Anda di halaman 1dari 5

Review Jurnal Supply Chain Management mengintip sejenak dalam kotak hitam untuk mengerti dinamika kolaborasi pada

rantai pasok Kolaborasi pada rantai pasok termasuk motivasi, hambatan, segala kemungkinan dan hasil akibat dari kolaborasi, merupakan dinamika kemampuan yang vital salah satu yang dapat memberikan performansi yang berbeda yang dimodelkan agar dapat menjelaskan kesuksesan maupun kegagalan dari sebuah kolaborasi sebaik dalam menyampaikan persepsi dalam berkolaborasi untuk mencapai performa rantai pasok pada berbagai perusahaan yang berbeda. Membangun kemampuan kolaborasi : Uraian Mendasar Terdapat tiga dasar dalam literature yang disebutkan, merupakan pokok untuk memahami proses secara menyeluruh kemampuan pada dinamika kolaboras. Masing masing dasar mempunyai hubungan yang saling terkait dalam proses pengorganisasian maupun penyusunan sumber daya jaringan untuk membuat nilai yang khusus pada berbagai keadaan performansi dan lingkungan yang tak menentu. 1) System desain : terdapat tiga dasar dalam sudut pandang evolusi dari teori system desain dengan berbagai pertimbangan dapat dikolaborasikan 1. System rasional 2. System alamiah 3. System terbuka 2) Pengembangan kemampuan : kolaborasi dalam rantai pasok dikembangkan untuk mengatur sumber daya yang umumnya lintas wilayah organisasi. Hal tersebut dilakukan guna membuat sebuah customer value dan mendapatkan sumber daya yang produktif dan kompetitif. Kemampuan dinamis dalam mengorganisasi proses terdapat 2 cara, pertama, kemampuan perusahaan untuk mengintegrasikan, membangun, serta menyusun kembali internal dan eksternal kompetensi. Kedua, kemampuan dinamis sebuah perusahaan yang dapat secara cepat dan tanggap menyusun kembali sumber daya saat kondisi lingkungan berubah. 3) Perubahan management : Dikarenakan untuk memahami pola interpolasi dari suatu system dinamis termasuk desain organisasi, kemampuan pengembangan, maka diperlukan pandangan penyelesaian melalui berbagai colaborasi bisnis model.

Dalam tabel 1 : dijelaskan bahwa komponen pokok dari sebuah teori system

(1) Rasional system : dapat melihat system dengan sangat luas namun ini merupakan system tertutup. Karena melalui rasio, maka penyelesaian system dapat melaui perhitungan. Dengan penyelesaian secara perhitungan maka didapatkan tujuan (goal) spesifik

(2) System alamiah : Melihat sitem melelui pertimbangan kemanusiaan, system semitertutup. Penyelesaian system dapat dilakukan secara spontan dan adaptif. Tujuan (goal) yang memungkinkan terjadi adalah percampuran dari spesifik yang juga mempertimbangkan keberadaan organisasi.

(3) System terbuka : Sudut pandang dari system ini sangat beragam. Penyelesaian system melalui proses proaktif Tujuan yang memungkinkan terjadi adalah dengan meng-improve performa pada lingkungan yang dinamis.

Metode Penelitian 1. Mengapa seharusnya manager dimotivas untuk mengadopsi praktek kolaborasi yang manadapat dikatakan hal yang sulit, membutuhkan permintaan banyak skill-skil baru, membutuhkan investasi teknologi, dan membuat resiko baru pada sebuah organisasi? 2. Apa yang dimungkinkan terjadi saat kemampuan berkolaborasi terjadi? 3. Faktor apa yang membuat pengembangan dalam berkolaborasi itu sulit? 4. Berikan beberapa program sukses berkolaborasi yang jarang terjadi, apa hambatan secara alami yang dapat membuat transformasi menjadi kolaborasi menjadi sangat sulit? 5. Berikan beberapa resiko/ biaya yang ditimbulkan dari sebuah transformasi, dapatkah kolaborasi menjadi pemimpin sukses yang kompetitif? Simplenya, kemampuan paling buruk apa yang dapat diinvestasikan pada sebuah kemampuan kolaborasi?

Sample dan Konteks Untuk membentuk teori yang berhubungan pada proses pengembangan kemampuan kolaborasi agar dapat memberikan performansi yang berbeda maka diperlukan diperlukan sample pada berbagai perusahaan besar yang basisnya memiliki reputasi yang sempurna pada system kolaborasi rantai pasok. Caranya : meng-interview pada beberapa manager di berbagai perusahaan mengenai reputasi mereka pada berbagai pengalaman berkolaborasi. berikan focus hanya pada proses kolaborasi yang berhubungan pada 4 lini utama : retailer, finished good assembler, supplier material langsung, dan penyedia layanan. Berikan segmentasi untuk mengevalusi strategi pada berbagai dimensi yang dapat mempengaruhi kolaborasi seperti, customer contact, resources access sumber tenaga, serta perceived know how. Masing-masing perusahaan diberikan keterlibatan dengan customer, supplier, saat pelaksanaan interview. Finding and discussion 1. Motivasi untuk membentuk kemampuan kolaborasi (termuat dalam tabel 4) dijelaskan lisan Hamper semua manager teridentifikasi memiliki tekanan untuk menekan harga sebagai kritikan terkait kondisi ekonomi sebagai efek dari globalisasi. Manager tersebut juga mengalami tekanan dalam menaikkkan nilai permintaan dari tiap-tiap customer 2. Hambatan untuk mengkolaborasikan kemampuan (termuat dalam tabel 5) dijelaskan lisan Terdapat berbagai macam hambatan seperti : sr=truktur organisasi dan konflik fungsional, pengukuran strategi dan tujuan yang lemah, kepemimpinan rantai pasok yang lemah, hambatan dan gangguan untuk berubah, kepercayaan yang lemah, peramalan (forecast) yang lemah adanya Gap/ jarak pada skill pendidikan dan sumber daya.

3. Kemungkinan dari kemampuan kolaborasi (termuat dalam figure 2) Kemampuan kolaborasi diklasifikasikan dalam 4 komitmen utama; full komitmen, major komitmen, growing komitmen, hingga tidak punya komitmen.

Seorang manager yang low komitmen mengekspresikan perhatiannya pada hambatan yang kuat sebagai bagian dari lemahnya kepemimpinan mereka. Begitu sebaliknya, manager yang high komitmen, terkesan lebih optimis dalam setiap rencana mereka

Hubungan antara kemungkinan dan hambatan (termuat dalam tabel 7)-dijelaskan lisan

Keluaran (outcome) dari kemampuan kolaborasi (termuat dalam tabel 8) Beberapa manager dapat berbagi data statistic untuk membentuk kesuksesan kolaborasi mereka, dilaporkan bahwa terdapat penurunan harga (cost) inventory sebesar 30-35% serta menaikkan inventory turn mencapai 100%. Sehingga dalam sebuah perusahaan diwartakan bahwa mereka dapat mengurangi 10-20% harga pada konsumen

Model system dinamis dari kolaborasi (termuat dalam figure 3)

Kesimpulan Rantai pasok merupakan system terbuka, sehingga mudah terkena gangguan eksternal dan trend pasar menunjukkan sebaik desain managerial. Rantai pasok juga merupakan system alamiah, sehingga bersifat lebih adaptif, strukturnya seperti tipe petarung yang mempertahankan existensi. Dari konteks diatas, berbagai perusahaan melihat kemampuan kolaborasi sebagai respon atas kompetisi antar competitor yang ketat serta harapan konsumen yang meningkat. Saran dari teori model diatas, kolaborasi merupakan kegiatan untuk mengerti dan memahami dan secara lebih efektif merubah proses manajemen serta interaksinya. 1. Memberikan budaya dan struktur untuk menghadapi hambatan yang lebih kuat setelah berkolaborasi 2. Membangun kemampuan berkolaborasi merupakan proses untuk membentuk kepercayaan.

3. Dikarenakan hambatan merupakan sesuatu yang konstan dan kuat, maka harus di-ever-present, untuk melawan system sebelumnya yang telah terjadi.

Supply chain collaboration, insight into the motivations, resistors, enablers and outcomes of collaborations, is a vital dynamic capability, one that can deliver differential performance which is this model can to explain collaboration successes and failures as well as to provide prescriptions for using collaboration to achieve differential firm and supply chain performance. Constructing a Collaboration Capability: a Brief Background Three steams of literature as central to understanding the process through which a collaborative dynamic capability is built. Each steams relevance derives from insight provided into the process of organizing or structuring network resources to create distinctive value and achieve differential performance in challenging and uncertain environment. (1) System design . the three core evolutionary views of system design theory that merit consideration for application to collaboration. 1. Rational Systems 2. Natural Systems 3. Open systems (2) Competency Development. Collaborative supply chains develop the processes needed to organize resources that reside across organizational boundaries to create customer value, which is argues that a firm consist of a collection of productive resources that can be exploited to create value and competitive advantage. The dynamic capabilities organizing process in two ways; first the firm ability to integrate, build, and reconfigure internal and external competencies, second the dynamic ability which the ability to rapidly change or reconfigure a firms resource base in response to a changing environment. (3) Change Management Research Method (1) Why should managers be motivated to adopt collaborative practices that are difficult, demand new skill (2)