Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN Kanabis atau bahasa awamnya ganja adalah narkoba yang paling sering disalahgunakan di dunia.

Kanabis mendominasi 65% narkoba yang menempati urutan tertinggi penggunaannya didunia dibanding narkoba lain. (World Drug Report, 2008) Data Kasus Tindak Pidana Narkoba di Indonesia sebagaimana dilaporkan Badan Narkotika Nasional (BNN) Tahun 2006 menyebutkan bahwa antara Tahun 2001 sampai dengan Tahun 2005 telah terjadi peningkatan yaitu kasus narkotika dari 1.907 tahun 2001meningkat menjadi 8.171 tahun 2005, kasus psikotropika dari 1.648 tahun 2001 meningkat menjadi 6.733 tahun 2005 karena berdasarkan Laporan Statistik Diskriptif BNN, jenis NAPZA yang menjadi masalah utama di masyarakat yang pertama adalah heroin sebesar 29%, kedua alkohol sebesar 18,2%, dan ketiga adalah ganja sebesar 17,6% (BNN, 2003). Suatu penelitian tentang kanabis dan kesehatan jiwa menyebutkan bahwa penggunaan narkoba meningkatkan risiko timbulnya sakit jiwa hingga lebih dari 40%. Para dokter, sebagaimana meminta pihak-pihak yang berwenang untuk masalah kesehatan, mengingatkan kaum muda tentang risiko kanabis terhadap mental dan perilaku. Kesimpulan tersebut berdasarkan tinjauan terhadap 35 penelitian yang meneliti frekuensi skizofrenia, ilusi, halusinasi, kekacauan pikiran dan sakit kejiwaan lainnya yang dialami para pemakai kanabis. Pengguna kanabis ternyata 41% lebih mungkin mengalami hal-hal tersebut dibanding mereka yang tidak pernah menggunakan kanabis. Risikonya relatif bertambah seiring banyaknya pemakaian. Studi itu juga mengamati resiko depresi, kegelisahan dan kondisi emosional lainnya, namun belum ada bukti yang pasti untuk mengaitkannya dengan kannabis. Di Inggris, 40% orang dewasa muda dan remaja pernah memakai ganja,sekitar 14% kasus kejiwaan kaum muda di Inggris dapat dihindari jika tidak ada pemakaian kanabis. Penelitian itu dipimpin Theresa Moore dari University of Bristol, dan Stanley Zammit dari Cardiff University. Dalam penelitian tersebut, kanabis dapat menyebabkan peningkatan risiko halusinasi, delusi dan psikosis. Tahun lalu pemerintah Inggris mengklasifikasikan ulang ganja dari kelas C ke obat-obatan kelas B, sebagian kecil dari kekhawatiran bahwa ganja, terutama varietas yang lebih kuat, dapat meningkatkan resiko skizoprenia pada anak-anak muda. Namun bukti akan adanya hubungan antara ganja dan skizoprenia atau psikosis tetap menjadi kontroversial. Sebuah studi yang baru telah menyatakan bahwa mungkin perlu untuk menghentikan ribuan pengguna ganja hanya dalam rangka mencegah satu kasus skizoprenia.
1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA GANGGUAN MNTAL DAN PERILAKU AKIBAT KANABIS Kanabis adalah nama singkat untuk tanaman rami Cannabis sativa. Semua bagian dari tanaman mengandung kanabinoid psikoaktif, dimana (T9-tetrahydrocannabinol(T9-THC) adalah yang paling banyak. Tanaman kanabis biasanya dipotong, dikeringkan,dipotong kecilkecil, selanjutnya digulung menjadi rokok (biasanya disebut joints),yang selanjutnya dihisap seperti rokok. Nama yang umum untuk kanabis adalah mariyuana, grass, pot, weed, tea, dan Mary Jane. Nama lain untuk kanabis yang menggambarkan tipe kanabis dalam berbagai kekuatan, adalah hemp, chasra, bhang, ganja, dagga, dan sinsemilla. Bentuk kanabis yang paling poten berasal dari ujung tanaman yang berbunga atau dari eksudat resin yang dikeringkan dan berwarna cokelat-hitam yang berasal dari daun, yang disebut sebagai hashish atau hash. Efek euforia dari kanabis telah dikenali selama beribu-ribu tahun. Efek medisy ang potensial dari kanabis sebagai analgesik, antikonvulsan, dan hipnotis telah lama dikenali pada abad ke-19 dan ke-20. belakangan ini kanabis dan komponen aktifnya yang utama, T9-THC, telah berhasil digunakan untuk mengobati mual sekunder karena obat terapi kanker dan untuk menstimulasi nafsu makan pada pasien dengan sindrom imunodefisiensi (AIDS).

Tanaman

ini

ditemukan

hampir

disetiap

negara

tropis.

Bahkan

beberapa

negara beriklim dingin pun sudah mulai membudidayakannya dalam rumah kaca. Di Indonesia, kanabis dibudidayakan secara ilegal di Provinsi Aceh. Biasanya kanabis ditanam pada awal musim penghujan, menjelang kemarau sudah bisa dipanen hasilnya. Hasil panen kanabis berupa daun beriut ranting dan bunga serta buahnya berupa biji-biji kecil. Campuran daun, ranting, bunga, dan buah yang telah dikeringkan inilah yang biasa dilinting menjadi rokok mariyuana. Kalau bunga betinanya diekstrak, akan dihasilkan damar pekat yang disebut hasyis.

EPIDEMIOLOGI Kira-kira sepertiga (32,2%) dari populasi yang dilaporkan pernah menggunakan kanabis satu kali atau lebih selama hidupnya, 9,5% pernah menggunakannya di tahun terakhir, dan 4,8% pernah menggunakannya di bulan terakhir. Persentasi tersebut ditranslasikan menjadi 67,4 juta anggota populasi yang pernah menggunakan kanabis di dalam hidupnya, 19,2 juta dalam tahun terakhir, dan 9,7 juta dalam bulan terakhir. Orang dewasa yang berusia 26 sampai 34 tahun merupakan kelompok usia yang paling mungkin pernah menggunakan kanabis, tetapi mereka yang berusia 18 sampai 25 tahun merupakan yang paling mungkin menggunakan kanabis dalam tahun terakhir atau bulan terakhir. Pemuda yang berusia 12 sampai 17 tahun merupakan kelompok usia yang paling kecil kemungkinannya pernah menggunakan kanabis selama hidup, dan orang dewasa yang berusia 35 tahun dan lebih merupakan kelompok usia yang paling kecil kemungkinannya pernah menggunakan kanabis dalam tahun terakhir dan bulan terakhir.

FARMAKOLOGI Komponen utama dari kanabis adalah d9-THC; tetapi, tanaman kanabis mengandung lebih dari 400 zat kimia, yang kira-kira 60 buah diantaranya secara kimiawi berhubungan dengan d9-THC. Pada manusia d9-THC secara cepat dikonversi menjadi 11-hidroksi-d9-THC, suatu metabolit yang aktif didalam sistem saraf pusat.Suatu reseptor spesifik untuk kanabiol telah diidentifikasi, diklon dandikarakterisasi. Reseptor kanabinoid diikat dengan protein G inhibitor (Gi), yang berikatan dengan adenilil siklase di dalam pola menginhibisi.
3

Reseptor kanabinoid ditemukan dalam konsentrasi yang tertinggi di ganglia basalis (fungsi kontrol gerakan), hipokampus (fungsi daya tangkap dan ingatan), dan serebelum (fungsi koordinasi gerak tubuh), dengan konsentrasi yang lebih rendah di korteks serebral (fungsifungsi kognitif yang lebih tinggi). Reseptor tidak ditemukan di batang otak, suatu kenyataan yang konsisten dengan efek kanabis yang minimal pada fungsi pernafasan dan jantung. Penelitian pada binatang telah menemukan bahwa kanabinoid mempengaruhi neuron monoamin dan gamma-aminobutyric acid (GABA). Selain itu, suatu perdebatan tentang apakah kanabinoid menstimulasi yang disebut pusat kesenangan (reward centers) di otak, seperti neurondopaminergik dari area tegmental ventralis. Efek psikologis dan kesehatan yang segera setelah seseorang mengkonsumsi kanabis adalah euphoria, relaksasi, perubahan persepsi, dan intensifikasi dari pengalaman pancaindra yang luar biasa, seperti makan, melihat film, dan mendengarkan musik. Efek kognitifnya meliputi berkurangnya memori jangka pendek dan kehilangan hubungan. ketrampilan dan reaksi motoriknya juga mengalami kemunduran. Eek tidak nyaman yang biasa terjadi dari kanabis adalah gelisah, panik, dan perasaan tertekan. Pengaruh ini hanya terjadi pada mereka yang belum terbiasa dengan kanabis dan pasien yang diberikan THC untuk tujuan pengobatan. Bagi mereka yang telah terbiasa dengan kanabis maka mereka akan menginginkan harapan-harapan yang lebih tinggi lagi dengan konsumsi yang lebih banyak sehingga menimbulkan efek delusi dan halusinasi. Tetapi, toleransi terhadap kanabis memang terjadi, dan ketergantungan fisikologi adalah tidak kuat. Gejala putus kanabis pada manusia adalah terbatas sampai peningkatan ringan dalam iritabilitas, kegelisahan,insomnia, anoreksia, dan mual ringan; semua gejala tersebut ditemukan hanya jika seseorang menghentikan kanabis dosis tinggi secara mendadak.Jika kanabis digunakan seperti rokok, efek euforia tampak dalam beberapa menit, mencapai puncak dalam kira-kira 30 menit, dan berlangsung 2 sampai 4 jam. Beberapa efek motorik dan kognitif berlangsung selama 5 sampai 12 jam. Kanabis juga dapat digunakan peroral jika disiapkan dalam makanan. Kira-kira harus digunakan dua sampai tiga kali lebih banyak kanabis yang digunakan peroral untuk sama kuatnya dengan kanabis yang digunakan melalui inhalasi asapnya. Banyak variabel yang mempengaruhi sifat psikoaktif dari kanabis, termasuk potensi penggunaan kanabis, jalur pemberian, teknik mengisap, efek pirolisis dari kandungan kanabinoid, dosis, lingkungan, pengalaman masa lalu pemakai, harapan pemakai, dan kerentanan biologis unik dari pemakai terhadap efek kanabinoid Keracunan secara cepat pada pengguna ganja sangat rendah dan tidak ditemukan kasusyang fatal dari keracunan akibat penyalahgunaan kanabis pada manusia. Tentu saja ini
4

juga dipengaruhi oleh cara penggunaan dengan merokok dan ditelan yang mengakibatkanlambatnya reaksi dalam tubuh, disamping juga ditentukan oleh kandungan THC dari ganja yang dikonsumsi

GAMBARAN KLINIS DAN DIAGNOSIS Diagnosis gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kanabis dapat ditegakkan berdasarkan PPDGJ-III (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia, Edisi III) dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition). Efek fisik yang paling sering dari kanabis adalah dilatasi pembuluh darah konjungtiva (yaitu, mata merah) dan takikardi ringan. Pada dosis tinggi, hipotensi ortostatik dapat terjadi. Peningkatan nafsu makan dan mulut kering adalah efek intoksikasi kanabis yang sering. Belum pernah dicatat secara jelas kasus kematian yang disebabkan oleh intoksikasi kanabis saja yang mencerminkan tidak adanya efek dari zat pada kecepatan pernafasan. Efek merugikan potensial yang paling serius dari dari penggunaan kanabis berasal dari inhalasi hidrokarbon karsinogenik yang sama-sama ditemukan dalam tembakau konvensional, dan beberapa data menyatakan bahwa penggunaan kanabis yang berat berada dalam resiko mengalami penyakit pernafasan kronis dan kanker paru-paru. Banyak laporan menyatakan bahwa penggunaan kanabis jangka panjang berhubungan dengan atrofi serebral, kerentanan kejang, kerusakan kromosom, defek kelahiran, gangguan reaktivitas kekebalan, perubahan konsentrasi testosteron, dan disregulasi siklus menstruasi; tetapi, laporan tersebut belum secara pasti ditegakkan, dan hubungan antara efek tersebut dengan penggunaan kanabis tidak pasti. DSM-IV menuliskan gangguan berhubungan dengan kanabis tetapi mempunyai kriteria spesifik dalam bagian gangguan berhubungan dengan kanabis hanya untuk intoksikasi kanabis.
5

Kriteria diagnostik untuk gangguan berhubungan dengan kanabis lainnya ditemukan didalam bagian DSM IV yang memusatkan pada gejala fenomenologi utama sebagai contoh, gangguan psikotik akibat kanabis, dengan waham, di dalam bagian DSM-IV tentang gangguan psikotik akibat zat. Ketergantungan Kanabis dan Penyalahgunaan Kanabis DSM-IV memasukkan diagnosis ketergantungan kanabis dan penyalahgunaan kanabis. Data eksperimental dengan jelas menunjukkan toleransi terhadap banyak efek kanabis; tetapi, data kurang mendukung adanya ketergantungan fisik. Ketergantungan psikologis pada pemakaian kanabis terjadi pada pemakai jangka panjang. Intoksikasi Kanabis Pengaruh subjektif dari intoksikasi kanabis bervariasi dari satu individu ke individu yang lain, menetapkan pada tingginya variable farmakokinetik dosis cara pemberian, latar belakang pengalaman dan harapan, dan kerentanan individu terhadap efek psikotis tertentu. DSM-IV meresmikan kriteria diagnostik untuk intoksikasi kanabis. Kriteriadiagnostik menyebutkan bahwa diagnosis dapat diperkuat dengan kalimat dengan gangguan persepsi. Secara khas, intoksikasi dicirikan oleh periode awal high yang digambarkan sebagai perasaan kesejahteraan dan kebahagiaan. Tanda dan gejala intoksikasi ini berupa euphoria diikuti periode mengantuk atau sedasi. Intoksikasi kanabis sering kali meninggikan kepekaan pemakai terhadap stimuli eksternal, mengungkapkan perincian yang baru, membuat warna-warna tampak lebih terang dari pada sebelumnya dan perlambatan waktu secara subjektif. Persepsi waktu berubah, pendegaran dan penglihatan terganggu. Efek subjektif dari intoksikasi sering berupa reaksi disosiasi. Pada dosis tinggi, pemakai mungkin juga merasakan depersonalisasi dan derealisasi serta bisa mempengaruhi tingkat kesadaran, dimana lebih jelas pengaruhnya terhadap penilaian kognitif. Keterampilan motorik terganggu oleh pemakaian kanabis, dan gangguan pada keterampilan motorik tetap ada setelah efek euforia dan subjektif telah menghilang. Selama 8 sampai 12 jam setelah lainnya. Kanabis menggunakan kanabis, pemakai mengalami suatu gangguan delirium organik toksis yang menetap lama keterampilan motorik yang mengganggu operasi kendaraan bermotor dan mesin mesin berat membangkitkan dikarakteristikkan sebagai kebingungan dengan proses fikir yang kacau, afek yang labil, waham dan halusinasi pernah dilaporkan.

Delirium Intoksikasi Kanabis Delirium Intoksikasi Kanabis adalah suatu diagnosis DSM-IV. Delirium yang berhubungan dengan intoksikasi kanabis ditandai oleh gangguan kognitif dan tugas kinerja yang jelas. Bahkan dosis kecil kanabis menyebabkan gangguan daya ingat, waktu reaksi, persepsi, koordinasi motorik, dan pemusatan perhatian. Dosis tinggi yang juga menggangu tingkat kesadaran pemakai mempunyai efek nyata pada pengukuran kognitif tersebut. Gangguan Psikotik Akibat Kanabis Gangguan Psikotik Akibat Kanabis adalah didiagnosis dengan adanya psikosis akibat kanabis. Gangguan psikotik akibat kanabis jarang terjadi, tetapi ide paranoid sementara adalah lebih sering. Dosis tinggi kanabis membangkitkan gejala psikotik singkat seperti waham kejar atau halusinasi pendengaran dan penglihatan, khususnya orang dengan gangguan psikiatrik yang mendasarinya. Psikosis yang jelas agak sering di negara-negara di mana orang-orangnya mempunyai jalur untuk mendapatkan kanabis dengan potensi yang tinggi. Penggunaan kanabis jarang disertai dengan pengalaman khayalan buruk, yang sering kali menyertai intoksikasi halusinogen. Jika gangguan psikotik akibat kanabis memang terjadi, keadaan ini mungkin berhubungan dengan gangguan kepribadian yang telah ada sebelumnya pada orang yang terkena. Gangguan Kecemasan Akibat Kanabis Gangguan Kecemasan Akibat Kanabis (cannabis-induced anxiety disorder) adalah suatu diagnosis umum untuk intoksikasi kanabis akut, dimana banyak orang mengalami keadaan kecemasan singkat yang sering kali dicetuskan oleh pikiran paranoid. Dalam keadaan tersebut, serangan panik dapat diinduksi, didasarkan pada rasa takut yang tidak jelas dan tidak terorganisir. Beberapa pengguna kanabis melaporkan pengalaman ada kalanya tidak menyenangkan, paling banyak sering menggambarkan sebagai reaksi cemas dari intensitas ringan sampai sedang. Tampaknya gejala kecemasan berhubungan dengan dosis dan merupakan efek merugikan yang paling sering terhadap pemakaian sedang kanabis yang diisap seperti rokok. Pemakai yang tidak berpengalaman lebih mungkin mengalami gejala kecemasan dibandingkan pemakai yang berpengalaman. Gangguan Berhubungan Kanabis yang Tidak Ditentukan
7

DSM-IV tidak secara resmi mengenali gangguan mood akibat kanabis (cannabis induced mood disorder); dengan demikian, gangguan tersebut diklasifikasikan sebagai gangguan akibat berhubungan yang tidak ditentukan (NOS; not other-wise specified). Intoksikasi kanabis dapat disertai dengan gejala depresif, walaupun gejala tersebut dapat mengarahkan pemakaian kanabis jangka panjang. Tetapi, hipomania, adalah gejala yang sering pada intoksikasi kanabis. DSM-IV juga tidak secara resmi mengenali gangguan tidur akibat kanabis atau disfungsi seksual akibat kanabis; dengan demikian, keduanya diklasifikasikan sebagai gangguan berhubungan kanabis yang tidak ditentukan (NOS). Jika ditemukan gejala gangguan tidur maupun gejala disfungsi seksual dan berhubungan dengan penggunaan kanabis, gejala tersebut hampir selalu menghilang dalam beberapa hari atau satu minggu setelah menghentikan pemakaian kanabis. Kilas balik (flash back) Kelainan persepsi yang menetap setelah penggunaan kanabis tidak secara resmi diklasifikasikan di dalam DSM-IV, walaupun terdapat laporan kasus orang yang mengalami sensasi berhubungan dengan intoksikasi kanabis setelah efek jangka pendek dari substansi telah menghilang. Perdebatan tentang apakah flash back berhubungan dengan penggunaan kanabis saja atau apakah berhubungan dengan penggunaan bersama dengan halusinogen atau kanabis dicampur dengan phencyclidine (PCP). Sindrom Amotivasional Sindrom berhubungan kanabis lain yang kontroversial adalah sindrom amotivasional. Perdebatan adalah tentang apakah sindrom ini berhubungan dengan penggunaan kanabis atau apakah mencerminkan sifat karakterologis pada sekelompok orang, tidak tergantung pada penggunaan kanabis. Biasanya, sindrom amotivasional telah dihubungkan dengan pemakaian kanabis jangka panjang dan berat dan ditandai oleh ketidakmauan seseorang melakukan suatu tugas di sekolah, pada pekerjaan, atau tiap situasi yang memerlukan pemusatan perhatian yang lama. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Pemeriksaan urin untuk kanabis dan zat lainnya telah umum pada beberapa keadaan seperti program pengobatan dan tempat penempatan tenaga kerja. Kebanyakan laboratorium
8

menggunakan Enzym-Multiplied Immunoassay Technique (EMIT), meskipun Radio Immunoassay (RIA) adalah yang paling sering digunakan. Kedua tes diatas relatif sensitif dan tidak mahal. Membantu sebagai penyaringan (screening) awal karena jauh dari sempurna. Perbandingan terbaru menunjukkan ketidaksesuaian pada positif palsu dan negatif palsu meskipun penyaringan dan kondisi laboratorium dalam penerapan yang terbaik. Untuk mengkonfirmasi tes, digunakan Chromatography-Mas Spectroscopy (GC-MS). Kanabis dan metabolitnya dapat dideteksi di urin pada nilai cut off 100 ng/ml pada 42-72 jam setelah efek psikologis menurun. Karena metabolit kanabinoid adalah larut lemak, menetap di cairan tubuh dalam periode yang agak lama dan diekskresikan secara perlahan. Uji saring untuk kanabinoid pada individu yang menggunakan kanabis secara ringan dapat memberikan hasil positif untuk 7-10 hari dan pada pengguna kanabis berat dapat memberikan nilai positif 2-4 minggu. DIAGNOSIS Diagnosis gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan kanabis dapat ditegakkan berdasarkan PPDGJ-III (pedoman Penggologan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia, Edisi III) dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition). DIAGNOSIS BANDING 1. Gangguan mental primer 2. Gangguan distimik

PENATALAKSANAAN DAN REHABILITASI Pengobatan pemakaian kanabis terletak pada prinsip yang sama dengan pengobatan penyalahgunaan substansi lain abstinensia dan dukungan. Abstinensia dapat dicapai melalui intervensi langsung, seperti perawatan di rumah sakit, atau melalui monitoring ketat atas dasar rawat jalan dengan menggunakan skrining obat dalam urin, yang dapat mendeteksi kanabis selama tiga hari sampai empat minggu setelah pemakaian. Dukungan dapat dicapai dengan menggunakan psikoterapi individual, keluarga, dan kelompok. Pendidikan harus merupakan inti untuk program abstinensia dan dukungan, karena pasien yang tidak mengerti alasan intelektual untuk mengatasi masalah penyalahgunaan substansi menunjukkan sedikit motivasi
9

untuk berhenti. Untuk beberapa pasien suatu obat antiansietas mungkin berguna untuk menghilangkan gejala putus zat jangka pendek. Untuk pasien lain penggunaan kanabis mungkin berhubungan dengan gangguan depresi dasar yang mungkin berespons dengan terapi antidepresan spesifik. PROGNOSIS Ketergantungan kanabis terjadi perlahan, yang mana mereka akan mengembangkan pola peningkatan dosis dan frekuensi penggunaan. Efek yang menyenangkan dari kanabis sering berkurang pada penggunaan berat secara teratur. Sejarah gangguan tingkah laku pada masa anak, remaja, dan gangguan kepribadian antisosial adalah faktor resiko untuk berkembangnya gangguan terkait zat, termasuk gangguan terkait kanabis. Sedikit data yang tersedia pada perjalanan efek jangka panjang dari ketergantungan dan penyalahgunaan kanabis.

10

BAB III KESIMPULAN Kanabis adalah nama singkat untuk tanaman rami Cannabis sativa. Semua bagian dari tanaman mengandung kanabinoid psikoaktif, dimana D9-tetrahydrocannabinol ( D9-THC) adalah yang paling banyak. Nama yang umum untuk kanabis adalah mariyuana, grass, pot, weed, tea, dan Mary Jane. Prevalensi seumur hidup dari penyalahgunaan zat sekitar 20%. Reseptor kanabinoid ditemukan dalam konsentrasi yang tertinggi di ganglia basalis, hipokampus, dan serebelum, dengan konsentrasi yang lebih rendah di korteks serebral. Reseptor tidak ditemukan di batang otak, suatu kenyataan yang konsisten dengan efek kanabis yang minimal pada fungsi pernafasan dan jantung. Efek fisik yang paling sering dari kanabis adalah dilatasi pembuluh darah konjungtiva (mata merah) dan takikardi ringan. Pada dosis tinggi, hipotensi ortostatik dapat terjadi.peningkatan nafsu makan dan mulut kering. Intoksikasi kanabis dosis tinggi, pemakai mungkin juga merasakan depersonalisasi dan derealisasi. Keterampilan motorik terganggu oleh pemakaian kanabis, dan gangguan pada keterampilan motorik tetap ada setelah efek euforia dan subjektif telah menghilang. Delirium yang berhubungan dengan intoksikasi kanabis ditandai oleh gangguan kognitif dan tugas kinerja yang jelas. Bahkan dosis kecil kanabis menyebabkan gangguan daya ingat, waktu reaksi, persepsi, koordinasi motorik, dan pemusatan perhatian. Gangguan psikotik akibat kanabis jarang terjadi, tetapi ide paranoid sementara adalah lebih sering. Jika gangguan psikotik akibat kanabis memang terjadi, keadaan ini mungkin berhubungan dengan gangguan kepribadian yang telah ada sebelumnya pada orang yang terkena. Gangguan Kecemasan Akibat Kanabis adalah suatu diagnosis umum untuk intoksikasi kanabis akut, dimana banyak orang mengalami keadaan kecemasan singkat yang sering kali dicetuskan oleh pikiran paranoid. Kategori gangguan berhubungan kanabis yang tidak ditentukan ini adalah untuk gangguan yang berhubungan dengan pemakaian kanabis yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai ketergantungan kanabis, penyalahgunaan kanabis, intoksikasi kanabis, delirium intoksikasi kanabis, gangguan psikotik akibat kanabis, atau gangguan kecemasan akibat kanabis. Kanabis dan metabolitnya dapat dideteksi di urin pada nilai cut off 100 ng/ml pada 42-72 jam. Uji saring untuk kanabinoid pada pengguna kanabis ringan dapat memberikan hasil positif untuk 710 hari dan pada pengguna kanabis berat dapat memberikan nilai positif 2-4 minggu. Perawatan di rumah sakit, atau melalui monitoring ketat atas dasar rawat jalan dengan menggunakan skrining obat dalam urin. Dukungan dapat dicapai dengan menggunakan psikoterapi individual, keluarga, dan kelompok.
11

BAB IV DAFTAR PUSTAKA


12

1. Kaplan H I and Saddock BJ, Sinopsis Psikiatri: ed saddock BJ. Vol. 1. 6th Edition. USA. William and Wilkins, 2010: 640-646 2. Kaplan H I and Saddock BJ, Comprehensive Textbook of Psychiatry: ed saddock BJ. Vol.1. 6th Edition. USA. William and Wilkins, 1995: 810-816. 3. Kusumawardani, dkk. Buku Ajar Psikiatri : ed Elvira, Hadisukanto. FKUI, 2010. 142-143. 4. Camellia V, Gangguan Sehubungan Kanabis. Tersedia di http://http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3396/1/10E00568.pdf. diunduh pada 7 Maret 2012 5. Cannabis Related Disorder. Tersedia di http://www.minddisorders.com/Br-Del/Cannabisand-related-disorders.html. diunduh pada 7 Maret 2012. 6. Cannabis and Mental Health. Tersedia di http://www.rcpsych.ac.uk/mentalhealthinfo/problems/alcoholanddrugs/cannabis.aspx. diunduh pada 7 Maret 2012 7.

13