Anda di halaman 1dari 18

Modifikasi Perilaku

Teori Behavioristik dan Social Learning


Sunday, June 13th, 2010

BAB II Teori Belajar Behavioristik dan Social learning 1. A. PENDAHULUAN Bab ini mempelajari tentang teori-teori yang menjadi dasar dari modifikasi perilaku. Terutama tiga teori dasar dalam pendekatan perilakuan yaitu : classical conditioning dari Ivan Petrovich Pavlov, operant conditioning dari Burhuss Frederick Skinner dan social learning / social cognitive dari Albert Bandura. Aplikasi teori tersebut merupakan konten dari modifikasi perilaku yang dalam bab-bab selanjutnya akan dibicarakan secara lebih detil. Kata-kata kunci : classical conditioning, operant conditioning dan social learning. 1. B. TEORI PERKUATAN KLASIK (CLASSICAL CONDITIONING) IVAN PETROVICH PAVLOV 1. 1. Pengertian Perilaku Pada tahun 1913 di Amerika Serikat , J.B. Watson menentang aliran introspeksi yang sebelumnya menekankan aktivitas mental, beliau tidak setuju dengan aktivitas yang bersifat subjektif tersebut. Karena menurut Watson, proses perilaku terjadi karena proses psikologis yang bersifat objektif , nampak dan dapat dijelaskan dalam proses belajar. Peran lingkungan sangat besar dalam menjelaskan perilaku. Karena stimulus respon merupakan koneksi dasar dalam proses belajar perilaku pada manusia. Tingkah laku manusia merupakan hasil belajar yang sifatnya mekanistis lewat proses perkuatan seperti teori operant conditioning dari B.F. Skinner. Salah satu proses adaptasi gerakan-gerakan otot dan aktivitas kelenjar juga dapat menjelaskan perilaku, kuncinya seperti dalam pengkondisian klasik (classical conditioning) dari Ivan Petrovich Pavlov. Ia dilahirkan di Rjasan pada tanggal 18 September 1849 dan wafat di Leningrad pada tanggal 27 Pebruari 1936. Pavlov (1849-19360) psikolog Rusia yang melakukan penelitian pertama tentang belajar. Prinsip pengkondisian klasik dasarnya melihat organisme belajar dengan mengasosiasikan satu stimulus dengan stimulus lain. Organisme belajar bahwa stimulus pertama adalah kunci untuk stimulus berikutnya. Penelitian Pavlov sebelumnya menggunakan anjing sebagai subjek penelitiannya. Pavlov memasangkan stimulus suara dengan makanan . Makanan akan keluar ke hadapan anjing setiap Pavlov menekan tombol.

Unconditional Stimulus (US) : stimulus alamiah yang secara otomatis tanpa pemasangan pun akan menimbulkan respon tertentu. Conditional Stimulus (CS) : stimulus netral, yang pada dasarnya tidak menimbulkan respon tertentu, tetapi karena pemasangan maka akan menimbulkan respon tertentu. Unconditional Response (UR) : respon alamiah yang secara otomatis muncul akibat adanya US. Conditional Response (CR) : respon yang dihasilkan akibat dari adanya pemasangan CS dengan US. Respon atau tingkah laku organisme bisa dikondisikan dan organisme bisa memiliki respon tertentu (CR) melalui belajar dan latihan. Respon atau tingkah laku organisme bisa dikondisikan dan organisme bisa memiliki respon tertentu (CR) melalui belajar dan latihan. Akuisisi : Ujicoba selama subyek belajar mengasosiasikan dua stimulus. Ekstinsi : Apabila US tidak dihadirkan lagi bersama CS sehingga akan terjadi pemadaman Spontaneous Recover : Pemulihan untuk memberikan respon bersyarat tanpa melalui uji coba awal. Eksitasi merupakan suatu peningkatan aktivitas otak ; stimulus yang menyebabkan eksitasi disebut stimulus positif. Penyajian CS akan mengisyaratkan datangnya US. Inhibisi merupakan suatu penurunan aktivitas otak; stimulus yang menyeabkan inhibisi disebut stimulus negatif. Penyajian satu stimulus akan mengisyaratkan ketidakhadiran stimulus tak bersyarat. 1. 2. Eksperiman Pavlov Pemadaman (Extinction) Proses pengurangan kekuatan CR dan akhirnya hilanglah performance Bel makanan saliva ? Pemulihan Menampilkan kembali CS pada organisme Umumnya kekuatan CS < sebelumnya

Generalisasi Dalam generalisasi, makin serupa stimulus baru dengan stimulus asli maka makin tinggi pula kemungkinan timbul respon yang dikondisikan. Bel salivation Dering telepon salivation Diskriminasi Tendensi atau kecenderungan untuk merespon suatu rentang stimulus tertentu atau hanya satu stimulus yang biasa digunakan dalam pelatihan Bel salivation Nada Berbeda salivation 1. C. TEORI PERKUATAN OPERAN (OPERANT CONDITIONING) SKINNER 1. Sejarah Teori Perkuatan Operan (Operant Conditioning) dari Skinner Tokoh utama adalah Burrhus Frederick Skinner (1904-1990). Konsep pertamanya tercantum di buku Behavior of Organism (1938) yang merupakan dasar dari operant conditions (Walker,1996). Beberapa bukunya yang lain tentang perilaku manusia meliputi bagaimana proses belajar bahasa, pengajaran di sekolah, juga tentang bagaimana mendesain budaya. Novelnya di tahun 1948 yaitu Walden II berisi tentang utopia Skinner tentang masyarakat yang baik (Walker, 1996). Pada usia 86 tahun, di sebuah senja sebelum waktu kematiannya karena leukemia, ia menyelesaikan papernya yang terakhir tentang seleksi alam, operant conditioning dan faktor budaya yang dapat membedakan perilaku individu. Sebagian besar teori Skinner adalah tentang perubahan tingkah laku, belajar dan modifikasi perilaku. Bersama banyak teoritikus, Skinner yakin bahwa pemahaman tentang kepribadian akan tumbuh dari tinjauan tentang perkembangan tingkah laku organisme manusia dalam interaksinya yang terus menerus dengan lingkungan. Maka, interaksi ini telah menjadi pusat sejumlah besar penelitian eksperimental yang dilakukan secara cermat. Konsep kunci dalam sistem Skinner adalah prinsip perkuatan (principle of reinforcement); maka pandangan Skinner sering disebut teori perkuatan operan (operant reinforcement theory). Aliran behaviorisme radikal Skinner merupakan teori kepribadian yang tidak menyeluruh, sebab Skinner tidak merasa perlu mempersoalkan masalah struktur kepribadian dan juga proses kognisi, semata-mata perilaku dibentuk secara fungsional lewat proses learning (belajar) dan pengkondisian. Kepribadian dibentuk dari proses belajar, yaitu proses mental internal yang mungkin dapat secara langsung atau tidak langsung direfleksikan dalam perubahan tingkah laku. Sehingga kepribadian dapat diartikan sebagai sejumlah pengalaman yang dialami individu yang merupakan hasil interaksi lingkungan dengan personal faktor yang ditunjukkan dalam perilaku

yang observable, measurable dan memiliki definisi akurat. Meskipun penelitiannya berawal dari subjek hewan, namun perlu mempertimbangkan perbedaan masing-masing individu dan juga sikap hati-hati jika akan menerapkannya pada subjek manusia. Metode operan secara keseluruhan diilustrasikan dari prinsip psikologi belajar yang menekankan bahwa : 1. Individu sangat dipengaruhi oleh lingkungannya 2. Perilaku dapat dibentuk dan diubah sebagai hasil dari interaksi individu dengan lingkungan 3. Memandang pentingnya spesifikasi reaksi sebagai perilaku yang diobservasi 4. Memandang pentingnya aspek pengukuran dari situasi ; dan 5. Memandang pentingnya system yang reliable untuk deteksi perubahan perilaku Psikologi perilaku mungkin dicirikan lewat objektivitas dalam pendefinisian perilaku,secara praktis pada pilihan perilaku mana yang akan diubah (berfokus pada perilaku sasaran yangdapat dengan mudah direkam, diukur perilakunya dalam pola perilaku). Seperti Pavlov dan Watson, Skinner juga memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan response, tetapi berbeda dengan kedua tokoh yang terdahulu itu, Skinner membuat perincian lebih jauh. Skinner membedakan adanya dua macam response, yaitu : 1. Respondent response (reflexive response), yaitu respon yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang-perangsang yang demikian itu, yang disebut eliciting stimuli , menimbulkan respon-respon yang secara relatif tetap, misalnya makanan yang menimbulkan keluarnya air liur. Pada umumnya, perangsang-perangsang yang demikian itu mendahului respon yang ditimbulkannya. 2. b. Operant response (instrumental response) yaitu respon diharapkan muncul, yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang yang demikian itu disebut reinforcing stimuli atau reinforcer, karena perangsangperangsang tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan oleh organisme. Jadi, perangsang yang demikian itu mengikuti dan karenanya memperkuat sesuatu tingkah laku tertentu yang telah dilakukan. Jika seorang anak belajar (telah melakukan perbuatan), lalu mendapat hadiah, maka dia akan menjadi lebih giat belajar (responsenya menjadi lebih intensif/kuat). Di dalam kenyataannya, response jenis pertama itu (respondent response atau respondent behaviour) sangat terbatas munculnya pada manusia; dan karena adanya hubungan yang pasti antara stimulus dan response kemungkinan untuk memodifikasikannya adalah kecil. Sebaliknya, operant response atau instrumental behaviour merupakan bagian terbesar daripada tingkah laku manusia, dan kemungkinannya untuk memodifikasi boleh dikatakan tak terbatas. Fokus teori Skinner adalah pada operan respon; yaitu bagaimana menimbulkan,, mengembangkan dan memodifikasi tingkah laku (Walker 1996). 1. 2. Proses Operant Conditioning

Reinforcement merupakan kejadian yang muncul mengikuti respon yang diharapkan dapat meningkatkan kemungkinan munculnya respon tersebut kembali. Jenis reinforcement ini (Walker, 1996) dibedakan menjadi : 1. a. Primary reinforcers: merupakan reniforcer yang berpengaruh langsung pada kondisi fisiologis seperti makanan pada saat lapar, air pada saat haus, tidur pada saat lelah. 2. b. Secondary reinforcers: merupakan reinforcer yang baru berpengaruh apabila diasosiasikan dengan primary reinforcer. Setelah proses asosiasi terjadi, secondary reinforcement memiliki pengaruh untuk mengurangi atau meningkatkan kemungkinan munculnya respon. Contoh: uang, bisa memunculkan respon jika diasosiasikan dengan kebutuhan fisiologis. 3. c. Contingent reinforcers: reinforcer yang hanya mampu mengubah perilaku ketika seseorang tahu perilaku mana yang akan diberi reinforcer, atau stimuli yang bermakna yang hanya diberikan saat organisme memunculkan respon yang diharapkan. Landy (1984) mengemukakan tentang pemberian Contingent reinforcers yang efektif di tiga setting yaitu institusi kesehatan mental : contingent reinforcers efektif mengubah perilaku maladaptif menjadi perilaku yang benar dan sesuai; setting sekolah misalnya dengan token economy di kelas; oleh guru kepada muridnya untuk tujuan mengembangkan ketrampilan tertentu; setting pekerjaan misalnya dengan pemberian komisi akhir tahun, insentif atau apresiasi berupa pujian dari atasan disesuaikan dengan prestasi bagi mereka yang melebihi standar. 4. positive reinforcers: penyajian stimuli yang meningkatkan probabilitas suatu respon (cenderung menyenangkan). Penerapan terbaik : dengan menggunakan penguatan pengukuh positif bila suatu stimulus (benda atau kejadian) dihadirkan/ terjadi sebagai akibat / konsekuensi dari perilaku, dan karena keseringan pemunculan meningkatkan perilaku yang diharapkan.

Contoh : seorang bayi berlatih bicara mam.mam.. dan mendapat senyuman dan sambutan gembira ibu. Maka anak tersebut akan mengulang mengucapkan mamamam... Ingat, bahwa dalam penerapan modifikasi perilaku pengukuh ini tidak dibiarkan terjadi secara alamiah. Tetapi diatur sedemikian rupa agar terjadi konsekuensi tindakan / perilaku yang ingin ditingkatkan atau dipelihara. DRL / differential reinforcement of low rates; adalah pengukuhan bila perilaku sasaran jarang muncul. Misalnya seorang wanita yang banyak menggunakan kata eecopot ee yang mengganggu dalam pembicaraan apalagi jika di depan forum DRL diprogram bila eecopot..ee.. muncul tidak lebih dari 2 kali tiap menit ibu tersebut mendapat pengukuh. DRO / Differential Reinforcement of Other Behavior. Misalnya seorang anak kelas 2 SD suka melamun bila disuruh mengerjakan tugas sekolah, jadi tugas sering tidak selesai dan nilai raport turun. Program DRO bila tanda yang berjarak 10 menit berbunyi ia tidak sedang melamun, ia mendapat pengukuh.

1. Negative reinforcement: pembatasan stimuli yang tidak menyenangkan, yang jika dihentikan akan mengakibatkan probabilitas respon. Perilaku yang mendapatkan pengukuh negatif bila perilaku tersebut meningkat atau terpelihara karena berasosiasi

dengan hilangnya atau berkurangnya suatu stimulus, stimulus yang tidak menyenangkan (aversive stimuli) sebagai konsekuensi perilaku tersebut. Bedakan hal ini dengan extinction dan punishment. Misalnya perilaku anak sering bersifat pengukuh negatif bagi orangtuanya. Anak menangis keras akan berhenti bila ada perhatian, perhatian akan terulang jika anak menangis, maka bayi akan menangis setiap bangun tidur. Atau sebaliknya orangtua menggertak anak waktu anak rewel, anak diam. Denda dengan mengurangi kuantitas pengukuh atau kehilangan yang telah diterima. Juga lewat penyisihan sesaat (time out) yang merupakan prosedur dengan memindahkan sumber pengukuhan untuk sementara waktu tertentu, bila perilaku sasaran yang akan dihilangkan muncul. 2. Extinction , penghapusan : menghentikan pemberian pengukuh positif atau menghentikan pengukuh negatif, agak sulit dilaksanakan. Contoh : Nana sering berteriak memanggil ibunya, Bu, adik nakal merusak mainanku. Ibu tidak menanggapi akhirnya Nana tidak berteriak lagi. Baru ketika Nana berteriak, Bu, adik jatuh. Ibu akan segera datang memberi tanggapan. 3. Hukuman : pemberian stimulus yang tidak menyenangkan misalnya contradiction or reprimand setelah respon yang tidak diharapkan muncul. Prosedur di mana pemberian stimulus yang mengikuti suatu perilaku mengurangi kemungkinan berulangnya perilaku tersebut. Jika pemberian hukuman tidak melihat tujuan dan kondisi situasionalnya, pertimbangan dari kepraktisan, hukum, moral dan etika akan menjadi sebuah kontroversi bahkan kontraproduktif dalam pengubahan perilaku. Bentuk hukuman lain berupa penangguhan stimulus yang menyenangkan (removing a pleasant or reinforcing stimulus). 1. Aplikasi Teori Lewat teori conditioning reinforcement, suatu stimulus (benda/kejadian) dipandang sebagai hal yang meskipun pada awalnya netral tetapi karena sering berpasangan dengan pengukuh kuat (bersyarat / tak bersyarat) ; stimuli ini lalu memperoleh sifat mengukuhkan. Stimuli bersifat pengukuh hanya karena suatu rentetan peristiwa dalam pengalaman kehidupan seseorang. Bagi orang yang tidak mengalami rentetan peristiwa ini stimuli tersebut bersifat netral. Misalnya menonton acara televisi favorit, uang, penghargaan, pujian adalah beberapa contoh pengukuh. Bila sutu stimulus dihadirkan maka akan terjadi akibat/ konsekuensi suatu perilaku, dan bila karena seringnya perilaku tersebut muncul dan meningkat / terpelihara, maka peristiwa tersebut disebut pengukuh positif. Contoh : pengemis datang, minta-minta anda beri uang, ia akan jadi langganan; penguatan performen pegawai dengan bonus prestasi, token ekonomi dengan voucher atau poin belanja untuk meningkatkan frekuensi belanja pembeli di toko. Beberapa contoh yang ada dibawah ini merupakan penerapan dari teori Skinner (Glover & Bruning, 1990 ; Landy, 1994) v Shaping Behavior Adalah proses penguasan respon yang dikehendaki (dikondisikan), ketika pembentukan perilaku merupakan pemberian reinforcement setelah sukses melakukan apa yang diinginkan melewati serangkaian perilaku yang diulangi untuk menjadi lebih baik lagi. Lewat instruksi yang

terprogram atau lebih sering disebut sebagai schedule of reinforcement atau penjadwalan reinforcement. Tahapan shaping behavior ini banyak dilakukan dalam terapi perilaku atau dengan menggunakan teknik modifikasi perilaku.

Penjadwalan reinforcement
Jadwal reinforcement menguraikan tentang kapan dan bagaimana suatu respon diperbuat? Ada empat cara penjadwalan reinfocement : 1. Fixed Ratio Schedule (FR); suatu jumlah respons tertentu menentukan kapan penguatan berikutnya diberikan (misalnya setelah 25 kali terjadinya perilaku operant) yang didasarkan pada penyajian bahan pelajaran, yang mana pemberi reinforcement baru memberikan penguatan respon setelah terjadi jumlah tertentu dari respon. 2. Variable Ratio Schedule (VR); selang waktu tertentu (misalnya 5 menit) menentukan pemberian penguat berikutnya. yang didasarkan atas penyajian bahan pelajaran dengan penguat setelah sejumlah rata-rata respon Variable ratio (VR); jumlah perilaku respoden yang terjadi tidak ditentukan secara kaku (misalnya setelah 5 sampai 15 kali). 3. Fixed-interval schedule; yang didasarkan atas satuan waktu tetap di antara reinforcements. Fixed interval (FI): selang waktu tertentu (misalnya 5 menit) menentukan pemberian penguat berikutnya. 4. Variable interval schedule; pemberian reinforcement menurut respon betul yang pertama setelah terjadi kesalahan-kesalahan respon. Variable interval (VI) waktu pemberian penguat divariasi di antara selang waktu tertentu (3 samapai 5 menit, misalnya). Keempat pola jadwal penguatan ini menghasilkan pola perilaku operan yang berbeda-beda. FI menunjukkan bahwa organisme harus menepati waktu tertentu. Biasanya setelah penguatan perilaku operan akan tidak terjadi lagi, dan meningkat pada saat penguat berikutnya akan diberikan. Tetapi pada VI, jumlah respon di antara penguat yang satu dengan yang berikutnya tidak terlalu berfluktuasi karena organisme tidak tahu pasti kapan penguat berikutnya akan diberikan. Berbeda dengan jadwal yang berdasarkan interval waktu, jadwal yang berdasarkan ratio cenderung menghasilkan jumlah respons yang tinggi sekali. v Chaining Adalah menggabungkan beberapa respon secara bersama dalam satu urutan ; misalnya saat kita belajar mengendarai mobil. v Self Control 1. Removing / avoiding: menghindar dari situasi yang berpengaruh buruk atau menjauhkan situasi yang berpengaruh buruk itu sehingga tidak lagi menerima stimulus yang berpengaruh buruk itu

2. Aversive Stimuli: menciptakan stimulus yang tidak menyenangkan bersamaan dengan munculnya stimulus yang ingin dihindari responnya. Pemabuk atau perokok berat yang ingin berhenti, mengumumkan keinginannya kepada khalayak di sekitarnya sehingga setiap kali ia minum alkohol atau merokok menanggung resiko dikritik atau dipermalukan oleh lingkungannya 3. Reinforce oneself: memberi reinforcement kepada diri sendiri sesudah berhasil menahan diri melakukan tingkah laku yang tidak dikehendaki 4. Successive approximation: menyususn langkah-langkah antara yang secara progresif menuju ke arah pencapaian tujuan. Takut dengan gelap, disiasati dengan mengurangi sinar lampu tidur secara bertahap 5. Desensitisasi: kepekaaan yang berlebihan terhadap sesuatu (yang memicu peningkatan ketegangan emosi), dihilangkan secara berangsur-angsur melalui latihan menerima stimulus dengan tetap mengendalikan emosi. 1. D. TEORI BELAJAR SOCIAL (SOCIAL LEARNING THEORY) ALBERT BANDURA 1. Pengantar Teori Belajar Sosial Bandura Teori belajar sosial (social learning theory) terletak pada modelling peran, identifikasi dan interaksi manusia. Seseorang dapat belajar dengan meniru perilaku orang lain, tapi faktor personal juga terlibat. Jika model peran adalah orang yang tidak disukai oleh seseorang, maka perilaku peniruan (imitative behavior) kemungkinan tidak terjadi. Ahli teori belajar sosial mengkombinasikan teori pembiasaan klasik dan operan. Sebagai contohnya, walaupun observasi model mungkin merupakan faktor utama dalam proses belajar, peniruan model harus didorong atau dihadiahi jika perilaku yang diharapkan menjadi bagian dari seseorang. Albert Bandura adalah pengaju utama bidang pengajaran sosial. Perilaku terjadi sebagai hasil dari saling peran antara faktor kognitif dan lingkungan, suatu konsep yang dikenal sebagai determinisme timbal balik (reciprocal determinism), perilaku individu dipengaruhi oleh lingkungannya dan sebaliknya perilaku individu yang muncul juga dapat mempengaruhi lingkungannya. Sehingga ada interaksi antara lingkungan, perilaku dan proses psikologis individu (pikiran dan bahasa) dalam membentuk kepribadian. Orang belajar dengan mengobservasi orang lain, baik secara sengaja maupun tidak ; proses tersebut dikenal sebagai modeling atau belajar melalui peniruan. Pilihan seseorang akan suatu model dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia, jenis kelamin, status dan kemiripan dengan seseorang. Jika model yang dipilih mencerminkan norma dan nilainilai yang sehat, seseorang mengembangkan kemanjuran diri (self-efficacy) , rasa diri mampu yang mendorong seseorang memiliki kemampuan diri untuk mengadaptasi kehidupan yang normal setiap hari maupun dalam situasi yang mengancam. Adalah mungkin untuk menghilangkan pola perilaku negatif dengan meminta seseorang mempelajari teknik alternatif dari peran model lain. Sebagai contoh, seorang anak yang ketakutan menjadi berkurang rasa takutnya jika ia melihat anak- anak lain bertindak tanpa rasa takut dalam situasi yang sama, demikian juga menunjukkan pendekatan tanpa rasa takut kepada suatu stimulasi fobik dapat berguna untuk memotivasi pendekatan pasien dengan objek atau situasi yang ditakutinya.

Eksperimen Bandura yang terkenal adalah the bobo doll studies. Tentang film yang dimunculkan di hadapan anak taman kanak-kanak yang pada akhirnya perilaku model atau actor dalam film tersebut ditiru kembali oleh anak-anak ketika di hadapan anak-anak ada benda yang hampir sama dengan objek agresi actor dalam film tersebut. Padahal tidak ada reward konkret yang diberikan pada anak-anak tersebut. Imitasi tersebut sebenarnya sudah merupakan reward bagi anak-anak karena model yang ditampilkan menarik bagi anak-anak. 1. 2. Sejarah Tokoh Albert Bandura (1925 )

Albert Bandura dilahirkan tanggal 4 Desember 1925, di sebuah kota kecil Mundare di utara Alberta Canada. Ia belajar dari SD, sekolah menengah dan SMU di sana. Meskipun dengan fasilitas sederhana, keberhasilan belajar ia capai dengan baik. Setelah SMU ia bekerja di Ukon. Lalu ia memperoleh gelar kesarjanaannya dari Psikologi di Universitas British Columbia di tahun 1949. Kemudian gelar Ph.D dicapainya di Universitas Iowa di tahun 1952. Dari universitas inilah pengaruh tradisi behavioristik mempengaruhi lahirnya teori belajar yang disampaikannya. Di Iowa ini ia bertemu dengan Virginia Varns, pengajar di sekolah perawat yang kemudian dinikahinya dan melahirkan dua anak perempuan. Posisi post doctoral ia laksanakan di Wichita Guidance Center di Kansas. Kemudian karir akademisnya dilanjutkan dengan mulai mengajar di Universitas Stanford pada tahun 1953. Pengabdian pada kampus ini tetap dia jalani hingga saat ini. Di awal karirnya ia berkolaborasi dengan mahasiswanya, Richard Walters dalam menulis buku tentang agresi pada remaja (1959). Pada tahun 1973 ia menjadi presiden APA (American Psychological Association) dan menerima penghargaan Tokoh Terkemuka di tahun 1980. 1. 3. Isi Teori Bandura Behaviorism menekankan pada variabel perilaku yang dapat diobservasi, dimanipulasi dan menolak subjektivitas penilaian internal dan sesuatu yang tidak nampak misalnya mental. Mengabaikan fungsi mental yang menurut mereka abstrak. Metode eksperimen yang digunakan adalah prosedur standar dari sebuah manipulasi variabel yang kemudian diukur efeknya pada yang lain. Termasuk dalam hal ini teori kepribadian yang melihat lingkungan adalah faktor penentu perilaku. Karena tidak sekedar melihat proses perilaku eksternal saja, tapi bagaimana seseorang secara individual mengembangkan penilaian diri mereka terhadap perilaku yang dilakukannya. Di akhir tahun 1960-an, aliran behaviorism sosial ini memacu lahirnya era psikologi kognitif. Tokoh-tokohnya antara lain : Julian Rotter, Walter Mischel, Michael Mahoney, dan David Meichenbaum. Dan beberapa ahli lain seperti Aaron Beck (terapi kognitif), dan Albert Ellis (Rational Emotive Behavior Therapy). Serta pengikut lain George Kelly, beberapa orang yang menekuni riset tentang trait dan kepribadian Buss dan Plomin (teori temperamen), McCrae dan Costa (five factor theory). 1. 4. Penerapan Teori Belajar Sosial 1. SelfControl Therapy Dasar pemikirannya adalah bahwa setiap individu dapat mengelola dan mengatur perilakunya. Masalah perilaku yang diterapi dapat meliputi gangguan perilaku merokok, gangguan makan dan kebiasaan belajar.

Behavioral charts; membuat daftar perilaku dengan rinci misalnya dengan membuat diari dan membuat laporan perilaku dan daftar kebiasaan misalnya berapa kali merokok dalam sehari, situasinya seperti apa, setelah makan atau sambil minum kopi, dengan teman atau sambil bekerja dan di tempat seperti apa. 1. Environmental planning; membuat dan merencanakan setting lingkungan yang kondusif untuk meningkatkan perilaku yang diharapkan dan menghilangkan perilaku yang tidak diharapkan. Dengan mengatur lingkungan sesuai waktu dan alternatif perilaku yang diharapkan. 2. Self-contracts; kontrak diri dapat ditulis dan bila perlu dipersaksikan di depan orang lain, dengan diucapkan atau diikrarkan di depan orang lain. 3. Keterlibatan dengan orang lain yang tidak kondusif bagi program pembentukan perilaku yang diharapkan memang sedapat mungkin dihindari. Tapi bukan berarti harus memutus persahabatan atau relasi dengan orang lain yang dapat memunculkan relapse (munculnya kembali perilaku yang tidak diharapkan); tapi penting untuk menyampaikan dengan baik perilaku apa yang diharapkan sebenarnya. Self-Regulation Self-regulation adalah bagaimana kita mengontrol perilaku kita sendiri dengan melakukan tiga langkah : 1. Self-observation; melihat , mengamati dan menyadari perilaku sendiri 2. Judgement; membandingkannya dengan standard perilaku yang ada seperti etika, perilaku orang lain atau juga standar yang kita tetapkan sendiri; misalnya apakah kita telah membaca satu buku dalam seminggu. Sehingga ada upaya membuat parameter baik dengan diri kita sendiri maupun dengan orang lain. 3. Self-response; memberikan balikan diri. Misalnya jika gagal menghukum diri sendiri dan berhasil kita mentraktir diri sendiri atau menjadi bangga dan merasa puas. Sehingga menjadi penting untuk membuat regulasi diri dalam membentuk perilaku yang dapat meningkatkan harga diri serta membentuk konsep diri dengan utuh. Yaitu mencoba mengoptimalkan penghargaan atau positive self-response daripada self-punishment yang berlebihan karena kegagalan dalam mencapai peilaku tertentu. Karena excessive self-punishment dapat mengakibatkan : compensation seperti sikap agresif, delusi kebesaran atau superiority complex; inactivity seperti sikap apatis, rasa tertekan (compliant type); escape seperti ketergantungan obat, alcoholism, lari dari masalah (avoidant type) Bandura menyarankan untuk memperkuat konsep diri dengan tiga langkah dalam self-regulation: : 1. Regarding self-observation ; observasi diri baik, ketahui diri dengan akurat, gambaran diri yang otentik berkaitan dengan perilaku kita. 2. Regarding standards; yakini bahwa standard jangan terlalu tinggi akan membuat kita gagal dan standard yang terlalu rendah menjadi kurang berarti bagi pencapaian

kesuksesan. Standard yang berharga dan bermakna adalah yang sesuai dengan kapasitas individu dan sumber daya yang ada. 3. Regarding self-response; beri penghargaan diri dan jangan menghukum diri sendiri. Rayakan kemenangan, dan jangan biarkan kegagalan menghantui. 1. Modelling Therapy Terapi ini dapat diterapkan pada gangguan fobia dan kecemasan. Seperti misalnya pada fobia ular. Orang dengan gangguan fobia dapat melihat model yang dengan rileks secara perlahan mendekati dan menyentuh ular tanpa rasa takut. Kemudian dengan mencoba secara bertahap pada dirinya sendiri. Modelling juga telah digunakan dalam program menurunkan berat badan dan berhenti merokok. Hal tersebut merupakan komponen yang penting dalam rencana pengobatan kelompok dimana anggota kelompok belajar dari satu sama lainnya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar proses modeling berhasil ; yaitu : 1. Attention; perlu adanya perhatian yang dipersiapkan lebih dulu, jika model kurang menarik perhatian, tidak disukai , atau klien/individu sedang mengantuk, lapar dan tidak nyaman, proses modeling terganggu karena lemahnya perhatian 2. Retention; Kita perlu menyimpan informasi dalam ingatan dengan lebih dulu memberikan tanda dalam bentuk gambar atau bahasa sebagai bagian perilaku kita. 3. Reproduction; kemampuan mengingat kembali dan memanggil materi ingatan dari dan menterjemahkannya dalam perilaku yang nyata. Dimulai dengan membayangkan perilaku model yang kita lakukan sendiri dalam bayangan kita yang kemudian akan membantu kita menerapkannya dalam perilaku nyata. 4. Motivation; dorongan dari dalam individu dapat dipengaruhi oleh reinforcement yang dulu pernah diperoleh setelah melakukan perilaku tertentu (past reinforcement), reinforcement yang dijanjikan misal insentif (promised reinforcements) dalam bayangan kita dan karena melihat dan mengingat reinforce yang telah diterima model (vicarious reinforcement). Menurut Bandura, punishment tidak bekerja dengan baik dan seefektif reward dalam modeling ini. RINGKASAN Prinsip pengkondisian klasik (classical conditioning) dasarnya melihat organisme belajar dengan mengasosiasikan satu stimulus dengan stimulus lain. Organisme belajar bahwa stimulus pertama adalah kunci untuk stimulus berikutnya. Respon atau tingkah laku organisme bisa dikondisikan dan organisme memiliki respon tertentu melalui belajar dan latihan. Akuisisi yaitu: ujicoba selama subyek belajar mengasosiasikan dua stimulus. Ekstinsi yaitu: apabila US (unconditional stimuli) tidak dihadirkan lagi bersama CS (conditional stimuli) sehingga akan terjadi pemadaman. Spontaneous Recovery yaitu: pemulihan untuk memberikan respon bersyarat tanpa melalui uji coba awal. Teori Skinner adalah tentang perubahan tingkah laku, belajar dan modifikasi perilaku yang dibentuk secara fungsional lewat proses learning (belajar) dan pengkondisian. Tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dan respon, tetapi berbeda dengan Pavlov, Skinner

membuat perincian lebih jauh dengan membedakan adanya dua macam respon, yaitu: respondent response (reflexive response) dan operant response (instrumental response) yaitu respon diharapkan muncul, yang timbul dan berkembang diikuti oleh perangsang tertentu berupa pengukuh atau reinforcer. Reinforcement merupakan kejadian yang muncul mengikuti respon yang diharapkan dapat meningkatkan kemungkinan munculnya respon tersebut kembali. Contoh penerapannya, shaping behavior, chaining, dan self control. Teori belajar sosial (social learning theory) terletak pada modelling peran, identifikasi dan interaksi manusia. Seseorang dapat belajar dengan meniru perilaku orang lain, tapi faktor personal diperhatikan seperti proses kognitif dan self regulation. 1. E. EVALUASI 2. Apa asumsi dasar tentang perilaku menurut pendekatan classical conditioning Ivan P. Pavlov? Berikan penjelasan dan sebutkan teknik modifikasi perilaku menurut pendekatan tersebut! 3. Apa asumsi dasar tentang perilaku menurut pendekatan operant conditioning dari Burhuss F. Skinner? Berikan penjelasan dan sebutkan teknik modifikasi perilaku menurut pendekatan tersebut! 4. Apa asumsi dasar tentang perilaku menurut pendekatan social learning? Jelaskan prosedur prosedur dari pendekatan tersebut! 5. Berikan penjelasan tentang bagaimana aplikasi teori classical conditioning/ operant conditioning / social learning* (pilih salah satu) pada: a. terapi terhadap rasa takut b. psikologi iklan c. pembentukan sikap d. promosi hidup sehat e. peningkatan prestasi atau performansi kerja f. pengajaran self-help skill pada anak

Teknik Desensitisasi Sistematik


Sunday, June 13th, 2010

BAB III TEKNIK DESENSITISASI SISTEMATIK 1. A. PENDAHULUAN

Bab ini membicarakan tentang teknik desensitisasi sistematik merupakan salah satu teknik perubahan perilaku yang didasari oleh teori atau pendekatan behavioral klasikal. Pendekatan behavioral memandang manusia atau kepribadian manusia pada hakikatnya adalah perilaku yang dibentuk berdasarkan hasil pengalaman dari interaksi individu dengan lingkungannya. Perhatian behavioral adalah pada perilaku yang nampak , sehingga terapi tingkah laku mendasarkan diri pada penerapan teknik dan prosedur yang berakar pada teori belajar, yakni menerapkan prinsipprinsip belajar secara sistematis dalam proses perubahan perilaku menuju ke arah yang lebih adaptif. Untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berperilaku serta untuk mengganti dengan pola-pola perilaku yang lebih dapat menyesuaikan. Salah satu aspek yang paling penting dalam memodifikasi perilaku adalah penekannya pada tingkah laku yang didefinisikan secara operasional, teramati dan terukur. Kata-kata kunci: desensitisasi sistematis, classical conditioning, Joseph Wolpe, counter conditioning. 1. B. LATAR BELAKANG TEORITIS Adapun ciri-ciri terapeutik pendekatan behavioral yaitu: (a) pemusatan perhatian pada tingkah laku yang tampak dan spesifik (b) memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan terapeutik, misalnya mengubah kebiasaan tertentu (c) mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien (d) penaksiran objektif atas hasil-hasil terapi. Ahli behavioral dalam menjalankan fungsi sebagai pelatih perilaku berdasarkan asumsi-asumsi sebagai berikut: (a) memandang manusia secara intrinsik bukan sebagai baik atau buruk, tetapi sebagai hasil dari pengalaman yang memiliki potensi untuk segala jenis perilaku (b) manusia mampu untuk mengkonsepsikan dan mengendalikan perilakunya (c) manusia mampu mendapatkan perilaku baru (d) manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain sebagaimana perilakunya juga dipengaruhi oleh orang lain. Pendekatan behavioral memiliki sejumlah teknik spesifik yang digunakan dalam melakukan pengubahan perilaku berdasarkan tujuan yang hendak dikehendaki/ dicapai. Ada sekitar 30 teknik spesifik, diantaranya desensitisasi sitematis, terapi implosive, latihan perilaku asertif, terapi aversif, pembentukan perilaku model dan kontrak perilaku. Desensistisasi sistematis merupakan teknik yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif, biasanya berupa kecemasan dan disertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan. Dengan pengkondisian klasik, respon-respon yang tidak dikehendaki dapat dihilangkan secara bertahap. Desensitisasi sistematis sering digunakan untuk mengurangi maladaptasi kecemasan yang dipelajari lewat conditioning (seperti fobia) tapi juga dapat diterapkan pada masalah lain. C. SEJARAH TEKNIK DESENSITISASI SISTEMATIK Nietzel dan Berstein (1987) mengemukakan tentang latar belakang sejarah teknik ini antara lain tokoh Watson dan Rayner melihat bahwa rasa takut dipelajari lewat conditioning , demikian juga sebaliknya rasa takut dapat dihilangkan lewat counter conditioning-nya. Tahun 1920-an Johannes Schulz, psikolog Jerman, mengembangkan teknik Autogenic training yang

mengkombinasikan hypnosis, relaksasi dan autosugesti untuk klien yang mengalami kecemasan. Tahun 1935 Guthrie mengemukakan beberapa teknik untuk menghapus kebiasaan maladaptiv termasuk kecemasan; dengan menghadapkan individu yang mengalami fobia pada stimulus yang tidak dapat menimbulkan kecemasan secara gradual ditingkatkan ke stimulus yang lebih kuat menimbulkan ketakutan. Desensitisasi sistematis pertama kali disebutkan sebagai suatu terminology dalam buku Joseph Wolpe tahun 1958 tentang Psychotherapy by Reciprocal Inhibition (Nietzel & Berstein, 1987). John Wolpe mengembangkan suatu hipotesis bahwa untuk menghilangkan respon yang tidak dikehendaki dapat dilakukan dengan counter conditioning , menunjukkan individu dalam situasi belajar baru dengan memasangkan pengalaman yang tidak menyenangkan dengan pengalaman yang menyenangkan (Martin & Pear, 2003). Wolpe (dalam Corey, 2005) juga mengatakan bahwa systematic desensitization adalah teknik terapi untuk segenap tingkah laku neurotic yang merupakan ungkapan atau symptom dari kecemasan dan bahwa respon kecemasan dapat dihapus oleh penemuan respon-respon yang secara inheren berlawanan dengan respon tersebut. Dengan pengkondisian klasik, kekuatan stimulus penghasil kecemasan dapat dilemahkan dan gejala kecemasan dapat dikendalikan dan dihapus melalui penggantian stimulus. D. PROSEDUR PELAKSANAAN DESENSITISASI SISTEMATIK Desensitisasi sistematik menggunakan teknik relaksasi. Cara yang digunakan dalam keadaan santai, stimulus yang menimbulkan kecemasan dipasangkan dengan stimulus yang menimbulkan keadaan santai. Pemasangan secara berulang-ulang sehingga stimulus yang semula menimbulkan kecemasan hilang secara berangsur-angsur. Desensitisasi diarahkan kepada mengajar klien untuk menampilkan suatu respon yang tidak konsisten dengan kecemasan. Klien dilatih untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman-pengalaman pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau divisualisasikan. Situasi-situasi dihadirkan dalam suatu rangkaian dari yang sangat tidak mengancam menuju yang sangat mengancam. Tingkatan stimulus-stimulus penghasil kecemasan dan respon kecemasan itu terhapus. Dalam teknik ini, Wolpe telah mengembangkan suatu respon relaksasi; yang secara fisiologis bertentangan dengan kecemasan , yang secara sistematis diasosiasikan dengan aspek-aspek dari situasi yang mengancam. Prosedur pengkondisian desensitisasi sistematis: 1. Desensitisasi sistematis dimulai dengan suatu analisis tingkah laku atas stimulus-stimulus yang dapat membangkitkan kecemasan dalam suatu wilayah tertentu, seperti penolakan, rasa iri, ketidaksetujuan atau fobia. Disediakan waktu untuk menyusun suatu tingkatan kecemasan-kecemasan klien dalam area tertentu. 2. Terapis menyusun suatu daftar yang bertingkat mengenai situasi-situasi yang kemunculannya meningkatkan taraf kecemasan atau penghindaran. Tingkatan dirancang dalam urutan dari situasi yang membangkitkan kecemasan yang tarafnya paling rendah hingga situasi yang paling buruk yang dapat dibayangkan oleh klien. 3. Selama pertemuan-pertemuan terapeutik pertama klien diberi latihan relaksasi yang terdiri atas kontraksi, dan lambat laun pengendoran otot-otot yang berbeda sampai

tercapai suatu keadaan santai penuh. Sebelum latihan relaksasi dimulai, klien diberitahu tentang cara relaksasi dalam kehidupan sehari-hari, dan cara mengendurkan bagianbagian tubuh tertentu. 4. Latihan relaksasi berdasarkan teknik yang digariskan oleh Jacobson dan diuraikan secara rinci oleh Wolpe. Pemikiran dan pembayangan (imagery) situasi-situasi yang membuat santai seperti duduk di pinggir danau atau berjalan-jalan di taman yang indah sering digunakan. Hal yang penting adalah bahwa klien mencapai keadaan tenang dan damai. Klien diajari bagaimana mengendurkan segenap otot dan bagian tubuh dengan titik berat pada otot-otot wajah. Otot-otot tangan terlebih dahulu, diikuti oleh kepala, leher dan pundak, punggung, perut, dada dan kemudian anggta-anggota badan bagian bawah. Klien diminta untuk mempraktekkan relaksasi di luar pertemuan terapeutik, sekitar 30 menit lamanya setiap hari. Apabila klien telah dapat belajar untuk santai dengan cepat, maka prosedur desensitisasi dapat dimulai. 5. Proses desensitisasi melibatkan keadaan di mana klien sepenuhnya santai dengan mata tertutup. Terapis mencerikan serangkaian situasi dan meminta klien untuk membayangkan dirinya berada dalam situasi yang diceritakan oleh terapis tersebut. Situasi yang netral diungkapkan, dan klien diminta untuk membayangkan dirinya berada dalam situasi didalamnya. Jika klien mampu tetap santai, maka dia diminta untuk membayangkan situasi yang membangkitkan kecemasan yang tarafnya paling rendah. Terapis bergerak mengungkapkan situasi-situasi secara bertingkat sampai klien menunjukkan bahwa dia mengalami kecemasan, dan pada saat itulah pengungkapan situasi diakhiri. Kemudian relaksasi dimulai lagi, dan klien kembali membayangkan dirinya berada dalam situasi-situasi yang diungkapkan terapis. Treatmen diangggap selesai apabila klien mampu untuk tetap santai ketika membayangkan situasi yang sebelumnya paling menggelisahkan dan menghasilkan kecemasan. E. PROSEDUR Seperti pada desensitisasi sistematik, prosedur terapi ini menggunakan imaginasi tentang hal-hal yang menyebabkan cemas, hanya saja terapi ini tidak menggunakan latihan relaksasi. Tujuan dari terapi ini adalah menimbulkan pengalaman ketakutan klien yang sangat serius, sehingga secara nyata hal ini akan mengurangi ketakutannya terhadap situasi yang memuncak. Terapi ini dikembangkan oleh Thomas G. Stampfl tahun 60an dalam Kanfer & Goldstein (1980), menggunakan prinsip-prinsip teori belajar dan psikodinamik. Dia berpendapat bahwa takut dan hal-hal yang berhubungan dengan cemas merupakan hasil belajar dan ia tidak setuju bahwa takut dapat dikurangi secara efektif dengan cara pendekatan counter conditioning, tetapi ia yakin bahwa seseorang dapat menjadi tidak takut dengan menggunakan prosedur yang didasarkan pada extinction model. Extinction adalah pengurangan secara bertahap respon-respon cemas yang merupakan hasil adanya rasa takut. Dengan cara meniadakan reinforcement yang menguatkan rasa takut tersebut. Jadi proses extinction dilakukan terapis dengan cara menghadirkan kembali atau simbolisasi yang menghasilkan stimulus (cue) dimana respon cemas terkondisikan tanpa menghadirkan reinforcement yang menguatkan respon tersebut. 1. Penyusunan hirarki penghindaran terhadap tanda/ isyarat (cue)

Dari interviu awal, terapis menyusun hipotesis yang berisi tanda-tanda penting ketakutan klien, bisa berupa kondisi-kondisi kejadian dalam hidup klien yang dapat diidentifikasi dengan cepat. Sebagai contoh, pada orang-orang yang takut pada ketinggian, maka kondisi yang dimaksud misalnya melihat bangunan-bangunan kantor dan partemen yang tinggi, jalan-jalan yang melingkar di pegunungan , jembatan-jembatan dan sebagainya. Penyusunan tersebut didasarkan pada teori psikodinamik dan pengetahuan terapis tentang reaksireaksi yang biasa dilakukan klien terhadap masalah-masalah yang hampir sama. Ini diperoleh dari penyataan-pernyataan klien selama interviu maupun tingkah laku non verbal yang menggambarkan faktor psikodinamik yang berhubungan dengan ketakutan klien. Tanda-tanda itu biasanya berhubungan dengan masalah-masalah agresi dan permusuhan, aktivitas oral dan anal, aktivitas seksual, hukuman, penolakan, penderitaan fisik, kehilangan kontrol impuls dan kesalahan. Contoh: Aggresion Adegan yang ada biasanya berkisar tentang ekspresi kemarahan, permusuhan, agresi terhadap orangtua, saudara, suami/istri atau figur yang berhubungan dalam hidup klien. Tingkat penderitaan badan meliputi kerusakan tubuh sampai kematian korban. Punishment Pasien yang dibiasakan untuk melihat dirinya sendiri sebagai penerima kemarahan, permusuhan dan agresi dari orang-orang dalam kehidupannya. Punishment biasanya diberikan karena pasien melakukan aktivitas-aktivitas yang dilarang. Sexual material Macam-macam dugaan yang berhubungan dengan sex, misalnya oedipus, kastrasi, homosexual. Loss of control Pasien didorong untuk membayangkan dirinya kehilangan kontrol impuls terhadap aktivitas sexual dan agresif. Tanda-tanda yang paling rendah adalah kejadian-kejadian yang berhubungan dengan ketakutan klien, sedangkan yang paling tinggi adalah yang dinamika internalnya berhubungan dengan masalah-masalah psikis klien yang sangat mendasar. Tema-tema dinamika yang khusus yang ditekankan dalam hirarki tergantung pada problem klien dan informasi selama interviu. Berbeda dengan desensitisasi sistematis, hirarki disusun terapis sendiri tanpa klien setelah selesai interviu. Hirarki ini hanya berisi aitem-aitem yang menghasilkan tingkat kecemasan maksimal klien. Dimulai dari stimulus-stimulus eksternal yang menimbulkan kecemasan sampai stimulus-stimulus internal yang diduga menghasilkan tingkat kecemasan yang maksimal. 1. Pelaksanaan Terapi Implosif

Setelah hirarki direncanakan, pada awal sesi ketiga terapis menerangkan kepada klien tentang terapi tersebut. Terapis mengatakan adegan-adegan yang akan diberikan kepada klien. Klien harus duduk di kursi dan hidup dalam imaginasi sesuai adegan dengan perasaan dan emosi yang tulus. Klien tidak diminta untuk menerima dan menyetujui ketepatan imaginasinya. Adegan ini kemudian diterangkan dan diuraikan oleh terapis dengan gambaran yang hidup dan detail. Lebih dramatis adegan itu, akan lebih memudahkan klien berpartisipasi secara penuh dalam pengalaman itu. Stampfl dan Levis mengatakan bahwa percobaan ini dilakukan oleh terapis untuk mencapai tingkat kecemasan maksimal klien. Bila sudah mencapai kecemasan yang tinggi, klien tetap dibiarkan sampai secara spontan kecemasannya menurun, proses ini diulangi lagi. Pada saat muncul tanda pertama kali penurunan kecemasan, varasi baru dimasukkan untuk memperoleh respon kecemasan yang kuat. Prosedur ini diulangi sampai menghasilkan penuruunan kecemasan yang signifikan. Cara untuk mengetahui bila telah muncul kecemasan yaitu dengan observasi keadaan klien seperti munculnya gejolak , keringat, menyeringai wajahnya, menggerak-gerakkan kepala ke anan ke kiri dan meningkatnya aktivitas motorik di kursi. Prosedur ini dilewati selama kira-kira 30-40 menit. Selanjutnya klien diberi kesempatan untuk membayangkan sendiri adegan tersebut dalam imaginasinya, dan didorong untuk memerankan partisipasi sepenuhnya. Terapis melanjutkan mengamati munculnya kecemasan dan mensugesti bahwa imaginasinya adalah hidup. Sesi ini berakhir setelah 50-60 menit. Kemudian klien diminta melakukan nya sendiri di rumah satu hari samapai pertemuan pada sesi berikutnya. 1. Variasi terapi implosif Cara lain dari terapi implosif yang agak berbeda adalah yang disebut flooding. Perbedaan pokoknya pada tipe adegan yang diperlihatkan pada klien. Adegan yang menakutkan yang dapat menyebabkan tingkah laku penolakan (aversif) tertentu tersebut, bahkan diberikan dalam waktu yang diperpanjang. Dalam formulasi adegan ini, tanda-tanda psikodinamik dan atau interpretasi tidak digunakan. Terapis hanya menggunakan tanda-tanda eksternal dan gambaran adegan yang hidup, sama dengan terapi implosif, juga waktu yang digunakan dalam pemberian adegan. Penggunaan flooding ini harus dipertimbangkan, apakah akan diberikan dalam bentuk nyata (in vivo) atau khayalan (imaginal), sebab penyajian dalam bentuk nyata, bagi beberapa klien dapat sangat mengerikan. Untuk mengatasi hal ini, dapat diberikan variasi yaitu dengan memberikan stimulus nyata secara singkat pada saat khayalan berlangsung, dalam masing-masing sesi tritmen. 1. Batasan-batasan dalam penerapan terapi implosif a) Terapis harus mengetahui dengan sungguh-sungguh teori-teori psikodinamik, terutama psikoanalitik, bila tidak dia harus menahan diri untuk tidak menggunakan pendekatan ini b) Membuka imaginasi tentang situasi-situasi yang menakutkan , justru akan dapat memperkuat ketakutan. Sebagai pengganti, maka digunakan prosedur flooding

c) Terapis harus mengetahui betul tanda-tanda kecemasan yang ada, membuat adegan-adegan yang dapat menimbulkan kecemasan tinggi, dan dapat berhubungan baik dengan klien yang mungkin mempunyai pengalaman negatif dengan adegan yang menimbulkan kecemasan yang diberikan 1. F. RINGKASAN Dalam memilih metode yang tepat untuk mengurangi rasa takut, harus dipertimbangkan jenis ketakutan /kecemasan yang bagaimana dan kondisi apa yang sesuai, spesifiknya perilaku tersebut disesuaikan dengan pendekatan yang digunakan. Dari beberapa penelitian desensitisasi sistematik merupakan metode yang paling baik untuk mengurangi berbagai jenis kecemasan.Jika kecemasan terhadap situasi sosial sangat tinggi, maka latihan asertif harus digunakan pertamatama, tetapi bila klien takut untuk melakukan latihan asertif dalam situasi nyata, pelatih harus mengguakan modelling yang tersamar atau desensitisasi untuk membantu klien rileks. Terapi implosif bukan sebuah alternatif, namun juga merupakan pilihan utama. Desensitisasi sistematis adalah teknik yang cocok untuk menangani fobia, tetapi keliru apabila menganggap teknik ini hanya dapat diterapkan pada penanganan ketakutan-ketakutan. Desensitisasi sistematis dapat diterapkan secara efektif pada berbagai situasi penghasil kecemasan, mencakup situasi interpersonal, ketakutan menghadapi ujian, ketakutan-ketakutan yang digeneralisasi, kecemasankecemasan neurotic, impotensi dan frigiditas seksual. G. EVALUASI 1. Apa tujuan dari penggunaan teknik desensitisasi sistematik ? 2. Jelaskan prosedur pelaksanaan teknik desensitisasi sistematik ! 3. Keefektifan teknik desensitisasi sistematik sangat ditentukan oleh apa? Jelaskan kenapa factor tersebut berpengaruh ! 4. Bagaimana prosedur pelaksanaan terapi implosif? 5. Bagaimana menurut Anda keefektifan desensitisasi sistematik dibandingkan dengan terapi implosif?
http://dosen.fip.um.ac.id/hetti/?cat=1