Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum

Laju Respirasi Pada Jangkrik

Disusun untuk memenuhi tugas mata pelajaran Biologi

Tanggal Praktikum : 29 Pebruari 2012 Oleh : 01. Aditya Adie Nugraha 02. Asad Muhammad Nashrullah 03. Revaldi Rizki Anugrah 04. Seno Adi Prakoso

Kelas XI IPA 2

SMA Negeri 2 Cimahi


Jl. KPAD Sriwijaya IX No. 45A Kota Cimahi Tahun Ajaran 2011/2012
1

1. Judul : Laju respirasi pada jangkrik.

2. Tujuan : Mengetahui laju pernapasan pada jangkrik dengan respirometer

3. Dasar Teori : Bernapas artinya melaksanakan pertukaran gas, yaitu: mengambil oksigen (O2) dan mengeluarkan karbondioksida (CO2). Pertukaran gas O2 dengan CO2 dapat berlangsung melalui proses difusi. Pada hewan berukuran kecil terdapat perbandingan antara luas permukaan dengan volume tubuh yang cukup besar sehingga dapat melaksanakan pertukaran gas dan cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Hal ini dapat dilakukan melalui cara difusi melalui pertukaran tubuhnya. Tetapi pada hewan berukuran besar, terutama pada hewan yang aktif, perbandingan antara luas dengan volume tubuh terlalu kecil untuk melakukan hal yang serupa, karenanya diperlukan suatu permukaan tubuh yang khusus untuk pernafasan, untuk menangkap O2 dan melepaska CO2. Alat-alat ini dapat berupa insang atau paru-paru atau saluran udara (trakea) atau bentuk lain yang dapat melangsungkan pertukaran O2 dengan CO2. Oksigen atau zat asam adalah unsur kimia dalam system table periodic yang mempunyai lambing O dan nomor atom 8, ia merupakan unsur golongan kalkogen dan dapat dengan mudah bereaksi dengan hampir semua unsur lainnya. Pada tempratur dan tekanan standar, dua atom unsur ini berikatan menjadi oksigen, yaitu senyawa gas diatomic dengan rumus O2 yang tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau. Menurut logler (1977) konsumsi oksigen dapat dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu; Intensitas dari metabolisme oksidatif dalam sel, kecepatan pertukaran yang mengkontrol perpindahan air disekitar insang yang berdifusi melewatinya, faktor internal yaitu

kecepatan sirkulasi darah dan volume darah yang dibawa menuju insang, dan afinitas oksigen dari haemoglobin. Corong hawa (trakea) adalah alat pernapasan yang dimiliki oleh serangga dan arthropoda lainnya. Pembuluh trakea bermuara pada lubang kecil yang ada di kerangka luar (eksoskeleton) yang disebut spirakel. Spirakel berbentuk pembuluh silindris yang berlapis zat kitin, dan terletak berpasangan pada setiap segmen tubuh. Spirakelmen punyai katup yang dikontrol oleh otot sehingga membuka dan menutupnya spirakel terjadi secara teratur. Pada umumnya spirakel terbuka selama serangga terbang, dan tertutup saat serangga beristirahat.
2

Gbr. Trakea pada serangga Oksigen dari luar masuk lewat spirakel. Kemudian udara dari spirakel menuju pembuluh-pembuluh trakea dan selanjutnya pembuluh trakea bercabang lagi menjadi cabang halus yang disebut trakeolus sehingga dapat mencapai seluruh jaringan dan alat tubuh bagian dalam. Trakeolus tidak berlapis kitin, berisi cairan, dan dibentuk oleh sel yang disebut trakeoblas. Pertukaran gas terjadi antara trakeolus dengan sel-sel tubuh. Trakeolus ini mempunyai fungsi yang sama dengan kapiler pada sistem pengangkutan (transportasi) pada vertebrata. Mekanisme pernapasan pada serangga, misalnya belalang, adalah sebagai berikut : Jika otot perut belalang berkontraksi maka trakea mexrupih sehingga udara kaya COZ keluar. Sebaliknya, jika otot perut belalang berelaksasi maka trakea kembali pada volume semula sehingga tekanan udara menjadi lebih kecil dibandingkan tekanan di luar sebagai akibatnya udara di luar yang kaya 02 masuk ke trakea. Sistem trakea berfungsi mengangkut OZ dan mengedarkannya ke seluruh tubuh, dan sebaliknya mengangkut C02 basil respirasi untuk dikeluarkan dari tubuh. Dengan demikian, darah pada serangga hanya berfungsi mengangkut sari makanan dan bukan untuk mengangkut gas pernapasan. Di bagian ujung trakeolus terdapat cairan sehingga udara mudah berdifusi ke jaringan. Pada serangga air seperti jentik nyamuk udara diperoleh dengan menjulurkan tabung pernapasan ke permukaan air untuk mengambil udara.

Serangga air tertentu mempunyai gelembung udara sehingga dapat menyelam di air dalam waktu lama. Misalnya, kepik Notonecta sp. mempunyai gelembung udara di organ yang menyerupai rambut pada permukaan ventral. Selama menyelam, O2 dalam gelembung dipindahkan melalui sistem trakea ke sel-sel pernapasan. Selain itu, ada pula serangga yang mempunyai insang trakea yang berfungsi menyerap udara dari air, atau pengambilan udara melalui cabang-cabang halus serupa insang. Selanjutnya dari cabang halus ini oksigen diedarkan melalui pembuluh trakea. 4. Alat : a. Respirometer sederhana, b. Pipet, c. Neraca, d. Stopwatch, e. Spatula, f. Suntikan, dan g. Gelas kimia.

5. Bahan : a. 3 Jangkrik dengan ukuran yang berbeda, b. Vaselin, c. KOH, d. Kapas/Kasa, dan e. Larutan Eosin.

6. Langkah Kerja : a. Menimbang massa jangkrik dengan cara memasukan jangkrik ke dalam tabung respirometer yang sebelumnya berat tabung sudah ditimbang terlebih dahulu, b. Mengambil KOH dan menaruhnya ke atas tisu, c. Memasukkan tisu ke dalam tabung respirator, d. Memasukkan kembali jangkrik yang sudah di timbang, e. Melapisi bagian tepi dari tutup tabung respirator dengan menggunakan vaselin agar lebih rapat, f. Menutup tabung respirometer,
4

g. Menaruh respirometer dengan posisi tidur, h. Mengambil larutan eosin dengan menggunakan jarum suntik, i. Menyuntikan larutan eosin pada respirometer ke ujung bagian dari tutup tabung respirometer, j. Mencatat waktu yang dibutuhkan untuk setiap pergerakan 0.1mm, 0.2mm, 0.3mm larutan eosin, k. Melakukan praktikum kembali pada 2 jangkrik lainnya.

7. Tabel Pengamatan : a. Tabel kelompok Data Jangkrik Ke-1 Massa Jangkrik 0,4 gram Jumlah Pergeseran Eosin 0,0 0,1 0,1 0,2 0,2 0,3 0,3 ml 1 menit Waktu 45,46 sekon 61,63 sekon 53,24 sekon 2,67 menit 0,112 ml

Data Jangkrik Ke-2 Massa Jangkrik 0,6 gram Jumlah Pergesera Eosin 0,0 0,1 0,1 0,2 0,2 0,3 0,3 ml 1 menit Waktu 30,98 sekon 45,11 sekon 49,87 sekon 2,1 menit 0,142 ml

Data Jangkrik Ke-3 Massa Jangkrik 1,15 gram Jumlah Pergeseran Eosin 0,0 0,1 0,1 0,2 0,2 0,3 0,3 ml 1 menit Waktu 23,08 sekon 20,80 sekon 24,97 sekon 1,28 menit 0,23 ml

Data Perhitungan No 1. 2. 3. Massa Jangkrik 0,4 gram 0,6 gram 1,15 gram Pergeseran Eosin/Menit 0,112 ml/menit 0,142 ml/menit 0,23 ml/menit Pergeseran O2/gram/menit 0,28 ml/gram menit 0,12 ml/gram menit 0,39 ml/gram menit

8. Grafik Hubungan Massa Jangkrik dengan Pergeseran Eosin :


0.25

0.2 Pergeseran Eosin/menit

0.15

0.1

0.05

0 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 Massa Jangkrik (gram)

9. Daftar Pertanyaan :

1. Berdasarkan kegiatan yang kamu lakukan, tentukan hal-hal berikut !


a. variabel manipulasi = variabel bebas = berat jangkrik b. variabel kontrol = spesiesnya, KOH c. variabel respon = variabel terikat

2. Apakah yang menyebabkan terjadinya pergeseran eosin dalam percobaan ini ? Karena adanya proses respirasi yang dilakukan oleh jangkrik, proses ini menghisap oksigen sehingga akan menggeser eosin dalam percobaan itu.

3. Berdasarkan grafik yang diperoleh, jelaskan hubungan antara variasi berat dengan konsumsi oksigen! Mengapa demikian ? Semakin besar massa jangkrik semakin banyak pula penggunaan oksigen. Maka proses pernapasan semakin cepat
6

4. Apa fungsi KOH dalam percobaan tersebut ? Mengikat CO2 sehingga tidak akan menganggu jalannya eosin. Selain itu berfungsi sebagai pengikat suhu agar respirasi terpicu cepat.

5.Apakah fungsi oksigen pada proses respirasi makhluk hidup ? Tuliskan persamaan reaksinya ! Untuk proses metabolisme tubuh/proses oksidasi sel pada makhluk hidup. C6H12O6 + 6O2 6CO2 + 6H2O + Energi

10. Kesimpulan : Massa jangkrik mempengaruhi penggunaan oksigen. Semakin massa lebih besar semakin pula penggunaan oksigen lebih banyak. Maka semakin cepat pula laju pernapasannya. KOH pun dapat berfungsi mempercepat proses pernapasan. Tetapi dalam hal lain, keadaan makhluk hidup itu sendiri juga mempengaruhi dalam proses pernapasan.

11. Lampiran : Dokumentasi alat, bahan, serta langkah kerja praktikum.

12.