Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap individu akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan.

Perkembangan dapat diartikan perubahan yang progresif dan kontinyu dari mulai masa konsepsi sampai meninggal. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti dalam kehidupan individu. Berkenaan dengan proses perkembangan ini, ada beberapa hal yang perlu dipahami, diantaranya sejak kapan dimulai dan berakhirnya, bagaimana kecenderungan arah perkembangannya, dan faktor-faktor apa yang

mempengaruhinya. Selain itu, kematangan dan belajar juga memainkan peranan penting dalam perkembangan. Hal-hal tersebut sangat urgen untuk diketahui, terutama bagi pendidik di sekolah maupun di rumah. Pemahaman seorang pendidik akan setiap tahapan proses perkembangan suatu individu dapat menentukan keberhasilan individu tersebut dalam rangka pencapaiannya menjadi manusia yang ideal. Atas dasar itulah, makalah ini akan membahas mengenai proses perkembangan individu. B. Rumusan Masalah 1) Bagaimana alur perkembangan individu? 2) Seperti apa kecenderungan arah perkembangan individu? 3) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan individu? 4) Apakah peran kematangan dan belajar dalam perkembangan? C. Tujuan 1) Untuk mengetahui alur perkembangan individu. 2) Untuk mengetahui kecenderungan arah perkembangan individu. 3) Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi

perkembangan individu. 4) Untuk mengetahui peran kematangan dan belajar dalam perkembangan.

D. Manfaat 1) Menambah wawasan pengetahuan mengenai proses perkembangan individu 2) Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perkembangan peserta didik 3) Merencanakan setiap rentang kehidupan

BAB II PEMBAHASAN A. Alur Perkembangan Individu Perkembangan individu berlangsung secara berurutan atau

berkesinambungan melalui periode atau masa. Secara faktual, perkembangan dimulai sejak terjadinya konsepsi. Setelah lahir, bayi menjalani masa kanakkanak, remaja, dewasa, sampai hari tuanya yang pada umumnya memerlukan waktu sekitar 60-70 tahun. Manusia tidak pernah statis. Organisme yang matang selalu mengalami perubahan yang progresif. Proses perkembangan itu berkesinambungan dalam arti bahwa perkembangan itu merupakan proses siklus dengan berkembangnya kemampuan-kemampuan dan kemudian menghilang, dan yang akan muncul kembali pada usia berikutnya. 1. Periode Sebelum Kelahiran Periode ini merupakan masa kehidupan individu dimulai dari masa konsepsi (pembuahan) hingga kelahiran, sekitar 9 bulan dalam kandungan. Periode ini merupakan saat pertumbuhan yang sangat luar biasa, dari satu sel tunggal (beratnya kira-kira 1/20 juta ons) menjadi organisme yang sempurna dengan kemampuan otak dan tingkah lakunya. Terdapat enam ciri penting masa pra kelahiran: a) Pada saat ini sifat-sifat bauran yang berfungsi sebagai dasar bagi perkembangan selanjutnya diturunkan sekali untuk selamanya. b) Kondisi-kondisi baik dalam tubuh ibu dapat menunjang perkembangan sifat bawaan, sedangkan kondisi yang tidak baik dapat menghambat perkembangannya, bahkan sampai mengganggu pola perkembangan yang akan datang. c) Jenis kelamin individu yang baru diciptakan sudah dipastikan pada saat pembuahan dan kondisi-kondisi pada tubuh ibu tidak akan

memengaruhinya, sama halnya dengan sifat bawaan.

d) Perkembangan dan pertumbuhan yang normal lebih banyak terjadi selama periode pra natal dibandingkan dengan periode-periode lain dalam seluruh kehidupan individu. e) Periode pra kelahiran merupakan masa yang banyak mengandung bahaya, baik fisik maupun psikologis. f) Periode pra kelahiran merupakan saat dimana orang-orang yang berkepentingan membentuk sikap-sikap pada diri individu yang baru diciptakan. 2. Periode bayi Masa bayi (infacy)ialah periode perkembangan yang merentang dari kelahiran hingga 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah masa yang sangat bergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis yang terjadi hanya sebagai permulaan seperti bahasa, pemikiran simbolis, koordinasi sensorimotor, dan belajar sosial. 3. Periode awal anak Masa awal anak anak (early chidhood) yaitu periode pekembangan yang merentang dari masa bayi hingga usia lima atau enam tahun. Periode ini biasanya disebut dengan periode prasekolah. Selama masa ini, anak anak kecil belajar semakin mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan keterampilan kesiapan bersekolah (mengikuti perintah, mengidentifikasi huruf), dan meluangkan waktu berjam jam untuk bermain dengan teman teman sebaya. Jika telah memasuki kelas satu sekolah dasar, maka secara umum mengakhiri masa awal anak anak. 4. Periode pertengahan dan akhir anak Masa pertengahan dan akhir anak anak (middle and late childhood) ialah periode perkembangan yang merentang dari usia kira kira enam hingga sebelas tahun, yang kira kira setara dengan tahun tahun sekolah dasar, periode ini biasanya disebut dengan tahun tahun sekolah dasar. Keterampilan-keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaan.

Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat. 5. Periode remaja Masa remaja (adolescence) ialah suatu periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 tahun hingga 22 tahun. Masa remaja bermula pada perubahan fisik yang cepat, pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada, perkembangan pinggang dan kumis, dan dalamnya suara. Pada perkembangan ini, pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol (pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis) dan semakin banyak menghabiskan waktu di luar keluarga. 6. Periode dewasa, terdiri dari: a) Masa awal dewasa (early adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia duapuluhan tahun dan yang berakhir pada usia tigapuluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandirian pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seseorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak anak. b) Masa pertengahan dewasa (middle adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada usia kira kira 35 hingga 45 tahun dan merentang hingga usia enampuluhan tahun. Ini adalah masa untuk memperluas keterlibatan dan tanggung jawab pribadi dan sosial seperti membantu generasi berikutnya menjadi individu yang berkompeten, dewasa dan mencapai serta mempertahankan kepuasan dalam berkarir. c) Masa akhir dewasa (late adulthood) ialah periode perkembangan yang bermula pada usia enampuluhan atau tujuh puluh tahun dan berakhir pada kematian. Ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan

dan kesehatan, menatap kembali kehidupannya, pensiun, dan penyesuaian diri dengan peran peran sosial baru. B. Kecenderungan Arah Perkembangan Individu Ada tiga kemungkinan arah garis garis perkembangan hidup seseorang yang dapat digambarkan secara visual:

50,0 15,0

(c)

(b)

0,0

(a)

Pada

individu-individu

yang

tergolong

normal

pada

umumnya

perkembangan laju pesat sampai usia lima belas tahun, di mana tercapainya titik optimal kedewasaan perkembangan fungsi-fungsi fisik dan psikis (intelektual). Kemungkinan perkembangan selanjutnya. a) Kemungkinan pertama, bagi mereka yang tidak memperoleh kesempatan untuk belajar atau melatih fungsi-funsinya (terutama segi intelektual), maka kemampuannya cenderung tidak berkembang lagi sampai usia sekitar empat puluh tahunan bahkan setelah mencapai usia tersebut kemampuannya mulai menurun, malahan tidak kurang jumlahnya yang menuju pikun pada hari-hari tuanya. b) Kemungkinan kedua, bagi mereka yang bernasib baik untuk memperoleh kesempatan belajar atau melatih fungsi-fungsi psikofisiknya lebih lanjut, maka perkembangan kemamuan fungsi-fungsi masih ada, baik yang

bersifat peningkatan atau perluasannya sampai taraf usia sekitar empat puluh pula. Namun selanjutnya, setelah dijalani usia tersebut tidak berkesempatan lagi belajar, melainkan hanya bekerja, secara routine dan monoton, maka cenderung untuk berada pada titik jenuh tersebut tidak berkembang lagi. Namun bagi mereka yang terus berusaha belajar dan menggumuli perkembangan informasi-informasi mutakhir, perkembangan itu dapat terjadi meskipun hanya bersifat perluasan atau pendalaman. Karakteristik Laju Perkembangan Motorik a) Perkembangan motorik bergantung pada kematangan otot dan syaraf Perkembangan motorik setiap individu berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh pertumbuhan pusat syaraf dan urat syaraf. Sistem syaraf diperlukan untuk menunjang terwujudnya keterampilan motorik, selain itu

perkembangan motorik juga bergantung pada koordinasi yang baik antar otot. Sistem syaraf tersebut akan berkembang selama tahun awal perkembangan individu, ketika usia 4-5 tahun pasca lahir, mereka dapat melakukan gerakan kasar yang melibatkan hampir semua bagian badan, akan tetapi setelah umur 5 tahun terjadi perkembangan yang besar dalam pengendalian koordinasi yang lebih baik yang melibatkan otot yang lebih kecil. Hal itu dikarenakan pada masa kanak-kanak otot berbelang (stripped muscle) yakni otot yang mengendalikan gerakan sukarela berkembang dalam laju yang agak lambat. b) Belajar keterampilan motorik bergantung pada kematangan anak. Upaya untuk mengajarkan dan melatih ketrampilan motorik tidak akan berhasil jika individu belum mencapai kematangan pada sistem syaraf dan otot. Keterampilan motorik yang dilakukan ketika anak telah siap belajar hasilnya akan jauh lebih unggul daripada tanpa adanya kesiapan dari individu. c) Perkembangan motorik mengikuti pola yang dapat diramalkan.

Perkembangan motorik mengikuti hukum arah perkembangan,yakni hukum Cephalocaudal dan Proximodistal. Adanya pola perkembangan

yang dapat diramalkan tersebut dapat dibuktikan dengan adanya perubahan kegiatan massa ke kegiatan khusus, dengan matangnya mekanisme urat syaraf, kegiatan massa digantikan dengan kegiatan spesifik dan secara acak gerakan kasar membuka jalan untuk memperhalus gerakan yang hanya melibatkan otot dan anggota badan yang tepat,sehingga menjadikan mereka mampu menyempurnakan gerakan dari motorik kasar ke motorik halus. d) Perkembangan motorik memerlukan norma tertentu. Prinsip

perkembangan motorik sebelumnya telah menjelaskanbahwa awal perkembangan motorik mengikuti pola yang dapatdiramalkan, agar perkembangan tersebut sesuai dengan hukum arah perkembangan, maka diperlukan adanya norma perkembangan motorik,norma perkembangan tersebut dapat diketahui dari umur rata-rata anak yang dikorelasikan dengan kegiatan motorik yang telah dicapai, hal itu dibutuhkan sebagai petunjuk untuk mengetahui ketrampilan motorik yang telah dicapai dan juga digunakan untuk menilai kenormalan perkembangan anak. e) Setiap individu mempunyai laju perkembangan motorik yang berbeda. Masing-masing individu mengalami laju perkembangan motorikyang berbeda-beda. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh usia kematangan tiap individu, sebagian kondisi tersebut dapat mempercepat laju perkembangan motorik, namun sebagian lagi merperlambat perkembanganmotorik. Diantara kondisi yang mempengaruhi laju perkembangan motorik meliputi: 1) Sifat dasar genetik termasuk bentuk tubuh dan kecerdasan. 2) Kondisi pasca lahir yang menyenangkan khususnya gizi makanan sang Ibu. 3) Adanya kerusakan otot disebabkan kelahiran yang sukar. 4) Kemampuan intelekual (IQ) yang tinggi akan mempercepat laju perkembangan motorik daripada anak yang memiliki IQ dibawah normal. 5) Adanya rangsangan dorongan dan kesempatan untuk menggerakkan bagian tubuh. 6) Perlindungan yang berlebihan dari orang tua akan memperlambat perkembangan motorik anak. 7) Adanya cacat fisik yang diderita anak akan memperlambat perkembangan motorik. 8) Adanya

motivasi dari dalam diri anak untuk mempraktekkan keterampilan motorik akan mempercepat laju perkembangan motoriknya. Kondisi lingkungan pentingkarena kondisi memungkinkan kita

meramalkan apa yang akan dilakukan orang pada usia tertentu dan merencanakan pendidikan dan pelatihan mereka sesuai pola ini. Kalau perkembangan tidak dapat diramalkan, tidak mungkin merencanakan setiap periode tentang kehidupan. Misalnya orang usia pertengahan tidak akan mempunyai orientasi ke depan untuk membuat rencana sehubungan dengan menurunnya kesehatan berkurangnya penghasilan dan bertambahnya usia mereka. Contoh lain, orang tua tidak mampu membuat rencana yang diperlukan untuk anak mereka sehingga anak itu mampu menyesuaikan diri. C. Faktor-faktor yang Memengaruhi Perkembangan Individu Ada 3 faktor dominan yang memengaruhi proses perkembangan individu, ialah : faktor pembawaan (heredity). Heredity ialah faktor pembawaan atau turunan yang bersifat alamiah (nature), faktor lingkungan (environment). Environment ialah faktor diluar individu yang merupakan kondisi yang memungkinkan berlangsungnya proses perkembangan (nurture), dan faktor waktu (time) .yaitu saat-saat tibanya masa peka atau kematangan (maturation) ialah siap berfungsinya aspek-aspek psikofisik individu. 1. Faktor Pembawaan (heredity). Hereditas merupakan faktor pertama yang mempengaruhi perkembangan individu, dalam hal ini hereditas dapat diartikan sebagai totalitas karakteristik individu yang diwariskan orang tua kepada anak, atau segala potensi baik fisik maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi (pembuahan ovum oleh sperma) sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen-gen.yang orientasinya sebagai kecenderungan untuk bertumbuh dan berkembang bagi manusia. Menurut ciri-ciri atau pola serta sifat-sifat tertentu konsepsi dan berlaku sepanjang hidup seseorang.

2. Faktor Lingkungan (environment) Sartain (seorang ahli psikologi Amerika) mengatakan Lingkungan adalah meliputi semua kondisi-kondisi dalam dunia ini yang dalam cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes kita kecuali gen-gen dan bahkan gen-gen dapat pula dipandang sebagai menyiapkan lingkungan (to provide environment) bagi gen-gen yang lain. Sedangkan menurut Ann Crouter Lingkungan perkembangan merupakan berbagai peristiwa, situasi atau kondisi di luar organisme yang diduga mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perkembangan individu.Dengan demikian John Locke berkesimpulan bahwa tiap-tiap individu lahir sebagai Kertas Putih dan lingkungan itulah yang menulis kertas itu. Dan teori ini terkenalsebagai teori-teori tabularasa atau empirisme. Ketiga pandangan di atas ini mengenaifaktor perkembangan yang bahwa dapat yang mempengaruhi yang adalah

lingkungan/pengalaman

menentukannya

dikarenakan

lingkungan itu meliputi fisik, psikis, sosial dan religius. 3. Faktor Waktu (time) Faktor waktu (time) yaitu saat-saat tibanya masa peka atau kematangan (maturation) ialah siap berfungsinya aspek-aspek psikofisik individu. Ketiga faktor dominan itu dalam proses berlangsungnya perkembangan individu berperan secara aktif, yang dapat dijelaskan secara fungsional atau regresional dengan formula-formula P = f (H, E, T) atau P = a + b1H + b2E + b3T. Formula ini dipergunakan untuk menjelaskan seberapa besar bobot (weight) dan bagaimana arahnya (positif atau negatif) dari setiap faktor dominan (H = heredity/nurture, E=environment/lingkungan, dan T = time/ maturation/ kematangan) tersebut terhadap perkembangan perilaku dan pribadi (P) seseorang. Faktor lain yang memengaruhi perkembangan individu adalah perubahan budaya. Karena perkembangan individu itu dibentuk untuk menyesuaikan diri dengan standar-standar budaya dan segala hal yang ideal, maka perubahan-

10

perubahan dalam standar tersebut akan memengaruhi pola perkembangan. Misalnya, di masa lalu standar pola perilaku anak laki-laki dalam banyak hal berbeda dari standar perilaku yang dianggap tepat untuk anak perempuan. Orang tua dn guru mengetahui bahwa mereka diharapkan membentuk perilaku anakanak agar sesuai dengan standar yang berlaku. Sekarang ini, adanya beberapa orang dewasa yang lebih menyukai peran seks yang trdisional dan orang-orang lain lebih menyukai persamaan peran seks. Orang tua dan guru sering kali tidak tahu pola budaya mana yang dipakai sebagai standar. Kalau orang-orang dewasa menentukan bahwa gaya hidup santai dan ceria lebih bermanfaat ketimbang sekadar menumpuk uang dan apabila nilai budaya seperti ini dapat diterima oleh kelompok sosial golongan mereka, maka gaya hidup demikian dengan jelas memengaruhi pola perkembangan minat dan perilaku anak-anak mereka sepanjang kehidupannya. Anak-anak yang

dibesarkan dalam keluarga dengan satu orang tua, akan belajar menyesuaikan dengan standar perilaku yandg dapat diterima secara budaya bagi keluarga dengan satu orang tua. Standar keluarga dengan satu orang tua dalam banyak hal berbeda dengan standar dari keluarga dengan dua orang tua. Walaupun sebagian besar perkembangan itu akan terjadi karena kematangan dan pengalaman dari lingkungan , masih banyak yang dapat dilakukan untuk membantu perkembangan seoptimal mungkin. Ini dapat dilakukan dengan merangsang perkembangan yang secara langsung mendorong individu untuk mempergunakan kemampuan yang terdapat dalam proses pengembangannya. Rangsangan ternyata paling efektif pada saat suatu kemampuan sedang berkembang secara normal, sekalipun di setiap saat juga penting. Acara pendidikan di televisi berhasil merangsang minat baca anak-anak prasekolah. Akibatnya, anak-anak yang secara teratur mengikuti acara ini lebih cepat belajar membaca ketimbang mereka yang tidak menontonnya dan di tingkat usia mana pun kemampuan membaca mereka lebih unggul.

11

Semakin sering orang tua berbicara dengan anak-anak yang menjelang usia sekolah, semakin cepat anak-anak belajar berbicara dan semakin kuat motivasi mereka untuk belajar berbicara. Sama halnya, rangsangan terhadap otot-otot selama tahun-tahun pertama menyebabkan kemampuan koordinasi motorik terjadi lebih cepat dan lebih baik. Penelitian terhadap usia lanjut mengungkapkan bahwa rangsangan dapat membantu mencegah kemunduran fisik dan mental. Mereka yang secara fisik dan mental tetap aktif pada usia tua tidak terlampau menunjukkan kemunduran fisik dan mental dibanding dengan mereka yang menganut filsafat kursi goyang terhadap masalah usia tua dan menjadi tidak aktif karena kemampuankemapuan fisik dan mental mereka sedikit sekali memperoleh rangsangan. D. Peran Kematangan dan Belajar dalam Perkembangan 1. Pengertian kematangan dan belajar Menurut para ahli kematangan itu didefinisikan sebagai berikut: 1) Kematangan adalah merupakan suatu keadaan atau tahap pencapaian proses pertumbuhan atau perkembangan. 2) Kematangan dapat berarti matangnyan suatu sifat atau potensi fisik yang menjadi secara kodrat akibat proses pertumbuhan dan hanya tergantung pada waktu belaka. 3) Kematangan juga dapat berarti matangnya suatu fungsi atau potensi mental psikologis akibat proses perkembangan karena pengalaman dan latihan. 4) Kematangan potensi fisik dan mental psikologis itu merupakan suatu keadaan yang akan berfungsi sebagai prerequisite dalam proses perkembangan kearah pematangan fungsi atau potensi. Dengan demikian, kematang yang dimaksud adalah kematangan potensi fisik danpotensi mental psikologis yang telah dicapai dalam suatu tahap pertumbuhan atau perkembangan. Adapun pengertian belajar yang dimaksud dalam kaitan dengan proses perkembangan itu secara luas akan dibahas pada makalah ini. Tetapi secara ringkasnya pengertian belajar dapat dikemukakan dari penjelasan Elizabeth B.

12

Horluck yaitu: Learning is development that comes from exercise and effot; through learning children acquire competence in using their hereditary resources. Jadi belajar ialah perubahan yang terjadi melalui latihan atau usaha dengan belajar itulah anak memiliki berbagai kemampuan, pengetahuan dan sebagainya. Atau dengan kata lain, semua aspek perkembangan yang diperoleh sianak itu terjadi karena belajar, tanpa belajar anak tidak mungkin tahu apa-apa dan tidak akan bisa apa-apa. 2. Fungsi kematangan dan belajar dalam perkembangan Dalam proses pertumbuhan kearah tercapainya kemtangan/kedewasaan fisik, kematangan merupakan faktor penyebab, yang berarti kedewasaan fisik seorang anak sangat tergantung pada waktunya matang saja ( Kalau umumnya sudah 17 tahun maka kematangan dari pertumbuhan fisik akan terjadi dengan sendirinya ). Dalam kaitanya dengan proses perkembangan mental psikologis kematangan untuk fisik berfungsi sebagai perquisite untuk perkembangan, misalnya perkembangan bicara/ bahasa tidak mungkin terjadi dengan baik tanpa adanya/didukung oleh pematangan alat bicara (Alat ini matang pada waktu banyi berumur 6 bulan ). Kematanagan otak pada umur 6/7 tahun merupakan perquisite untuk perkembangan intelektual/ pengetahuan akademik disekolah. Perkembangan psikoseksual dapat dimulai setelah anak matang seksualnya. Jadi dalam kaitanya dengan belajar, pematangan itu berfungsi sebagai pemberi raw material atau bahan dasar untuk belajar. Adapun posisi belajar dalam proses perkembangan itu sangat menentukan. Dalam hal ini belajar akan berfungsi sebagai penentu atau sebab terjadinya perkembangan ( cause of development ) . tanpa melalui belajar mental psikologis anak tidak mungkin akan dapat dikembangakan. Atau dengan kata lain tanpa belajar maka manusia tidak akan dapat bertingkah laku seperti manusia. Dan perkembangan pribadi manusia itu merupakan hasil perpaduan unsur kematangan dan belajar. Sebagaimana telah diuraikan diatas bahwa kematangan itu sangat penting artinya dalam proses perkembangan. Tanpa adanya unsurkematangan tersebut

13

perkembanan sulit untuk di wujudkan. Dalam proses perkembangan fungsi kematangan itu adalah sebagai berikut : a) Pemberi bahan mentah atau bahan baku bagi suatu perkembangan, misalnya kematangan otot dan urat kaki sebagai bahan untuk perkembangan berjalan b) Pemberi batas dan kualitas perkembangan, semakin baik kualitas kematangan suatu fungsi akan makin baik kualitas hasil perkembangan yang akan terjadi, tetapi sebaliknya semakin kurang baik kematangannya akan makin kurang baik pula perkembangannya. c) Pemberi kemudahan bagi pendidik atau pengasuh apabila melatih atau membimbing/ mengajarinya. 3. Ciri-ciri adanya kematangan Mengetahui adanya tahap kematangan suatu sifat sangat penting artinya bagi seorang pendidik atau pengasuh, karena pada tingkat itulah si anak akan memberikan reaksi yang sebaik-baiknya terahadap semua usaha bimbingan atau pendidikan yang sesuai bagim mereka. Oleh karena itu kalau ingin mengajar atau melatih dengan berhasil, tunggulah saatnya yang tepat yaitu timbulnya kematangan yang bagi siterdidik merupakan masa peka atau masa yang tepat untuk dikembangkan/dilatih. Adanya ciri-ciri adanya kematangan tersebut pada diri si anak adalah di tandai dengan adanya : 1) Perhatian si anak 2) Lamanya perhatian berlangsung 3) Kemajuan jika diajar atau dilatih. 4. Perubahan-perubahan dalam otak yang menimbulkan kematangan Setelah otak menjadi masak mengalami prubahan fisik pada manusia. Perubahan ini dapat menimbulkan tingkah laku baru yang tidak terduga sebelumnya. Urat-urat syaraf dalam otak mempunyai electrical condoktors. Untuk pengiriman messages ketempat-tempat yang tetrap perlu ada isolasi otak, isolasi itu disebut myelin selama dorong-dorongan saraf menuju salurannya, alur gerakkannya tak di batasi oleh myelin. Dorongan itu akan mengalir

14

mengaktifkan banyak sel saraf lebih dari yang diperlukan. Sel-sel saraf itu menggerakan banyak otot. Banyaknya gerakan bayi yang tak bekoordinasi adalah akibat dari kurangnya myelin. Pada umur 6 tahun, myelin dimiliki 95% dari orang dewasa. Readiness anak untuk berlatih toelit, bergantung pada banyaknya myelin yangb telah tersimpan. Anak laki-laki baru berhasil dilatih toelit bila sudah berumur mendekati umur 2 tahun. Ini berarti bahwa tingkah laku belajar memerlukan kematangan fisik, termasuk kematangan fungsi otak. Perkembangan struktur dan fungsi otak tampak sempurna atau hampir sempurnab pada saat anak tiba saatnya amsuk sekolah dasar. Pada umur-umur setelah 6 tahun, terjadilah perubahan-perubahanpenting dalan struktur oatak, namun perkembangan kapasitas mental lebih banyak diakibatkan karena pengalaman atau belajar. Perkembanagan prestasi akademik pada anak-anak sudah mencapai masa remaja lebih banayak dipengaruhi oleh faktor motifasi dan belajar. 5. Kesiapan belajar dan aspek-aspek individu Kesiapan belajar secara umum adalah kemampuan seseorang untuk mendapatkan keuntungan dari pengalaman yang ia temukan. Sementara itu kesiapan kognisi bertallian dengan pengetahuan, pikiran, dan kualitas berfikir seseorang dalam menghadapi situasi belajar yang baru. Kemapuan-kemampuan itu bergantung pada tingkat kematang intlektual. Latar belakang pengalaman, dan cara-cara pengetahuan sebelumnya distruktur (Connell, 1974 ). Contoh kematangan intelektual antara lain adalah tingkat-tingkat perkembangan kognisi piaget yang telah diuraikan pada bagian psikologi perkembangan. Berkaitan dengan latar belakang pengalaman tersebut diatas, Ausebel mengatakan faktor yang paling penting mempengaruhi belajar adalah apa yang sudah diketahui oleh anak-anak. Sedangkan perihal menstruktur kembali pengetahuannya untuk penyesuaian dengan materi-materi baru yang diterima dari pendidik. Akan tetapi pada kasus-kasus lain struktur kognisi itu dipegang erat-erat sehingga membuat pedidik mencari pendekatan lain agar anak-anak dapat menangkap materi pelajaran baru itu.

15

Bagaimana dengan kesiapan afeksi? Connell (1974) menulis bahwa sejumlah hasil penelitian mengatakan motivasi atau kesiapan sfrksi belajar dikelas bergantung kepada kekuatan motif atau kebutuhan berprestasi, orientasi motivasi itusendiri, dan faktor-faktor situasional yang mungkin dapat membangunkan motivasui. Ciri-ciri motivasi yang mendorong umtuk berprestasi adalah mengajar kompetensi, uaha mengaktualiasi diri, dan usaha berprestasi. Hal ini dikenal dengan istilah kebutuhan untuk berprestasi, salah satu kebutuhan teori motivasi Mclelland. Pendekatan yang lain yang dapat dilakukan dalam mengembangkan motivasi adalah dengan program intervensi selama anak duduk di TK dan kelaskelas awal di SD. Intervensi ini bisa dalam bentuk: 1. 2. Memperbanayak ragam fasilitas di TK Memberi kesempatan kepada orang tua untuk menyaksikan interaksi yang efektif di TK dan SD. Pola interaksi ini adalah: a) Memberi kesempatan untuk mngembangakan ketrampilan. b) Membuat kegiatan-kegiatan berprestasi berhasil c) Menciptakan tujuan-tujuan yang menantang, tidak terlalu terlalu sukar. d) Memberi keyakinan untuk sukses serta menghargai kemampuankemampuannya. e) Membuat setiap anak tertarik dan gemar belajar. Sesudah mendapatkan informasi tentang kesiapan belajar, baik kesiapan kognisi Maupun kesiapan afeksi atau motivasi, kini tiba gilirannya untuk membahas aspek-aspek individu. Mengapa hal ini perlu dilakukan, mengingat yang belajar atau yang dikenal pendidikan adalah individu itu sendiri. Dalam proses pendidikan peserta didik atau warga belajarlah yang harus memegang peranan utama. Sebab mereka adalah individu yang hidup dan mampu berkembang sendiri. Pendidikan harus memperlakukan dan melayani perkembangan mereka secara wajar. Karena peserta didik atau warga belajar sebagai individu, maka ada pula orang menyebutnya sebagai subjek didik. Disini terkandung makna bahwa mereka, merupakan subjek yang mempunyai pendirian sendiri, aspirasi sendiri,

16

dan

sebagainya.

Mereka

mampu

melakukan

kegiatan

sendiri

untuk

mengembangkan dirinya masing-masing dengan menggunakan perlengkapanperlengkapan yang mereka miliki. Dengan demikian tidak dapat dibenarkan bila pendidik memandang mereka sebagai objek yang dapat diperlakukan semaunya oleh para pendidik. Perlengkap peserta didik atau warga belajar sebagai subjek, dalam garis besarnya dapat dibagi menjadi lima kelompok, yaitu : 1. Watak, ialah sifat-sifat yang dibawa sejak lahir yang hampir tidak dapat di ubah,misalnya watak pemarah, pendiam, menyendiri, suka berbicara,cinta kasih dan sebagainya. 2. Kemampuan umum atau IQ, ialah kecerdasan yang bersifat umum. 3. Kemampuan khusus atau bakat ialah kemampuan tertentu yang dibawa sejak lahir.Kemampuan ini pada umumya memberi arah kepada cita-cita seseorang terutama bila bakatnya terlayani dalam pendidikan. 4. Kepribadian, ialah penampilan seseorang secara umum, seperti sikap, besarnya motivasi, kuatnya kemauan, tabahnya menghadapi rintangan, penghargaannya terhadap orang lain, kesopanannya, toleransinya, dan sebagainya. 5. Latar belakang, ialah lingkungan tempat dibesarkan terutama lingkungan keluarga. Lingkungan ini sangat besar pengaruhnya terhadap perkmbangan jiwa bayi dan kanak-kanak.

17

BAB III ANALISIS Proses perkembangan individu memusatkan perhatiannya pada

pemahaman esensial, seperti periode-periode perkembangan, kecenderungan arah, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Adanya alur perkembangan individu dapat memberi petunjuk bagi individu dalam mengoptimalkan tugas-tugas perkembangannya, sehingga keseluruhan tugasnya dapat dilaksanakan sesuai periode perkembangannya. Karena terdapat beberapa kemungkinan

kecenderungan arah garis perkembangan hidup seseorang, maka individu dapat menentukan akan seperti apa dirinya di masa yang akan datang. Setelah sampai usia sekitar lima puluh tahun, apakah kemampuan perkembangannya menurun atau ingin perkembangannya tetap terjadi meskipun hanya bersifat perluasan? Pada umumnya, perkembangan akan mengikuti pola yang berlaku. Oleh karena itu, perkembangan dapat diramalkan. Ramalan tersebut bermanfaat untuk merencanakan setiap periode rentang kehidupan. Kendatipun begitu, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan. Faktor pembawaan,

lingkungan, dan waktu dalam formula P= f (H, E, T) berperan secara aktif dalam proses berlangsungnya perkembangan individu. Oleh karena itu, faktor-faktor tersebut sangat penting untuk diperhatikan supaya proses perkembangan berjalan seoptimal mungkin. Dalam proses perkembangan, secara operasional, setelah individu mendapatkan kematangan maka ia harus menjalani proses belajar. Belajar tidak dapat dilakukan sebelum individu siap dan matang. Kesiapan untuk belajar menentukan saat kapan belajar itu dapat dilakukan. Sebaliknya, bila individu telah matang dan siap untuk belajar, namun tidak segera menjalaninya, maka proses perkembangannya pun terhambat.

18

BAB IV IMPLIKASI Dalam alur perkembangan individu, perkembangan dimulai sejak terjadinya masa konsepsi. Ini memberikan implikasi bahwa masa pra kelahiran pun tidak boleh sampai disia-siakan. Orang tua, ibu khususnya, harus memberikan stimulus-stimulus yang dapat merangsang respon jabang bayi. Karena ternyata perkembangan dan pertumbuhan yang normal lebih banyak terjadi selama periode pra natal dibandingkan dengan periode-periode lain dalam seluruh kehidupan individu. Yang perlu diperhatikan pula, periode pra kelahiran merupakan masa yang banyak mengandung bahaya, baik fisik maupun psikologis, karena rahim bersifat sensitif. Ibu diusahakan untuk selalu sehat dan tidak stress atau depresi, sehingga bayi dalam rahimnya sehat pula. Setelah lahir, periode bayi, anak, dan remaja pun masih dalam tanggung jawab orang tuanya. Berarti, orang tua harus paham betul karakteristik setiap tahapan perkembangannya. Pada periode dewasa, perkembangan akan tetap terjadi bila individu memperoleh kesempatan belajar. Bila tidak, maka kemampuannya akan mulai menurun. Contoh konkritnya, orang dewasa yang mempunyai pekerjaan. Kebalikannya, orang dewasa yang pengangguran cenderung menurun kemampuannya dan cepat tua. Faktor pembawaan merupakan faktor dominan dalam perkembangan individu. Sehingga ada sebuah peribahasa yang berbunyi: Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ini memberi implikasi, jika ingin mempunyai anak yang baik maka orang tuanya harus baik pula. Orang tua yang baik akan mendidik anaknya untuk baik pula. Selain itu, faktor lingkungan pula sangat berpengaruh. Karena itu, usahakan untuk melibatkan anak dalam lingkungan yang baik. Usahakan pula agar anak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya, tapi tidak terbawa arus buruk lingkungan. Faktor waktu pun sangat berperan. Kapan anak mulai diajari berjalan, kapan mulai diajari membaca, berhitung, dan sebagainya. Waktu yang

19

tidak tepat akan berakibat fatal bagi perkembangan individu. Ini berkaitan pula dengan peran kematangan dan belajar dalam perkembangan.

20