Guru Sejarah di SMP di Indonesia – dulu pada tahun 50-an – mengajarkan bahwa pada jaman Revolusi Demokratik Prancis, mereka

yang duduk di bagian kanan ruang sidang Majelis nasional Prancis disebut golongan kanan, sedang yang di bagian kiri disebut golongan kiri. Yang kanan pro bangsawan, yang kiri anti feodalisme. Sebutan “kiri” di Indonesia bermula pada dekade-dekade awal abad ke-20 yang disandang dan dialamatkan pada pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan. Polisi Rahasia Belanda (PID) bahkan menyempitkan lagi menjadi “kaum gumbinis”. Soalnya, karena rezim kolonial Belanda paling keras menindas apa yang disebut “pemberontakan komunis” tahun l926. Kurang lebih rezim kolonial Belanda menangkap 13.000 orang, menghukum 4.500 orang dan membuang ke Digul 1.300 orang. Pada tahun 1927 Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, Abdulmadjid Djojoadiningrat dan Nazir Datuk Pamuntjak, keempatnya Pengurus Perhimpunan Indonesia (PI) di negeri Belanda, ditangkap. Tahun berikutnya di Indonesia, Soekarno ditangkap. Semua pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan ini oleh rezim kolonial di cap “kiri’. Pada tahun-tahun awal kemerdekaan, muncul aliansi golongan kiri dengan wama SAYAP KIRI. SAYAP KIRI ini menghimpun para pendukung Perdana Menteri Sjahrir dan Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin, yang didukung juga oleh Soekarno–Hatta, yang politiknya pro perundingan Linggarjati dengan Belanda. Jika istilah “kiri” dalam Sayap Kiri mengacu pada pandangan Marxisme, memang ada benarnya, mengingat di dalamnya ada pendukung kelompok Marxis Sosial Demokrat pimpinan Sutan Sjahrir dan kelompok Marxis-Komunis pimpinan Amir Sjarifoeddin, sedang aliansi BENTENG REPUBLIK yang menentang perundingan dan perjanjian Linggarjati terdapat juga kelompok Marxismenya Tan Malaka dan Ibnu Parna dkk. Walau demikian, Benteng Republik pantang menyebut dirinya golongan atau SAYAP KANAN. Yang jelas dalam kasus ini, politik SAYAP KIRI ternyata lebih moderat ketimbang politik BENTENG REPUBLIK. Pada awal 1948 SAYAP KIRI pecah, ditandai dengan perpecahan dalam Partai Sosialis menjadi dua, Partai Sosialis Indonesia atau PSI di bawah pimpinan Sutan Sjahrir dan Partai Sosialis di bawah pimpinan Amir Sjarifoeddin. Partai Sosialisnya Amir bersama PKI, Partai Buruh Indonesia (PBI) dan Pemuda Sosialis Indonesia (PESINDO) membentuk aliansi baru bernama FRONT DEMOKRASI RAKYAT (FDR). Kedatangan kembali tokoh komunis sebelum perang dunia, Musso, dari Moskow ke Indonesia kira-kira Agustus 1948, mengubah orientasi politik FDR yang dulu pro perundingan dengan Belanda menjadi berkonfrontasi dengan Belanda atas dasar kekuatan Front Nasional dari semua kekuatan anti penjajahan. Selain itu, juga memfusikan semua kekuatan dalam aliansi FDR ke dalam satu partai Marxis saja, yakni PKI. Sepintas, nampak bahwa “koreksi” Musso itu dalam satu hal membenarkan politik kelompok Marxisnya Tan Malaka dan Ibnu Parna yang hanya mau berunding dengan Belanda atas dasar pengakuan resmi atas eksistensi Republik Indonesia di bekas Hindia Belanda ini. Saat itu memang ditandai mulai meningkatnya pengaruh Perang Dingin Amerika vs

Di Asia Tenggara. jelas sekali mendukung politik RE-RA-nya Hatta. untuk melenyapkan RI dari peta dunia. mendorong mencetuskan apa yang disebut PERISTIWA MADIUN September 1948. mungkin dua orang pelaku dan saksi yang kini masih hidup perlu didengar. mantan Presiden Soeharto. gerakan kiri komunis meningkat cepat. peristiwa Madiun 1948 gagal mencapai tujuannya karena tidak didukung oleh Soekarno–Hatta dan juga Jendral Sudirman. Maka ketika konflik antara golongan kiri komunis yang dipimpin kembali oleh Musso yang beroposisi terhadap kabinet presidensial Mohammad Hatta yang justru melaksanakan keputusan perjanjian Renville-nya Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin. di kalangan militer dan massa. Kedua. orang kemudian ada yang menafsirkannya sebagai bagian dari kebangkitan internasional gerakan komunis. Letkol Suharto dan Letkol Suadi Suromihardjo-lah yang diutus oleh Panglima Besar Jendral Sudirman ke Madiun untuk melihat sendiri apa yang sesungguhnya telah dan sedang terjadi di Madiun. Di bidang politik.Rusia. dan yang oleh pemerintah Hatta dan Presiden Sukarno disebut sebagai PEMBERONTAKAN KOMUNIS MUSSO DI MADIUN. Perubahan konstelasi politik di Indonesia akibat terpukulnya golongan kiri komunis di Madiun. Maka. Yang jelas. yang kini bermukim di Australia. akhirnya konflik antar pasukan yang pro dan anti RERA di kota Solo. terbentuknya negara federal Republik Indonesia Serikat (RIS). rupanya memperlancar tekanan dunia untuk penyelesaian damai masalah Indonesia. Pertama. Walau rencana semula politik ini dirancang oleh kabinet Amir Sjarifoeddin. Konflik elit ini merambat ke bawah. di mana RI harus . Hasil KMB adalah kompromi yang dirasakan kurang menguntungkan R. Sementara politik kelompok Marxisnya Sjahrir dan terutama kelompok Marxisnya Tan Malaka dengan Benteng Republik-nya paling keras menentang politik “jalan barunya” Musso. yang waktu itu Gubernur Militer di Madiun dan konon mengambil inisiatif membentuk Pemerintahan “Front Nasional” dengan alasan untuk mencegah “pengalaman Solo merembet ke Madiun”. Perdana Menteri Hatta bertekad mau melaksanakan politik RE-RA atau Reorganisasi dan Rasionalisasi Militer. yang pada 1948 masih berpangkat Letkol.I. Pemerintah Belanda di bawah pimpinan PM Drees yang sosial demokrat itu melancarkan “aksi polisionilnya” yang ke-II atau tepatnya agresi militer ke-dua. Dalam penulisan kembali sejarah peristiwa Madiun l948. Soemarsono. tapi oleh Perdana Menteri Hatta kemudian dilaksanakan sedemikian rupa sehingga merugikan posisi kelompok militer pro Amir. Apalagi dimensi konflik itu kemudian menyangkut langsung imbangan kekuatan riil dalam militer. Bahkan Panglima Besar TNI Jendral Sudirman juga enggan melaksanakan RE-RA karena dianggap merugikan divisi divisi TNI di Jateng dan Jatim yang dikenalnya dari dekat sebagai anak buah. Maka digelarlah Konferensi Meja Bundar (KMB) akhir 1949 di Den Haag di mana hadir perutusan RI (Yogya) – Belanda – dan BFO (Badan Permusyawaratan Federal). 19 desember l948.

Tentara RIS merupakan gabungan dari tentara R. Maka tak heran bila muncul dari kekuatan bersenjata R. pun harus digabung dengan pegawai negeri federal yang semasa perang kemerdekaan berada di daerah pendudukan tentara Belanda. Tak kurang pentingnya.” kini harus kembali ke Belanda.l. mungkin sebagian besar karena terpaksa. Kaum buruh melihat dulu perusahaan-perusahaan yang tahun 45 diberi label “milik R. yakni non-kooperator Belanda atau pro RI dan golongan ko yang kooperator dengan Belanda. mengakibatkan serangkaian peristiwa konflik internal militer.I.I. Polisi RIS juga peleburan antara polisi R. Sedang rasionalisasi terhadap sejumlah besar TNI menjadi Corps Cadangan Nasional (CTN) menimbulkan banyak soal yang tak mudah diatasi. orientasi baru yang cenderung menekankan profesionalisme tentara. yang tidak puas menjadi “barisan sakit hati” atau bergabung ke DI/TII Kartosuwirjo. Entah apa hubungannya dengan kondisi kemelut masa transisi atau tracé baru itu. Karena itu kita bisa mengerti mengapa eksistensi RIS hanya mampu bertahan 8 bulan saja. . Mereka merasa sebagai “sudah berjasa” dan “menjadi korban tidak keadilan”. maka sejatinya pasca KMB bangsa Indonesia terbelah dua. Tuntutan penghapusan KMB sebenarnya cukup luas. Yang jelas pada masa itu kebangkitan gerakan buruh terorganisasi memperjuangkan perbaikan nasib sosial ekonominya menggunakan hak mogoknya cukup meluas dan mendapat pembelaannya di parlemen sementara R. Juga kasus aksi tani mempertahankan tanah garapan yang menimbulkan kasus traktor maut Tanjung Morawa dan akhirnya mengakibatkan krisis kabinet tak lepas dari peranan parlemen sementara. dengan “polisi federal” yang dibentuk Belanda di kota-kota pendudukan Belanda.I.I.I. Kaum tani penggarap tak senang karena tanah garapan yang mereka garap semasa revolusi yang hasilnya a. dijebloskan ke dalam kamp-kamp tahanan/penjara selama setahun lebih di berbagai kota penting di Indonesia. maka kabinet Sukiman melakukan “razzia Agustus” terhadap para aktivis Kiri. berhasil melikwidasi RIS bergabung kembali ke RI menjadi NEGARA KESATUAN RI dengan UUDS 1950 yang menganut sistem demokrasi parlementer dengan pasal pasal HAM nya yang relatif kuat karena mengacu pada Deklarasi Umum HAM PBB tahun l948.I. Pegawai Negeri R. golongan non dan ko. terutama dari PKI.I. Menarik kasus ini di parlemen justru dibela oleh Tan Po Gwan dari PSI dan Tambunan dari Parkindo yang menilainya sebagai tindakan melawan hukum dan tak mengindahkan HAM. Kesatuan. untuk memberi makan tentara kini harus kembali kepada pemilik semula sebelum perang. Sekalipun sebagian terbesar ini hanya terjadi di Jawa dan Sumatra.menerima “negara-negara bagian bentukan Belanda yang bergabung dalam BFO” sebagai mitra sejajar dalam kerangka Uni Indonesia–Belanda yang dipimpin Ratu Belanda. karena kelompok eks-R. Gerakan pro Negara Kesatuan RI di daerah-daerah bekas boneka Belanda. dengan tentara Belanda seperti KNIL dsbnya. yang menekankan “jiwa atau semangat juang 45” ketimbang “keahlian berdasar pendidikan” merasa mau dipinggirkan. menurut istilah Bung Karno. Menjadi ko.

terkesan DN Aidit dan MH Lukman tidak tahu menahu dengan peristiwa Madiun. dijadikan slogan “pemersatu bangsa” untuk menghadapi musuh bersama. maka hubungan PKI dengan Bung Karno terkesan mulai pulih kembali. PKI hanya memusuhi kapitalisme monopoli asing (yang tidak monopoli boleh) dan tidak mengganggu kepentingan kapitalisme nasional dan kapital domestik Tionghoa. PKI muncul sebagai partai pemenang ke-4 setelah PNI. berbagai penerbitan kiri PKI mengecap Soekarno–Hatta sebagai komprador imperialisme/kapitalisme. memungkinkan adanya kekuatan yang mendukung Bung Karno dan mampu menyelesaikan PRRI/Permesta dengan operasi militernya yang bergerak cepat di bawah pimpinan Nasution-Yani dan . Peta politik mulai bergeser lagi. Masyumi dan NU. Namun kemudian “oposisi ekstra parlementer” yang bau mesiu terhadap kabinet hasil pemilu yang dipimpin PM Ali Sastroamidjojo (dari PNI) memang mulai mencemaskan. PKI merumuskan politiknya sbb: “mendukung kebijakannya yang maju. Kemenangan PKI memang mencemaskan banyak kalangan dan golongan non-kom. Dengan berita itu. Tetapi tahun l950 muncul berita DN Aidit dan MH Lukman ditangkap dari atas kapal yang konon membawanya pulang dari luar negeri. Perpecahan dalam militer. Namun bicara tuntutan pembatalan perjanjian KMB harus dicatat yang melakukannya adalah justru kabinet Burhanudin Harahap dari Masyumi. artinya bersifat anti imperialisme dan sisa-sisa feodalisme. Apalagi kemenangan pemilu daerah hanya 2 tahun setelah itu. termasuk Bung Karno yang dalam kasus peristiwa Madiun l948 hanya menyalahkan “komunismenya Musso” saja. Pemerintahan baru menghadapi “oposisi bersenjata” dari gerakan DI/TII nya Kartosuwirjo/Daud Beureueh/Kahar Muzakkar dan kemudian bersambung dengan apa yang disebut “pergolakan daerah” menuntut otonomi daerah dan porsi pembagian keuangan pusat-daerah yang adil. menjadikan PKI dari nomor 4 menjadi nomor 1 di Jawa. namun segera dibebaskan walikota Jakarta Suwirjo (PNI) mengingat mereka pejuang 45. Ketika mendukung Kabinet Wilopo (PNI).I. mengecam yang keliru dan melawan yang merugikan rakyat”. telah mengubah peta politik Indonesia. termasuk “partainya Angkatan Darat” yakni IPKI.parpol lain yang tak terduga. Revolusi Nasional dan demokratik. Dalam program agrarianya. akhirnya memuncak pada pemberontakan PRRI/PERMESTA. Pendudukan Irian Barat oleh Belanda. PKI memperjuangkan landreform yang terbatas atas prinsip tanah bagi petani penggarap dan jauh dari pikiran kolektivisasi tanah. Pimpinan baru PKI di bawah Aidit segera menetapkan strategi nasional demokratisnya yang dalam batas tertentu berhasil merangkul berbagai kalangan. Sebaliknya kekalahan parpol. Hasil pemilu pertama R.Pasca Peristiwa Madiun. l955 mengejutkan banyak kalangan dan pihak. Pandangan PKI bahwa Revolusi Nasional belum selesai sama seperti pandangan Bung Karno. Era demokrasi parlementer 1950-55/56 tersebut ditinjau dari mutu perdebatan di parlemen sementara dalam sejarah DPR di Indonesia diakui banyak orang sebagai relatif paling tinggi.

. pihak militer membentuk badan-badan kerjasama dengan ormas seperti BKS Pemuda-Militer. dsb. BKS Wartawan-Militer. Dalam politik “jalan lain” pembebasan Irian Barat. karena pemilu tak jua menghasilkan kabinet yang kuat dan tahan lama. termasuk golongan angkatan bersenjata. Bung Karno melontarkan ide demokrasi kerja di Jerman dan kemudian digarap di dalam negeri. dan kemudian pimpinan perusahaan pun berada di tangan militer. Misalnya Konsepsi Presiden februari l957 tentang kabinet gotong-royong 4 kaki. Maka jadilah tokoh teknokrat nonpartai DJUANDA sebagai Menteri Pertama. Memang dasar Pancasila menang tipis (hanya selisih suara 40-an). atau abstain atau mengajukan dasar lain seperti Partai Murba dkk yang semula mengajukan dasar Sosial-Ekonomi. yang didukung pula oleh PKI. Selain itu sejak Maret l957 posisi militer kuat sekali karena diberlakukan keadaan bahaya perang atau SOB. parpol-parpol ormas-ormas yang sejak lama mendambakan beralihnya sistem multi-partai menjadi sistem partai-tunggal. tapi juga menang tipis dan tak memenuhi persyaratan keabsahan. terutama oleh Dewan Nasional menjadi demokrasi terpimpin sebagai jalan keluar dari sistem demokrasi liberal yang rentan dengan krisis. maka dasar Islam akan menang.I. Tanggungjawab ditangan perdana menteri. maka Presiden menunjuk “dirinya sendiri” sebagai formatir kabinet. Sebenarnya Bung Karno secara konstitusional adalah Presiden lambang atau stempel belaka.didukung oleh kekuatan politik yang pro negara kesatuan R.I. Pemungutan suara di Konstituante beralangsung sampai diulang tiga kali. Maka proses ambil-alih perusahaan-perusahaan Belanda berjalan lancar sekali. di satu pihak berhasil sukses menyusun ketetapan HAM yang mengacu pada Deklarasi Umum HAM PBB tahun 1948 dan prinsip-prinsip masyarakat demokratis. Namun. Sementara persidangan Majelis Konstituante yang bertugas menyusun Konstitusi Baru R. mengingat masih berlakunya keadaan bahaya perang atau SOB. sehingga Presiden Sukarno sulit membentuk kabinet dengan perdana menteri tokoh partai. BKS Buruh-Militer. Suara PKI dkk berjumlah kurang-lebih 60-an kursi. namun di pihak lain gagal mencapai kesepakatan mengenai DASAR NEGARA. dan pembentukan Dewan Nasional yang menghimpun suara golongan fungsional atau nanti disebut “golongan karya”. termasuk dari fraksi pendukung proklamasi yang dipilih melalui daftar orang tidak berpartai dari daftar pencalonan yang diajukan oleh PKI. maka Bung Karno melontarkan berbagai ide pembaruannya. Bertemunya kepentingan Bung Karno. termasuk dukungan kuat dari PKI dan gerakan buruhnya. Seandainya PKI tidak memilih Pancasila. dan dalam kabinet duduk juga para ahli dari sipil dan militer. berpuncak pada lahirnya .. serta kepentingan militer yang kuat untuk terjun ke dunia politik. Posisi militer secara politik kian kuat. Sebelumnya dalam kondisi politik yang dinilai mulai alami krisis. dan tak memenuhi syarat keabsahan.

dan membuat dunia tak lagi semata ditentukan di Washington atau Moskow. terutama Angkatan Udaranya. dengan pertanian sebagai dasarnya dan industri sebagai tulangpunggungnya. membuat cemas tak sedikit negeri Barat mau pun negara-negara sahabat. Jangan lupa Mil-nya. Konsep pembangunan berdikarinya Bung Karno sebenarya pisau bermata dua. aksi-aksi buruh di kota dan “aksi-sepihak” di desa oleh BTI. sebab suara Mil ini amat menentukan. Apalagi segera terbaca apa yang dimaui Bung Karno yang seringkali mengecam PBB. terkuat di belahan bumi selatan. Dalam visi ini. Pagelaran kekuatan nefos ini pernah dilakukan dalam pesta olahraga nefos atau Ganefo (Games of the New Emerging Forces) di Jakarta menyusul keluarnya Indonesia dari keanggotaan IOC Olympiade. Pencapaiannya dalam dua tahap. Presiden Soekarno menjelaskan.Dekrit Presidem/Panglima Tertinggi ABRI untuk membubarkan Majelis Konstituante dan memberlakukannya kembali UUD 45 dalam rangka melaksanakan demokrasi terpimpin. melawan apa yang disebut “setan kota” dan . Pada era 1959–1965. Indonesia dituduh membuat tandingan PBB. Pada hari sarjana Universitas Indonesia september 1963. menentang pembagian kerja dunia kapitalis dan sekaligus juga tidak menyukai pembagian kerja à la Comecon di bawah pimpinan Uni Sovyet. nefos terdiri dari kekuatan rakyat di negeri terjajah dan yang baru merdeka. Perjuangan pembebasan Irian Barat dengan dukungan/bantuan negeri-negeri sosialis terutama Uni Sovyet membuat Indonesia secara militer. Selain itu Hari Ulang Tahun ke-45 PKI yang dirayakan secara besar-besaran dan spektakuler dengan unjuk rasa kekuatan buruh dan drumband pemuda rakyat pada Mei 65 dan yang dihadiri Presiden Soekarno dan sementara pemimpin negara sosialis telah mempercepat kristalisasi baru kekuatan politik anti-komunis. sejatinya itulah kurun waktu Bung Karno berkuasa sebagai presiden penuh dalam sistem presidensial kabinet. berbeda dengan pandangan kebanyakan tokoh sosialis dunia. Berulangkali Bung Karno menegaskan bahwa “revolusi Indoensia adalah revolusi kiri”. dengan persiapan menyelenggaraan CONEFO atau Conference of the New Emerging Forces States. Sidang Umum MPRS selalu mendukung ide besar Bung Karno untuk membangun Sosialisme à la Indoenesia yang juga ditafsirkan sebagai sosialisme religius. Di dalam praktek dalam setiap pengambil keputusan penting Bung Karno meminta dukungan atau kemudian didukung oleh kekuatan politik Nas–A–Kom–Mil. Dalam analisis dunianya. Soalnya. Maka sejak 5 Juli 1959 sampai l oktober l965/ 11 maret l966. Bung Karno menyerderhanakan konflik besar dunia ke dalam “the old established forces” (oldefos) versus “the new emerging forces” (nefos). revolusi nasional demokratik dan revolusi sosialis. kekuatan negeri sosialis dunia dan kaum progresif di negeri kapitalis. tetapi juga di tentukan di Jakarta. yang tinggi sekali kadar harga diri nasionalismenya dalam rumusan pembangunan ekonomi berdikari. Sementara konfrontasi Indonesia terhadap apa yang disebut proyek “Malaynesia Raya” menyusul keluarnya Indonesia dari keanggotaan PBB. mungkin Soekarno lebih dekat ke RRC dan Korea Utara.

maka pemerintah berkepentingan untuk menetapkan mereka secara keseluruhan terlibat pada pembrontakan G30S/PKI yang berjalan sehari itu. meletuslah tragedi nasional gerakan militer G30S 1965. tinggal satu lagi PKI. G30S l965 segera diikuti dengan politik pembasmian sampai seakar-akarnya PKI dan semua pengikutnya. di momentum Perang Dingin memuncak. Juga kini mungkin anda mulai mengikuti terungkapnya bahan demi bahan baru yang mungkin akan membantu pengkajian ulang dan penulisan kembali kasus G30S 1965. Untuk mempertanggung-jawabkan terjadinya pembunuhan massal terhadap PKI dan para pengikutnya. Kemudan golongan A diadili. Tanpa dukungan PKI yang memiliki pengaruh besar di kalangan kaum buruh dan tani. yakni PSI dan partai Murba. bagi tapol perempuan ke Plantungan.” Maka tak lama kemudian. sedang sasaran utamanya Soekarno. Apa yang terjadi anda semua tahu. nasib serupa akan menimpa juga PKI. Sedang golongan C terlibat secara tidak langsung. terdiri Cl yakni mereka yang memiliki anteseden terlibat dalam “Peristiwa Madiun 1948” dan golongan C2 yakni simpatisan serta golongan C3 yakni massa. peranan ketiga partai ini sama-sama besar dan penting. Rupanya kini mulai terungkap dari wawancara Letjen Purn Kemal Idris di tabloid Symponi no. bahwa SuperSemar adalah kudeta. Menteri Pendidikan yang dikenal dari Partai Murba. para kader. Ada yang berpendapat bahwa G30S itu sasaran antaranya ialah PKI. maka para tahanan dibagi dalam golongan A yakni mereka yang terlibat langsung dalam gerakan dan tahanan B yakni mereka. mengatakan kepada saya: “Sampai hari ini dua partai Marxis telah dibubarkan. tapi mereka tidak pernah bisa bekerjasama atau bersatu. entah kapan. sementara media massa makin membeberkan berbagai konflik antara PKI versus TNI-AD. kata Bung Karno akhir 1965. Dalam sejarah kemerdekaan. karena ia sendiri yang ditugasi Soeharto untuk memimpin pasukan tanpa identitas mengepung Istana Merdeka. Yang jelas. Untuk membenarkan anggapan bahwa penyebab pokok keterlibatan orang dalam G30S . Soekarno akan lebih mudah ditumbangkan. Dan pada 13 Maret l966 sebenarnya Presiden Soekarno mencabut kembali surat perintah 11 Maret 66 yang memberikan pelimpahan kekuasaan kepada Jendral Soeharto. Nasib serupa dialami dua partai Marxis. yang terlibat secara tidak langsung. satu dari 4 partai pemenang pemilu 1955 yang pengaruhnya besar di luar Jawa.“setan desa” memang membuat gelisah banyak kalangan non-kom. minggu akhir Pebruari 2000. dan golongan B laki-laki umumnya diasingkan ke pulau Buru. Untuk menyelesaikan kasus tahanan politik G30S yang masih hidup. Selain kedekatan PKI dengan bung Karno makin menyolok. Beberapa hari setelah Murba dibubarkan. Peristiwanya sendiri telah menyejarah. Saya khawatir. Menyusul kejatuhan Soekarno melalui Surat Perintah 11 maret l966 yang segera diikuti dengan penyingkiran orang-orang Soekarno dari semua badan dan lembaga penting negara. “Revolusi telah memakan putra-putranya sendiri. Pada era demokrasi terpimpin inilah pemerintah membubarkan Masyumi.

sesungguhnya karena mereka menganut pola berpikir Marxisme. Berbagai tulisan Dawam Rahardjo mungkin banyak merangsang para pembaca. Namun korbannya kongkret juga. Walau kediktaturan Orde Baru demikian kokohnya. mengingat musuh utamanya adalah ekstrem kiri. otomatis menjadi barang terlarang juga. Ajaran Soekarno. maka perlawanan masyarakat sesungguhnya selalu ada bagaikan air mengalir. kapitalisme dan feodalisme. Bung Karno merumuskan revolusi Indonesia adalah kiri karena anti imperialisme. terutama dari kalangan kaum terpelajar dan mahasiswa. munculnya study club di kalangan mahasiswa. sedangkan sokogurunya adalah tritunggal Militer–Teknokrat–Pengusaha. maksudnya komunis dan ekstrem kanan. namun kekuasaannya praktis sudah tidak di tangannya lagi. maksudnya Islamnya DI. untuk mempelajari lebih jauh tentang Marxisme. Jika pada era Demokrasi Terpimpin. di dalamnya jelas terbaca “pertempuran teori” antara modernisme yang menguasai pemikiran kaum teknokrat birokrat versus penganut teori . Pada Desember l965 Presiden Soekarno sudah melihat tanda-tanda ini. Apalagi ketika kami sempat membaca penerbitan Lembaga Studi Pembangunan Adi Sasono dan karya bersama Adi Sasoni dan Sritua Arief. karena orang tak tahu lagi apa itu komunisme yang harus dilawannya.25/l966. Marhaenisme yang ia jelaskan sebagai “penerapan Marxisme dalam situasi dan kondisi Indonesia”. dan mengingatkan bahwa “manusia tidak bisa membunuh ide”. bukan karena pikirannya. Bahkan siapa saja yang kedapatan menyimpan buku-buku itu.. 25 tahun 1966 tentang pelarangan mempelajari dan menyebarluaskan ideologi Komunisme/Marxisme dan Leninisme. “Ketergantungan dan Keterbelakangan” (LSP 1981). Begitu kami bebas dari tahanan akhir l979. Soekarno terkena vonis juga. bangunnya LSM-LSM dan terbitnya sejumlah majalah dan buku buku baru sungguh memberikan warna lain dalam dunia pemikiran di Indonesia. setiap gerakan moral atau politis yang mengecam Orde Baru. kami melihat LP3ES dengan PRISMA-nya sebagai “pembawa pemikiran kiri” berhadapan dengan teori modernismenya para teknokrat pembangunan. dengan mudah dicap disusupi PKI atau dipengaruhi ajaran kaum “kiri baru” yang datang ke Indonesia melalui dunia Barat kapitalis. maka “Demokrasi Pancasila”nya Soeharto yang secara tak langsung mengaku diri berposisi “ekstrem tengah”. bersokoguru kaum buruh dan tani. karena di negara hukum manusia hanya bisa dihukum karena perbuatannya.I. Kritik terhadap konsep pembangunan Orde Baru. terkena pasal “subversif” Sejak itu melawan komunisme bagaikan melawan “hantu”. terutama generasi muda. maka Sidang Umum MPRS Juni l966 itu juga mengeluarkan Ketetapan MPRS no. Soekarno resminya masih Presiden R. Bahkan dengan keluarnya Ketetapan MPRS no. Juni l966. kata almarhum Mahbub Djunaidi. Sejumlah literatur dan penerbitan apapun dan manapun yang dianggap penguasa “berbau Marxisme” lenyap dari toko buku dan rak perpustakaan.

Di sini pemikiran Gramsci dan mazhab Frankfurt mulai banyak bicara. Habibie dan awal pemerintahan baru di bawah Presiden Gus Dur. Soal siapa yang disebut golongan kiri atau kanan seakan lenyap dari pembicaraan sehari-hari. Kekalahan aksi mereka merupakan pendidikan politik juga. demokrasi.Winters. bagaimana menjunjung tinggi HAM dan bagaimana memperjuangkan keadilan sosial. Kolusi dan Nepotisme (KKN) pada 21 mei 1998. Mereka lupa bahwa untuk keberhasilan reformasi tidak hanya penggantian presiden. bahwa pada Desember 1997 para investor asing serempak dan serentak memindahkan modalnya keluar dari Indonesia. sesungguhnya merupakan pendidikan politik massa tentang bagaimana berdemokrasi. keberhasilan tertentu aksi-aksi mereka belum atau tidak meningkatkan mereka ke dalam gerakan baru yang lebih terorganisasi secara modern.dependencianya tokoh Neo Marxis Amerika Latin. Dr Jeffrey A. Pada tahun 80-an. mengungkapkan data sejarah penting. Sementara itu gerakan buruh membela nasib sosial-ekonominya dalam tuntutan kenaikan UMR dan syarat-syarat kerja lebih baik mulai muncul di sana-sini. Maka kurs l dollar AS dalam tempo pendek meroket mendekati 20. Orang tak habis pikir. tetapi juga penggantian aparat birokrasi sipil dan militer yang bakal menjamin sukses reformasi. Kondisi ini mungkin dampak dari kuatnya represi rezim dan tuduhan komunis atas setiap aksi yang melibatkan massa banyak.J. Kalau memperhatikan LSM-LSM di Indonesia pada tahun l970-an. tulisan Arief Budiman yang terus terang memihak sosialisme. penulis buku “Power in Motion” atau “Modal Berpindah – Modal Berkuasa” dalam peluncuran bukunya di Jakarta awal 1999.000 rupiah. lingkungan dan buruh mulai marak. Demikian cepatnya peristiwa ini terjadi. perempuan dan juga anti-militerisme dan anti modal-asing mulai menjadi agenda mereka. Begitu juga gerakan tani untuk mempertahankan tanah garapannya atau hak miliknya. perempuan. gerakan mereka masih terbatas untuk isu tertentu. demokrasi. sampai para mahasiswa sendiri dan masyarakat umum tidak percaya. Mereka lebih asyik tenggelam dalam euphoria. Akibatnya para mahasiswa dan para pejuang reformasi tidak segera tahu apa yang harus segera direformasi dulu. Dan ambruklah ekonomi nasional Indonesia. Belum lagi kalau kita membaca di berbagai media. Krisis Moneter dan Kriris Kepercayaan pada Pemerintah berpasangan. Anehnya. muncul di mana-mana. maka tampak mulai tampilnya tema kemiskinan akibat pembangunannya Orde Baru dan Tata Sistem Ekonomi Dunia. Prof. tema tema mengenai HAM. Masa emerintahan transisi B. André Gunder Frank. Pada tahun 90-an tema tema HAM. civil society. Orang lebih menjumpai pada pertarungan pemikiran dan sikap yang mau mewujudkan masyarakat sipil yang demokratis dan berkeadilan melawan mereka yang sering disebut sisa-sisa kekuatan Orde Baru yang mempertahankan status . Terkesan. mengapa Presiden Soeharto yang begitu kuat akhirnya bisa dijatuhkan oleh gelombang aksi-aksi massa demokratis yang dipelopori mahasiswa dengan ujung tombak melawan Korupsi.

maka revolusi revolusi di Inggris 1688. agaknya tak lepas dari pengaruh keputusan para investor yang serentak dan serempak memindahkan modalnya dari Indonesia Desember . Dulu pada tahun l960-an. Mengapa demikian? Mengapa revolusi di abad XX kurang berhasil? Banyak jawaban tentu. Juga ditariknya pasukan Belanda meninggalkan Indonesia 1949 dan penyelesaian masalah Indonesia–Belanda melalui Konferensi Meja Bundar hanya mungkin terjadi berkat tekanan internasional melalui PBB. revolusi Oktober Rusia 1917 dan revolusi l945 Indonesia. serta belum dapat dikatakan mencapai demokrasi.quo. revolusi Amerika 1775 dan revolusi Perancis 1789. Bicara perihal revolusi. tak sedikit anak-anak muda percaya hari esok Indonesia pasti sosialisme. Orang percaya akan kebenaran MDH. Peristiwa tragedi G30S tahun l965 dan jatuhnya Bung Karno. dan kemudian RRC menuduh Uni Sovyet sebagai menempuh jalan balik atau restorasi ke kapitalisme (paling tidak telah membangun kapitalisme negara) dan kemudian konflik antar sesama “negara sosialis” juga bisa antagonistik. Misalnya kalau tidak ada faktor Perang Dunia ke–2 dengan kemenangan Front Demokrasi dan kekalahan Fasisme. bila orang-orang awam seperti kami mencoba bicara mengenai masalah perubahan sejarah dan peranan para pelaku pengubah sejarah. bahwa sejarah masyarakat memang benar berkembang menurut urutan : Oer komunis – Perbudakan – Feodalisme – Kapitalisme – Sosialisme. apapun predikat di belakangnya. Tetapi begitu kubu sosialis pecah antara Uni Sovyet vs RRC. Sementara itu. jalannya terseok-seok dan dan kadang mundur balik. supremasi hukum dan pelaksanaan HAM. faktor luar atau internasional agaknya selalu lebih dominan ketimbang faktor dalam negeri. apalagi pelaksanaan HAM. jika kita simak faktor-faktor pendorong perubahan di Indonesia selama ini. maka mulai muncul banyak keraguan akan kebenaran keharusan sejarah menurut teori MDH itu. Materialisme Dialektika Historis yang sering dipidatokan Bung Karno sebagai “keharusan sejarah”. jelas urusannya para pakar. Demikian juga penyelesaian masalah Irian Barat. saat Bung Karno menganjurkan agar Marxisme dipelajari di semua lembaga pendidikan termasuk mata pelajaran dalam indoktrinasi Manipol-Usdek. tentu tak terlarang. supremasi hukum. Namun. bahkan juga yang terjadi dalam ekses-ekses sejarah revolusi kemerdekaan. setelah pergulatan ratusan tahun barulah mencapai demokrasi. Peristiwa “lengsernya Soeharto” mengacu kepada pandangan Jeffrey Winters. Tetapi itu pun toch masih dengan beberapa catatan. menurut Bapak Soebadio Sastrosatomo. dapat diselesaikan melalui perundingan berkat tekanan dunia melalui PBB. Sedang revolusi Tiongkok tahun 1911. Dan masa pertarungan ini agaknya masih jauh dari final pertandingan. dipahami sebagai dampak Perang Dingin. tidak mungkin Indonesia memproklamasikan kemerdekaaannya pada l7 agustus l945. yang nyaris membawa ke tepi perang besar. Mencari Wisdomnya Pelajaran Sejarah Rasanya judul ini terkesan “sok” .

para kroni Soeharto pun relatif masih bertahan di segala bidang. partai-partai terkesan kurang atau absen tampil ke depan. Ajaran itu berbunyi. Partai-partai secara resmi baru bangun setelah Maklumat X Wakil Presiden Hatta pada 3 november 1945 yang menyerukan rakyat agar membentuk partai-partai politik. atau mati satu mati semua. atau berjaya satu berjaya semua. walau kemudian partai banyak memanfaatkannya. Mungkin ada benarnya pendapat. Presiden Soekarno pada l965 dan Presiden Soeharto pada l998. sampai ada yang menyebut Revolusi Pemuda. maka menurut sementara media tidak mustahil mereka melaksanaan ajaran Pangeran Sambernyowo dari jaman kerajaan kerajaan di Jawa Tengah. maka kesalahan harus ditimpakan kepada partai-partai politik pro reformasi yang . Jika yang terakhir ini sampai terjadi berulangkali. Dalam dua peristiwa kejatuhan. TI JI TI BEH. Dalam batas-batas tertentu. kekuatan moral dan bukan kekuatan politik. sebaliknya juga MATI SIJI MATI KABEH.1997. Sebaliknya. Peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia. Jika benar kekuatan status-quo yang bertahan terus sampai pada puncak frustrasi. Tetapi itu sudah “pas”. Lalu bagaimana dengan peranan para pelaku perubahan di Indonesia sendiri. Misalnya sebelum l928 telah ada partaipartai. Sekali pun tak juga di kesampingkan peranan parpol di jaman Demokrasi Terpimpin yang anti Soekarno maupun peranan PDI Megawati yang direpresi habis-habisan oleh Suharto. juga jangan dianggap sepi putusan massa yang sepanjang hidupnya direpresi terus-menerus. kaum tani merampas hasil perkebunan atau massa membakar bangunan umum adalah “ideologi ti ji ti beh” juga walau dari posisi yang berlawanan. ARTINYA MUKTI SIJI MUKTI KABEH. maka akan tak terbayang akibatnya. tapi produk gerakan pemuda. Namun orang pun sulit menyangkal bahwa di momen-momen perubahan sejarah. Tetapi peristiwa “Sumpah Pemuda 28-10-1928’ bukan produk partai. mengingat mahasiswa umumnya selalu mengklaim dirinya. 17-8-1945. ambillah peranan partai politik sebagai instrumen modern penggerak dan pengorganisasi massa? Orang tak mungkin menyangkal kontribusi partai dalam penyadaran massa dan menggerakkan massa dalam perjuangan kebangsaan dan kemerdekaan. Gerakan mahasiswa sekarang boleh kecewa. walau mereka tercatat sebagai pelopor gerakan reformasi. mereka memang berlawan. kecuali Partai Rakyat Demokrasi (PRD) yang kader pimpinannya kebanyakan datang dari gerakan mahasiswa. jelas peranan pemuda sangat menonjol dan memimpin. sedangkan militer. toh yang bisa main dalam tindak lanjutnya adalah partai-partai peraih suara dalam pemilu Juni 1999. birokrasi lama tetap masih bercokol di semua bidang. Kaum buruh putus-asa membakar perusahaan. partai politik tidak muncul sebagai pendorong kejatuhan keduanya maupun pembela keduanya secara terang-terangan. Pelajaran sejarah lainnya yang mungkin perlu kita amati ialah sisi lain dari gerakan reformasi damai yang bisa terjadi bila gerakan reformasi itu dihambat. bahwa kita kini sudah mulai merasakan dampak atau akibat teori putus asa itu.

anak muda. akan sulit berkembang sebagai potensi bangsa yang utuh dan produktif. Warisan sejarah ini ialah buah dari berbagai tindak pelanggaran berat HAM di masa lalu. serta besar dan kompleksnya kasus-kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi hampir di semua wilayah Indonesia. Karena itu proses mulai bekerjanya komisi kebenaran dan rekonsiliasi itu harus serempak dengan adanya gerakan kebudayaan bangsa melawan “ideologi tumpas kelor” atau yang sejatinya mau menegasi realita masyarakat pluralis Indonesia. Pemerintah K. Sementara generasi kakak saya. Sementara itu. secara tak langsung juga warisan jaman pendudukan fasisme Jepang. yakni Indonesia Baru yang demokratik. Mereka kadang bahkan “kecewa” bila isu aksinya sudah diambil alih oleh parpol atau pemerintah. maka semua keluarga penduduk satu desa kena hukuman dalam bentuk semacam kerja bakti atau sebenarnya kerja paksa untuk kepentingan tentara Jepang. mau tak mau menghadapi warisan sejarah masa lampau yang secara tak sadar menawan generasi sekarang. yang jika tak diselesaikan dengan bijak dan tepat.H. Adburrachman Wahid–Megawati Sukarnoputri berjanji akan melanjutkan terus reformasi damai secara konstitusional menuju apa yang disebut Gus Dur sebagai “proklamasi kemerdekaan” yang kedua. berkeadilan sosial dan maju. bahwa rekonsiliasi nasional masih sulit diwujudkan.gagal memberikan pendidikan politik pada massanya. Namun siapa pun yang memerintah di Indoensia sekarang. KPA dan Pustaka Fajar Nopember 1999). dan belum memahaminya sebagai buah aksi mereka di masa lalu. manakala masih kuatnya “budaya tumpas kelor” atau “politik melenyapkan lawan politik” seperti jamannya Amangkurat dari dinasti raja Mataram. barangkali menarik untuk dikaji buku “PERALIHAN KE KAPITALISME DI DUNIA KETIGA” ditulis oleh Bonnie Setiawan (penerbitan Insist Press. Satu keluarga dalam desa gagal mengumpulkan “iles-iles” atau semacam ubi yang konon diperuntukkan industri perang Jepang. Karena mereka terlalu lama menderita akibat tekanan dan kekerasan penguasa. Kini kita boleh bergembira bahwa pengalaman komisi kebenaran dan rekonsiliasi nasional yang pernah terjadi di Afrika-Selatan dan beberapa negara lain tengah dipelajari oleh Pemerintah maupun kalangan masyarakat. sering mengingatkan pula bahwa adanya “sistem hukuman kolektif” seperti terhadap mantan tapol/napol kasus G30S l965 dan keluarganya. maka seluruh anggota pasukan kena “sa seng” atau hukuman. Jaman itu apabila satu orang dari pasukan membuat kesalahan. Kadang orang pun melihat akan romantisme radikal gerakan mahasiswa atau anak. mengingat luas wilayah Indonesia dan besarnya jumlah penduduk. bahwa dunia ketiga . Mudah-mudahan apa yang pernah diingatkan oleh Riswanda Imawan pakar UGM pada tahun l994-an. Namun komisi kebenaran dan rekonsiliasi jelas akan lebih sulit ketimbang apa yang pernah terjadi di negara-negara lain. maka mereka menjumpai suatu keasyikan romantisme tersendiri bila terlibat dalam aksi yang keras. Siapa pun tak bisa menyangkal.

Dalam pengantar buku itu diakui. Barangkali saja dalam waktu dekat ini. Orang bahkan ada yang mulai menunjuk pada pengalaman Malaysia atau bahkan Kuba. banyak organisasi massa dan LSM yang kini mulai menyoalkan bagaimana bangsa Indonesia menghadapi neo-liberalisme yang semakin berkuasa. Program partai yang lebih serius memperjuangkan pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan perimbangan keuangan pusat–daerah yang adil. justru peralihan ke kapitalisme itu RUANG GELAP bagi ilmuwan sosial Indonesia. Kongkretnya. maka mereka itu logisnya akan menempatkan dirinya ke dalam gerakan demokratisasi dan reformasi secara damai. ketimbang aktif memperjuangkan kepentingan massa pemilih seperti yang dijanjikannya semasa pemilu.termasuk Indonesia sedang mengalami proses peralihan ke kapitalisme. tak kurang pentingnya ketegasannya dalam membantu militer mereformasi diri – atau mereposisi – hingga proses penghapusan dwifungsi akan benar-benar berakhir pada 2004. Ini bukan resensi.teori peralihan ke kapitalisme yang diperlukan dalam diskusi diskusi generasi muda pemikir masa kini setelah menyaksikan bagaimana dalam sidang World Trade Organization (WTO) di Seattles beberapa waktu yang lalu untuk pertama kali terjadi perlawanan luas dari negara-negara sedang berkembang bersama perutusan NGO-NGO. mungkin akan menjadi kunci perolehan suara mereka nanti. maka peta politik 2004 nanti mungkin akan mengalami perubahan besar. Saya berpendapat. Tentu saja. serta yang berhasil mendekati dan merangkul gerakan mahasiswa. buruh dan tani serta gerakan perempuan. Saya percaya pasti banyak yang kecewa atas ketidak-sanggupan dan ketidak-mampuan saya untuk “meramal” bagaimana kira kira peranan golongan kiri di masa depan. Penutup Demikianlah. Mengingat penampilan dan kinerja partaipartai peraih suara dalam pemilu Juni 1999 lebih terkesan cenderung berebut posisi di birokrasi dan posisi kepala-daerah serta pimpinan badan legislatif daerah. apabila nanti akan ada kelompok-kelompok yang menyebut atau disebut golongan kiri. . suatu jaringan kerja sama kelompok-kelompok sosial demokrasi yang akan mungkin mengisi kekosongan label golongan kiri tersebut. tapi buku itu memang menjelaskan secara jelas peta perjalanan teori. Mau tak mau semua parpol yang masih ingin memperoleh suara rakyat di pemilu mendatang harus menjadikan masalah neo-liberalisme itu sebagai agenda penting yang tidak boleh dikesampingkan begitu saja. atau bila secra sempit mungkin dapat disebut “golongan yang gigih memperjuangkan keadilan sosial”. pandangan saya yang dapat saya sampaikan dalam forum ini. dengan tetap memperjoangkan kepentingan dasar rakyat Indonesia agar tidak menjadi korban atau tumbal proses perubahan tersebut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful