Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Sejak pertama kali manusia berada di muka bumi, mereka telah dihadapkan pada masalah dan bermaksud untuk memecahkannya, namun dalam menghadapi masalahnya, manusia memberikan reaksi yang berbeda beda sesuai dengan cara dan kemampuan berpikir mereka. Cara dan kemampuan berpikir manusia selalu berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Begitu pula dengan ilmu dan pengetahuan yang didapat oleh manusia, semakin lama semakin mendalam dan luas. Mulai dari zaman purba hingga zaman kontemporer atau zaman sekarang. Perkembangan ilmu di tiap tiap wilayah atau benua yang dihuni manusia berbeda beda, sesuai dengan karakter dan kemampuan pemikiran dari manusia itu sendiri. Yang mana perkembangan tersebut merupakan rangkaian panjang sejarah peradaban umat manusia, yang dengan kemampuan akal, pikirannya selalu berusaha melangkah maju.

B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa pengertian filsafat dan pendidikan? 2. Bagaimana pemahaman tentang filsafat? 3. Bagaimana pemahaman tentang filsafat pendidikan?

C. TUJUAN Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan. Karena itu tujuan pendidikan memiliki 2 fungsi yaitu membaeikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yanga ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Segenap komponen dari seluruh kegiatan pendidikan dilakukan semata-mata terarah kepada atau ditujukan untuk pencapaian tujuan diatas. Dengan demikian maka kegiatankegiatan yang tidak relevan dengan tujuan diatas dianggap menimpang, tidak fungsional bahkan salah, sehingga harus dicegah terjadinya. Tujuan pendidikan bersifat normatif, yaitu mengandung unsur norma yang bersifat memaksa, tetapi tidak bertentangan dengan hakikat perkembangan peserta didik serta dapat diterima oleh masyarakat sebagai nilai hidup yang baik.

1
FILSAFAT DAN TEORI PENDIDIKAN

BAB II PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN FILSAFAT Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani kuno, philos artinya cinta dan sophia artinya kearifan atau kebijakan. Filsafat berarti cinta yang mendalam terhadap kearifan atau kebijakan. Dan dapat pula diartikan sebagai sikap atau pandangan seseorang yang memikirkan segala sesuatunya secara mendalam dan melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Menurut Harold Titus, dalam arti sempit filasafat diartikan sebagai sains yang berkaitan dengan metodologi, dan dalam arti luas filsafat mencoba mengintegrasikan pengetahuan manusia yang berbeda-beda dan menjadikan suatu pandangan yang komprehensif tentang alam semesta, hidup, dan makna hidup. Jadi, filsafat memiliki karakteristik spekulatif, radikal, sistematis, komprehensif, dan universal. Butler mengemukakan beberapa persoalan yang dibahas dalam filsafat, yaitu : 1. Metafisika adalah cabang filsafat yang mempersoalkan tentang hakikat yang tersimpul di belakang dunia fenomena, membahas ontologi, teologi, kosmologi, dan antropologi. 2. Epistemologi ialah cabang filsafat yang membahas atau mengkaji asal, struktur, metode, serta keabsahan pengetahuan. 3. Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari nilai, yaitu etika dan estetika.

B. PENGERTIAN PENDIDIKAN Kata pendidikan berasal dari kata didik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Para ahli mengemukakan definisi pendidikan adalah sebagai berikut : -McLeod : Pendidikan berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan. -Tardif : Pendidikan adalah seluruh tahapan pengembangan kemampuan-kemampuan dan perilaku-perilaku manusia dan juga proses penggunaan hampir seluruh pengalaman kehidupan. -Poerbakawatja dan Harahap : Pendidikan ialah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya.
2
FILSAFAT DAN TEORI PENDIDIKAN

Henderson : Pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir.

C. PEMAHAMAN TENTANG FILSAFAT Kata filsafat ( Fhilosophy) bersumber dari bahasa Yunani, Fhilen berati mencintai, dan shopos atau shoops, Hikmah, arif, atau bijaksana. Sedangkan istilah filsafat dapat diartikan dalam 2 pendekatan, yakni : 1. Filsafat sebagai kelanjutan dari berpikir ilmiah, yang dapat dilakukan oleh setiap orang serta sangat bermanfaat dalam memberi makna dalam ilmu pengetahuannya. 2. Filsafat sebagai kajian khusus dan formal, yang mencakup logika, apeitemologi ( tentang benar dan salah), etika (tentang baik dan buruk), estetika ( tentang indah dan jelek), metafisika( tentang hakikat yang ada , termasuk akal itu sendiri) seta sosial dan pelitik( filsafat pemerintahan).

Filsafat mengkaji dan berupaya menjawab secara kritis dan mendasar berbagai pertanyaan pokok seperti apa, mengapa, kemana, bagaimana, dan sebagainya dari halhal yang dibahas. kejelasan berbagai hal itu juga sangat perlu untuk menjadi landasan berbagai keputusan dan tindakan yang dilakukan dalam pembahasan. Setiap keputusan dan tindakan harus diyakinkan kebenaran dan ketepatanya meskipun belum dapat dipastikan kebenarannya, sehingga harus diikuti dengan pemantauan dan penyesuaian yang terus menerus.

D. PEMAHAMAN TENTANG FILSAFAT PENDIDIKAN Pendidikan dan filsafat memiliki kaitan yang erat, karena filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarakat, sedangkan pendidikan berusaha mewujudkan citra tersebut. Sedangkan kajian-kajian yang dilkukan oleh berbagai cabang filsafat akan besar pengaruhnya terhadap pendidikan, karena prinsip-prinsip dan kebenaran-kebanaran hasil kajian tersebut pada umumnya diterapkan dalam bidang pendidikan. Peranan filsafat dalam bidang pendidikan tersebut berkaitan dengan hasil kajian antara lain tentang : a. Keberadaan dan kedudukan manusia sebagai mahkluk di dunia ini, seperti yang disimpulkan sebagai zoon politicon, homo sapiens, animal aducandum, dan sebagainya.
3
FILSAFAT DAN TEORI PENDIDIKAN

b. Masyarakat dan kebudayaannya c. Keterbatasan manusia sebagai makhluk hidup yang banyak menghadapi tantangan, dan d. Perlunya landasan pemikiran dalam pekerjaan pendidikan, utamanya filsafat pendidikan ( Wayan Ardhana,1986. Modul 1/9).

Hasil-hasil kajian tersebut, utamanya tentang konsepsi manusia dan dunianya, sangat besar pengaruhnya terhadap pendidikan Berbagai pandangan filosofis tentang aliran dan dunianya yang dikemukakan oleh berbagai aliran dalam filsafat ternyata sangat bervariasi, bahkan kadang-kadang bertentangan. Secara hipnotis terdapat dua aliran yang saling bertentangan yakni idealisme dan naturalisme (positivisme), dengan segala variasinya masing-masing ( Abu Hanifah, 1950). Di samping kedua aliran itu, telah berkembang pula beberapa aliran lain, sehingga terdapat aliran-aliran filsafat materi, filsafat cita, filsafat hidup, filsafat hakikat, filsafat eksistensi, dan filsafat ujud ( Berrling, 1951:40). Wayan Ardhana, dan kawan-kawan ( 1989: Modul 1/12-18) mengemukakan bahwa aliran-aliran filsafat itu bukan hanya mempengaruhi pendidikan, tetapi juga telah melahirkan aliran filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab/aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran, sekurang-kurnagnya sebanyak aliran filsafat itu sendiri. Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar, yaitu a. Filsafat pendidikan progresif Didukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Roousseau b. Filsafat pendidikan Konservatif. Didasari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius. Filsafat-filsafat tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme,

perenialisme,dan sebagainya. Berikut aliran-aliran dalam filsafat pendidikan:

4
FILSAFAT DAN TEORI PENDIDIKAN

1. Filsafat Pendidikan Idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali 2. Filsafat Pendidikan Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia rohani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill. 3. Filsafat Pendidikan Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach 4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos. 5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankn pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich. 6. Filsafat Pendidikan Progresivisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas,FrederickC.Neff

5
FILSAFAT DAN TEORI PENDIDIKAN

7. Filsafat Pendidikan esensialisme Esensialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda. Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell. 8. Filsafat Pendidikan Perenialisme Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultural. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler. 9.Filsafat Pendidikan rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan

progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini:Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.

6
FILSAFAT DAN TEORI PENDIDIKAN

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Pendidkan selalu berkaitan dengan manusia, dan hasilnya tidak segera tampak. Diperlukan satu generasi untuk meliha hasil akhir dari pendidkan itu. Oleh karena itu, apabila terjadi suatu kekeliruan yang berakibat kegagalan, pada umumnya sudah terlambat untuk memperbaikinya. Karena itu, pendidik dalam melaksanakan tugasnya diharapkan tidak membuat kesalahan-kesalahan mendidik. Sebab kesalahan mendidik bisa fatal karena sasaran pendidikan adalah manusia. Kenyataan ini menuntut agar pendidik itu dirancang dan dilaksanakan secermat mungkin dengan memperhatikan sejumlah landasan dan asas pendidikan B. SARAN Sebaiknya kita sebagai seorang mahasiswa sekaligus sebagai calon guru memahami dan mempelajari mengenai sejarah perkembangan ilmu agar dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari hari serta kita memiliki pola pikir yang lebih berkembang.

7
FILSAFAT DAN TEORI PENDIDIKAN

DAFTAR PUSTAKA

www.scribd.comwww.scribd.com/doc/8864461/Filsafat-Pendidikan-PengantarMirip 12 Des 2008 Noor, Hadian. 1997. Pengantar Sejarah Filsafat. Malang: Citra Mentari Group. Osborne, Richard. 2001. Filsafat Untuk Pemula. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Rachman, Maman, dkk. 2008. Filsafat Ilmu. Semarang : UPT UNNES Press. Russell, Bertrand. 2004. Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. http://bakuljangan.wordpress.com/2008/01/03/hubungan-agama-dan-filsafat-di-barat/ Sadulloh, Uyoh. 2006. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta. Arfiani, E. et al. 2005. Filosofi Sekolah Dasar. Online.

8
FILSAFAT DAN TEORI PENDIDIKAN