P. 1
golongan kiri

golongan kiri

|Views: 104|Likes:
Dipublikasikan oleh Hilda 艾 琳 Gunawan

More info:

Published by: Hilda 艾 琳 Gunawan on Apr 27, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2012

pdf

text

original

Guru Sejarah di SMP di Indonesia – dulu pada tahun 50-an – mengajarkan bahwa pada jaman Revolusi Demokratik Prancis, mereka

yang duduk di bagian kanan ruang sidang Majelis nasional Prancis disebut golongan kanan, sedang yang di bagian kiri disebut golongan kiri. Yang kanan pro bangsawan, yang kiri anti feodalisme. Sebutan “kiri” di Indonesia bermula pada dekade-dekade awal abad ke-20 yang disandang dan dialamatkan pada pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan. Polisi Rahasia Belanda (PID) bahkan menyempitkan lagi menjadi “kaum gumbinis”. Soalnya, karena rezim kolonial Belanda paling keras menindas apa yang disebut “pemberontakan komunis” tahun l926. Kurang lebih rezim kolonial Belanda menangkap 13.000 orang, menghukum 4.500 orang dan membuang ke Digul 1.300 orang. Pada tahun 1927 Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, Abdulmadjid Djojoadiningrat dan Nazir Datuk Pamuntjak, keempatnya Pengurus Perhimpunan Indonesia (PI) di negeri Belanda, ditangkap. Tahun berikutnya di Indonesia, Soekarno ditangkap. Semua pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan ini oleh rezim kolonial di cap “kiri’. Pada tahun-tahun awal kemerdekaan, muncul aliansi golongan kiri dengan wama SAYAP KIRI. SAYAP KIRI ini menghimpun para pendukung Perdana Menteri Sjahrir dan Menteri Pertahanan Amir Sjarifoeddin, yang didukung juga oleh Soekarno–Hatta, yang politiknya pro perundingan Linggarjati dengan Belanda. Jika istilah “kiri” dalam Sayap Kiri mengacu pada pandangan Marxisme, memang ada benarnya, mengingat di dalamnya ada pendukung kelompok Marxis Sosial Demokrat pimpinan Sutan Sjahrir dan kelompok Marxis-Komunis pimpinan Amir Sjarifoeddin, sedang aliansi BENTENG REPUBLIK yang menentang perundingan dan perjanjian Linggarjati terdapat juga kelompok Marxismenya Tan Malaka dan Ibnu Parna dkk. Walau demikian, Benteng Republik pantang menyebut dirinya golongan atau SAYAP KANAN. Yang jelas dalam kasus ini, politik SAYAP KIRI ternyata lebih moderat ketimbang politik BENTENG REPUBLIK. Pada awal 1948 SAYAP KIRI pecah, ditandai dengan perpecahan dalam Partai Sosialis menjadi dua, Partai Sosialis Indonesia atau PSI di bawah pimpinan Sutan Sjahrir dan Partai Sosialis di bawah pimpinan Amir Sjarifoeddin. Partai Sosialisnya Amir bersama PKI, Partai Buruh Indonesia (PBI) dan Pemuda Sosialis Indonesia (PESINDO) membentuk aliansi baru bernama FRONT DEMOKRASI RAKYAT (FDR). Kedatangan kembali tokoh komunis sebelum perang dunia, Musso, dari Moskow ke Indonesia kira-kira Agustus 1948, mengubah orientasi politik FDR yang dulu pro perundingan dengan Belanda menjadi berkonfrontasi dengan Belanda atas dasar kekuatan Front Nasional dari semua kekuatan anti penjajahan. Selain itu, juga memfusikan semua kekuatan dalam aliansi FDR ke dalam satu partai Marxis saja, yakni PKI. Sepintas, nampak bahwa “koreksi” Musso itu dalam satu hal membenarkan politik kelompok Marxisnya Tan Malaka dan Ibnu Parna yang hanya mau berunding dengan Belanda atas dasar pengakuan resmi atas eksistensi Republik Indonesia di bekas Hindia Belanda ini. Saat itu memang ditandai mulai meningkatnya pengaruh Perang Dingin Amerika vs

yang waktu itu Gubernur Militer di Madiun dan konon mengambil inisiatif membentuk Pemerintahan “Front Nasional” dengan alasan untuk mencegah “pengalaman Solo merembet ke Madiun”. Pertama. 19 desember l948. Hasil KMB adalah kompromi yang dirasakan kurang menguntungkan R.I. Perdana Menteri Hatta bertekad mau melaksanakan politik RE-RA atau Reorganisasi dan Rasionalisasi Militer. mungkin dua orang pelaku dan saksi yang kini masih hidup perlu didengar. peristiwa Madiun 1948 gagal mencapai tujuannya karena tidak didukung oleh Soekarno–Hatta dan juga Jendral Sudirman. mantan Presiden Soeharto. Di Asia Tenggara. yang pada 1948 masih berpangkat Letkol. rupanya memperlancar tekanan dunia untuk penyelesaian damai masalah Indonesia. Apalagi dimensi konflik itu kemudian menyangkut langsung imbangan kekuatan riil dalam militer. Soemarsono. Yang jelas. Kedua. gerakan kiri komunis meningkat cepat.Rusia. Dalam penulisan kembali sejarah peristiwa Madiun l948. Maka. jelas sekali mendukung politik RE-RA-nya Hatta. mendorong mencetuskan apa yang disebut PERISTIWA MADIUN September 1948. untuk melenyapkan RI dari peta dunia. akhirnya konflik antar pasukan yang pro dan anti RERA di kota Solo. Letkol Suharto dan Letkol Suadi Suromihardjo-lah yang diutus oleh Panglima Besar Jendral Sudirman ke Madiun untuk melihat sendiri apa yang sesungguhnya telah dan sedang terjadi di Madiun. Sementara politik kelompok Marxisnya Sjahrir dan terutama kelompok Marxisnya Tan Malaka dengan Benteng Republik-nya paling keras menentang politik “jalan barunya” Musso. Walau rencana semula politik ini dirancang oleh kabinet Amir Sjarifoeddin. Maka digelarlah Konferensi Meja Bundar (KMB) akhir 1949 di Den Haag di mana hadir perutusan RI (Yogya) – Belanda – dan BFO (Badan Permusyawaratan Federal). di kalangan militer dan massa. di mana RI harus . Konflik elit ini merambat ke bawah. orang kemudian ada yang menafsirkannya sebagai bagian dari kebangkitan internasional gerakan komunis. Bahkan Panglima Besar TNI Jendral Sudirman juga enggan melaksanakan RE-RA karena dianggap merugikan divisi divisi TNI di Jateng dan Jatim yang dikenalnya dari dekat sebagai anak buah. Pemerintah Belanda di bawah pimpinan PM Drees yang sosial demokrat itu melancarkan “aksi polisionilnya” yang ke-II atau tepatnya agresi militer ke-dua. Di bidang politik. Perubahan konstelasi politik di Indonesia akibat terpukulnya golongan kiri komunis di Madiun. terbentuknya negara federal Republik Indonesia Serikat (RIS). yang kini bermukim di Australia. dan yang oleh pemerintah Hatta dan Presiden Sukarno disebut sebagai PEMBERONTAKAN KOMUNIS MUSSO DI MADIUN. tapi oleh Perdana Menteri Hatta kemudian dilaksanakan sedemikian rupa sehingga merugikan posisi kelompok militer pro Amir. Maka ketika konflik antara golongan kiri komunis yang dipimpin kembali oleh Musso yang beroposisi terhadap kabinet presidensial Mohammad Hatta yang justru melaksanakan keputusan perjanjian Renville-nya Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin.

Mereka merasa sebagai “sudah berjasa” dan “menjadi korban tidak keadilan”. maka kabinet Sukiman melakukan “razzia Agustus” terhadap para aktivis Kiri. dengan tentara Belanda seperti KNIL dsbnya. Polisi RIS juga peleburan antara polisi R.I.l.” kini harus kembali ke Belanda. Entah apa hubungannya dengan kondisi kemelut masa transisi atau tracé baru itu. Tak kurang pentingnya.menerima “negara-negara bagian bentukan Belanda yang bergabung dalam BFO” sebagai mitra sejajar dalam kerangka Uni Indonesia–Belanda yang dipimpin Ratu Belanda. Tuntutan penghapusan KMB sebenarnya cukup luas. Tentara RIS merupakan gabungan dari tentara R. karena kelompok eks-R. pun harus digabung dengan pegawai negeri federal yang semasa perang kemerdekaan berada di daerah pendudukan tentara Belanda. orientasi baru yang cenderung menekankan profesionalisme tentara. Kaum buruh melihat dulu perusahaan-perusahaan yang tahun 45 diberi label “milik R. Yang jelas pada masa itu kebangkitan gerakan buruh terorganisasi memperjuangkan perbaikan nasib sosial ekonominya menggunakan hak mogoknya cukup meluas dan mendapat pembelaannya di parlemen sementara R. Pegawai Negeri R.I. menurut istilah Bung Karno. dijebloskan ke dalam kamp-kamp tahanan/penjara selama setahun lebih di berbagai kota penting di Indonesia. terutama dari PKI. . berhasil melikwidasi RIS bergabung kembali ke RI menjadi NEGARA KESATUAN RI dengan UUDS 1950 yang menganut sistem demokrasi parlementer dengan pasal pasal HAM nya yang relatif kuat karena mengacu pada Deklarasi Umum HAM PBB tahun l948.I.I. maka sejatinya pasca KMB bangsa Indonesia terbelah dua. yakni non-kooperator Belanda atau pro RI dan golongan ko yang kooperator dengan Belanda. untuk memberi makan tentara kini harus kembali kepada pemilik semula sebelum perang.I. yang tidak puas menjadi “barisan sakit hati” atau bergabung ke DI/TII Kartosuwirjo. dengan “polisi federal” yang dibentuk Belanda di kota-kota pendudukan Belanda. mengakibatkan serangkaian peristiwa konflik internal militer. Juga kasus aksi tani mempertahankan tanah garapan yang menimbulkan kasus traktor maut Tanjung Morawa dan akhirnya mengakibatkan krisis kabinet tak lepas dari peranan parlemen sementara.I. Menjadi ko. golongan non dan ko. mungkin sebagian besar karena terpaksa. Kaum tani penggarap tak senang karena tanah garapan yang mereka garap semasa revolusi yang hasilnya a. Sekalipun sebagian terbesar ini hanya terjadi di Jawa dan Sumatra. Sedang rasionalisasi terhadap sejumlah besar TNI menjadi Corps Cadangan Nasional (CTN) menimbulkan banyak soal yang tak mudah diatasi. Menarik kasus ini di parlemen justru dibela oleh Tan Po Gwan dari PSI dan Tambunan dari Parkindo yang menilainya sebagai tindakan melawan hukum dan tak mengindahkan HAM. Maka tak heran bila muncul dari kekuatan bersenjata R.I. Kesatuan. yang menekankan “jiwa atau semangat juang 45” ketimbang “keahlian berdasar pendidikan” merasa mau dipinggirkan. Karena itu kita bisa mengerti mengapa eksistensi RIS hanya mampu bertahan 8 bulan saja. Gerakan pro Negara Kesatuan RI di daerah-daerah bekas boneka Belanda.

Namun kemudian “oposisi ekstra parlementer” yang bau mesiu terhadap kabinet hasil pemilu yang dipimpin PM Ali Sastroamidjojo (dari PNI) memang mulai mencemaskan. Era demokrasi parlementer 1950-55/56 tersebut ditinjau dari mutu perdebatan di parlemen sementara dalam sejarah DPR di Indonesia diakui banyak orang sebagai relatif paling tinggi. Dalam program agrarianya. Peta politik mulai bergeser lagi. Masyumi dan NU. PKI hanya memusuhi kapitalisme monopoli asing (yang tidak monopoli boleh) dan tidak mengganggu kepentingan kapitalisme nasional dan kapital domestik Tionghoa. Pandangan PKI bahwa Revolusi Nasional belum selesai sama seperti pandangan Bung Karno. menjadikan PKI dari nomor 4 menjadi nomor 1 di Jawa. PKI merumuskan politiknya sbb: “mendukung kebijakannya yang maju. telah mengubah peta politik Indonesia. Revolusi Nasional dan demokratik. PKI muncul sebagai partai pemenang ke-4 setelah PNI. Pimpinan baru PKI di bawah Aidit segera menetapkan strategi nasional demokratisnya yang dalam batas tertentu berhasil merangkul berbagai kalangan.Pasca Peristiwa Madiun. artinya bersifat anti imperialisme dan sisa-sisa feodalisme. Sebaliknya kekalahan parpol. namun segera dibebaskan walikota Jakarta Suwirjo (PNI) mengingat mereka pejuang 45. Namun bicara tuntutan pembatalan perjanjian KMB harus dicatat yang melakukannya adalah justru kabinet Burhanudin Harahap dari Masyumi. l955 mengejutkan banyak kalangan dan pihak. Ketika mendukung Kabinet Wilopo (PNI). Pemerintahan baru menghadapi “oposisi bersenjata” dari gerakan DI/TII nya Kartosuwirjo/Daud Beureueh/Kahar Muzakkar dan kemudian bersambung dengan apa yang disebut “pergolakan daerah” menuntut otonomi daerah dan porsi pembagian keuangan pusat-daerah yang adil. memungkinkan adanya kekuatan yang mendukung Bung Karno dan mampu menyelesaikan PRRI/Permesta dengan operasi militernya yang bergerak cepat di bawah pimpinan Nasution-Yani dan . mengecam yang keliru dan melawan yang merugikan rakyat”. Perpecahan dalam militer. terkesan DN Aidit dan MH Lukman tidak tahu menahu dengan peristiwa Madiun. termasuk Bung Karno yang dalam kasus peristiwa Madiun l948 hanya menyalahkan “komunismenya Musso” saja. akhirnya memuncak pada pemberontakan PRRI/PERMESTA. Kemenangan PKI memang mencemaskan banyak kalangan dan golongan non-kom. Hasil pemilu pertama R. PKI memperjuangkan landreform yang terbatas atas prinsip tanah bagi petani penggarap dan jauh dari pikiran kolektivisasi tanah.parpol lain yang tak terduga. Pendudukan Irian Barat oleh Belanda.I. Apalagi kemenangan pemilu daerah hanya 2 tahun setelah itu. Tetapi tahun l950 muncul berita DN Aidit dan MH Lukman ditangkap dari atas kapal yang konon membawanya pulang dari luar negeri. maka hubungan PKI dengan Bung Karno terkesan mulai pulih kembali. berbagai penerbitan kiri PKI mengecap Soekarno–Hatta sebagai komprador imperialisme/kapitalisme. dijadikan slogan “pemersatu bangsa” untuk menghadapi musuh bersama. termasuk “partainya Angkatan Darat” yakni IPKI. Dengan berita itu.

Selain itu sejak Maret l957 posisi militer kuat sekali karena diberlakukan keadaan bahaya perang atau SOB. Sebenarnya Bung Karno secara konstitusional adalah Presiden lambang atau stempel belaka. yang didukung pula oleh PKI. BKS Buruh-Militer. Maka proses ambil-alih perusahaan-perusahaan Belanda berjalan lancar sekali. pihak militer membentuk badan-badan kerjasama dengan ormas seperti BKS Pemuda-Militer. namun di pihak lain gagal mencapai kesepakatan mengenai DASAR NEGARA. dsb. Sementara persidangan Majelis Konstituante yang bertugas menyusun Konstitusi Baru R.. Pemungutan suara di Konstituante beralangsung sampai diulang tiga kali. termasuk dari fraksi pendukung proklamasi yang dipilih melalui daftar orang tidak berpartai dari daftar pencalonan yang diajukan oleh PKI. sehingga Presiden Sukarno sulit membentuk kabinet dengan perdana menteri tokoh partai. Suara PKI dkk berjumlah kurang-lebih 60-an kursi. tapi juga menang tipis dan tak memenuhi persyaratan keabsahan. Bung Karno melontarkan ide demokrasi kerja di Jerman dan kemudian digarap di dalam negeri. berpuncak pada lahirnya . termasuk dukungan kuat dari PKI dan gerakan buruhnya. terutama oleh Dewan Nasional menjadi demokrasi terpimpin sebagai jalan keluar dari sistem demokrasi liberal yang rentan dengan krisis. termasuk golongan angkatan bersenjata. mengingat masih berlakunya keadaan bahaya perang atau SOB. parpol-parpol ormas-ormas yang sejak lama mendambakan beralihnya sistem multi-partai menjadi sistem partai-tunggal. Dalam politik “jalan lain” pembebasan Irian Barat. Sebelumnya dalam kondisi politik yang dinilai mulai alami krisis. di satu pihak berhasil sukses menyusun ketetapan HAM yang mengacu pada Deklarasi Umum HAM PBB tahun 1948 dan prinsip-prinsip masyarakat demokratis. Bertemunya kepentingan Bung Karno. Seandainya PKI tidak memilih Pancasila. Memang dasar Pancasila menang tipis (hanya selisih suara 40-an). BKS Wartawan-Militer. dan dalam kabinet duduk juga para ahli dari sipil dan militer. maka Presiden menunjuk “dirinya sendiri” sebagai formatir kabinet.I.I.. Namun. dan pembentukan Dewan Nasional yang menghimpun suara golongan fungsional atau nanti disebut “golongan karya”. maka Bung Karno melontarkan berbagai ide pembaruannya. Posisi militer secara politik kian kuat.didukung oleh kekuatan politik yang pro negara kesatuan R. serta kepentingan militer yang kuat untuk terjun ke dunia politik. atau abstain atau mengajukan dasar lain seperti Partai Murba dkk yang semula mengajukan dasar Sosial-Ekonomi. maka dasar Islam akan menang. Tanggungjawab ditangan perdana menteri. karena pemilu tak jua menghasilkan kabinet yang kuat dan tahan lama. Maka jadilah tokoh teknokrat nonpartai DJUANDA sebagai Menteri Pertama. Misalnya Konsepsi Presiden februari l957 tentang kabinet gotong-royong 4 kaki. dan kemudian pimpinan perusahaan pun berada di tangan militer. dan tak memenuhi syarat keabsahan.

Pada hari sarjana Universitas Indonesia september 1963. tetapi juga di tentukan di Jakarta. melawan apa yang disebut “setan kota” dan . Jangan lupa Mil-nya. revolusi nasional demokratik dan revolusi sosialis. Maka sejak 5 Juli 1959 sampai l oktober l965/ 11 maret l966. terutama Angkatan Udaranya. Indonesia dituduh membuat tandingan PBB. Soalnya. berbeda dengan pandangan kebanyakan tokoh sosialis dunia. Selain itu Hari Ulang Tahun ke-45 PKI yang dirayakan secara besar-besaran dan spektakuler dengan unjuk rasa kekuatan buruh dan drumband pemuda rakyat pada Mei 65 dan yang dihadiri Presiden Soekarno dan sementara pemimpin negara sosialis telah mempercepat kristalisasi baru kekuatan politik anti-komunis. sebab suara Mil ini amat menentukan. aksi-aksi buruh di kota dan “aksi-sepihak” di desa oleh BTI. kekuatan negeri sosialis dunia dan kaum progresif di negeri kapitalis. Perjuangan pembebasan Irian Barat dengan dukungan/bantuan negeri-negeri sosialis terutama Uni Sovyet membuat Indonesia secara militer. dengan pertanian sebagai dasarnya dan industri sebagai tulangpunggungnya. Dalam visi ini. menentang pembagian kerja dunia kapitalis dan sekaligus juga tidak menyukai pembagian kerja à la Comecon di bawah pimpinan Uni Sovyet. Apalagi segera terbaca apa yang dimaui Bung Karno yang seringkali mengecam PBB. Bung Karno menyerderhanakan konflik besar dunia ke dalam “the old established forces” (oldefos) versus “the new emerging forces” (nefos). dengan persiapan menyelenggaraan CONEFO atau Conference of the New Emerging Forces States. Presiden Soekarno menjelaskan. Pada era 1959–1965. membuat cemas tak sedikit negeri Barat mau pun negara-negara sahabat.Dekrit Presidem/Panglima Tertinggi ABRI untuk membubarkan Majelis Konstituante dan memberlakukannya kembali UUD 45 dalam rangka melaksanakan demokrasi terpimpin. Sementara konfrontasi Indonesia terhadap apa yang disebut proyek “Malaynesia Raya” menyusul keluarnya Indonesia dari keanggotaan PBB. Dalam analisis dunianya. dan membuat dunia tak lagi semata ditentukan di Washington atau Moskow. terkuat di belahan bumi selatan. nefos terdiri dari kekuatan rakyat di negeri terjajah dan yang baru merdeka. Berulangkali Bung Karno menegaskan bahwa “revolusi Indoensia adalah revolusi kiri”. Di dalam praktek dalam setiap pengambil keputusan penting Bung Karno meminta dukungan atau kemudian didukung oleh kekuatan politik Nas–A–Kom–Mil. yang tinggi sekali kadar harga diri nasionalismenya dalam rumusan pembangunan ekonomi berdikari. Pencapaiannya dalam dua tahap. Sidang Umum MPRS selalu mendukung ide besar Bung Karno untuk membangun Sosialisme à la Indoenesia yang juga ditafsirkan sebagai sosialisme religius. Pagelaran kekuatan nefos ini pernah dilakukan dalam pesta olahraga nefos atau Ganefo (Games of the New Emerging Forces) di Jakarta menyusul keluarnya Indonesia dari keanggotaan IOC Olympiade. sejatinya itulah kurun waktu Bung Karno berkuasa sebagai presiden penuh dalam sistem presidensial kabinet. mungkin Soekarno lebih dekat ke RRC dan Korea Utara. Konsep pembangunan berdikarinya Bung Karno sebenarya pisau bermata dua.

sementara media massa makin membeberkan berbagai konflik antara PKI versus TNI-AD. bahwa SuperSemar adalah kudeta. Sedang golongan C terlibat secara tidak langsung. yakni PSI dan partai Murba. Selain kedekatan PKI dengan bung Karno makin menyolok. Dalam sejarah kemerdekaan. Menyusul kejatuhan Soekarno melalui Surat Perintah 11 maret l966 yang segera diikuti dengan penyingkiran orang-orang Soekarno dari semua badan dan lembaga penting negara. Untuk mempertanggung-jawabkan terjadinya pembunuhan massal terhadap PKI dan para pengikutnya. bagi tapol perempuan ke Plantungan. Untuk membenarkan anggapan bahwa penyebab pokok keterlibatan orang dalam G30S . Nasib serupa dialami dua partai Marxis. Beberapa hari setelah Murba dibubarkan. Rupanya kini mulai terungkap dari wawancara Letjen Purn Kemal Idris di tabloid Symponi no. nasib serupa akan menimpa juga PKI. minggu akhir Pebruari 2000. meletuslah tragedi nasional gerakan militer G30S 1965. peranan ketiga partai ini sama-sama besar dan penting. Yang jelas. Tanpa dukungan PKI yang memiliki pengaruh besar di kalangan kaum buruh dan tani. karena ia sendiri yang ditugasi Soeharto untuk memimpin pasukan tanpa identitas mengepung Istana Merdeka. G30S l965 segera diikuti dengan politik pembasmian sampai seakar-akarnya PKI dan semua pengikutnya. Ada yang berpendapat bahwa G30S itu sasaran antaranya ialah PKI. terdiri Cl yakni mereka yang memiliki anteseden terlibat dalam “Peristiwa Madiun 1948” dan golongan C2 yakni simpatisan serta golongan C3 yakni massa. dan golongan B laki-laki umumnya diasingkan ke pulau Buru. Saya khawatir. Untuk menyelesaikan kasus tahanan politik G30S yang masih hidup. Juga kini mungkin anda mulai mengikuti terungkapnya bahan demi bahan baru yang mungkin akan membantu pengkajian ulang dan penulisan kembali kasus G30S 1965. sedang sasaran utamanya Soekarno.“setan desa” memang membuat gelisah banyak kalangan non-kom. Pada era demokrasi terpimpin inilah pemerintah membubarkan Masyumi. mengatakan kepada saya: “Sampai hari ini dua partai Marxis telah dibubarkan. Apa yang terjadi anda semua tahu. para kader. tinggal satu lagi PKI. maka para tahanan dibagi dalam golongan A yakni mereka yang terlibat langsung dalam gerakan dan tahanan B yakni mereka. Peristiwanya sendiri telah menyejarah. “Revolusi telah memakan putra-putranya sendiri. Menteri Pendidikan yang dikenal dari Partai Murba. tapi mereka tidak pernah bisa bekerjasama atau bersatu. di momentum Perang Dingin memuncak. Soekarno akan lebih mudah ditumbangkan. maka pemerintah berkepentingan untuk menetapkan mereka secara keseluruhan terlibat pada pembrontakan G30S/PKI yang berjalan sehari itu. yang terlibat secara tidak langsung. kata Bung Karno akhir 1965.” Maka tak lama kemudian. Kemudan golongan A diadili. entah kapan. satu dari 4 partai pemenang pemilu 1955 yang pengaruhnya besar di luar Jawa. Dan pada 13 Maret l966 sebenarnya Presiden Soekarno mencabut kembali surat perintah 11 Maret 66 yang memberikan pelimpahan kekuasaan kepada Jendral Soeharto.

I. Bahkan dengan keluarnya Ketetapan MPRS no. maka “Demokrasi Pancasila”nya Soeharto yang secara tak langsung mengaku diri berposisi “ekstrem tengah”. maksudnya Islamnya DI. karena orang tak tahu lagi apa itu komunisme yang harus dilawannya. karena di negara hukum manusia hanya bisa dihukum karena perbuatannya. Berbagai tulisan Dawam Rahardjo mungkin banyak merangsang para pembaca. bangunnya LSM-LSM dan terbitnya sejumlah majalah dan buku buku baru sungguh memberikan warna lain dalam dunia pemikiran di Indonesia. Bung Karno merumuskan revolusi Indonesia adalah kiri karena anti imperialisme. Bahkan siapa saja yang kedapatan menyimpan buku-buku itu. Ajaran Soekarno. terutama dari kalangan kaum terpelajar dan mahasiswa. Begitu kami bebas dari tahanan akhir l979. maksudnya komunis dan ekstrem kanan. Soekarno resminya masih Presiden R. kami melihat LP3ES dengan PRISMA-nya sebagai “pembawa pemikiran kiri” berhadapan dengan teori modernismenya para teknokrat pembangunan. kapitalisme dan feodalisme. bukan karena pikirannya. dengan mudah dicap disusupi PKI atau dipengaruhi ajaran kaum “kiri baru” yang datang ke Indonesia melalui dunia Barat kapitalis. maka Sidang Umum MPRS Juni l966 itu juga mengeluarkan Ketetapan MPRS no. terkena pasal “subversif” Sejak itu melawan komunisme bagaikan melawan “hantu”. Soekarno terkena vonis juga. kata almarhum Mahbub Djunaidi.. Jika pada era Demokrasi Terpimpin. di dalamnya jelas terbaca “pertempuran teori” antara modernisme yang menguasai pemikiran kaum teknokrat birokrat versus penganut teori . maka perlawanan masyarakat sesungguhnya selalu ada bagaikan air mengalir. dan mengingatkan bahwa “manusia tidak bisa membunuh ide”. Apalagi ketika kami sempat membaca penerbitan Lembaga Studi Pembangunan Adi Sasono dan karya bersama Adi Sasoni dan Sritua Arief. Juni l966. mengingat musuh utamanya adalah ekstrem kiri. Sejumlah literatur dan penerbitan apapun dan manapun yang dianggap penguasa “berbau Marxisme” lenyap dari toko buku dan rak perpustakaan. untuk mempelajari lebih jauh tentang Marxisme. Kritik terhadap konsep pembangunan Orde Baru. Namun korbannya kongkret juga. terutama generasi muda. Marhaenisme yang ia jelaskan sebagai “penerapan Marxisme dalam situasi dan kondisi Indonesia”. namun kekuasaannya praktis sudah tidak di tangannya lagi. “Ketergantungan dan Keterbelakangan” (LSP 1981). otomatis menjadi barang terlarang juga. setiap gerakan moral atau politis yang mengecam Orde Baru. Walau kediktaturan Orde Baru demikian kokohnya.25/l966. 25 tahun 1966 tentang pelarangan mempelajari dan menyebarluaskan ideologi Komunisme/Marxisme dan Leninisme. Pada Desember l965 Presiden Soekarno sudah melihat tanda-tanda ini. sedangkan sokogurunya adalah tritunggal Militer–Teknokrat–Pengusaha. munculnya study club di kalangan mahasiswa.sesungguhnya karena mereka menganut pola berpikir Marxisme. bersokoguru kaum buruh dan tani.

demokrasi. mengungkapkan data sejarah penting. André Gunder Frank. Masa emerintahan transisi B. penulis buku “Power in Motion” atau “Modal Berpindah – Modal Berkuasa” dalam peluncuran bukunya di Jakarta awal 1999. Belum lagi kalau kita membaca di berbagai media. muncul di mana-mana. demokrasi. Dan ambruklah ekonomi nasional Indonesia.dependencianya tokoh Neo Marxis Amerika Latin. Soal siapa yang disebut golongan kiri atau kanan seakan lenyap dari pembicaraan sehari-hari. Pada tahun 80-an. bahwa pada Desember 1997 para investor asing serempak dan serentak memindahkan modalnya keluar dari Indonesia. Kolusi dan Nepotisme (KKN) pada 21 mei 1998. Demikian cepatnya peristiwa ini terjadi. Mereka lupa bahwa untuk keberhasilan reformasi tidak hanya penggantian presiden. sesungguhnya merupakan pendidikan politik massa tentang bagaimana berdemokrasi. Begitu juga gerakan tani untuk mempertahankan tanah garapannya atau hak miliknya. Krisis Moneter dan Kriris Kepercayaan pada Pemerintah berpasangan. Kekalahan aksi mereka merupakan pendidikan politik juga. perempuan dan juga anti-militerisme dan anti modal-asing mulai menjadi agenda mereka. bagaimana menjunjung tinggi HAM dan bagaimana memperjuangkan keadilan sosial. perempuan. sampai para mahasiswa sendiri dan masyarakat umum tidak percaya. Pada tahun 90-an tema tema HAM. maka tampak mulai tampilnya tema kemiskinan akibat pembangunannya Orde Baru dan Tata Sistem Ekonomi Dunia. Anehnya.J.000 rupiah. Terkesan. Maka kurs l dollar AS dalam tempo pendek meroket mendekati 20. civil society. keberhasilan tertentu aksi-aksi mereka belum atau tidak meningkatkan mereka ke dalam gerakan baru yang lebih terorganisasi secara modern. Dr Jeffrey A. Orang lebih menjumpai pada pertarungan pemikiran dan sikap yang mau mewujudkan masyarakat sipil yang demokratis dan berkeadilan melawan mereka yang sering disebut sisa-sisa kekuatan Orde Baru yang mempertahankan status . Di sini pemikiran Gramsci dan mazhab Frankfurt mulai banyak bicara. Sementara itu gerakan buruh membela nasib sosial-ekonominya dalam tuntutan kenaikan UMR dan syarat-syarat kerja lebih baik mulai muncul di sana-sini. Akibatnya para mahasiswa dan para pejuang reformasi tidak segera tahu apa yang harus segera direformasi dulu. gerakan mereka masih terbatas untuk isu tertentu. lingkungan dan buruh mulai marak.Winters. mengapa Presiden Soeharto yang begitu kuat akhirnya bisa dijatuhkan oleh gelombang aksi-aksi massa demokratis yang dipelopori mahasiswa dengan ujung tombak melawan Korupsi. tema tema mengenai HAM. Habibie dan awal pemerintahan baru di bawah Presiden Gus Dur. tulisan Arief Budiman yang terus terang memihak sosialisme. Orang tak habis pikir. Kalau memperhatikan LSM-LSM di Indonesia pada tahun l970-an. Prof. tetapi juga penggantian aparat birokrasi sipil dan militer yang bakal menjamin sukses reformasi. Mereka lebih asyik tenggelam dalam euphoria. Kondisi ini mungkin dampak dari kuatnya represi rezim dan tuduhan komunis atas setiap aksi yang melibatkan massa banyak.

Dulu pada tahun l960-an. maka mulai muncul banyak keraguan akan kebenaran keharusan sejarah menurut teori MDH itu. tentu tak terlarang. apalagi pelaksanaan HAM. revolusi Oktober Rusia 1917 dan revolusi l945 Indonesia. bila orang-orang awam seperti kami mencoba bicara mengenai masalah perubahan sejarah dan peranan para pelaku pengubah sejarah. revolusi Amerika 1775 dan revolusi Perancis 1789. Bicara perihal revolusi. jalannya terseok-seok dan dan kadang mundur balik.quo. Mencari Wisdomnya Pelajaran Sejarah Rasanya judul ini terkesan “sok” . setelah pergulatan ratusan tahun barulah mencapai demokrasi. Namun. maka revolusi revolusi di Inggris 1688. Juga ditariknya pasukan Belanda meninggalkan Indonesia 1949 dan penyelesaian masalah Indonesia–Belanda melalui Konferensi Meja Bundar hanya mungkin terjadi berkat tekanan internasional melalui PBB. Demikian juga penyelesaian masalah Irian Barat. bahkan juga yang terjadi dalam ekses-ekses sejarah revolusi kemerdekaan. dapat diselesaikan melalui perundingan berkat tekanan dunia melalui PBB. dipahami sebagai dampak Perang Dingin. Orang percaya akan kebenaran MDH. Tetapi itu pun toch masih dengan beberapa catatan. Peristiwa tragedi G30S tahun l965 dan jatuhnya Bung Karno. Mengapa demikian? Mengapa revolusi di abad XX kurang berhasil? Banyak jawaban tentu. serta belum dapat dikatakan mencapai demokrasi. Dan masa pertarungan ini agaknya masih jauh dari final pertandingan. bahwa sejarah masyarakat memang benar berkembang menurut urutan : Oer komunis – Perbudakan – Feodalisme – Kapitalisme – Sosialisme. apapun predikat di belakangnya. jika kita simak faktor-faktor pendorong perubahan di Indonesia selama ini. tak sedikit anak-anak muda percaya hari esok Indonesia pasti sosialisme. Tetapi begitu kubu sosialis pecah antara Uni Sovyet vs RRC. tidak mungkin Indonesia memproklamasikan kemerdekaaannya pada l7 agustus l945. Sementara itu. menurut Bapak Soebadio Sastrosatomo. dan kemudian RRC menuduh Uni Sovyet sebagai menempuh jalan balik atau restorasi ke kapitalisme (paling tidak telah membangun kapitalisme negara) dan kemudian konflik antar sesama “negara sosialis” juga bisa antagonistik. jelas urusannya para pakar. supremasi hukum dan pelaksanaan HAM. faktor luar atau internasional agaknya selalu lebih dominan ketimbang faktor dalam negeri. saat Bung Karno menganjurkan agar Marxisme dipelajari di semua lembaga pendidikan termasuk mata pelajaran dalam indoktrinasi Manipol-Usdek. Sedang revolusi Tiongkok tahun 1911. Peristiwa “lengsernya Soeharto” mengacu kepada pandangan Jeffrey Winters. Materialisme Dialektika Historis yang sering dipidatokan Bung Karno sebagai “keharusan sejarah”. supremasi hukum. Misalnya kalau tidak ada faktor Perang Dunia ke–2 dengan kemenangan Front Demokrasi dan kekalahan Fasisme. yang nyaris membawa ke tepi perang besar. agaknya tak lepas dari pengaruh keputusan para investor yang serentak dan serempak memindahkan modalnya dari Indonesia Desember .

mereka memang berlawan. walau mereka tercatat sebagai pelopor gerakan reformasi. Sekali pun tak juga di kesampingkan peranan parpol di jaman Demokrasi Terpimpin yang anti Soekarno maupun peranan PDI Megawati yang direpresi habis-habisan oleh Suharto. Namun orang pun sulit menyangkal bahwa di momen-momen perubahan sejarah. Lalu bagaimana dengan peranan para pelaku perubahan di Indonesia sendiri. bahwa kita kini sudah mulai merasakan dampak atau akibat teori putus asa itu. TI JI TI BEH. Misalnya sebelum l928 telah ada partaipartai. Pelajaran sejarah lainnya yang mungkin perlu kita amati ialah sisi lain dari gerakan reformasi damai yang bisa terjadi bila gerakan reformasi itu dihambat. atau mati satu mati semua. juga jangan dianggap sepi putusan massa yang sepanjang hidupnya direpresi terus-menerus. walau kemudian partai banyak memanfaatkannya. atau berjaya satu berjaya semua. sampai ada yang menyebut Revolusi Pemuda. maka akan tak terbayang akibatnya. Dalam dua peristiwa kejatuhan. kecuali Partai Rakyat Demokrasi (PRD) yang kader pimpinannya kebanyakan datang dari gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa sekarang boleh kecewa. birokrasi lama tetap masih bercokol di semua bidang. toh yang bisa main dalam tindak lanjutnya adalah partai-partai peraih suara dalam pemilu Juni 1999.1997. 17-8-1945. Mungkin ada benarnya pendapat. tapi produk gerakan pemuda. ambillah peranan partai politik sebagai instrumen modern penggerak dan pengorganisasi massa? Orang tak mungkin menyangkal kontribusi partai dalam penyadaran massa dan menggerakkan massa dalam perjuangan kebangsaan dan kemerdekaan. partai politik tidak muncul sebagai pendorong kejatuhan keduanya maupun pembela keduanya secara terang-terangan. Peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia. mengingat mahasiswa umumnya selalu mengklaim dirinya. sedangkan militer. partai-partai terkesan kurang atau absen tampil ke depan. Kaum buruh putus-asa membakar perusahaan. Jika yang terakhir ini sampai terjadi berulangkali. ARTINYA MUKTI SIJI MUKTI KABEH. Presiden Soekarno pada l965 dan Presiden Soeharto pada l998. kekuatan moral dan bukan kekuatan politik. Tetapi peristiwa “Sumpah Pemuda 28-10-1928’ bukan produk partai. maka menurut sementara media tidak mustahil mereka melaksanaan ajaran Pangeran Sambernyowo dari jaman kerajaan kerajaan di Jawa Tengah. sebaliknya juga MATI SIJI MATI KABEH. Ajaran itu berbunyi. kaum tani merampas hasil perkebunan atau massa membakar bangunan umum adalah “ideologi ti ji ti beh” juga walau dari posisi yang berlawanan. Jika benar kekuatan status-quo yang bertahan terus sampai pada puncak frustrasi. Partai-partai secara resmi baru bangun setelah Maklumat X Wakil Presiden Hatta pada 3 november 1945 yang menyerukan rakyat agar membentuk partai-partai politik. Sebaliknya. Dalam batas-batas tertentu. Tetapi itu sudah “pas”. para kroni Soeharto pun relatif masih bertahan di segala bidang. maka kesalahan harus ditimpakan kepada partai-partai politik pro reformasi yang . jelas peranan pemuda sangat menonjol dan memimpin.

serta besar dan kompleksnya kasus-kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi hampir di semua wilayah Indonesia. Pemerintah K. yang jika tak diselesaikan dengan bijak dan tepat. bahwa dunia ketiga . yakni Indonesia Baru yang demokratik.anak muda.H. Namun siapa pun yang memerintah di Indoensia sekarang. maka mereka menjumpai suatu keasyikan romantisme tersendiri bila terlibat dalam aksi yang keras. Adburrachman Wahid–Megawati Sukarnoputri berjanji akan melanjutkan terus reformasi damai secara konstitusional menuju apa yang disebut Gus Dur sebagai “proklamasi kemerdekaan” yang kedua. Mudah-mudahan apa yang pernah diingatkan oleh Riswanda Imawan pakar UGM pada tahun l994-an. Jaman itu apabila satu orang dari pasukan membuat kesalahan. akan sulit berkembang sebagai potensi bangsa yang utuh dan produktif. Siapa pun tak bisa menyangkal. Kadang orang pun melihat akan romantisme radikal gerakan mahasiswa atau anak. Sementara itu. Karena mereka terlalu lama menderita akibat tekanan dan kekerasan penguasa. barangkali menarik untuk dikaji buku “PERALIHAN KE KAPITALISME DI DUNIA KETIGA” ditulis oleh Bonnie Setiawan (penerbitan Insist Press. Kini kita boleh bergembira bahwa pengalaman komisi kebenaran dan rekonsiliasi nasional yang pernah terjadi di Afrika-Selatan dan beberapa negara lain tengah dipelajari oleh Pemerintah maupun kalangan masyarakat. maka semua keluarga penduduk satu desa kena hukuman dalam bentuk semacam kerja bakti atau sebenarnya kerja paksa untuk kepentingan tentara Jepang. KPA dan Pustaka Fajar Nopember 1999). dan belum memahaminya sebagai buah aksi mereka di masa lalu.gagal memberikan pendidikan politik pada massanya. Namun komisi kebenaran dan rekonsiliasi jelas akan lebih sulit ketimbang apa yang pernah terjadi di negara-negara lain. manakala masih kuatnya “budaya tumpas kelor” atau “politik melenyapkan lawan politik” seperti jamannya Amangkurat dari dinasti raja Mataram. Warisan sejarah ini ialah buah dari berbagai tindak pelanggaran berat HAM di masa lalu. Sementara generasi kakak saya. mau tak mau menghadapi warisan sejarah masa lampau yang secara tak sadar menawan generasi sekarang. maka seluruh anggota pasukan kena “sa seng” atau hukuman. Mereka kadang bahkan “kecewa” bila isu aksinya sudah diambil alih oleh parpol atau pemerintah. bahwa rekonsiliasi nasional masih sulit diwujudkan. Karena itu proses mulai bekerjanya komisi kebenaran dan rekonsiliasi itu harus serempak dengan adanya gerakan kebudayaan bangsa melawan “ideologi tumpas kelor” atau yang sejatinya mau menegasi realita masyarakat pluralis Indonesia. berkeadilan sosial dan maju. mengingat luas wilayah Indonesia dan besarnya jumlah penduduk. sering mengingatkan pula bahwa adanya “sistem hukuman kolektif” seperti terhadap mantan tapol/napol kasus G30S l965 dan keluarganya. Satu keluarga dalam desa gagal mengumpulkan “iles-iles” atau semacam ubi yang konon diperuntukkan industri perang Jepang. secara tak langsung juga warisan jaman pendudukan fasisme Jepang.

tak kurang pentingnya ketegasannya dalam membantu militer mereformasi diri – atau mereposisi – hingga proses penghapusan dwifungsi akan benar-benar berakhir pada 2004. maka mereka itu logisnya akan menempatkan dirinya ke dalam gerakan demokratisasi dan reformasi secara damai. Tentu saja. Program partai yang lebih serius memperjuangkan pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan perimbangan keuangan pusat–daerah yang adil. . justru peralihan ke kapitalisme itu RUANG GELAP bagi ilmuwan sosial Indonesia. dengan tetap memperjoangkan kepentingan dasar rakyat Indonesia agar tidak menjadi korban atau tumbal proses perubahan tersebut. ketimbang aktif memperjuangkan kepentingan massa pemilih seperti yang dijanjikannya semasa pemilu. apabila nanti akan ada kelompok-kelompok yang menyebut atau disebut golongan kiri. Saya percaya pasti banyak yang kecewa atas ketidak-sanggupan dan ketidak-mampuan saya untuk “meramal” bagaimana kira kira peranan golongan kiri di masa depan. atau bila secra sempit mungkin dapat disebut “golongan yang gigih memperjuangkan keadilan sosial”. Mengingat penampilan dan kinerja partaipartai peraih suara dalam pemilu Juni 1999 lebih terkesan cenderung berebut posisi di birokrasi dan posisi kepala-daerah serta pimpinan badan legislatif daerah. tapi buku itu memang menjelaskan secara jelas peta perjalanan teori. Mau tak mau semua parpol yang masih ingin memperoleh suara rakyat di pemilu mendatang harus menjadikan masalah neo-liberalisme itu sebagai agenda penting yang tidak boleh dikesampingkan begitu saja.teori peralihan ke kapitalisme yang diperlukan dalam diskusi diskusi generasi muda pemikir masa kini setelah menyaksikan bagaimana dalam sidang World Trade Organization (WTO) di Seattles beberapa waktu yang lalu untuk pertama kali terjadi perlawanan luas dari negara-negara sedang berkembang bersama perutusan NGO-NGO. banyak organisasi massa dan LSM yang kini mulai menyoalkan bagaimana bangsa Indonesia menghadapi neo-liberalisme yang semakin berkuasa. Barangkali saja dalam waktu dekat ini. Saya berpendapat. Orang bahkan ada yang mulai menunjuk pada pengalaman Malaysia atau bahkan Kuba. Ini bukan resensi. Dalam pengantar buku itu diakui. serta yang berhasil mendekati dan merangkul gerakan mahasiswa. pandangan saya yang dapat saya sampaikan dalam forum ini. maka peta politik 2004 nanti mungkin akan mengalami perubahan besar. Kongkretnya.termasuk Indonesia sedang mengalami proses peralihan ke kapitalisme. buruh dan tani serta gerakan perempuan. Penutup Demikianlah. suatu jaringan kerja sama kelompok-kelompok sosial demokrasi yang akan mungkin mengisi kekosongan label golongan kiri tersebut. mungkin akan menjadi kunci perolehan suara mereka nanti.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->