Anda di halaman 1dari 12

Hari, Tanggal : Rabu, 18 April 2012 Waktu Dosen : 11.00- selesai : Drh. Harry Soehartono. MAppSc., Ph.

PEMOTONGAN KUKU DAN AMPUTASI JARI SAPI

Kelompok 4 :

Yunita Hutasoit Olivita Priyono Adik Kurniawan Elvi Dwi Yunitasari Stevany Maria Lestari Paalloan Nurhayati Suwartiani Trie Wiyata Lestari

B04080032 B04080033 B04080035 B04080036 B04080037 B04080038 B04080039

BAGIAN BEDAH DEPARTEMEN KLINIK, REPRODUKSI, DAN PATOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pemotongan kuku sapi ini dilakukan untuk menjaga kesehatan ternak dengan menghindari atau mencegah kemungkinan terjadinya peradangan akibat dari kotoran yang melekat pada celah-celah kuku. Pemotongang kuku terutama diperuntukkan pada ternak yang terus menerus dipelihara di dalam kandang. Kuku sapi yang tidak terpelihara akan sangat mengganggu karena dapat mengakibatkan kedudukan tulang teracak menjadi salah, sehingga titik berat badan jatuh pada teracak bagian belakang, bentuk punggung menjadi seperti busur, mudah terjangkit penyakit kuku, dan mengakibatkan kepincangan pada ternak. Kuku yang tumbuh panjang dapat menghambat aktivitas ternak, seperti naik turun kandang, berjalan untuk mendapatkan makanan dan minum, atau berdiri dengan baik sewaktu melakukan perkawinan. Di samping itu menyebabkan ternak sulit berjalan dan timpang, sehingga mudah terjatuh dan mengalami cedera. Apabila ternak tersebut sedang bunting, maka dapat mengakibatkan keguguran (Heri 2011). Upaya untuk menjaga agar kedudukan kuku tetap serasi, maka setiap 3-4 bulan sekali dianjurkan untuk melakukan pemotongan kuku secara teratur, terutama kuku kaki bagian belakang. Hal ini karena kuku kaki depan lebih keras dibandingkan bagian kuku kaki belakang yang selalu basah terkena air kencing dan kotoran. Tetapi dari segi kecepatan pertumbuhan, kuku kaki belakang maupun kaki depan memiliki kecepatan tumbuh yang sama, sehingga baik kuku belakang maupun kuku kaki depan perlu dilakukan pemotongan secara teratur. Pemotongan kuku dapat dilakukan dengan cara merebahkan ternak terlebih dahulu atau dapat pula tanpa merebahkan. Pemotongan kuku tanpa merebahkan ternak biasanya kurang memuaskan. Sebab tidak semua bagian kuku yang hendak dipotong dapat terpotong dengan baik dan akan sulit mengerjakannya jika kurang terampil. 2. Tujuan Tujuan pemotongan kuku adalah untuk menanggulangi masalah penyakit kuku dan menjaga keseimbangan gerak ternak pada saat berdiri, istirahat, efisiensi penggunaan ransum, dan produktivitas ternak.

TINJAUAN PUSTAKA

1. Pemotongan Kuku Sapi Pemotongan kuku sapi dilakukan untuk menjaga kesehatan ternak dengan menghindari atau mencegah kemungkinan terjadinya peradangan akibat dari kotoran yang melekat pada celah-celah kuku. Pemotongang kuku terutama diperuntukkan pada ternak yang terus menerus dipelihara di dalam kandang (Nea 2009). Beberapa perlakuan yang harus diperhatikan dalam pemotongan kuku sapi adalah :
a. Pemeriksaan dan pemotongan kuku dilaksanakan setiap 6 bulan sekali b. Sebelum pemotongan kuku sebaiknya ternak dibiarkan di tempat yang agak

basah agar kuku menjadi lunak


c. Sangat penting untuk mengetahui susunan anatomi kaki (kuku) secara lengkap

dan detail
d. Jangan terlalu banyak kuku yang dipotong e. Hindari terjadinya perdarahan f. Bersihkan bagian kuku yang kotor g. Peralatan yang diperlukan :

Pahat untuk meratakan/membentuk kuku Palu untuk memukul pahat Tang pemotong kuku Alat kikir untuk menghaluskan tepi kuku Pisau pemotong kuku untuk membersihkan celah-celah kuku Alat untuk membersihkan kuku bagian bawah Balok kayu untuk ganjal memotong kuku

h. Untuk mencegah terlalu banyak bergerak dan menjaga keamanan, ternak yang

akan dipotong kukunya perlu dijepit di bagian lehernya.


i. Kaki yang akan dipotong kukunya diangkat dan digantung dengan tali. j. Pemotongan kuku dimulai dari pinggir atas terus ke ujung.

Pemotongan dengan pahat, sebaiknya ternak berdiri di atas balok kayu agar pahat tidak menjadi tumpul karena kerasnya lantai (Nea 2009).

2. Amputasi Jari Amputasi merupakan penghilangan bagian tubuh terluka atau cacat. Amputasi dimungkinkan akibat dari cidera traumatik atau mungkin sesuatu yang direncanakan. Amputasi jari merupakan aktivitas operasi untuk menghilangkan jari. Beberapa jari yang mengalami trauma kadang-kadang harus diamputasi. Kemungkinan pada kasus ini biasanya terjadi pada kondisi, seperti tumor pada jari yang memungkin harus dilakukan pengangkatan jari dengan operasi (diamputasi) (AS 2012). Kasus amputasi jari juga dilakukan pada hewan-hewan yang mengalami penyakit seperti footrot dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk sembuh kembali (infausta). Selain kasus seperti footrot, amputasi pada jari juga dapat dilakukan pada beberapa kasus penyakit lainnya pada kuku atau jari sapi (Shearer 2000). Prevalensi ketimpangan dari kejadian kepincangan dapat dihitung antara 20,6% dan 30,2% pada masa laktasi. Penyakit pada kuku dan jari kaki lebih dari 90% dari semua kasus kepincangan. Diagnosis klinis ditegakkan dengan cara blok saraf, synoviocentesis, radiografi, dan ultrasonografi, lebih jarang, tomografi komputer. Diagnosa juga dapat dilakukan dengan anestesi atau blok saraf proksimal di bagian proksimal metacarpus / metatarsus yang akan digunakan untuk operasi. Pilihan pengobatan untuk infeksi mendalam adalah teknik penyelamatan digital (reseksi) dan penghapusan bagian yang terkena dampak (amputasi) (Nuss 2004). Infeksi di daerah retro-artikular, dalam banyak kasus berasal dari ulkus dari sol atau penyakit pada garis putih, biasanya pembedahan dilakukan dengan penyayatan di wilayah sendi pastern. Jaringan yang terinfeksi akan dibuang melalui insisi vertikal di sisi plantar, membentang dari dewclaw ke daerah ulkus tunggal. Selubung tendon dibuka sepanjang sayatan. Hal ini memungkinkan penghapusan berikutnya dari tendon fleksor, bursa podotrochlear dan distal os sesamoid di bawah kontrol visual. Pendekatan melalui celah digit, atau melalui sayatan horizontal di digit membuat reseksi lebih sulit dan melibatkan risiko yang lebih besar dan tidak sengaja akan mencemari jaringan lebih proksimal. Os sesamoid distal dihilangkan dengan pisau bedah dan lift periostal tajam, dan dapat

dibagi menjadi dua bagian dengan pahat, atau dikupas keluar dengan rongeur. Jika kelopak synovial menunjukkan tanda-tanda infeksi atau tulang rawan sendi rusak, sendi pedal harus direseksi. Ankilosis sendi memiliki tingkat yang lebih baik dalam stabilisasi jangka panjang (Nuss 2004).

2. Kasus Penyakit pada Jari dan Kuku Sapi Beberapa penyakit pada sapi dapat menyebebkan kepincangan yang parah sehingga dilakukan amputasi pada jari kaki. Berikut ini merupakan contoh penyakit yang diindikasikan untuk amputasi pada jari sapi : Footrot Footrot adalah penyakit menular ternak ditandai dengan perkembangan lesi nekrotik di kulit interdigital. Para selulitis meluas ke jaringan lunak kaki

menyebabkan pembengkakan dan ketimpangan. Lesi biasanya memiliki bau busuk yang dapat membantu diagnosa dan membedakannya dari penyakit lain. Insidensi tampaknya lebih tinggi selama musim dingin dan terhadap ternak yang dikandangkan (Shearer 2000). Bentuk baru yang lebih parah dari penyakit ini telah diamati. Penyakit ini disebut sebagai "Super Busuk "atau" Busuk Kaki Super ". Hal ini digambarkan akibat infeksi fulminan yang menyebabkan jaringan interdigital mengalami kerusakan yang luas dan pembengkakan yang memanjang sampai kaki, kecuali pengobatan dilakukan dini dan jika terlambat hasilnya tidak menguntungkan. Faktor lingkungan terkait kondisi kandang, menyebabkan sapi berjalan melalui atau berdiri dalam kandang yang kotor dalam waktu lama (Shearer 2000). organisme penyebab penyakit ini diyakini berasal dari gastrointestinaltract cowit. Hal ini terjadi akibat pengelolaan manur sebagai pupuk kandang. Manajemen yang baik akan membantu untuk mengurangi terjadinya penyakit. Membersihkan benda asing dari kandang untuk menghindari lesi kulit interdigital dan menjaga habitat ternak sekering mungkin adalah tindakan yang diyakini untuk pertimbangan utama dalam pencegahan masalah kaki busuk (Shearer 2000).

PROSEDUR KERJA Peralatan yang digunakan adalah peralatan operasi, kawat obstrectric (kawat untuk embriotomi), dan peralatan lainnya seperti sabun, sikat, dan lain-lain. Prosedur anaesthesi dan persiapan operasi adalah hewan dibaringkan pada posisi lateral dengan menggunakan tali yang sebelumnya diberikan anaesthesi umum atau kalau hewannya masih kecil dapat dibaringkan di atas meja dengan kaki yang sakit di bagian atas. Hewan dapat dioperasi dalam posisi berdiri, tetapi cara ini tidak direkomendasikan. Kemudian, kaki yang akan dioperasi dicukur dari pertengahan metacarpal/metatarsal ke distal lalu diberikan anaesthesi local. Analgesia local juga diberikan intravenous untuk sekaligus sebagai regional blockade. Apabila hal ini tidak dilakukan maka perlu dilakukan pengikatan dengan metode Tournique (pengikatan dengan karet selang kecil di bagian atas daerah metacarpal / metatarsal). Kaki yang sakit diangkat ke atas dengan menggunakan tali untuk mempermudah penanganannya. Jari dan sekitarnya mula-mula digosok dengan alkhohol 70% lalu digosok dengan tincture iodium 10%. Di atas daerah yang akan dioperasi diberi penutup dengan kain blacu yang telah dilobangi bagian atasnya. Teknik operasi adalah insisi kulit dari arah axial ke abaxial di daerah coronaria. Kemudian, dilakukan insisi secara vertical di bagian cranial/dorsal dan di bagian caudal/volar/plantar. kulit dan jaringan subcutaneus diinsisi dampai mendekati pertulangan dan untuk mengurangi perdarahan bagian axial diinsisi terlebih dahulu. Kulit di sekitar os phalanx II dan III sebagian dipreparir dan dihindarkan pemotongan berlebihan. Amputasi dapat dilakukan pada dua lokasi. Apabila penyakit ada pada bagian/daerah phalanx III, maka amputasi dilakukan dengan langsung membuang os phalanx II ke bawah dan langsung melalui pertengahan sepertiga distal os phalanx I. Prosedur operasi pertengahan sepertiga distal os phalanx I dengan cara pemotongan menggunakan kawat obstrectic dengan cara menggergaji. Cara menggergaji harus tepat dipertengahan sepertiga ujung distal os phalanx I dan tegak lurus pada os phalanx I untuk mencapai tulang. Kemudian, arah kawat gergaji harus diarahkan 45o terhadap os phalanx I. Gerakan gergaji jangan terlalu cepat agar tidak timbul panas yang dapat mengakibatkan nekrosa jaringan dan

dapat mempengaruhi proses persembuhan, terutama menghindari kerusakan kapsel dan capsula persendian gelang puyuh. Kelebihan lemak dan jaringan ikat longgar terutama yang mengikat/membungkus tendon harus dibuang, termasuk tendonnya. Arteri digitalis harus diikat/diligatuere. Kulit yang telah mengalami nekrosis dibuang. Penjahitan kulit perlu diatur dan diberi drain yang mengarah ke ventral. Terakhir, diadakan balutan tekan yang diatur sedemikian rupa sehingga pada waktu ikatan metode Tournique dibuka tidak akan terjadi pendarahan. Juga pembalutan jangan terlalu keras. Perawatan post-operasi dilakukan dengan pembukaan balutan 2-3 tahun post operasi. Kemudian balutan diganti sampai luka operasi sembuh. Lama balutan diganti tergantung dari derajat penutupan luka dan keadaan individu. Pada beberapa kasus amputasi, persembuhan dialami setelah 10-14 hari dan kasus lainnya dapat mencapai kesembuha dalam beberapa minggu. Hal-hal yang perlu diperhatikan anatara lain bahwa sapi harus dimasukkan ke dalam kandang yang kering sehingga sisa makanan dan air tidak akan mengotori dan membasahi kaki yang sakit. Kontraindikasi yang dialami pada proses amputasi jari adalah sepsis pada persendian gelang puyuh terutama pada sapi yang berat/besar. Amputasi jari kaki depan sebelah lateral memberikan indikasi prognosis lebih baik daripada di sebelah medialnya. Teknik ini dapat dilakukan pada babi dan hewan ruminansia kecil lainnya.

PEMBAHASAN

1. Pemotongan Kuku Sapi Praktikum Amputasi Jari Sapi dimulai dengan pemeriksaan pada kuku sapi, kemudian melakukan pemotongan kuku dan kemudian amputasi jari sapi. Pemeriksaan kuku dilakukan pada pemeriksaan bentuknya. Kaki yang digunakan adalah kaki belakang kanan. Kaki belakang memiliki bentuk yang lebih sempit dibandingkan kaki depan, berbentuk lebih oval dan memiliki kuku yang lebih panjang yaitu kuku bagian lateral. sudah terjadi kerusakan pada sole bagian medial kuku.

Gambar 1. kuku kaki sapi normal. Inspeksi bentuk kaki dan kuku sapi menunjukkan bentuk yang normal seperti gambar satu. Inspeksi pada bagian sole (telapak) terlihat sudah mengalami kerusakan dibagian sole medial, hal ini disebabkan karena terlalu sering bersentuhan dengan tanah. Selain itu juga terdapat bal (bulb) yang menonjol dan bertanduk lebih lunak. Hasil pemeriksaan bidang bawah kaki terlihat bahwa bentuk telapak sudah tidak rata dengan frog yang tidak jelas.Namun, belum terlihat adanya kemungkinan penyakit kuku. Sebelum dlakukan pemotongan kuku, kuku dibersihkan dulu dari kotoran yang menempel dengan menggunakan rennet. Selanjutnya rennet digunakan untuk memotong bagian telapak yang sudah menebal dengan cara mengikis telapak kuku sedikit-sedikit sampai terlihat garis putih (white line) yang mengitari ujung kuku dan hingga didapatkan telapak yang rata seperti pada gambar dua berikut.

Gambar 2. Telapak yang sudah dikikis menggunakan rennet Untuk menghaluskan bagian telapak dapat menggunakan kikir. Pada pemotongan kuku, kelompok kami melakukan kesalahan yaitu pemotongan kuku yang terlalu dalam. Pemotongan kuku sebaiknya tidak terlalu dalam karena dapat membuat kuku sakit ketika ditapakkan. Selanjutnya dibuat cekungan pada bagian medial kuku atau dekat interdigital space apabila frog sudah tidak jelas. Cekungan dibuat dengan mengikis kuku yang menempel dengan interdigital space dengan rennet sehingga didapat cekungan yang bentuk dan kedalamannya baik.

Gambar 3. Kuku sapi yang telah dipotong

2. Amputasi Jari Praktikum kedua yang dilakukan yaitu amputasi atau pengangkatan melalui bedah pada tungkai (Marilynn. 2000). Pada umumnya, amputasi disebabkan oleh kecelakaan, penyakit, dan kelainan konginental. Amputasi jari pada sapi biasanya dilakukan pada sapi yang mengalami footrot parah yang tidak sembuh setelah diberikan pengobatan terlebih dahulu. Peralatan yang biasa digunakan dalam proses amputasi jari sapi adalah gunting, scalpel, pinset, tang arteri, needle holder, jarum, benang, dan osteotom yang digunakan untuk memotong tulang jari agar tidak licin. Praktikum kali ini menggunakan gergaji tulang untuk memotong jari sapi tersebut. Langkah pertama yang dilakukan adalah sayatan horizontal dengan insisi kulit dari arah axial ke abaxial seharusnya di daerah coronaria (batas antara daerah kuku yang gelap dengan awal kulit). Sayatan yang dibuat saat praktikum tidak tepat di daerah coronaria. Sayatan lebih atas dari tempat semestinya. Hal tersebut dapat mengakibatkan sulit bersatunya kulit saat penjahitan sehingga sulit dalam proses penyembuhan. Selanjutnya, sayatan vertical dilakukan dengan insisi coronaria bagian cranial dan caudal. Kulit dan jaringan subkutan dipreparir sampai mendekati tulang dengan cara dikuakkan ke luar. Pembuluh darah yang ditemukan di daerah tulang yaitu arteri digitalis diikat dengan menggunakan benang setelah semua jaringan dipreparir. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah terjadi pendarahan yang terlalu banyak ketika tidak sengaja memotong pembuluh darah. Pemotongan dilakukan di daerah sendi antara os phalanx

I dan II sehingga seluruh bagian di bawah os phalanx II terbuang sedangkan os phalank I hanya sebagian saja yang terpotong. Pemotongan dilakukan dengan menggunakan gergaji tulang dengan sudut 45 ke arah os phalank I. Tulang dirapihkan terlebih dahulu untuk mencegah menempel pada kulit. Lemak dan jaringan ikat longgar yang ada di sekitar tulang dan tendo juga ikut dibuang. Kulit bagian ventral dijahit terlebih dahulu dengan menggunakan jahitan matras agar kuat dan tidak mudah lepas. Sayatan horizontal dijahit dengan benang yang sama menggunakan jahitan sederhana. Setelah penjahitan selesai dilakukan, kaki sapi yang diamputasi dibalut dengan perban selama beberapa hari. Foto jari sebelum diamputasi Foto jari setelah diamputasi

DAFTAR PUSTAKA http://www.assh.org/Public/HandConditions/Documents/Web_Version_PDF/Amp utation.pdf. http://catatankuliah-heri.blogspot.com/2011/03/teknik-pemotongan-kuku-pada sapi-hooves.html http://www.healthyhooves.com/pdffiles/dr%20shearer.pdf http://www.ivis.org/proceedings/wbc/wbc2004/WBC2004-Nuss-simple.pdf Marilynn, E. 2000. Keperawatan medikal bedah. EGC : Jakarta Nea. 2009. Pemotongan Kuku Sapi. [Terhubung Berkala]

http://n3aimutz.blogspot.com/2009/05/pemotongan-kuku-sapi.html [23 April 2012]. Heri. 2011. Teknik Pemotongan Kuku Pada Sapi. (Hooves Trimming. [Terhubung Berkala] http://catatankuliah-heri.blogspot.com/2011/03/teknik-pemotongan-

kuku-pada-sapi-hooves.html [23 April 2011].

LAMPIRAN FOTO Proses Pemotongan Kuku

Proses Amputasi Jari