Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

PRAKTIKUM IV TEKNIK ASEPTIS DAN PEMINDAH BIAKAN

Penyusun Nama NIM Kelas Golongan/Kelompok Hari/Tanggal praktikum Jam praktikum Dosen Asisten jaga Asisten koreksi : Risma Ardiyani : 11/316047/FA/08800 :C : III/3 : Selasa/20 Maret 2012 : 07.00 - 11.00 : Dr. Erna Prawita S., M.Si., Apt. : Anggit dan Wahyu :

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FAKULTAS FARMASI UGM YOGYAKARTA 2012

PRAKTIKUM IV TEKNIK ASEPTIS: PEMINDAH BIAKAN

A. TUJUAN
Mampu melakukan kerja aseptis Memindah biakan dari satu media ke media lain

B. DASAR TEORI
Biakan murni (pure culture) dapat didefinisikan sebagai biakan dari satu jenis spesies di dalam media buatan sebagai tempat pertumbuhannya. Membuat biakan murni, memastikan kemurniannya dan menjaganya supaya bebas dari kontaminan merupakan tugas penting dari seorang mikrobiologis. Isolasi biakan murni umumnya dilakukan pada atau dalam media padat, walau bisa juga terjadi beberapa perkecualian. Pertama-tama, sel dari spesies tunggal tersebut harus dipisahkan dari populasi sel dan koloni yang berasal dari perkembangbiakannya harus terpisah dari sel lain dan koloni lain (Schlegel, Hans G., 2003). Biakan murni (pure culture) sangat diperlukan dalam kegiatan mikrobiologi, misalnya untuk keperluan diagnostik, karakterisasi mikroorganisme, industri mikrobiologi dan lain-lain. Untuk mendapatkan kultur yang murni selain nutrisi dan lingkungan yang menunjang pertumbuhan mikroorganisme tersebut juga perlu dicegah adanya kontaminan dalam biakan. Untuk itu, diperlukan suatu teknis aseptis (Murti, Yosi Bayu et al., 2012). Teknik aseptis sangat diperlukan untuk memindahbiakan dari satu tempat ke tempat lain. Dengan teknik aseptis seorang mikrobiologi berusaha mencegah terjadinya kontaminasi pada biakan. Teknik aseptis juga mencegah seorang mikrobiologis terkontaminasi dengan biakan yang mungkin bersifat pathogen. Untuk menyempurnakan kerja aseptis, hal yang perlu diperhatikan adalah: Area tempat kerja dibersihkan dengan desinfektan Alat-alat untuk keperluan kerja aseptis dibersihkan terlebih dahulu Pekerjaan dikerjakan secara cepat dan efisien

(Murti, Yosi Bayu et al., 2012) Teknik pemindah biakan membutuhkan metode yang bisa dipercaya untuk sterilisasi media pertumbuhan dan peralatan yang digunakan, penanaman sel yang diinginkan pada media pertumbuhan yang steril atau pemindahan sampel dari biakan murni tanpa menyertakan adanya kontaminasi mikroba lain, mengisolasi sel yang diinginkan atau koloninya, untuk menghasilkan biakan murni (Wheelis, Mark, 2008). Sterilisasi adalah proses untuk membebaskan suatu benda dari semua organisme baik bentuk vegetatif maupun bentuk spora. Sterilisasi digunakan dalam bidang

mikrobiologi untuk mencegah pencemaran organisme luar, pada kerja pembedahan bertujuan untuk mempertahankan keadaan aseptis, dalam pembuatan makanan dan obat-obatan untuk menjamin keamanan terhadap pencemaran oleh mikroorganisme. Secara umum ada 2 cara sterilisasi, yaitu secara fisik (cahaya matahari, pengeringan, pemanasan kering, pemanasan basah, penyaringan, radiasi, gerakan ultrasonic) dan secara kimia dengan zat desinfektan atau antiseptik (Gupte, 1990). Desinfektan, antiseptik, dan bahan pengawet (resservatives) merupakan bahanbahan kimia yang memiliki keampuan untuk menghancurkan atau menhambat pertumbuhan mikroorganisme yang digunakan dalam kerja mikrobiologi. Suatu bahan desinfektan harus dapat membuat keadaan aman dari infeksi yang membutuhkan suatu aksi bakterisida yang cepat. Desinfektan biasanya bukan sporisida. Desinfektan biasa digunakan untuk objek dan benda-benda tidak bergerak dan beberapa diantaranya cocok untuk penggunaan kulit, membrane dari tubuh, dan rogga pada tubuh. Proses desinfektan biasanya didasarkan pada reaksi kimia, laju dan kemanjuran reaksi ini dipengaruhi oleh konsentrasi bahan, suhu, pH, dan bentuk sediaannya. Contoh desinfektan: fenol, kresol, xylenol, dan alcohol (Hugo, and Russel, 1989). Suatu antiseptik harus memiliki kemampuan untuk mencegah terjadinya sepsis dan ditujukan untuk penggunaan kulit dan membrane mukosa. Dengan demikian, selain memiliki aktifitas antimikroba, antiseptik juga harus nontoksik. Contoh antiseptik: povidon-iodin 0,5-10,0% dan alcohol (etil atau isopropyl) 50-90% dalam air (Hugo, and Russel, 1989).

C. ALAT DAN BAHAN


Alat: Lampu spiritus Korek api Jarum ose Tabung reaksi Inkubator Bahan: Nutrien agar miring Kultur yang akan ditanam: S. aureus dan E. coli Kapas Alumunium foil Alkohol 70%

D. CARA KERJA
Tabung berisi kultur dibuka, dipanasi mulut tabung dengan lampu spiritus Dipanasi ose sampai merah, ditunggu sebentar hingga cukup dingin Diambil sedikit biakan murni agar miring Digoreskan secara zig zag ke dalam tabung lain yang berisi media agar miring

Dipanasi kembali mulut tabung, tutup dengan kapas dan alumunium foil Diinkubasi pada 37 C untuk pengamatan esok harinya

E. HASIL PENGAMATAN
E. coli

S. aureus

Sampel : biakan murni S. aureus dan E. coli Jenis medium : pemindahan dari medium padat ke medium padat Deskripsi pengamatan : E. coli : Koloni terbentuk tidak teratur dengan warna putih susu dan menggerombol dan berbentuk titik-titik kecil. S. aureus : Koloni terbentuk berwarna kuning pucat bertekstur seperti mentega atau krim berbentuk tidak teratur (garis-garis mencuat).

F. PEMBAHASAN
Dengan melakukan praktikum ini, praktikan diharapkan dapat melakukan kerja aseptik dan memindah biakan dari suatu media ke media lain. Dalam praktikum ini, dilakukan pemindahan biakan dari medium padat ke padat.

Biakan murni (pure culture) adalah biakan yang terdiri dari satu jenis spesies dengan media buatan sebagai tempat pertumbuhannya. Biakan murni sangat diperlukan dalam kegiatan mikrobiologi, misalnya untuk keperluan diagnostik, karakterisasi mikroorganisme, industri mikrobiologi dan lain-lain. Untuk mendapatkan biakan murni, selain memerlukan nutrisi dan lingkungan yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme, biakan juga perlu dijaga kesterilannya agar tidak terkontaminasi dengan mikroorganisme lain. Oleh karena itu perlu diterapkan teknik aseptis untuk mencegah kontaminasi dalam memanipulasi kultur dan media kultur yang steril. Teknik kerja aseptis merupakan suatu cara yang dilakukan untuk mencegah adanya kontaminasi pada biakan dan alat-alat maupun pada pekerja di laboratorium. Dari pengerjaan secara aseptis diharapkan suatu hasil biakan murni (pure culture). Biakan murni diperlukan dalam kegiatan mikrobiologi, misalnya untuk keperluan diagnostic, karakteristik mikroorganisme, industri mikrobiologi, dan lain-lain. Selain hal-hal di atas, agar biakan yang diperoleh optimal maka perlu diperhatikan beberapa hal, mengingat pertumbuhan mikroorganisme dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bersifat fisik dan kimiawi, antara lain: a. Nutrisi Nutrisi yang dibutuhkan mikroorganisme bermacam-macam tergantung pada jenis mikroba dan kebutuhan yang diperlukan sel mikroba tersebut untuk pertumbuhannya. Oleh karena itu mikroba harus ditumbuhkan dalam medium dengan komposisi nutrisi yang sesuai. Nutrisi yang dibutuhkan diantaranya adalah: 1. Air, untuk pertukaran zat, menjaga kelembaban, serta melarutkan nutrisi lain. 2. Sumber karbon, seperti CH4 dan CO2, atau senyawa yang lebih kompleks seperti alkohol dan sitrat. 3. Mineral, seperti Na, K, Mg, Zn, P, S, dan Cl dibutuhkan dalam jumlah cukup besar untuk menjaga keisotonikan. 4. Sumber nitrogen, seperti NO2, NO3, NH3, asam amino, polipeptida, dan pepton. 5. Vitamin b. Suhu Suhu mempengaruhi metabolisme pertumbuhan mikroorganisme. Mikroorganisme mempunyai temperatur optimum untuk pertumbuhannya. c. Kondisi asam-basa lingkungan (pH) Reaksi enzimatis yang terjadi di dalam mikrobia untuk pertumbuhan, dan juga permeabilitas membran sel mikrobia dipengaruhi oleh pH. d. Sterilitas Dibutuhkan medium yang steril dan dikerjakan secara aseptis untuk pertumbuhan mikroba.

e. Oksigen Dibutuhkan oleh mikroorganisme aerob. Penggunaan medium sangat penting dalam kerja aseptis ini. Medium adalah kumpulan zat-zat organik dan anorganik yang digunakan untuk menumbuhkan bakteri dengan syarat-syarat tertentu untuk keperluan isolasi, memperbanyak perhitungan dan pengujian, serta fisiologik suatu organisme. Macam-macam medium sebagai pembiakan, antara lain: 1. Biakan cair, media cair (susu atau air daging) serta organisme yang tumbuh. 2. Biakan agar miring (slunt culture), contohnya: nutrien agar, serum darah. 3. Biakan plate ( plate culture ), tumbuh dalam medium padat dalam cawan petri. 4. Media shake, organisme diinokulasikan ke medium agar cair lalu menggoyangkan tabung untuk mendapatkan suspensi organisme yang seragam sebelum terjadi pemadatan. Organisme anaerob obligat tumbuh pada bagian dalam medium, sedangkan organisme aerob obligat tumbuh di dekat permukaan yang terdapat oksigen. 5. Biakan stab, medium gelatin digunakan untuk mempelajarikarakter bentuk yang diproduksi oleh organisme tertentu. Klasifikasi ilmiah dari Staphylococcus aureus adalah sebagai berikut: Domain : Bacteria Kerajaan : Eubacteria Filum : Firmicutes Kelas : Bacilli Ordo : Bacillales Famili : Staphylococcaceae Genus : Staphylococcus Spesies : S. Aureus (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Staphylococcus_aureus) Staphylococcus aureus (S. aureus) adalah bakteri gram positif yang menghasilkan pigmen kuning, tidak menghasilkan spora dan tidak motil. Dapat tumbuh secara aerob, anaerob fakultatif, dan mikroaerofilik. Terkadang ditemukan negatif gram pada bagian tengah gerombolan kuman, pada kuman yang telah difagositosis dan pada biakan tua yang hampir mati, bersifat koagulasi positif. Umumnya tumbuh berpasangan maupun berkelompok. Berbentuk sferis, bila menggerombol dalam bentuk yang tidak teratur, mungkin sisinya rata karena tertekan. Diameter sekitar 0,81,0 m. S. aureus tumbuh dengan optimum pada suhu 37oC dengan waktu pembelahan 0,47 jam. S. aureus merupakan mikroflora normal manusia. Bakteri ini biasanya terdapat pada saluran pernafasan atas dan kulit (Anonim, 2011).

Klasifikasi E. coli adalah sebagai berikut: Domain : Bacteria Filum : Proteobacteria Kelas : Gammaproteobacteria Ordo : Enterobacteriales Famili : Enterobacteriaceae Genus : Escherichia Spesies : E. coli (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Eschericia_coli) Escherichia coli, atau biasa disingkat E. coli, adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif. Pada umumnya, bakteri yang ditemukan oleh Theodor Escherich ini dapat ditemukan dalam usus besar manusia. Kebanyakan E. Coli tidak berbahaya, tetapi beberapa, seperti E. Coli tipe O157:H7, dapat mengakibatkan keracunan makanan yang serius pada manusia. E. Coli yang tidak berbahaya dapat menguntungkan manusia dengan memproduksi vitamin K2, atau dengan mencegah bakteri lain di dalam usus (Anonim, 2011). Pemindahbiakan biakan bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu dari media cair ke media padat dan dari media padat ke media padat. Pada percobaan ini, pemindahbiakan dari media cair ke media padat tidak dilakukan, hanya pemindahan dari media padat ke media padat. Pemindahbiakan ini dilakukan di dalam LAF (Laminair Air Flow). Prinsip kerja LAF adalah dengan meniupkan udara di dalam LAF keluar agar mikroba-mikroba yang ada di udara keluar dari LAF dan mencegah mikroba yang berada di luar LAF masuk ke dalam. Dengan demikian diharapkan biakan yang akan dikulturkan pada media baru adalah biakan murni. Di dalam LAF juga dinyalakan lampu spiritus. Selain untuk memanaskan wadah biakan / mulut wadah biakan, lampu spiritus juga berguna untuk menaikkan suhu dalam LAF sehingga bisa membunuh mikroba asing yang masuk dalam LAF. Sebelum melakukan percobaan, tangan praktikan dibersihkan menggunakan alkohol dengan jalan penyemprotan. Alkohol berfungsi sebagai desinfektan yang melarutkan lemak pada membran sitoplasma dan mendenaturasi protein sehingga mikroba-mikroba yang menempel pada tangan akan mati. Setelah dibersihkan dengan alkohol, tangan praktikan baru boleh dimasukkan dalam LAF, dan boleh mulai bekerja setelah alkohol menguap. Hal yang sama juga dilakukan pada peralatan yang akan digunakan di dalam LAF. Sebelum dimasukkan ke dalam LAF harus dibersihkan dengan desinfektan yaitu melalui penyemprotan dengan alkohol. Pada percobaan ini akan dipindahkan sejumlah mikroba ke media yang baru. Sebab kemungkinan media yang lama nutrisinya sudah berkurang. Untuk mengoptimalkan

hasil biakan, maka mikroba dipindah ke media yang baru. Media baru berupa media agar miring (slunt culture). Digunakan agar miring bertujuan untuk memperluas permukaan agar dan memudahkan oksigen masuk sehingga pertumbuhan mikroba bisa optimal. Cara memindahkan biakan, pertama, buka alumunium foil dan kapas yang menutup tabung berisi kultur yang akan dipindahkan, panaskan mulut tabung agar mikroba dalam tabung tidak bisa keluar. Lalu, panasi ose sampai memerah agar ose bebas dari kontaminan. Sebelum digunakan untuk mengambil biakan, ose dibiarkan agak dingi. Jika ose masih terlalu panas dikhawatirkan bakteri yang akan diambil akan rusak atau justru mati. Pengambilan dilakukan dengan cara menggoreskan ose pada medium agar miring. Mulut tabung yang berisi media agar miring baru dibuka dan dipanasi mulut tabungnya untuk minimalisasi kontaminan, baru kemudian hasil pengambilan digoreskan secara zig zag pada media baru tersebut. Penggoresan secara zig zag diusahakan agar tidak terlalu rapat supaya nantinya dapat terlihat dengan jelas koloni yang tumbuh. Setelah itu, panasi kembali kedua mulut tabung dan tutup dengan kapas dan alumunium foil. Terakhir, hasil biakan yang telah dipindahkan diinkubasi pada suhu 37 C (suhu optimum pertumbuhan bakteri) selama 24 jam. Setelah 24 jam diinkubasi, dilakukan pengamatan terhadap bentukan koloni. Pada S. aureus, koloni berwarna kuning pucat seperti lender atau seperti krim. Koloni membentuk pola tidak teratur seperti garis-garis mencuat. Sementara pada E. coli, koloni tampak jelas, dengan pola menggerombol dan titik-titik kecil. Warna koloni putih susu dengan tekstur seperti lendir. Praktikum yang telah dilakukan sudah berhasil karena koloni bakteri yang dipindahkan berhasil tumbuh dalam media agar miring yang baru.

G. KESIMPULAN
Teknik asptis sangat dibutuhkan dalam pemindah biakan agar tidak terjadi kontaminasi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme antara lain nutrisi, temperatur, pH, O2, dan sterilitas. Pemindah biakan dilakukan dari media padat ke media padat dengan menggunakan media agar miring (slunt culture). Bakteri yang dipindah biakkan adalah Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Pemindah biakan S. aureus yang sudah berhasil, ditunjukkan dengan biakan koloni yang baru tumbuh dengan baik. Pemindah biakan untuk E. coli sudah berhasil, terbukti terbentuknya koloni berwarna putih dan menggerombol.

H. DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011, Escherichia coli, http://id.wikipedia.org/wiki/Escherichia_coli diakses pada tanggal 16 Maret 2012 20.33 WIB. Anonim, 2011, Staphylococcus aureus, http://id.wikipedia.org/wiki/Staphylococcus_ Aureus diakses pada tanggal 16 Maret 2012 20.47 WIB. Murti, Yosi Bayu et al., 2012, Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Farmasi, Bagian Biologi Farmasi UGM, Yogyakarta. Dwidjosaputro, D., 1994, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambatan, Jakarta. Gupte, Satish, 1990, Mikrobiologi Dasar, Binarupa Aksara, Jakarta. Hugo, W.B., and Russel, A.D., 1989, Pharmaceutical Microbiology 4th ed., Blackwell Scientific Publication, London. Schlegel, Hans G., 2003, General Microbiology, Cambridge University Press, England. Wheelis, Mark, 2008, Principles of Modern Microbiology, Jones and Bartlett Publisher, USA.

Mengetahui, Asisten Koreksi

Yogyakarta, 26 Maret 2012 Praktikan,

( Risma Ardiyani )