk phospat dan kalium. Menurut subandi et al. 1990. Kandungan nitrogen dalam tanah pada umumnya rendah, sehingga perlu ditambah pupuk buatan. Hasil penelitian pada tanaman jagung yang diberi N, P, dan K dapat meningkatkan bobot biji sehingga benih lebih tahan disimpan (Arief dan Saenong 2003).

290

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

Kalium juga meningkatkan integritas memberan sel dan kulit biji, sehingga dapat menurunkan kapasitas absorpsi air dan kelarutan gula dalam biji, karena itu benih lebih tahan disimpan (Bewley dan Black 1982; Patra et al. 1996). Pada umumnya pupuk N dapat meningkatkan produksi jagung. Nitrogen diperlukan oleh tanaman jagung sepanjang pertumbuhannya. Pada awal pertumbuhannya akumulasi N dalam tanaman relatif lambat dan setelah tanaman berumur 4 minggu akumulasi N berlangsung sangat cepat. Pada saat pembungaan (bunga jantan muncul) tanaman jagung telah mengabsorbsi N sebanyak 50% dari seluruh kebutuhannya (Sutoro et al. 1988). Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil jagung yang baik, unsur hara N dalam tanah harus cukup tersedia pada fase pertumbuhan tersebut. Waktu antara saat benih mulai ditanam di lapangan dengan saat munculnya kecambah adalah periode kritis dalam siklus kehidupan tanaman, karena pada saat ini benih dihadapkan pada beragam kondisi lingkungan tumbuh yang akan sangat berpengaruh terhadap munculnya kecambah dan vigor kecambah. Munculnya kecambah pada permukaan tanah dapat menjadi lambat atau sangat beragam, bergantung pada vigor benih yang ditanam serta kondisi lingkungan tumbuh. Biji yang kecil dalam satu lot benih menurut Bustamam (1985) mempunyai daya kecambah dan vigor yang rendah, artinya benih yang kecil atau ringan itu adalah benih bermutu rendah. Secara prinsip Association of Official Seed Analyst (1983) menyatakan bahwa vigor benih dipengaruhi oleh ukuran benih dan kondisi lingkungan pertumbuhan. Benih jagung yang berasal dari pertanaman yang dipupuk N, P dan K pada tanah mediteran menghasilkan mutu yang tinggi dapat dilihat dari daya berkecambah, tumbuh cepat dan merata serta mempunyai daya hantar listrik yang rendah sebagai indikasi kekokohan integritas membran biji sehingga tahan disimpan (Patiroi 1988). Mutu benih yang sering dijadikan ukuran adalah meliputi bentuk dan ukuran benih, daya tumbuh, vigor, serta kemurnian benih. Mutu dan kualitas benih sangat ditentukan oleh kondisi tanaman pada waktu di lapangan, saat panen, serta saat proses setelah panen. Selain itu, mutu benih sering juga dinilai berdasarkan mutu genetik dan ciri - ciri fisiologis yang dibawa oleh benih. Percobaan Pian (1981) menunjukkan bahwa vigor benih jagung meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah takaran N yang digunakan. Pemupukan N akan meningkatkan kandungan protein kasar dalam biji sehingga berat jenis biji akan meningkat. Peningkatan berat jenis tersebut akan menaikkan mutu benih yang diukur berdasarkan daya kecambah dan kekuatan tumbuhnya. Defisiensi N pada tanaman jagung akan memperlihatkan gejala pertumbuhan yang kerdil dan daun berwarna hijau kekuning-kuningan yang berbentuk huruf V dari ujung daun menuju tulang daun dan dimulai dari daun bagian bawah. Selain itu, tongkol jagung menjadi kecil dan kandungan protein dalam biji rendah. Pemberian pupuk yang tepat selama pertumbuhan tanaman jagung dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. Karena sifat pupuk N yang umumnya mobile, maka untuk mengurangi kehilangan N karena pencucian maupun penguapan, sebaiknya N diberikan secara bertahap. Dalam penanganan pascapanen jagung, penyimpanan termasuk kegiatan yang tidak kalah penting artinya karena turut menentukan mutu biji dan mutu produk bila diolah menjadi bahan pangan, pakan, atau produk olahan lainnya. Daya simpan jagung dipengaruhi oleh kadar air biji sebelum penyimpanan, alat pengemas yang digunakan, dan kondisi ruang penyimpanan (F.Koes dan Ramlah, 2008). Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh kualitas biji pada berbagai taraf pemupukan nitrogen terhadap vigor benih jagung.

291

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan di laboratorium dan rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitseral) di Maros, mulai bulan Desember 2004 hingga Juni 2005. Bahan yang digunakan adalah Varietas Lamuru, Sukmaraga, Bisi-2, Pioner-15, dan NK 77. Statistik yang digunakan adalah rangcangan acak kelompok faktorial, di mana faktor pertama adalah varietas (A) yang terdiri dari lima varietas, faktor kedua adalah takaran pupuk (B) yang terdiri dari empat taraf pemupukan yaitu 0 N kg/ha, 100 N kg/ha, 200 N kg/ha, dan 300 N kg/ha. Variabel yang diamati adalah: Daya Berkecambah Daya berkecambah benih (AOSA 1983); sebanyak 50 butir benih dari setiap ulangan ditanam pada media pasir halus. Pengamatan dilakukan pada hari ke tiga, empat, dan lima setelah tanam. Selain untuk pengujian daya berkecambah benih, perlakuan ini juga digunakan sebagai tolok ukur kecepatan tumbuh benih. Jumlah kecambah normal pada hari ke 4 (kumulatif), merupakan data keserempakan tumbuh benih. 2. Kecepatan Tumbuh Benih Data diperoleh dari substrat pengujian daya berkecambah benih (AOSA, 1983). Setiap kali pengamatan, jumlah persentase kecambah normal dibagi dengan etmal (24 jam). Nilai etmal kumulatif diperoleh dari saat benih ditanam sampai dengan waktu pengamatan. Rumus yang digunakan adalah : KT = KT Xi Ti (Xi-Xi-1) Ti = Kecepatan tumbuh (%/etmal) = Persentase kecambah normal pada etmal ke i = waktu pengamatan dalam (etmal) 1.

1. Bobot Kering Kecambah Kecambah yang diperoleh dari uji daya tumbuh benih dikeringkan dalam inkubator pada suhu 60OC selama 3 x 24 jam, sestelah itu dimasukkan ke dalam desikator dan ditimbang setelah dingin (AOSA 1983). Berat kering/kecambah dihitung dari bobot kering total dibagi jumlah kecambah. 2. Panjang Akar Primer Kecambah Kecambah yang tumbuh diambil 10 dari setiap pot pengujian di rumah kaca. Hasil pengukuran diambil nilai rata-ratanya (AOSA 1983) . 3. Daya Hantar Listrik (DHL) DHL diamati dengan alat konduktometer tipe Methron E 38. Benih sebanyak 5 g diambil secara acak, masing-masing direndam pada air bebas ion selama 24 jam dengan volume air 50 ml di dalam botol gelas, kemudian diukur pada alat konduktometer. Sebagai blanko digunakan air bebas ion yang juga telah disimpan di dalam botol-botol gelas selama 24 jam (AOSA 1983).

292

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

HASIL DAN PEMBAHASAN Daya Berkecambah Interaksi varietas dan takaran pupuk N berpengaruh sangat nyata terhadap daya berkecambah (Tabel 1). Varietas Lamuru yang dipupuk 100 N kg/ha, menghasilkan daya berkecambah 97,89% dan berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pupuk N. Daya berkecambah varietas Sukmaraga tertinggi pada takaran pupuk 300 N kg/ha sebesar 98,44% tetapi tidak berbeda nyata dengan takaran pupuk 100 N kg/ha. Ini menunjukkan bahwa walaupun dipupuk pada taraf 100 N kg/ha, daya berkecambahnya tinggi. Sedangkan varietas Bisi-2 yang terbaik adalah perlakuan pupuk dengan dosis 200 300 N kg/ha. Varietas Pioner-15 daya berkecambahnya yang memberikan hasil tertinggi adalah pemperian pupuk 100 N kg/ha. Daya berkecambah pada varietas NK-77 yang tertinggi adalah perlakuan 200 N kg/ha. Tabel 1. Pengaruh interaksi varietas dan takaran pupuk N terhadap daya berkecambah Varietas Lamuru Sukmaraga Bisi-2 Pioner-15 NK-77 Daya berkecambah jagung (%) pada takaran pupuk N 0 kg/Ha 100 kg/Ha 200 kg/Ha 300 kg/Ha 95,6c 97,9a 96,8b 96,2b 94,7c 98,0a 96,3b 98,4a 94,9c 96,7b 97,8a 97,6a 95,8c 97,1a 96,9b 96,2b 95,1c 94,7b 99,1a 98,2b

Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji duncan 5 %

Kecepatan Tumbuh Tabel 2. Pengaruh interaksi varietas dan takaran pupuk N terhadap kecepatan tumbuh Varietas Lamuru Sukmaraga Bisi-2 Pioner-15 NK-77 Kecepatan tumbuh (%/etmal) pada takaran pupuk N 0 (kg/ha) 100 (kg/ha) 200 (kg/ha) 300 (kg/ha) 25,2 c 27,9 a 27,0 b 27,5 a 26, 5 b 27,8 a 26,7 b 27,5 a 25,5 c 26,9 b 27,5 a 27,3 a 24,8 d 26,8 b 25, 8 c 27,2 a 25,0 c 26,5 b 27,6 a 27,5 a

Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji duncan 5 %

Dari Tabel 2 terlihat bahwa varietas Lamuru dan Sukmaraga yang dipupuk 300 kg N/ha menghasilkan kecepatan tumbuh yang tertinggi, tetapi tidak berbeda nyata dengan yang dipupuk dengan 100 N kg/ha. Sedangkan varietas Bisi-2 dan NK-77 sangat respon terhadap pemberian pupuk N dapat meningkatkan vigor benih. Bobot Kering Kecambah Interaksi varietas dan takaran pupuk N sangat berpengaruh nyata terhadap bobot kering kecambah. Varietas yang menghasilkan bobot kering kecambah tertinggi adalah

293

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

Lamuru dengan takaran pupuk 200 N kg/ha. Sedangkan rata-rata varietas memberikan respon pemupukan N terhadap bobot kering kecambah. Tabel 3. Pengaruh interaksi varietas dan takaran pupuk N terhadap bobot kering kecambah Bobot Kering (g) pada takaran pupuk N Varietas 0 (kg/ha) 100 (kg/ha) 200 (kg/ha) 300 (kg/ha) Lamuru 0,142 c 0,189 b 0,205 a 0,184 b Sukmaraga 0,151 d 0,185 b 0,165 c 0,220 a Bisi-2 0,143 d 0,205 a 0,171 c 0,197 b Pioner-15 0,140 d 0,191 a 0,161 c 0,182 b NK-77 0,123 d 0,186 b 0,146 c 0,203 a

Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji duncan 5 %

Panjang Akar Dari Tabel 4 dapat dilihat varietas yang respon terhadap pemupukan N adalah varietas yang memperlihatkan akar terpanjang adalah varietas Bisi-2 dengan takaran 300 kg /ha yaitu 19,4 cm. Tanpa pupuk N menghasilkan panjang akar terpendek yaitu 10,6 cm. Ini berarti bahwa dengan pemupukan N sangat berpangaruh terhadap panjang akar. Tabel 4. Pengaruh interaksi varietas dan takaran pupuk N terhadap panjang akar Panjang Akar (cm) pada takaran pupuk N Varietas 0 (kg/ha) 100 (kg/ha) 200 (kg/ha) 300 (kg/ha) Lamuru 10,6 d 13,8 c 15,0 b 18,7 a Sukmaraga 11,3 d 14,6 c 16,2 b 18,6 a Bisi-2 12,4 d 14,0 c 15,9 b 19,4 a Pioner-15 11,3 d 12,3 c 17,8 b 19,3 a NK-77 11,3 d 16,2 c 17,5 b 18,6 a Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji duncan 5 % Daya Hantar Listrik Analisis sidik ragam menunjukkan bahwa interaksi varietas dan takaran pupuk N berpengaruh sangat nyata terhadap daya hantar listrik. Tabel 5. Pengaruh interaksi varietas dan takaran pupuk N terhadap daya hantar listrik Kecepatan Tumbuh (%/etmal) pada takaran pupuk N Varietas 0 (kg/ha) 100 (kg/ha) 200 (kg/ha) 300 (kg/ha) Lamuru 15,2 a 12,4 b 12,3 b 15,1 a Sukmaraga 18,3 a 12,3 c 13,8 b 13,2 b Bisi-2 17,9 a 12,3 c 13,2 b 13,2 b Pioner-15 22,5 a 16,2 b 16,2 b 13,4 c NK-77 17,4 a 14,4 b 14,0 b 11,7 c
Angka yang diikuti huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan uji duncan 5 %

294

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

Benih bermutu merupakan penentu atas keberhasilan usahatani, sehingga dalam memproduksi benih perlu perhatian penuh pada aspek pendukung benih bermutu tinggi. Salah satu komponen teknik produksi benih prapanen yang erat dengan mutu benih adalah faktor pemupukan terutama pupuk N. Hasil penelitian menunjukkan bahwa takaran pupuk N sangat berpengaruh nyata terhadap daya berkecambah, kecepatan tumbuh, berat kering kecambah, panjang akar, dan daya hantar listrik. Takaran pupuk N sebanyak 100 kg N/ha adalah takaran yang tergolong optimal untuk mencapai parameter benih bermutu tinggi, hasil ini hampir sama dengan penelitian Sirappa (2003). Syarifuddin et al. 1997 juga melaporkan bahwa takaran 90 kg N/ha pada jagung varietas Arjuna meningkatkan hasil sebesar 17,4%. Peningkatan hasil dapat disebabkan efisiensi ekstraksi urea menjadi N tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. Penampilan tanaman tergolong optimum karena cukup air sesuai pernyataan Juliardi dan Suprihatno (1993) dan Sutoro et al . (1988) bahwa aplikasi pupuk N yang terbaik adalah dengan cara tugal di samping tanaman dan ditutup kembali dengan tanah, serta segera dibumbun. Benih yang berasal dari tanaman tanpa pemberian N, selain bobotnya ringan dan ukurannya kecil juga memberan sel kurang kokoh daya hantar listrik tinggi. Benih yang baik berasal dari tanaman yang dipupuk ikatan N dalam biji terikat kuat satu sama lain, karena pemberian N dapat memacu serapan unsur hara yang lain. Benih yang belum disimpan tidak mengalami kerusakan sehingga daya berkecambah tinggi sesuai standar mutu. Daya berkecambah benih yang rendah, dapat disebabkan oleh proses dan pascapanen yang kurang tepat. KESIMPULAN Biji yang sesuai dengan standar benih bermutu untuk varietas Lamuru, Sukmaraga, Pioner-15 dan NK-77 harus berasal dari tanaman yang pupuk nitrogen antara 100 hingga 300 kg N/ha tetapi untuk Bisi-2 cukup dipupuk 100-200 kg N/ha dan menurunkan daya hantar listrik. DAFTAR PUSTAKA
Bewley, J.D. , and M. Black. 1982. Physiology and Biochemistry of Seeds. Vol. 1. SpringerVerlag Berlin Heidelberg New York Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan 1994. Pedoman Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura. Direktorat Bina Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikultura. Departemen Pertanian. Jakarta. Lalu dan Implikasinya bagi Indonesia. Makalah disampaikan pada Diskusi Nasional Agribisnis Jagung di Bogor, 24 Juni 2002. Badan Litbang Pertanian. Patiroi, A.R. 1998. Daya Simpan Benih Jagung HC9 dari Berbagai Kombinasi Pemupukan dan Kondisi Penyimpanan. Tesis S1 UNHAS. Pingali, P. 2001. The trend of the Maize World. CIMMYT. Mexico. Rao, S.C and : T.H. Dao. 1992. Fertilizer Placement and Tillage Effects of Nitrogen Assimilation by Wheat. Agronomy Journal 84: 1028-1032. Sirappa, M.P. 2003. Penentuan Batas Kritis dan Dosis Pemupukan untuk Tanaman Jagung Di lahan Kering pada Tanah Type Usthorthents. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol 3 : 25-37. Subandi, Djamaluddin, Sania Saenong dan A. Hasanuddin. 1990. Sumber, Waktu dan Cara Pemupukan dalam Efisiensi Pemupukan Padi dan Palawija. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor. halaman 23.

295

Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009

ISBN :978-979-8940-27-9

Syarifuddin, Nani Riani, Sania Saenong. 1997. Pengaruh Tingkat Pemupukan (N,P,K dan S) terhadap Vigor dan Ketahanan Simpan Benih Jagung. Laporan sementara Hasil Penelitian Balitjas (belum diterbitkan).

296