DETERMINAN DARI KREDIT RENTENIR UNTUK PEDAGANG MIKRO

( Studi Kasus Pada Pedagang Mikro di Pasar Tradisional Gunungkidul, Yogyakarta )

SKRIPSI

Oleh : Nama Nomor Mahasiswa Program Studi : Moh. Ridwan : 01313091 : Ekonomi Pembangunan

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FAKULTAS EKONOMI YOGYAKARTA 2006

DETERMINAN DARI KREDIT RENTENIR UNTUK PEDAGANG MIKRO
( Studi Kasus Pada Pedagang Mikro di Pasar Tradisional Gunungkidul, Yogy akarta )

SKRIPSI
disusun dan diajukan untuk m em enuhi syarat ujian akhir guna m em peroleh gelar Sarjana jenjang strata 1 Program Studi Ekonom i Pemb angunan, Pada Fakultas Ekonom i Universitas Islam Indonesia

Oleh : Nam a Nomo Mahasiswa r Program Studi : Moh. Ridwan : 01313091 : Ekonom i Pemb angunan

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA FAKULTAS EKONOMI YOGYAKARTA 2006

i

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Saya yang bertandatangan dibawah ini

m enyatakan bahwa skripsi ini telah erupakan an penyusunan

ditulis dengan sungguh-sungguh dan tidak ada bagian yang m penjiplakan karya orang lain seperti dim aksud dalam skripsi Program Studi Ekonom i Pemb angunan terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar m buku pedom

FE UII. Apabila di kem udian hari aka Saya sanggup m enerima

hukum an/sanksi apapun sesuai peraturan yang berlaku.

Yogyakarta, 19 Januari 2006 Penulis,

Moh. Ridwan

ii

Ridwan 01313091 Ekonom i Pemb angunan Yogyakarta. 19 Januari 2006 telah disetujui dan disahkan oleh Dosen Pemb imbing.D) iii . Yogy akarta ) Nam a Nomo Mahasiswa r Program Studi : : : Moh. Munrokhim Misanam . (Drs.Ph. MA.Ec.HALAMAN PENGESAHAN DETERMINAN DARI KREDIT RENTENIR UNTUK PEDAGANG MIKRO ( Studi Kasus Pada Pedagang Mikro di Pasar Tradisional Gunungkidul.

.

1986) “. itu taqwa. itu jihad. Membahasnya.. Katakanlah : “Samakah orang-orang yang berpengetahuan dengan orang-orang yang tidak berpengatahuan ? Sesungguhnya yang mendapat pelajaran hanyalah Orang-orang yang mempunyai pikiran”. Ilya Al-Ghozali. (Abusy Syaikh Ibnu Hibban dan Ibnu Abdil Barr. Barangsiapa mempelajarinya karena Allah.. itu mendekatkan diri kepada Tuhan”. (HR. Mengulang-ulangnya. Mengajarkannya kepada orang yang tidak tahu. sesungguhnya menuntut ilmu itu Wajib atas tiap-tiap orang muslim”. itu sedekah.. Memberikannya kepada ahlinya.HALAMAN MOTTO “Maka. Baihaqi) “Pelajarilah ilmu.. (Q. itu tasbih.S. 39 : 9) v . Menuntutnya.. itu ibadah.

Ilyas. Nurunk. Ece. Imank. terima kasih atas perhatian dan pengertiannya sehingga terselesainya skripsi ini.HALAMAN PERSEMBAHAN Skripsi ini penulis persembahkan kepada : Ayahanda dan Ibunda tercinta. Kamil. Fany. thanks for everything you give to me. vi . Norma. Uma. Sudding. Tatti. Desy. Ilham. Saudara-saudaraku tercinta Aco. Moly tersayang. Nurunk dan Undink. Semua kerabat dan teman dekat.

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini. Pasar Tengeran Desa Gedangrejo Kecam Karangm ojo yang m ewakili daerah sub urban. pegunungan dan pantai selatan. hasil yang diperoleh enunjukan bahwa m bantuan program secara individu m aupun secara bersam a-sam a terdapat pengaruh yang signifikan antara pinjam an pedagang yang m erupakan variabel dependen dengan tingkat vii . bahwa secara individu m aupun secara bersam a-sam a terdapat pengaruh yang signifikan antara pinjam an pedagang m i o terhadap tingkat keuntunga kr bulan dan tingkat bunga pinjam n pedagang (dalam persentase) per an (dalam persentase) per bulan. elalui wawancara an kepada rentenir Pengam b ilan sam pel dalam penelitian ini dilakukan m secara langsung kepada 143 pedagang yang m elakukan pinjam dari empat pasar tersebut. Pasar Argosari sa Wonosari Kecamatan W onosari yang De m ewakili sub daerah perkotaan.ABSTRAKSI Penelitian ini ditujukan untuk m enganalisis Determinan Dari Kredit Rentenir Untuk Pedagang Mikro di Pa sar Tradisional Gunungkidul yang terdiri dari empat pasar. Pasar Karangijo Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong Kecam atan Ponjong yang m ewakili sub daerah atan pedesaan. Semu a data m entah yang telah diperoleh peneliti dihitung dalam program Excel untuk m bunga dalam em peroleh tingkat keuntungan dan tingkat persentase per bulan dan ke m udian data tersebut diolah dengan Shazam versi 8. dan Pasar Legundi Desa Girimu lyo Kecam atan Panggang yang m ewakili sub daerah pedesaan.0.

.keuntungan (dalam persentase) per bulan dan tingkat bunga pinjam an (dalam persentase) per bulan. Kata Kunci : Determ inan Dari Kred Rentenir Untuk Pedagang Mikro di it Pasar Tradisional Gunungkidul. Yogyakarta.

Selaku Dosen Pem b imbing Skripsi penulis.Ph. 9. Instansi-Instansi Pem erintahan Kabupaten Gunungkidul : Bapak Bupati. dorongan serta rasa pengertian kepada penulis. W onosari. Kakan Dinas Pasar Panggang. Segenap Dosen Pengasuh dan Staf Tata Usaha pada Fakultas Ekonom i Universitas Islam Indonesia yang m endidik dan m em b imbing serta m em b antu penulis selam a m engikuti studi sam pai pada m asa berakhirnya penulisan skripsi ini. yang telah m em b erikan do‘a. Bapak Drs. Pedagang Mikro di Pasar Tr adisional Gunungkidul yang telah m eluangkan waktu dan bersedia m kepada penulis. 6. Lurah Desa Girim u lyo Kec. Panggang dan Kepala BPS Gunungkidul yang telah bersedia m em b erikan izin penelitian. Kakan Dinas Pasar W onosari. Cam at Karangm ojo. data m aupun inform asi lainnya selama penulis m engadakan penelitian. Cam at Wonosari. Kepala BAPPEDA. Kakan Dinas Pasar Karangmojo. Cam at Panggang. MA. Kakan Dinas Pasar Ponjong. 7. Lurah Desa Wonosari Kec. Kakan Kesbanglinm as. 8.5. Camat Ponjong. Lurah Desa Ponjong Kec.Ec.D. Karangmojo. Rekan-rekan Mahasiswa khususnya Angkatan 2001. yang te lah banyak m eluangkan waktu untuk m em b erikan bim b ingan dan arahan se rta saran-saran hingga selesainya penulisan skripsi ini. Munrokhim Misanam . em b erikan data serta inform lainnya asi x . Lurah Desa Gedangrejo Kec. Ponjong. Kakan Pengelolaan Pasar.

Lurah Desa Ponjong Kec. Munrokhim Misanam . Cam at Karangm ojo. W onosari. Kepala BAPPEDA. Lurah Desa Gedangrejo Kec. Cam at Wonosari. Segenap Dosen Pengasuh dan Staf Tata Usaha pada Fakultas Ekonom i Universitas Islam Indonesia yang m endidik dan m em b imbing serta m em b antu penulis selam a m engikuti studi sam pai pada m asa berakhirnya penulisan skripsi ini. Rekan-rekan Mahasiswa khususnya Angkatan 2001. Kakan Dinas Pasar Panggang.Ph. 9. yang telah m em b erikan do‘a. 6. MA. Kakan Dinas Pasar Karangmojo. Panggang dan Kepala BPS Gunungkidul yang telah bersedia m em b erikan izin penelitian. Camat Ponjong. Ponjong.D. Lurah Desa Wonosari Kec. Kakan Dinas Pasar W onosari. 8. em b erikan data serta inform lainnya asi x . Karangmojo.5. data m aupun inform asi lainnya selama penulis m engadakan penelitian. Kakan Dinas Pasar Ponjong. 7. Pedagang Mikro di Pasar Tr adisional Gunungkidul yang telah m eluangkan waktu dan bersedia m kepada penulis. Instansi-Instansi Pem erintahan Kabupaten Gunungkidul : Bapak Bupati. dorongan serta rasa pengertian kepada penulis.Ec. Selaku Dosen Pem b imbing Skripsi penulis. Kakan Kesbanglinm as. Kakan Pengelolaan Pasar. Bapak Drs. Cam at Panggang. yang te lah banyak m eluangkan waktu untuk m em b erikan bim b ingan dan arahan se rta saran-saran hingga selesainya penulisan skripsi ini. Lurah Desa Girim u lyo Kec.

Pa‘ Ukan Sekeluarga. Keluarga Besar La Luna Band. Dewinta. serta rekan-rekan di seni pernafasan Tuntunan Mulia. 12. Condro. Arawiyah serta saudarasaudara tercinta yang telah banyak m bersifat mo maupun m ateril. serta dukungannya selam a 13. Ayi. Nontji dan I bunda Hj. Mas . Kak Listi. Luthfi. Erwin. Pa‘ Djoko W i diatmo Sekeluarga. i . Agus.P. dan Sobat-sobat KKN 28 BT-90. Tuti. Tessa. Zadi. Om bobo. Alan. Panji. Wi s. Ifan. Dini. Lia. Asep. Ayu. Bi‘ Tua. Arif. W awan. Ova. Rekan-rekan di P. Bayu. Azwar. Tina. Asep.10. terim kasih atas perhatian. Burhan dan Nita Sekeluarga. Eka. Mas Ryan. xi . terim kasih atas bantuan. Kiki Vetran. Doddi.S Betako Merpati Putih Yogyakarta dan di UKM Pencaksilat Merpati Putih Lem b aga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonom i Universitas Islam Indonesia. doronga sem angatnya hingga terselesainya a n skripsi ini. a ini. Bunga. Angga. Eko. Rizal. Kak Mam at dan em b erikan bantuan baik yang Kak Ece Sekeluarga. Dadang. Sobat-sobatku : Kiki. Dewi. Yang teristimewa penulis ucapkan ra sa terim kasih dan sem b ah sujud a kepada Ayahanda H. Ahm ad. Lili. C ubil. Mam i Tina. Richard. Mas Lutfi. Bi‘ Lisa. Heru. Ika. Isra. Yudi. Cere. ka Tika. Andrew. Ali. Bety. Daya. Upik. Tria. Panjul. waktu. ril 11. Bi‘ A gus. Si om Mas Fery. Kak Diki dan Kak Indra di Medan. Rani. Om Hasan La m adupa Sekeluarga. Alunk. Ria. Papi Usman. Cagar. terim a kasih untuk sem u anya. Putri. Yuni. Mim Aulia. Yanto.

Sem u a pihak yang tidak dapat disebut m em b antu dan m em b erikan kan satu persatu yang telah banyak sehingga penulis dapat dorongan m enyelesaikan skripsi ini. Yogyakarta. Sem oga pahala kita sekalian m endapat curahan rahm at dan im balan dari Allah SWT. Am in. 19 Januari 2006 Penulis .14.

1.1. METODOLOGI PENELITIAN 4. 2. Penelitian Aditya Am tirata . Teori Tingkat Suku Bunga . Penelitian Tim Bank Danam Penelitian Susan Am biko .. Hipotesis ... ba Penelitian Ratna Ayu Wi dya Lestari .4. 2.. Penelitian Endah Rahayu . on . 43 45 47 3.. 2. 32 34 37 37 asa depan . 22 23 24 26 27 28 22 BAB III. BAB II.. 20 KAJIAN PUSTAKA 2.7..2.. 48 49 xiv .7.3.1.2.2.1.6.3. BAB IV. 2... LANDASAN TEORI 3. 4.2. 2.2..2. Fungsi Perm intaan Investasi 3.1.. Tingkat Keuntungan .. Investasi dan Keuntungan . Ram alan m engenai keadaan m 3. Sistematika Penulisan ...1.1.3.. 3. KonsepNet Present Value (NPV) 3.. ro o Penelitian Prapto Yuwono dan Adikrist Joang Patria Dorado . 2. Metode Pengum pulan Data .5. 3.. Penelitian Asmo Budi Utom .. Sum b erData .2..

..5... 5... Pinjam an Pedagang Mikro ..1... 5. 83 89 96 96 100 103 106 109 xv .3. 5..1. 5.3. PasarTengeran ... 5.. u 5. 5..4..2.1..3. Wilayah Padukuhan Karangijo W etan Desa Ponjong . 5. PasarArgosari .1.2.1.4.3. Metode Analisis Data ...3.... 60 60 63 65 67 69 69 76 5.6.3.3.4... Pem erintahan .. Pem b agian Wilayah. DaerahPenelitian . TINJAUAN UMUM SUBJEK PENELITIAN 5....2.. 5....2. 4.. 4.. Pengujian Statistik .1. WilayahDesa Girim lyo..2. PasarKarang Ijo . Letak Geografis 5.2.4. Kependudukan .. Uji Asum si Klasik 50 51 53 56 BAB V. 5.. 5. WilayahDesa Gedangrejo 5...3.1. Pengujian Hipotesa . 5. 4. PasarLegundi .2..3...2.. Keadaan Um um Kabupaten Gunungkidul . WilayahDesa Wonosari ....4.1. Pendapatan Regional .4.

.1.1..5. 119 122 122 124 124 125 127 128 129 BAB VII. 6. Penyimpangan Asum si Klasik . Uji Multikolinearitas 6.3.4.. BAB VI. Pem b ahasan . 6. 6.5. 134 138 xvi .4..2.6. 118 ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 6..4. Responden Daerah Penelitian . Uji F-test. Uji T-test.1. Perbandingan Terhadap Penelitian Yang Sam a . 6.. 6.3. 6. Uji Heteroskedastisitas .5.. LAMPIRAN .2. Uji Autokorelasi . 6. Kesimpulan .. Im plikasi Kebijakan 131 132 DAFTAR PUSTAKA .4.2. Hasil Analisis Regresi . KESIMPULAN DAN IMPLIKASI 7... 7..

1.5.5. 5.2.DAFTAR TABEL Tabel 1..1.a...2. Jum lah Penduduk Desa W onosari m enurut Jenis Kelam i pada tahun 2005 .3. n 5...c. 65 66 67 71 71 72 73 74 xvii .4.1.2. Jum lah Penduduk Desa W onosari m enurut Tingkat Pendidikan pada tahun 2005 5. Jum lah Penduduk Desa W onosari enurut Agam a m pada tahun 2005 .b.e.1. Jum lah Penduduk Desa W onosari m enurut Usia Kelompok Tenaga Kerja pada tahun 2005 ..2.a..5.3.1.1.1.2.5. Jenis Kesulitan Usaha Mikro Kepadatan Penduduk m enurut Kecam atan Halam an 5 di Kabupaten Gunungkidul Awal Tahun 2005 5.b....5. Kependudukan Kabupaten Gunungkidul 2003 2005 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO Kabupaten Gunungkidul Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku (jutaan rupiah) Tahun 2001 2003 .1. Jum lah Penduduk Desa W onosari enurut Um ur m pada tahun 2005 . 5.1. 5. 5. 5..d.

c.2.2.e.2.c. 84 etan 5.b..3.3. 79 5..5.2.2. 77 5.2.5.2.2.a.5.a. Jum lah Penduduk Desa Gedangrejo m enurut Agam a 81 5.d. Jum lah Penduduk Desa Gedangrejo m enurut Usia Kelompok Tenaga Kerja . Jum lah Penduduk Desa Gedangrejo m enurut Jenis Kelam i n Jum lah Penduduk Desa Gedangrejo m enurut Um ur Kelompok Pendidikan . 84 etan 5. Jum lah Penduduk Padukuhan Karangijo W Desa Ponjong m enurut Jenis Kelam i n pada tahun 2005 .2.5.5..2.1.5.2..b.5. Jum lah Penduduk Desa W onosari m enurut Mata Pencaharian pada tahun 2005 .. Jum lah Penduduk Padukuhan Karangijo W Desa Ponjong m enurut Mata Pencaharian pada tahun 2005 . Jum lah Penduduk Desa Gedangrejo m enurut Mata Pencaharian .2. 85 xviii .f.2. Jum lah Penduduk Padukuhan Karangijo W Desa Ponjong m enurut Struktur Um ur pada tahun 2005 ..2. 75 5..3.. 82 etan 5..2.2.2.f.2.5. 78 5. Jum lah Penduduk Desa Gedangrejo m enurut Tingkat Pendidikan Um um 80 5...2.

b.6.4.6. 5. Jum lah Penduduk Desa Girim u lyo m enurut Jenis Kelam i n 5.2. 5.2.4.3. dan persentase tingkat bunga dalam satu bulan (2005) . 5.3. Jum lah Penduduk Desa Girim u lyo m enurut Golongan Usia . 5.e.3.4..6. Jum lah Penduduk Desa Girim u lyo m enurut Mata Pencaharian . Realisasi Pendapatan Pasar Legundi Tahun 2005 Data jum lah responden..2. 5.2. 5.2.4.a.. i o.2.c.3..2.d.3.2.2..6. Jum lah Penduduk Desa Girim u lyo m enurut Tingkat Pendidikan Um 5.5. Jum lah Penduduk Padukuhan Karangijo W etan 86 Desa Ponjong m enurut Agam a pada tahun 2005 . Realisasi Pendapatan Pasar Tengeran Tahun 2005 ..d. kr 109 xix . 5.6. um 87 91 92 93 Jum lah Penduduk Desa Girim u lyo m enurut Agam a 94 5. 95 97 101 104 107 5.3.3.4. Realisasi Pendapatan Pasar Argosari Tahun 2005 ..4..4. Jum lah Penduduk Padukuhan Karangijo W etan Desa Ponjong m enurut Pendidikan pada tahun 2005 . Realisasi Pendapatan Pasar Karangijo Tahun 2005 . pinjam an pedagang m persentase tingkat keuntungan.1.e.2.

Responden penelitian berdasarkan Tingkat Pendidikan di empat pasar tradisional di Kabupaten Gunungkidul tahun 2005 118 119 125 126 6.1.2. 6.4. Responden penelitian berdasarkan Jenis Kelam i n di empat pasar tradisional di Kabupaten Gunungkidul tahun 2005 118 5.5.5.1.1.2. a Hasil uji Multikolinieritas Tabel Uji Heterokedastisitas xx .5. 6.4. Hasil Estimsi Regresi .

5. 5. 5... 5.DAFTAR GAMBAR Gam b ar 5.3. 5. Halam an 99 100 101 104 107 110 xxi .4.3.3.3.1.a.3.1.b.2.c.. Denah Pasar Karangijo Denah Pasar Legundi .3.1. Denah Lantai 1 Pasar Argosari Denah Lantai 2 Pasar Argosari Denah Pasar Tengeran .3. Denah Pasar Argosari .

5..3.2..1... Teori Klasik Tentang Tingkat Bunga .. 3. 3.3. Fungsi Perm intaan Uang .2.5.. Uji Durbin W atson .2.. 6. dan Usaha Besar ..3.6. 4. 3. 3. 6.. 4..2. 4.2. Grafik pengujian secara parsial tingkat keuntungan . 6.1. Halam an 3 33 36 41 44 54 54 55 Pengaruh Perubahan Ram Grafik daerah kritis Uji t satu sisi positif Grafik daerah kritis Uji t satu sisi negatif . alan Mengenai Masa Datang .. Keuntungan Maksim um .5.1. 4...a. Grafik daerah kritis Uji F Statistik d Durbin-W atson .1. Grafik pengujian secara parsial tingkat bunga .3.DAFTAR GRAFIK Grafik 1..b. 59 123 124 127 xxii ...1. Usaha Kecil dan Menengah. Perbandingan Antara Usaha Mikro..1.1...1.4..

kelangkaan bahan baku dan komponen. maupun tingginya suku bunga kredit perbankan. berbagai ketidakpastian (uncertainly) masih saja membayang-bayangi (Muhamad. Walaupun proses kesembuhan dari penyakit-penyakit itu kini sedang berlangsung. Kondisi saat ini mengingatkan kita pada tulisan Helmut Schmidt (Mantan Kanselir Republik Federal Jerman). bebas dari keterbelakangan dengan cara memperluas . Dalam menyusun kerangka pembangunan ekonomi Indonesia baru yang akan dipergunakan sebagai pedoman dalam membangun ekonomi Indonesia dari keterpurukan. 2001 : 121). bahwa “Ekonomi dunia tengah memasuki suatu fase yang sangat tidak stabil dan masa mendatang sama sekali tidak menentu”. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) merekomendasikan tujuan pembangunan Indonesia di masa mendatang antara lain adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui pemupukan permodalan yang didukung prinsip kehidupan seperti pengentasan kemiskinan dengan cara mencari standar minimum kebutuhan pokok. tingginya inflasi. Sehingga upaya penyembuhannya selalu diupayakan. ketidakstabilan nilai tukar rupiah. Latar Belakang Masalh Mulai tahun 1997 sampai sekarang merupakan tahun badai dalam sistem moneter dan perbankan Indonesia misalnya.1.1 BAB I PENDAHULUAN 1.

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan 1997. 2003 : 4).71 juta entitas usaha ekonomi rakyat atau sering disebut Usaha Mikro. Dan perlu dicatat. antara lain menetapkan kebijakan pengentasan kemiskinan dengan cara memelihara kestabilan ekonomi dan membuka lapangan kerja melalui pengembangan sektor informal (mikro). DEN dalam menyusun kebijakan strategi ekonomi jangka menengah. Kecil dan Menengah (UMKM). 2002). sebab berjumlah 98% dari total unit usaha atau 39 juta usaha (Tambunan. Dengan dicanangkannya tahun 2005 sebagai Tahun Keuangan Mikro (Micro Finance Years). ada harapan bahwa UMKM akan lebih berkembang peranannya dalam perekonomian. Minimnya modal dan pengetahuan menjadi masalah klasik yang mendera pengusaha mikro. Kecil dan Menengah dalam menopang perekonomian Indonesia.2 kesempatan memperoleh pendidikan. . Di belahan Indonesia manapun. usaha mikro memiliki nasib yang sama. meningkatkan dan mengembangkan kapasitas sumber daya manusia. Dengan demikian bahwa pembangunan ekonomi Indonesia ke depan lebih diarahkan pada peningkatan pemberdayaan ekonomi kerakyatan (Suhardjono. bila kita menengok lebih dalam lagi. telah menunjukkan eksistensi kekuatan Usaha Mikro. termasuk Yogyakarta. dan sebagainya. usaha mikro merupakan mayoritas. Selanjutnya untuk merealisasikan tujuan tersebut. dari 39.

artinya terdapat 175 juta orang yang menggantungkan diri pada usaha mikro (asumsinya satu keluarga terdiri dari lima orang). berarti 83% penduduk Indonesia menggantungkan diri pada usaha mikro. acapkali kita terlalu terpesona pada investasi asing yang diyakini menjadi faktor signifikan pertumbuhan ekonomi. merupakan fakta semangat jiwa kewirausahaan sejati di kalangan rakyat kebanyakan yang bisa menjadi perintis pembaharuan. Sayang.1.3 GRAFIK 1. Perbandingan Antara Usaha Mikro. Keberadaan usaha mikro. Jumlah ini tentunya sangat besar. bila melihat jumlah penduduk 210 juta orang. bila itu berarti merupakan 35 juta keluarga (bila 5 juta usaha mikro. dan Usaha Besar. sehingga . overlapping terdapat dalam satu keluarga). Sumber : Tambunan 2002 Dari 39 juta usaha mikro. Usaha Kecil dan Menengah.

menyumbang 56. Tanpa modal yang cukup mustahil UMKM dapat berdiri. yaitu keterbatasan modal. Survei menunjukkan bahwa sektor UMKM dalam perekonomian Indonesia mampu menyerap 79 juta tenaga kerja atau 99.9 persen dari nilai ekspor dan memiliki unit usaha yang besar sekitar 42.7 persen Produk Domestik Bruto (PDB). 2003). menyumbang 19.4 sektor ekonomi rakyat (usaha mikro) terabaikan. bahkan menyumbang output nasional pada tahun 2003. tidak dapat dipungkiri UMKM pun memiliki beberapa permasalahan.4 persen dari total angkatan kerja. Maka UMKM pun mampu menjadi katup pengaman dampak krisis terhadap perekonomian nasional. Masalah yang klasik dan mendasar. Menyadari realitas ini. . mengurangi pengangguran. sumber daya manusia. pengembangan produk dan akses pasar. memfokuskan pengembangan ekonomi rakyat terutama pada usaha mikro merupakan hal yang sangat strategis untuk mewujudkan broad based development atau development through equity (Bambang Ismawan. Keterbatasan modal merupakan masalah krusial yang dialami oleh UMKM.3 juta unit usaha (sumber : Bank Indonesia. 2004). Namun di balik kesuksesan yang didapat oleh UMKM. Banyak kalangan tidak memperhitungkan keberadaan sektor Usaha Mikro. Kecil dan Menengah (UMKM) yang ternyata mampu menyerap banyak tenaga kerja.

5

TABEL 1.1. Jenis Kesulitan Usaha Mikro Jenis Kesulitan • • • • Kesulitan Modal Pengadaan bahan baku Pemasaran Kesulitan lainnya IKR 34.55 % 20.14 % 31.70 % 13.6 % IK 44.05 % 12.22 % 34.00 % 9.73 %

Sumber : Data BPS terolah (1999) IKR : Industri Kecil Rumah Tangga IK : Industri Kecil

Lembaga pemberi kredit jelas diperlukan oleh kalangan pengusaha UMKM. Mereka disodorkan beberapa macam pilihan untuk mendapatkan kredit. Mulai dari bank, lembaga nonbank, bahkan sampai rentenir sekalipun. Serentetan persyaratan administrasi yang diberlakukan lembaga tersebut meruntuhkan niat sebagian golongan mereka, terutama kalangan usaha mikro. Karena usaha kecil dan menengah telah memiliki kelayakan usaha yang pasti dibanding usaha mikro. Setelah analisis kredit yang dilakukan oleh lembaga keuangan saat menerima permohonan kredit dari pengusaha UMKM mengenai kelayakan usaha, untuk usaha kecil dan menengah lebih mudah mengantongi dana segar dari lembaga keuangan. Lain lagi dengan usaha mikro dalam arti yang sebenarnya. Mereka lebih memilih jalan tercepat untuk mendapat dana modal, dengan merogoh kantong sendiri, pinjam keluarga atau rentenir. Mereka sejak awal sudah ketakutan untuk memasuki ruangan berhawa sejuk di bank

6

yang sekiranya perlu pakaian yang sopan juga. Presiden Susilo Bambang Yudoyono menghimbau agar kalangan perbankan lebih mensosialisasikan dan mempermudah proses administrasi pengajuan kredit UMKM serta menurunkan suku bunga kredit terhadap UMKM. Ini dalam rangka mengejar pertumbuhan ekonomi sebesar 6,6 persen (28/02/2005, Bisnis Indonesia) yang diharapkan mengurangi angka kemiskinan. Karena monster bernama kemiskinan sangat dekat jaraknya dengan usaha mikro. Tak salah jika golongan paling bawah inilah yang diharapkan mendapat bagian yang terbesar. Itupun sekedar ikut mensukseskan tujuan awal pemerintah. Di Yogyakarta, yang sarat dengan usaha mikro, memiliki berbagai macam jenis pelayanan kredit. Pada dataran UMKM, perbankan menempati posisi pertama dalam pilihan masyarakat akan kredit. Perbankan sanggup memberikan pinjaman sampai 50 juta. Itupun kalangan usaha kecil dan menengah yang berhasil menembusnya. Tetapi lain lagi jika dilihat dari kacamata khusus usaha mikro. Apakah mereka benar-benar dapat memanfaatkan kredit perbankan, itu yang menjadi persoalan. Lembaga keuangan bank memiliki kriteria-kriteria dalam

memberikan kredit pada UMKM. Secara umum persyaratan yang harus dipenuhi oleh peminjam kredit adalah character, dalam prinsip ini bank memperhatikan dan meneliti tentang kebiasaan-kebiasaan, sifat-sifat pribadi calon debiturnya, yaitu Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Ini

7

akan dijadikan ukuran tentang kemauan untuk membayar. Selanjutnya capacity, penilaian terhadap capacity UMKM dilakukan untuk

mengetahui sejauh mana kemampuan UMKM mengembalikan pokok pinjaman serta bunga pinjamannya. Lalu capital, penilaian permodalan UMKM tidak hanya melihat besar kecilnya modal tersebut tetapi juga bagaimana distribusi modal itu ditempatkan oleh UMKM. Semuanya dapat dilihat dari posisi neraca calon debitur. Lalu collateral, penilaian terhadap barang jaminan (collateral) yang diserahkan UMKM sebagai jaminan atas kredit bank yang diperolehnya adalah untuk mengetahui sejauh mana nilai barang jaminan atau agunan dapat menutupi resiko kegagalan pengembalian kewajiban-kewajiban debitur. Terakhir

condition, pada kriteria ini, dinilai kondisi ekonomi secara umum serta kondisi pada sektor usaha calon debitur. Maksudnya agar bank dapat memperkecil resiko yang mungkin timbul oleh kondisi ekonomi, keadaan perdagangan dan persaingan dilingkungan sektor usaha calon debitur dapat diketahui, sehingga bantuan yang akan diberikan benar-benar bermanfaat bagi perkembangan usahanya. Semuanya merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh UMKM untuk memperoleh pinjaman modal dari bank. Namun, banyak juga UMKM khususnya usaha mikro yang tidak paham tentang persyaratan bank tersebut. Ini disebabkan oleh kurangnya sosialisasi yang dilakukan bank. Tidak dapat dipungkiri, bank menganggap usaha mikro kurang

makan waktu yang lama dan lokasi bank terlalu jauh dari tempat usaha. Pandangan di atas menyebabkan usaha mikro kurang tertarik pada kredit bank. Pemilik usaha mikro pun menganggap proses administrasi bank terlalu rumit. Serentetan ketakutan lain mengikuti pengusaha mikro seperti takut tidak sanggup mengembalikan pokok pinjaman beserta bunganya.8 memberikan keuntungan dibandingkan dengan memberikan kredit kepada usaha-usaha yang dapat memberikan keuntungan yang banyak dan lebih terhindar dari kredit macet. berhubungan dengan sumber pembiayaan informal seringkali membuat terlena dan menjadi pilihan yang menarik . Sulitnya persyaratan yang diajukan lembaga bank bagi calon debitur. menyurutkan semangat masyarakat yang berniat menjalankan usaha mikro. Mereka tidak mempunyai waktu cukup untuk mengajukan proposal kredit kepada bank karena harus menjaga usahanya. bank kurang mensosialisasikan tentang pemberian kredit kepada usaha mikro.XXIX/2005 Hal. Hal inilah yang menyebabkan banyak usaha mikro memilih lembaga-lembaga lainnya yang memberikan kredit. Edisi 01/Thn. Bagi Usaha Mikro. sampai takut barang jaminan atau agunan akan disita oleh pihak bank. Karena kekhawatiran itu usaha mikro beranggapan kredit bank bukan untuk mereka. yang lebih mampu membayar pokok pinjaman beserta bunganya. melainkan untuk usaha-usaha yang lebih besar. Oleh karena itu. Ada alternatif lain yang tersedia seperti rentenir (Ekonomika.07-12).

9 karena faktor kemudahan mendapatkan dana secara cepat tanpa birokrasi dengan asas saling percaya meski berbunga. sementara bank-bank resmi lebih bersifat “rasional” di mata para nasabah di . sementara kredit yang ditawarkan oleh rentenir lebih populer dan mudah diakses oleh siapapun dan dari lapisan mana pun. Bagi pemodal. kredit ini tidak selalu mencapai target grupnya. Dari kacamata bisnis. harga modal yang tinggi barangkali tidak ada yang salah bila mereka rentenir itu memegang monopoli. sebab kredit yang ditawarkan oleh pemerintah dengan tingkat bunga rendah tidak mampu mengeliminasi kredit dengan bunga tinggi seperti yang disediakan oleh para rentenir. situasi ini sebenarnya menjadi peluang empuk untuk menumpuk keuntungan. Pertama. Rentenir lebih fleksibel dalam menjalankan prakteknya bahkan mengembangkan hubungan personal dengan para nasabah. lembaga-lembaga finansial informal lebih atraktif dalam berpraktek mencari nasabah dari pada lembaga-lembaga formal. Ada dua argumen utama yang mendasari terjadinya realitas itu. Koperasi Unit Desa (KUD). Namun demikian. Pada kenyataannya hal ini merupakan suatu paradoks. Pemerintah Indonesia telah menyelenggarakan kredit dengan bunga rendah untuk pedagang mikro melalui agen-agennya seperti. Bank Pembangunan Daerah (BPD). karena rigiditas prosedur administrasinya sulit diakses oleh pedagang mikro. Bank Rakyat Indonesia (BRI).

aktivitas mereka justru semakin meningkat sejalan dengan pembangunan ekonomi di berbagai wilayah pedesaan.10 pedesaan. Pasar adalah mekanisme sosial dalam mana sumber-sumber daya ekonomi dialokasikan dan pasar dengan demikian merupakan konstruksi sosial. Pasar dilembagakan oleh pertukaran dan . Sistem kepercayaan seperti itu merupakan bagian dari budaya transaksi uang dalam masyarakat pedesaan. rentenir dapat mengatasi “problem kepercayaan” yang dihadapi oleh warga masyarakat yang tidak familier dengan prosedur sistem legal. pasar tidak hanya menunjuk pada suatu tempat dimana penjual dan pembeli bertemu. adanya upaya rentenir untuk memahami kondisi ekonomi nasabah sehingga tidak jarang memberikan kesempatan menunda pembayaran kredit. bahkan tidak ada indikasi apapun bahwa aktivitas mereka surut. Dalam pandangan klasik. Walaupun berbagai upaya telah dibuat untuk membatasi ruang gerak praktek-praktek rentenir dalam rangka menghindarkan lapisan miskin jatuh pada “penghambaan bunga”. tetapi juga menunjuk pada terjadinya kesepakatan harga dalam rangka pertukaran barang atau pelayanan. Sumber-sumber daya yang ada di pasar dapat meliputi barang-barang dan jasa-jasa. Fleksibilitas merupakan hal penting dalam menjaga hubungan rentenir-nasabah misalnya. Kedua. Atas dasar itu transaksi kredit dilakukan oleh kedua belah pihak atas dasar kepercayaan. rentenir masih tetap saja beroperasi di desa-desa khususnya di pasar. Ironisnya.

sehingga tidak ada pasar tanpa perdagangan dan tidak ada perdagangan tanpa pasar. Aktivitas mereka dapat memperkuat ekspansi pasar atau sebaliknya ekspansi pasar dapat menggairahkan perdagangan. pasar merupakan institusi sosial yang diatur dengan norma-norma dan sangsi-sangsi dan dibentuk melalui interaksi sosial. yaitu dari cara produksi subsisten ke orientasi pasar. sementara di bawah kondisi yang berbeda . Menurut Evers. ekspansi pasar berkaitan dengan proses sekularisasi dalam mana pedagang-pedagang dan rentenirrentenir memegang peran penting. terjadi saling pengaruh mempengaruhi antara kedua belah pihak tersebut. Dari kacamata sosiologi. telah menggairahkan tingkat perdagangan baik tingkat nasional maupun regional. Ekspansi pasar dapat merupakan akibat dari kebijakan pemerintah yang berdampak pada percepatan perdagangan dan aktivitas rentenir. Kecenderungan umum yang terjadi di tingkat regional adalah terjadinya perubahan cara produksi secara besar-besaran. Namun menurut teori lain hubungan itu dapat berbeda. Ciri utama dari ekonomi pasar adalah penggunaan uang sebagai sarana transaksi dan orientasi tindakan ke arah profit dari para pelaku ekonomi.11 perdagangan. Oleh karena itu. Ekspansi pasar yang terjadi saat ini di kawasan Asia Tenggara pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Implikasinya adalah ekspansi pasar sangat dimungkinkan merangsang aktivitas rentenir. Pedagang dan rentenir memiliki posisi penting dalam interaksi pasar tersebut.

b. e. Pasar Ngenep. Ngawu. Gedangrejo. Gedangrejo. Playen. f. Berdasarkan sumber dari Kantor Pengelolaan Pasar Kabupaten Gunungkidul. . Pasar Karangtengah. Semanu. Pasar Umum Munggi. Kemantren Pasar Playen. Bejiharjo. Dadappayu. Pasar Argosari. Karangmojo. Semanu. Pasar Kepek. Pasar Tengeran. 39 Pasar tradisional tersebut terbagi atas 9 Kemantren Pasar yaitu : 1. Playen. b. Playen a. d. Karangmojo. c.12 praktek-praktek rentenir dapat memperkuat ekspansi pasar (Heru Nugroho. c. Karangmojo. b. Wiladeg. Semanu. g. Logandeng. Pasar Umum Playen. 3. Pasar Wonotoro. Ngawu. 2. Kemantren Wonosari a. jumlah seluruh pasar tradisional di wilayah Kabupaten Gunungkidul sampai dengan tahun 2005 yang dikelola oleh Pemerintah Daerah sebanyak 39 Pasar. Pasar Hewan Siyonoharjo. Pasar Wage. Playen. c. Pasar Hewan Munggi. Karangmojo. Pasar Wiladeg. Kemantren Pasar Semanu – Karangmojo a. Pasar Hewan Playen. 2001 : 14-17 : 30-32).

Pasar Sambeng. Pasar Hewan Trowono. Pasar Baran. f. Pasar Umum Karangijo. Rongkop. Giripurwo. Pasar Ngrancah. e. Kemantren Pasar Paliyan. Pasar Kasihan. Tambakromo. Balong. Paliyan. Purwosari. Pasar Hewan Pekel. Pasar Bedoyo. d. c. 7. Ponjong. Girisubo. Pasar Dondong. Pasar Hewan Pundungsari. b. Pasar Kampung. Pasar Umum Mlambang. e. b. Pasar Umum Jepitu. 5. Pasar Jimbaran. c. Panggang. Rongkop. Pasar Legundi. Ponjong. d.13 4. Pasar Umum Trowono. Karangasem. Girisubo. Panggang a. . Plajan. Semugih. Rongkop a. Kemantren Pasar Semin – Ngawen a. Pasar Pucung. Jetis. d. b. Sambirejo. Kemantren Pasar Ponjong a. Paliyan. c. Kemantren Pasar Rongkop. Pasar Hewan Jepitu. Saptosari. Semin. Semin. Ngawen. Pasar Klampok. Ngawen. Saptosari. Girimulyo. Semugih. 6. Karangasem. c. f. Girisubo. b. Ponjong. Girisubo.

14 8. Pasar Nglipar. Di samping Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1988 tersebut ada pula Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Gunungkidul nomor 29/188. Dan untuk pengaturan pelaksanaan kegiatan pasar di Kabupaten Gunungkidul ini tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 1988. 9. c. Pasar Mentel. Nglipar. Pasar Ngeplang.45/1988. Pasar Tepus. Gedangsari. Gedangsari. c. Nglipar. Pengelolaan pasar untuk Kabupaten Gunungkidul sepenuhnya dipegang oleh Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Gunungkidul. tempat. Pasar Ngalang. d. Tanjungsari. Pilangrejo. larangan-larangan serta ketentuan pidana bagi pelanggar peraturan tersebut. Pedagang mikro melakukan pinjaman kredit dari rentenir di pasar tradisional Kabupaten Gunungkidul ini disebabkan oleh banyak hal seperti yang dipaparkan diatas sehingga penulis tertarik melakukan . Hargomulyo. Kemantren Pasar Tepus a. Pasar Wotgaleh. Tepus. penentuan tarif retribusi pasar. Pasar Gedangsari. klasifikasi dan waktu pasar. tentang klasifikasi pasar dan tarif retribusi pasar milik Pemerintah Daerah Tingkat II Gunungkidul. Tepus. b. b. pengurusan pasar. Inti dari peraturan daerah tersebut mengatur masalah ketentuan-ketentuan umum mengenai pasar. Kemantren Pasar Nglipar a. Hargosari.

15 penelitian untuk menyelesaikan permasalahan ini secara ilmiah dengan harapan dalam penelitian ini dapat mengungkapkan alasan dan faktorfaktor apa yang mempengaruhi pinjaman pedagang mikro. . untuk mewujudkan hal tersebut maka penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini menjadi sebuah penelitian dalam bentuk skripsi dengan judul “DETERMNN DAIR KREDIT ENTENIR UNTUK PEDAGNG I A R A MIKRO (Studi Kasus Pada Pedagang Mikro di Pasar Tradisional Gunungkidul. Yogyakarta)”.

dengan ciriciri tidak memperoleh pendidikan formal yang tinggi. Definisi Pedagang Mikro Pedagang Mikro adalah suatu bentuk kegiatan ekonomi yang berskala kecil yang banyak dilakukan oleh sebagian masyarakat lapisan bawah dengan sektor informal atau perekonomian subsisten. memanfaatkan sumber daya lokal. keterampilan rendah. 40/KMK. mempergunakan teknologi sederhana.2. dan dapat mengajukan kredit kepada bank paling banyak Rp 50 juta. Ciri-ciri Usaha Mikro. serta lapangan usaha yang mudah dimasuki dan ditinggalkan. atau masih sangat sedikit yang mampu membuat neraca usahanya.al: 1996).06/2003 Tanggal 29 Januari 2003. Menurut Bank Indonesia. usaha mikro adalah usaha yang dijalankan oleh rakyat miskin atau mendekati miskin dengan ciri-ciri : dimiliki oleh keluarga. usaha mikro adalah usaha produktif milik keluarga atau perorangan yang memiliki hasil penjualan paling banyak Rp 100 juta per tahun. sebagian pekerja adalah keluarga dan dikerjakan secara padat karya serta penjualan eceran. pelanggannya banyak berasal dari kelas bawah.16 1. antara lain: (a) Belum melakukan manajemen/catatan keuangan. . dengan modal pinjaman dari bank formal kurang dari dua puluh lima juta rupiah guna modal usahanya (Deperindag. Menurut Keputusan Menteri Keuangan No. sekalipun yang sederhana. dan Abdullah et.

Ismeth Abdullah. (c) Pada umumnya tidak/belum mengenal perbankan tapi lebih mengenal rentenir atau tengkulak. umumnya tingkat SD.2004) (a) Perputaran usaha (turn over) umumnya cepat. antara lain: (Drs. kegiatan usahanya tetap berjalan bahkan mampu berkembang. . (e) Tenaga kerja atau karyawan yang dimiliki pada umumnya kurang dari 4 (empat) orang. karena biaya manajemennya yang relatif rendah. infokop edisi 24 th. dan belum memiliki jiwa wirausaha yang memadai. Kemampuannya menyerap dana yang relatif mahal dan dalam situasi krisis ekonomi. usaha mikro adalah suatu segmen pasar yang cukup potensial untuk dilayani dalam meningkatkan intermediasinya. Dilihat dari kepentingan perbankan.17 (b) Pengusaha atau SDM-nya berpendidikan rata-rata sangat rendah. sederhana. (d) Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP. (b) Pada umumnya para pelaku usaha mikro tekun. karena usaha mikro mempunyai karakteristik positif dan unik yang tidak selalu dimiliki oleh usaha non mikro. serta dapat menerima bimbingan asal dilakukan dengan pendekatan yang tepat.

18

1.3.

Definisi Rentenir Secara awam dapat didefinisikan bahwa rentenir adalah orang yang meminjamkan uang kepada nasabahnya dalam rangka memperoleh profit melalui penarikan bunga. Satu hal yang perlu diperhitungkan adalah bahwa rentenir adalah agen kapitalis yang seluruh aktivitasnya untuk mencari profit. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rentenir memiliki dua wajah, yaitu rentenir sebagai “lintah darat” di satu sisi karena menarik bunga yang tinggi, tetapi juga sekaligus sebagai “agen perkembangan” pada sisi yang lain karena menopang dinamika perdagangan dan mencukupi kelangkaan uang tunai masyarakat. Jadi Rentenir adalah sosok sumber daya yang sangat diperlukan bagi para pedagang untuk mendukung aktivitasnya baik secara langsung ataupun tidak. Secara langsung kredit dari rentenir itu untuk kegiatan produksi, sedangkan secara tidak langsung kredit itu digunakan untuk konsumsi, baik yang wajar hingga yang konsumtif (Heru Nugroho, 2001 : 18 : 36 : 245).

1.4.

uusan Maslah R m Dari latar belakang masalah diatas yang telah dikemukakan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Seberapa besar pengaruh Keuntungan Bersih per bulan (dalam %) terhadap pinjaman pedagang mikro ?

19

2. Seberapa besar pengaruh Bunga Pinjaman per bulan (dalam %) terhadap pinjaman pedagang mikro ? 1.5. Tujuan Penelitian Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka tujuan dari penulisan ini yaitu : 1. Menganalisis atau menguji hipotesis dari variabel-variabel yang mempengaruhi variabel pinjaman pedagang mikro. 2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Kentungan Bersih per bulan (dalam %) terhadap pinjaman pedagang mikro. 3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Bunga Pinjaman per bulan (dalam %) terhadap pinjaman pedagang mikro. 1.6. Manfaat Penelitian 1. Bagi pemerintah, diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan masukan, untuk menentukan kebijakan dalam pengembangan serta pemberdayaan sektor usaha mikro. 2. Sebagai bahan informasi atau bahan studi perbandingan untuk penelitian sejenis, serta bahan masukan dan rujukan bagi peneliti yang akan melakukan penelitian. 3. Bagi perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia ialah untuk menambah referensi buku-buku yang sudah ada. 4. Bagi penulis, penulisan ini berguna untuk menambah wawasan dalam penelitian ilmiah sebagai wujud dari disiplin ilmu yang dipelajari dan

20

sebagai salahsatu syarat dalam mencapai derajat kesarjanaan ekonomi (S1) di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. 1.7. Sistematika Penulisan BAB I Pendahuluan yang memuat Latar belakang masalah, Rumusan masalah, Batasan masalah, Tujuan dan Manfaat, Metode penelitian, dan Sistematika penulisan. BAB II Kajian Pustaka, memuat tentang penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang digunakan sebagai bahan perbandingan. BAB III Landasan Teori, berisi deskripsi secara teoritis tentang variabel-variabel ekonomi yang diambil dari literaturliteratur yang relevan. BAB IV Metode Penelitian, mengandung uraian tentang bahan atau materi penelitian, alat, jalan penelitian, variabel dan data yang akan dikumpulkan dan analisis hasil. Bab V Tinjauan Umum Subyek Penelitian, memberikan

keterangan tentang situasi dan kondisi daerah atau wilayah Kabupaten Yogyakarta. BAB VI Analisis Data dan Pembahasan, berisi tentang semua temuan-temuan yang dihasilkan dalam penelitian dan analisis statistik. Gunungkidul Propinsi Daerah Istimewa

kesimpulan berisi tentang simpulan yang langsung diturunkan dari seksi diskusi dan analisis yang dilakukan pada bagian sebelumnya.21 BAB VII Kesimpulan dan Implikasi. Sedangkan implikasi merupakan hasil dari kesimpulan. di mana sebagai jawaban atas rumusan masalah. .

1. memberikan kesimpulan antara lain: 1. 2. seperti oleh beberapa penelitian dibawah ini : 2.2. Terdapat hubungan yang nyata dan negatif antar omzet penjualan yang dimiliki dengan jumlah kredit yang diterima oleh pengusaha kecil 2. Penelitian Asmoro Budi Utomo (1997) Penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan KUK dengan menggunakan sampel tahun 1995. Terdapat hubungan yang nyata dan positif antara pendapatan yang diterima oleh pengusaha kecil terhadap jumlah kredit yang diterima oleh pengusaha kecil. Penelitian Prapto Yuwono dan Adikrist Joang Patria Dorado (1997) Penelitian tentang masalah kredit dari lembaga keuangan informal serta sifat hubungan antara kredit yang berasal dari kedua sumber tadi .22 BAB I KAJN PUSTAKA AI Dalam Bab ini memuat berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lain dan Permasalahan yang akan diangkat oleh peneliti sebelumnnya juga pernah dilakukan oleh beberapa peneliti baik itu melalui Skripsi maupun Penelitian biasa yang mana mendasari pemikiran penulis dan menjadi pertimbangan dalam penyusunan skripsi ini.

Bagi skala usaha besar dan menengah. Ada hubungan negatif antara skala usaha dengan akuntabilitas kelembaga keuangan informal. sedangkan kredit informal lebih bervariasi. kredit informal merupakan komplemen dari kredit informal. 2. 2. 3. Hubungan antara kredit formal dan informal tidak dapat digeneralisasi tanpa melihat skala usahanya. . yang meminjam dari BRI dan bank komersial lainnya. membayar hutang.3. tetapi bagi usaha kecil kredit informal lebih merupakan program kredit formal.23 oleh pengusaha kecil di salatiga. namun hanya 36% (yaitu 61% dari 60% yang mempunyai pinjaman pada saat penelitian dilakukancurrently borrow). Dari penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan : 1. dan untuk biaya pendidikan anak. Penelitian Tim Bank Danamon (2003) Penelitian yang dilakukan oleh Tim Bank Danamon pada bulan November 2003 di 8 kota besar yang mewawancarai 1000 responden (Pengusaha Mikro dan Kecil). Pola dan variasi pemanfaatan kredit dari lembaga keuangan formal berbeda dengan pemanfaatan kredit lembaga keuangan informal. diantaranya untuk memenuhi konsumsi rumah tangga. Dalam penelitian ini diketahui bahwa 94 % dari responden membutuhkan pinjaman. atau sebaliknya positif hubungannya dengan akuntabilitas kelembaga keuangan formal. Kredit formal lebih dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan modal usaha.

.currently borrow). kab. Variabel dependen yaitu tingkat pendapatan dipengaruhi oleh besarnya kredit. Penelitian Susan Ambiko (2004) Penelitian tentang Peran dan perkembangan badan usaha kredit pedesaan terhadap tingkat keberhasilan usaha masyarakat pedesaan (studi kasus BUKP kecamatan piyungan. kenyamanan bertransaksi dan kalau bisa transaksi dapat dilakukan di tempat mereka. Dari Hasil Penelitian ini responden juga mengatakan. lama pendidikan dan pemilikan usaha sampingan secara serentak (uji F) variabel independen mampu mempengaruhi variabel dependen/signifikan secara statistik. Bantul. rentenir. lama usaha. besarnya modal. proses yang mudah dan cepat. keluarga. memberikan kesimpulan : 1. Sebagian besar mengatakan bahwa bank "menakutkan" dan bukan untuk mereka. Yogyakarta. Sisanya meminjam dari teman. Mereka membutuhkan layanan dan persyaratan yang sederhana.4.24 Hanya 5% yang meminjam dari BPR (8% dari 60% . proses terlalu lama dan lokasi bank terlalu jauh dari tempat usaha. Bank terlalu rumit dan menakutkan dan mereka mengatakan bahwa persyaratan dan proses untuk meminjam uang di bank terlalu rumit. dan koperasi. 2. dan mereka tidak mempunyai waktu untuk datang ke bank karena harus menunggu toko/kios-nya.

sehingga mendukung hipotesis. 4. mampu mencapai tingkat pendapatan yang cukup tinggi. Sedangkan masyarakat dengan pengalaman lama namun dengan omset yang kurang bagus cenderung hanya mencapai tingkat pendapatan yang lebih kecil. Jadi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa dengan pengalaman yang lama tidak selalu menjamin tingkat pendapatan yang tinggi.25 2. 3. sehingga berpengaruh dan mendukung hipotesis. Variabel tingkat pendapatan (uji t) dipengaruhi oleh variabel besarnya kredit yang signifikan secara statistik. Variabel tingkat pendapatan (uji t) dipengaruhi oleh variabel lama pendidikan yang signifikan secara statistik. Variabel tingkat pendapatan (uji t) tidak dapat dipengaruhi oleh variabel pengalaman atau lama usaha (tidak signifikan secara statistik) sehingga tidak mendukung hipotesis. sehingga mendukung hipotesis. 6. Variabel tingkat pendapatan (uji t) dipengaruhi oleh variabel kepemilikan usaha sampingan yang signifikan secara statistik. 5. Variabel tingkat pendapatan (uji t) dipengaruhi oleh besarnya modal yang signifikan secara statistik. Hal ini dikarenakan masyarakat (pengusaha) dengan pengalaman atau lama usaha yang masih relatif sedikit (belum lama) namun dengan usaha yang memiliki omset bagus. . sehingga berpengaruh dan mendukung hipotesis.

Hal ini tentu saja tidak terlepas dari situasi maupun kondisi masyarakatnya.5 Penelitian Endah Rahayu (2002) Penelitian tentang Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan kredit mikro di pasar Beringharjo Yogyakarta. memberikan kesimpulan antara lain : 2. Permintaan kredit mikro dipengaruhi oleh tingkat pendapatan dengan korelasi positif dan tingkat suku bunga dengan korelasi negatif.5. Fungsi kredit BUKP baru mampu membantu mencukupi sebagian modal usaha nasabah agar usaha nasabah tersebut bisa bertahan namun untuk memperluas atau mengembangkan usaha. 2. jumlah kredit yang disalurkan dan rata-rata kredit per nasabah. sehingga sebagian masyarakat/nasabahnya masih ada yang mencari sumber pinjaman ditempat lainnya. BUKP cenderung mengalami situasi yang naik turun apabila dilihat dari jumlah nasabahnya. Permintaan kredit mikro bagi pengusaha mikro yang telah berusaha lebih dari 10 tahun.1. .5. 2.26 7. Dengan kredit dari BUKP maka kebutuhan modal usaha bagi masyarakat belum sepenuhnya dapat terpenuhi. kredit BUKP belum bisa mencukupi mengingat sumber modal BUKP juga terbatas. 8.2. Dalam perkembangannya. lebih rendah dari pada pengusaha mikro yang berusaha kurang dari 10 tahun.

2. variabel tingkat keuntungan sangat berperan dalam menentukan besarnya jumlah pinjaman. Meskipun bunga pinjaman per bulan relatif tinggi. Penelitian Aditya Ambatirata (2004) Penelitian tentang determinan dari pedagang mikro (studi kasus pada pedagang mikro dipasar tradisional sleman.1. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa dari 150 orang responden yang didapat dari penelitian dengan ukuran variabel dependen (Y) yaitu jumlah pinjaman.27 2. tetapi karena keuntungan yang diperoleh lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat bunga. Bunga pinjaman (dalam persen) Variabel tingkat bunga dalam penelitian ini kurang berperan dalam menentukan besarnya jumlah pinjaman. dan dua variabel independent (X) yaitu keuntungan (X1) dan bunga pinjaman (X2). 2. sehingga meskipun bunga terasa tinggi. pedagang mikro tetap melakukan pinjaman yang jumlahnya relatif besar.6.6. Yogyakarta). bantuan program zhazam versi 7. maka responden (pedagang mikro) tetap mengambil pinjaman dalam jumlah relatif besar.6. Keuntungan (dalam persen) Dilihat dari hasil regresi.0 memberikan . Hasil pengolahan data dengan menggunakan kesimpulan: 2.

dan pasar ngangkruksari yang mewakili daerah pedesaan pantai selatan.7.0.1. Persamaan regresi yang dihasilkan adalah Y = .28 2. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pinjaman pedagang (Y) dan variabel independen adalah keuntungan bersih (X1) (dalam %) per bulan dan variabel bunga pinjaman (X2) (dalam %) per bulan.7 + 77774 X1 – 0. Tanda parameter koefisien regresi untuk X1 positif signifikan dengan nilai koefisien sebesar 77774. Yogyakarta). artinya setiap penambahan 1 persen tingkat keuntungan. Metode analisa data menggunakan metode kuantitatif dengan program SHAZAM versi 8.7684. Penelitian Ratna Ayu Widya Lestari (2005) Penelitian tentang determinan dari pelepas uang pedagang mikro (studi kasus pada pedagang mikro dipasar tradisional bantul. pasar niten yang mewakili daerah sub urban.3289 yang menunjukkan bahwa secara statistik sebesar 32 % dan sisanya 68 % dijelaskan oleh variabel-variabel diluar model.7.2. Pendugaan terhadap nilai koefisien regresi X1 yaitu tingkat keuntungan (dalam %).7.3. R Square (R2) pada model sebesar 0. Penelitian ini di lakukan pada pasar bantul yang mewakili sub daerah perkotaan.3289 yang menunjukkan bahwa secara variasi dari variabel independent mampu menjelaskan variasi dari variabel dependen sebesar 0.12259 X2 2.7. pasar delingo dan pasar imogiri yang mewakili daerah pedesaan pegunungan. 2. maka akan . diperoleh hasil estimasi sebagai berikut : 2.

875 > 1.5. 2.294563. Uji t dengan α = 0.294563. Tanda parameter koefisien regresi X2 negatif signifikan dengan nilai koefisien sebesar -0.7. yang artinya ada pengaruh negatif antara tingkat bunga pinjaman dan jumlah pinjaman pedagang mikro dimana semakin tinggi bunga .552 > 1.645 sehingga Ho ditolak (negatif signifikan). artinya setiap penambahan bunga sebesar 1 persen. Uji F dengan α = 0.7.12259E+06 atau -122593.07. Dan untuk variabel tingkat bunga (X2) diperoleh bahwa t statistik > t Tabel yaitu 1.7.05 (5 %) apabila F hitung > F tabel yaitu 60. 2.518 > 3. 2. Pendugaan terhadap nilai koefisien regresi X2 yaitu tingkat bunga pinjaman pedagang mikro.4.645 sehingga Ho ditolak (positif signifikan) artinya ada pengaruh atau hubungan positif antara keuntungan dan jumlah pinjaman pedagang mikro dimana semakin tinggi keuntungan akan semakin besar keinginan pedagang mikro untuk melakukan pinjaman.05 (5 %) untuk variabel keuntungan (X1) diperoleh bahwa t statistik > t Tabel yaitu 8. maka akan menyebabkan penurunan terhadap jumlah pinjaman pedagang mikro di pasar tradisional kabupaten bantul yaitu sebesar -122593.6. hal ini menunjukkan bahwa variabel dependen berpengaruh signifikan terhadap variabel independennya secara bersama-sama.29 menyebabkan bertambahnya jumlah pinjaman pedagang mikro di pasar tradisional kabupaten bantul sebesar 77774.

Yogyakarta) ini merupakan perbandingan dari penelitian yang dilakukan oleh Ratna Ayu Widya Lestari dan Aditya Ambatirata. Dari hasil analisa tersebut diperoleh kesimpulan bahwa variabel yang paling dominan dalam mempengaruhi variabel dependen (pinjaman pedagang mikro) adalah variabel keuntungan bersih (X1). diperoleh hasil bahwa ternyata di pasar tradisional Bantul dan Sleman keberadaan para Rentenir atau Pelepas uang tetap eksis dalam hal membantu kesulitan permodalan yang dialami .5105 dan nilai standar koefisien β variabel bunga pinjaman per bulan (X2) adalah 0. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ratna Ayu Widya Lestari tentang Determinan dari kredit pelepas uang Pedagang Mikro yang mengambil studi penelitian pada pedagang mikro di pasar tradisional Bantul.7. Uji asumsi klasik dalam penelitian ini tidak ditemukan adanya Multikolinearitas.30 pinjaman maka akan semakin kecil keinginan pedagang untuk melakukan pinjaman. dan Penelitian Aditya Ambatirata tentang Determinan dari Kredit Pedagang Mikro dengan mengambil studi penelitian pada pedagang mikro di pasar tradisional Sleman.7. Penelitian tentang determinan dari kredit rentenir untuk pedagang mikro (studi kasus pada pedagang mikro di pasar tradisional Gunungkidul. Autokorelasi dan Heteroskedastisitas.1119. 2. Dari hasil analisa diperoleh bahwa nilai standar koefisien β dari variabel keuntungan bersih (X1) adalah 0.

Masyarakatnya lebih tradisional dibandingkan masyarakat sleman (masyarakat perkotaan) dan masyarakat Bantul (Masyarakat Sub Urban). Setelah melihat kondisi di pasar tradisional Bantul dan Sleman di atas. karakteristik daerahnya berbeda.31 oleh pedagang mikro. mengingat Gunungkidul itu. Guna mendapatkan informasi lebih lengkap akan keberadaan praktek rentenir. penulis melakukan studi penelitian pada pedagang mikro di pasar tradisional Gunungkidul. Untuk menjawab pertanyaan di atas. pedagang mikro di pasar tradisional Bantul dan Sleman masih sangat menggantungkan masalah pinjaman kreditnya kepada para rentenir atau pelepas uang. Dan sebaliknya. pertanyaan yang muncul adalah “Apakah hasil-hasil dari penelitian yang diperoleh Ratna Ayu Widya Lestari dan Aditya Ambatirata itu berlaku pada Kabupaten Gunungkidul ?”. .

adalah suku bunga. keinginan untuk melakukan investasi juga makin kecil.32 BAB III LANDASAN TEORI 3. masyarakat harus membayar peluang untuk meminjam uang. 1992 : 197 : 214). atau dalam persen per tahun. diukur dalam rupiah per tahun untuk setiap rupiah yang dipinjam. Biaya untuk meminjam uang. Timbulnya penawaran dana disebabkan adanya masyarakat yang kelebihan pendapatan untuk dikonsumsi sehingga mereka berhasrat untuk menabung. Dengan kata lain. Pada hakekatnya. Makin tinggi tingkat suku bunga. Suku Bunga adalah jumlah bunga yang dibayarkan per unit waktu. Suku Bunga adalah pembayaran yang harus dilakukan untuk penggunaan uang. Masyarakat mau membayar bunga karena dana yang dipinjam membantu mereka untuk membeli barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan konsumsi mereka atau membuat investasi yang menguntungkan (Samuelsen dan Nordhaus. Harga yang harus dibayar oleh pihak yang memerlukan dana untuk keperluan investasi yaitu tingkat suku bunga.1 Teori Tingkat Suku Bunga Menurut teori klasik tingkat suku bunga terjadi berdasarkan kekuatan permintaan dana (tabungan) dipasar uang. Dilain pihak terdapat masyarakat yang memerlukan dana untuk kegiatan investasi. Alasan seseorang pengusaha akan menambah .

1 dapat diketahui bahwa keseimbangan tingkat bunga (i) berada pada titik Iο dimana jumlah tabungan sama dengan investasi. Secara grafik keseimbangan tingkat bunga tersebut digambarkan sebagai berikut : GRAFIK 3. Tingkat bunga dalam keadaan keseimbangan (tidak ada dorongan untuk naik atau turun) akan tercapai apabila keinginan menabung masyarakat sama dengan keinginan pengusaha untuk melakukan investasi. Teori Klasik tentang Tingkat bunga Tingkat Bunga Tabungan i1 io Iο 0 So S1 Iı Jumlah Rp yang di Tabungkan dan di Investasikan Dari grafik 3. Apabila tingkat bunga di atas iο maka jumlah tabungan melebihi keinginan .1. sebab biaya penggunaan dana juga makin kecil. maka pengusaha akan lebih ).33 pengeluaran investasinya apabila keuntungan yang diharapkan dari investasi semakin besar dari tingkat bunga yang harus dia bayar untuk dana investasi tersebut yang merupakan ongkos-ongkos penggunaan dana (Cost of capital Makin rendah tingkat bunga. terdorong untuk melakukan investasi.

sebaliknya apabila tingkat bunga dibawah iο. pengusaha bersedia membayar pada tingkat bunga yang lebih tinggi. Teori Investasi pada dasarnya menjelaskan bagaimana proses pembuatan keputusan yang dilakukan oleh calon penanam modal (pedagang mikro) untuk lebih memilih jenis dan besar usaha yang akan diambil.34 pengusaha untuk melakukan investasi. 1986 : 40). 3. para pengusaha akan saling bersaing untuk memperoleh dana yang jumlahnya relatif lebih kecil dan persaingan ini akan mendorong tingkat bunga naik lagi ke iο. Kenaikan efisiensi produksi misalnya.1. Dalam hal ini diasumsikan bahwa keputusan yang dibuat oleh calon penanam modal dipengaruhi oleh tingkat bunga. ditunjukkan dengan bergesernya kurva permintaan investasi kekanan atas dan keseimbangan tingkat bunga yang baru pada titik Iı. Para penabung akan saling bersaing untuk meminjamkan dananya dan persaingan ini akan menekan tingkat bunga turun ke posisi iο. Keadaan ini dapat dilihat pada gambar di atas. sehingga pada tingkat bunga yang sama pengusaha bersedia meminjam dana lebih besar untuk membiayai investasinya atau untuk dana investasi yang sama jumlahnya.1. akan mengakibatkan keuntungan yang diharapkan naik. Fungsi Permintaan Investasi Investasi adalah pengeluaran yang ditujukan untuk menambah atau mempertahankan persediaan kapital atau capital stock (Boediono. Investasi .

Untuk tujuan ini mereka (pedagang mikro) membandingkan perkiraan investasi baru dengan biayanya. fungsi permintaan investasi ini sama dengan konsep tingkat bunga sebagai sebuah determinan dari pembelanjaan investasi. Jadi. maka yang kita masukkan ke dalam permintaan investasi hanyalah perubahan persediaan perusahaan yang diniatkan atau yang dikehendaki. Usaha dapat bersifat baru sama sekali atau berupa perluasan usaha yang sudah ada. diukur pada sumbu horizontal. Nilainilai permintaan investasi output diukur menurut sumbu vertikal. Dari .nilai output yang diminta untuk tujuan investasi pada setiap kemungkinan tingkat bunga. Para peminta ini dianggap tergerak oleh hasrat untuk memperoleh laba. Perhatikanlah bahwa karena hendak menentukan keseimbangan (Y). Tingkat bunga ini ditunjukkan dengan (r).35 merupakan usaha menanamkan faktor-faktor produksi langka dalam usaha-usaha tertentu. Suatu fungsi permintaan investasi itu menunjukkan nilai . Dalam hal ini. Kebanyakan komponen permintaan investasi (I) ini adalah permintaan perusahaan akan output untuk mempertahankan atau meningkatkan stok barang modal. dengan keinginan untuk memaksimumkan laba. harga dana yang dipinjamkan itu atau tingkat bunga atas dana-dana yang dapat diinvestasikan. merupakan suatu kurva permintaan yang lazim terdapat yang menunjukkan hubungan antara kuantitas yang diminta dengan harganya. Suatu fungsi permintaan investasi seperti dilukiskan dalam gambar berikut.

1. maka (r) adalah biaya kesempatan (opportunity cost ) mereka.36 sudut pembelanjaan investasi. Jika mereka memperoleh uang untuk membiayai investasi dengan memakai uang mereka sendiri. ini adalah tingkat bunga yang mereka korbankan dengan memakai uang itu dan bukannya meminjamkannya kepada pihak lain. Jadi. Fungsi Permintaan Investasi Investasi Iο I 0 ro Tingkat bunga Tingkat bunga merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan investasi. karena tingkat bunga akan menentukan jenis-jenis investasi yang dapat memberikan keuntungan kepada para pengusaha. Oleh karena itu penanam modal (pedagang mikro) harus selalu mempertimbangkan tingkat bunga. masuk akal untuk dianggap bahwa jika hal-hal sama maka kenaikan tingkat bunga akan menurunkan permintaan investasi aktual untuk output dan turunnya tingkat bunga akan menaikkan investasi.1. Kegiatan investasi hanya akan . GRAFIK 3. (r) itu adalah biaya.

1. 1981 : 196).2. 3. Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksudkan dengan tingkat pengembalian modal dari suatu kegiatan investasi adalah persentasi keuntungan sebelum dikurangi bunga yang harus dibayar yang akan diperoleh pengusaha (pedagang mikro) dari suatu jenis investasinya (Sadono Sukirno. Daya tangkap (Responsiveness terhadap tingkat bunga.2. Investasi dan Keuntungan. ) marginal dari investasi . Tingkat bunga.37 dilaksanakan apabila tingkat pengembalian modal lebih besar atau sama dengan tingkat bunga. Fungsi permintaan investasi dapat pula dinyatakan dalam istilah aljabar berikut ini : ∆I I= D ∆r Keterangan : D r ∆I/∆r : : : Konstanta.r ∆I/∆r ditafsirkan sebagai 3. kemiringan negatif. Tingkat Keuntungan. Teori konvensional (klasik) tentang investasi pada pokoknya didasarkan atas teori produktivitas batas (marginal productivity ) dari .

Suatu investasi akan dijalankan bilamana pendapatan (keuntungan) dari investasi itu (prospected of yield. tingkat bunga dan tingginya hasil pendapatan (keuntungan) yang akan diterima. Apabila seorang pengusaha telah mencapi posisi ini maka ia dikatakan telah berada pada posisi ekuilibrium. keuntungan yang tinggi merupakan suatu petunjuk bahwa suatu perusahaan sedang menghadapi perkembangan dalam permintaan atas barang-barang yang diproduksi atau dijualnya. 2. Teori klasik ini dapat disederhanakan sebagai berikut : 1. Investasi dari suatu barang modal adalah menguntungkan bilamana (cost ) dan bunga. expected earning besar dari tingkat bunga. keuntungan yang diperoleh pengusaha merupakan faktor penting yang menentukan kegiatan investasi. Dalam suatu perusahaan yang telah berkembang. lebih kecil dari hasil pendapatan yang diharapkan dari investasi itu. Disebut posisi ekuilibrium karena ) lebih . maka perusahaan ini harus lebih dikembangkan lagi. Agar peningkatan permintaan ini dapat dipenuhi oleh perusahaan dimasa-masa mendatang. Ada tiga unsur penting yang harus diperhitungkan dalam penentuan investasi yaitu ongkos (biaya dari barang-barang kapital). Para pengusaha akan selalu memilih tingkat output (Q) dimana para pengusaha tersebut akan memperoleh tingkat keuntungan maksimum.38 faktor produksi modal (capital).

Selama tambahan laba ini adalah positif. Sebuah perusahaan yang memaksimumkan keuntungan memilih baik masukannya (input) maupun keluaran (output) dengan tujuan tunggal untuk mencapai laba ekonomi yang maksimum. 1998 : 100). Hal ini melihat pada keuntungan tambahan atau “marginal” yang dapat diperoleh dari memproduksi satu unit output tambahan atau keuntungan yang diperoleh dari memperkerjakan satu unit tenaga kerja tambahan.39 posisi ini tidak ada kecenderungan baginya untuk mengubah output (dan harga output)-nya. dimana pengusaha tersebut akan melakukan eksperimen konseptual untuk menyesuaikan variabel-variabel yang dapat dikendalikan sampai laba tidak mungkin ditingkatkan lebih lanjut lagi. output tambahan akan dihasilkan atau tambahan pekerja akan dipekerjakan. dimana perusahaan berusaha untuk menjadikan selisih antara pendapatan total dengan biaya ekonomi total sebesar mungkin. mereka akan membuat keputusan secara “marginal”. . Jika suatu perusahaan secara ketat berusaha memaksimumkan laba. maka keuntungan totalnya justru akan menurun (Boediono. Pada saat keuntungan tambahan adalah nol maka pengusaha tersebut telah mendorong kegiatan tersebut cukup jauh dan apabila dilanjutkan maka tidak akan menguntungkan. Sebab apabila ia mengurangi (atau menambah) volume output (penjualan)-nya. Hubungan antara maksimisasi laba dan marginalisme paling jelas diperlihatkan jika kita meneliti tingkat output yang dipilih untuk diproduksi perusahaan ketika berusaha memperoleh laba maksimum.

.. (1) Adapun selisih antara pendapatan dan biaya disebut dengan keuntungan ekonomi (π)......... yaitu : ....... Karena baik pendapatan dan biaya bergantung pada jumlah yang diproduksi.. (3) dq Sehingga ditemukan bahwa : dTR / dq = dTC/dq .. Penghasilan total (TR) adalah : TR(q ) = P(q ).... (2) Kondisi yang diperlukan umtuk memilih nilai yang q memaksimumkan keuntungan ditemukan dengan menurunkan derivatif persamaan (2) dalam kaitannya q sama dengan nol.... Dalam kegiatannya.....………………………….....………… (4) Persamaan tersebut semata-mata merupakan pernyataan matematis bahwa pendapatan marginal sama dengan biaya marginal sehingga untuk memaksimumkan laba perusahaan harus memilih keluaran dimana pendapatan marginal sama dengan biaya marginal..q – TC(q ) = TR(q) – TC(q) ……………….... Yaitu : π (q) = P(q )................. yaitu : dπ = π’(q )= dq dTR dq dTC = 0 …………......40 Pertama kita harus mendefinisikan keuntungan.. yaitu q dengan harga pasar P per unit...q …...... perusahaan menjual tingkat output tertentu.

Keuntungan Maksimum Pendapatan. .biaya TR 0 q Keuntungan q* Keluaran/periode (a) 0 q* Keluaran/periode (b) Kerugian Grafik 3.1. hal ini berarti keuntungan positif.1. di atas memperlihatkan fungsi biaya dan pendapatan yang umum.41 MR = dTR/dq = dTC/dq = MC GRAFIK 3. Untuk tingkat keluaran yang rendah.2. biaya melebihi pendapatan sehingga keuntungan ekonomi negatif. Dalam kisaran keluaran menengah.2. pendapatan melebihi biaya.

biaya meningkat dengan tajam dan sekali lagi melebihi pendapatan. 1981 : 185-186 : 190-191) (1) (2) (3) (4) (5) Ramalan mengenai keadaan di masa yang akan datang. pada saat ini kemiringan kurva pendapatan (pendapatan marginal) = kurva biaya (biaya marginal). Jarak vertikal antara kurva pendapatan dan biaya (yaitu keuntungan) diperlihatkan dalam gambar 3.b. Hal ini berarti bahwa pertimbangan-pertimbangan yang diambil oleh individu atau pedagang mikro dalam memutuskan apakah membeli atau tidak membeli barangbarang atau jasa-jasa adalah harapan di kemudian hari nanti dapat memperoleh keuntungan dari penjualan atau penggunaan barang dan jasa untuk proses produksi.1. Keuntungan yang dicapai perusahaan-perusahaan.2. Tingkat pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya. disini keuntungan mencapai maksimum di q*. . Ahli-ahli ekonomi pada umumnnya sependapat bahwa investasi terutama ditentukan oleh faktor-faktor berikut : (Sadono Sukirno. Tingkat bunga. Perubahan dan perkembangan teknologi. Harapan akan keuntungan inilah yang merupakan faktor utama dalam memutuskan apakah berinvestasi atau tidak.. Tujuan pengeluaran untuk investasi adalah harapan untuk memperoleh keuntungan di kemudian hari.42 dan yang terakhir ditingkat keluaran yang tinggi.

faktor tersebut adalah ramalan mengenai keadaan masa depan. yaitu pada saat industri atau perusahaan yang didirikan menghasilkan barang atau jasa yang menjadi produksinya. Ramalan mengenai masa depan akan memberikan gambaran kepada para pengusaha mengenai jenis-jenis investasi yang akan memiliki prospek yang baik dan dapat dilaksanakan serta besarnya investasi barangbarang yang diperlukan untuk mewujudkan tambahan barang-barang modal yang diperlukan. Selain tingkat bunga.2. Apabila kegiatan investasi tersebut telah selesai.2. para pengusaha harus membuat ramalan-ramalan mengenai keadaan mada depan. maka perusahaan tersebut akan melakukan kegiatannya selama beberapa tahun.43 Walaupun faktor-faktor penting yang menentukan besar kecilnya investasi yang akan dilakukan para pengusaha (pedagang mikro) terdiri dari kelima-lima faktor diatas. makin besar harapan . Kegiatan perusahaan dalam mendirikan sebuah industri dan menggunakan barang-barang modal yang baru adalah kegiatan yang memakan waktu lama. 3. Oleh sebab itu. Ramalan mengenai keadaan masa depan. dalam menentukan apakah kegiatan-kegiatan yang akan dikembangkan akan memperoleh untung atau akan menimbulkan kerugian. dua diantaranya mempunyai kesanggupan untuk menerangkan mengenai sebab-sebabnya perubahan tingkat investasi yang lebih penting dan lebih tepat daripada faktor-faktor lainnya.

GAMBAR 3. Pengaruh Perubahan Ramalan Mengenai Masa Datang Tingkat bunga I1e Ie re Investasi 0 Ia Ib . dan pertumbuhan ekonomi maupun pertambahan pendapatan masyarakat akan berkembang dengan cepat.2. Dalam membuat ramalan mengenai keadaan di masa depan pada hakekatnya para pengusaha harus bertanya : apakah keadaan di masa depan menunjukkan bahwa keuntungan yang cukup besar akan diperoleh dari pengembangan kegiatan ekonomi yang sedang dibuat atau direncanakan ? Ramalan yang menunjukkan bahwa keadaan perekonomian akan menjadi lebih baik pada masa depan. yaitu ramalan bahwa harga-harga akan tetap stabil. maka mereka akan lebih terdorong untuk melaksanakan investasi.2.44 tingkat keuntungan yang akan diperoleh para pengusaha.

Istilah net present value sering diterjemahkan sebagai nilai tunai bersih atau nilai sekarang bersih (Suad Husnan. Dalam menilai menguntungkan tidaknya suatu investasi yang akan dipakai untuk mengambil keputusan investasi salahsatunya dengan menggunakan kriteria investasi yang mendasarkan pada konsep cash flow yaitu cash flow yang memperhatikan nilai waktu dan uang atau faktor diskonto (discounted cash flow ) diantaranya Net Present Value (NPV).45 Dalam gambar 3. Konsep Net Present Value (NPV). Dalam hal ini berarti kita harus mendiskontokan nilai-nilai pengeluaran dan penerimaan ke dalam penilaian yang sama.2. maka pada mulanya jumlah investasi adalah Ia. Dalam konsep ini kita menggunakan faktor diskonto. dengan demikian fungsi investasi berpindah ke kanan dari Ie menjadi I1e. dimisalkan pada mulanya fungsi investasi adalah Ie.2. dan tingkat bunga adalah re. 3. Pengeluaran adalah dilakukan pada saat mula-mula (sekarang). Perpindahan ini menyebabkan fungsi investasi akan bertambah dari Ia menjadi Ib.2. Kemudian dimisalkan keadaan perekonomian menjadi bertambah baik dan diharapkan keadaan masa depan akan lebih baik lagi. Semua pengeluaran dan penerimaan (dimana saat pengeluaran serta penerimaannya adalah dalam waktu yang tidak bersamaan) harus diperbandingkan dengan nilai yang sebanding dalam arti waktu. sedangkan penerimaan baru akan . 1994 : 49).3. Bagi para pengusaha hal ini berarti pada setiap tingkat bunga lebih banyak investasi akan lebih menguntungkan.

46 diperoleh dimasa-masa yang akan datang. 1994 : 152). padahal nilai uang sekarang adalah tidak sama (lebih tinggi) dari nilai uang di kemudian hari. Oleh karena itu jumlah estimasi penerimaan harus kita diskontokan. Urutan-urutan perhitungan dalam konsep ini : a. Menghitung cash flow yang diharapkan dari investasi yang akan dilaksanakan. Mencari nilai sekarang (present value dari cash flow dengan ) mengalikan tingkat diskonto tertentu yang ditetapkan. . 2000 : 210 : 232). Kita jadikan jumlah-jumlah nilai sekarang (penilaian yang sebanding dengan pengeluarannya). c. b. proyek ditolak karena dinilai tidak menguntungkan (Suad Husnan dan Suwarsono Muhammad. Apabila nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang lebih besar daripada nilai sekarang investasi. Kemudian jumlah nilai sekarang atau present value dari cash flow selama umur investasi dikurangi nilai investasi awal (Initial Outlays / IO) akan menghasilkan net present value /NPV (Indriyo G dan Basri. maka proyek ini dikatakan menguntungkan sehingga diterima. Sedangkan apabila lebih kecil (NPV negatif).

Diduga bahwa Tingkat bunga pinjaman (dalam %) berpengaruh negatif terhadap Jumlah pinjaman pedagang mikro. . 3.3.3.3. 3. Di mana semakin besar r maka NPV-nya semakin kecil sehingga proyek dianggap tidak layak atau tidak menguntungkan. jika semakin kecil r maka NPV-nya semakin besar artinya usulan investasi diterima karena dianggap layak (menguntungkan). Dan sebaliknya. : Jumlah tahun (usia ekonomis) proyek. Hipotesis 3.47 Net present value dari investasi dapat diformulasikan sebagai berikut : NPV = -A0 + n ∑ t=1 At (1 + r)t Dimana : -A0 At r n : Pengeluaran investasi pada tahun ke-0 : Aliran kas masuk bersih pada tahun ke-t : Tingkat bunga yang dianggap relevan.1. Diduga bahwa Tingkat keuntungan (dalam %) pedagang mikro berpengaruh positif terhadap Jumlah pinjaman pedagang mikro.2. Artinya usulan investasi ditolak.

Populasi dari penelitian ini adalah keseluruhan dari obyek penelitian yang terdapat di pasar tradisional Gunungkidul yaitu di pasar Argosari. Waktu Penelitian. Daerah penelitian dilaksanakan di Pasar Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta Kabupaten Gunungkidul. Metode Pengumpulan Data. 4. dan Pasar Legundi Desa Girimulyo Kecamatan Panggang yang mewakili sub daerah pedesaan. Populasi. Pasar Karangijo Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong Kecamatan Ponjong yang mewakili sub daerah pedesaan.1. pasar Karangijo.1. pegunungan dan pantai selatan. .4.1.1. dan pasar Legundi. 4. 4.2. 4. pasar Tengeran.48 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4. Dalam penelitian ini yang menjadi obyek penelitian adalah para pedagang mikro yang berorientasi pada sektor perdagangan dan yang melakukan pinjaman dari rentenir atau Bank Plecit. Penelitian ini dimulai pada tanggal 22 September 2005 sampai dengan tanggal 22 Desember 2005.3.1. yaitu Pasar Argosari Desa Wonosari Kecamatan Wonosari yang mewakili sub daerah perkotaan. Obyek Penelitian. Daerah Penelitian. Pasar Tengeran Desa Gedangrejo Kecamatan Karangmojo yang mewakili daerah sub urban.1.

pasar Karangijo. dan bertujuan sesuai dengan masalah yang dihadapi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive Random Sampling yang dilakukan dengan mengambil orang-orang yang benar-benar terpilih benar oleh peneliti menurut ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh sampel itu (Soeratno dan Lincolin Arsyad 1993:119). Adapun Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 143 responden pedagang mikro yang terdapat di pasar Argosari.49 4. Peneliti menggunakan tehnik wawancara dalam pengumpulan data karena dengan cara ini peneliti dapat . Sumber Data Untuk memperoleh data yang diperlukan baik data kualitatif maupun data kuantitatif yang relevan.1. Dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. 4. Sampel dan tehnik pengambilan sampel. dan pasar Legundi.2. Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta. terarah.5. pasar Tengeran.1. Data primer dalam penelitian ini dilakukan dengan metode: 4.2. Dengan asumsi bahwa pedagang mikro dalam menjalankan usaha dagangannya menetap di pasar tradisional tersebut. Wawancara Wawancara dilakukan sebagai Tehnik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung kepada para pedagang mikro yang bersangkutan yang dikerjakan secara sistematis.

1993). pendekatan yang digunakan adalah regresi linier bias 0. Data sekunder adalah data yang diperoleh dengan cara melakukan pengutipan dari sumber lain yang menerbitkan data tersebut (Soeratno dan Lincolin Arsyad. 4.05 (Damodar Gujarati.50 memperoleh informasi secara detail dan jelas tentang kredit yang dilakukan oleh pedagang mikro melalui rentenir atau Bank Plecit. Metode Analisis data Sesuai dengan hipotesis yang telah ditentukan dalam penelitian ini. Analisis Deskriptif Yaitu metode analisis dengan pendeskripsian variabel-variabel yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti sebagai pendukung hasil dari analisis kuantitatif.2.2. Analisis kuantitatif Yaitu metode analisis data yang menganalisis data dan hal-hal yang berhubungan dengan angka dan menggunakan rumus-rumus dan teknik-teknik perhitungan yang digunakan untuk menganalisis masalah yang sedang diteliti (Djarwanto PS dan Hari Murti.3.1.3. . Observasi Observasi merupakan metode pengumpulan data dengan cara pencatatan secara cermat dan sistematis.3.2. maka alat analisis yang digunakan adalah sebagai berikut : 4. 4. 1996). 1998 : 5). Untuk mencapai tujuan penelitian dari penyajian hipotesa. 4.

Metode analisis data yang digunakan adalah metode kuantitatif. Dimana hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen akan dianalisa secara kuantitatif dengan menggunakan Regresi Berganda dengan bantuan program SHAZAM 8.0. Model persamaan yang digunakan adalah : Y = βο + βıXı + β2X2 + e Dimana : Y Xı X2 βo βı β2 e = Variabel Dependen (Pinjaman Pedagang Mikro) = Keuntungan bersih (dalam %) perbulan = Bunga pinjaman perbulan = Konstanta regresi = Koefisien regresi faktor X1 = Koefisien regresi faktor X2 = Variabel pengganggu.1. peneliti menggunakan pendekatan ekonometrik yang berupa Analisa Regresi dan Korelasi. Pengujian hipotesa dengan F test Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah variabel independen secara serentak berpengaruh terhadap variabel dependen. Pengujian Hipotesa 4. 4.4. . Analisa regresi digunakan untuk mengetahui seberapa besar derajat hubungan antara variabel di dalam model.51 Dalam membuktikan hubungan variabel secara kuantitatif.4.

.

Uji t-statistik Uji t dilakukan untuk melihat signifikansi dari pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dengan pengujian satu sisi.53 b. .5. apabila suatu R² sebesar 1 hal ini berarti kecocokan sempurna. R² sama dengan 0 maka model tadi tidak menjelaskan sedikitpun variasi dalam varibel Y.5. Jika Positif : Ho : β1 = 0 Ha : β1 < 0 Berarti tidak ada pengaruh secara signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.1. Kecocokan model dikatakan lebih baik apabila koefisien determinasi mendekati 1. dan sebaliknya apabila R² bernilai 0 maka berarti tidak ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. yaitu : a. 4. Pengujian Statistik 4. Batasan adalah 0 < R² < 1. R² sama dengan 1 berarti garis regresi yang cocok adalah menjelaskan 100% variabel Y.

H0 ditolak t-tabel H0 diterima GRAFIK 4.54 H0 diterima H0 ditolak t-tabel GRAFIK 4.a.5.1.b. Grafik daerah kritis Uji t satu sisi negatif . Jika Negatif : Ho : β2 = 0 Ha : β2 < 0 Berarti ada pengaruh secara signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen.5. Grafik daerah kritis Uji t satu sisi positif b.1.

Hipotesis : a) Ho : β1 = β2 = 0 (Berarti tidak ada pengaruh yang nyata antara variabel independen terhadap variabel dependen secara bersamasama).2. Hasil Uji F adalah sebagai berikut : Jika F-hitung < F-tabel maka H0 diterima.55 4. Grafik daerah kritis Uji F .5. b) Ha : β1 ≠ β2 ≠ 0 (Berarti ada pengaruh yang nyata antara variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama-sama).5. Daerah diterima H0 Daerah ditolak H0 F-tabel GRAFIK 4. dan Jika F-hitung > F-tabel maka H0 ditolak. Uji F-statistik Uji F dilakukan untuk mengetahui apakah variabel independen yang ada dalam model secara secara bersama-sama berpengaruh pada Variabel dependen secara signifikan atau tidak.2.

Uji t dan Uji F yang dilakukan sebelumnya menjadi tidak valid dan secara statistik dapat mengacaukan kesimpulan yang diperoleh.6. 4. Salah satu cara untuk mengetahui ada tidaknya penyakit Multikolinearitas yaitu dengan membandingkan koefisien determinasi (R²) dari regresi keseluruhan dengan koefisien determinasi parsial (r²) dari regresi antar variabel independen jika ditemukan bahwa r² > R² maka pada model ini penelitian terjadi multikolinearitas.6. 4. maka varian dari Y adalah tidak sama atau variabel gangguan tidak mempunyai varian yang sama untuk semua .56 4.1. Uji Multikolinearitas Multikolinearitas adalah keadaan dimana satu atau lebih variabel independen dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier dari variabel independen lainnya. dan sebaliknya apabila r² < R² maka tidak terterdapat Multikolinearitas. Uji Asumsi Klasik Uji Asumsi Klasik dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya Autokorelasi. dan Multikolinearitas dalam hasil estimasi karena apabila terjadi penyimpangan terhadap asumsi klasik.2. Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas terjadi apabila nilai varian dari variabel dependen (Y) meningkat sebagai akibat meningkatnya varian dari variabel independen (X). Heteroskedastisitas.6. Pengujian untuk mengetahui apakah terjadi hubungan sempurna antara variabel independen dengan variabel dependen dalam model Regresi.

sehingga hipotesisnya ditolak (Ho ditolak) dan berarti dalam persamaan regresi tersebut terdapat Heteroskedastisitas. Dalam konteks regresi. Ho : terdapat masalah Heteroskedastisitas (varian yang berbeda). Akibat dari Heteroskedastisitas yaitu penaksiran OLS tetap tidak bias tetapi tidak efisien. dalam penelitian ini kita akan menggunakan metode X² (Chi-square). maka dalam variabel . sehingga semua hipotesisnya diterima (Ho diterima). model regresi linier klasik mengasumsikan bahwa autokorelasi itu tidak terdapat disturbansi atau gangguan Ui. hal ini berarti bahwa didalam persamaan regresi tidak terdapat heteroskedastisitas. Untuk menguji ada tidak nya masalah Heteroskedastisitas. Dengan menggunakan lambang : E (UiUj) = 0. dimana : Ho : tidak ada Heteroskedastisitas (varian yang sama).variabel gangguan tersebut mempunyai varian yang sama untuk semua observasi.57 observasi.6. Apabila hasil statistik uji X2 > tabel X2 (Chi-square) berarti di dalam variabel gangguan tidak mempunyai varian yang sama untuk semua observasi. dan sebaliknya apabila statistik X2 < X2 tabel (Chi-square). i ≠ j. Autokorelasi dapat terjadi apabila kesalahan penganggu periode suatu periode berkorelasi dengan kesalahan penganggu periode . Uji Autokorelasi Istilah Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antar anggota serangkaian observasi menurut waktu.3. 4.

Jika dU < DW < 4 .dL berarti pengujian dianggap tidak meyakinkan. Berdasarkan jumlah observasinya dari variabel independen. berarti bahwa suatu persamaan regresi tidak terkena masalah Autokorelasi. . kita harus menentukan besarnya nilai kritis dari dU dan dL. Adapun alat penguji yang dapat kita gunakan untuk mendeteksi ada tidaknya masalah autokorelasi adalah dengan uji Durbin Watson (DW) : ∑ et et-ı DW = 2 1 ∑ et Untuk menguji masalah Autokorelasi ini. berarti bahwa suatu persamaan regresi terkena masalah Autokorelasi.dU. Jika dL ≤ DW ≤ dU atau 4 – dU ≤ DW ≤ 4 .58 sebelumnya. maka Ho ditolak. maka Ho diterima. Jika Hipotesis nol menyatakan bahwa tidak terjadi penyakit autokorelasi. maka : Jika DW < dL.

bukti raguan autokorelasi negatif d 0 dL dU 2 Legenda H0 : Tidak ada autokorelasi positif H*0 : Tidak ada autokorelasi positif 4 .6. Tidak ada Autokorelasi. b.dL 4 Dalam penggunaan metode OLS asumsi klasik yang harus terpenuhi adalah : a. Varian yang bersyarat E1 adalah konstata atau Homoskedastisitas. Tidak ada multikolinearitas diantara variabel independen (X).59 GRAFIK 4. . Merupakan variabel random dan mengikuti distribusi normal dengan kesalahan sama dengan nol atau ΣE1 = 0. c. d.dU 4 . Statistik d Durbin-Watson f (d) Menolak H0 Daerah bukti Keraguautokorelasi raguan positif Menerima H0 atau H*0 atau kedua-duanya Daerah Menolak H*0 Keragu.3.

8° 09` 110° 21` .1.110° 50` : Lintang Selatan dan : Bujur Timur Sedangkan Ketinggiannya bervariasi antara 0 meter sampai 700 meter di Atas Permukaan Laut. . Yogyakarta. Kabupaten Sleman. Kabupaten Sukoharjo. Sebelah Timur Tengah. Letak Geografis Kabupaten Gunungkidul Secara Geografis Terletak Antara : 7° 46` .1. Propinsi Jawa Tengah. beribukota di Wonosari dan berjarak sekitar 39 km ke arah tenggara dari kota Yogyakarta. 5.I. Keadaan Umum Kabupaten Gunungkidul Kabupaten Gunungkidul merupakan salahsatu dari lima kabupaten/kota di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kabupaten Gunungkidul dibatasi : Sebelah Utara : Kabupaten Klaten. Propinsi Jawa Propinsi D. : Kabupaten Wonogiri.60 BAB V TINJAUAN UMUM SUBYEK PENELITIAN 5.1. Sebelah Selatan Sebelah Barat : Samudra Indonesia : Kabupaten Bantul.

ditujukan untuk pengembangan pertanian tanaman pangan. ditujukan untuk pertanian tanaman pangan. hutan rakyat. tanaman keras. pengolahan bahan galian golongan C. industri kecil. Zone Gunung Seribu – Wilayah Pengembangan Selatan Ketinggian 100 – 300 m dpal. Meliputi kecamatan : Patuk. pariwisata pantai. peternakan. seluas + 27. dan Ponjong bagian utara. Zone Baturagung – Wilayah Pengembangan Utara Ketinggian 200 – 700 meter di atas permukaan laut (dpal). seluas + 42.61 A. dan hutan wisata. holtikultura. Meliputi kecamatan : Playen.283 Ha. hutan rakyat pendayagunaan . kawasan lindung. Karangmojo. Fisiografi dan Wilayah Pengembangan. pengembangan yaitu : 1. 2. Ngawen. kawasan lindung. Semanu bagian utara dan Ponjong bagian tengah.908 Ha. peternakan. yang terbagi dalam 3 wilayah Gedangsari. Zone Ledok Wonosari – Wilayah Pengembangan Tengah Ketinggian 150 – 200 m dpal. pariwisata dan kawasan lindung serta hutan rakyat. pengolahan hasil tambang bahan galian gol-C. ditujukan untuk pertanian tanaman pangan. peternakan. Nglipar. Gunungkidul merupakan wilayah dataran tinggi dan bergunung–gunung. Semin. Wonosari. 3. budidaya laut.

Industri Kecil dan Menengah serta . seluas + 78. Girisubo. Semanu bagian selatan dan Ponjong bagian selatan. B. Meliputi kecamatan : Panggang. 5.1. Suhu Pada dasarnya bertiup angin muson.344 Ha. dengan suhu harian rata-rata 27° C.2. Pemerintahan A. saat musim kemarau bertiup angin dari arah tenggara (50°. Tanah Gunungkidul mempunyai jenis tanah sebagai berikut : • • • • • • Komplek Litosol dan Mediteran Merah Asosiasi Mediteran Merah dan Rendzina Grumusol Hitam Rendzina Litosol Asosiasi Latosol Merah dan Litosol C. saat musim hujan bertiup angin dari arah barat daya (42°) bersifat basah yang mendatangkan hujan.62 pelestarian sumber air bawah tanah. Visi Terwujudnya Kabupaten Gunungkidul sebagai Daerah Pengembangan Pertanian.140°) yang agak kering dengan kecepatan 5-16 km/jam. Suhu udara berkisar antara 23° C – 34° C.

9.E. Peningkatan stabilitas pemerintahan dan keamanan. 2. 6. Penyediaan prasarana dasar yang memadai. Peningkatan pendapatan masyarakat melalui koperasi dan sistem ekonomi kerakyatan. Pemantapan sistem dan lembagaan serta peningkatan kemampuan masyarakat. pariwisata. Peningkatan kemampuan keuangan daerah. 11. Pemantapan sistem dan lembagaan Pemerintah Daerah serta peningkatan kemampuan aparatur. 7. Penciptaan iklim yang kondusif bagi perkembangan Dunia Usaha. Misi 1. Penegakan Hukum dan Hak Azazi Manusia (HAM).M. 8. Pengembangan sumber daya pertanian.63 Pariwisata yang berbudaya dengan didukung pemerintah yang baik dan bersih serta sumber daya manusia yang berkualitas menuju kemandirian dan peningkatan taraf hidup masyarakat 2005. 4. Peningkatan iman dan taqwa serta pelestarian budaya berdasarkan ketuhanan Y. 5. industri kecil dan menengah. Peningkatan kehidupan demokrasi. . berbasis pada potensi lokal dan berorientasi pedesaan. B. 3. 10.

Terbangunnya kesejahteraan rakyat dan ketahanan budaya. 3. 14. Mewujudkan pemerintah daerah yang baik dan bersih. Pemulihan dan ketahanan ekonomi daerah. Peningkatan kelestarian alam dan lingkungan hidup. Sasaran Pembangunan 1. E. 3. Arah Kebijakan 1. tujuan pembangunan daerah adalah terwujudnya kemandirian dan peningkatan taraf hidup kesejahteraan masyarakat.947 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 510 jiwa/km2 yang tersebar di 18 . 2. Terwujudnya pemerintah daerah yang baik dan bersih. D. C. Terberdayakannya masyarakat melalui pengembangan kecamatan sebagai pusat pertumbuhan.3. Tujuan Pembangunan Berdasarkan visi dan misi Kabupaten Gunungkidul. Tercapainya pemulihan dan ketahanan ekonomi daerah. 4. Peningkatan kerja sama antar daerah. 4. 2. 13. Pembangunan kesejahteraan rakyat dan ketahanan budaya.64 12. Pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan kecamatan sebagai pusat pertumbuhan. 5. Peningkatan peran serta masyarakat. Kependudukan Penduduk Kabupaten Gunungkidul Berdasarkan Hasil Registrasi Awal Tahun 2005 berjumlah 756.1.

92 54.279 424 5 Tepus 104.823 543 10 Ponjong 104.91 39.51 78.168 309 3 Paliyan 58.935 569 14 Patuk 72.972 1046 13 Playen 105.49 56.57 27. Kepadatan Penduduk menurut Kecamatan di Kabupaten Gunungkidul Awal Tahun 2005 No.12 56.3.264 477 17 Ngawen 46.921 404 7 Rongkop 83.87 35. dengan jumlah penduduk terbanyak yaitu Kecamatan Wonosari dengan 78.39 58. dengan kepadatan penduduk 1.153 776 18 Semin 78.83 37.008 372 6 Tanjungsari 71.406 388 8 Girisubo 94.65 kecamatan dan 144 desa.04 31. TABEL 5.546 541 11 Karangmojo 80.947 510 Total Sumber : BPS Kabupaten Gunungkidul (Berdasarkan Registrasi Penduduk Awal Tahun 2005) .094 553 4 Saptosari 87.388 593 16 Ngipar 73.698 708 12 Wonosari 75.1.36 756.972 jiwa.872 695 1485.26 59.76 22.14 40.309 284 2 Purwosari 71.80 28.59 36.63 28.46 32.07 32.046 jiwa/km2.725 440 15 Gedangsari 68. Kecamatan Luas Kepadatan Jumlah (km2) Penduduk (Jiwa/km2) (Jiwa) 1 Panggang 99.a.386 290 9 Semanu 108.

1.296 75.189 239 591 56.047 43.676 963 Datang 2.113 *): Data Registrasi Penduduk Awal tahun 2005 Sumber : BPS Kabupaten Gunungkidul 2005*) 756.385 Balita :0-4 tahun 24.077 181.b.697 Pergi 5 Usia Penduduk 55.133 2.817 Mati 2.340 SMTP : 13-15 tahun 41.022 6. Penduduk 2003 2004 1 Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun(Berdasarkan Registrasi) 753.006 (0.502 7 Usia Pemuda : 15-24 Tahun 112. Kependudukan Kabupaten Gunungkidul 2003 – 2005 No.558 2.3.3.014 24.13%) 2.267 Dari tabel 5. terlihat bahwa pada tahun 2004 jumlah penduduk yaitu 755.42%) (0. .518 75.379 TK : 5-6 tahun 75.13%.052 41.616 40.921 181.527 SD: 7-12 tahun 39.39%.66 TABEL 5.048 116.547 1.266 22.008 755.947 jiwa dengan pertumbuhan penduduk sebesar 0.674 SMTA : 16-18 tahun 6 Usia Muda : 0-14 tahun 167.989 41.207 1.667 116. sedangkan pada awal tahun 2005 jumlah penduduk adalah 756.b.939 46.941 2 Kepadatan Penduduk (Jiwa/km2) 507 509 3 Pertumbuhan Penduduk 3.941 jiwa dengan pertumbuhan penduduk sebesar 0.947 510 1.39%) 4 Mutasi Penduduk 5.1.933 (0. Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan penduduk di Kabupaten Gunungkidul tidak mengalami pertambahan penduduk yang cukup signifikan tetapi pada kenyataannya tetap bertambah jumlahnya walau hanya dalam jumlah yang relatif kecil.684 Lahir 2.

4.675 juta rupiah dengan kontribusi terbesar diberikan oleh sektor pertanian yakni sebesar 1.164 206. Pendapatan Regional Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu pencerminan kemajuan perekonomian suatu daerah.Gas dan Air 6. PDRB Kabupaten Gunungkidul menurut Lapangan Usaha atas dasar harga berlaku tahun 2003 sebesar 2. PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO Kabupaten Gunungkidul Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku (jutaan rupiah) Tahun 2001 – 2003 No Lapangan Usaha 2001* 2002** 2003*** 1 Pertanian 983.178 371.008.119 99.070.550 9.845 182.515 1.855 Penggalian 3 Industri Pengolahan 297.1.070.858 juta rupiah atau 37.87 persen kemudian disusul oleh sektor perdagangan dengan sumbangan sebesar 394.827.149 200.654 2.430.085 338.623 171.149 juta rupiah atau 13. yang didefinisikan sebagai keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dalam waktu satu tahun si wilayah tersebut.510 105.459 6 Perdagangan 316. *** = angka estimasi .537 4 Listrik.806 1.642.67 5.108 85.193 388.489 Bersih 5 Bangunan 160.591 376.Sewa dan Jasa 90.858 2 Pertambangan dan 73.827.482 2.032 86.675 Sumber : BPS Kabupaten Gunungkidul Ket.4.507 PDRB 2.333 7.142 Perusahaan 9 Jasa-jasa 302. Hal ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini.1.94 persen.760 394. TABEL 5.944 348.780 218.679 7 Pengangkutan dan Komunikasi 8 Keuangan.

. karena dilihat dari status pekerjaan utama.27 persen dengan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 2.10 persen dari jumlah penduduk yang bekerja. pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 1. ternyata memberikan dampak pada berkurangnya penduduk miskin di Kabupaten Gunungkidul.300 jiwa atau 54.90 persen. Diantaranya pengentasan kemiskinan dan kesempatan kerja penuh bagi masyarakat Kabupaten Gunungkidul melalui pemberdayaan sektor perdagangan yaitu usaha mikro.35 persen. sebagian besar penduduk Kabupaten Gunungkidul bekerja sebagai pekerja keluarga (usaha mikro) yakni sekitar 37. jumlah penduduk miskin di Kabupaten Gunungkidul tahun 2003 berkurang menjadi 173.794 jiwa atau 25. Laju pertumbuhan ekonomi yang dicapai hingga tahun 2003. Pertumbuhan ekonomi ini sangat diharapkan oleh pemerintah Kabupaten Gunungkidul karena pada tahun 2002. pemerintah Kabupaten Gunungkidul akan berusaha seoptimal mungkin guna meningkatkan pertumbuhan ekonominya dalam rangka mencapai tujuan pembangunan daerah Kabupaten Gunungkidul yakni terwujudnya kemandirian dan peningkatan taraf hidup kesejahteraan masyarakat.68 ** = angka sangat sementara * = angka sementara Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Gunungkidul tahun 2003 mencapai 2.08 persen. Tahun 2000 jumlah penduduk miskin sebesar 362.08 persen yang dicapai pada tahun 2003. Sehingga kedepannya.

Pasar Karangijo Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong Kecamatan Ponjong yang mewakili sub daerah pedesaan. Daerah penelitian dilaksanakan di Pasar Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta Kabupaten Gunungkidul. yaitu Pasar Argosari Desa Wonosari Kecamatan Wonosari yang mewakili sub daerah perkotaan. Paliyan.69 5. Rongkop. Gedangsari. Karangmojo. Pasar Tengeran Desa Gedangrejo Kecamatan Karangmojo yang mewakili daerah sub urban. Kabupaten Gunungkidul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.485. Tanjungsari. Patuk. Ngawen dan Semin.1. Wonosari. Saptosari. Purwosari. Pembagian Wilayah Luas wilayah Kabupaten Gunungkidul adalah 1.1. 5. Playen.2.2. Nglipar. dan Pasar Legundi Desa Girimulyo Kecamatan Panggang yang mewakili sub daerah pedesaan. Girisubo. Tepus. Batas Wilayah Desa Wonosari adalah sebagai berikut : 1) Sebelah Utara 2) Sebelah Selatan 3) Sebelah Timur 4) Sebelah Barat : Desa Piyaman : Desa Baleharjo : Desa Selang : Desa Kepek . 5. Wilayah Desa Wonosari Desa Wonosari merupakan bagian dari wilayah kecamatan Wonosari.36 km2 yang meliputi 18 Kecamatan dan 144 Desa/Kelurahan. yaitu Kecamatan Panggang. Semanu.1. pegunungan dan pantai selatan. Ponjong.2.

Curah hujan b.8000 Ha : 148. Berbukit : 70% dari luas wilayah : 30% dari luas wilayah : 0% dari luas wilayah : 1928 mm/tahun : 6 bulan : 6 bulan : 25-28°C  : 350 M 5.2.6500 Ha : 159. Jarak dari Ibukota Kabupaten c. yang terdiri dari : 1.0150 Ha : 0.1. Tanah kering tegal 2.9264 Ha : 1. Jarak dari Pusat Pemerintah Kecamatan : 1 Km b. Jarak dari Ibukota Propinsi : 1 Km : 45 Km .1.1.4. Pekarangan 3.2.2000 Ha 5. Fasilitas Umum a.2. Jumlah bulan kering d. Luas Wilayah Desa Wonosari adalah 302.  Suhu rata-rata e. Lapangan c. Kas Desa b.2. Bergelombang c. Kondisi Geografis Desa Wonosari adalah : 1.8913 Ha. Orbitasi (jarak dari pusat pemeritah desa) a. Tinggi tempat 2. Datar b. Iklim a. Kantor Pemerintah : 0.3.70 5. Bentuk wilayah a. Jumlah bulan basah c.

b.1. Penduduk Daerah Penelitian a.5. Jumlah Penduduk Desa Wonosari menurut Jenis Kelamin Adapun Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin yang ada di Desa Wonosari dapat terlihat dari tampilan tabel di bawah ini : TABEL 5.1.018 jiwa Sumber : Monografi Wilayah Desa Wonosari 2005 Dari data diatas penduduk yang paling banyak jumlahnya adalah berjenis kelamin perempuan yaitu berjumlah 4.018 jiwa.510 jiwa 9.71 5.2.5.a.2. Jumlah Penduduk Desa Wonosari menurut Umur TABEL 5. Jumlah Penduduk Desa Wonosari menurut Umur pada tahun 2005 No Umur Jumlah (jiwa) 1 2 3 4 0 – 3 Tahun 4 – 6 Tahun 7 – 12 Tahun 13 – 15 Tahun 424 363 949 461 .1.2.5.508 jiwa 4.510 jiwa dari total penduduk 9. b. Jumlah Penduduk Desa Wonosari menurut Jenis Kelamin pada tahun 2005 Jenis Kelamin Jumlah Penduduk Laki – laki Perempuan Total 4.

261 7.72 5 6 16 – 18 Tahun 19 Tahun keatas Total 443 5.901 jiwa.261 jiwa dan usia yang paling sedikit adalah usia 4 – 6 Tahun yaitu sebanyak 363 jiwa dari total keseluruhan penduduk menurut Usia pada tahun 2005 yaitu sebanyak 7.581 jiwa 801 jiwa 6. Jumlah Penduduk Desa Wonosari menurut Usia Kelompok Tenaga Kerja pada tahun 2005 No Usia Jumlah Tenaga Kerja 1 2 3 4 5 6 10 – 14 Tahun 15 – 19 Tahun 20 – 26 Tahun 27 – 40 Tahun 41 – 56 Tahun 57 Tahun keatas Total 690 jiwa 761 jiwa 1.042 jiwa 1.901 jiwa Sumber : Monografi Wilayah Desa Wonosari 2005 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa penduduk di Desa Wonosari menurut Umur yang paling banyak adalah penduduk dengan usia 19 Tahun keatas yaitu sebanyak 5. Jumlah Penduduk Desa Wonosari menurut Usia Kelompok Tenaga Kerja TABEL 5.2.820 jiwa Sumber : Monografi Wilayah Desa Wonosari 2005 .5.c.946 jiwa 1. c.1.

1.057 2.2.2.1.d.73 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa penduduk di Desa Wonosari menurut Usia Kelompok Tenaga Kerja yang paling banyak adalah penduduk dengan usia 27 – 40 Tahun yaitu sebanyak 1.d.5.820 jiwa.037 704 5. Jumlah Penduduk Desa Wonosari menurut Tingkat Pendidikan pada tahun 2005 No Pendidikan Jumlah (jiwa) 1 2 3 4 5 6 Belum sekolah Tamat SD Tamat SMP Tamat SLTA Tamat Akademi Tamat Perguruan Tinggi Total 511 1. d.082 1.391 jiwa Sumber : Monografi Wilayah Desa Wonosari 2005 Berdasarkan tabel 5. dapat diketahui bahwa penduduk di Desa Wonosari menurut Pendidikan yang paling banyak adalah penduduk . Jumlah Penduduk Desa Wonosari menurut Tingkat Pendidikan TABEL 5.946 jiwa dan usia kerja yang paling sedikit adalah usia 10 – 14 Tahun yaitu sebanyak 690 jiwa dari total keseluruhan penduduk usia Kelompok Tenaga Kerja pada tahun 2005 yaitu sebanyak 6.5.

5. Jumlah Penduduk Desa Wonosari menurut Agama pada tahun 2005 No Agama Jumlah Pemeluk Agama 1 2 3 4 5 6 Islam Kristen Katholik Hindu Budha Kepercayaan Total 5.1.037 jiwa dan penduduk yang paling sedikit adalah Belum Sekolah yaitu sebanyak 511 jiwa dari total keseluruhan penduduk menurut Pendidikan pada tahun 2005 yaitu sebanyak 5.901 jiwa Sumber : Monografi Wilayah Desa Wonosari 2005 Berdasarkan tabel 5. dapat diketahui bahwa penduduk di Desa Wonosari menurut Agama yang paling banyak adalah Pemeluk Agama Islam yaitu 5.391 jiwa. e. Jumlah Penduduk Desa Wonosari menurut Agama TABEL 5.e.e.1. .5.461 jiwa dan yang paling sedikit adalah agama Hindu yaitu sebanyak 16 jiwa pemeluk.74 yang Tamat SLTA yaitu sebanyak 2. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk desa Wonosari adalah pemeluk agama Islam.461 jiwa 1.743 jiwa 681 jiwa 16 jiwa 7.2.2.

113 jiwa Sumber : Monografi Wilayah Desa Wonosari 2005 Berdasarkan tabel 5. dapat diketahui bahwa penduduk di Desa Wonosari menurut Mata Pencaharian yang paling banyak adalah bermata pencaharian Wiraswasta yaitu sebanyak 894 jiwa dan yang paling sedikit adalah bermata pencaharian Buruh Tani yaitu sebanyak 42 jiwa. .75 f. Jumlah Penduduk Desa Wonosari menurut Mata Pencaharian pada tahun 2005 No Jenis Mata Pencaharian Jumlah (jiwa) 1 2 3 4 5 6 7 Pegawai Negeri Sipil TNI / POLRI Swasta / PT Petani Pemilik Tanah Buruh Tani Wiraswasta Pensiunan Total 397 186 198 339 42 894 57 2.f.1.f.5. Jumlah Penduduk Desa Wonosari menurut Mata Pencaharian TABEL 5.5.2.2.1. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa Wonosari adalah Wiraswasta.

2.2.6075 Ha : 22. Tanah Bengkok b. Sawah dan Ladang c. : Desa Jatiayu : Desa Ngipak : Ngawis : Desa Karangmojo Luas Wilayah Desa Gedangrejo adalah 706.2595 Ha : 13.4750 Ha : 35.2725 Ha : 386.2.2. Berdasarkan Peruntukkan dan Penggunaannya.2.0895 Ha 2.76 5. 5.5220 Ha.2. Berdasarkan Status Pertanahannya meliputi Tanah Kas Desa yaitu : a. Pekarangan : 3. Tanah Desa Lainnya : 27.2. Wilayah Desa Gedangrejo Desa Kecamatan Gedangrejo Karangmojo.1700 Ha : 14. Batas Wilayah Desa Gedangrejo adalah sebagai berikut: 1) Sebelah Utara 2) Sebelah Selatan 3) Sebelah Barat 4) Sebelah Timur 5.7935 Ha . yang terdiri dari : 1. Jalan b. Tanah terbagi atas : a. merupakan Kabupaten bagian dari wilayah Propinsi Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta.1. Jalur Hijau d. Pekuburan e.

2. Tegalan 5.2. : 32.2.1700 Ha : 236. Jarak dari Ibukota Propinsi d.5.2.4.a. Jumlah Penduduk Desa Gedangrejo menurut Jenis Kelamin Adapun Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin yang ada di Desa Gedangrejo dapat terlihat dari tampilan tabel di bawah ini : TABEL 5. Jarak dari Ibukota Kabupaten c.laki Perempuan Total 2.953 jiwa Sumber : Data Monografi Desa Gedangrejo .3. Penduduk Daerah Penelitian a.5.2.059 jiwa 5. Perladangan g.2.2.77 f. 5. Jarak dari Ibukota Negara : 9 Km : 49 Km : 850 Km 5.5280 Ha Kondisi Geografis Desa Gedangrejo adalah meliputi Ketinggian Tanah dari permukaan laut yaitu 150 Sampai dengan 200 M. Orbitasi (jarak dari pusat pemeritah desa) a.2. Jumlah Penduduk Desa Gedangrejo menurut Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Penduduk Laki .894 jiwa 3. Jarak dari Pusat Pemerintah Kecamatan : 1 Km b.

059 jiwa dari total penduduk 5.093 jiwa dan usia yang paling sedikit adalah usia 13 – 15 Tahun yaitu sebanyak 230 jiwa dari total keseluruhan penduduk menurut Usia pada tahun 2005 yaitu sebanyak 4.2. b.b. Jumlah Penduduk Desa Gedangrejo menurut Umur Kelompok Pendidikan TABEL 5.953 jiwa.677 jiwa Sumber : Data Monografi Desa Gedangrejo Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa penduduk di Desa Gedangrejo menurut Umur Kelompok Pendidikan yang paling banyak adalah penduduk dengan usia 19 Tahun keatas yaitu sebanyak 3.5.78 Dari data diatas penduduk yang paling banyak jumlahnya adalah berjenis kelamin perempuan yaitu berjumlah 3. .677 jiwa.2.093 4. Jumlah Penduduk Desa Gedangrejo menurut Umur Kelompok Pendidikan No Umur Jumlah (jiwa) 1 2 3 4 5 6 0 – 3 Tahun 4 – 6 Tahun 7 – 12 Tahun 13 – 15 Tahun 16 – 18 Tahun 19 Tahun keatas Total 310 374 391 230 279 3.

347 jiwa dan usia kerja yang paling sedikit adalah usia 20 – 26 Tahun yaitu sebanyak 542 jiwa dari total keseluruhan penduduk usia Kelompok Tenaga Kerja pada tahun 2005 yaitu sebanyak 5.5. Jumlah Penduduk Desa Gedangrejo menurut Usia Kelompok Tenaga Kerja TABEL 5.092 jiwa.c. d. Jumlah Penduduk Desa Gedangrejo menurut Tingkat Pendidikan Umum .347 jiwa 5.092 jiwa Sumber : Data Monografi Desa Gedangrejo Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa penduduk di Desa Gedangrejo menurut Usia Kelompok Tenaga Kerja yang paling banyak adalah penduduk dengan usia 57 Tahun keatas yaitu sebanyak 1.2.79 c.2. Jumlah Penduduk Desa Gedangrejo menurut Usia Kelompok Tenaga Kerja No Usia Jumlah Tenaga Kerja 1 2 3 4 5 6 10 – 14 Tahun 15 – 19 Tahun 20 – 26 Tahun 27 – 40 Tahun 41 – 56 Tahun 57 Tahun keatas Total 627 jiwa 638 jiwa 542 jiwa 949 jiwa 989 jiwa 1.

dapat diketahui bahwa penduduk di Desa Gedangrejo menurut Tingkat Pendidikan Umum yang paling banyak adalah penduduk yang berpendidikan Sekolah Dasar (SD) yaitu sebanyak 1.2.d.80 TABEL 5. e.875 664 1.5.472 62 73 4.d.2.875 jiwa dan penduduk yang berpendidikan paling sedikit adalah Akademi/D1 – D3 yaitu sebanyak 62 jiwa dari total keseluruhan penduduk menurut Tingkat Pendidikan Umum yaitu sebanyak 4. Jumlah Penduduk Desa Gedangrejo menurut Tingkat Pendidikan Umum No Tingkat Pendidikan Jumlah (jiwa) 1 2 3 4 5 6 Taman Kanak-kanak Sekolah Dasar SMP / SMTP SMA / SMTA Akademi / D1 – D3 Sarjana ( S1 – S3 ) Total 131 1.277 jiwa Sumber : Data Monografi Desa Gedangrejo Berdasarkan tabel 5.2.2. Jumlah Penduduk Desa Gedangrejo menurut Agama .5.277 jiwa.

851 jiwa dan yang paling sedikit adalah agama Kristen Katholik yaitu sebanyak 46 jiwa pemeluk.2.5. Jumlah Penduduk Desa Gedangrejo menurut Agama No Agama Jumlah Pemeluk Agama 1 2 3 4 5 6 Islam Kristen Katholik Hindu Budha Kepercayaan Total 5.953 jiwa Sumber : Data Monografi Desa Gedangrejo Berdasarkan tabel 5.5.2. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk desa Gedangrejo adalah pemeluk agama Islam. f.851 jiwa 56 jiwa 46 jiwa 5.e.2.81 TABEL 5.e. dapat diketahui bahwa penduduk di Desa Gedangrejo menurut Agama yang paling banyak adalah Pemeluk Agama Islam yaitu 5. Jumlah Penduduk Desa Gedangrejo menurut Mata Pencaharian .2.

074 jiwa Sumber : Data Monografi Desa Gedangrejo Berdasarkan tabel 5.2.5.f.f.2.2.950 527 602 86 85 7 4. dapat diketahui bahwa penduduk di Desa Gedangrejo menurut Mata Pencaharian yang paling banyak adalah bermata pencaharian Tani yaitu sebanyak 1.2.950 jiwa dan yang paling sedikit adalah bermata pencaharian sebagai ABRI yaitu sebanyak 3 jiwa. Jumlah Penduduk Desa Gedangrejo menurut Mata Pencaharian No Jenis Mata Pencaharian Jumlah (jiwa) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Pegawai Negeri Sipil ABRI Karyawan Swasta Wiraswasta/Pedagang Tani Pertukangan Buruh Tani Pensiunan Jasa POLRI Total 279 3 77 458 1.5. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa Gedangrejo adalah Tani.82 TABEL 5. .

2) Sebelah Timur Ponjong.2.1. 4) Sebelah Barat Desa Ponjong.2.3. Kabupaten Gunungkidul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Batas Wilayah Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong adalah sebagai berikut : 1) Sebelah Utara Genjahan. Jumlah Penduduk Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong menurut Jenis Kelamin Adapun Jumlah Penduduk menurut Jenis Kelamin yang ada di Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong dapat terlihat dari tampilan tabel di bawah ini : : Padukuhan Karangijo Kulon : Padukuhan Sumber Kidul : Padukuhan Sumber Lor Desa : Padukuhan Pathi Desa . 5. 5.83 5.2. 3) Sebelah Selatan Desa Ponjong.2. Wilayah Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong merupakan bagian dari wilayah kecamatan Ponjong.3.3. Penduduk Daerah Penelitian a.

b. Jumlah Penduduk Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong menurut Mata Pencaharian pada tahun 2005 No Jenis Mata Pencaharian Jumlah (jiwa) 1 2 3 4 5 6 7 8 Petani Nelayan Kerajinan Buruh Bangunan Pegawai Negeri Sipil TNI / POLRI Bidan Perawat 55 15 10 17 35 1 1 2 .2.84 TABEL 5.3. Dari data diatas penduduk yang paling banyak jumlahnya adalah berjenis kelamin perempuan yaitu berjumlah 259 jiwa dari total penduduk 489 jiwa.2.laki Perempuan Total 230 jiwa 259 jiwa 489 jiwa Sumber : Monografi Kota Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong 2005.2.2. Jumlah Penduduk Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong menurut Jenis Kelamin pada tahun 2005 Jenis Kelamin Jumlah Penduduk Laki .a.b.3. Jumlah Penduduk Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong menurut Mata Pencaharian TABEL 5.

2. dapat diketahui bahwa penduduk di Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong menurut Mata Pencaharian yang paling banyak adalah bermata pencaharian Petani yaitu sebanyak 55 jiwa dan yang paling sedikit adalah bermata pencaharian sebagi TNI / POLRI dan Bidan yaitu sebanyak 1 jiwa. Jumlah Penduduk Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong menurut Struktur Umur TABEL 5. c. Jumlah Penduduk Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong menurut Struktur Umur pada tahun 2005 No Umur Jumlah (jiwa) 1 2 3 0 – 25 Tahun 26 – 60 Tahun 60 Tahun keatas Total 125 189 175 489 jiwa Sumber : Monografi Kota Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong 2005 .b.3.3.c. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong adalah Petani.2.85 9 10 Pedagang Lainnya Total 4 20 160 jiwa Sumber : Monografi Kota Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong 2005 Berdasarkan tabel 5.2.2.

d. Jumlah Penduduk Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong menurut Agama TABEL 5.3.2.2. Jumlah Penduduk Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong menurut Agama pada tahun 2005 No Agama Jumlah Pemeluk Agama 1 2 3 4 5 Islam Kristen Katholik Hindu Budha Total 488 jiwa 1 jiwa 489 jiwa Sumber : Monografi Kota Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong 2005 Berdasarkan tabel 5.2. dapat diketahui bahwa penduduk di Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong menurut Agama yang paling banyak .86 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa penduduk di Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong menurut Struktur Umur yang paling banyak adalah penduduk dengan usia 26 – 60 Tahun yaitu sebanyak 189 jiwa dan usia yang paling sedikit adalah usia 0 – 25 Tahun yaitu sebanyak 125 jiwa dari total keseluruhan penduduk menurut Struktur Usia pada tahun 2005 yaitu sebanyak 489 jiwa.3.d.d.2.

2. dapat diketahui bahwa penduduk di Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong menurut Pendidikan yang paling banyak adalah penduduk yang Tamat SMP yaitu sebanyak 150 jiwa dan penduduk yang paling sedikit adalah Perguruan Tinggi yaitu sebanyak 20 . Jumlah Penduduk Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong menurut Pendidikan pada tahun 2005 No Pendidikan Jumlah (jiwa) 1 2 3 4 5 6 Tidak sekolah Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA / SMK Akademi Perguruan Tinggi Total 40 97 150 147 35 20 489 jiwa Sumber : Monografi Kota Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong 2005 Berdasarkan tabel 5.2.3. Hal ini menunjukkan bahwa hampir semua penduduk Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong adalah pemeluk agama Islam.87 adalah Pemeluk Agama Islam yaitu 488 jiwa dan yang paling sedikit adalah agama Kristen yaitu sebanyak 1 jiwa pemeluk.e.2.e. e.3.2. Jumlah Penduduk Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong menurut Pendidikan TABEL 5.

Kepadatan Penduduk : 489 jiwa : 40 jiwa /km2 5. Penggunaan lahan terdiri dari : 1.2. : 1 Buah : 1 Buah : 2 Buah : 1 Buah Kepadatan Penduduk di Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong 1.2. Peribadatan 5. Perekonomian a.3. Warung d. Pasar b.2. Pendidikan 3. Toko c. SMA/SMK 2.3. Fasilitas Sosial di Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong 1. Luas Wilayah Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong adalah 2 Km2. Bank : 1 Buah : 17 Buah : 2 Buah : 2 Buah : 1 Buah : 1 Buah . Perdagangan 2.3.88 jiwa dari total keseluruhan penduduk menurut Pendidikan pada tahun 2005 yaitu sebanyak 489 jiwa. Pendidikan a. Jumlah Penduduk 2. 5.4. Perkantoran 4.3.5. TK b.

3640 Ha : 0.5 Ha b.2.89 e.2060 Ha .4.2.4 Ha 2. Wilayah Desa Girimulyo Desa Girimulyo merupakan bagian dari wilayah kecamatan Panggang. 5.4. Perkantoran c. yang penggunannya terdiri dari : 1. Pemukiman Umum b. Berdasarkan Penggunaannya. Tanah Kas Desa yakni Tanah Bengkok seluas 51. Kabupaten Gunungkidul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.2.8000 Ha : 5. Tanah hak milik yang telah bersertifikat adalah tanah seluas 29. Berdasarkan Status Pertanahannya meliputi : a. Batas Wilayah Kelurahan Girimulyo adalah sebagai berikut : 1) Sebelah Utara 2) Sebelah Selatan 3) Sebelah Barat 4) Sebelah Timur 5.2. : Desa Girisuko : Desa Girikarto : Desa Giriwungu : Desa Girisekar Luas Wilayah Desa Girimulyo adalah 1. Tanah terbagi atas : a.1. Lembaga Keuangan : 1 Buah 5.4.634.0000 Ha. Sekolah : 119.

Dataran 2.3.5. Perbukitan : 521. Sawah Tadah Hujan j. Pertokoan / Perdagangan e.6450 Ha : 17. Padang ilalang 5. Lapangan Sepakbola : 0. Perkebunan rakyat l.4. Kuburan / Makam h.0810 Ha o.2000 Ha : 2.5000 Ha n. Lapangan Bola Volley / Basket : 0. Keadaan Suhu Rata .0000 Ha : 1.7600 Ha : 1.113. Topografi atau Bentang Lahan Desa Girimulyo adalah : 1.2.6000 Ha : 0. Curah Hujan Rata – rata per Tahun adalah 1200 mm c. Ketinggian Tempat dari permukaan laut adalah 400 M b.rata adalah 30°C 5.90 d.7000 Ha : 1.3200 Ha : 1. : 945. Tanah kritis / tandus p.4.2.9500 Ha Kondisi Geografis Desa Girimulyo adalah : a.3000 Ha : 24. Padang Rumput / Stepa m.0000 Ha 5.7200 Ha : 1. Jalan i. Pasar f.4500 Ha : 1.2. Orbitasi (jarak dari pusat pemeritah desa) . Ladang / Tegalan k. Tempat Peribadatan g.4.0400 Ha : 515.4.

.

Jumlah Penduduk Desa Girimulyo menurut Golongan Usia No Golongan Usia Jumlah (jiwa) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 0 – 12 bulan 13 bulan – 4 tahun 5 – 6 tahun 7 – 12 tahun 13 – 15 tahun 16 – 18 tahun 19 – 25 tahun 26 – 35 tahun 36 – 45 tahun 46 – 50 tahun 51 – 60 tahun 61 – 75 tahun Lebih dari 76 tahun Total 225 132 275 199 264 260 284 508 907 496 541 591 764 5.92 TABEL 5.2.b.447 jiwa.6. .447 jiwa Sumber : Data Dasar Profil Desa Girimulyo Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa penduduk di Desa Giriharjo menurut Golongan Usia yang paling banyak adalah penduduk dengan usia 36 – 45 tahun yaitu sebanyak 907 jiwa dan usia yang paling sedikit adalah usia 13 bulan – 4 tahun yaitu sebanyak 132 jiwa dari total keseluruhan penduduk menurut Golongan Usia yaitu sebanyak 5.4.

Tingkat SD b.617 jiwa Persamaan (UPRES) a.2. Jumlah Penduduk Desa Girimulyo menurut Tingkat Pendidikan Umum TABEL 5.93 c.2.c.6. dapat diketahui bahwa penduduk di Desa Girimulyo menurut Tingkat Pendidikan Umum yang paling banyak adalah penduduk yang berpendidikan Sekolah Dasar (SD) yaitu sebanyak 631 jiwa dan penduduk yang berpendidikan paling sedikit adalah Perguruan Tinggi yaitu sebanyak 19 jiwa dari total .4.c. Tingkat SLTP Total 214 631 321 192 19 90 Sumber : Data Dasar Profil Desa Girimulyo Berdasarkan tabel 5.4. Jumlah Penduduk Desa Girimulyo menurut Tingkat Pendidikan Umum No Pendidikan Jumlah (jiwa) 1 2 3 4 5 6 7 Yang Tidak Tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA Tamat Perguruan Tinggi Kejar Paket A Mengikuti Ujian 120 30 1.6.

2.349 jiwa 66 jiwa 27 jiwa 5.349 jiwa dan yang paling sedikit adalah agama Katholik yaitu sebanyak 27 jiwa pemeluk.4.2.617 jiwa.4.6.d.6. Jumlah Penduduk Desa Girimulyo menurut Mata Pencaharian .94 keseluruhan penduduk menurut Tingkat Pendidikan Umum pada tahun 2005 yaitu sebanyak 1. e.d. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk desa Girimulyo adalah pemeluk agama Islam. d. dapat diketahui bahwa penduduk di Desa Girimulyo menurut Agama yang paling banyak adalah Pemeluk Agama Islam yaitu 5. Jumlah Penduduk Desa Girimulyo menurut Agama TABEL 5. Jumlah Penduduk Desa Girimulyo menurut Agama No Agama Jumlah Pemeluk Agama 1 2 3 4 5 Islam Kristen Katholik Hindu Budha Total 5.442 jiwa Sumber : Data Dasar Profil Desa Girimulyo Berdasarkan tabel 5.

.

Untuk Lantai 1 tersedia 157 unit kios dan 857 unit los pasar.580 m2 sedangkan sisanya pelayanan untuk umum. Gunungkidul. Pasar Argosari sepenuhnya dipegang oleh Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Gunungkidul dan di kelola langsung oleh Kantor Pengelolaan Pasar Kabupaten Gunungkidul. MCK sebanyak 1 unit. Adapun kondisi bangunan pasar argosari saat ini telah terbangun bangunan pasar yang baru dengan berlantai 2 diatas tanah dengan luas 16.3.1. Bak Sampah sebanyak 1 unit. Pasar ini sangat strategis karena terletak di Ibukota Kabupaten dan merupakan jalur transportasi angkutan umum maupun pribadi. Kantor pasar sebanayak 2 buah. salah satunya yaitu . Sedangkan untuk lantai 2 terdapat 113 unit kios. Dimana juga tersedia fasilitas lain di pasar tersebut diantaranya parkiran dan tempat bongkar muat barang yang luas. Daerah Penelitian 5. Wonosari. luas tanah yang efektif untuk berdagang adalah 7.96 5. 516 unit los dan 24 unit los makan. sehingga mudah dijangkau oleh para pedagang dan pembeli. Bank Pasar sebanyak 1 unit. Pasar Argosari Pasar Argosari terletak di Desa Wonosari Kecamatan Wonosari Kabupaten Gunungkidul. mulai dari subuh hingga pukul 4 sore.000 m2 tersebut. Aktifitas Pasar ini terjadi setiap hari.000 m2. dan Pos keamanan polisi sebanyak 1 unit. Dari luas tanah 16.3. Pasar Argosari berlokasi di Jalan Brigjen Katamso.

97

untuk pedagang arahan atau pedagang di luar los pasar. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Dinas Pasar Argosari, jumlah pedagang hingga saat ini terdiri dari : Pedagang yang menempati kios sebesar 108 pedagang, Pedagang yang menempati Los pasar sebanyak 920 pedagang sedangkan pedagang diluar los / pedagang arahan sebanyak 450 pedagang. Adapun realisasi pendapatan dari Pasar Argosari tahun 2005 dapat dilihat pada tabel di bawah ini : TABEL 5.3.1. Realisasi Pendapatan Pasar Argosari Tahun 2005 Bulan Jumlah realisasi pendapatan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Total Rp. 3.310.400 Rp. 3.696.400 Rp. 4.079.300 Rp. 3.712.300 Rp. 4.097.400 Rp. 3.721.400 Rp. 3.641.000 Rp. 4.143.800 Rp. 3.756.500 Rp. 1.716.200 Rp. 35.874.700

Sumber : Kantor Pengelolaan Pasar Kab. Gunungkidul

Dari

tabel

diatas

terlihat

bahwa

jumlah

realisasi

pendapatan dari pasar Argosari yang paling banyak jumlah realisasi pendapatannya adalah bulan Agustus 2005 yaitu sebesar

98

Rp. 4.143.800. Dan jumlah realisasi pendapatan terkecil yakni pada bulan Oktober 2005 yaitu sebanyak Rp. 1.716.200 dari total keseluruhan realisasi pendapatan pasar Argosari tahun 2005 adalah Rp. 35.874.700.

99

100 .

101 .

parkiran dan tempat bongkar muat barang.102 5.2. Cancangan hewan untuk hewan kecil. Pasar ini sangat strategis yang terletak di jalur angkutan umum. Fasilitas yang ada di pasar Tengeran antara lain Kantor Pasar sebanyak 2 unit. sehingga mudah dijangkau oleh para pedagang maupun pembeli.3. Bak sampah sebanyak 1 unit. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Dinas Pasar Tengeran. MCK sebanyak 1 unit. Pedagang yang menempati Los pasar sebanyak 140 pedagang sedangkan pedagang diluar los / pedagang arahan sebanyak 100 pedagang. yang telah terbangun 15 unit los pasar. dan sub terminal mikro bus. jumlah pedagang hingga saat ini terdiri dari : Pedagang yang menempati kios sebesar 15 pedagang. Gedangrejo. Adapun realisasi pendapatan dari Pasar Tengeran tahun 2005 dapat dilihat pada tabel di bawah ini : . mulai dari subuh hingga pukul 11 siang. Gunungkidul. Pasar Tengeran berlokasi di Jalan Lingkar. dan 15 unit kios pasar.306 m2. Pasar Tengeran sepenuhnya dipegang oleh Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Gunungkidul dan di kelola langsung oleh Kantor Pengelolaan Pasar Kabupaten Gunungkidul. Aktifitas Pasar ini hanya terjadi pada hari pasaran Pahing. Karangmojo. Pasar Tengeran Pasar Tengeran terletak di Desa Gedangrejo Kecamatan Karangmojo Kabupaten Gunungkidul. Pasar Tengeran dibangun di atas tanah dengan luas 5.

1.400 Rp.200 Rp.400.200.154. 1.588.279.371. 1.631.150 Rp.103 TABEL 5.200 Rp.779.950.779. 1.150 dari total keseluruhan realisasi pendapatan pasar Tengeran tahun 2005 adalah Rp. Dan jumlah realisasi pendapatan terkecil yakni pada bulan Februari 2005 yaitu sebanyak Rp. Realisasi Pendapatan Pasar Tengeran Tahun 2005 Bulan Jumlah realisasi pendapatan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Total Rp.397.450 Rp.900 Rp.279.950 Rp. 1. 1. 1. 1. 1. 14.3.644.750 Rp. . Gunungkidul Dari tabel diatas terlihat bahwa jumlah realisasi pendapatan dari pasar Tengeran yang paling banyak jumlah realisasi pendapatannya adalah bulan Januari 2005 yaitu sebesar Rp.500 Rp.2.450 Rp. 14. 1. 1.950 Sumber : Kantor Pengelolaan Pasar Kab.154.344. 1.167.

104 .

sehingga mudah dijangkau oleh para pedagang maupun pembeli.334 m2. Aktifitas Pasar ini hanya terjadi pada hari pasaran Pon dan Legi.3. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Dinas Pasar Karangijo. Pasar Karangijo sepenuhnya dipegang oleh Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Gunungkidul dan di kelola langsung oleh Kantor Pengelolaan Pasar Kabupaten Gunungkidul. Pasar ini sangat strategis yang terletak di jalur angkutan umum. mulai dari pukul 4 pagi hingga pukul 11 siang. Pedagang yang menempati Los pasar sebanyak 123 pedagang sedangkan pedagang diluar los / pedagang arahan sebanyak 180 pedagang. jumlah pedagang hingga saat ini terdiri dari : Pedagang yang menempati kios sebesar 47 pedagang.3. Adapun realisasi pendapatan dari Pasar Karangijo tahun 2005 dapat dilihat pada tabel di bawah ini : . Fasilitas yang ada di pasar Karangijo antara lain parkiran dan tempat bongkar muat barang. Pasar Karangijo dibangun di atas tanah dengan luas 4. dan sub terminal mikro bus. yang telah terbangun 17 unit los pasar. MCK sebanyak 1 unit. dan 59 unit kios pasar.105 5. Pasar Karangijo Pasar Karangijo terletak di Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul. Kantor Pasar sebanyak 1 unit.

1.612.100 Rp.300 Rp. 13. 1.595.800. 1.800 Rp.831.019. 1. 900.100.312. 1.200 dari total keseluruhan realisasi pendapatan pasar Karangijo tahun 2005 adalah Rp.3.100 Rp.628.3.612.125. 1. 1.700 Rp. 13.200 Rp. 900. 1.358.132.100 Sumber : Kantor Pengelolaan Pasar Kab.200 Rp.400 Rp.800 Rp.106 TABEL 5. Dan jumlah realisasi pendapatan terkecil yakni pada bulan Juli 2005 yaitu sebanyak Rp.831.500 Rp. . 1.708. 1. Gunungkidul Dari tabel diatas terlihat bahwa jumlah realisasi pendapatan dari pasar Karangijo yang paling banyak jumlah realisasi pendapatannya adalah bulan Maret 2005 yaitu sebesar Rp. Realisasi Pendapatan Pasar Karangijo Tahun 2005 Bulan Jumlah realisasi pendapatan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Total Rp.

107 .

Pasar ini masih tergolong pasar dengan skala kecil. tempat sampah dan bongkar muat barang. Gunungkidul. dan MCK sebanyak 1 unit. Pasar Legundi dibangun di atas tanah dengan luas 1. Pasar Legundi berlokasi di Jalan Desa Legundi. yang hanya terbangun 13 unit los pasar. Girimulyo. Beberapa kendala yang dialami oleh pasar Legundi adalah belum adanya tempat parker. jumlah pedagang hingga saat ini terdiri dari : Pedagang tetap sebesar 100 pedagang dan Pedagang tidak tetap sebanyak 40 pedagang. Pasar Legundi sepenuhnya dipegang oleh Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Gunungkidul dan di kelola langsung oleh Kantor Pengelolaan Pasar Kabupaten Gunungkidul. sehingga nampak bahwa tidak ada kios – kios di sekitar pasar. Fasilitas yang ada di pasar Karangijo antara lain Kantor Pasar sebanyak 1 unit. . Untuk saat ini kendala tersebut masih bias diatasi dengan memanfaatkan badan jalan.4. Aktifitas Pasar ini hanya terjadi pada hari pasaran Wage.472 m2. Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Dinas Pasar Legundi. Jaringan prasarana yang menuju ke pasar Legundi masih belum memadai. Pasar Legundi Pasar Legundi terletak di Desa Girimulyo Kecamatan Panggang Kabupaten Gunungkidul. mulai dari pukul 4 pagi hingga pukul 9 pagi.108 5.3. Panggang.

4.100 Rp.500 Sumber : Kantor Pengelolaan Pasar Kab. 325.575.600 Rp. Realisasi Pendapatan Pasar Legundi Tahun 2005 Bulan Jumlah realisasi pendapatan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Total Rp. Gunungkidul Dari tabel diatas terlihat bahwa jumlah realisasi pendapatan dari pasar Legundi yang paling banyak jumlah realisasi pendapatannya adalah bulan April 2005 yaitu sebesar Rp.3. 555.500. 269.700 Rp. Rp.100 Rp. 555. 3. .575.700 Rp.300.000 Rp. 409.800 Rp.000 Rp.300 Rp. Dan jumlah realisasi pendapatan terkecil yakni pada bulan Juni 2005 yaitu sebanyak Rp.100 dari total keseluruhan realisasi pendapatan pasar Legundi tahun 2005 adalah 3. 366. 439. 441. 182. 196.109 Adapun realisasi pendapatan dari Pasar Legundi tahun 2005 dapat dilihat pada tabel di bawah ini : TABEL 5.200 Rp. 390. 182.

110 .

4.36 17.78 2 625. Perilaku ini universal. sedang secara tidak langsung pinjaman itu digunakan untuk konsumsi.33 17.69 6 400.000 36. persentase tingkat keuntungan. dengan jumlah yang sedikit lebih besar.47 19.00 . Para peminjam (pedagang mikro) ingin mengembalikan pinjaman beserta bunganya.33 5 1. Pinjaman dari rentenir sangat diperlukan bagi para pedagang mikro untuk mendukung aktivitasnya baik secara langsung ataupun tidak. dan persentase tingkat bunga dalam satu bulan (2005) Tingkat Bunga (%) No Jumlah Pinjaman Keuntungan (%) (X2) (X1) (Y) 1 675.000 93.19 4 250. TABEL 5.300.000 39.4.00 7 200.00 20.13 20.000 33.000 107. Berikut data responden yang diperoleh peneliti melalui wawancara secara langsung pada pedagang mikro di pasar tradisional Gunungkidul.000 60.000 61.75 23. baik yang wajar hingga yang konsumtif. Pedagang mikro berjanji (dan terikat dengan janji itu) akan mengembalikan atau membayar kembali pinjaman tersebut sesuai dengan jangka waktu yang telah disepakati bersama. Secara langsung pinjaman tersebut untuk kegiatan produksi (aktivitas komersial mereka).14 25. Pinjaman Pedagang Mikro Pinjaman adalah suatu istilah yang menyatakan bahwa seseorang atau pedagang mikro akan membayar kembali dikemudian hari atas uang atau kredit yang diterimanya dari rentenir. Data jumlah responden. pinjaman pedagang mikro.20 3 520.111 5. dan disertai harapan dapat meminjam lagi setelah lunas.

000 200.000 386.77 25.00 .000 1.000 200.60 22.000 400.000 330.00 58.200.00 10.83 48.000 950.64 21.000 650.82 22.02 26.05 21.50 21.00 19.000 1.00 19.00 37.000 850.32 78.62 100.51 22.000 220.54 70.000 300.112 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 400.00 20.000 370.58 82.96 18.81 84.26 53.16 19.000 200.000 500.76 57.000 350.14 36.000 310.000.77 75.75 25.000 1.82 37.000 500.000 1.00 54.70 48.000 275.24 85.38 90.00 20.41 19.00 17.000 290.100.000 430.13 53.18 57.53 55.000 235.000 346.24 67.62 19.00 20.29 18.75 20.29 80.17 24.23 21.00 24.86 17.50 88.27 23.00 75.27 82.05 21.40 63.23 20.000 418.88 25.37 28.000 350.000 500.53 90.00 22.000 86.000 320.000 340.000 500.93 62.29 21.00 87.67 89.00 86.49 43.95 19.50 20.80 22.000 300.50 21.000.000 310.92 21.50 18.000 500.55 76.21 22.16 20.80 80.75 65.42 21.86 76.26 21.43 27.000 550.74 78.77 76.97 45.300.000 1.000 700.98 21.56 41.000.00 22.000 1.750.000 420.000 1.000 395.40 20.000 215.000 600.

000.000 300.63 108.20 38.500.000 1.63 35.50 20.00 22.500.57 20.75 30.43 19.77 84.36 21.00 20.80 25.000.18 20.000.000 500.67 75.29 66.15 18.00 18.55 105.25 19.000 370.72 86.50 21.00 23.00 19.23 71.00 18.00 64.00 20.000 530.84 39.17 18.000 1.46 88.000 1.11 60.75 22.50 20.000 500.50 17.000 600.91 31.00 26.50 81.000 700.000.000 330.24 50.64 21.00 96.00 84.00 16.50 18.000 500.000 300.000 1.50 19.47 38.00 18.000 1.000 300.00 35.80 49.00 21.000 1.00 17.67 73.23 20.11 49.000 400.41 48.300.43 22.000 350.000 1.000 500.08 73.88 22.100.00 .000 400.09 20.000 300.60 22.000 40.000 350.13 36.000 500.000 400.45 24.400.000 430.00 22.000 1.29 24.53 65.113 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 300.000 400.000 420.25 20.47 53.000 250.000 280.78 69.25 65.000 1.00 68.000 550.80 55.18 40.45 21.84 52.64 21.24 21.000 1.000 650.000 1.70 18.00 41.36 30.000 1.18 19.21 20.00 20.24 64.86 82.15 20.50 18.000 200.000.000 200.000 898.59 60.000.000 900.80 18.000 400.000.

00 18.97 37.000 650.85 21.75 18.000 300.50 99 45.67 77.33 20.000 1.86 21.000 50.75 20.000 350.000.60 67.74 45.114 96 97 98 99 100 101 102 103 530.06 74.000 400.000 450.71 775 20.000 450.67 18.00 .

artinya seorang pedagang mikro melakukan pinjaman sesuai dengan jangka waktu pinjaman.00 55. 1.115 140 141 142 143 200.50 % per bulan.80 76.000 500. Misalnya. 200. Dari variabel jumlah pinjaman. Dari 143 responden tersebut terdapat variabel-variabel yang diperlukan peneliti yaitu sebagai berikut : 5. .17 19.00 19.4. 1.000 1.000.1.500 dengan tingkat bunga sebesar 20.000 dengan lama angsuran 24 hari.000 200.000 diangsur selama 60 hari (2 bulan). sedangkan jumlah pinjaman tertinggi adalah sebesar Rp.000.000 76.50 22.50 25.000 dengan rata-rata jangka waktu angsuran selama 67 hari. jumlah pinjaman terkecil adalah sebesar Rp. Jumlah Pinjaman Variabel jumlah pinjaman dalam penelitian ini adalah pinjaman yang dilakukan oleh pedagang mikro dalam satu periode. maka pedagang mengangsur Rp. jumlah pinjaman sebesar Rp.000 dengan lama angsuran 100 hari.00 Keterangan : Y X1 X2 = Jumlah pinjaman dalam satu periode (Rp) = Keuntungan (dalam persentase) per bulan = Tingkat bunga pinjaman (dalam persentase) per bulan. 574.750. 23.20 95. Sedangkan rata-rata pinjaman dari 143 responden adalah sebesar Rp.

645.000 – (Rp. dengan perhitungan sebagai berikut : Keuntungan bersih = Keuntungan kotor .000 x 100 Keuntungan kotor per bulan = Rp.050.000 – (Rp.050.2.116 5.000) = Rp.000 = Rp.000 + Rp.000.4.050. 645.000 Bunga pinjaman per bulan Jumlah angsuran per bulan Modal sendiri Jawab : Keuntungan bersih = Keuntungan kotor . 200.000 = Rp. 205. 1.000) = Rp.000 . 1.(Bunga + angsuran) Keuntungan bersih Keuntungan bersih (%) = Jumlah pinjaman + Modal sendiri Contoh : Jumlah pinjaman = Rp. 200.000. 200.000 + Rp. 1.000 = Rp.000 = 53. 200.000 Keuntungan bersih Keuntungan bersih (%) = Jumlah pinjaman + Modal sendiri Rp. 1. 205.75 % x 100 x 100 = Rp.(Bunga + angsuran) = Rp. 1. 405. Keuntungan Variabel keuntungan merupakan keuntungan bersih per bulan yang diubah dalam persentase.

645. 5. Pasar Tengeran Desa Gedangrejo Kecamatan Karangmojo yang me Wetan Desa Ponjong Kecamatan Ponjong yang me pedesaan.68 % per bulan. Responden Daerah Penelitian Jumlah seluruh sampel dalam penelitian ini adalah 143 responden dari empat pasar tradisional di wilayah Kabupaten Gunungkidul.5. Tingkat Bunga Pinjaman Variabel tingkat bunga pinjaman ini dibuat dalam persentase dalam satu bulan.3. Perhitungan tersebut diperoleh dari : Bunga pinjaman per bulan (Rp) Tingkat bunga per bulan (%) = Jumlah pinjaman (Rp) x 100 5. dan P0n Karangijo wakilisubdaerah . Dari hasil perhitungan diperoleh bahwa tingkat bunga rata-rata dalam penelitian ini adalah 20. Pasar Argosari Desa Wonosari Kecamatan Wonosari yang mewakili sub daerah perkotaan. Keuntungan bersih per bulan adalah Rp.000 atau 53.4.75 %.117 Jadi.

5.2. Responden penelitian berdasarkan Tingkat Pendidikan di empat pasar tradisional di Kabupaten Gunungkidul tahun 2005 Tingkat Pendidikan Jumlah Responden SD SLTP SLTA Total 94 34 15 143 .laki Perempuan Total 28 115 143 5. TABEL 5.2.5.1. Responden penelitian berdasarkan Tingkat Pendidikan. Responden penelitian berdasarkan Jenis Kelamin di empat pasar tradisional di Kabupaten Gunungkidul tahun 2005 Jenis Kelamin Jumlah Responden Laki .118 TABEL 5.5.

446.565 . Hasil Analisis Regresi Dari hasil analisa data dengan menggunakan model regresi linier sebagai berikut : Y = βο + βıXı + β2X2 + e Dimana : Y X1 X2 0 = Pinjaman pedagang (dalam Rupiah) = Keuntungan bersih (dalam %) per bulan = Bunga pinjaman (dalam %) per bulan = Konstanta regresi = Koefisien regresi faktor X1 = Koefisien regresi faktor X2 = Variabel penganggu Didapat hasil perhitungan dengan bantuan Program Shazam versi 1 2 e 8.400 1992. Hasil Estimasi Regresi Koefisien Standard kesalahan 2.1.1 -96547 200.0 diperoleh hasil estimasi sebagai berikut : TABEL 6.21 1.090 Variabel Konstanta X1 X2 T-Statistik 12.119 BAB VI ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 6.985 -9.1.400 1003 10.

446. maka akan .1. model yang digunakan adalah regresi linier berganda maka parameter regresi merupakan koefisien dari variabel yang bersangkutan.1. artinya setiap penambahan 1 persen tingkat keuntungan.3709 yang menunjukkan bahwa secara variasi dari variabel independen mampu menjelaskan variasi dari variabel dependen sebesar 0.1. 6.49477E-08 : 0.3709 : 0.2.400 + 1992.3619 : 2.1 X1 – 96547 X2 Diperoleh bahwa : 6.30825E+08 Dari penelitian di atas.3709 yang menunjukkan bahwa secara statistik sebesar 37% dan sisanya 63% dijelaskan oleh variabel-variabel diluar model.1. 1992. Berdasarkan hasil estimasi data dalam bentuk persamaan linier adalah sebagai berikut: Y = 2. Pendugaan terhadap nilai koefisien regresi X1 yaitu Tingkat Keuntungan (dalam %) Tanda parameter koefisien regresi untuk X1 positif signifikan dengan nilai koefisien sebesar Rp.120 R-Square R-Square Adjusted Durbin-Watson Residual Sum Residual Variance Sum of Absolute Errors : 0.1209 : -0. R-Square yang diperoleh adalah sebesar 0.76861E+11 : 0.

Tengeran. maka hal ini sesuai dengan teori tingkat suku bunga klasik. Pendugaan terhadap nilai koefisien regresi X2 yaitu tingkat bunga pinjaman pedagang mikro. begitu juga sebaliknya. 1992.1. apabila tingkat bunga pinjaman meningkat akan menyebabkan penurunan terhadap permintaan jumlah pinjaman. jadi perubahan bunga .3. Dengan adanya peningkatan para pedagang mikro memiliki keinginan dan harapan untuk lebih memajukan usaha mereka yang salah satunya dengan cara mengadakan pinjaman ke lembaga formal dan informal untuk tambahan modal usaha. 6. maka akan menyebabkan penurunan terhadap jumlah pinjaman pedagang mikro di pasar tradisional Kabupaten Gunungkidul yaitu sebesar 96547 Rupiah. dan Legundi) di Kabupaten Gunungkidul akan mengalami peningkatan yaitu sebesar Rp. Karangijo. Jadi permintaan akan jumlah pinjaman akan meningkat apabila pendapatan dan keuntungan yang diterima pedagang mikro bertambah. artinya setiap penambahan bunga sebesar 1 persen.1.121 menyebabkan jumlah pinjaman pedagang mikro di pasar tradisional (Pasar Argosari. Tanda parameter koefisien regresi X2 negatif signifikan dengan nilai koefisien sebesar -96547. hal ini sesuai dengan teori permintaan dimana permintaaan akan suatu barang atau jasa akan meningkat apabila dari segi konsumen pendapatan dan keuntungan yang diterima meningkat.

.

maka akan semakin besar keinginan pedagang mikro untuk melakukan pinjaman.3.123 6. artinya ada pengaruh atau hubungan yang negatif dan signifikan antara bunga pinjaman dan jumlah pinjaman pedagang mikro dimana.645 1.3.565 dan t-tabel 1. . Pengujian secara parsial tingkat keuntungan 6. semakin tinggi bunga pinjaman maka akan semakin kecil keinginan pedagang mikro untuk melakukan pinjaman.2.645 sehingga Ho ditolak (negatif signifikan).985 dan t-tabel 1.985 GRAFIK 6.3.645 1.645 sehingga Ho ditolak (positif signifikan). Variabel Keuntungan (dalam persen) Dengan tabel Signifikan 5% diperoleh t-statistik sebesar 1.1. artinya ada pengaruh atau hubungan yang positif dan signifikan antara keuntungan dan jumlah pinjaman pedagang mikro dimana semakin tinggi keuntungan. Ho diterima Ho ditolak Ho ditolak -1.1. begitu juga sebaliknya. Variabel Tingkat Bunga Pinjaman (dalam persen) Dengan tabel signifikan 5% diperoleh t-statistik sebesar -9.

1. Penyimpangan Asumsi Klasik Dengan menggunakan metode OLS (Ordinary Least Square ) dengan menggunakan Program Shazam versi 8.645 GRAFIK 6. uji Heterokedastisitas dan uji Autokorelasi : 6.4.4. Pengujian secara parsial tingkat bunga 6.3. Salah satu metode untuk .0 untuk memperoleh penaksiran yang baik. Tidak ada Multikolinieritas diantara variabel independen c.645 1. Uji Multikolinieritas Uji multikolinieritas merupakan salah satu dari tiga fungsi yang akan dijelaskan didalam penyimpangan asumsi klasik. Tidak ada Autokorelasi dengan gangguan b. Uji multikolonieritas merupakan hubungan antar variabel bebas pada model regresi tertentu yang mengakibatkan meningkatnya nilai varian dari residual dan uji-t yang tidak signifikan.565 -1. Tidak ada Heterokedastisitas Berikut hasil uji Multikolinieritas.124 Ho diterima Ho ditolak Ho ditolak -9. model didasarkan pada asumsi penyederhanaan yang diasumsikan sebagai berikut : a.2.

TABEL 6.4.125 mengetahui ada tidaknya multikolinieritas dengan membandingkan koefisien determinasi (R2) dari regresi keseluruhan dengan koefisien determinasi parsial (r2) dari regresi antar variabel independen.3709 > 0. Untuk mendeteksi adanya Heterokedastisitas digunakan pengujian B-P-G TEST. Uji Heterokedastisitas Pengujian Heterokedastisitas ini dilakukan untuk melihat apakah variabel gangguan mempunyai varian yang sama untuk semua observasi.0901.2. pengujian YHAT. Hasil uji Multikolinieritas R2 </> r2 0.0901 Tidak ada Multikolinieritas Dari perolehan hasil regresi diperoleh bahwa nilai koefisien determinan (R2) adalah 0.4. uji ARCH TEST dengan cara meregres nilai absolut residual dari model estimasi terhadap variabel-variabel penjelas . hal ini menunjukkan bahwa R2 > r2 yang berarti tidak terdapat atau tidak terkena Multikolinieritas terhadap variabel.3709 > 0. jika ditemukan bahwa R2 < r2 pada model penelitian maka dari model tersebut terdapat Multikolinieritas dan sebaliknya jika R2 > r2 maka ini menunjukkan tidak terdapat Multikolinieritas.0901 No 1 Variabel X1 Keterangan Tidak ada Multikolinieritas 2 X2 0. 6.1.3709 dan koefisien determinan parsial (r2) 0.

E**2 ON LOG (YHAT**2).498 > 2 5.126 regresi model awal.064 > 2 5.84 ADA HETEROKEDATISITAS 2 E**2 ON (YHAT**2) 3 E**2 ON LOG (YHAT**2) 4 E**2 ON (B-PG)TEST BASED ON R2 16.84 15. E**2 ON (YHAT**2).84 TIDAK ADA HETEROKEDATISITAS ADA HETEROKEDATISITAS ADA HETEROKEDATISITAS 7.039 > 2 5. asumsi uji Heterokedastisitas menunjukkan ChiSquare hitung > Chi-Square tabel maka terdapat Heterokedastisitas.878 > 1 3.207 > 2 5.361 > 1 </> DF Chi Square tabel 3. tetapi jika Chi-square hitung < Chi-Square tabel berarti tidak terdapat heterokedastisitas.99 0.4.99 ADA HETEROKEDATISITAS BASED ON SSR 21.99 14.99 ADA HETEROKEDATISITAS 5 E**2 ON LAG (E**2) ARCH TEST 6 LOG (E**2) ON X (HARVEY) TEST 7 ABS (E) ON X (GLEJSER) TEST 25. E**2 ON (B-P-G) TEST (BASED ON R2. TABEL 6.2 Tabel Uji Heterokedastisitas No Pengujian Heterokedastisitas Chi Square hitung 1 E**2 ON THAT 15.84 ADA HETEROKEDATISITAS ADA HETEROSKEDASTISITAS Keterangan Kesimpulan yang diperoleh dari uji Heterokedastisitas dengan model pengujian-pengujian di atas yang telah dilakukan menunjukkan ada heteroskedastisitas pada pengujian E**2 ON THAT. BASED .654 > 1 3.498 < 1 3.

dan ABS (E) ON X (GLEJSER) TEST. 6. LOG (E**2) ON X (HARVEY) TEST. sehingga nilai R2 dan F-statistik yang dihasilkan cenderung sangat berlebihan. Uji Autokorelasi Uji Autokorelasi adalah hubungan antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain.28 = 2.37 GRAFIK 6.63 = 2. Konsekuensi adalah biasnya varian dengan nilai yang lebih kecil dari nilai sebenarnya.1. Uji Durbin Watson A B C D E 4-du : 4.4.127 ON SSR).28 4-dl 2.72 : 1.4.1209 4-du 2.3. Karena pada regresi dengan uji Hetcov di atas sudah memperhitungkan konsistensi standar error & covarian matrix -nya maka hasil regresi di atas sudah terbebas dari gangguan heteroskedastisitas.1.72 2.72 4-dl : 4.63 0 dl 1. Cara mendeteksi adanya Autokorelasi dengan membandingkan nilai Durbin-Watson statistik hitung dengan Durbin-Watson tabel yaitu: 4-du dan 4-dl du dl : 1.3.37 4 Keterangan: .63 du 1.

berarti ada Autokorelasi positif = Tidak ada Autokorelasi positif Ho* = Tidak ada Autokorelasi Negatif Berdasarkan perhitungan regresi komputer diperoleh hasil bahwa dari Durbin-Watson statistik hitung adalah 2. berarti ada Autokorelasi positif = daerah keragu-raguan = Menerima Ho dan Ho* atau kedua-duanya = Daerah keragu-raguan = Tolak Ho.128 A B C D E Ho = Tolak Ho. .1209 pada k = 2 dan = 5%.

Penelitian yang berjudul “DETERMINAN DARI KREDIT RENTENIR UNTUK PEDAGANG MIKRO” (Studi Kasus Pada Pedagang Mikro di Pasar Tradisional Gunungkidul. Yogyakarta) yang dilakukan pada tahun 2005 ini memiliki kesamaan dengan Penelitian yang dilakukan oleh Aditya Ambatirata yang berjudul “DETERMINAN DARI KREDIT PEDAGANG MIKRO” dengan studi kasus di Pasar . Dari tabel hasil estimasi regresi di atas terlihat bahwa Variabel Tingkat Bunga lebih dominan daripada Varibel Keuntungan dalam mempengaruhi Jumlah Pinjaman pedagang mikro di pasar tradisional Gunungkidul. 6. Hal ini dikarenakan seorang pedagang mikro tidak ingin dibebankan dengan tingkat bunga yang terlalu tinggi.2.3. 6.129 mengembangkan usahanya dan memperoleh keuntungan yang lebih besar lagi. Ini menunjukkan bahwa besar kecilnya perubahan tingkat bunga.5.5. yang berarti bahwa semakin meningkat tingkat bunga pinjaman maka akan menurunkan keinginan pedagang mikro untuk melakukan pinjaman. Perbandingan Terhadap Penelitian Yang Sama.6. Bunga Pinjaman (dalam %) Tingkat bunga pinjaman responden pedagang mikro berpengaruh negatif signifikan terhadap jumlah pinjaman pedagang mikro. Hal dapat dilihat pada nilai koefisien regresi dan nilai TStatistik dari masing-masing variabel Tingkat Bunga dan variabel Keuntungan. 6. akan sangat mempengaruhi jumlah pinjaman pedagang mikro.

130 Tradisional Sleman pada tahun 2004 dan Penelitian yang dilakukan oleh Ratna Ayu Widya Lestari yang berjudul “DETERMINAN DARI KREDIT PELEPAS UANG PEDAGANG MIKRO” dengan studi kasus di Pasar Tradisional Bantul pada tahun 2005. Berikut akan dibahas mengenai ketiga penelitian ini : 1. . Adapun variabel yang dipergunakan ketiga penelitian ini adalah Jumlah Pinjaman pedagang mikro sebagai Variabel Dependen (Y). Dari hasil analisis. baik penelitian ini dan penelitian Aditya Ambatirata serta penelitian Ratna Ayu Widya Lestari diketahui variabel tingkat keuntungan (X1) berpengaruh positif signifikan terhadap pinjaman pedagang mikro dimana apabila pedagang mikro memperoleh keuntungan yang tinggi maka pedagang mikro memiliki keinginan untuk meningkatkan pinjamannya. Variabel tingkat bunga dalam penelitian ini dan penelitian Aditya Ambatirata serta penelitian Ratna Ayu Widya Lestari berpengaruh negatif signifikan terhadap bunga pinjaman pinjaman pedagang. akan dimana meningkatnya tingkat menurunkan keinginan pedagang untuk meminjam. Dari pembahasan di atas dapat diketahui bahwa penelitian ini dan penelitian Aditya Ambatirata di Pasar Tradisional Sleman Yogyakarta serta penelitian Ratna Ayu Widya Lestari di Pasar Tradisional Bantul Yogyakarta tidak terdapat perbedaan. Tingkat Keuntungan (X1) dan Tingkat Bunga (X2) sebagai Variabel Independen (X). 2.

7. Keuntungan (dalam persen) Dilihat dari hasil regresi.1.0. .1. Dengan lebih tingginya tingkat keuntungan yang diperoleh pedagang mikro dibandingkan dengan tingginya tingkat bunga pinjaman. para pedagang mikro tetap melakukan pinjaman kepada rentenir. 7. Berikut penjelasan Variabel hasil pengolahan data dengan menggunakan bantuan program SHAZAM versi 8. variabel tingkat keuntungan sangat berpengaruh dalam menentukan besarnya jumlah pinjaman.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis dapat disimpulkan bahwa dari 143 orang responden yang merupakan pedagang mikro dengan ukuran Variabel Dependen (Y) yaitu Jumlah Pinjaman. Bunga Pinjaman (dalam persen) Adapun variabel tingkat bunga dalam penelitian ini kurang berperan dalam menentukan besarnya jumlah pinjaman karena meskipun tingkat bunga pinjaman per bulan relatif tinggi. maka tingginya tingkat bunga pinjaman bukanlah suatu kendala bagi pedagang mikro untuk melakukan pinjaman.2.1.131 BAB VII KESIMPULAN DAN IMPLIKASI 7. dan dua Variabel Independen (X) yaitu Tingkat Keuntungan (X1) dalam persen dan Tingkat Bunga Pinjaman (X2) dalam persen.

2. ketepatan waktu berarti bahwa penerimaan . sehingga peningkatan pendapatan akan terserap untuk memenuhi kebutuhan konsumsi (pangan) lebih dahulu dari pada untuk kepentingan meningkatkan investasi usaha. Oleh karena itu mereka memerlukan bantuan modal berupa kredit investasi atau kredit modal kerja sehingga mereka dapat meningkatkan produktivitas. Berdasarkan hasil penelitian ini. Hal yang terpenting untuk diperhatikan adalah agar tujuan dan upaya pemerintah diharapkan dapat membebaskan rakyat kecil khususnya pedagang mikro dari jeratan para rentenir yaitu dengan memperluas pelayanan fasilitas perbankan.132 7. Di satu sisi mereka miskin sehingga memerlukan modal untuk meningkatkan produktivitasnya. Kredit itu perlu murah yaitu bunga dan biaya-biaya lainnya haruslah serendah-rendahnya. Investasi yang dibiayai dari pinjaman rentenir tersebut masih relevan apabila pedagang mikro memiliki keuntungan yang tinggi dibandingkan dengan tingkat bunga pinjaman tersebut. pinjaman pedagang mikro kepada para rentenir dipandang sebagai sebuah investasi yang dibiayai dari pinjaman. Implikasi Kebijakan Pada umumnya pedagang mikro mempunyai kelemahan ganda. Di sisi lain kondisi fisik mereka lemah karena kekurangan gizi. diantaranya fasilitas pelayanan akan kredit (pinjaman) murah. Kemudian kredit tersebut haruslah mudah untuk memperolehnya yaitu prosedurnya hendaknya sederhana dan tidak berbelit-belit. dengan harapan agar usahanya lebih berkembang.

133 pinjaman agar pada waktu pinjamant .

Data Monografi Desa Gedangrejo Kecamatan Karangmojo Kabupaten Gunungkidul 2000. Yogyakarta. Laporan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Oleh Kantor Pengelolaan Pasar Kabupaten Gunungkidul Tahun 2005. 1994/1995. Monografi Wilayah Desa Wonosari Kecamatan Wonosari Kabupaten Gunungkidul 2005. Laporan Akhir.134 DAFTAR PUSTAKA Biro Bina Perekonomian Setwilda Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. “Peta Perpasaran (Pasar Milik Pemerintah Dati II) di Lima Kabupaten/Kotamadya Dati II Se-Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ”. . Data Dasar Profil Desa Girimulyo Kecamatan Panggang Kabupaten Gunungkidul 2002. Laporan Hasil Pendataan Prasarana dan Sarana Pasar Oleh Kantor Pengelolaan Pasar Kabupaten Gunungkidul Tahun 2005. Proyek Pembinaan dan Pengembangan Sarana Perekonomian Daerah. Peraturan Bank Indonesia Nomor : 3/PBI/2001 Tentang Proyek Kredit Mikro. Monografi Kota Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul 2005.

135

Boediono, “Ekonomi Makro”, Seri Sinopsis, Pengantar Ilmu Ekonomi, BPFEUGM, Yogyakarta, 1986. Boediono, “Ekonomi Mikro”, Seri Sinopsis, Pengantar Ilmu Ekonomi I, BPFEUGM, Yogyakarta, 1998. Danusaputro, Marjanto, dkk, “Monetisasi Pedesaan : Bunga Rampai Keuangan Pedesaan ” Edisi Kedua, Institut Bangkir Indonesia, Jakarta, 1997. Gudjarati, Damodar, “Basic Ekonometrics”, Alih Bahasa Zumarno Zain, Ekonometrika Dasar, Erlangga, Jakarta, 1989. Gitosudarmo, Indriyo dan Basri, “Manajemen Keuangan”, BPFE-UGM, Yogyakarta, 1994. Husnan, Suad, “Manajemen Keuangan”, BPFE-UGM, Yogyakarta, 1994. Husnan, Suad dan Suwarsono Muhammad, “ Studi Kelayakan Proyek”, UPP AMP, YKPN, Yogyakarta, 2000. Mubyarto dan Edy Suandi Hamid (eds), “Kredit Pedesaan di Indonesia ”, BPFEUGM, Yogyakarta, 1986. Muhamad, “Struktur dan Kebijakan Moneter dalam Ekonomi Islam”, PANGSAjurnal ekonomi dan pembangunan, Divisi Pangsa Pers HIMIESPA FE-UGM, Edisi 6/VI/Mei 2001. Majalah Ekonomika, “Kredit Tak Bertuah Bagi Usaha Mikro”, Hal. 07-12, Lembaga Pers Mahasiswa EKONOMIKA FE UII Yogyakarta, Edisi

01/Thn.XXIX/2005. Nugroho, Heru, “Uang, Rentenir dan Hutang Piutang di Jawa”, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001.

136

Sukirno, Sadono, “Pengantar Teori Makroekonomi ”, Bina Grafika, Jakarta, 1981. Samuelson, Paul A, and William D. Nordhaus, “MACROECONOMICS”, Fourteenth Edition, McGraw-Hill, Inc, 1992. Suhardjono, “Manajemen Perkreditan Usaha Kecil dan Menengah ”, UPP AMP, YKPN, Yogyakarta, 2003. Tambunan, Mangara, “Pidato Pelantikan Guru Besar ”, Institut Pertanian Bogor, 2002. Widarjono, Agus, “Ekonometrika”, Teori dan Aplikasi, untuk ekonomi dan bisnis, EKONISIA, Yogyakarta, 2005. Ambatirata, Aditya, “Determinan Dari Kredit Pedagang Mikro ” (Studi Kasus Pada Pedagang Mikro di Pasar Tradisional Sleman, Yogyakarta), Skripsi Fakultas Ekonomi, Tak Diterbitkan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2004. Ayu Widya Lestari, Ratna, “Determinan Dari Kredit Pelepas Uang Pedagang Mikro” (Studi Kasus Pada Pedagang Mikro di Pasar Tradisional Bantul, Yogyakarta), Skripsi Fakultas Ekonomi, Tak Diterbitkan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2005. Budi Utomo, Asmoro, “Analisa Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan KUK”, Studi Kasus Pengusaha Kecil Binaan Departemen Koperasi Kabupaten Dati II Temanggung Tahun 1996, Skripsi Fakultas Ekonomi, Tak Diterbitkan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 1997. Rahayu, Endah, “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Kredit Mikro Di Pasar Beringharjo ”, Skripsi Fakultas Ekonomi, Tak Diterbitkan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 2002.

137

Subagyo, Agus, “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kredit Investasi Bank-Bank Pemerintah Pada Sektor Industri Pasca Paket Januari 1990 ”, Skripsi Fakultas Ekonomi, Tak Diterbitkan, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, 1997. Abdullah, Ismeth (Anggota Dewan Redaksi Majalah WartaKop, saat ini bekerja di Batam sebagai Ketua Otorita Batam, dan Pj. Gubernur Riau Kepulauan), “Berbagai Masalah Yang Dihadapi Oleh Usaha Simpan Pinjam Koperasi Sebagai Lembaga Keuangan Mikro, infokop edisi 24 th.2004. http://www.smecda.com/deputi7/file_infokop/EDISI%2024/ismeth.htm Bambang Ismawan (Ketua Yayasan Bina Swadaya), “ Sektor Ekonomi Rakyat Dan Peran Keuangan Mikro”, 18/06/2004. http://www.gema-pkm.org/cgi-bin/gema.pl?p=001&id=41 Fillaili, Rizki, “A Profile Of Microbusinesses”, 2004.

http://www.smeru.or.id/newslet/2004/ed10/200410data.htm Bank Danamon, Tim, “Penelitian pasar di 8 kota besar terhadap 1000 pengusaha mikro dan kecil”, 2003. http://www.danamon.co.id/content_a.php?idCon=383&lng=1&mn=7&bn=39

.

1000000.0 530000. 300000.00000 92.0000 118.0 250000. 1000000. 300000.00000 18.75000 71.00000 20.00000 70.00000 20.0000 102.00000 88.0 300000.53000 65.74000 45.00000 18.80000 18.0 350000.29000 66.50000 23.0000 122.00000 74.67000 20.00000 25.67000 77.25000 18.0 800000.00000 23.63000 55.00000 20.0000 107.0 550000.60000 22.0 200000.50000 19.0000 116.50000 21.0 1000000.00000 26.43000 21. 900000.0000 106.33000 99.00000 21. 700000.0 350000.00000 68.0 1000000.09000 127.57000 22.0 1000000.98000 76.00000 22.0000 108.0 400000.84000 39.67000 75.0 1400000.18000 40.15000 20.00000 76. 350000.00000 66.0000 104.0 300000.00000 85.57000 82.139 61.46000 88.00000 82.00000 20.0 350000.0 500000.00000 72.0000 126.0 650000.0 400000.85000 21.24000 64.24000 50.00000 18.00000 65.57000 20.00000 17.75000 18.00000 67.0 1500000.45000 24.17000 18.0 49.18000 25.0 300000.29000 24.00000 26.00000 21.00000 48.0000 117.00000 77.80000 55.09000 20.0 200000.0 500000.0000 103.50000 17.00000 42.00000 70.0000 130.00000 78.0 400000.40000 40.0 400000.21000 20.0000 112.0 400000.11000 49.0000 105.82000 63.43000 19.00000 22.36000 19.00000 83.00000 99.29000 22.0 300000.80000 50.0 280000.0 1000000.00000 64.0 200000.24000 21.77000 84.00000 64.00000 86.00000 84.0000 109.20000 76.47000 53.0 200000. 250000.00000 70.0000 127.0000 121.00000 84.0 300000.23000 20.50000 67.50000 21.0000 129.0 500000.0000 125.00000 41.0000 124.18000 20.0 1000000.00000 66.0000 123.23000 71.86000 82.17000 20.00000 20.0000 115.0 500000.50000 18.50000 66.55000 105.0 330000. 500000.00000 25.0 500000.0 310000.0 500000.25000 19.84000 52.50000 .00000 20.0 530000.00000 96.15000 42.57000 25.63000 108.33000 20.86000 21.0 500000.00000 69.00000 100.50000 19. 370000.0 220000.63000 35.50000 45. 450000.00000 18.9400 98.25000 23.00000 18.0 500000.75000 80.00000 91.25000 20.50000 18.00000 63.75000 22.0 1300000.0 400000.0000 500000.46000 90.00000 87.0 1100000.00000 95.00000 97.00000 81.50000 20.00000 89.0 420000.00000 93.25000 17.67000 18.67000 73.75000 30.0000 128.00000 17.92000 20. 600000.0 1000000.00000 19.0 1000000. 200000.00000 79. 400000.86000 51.0000 120.0000 114.0000 119.0000 113.0 430000.06000 74.0 300000.88000 22.00000 73.0 260000.64000 21.00000 68.00000 98.00000 62.13000 36.70000 18.00000 90.50000 81.50000 20.75000 52.0 450000.0 400000.20000 37.50000 75.59000 60.00000 18.64000 21.97000 37.0000 101.0000 111.0000 110.41000 48.00000 94.0 1500000.0000 26.00000 71.75000 20.00000 80.00000 20.00000 96.18000 19.29000 24.60000 67.25000 65.71000 78.00000 75. 1500000.0000 35.

500000.94000 19.00000 17.57000 16.00000 87.0000 132.50000 29.0000 140.0 1000000.00000 .17000 19.0000 134.0 1000000.0000 136.50000 21.0000 137.0 250000.50000 77.00000 55.44000 76.50000 35.0000 141.50000 20.0 62.0 1000000.0000 133.17000 25.00000 17.0000 142.0000 139.20000 95. 500000.12000 74.0 1400000.0000 500000.67000 20.0 1000000.63000 72.0 200000.0000 143. 200000.0000 138.86000 18.140 131.50000 22.0000 135.80000 76. 900000.67000 17.25000 42. 700000.00000 19.00000 83.

67500E+06 0.78473E+11 ANALYSIS OF VARIANCE .000 0.30709E+06 32911.SEE RAMANATHAN (1992.24614E+06 -46138.2004E+06 12. NO.78544E+11 SHIBATA (1981) CRITERION = 0. 0.SC = 0.24646E+06 * I 0.AIC = 0.64191E+14 143.63292E+06 0.21 0.1 * .40000E+06 0.43867E+06 -0.2169 -96547.20000E+06 0.27724E+06 SUM OF SQUARED ERRORS-SSE= 0.11000E+07 0.LOG AIC = 25.13000E+07 0.69225E+06 0.FROM ZERO SS DF MS 0..57383E+06 LOG OF THE LIKELIHOOD FUNCTION = -1993.265 P-VALUE 0.79618E+06 -0.10760E+14 140.25000E+06 0.SAMPLE RANGE SET TO: 1.10000E+07 0.56 MODEL SELECTION TESTS .63497E+06 -0.17810E+14 0. *I 0.17104E+14 142.GCV = 0.76861E+11 0.NOTE.23497E+06 * I 0.76861E+11 STANDARD ERROR OF THE ESTIMATE-SIGMA = 0.63433E+13 2.2633 OBSERVED PREDICTED CALCULATED VALUE VALUE RESIDUAL 0. *I 0. 0.P.69117E+06 8833.19397E+06 I * 0. 143 USING HETEROSKEDASTICITY-CONSISTENT COVARIANCE MATRIX R-SQUARE = 0.6350 -3.049 0.000-0.80480E+11 RICE (1984) CRITERION = 0.14867E+06 * I 0.FROM MEAN SS DF MS 0.242) AKAIKE (1969) FINAL PREDICTION ERROR .21500E+06 21028.12118E+06 * I 0.66485E+06 -0.83505E+11 AKAIKE (1974) INFORMATION CRITERION .54348E+06 -0.4802 0.0000 4.10760E+14 140.FPE = 0.3619 VARIANCE OF THE ESTIMATE-SIGMA**2 = 0.10760E+14 MEAN OF DEPENDENT VARIABLE = 0.. 0.46708E+06 I * 0.43930E+06 I * 0.718 0.76861E+11 0.31716E+13 0. 0.1009E+05 -9. I* 0.60000E+06 0.SEE JUDGE ET AL.78405E+11 SCHWARZ (1978) CRITERION . (1985.086 SCHWARZ (1978) CRITERION .12045E+12 ANALYSIS OF VARIANCE .1 1003.57505E+06 -55051.722 P-VALUE 0.000 REGRESSION ERROR TOTAL F 231.44889E+12 REGRESSION ERROR TOTAL F 41.13070E+06 * I 0.30775E+06 I * 0.36485E+06 * I 0.53431E+14 3.1276 0. 0. 1.17500E+07 0.P.30000E+06 0.96636E+06 I X 0. COEFFICIENT AT MEANS 1992.565 0.3709 R-SQUARE ADJUSTED = 0.52000E+06 0. 0.66533E+06 -40334.40000E+06 0.167) CRAVEN-WAHBA (1979) GENERALIZED CROSS VALIDATION .84646E+06 -0. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 ESTIMATED STANDARD T-RATIO PARTIAL STANDARDIZED ELASTICITY COEFFICIENT ERROR 140 DF P-VALUE CORR.LOG SC = 25.148 MODEL SELECTION TESTS .78364E+06 0.34000E+06 0. *I 0.629 -0.62500E+06 0..38070E+06 -0.24464E+07 0.29000E+06 0.86070E+06 0. 0.141 |_* OUTPUT REGRESI 1 |_OLS Y X1 X2 / LIST ANOVA HETCOV REQUIRED MEMORY IS PAR= 37 CURRENT PAR= 500 OLS ESTIMATION 143 OBSERVATIONS DEPENDENT VARIABLE = Y .165 0.14348E+06 * I 0.985 0.78473E+11 (FPE IS ALSO KNOWN AS AMEMIYA PREDICTION CRITERION .000 VARIABLE NAME X1 X2 CONSTANT 1 OBS.PC) AKAIKE (1973) INFORMATION CRITERION .78508E+11 HANNAN AND QUINN (1979) CRITERION = 0. 0.70000E+06 0.

13000E+07 0.65000E+06 0.45889E+06 0.56228E+06 0.13315E+06 -0.142 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 0.19685E+06 0.59496E+06 -0.58758E+06 0.40000E+06 0.13000E+07 0. I I * I I * *I * I I * * I I * * I I* * I * I * I I * I * * I *I * I *I * I * I I * * I I* I* I * I* I * I * * I * I I * I* I * * I I * I * * I I * I * I * * I * I * I * I * *I *I I * * I I * I * I * * * I * I * I * I *I * I * I I I * * I * I * I * I I * * * * X .28077E+06 12310.70387E+06 0.50000E+06 0.39500E+06 0. 0.12594E+06 0.58642E+06 0.65126E+06 0.50000E+06 0.10209E+06 55758.41777E+06 0.95000E+06 0.62820E+06 0.72365E+06 0.55176E+06 0.79177E+06 0.74223E+06 0.37885E+06 0.20000E+06 0. 0.65604E+06 0.10000E+07 0.48676E+06 0.55000E+06 0.31000E+06 0.21928E+06 87721.84693E+06 0.23500E+06 0.70000E+06 0.70504E+06 0.32000E+06 0.42000E+06 0.22409E+06 -0.15126E+06 -99218.28192E+06 0.63496E+06 0.15307E+06 -0.56472E+06 0.15577E+06 0.44785E+06 0.50000E+06 0.14863E+06 -91296. -47889.64863E+06 0. -0.27500E+06 0.13418E+06 -90148.30165E+06 0.50000E+06 0.31000E+06 0.41786E+06 0.27635E+06 -0.11420E+06 0.60000E+06 0.36450E+06 0.57424E+06 0.48769E+06 -0.59015E+06 0.76979E+06 0.41800E+06 0. -0.55000E+06 0.38600E+06 0.65165E+06 0.44347E+06 0.23191E+06 0.31641E+06 0.22000E+06 0.10000E+07 0. 27930.89800E+06 0.13889E+06 0.78781E+06 0.24914E+06 57210.28000E+06 0.51750E+06 0.40000E+06 0. -0.64493E+06 0.34493E+06 0.53011E+06 -8582.44789E+06 0.73919E+06 0.53318E+06 -0. 0.36582E+06 0.10000E+07 0.90000E+06 0. -0.50000E+06 0.78318E+06 0.33000E+06 0.36366E+06 18076.18324E+06 -0.53000E+06 0.41781E+06 -98184.30000E+06 0.40000E+06 0.50000E+06 0.49424E+06 0.58100E+06 0.14785E+06 75812.15108E+06 -0.81900E+06 0.34600E+06 0.25000E+06 0.32207E+06 0.40000E+06 0.94274E+06 0.33000E+06 0.63634E+06 0.37000E+06 0.36504E+06 0.20000E+06 0.65429E+06 0.42576E+06 -0.65000E+06 0.60132E+06 0.14385E+06 -0.43528E+06 0.27419E+06 0.22858E+06 -54496.10000E+07 0.30000E+06 0.85000E+06 0. -31915.94824E+06 0.60086E+06 0.25929E+06 0.20000E+06 0.30000E+06 0.35000E+06 0.28733E+06 82137.67578E+06 0.14000E+07 0.49130E+06 0.26513E+06 0.59818E+06 0.23487E+06 0.81928E+06 0.48324E+06 0.7 0.42000E+06 0.11000E+07 0.16958E+06 -0.24220E+06 -53872.89791E+06 0. 0. 0.13829E+06 -0.46324E+06 -85450.43145E+06 0.15000E+07 0.15000E+07 0. -0. -0.52922E+06 0.10000E+07 0.44932E+06 0.37604E+06 -29316.35000E+06 0.80877E+06 0.66829E+06 0.31358E+06 -67775.35000E+06 0.81923E+06 0.59868E+06 0. 83592. -0.50000E+06 0.18580E+06 -0. 0.35000E+06 0.20000E+06 0.39177E+06 0.39274E+06 0.43000E+06 0.14279E+06 0.69123E+06 0.12000E+07 0.10000E+07 0.48733E+06 0.30000E+06 0.55594E+06 0.50000E+06 0.11011E+06 0.54892E+06 0.49909E+06 0. -0.10000E+07 0.56081E+06 -0.43979E+06 -0. 0.50000E+06 0. -0.43000E+06 0.36578E+06 0.30000E+06 0.24347E+06 -17505.

20000E+06 0.81372E+06 0.12 GROUPS OBSERVED 0.31256E+06 -79518.1 6.21199E+06 0.27415E+06 0.0 25.57427E+06 0.37000E+06 0.16458E+06 -0.9 CHI-SQUARE = 21.20000E+06 0.30000E+06 0.22907E+06 0.87229E+06 0.10000E+07 0. -0.60000E+06 0.0 5.10000E+07 0.24773E+06 0.3 13.8147 WITH STANDARD DEVIATION OF 0.62771E+06 -0.38482E+06 0.59015E+06 0. -50300.28757E+06 0.0 2.16936E+06 -14570. 0.3 2.72697E+06 0.40000E+06 0. 70934.10335E+07 0.78128E+06 0.10000E+07 0.19313E+06 -67573. 0. 81912.65887E+06 0. 0.49934E+06 0.72344E+06 0.40000E+06 0. -0.69016E+06 0. 0. 62575.26000E+06 0.26044E+06 12272.22000E+06 0.22255E+06 I * I I * * I I* * I * I * I * *I * I *I * I I * * I * I * I * I * I I * * I I * I * * I *I I* I * I * I I* * I * I * I * I I * I * * I * * I *I I * * * I *I I * * I I * I * I I * *I I* * I I * * I * * * * DURBIN-WATSON = 2.47415E+06 0. 0.35000E+06 0.88381E+06 0.50000E+06 0.91120E+06 0.59269E+06 0.50000E+06 0.40203E+06 49559.50000E+06 0.30000E+06 0.35000E+06 0.49477E-08 RESIDUAL VARIANCE = 0.0 35.10000E+07 0.57952E+06 0.45000E+06 0.50000E+06 0.25501E+06 -0.15000E+07 0.11619E+06 -99344.10000E+07 0.90851E+06 0.18628E+06 -0. 0.20641E+06 -74266.50000E+06 0.48461E+06 0.59911E+06 0.3709 RUNS TEST: 67 RUNS. -33511.4 27.42519E+06 0.53000E+06 0.56976E+06 0.67232E+06 0.40887E+06 0.29498E+06 0.72255E+06 0.50000E+06 0. -0.49072E+06 0.34961E+06 -0.4 6.40641E+06 0.4 27.36976E+06 -94983.12072E+06 76512.68278E+06 0.6791 COEFFICIENT OF SKEWNESS = 0.30000E+06 0.50000E+06 0.21872E+06 -0.19617E+06 88006.24269E+06 97967.20000E+06 0.143 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 0.28278E+06 -0. -0.56083E+06 0. -0.004 .0 0.42349E+06 0.0 25.9 2.10000E+07 0.20000E+06 0.1209 VON NEUMANN RATIO = 2.70000E+06 0.31083E+06 -0.0 8. -0.69666E+06 0. -90148.2027 COEFFICIENT OF EXCESS KURTOSIS = 0. -0.54457E+06 0.31774E+06 -0.40000E+06 0. P-VALUE= 0.10000E+07 0.89636E+06 0.06375 RESIDUAL SUM = -0.29016E+06 0. 0 ZERO.78483E+06 0.63542E+06 0.47481E+06 -0.80383E+06 0.30000E+06 0.55000E+06 0.30000E+06 0.20000E+06 0.10000E+07 0.50860E+06 0.70000E+06 0.4 21.65000E+06 0.70030E+06 0.13362E+06 -23438.45000E+06 0.13461E+06 -58596.0 EXPECTED 0.20000E+06 0. 61 POS.4 0.32697E+06 0.50364E+06 -11517. 82 NEG NORMAL STATISTIC = -0.4028 GOODNESS OF FIT TEST FOR NORMALITY OF RESIDUALS .13743E+06 0.31914E+06 -0.4 13.31000E+06 0.50000E+06 0.86638E+06 0.20000E+06 0.40000E+06 0.0 15.11809E+06 0.25000E+06 0.1359 RHO = -0.61256E+06 0.37232E+06 -0.76861E+11 SUM OF ABSOLUTE ERRORS= 0.14000E+07 0.21517E+06 -0.80000E+06 0.88017E+06 0.90000E+06 0.71152E+06 0. -0.10000E+07 0.0 6.40000E+06 0.1 21.65039E+06 0.46936E+06 0.75501E+06 0.11983E+06 -0.18482E+06 0.0 19.25000E+06 0.0 3.74313E+06 0.30851E+06 -99112. 0.30825E+08 R-SQUARE BETWEEN OBSERVED AND PREDICTED = 0.19666E+06 88801.10000E+07 0.0909 WITH 7 DEGREES OF FREEDOM. 0.50000E+06 0.71914E+06 0.6640 WITH STANDARD DEVIATION OF 0.76774E+06 0.

1 1 1 2 2 1 2 2 P-VALUE 0.498 25.00009 0.039 D.00071 0.498 14.3763880 2446392.6435 .F WITH USING POWERS OF YHAT DF1= 1 AND DF2= 139 P-VALUE= 0.654 16.48039 0.007 DF1= 2 AND DF2= 138 P-VALUE= 0.207 21.144 |_*HASIL UJI HETEROSKEDASTISITAS |_DIAGNOS / HET RESET REQUIRED MEMORY IS PAR= 43 CURRENT PAR= 500 DEPENDENT VARIABLE = Y 143 OBSERVATIONS REGRESSION COEFFICIENTS 1992.F.00000 E**2 E**2 E**2 E**2 YHAT: YHAT**2: LOG(YHAT**2): X (B-P-G) TEST: BASED ON R2: BASED ON SSR: E**2 ON LAG(E**2) ARCH TEST: LOG(E**2) ON X (HARVEY) TEST: ABS(E) ON X (GLEJSER) TEST: RAMSEY RESET RESET(2)= RESET(3)= RESET(4)= ON ON ON ON SPECIFICATION TESTS 7.00567 0.7379 .06738928 -96547.064 0.F WITH 3.00003 0.00030 0.052 .4910 .52713 HETEROSKEDASTICITY TESTS CHI-SQUARE TEST STATISTIC 15.026 DF1= 3 AND DF2= 137 P-VALUE= 0.878 7.361 15.00007 0.F WITH 2.

0901 R-SQUARE ADJUSTED = 0.SEE RAMANATHAN (1992.SAMPLE RANGE SET TO: 1.28237E+06 63815.P. 452.SEE JUDGE ET AL.0000 0.122 MODEL SELECTION TESTS .0382 16. 493.7821 2.5 REGRESSION ERROR TOTAL F 13.28 T-RATIO 141 DF 3.62856E+06 143.0837 VARIANCE OF THE ESTIMATE-SIGMA**2 = 452.FROM ZERO SS DF MS 0.1289 SCHWARZ (1978) CRITERION .AIC = 458.3002 0. 141.59 0.90 ANALYSIS OF VARIANCE .LOG AIC = 6. 6319.. 143 R-SQUARE = 0.737 0.000 VARIABLE NAME X2 CONSTANT ESTIMATED STANDARD COEFFICIENT ERROR 2.91 ANALYSIS OF VARIANCE . 4395.274 SUM OF SQUARED ERRORS-SSE= 63815.000 0. 452.10 SHIBATA (1981) CRITERION = 458. COEFFICIENT AT MEANS 0.300 0.33 AKAIKE (1974) INFORMATION CRITERION .490 LOG OF THE LIKELIHOOD FUNCTION = -639. 0.74 SCHWARZ (1978) CRITERION .167) CRAVEN-WAHBA (1979) GENERALIZED CROSS VALIDATION .000 REGRESSION ERROR TOTAL F 623.9674 0.901 0.1703 MODEL SELECTION TESTS .00 HANNAN AND QUINN (1979) CRITERION = 466.906 P-VALUE 0..9226 0.FPE = 458.PC) AKAIKE (1973) INFORMATION CRITERION .SC = 478.71 RICE (1984) CRITERION = 459. 142.6 1.0326 ..6 63815.59 STANDARD ERROR OF THE ESTIMATE-SIGMA = 21.56474E+06 2.LOG SC = 6.011 0.963 P-VALUE 0. 141.GCV = 459.P.145 |_*UJI MULTIKOLINIERITAS 1 |_OLS X1 X2 / ANOVA REQUIRED MEMORY IS PAR= 36 CURRENT PAR= 500 OLS ESTIMATION 143 OBSERVATIONS DEPENDENT VARIABLE = X1 . MEAN OF DEPENDENT VARIABLE = 62.1252 PARTIAL STANDARDIZED ELASTICITY P-VALUE CORR.FROM MEAN SS DF MS 6319.NOTE. (1985.242) AKAIKE (1969) FINAL PREDICTION ERROR .92 (FPE IS ALSO KNOWN AS AMEMIYA PREDICTION CRITERION .59 70134.

.

147 .

148 .

149 .

150 .

151 .

152 .

153 .

154 .

155 .

156 PERTANYAAN WAWANCARA Responden : Pedagang Mikro di Pasar Argosari (Kec .

5 x 3 Luas : 34.5 M2 (E) Kantor Jml :2 Ukuran : 3.5 x 3 Luas : 147 M2 (B) Los Besi Jml :4 Ukuran : 16.3. GAMBAR 5.2.5 x 3 Luas :325.5 M2 (H) Cancangan Hewan Jml :5 Panjang : 12 M2 C C D D D D D D Luas Pasar : 5.3. LINGKAR .5 x 3 Luas : 198 M2 (C) Los Kayu Jml :1 Ukuran : 10 x 4 Luas : 40 M2 A E E A B B B B JL. LINGKAR C C (D) Los Beton Jml :6 Ukuran : 5.2 DENAH PASAR TENGERAN DENAH PASAR TENGERAN KE PONJONG KE WONOSARI KETERANGAN : KANTOR PENGELOLAAN PASAR KABUPATEN GUNUNGKIDUL LOKASI TERMINAL (A) Kios Jml : 14 Ukuran : 3.104 GAMBAR 5.5 x 3 Luas : 21 M2 (F) MCK Ukuran : 6 x 3 Luas : 18 M2 (G) Bak Sampah Ukuran : 6.037 M2 Skala 1 : 300 : Con Blok E F H G PASAR TENGERAN KEMATREN PASAR MUNGGI KEC.KARANGMOJO JL.