Anda di halaman 1dari 38

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tujuan bersama yang dihasilkan oleh deklarasi Millenium pada tahun 2000 yang menghasilkan suatu konsep penting dikenal dengan istilah Millenium Development Goals (MDGs). Salah satu butir penting yang dirumuskan dalam Millenium Development Goals (MDGs) tersebut adalah memerangi HIV/AIDS dan penyakit menular. Hasil rumusan Millenium Development Goals (MDGs) direspon oleh pemerintah Indonesia dengan menyusun visi dan misi Indonesia sehat 2014 yang diwujudkan melalui 6 rencana strategi. Salah satu rencana strategi tersebut adalah meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, bermutu dan berkeadilan, serta berbasis bukti, dengan pengutamaan pada upaya promotif dan preventif (Depkes, 2010). Salah satu sasaran pembangunan kesehatan adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat yang optimal yang secara bermakna dapat terlihat dari meningkatnya umur harapan hidup dari umur 67,4 tahun pada tahun 2010 menjadi umur 71,1 tahun pada tahun 2020. Peningkatan umur harapan hidup disatu sisi adalah kabar gembira karena hal itu mencerminkan keberhasilan pembangunan dibidang kesehatan. Namun disisi lain hal ini merupakan beban berat bagi dunia kesehatan karena masalah baru akan timbul yakni meningkatnya prevalensi penyakit degenerati seperti diabetes mellitus, katarak,

arteriosklerosis,

osteoporosis,

hipertensi

dan

sebagainya

yang

dapat

menimbulkan berbagai macam komplikasi yang serius (Tjahjono, 2009). Diabetes melitus atau yang lebih dikenal sebagai penyakit kencing manis adalah suatu kumpulan gangguan metabolik yang ditandai dengan

meningkatnya kadar glukosa darah (hiperglikemi). Meningkatnya kadar glukosa darah ini disebabkan karena gangguan sekresi, resistensi hormon insulin atau keduanya yang berkaitan dengan faktor genetik dan faktor lingkungan (Soewondo, 2007). Menurut data dari World Health Organization (WHO), jumlah penderita DM di dunia pada tahun 2000 terdapat sebanyak 2,8% dan diperkirakan akan meningkat pada tahun 2030 menjadi 4,4%. Diabetes Melitus telah menjadi penyebab kematian keempat terbesar di dunia (Wild S, 2004). Menurut data dari International Diabetes Federation (IFD), kematian akibat DM pada tahun 2010 meningkat 5,5% dari angka kematian pada tahun 2007. Berdasarkan data dari WHO, jumlah penderita DM di Indonesia pada tahun 2000 terdapat sebanyak 8,4 juta jiwa dan diperkirakan menjadi 21,3 juta jiwa pada tahun 2030. Tingginya jumlah penderita DM di Indonesia menjadikan Indonesia menduduki peringkat ke empat di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat (Wild S, 2004). Depertemen Kesehatan Indonesia menyatakan bahwa pada tahun 2007, jumlah kasus DM yang dirawat inap di rumah sakit di Indonesia sebanyak 0,5% kasus dan kasus baru yang dirawat jalan di rumah sakit di Indonesia sebanyak 0,48% kasus.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDES) Departemen Kesehatan Indonesia menyatakan prevalensi DM di Indonesia sebesar 5,7% pada tahun 2008 (Depkes, 2009). Ada empat pilar penatalaksanaan DM yaitu edukasi, terapi medis, latihan jasmani, dan obat (Soegondo, 2009). Penyakit DM yang tidak ditatalaksana dengan baik dapat mengakibatkan terjadinya berbagai komplikasi dan penyakit menahun seperti penyakit koroner, penyakit pembuluh darah tungkai, penyakit pada mata, ginjal, dan saraf. Penatalaksanaan DM yang sesuai, baik secara farmakologi maupun nutrisi dan latihan jasmani dapat mengendalikan dan mempertahankan kadar glukosa darah dan berat badan dalam batas normal sehingga dapat mencegah timbulnya komplikasi (Waspadji S, 2007). Kadar glukosa darah yang tidak terkendali karena ketidakpatuhan pasien DM dalam pengobatannya di rumah sakit dapat mengakibatkan perawatan yang lebih lama dan juga dapat meningkatkan mortalitas pasien DM (Rumsfeld, 2006). Pada umumnya, kepatuhan pada pengobatan penyakit yang bersifat kronis baik dari segi medis maupun nutrisi masih tergolong rendah (Soegondo, 2009). Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis yang pada umumnya tingkat kepatuhan terhadap diet, obat dan latihan jasmani yang dianjurkan oleh dietisien dan dokter tergolong rendah. Berdasarkan penelitian Abdurrachim (2008) di Banjarmasin di dapatkan dapat91,1% penderita DM tidak patuh terhadap aktivitas fisik/olahraga yang anjurkan dan penelitian yang dilakukan pada Fakultas Kesehatan Masyrakat Universitas Indonesia didapatkan bahwa

75% penderita DM tidak patuh terhadap aktivitas fisik/olahraga yang dianjurkan Abdurrachim R . Penelitian Siregar tahun 2004 di Palembang menyatakan bahwa penderita DM yang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang baik tentang standar aktivitas fisik/olahraga penyakit DM dan mengaplikasikan memiliki kadar glukosa darah terkendali dan berat badan dalam batas normal sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi (Siregar R, 2004). Latihan fisik merupakan salah satu prinsip dalam penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus. Kegiatan fisik sehari-hari dan latihan fisik teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes. Latihan fisik yang dimaksud adalah berjalan, bersepeda santai, jogging, senam, dan berenang. Latihan fisik ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani (PERKENI, 2002). Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki. (Sumosardjuno, 2006). Senam kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan memperkuat otot-otot kecil kaki dan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki. Selain itu dapat meningkatkan kekuatan otot betis, otot paha, dan juga mengatasi keterbatasan pergerakan sendi (Wibisono, 2009). Untuk meningkatkan efektifitas sebaiknya senam dilakukan selama 30 menit 3-4 kali seminggu. Berdasarkan data yang diperoleh dari RSUD Bangkinang pada tahun 2010 jumlah penderita DM sebanyak 896 penderita, pada tahun 2011, jumlah

tersebut meningkat menjadi 1203 penderita dan pada Bulan Januari 2012 tercatat sudah ada kunjungan penderita DM sebanyak 85 orang. Berdasarkan data dari Rumah Sakit Umum Bangkinang (Medical record) 10 penyakit terbesar DM merupakan urutan nomor 6 (enam),yakni sebanyak 85 penderita dengan jumlah kunjungan 692 (Laporan tahunan RSUD, Medical Record 2012) Data yang diperoleh dari RSUD Bangkinang, dari 85 penderita DM pada tahun 2011, jumlah kunjungannya mencapai 322 kali, jadi dapat dirata-ratakan satu orang penderita mengunjungi RSUD Bangkinang 32 kali dalam satu tahun, penderita yang datang berobat ke Rumah Sakit rata-rata hanya mendapat therapi farmakologi tanpa mendapat terapi non farmakologi yang memadai, sehingga penderita hanya minum obat anti DM sebagai therapi tanpa diikuti penatalaksanaan yang lain, hal ini berdampak pada kekambuhan penyakit DM apabila obat habis (Register Medical Record 2011) Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengobatan penderita DM tidak bisa bersifat tunggal, tetapi merupakan kombinasi antara pengobatan farmakologi dengan pengobatan non farmakologi. Oleh sebab itu peneliti tertarik mengadakan penelitian tentang efektivitas aktivitas senam kaki dalam mengontrol kadar gula darah penderita DM di RSUD Bangkinang.

B. Rumusan masalah Uraian diatas menggambarkan bahwa DM merupakan penyakit yang sangat kompleks yang memerlukan penanganan yang kompleks dengan menggunakan berbagai metode penanganan yang efektif baik menggunankan obat-obatan maupun non obat-obatan seperti olahraga, diet, serta pentingnya

melakukan kontrol kadar gula darah oleh sebab itu peneliti mengangkat permasalahan tentang efektivitas aktivitas fisik senam kaki dalam mengontrol kadar gula darah penderita DM di RSUD Bangkinang.

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Diketahuinya efektifitas aktivitas fisik senam kaki dalam mengontrol kadar gula darah penderita DM di RSUD Bangkinang. 2. Tujuan khusus a. Diketahuinya karakteristik penderita DM di RSUD Bangkinang. b. Untuk mengontrol kadar gula darah penderita sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki. c. Diketahuinya kemampuan penderita DM di RSUD Bangkinang dalam penerimaan materi latihan senam kaki. d. Diketahuinya perbedaan kadar gula darah penderita DM pada kelompok intervensi dengan penderita DM pada kelompok kontrol.

D. Mamfaat penelitian 1. Bagi RSUD Bangkinang Sebagai media evaluasi penatalaksanaan penyakit DM yang dilakukan oleh petugas kesehatan di RSUD Bangkinang sekaligus sebagai ajang penyusunan kerangka kerja penatalaksanaan penyakit DM demi perbaikan citra pelayanan kesehatan di RSUD Bangkinang.

2. Bagi Peneliti Menambah pengetahuan, menerapkan ilmu serta pengetahuan yang di peroleh di bangku kuliah tentang penyakit DM dan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan SI keperawatan. 3. Bagi perkembangan ilmu keperawatan Hasil peneliti ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan perawat dalam meningkatkan ilmu keperawatan dan memberikan pelayanan keperawatan yang profesional serta menjadi bahan acuan untuk melakukan penelitian lanjutan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan teoritis 1. Konsep dasar diabetes melitus a. Pengertian diabetes melitus Diabetes melitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Fakultas Kedokteran UI, 2005). Diabetes melitus adalah suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin (Saraswati, 2009). Diabetes melitus adalah suatu penyakit dimana kadar glukosa dalam darah mempunyai kadar yang tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara cukup (RA. Nabil, 2009).

b. Etiologi Menurut Badawi (2009), penyebab terjadinya diabetes melitus sangat bervariasi, bisa karena faktor keturunan, usia, kegemukan, ras serta gaya hidup. Faktor genetik dan lingkungan berperan dalam timbulnya kedua diabetes melitus, tetapi faktor genetik lebih nyata pada

tipe 2 (NIDDM). Pada tipe 1 (IDDM) faktor genetik berhubungan dengan pengaturan genetik pada respon imun, sehingga IDDM sering muncul pada penyakit auto imun terhadap sel beta pangkreas. Ada beberapa faktor penyebab timbulnya diabetes melitus yaitu: 1). Penyakit diabetes melitus tidak hanya disebabkan oleh faktor keturunan (genetik), tetapi juga dipengaruhi beberapa faktor lain yang multi kompleks, antara lain kebiasaan hidup dan lingkungan seperti makanan yang berlebihan, kegemukan dan jarang sekali berolah raga. 2). Disebabkan oleh kerusakan sel beta pankreas akibat reaksi autoimun. 3). Disebabkan oleh resistensi hormon insulin, karena jumlah reseptor insulin pada pankreas sel berkurang (Lanywati, 2001). c. Faktor risiko diabetes melitus Seseorang yang mempunyai faktor resiko DM dapat melakukan pemeriksaan penyaring yang bertujuan untuk mengidentifikasi seseorang yang tidak bergejala tetapi mempunyai resiko DM. Pemeriksaan penyaring yang dilakukan pada pasien yang sekurang-kurangnya satu faktor resiko sebagai berikut: 1). Usia > 45 tahun DM merupakan penyakit yang terjadi akibat penurunan fungsi organ (degeneratif) terutama organ pankreas yang memproduksi insulin sehingga kasus DM meningkat sejalan dengan pertambahan usia.

10

2). Berat badan lebih atau IMT (indeks massa tubuh) >23 kg/m2 karena adanya hormon glukokortikoid yang disintesis oleh jaringan adiposa tanpa regulasi dan sejumlah sitokin yang disekresikan oleh mikropag yang menginfiltrasi jaringan adiposa. 3). Riwayat keluarga DM. 4). Riwayat DM pada kehamilan. 5). Riwayat melahirkan bayi dengan berat > 4000 gr. 6). Kebiasaan tidak aktif. 7). Kolesterol HDL 35 mg/dl dan atau trigliserida 250 mg/dl. 8). Tekanan darah tinggi (> 140/90 mmhg). 9). Toleransi glukosa terganggu.

d. Tanda dan gejala Seperti halnya penyakit maupun kelainan tubuh yang lain, diabetes melitus juga memiliki tanda-tanda maupun gejala yang dapat diamati secara langsung (tanpa memerlukan pemeriksaan laboratorium) dengan demikian seseorang dapat mengetahui adanya kelainan maupun masuknya penyakit kedalam tubuhnya terutama yang berkaitan dengan diabetes melitus, adapun tanda dan gejala yang timbul akibat penyakit diabetes melitus antara lain (Ramadhan, 2008): 1). Poliuria (banyak kencing). 2). Polidipsi (banyak minum). 3). Poliphalgia (banyak makan). 4). Selalu merasa lelah atau kurang energi.

11

5). Mengalami infeksi kulit. 6). Penglihatan menjadi kabur. 7). Berat badan menurun. 8). Hiperglikemia (peningkatan abnormal kadar gula dalam darah). 9). Pusing dan mual. 10). Ketahanan tubuh berkurang selama beraktivitas. 11). Adanya perasaan haus secara terus menerus. 12). Timbulnya borok (luka pada kaki yang tak kunjung sembuh). 13). Sering hilang kesadaran. 14). Timbul gatal-gatal dan peradangan kulit yang menahun.

e. Jenis-jenis diabetes melitus Diabetes melitus terjadi jika tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup untuk mempertahankan kadar gula darah yang normal/jika sel tidak memberikan respon yang tepat terhadap insulin. Klasifikasi tipe diabetes melitus yaitu: 1). Diabetes melitus tipe 1 (satu) IDDM (diabetes melitus yang tergantung pada insulin). Diabetes ini merupakan diabetes yang jarang atau sedikit populasinya, diperkirakan kurang dari 5%-10% dari keseluruhan populasi diabetes melitus. 2). Diabetes melitus tipe 2 NIDDM (diabetes melitus yang tidak tergantung pada insulin). Diabetes melitus tipe 2 (dua) merupakan tipe diabetes yang lebih umum dan lebih banyak penderitanya

12

dibandingkan tipe 1 (satu), penderita tipe 2 (dua) mencapai 90%-95% dari keseluruhan populasi penderita diabetes melitus. 3). Diabetes melitus tipe lain akibat defek fungsi sel Beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat/zat kimia, infeksi, imunologi, dan sindrom genetik. 4). Diabetes melitus pada kehamilan. (Saraswati, 2009).

f. Komplikasi Komplikasi menahun (kronis) pada penderita dibetes melitus ini menunjukkan angka yang beragam. Pada suatu penelitian di daerah jawa angka komplikasi tertinggi adalah penurunan kemampuan seksual (50,9%) selanjutnya neuropati simtomatik atau komplikasi saraf (30,6%), retinopati diabetik, penyempitan sampai kerusakan pembuluh darah mata (29,3%) katarak (16,3%), TB paru-paru (15,3%), hipertensi (12,8%), penyakit jantung koroner (10%) disusul gangguan diabetik ujung jari menghitam dan menjadi buruk (3,5%). Dua macam komplikasi, akut yang sering terjadi adalah hipoglikemik dan koma diabetik. Reaksi serentak oleh tubuh yang kekurangan gula ini adalah rasa lapar, gemetar, keringat dingin dan pusing. Reaksi hipoglikemik mendadak dengan tanda-tanda pingsan, biasanya akibat dari minum obat anti diabetes yang dosisnya terlalu tinggi, terlambat makan, atau latihan fisik yang berlebihan yang tidak kalah bahayanya adalah bila sampai terjadi hiperglikemik akibat kadar glukosa dalam darah terlalu

13

tinggi. Gejalanya adalah nafsu makan menurun drastis, haus luas biasa dan kencing yang banyak. Selanjutnya mual, muntah, nafsu makan cepat dan dalam (Anies, 2006).

g. Penatalaksanaan Diabetes melitus Tujuan penatalaksanaa DM dibagi atas tujuan jangka pendek dan panjang, yaitu: 1) Tujuan jangka pendek Menghilangkan berbagai keluhan/gejala DM, mempertahankan rasa nyaman dan tercapainya target pengendalian glukosa darah. 2) Tujuan jangka panjang Mencega berbagai komplikasi baik pada pembuluh darah (mikroangiopati dan makroangiopati) maupun pada susunan syaraf (neuropati) sehingga dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas DM. Ada beberapa terapi bagi penderita DM, tetapi yang penting adalah bagaimana penderita dapat mengatur gaya hidupnya (makan, olah raga, aktifitas lain). Tujuan terapeutik pada setiap penderita DM adalah mencapai kadar glukosa darah normal tanpa terjadi hipoglikemia dan gangguan series pada pola aktivitas pasien. Komponen-konponen dalam penatalaksanaan DM, yaitu: 1) Pengaturan Diet Syarat diet DM hendaknya dapat: a) Memperbaiki kesehatan umum penderita

14

b) Mengarahkan pada berat badan normal c) Mempertahankan kadar KGD normal d) Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetik e) Memberikan modifikasi diet sesuai dengan keadaan penderita. f) Menarik dan mudah diberikan Prinsip diet DM yang harus dipatuhi, adalah: a) Jumlah sesuai kebutuhan b) Jadwal diet ketat c) Jenis: boleh dimakan/tidak 2) Melakukan Latihan Kegunaan latihan teratur bagi penderita DM, adalah berikut ini: a) Meningkatkan kepekaan insulin, apabila dikerjakan setiap 1,5 jam sesudah makan, berarti pula mengurangi insulin resisten pada penderita dengan kegemukan atau menambah jumlah reseptor insulin dan meningkatkan sensitivitas insulin dengan reseptornya. b) Mencegah kegemukan apabila ditambah latihan pagi dan sore. c) Memperbaiki aliran perifer dan menambah suplai oksigen. d) Meningkatkan kadar kolesterol-high density lipoprotein (HDL). e) Latihan akan merangsang pembentukan glikogen baru bila Kadar glukosa otot dan hati berkurang. f) Menurunkan kolesterol (total) dan trigliserida dalam darah karena pembakaran asam lemak menjadi lebih baik.

15

Empat pilar pengelolaan penyakit DM adalah: (PERKENI, 2002) 1) Penyuluhan (edukasi) 2) Terapi gizi medis 3) Latihan jasmani 4) Obat hipoglikemik

2. Senam Kaki Diabetes a. Defenisi Senam adalah latihan fisik yang dipilih dan diciptakan dengan terencana, disusun secara sistematik dengan tujuan membentuk dan mengembangkan pribadi secara harmonis (Probosuseno, 2007).

Berdasarkan pengertiannya, senam adalah salah satu jenis olahraga aerobik yang menggunakan gerakan sebagian otot-otot tubuh, dimana kebutuhan oksigen masih dapat dipenuhi tubuh (Karim, 2002). Latihan fisik merupakan salah satu prinsip dalam penatalaksanaan penyakit Diabetes Melitus. Kegiatan fisik sehari-hari dan latihan fisik teratur (3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit) merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan diabetes. Latihan fisik yang dimaksud adalah berjalan, bersepeda santai, jogging, senam, dan berenang. Latihan fisik ini sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani (PERKENI, 2002). Senam kaki adalah kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki. (Sumosardjuno,2006). Senam

16

kaki dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah dan memperkuat otototot kecil kaki dan mencegah terjadinya kelainan bentuk kaki. Selain itu dapat meningkatkan kekuatan otot betis, otot paha, dan juga mengatasi keterbatasan pergerakan sendi (Wibisono, 2009). b. Tujuan Adapun tujuan yang diperoleh setelah melakukan senam kaki ini adalah memperbaiki sirkulasi darah pada kaki pasien diabetes, sehingga nutrisi lancar kejaringan tersebut (Tara, 2003). c. Indikasi dan Kontraindikasi Indikasi dari senam kaki ini dapat diberikan kepada seluruh penderita Diabetes mellitus dengan tipe 1 maupun 2. Namun sebaiknya diberikan sejak pasien didiagnosa menderita Diabetes Melitus sebagai tindakan pencegahan dini. Senam kaki ini juga dikontraindikasi pada klien yang mengalami perubahan fungsi fisiologis seperti dipsnnea atau nyeri dada. Orang yang depresi, khawatir atau cemas. Keadaan-keadaan seperti ini perlu diperhatikan sebelum dilakukan tindakan senam kaki. Selain itu kaji keadaan umum dan keadaaan pasien apakah layak untuk dilakukan senam kaki tersebut, cek tanda-tanda vital dan status respiratori (adakah Dispnea atau nyeri dada), kaji status emosi pasien (suasana hati/mood, motivasi), serta perhatikan indikasi dan

kontraindiikasi dalam pemberian tindakan senam kaki tersebut.

17

d. Prosedur Alat yang harus dipersiapkan adalah : Kursi (jika tindakan dilakukan dalam posisi duduk), prosedur pelaksanaan senam. Sedangkan persiapan untuk klien adalah Kontrak topik, waktu, tempat dan tujuan dilaksanakan senam kaki. Perhatikan juga lingkungan yang mendukung, seperti lingkungan yang nyaman bagi pasien, dan Jaga privacy pasien. Langkah-langkah pelaksanaan senam kaki: 1. Perawat cuci tangan 2. Jika dilakukan dalam posisi duduk maka posisikan pasien duduk tegak diatas bangku dengan kaki menyentuh lantai. Dapat juga dilakukan dalam posisi berbaring dengan meluruskan kaki.

Gambar 2.1 Pesien duduk di atas kursi 3. Dengan meletakkan tumit di lantai, jari-jari kedua belah kaki diluruskan ke atas lalu dibengkokkan kembali ke bawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali. Pada posisi tidur, jari-jari kedua belah kaki diluruskan

18

ke atas lalu dibengkokkan kembali ke bawah seperti cakar ayam sebanyak 10 kali

Gambar 3.1 Tumit kaki di lantai dan jari-jari kaki diluruskan ke atas 4. Dengan meletakkan tumit salah satu kaki dilantai, angkat telapak kaki ke atas. Pada kaki lainnya, jari-jari kaki diletakkan di lantai dengan tumit kaki diangkatkan ke atas. Dilakukan pada kaki kiri dan kanan secara bergantian dan diulangi sebanyak 10 kali. Pada posisi tidur, menggerakkan jari dan tumit kaki secara bergantian antara kaki kiri dan kaki kanan sebanyak 10 kali.

19

Gambar 4.1 Tumit kaki di lantai sedangkan telapak kaki di angkat 5. Tumit kaki diletakkan di lantai. Bagian ujung kaki diangkat ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Pada posisi tidur, kaki lurus ke atas dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali

Gambar 5.1 Ujung kaki diangkat ke atas 6. Jari-jari kaki diletakkan dilantai. Tumit diangkat dan buat gerakan memutar dengan pergerakkan pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali. Pada posisi tidur kaki harus diangkat sedikit agar dapat melakukan gerakan memutar pada pergelangan kaki sebanyak 10 kali.

20

Gambar 6.1 Jari-jari kaki di lantai 7. Luruskan salah satu kaki dan angkat, putar kaki pada pergelangan kaki, tuliskan pada udara dengan kaki dari angka 0 hingga 10 lakukan secara bergantian (Akhtyo, 2004). Gerakan ini sama dengan posisi tidur.

Gambar 7.1 Kaki diluruskan dan diangkat 5. Hal yang di Evaluasi Setelah Tindakan Setelah malakukan senam kaki evaluasi pasien apakah pasien dapat menyebutkan kembali pengertian senam kaki, dapat menyebutkan kembali 2

21

dari 4 tujuan senam kaki, dan dapat memperagakan sendiri teknik-teknik senam kaki secara mandiri. 6. Dokumentasi Tindakan Perhatikan respon pasien setelah melakukan senam kaki. Lihat tindakan yang dilakukan klien apakah sesuai atau tidak dengan prosedur, dan perhatika tingkat kemampuan klien melakukan senam kaki (Akhtyo, 2004).

3. Kadar gula darah a. Pengertian kadar gula darah Kadar gula darah adalah jumlah atau kandungan gula atau glukosa yang terdapat di dalam darah pada suatu pemeriksaan yang telah ditentukan (sewaktu atau puasa). b. Kadar gula darah dan metode pengukuran Table 2.1 Kadar gula dan cara pengukuran
KADAR GULA DALAM DARAH (KONDISI) METODE PENGUKURAN

NORMAL

DIABETES

IGT

IFG

GULA DARAH PUASA (FASTING GLUCOSE)

< 6.1 mmol/l < 110 mg/dL

> 7.0 mmol/L > 126 mg/dL atau

< 7.0 mmol/L < 126 mg/dL Dan

6.1 < X< 7.0 mmol/L 110 < X< 126 mg/dL dan < 7.8 mmol/L < 140 mg/dL (Jika diukur)

GULA DARAH 2 JAM SETELAH MAKAN (2-h GLUCOSE)

Tidak spesifik. Nilai yang sering dipakai < 7.8 mmol/L < 140 mg/dL

> 11.1 mmol/L > 200 mg/dL

7.8 < X < 11.1 mol/L 140 < X < 200 mg/dL

Sumber : (PERKENI, 2008)

22

Menurut

kriteria

diagnostik

PERKENI

(Perkumpulan

Endokrinologi Indonesia) 2006, seseorang dikatakan menderita diabetes jika memiliki kadar gula darah puasa >126 mg/dL dan pada tes sewaktu >200 mg/dL. Kadar gula darah sepanjang hari bervariasi dimana akan meningkat setelah makan dan kembali normal dalam waktu 2 jam. Kadar gula darah yang normal pada pagi hari setelah malam sebelumnya berpuasa adalah 70-110 mg/dL darah. Kadar gula darah biasanya kurang dari 120-140 mg/dL pada 2 jam setelah makan atau minum cairan yang mengandung gula maupun karbohidrat lainnya. Kadar gula darah yang normal cenderung meningkat secara ringan tetapi progresif (bertahap) setelah usia 50 tahun, terutama pada orang-orang yang tidak aktif bergerak. Peningkatan kadar gula darah setelah makan atau minum merangsang pankreas untuk menghasilkan insulin sehingga mencegah kenaikan kadar gula darah yang lebih lanjut dan menyebabkan kadar gula darah menurun secara perlahan.

c. Patokan WHO tentang kadar gula darah 1) Kriteria diagnosis untuk gangguan kadar gula darah. Pada ketetapan terakhir yang dikeluarkan oleh WHO (Dalam petemuan tahun 2005) disepakati bahwa angkanya tidak berubah dari ketetapan sebelumnya yang dikeluarkan pada tahun 1999 (Daftar tabel diatas). 2) Kadar gula darah normal (Normoglycaemia) dikatakan sebagai suatu kondisi dimana kadar glukosa darah yang ada mempunyi resiko kecil

23

untuk dapat berkembang menjadi diabetes atau menyebabkan munculnya penyakit jantung dan pembuluh darah 3) IGT oleh WHO didefinisikan sebagai kondisi dimana seseorang mempunyai resiko tinggi untuk terjangkit diabetes walaupun ada kasus yang menunjukkan kadar gula darah dapat kembali ke keadaan normal. Seseorang yang kadar gula darahnya termasuk dalam kategori IGT juga mempunyai resiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah yang sering mengiringi penderita diabetes. Kondisi IGT ini menurut para ahli terjadi karena adanya kerusakan dari produksi hormon insulin dan terjadinya kekebalan jaringan otot terhadap insulin yang diproduksi. 4) Batas bawah untuk IFG tidak berubah untuk pengukuran gula darah puasa yaitu 6.1 mmol/L atau 110 mg/dL. IFG sendiri mempunyai kedudukan hampir sama dengan IGT. Bukan entitas penyakit akan tetapi sebuah kondisi dimana tubuh tidak dapat memproduksi insulin secara optimal dan terdapatnya gangguan mekanisme penekanan pengeluaran gula dari hati ke dalam darah. 5) Metode pengukuran kadar gula standard menggunakan bahan plasma darah yang berasal dari pembuluh vena. Plasma darah adalah bagian cair dari darah. Intinya adalah darah yang sudah tidak mengandung bahan-bahan padat lagi seperti sel darah merah hematokrit dan yang lainnya. Pada alat pengukur gula darah portabel yang banyak terdapat di pasaran, metode mendapatkan plasma dari darah dengan

24

melakukan penyaringan darah yang diambil yang dilakukan oleh strip tempat menaruh sediaan darah yang diambil. Pengukuran kadar gula darah sebaiknya dilakukan sesegera mungkin setelah darah diambil dari vena. Pengukuran darah vena dan kapiler pada saat puasa memberikan hasil yang identik pada saat puasa tetapi tidak untuk pengukuran 2 jam setelah makan dimana hasil dari darah kapiler menunjukkan nilai yang lebih tinggi. 6) Ada sebuah metode pemeriksaan kadar gula darah lainnya yang dapat membantu menentukan pengelompokan gangguan kadar gula darah yaitu OGTT (Oral Glucose Tolerance Test = Tes Toleransi Glukosa Oral). Hal ini penting disebutkan karena : Tes glukosa darah puasa saja mempunyai nilai kegagalan untuk mendeteksi diabetes yang telah diderita sebelumnya (Tetapi belum diketahui kepastiannya) sebesar 30%. OGTT merupakan metode pengukuran yang dapat mengidentifikasi kondisi IGT secara akurat OGTT diperlukan untuk memastikan seseorang mengalami gangguan toleransi glukosa yang tidak terdeteksi (dicurigai) dan juga berarti mengeluarkan orang tersebut dari kecurigaan yang ada. Tes OGTT disarankan untuk dilakukan pada seseorang yang memiliki kadar gula puasa 6.1 6.9 mmol/L atau 110 125 mg/dL untuk menentukan kepastian status toleransi glukosanya. 7) Pemeriksaan HbA1c tidak disarankan sebagai pemeriksaan diagnosis untuk diabetes dan kondisi gangguankadar gula darah lainnya.

25

B. Penelitian Terkait Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Hendro pada tahun 2009 di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Deli Serdang dengan judul penelitian pengaruh psikososial dengan pola makan penderita diabetes melitus di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Deli Serdang di peroleh hasil penelitian 88,0% pola makan penderita diabetes melitus tidak sesuai dan faktor psikososial merupakan faktor yang paling signifikan.

C. Kerangka Konsep Konsep adalah suatu abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan dari hal-hal khusus (Notoatmodjo, 2005). Variabel yang diamati terdiri dari variabel independent atau variabel bebas dan variabel dependent atau terikat. Pada penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah senam kaki, sedangkan variabel terikatnya adalah Kadar gula darah penderita DM. Skema 2.1 Kerangka Konsep Proses Intervensi / perlakuan Pelaksana Senam DM Input pelaksana Kadar gula darah penderita DM Karakteristik siswa/siswi (dokter kecil) 1. Umur 2. Jenis kelamin 3. Pekerjaan 4. Lama menderita penyakit DM Kadar gula darah penderita DM Output

26

D. Hipotesa Ha : Ada pengaruh efektifitas senam kaki bagi penderita DM pengontrolan kadar gula darah. Ho : Tidak ada pengaruh efektifitas senam kaki bagi penderita DM pada pengontrlan kadar gula darah.

27

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian kuasi eksperimen merupakan kerangka kerja yang secara detail merinci contoh prosedur yang diperlukan model rancangan pre test post test group desain untuk memperoleh informasi guna menjawab masalah riset dan menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan (Istijanto, 2006). Desain penelitian pada penelitian ini menggunakan desain penelitian Quasy experimental design (eksperimen semu) dengan rancangan non equivalent pretest-posttest with control group (Hidayat, 2007). Responden penelitian dibagi menjadi 2 (dua) kelompok yaitu kelompok yang mendapat perlakuan/intervensi dan kelompok kontrol/tanpa perlakuan. Kedua kelompok diuji kesetaraannya, kemudian intervensi diberikan kepada kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan/intervensi mengikuti kegiatan olahraga senam kaki selama 1 (satu) bulan dengan 4 (empat) kali pertemuan sedangkan kelompok kontrol tidak melakukan kegiatan senam kaki dengan waktu yang sama.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di Poli Penyakit Dalam RSUD Bangkinang dikarenakan RSUD Bangkinang merupakan rumah sakit rujukan yang ada di kabupaten Kampar

27

28

2. Waktu Penelitian Waktu penelitian direncanakan akan dilaksanakan pada Bulan Maret 2012.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan objek / subjek yang memiliki kuantitas dan karakteristik dari penelitian yang akan diteliti serta telah memenuhi kreteria yang telah ditetapkan ( Nursalam, 2003 ). Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua penderita DM yang datang berobat ke Poli Penyakit Dalam RSUD Bangkinang Bulan Maret 2012 sebanyak..... 2. Sampel Sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005). Pada penelitian ini peneliti menggunakan total sampling yaitu pengambilan seluruh pasien DM yang berobat ke Poli Penyakit Dalam RSUD Bangkinang pada bulan Maret 2012. Kreteria Inklusi a. Pasien DM yang berobat ke Poli Penyakit Dalam RSUD Bangkinang pada bulan Maret 2012 b. Pasien yang kooperatif dan mau melaksanakan kegiatan senam kaki c. Pasien yang bersedia menjadi responden pada penelitian ini d. Pasien yang bisa tulis dan baca

29

Kreteria Eklusi a. Pasien DM yang tidak berobat ke Poli Penyakit Dalam RSUD Bangkinang b. Pasien yang tidak kooperatif c. Pasien yang tidak bersedia menjadi responden d. Pasien yang tidak bisa tulis baca

D. Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian ini, peneliti sangat memperhatikan etika penelitian yang berlaku karena objek penelitian adalah manusia yang mempunyai hak dasar sebagai manusia, beberapa prinsip kemanusiaan yang sangat penting diperhatikan oleh peneliti adalah prinsip manfaat, prinsip menghormati manusia, dan prinsip keadilan. Di tempat penelitian, peneliti akan melaksanakan penelitian dengan melakukan penekanan pada masalah etika yang meliputi : 1. Lembar persetujuan peneliti diberikan kepada responden Dengan tujuan agar subjek mengetahui maksud dan tujuan penelitian serta dampak penelitian selama pengumpulan data. Subjek yang bersedia untuk diteliti harus menandatangani lembar persetujuan menjadi responden, bagi subjek yang menolak dijadikan sebagai responden dalam penelitian, maka peneliti tidak memaksa dengan tetap menghormati hak-hak responden.

30

2. Anonimity (tanpa nama) Untuk menjaga kerahasiaan responden dalam penelitian ini, peneliti tidak mencantumkan nama subjek / responden pada lembar pengumpulan data (lembar checklist / lembar observasi) yang diisi oleh responden. Lembar pengumpulan data tersebut hanya diberi nomor atau kode tertentu seperti hanya menulis atau mencantumkan inisial responden saja. 3. Confidentiality (Kerahasiaan) Memberikan jaminan kerahasiaan dari hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan dilaporkan pada hasil riset.

E. Alat pengumpulan data Merupakan cara peneliti untuk mengumpulkan data dalam penelitian sehingga dapat memperkuat hasil penelitian 1. Data primer Data primer merupakan data yang diperoleh dari informasi yang diberikan oleh responden, peneliti menggunakan alat pengumpulan data dengan bentuk pertanyaan terstruktur terbuka berupa dan angket/kuesioner melalui observasi dengan dengan

menggunakan

pertanyaan

menggunakan lembar checklist lembar observasi..

31

a. Instrumen bagian A adalah angket atau kuesioner untuk mendapatkan data sosio-demografi responden yang meliputi : nama inisial, umur, jenis kelamin, pekerjaan, lama menderita penyakit DM. b. Instrumen B adalah lembar checklist atau lembar observasi yang berisi tentang cara kerja pelaksanaan senam kaki bagi penderita penyakit DM. Pengukuran dikelompokan menjadi tiga kategori, yaitu : 1). Skor 0 2). Skor 1 3). Skor 2 3). Kurang (Arikunto, 2006). Kemudian untuk memudahkan pengolahan data maka peneliti memberi kode hasil klasifikasi nilai tersebut dengan kode sebagai berikut : 1 untuk skor baik, 2 untuk skor sedang dan 3 untuk skor kurang. 2. Data Sekunder Data sekunder diperoleh dari register pencatatan dan pelaporan Poli : Jika tidak dilakukan : Dilakukan, tapi tidak atau kurang sempurna : Dilakukan dengan sempurna : Jika jawaban benar < 60%

Penyakit Dalam RSUD Bangkinang. Data sekunder ini bermanfaat untuk cross check data primer yang diperoleh di tempat penelitian guna keperluan melengkapi data-data yang diperlukan dalam penelitian ini.

F. Prosedur pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan ditempat penelitian Poli Penyakit Dalam RSUD Bangkinang dengan melaksanakan prosedur sebagai berikut : Peneliti meminta surat pengantar penelitian dari Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan

32

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) paying negeri pekanbaru yang kemudian diteruskan kepada Direktur RSUD Bangkinang yang untuk kemudian diteruskan kepada Kepala Ruangan Poli Penyakit Dalam RSUD Bangkinang sebagai tempat penelitian.

G. Defenisi Operasional Tabel 3.1 Defenisi Operasional Skala Penguku ran

NO

Variabel kuantitatif

Defenisi Operasional

Cara Ukur

Alat Ukur

Hasil Ukur 1. 45 tahun 2. > 45 tahun

Umur

Umur responden Pertanya dalam tahun penuh an dengan menghitung terbuka selisih tanggal pengukuran (pengumpulan data) dengan tanggal lahir dokter kecil.

Angket

Ordinal

Jenis kelamin

Perbedaan biologis alat kelamin anak yang dibawa sejak lahir, yang dapat dilihat dari penampilan fisik

Pertanya an terbuka

Angket

Nominal

1. Perem puan 2. Laki- laki

Pekerjaan

kegiatan yang dilakukan untuk menafkahi diri dan keluarganya dimana pekerjaan tersebut tidak ada yang mengatur dan dia bebas karena

Pertanya an terbuka

Angket

Interval

1. 2. 3. 4.

Petani PNS Swasta Wiraswasta

33

tidak ada etika yang mengatur. 1. 10 tahun 2. > 10 tahun

Lama Menderita DM

Rentang waktu yang dirasakan oleh penderita DM mulai timbulnya gejala sampai dirasakan sakit

Pertanya an terbuka

Angket

Ordinal

Senam Kaki

kegiatan atau latihan yang dilakukan oleh pasien diabetes melitus untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki

Mengisi lembar checklist dengan skor 0 = tidak dilaku kan, 1 = dilaku kan tapi tidak sempur na, 2 = dilaku kan dengan sempur na Pemeriks aan Gula darah

Lembar checklist

Ordinal

1. Baik 76100% 2. Sedang 6075% 3. Kurang <60% (Notoatmod jo, 2007)

Kadar gula Jumlah kandungan darah glukosa dalam darah yang diukur dalam satu waktu.

Gluko test

Ordinal

1. Normal 2. Tinggi

H. Analisa Data 1. Pengolahan data Sebelum dilakukan analisa data terlebih dahulu dilakukan pengolahan data dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut :

34

a. Editing Editing merupakan serangkaian kegiatan untuk melakukan pengecekan kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Setelah lembaran angket/kuesioner dan lembar checklist / lembar observasi selesai diisi oleh responden dan peneliti, maka langkah selanjutnya adalah peneliti memeriksa isi dari lembar kuesioner dan lembar checklist / lembar observasi yang terdiri dari kelengkapan isian maupun tulisan (apakah terbaca atau tidak). Jika isian dari lembar kuesioner belum

lengkap diisi oleh responden maka peneliti meminta responden untuk melengkapinya, jika lembar checklist / lembar observasi belum lengkap diisi oleh peneliti maka peneliti harus segera melengkapi kelengkapan isi dari lembar checklist / lembar observasi tersebut. b. Coding Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa katagori yang diletakkan pada lembar kanan atas dari lembar kuesioner dan lembar checklist / lembar observasi. Pemberian kode ini sangat penting bila pengelolan data dan analisa data menggunakan komputer. Biasanya dalam pemberian kode dibuat juga daftar kode dan artinya dalam satu buku (code book) untuk memudahkan kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari suatu variabel. c. Entry Entry data adalah kegiatan memasukan data yang telah dikumpulkan ke dalam master tabel atau data base komputer. Dalam penelitian ini peneliti

35

memasukan data ke dalam program komputer dengan menggunakan program SPSS. d. Cleaning Pembersihan data merupakan rangkaian kegiatan pengecekan kembali data yang telah di entry apakah terdapat kesalahan atau tidak, apakah pengkodeannya sudah tepat atau belum. e. Processing Processing merupakan langkah memproses data dengan mengelompokan data ke dalam variabel yang sesuai dengan penggunaan program SPSS. 2. Analisa data (Analyzing) Uji analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa univariat dan analisa bivariat. a. Analisa univariat Analisa univariat, dilakukan untuk mengetahui gambaran karakteristik responden yang terdiri dari umur, jenis kelamin, pekerjaan, lama menderita penyakit DM menggunakan tabel distribusi frekuensi dengan menggunakan Rumus P = F / N x 100% b. Analisa bivariat Analisa bivariat untuk melihat hubungan antara variabel independent (senam kaki) dengan variabel dependent (kadar gula darah penderita DM).

36

Untuk mengetahui pengaruh antara variabel efektifitas senam kaki pada penderita penyakit DM dengan kadar gula darah penderita DM, yaitu dengan menggunakan uji T Dependent, dengan cara membandingkan variabel katagorik dengan variabel katagorik untuk mengetahui pengaruh kedua variabel. Batas derajat kemaknaan 95% ( = 0,05), apabila dari uji statistik didapatkan standar deviasi kurang dari 0,05, maka dapat disimpulkan ada pengaruh yang signifikan antara variabel independen dengan dependen.

37

DAFTAR PUSTAKA

Adisasmito, (2008). Sistem Kesehatan. Jakarta : Balai Pustaka Anies, (2006). Waspada Ancaman Penyakit Tidak Menular Solusi pencegahan dari Aspek Prilaku dan Lingkungan. Jakarta : PT Alex Media komputindo. Arikunto. S, (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi VI. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Badawi, (2009). Melawan dan Mencegah Diabetes Panduan Hidup Sehat Tanpa Diawasi. Yogjakarta : Arasha. Budiarto, (2002). Biostatistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC. Depkes RI, (2010). Pedoman Pelaksanaan Program Pokok dan Pengembangan Puskesmas. Edisi 2. Jakarta. Fara, (2008). Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC Fakultas Kedokteran UI, (1995). Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta : FKUI. http://www.rajawana.com/artikel/kesehatan/371-penatalaksanaan-diabetesmellitus.html. Hidayat. A. A, (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika. Hastono, (2004). Analisa data. Jakarta : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Istijanto, (2006). Reset Sumber Daya Manusia Cara praktis Mendeteksi Dimensidimensi Kerja Karyawan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Kristanti, (2009). Waspada!!! Penyakit Berbahaya. Yogjakarta : Citra Pustaka. Kurniadi, (2006). Kalau Bisa Sehat, Kenapa Harus Takut. Jakarta : Puspa Swara. Lanywati, (2001). Diabetes Mellitus. Yogjakarta : Kanisius. Notoatmodjo. S, (2007). Promosi kesehatan & ilmu perilaku. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

38

(2005). Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta. (2003). Pendidikan dan Prilaku Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta Nursalam, (2003). Konsep & Penerapan Metodelogi Keperawatan. Edisi 1. Jakarta: Salemba Medika. Rekam Medik RSUD Bangkinang, (2010). RA. Nabyl, (2009). Cara Mudah Mencegah dan Mengobati Diabetes Melitus. Yogjakarta : Genius printika. Saraswati, (2009). Diet Sehat Untuk Penyakit Asam Urat, Diabetes Melitus, Hipertensi, Stroke. Yogjakarta : A. Plus Book. Suparto, (2003). Sehat Menjelang Usia Senja. Bandung : PT Remaja Rosdaharya. Tjahjono, (2009). Komplikasi Umum Diabetes Melitus. Diambil pada 2010 dari http ://tjahjono- na.blogspot.com. Tara, (2009). Buku Pintar Therapi Diabetes Melitus. Jakarta : Taramedia dan restu Agung. WHO, (2008). Health Promoting Planning Educational and Environmental Approach Seconde, May Field Publishing Company, Houston. Widharto, (2007). Kencing Manis (Diabetes). Jakarta : PT Sunda Kelapa Pustaka. Penelitian ilmu