Anda di halaman 1dari 10

Kerjasama RI MESIR Bidang Politik

Mesir merupakan salah satu negara terkemuka dan pertama yang memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Republik Indonesia pada 18 November 1946. Kurang dari setahun kemudian, tepatnya pada 10 Juni 1947, secara resmi kedua negara membuka hubungan diplomatik melalui penandatanganan Perjanjian Persahabatan (Treaty of Friendship and Cordiality), yang kemudian dilanjutkan dengan pembukaan perwakilan RI di Cairo pada 1949. Sejak menjalin hubungan diplomatik, kedua negara senantiasa menjaga hubungan yang baik dan erat secara politis. Hubungan yang baik dan akrab tersebut ditandai antara lain dengan intensitas kunjungan pejabat antara kedua negara, kesamaan pandangan dalam berbagai isu internasional dan regional yang menjadi perhatian bersama, dan koordinasi serta saling dukung dalam pencalonan masing-masing di berbagai organisasi dan forum internasional. Untuk memperkuat hubungan di berbagai bidang, kedua negara telah menyepakati pembentukan forum Konsultasi Bilateral di tingkat Pejabat Senior Kementerian Luar Negeri masing-masing sejak tahun 2001 dengan ditandatanganinya MoU on Consultation. Pertemuan Konsultasi Bilateral telah dilaksanakan sebanyak empat kali, dua kali di Indonesia, (di Bali, 1920 Juli 2004 dan di Jakarta, 14 Agustus 2006) dan dua kali di Mesir (di Cairo, 910 Mei 2005 dan 29 Oktober 2008). Melalui forum tersebut, kedua negara membahas berbagai isu hubungan dan kerja sama bilateral serta melakukan pertukaran pandangan tentang berbagai isu internasional dan regional yang menjadi perhatian bersama.

Sejak Januari hingga September 2011, tercatat sejumlah permintaan sharing of experience dari berbagai kalangan di Mesir kepada Indonesia, antara lain dari kantor Information and Decision Support Centre (IDSC), Egyptian Council for Foreign Affairs (ECFA), United Nations Development Programs (UNDP), National Democratic Institute (NDI) Cairo, dan American University in Cairo (AUC). Tercatat pula sejumlah kunjungan pejabat/tokoh Indonesia ke Mesir dalam rangka dukungan terhadap proses demokratisasi di Mesir, diantaranya kunjungan Menlu RI Dr. R.M. Marty M. Natalegawa pada 14 April 2011; Ketua National Institute for Democratic Governance (NIDG) Letjen.(Purn.) Agus Widjojo pada 17-21 April 2011; Deputi Sekretaris Wapres Bidang Politik Dr. Dewi Fortuna Anwar pada 9-10 Mei 2011; Ketua MPR RI periode 1999-2004 Prof.Dr. Amien Rais; serta Presiden RI periode 1998-1999 Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie. Selain itu, Indonesia dan Mesir juga bekerja sama dalam penyelenggaraan berbagai seminar dan workshop dalam rangka sharing of experience tersebut, antara lain:

IPD Workshop on Egypt-Indonesia Dialogue on Democratic Transition,Jakarta, 2526 Mei 2011; Pertemuan Kelompok Ahli (PKA) mengenai Perubahan di Timur Tengah: Pengaruh dan Interdependensinya dalam Tatanan Global, Jakarta, 30 Mei 2011; partisipasi Indonesia pada Forum Internasional mengenai Pathways of Democratic Transitions: International Experiences, Lessons Learnt, and the Road Ahead, Cairo, 56 Juni 2011; the Indonesian Experience, Cairo, 25-26 Juli 2011.

Kerja sama Ekonomi, Investasi dan Perdagangan

Indonesia dan Mesir telah menyepakati sejumlah perjanjian di bidang ekonomi, di antaranyaAgreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the United Arab Republic for Air Services between and beyond their respective territories (11 Agustus 1964), Agreement on the Promotion and Protection of Investment (19 Januari 1994), Trade Agreement (23 Juni 1997), Agreement on the Avoidance of Double Taxation and the Prevention of Fiscal Evasion with Respect to Taxes on Income (13 Mei 1998), Memorandum of Understanding (MoU) between Central Bank of Egypt and Bank Indonesia (14 Mei 1998), MoU on Small and Medium Enterprises Cooperation (17 Juni 2000), MoU on Development of Syari'ah Financing Schemes for Small and Medium Enterprises in Indonesia (10 Agustus 2004), serta MoU on Veterinary Services and Quarantine Cooperation (18 Juni 2005). Untuk lebih meningkatkan kerjasama, kedua negara memiliki forum Sidang Komisi Bersama (SKB) atau Joint Commission pada tingkat Menteri, di mana sidang terakhir (kelima) komisi itu telah berlangsung di Jakarta, 3-4 April 2007. Pada SKB tersebut, kedua negara telah menandatangani beberapa kesepakatan antara lain, umbrella agreement, yaitu Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Arab Republic of Egypt on Economic and Technical Cooperation yang berlaku mulai 25 Agustus 2011. Selain agreement tersebut, ditandatangani pula tiga buah nota kesepahaman, yaitu Memorandum of Understanding Between the National Standardization Agency of the Republic of Indonesia and the Egyptian Organization for Standardization and Quality of the Arab Republic of Egypt on Standardization Cooperation. Memorandum of Understanding Between the National Agency for Export Development (NAFED) of the Republic of Indonesia and the General Organization for International Exhibition and Fairs (GOIEF) of the Arab Republic of Egypt on Cooperation in Exhibitions and Fairs. Memorandum of Understanding Between the Batam Industrial Development Authority (BIDA) of the Republic of Indonesia and the General Authority for Investment and Free Zones (GAFI) of the Arab Republic of Egypt on Free Zone Cooperation. Di bidang perdagangan Indonesia selalu mencatat surplus perdagangan dalam beberapa tahun terakhir. Menutup 2010, sekalipun keadaan perekonomian Mesir belum pulih sepenuhnya dari krisis ekonomi global tahun 2008, ekspor Indonesia ke Mesir terus berlangsung dengan surplus yang cukup signifikan bagi Indonesia dan meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Berdasarkan data yang diperoleh dari BPS, total perdagangan non-migas Indonesia dengan Mesir pada tahun 2010 tercatat USD 1,07 miliar dan mengalami kenaikan sebesar 33,3% dibanding dengan periode tahun 2009, yang nilainya mencapai USD 802,56 juta. Meski terjadi Revolusi di Mesir, volume perdagangan Indonesia-Mesir pada periode Januari-Juni 2011 tetap mengalami kenaikan sebanyak 49,51% dan mencapai USD 725,59 juta berbanding periode Januari-Maret 2010 yang mencapai USD 489,30 juta. Beberapa produk Indonesia yang unggul di Mesir, antara lain produk pertanian dan olahan (kelapa, teh, kopi, tembakau, kayu manis, gula, CPO, gandum), produk buah-buahan dan buahbuahan olahan (nanas, jeruk), kertas dan alat tulis, plastik dan bahan baku plastik, yarn, katun

dan pakaian jadi, ban, alat rumah tangga, furniture dari kayu dan rotan. Sebaliknya komoditi ekspor Mesir ke Indonesia antara lain fosfat, kapas, buah-buahan (jeruk dan kurma) serta kristal.

Kerja sama Sosial Budaya dan Pendidikan Hubungan sosial budaya Indonesia-Mesir telah berlangsung sejak pertengahan abad ke-19, dimana puluhan mahasiswa asal Nusantara yang dikenal dengan Ruwaq Jawi menuntut ilmu di Al Azhar Mesir. Al Azhar merupakan universitas utama tujuan pelajar Indonesia yang ingin lebih memperdalam ilmunya tentang agama Islam. Di masa kini, dalam pelaksanaan hubungan kerja sama bilateral Indonesia-Mesir dalam bidang sosial budaya dan pendidikan, terdapat beberapa perjanjian kerja sama yang menjadi payung bagi terlaksananya kerja sama tersebut, di antaranya adalah:

Perjanjian Kerja Sama Budaya antara Indonesia dan Mesir yang ditandatangai pada tanggal 10 Oktober 1955; Protokol Kerja Sama Penerangan Pemerintah RI dan Pemerintah Mesir ditandatangani tanggal 19 Oktober 1972; Persetujuan LKBN ANTARA-MENA yang ditandatangani di Cairo tanggal 12 Oktober 1977; Joint Communique antara Persatuan Wartawan Indonesia-Persatuan Wartawan Indonesia Mesir dan organisasi jurnalistik Indonesia pada tahun 1983; MoU bidang pariwisata yang ditandatangai pada tanggal 19 Januari 1984; Protocol of Cooperation in the Field of Information and Between the Department of Information of the Republic of Indonesia and the Ministry of State for Information of the Arab Republic of Egypt tahun 1984 ditandatangani di Cairo tanggal 18 Mei 1984; Protokol kerja sama bidang agama dan wakaf 11 Mei 1992; MoU on Youth and Sport ditandatangani pada tanggal 18 September 1994; MoU bidang Iptek 7 September 1995; Perjanjian kerja sama keilmuan dan pendidikan antara Depag RI dengan Al-Azhar 19 Januari 1996; Perjanjian pembukaan SD dan Sekolah Menengah Al-Azhar di Jakarta 28 September 1999; Protokol kerja sama bidang informasi ditandatangani tanggal 19 Maret 2003; MoU antara berbagai universitas Indonesia dan Mesir.

Indonesia aktif dalam melaksanakan beragam kegiatan budaya baik yang bersifat promosi maupun melalui kerja sama dengan berbagai pusat-pusat kebudayaan di Mesir. Di 2011, terutama setelah Revolusi Mesir, kegiatan budaya yang telah dilakukan oleh KBRI di antaranya adalah pagelaran "Ramadhan Lifestyle in Indonesia" pada tanggal 10 Agustus 2011 di Cairo Opera House dan tanggal 12 Agustus 2011 di Opera Damenhur, peringatan hari anak nasional bekerja sama dengan Yayasan 6 Oktober pada 27 Juli 2011, keikutsertaan dalam Festival Music Sufi Internasional (15-25 Agustus 2011).

Kerjasama RI Singapura

BIDANG POLITIK Sejak tampilnya pemerintahan baru di Indonesia dan Singapura pada semester ke-2 tahun 2004, hubungan bilateral Indonesia-Singapura mengindikasikan perkembangan yang lebih positif dan konstruktif. Saling kunjung antar Kepala Pemerintahan kedua negara dan pejabat tinggi lainnya juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. Indikasi positif ini juga telah mendorong pengembangan sektor-sektor kerjasama baru yang saling menguntungkan dan kemajuan upaya penyelesaian outstanding issues. Pernyataan PM Lee Hsien Loong di Parlemen pada 19 Januari 2005 dan pernyataan Menlu George Yeo di Parlemen pada 18 Januari 2005, 17 Oktober 2005 dan 2 Maret 2006 mengindikasikan pentingnya kedudukan Indonesia bagi Singapura dan kemajuan dalam hubungan bilateral Indonesia-Singapura, khususnya menyangkut upaya penyelesaian outstanding issues. Pada pertemuan informal Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Singapura Lee Hsien Loong di Bali, 3-4 Oktober 2005 memenuhi usulan PM Singapura, kedua kepala pemerintahan ini sepakat memparalelkan perundingan 3 perjanjian kerjasama yaitu perjanjian kerjasama pertahanan, perjanjian ekstradisi dan perjanjian counter-terrorism. Kunjungan kenegaraan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono ke Singapura 15-16 Pebruari 2005, kunjungan kerja Presiden RI ke Singapura pada 6-7 Agustus 2006 dan pertemuan informal Presiden RI dengan PM Lee Hsien Loong di sela-sela Pertemuan Tahunan Forbes Global CEO Conference ke-6 di Singapura pada 4 September 2006 telah memantapkan pengertian bersama kedua negara untuk mengembangkan jalinan hubungan bilateral dengan spektrum elemen substansi seluas mungkin, sementara secara simultan memajukan pembicaraan mengenai penyelesaian berbagai outstanding issues. Peran menonjol Pemerintah dan masyarakat Singapura dalam memberikan bantuan kemanusiaan kepada korban bencana alam gempa bumi dan Tsunami di Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam Aceh pada 26 Desember 2004, bencana gempa dasar laut di dekat Pulau Nias dan Pulau Simeleu Maret 2005, bencana gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah dan tsunami di Pangandaran 2006 tersebut telah berpengaruh positif terhadap persepsi publik tertentu Indonesia terhadap Singapura, dan merupakan faktor positif lain bagi perkembangan hubungan baik kedua negara.

BIDANG EKONOMI Pada dasarnya kedua negara memiliki tingkat komplementaritas ekonomi yang tinggi. Di satu sisi, Singapura mempunyai keunggulan di sektor knowledge, networking, financial resources dan technological advance. Sementara Indonesia memiliki sumber daya alam dan mineral yang melimpah serta tersedianya tenaga kerja yang kompetitif.

Sebagai negara yang wilayahnya kecil, pasar domestiknya sangat terbatas dan sumber daya alamnya langka, Singapura sangat menggantungkan perekonomiannya pada perdagangan luar negeri. Oleh karena itu pula Singapura sangat berkepentingan terhadap sistem perdagangan internasional yang terbuka dan bebas di bawah naungan WTO. Guna mengamankan kepentingannya, Singapura tidak hanya mengandalkan pada proses negosiasi multilateral, sejak 1999 Singapura telah mulai menjajagi bentuk-bentuk pengaturan perdagangan bilateral. Belakangan dengan tersendatnya proses negosiasi di WTO, Singapura semakin gencar menempuh langkah-langkah bilateral dan regional yang diyakini dapat mengakselerasi proses liberalisasi perdagangan dan memperkuat sistem perdagangan multilateral. Pada dasarnya hubungan bilateral Indonesia-Singapura memiliki fondasi yang sangat kuat yang dibuktikan dengan telah ditandatanganinya berbagai Kesepakatan ataupun Perjanjian antara kedua negara. Selain itu, untuk fondasi kerjasama ekonomi khususnya antara Singapura dengan Batam dan Riau, kedua negara memiliki Legal Framework yang kokoh dengan ditandatanganinya beberapa Persetujuan antara lain: Basic Agreement on Economic and Technical Cooperation yang ditandatangani di Singapura 29 Agustus 1974; Perjanjian Kerjasama Ekonomi dan Teknik RI-Singapura (1977); Perjanjian Kerjasama Ekonomi dan Teknik untuk Pengembangan Pulau Batam (31 Oktober 1980); Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda/P3B (1990); Persetujuan Kerjasama Ekonomi dalam rangka Pengembangan Propinsi Riau (28 Agustus 1990); Perjanjian Peningkatan dan Perlindungan Penanaman Modal (P4M/IGA) ditandatangani pada 16 Februari 2005. Indonesia meratifikasi pada Februari 2006;

Pemberdayaan sektor swasta juga sudah kembali meningkat yang ditandai dengan cukup tingginya kegiatan kunjungan antara para pelaku usaha kedua negara. Sebagai hasilnya, semakin meningkatnya transaksi perdagangan dan investasi kedua negara. Sesuai dengan data dari International Enterprise Singapore Indonesia merupakan mitra dagang terbesar ke-5 Singapura dengan total nilai perdagangan mencapai S$ 54 milyar (2005) yang mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan tahun 2004 yang mencapai nilai S$ 30,1 milyar. Ekspor Indonesia ke Singapura mencapai S$ 16,4 milyar sementara impornya mencapai S$ 13,7 milyar.

Kerjasama RI Selandia Baru KERJASAMA DAN HUBUNGAN POLITIK Indonesia dan Selandia memiliki mekanisme konsultasi bilateral rutin dalam wadah Joint Ministerial Commission (JMC). Pertemuan JMC yang pertama diadakan di Jakarta pada bulan Mei 2007, sementara JMC II diselenggarakan pada 8 10 Agustus 2009 di Wellington. Pertemuan JMC yang membahas kerjasama kedua negara di berbagai, yang diharapkan dapat memperkuat hubungan kedua negara baik pada tataran pemerintah maupun masyarakat. Sebelum terbentuk JMC, forum kerjasama bilateral yang dimiliki oleh kedua negara adalah Joint Commission on Economic and Trade Relations pada tingkat pejabat tinggi yang dibentuk pada tahun 1996.

KERJASAMA EKONOMI, PERDAGANGAN DAN INVESTASI Hubungan dan kerjasama ekonomi bilateral Selandia Baru - Indonesia didasarkan pada beberapa landasan kerjasama seperti : Persetujuan Dagang yang ditandatangani tanggal 19 September 1978 di Wellington; Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda, 25 Maret 1987 di Wellington; Sidang Pertama Komisi Bersama Februari 1998 di Jakarta;Persetujuan Hubungan Udara, ditandatangani 27 Mei 1998 di Wellington. Total nilai perdagangan RI Selandia Baru dalam 5 tahun terakhir (2004-2008) menunjukkan peningkatan sebesar 30,98%. Pada tahun 2009 (Jan-Apr) total perdagangan Indonesia dan Selandia Baru sebesar US$ 305,3 juta. Dalam perdagangan bilateral, Indonesia merupakan negara tujuan ekspor ke-8 setelah Australia, Amerika Serikat, Jepang, China, Inggris, Korsel dan Taiwan. Sedangkan, Indonesia berada pada urutan ke-13 negara pengimpor di bawah Australia, China, Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Jerman, Korsel, Malaysia, Thailand, Inggris, Italia dan Taiwan. Impor Selandia Baru dari Indonesia masih didominasi oleh minyak bumi dan produk turunannya, batubara serta produk kertas. Sedangkan, ekspor Selbar ke Indonesia masih didominasi oleh dairy products dan daging.

KERJASAMA SOSIAL BUDAYA DAN PARIWISATA Indonesia dan Selandia Baru bersama-sama dengan Australia dan Filipina merupakan negara-negara co-sponsor penyelenggaraan the Third Asia-Pacific Regional Interfaith Dialogue di Waitangi, Selandia Baru, 29-31 Mei 2007. Selandia Baru merupakan tuan rumah dari pertemuan Alliance of Civilization High Level Symposium yang diselenggarakan di Auckland tanggal 23-24 Mei 2007. Pada pertemuan tersebut, Delegasi RI dipimpin oleh Penasihat Presiden Ali Alatas mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Selandia Baru telah meluncurkan Moslem Youth Leaders Exchange Program dengan mengundang cendekiawan muda Muslim dari Indonesia untuk melakukan speaking tour ke Selandia Baru. Program ini telah berlangsung sejak tahun 2007. Pada tahun 2008 tiga cendekiawan Muslim dari Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Jakarta telah berkunjung ke Selandia Baru untuk berpartisipasi dalam program tersebut. Di lain pihak,

Selandia Baru telah mengirimkan seorang pakar interfaith untuk membantu mengembangkan kurikulum di Center for Religious and Cross Cultural Studies, Universitas Gadjah Mada (UGM). Kegiatan ini merupakan implementasi kesepakatan kerjasama antara Victoria University dan UIN Syarief Hidayatullah dan UGM yang ditandatangani pada saat kunjungan PM Helen Clark ke Indonesia Juli 2007.

Kerjasama RI Brazil HUBUNGAN POLITIK Indonesia dan Brazil menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1953. Hubungan bilateral antara Indonesia dan Brazil secara umum berlangsung baik. Kesamaan kebijakan luar negeri kedua negara yang mengutamakan mekanisme multilateral dalam penanganan berbagai masalah internasional telah memperkuat hubungan dan koordinasi serta saling mendukung antara kedua negara dalam forum kerjasama bilateral, regional dan multilateral. Hubungan bilateral antara Indonesia dan Brazil secara umum berlangsung baik dan saat ini memasuki tahapan yang krusial dan strategis. Disamping kesamaan wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang banyak, kedua negara memiliki kesamaan pandangan dalam berbagai isu regional dan multilateral, usaha penegakan demokrasi dan HAM. Selain itu, pemerintah kedua negara juga sedang melakukan reformasi di berbagai bidang dan oleh karena itu kedua negara saling memahami tantangan yang dihadapi masing-masing dalam proses reformasi tersebut. Brazil menilai Indonesia sebagai negara yang memiliki peranan penting bagi stabilitas di kawasan Asia Tenggara dan kawasan Asia Pasifik. Sejalan dengan politik luar negeri yang tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, Pemerintah Brazil mendukung integritas wilayah NKRI dan langkah-langkah reformasi yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam pemajuan HAM dan demokrasi. Terdapat keinginan kuat dari kedua negara untuk terus berupaya meningkatkan hubungan kerjasamanya di berbagai bidang. Hal ini dapat dilihat dari antara lain kegiatan saling kunjung antara kepala negara, pejabat, anggota parlemen, pelaku ekonomi dan masyarakat kedua negara. Kunjungan kenegaraan Presiden Brazil, Liuz Incio Lula da Silva ke Indonesia pada tanggal 12 Juli 2008 yang merupakan kunjungan pertamanya sejak menjabat sebagai Kepala Negara Brazil dan merupakan kunjungan Kepala Negara Brazil yang kedua setelah kunjungan Presiden Fernando Henrique Cardoso pada bulan Januari 2001 mempunyai arti penting bagi peningkatan hubungan bilateral kedua negara. Sementara itu Presiden RI melakukan kunjungan balasan ke Brazil pada tanggal 18 November 2008 dalam rangkaian menghadiri pertemuan puncak negara anggota APEC di Lima, Peru. Kegiatan saling kunjung antara Kepala Negara ini memiliki arti penting tersendiri bagi peningkatan hubungan bilateral Indonesia Brazil, mengingat pada tahun 2008 hubungan diplomatik Indonesia - Brazil memasuki usia 55 tahun. Kunjungan tersebut akan memberikan dampak yang positif bagi peningkatan dan memperkuat kerjasama Indonesia Brazil baik dalam forum multilateral maupun bilateral yang pada akhirnya mendorong serta meningkatkan kerjasama kedua negara yang saling menguntungkan di berbagai bidang khususnya ekonomi, perdagangan, investasi, pariwisata, ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk promosi citra Indonesia di Brazil.

HUBUNGAN EKONOMI DAN PERDAGANGAN Di bidang ekonomi, hubungan kedua negara berjalan cukup baik. Neraca perdagangan kedua negara masih relatif kecil bila dibandingkan dengan potensi yang dimiliki oleh kedua negara,

namun pada tahun-tahun terakhir ini tercatat peningkatan yang signifikan dalam hubungan perdagangan Brazil merupakan mitra dagang utama Indonesia di kawasan Amerika Selatan. Ekspor utama Indonesia ke Brazil antara lain : karet alam dan produk karet, benang tekstil polyester, kakau, minyak kelapa sawit, tembaga dan spare-parts mobil. Sedangkan impor utama dari Brazil antara lain biji besi, kedelai, pulp, kapas, gula tebu, tembakau, suku cadang kendaraan bermotor, lem kayu dan kulit. Untuk mempromosikan hubungan dagang, ekonomi dan pariwisata antara kedua negara telah dilakukan upaya antara lain mengangkat beberapa Konsul Kehormatan RI di beberapa kota besar Brazil yakni, So Paulo, Rio de Janeiro, Belo Horizonte dan Recife. Disamping itu, telah diresmikan Camara de Comrcio IndonesiaBrazil (Kamar Dagang IndonesiaBrazil) di So Paulo. Dalam upaya meningkatkan kegiatan promosi dagang Indonesia di Brazil maka telah didirikan ITPC (Indonesian Trade Promotion Center) di So Paulo. Pendirian ITPC di So Paulo tersebut berdasarkan Surat Keputusan Menteri Luar Negeri RI No.168/PO/X/97/01 tahun 1997 dan Surat Kepala BPEN No.489/BPEN/XI/2003 dan mendapat autorisasi atau ijin untuk beroperasi dari Pemerintah Brazil berdasarkan Nota Dinas dari Kementerian Luar Negeri Brazil No. : CGPI/DAOCII/DAC/DIM/008/DIMU-BRAS-INDO tertanggal 17 Desember 2003.

HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN SOSIAL BUDAYA Pada saat ini Indonesia dan Brazil telah memiliki payung kerjasama pendidikan dan dengan kesepakatan tersebut maka kerjasama dalam bidang pendidikan utamanya pertukaran pengajar, peneliti dan siswa ; proyek penelitian bersama untuk mengembangkan sumber daya manusia di universitas ; pertukaran dokumen dan publikasi dari hasil penelitian bersama; bantuan teknis bagi pengembangan dan pelatihan pengajar dan sebagainya dapat meningkat secara lebih signifikan di masa depan. Sebagian besar berita tentang Indonesia yang dimuat pada beberapa media massa Brazil umumnya diambil dari kantor-kantor berita asing dan cukup positif dan faktual. Dengan adanya partisipasi beberapa jurnalis dari beberapa media terkemuka di Brazil dalam kegiatan JVP FEALAC di Indonesia selama 2 tahun terakhir maka diharapkan akan menciptakan opini yang positif tentang Indonesia di Brazil. Selain itu, guna meningkatkan hubungan bilateral Indonesia Brazil di bidang sosial budaya, khususnya people to people, makan bersama pada saat peringatan 55 tahun hubungan diplomatik Indonesia Brazil, yang diselenggarakan pada bulan November 2008, maka telah diselenggarakan serangkaian kegiatan yang akan dipusatkan di kota Rio de Janeiro, Sao Paulo dan Recife. Tujuannya adalah dengan semakin dikenalnya Indonesia di Brazil maka akan mendorong minat wisatawan Brazil untuk berkunjung ke Indonesia mengingat pada saat ini nilai mata uang setempat (Real) terhadap Dolar Amerika cenderung semakin menguat.

Sebenarnya hubungan bilateral negara Indonesia dengan negara lain masih sangat banyak yaitu sekitar 169 negara. Adapaun kerjasama Indonesia secara Multilateral diantaranya : 1. Organisasi Konferensi Islam (OKI) Organisasi Konperensi Islam (OKI) dibentuk setelah para pemimpin sejumlah negara Islam mengadakan Konperensi di Rabat, Maroko, pada tanggal 22-25 September 1969, dan menyepakati Deklarasi Rabat yang menegaskan keyakinan atas agama Islam, penghormatan pada Piagam PBB dan hak azasi manusia. Pembentukan OKI semula didorong oleh keprihatinan negara-negara Islam atas berbagai masalah yang diahadapi umat Islam, khususnya setelah unsur Zionis membakar bagian dari Masjid suci Al-Aqsa pada tanggal 21 Agustus 1969. Pembentukan OKI antara lain ditujukan untuk meningkatkan solidaritas Islam di antara negara anggota, mengkoordinasikan kerjasama antara negara anggota, mendukung perdamaian dan keamanan internasional, serta melindungi tempat-tempat suci Islam dan membantu perjuangan pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. OKI saat ini beranggotakan 57 negara Islam atau berpenduduk mayoritas Muslim di kawasan Asia dan Afrika.

2. Perserikatan Bangsa-Bangsa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) didirikan di San Francisco, Amerika Serikat pada 24 Oktober 1945 setelah berakhirnya Perang Dunia II. Namun, Sidang Majelis Umum yang pertama baru diselenggarakan pada 10 Januari 1946 di Church House, London yang dihadiri oleh wakil-wakil dari 51 negara. Saat ini terdapat 192 negara yang menjadi anggota PBB. Semua negara yang tergabung dalam PBB menyatakan independensinya masing-masing. 3. World Trade Organization (WTO) World Trade Organization (WTO) merupakan satu-satunya organisasi internasional yang mengatur perdagangan internasional. Terbentuk sejak tahun 1995 dan berjalan berdasarkan serangkaian perjanjian, yang dinegosiasikan dan disepakati oleh sejumlah besar Negara di dunia dan diratifikasi melalui parlemen. Tujuan dari perjanjianperjanjian WTO adalah untuk membantu produsen barang dan jasa, eksportir dan importer dalam melakukan kegiatannya. Keterlibatan dan posisi Indonesia dalam proses perundingan DDA didasarkan pada kepentingan nasional dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Dalam kaitan ini, untuk memperkuat posisi runding, Indonesia bergabung dengan koalisi Negara berkembang seperti G-33, G-20, NAMA-11, yang kurang lebih memiliki kepentingan yang sama. Indonesia terlibat aktif dalam kelompokkelompok tersebut dalam merumuskan posisi bersama yang mengedepankan pencapaian development objectives dari DDA.