Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH PKN

Sistem Pemeintahan Demokrasi


Di susun oleh :
RAHMAWATI HUSAIN 431411098 KELAS C

JURUSAN BIOLOGI UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO 2011/2012

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, atas rahmat-Nya yang telah melimpahkan kesehatan dan kemampuan kepada saya sehingga dapat menyelesaikan makalah tentang Sistem Pemeintahan Demokrasi semoga dapat menjadi pembelajaran bagi pembaca. Meskipun saya sempat menemui berbagai kesulitan dalam penyelesaian makalah ini, dengan usaha Alhamdulillah makalah ini terselesaikan juga. Akhir kata, saya mengucapkan terimakasih kepada dosen matakuliah yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini dan penyempurnaannya. Jika

terdapat banyak kesalahan ataupun kekeliruan, saya mohon maaf atas kesalahan tersebut. Namun demikian saya mengharapkan makalah ini dapat dimanfaatkan dan dimengerti bagi pembaca.

Gorontalo, 23 April 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar belakang Demokrasi nampaknya tidak bisa dipisahkan dari pembahasan hal-hal yang

berkaitan dengan pemerintahan dan kehidupan politik. Semua proses politik dan proses kehidupan lembaga-lembaga pemerintahan berjalan seiring dengan jalannya demokrasi. Demokrasi dapat dilihat seberapa jauh kehidupan pemerintahan suatu negara itu berjalan. Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi perwakilan).Istilah ini berasal dari bahasa Yunani (dmokrata) kekuasaan rakyat,yang dibentuk dari kata (dmos) rakyat dan (Kratos) kekuasaan, merujuk pada sistem politik yang muncul pada pertengahan abad ke-5 dan ke-4 SM di negara kota Yunani Kuno, khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun 508 SM.Istilah demokrasi diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan orang banyak (rakyat).Abraham Lincoln dalam pidato Gettysburgnya mendefinisikan demokrasi sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.Hal ini berarti kekuasaan tertinggi dalam sistem demokrasi ada di tangan rakyat dan rakyat mempunyai hak, kesempatan dan suara yang sama di dalam mengatur kebijakan pemerintahan. Melalui demokrasi, keputusan yang diambil berdasarkan suara terbanyak. Demokrasi terbentuk menjadi suatu sistem pemerintahan sebagai respon kepada masyarakat umum di Athena yang ingin menyuarakan pendapat mereka. Dengan adanya sistem demokrasi, kekuasaan absolut satu pihak melalui tirani, kediktatoran dan pemerintahan otoriter lainnya dapat dihindari. Demokrasi memberikan kebebasan berpendapat bagi rakyat, namun pada masa awal

terbentuknya belum semua orang dapat mengemukakan pendapat mereka melainkan hanya laki-laki saja. Sementara itu, wanita, budak, orang asing dan penduduk yang orang tuanya bukan orang Athena tidak memiliki hak untuk itu. Di Indonesia, pergerakan nasional juga mencita-citakan pembentukan negara demokrasi yang berwatak anti-feodalisme dan anti-imperialisme, dengan tujuan membentuk masyarakat sosialis. Bagi Gus Dur, landasan demokrasi adalah keadilan, dalam arti terbukanya peluang kepada semua orang, dan berarti juga otonomi atau kemandirian dari orang yang bersangkutan untuk mengatur hidupnya, sesuai dengan apa yang dia inginkan. Masalah keadilan menjadi penting, dalam arti setiap orang mempunyai hak untuk menentukan sendiri jalan hidupnya, tetapi hak tersebut harus dihormati dan diberikan peluang serta pertolongan untuk mencapai hal tersebut.

1.2

Rumusan masalah Dengan memperhatikan latar belakang di atas, dapat dirumuskan berbagai pertanyaan permasalahan berikut ini : 1. Apakah pengertian dari demokrasi? 2. Bagaimana bentuk-bentuk demokrasi di Indonesia? 3. Bagaimana asas pokok demokrasi? 4. Bagaimana Ciri-ciri pemerintah yang demokratis?

1.3

Tujuan Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu : 1. Mahasiswa dapat mengerti apa itu demokrasi. 2. Mahasiswa dapat memahami bentuk-bentuk demokrasi yang ada di Indonesia. 3. Mahasiswa dapat mengetahui asas pokok demokrasi. 4. Mahasiswa dapat mangetahui ciri-ciri pemerintah yang demokratis.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Demokrasi Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi perwakilan).Istilah ini berasal dari bahasa Yunani (dmokrata) kekuasaan rakyat, yang dibentuk dari kata (dmos) rakyat dan (Kratos) kekuasaan, merujuk pada sistem politik yang muncul pada pertengahan abad ke-5 dan ke-4 SM di negara kota Yunani Kuno, khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun 508 SM.Istilah demokrasi diperkenalkan pertama kali oleh Aristoteles sebagai suatu bentuk pemerintahan, yaitu pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan orang banyak (rakyat). Abraham Lincoln dalam pidato Gettysburgnya mendefinisikan demokrasi sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Hal ini berarti kekuasaan tertinggi dalam sistem demokrasi ada di tangan rakyat dan rakyat mempunyai hak, kesempatan dan suara yang sama di dalam mengatur kebijakan pemerintahan. Melalui demokrasi, keputusan yang diambil berdasarkan suara terbanyak. Demokrasi terbentuk menjadi suatu sistem pemerintahan sebagai respon kepada masyarakat umum di Athena yang ingin menyuarakan pendapat mereka. Dengan adanya sistem demokrasi, kekuasaan absolut satu pihak melalui tirani, kediktatoran dan pemerintahan otoriter lainnya dapat dihindari. Demokrasi

memberikan kebebasan berpendapat bagi rakyat, namun pada masa awal terbentuknya belum semua orang dapat mengemukakan pendapat mereka melainkan hanya laki-laki saja. Sementara itu, wanita, budak, orang asing dan penduduk yang orang tuanya bukan orang Athena tidak memiliki hak untuk itu. Di Indonesia, pergerakan nasional juga mencita-citakan pembentukan negara demokrasi yang berwatak anti-feodalisme dan anti-imperialisme, dengan tujuan membentuk masyarakat sosialis. Bagi Gus Dur, landasan demokrasi adalah keadilan, dalam arti terbukanya peluang kepada semua orang, dan berarti juga otonomi atau kemandirian dari orang yang bersangkutan untuk mengatur hidupnya, sesuai dengan apa yang dia inginkan. Masalah keadilan menjadi penting, dalam arti setiap orang mempunyai hak untuk menentukan sendiri jalan hidupnya, tetapi hak tersebut harus dihormati dan diberikan peluang serta pertolongan untuk mencapai hal tersebut.

2.2 Bentuk-bentuk demokrasi a. Demokrasi langsung Demokrasi langsung merupakan suatu bentuk demokrasi dimana setiap rakyat memberikan suara atau pendapat dalam menentukan suatu keputusan. Dalam sistem ini, setiap rakyat mewakili dirinya sendiri dalam memilih suatu kebijakan sehingga mereka memiliki pengaruh langsung terhadap keadaan politik yang terjadi. Sistem demokrasi langsung digunakan pada masa awal terbentuknya demokrasi di Athena dimana ketika terdapat suatu permasalahan yang harus diselesaikan, seluruh rakyat berkumpul untuk membahasnya. Di era modern sistem ini menjadi tidak praktis karena umumnya populasi suatu negara cukup besar dan mengumpulkan seluruh rakyat dalam satu forum merupakan hal yang sulit. Selain itu, sistem ini menuntut partisipasi yang tinggi dari rakyat sedangkan rakyat modern cenderung tidak memiliki waktu untuk mempelajari semua permasalahan politik negara. b. Demokrasi perwakilan Dalam demokrasi perwakilan, seluruh rakyat memilih perwakilan melalui pemilihan umum untuk menyampaikan pendapat dan mengambil keputusan bagi mereka. Prinsip-prinsip demokrasi

Prinsip demokrasi dan prasyarat dari berdirinya negara demokrasi telah terakomodasi dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia.[Prinsip-prinsip demokrasi, dapat ditinjau dari pendapat Almadudi yang kemudian dikenal dengan soko guru demokrasi. Menurutnya, prinsip-prinsip demokrasi adalah: 1. Kedaulatan rakyat; 2. Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah; 3. Kekuasaan mayoritas; 4. Hak-hak minoritas; 5. Jaminan hak asasi manusia; 6. Pemilihan yang bebas dan jujur; 7. Persamaan di depan hukum; 8. Proses hukum yang wajar; 9. Pembatasan pemerintah secara konstitusional; 10. Pluralisme sosial, ekonomi, dan politik; 11. Nilai-nilai toleransi, pragmatisme, kerja sama, dan mufakat.

2.3 Asas pokok demokrasi Gagasan pokok atau gagasan dasar suatu pemerintahan demokrasi adalah pengakuan hakikat manusia, yaitu pada dasarnya manusia mempunyai kemampuan yang sama dalam hubungan social. Berdasarkan gagasan dasar tersebut terdapat dua asas pokok demokrasi, yaitu: Pengakuan partisipasi rakyat dalam pemerintahan, misalnya pemilihan wakilwakil rakyat untuk lembaga perwakilan rakyat secara langsung, umum, bebas, dan rahasia serta jujur dan adil; dan Pengakuan hakikat dan martabat manusia, misalnya adanya tindakan pemerintah untuk melindungi hak-hak asasi manusia demi kepentingan bersama.

2.4 Ciri-ciri pemerintahan demokratis Dalam perkembangannya, demokrasi menjadi suatu tatanan yang diterima dan dipakai oleh hampir seluruh negara di dunia. Ciri-ciri suatu pemerintahan demokrasi adalah sebagai berikut: 1. Adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam pengambilan keputusan politik, baik langsung maupun tidak langsung (perwakilan). 2. Adanya pengakuan, penghargaan, dan perlindungan terhadap hak-hak asasi rakyat (warga negara). 3. Adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam segala bidang. 4. Adanya lembaga peradilan dan kekuasaan kehakiman yang independen sebagai alat penegakan hukum 5. Adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga negara. 6. Adanya pers (media massa) yang bebas untuk menyampaikan informasi dan mengontrol perilaku dan kebijakan pemerintah. 7. Adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang duduk di lembaga perwakilan rakyat. 8. Adanya pemilihan umum yang bebas, jujur, adil untuk menentukan (memilih) pemimpin negara dan pemerintahan serta anggota lembaga perwakilan rakyat. 9. Adanya pengakuan terhadap perbedaan keragamaan (suku, agama, golongan, dan sebagainya). Pemerintahan yang demokratis itu tumpuannya terletak pada seberapa jauh RAKYAT berperan dalam pemerintahan. Pemerintahan yang demokratis adalah suatu pemerintahan dari Rakyat, oleh Rakyat, dan untuk Rakyat. Selain peranan rakyat dalam pemerintahan yang demokratis, proses pelaksanaan demokrasi adalah sangat menghargai adanya perbedaan (moral disagreement). Menghargai perbedaan itu merupakan cerminan dari moral dari mereka yang berbeda itu. Perbedaan bukan merupakan unsur permusuhan. Maka konflik karena perbedaan perlu ditata berlandaskan moral diagreement tsb.

Selain itu pemerintah yang demokratis, adalah: Menurut Austin Ranny (1996) menyatakan bahwa demokrasi merupakan suatu bentuk pemerintahan yang ditata dan diorganisasikan berdasarkan: (1)Prinsip-prinsip kedaulatan rakyat (2)Kesamaan politik (3)Konsultasi Rakyat (4)Suara Mayoritas Kedaulatan Rakyat (Populer Sovereinity)

Dalam prinsip ini bahwa suatu pemerintahan dijalankan atas dasar kekuasaan tertinggi di tangan seluruh rakyat. Suatu keputusan diambil bukan berada ditangan beberapa atau salah satu orang yang berkuasa. Dalam kehidupan pemerintahan yang demokratis bukannya setiap keputusan harus seluruh rakyat ramai-ramai dan berbondong-bondong memutus Kedaulatan rakyat dalam pemerintahan yang demokratis dapat dipinjamkan atau didelegasikan kepada wakilnya di legislatif, eksekutif, yudikatif dan administrator. Mereka inilah yang harus menyadari bahwa kekuasaan yang ada ditangannya hanyalah sebagai wakil dari rakyat yang memilihnya yang bisa dicabut oleh rakyat. Kedaulatan rakyat itu yang berdaulat RAKYAT, bukan Tuanku (Bung Hatta) Kesamaan Politik ( Political Equality) Kesamaan politik memerlukan bahwa setiap orang warga negara dewasa mempunyai kesempatan yang sama dengan yang lainnya untuk berperan serta dalam proses pembuatan kebijakan politik. Prinsip ini sering diwujudkan dalam semboyan one person one vote. Akan tetapi semboyan ini belum mencerminkan kesamaan politik yang dimaksudkan oleh prinsip kesamaan politik dalam pemerintahan yang demokratis. Dengan demikian dapat dikemukakan prinsip kesamaan politik dalam pemerintahan yang demokratis bahwa adanya kesempatan yang sama bagi seluruh rakyat atau warga negara yang dewasa untuk memainkan peran dalam proses pembuatan

keputusan politik suatu negara. Dalam kerangka seperti ini maka kesamaan politik menjamin adanya hak untuk tidak memberikan suara atau abstain. Dengan demikian kesamaan politik bukannya semua kekuatan politik dipaksa satu suara setuju atau tidak setuju. Sepanjang seluruh rakyat warga negara yang dewasa tersebut mempunyai genuinly equal opportunity untuk berpartisipasi dalam proses pembuatan kebijakan politik sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan bersama, maka persyaratan kesamaan politik tercapai dalam pemerintahan yang demokratis. Konsultasi Rakyat (Popular Consultasion) Prinsip ketiga dalam pemerintahan yang demokratis ini mempunyai 2 ketentuan: (1). Negara harus mempunyai ketentuan yang melembaga yang dipergunakan oleh pejabat-pejabat negara memahami dan mempelajari kebijakan publik sesuai dengan yang dikehendaki dan dituntut oleh rakyat (2) Negara harus mampu mengetahui secara jelas preferensi-preferensi rakyat Dua ketentuan itu mengharuskan bagi pejabat pemerintahan untuk senantiasa memelihara komunikasi dengan rakyat. Sarana komunikasi yang populer dalam pemerintahan yang demokratis ialah melakukan dialog. Pejabat pemerintah bukannya duduk dikursi jabatannya tanpa mau melakukan dialog dengan rakyatnya. Kekuasaan Mayoitas

Manakala seluruh rakyat menyetujui dengan suara bulat terhadap suatu kebijakan publik sesuai dengan prinsip kedaulatan rakyat, maka pemerintah harus mengikutinya dan melaksanakan kebijakan publik tersebut. Namun demikian jarang suara bulat itu tercapai, maka lalu timbul pro dan kontra. Kelompok yang bersuara kontra acapkali menimbulkan perlawanan. Prinsip suara mayoritas ini menghendaki agar suara terbanyak yang mendukung atau yang menolak dijadikan acuan untuk menerima atau menolak suatu kebijakan public. Jika suara yang menolak lebih banyak dari yang mendukung maka suara mayoritas itulah yang dijadikan acuan.

Perlu dicatat disini bahwa prinsip suara mayoritas ini bukanlah berarti bahwa setiap tindakan pemerintah harus dikonsultasikan oleh mayoritas. Melainkan, suara mayoritas itu hanya diperlukan bagi pelbagai jenis proses pengambilan kebijakan publik.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Demokrasi langsung merupakan suatu bentuk demokrasi dimana setiap rakyat memberikan suara atau pendapat dalam menentukan suatu keputusan. Dalam sistem ini, setiap rakyat mewakili dirinya sendiri dalam memilih suatu kebijakan sehingga mereka memiliki pengaruh langsung terhadap keadaan politik yang terjadi. Demokrasi nampaknya tidak bisa dipisahkan dari pembahasan hal-hal yang berkaitan dengan pemerintahan dan kehidupan politik. Semua proses politik dan proses kehidupan lembaga-lembaga pemerintahan berjalan seiring dengan jalannya demokrasi. Demokrasi dapat dilihat seberapa jauh kehidupan pemerintahan suatu negara itu berjalan. Dalam perkembangannya, demokrasi menjadi suatu tatanan yang diterima dan dipakai oleh hampir seluruh negara di dunia. Ciri-ciri suatu pemerintahan demokrasi adalah sebagai berikut: 1. Adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam pengambilan keputusan politik, baik langsung maupun tidak langsung (perwakilan). 2. Adanya pengakuan, penghargaan, dan perlindungan terhadap hak-hak asasi rakyat (warga negara). 3. Adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam segala bidang. 4. Adanya lembaga peradilan dan kekuasaan kehakiman yang independen sebagai alat penegakan hukum 5. Adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga negara. 6. Adanya pers (media massa) yang bebas untuk menyampaikan informasi dan mengontrol perilaku dan kebijakan pemerintah.

7. Adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang duduk di lembaga perwakilan rakyat. 8. Adanya pemilihan umum yang bebas, jujur, adil untuk menentukan (memilih) pemimpin negara dan pemerintahan serta anggota lembaga perwakilan rakyat. 9. Adanya pengakuan terhadap perbedaan keragamaan (suku, agama, golongan, dan sebagainya). demokrasi merupakan suatu bentuk pemerintahan yang ditata dan diorganisasikan berdasarkan: (1)Prinsip-prinsip kedaulatan rakyat (2)Kesamaan politik (3)Konsultasi Rakyat (4)Suara Mayoritas Dalam pemerintahan yang demokratis bahwa adanya kesempatan yang sama bagi seluruh rakyat atau warga negara yang dewasa untuk memainkan peran dalam proses pembuatan keputusan politik suatu negara.