Anda di halaman 1dari 23

Ekstraksi Metabolit Sekunder dari Simplisia Tumbuhan Obat

I. Tujuan Percobaan Melakukan penyarian metabolit sekunder dari simplisia tumbuhan obat dengan beberapa metode ekstraksi

II.

Tujuan Pembelajaran Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa dapat memahami dan mampu melakukan penyarian metabolit sekunder dari simplisia tumbuhan obat dengan cara sederhana namun terandalkan

III. Prinsip 1. Ekstraksi

Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan yang lainnya pelarut organik.
2.

Perpindahan Migrasi Diferensial Perbedaan kecepatan distribusi komponen-komponen cairan berdasarkan

perbedaan koefisien partisi


3.

Adsorpsi Adalah suatu proses yang terjadi ketika suatu fluida, cairan maupun gas ,

terikat kepada suatu padatan atau cairan (zat penjerap, adsorben) dan akhirnya membentuk suatu lapisan tipis atau film (zat terjerap, adsorbat) pada permukaannya
4.

Like Dissolve Like

Suatu senyawa organik akan cenderung lebih larut dalam pelarut yang memiliki kepolaran yang sama IV. Teori Ekstraksi adala jenis pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau cairan. Proses ekstraksi bermula dari penggumpalan ekstrak dengan pelarut kemudian terjadi kontak antara bahan dan pelarut sehingga pada bidang datar antarmuka bahan ekstraksi dan pelarut terjadi pengendapan massa dengan cara difusi. Bahan ekstraksi yang telah tercampur dengan pelarut yang telah menembus kapiler-kapiler dalam suatu bahan padat dan melarutkan ekstrak larutan dengan konsentrasi lebih tinggi di bagian dalam bahan ekstraksi dan terjadi difusi yang memacu keseimbangan konsentrasi larutan dengan larutan di luar bahan (Sudjadi, 1988). Ekstraksi dengan pelarut dapat dilakukan dengan cara dingin dan cara panas. Jenis-jenis ekstraksi tersebut sebagai berikut:
1. Ekstraksi secara dingin Maserasi, merupakan cara penyarian sederhana yang dilakukan dengan cara

merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya. Metode maserasi digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komonen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, tiraks dan lilin (Sudjadi, 1988). Keuntungan dari metode ini adalah peralatannya sederhana. Sedang kerugiannya antara lain waktu yang diperlukan untuk mengekstraksi sampel cukup lama, cairan penyari yang digunakan lebih banyak, tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang mempunyai tekstur keras seperti benzoin, tiraks dan lilin. Metode maserasi dapat dilakukan dengan modifikasi sebagai berikut :

Modifikasi maserasi melingkar Modifikasi maserasi digesti Modifikasi Maserasi Melingkar Bertingkat Modifikasi remaserasi Modifikasi dengan mesin pengaduk (Sudjadi, 1988).

Soxhletasi

merupakan

penyarian

simplisia

secara

berkesinambungan, cairan penyari dipanaskan sehingga menguap, uap cairan penyari terkondensasi menjadi molekul-molekul air oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia dalam klongsong dan selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa sifon (Sudjadi, 1988). Keuntungan metode ini adalah : -

Dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur yang lunak dan tidak Digunakan pelarut yang lebih sedikit Pemanasannya dapat diatur (Sudjadi, 1988).

tahan terhadap pemanasan secara langsung.

Kerugian dari metode ini : - Karena pelarut didaur ulang, ekstrak yang terkumpul pada wadah di sebelah bawah terus-menerus dipanaskan sehingga dapat menyebabkan reaksi peruraian oleh panas. - Jumlah total senyawa-senyawa yang diekstraksi akan melampaui kelarutannya dalam pelarut tertentu sehingga dapat mengendap dalam wadah dan membutuhkan volume pelarut yang lebih banyak untuk melarutkannya.
- Bila dilakukan dalam skala besar, mungkin tidak cocok untuk menggunakan

pelarut dengan titik didih yang terlalu tinggi, seperti metanol atau air, karena

seluruh alat yang berada di bawah komdensor perlu berada pada temperatur ini untuk pergerakan uap pelarut yang efektif (Sudjadi, 1988). Metode ini terbatas pada ekstraksi dengan pelarut murni atau campuran azeotropik dan tidak dapat digunakan untuk ekstraksi dengan campuran pelarut, misalnya heksan : diklormetan = 1 : 1, atau pelarut yang diasamkan atau dibasakan, karena uapnya akan mempunyai komposisi yang berbeda dalam pelarut cair di dalam wadah (Sudjadi, 1988).
Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkan penyari melalui serbuk

simplisia yang telah dibasahi.Keuntungan metode ini adalah tidak memerlukan langkah tambahan yaitu sampel padat (marc) telah terpisah dari ekstrak. Kerugiannya adalah kontak antara sampel padat tidak merata atau terbatas dibandingkan dengan metode refluks, dan pelarut menjadi dingin selama proses perkolasi sehingga tidak melarutkan komponen secara efisien (Sutriani,L . 2008). 2. Ekstraksi secara panas
Metode refluks

Keuntungan dari metode ini adalah digunakan untuk mengekstraksi sampel-sampel yang mempunyai tekstur kasar dan tahan pemanasan langsung.. Kerugiannya adalah membutuhkan volume total pelarut yang besar dan sejumlah manipulasi dari operator (Sutriani,L . 2008). Metode destilasi uap Destilasi uap adalah metode yang popular untuk ekstraksi minyak-minyak menguap (esensial) dari sampel tanaman. Metode destilasi uap air diperuntukkan untuk menyari simplisia yang mengandung minyak menguap atau mengandung komponen kimia yang mempunyai titik didih tinggi pada tekanan udara normal (Sutriani,L . 2008).

Pelarut yang baik untuk ekstraksi adalah pelarut yang mempunyai daya melarutkanyang tinggi terhadap zat yang diekstraksi. Daya melarutkan yang tinggi ini berhubungan dengan kepolaran pelarut dan kepolaran senyawa yang diekstraksi. Terdapat kecenderungan kuat bagi senyawa polar larut dalam pelarut polar dan sebaliknya (Sutriani,L . 2008). Pemilihan pelarut pada umumnya dipengaruhi oleh:

Selektivitas, pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan. Kelarutan, pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan Kemampuan tidak saling bercampur, pada ekstraksi cair, pelarut tidak Kerapatan, sedapat mungkin terdapat perbedaan kerapatan yang besar Reaktivitas, pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia Titik didih, titik didh kedua bahan tidak boleh terlalu dekat karena

ekstrak yang besar.

boleh larut dalam bahan ekstraksi.

antara pelarut dengan bahan ekstraksi.

pada komponen bahan ekstraksi.

ekstrak dan pelarut dipisahkan dengan cara penguapan, distilasi dan rektifikasi.

Kriteria lain, sedapat mungkin murah, tersedia dalam jumlah besar,

tidak beracun, tidak mudah terbakar, tidak eksplosif bila bercampur udara, tidak korosif, buaka emulsifier, viskositas rendah dan stabil secara kimia dan fisik (Sutriani,L . 2008).

Kencur

Nama umum : Indonesia: Melayu: Pilipina: Cina: Kencur, cikur (Snd) Cikur, cekor Dusol shan nai

Klasifikasi : Kingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus :Plantae(Tumbuhan) : Spermatophyta (Menghasilkan biji) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Liliopsida (berkeping satu / monokotil) : Commelinidae : Zingiberales : Zingiberaceae (suku jahe-jahean) : Kaempferia Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Spesies: Kaempferia rhizoma. Kencur merupakan tanaman rumput kecil yang tumbuh subur di daerah dataran rendah atau pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak air. Tanaman ini tunbuh dan berkembang pada musim tertentu yaitu pada musim penghujan, juga dapat ditanam dalam pot atau di kebun yang cukup sinar matahari dan tidak terlalu basah (Wijaya H . 1992) Kandungan kimia yang terdapat di dalam rimpang kencur adalah pati (4,14%), mineral (13,73%), dan minyak astiri (0,02%) berupa sineol, asam metal kanil dan penta dekaan, asam cinnamic, ethyl aster, asam sinamic, borneol, kamphene, paraeumarin, asam anisic, alkaloid, dan gom. Berikut adalah beberapa manfaat kencur : Radang Lambung

Influenza pada Bayi Sakit Kepala

Radang Anak Telinga

Masuk Angin Diare Memperlancar Haid Mata Pegal

Batuk Menghilangkan darah kotor Keseleo Menghilangkan lelah

(Afriastini. JJ., 1990)

Kromatografi merupakan teknik analisis yang digunakan secara luas untuk analisis senyawa obat, baik dalam sediaan farmasi atau dalam cairan biologis. Hal ini disebabkan karena kromatografi dapat digunakan untuk analisis kualitatif maupun analisis kuantitatif. Buku ini,menguraikan tentang teknik-teknik kromatografi (kromatografi lapis tipis, kromatografi cair kinerja tinggi, dan kromatografi gas) serta beberapa contoh penggunaannya untuk analisis senyawa obat (Stahl, E. 1985)

V.

Alat dan Bahan Alat : 1. Alat Soxhlet 2. Alat Destilasi 3. Blender


4. Cawan Penguap

8. Lampu UV-Vis 9. Penangas Air 10. Piknometer 11. Pipa Kapiler 12. Rotavapor 13. Silika Gel

5. Cawan Petri 6. Chamber 7. Kertas Saring Whatman

Bahan : 1. Etanol 95% 2. Etil Asetat 3. n-heksan 4. Rimpang kencur 5. Toluen 6. Vanilin Sulfat

Gambar Alat :

VI. 1.

Prosedur Ekstraksi Pertama-tama disiapkan simplisia rimpang kencur (Kaemferia rhizoma) yang

telah dipotong kecil-kecil, kemidian rimpang dihaluskan dengan menggunakan blender . Setelah simplisia siap, kemudian dilakukan proses ekstrasi dengan menggunakan metode soxhlet . dituangkan pelarut yaitu etanol kedalam labu alas bulat sampai kurang lebih -2/3 bagian dari volume labu dan ditambahkan batu didih. Serbuk simplisia ditimbang sebayak + 250 gram, lalu dimasukkan kedalam kertas saring yang sudah dibuat sedemikin rupa agar serbuk simplisia tidak keluar . kemudian kertas tersebut ditempatkan dalam tabung soxhlet, lalu dipasang alat soxhlet sesuai tempatnya dan ditambahklan pelarut etanol dibagian atas tabung soxhlet untuk pembasahan simplisia. Setelah rangakaian alat siap, kemudian heating mantle dinyalakan sampai suhu mencapai titik didih pelarut. Kemudian simplisia diekstraksi samapi tetesan pelarut hampir tidak berwarna. Kemudian ekstrak yang diperoleh diambil 20ml lalu disimpan disalam botol vial, dan sisanya dipekatkan dengan rotavapor sampai menjadi ekstrak kental. 2. Organoleptik Ekstrak Ekstrak yang didapat diperiksa dengan menggunakan pancaindera, lalu diamati bentuk, warna, bau, dan rasa yang diperoleh dari ekstrak 3. Rendemen Ekstrak

Ekstrak yang sudah dikentalkan kemudian disimpan didalam cawan penguap lalu diupakna diatas penangas air dengan suhu 40-50oC sampai dan diperoleh bobot yang konstan. Sebelumnya telah ditimbang terlebih dahulu berat cawan penguap yang kosong Setelah berat ekstrak dalam cawan konstan maka dapat dihitung rendemen ekstrak dengan menggunakan rumus :

Berat cawan ekstrak berat cawan kosong Rendeman (%) = Berat Simplisia x 100 %

4.

Bobot Jenis Ekstrak Penetapan bonot jenis ekstrak dilakukan dengan menggunakan piknometer .

Kedalam piknometer yang telah ditimbang terlebih dahulu dalam keadaan kosong. Kemudian piknometer diisi dengan air sampai penuh lalu ditimbang, dan ditentukan kerapatan air. Setelah itu piknometer dikosongkan dan diisi dengan ekstrak cair yang telah dipisahkan dalam botol vial tadi sampai penuh kemudian ditimbang. Melalui berat ekstrak yang mempunyai volume tertentu dapat ditentukan kerapatan ekstrak. Bobot ekstrak ditetapkan dengan rumus :

Kerapatan Ekstrak Bobot Jenis Ekstrak = Kerapatan air

Kerapatan air/ekstrak sendiri dapat dihitung dengan rumus :

= m

Keterangan :

m = massa air/ekstrak V = volume piknometer

5.

Kadar Air Ekstrak Penetapan kadar air dilakukan dengan destilasi menggunakan destilasi

toluene . kedalam labu bersih dan kering dimasukkan ekstrak kental yang beratnya sudah konstan sebanyak 2 gram lalu ditambahkan 200 ml toluen dan batu didih . alat destilasi dihubungkan dan tuangkan toluen ke dalam labu penerima melalui alat pendingin. Labu dipanaskan secara hari-hati selama 15 menit. Setelah toluen mendidih, disuling dengan kecepatan lebih kurang 2 tetes tiap detik, hingga sebagian air tersuling, kemudian kecepatan dinaikkan hingga 4 tetes tiap detik. Setelah semua air tersuling, tabung dibiarkan menerima suhu dingin pada suhu kamar. Setelah air dan toluen memisah sempurna, volume air dibaca lalu dihitung kadar air dalam % v/b

6.

Pola kromatografi Lapis Tipis (KLT) Disiapkan pelat silika gel dengan ukuran tertentu, lalu dibagian atas dan

bahanya diberi batas 1 cm . Kemudian ekstrak cair ditutulkan pada garis awal dengan menggunakan pipa kapiler, biarkan beberapa saat sehingga pelarutnya menguap. Kemudian disiapkan chamber dengan berisi pengembang yaitu n-heksan : etil asetat (4:1), lalu ditunggu sampai pengembang jenuh . setelah jenuh pelat silika tadi dimasukkan kedalam chamber lalu dibiarkan sampai cairan mengenai garis batas. Diamati pola kromatogram dibawah lampu UV 254 dan 366 nm dan dihitung Rf setiap bercak yang teramati . setelah itu dilihat juga dengan penampak bercak vanilin sulfat dengan cara disemprotkan kepada silika gel.

7.

Pola Dinamolisis

Disiapkan cawan petri dan ketras saring whatman dengan diamter 10 cm. Lalu titik pusat kertas dilubangi, kemudian dipasang sumbu yang terbuat dari kertas saring. Kertas saring bersumbu ini kemudian ditutupkan pada cawan petri yang berisi ekstrak cair. Lalu dibiarkan terjadi proses difusi sirkular selama kurang lebih 10 menit, setelah itu pola dinamolisis yang terbentuk digambar. VII. Data Pengamatan dan Perhitungan 1. Organoleptik ekstrak : Cair : Coklat tua : Khas aromatik : Pahit

Bentuk Warna Bau Rasa

2. Rendemen Ekstrak - Volume ekstrak kental - Berat cawan kosong - Berat cawan + ekstrak (setelah penguapan) - Berat simplisia awal - Rendemen ekstrak: Rendemen ekstrak = (92.23 86.06)
149.83

: 6,17 ml : 86.06 g : 92.23 g : 149.83 g

x 100 %

= 6.17 149.83 = 4.18 % x 100 %

3. Bobot Jenis Ekstrak - Berat piknometer kosong - Berat piknometer + air - Berat air - Volume piknometer : 17.20 g : 27.87 g : 27.87 17.20 = 10.67 g : 10 ml

- Kerapatan air

: = 1.067 g/ml

= 10.67
10

- Berat piknometer + ekstrak - Volume piknometer - Berat ekstrak - Kerapatan ekstrak

: 26.66 g : 10 ml : 9.46 g :

= 9.46
10

= 0.946 g/ml

- Bobot jenis ekstrak Bobot jenis = 0.946 1.067

: = 0.886

4. Kadar air ekstrak

- Berat ekstrak uji : 2 g - Volume air - kadar air : 0 ml : 0 % v/b

5. Pola kromatografi lapis tipis (KLT) Pengamatan No. Bercak 1 0.5625 Hijau keputihan 2 0.8625 Hijau keputihan Ungu kebiruan Ungu kebiruan Rf Sinar Tampak UV 254 nm UV 366 nm

6. Pola Dinamolisis

Diameter 1 Diameter 2

: 1.8 cm ; warna kuning muda : 5.6 cm ; warna bening (batas lingkaran kuning)

VIII. Pembahasan Pada praktikum kali ini dilakukan tahapan eksyraksi metabolit sekunder dari tanaman obat yaitu kencur (Kaemferia rihizoma) dengan menggunakan metode ekstraksi soxhlet dengan target isolasi senyawa kamfen . Rimpang kencur mempunyai aroma yang spesifik. Di dalam rimpang kencur terdapat banyak zat yang dapat dimanfaatkan, salah satunya adalah kandungan minyak atsiri sebesar 24% yang terdiri dari etil sinamat, etil p-metoksisinamat, p-metoksi stirena, npentadekana, borneol, kamfen, 3,7,7-trimetil bisiklo [4,1,0] hept-3-ena. Rimpang kencur bermanfaat sebagai sumber minyak atsiri, penyedap makanan, minuman, juga bahan jamu dan obat. Minyak atsiri dalam kencur berupa

sineol, asam metal kanil, dan pendekaan. Berdasarkan analisis laboratorium, minyak atsiri dalam rimpang kencur mengandung kurang lebih 23 macam senyawa. Tujuh belas di antaranya mengandung senyawa aromatic, monoterpena, dan seskuiterpena. Kencur juga bersifat stimulant, sehingga bisa sebagai penambah tenaga. Selain itu juga bersifat karminatif atau meluruhkan angina, sehingga bisa menghilangkan kembung di perut. Di Cina, kencur digunakan untuk obat berbagai penyakit, selain sakit gigi juga memar, nyeri dada, sakit kepala, dan sembelit. Kabarnya, kencur juga bias untuk mengobati tetanus, radang lambung, muntahmuntah, panas dalam, serta keracunan. Ekstraksi Soxhlet digunakan untuk mengekstrak senyawa yang kelarutannya terbatas dalam suatu pelarut dan pengotor-prngotornya tidak larut dalam pelarut tersebut. Sampel yang digunakan dan yang dipisahkan dengan metode ini berbentuk padatan.. Ekstraksi soxhlet ini juga dapat disebut dengan ekstraksi padat-cair. Ekstraksi padat-cair digunakan untuk memisahkan analit yang terdapat pada padatan menggunkan pelarut organic. Padatan yang akan diekstrak dilembutkan terlebih dahulu dengan cara ditumbuk atau juga diiris-iris. Kemudian padatan yang telah halus dibungkus dengan kertas saring. Padatan yang terbungkkus kertas saring dimasukkan kedalam alat ekstraksi soxhlet. Pelarut organic dimasukkan kedalam labu alas bulat. Kemudian alat ektraksi soxhlet dirangkai dengan kondensor . Ekstraksi dilakukan dengan memanaskan pelarut organic sampai semua analit terekstrak. Prisip kerja dari ekstraksi soxhlet adalah memisahkan senyawa tertentu dari sampel padat dengan menggunakan titik didih tertentu dan senyawa tertentu. Pertama-tama simplisia dari rimpang kencur dihaluskan terlebig dahulu dengan menggunakan blender. Penghalusan simplisia bertujuan untuk memudahkan proses ekstraksi, karean jika simplisia masih dalam bentuk besar dan kasar ditakutkan tidak akan terlarut dalam pelarut yang digunakan sehingga hasil ekstraksi tidak maksimal. Kedalam labu sohxhlet dimasukkan aquades kira-kira 2/3 bagian dari volume labu dan ditambahkan batu didih. Setelah itu simplisia ditimbang sebanyak + 250 gram, lalu dimasukkan kedalam kertas saring yang telah dibentuk sedemikian rupa agar masuk ke dalam tabung soxhlet dan tidak bocor. Tetapi simplisia yang cukup dimasukkan kedalam kertas saring hanyalah 149.83

gram. Penggunaan kertas saring bertujuan untuk mencegah simplisia ikut keluar saat proses ekstraksi sehingga ekstrak yang didapat tidak murni. Setelah itu kertas saring dimasukkan kedalam tabung soxhlet dan dipasang diatas labu soxhlet dan ditambahkan pelarut yaitu etanol. Etanol merupakan pelarut polar yang cocok untuk ekstraksi dan merupakan pelarut universal. Biasanya digunakan metanol karena metanol merupakan pelarut yang lebih baik dibanding etanol tetapi dihindari karena memiliki sifat toksik akut dan kronik, sedangkan etanol tidak bersifat toksik. Digunakan etanol 96% kerena dengan konsentraso 96% merupakan campuran dari etanol dan air yang menimbulkan sifat azeotrop. Azeotrop adalah campuran dari dua atau lebih cairan yang komposisinya tidak dapat diubah oleh destilasi sederhana. Hal ini dikarenakan, ketika zat yang bersifat azeotrop diuapkan, uap yang dihasilkan memiliki komposisi yang sama dengan campuran aslinya. Alat soxhlet yang telah terpasang lalu siap digunakan. Untuk pembasahan simplisia dinyalakan heating mantle sampai suhu mencapai titik didih pelarut, titik didih etanol adalah 78,4oC. Kemudia simplisia diekstraksi sampai tetesan pelarut hampir tidak berwarna. Kemudian ekstrak yang diperoleh dipekatkan dengan rotavapor sampai menjadi ekstrak kental. Vaccuum Rotary Evaporator adalah alat yang berfungsi untuk memisahkan suatu larutan dari pelarutnya sehingga dihasilkan ekstrak dengan kandungan kimia tertentu sesuai yang diinginkan. Cairan yang ingin diuapkan biasanya ditempatkan dalam suatu labu yang kemudian dipanaskan dengan bantuan penangas, dan diputar. Uap cairan yang dihasilkan didinginkan oleh suatu pendingin (kondensor) dan ditampung pada suatu tempat (receiver flask). Setelah itu dilakuak pemeriksaan parameter ekstrak untuk mengetahui kualitas ekstrak dilihat dari sifat fisik dan kandungan kimianya. Parameter pertama adalah organoleptik ekstrak. Dari hasil pengamatan didapat bahwa ekstrak yang didapat berbentuk cair, dengan warna seprti kencur yaitu coklat tua, bau yang khas aromatik serta rasa yang pahit. Dari ekstrak cair diambil kira-kira 20 ml ekstrak kedalam botol vial untuk keperluan uji selanjutnya. Setelah itu dilakukan perhitungan rendemen ekstrak. Rendemen merujuk pada jumlah produk reaksi yang dihasilkan pada suatu reaksi. Rendemen ekstrak dapat diperoleh dengan cara

ekstrak yang sudah dikentalkan dengan rotavapor disimpan didalam cawan penguap lalu diupakna diatas penangas air dengan suhu 40-50oC sampai dan diperoleh bobot yang konstan. Proses penguapan ini bertujuan untuk mendapatkan bobot murni ekstrak tanpa adanya zat lain seperti air atau etanol. Sebelumnya telah ditimbang terlebih dahulu berat cawan penguap yang kosong agar berat ekstrak sebenarnya dapat dihitung. Setelah bobot konstan rendemen ekstrak dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

Berat cawan ekstrak berat cawan kosong Rendeman (%) = Berat Simplisia x 100 %

Dari hasil perhitungan didapat rendemen ekstrak sebesar 4,18 %.

Selanjutnya dilakukan penentuan bobot jenis ekstrak. Bobot jenis suatu zat adalah perbandingan antara bobot zat dibandingkan dengan volume zat pada suhu tetentu (Biasanya 25oC). Penentuan bobot jenis ini dilakukan dengan menggunakan alat piknometer. Pinsip metode piknometer ini didasarkan atas penentuan massa cairan dan penentuan rungan yang ditempati cairan ini. Ruang piknometer dilakukan dengan menimbang air. Ketelitian metode piknometer akan bertambah sampai suatu optimum tertentu dengan bertambahnya volume piknometer. Optimun ini terletak sekitar isi ruang 30 ml. Ada dua tipe piknometer, yaitu tipe botol dengan tipe pipet. Yang digunakan pada praktikum kali ini adalah piknometer botol. Pertama-tama piknometer ditimbang terlebih dahulu dalam keadaan kosong. Kemudian piknometer diisi dengan air sampai penuh lalu ditimbang, dan dapat ditentuka kerapatan air dengan cara :

= m

V Setelah itu piknometer dikosongkan dan diisi dengan ekstrak cair yang telah dipisahkan dalam botol vial tadi sampai penuh kemudian ditimbang. Melalui berat ekstrak yang mempunyai volume tertentu dapat ditentukan kerapatan ekstrak dengan rumus yang sama seperti diatas. Setelah itu bobot ekstrak dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

Kerapatan Ekstrak Bobot Jenis Ekstrak = Kerapatan air

Dari hasil perhitungan didapat bobot jenis ekstrak sebesar 0.886 Selajutnya dilakukan pengujian parameter berikutnya yaitu menentukan kadar air ekstrak. Penetapan kadar air dilakukan dengan destilasi menggunakan destilasi toluene. Destilasi merupakan proses pemisahan yang berdasarkan perbedaan titik didih dari komponen-komponen yang akan dipisahkan. Proses distilasi didahului dengan penguapan senyawa cair dengan pemanasan, dilanjutkan dengan pengembunan uap yang terbentuk dan ditampung dalam wadah yang terpisah untuk mendapatkan distilat. Dasar proses destilasi adalah kesetimbangan senyawa volatil antara fasa cair dan fasa uap. Pertama-tama kedalam labu bersih dan kering dimasukkan ekstrak kental yang beratnya sudah konstan sebanyak 2 gram didalam alumunium foil, lalu ditambahkan 200 ml toluen dan batu didih. Alat destilasi dihubungkan dan tuangkan toluen ke dalam labu penerima melalui alat pendingin. Labu dipanaskan secara hari-hati selama 15 menit. Setelah toluen mendidih, disuling dengan kecepatan lebih kurang 2 tetes tiap detik, hingga sebagian air tersuling, kemudian kecepatan dinaikkan hingga 4 tetes tiap detik. Setelah semua air tersuling, tabung dibiarkan menerima suhu dingin pada suhu kamar. Dari hasil pengamatan didapat bahwa kadar air dari ekstrak adalah 0 ml, karena tidak ada air yang tersuling kedalam toluen.

Uji parameter selanjutnya adalah kromatografi lapis tipis (KLT). KLT merupakan salah satu analisis kualitatif dari suatu sampel yang ingin dideteksi dengan antara memisahkan sampel dengan komponen-komponen sampel berdasarkan pelarut yang digunakan. Teknik ini perbedaan biasanya kepolaran. Prinsip kerjanya memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan. Larutan atau campuran larutan yang digunakan dinamakan eluen. Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut. Untuk KLT kali ini digunakan silika gel GF 254, ini adalah jenis silika gel yang akan menunjukkan fluoresensi kuning-hijau di bawah sinar UV 254 nm. fasa diam adalah fasa yang terikat pada pendukung, sedangkan fasa gerak adalah fasa yang bergerak melalui fasa diam. Pengembang yang digunakan pada metode ini adalah n-heksan : etil asetat (4:1) digunakan pengembang ini karena menurut literatur senyawa kamfen dapat dideteksi dengan menggunakan pengembang ini. Pertama-tama pengembang dimasukkan kedalam chamber yang telah dioleskan vaselin pada permukaan atas nya lalu dijenuhkan, tanda bahwa pengembang sudah jenuh adalah suhu didalam chamber menjadi hangat. Vaselin digunakan untuk mengedapkan udara didalam chamber agar tidak ada udara dari luar yang masuk ke dalam chamber yang dapat menggangu proses penjenuhan pengembang sehingga hasil KLT yang diperoleh tidak maksimal. . Eluen tersebut terlebih dahulu dijenuhkan, disini cember ditutup rapat dengan tujuan agar meyakinkan bahwa atmosfer dalam gelas kimia terjenuhkan denga uap pelarut. Penjenuhan udara dalam gelas kimia dengan uap menghentikan penguapan pelarut sama halnya dengan pergerakan pelarut dalam KLT. Selanjutnya diatas pelat silika yang telah disiapkan ditotolkan ekstrak cair. Sebelum mentotolkan sampel ke plat KLT, terlebih dahulu dibuat batas atas dan batas bawah dengan menggunakan pensil, hal ini bertujuan agar kita mengetahui dimana pentetesan sampel itu. Dalam penandaan tidak digunakan tinta karena pewarna dari tinta akan bergerak

selayaknya kromatogram dibentuk. Hal ini dapat mempengaruhi proses pengelusian senyawa sample. Setelah chember jenuh maka plat KLT siap dimasukan kedalam chamber. Ketika pelarut mulai membasahi plat / lempengan, pelarut pertama-tama akan melarutkan senyawa-senyawa dalam bercak yang telah ditempatkan pada garis dasar. Senyawa-senyawa akan cenderung bergerak pada lempengan kromatografi sebagaimana halnya pergerakan pelarut. Disini mulai terlihat akan ada bercak terpisah-pisah, ini dikarenakan setelah sampel dilarutkan eluen maka sampel akan ikut berinteraksi juga dengan silika yang ada dilempengan. Senyawa yang terperangkap dibagian paling bawah menunjukan bahwa senyawa tersebut paling tinggi kepolarannya, Senyawa inidapat membentuk ikatan hidrogen yang akan melekat pada silika lebih kuat disbanding senyawa lainnya. Kita dapat mengatakan bahwa senyawa ini terjerap lebih kuat dari senyawa yang lainnya. Penjerapan merupakan pembentukan suatu ikatan dari satu substansi pada permukaan. Setelah eluen mencapai batas atas plat, maka plat segera diangkat dan diamati . pada sinar tampak tidak terlihat adanya noda, maka selanjutnya plat dilihat dibahah sinar UV 254 dan 366. pada UV 254 terlihat ada 2 spot bercak noda dengan warna yang sama yaitu hijau keputihan, kemudian bercak ini ditandai dengan pensil agar Rf-nya dapat dihitung. Selanjutnya dilihat dibawah sinar UV 366, pada sinar UV 366 juga terdapat 2 spot bercak noda dengan warna yang sama yaitu ungu kebiruan. Setelah dihitung didapat Rf-nya yaitu bercak dapat terlihat pada Rf 0,5625 dan Rf 0,8625. Cara menghitung Rf adalah : Rf = Jarak noda dengan batas bawah Jarak eluen Selanjutnya dilihat bercak dengan penampak bercak yaitu vanilin sulfat. Selanjutnya uji parameter yang terakhir adalah pola dinamolisis . Proses dinamolisis dilakukan untuk memberikan gambaran secara kualitatif dari kandungan kimia yang terdapat dalam ekstrak karena masing-masing ekstrak memiliki pola dinamolisis yang berbeda. Uji dinamolisis dilakukan dengan cara menuangkan ekstrak ke dalam cawan petri sebanyak 1/3 dari volume cawan petri.

Cawan petri tersebut ditutup dengan kertas saring berbentuk lingkaran yang bersumbu di tengah. Uji dinamolisis dilakukan selama kurang lebih 20 menit. Noda yang dihasilkan diamati polanya. Berdasarkan hasil percobaan, pola yang dimilikioleh Kaemferia rhizoma menunjukkan pola lingkaran, diameter 1 yaitu berwarna kuning muda ,diameter 2 berwarna hijau, Selain sebagai penyaring, kertas saring berfungsi untuk kromatografi sederhana. Dari kertas saring diukur diameter yang diperoleh berturut-turut adalah 1.8 cm ; 5.6 cm. .Pola ini menunjukkan karakteristik simplisia Kaemferia rhizoma.

IX.

Kesimpulan Penyarian senyawa kamfen dalam tanaman obat Kaemferia rhizoma dapat

dilakukan dengan metode ekstraksi yang hasilnya dapat dilihat di sina UV dengan Rf 0,6 0,8 . Hal ini sudah sesuai dengan literatur.

Daftar Pustaka

Afriastini. JJ. 1990 . Bertanam Kencur . Jakarta : PT Penebar Swadaya Stahl, Egon. 1985. Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi. Bandung : ITB Sudjadi . 1988 . Metode Pemisahan . Yogyakarta : Kanisius Sutriani L . 2008 . Ekstraksi . Available online at .

http://medicafarma.blogspot.com/2008/11/ekstraksi.html Wijaya H . 1992 . Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia . Jakarta : Gramedia Pustaka