Anda di halaman 1dari 42

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Tumor usus halus jarang terjadi, sebaliknya tumor usus besar atau rectum relatif umum. Pada kenyataannya kanker kolon dan rectum sekarang adalah tipe paling umum kedua dari kanker internal di Amerika serikat. Ini adalah penyakit budaya barat. Diperkirakan bahwa 150.000 kasus baru kanker kolorektal didiagnosis di Negara ini setiap tahunnya. Kanker kolon menyerang individu dua kali lebih besar dibandingkan kanker rectal ( Gale, 2000) Insidennya meningkat sesuai dengan usia (kebanyakan pada pasien yang berusia lebih dari 55 tahun) dan makin tinggi pada individu dengan riwayat keluarga mengalami kanker kolon, penyakit usus inflamasi kronis atau polip. Perubahan pada presentase distribusi telah terjadi pada tahun terakhir. Insidens kanker pada sigmoid dan area rektal telah menurun, sedangkan insidens pada kolon asendens dan desendens meningkat ( Gale,2000) Lebih dari 156.000 orang terdiagnosa setiap tahunnya, kira-kira setengah dari jumlah tersebut meninggal setiap tahunnya, meskipun sekitar tiga dari empat pasien dapat diselamatkan dengan diagnosis dini dan tindakan segera. Angka kelangsungan hidup di bawah lima tahun adalah 40 % sampai 50 %, terutama karena terlambat dalam diagniosis dan adanya

metastase. Kebanyakan orang asimt omatis dalam jangka waktu lama dan mencari bantuan kesehatan hanya bila mereka menemukan perubahan pada kebiasaan defekasi atau perdarahan rectal (Brooker, 2001). Kanker kolon merupakan salah satu masalah kesehatan di negara Barat. Kejadian kanker kolon menempati urutan ke 4, dan menempati peringkat ke 2 penyebab kematian karena kanker. Penelitian di RS Dharmais (2001) mendapatkan 15 (6,5%) kasus kanker kolon dari 232 pada pasien yang di kolonoskopi. Sedang di RSCM (1996-2001) terdapat 224 kasus kanker kolon, terbanyak, yaitu 50 kasus pada tahun 2001; berarti setiap minggu ditemukan 1 kasus kanker usus besar dari tindakan kolonoskopi. Konstipasi kronis mempunyai peluang untuk berkembang menjadi kanker kolon. Ini disebabkan oleh tertumpuknya karsinogen di permukaan kolon akibat tinja yang keras, kering dan lambatnya gerak pembuangan. Konsumsi serat yang cukup akan mempercepat transit feses dalam saluran pencernaan; sehingga kontak antara kolon dengan berbagai zat karsinogen yang terbawa dalam makanan lebih pendek, dengan demikian mengurangi peluang terjadinya kanker kolon. Transit makanan yang lebih cepat juga mengurangi kesempatan berbagai mikro-organisme dalam kolon untuk membentuk zat karsinogen.

Penyebab nyata dari kanker kolon dan rektal tidak diketahui, t e t a p i fak tor re siko tel ah ter identifikasi, ter mas uk riwa yat atau riwayat kanker kolon atau polip dalam keluarga, riwayat penyakit usus inflamasi kronis dan diet tinggi lemak, protein dan daging serta rendah serat (Brooker, 2001) Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di berbagai negara. Sekitar 70-90% dari penyakit kanker tersebut berkaitan dengan lingkungan dan gaya hidup (life style). Dari seluruh penyakit kanker yang disebabkan faktor lingkungan, sekitar 40-60% berhubungan dengan faktor gizi. Malnutrisi dan Cachexia sering terjadi pada penderita kanker (24% pada stadium dini dan > 80% pada stadium lanjut), AIDS dan penyakit kronis lainnya. Malnutrisi dan Cachexia meningkatkan morbiditas dan mortalitas serta menurunkan kualitas hidup, survival penderita. Penderita dengan malnutrisi sering tidak dapat mentoleransi terapi termasuk radiasi khemoterapi dan lebih mempunyai kecenderungan mengalami adverase effect terhadap terapi kanker (Trujillo, 2005) Ketika seseorang didiagnosis menderita kanker, maka nutrisi merupakan bagian dari terapi. Tujuan utama terapi nutrisi pada penderita kanker adalah mempertahankan atau meningkatkan status nutrisi sehingga dapat memperkecil terjadinya komplikasi meningkatkan efektivitas terapi kanker (bedah,

kemoterapi, radiasi) kualitas hidup dan survival penderita (Trujillo, 2005).

Prevalensi malnutrisi pada penderita kanker tergantung pada jenis tumor, stadium, organ yang terlibat, terapi antikanker, kondisi non malignan yang menyertainya seperti diabetes melitus, penyakit saluran cerna dan lain-lain. Pada penelitian multisenter terhadap 12 jenis kanker, prevalensi penurunan berat badan (BB) sebesar 31%-40% pada penderita kanker payudara, kanker hematologik dan sarcoma; 54%-64% pada penderita kanker colon, prostate dan paru > 80% pada penderita dengan kanker pancreas dan lambung dan didapatkan penurunan BB paling berat. Terapi kanker juga berpengaruh terhadap status nutrisi penderita. Pada suatu penelitian didapatkan > 40% penderita yang mendapat terapi kanker (bedah, kemoterapi dan radiasi) mengalami malnutrisi (Trujillo,2005). Berdasarkan dari data rekam medik RSUD dr. M. Yunus Bengkulu, jumlah pasien kanker kolon pada tahun 2009 sebanyak 4 kasus. Sedangkan dari data yang didapat pada tahun 2010 dan tahun 2011 sebanyak 14 kasus. Di sini dapat dilihat dari tahun ke tahun jumlah kanker kolon terus meningkat. Dari uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan diet tinggi rendah lemak pada pasien kanker kolorektal RSUD dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2010-2011.

1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan diet tinggi rendah lemak pada pasien kanker kolorektal RSUD dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2010-2011? 1.3.Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mempelajari tentang hubungan diet tinggi rendah lemak pada pasien kanker kolorektal RSUD dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2010-2011. 1.3.2. Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui gambaran distribusi frekuensi diet tinggi rendah

lemak pada pasien kanker kolorektal RSUD dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2010-2011. 2. Untuk mengetahui gambaran distribusi frekuensi kanker kolorektal

RSUD dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2010-2011. 3. Untuk mengetahui gambaran tentang hubungan diet tinggi rendah lemak pada pasien kanker kolorektal RSUD dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2010-2011.

1.4.Manfaat Penelitian 1.4.1. Bagi Tempat Penelitian Sebagai masukan bagi pihak rumah sakit dalam meningkatkan pelayanan kesehatan terutama pada pasien dengan kanker kolorektal. 1.4.2. Bagi Institusi Pendidikan Sebagai bahan bacaan diperpustakaan atau sumber data bagi peneliti lain yang memerlukan masukan berupa data atau pengembangan penelitian dengan judul yang sama demi kesempurnaan penelitian ini dan sebagai sumber informasi pada institusi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Tri Mandiri Sakti Bengkulu agar dijadikan dokumentasi ilmiah untuk merangsang minat peneliti selanjutnya. 1.4.3. Bagi Peneliti Merupakan pengalaman berharga terhadap peneliti dalam rangka menambah wawasan keilmuan, khususnya tentang hubungan diet tinggi rendah lemak pada pasien kanker kolorektal.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Konsep Dasar Sirosis Hepatis 1.1.1. Pengertian Tumor adalah suatu benjolan atau struktur yang menempati area tertentu pada tubuh, dan merupakan neoplasma yang dapat bersifat jinak atau ganas (FKUI, 2008 :268). Kanker adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan pembagian sel yang tidak teratur dan kemampuan sel-sel ini untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau ,dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak teratur ini menyebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembagian sel, dan fungsi lainnya ( Gale,2000:177). Kanker kolon adalah suatu bentuk keganasan dari massa abnormal/ neoplasma yang muncul dari jaringan epithelia dari kolon (Brooker, 2001:72) K a n k e r k o l o n / u s u s b e s a r a d a l a h t u m b u h n y a s e l k a n k e r yang ganas di dalam permukaan usus besar atau rektum (Boyle&Langman, 2000:805). Kanker kolon adalah pertumbuhan sel yang bersifat ganas yang tumbuh pada kolon dan menginvasi jarinangan sekitarnya (Tambayong,

2000:143). Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan b a h w a k a n k e r k o l o n a d a l a h s u a t u p e r t u m b u h a n t u m o r y a n g bersifat ganas dan merusak sel DNA dan jaringan sehat di sekitar kolon (usus besar). 1.1.2. Etiologi Terdapat empat etiologi utama kanker (Davey, 2006 : 334) yaitu : 1. Diet : kebiasaan mengonsumsi makanan yang rendah serat (sayursayuran, buah-buahan), kebiasaan makan makanan berlemak tinggi dan sumber protein hewani. 2. Kelainan kolon 3. Adenoma di kolon : degenerasi maligna menjadi adenokarsinoma. 4. Familial poliposis : polip di usus mengalami degenerasi maligna menjadi karsinoma. 5. Kondisi ulseratif Penderita colitis ulseratif menahun mempunyai risiko terkena karsinoma kolon 3. Genetic anak yang berasal dari orang tua yang menderita karsinoma kolon mempunyai frekuensi 3 kali lebih banyak dari pada anak-anak yang orang tuanya sehat (FKUI, 2001 : 207) 1.1.3. Faktor Risiko Faktor risiko yang menyebabkan seseorang akan rentan terkena kanker kolorektal yaitu: Usia, umumnya kanker kolorektal menyerang lebih sering pada usia tua. Lebih dari 90 persen penyakit ini menimpa penderita diatas usia 50 tahun.

Walaupun pada usia yang lebih muda dari 50 tahunpun dapat saja terkena. Sekitar 3 % kanker ini menyerang penderita pada usia dibawah 40 tahun. Polyp kolorektal, adalah pertumbuhan tumor pada dinding sebelah dalam usus besar dan rektum. Sering terjadi pada usia diatas 50 tahun. Kebanyakan polyp ini adalah tumor jinak, tetapi sebagian dapat berubah menjadi kanker. Menemukan dan mengangkat polyp ini dapat menurunkan risiko terjadinya kanker kolorektal.

Riwayat kanker kolorektal pada keluarga, bila keluarga dekat yang terkena (orangtua, kakak, adik atau anak), maka risiko untuk terkena kanker ini menjadi lebih besar, terutama bila keluarga yang terkena tersebut terserang kanker ini pada usia muda.

Kelainan genetik, perubahan pada gen tertentu akan meningkatkan risiko terkena kanker kolorektal. Bentuk yang paling sering dari kelainan gen yang dapat menyebabkan kanker ini adalah hereditary nonpolyposis colon cancer (HNPCC), yang disebabkan adanya perubahan pada gen HNPCC. Sekitar tiga dari empat penderita cacat gen HNPCC akan terkena kanker kolorektal, dimana usia yang tersering saat terdiagnosis adalah diatas usia 44 tahun.

Pernah menderita penyakit sejenis, dapat terserang kembali dengan penyakit yang sama untuk kedua kalinya. Demikian pula wanita yang

10

memiliki riwayat kanker indung telur, kanker rahim, kanker payudara memiliki risiko yang tinggi untuk terkena kanker ini. Radang usus besar, berupa colitis ulceratif atau penyakit Crohn yang menyebabkan inflamasi atau peradangan pada usus untuk jangka waktu lama, akan meningkatkan risiko terserang kanker kolorektal. Diet, makanan tinggi lemak (khususnya lemak hewan) dan rendah kalsium, folat dan rendah serat, jarang makan sayuran dan buah-buahan, sering minum alkohol, akan meningkatkan risiko terkena kanker kolorektal. Merokok, dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker ini.

1.1.4. Patofisiologi Kebanyakan kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas atau disebut adenoma yang dalam stadium awal membentuk polip (sel yang tumbuh sangat cepat). Pada stadium awal polip dapat diangkat dengan mudah. Tetapi, seringkali stadium awal adenoma tidak menampakan gejala apapun sehingga tidak terdeteksi dalam waktu yang relative lama dan pada kondisi tertentu berpotensi menjadi kanker yang dapat terjadi pada semua bagian usus besar (Davey, 2006 : 335). Kaker kolon dan rectum terutama (95 %) adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel usus). Dimulai sebagai polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal serta meluas ke dalam struktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan

11

menyebar ke bagian tubuh yang lain (paling sering ke hati). Kanker kolon dapat menyebar melalui beberapa cara yaitu : 1. Secara infiltrative langsung ke struktur yang berdekatan seperti ke dalam kandung kemih. 2. Melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon. 3. Melalui aliran darah, biasanya ke hati karena kolon mengalirkan darah ke system portal. 4. Penyebaran secara transperitoneal. 5. Penyebaran ke luka jahitan insisi abdomen atau lokasi drain. Pertumbuhan kanker menghasilkan efek sekunder meliputi penyumbatan lumen usus dengan obstruksi dan ulserasi pada dinding usus serta perdarahan. Penetrasi kaker dapat menyebabkan perforasi dan abses, serta timbulnya metastase pada jaringan lain (Gale,2000 :177) 1.1.5. Klasifikasi Klasifikasi kanker kolon menurut modifikasi DUKES adalah sebagai berikut (FKUI, 2001 : 209): A B1 B2 C1 : Kanker hanya sebatas pada mukosa dan belum ada metastasis. : Kanker telah menginfiltrasi lapisan muskularis mukosa. : Kanker telah menembus lapisan muskularis sampai lapisan propria. :Kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening sebanyak satu sampai empat buah.

12

C2

: kanker telah mengadakan metastasis ke kelenjar getah bening lebih dari 5 buah.

: kanker telah mengadakan metastasis regional tahap lanjut dan penyebaran yang meluas dan tidak dioperasi lagi.

1.1.6. Manifestasi Klinis Gejala sangat ditentukan oleh lokasi kanker, tahap penyakit, dan fungsi segmen usus tempat kanker berlokasi. Adanya perubahan dalam defekasi darah pada feses konstipasi, perubahan dalam penampilan feses, tenesmus, anemia, dan perdarahan rectal merupakan keluhan yang umum terjadi. 1. Kanker kolon kanan Dimana isi kolon berupa cairan, cenkdrung tetap tersamar hingga stadium lanjut. Sedikit kecendrungan menimbulkan obstruksi, karena lumen usus lebih besar dan feses masih encer. Anemia akibat perdarahan sering terjadi, dan darah bersifat samar dan hanya dapat dideteksi dengan deteksi dengan tes Guaiak ( suatu tes sederhana yang dapat dilakukan di klinik). Mucus jarang terlihat, karena tercampur dalam feses. Pada orang yang kurus, tumor kolon kanan mungkin dapat teraba, tetapi jarang pada stadium awal. Penderita mungkin mengalami perasaan tidak enak pada abdomen, dan kadang-kadang pada epigastrium.

13

2. Kanker kolon kiri dan rectum Kanker kolon kiri dan rectum cenderung menyebabkan perubahan defekasi sebagai akibat iritasi dan respon reflex. Diare, nyeri kejang, dan kembung sering terjadi. Karena lesi kolon kiri cenderung melingkar, sering timbul gangguan obstruksi. Feses dapat kecil dan berbentuk seperti pita. Baik mucus maupun darah segar sering terlihat di feses. Dapat terjadi anemia akibat kehilangan darah kronik. Pertumbuhan ada sigmoid atau rectum dapat mengenai radiaka saraf pembuluh limfe atau vena, menimbulkan gejala-gejala pada tungkai atau perineum. Hemoroid, nyeri pinggang bawah, keinginan defekasi atau sering berkemih dapat timbul pada lesi rectal adalah evakuasi feses yang tidak lengkap setelah defekasi, konstipasi dan diare bergantian, serta feses berdarah ( Gale, 2000) 1.1.7. Pemeriksaan Penunjang Endoskopi : Pemeriksaan endoskopi perlu dilakukan baik sigmoidoskopi maupun kolonoskopi. Radiologi : pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain adalah foto dada dan foto kolon (barium enema). Foto dada dilakukan untuk melihat apakah ada metastasis kenker ke paru. Ultrasonografi (USG) : sulit dilakukan untuk memeriksa kanker pada kolon, tetapi digunakan untuk melihat ada tidaknya metastasis kenker ke kelenjar getah bening di abkdumen dan hati.

14

Histopatologi : biopsy digunakan untuk menegakan diagnosis. Gambar histopatologis karsinoma kolon adalah adenokarsinoma dan perlu ditentukan diferensiasi sel. Laboratorium : pemeriksaan Hb penting untuk memeriksa kemungkinan pasien mengalami perdarahan (FKUI, 2001 : 210) 1.1.8. Penatalaksanaan Medis Bila sudah pasti karsinoma kolon, maka kemungkinan pengobatan adalah sebagai berikut : 1. Pembedahan (Operasi) Operasi adalah penanganan yang paling efektif dan cepat untuk tumor yang diketahui lebih awal dan masih belum metastasis, tetapi tidak menjamin semua sel kanker telah terbuang. Oleh karena itu, dokter bedah biasanya juga menghilangkan sebagian besar jaringan sehat yang mengelilingi sekitar kanker. 2. Penyinaran (Radioterapi) Tmembunuh kanker. Terpai radiasi erapi radiasi memakai sinar gelombang partikel berenergi tinggi misalnya sinar X, atau sinar Gamma, difokuskan untuk merusak daerah yang ditumbuhi tumor, merusak genetic sehingga membunuh kanker. Terapi radiasi merusak sel-sel yang pembelahan dirinya cepat, antara alin sel kanker, sel kulit, sel dinding

15

lambung dan usus, sel darah. Kerusakan sel tubuh menyebabkan lemas, perubahan kulit dan kehilangan napsu makan. 3. Kemoterapi Kemoterapi memakai obat antikanker ayang kuat, dapat masuk ke dalam sirkulasi darah, sehingga sangat bagus untuk kanker yang telah menyebar. Obat kemoterapi ini ada kira-kira 50 jenis. Biasanya di injeksi atau dimakan, pada umumnya lebih dari satu macam obat, karena digabungkan akan memberikan efek yang lebih bagus (FKUI, 2001 : 211).

1.2. Konsep Dasar Nutrisi 1.2.1. Pengertian Nutrisi adalah proses dimana tubuh manusia menggunakan makanan untuk membentuk energi, mempertahankan kesehatan, pertumbuhan dan untuk berlangsungnya fungsi normal setiap organ dan jaringan tubuh. Status nutrisi normal menggambarkan keseimbangan yang baik antara asupannutrisi dengan kebutuhan nutrisi. Kekurangan nutrisi memberikan efek yang tidak diinginkan terhadap struktur dan fungsi hampir semua organ dan sistem tubuh (Suastika, 2004). Malnutrisi dan Cachexia sering terjadi pada penderita kanker (24% pada stadium dini dan > 80% pada stadium lanjut), AIDS dan penyakit kronis lainnya. Malnutrisi dan Cachexia meningkatkan morbiditas dan mortalitas serta

16

menurunkan kualitas hidup, survival penderita. Penderita dengan malnutrisi sering tidak dapat mentoleransi terapi termasuk radiasi khemoterapi dan lebih mempunyai kecenderungan mengalami adverase effect terhadap terapi kanker. Cachexia adalah keadaan malnutrisi yang ditandai dengan anorexia, penurunan berat badan, muscle wasting, asthenia, depresi, nausea kronik dan anemia yang menyebabkan distress psikologis, perubahan dalam komposisi tubuh, gangguan dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, cairan jaringan, keseimbangan asam basa, kadar vitamin dan elektrolit (Trujillo, 2005). Ketika seseorang didiagnosis menderita kanker, maka nutrisi merupakan bagian dari terapi. Tujuan utama terapi nutrisi pada penderita kanker adalah mempertahankan atau meningkatkan status nutrisi sehingga dapat memperkecil terjadinya komplikasi meningkatkan efektivitas terapi kanker (bedah, kemoterapi, radiasi) kualitas hidup dan survival penderita (Trujillo, 2005). 1.2.2. Etiologi Penyebab malnutrisi pada penderita kanker adalah multifaktorial. Secara umum penyebabnya dikelompokkan menjadi 4 kategori yaitu: (Boediwarsono, 2006):

17

1. Berkurangnya Asupan Makanan Dan Malabsobsi Efek Tumor a. Efek langsung : Tumor dari traktus gastrointestinal seperti tumor lidah, faring, esophagus dan lambung yang menyebabkan obstruksi atau tumor dari luar traktus gastrointestinal yang menyebabkan obstruksi antaralain tumor kepala leher, pancreas, hepar atau tumor lain yang metastasis ke abdominal. Gangguan pencernaan dan absorbsi misalnya pada kanker pankres, limfoma usus halus, tumor vilous colon. b. Efek tidak langsung (remote effect) : Tumor dapat menimbulkan anorexia tanpa melibatkan traktus gastrointestinal secara langsung. Terjadi akibat adanya penurunan rasa kecap, kualitas penciuman, gangguan neuroendokrin, gangguan pada hypothalamic appetite control center sehingga terjadi gangguan kontrol asupan makanan dan rasa cepat kenyang. 2. Efek Samping Pengobatan Antitumor Gangguan nutrisi akibat tindakan bedah tergantung pada letak tumor, luasnya reseksi saluran cerna dan ada tidaknya tindakan vagotomi. Operasi pada bagian saluran cerna seperti lidah, mandibula, faring,

18

esophagus, lambung dapat menurunkan kemampuan menelan dan pencernaan makanan. Reseksi usus halus yang luas menyebabkan gangguan penyerapan nutrient, cairan dan elektrolit, reseksi pancreas dapat menyebabkan malabsorbsi dari lemak dan protein. Kemoterapi dapat menyebabkan nausea, vomiting, nyeri abdomen, mukositis, ileus diare dan malabsorbsi. Beberapa preparat antineopalstik yang sering menyebabkan simtom gastrointestinal (40%) antaralain cisplatin,

doxorubicin, fluorouracil. Penggunaan obat analgesik opioid dapat menyebabkan nausea, konstipasi dan gas distension pada usus halus dan usus besar sehingga menyebabkan malabsorbsi (narcotic bowel syndrome), penggunaan diuretik sering menyebabkan penurunan kadar zinc yang mengakibatkan penurunan rasa kecap. Radioterapi dapat memberikan reaksi akut dan delayed reaction (komplikasi kronis). Reaksi akut dapat terjadi dalam 3 hari sampai 1 minggu terapi, dapat berupa kesulitan menelan akibat edema dan mukositis orofaring menyebabkan disfagia dan odinofagia, penurunan produksi saliva dengan konsekuensi penurunan enzim (radiasi kepala leher), nausea vomiting, enteritis atau diare (radiasi daerah abdominal). Komplikasi akhir berupa keradangan mucosal persisten, fibrosis intestinal dan striktur. Keadaan lain yang menyertai penderita kanker seperti infeksi, Diabetes mellitus, penyakit rematik dan lain-lain.

19

3. Automatic Failur Sindroma klinik meliputi manifestasi kardiovaskuler (postural hypotension, syncope dan fixed heart rate) dan simtom gastrointestinal (nausea, anorexia, konstipasi dan kadang-kadang diare). Terjadi pada sekitar 52% penderita kanker terutama stadium lanjut 4. Gangguan metabolisme Penyebab perubahan metabolisme pada penderita kanker masih belum jelas. Namun beberapa mekanisme yang berperan adalah adanya respon sistemik yang diperantarai oleh tumor induced distant hormonal factor (axis neuroendokrin), adanya respon non spesifik terhadap faktorfaktor yang dilepaskan oleh tumor, adanya respon inflamasi sistemik yang diperantarai oleh sitokin yang diproduksi oleh makrofag. Sitokin adalah kelompok berbagai soluble glycoprotein dan low molecular weigh peptides yang mengatur interaksi antar sel serta fungsi sel dan jaringan. Dalam kaitannya dengan cachexia pada kanker, sitokin mengatur motilitas dan pengosongan lambung melalui saluran gastrointestinal atau susunan saraf pusat dengan cara mengganggu sinyal eferen yang mengatur satiety . Beberapa hormone dan sitokin yang berperan dalam gangguan metabolisme adalah : TNF mensupresi aktivitas lipoprotein

20

lipase di adiposit, sehingga mengganggu kliren triglicerida dari plasma dan menyebabkan hypertriglyceridemia; IL-1 menyebabkan anorexia melalui blocking neuropeptide Y (NPY) induced feeding, NPY adalah suatu potent feeding stimulatory peptide yang diaktivasi oleh penurunan kadar leptin; TNF dan IL-1 meningkatkan kadar corticotrophin releasing hormone yang merupakan neurotransmitter di saraf sentral dan pelepasan glucose sensitive neurons menyebabkan penurunan intake makanan, IL-6 dan, leukemia inhibitor factor (LIF) yang diproduksi oleh sel kanker terutama otot skeletal menyebabkan efek cachectic yang poten; IFN- juga menyebabkan cachexia; lipid mobilizing factor menyebabkan lipolisis dan penurunan BB; Proteolysis Inducing Factor (PIF) menyebabkan degradasi protein dalam otot skeletal melalui peningkatan pengaturan jalur ubiquitin proteasome proteolytic, menurunkan sintesis protein dan meningkatkan sitokin dan acute phase protein; Leptin mengontrol intake makanan dan energy expenditure melalui neuropeptic effector moleculs dalam hipotalamus, leptin merangsang jalur katabolik dan menghambat jalur anabolik, TNF, IL-1 dan LIF meningkatkan kadar leptin menyebabkan anorexia dengan cara mencegah mekanisme kopensasi normal terhadap penurunan intake makanan; uncoupling protein (UPC) 1, 2 dan 3 yang berperan dalam pembentukan energi dan ATP yang berpengaruh terhadap energy expenditure, ekspresinya

21

dipengaruhi oleh produk dari tumor (sitokin). Sebagai contoh pada penderita kanker paru small cell didapatkan peningkatan rata-rata 37% dari basal energy expenditur, sehingga intake makanan yang diberikan tidak mencukupi kebutuhan tubuh, menyebabkan keseimbangan energi negatif dan penurunan berat badan. Hemostasis glukosa : glukosa adalah sumber energi utama bagi sel tumor dan host, peningkatan penggunaannya akan disertai peningkatan pelepasan laktat yang kemudian diregenerasi menjadi glukosa oleh Liver melalui coricycle. Peningkatan coricycle ini akan meningkatkan kehilangan energi sekitar 300 kcal perhari.

Glukoneogenesis meningkat untuk mempertahankan hemostasis glukosa. Asam amino, gliserol dan fat breakdown digunakan untuk proses glukoneogenesis di Liver untuk membentuk glukosa (kadar plasma alanine, glycine dan glutamine menurun). Produksi glukosa, intoleransi glukosa dan resistensi insulin meningkat. Dilepaskannya counter regulatory hormone seperti glucocorticoid dan glucagons meningkatkan resistensi insulin sehingga penggunaan glukosa oleh otot skeletal menurun. Metabolisme protein: katabolisme otot meningkat (muscle wasting) menyebabkan asthenia atau menurunnya kekuatan yang disebabkan oleh peningkatan pemecahan protein dan penurunan sintesis

22

protein otot, peningkatan sintesis protein Liver (acute phase protein) dan tumor. Terjadi negative nitrogen balance dimana terjadi peningkatan whole body protein turnover dan gangguan aminoacid. Metabolisme lemak : penderita akan mengalami kehilangan jaringan lemak karena terjadi peningkatan lipolisis dan penurunan lipogenesis. Turnover glycerol dan free fathy acid (FFA) meningkat, penurunan kadar lipoprotein lipase menyebabkan klirens triglyceride dari plasma menurun, kadar triglyceride meningkat, high dan low density lipoprotein menurun. 1.2.3. Konsep Dasar Diet a. Masalah Gizi Pada Penyakit Kanker Gangguan gizi yang dapat timbul pada pasien penyakit kanker disebabkan kurangnya asupan makanan, tindakan medic, efek psikologik, dan pengaruh keganasan sel kangker. Gejala kangker dalam keadaan berat dinamakan cacbexia yang manifestasinya secara klinis adalah anoreksia, penurunan berat badan, gangguan reflex, lemas, anemia, kurang energy protein, dan keadaan deplesi secara keseluruhan.

23

Beberapa Faktor penyebab gangguan gizi yang dapat timbul pada penyakit kangker adalah : 1. Kurang nafsu makan yang disebabakan oleh faktor psikologik dan lost response terdapat kangker berupa cepat kenyang atau

perubahan pada indra pengecap (lidah). 2. Gangguan asupan makanan dan gangguan gizi karena: a. Gangguan pada saluran cerna, dapat berupa kesulitan mengunyah, menelan, dan penyumbatan. b. Gangguan absorpsi zat gizi. c. Kehilangan cairan dan elektrolit karena muntah-muntah dan diare. 3. Perubahan metabolism protein, karbohidrat, dan lemak. 4. Peningkatan pengeluaran energy. b. Tujuan Diet Tujuan diet penyakit kangker adalah untuk mencapai dan mempertahankan status gizi optimal dengan cara: 1. Memberikan makanan yang seimbang sesuai dengan keadaan penyakit serta daya terima pasien. 2. Mencegah atau menghambat penurunan berat badan secara berlebihan 3. Mengurangai rasa mual, muntah ddan diare.

24

4. Mengupayakan perubahan sikap dan perilaku sehat terhadap makanan oleh pasien dan keluarganya. c. Syarat Diet Syarat-syarat penyakit kangker adalah : 1. Energi tinggi, yaitu 36 kkal/kg BB untuk laki-laki dan 32 kkal/kg BB untuk perempuan. Apabila pasien berada dalam keadaan gizi kurang, maka kebutuhan energy menjadi 40 kkal/kg BB untuk laki-laki dan 36 kkal/kg untuk perempuan. 2. Protein tinggi, yaitu 1-1,5 g/kg BB. 3. Lemak sedang, yaitu 15-20% dari kebutuhan energy total 4. Karbohidrat cukup, yaitu sisa dari kebutuhan energy total. 5. Vitamin dan mineral cukup, terutama vitamin A,B kompleks, C dan E. Bila perlu ditambah dalam bentuk suplemen. 6. Rendah iodium bila sedang menjalani medikasi radioaktif internal. 7. Bial imunitas menurun ( leukosit < 10 ul) atau pasien akan menjalani kemoterafi agresif, pasien harus mendapat makanan yang steril. 8. Porsi makan kecil dan sering diberikan. d. Jenis Diet Dan Indikasi Pemberian Jenis diet untuk pasien kangker sangat tergantung pada keadaan pasien, perkembangan penyakit, dan kemampuan untuk menerima makanannya. Oleh sebab itu, diet hendaknya disusun secara individual.

25

Jenis makanan atau diet yang diberikan hendaknya memperhatikan nafsu makan, perubahan indera kecap, rasa cepat kenyang, mual, penurunan berat badan, dan akibatt pengobatan. Sesuai dengan keadaan pasien, makanan dapat diberikan secara oral, enternal, maupun parenteral. Makanan dapat diberikan dalam bentuk makanan padat, makanan cair, atau kombinasi. Untuk makanan padat dapat berbentuk makanan biasa, makanan lunak, atau makanan lumat. e. Pedoman Untuk Mengatasi Makanan 1. Bila pasien menderita anoreksia a. Dianjurkan makan makanan yang disukai atau dapat diterima walaupun tidak lapar. b. Hindari minum sebelum makan. c. Tekankan bahwa makan adalah bagian penting dalam program pengobatan. d. Olahraga sesuai kemampuan penderita. 2. Bila ada perubahan pengecapan a. Makanan atau minuman diberikan dengan suhu kamr atau dingin. b. Tambahkan bumbu makanan yang sesuai untuk menembah rasa. c. Minuman diberikan dalam bentuk segar seperti sari buah atau jus. 3. Bila ada kesulitan mengunyah atau menelan a. Minuman dengan menggunakan sedotan

26

b. Makanan atau minuman diberikan dengan suhu kamar atau dingin c. Bentuuk makanan disaring atau cair d. Hindari makanan terlalu asam atau asin 4. Bila mulut kering a. Makanan atau minuman diberikan dengan suhu dingin b. Bentuk makanan cair c. Kunyah permen karet 5. Bila mual muntah a. Beri makanan kering b. Hindari makanan yang berbau merangsang c. Hindari makanan lemak tinggi d. Makan dan minum perlahan-lahan e. Hindari makanan atau minuman terlalu manis f. Batasi cairan pada saat makan g. Tidak tiduran setelah makan. 1.2.4. Konsep Dasar Lemak 1.2.4.1. Pengertian Menurut (Andi, 2007)Lemak adalah gram yang terbentuk dari peyatuan asam lemak dengan alcohol organic yang disebut gliserol atau gliserin. Lemak yang dapat mencair dalam temperature biasa disebut minyak, sedangkan dalam bentuk padat dapat disebut lemak. Seperti

27

halnya karbohidrat, lemak yang tersusun atas molekul C, H, dan O dengan jumlah ataom lebih banyak . misalnya stearin C57 H10 O6. Lemak adalah sekelompok ikatan organic yang terdiri atas unsur-unsur Carbon (C), Hidrogen (H) dan Oksigen (O), yang mempunyai sifat dapat larut dalam zat-zat pelarut tertentu (zat pelarut lemak), seperti petroleum benzene, ether.( Dian Rakyat, 2008).Menurut gizi seimbang asupan lemak normal, yakitu 20-25% dari total kalori ( Sediaoetama,2008). Lipida atau Lemak adalah senyawa kimia yang dalam struktur molekulnya mengandung gugus asam lemak ( Moehji,2009). Serat atau fiber merupakan bahan alami dari tumbuhan yang banyak dijumpai hampir pada semua bahan makanan di sekitar kita. Konsumsi serat telah terbukti memiliki efek protektif terhadap berbagai penyakit seperti kanker usus, penyakit jantung koroner, diabetes, dan obesitas. Potensi serat dalam melindungi usus dan menjaga kadar lipid

dalam darah menunjukkan langkah preventif terhadap berbagai ancaman penyakit metabolik dan degeneratif. Efek protektif dan preventif serat

ternyata juga sangat bermanfaat untuk melindungi saluran cerna dari proses keganasan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mekanisme ini tidak hanya melibatkan proses dalam saluran cerna saja tetapi diduga juga melibatkan reaksi sistem imunitas tubuh.

28

Kanker kolon adalah salah satu jenis kanker yang paling sering menimbulkan kematian ketiga di dunia. Insidensi kanker tersebut hampir sama pada pria dan wanita sampai usia lima puluh tahun. Diet telah diketahui sebagai faktor risiko yang paling penting dalam menimbulkan kanker saluran cerna. Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang tinggi

kadar lemak, tinggi protein dan rendah kandungan seratnya ternyata berperan dalam induksi kanker kolon. Data epidemiologi

menunjukkan terdapat hubungan terbalik antara tingginya konsumsi serat dan angka kejadian kanker kolon. Proses terjadinya kanker kolon melibatkan interaksi genetik dan pengaruh lingkungan. Lingkungan menunjukkan pengaruh yang lebih dominan bila dibandingkan faktor genetik dalam hal induksi kanker. Faktor diet diketahui sebagai modulator kanker pada manusia yang paling penting, terutama kanker di saluran pencernaan. Konsumsi lemak dan serat telah menjadi komponen utama yang berkaitan dengan meningkat atau berkurangnya risiko kanker. Orang yang suka mengkonsumsi diet tinggi lemak dan sedikit serat terbukti memiliki insiden kanker saluran pencernaan yang tinggi. Proses terjadi kanker ditandai terutama oleh pertumbuhan jaringan yang berlebihan karena adanya gen-gen yang abnormal, proses ini berjalan bertahap dan penyebabnya multifaktorial.

29

1.2.4.2. Kebutuhan lemak Diet-diet yang tinggi lemak dipercayai mempengaruhi (memberi kecenderungan) manusia pada kanker kolorektal. Di negara-negara dengan angka-angka kanker kolorektal yang tinggi, masukan lemak oleh populasi adalah jauh lebih tinggi daripada di negara-negara dengan angka-angka kanker yang rendah. Dipercayai bahwa produk-produk pemecahan (penguraian) dari metabolisme lemak menjurus pada pembentukan kimiakimia yang menyebabkan kanker (carcinogens). Diet-diet yang tinggi sayur-sayuran dan makanan-makanan yang tinggi serat seperti roti-roti whole-grain dan gandum-gandum dapat membersihkan usus dari karsinogen-karsinogen ini dan membantu mengurangi risiko kanker. Untuk memelihara keseimbangan fungsinya . tubuh memperlukan lemak 0,5 s.d 1 gr/kgBB/hari. Latihan olaraga meningkatkan kapasitas otot dalam menggunakan lemak sebagai sumber energy.PEningkatan

metabolism e lemak pada waktu melakukan kegiatan olaraga yang lama mempunyai efek melindungi pemakaian gllikogen ( Glycogen Sparing Effect) dan memperbaiki kapasitas ketahanan fisisk ( Endurance Capasity). Walaupun demikian, konsumsi energy dari lemak dianjurkan tidak lebih dari 30 % total energo /hari. Bagi mereka yang memerlukan lebih banyak karbohidrat Andi.2007). perlu menurunkan lemak untuk mengimbanginya (

30

Lemak dikelompokan dalam beberapa jenis meliputi : 1. Simple Fat ( lemak sederhana/lemak bebas) Lebih dari 95% lemak tubuh adalah trigliserida yang terbagi menjadi 2 jenis, yaitu asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh terdapat dalam daging sapi, biri-biri, kelapa, kelapa sawit, kuning telur, sementara asam lemak tak jenuh terdapat dalam minyak jagung, minyak zaitun dan mete. Asam lemek tak tejuh terbagi menjadi dua yakni asam lemak jenuh tunggal ( ikatan atom C rangkap 1) dan asam lemak tak jenuh ganda (ikatan atom C rangkap lebih dari 2). 2. Lemak Ganda Lemak ganda mempunyai komposisi lemak bebas ditambah dengan senyawa kimia lain. Jenis lemak ganda meliputi : a) Phospholipid, merupakan komponen membrane sel , komponen dan struktur otak, jaringan saraf, bermanfaat untuk pengumpulan darah, lecithin termasuk phospholipid. b) Glucolipid, mempunyai ikatan dengan karbohidrat dan nitrogen. c) Lipoprotein, terdiri atas HDL ( High Density Lipoprotien), LDL (low Density lopoprotein), dan VLDL (Very Low Density Lipoprotien).

31

3. Derivat Lemak Termasuk lemak jenis ini adalah kolesterol, terddapat pada

produk binatang ( otak, ginjal, hati, daging, unggas, ikan dan kuning telur; butir telur mengandung 275 mg kolesterol). Kolesterol sendiri pada dasarnya memiliki beberapa manfaat , antara alain : a) Sebagai komponen penting jaringan syaraf dan membrane sel. b) Pemecahan kolesterol oleh hati menghasilkan garam empedu yang bermanfaat untuk pemecahan dan penyerapan lemak. c) Membentuk hormone tertentu ( misalnya hormone seksualitas). d) Pelopor pembentukan Vitamin D. Jumlah menyebabakan kolesterol yang berlebihan dalam tubuh antara dapat lain

munculnya

bebebagai

penyakit,

aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah karena menumpuknya kolesterol dalam arteri), Jantung koroner,hepertensi, dll. Berdasarkan proses pembentukanya , Lemak digolongkan menjadi 2 kelompok, yakni lemak esensial ( tidak dapat dihasilkan oleh tubuh , sehingga harus ada dalam makanan ) dan lemak nonesensial ( dapat dihasilkan oleh tubuh melalui proses interkonversi bahan

makanan).Lemak esensial meliputi:

32

1. Asam Palmitat 2. Asam Stearat 3. Asam Palmito OLeat 4. Asam linoleat 5. Asam Linolenat 6. Asam Arakidonat 7. Asam Oleat Berbeda dengan karbohidrat ataupun protein, lemak memiliki sifatsifat yang unik yaitu : a. Mengapung pada permukaan air b. Tidak larut dalam air c. Mencair pada suhu tertentu d. Melarutkan Vitamin A, D, E, K. Dalam tubuh lemk bermanfaat : a. Sebagai sumber energy, ! gram lemak menghasilkan 9 kalori. b. MElaruutkan Vitamin sehingga dapat diserap oleh usus. c. Memperlama rasa kenyang Kelebihan makanan dalam tubuh akan disimpan dalam bentuk lemak tertentu pada jaringan bawah kulit, sekitar otot, jantung, paruparu, ginjal dan organ tubuh lainya.

33

Simpanan lemak dalam tubuh bermanfaat untuk cadangan energi, sebagai bantalan alat-alat tubuh seperti ginjal, biji mata, isolasi tubuh, mempertahankan tubuh dari gangguan luar seperti pukulan atau zat-zat kimia yang berbahaya yang dapat merusak jaringan otot dan memberikan garis-garis tubuh. Lemak bukan hanya bisa kita peroleh dari makanan hewani, melainkan juga tumbuhan. BErikut adalah makanan sumber lemak baik dari tumbuh-tumbuhan (nabati) ataupun hewan ( hewani): a. Berhasil dari tumbuh-tumbuhan (nabati); buah, biji, lembaga biji kemiri, zaitun, kelapa dan jagung. b. Berhasal dari hewan (hewani) : mentega, susu, keju, kuning telur 1.2.4.3. Fungsi Lemak Fungsi lemak di dalam makanan memberikan rasa gurih, memberikan kualitas renyah, terutama pada makanan yang digoreng, memberikan kandungan kalori tinggi dan memberikan sifat empuk ( lunak) pada kue yang dibakar. Di dalam tubuh lemak berfungsi terutama sebagai cadanggan energi dalam bentuk jarinagn lemak yang di timbun dalam di tempat-tempat tertentu. Jaringan lemak berfungsi juga sebagai bantalan organ-organ tubuh tertentu, yang memberikan fiksasi organ tersebut, seperti biji mata dan ginjal.

34

Jaringan di bawah kulit melindungi tubuh dari hawa dingin, sedangkan merun pada wanita memberikan contrours khas feminin, seperti jaringan lemak di daerah gluteal dan di daerah bahu dan dada. Asam lemak polyunsaturated fatty acid ( PUFA) merupakan zat gizi yang esensial bagi kesehatan kulit dan rambut. Pada binatang percobaan yang menderita defisiensi PUFA timbul gejala-gejala kulit

sejenis eczema bersisik, tetapi belum pernah dilaporkan terjadi pada penderita manusia. Namun demikian ada sejenis eczema di daerah kulit muka dan kepala pada anak-anak yang dilaporkan dapat disembuhkan dengan pemberian PUFA dalam bentuk minyak. Jumlah minyak sumber PUFA yang dapat memberikan penyembuhan atau perbaikan, sangat sedikit, hanya beberapa tetes saja sehari.( Dian Rakyat , 2008).

1.3. Hubungan antara diet tinggi rendah lemak pada pasien kanker kolon Kanker kolon adalah salah satu jenis kanker yang paling sering menimbulkan kematian ketiga di dunia. Insidensi kanker tersebut hampir sama pada pria dan wanita sampai usia lima puluh tahun. Diet telah diketahui sebagai faktor risiko yang paling penting dalam menimbulkan kanker saluran cerna. Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang tinggi kadar lemak, tinggi protein dan rendah kandungan seratnya ternyata berperan dalam induksi kanker kolon.

35

Data epidemiologi menunjukkan terdapat hubungan terbalik antara tingginya konsumsi serat dan angka kejadian kanker kolon. Proses terjadinya kanker kolon melibatkan interaksi genetik dan pengaruh lingkungan. Lingkungan menunjukkan pengaruh yang lebih dominan bila dibandingkan faktor genetik dalam hal induksi kanker. Faktor diet diketahui sebagai modulator kanker pada manusia yang paling penting, terutama kanker di saluran pencernaan. Konsumsi lemak dan serat telah menjadi komponen utama yang berkaitan dengan meningkat atau berkurangnya risiko kanker. Orang yang suka mengkonsumsi diet tinggi lemak dan sedikit serat terbukti memiliki insiden kanker saluran pencernaan yang tinggi. Proses terjadi kanker ditandai terutama oleh pertumbuhan jaringan yang berlebihan karena adanya gen-gen yang abnormal, proses ini berjalan bertahap dan penyebabnya multifaktorial. Diet-diet yang tinggi lemak dipercayai mempengaruhi (memberi kecenderungan) manusia pada kanker kolorektal. Di negara-negara dengan angka-angka kanker kolorektal yang tinggi, masukan lemak oleh populasi adalah jauh lebih tinggi daripada di negara-negara dengan angka-angka kanker yang rendah. Dipercayai bahwa produk-produk pemecahan (penguraian) dari metabolisme lemak menjurus pada pembentukan kimia-kimia yang

menyebabkan kanker (carcinogens). Diet-diet yang tinggi sayur-sayuran dan makanan-makanan yang tinggi serat seperti roti-roti whole-grain dan gandum-

36

gandum dapat membersihkan usus dari karsinogen-karsinogen ini dan membantu mengurangi risiko kanker. Lemak jenuh dan lemak trans merupakan jenis lemak yang kurang sehat. Lemak ini bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dengan cara meningkatkan kadar kolesterol total dan kolesterol jahat LDL. Kolesterol yang kita peroleh dari makanan pada dasarnya tidak sama dengan lemak, tapi kolesterol ini ditemukan pada makanan hewani. Asupan kolesterol dari diet ini akan meningkatkan kadar kolesterol. Usus besar adalah bagian dari sistim pencernaan (digestive system) dimana materi yang dibuang (sampah) disimpan. Rektum (rectum) adalah ujung dari usus besar dekat dubur (anus). Bersama, mereka membentuk suatu pipa panjang yang berotot yang disebut usus besar. Tumor-tumor usus besar dan rektum adalah pertumbuhan-pertumbuhan yang datangnya dari dinding dalam dari usus besar. Tumor-tumor ramah dari usus besar disebut polip-polip (polyps). Tumor-tumor ganas dari usus besar disebut kanker-kanker. Polip-polip ramah tidak menyerang jaringan yang berdekatan dengannya atau menyebar ke bagian-bagian lain tubuh. Polip-polip ramah dapat diangkat dengan mudah sewaktu colonoscopy dan adalah bukan ancaman nyawa. Jika polip-polip ramah tidak diangkat dari usus besar, mereka dapat menjadi ganas (bersifat kanker) melalui waktu. Kebanyakan dari kanker-kanker usus besar dipercayai telah berkembang dari polip-polip. Kanker usus besar dan rektum, juga dirujuk

37

sebagai kanker kolorektal ( colorectal cancer), dapat menyerang dan merusak jaringan-jaringan dan organ-organ yang berdekatan. Sel-sel kanker juga dapat pecah dan keluar dan menyebar pada bagian-bagian lain tubuh (seperti hati dan paru-paru) dimana tumor-tumor baru terbentuk. Penyebaran kanker usus besar ke organ-organ yang terletak jauh darinya disebut metastasis dari kanker usus besar. Sekali metastasis telah terjadi pada kanker kolorektal (colorectal cancer), suatu penyembuhan yang penuh dari kanker adalah tidak mungkin. Faktor-faktor yang meningkatkan suatu risiko kanker kolorektal seseorang termasuk masukan yang tinggi lemak, suatu sejarah keluarga dari kanker kolorektal dan polip-polip, kehadiran dari polip-polip di usus besar, dan radang usus besar karena borok yang kronis. Kebanyakan kanker-kanker usus besar berkembang di polip-polip usus besar. Oleh karenanya, mengangkat polip-polip usus besar yang ramah dapat mencegah kanker kolorektal. Polip-polip usus besar berkembang ketika kerusakan kromosom terjadi pada sel-sel lapisan dalam dari usus besar. Kromosom-kromosom mengandung informasi genetik yang diwariskan dari setiap orangtua. Secara normal, kromosom-kromosom yang sehat mengontrol pertumbuhan sel-sel dalam suatu cara yang teratur. Ketika kromosom-kromosom rusak, pertumbuhan sel menjadi tidak terkontrol, berakibat pada massa-massa dari jaringan-jaringan ekstra (polip-polip). Polippolip usus besar awalnya adalah ramah (bersifat baik). Melalui tahun-tahun,

38

polip-polip usus besar yang ramah dapat memperoleh kerusakan kromosom tambahan untuk menjadi bersifat kanker.

1.4. Kerangka Konseptual Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka, dapat diambil suatu kesimpulan rumusan masalah kerangka konsep sebagai berikut : Gambar 2.1. Kerangka Konsep Variabel Independent Diet tinggi rendah lemak Variabel Dependent Kanker kolon

1.5. Defenisi Operasional Berdasarkan kerangka konseptual di atas, maka variabel-variabel yang akan diukur, yaitu : Tabel 2.2 Definisi Operasional No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur

1 Variabel independent Diet lemak Adalah Dokumentasi Ceklist Ya = 0 membatasi asupan lemak Tidak= 1 dalam tubuh. 2 Variabel Dependent Kanker Adalah s u a t u Dokumentasi Ceklist Ya = 0 kolon pertumbuh an tumor Tidak= 1 y a n g bersifat ganas dan

Nominal

Nominal

39

No

Variabel

Definisi Operasional merusak sel DNA dan jaringan sehat di sekitar kolon (usus besar)

Cara Ukur

Alat Ukur

Hasil Ukur

Skala Ukur

1.6. Hipotesis Ho : Tidak ada hubungan diet tinggi rendah lemak dengan pasien kanker kolorektal RSUD dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2010-2011. Ha : Ada hubungan diet tinggi rendah lemak dengan pasien kanker kolorektal RSUD dr. M. Yunus Bengkulu tahun 2010-2011.

40

BAB III METODE PENELITIAN

1.1. Lokasi dan Objek Penelitian Penelitian ini dilakukan di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu dan objek penelitian adalah seluruh pasien yang dirawat di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu yang mengalami kanker kolorektal dari bulan Januari 2010 sampai Desember 2011.

1.2. Desain Penelitian Desain penelitian dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan metode rancangan cross sectional, dimana variabel independent (diet tinggi rendah lemak) dan variabel dependent (kanker kolorektal) diukur atau dikumpulkan sekaligus dalam waktu yang bersamaan.

1.3. Populasi dan Sampel 1.3.1. Populasi Populasi dari penelitian ini adalah semua pasien yang di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu yang mengalami kanker kolorektal dari bulan Januari 2010 sampai Desember 2011 yang berjumlah 14 orang pasien.

41

1.3.2. Sampel Sampel dari penelitian ini menggunakan total sampling yaitu seluruh populasi yang ada dijadikan sampel, yaitu pasien yang mengalami kanker kolorektal yang berjumlah 14 orang pasien. 1.4. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Medical Record dan dokumentasi di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu. 1.5. Pengolahan Data Pengolahan data yang telah dikumpulkan dilakukan dengan komputer, melalui beberapa tahap antara lain : 1. Editing yaitu melihat apakah isi jawaban/data yang diolah tersebut sudah tersedia lengkap dan apakah sudah relevan dengan tujuan penelitian. 2. Coding yaitu kode pada setiap jawaban. 3. Tabulating yaitu mentabulasi data berdasarkan kelompok data yang telah ditentukan kedalam master tabel. 4. Entry yaitu memasukkan data yang sudah dilakukan editing dan coding tersebut kedalam komputer dan menggunakan perangkat lunak komputer. 5. Cleaning yaitu untuk memastikan apakah semua data sudah siap dianalisis.

42

1.6. Teknik Analisa Data 1.6.1. Analisis Univariat Analisis univariat digunakan untuk mendapatkan gambaran tentang distribusi frekuensi diet tinggi rendah lemak pada pasien kanker kolorektal di RSUD dr. M. Yunus Bengkulu. 1.6.2. Analisis Bivariat Analisis yang digunakan untuk melihat hubungan antara variabel independent (diet tinggi rendah lemak ) dengan variabel dependent (kanker kolorektal ) yaitu menggunakan analisis Chi-Square dan untuk mengetahui keeratan hubungannya digunakan uji Coeffisien Contingency.