Anda di halaman 1dari 17

PRINSIP KERJA KOPLING Ketika kaki tidak menginjak pedal kopling

Ketika pedal kopling tidak ditekan atau pedal dalam keadaan bebas, maka plat kopling (cluth disk) akan tertekan oleh pelat penekan (pressure plate) ke roda gila(fly wheel), seolah olah antara pelat penekan, plat kopling dan fly wheel menyatu, sehingga putaran mesin dapat diteruskan ke transmisi dan ke roda belakang.

Ketika pedal kopling dalam keadaan tertekan

Ketika pedal kopling ditekan maka cluth fork stop akan mendorong bearing dan otomatis bearing akan menekan pegas diafragma sehingga plat penekan tertarik menjauhi plat kopling, sehingga putaran mesin tidak dapat diteruskan ke transmisi atau kopling dalam keadaan bebas.

Perhitungan Kopling
Diketahui: OD = 267,99 mm IN = 168 mm = 0,2 T (Torsi Maksimum) = 28 kg m = 275 Nm Ditanya: Tegangan maksimum yang bekerja pada kopling Jawab.

)
)

= =
=

( ( )

Tegangan maksimum yang dapat ditahan oleh kopling adalah 59.503, 2 N/m2

Perhitungan Diafragma Spring b = 96,9 mm a = 38,76 mm t = 3 mm E = 206.847,7 MPa K1 = -5,54

***

( )

***

= 4,5 = 0,045

Perhitungan Pegas Spiral pada plat kopling


Bahan : Music wire No. 8 SULT : 249.000 psi h : 4 mm R : 7,5 mm d = 0,162 inchi E = 30 x 106 psi G = 11,5 x 106 psi Syp / SULT = 0,4 Syp =980.000 psi

Perhitungan Paku Keling

Pada kopling terdapat dua macam ukuran paku keling yang menyatukan elemen-elemen dari plat gesek dengan posisi dan ukuran yang berbeda, paku keling tersebut adalah : 1. Paku keling A Jumlah paku keeling Diameter paku Jarak paku ke sumbu poros

: 16 buah : 6 mm : 60 mm

2. Paku keling B Jumlah paku keeling Diameter paku Jarak paku ke sumbu poros

: 6 buah : 8 mm : 50 mm

Bahan direncanakan St 37, dengan kekuatan tarik 37 Kg/mm2 dengan factor keamanan ( Sf ) = 6.

Factor koreksi daya (Fc) Factor koreksi momen puntir (Kt) Factor koreksi lenturan (Kb) Factor keamanan tegangan

: 1,3 : 1,5 : 1,2 : 1,6

Daya rencana (Pd) Daya transmisi (P) : 110 PS 110 x 0,76 = 83,6 Kw

Momen puntir rencana (T)

Perhitungan Paku Keling 1. Paku Keling A Gaya yang bekerja pada paku keeling (F)

Gaya pada tiap paku (Fs)

Tegangan tarik izin (t)

Tegangan geser izin (g)

Diameter Paku keeling A (hasil perhitungan)

Jadi

diameter

haisl

perhitungan

ulang

yang

didapat

2. Paku Keling B Gaya yang bekerja pada paku keeling (F)

Gaya pada tiap paku (Fs)

Tegangan tarik izin (t)

Tegangan geser izin (g)

Diameter Paku keeling B (hasil perhitungan)

Jadi

diameter

haisl

perhitungan

ulang

yang

didapat

Cara kerja transmisi

Cara kerja : Posisi Netral (N). Saat posisi netral tenaga dari mesin tidak diteruskan ke poros out put, karena sincromesh dalam keadaan bebas atau tidak terhubung dengan roda gigi tingkat.

Posisi 1. Jika tuas ditarik ke belakang maka gear selection fork akan menghubungkan unit sincromesh untuk berkaitan dengan gigi tingkat 1. Posisi 1 akan menghasilkan putaran yang lambat tetapi momen pada poros out put besar. Posisi 2. Tuas didorong ke depan menggerakkan gear selector fork sehingga unit sincromesh berhubungan dengan roda gigi tingkat no 2. Posisi 2 putaran poros out put lebih cepat dibanding pada posisi 1. Posisi 3. Jika tuas ditarik ke belakang maka gear selection fork akan menghubungkan unit sincromesh untuk berkaitan dengan gigi tingkat 3. Posisi 3 akan menghasilkan putaran yang cepat dibanding posisi 2.

Posisi 4. Tuas didorong ke depan menggerakkan gear selector fork sehingga unit sincromesh berhubungan dengan roda gigi tingkat no 4. Posisi 4 putaran poros out put lebih cepat dibanding pada posisi 3. Posisi 5. Tuas ditarik ke belakang menggerakkan gear selection fork sehingga unit sincromesh berhubungan dengan roda no 5. Transmisi pada posisi gigi lima kecepatanya paling tinggi tetapi momen yang dihasilkan pada poros out put paling kecil. Posisi R. Tuas didorong ke depan menggerakkan gear selection fork sehingga unit sincromesh berhubungan dengan roda gigi R. Antara roda gigi R dan roda gigi pembanding dipasangkan roda gigi idel (idler gear) yang menyebabkan putaran poros input berlawanan arah dengan poros out put.

Perhitungan Transmisi

TRANSMISI 1 Z2 =
( ( ) )

mm

Z1

D1 = m0 X Z1 = 6 x 12 = 72 mm

= 2,83 inchi

D2 = m0 x Z2 = 6 x 49 = 294 mm

= 11,5 inchi

Pd =

Pada standard terdekat 4 inchi

= 1870,7 N

TRANSMISI 2

Z2 =

a=

mm

Z1

D1 = m0 X Z1 = 6 x 16 = 96 mm

=3,77 inchi

D2 = m0 x Z2 = 6 x 46 = 276 mm

= 10,86 inchi

Pd =

Pada standard terdekat 4 inchi

= 1.992,7 N

TRANSMISI 3

Z2 =

( ( )

Z1

D1 = m0 X Z1 = 6 x 26 = 156 mm

= 6,14 inchi

D2 = m0 x Z2 = 6 x 42 = 252 mm

= 9,92 inchi

Pd =

Pada standard terdekat 4 inchi

= 2182,5 N

TRANSMISI 4

Z2 =

a=

Z1

D1 = m0 X Z1 = 6 x 39 = 234 mm

= 9,21 inchi

D2 = m0 x Z2 = 6 x 39 = 234 mm

= 9,21 inchi

Pd =

Pada standard terdekat 4 inchi

= 1870,7 N

TRANSMISI 5

Z2 =

a=

Z1

D1 = m0 X Z1 = 6 x 39 = 234 mm

= 9,21 inchi

D2 = m0 x Z2 = 6 x 39 = 294 mm

= 9,21 inchi

Pd =

Pada standard terdekat 4 inchi

= 1870,7 N

TRANSMISI GIGI MUNDUR

Z1

D1 = m0 X Z1 = 6 x 12 = 72 mm

= 2,83 inchi

D2 = m0 x Z2 = 6 x 49 = 294 mm

= 11,5 inchi

Pd =

Pada standard terdekat 4 inchi

= 1.870,7 N