Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN

Latar belakang Pemeriksaan urin merupakan pemeriksaan yang sering diamati dalam membantu menegakkan diagnosa berbagai macam penyakit, ada kemungkinan bahwa urinalisa adalah pemeriksaan laboratorium yang paling tua. (Frances K. Widmann. 1995 ) Urinalisis adalah analisis kimia, makroskopis dan mikroskopis terhadap urin. Uji urin rutin dilakukan pertama kali pada tahun 1821. Urinalisis berguna untuk mendiagnosis penyakit ginjal atau infeksi traktus urinarius dan untuk mendeteksi adanya penyakit metabolik yang tidak berhubungan dengan ginjal. Berbagai uji urinalisis rutin dilakukan di tempat praktik pemberi layanan kesehatan dan juga rumah sakit atau laboratorium swasta. ( Kee, Joyce Le Fever, 2007 ) Urin yang normal jumlah rata rata 1 2 liter sehari tetapi perbedaan jumlah urin sesuai cairan yang dimasukkan, jika banyak mengkonsumsi protein maka akan diperlukan banyak cairan untuk melarutkan ureanya, sehingga urin yang dikeluarkan jumlahnya sedikit dan menjadi pekat. ( Evelin C. Pearce, 2002) Beberapa penyelidikan menunjukkan bahwa 20 % dari wanita wanita dewasa hingga usia lanjut, setiap tahun mengalami disuria ( nyeri waktu berkemih). Pria jarang terkena infeksi simtomatis sampai sesudah umur 45 tahun, kecuali jika terdapat kelainan urologis. ( Basuki B Purnomo, 2007 ). Tujuan 1. Mendeteksi gangguan endokrin dan kelainan metabolism 2. Mendeteksi kelainan organ

3. Mengetahui kandungan kimia dalam urin 4. Mengetahui makroskopi urin

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Urinalisis merupakan pemeriksaan rutin pada penderita sebagai salah satu sarana untuk menegakkan diagnosis dan mengikuti perjalanan penyakit atau pengobatan suatu penyakit. Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum. Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh (http://wikipediaindonesia.com). Dalam mempertahankan homeostasis tubuh peranan urin sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urin. Selain urin juga terdapat mekanisme berkeringat dan juga rasa haus yang kesemuanya bekerja sama dalam mempertahankan homeostasis ini. Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh.Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang kotor. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnyapun akan

mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah zat-zat di dalam urin dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia yang dihasilkan dari urea. a) Proses pembentukkan urin Urin dibentuk di nefron yaitu dengan menyaring darah dan kemudian mengambil kembali ke dalam darah bahan-bahan yang bermanfaat. Dengan demikian akan tersisa bahan tak berguna, yang nantinya akan keluar dari nefron dalam bentuk suatu larutan, yang disebut urin. Sebelum menjadi urin, di dalam ginjal akan terjadi tiga macam proses, yaitu: Filtrasi, Reabsorpsi, dan Augmentasi.

Filtrasi Filtrasi terjadi di glomerulus. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang filtrasi, terlebih dahulu akan dibahas tentang pengertian filtrasi.

Filtrasi adalah proses penyaringan darah yang mengandung zat-zat sisa metabolisme yang dapat menjadi racun bagi tubuh. Proses filtrasi ini terjadi di glomerulus dan kapsula Bowman yang menghasilkan filtrat gromerulus atau urin primer. Mula-mula darah masuk ke glomerulus melalui arteriol afferent dan terjadi filtrasi sehingga menghasilkan urin primer, kemudian urin primer akan memasuki kapsula Bowman. Proses filtrasi terjadi akibat mengkerut dan mengembangnya arteriol afferent dan arteriol efferent yang masuk dan meninggalkan glomerulus. Selama terjadi filtrasi sel-sel darah dan molekul protein tidak dapat disaring, sedangkan molekul-molekul yang berukuran lebih kecil seperti: garam, asam amino dan gula dapat disaring sehingga menjadi bagian dari filtrat glomerulus atau urin primer. Reabsorpsi Reabsorpsi terjadi di tubulus kontortus proksimal yang nantinya akan menghasilkan urin sekunder. Urin primer yang berkumpul dalam kapsula Bowman masuk ke dalam tubulus kontortus proksimal dan terjadi proses reabsorpsi. Pada proses ini terjadi penyerapan kembali zat yang berguna oleh dinding tubulus, lalu masuk ke pembuluh darah yang mengelilingi tubulus. Zat-zat yang diserap kembali oleh darah antara lain: glukosa, asam amino dan ion-ion anorganik (Na+,K+, Ca++, Cl-, HCO3-, HPO43

, SO4-3). Proses ini terjadi karena transpor aktif. Hasil dari reabsorpsi

urin primer adalah urin sekunder yang mengandung sisa limbah nitrogen dan urea. Dengan demikian urin sekunder adalah hasil saringan dari urin primer yang mengandung limbah nitrogen dan urea.

Urine sekunder akan masuk ke lengkung Henle menuju tubulus kontortus distal. Pada saat melewati lengkung Henle desenden, air berosmosis keluar sehingga volume urin sekunder menurun dan menjadi pekat. Saat melewati lengkung Henle asenden, garam (Na+) dipompa keluar, sehingga kepekatan urin berkurang tetapi volume urin tetap. Dengan demikian konsentrasi garam di luar tubulus meningkat. Augmentasi Dari lengkung Henle asenden, urin sekunder akan masuk ke tubulus distal. Di dalam tubulus distal urin sekunder mengalami augmentasi yaitu proses penambahan zat zat yang tidak diperlukan oleh tubuh ke dalam tubulus kontortus distal. Zat sisa yang dikeluarkan dari pembuluh darah kapiler adalah ion hidrogen (H+), ion kalium (K+), NH3dan kreatinin. Pengeluaran (H+) ini membantu menjaga pH yang tetap dalam darah. Selama melewati tubulus distal dan tubulus kolektifus, urin kehilangan banyak air (H2O) sehingga konsentrasi urin semakin pekat. Setelah itu urin memasuki pelvis renalis dan menuju ureter, kemudian dialirkan ke vesica urinaria untuk ditampung sementara waktu. Pengeluaran urin diatur oleh otototot sfingter. Kandung kemih hanya mampu menampung kurang lebih 300 ml. Kadung kemih di kendalikan oleh saraf pelvis dan serabut saraf simpatis dari plexus hipogastrik.
b) Faktor-faktor yang turut mempengaruhi susunan urin

Untuk mendapatkan hasil analisa urin yang baik perlu diperhatikan beberapa faktor antara lain persiapan penderita dan cara pengambilan contoh urin.

Beberapa hal perlu diperhatikan dalam persiapan penderita untuk analisa urin misalnya pada pemeriksaan glukosa urin sebaiknya penderita jangan makan zat reduktor seperti vitamin C, karena zat tersebut dapat memberikan hasil positif palsu dengan cara reduksi dan hasil negatif palsu dengan cara enzimatik. Pada pemeriksaan urobilin, urobilinogen dan bilirubin sebaiknya tidak diberikan obat yang memberi warna pada urin, seperti vitamin B2 (riboflavin), pyridium dan lain lain. Pada tes kehamilan dianjurkan agar mengurangi minum supaya urin menjadi lebih pekat. Susunan urin tidak banyak berbeda dari hari ke hari, tetapi pada pihak lain mungkin banyak berbeda dari waktu ke waktu sepanjang hari, karena itu penting untuk mengambil contoh urin menurut tujuan pemeriksaan. Untuk pemeriksaan urin seperti pemeriksaan protein, glukosa dan sedimen dapat dipergunakan urin - sewaktu, ialah urin yang dikeluarkan pada waktu yang tidak ditentukan dengan khusus, kadang kadang bila unsur sedimen tidak ditemukan karena urin- sewaktu terlalu encer, maka dianjurkan memakai urin pagi. Urin pagi ialah urin yang pertama kali dikeluarkan pada pagi hari, urin ini baik untuk pemeriksaan berat jenis, protein sedimen dan tes kehamilan. Pada penderita yang sedang haid atau "leucorrhoe" untuk mencegah kontaminasi dianjurkan pengambilan contoh urin dengan cara clean voided specimen yaitu dengan melakukan kateterisasi, punksi suprapubik atau pengambilan urin midstream dimana urin yang pertama keluar tidak ditampung, tapi urin yang keluar kemudian ditampung dan yang terakhir tidak turut ditampung. B. Pemeriksaan makroskopi urin

Urinalisis dimulai dengan mengamati penampakan makroskopik : warna dan kekeruhan. Urine normal yang baru dikeluarkan tampak jernih sampai sedikit berkabut dan berwarna kuning oleh pigmen urokrom dan urobilin. Intensitas warna sesuai dengan konsentrasi urine; urine encer hampir tidak berwarna, urine pekat berwarna kuning tua atau sawo matang. Kekeruhan biasanya terjadi karena kristalisasi atau pengendapan urat (dalam urine asam) atau fosfat (dalam urine basa). Kekeruhan juga bisa disebabkan oleh bahan selular berlebihan atau protein dalam urin. 1) Volume urin. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi volume urin seperti umur, berat badan, jenis kelamin, makanan dan minuman, suhu badan, iklim dan aktivitas orang yang bersangkutan. Rata-rata didaerah tropik volume urin dalam 24 jam antara 800--1300 ml untuk orang dewasa. Bila didapatkan volume urin selama 24 jam lebih dari 2000 ml maka keadaan itu disebut poliuri. Poliuri ini mungkin terjadi pada keadaan fisiologik seperti pemasukan cairan yang berlebihan, nervositas, minuman yang mempunyai efek diuretika. Selain itu poliuri dapat pula disebabkan oleh perubahan patologik seperti diabetes mellitus, diabetes insipidus, hipertensi, pengeluaran cairan dari edema. Bila volume urin selama 24 jam 300-750 ml maka keadaan ini dikatakan oliguri. Keadaan ini mungkin didapat pada diarrhea, muntah -muntah, deman edema, nefritis menahun. Anuri adalah suatu keadaan dimana jumlah urin selama 24 jam kurang dari 300 ml. Hal ini mungkin dijumpai pada shock dan kegagalan ginjal. Jumlah urin siang 12 jam dalam keadaan normal 2 sampai 4 kali lebih banyak dari urin malam 12 jam. Bila

perbandingan tersebut terbalik disebut nokturia, seperti didapat pada diabetes mellitus. 2) Warna urin Kelainan pada warna, kejernihan, dan kekeruhan dapat

mengindikasikan kemungkinan adanya infeksi, dehidrasi, darah di urin (hematuria), penyakit hati, kerusakan otot atau eritrosit dalam tubuh. Obatobatan tertentu juga dapat mengubah warna urin. Kencing berbusa sangat mungkin mewakili jumlah besar protein dalam urin (proteinuria). Beberapa keadaan yang menyebabkan warna urine adalah :

Merah : Penyebab patologik : hemoglobin, mioglobin, porfobilinogen, porfirin. Penyebab nonpatologik : banyak macam obat dan zat warna, bit, rhubab (kelembak), senna.

Oranye

Penyebab

patologik

pigmen

empedu.

Penyebab

nonpatologik : obat untuk infeksi saliran kemih (piridium), obat lain termasuk fenotiazin.

Kuning : Penyebab patologik : urine yang sangat pekat, bilirubin, urobilin. Penyebab Penyebab nonpatologik patologik : : wotel, fenasetin, bakteri cascara, (terutama nitrofurantoin.

Hijau

biliverdin,

Pseudomonas). Penyebab nonpatologik : preparat vitamin, obat psikoaktif, diuretik.


Biru : tidak ada penyebab patologik. Pengaruh obat : diuretik, nitrofuran. Coklat : Penyebab patologik : hematin asam, mioglobin, pigmen empedu. Pengaruh obat : levodopa, nitrofuran, beberapa obat sulfa.

Hitam atau hitam kecoklatan : Penyebab patologik : melanin, asam homogentisat, indikans, urobilinogen, methemoglobin. Pengaruh obat : levodopa, cascara, kompleks besi, fenol. Kejernihan dinyatakan dengan salah satu pendapat seperti jernih,

agak keruh, keruh atau sangat keruh. Biasanya urin segar pada orang normal jernih. Kekeruhan ringan disebut nubecula yang terdiri dari lendir, sel epitel dan leukosit yang lambat laun mengendap. Dapat pula disebabkan oleh urat amorf, fosfat amorf yang mengendap dan bakteri dari botol penampung. Urin yang telah keruh pada waktu dikeluarkan dapat disebabkan oleh chilus, bakteri, sedimen seperti epitel, leukosit dan eritrosit dalam jumlah banyak. 3) Berat jenis urin Pemeriksaan berat jenis urin bertalian dengan faal pemekatan ginjal, dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan memakai falling drop, gravimetri, menggunakan pikno meter, refraktometer dan reagens 'pita'. Berat jenis urin sewaktu pada orang normal antara 1,003 - 1,030. Berat jenis urin herhubungan erat dengan diuresa, makin besar diuresa makin rendah berat jenisnya dan sebaliknya. Makin pekat urin makin tinggi berat jenisnya, jadi berat jenis bertalian dengan faal pemekat ginjal. Urin sewaktu yang mempunyai berat jenis 1,020 atau lebih, menunjukkan bahwa faal pemekat ginjal baik. Keadaan ini dapat dijumpai pada penderita dengan demam dan dehidrasi. Sedangkan berat jenis urin kurang dari 1,009 dapat disebabkan oleh intake cairan yang berlebihan, hipotermi, alkalosis dan kegagalan ginjal yang menahun. 4) Bau urin

Untuk menilai bau urin dipakai urin segar, yang perlu diperhatikan adalah bau yang abnormal. Bau urin normal disebabkan oleh asam organik yang mudah menguap. Bau yang berlainan dapat disebabkan oleh makanan seperti jengkol, petai, obat-obatan seperti mentol, bau buah-buahan seperti pada ketonuria. Bau amoniak disebabkan perombakan ureum oleh bakteri dan biasanya terjadi pada urin yang dibiarkan tanpa pengawet. Adanya urin yang berbau busuk dari semula dapat berasal dari perombakan protein dalam saluran kemih umpamanya pada karsinoma saluran kemih. 5) pH urin Penetapan pH diperlukan pada gangguan keseimbangan asam basa, kerena dapat memberi kesan tentang keadaan dalam badan. pH urin normal berkisar antar 4,5 - 8,0. Selain itu penetapan pH pada infeksi saluran kemih dapat memberi petunjuk ke arah etiologi. Pada infeksi oleh Escherichia coli biasanya urin bereaksi asam, sedangkan pada infeksi dengan kuman Proteus yang dapat merombak ureum menjadi atnoniak akan menyebabkan urin bersifat basa. Dalam pengobatan batu karbonat atau kalsium fosfat urin dipertahankan asam, sedangkan untuk mencegah terbentuknya batu urat atau oksalat pH urin sebaiknya dipertahankan basa. C. Pemeriksaan mikroskopi Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urin yaitu

pemeriksaan sedimen urin. Ini penting untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih serta berat ringannya penyakit. Urin yang dipakai ialah urin sewaktu yang segar atau urin yang dikumpulkan dengan pengawet formalin. Pemeriksaan sedimen dilakukan dengan memakai lensa objektif kecil (10x) yang dinamakan lapangan penglihatan kecil atau LPK. Selain itu dipakai

lensa objektif besar (40x) yang dinamakan lapangan penglihatan besar atau LPB. Jumlah unsur sedimen bermakna dilaporkan secara semi kuantitatif, yaitu jumlah rata-rata per LPK untuk silinder dan per LPB untuk eritrosit dan leukosit. Unsur sedimen yang kurang bermakna seperti epitel atau kristal cukup dilaporkan dengan + (ada), ++ (banyak) dan +++ (banyak sekali). Lazimnya unsur sedimen dibagi atas dua golongan yaitu unsur organik dan tak organik. Unsur organik berasal dari sesuatu organ atau jaringan antara lain epitel, eritrosit, leukosit, silinder, potongan jaringan, sperma, bakteri, parasit dan yang tak organik tidak berasal dari sesuatu organ atau jaringan seperti urat amorf dan kristal. a. Eritrosit atau leukosit Eritrosit atau leukosit di dalam sedimen urin mungkin terdapat dalam urin wanita yang haid atau berasal dari saluran kernih. Dalam keadaan normal tidak dijumpai eritrosit dalam sedimen urin, sedangkan leukosit hanya terdapat 0 - 5/LPK dan pada wanita dapat pula karena kontaminasi dari genitalia. Adanya eritrosit dalam urin disebut hematuria. Hematuria dapat disebabkan oleh perdarahan dalam saluran kemih, seperti infark ginjal, nephrolithiasis, infeksi saluran kemih dan pada penyakit dengan diatesa hemoragik. Terdapatnya leukosit dalam jumlah banyak di urin disebut piuria. Keadaan ini sering dijumpai pada infeksi saluran kemih atau kontaminasi dengan sekret vagina pada penderita dengan fluor albus. b. Silinder

Silinder adalah endapan protein yang terbentuk di dalam tubulus ginjal, mempunyai matrix berupa glikoprotein (protein Tamm Horsfall) dan kadang-kadang dipermukaannya terdapat leukosit, eritrosit dan epitel. Pembentukan silinder dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain osmolalitas, volume, pH dan adanya glikoprotein yang disekresi oleh tubuli ginjal. Dikenal bermacam-macam silinder yang berhubungan dengan berat ringannya penyakit ginjal. Banyak peneliti setuju bahwa dalam keadaan normal bisa didapatkan sedikit eritrosit, leukosit dan silinder hialin. Terdapatnya silinder seluler seperti silinder leukosit, silinder eritrosit, silinder epitel dan sunder berbutir selalu menunjukkan penyakit yang serius. Pada pielonefritis dapat dijumpai silinder lekosit dan pada glomerulonefritis akut dapat ditemukan silinder eritrosit. Sedangkan pada penyakit ginjal yang berjalan lanjut didapat silinder berbutir dan silinder lilin. c. Kristal Kristal dalam urin tidak ada hubungan langsung dengan batu di dalam saluran kemih. Kristal asam urat, kalsium oksalat, triple fosfat dan bahan amorf merupakan kristal yang sering ditemukan dalam sedimen dan tidak mempunyai arti, karena kristal-kristal itu merupakan hasil metabolisme yang normal. Terdapatnya unsur tersebut tergantung dari jenis makanan, banyak makanan, kecepatan metabolisme dan kepekatan urin. Di samping itu mungkin didapatkan kristal lain yang berasal dari obat-obatan atau kristal-kristal lain seperti kristal tirosin, kristal leucin. d. Epitel

Merupakan unsur sedimen organik yang dalam keadaan normal didapatkan dalam sedimen urin. Dalam keadaan patologik jumlah epitel ini dapat meningkat, seperti pada infeksi, radang dan batu dalam saluran kemih. Pada sindroma nefrotik di dalam sedimen urin mungkin didapatkan oval fat bodies. Ini merupakan epitel tubuli ginjal yang telah mengalami degenerasi lemak, dapat dilihat dengan memakai zat warna Sudan III/IV atau diperiksa dengan menggunakan mikroskop polarisasi.

D. Pemeriksaan kimia urin

pemeriksaan kimia urin dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana dengan hasil cepat, tepat, spesifik dan sensitif yaitu memakai reagens pita. Reagens pita (strip) dari berbagai pabrik telah banyak beredar di Indonesia. Reagens pita ini dapat dipakai untuk pemeriksaan pH, protein, glukosa, keton, bilirubin, darah, urobilinogen dan nitrit. Untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimum, aktivitas reagens harus dipertahankan, penggunaan haruslah mengikuti petunjuk dengan tepat; baik mengenai cara penyimpanan, pemakaian reagnes pita dan bahan pemeriksaan. Urin dikumpulkan dalam penampung yang bersih dan pemeriksaan baiknya segera dilakukan. Bila pemeriksaan harus ditunda selama lebih dari satu jam, sebaiknya urin tersebut disimpan dulu dalam lemari es, dan bila akan dilakukan pemeriksaan, suhu urin disesuaikan dulu dengan suhu kamar. Agar didapatkan hasil yang optimal pada tes nitrit, hendaknya dipakai urin pagi atau urin yang telah berada dalam buli-buli minimal selama 4 jam. Untuk pemeriksaan bilirubin, urobilinogen dipergunakan urin segar karena zatzat ini bersifat labil, pada suhu kamar bila kena cahaya. Bila urin dibiarkan

pada suhu kamar, bakteri akan berkembang biak yang menyebabkan pH menjadi alkali dan menyebabkan hasil positif palsu untuk protein. Pertumbuhan bakteri karena kontaminasi dapat memberikan basil positif palsu untuk pemeriksaan darah samar dalam urin karena terbentuknya peroksidase dari bakteri. Reagens pita untuk pemeriksaan protein lebih peka terhadap albumin dibandingkan protein lain seperti globulin, hemoglobin, protein Bence Jones dan mukoprotein. Oleh karena itu hasil pemeriksaan proteinuri yang negatif tidak dapat menyingkirkan kemungkinan terdapatnya protein tersebut didalam urin. Urin yang terlalu lindi, misalnya urin yang mengandung amonium kuartener dan urin yang terkontaminasi oleh kuman, dapat memberikan hasil positif palsu dengan cara ini. Proteinuria dapat terjadi karena kelainan prerenal, renal dan post-renal. Kelainan pre-renal disebabkan karena penyakit sistemik seperti anemia hemolitik yang disertai hemoglobinuria, mieloma, makroglobulinemia dan dapat timbul karena gangguan perfusi glomerulus seperti pada hipertensi dan payah jantung. Proteinuria karena kelainan ginjal dapat disebabkan karena kelainan glomerulus atau tubuli ginjal seperti pada penyakit glomerulunofritis akut atau kronik, sindroma nefrotik, pielonefritis akut atau kronik, nekrosis tubuler akut dan lain-lain.
a. Pemeriksaan glukosa

Dalam urin dapat dilakukan dengan memakai reagens pita. Selain itu penetapan glukosa dapat dilakukan dengan cara reduksi ion cupri menjadi cupro. Dengan cara reduksi mungkin didapati hasil positif palsu pada urin yang mengandung bahan reduktor selain glukosa seperti : galaktosa, fruktosa, laktosa, pentosa, formalin, glukuronat dan obatobatan seperti streptomycin, salisilat, vitamin C. Cara enzimatik lebih

sensitif dibandingkan dengan cara reduksi. Cara enzimatik dapat mendeteksi kadar glukosa urin sampai 100 mg/dl, sedangkan pada cara reduksi hanya sampai 250 mg/dl. Juga cara ini lebih spesifik untuk glukosa, karena gula lain seperti galaktosa, laktosa, fruktosa dan pentosa tidak bereaksi. Dengan cara enzimatik mungkin didapatkan hasil negatif palsu pada urin yang mengandung kadar vitamin C melebihi 75 mg/dl atau benda keton melebihi 40 mg/dl. Pada orang normal tidak didapati glukosa dalam urin. Glukosuria dapat terjadi karena peningkatan kadar glukosa dalam darah yang melebihi kepasitas maksimum tubulus untuk mereabsorpsi glukosa seperti pada diabetes mellitus, tirotoksikosis, sindroma Cushing, phaeochromocytoma, peningkatan tekanan intrakranial atau karena ambang rangsang ginjal yang menurun seperti pada renal glukosuria, kehamilan dan sindroma Fanconi. b. Benda-benda keton Dalam urin terdiri atas aseton, asam asetoasetat dan asam 13hidroksi butirat. Karena aseton mudah menguap, maka urin yang diperiksa harus segar. Pemeriksaan benda keton dengan reagens pita ini dapat mendeteksi asam asetoasetat lebllh dari 5--10 mg/dl, tetapi cara ini kurang peka untuk aseton dan tidak bereaksi dengan asam beta hidroksi butirat. Hasil positif palsu mungkin didapat bila urin mengandung bromsulphthalein, metabolit levodopa dan pengawet 8hidroksi-quinoline yang berlebihan.

Dalam keadaan normal pemeriksaan benda keton dalam urin negatif. Pada keadaan puasa yang lama, kelainan metabolisme karbohidrat seperti pada diabetes mellitus, kelainan metabolisme lemak didalam urin didapatkan benda keton dalam jumlah yang tinggi. Hal ini terjadi sebelum kadar benda keton dalam serum meningkat. c. Pemeriksaan bilirubin Dalam urin berdasarkan reaksi antara garam diazonium dengan bilirubin dalam suasana asam, yang menimbulkan warna biru atau ungu tua. Garam diazonium terdiri dari p-nitrobenzene diazonium dan p-toluene sulfonate, sedangkan asam yang dipakai adalah asam sulfo salisilat. Adanya bilirubin 0,05-1 mg/dl urin akan memberikan basil positif dan keadaan ini menunjukkan kelainan hati atau saluran empedu. Hasil positif palsu dapat terjadi bila dalam urin terdapat mefenamic acid, chlorpromazine dengan kadar yang tinggi sedangkan negatif palsu dapat terjadi bila urin mengandung metabolit pyridium atau serenium. d. Pemeriksaan urobilinogen Dalam keadaan normal kadar urobilinogen berkisar antara 0,1 - 1,0 Ehrlich unit per dl urin. Peningkatan ekskresi urobilinogen urin mungkin disebabkan oleh kelainan hati, saluran empedu atau proses hemolisa yang berlebihan di dalam tubuh.

Dalam keadaan normal tidak terdapat darah dalam urin, adanya darah dalam urin mungkin disebabkan oleh perdarahan saluran kemih atau pada wanita yang sedang haid. Dengan pemeriksaan ini dapat dideteksi adanya 150-450 ug hemoglobin per liter urin. Tes ini lebih peka terhadap hemoglobin daripada eritrosit yang utuh sehingga perlu dilakukan pula pemeriksaan mikroskopik urin. Hasil negatif palsu bila urin mengandung vitamin C lebih dari 10 mg/dl. Hasil positif palsu didapatkan bila urin mengandung oksidator seperti hipochlorid atau peroksidase dari bakteri yang berasal dari infeksi saluran kemih atau akibat pertumbuhan kuman yang terkontaminasi. Dalam keadaan normal urin bersifat steril. Adanya bakteriura dapat ditentukan dengan tes nitrit. Dalam keadaan normal tidak terdapat nitrit dalam urin. Tes akan berhasil positif bila terdapat lebih dari 105 mikroorganisme per ml urin. Perlu diperhatikan bahwa urin yang diperiksa hendaklah urin yang telah berada dalam buli-buli minimal 4 jam, sehingga telah terjadi perubahan nitrat menjadi nitrit oleh bakteri. Urin yang terkumpul dalam buli-buli kurang dari 4 jam akan memberikan basil positif pada 40% kasus. Hasil positif akan mencapai 80% kasus bila urin terkumpul dalam buli-buli lebih dari 4 jam. Hasil yang negatif belum dapat menyingkirkan adanya bakteriurea, karena basil negatif mungkin disebabkan infeksi saluran kemih oleh kuman yang tidak mengandung reduktase, sehingga kuman tidak dapat merubah nitrat menjadi nitrit. Bila urin yang akan diperiksa berada dalam buli-buli

kurang dari 4 jam atau tidak terdapat nitrat dalam urin, basil tes akan negatif. Kepekaan tes ini berkurang dengan peningkatan berat jenis urin. Hasil negatif palsu terjadi bila urin mengandung vitamin C melebihi 25 mg/dl dan konsentrasi ion nitrat dalam urin kurang dari 0,03 mg/dl. E. Protein Bence Jones Protein Bence Jones adalah protein kecil dan ringan (immunoglobulin) yang terdapat dalam urin. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menegakkan diagnosis dan memantau multipel myeloma dan penyakit lain sejenisnya, Protein Bence Jones berasal dari plasma sel, dari sel darah putih. Terdapatnya protein Bence Jones di dalam urin seseorang berkaitan dengan malignansi. Protein Bence Jones merupakan protein globulin monoclonal yang dapat ditemui di dalam darah dan urin yang berukuran kecil dengan berat molekul antara 22 hingga 24 kDa (kilo Dalton). Pada keadaan normal, protein Bence Jones tidak ditemukan pada urin manusia. Jika protein Bence Jones ditemukan pada urin seseorang, maka hal itu merupakan indikasi bahwa orang tersebut menderita Multiple Myeloma yang dikenal juga dengan nama Plasma Cell Myeloma atau Kahlers disease. Multiple myeloma merupakan bentuk kanker dari sel-sel plasma dimana sel-sel yang abnormal akan terakumulasi di tulang sehingga menyebabkan terjadinya lesi atau luka pada tulang. Adanya protein Bence Jones yang ditemukan pada urin digunakan sebagai penegakan diagnosis awal atas seseorang yang menderita kegagalan ginjal sebagai manifestasi dari penyakit Multiple Myeloma atau Kahlers disease. Ukurannya yang kecil membuat protein Bence Jones dapat lolos dari

proses penyaringan (filtrasi) yang terjadi di ginjal. Keadaan ditemukannya protein di dalam urin disebut proteinuria. Kadar protein yang tinggi di dalam urin atau adanya gejala-gejala yang mengarah pada keadaan multiple myeloma merupakan dasar dilakukannya pengujian (tes kuantitatif) protein Bence Jones. Urine immunofixation adalah metode pengujian terbaik untuk mendeteksi protein Bence Jones. Prinsipnya adalah mendeteksi melalui proses pengendapan yang terjadi sebagai akibat dari terjadinya reaksi spesifik antara Antigen (dalam hal ini adalah protein Bence Jones) dengan Antibodi. Pengendapan dapat dilihat langsung dengan mata telanjang atau mikroskop.

BAB III METODOLOGI

Alat

Urin Pereaksi Benedict Pereaksi asam sulfo salisilat 20%

Tabung reaksi + rak Penjepit tabung Api Bunsen Pipet tetes Carik celup Urinometer besar Piknometer 25 ml Gelas ukur 100 ml & 10 ml Bahan

Prosedur

Praktikum Pemeriksaan Makroskopi Urin Diisikan urin pada tabung reaksi sampai 2/3 bagian, diamati pada sikap miring (warna, kejernihan, bau urin). Praktikum pemeriksaan kimia urin 1. pH Urin dimasukkan ke tabung reaksi sampai 2/3 penuh, dimasukkan carik celup sampai terendam dalam urin, lalu diangkat dan dibandingkan warna pada pita carik celup dengan warna standar pada botol.

2. Berat jenis Menggunakan urinometer : Dituang urin ke dalam gelas ukur 100 ml sampai batas tanda, busa dibuang dengan sepotong kertas saring, dimasukkan urinometer besar (skala 0,001) diputar supaya tidak menempel pada dinding gelas, lalu dibaca skalanya. Menggunakan piknometer : Piknometer kosong ditimbang dan dicatat hasilnya, lalu piknometer diisi penuh dengan air dan ditimbang dicatat hasil. Dibuang airnya dikeringkan, diisi sampel urin dan ditimbang lagi dicatat hasilnya.

3. Protein

2 tabung reaksi masing-masing diisi 2 ml urin, lalu tabung pertama diberi 8 tetes larutan asam sulfo salisilat 20% dan dikocok. Dibandingkan kedua tabung, jika hasil jernih berarti negative, jika hasil keruh maka hasil dipanaskan sampai mendidih kemudian didinginkan, jika hasilnya tetap keruh berarti (+) mengandung protein. Bila kekeruhan hilang pada pemanasan dan keruh setelah dingin, berarti (+) protein bence jones. Tabel penilaian : Tanda + Tidak ada kekeruhan Kekeruhan ringan tanpa butir-butir kadar protein 0,010,05% ++ Tampak butir-butir dan keruh Keterangan

kadar protein 0,05-0,2% +++ ++++ Kekeruhan berkeping-keping kadar protein 0,2-0,5% Sangat keruh, berkeping-keping besar, bergumpal atau memadat kadar protein > 0,5%

4. Glukosa Pada 2 tabung reaksi dimasukkan 2 ml pereaksi benedict, pada tabung pertama ditambahkan 4 tetes urin dan dikocok. Dibandingkan kedua tabung, jika hasil jernih berarti negatif, jika hasil keruh dibaca di tabel. Tabel penilaian :

Tanda + ++ +++ ++++

Keterangan Tetap biru jernih Hijau kekuning-kuningan dan keruh Kuning keruh Jingga atau warna lumpur Merah keruh

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN A. Hasil praktikum Hasil praktikum makroskopi urin Sampel urin : urin pagi No. 1 2 3 4 5 Nama Mahasiswa Cecep. S Rizal Sulistiani Prita M. Fuad Uji warna Kuning muda Kuning keruh Kuning minyak Kuning tua Kuning Kejernihan Jernih Keruh Jernih Jernih Jernih Bau Urin Amoniak Amoniak Amoniak Amoniak Amoniak

Hasil praktikum kimia urin Sampel urin : urin pagi Bj Pikno Urino Tes carik celup Glukosa Protein pH Uji protein (asam sulfo salisilat 20%)

No.

Mahasiswa

Uji benedict

1 2 3 4 5

Cecep Rizal Sulistiani Prita Fuad

1,0098 1,0193 1,0229 1,0579 1,0095

1,004 1,014 1,004 1,008 1,007

+15 -

5 6 5 6 5

Perhitungan Piknometer: Bj = 1. Cecep S. Bj = 2. Sulistiani Bj = 3. Pritta Bj = 4. Rizal Bj = 5. Fuad Bj = = 1,0095 = 1,0193 = 1,0579 = 1,0229 = 1,0098

B. Pembahasan Makroskopi urin 1. Warna urin Dari hasil praktikum didapatkan 5 sampel kelompok didapatkan kelompok 1 kuning muda urinnya, kelompok 2 kuning keruh, kelompok 3 kuning minyak, kelompok 4 berwarna kuning tua dan kelompok 5 berwarna kuning. Hal ini menandakan bahwa warna urin pada 5 kelompok masih dalam keadaan normal. Pada umumnya warna ditentukan oleh kepekatan urin, makin banyak diuresa makin muda warna urin itu. Warna normal urin berkisar antara kuning muda dan kuning tua yang disebabkan oleh beberapa macam zat warna seperti urochrom, urobilin dan porphyrin. 2. Bau urin Dari hasil praktikum didapatkan pada 5 kelompok semua urinnya berbau amoniak, hal ini menandakan bahwa bau urin pada 5 kelompok masih dalam keadaan normal. Karena bau urin normal disebabkan oleh asam organik yang mudah menguap. Dan bau amoniak disebabkan perombakan ureum oleh bakteri dan biasanya terjadi pada urin yang dibiarkan tanpa pengawet. 3. Kejernihan Dari hasil praktikum didapatkan hasil 4 kelompok urinnya jernih yaitu kelompok 1, 3, 4, dan 5. Sedangkan kelompok 2 urinnya keruh, hal ini dikarenakan urin yang diambil bukan urin pagi hari, melainkan urin malam hari.

Kejernihan dinyatakan dengan salah satu pendapat seperti jernih, agak keruh, keruh atau sangat keruh. Biasanya urin segar pada orang normal jernih. Urin yang telah keruh pada waktu dikeluarkan dapat disebabkan oleh chilus, bakteri, sedimen seperti epitel, leukosit dan eritrosit dalam jumlah banyak. Kimia urin 1. Bj dan Urino Dari hasil praktikum didapatkan, kelompok 1 bj 1,0098 dan urino 1,004. Kelompok 2 1,0193 dan urino 0,014, kelompok 3 bj 1,0229 dan urino 1,004. Kelompok 4 bj 1,0579 dan urino 1,008, kelompok 5 bj 1,0095 dan urino 1,007. Hal ini membuktikan bahwa urin masih dalam batas bj normal. 2. Uji benedict Dari hasil praktikum 5 kelompok dengan membandingkan blanko yaitu larutan benedict dan urin yang sudah diberikan larutan benedict, didapatkan data bahwa semua urin negatif. Hal ini membuktikan tidak ada glukosa di dalam urin. Dan urin masih dalam batas normal. Pada orang normal tidak didapati glukosa dalam urin. Glukosuria dapat terjadi karena peningkatan kadar glukosa dalam darah yang melebihi kepasitas maksimum tubulus untuk mereabsorpsi glukosa seperti pada diabetes mellitus, tirotoksikosis, sindroma Cushing, phaeochromocytoma, peningkatan tekanan intrakranial atau karena ambang rangsang ginjal yang menurun seperti pada renal glukosuria, kehamilan dan sindroma Fanconi. 3. Tes carik celup Digunakan tes carik celup dimana tes ini bisa menetukan apakah ada glukosa, dan protein serta pH urin. Dari hasil praktikum didapatkan 5 kelompok

negatif glukosa. Pada tes protein 4 kelompok yaitu kelompok 1, 3, 4 dan 5 didapatkan hasil negatif, sedangkan kelompok 2 +15. Hal ini bisa disebabkan karena faktor makanan yang dia makan. Dari 5 kelompok didapatkan pH 5-6, hal ini membuktikan kalau sampel urin pada 5 kelompok masih dalam keadaan normal. Karena masuk ke dalam range pH urin normal berkisar antar 4,5 - 8,0.
4. Uji protein (Asam sulfo salisilat 20%)

Uji ini menggunakan asam sulfo salisilat 20%, urin yang sudah diberikan larutan asam sulfo salisilat 20% dengan blanko yaitu urin. Jika hasil yang diberikan keruh maka dipanaskan kemudian didinginkan pada suhu kamar, lihat apakah masih keruh atau tidak dan bandingkan dengan protein bence jones. Jika hasil yang diberikan negatif, tidak diteruskan untuk proses berikutnya. Dari hasil praktikum didapatkan bahwa 5 kelompok menunjukkan hasil negatif yang berarti tidak mengandung protein didalam urin. Hal ini membuktikan bahwa urin masih dalam keadaan normal.

BAB V KESIMPULAN
1. Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan

diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum.
2. Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh

ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. 3. Pada uji mikroskopi urin, 5 sampel urin berwarna kuning-kuning keruh. Pada kejernihan 4 sampel urin jernih dan 1 sampel keruh. Bau urin yang ditimbulkan pada 5 sampel urin berbau amoniak.
4. Pada bj dan urino didapatkan 5 sampel urin masih dalam batas normal, pada tes

carik celup 5 sampel urin negatif glukosa, 4 sampel urin negatif protein dan 1 sampel +15mengandung protein.

5. Pada tes pH urin yang didapatkan pada 5 sampel, berkisar antara 5-6.
6. Pada uji protein menggunakan asam sulfo salisilat menunjukkan hasil negatif.

DAFTAR PUSTAKA Kee, Joyce LeFever. 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik Edisi 6. Jakarta: EGC. Pearce, Evelyn C. 2002. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: Gramedia. Widmann, Frances K. 1995. Tinjauan klinis atas hasil pemeriksaan laboratorium, penterjemah, Siti Budina Kresno; Ganda Soebrata,J.Latu Ed.9. Jakarta : EGC. Wilmar musram. 2000. Praktikum Urine, Penuntun Praktikum Biokimia. Jakarta: Widya Medika. http://www.scribd.com/doc/40047447/wajib-PRINTTTTTTTTTTT http://belibis-a17.com/2008/04/25/pemeriksaan-protein-urine-kualitatif/ http://www.smallcrab.com/kesehatan/795-penilaian-hasil-pemeriksaan-urine

LAMPIRAN