Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ilmu akustik adalah ilmu yang berkaitan dengan pembangkitan, perambatan dan penangkapan energi dalam bentuk gelombang suara di suatu medium (Caruthers, 1977). Ilmu Akustik Kelautan adalah ilmu yang berkaitan dengan pembangkitan, perambatan dan penangkapan energi dalam bentuk gelombang suara pada medium air laut, untuk berbagai pemanfaatan di laut. Metode akustik merupakan proses-proses pendeteksian target di laut dengan mempertimbangkan proses-proses perambatan suara; karakteristik suara

(frekuensi, pulsa, intensitas); faktor lingkungan / medium; kondisi target dan lainnya. Aplikasi metode ini dibagi menjadi 2, yaitu sistem akustik pasif dan sistem akustik aktif. Salah satu aplikasi dari sistem aplikasi aktif yaitu Sonar yang digunakan untuk penentuan batimetri. Sonar (Sound Navigation And Ranging) berupa sinyal akustik yang diemisikan dan refleksi yang diterima dari objek dalam air (seperti ikan atau kapal selam) atau dari dasar laut. Bila gelombang akustik bergerak vertikal ke dasar laut dan kembali, waktu yang diperlukan digunakan untuk mengukur kedalaman air, jika c juga diketahui (dari pengukuran langsung atau dari data temperatur, salinitas dan tekanan). Ini adalah prinsip echo-sounder yang sekarang umum digunakan oleh kapal-kapal sebagai bantuan navigasi. Echosounder komersil mempunyai lebar sinar 30-450 vertikal tetapi untuk aplikasi khusus (seperti pelacakan ikan atau kapal selam atau studi lanjut dasar laut) lebar sinar yang digunakan kurang 50 dan arahnya dapat divariasikan. Walaupun menunjukkan pengaruh temperatur, salinitas dan tekanan pada laju bunyi dalam air laut (1500 ms-1) relatif kecil dan sedikit perubahan pada c dapat menyebabkan kesalahan pengukuran kedalaman dan kesalahan sudut akan menambah keburukan resolusi (Supangat, 2003). Teknik echo-sounding untuk menentukan kedalaman dan pemetaan dasar laut bertambah maju dengan berkembangnya peralatan sonar seperti SeaBeam dan Hydrosweep yang merupakan sistem echo-sounding multi-beam yang

menentukan kedalaman air di sepanjang swath lantai laut di bawah kapal penarik, menghasilkan peta-peta batimetri yang sangat detail. Sidescan imaging system, sperti GLORIA (Geological Long Range Inclined Asdic), SeaMARC, dan TOBI (Towed Oceand Bottom Instrument) menghasilkan fotografi aerial yang sama atau citra-citra radar, menggunakan bunyi atau microwave. Echo-sounding banyak juga digunakan oleh nelayan karena ikan menghasilkan echo, dan kawanan ikan atau hewan lain dapat dikenali sebagai lapisan-lapisan sebaran dalam kolom air (Supangat, 2003).

1.2 Tujuan Praktikum Tujuan dari praktikum Akustik Kelautan acara 1 adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui definisi dan fungsi dari echosounder 2. Mengetahui bagian-bagian dari echosounder 3. Mampu menunjukkan cara kerja echosounder serta menggunakannya

1.3 Manfaat Praktikum Manfaat yang didapatkan setelah melakukan praktikum Akustik Kelautan acra 1 adalah sebagai berikut: 1. Praktikan dapat memahami definisi dan fungsi dari echosounder 2. Praktikan dapat memahami bagian-bagian dari echosounder 3. Praktikan dapat menunjukkan cara kerja echosounder serta

menggunakannya

1.4 Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum Akustik Kelautan acara 1 dilaksanakan pada: Hari, tanggal : Rabu, 11 April 2011 Waktu Tempat : 15.30 16.30 WIB : Ruang Teater Kampus Marine Station Teluk Awur Jepara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi Echosounder Echosounder adalah alat untuk mengukur kedalaman air dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar air.

Echosounder merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengetahui kedalaman laut, sebagai alat pengukur jarak dengan menggunakan ultra sonic. Tetapi pada dasarnya alat ini sama seperti sonar karena data yang diterima oleh alat ini merupakan hasil dari pemancaran gelombang bunyi yang kemudian memantul dan diterima oleh penerima sinyal dari alat tersebut. Ada dua jenis echosounder yang digunakan antara lain : a. Single-Beam Echosounder Jenis echosounder ini adalah suatu alat yang biasanya digunakan untuk mengukur kedalaman laut atau suatu perairan dengan menggunakan pancaran tunggal sebagai pemancar dan penerima sinyal dari geombang bunyi. Singlebeam ini memiliki susunan yang terdiri dari transciever yang terpasang pada lambung kapal atau terpasang pada sisi bantalan kapal. Transciever ini kemudian mengirimkan suatu sinyal acoustic dengan frekuensi tinggi yang secara langsung melepaskan gelombang suara dibawah kolom air pada kapal. Single-Beam ini termasuk alat yang mudah digunakan akan tetapi informasi yang didapatkan hanya area yang dilewati oleh kapal saja (Hamdani, 2012).

http://cdn-u.kaskus.us/39/xj5kda6w.jpg Single-beam echo sounder merupakan alat ukur kedalaman air yang menggunakan pancaran tunggal sebagai pengirim dan penerima sinyal gelombang suara. Sistem batimetri dengan menggunakan single beam secara umum mempunyai susunan : transciever (tranducer/reciever) yang terpasang pada lambung kapal atau sisi bantalan pada kapal. Sistem ini mengukur kedalaman air secara langsung dari kapal penyelidikan. Transciever yang terpasang pada lambung kapal mengirimkan pulsa akustik dengan frekuensi tinggi yang terkandung dalam beam (gelombang suara) secara langsung menyusuri bawah kolom air. Energi akustik memantulkan sampai dasar laut dari kapal dan diterima kembali oleh tranciever. Transciever terdiri dari sebuah transmitter yang mempunyai fungsi sebagai pengontrol panjang gelombang pulsa yang dipancarkan dan menyediakan tenaga elektris untuk besar frekuensi yang diberikan (Hastami, 2010). Transmitter ini menerima secara berulang-ulang dlam kecepatan yang tinggi, sampai pada orde kecepatan milisekon. Perekaman kedalaman air secara berkesinambungan dari bawah kapal menghasilkan ukuran kedalamn beresolusi tinggi sepanjang lajur yang disurvei. Informasi tambahan seperti heave (gerakan naik-turunnya kapal yang disebabkan oleh gaya pengaruh air laut), pitch (gerakan kapal ke arah depan mengangguk) berpusat di titik tengah kapal), dan roll (gerakan kapal ke arah sisi-sisinya (lambung kapal) atau pada sumbu memanjang) dari sebuah kapal dapat diukur oleh sebuah alat dengan nama Motion Reference

Unit (MRU), yang juga digunakan untuk koreksi posisi pengukuran kedalaman selam proses berlangsung (Hastami, 2010). b. Multi-Beam Echosounder Jenis echosounder ini dapat menentukan kedalaman suatu perairan dengan luas area yang lebih besar lagi dibandingkan denga single-beam. Alat ini secara umum memancarkan pulsa atau gelombang bunyi langsung ke arah dasar laut lalu akan dipantulkan kembali. Beberapa pancaran dari bunyi secara elektronis terbentuk menggunakan teknik pemrosesan dari gelombang bunyi yang nantinya dapat diketahui sudut beamnya. Multi-Beam Echosounder dapat menghasilkan data batimetri dengan resolusi tinggi ( 0,1 m akurasi vertikal dan kurang dari 1 m akurasi horisontalnya) (Hamdani, 2012).

http://www.teara.govt.nz/files/p5965niwa.jpg

http://www.imr.no/images/bildearkiv/2010/02/ms70_hi_2_.jpg_1/en?size=large

Multibeam

echosounder

merupakan

suatu

instrument

yang

dapat

memetakan (mendapatkan data rekaman) lebih dari satu titik lokasi di dasar

perairan dalam satu ping dan mempunyai kemampuan perekaman dengan resolusi yang tinggi dari pada echosounder konvensional. Secara efektif, setiap narrow sigle-beam yang dipancarkan, ditempatkan pada titik lokasi yang berbeda di dasar perairan ketika perekaman. Titik lokasi perekaman di dasar perairan tersebut telah diatur dan disusun penempatannya tergantung dari array transduser yang digunakan, yang pada umumnya posisi titik lokasi perekaman adalah tegak luruh dengan alur kapal. Area perekaman tersebut disebut swath width (L-3 Communications SeaBeam Instruments, 2000) (Hastami, 2010).

2.2 Bagian-Bagian Echosounder

a. Time base Time base berfungsi sebagai penanda pulsa listrik untuk mengaktifkan pemancaran pulsa yang akan dipancarkan oleh transmitter melalui transducer. Suatu perintah dari time base akan memberikan saat kapan pembentuk pulsa bekerja pada unit transmitter dan receiver (FAO, 1983). b. Transmitter Transmitter berfungsi menghasilkan pulsa yang akan dipancarkan. Suatu perintah dari kotak pemicu pulsa pada recorder akan memberitahukan kapan pembentuk pulsa bekerja. Pulsa dibangkitkan oleh oscillator kemudian diperkuat oleh powe amplifier, sebelum pulsa tersebut disalurkan ke transducer (FAO, 1983).

c. Transducer Fungsi utama dari transducer adalah mengubah energi listrik menjadi energi suara ketika suara akan dipancarkan ke medium dan mengubah energi suara menjadi energi listrik ketika echo diterima dari suatu target. Selain itu fungsi lain dari transducer adalah memusatkan energi suara yang akan dipantulkan sebagai beam (MacLennan dan Simmonds, 2005). Pulsa ditransmisikan secara bersamaan oleh keempat kuadran tetapi sinyal diterima oleh masing-masing kuadran dan diproses secara terpisah. Keempat kuadran diberi label ad. Sudut pada satu bidang dibedakan oleh perbedaan fase (ab) dan (cd), jumlah sinyal (a+c) dibandingkan dengan jumlah sinyal (b+d). Sudut di dalam bidang tegak lurus terhadap yang pertama adalah sama dibedakan oleh perbedaan fase antara (a+b) dan (c+d). Kedua sudut tersebut mendefinisikan arah target yang spesifik (MacLennan dan Simmonds, 2005). Kesulitan yang dihadapi untuk mengeliminir faktor beam pattern dapat diatasi dengan menggunakan Split beam method. Metode ini menggunakan receiving transducer yang dibagi menjadi 4 kuadran. Pemancaran gelombang suara dilakukan dengan full beam yang merupakan penggabungan dari keempat kuadran dalam pemancaran secara simultan. Selanjutnya, sinyal yang memancar kembali dari target diterima oleh masing-masing kuadran secara terpisah, output dari masing-masing kuadran kemudian digabungkan lagi untuk membentuk suatu full beam dengan 2 set Split beam. Target tunggal diisolasi dengan menggunakan output dari full beam sedangkan posisi sudut target dihitung dari kedua set spli beam (MacLennan dan Simmonds, 2005). Transducer dengan sistem akustik Split beam ini pada prinsipnya terdiri dari empat kuadran yaitu Fore, Aft, Port dan Starboard transducer. Transducer Split beam memiliki beam yang sangat tajam (100) dan mempunyai kemampuan menentukan posisi target dalam bentuk beam suara dengan baik yaitu dengan mengukur beda fase dari sinyal echo yang diterima oleh kedua belah transducer (Simrad, 1993). d. Receiver Receiver berfungsi menerima pulsa dari objek dan display atau recorder sebagai pencatat hasil echo. Sinyal listrik lemah yang dihasilkan oleh transducer

setelah echo diterima harus diperkuat beberapa ribu kali sebelum disalurkan ke recorder. Selama penerimaan berlangsung keempat bagian transducer menerima echo dari target, dimana target yang terdeteksi oleh transducer terletak dari pusat beam suara dan echo dari target akan dikembalikan dan diterima oleh keempat bagian transducer pada waktu yang bersamaan (Diktat Kuliah Pendidikan Survey Hidrografi ITB - Pertamina 1989). Split beam echosounder modern memiliki fungsi Time Varied Gain (TVG) di dalam sistem perolehan data akustik. TVG berfungsi secara otomatis untuk mengeliminir pengaruh attenuasi yang disebabkan oleh geometrical sphreading dan absorpsi suara ketika merambat di dalam air (Diktat Kuliah Pendidikan Survey Hidrografi ITB - Pertamina 1989). e. Recorder Recorder berfungsi untuk merekam atau menampilkan sinyal echo dan juga berperan sebagai pengatur kerja transmitter dan mengukur waktu antara pemancaran pulsa suara dan penerimaan echo atau recorder memberikan sinyal kepada transmitter untuk menghasilkan pulsa dan pada saat yang sama recorder juga mengirimkan sinyal ke receiver untuk menurunkan sensitifitasnya (FAO, 1983).

2.3 Fungsi Echosounder Echosounder adalah alat untuk mengukur kedalaman air dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar air. Adapun kegunaan dasar dari echosounder yaitu menentukan kedalaman suatu perairan dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar air. Data tampilan juga dapat dikombinasikan dengan koordinat global berdasarkan sinyal dari satelit GPS yang ada dengan memasang antena GPS (jika fitur GPS pada echosounder ada) (Jane, 2011). Teknik echo sounder yang dipakai untuk mengukur kedalaman laut, bisa dibuat alat pengukur jarak dengan ultra sonic. Pengukur jarak ini memakai rangkaian yang sama dengan Jam Digital dalam artikel yang lalu, ditambah dengan rangkaian pemancar dan penerima Ultra Sonic (Hastami, 2010).

Kedalaman dasar laut dapat dihitung dari perbedaan waktu antara pengiriman dan penerimaan pulsa suara. Dengan pertimbangan sistim Side-Scan Sonar pada saat ini, pengukuran kedalaman dasar laut (bathymetry) dapat dilaksanakan bersama-sama dengan pemetaan dasar laut (Sea Bed Mapping) dan pengidentifikasian jenis-jenis lapisan sedimen dibawah dasar laut (subbottom profilers). Pengukuran kedalaman laut dengan echosounder biasanya dikenal dengan sebutan hydro acoustic karena prinsip kerja yang digunakan adalah dengan memantulkan suara ke dasar laut (Kunarso, 2009).

2.3.1

Prinsip Kerja Echosounder Perangkat akustik ini memiliki beberapa komponen seperti pemancar,

penerima gelombang dan beberapa peralatan pendukung lainnya seperti komputer dan GPS (Global Positioning Sistem). Prinsip kerjanya, yaitu pada transmiter terdapat tranduser yang berfungsi untuk merubah energi listrik menjadi suara. Kemudian suara yang dihasilkan dipancarkan dengan frekuensi tertentu. Suara ini dipancarkan melalui medium air yang mempunyai kecepatan rambat sebesar, v=1500 m/s. Ketika suara ini mengenai objek, misalnya ikan maka suara ini akan dipantulkan. Sesuai dengan sifat gelombang yaitu gelombang ketika mengenai suatu penghalang dapat dipantulkan, diserap dan dibiaskan, maka hal yang sama pun terjadi pada gelombang ini (Jane, 2011).

Ketika gelombang mengenai objek maka sebagian enarginya ada yang dipantulkan, dibiaskan ataupun diserap. Untuk gelombang yang dipantulkan energinya akan diterima oleh receiver. Besarnya energi yang diterima akan diolah dangan suatu program, kemudian akan diperoleh keluaran (output) dari program tersebut. Hasil yang diterima berasal dari pengolahan data yang diperoleh dari penentuan selang waktu antara pulsa yang dipancarkan dan pulsa yang diterima. Dari hasil ini dapat diketahui jarak dari suatu objek yang deteksi (Jane, 2011).

Selain digunakan untuk mencari posisi ikan, alat ini juga digunakan untuk mengetahui kedalaman laut dan dapat juga digunakan untuk studi perikanan, yaitu untuk mengetahui keberadaan / distribusi, ukuran, tingkah laku dari hewan dan tumbuhan.

Cara Pemakaian : 1. Memasang alat dan cek keadaan alat sebelum memulai pengambilan data. 2. Pastikan kabel single beam dan display sudah terpasang. 3. Pasang antena, jika diperlukan input satelit GPS. 4. Masukkan single beam kedalam air. 5. Set Skala kedalaman yang ditampilkan display. 6. Set frekuensi yang akan digunakan 200 Hz untuk laut dangkal atau 50 Hz untuk laut dalam atau dual untuk menggunakan keduanya. 7. Set input data air yaitu salinitas, temperatur dan tekanan air. 8. Pengambilan data. 9. Pemrosesan data. (Jane, 2011). Langkah-langkah Echosounder dalam bekerja: 1. Transmitter menghasilkan listrik dengan frekuensi tertentu, kemudian disalurkan ke transducer;

10

2. Transducer akan mengubah energi listrik menjadi suara, kemudian suara tersebut dalam berbentuk pulsa suara dipancarkan (biasanya dengan satuan ping; 3. Suara yang dipancarkan tersebut akan mengenai obyek (target), kemudian suara itu akan dipantulkan kembali oleh obyek (dalam bentuk echo) dan diterima kembali oleh alat transducer;

4. Oleh transducer, echo tersebut diubah kembali menjadi energi listrik; 5. Lalu diteruskan ke receiver dan oleh mekanisme alat (yang cukup rumit), terjadi pemrosesan dengan menggunakan echo signal processor dan echo integrator; 6. Pemrosesan didukung oleh peralatan lainnya; komputer; GPS (Global Positioning System), Colour Printer, software program, dan kompas; 7. Hasil akhir berupa data siap diinterpretasikan untuk bermacam-macam kegunaan yang diinginkan. (Kunarso, 2009).

11

BAB III MATERI DAN METODE


3.1 Alat dan Bahan

No 1.

Nama Alat dan Bahan Echosounder Alat

Kegunaan untuk air mengukur dengan tekanan dari

kedalaman mengirimkan gelombang

permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya

sampai echo kembali dari dasar air 2. Alat tulis Untuk mencatat

3.2 Cara Kerja Echosounder a. Cara pemakaian atau pemasangan echosounder 1. Memasang alat dan cek keadaan alat sebelum memulai pengambilan data. 2. Pastikan kabel single beam dan display sudah terpasang. 3. Pasang antena, jika diperlukan input satelit GPS. 4. Masukkan single beam kedalam air. 5. Set Skala kedalaman yang ditampilkan display. 6. Set frekuensi yang akan digunakan 200 Hz untuk laut dangkal atau 50 Hz untuk laut dalam atau dual untuk menggunakan keduanya.
12

7. Set input data air yaitu salinitas, temperatur dan tekanan air. 8. Pengambilan data. 9. Pemrosesan data.

b. Langkah-langkah Echosounder dalam bekerja 1. Transmitter menghasilkan listrik dengan frekuensi tertentu, kemudian disalurkan ke transducer; 2. Transducer akan mengubah energi listrik menjadi suara, kemudian suara tersebut dalam berbentuk pulsa suara dipancarkan (biasanya dengan satuan ping; 3. Suara yang dipancarkan tersebut akan mengenai obyek (target), kemudian suara itu akan dipantulkan kembali oleh obyek (dalam bentuk echo) dan diterima kembali oleh alat transducer; 4. Oleh transducer, echo tersebut diubah kembali menjadi energi listrik; 5. Lalu diteruskan ke receiver dan oleh mekanisme alat (yang cukup rumit), terjadi pemrosesan dengan menggunakan echo signal processor dan echo integrator; 6. Pemrosesan didukung oleh peralatan lainnya; komputer; GPS (Global Positioning System), Colour Printer, software program, dan kompas; 7. Hasil akhir berupa data siap diinterpretasikan untuk bermacam-macam kegunaan yang diinginkan.

13

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil

Bagian-bagian dari echosounder adalah sebagai berikut:

14

a. Time base Time base berfungsi sebagai penanda pulsa listrik untuk mengaktifkan pemancaran pulsa yang akan dipancarkan oleh transmitter melalui transducer. Suatu perintah dari time base akan memberikan saat kapan pembentuk pulsa bekerja pada unit transmitter dan receiver. b. Transmitter Transmitter berfungsi menghasilkan pulsa yang akan dipancarkan. Suatu perintah dari kotak pemicu pulsa pada recorder akan memberitahukan kapan pembentuk pulsa bekerja. Pulsa dibangkitkan oleh oscillator kemudian diperkuat oleh powe amplifier, sebelum pulsa tersebut disalurkan ke transducer c. Transducer Fungsi utama dari transducer adalah mengubah energi listrik menjadi energi suara ketika suara akan dipancarkan ke medium dan mengubah energi suara menjadi energi listrik ketika echo diterima dari suatu target. Selain itu fungsi lain dari transducer adalah memusatkan energi suara yang akan dipantulkan sebagai beam. d. Receiver Receiver berfungsi menerima pulsa dari objek dan display atau recorder sebagai pencatat hasil echo. e. Recorder Recorder berfungsi untuk merekam atau menampilkan sinyal echo dan juga berperan sebagai pengatur kerja transmitter dan mengukur waktu antara

15

pemancaran pulsa suara dan penerimaan echo atau recorder memberikan sinyal kepada transmitter untuk menghasilkan pulsa dan pada saat yang sama recorder juga mengirimkan sinyal ke receiver untuk menurunkan sensitifitasnya.

4.2 Pembahasan 4.2.1 Echosounder Echosounder adalah alat untuk mengukur kedalaman air dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar air. Echosounder merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mengetahui kedalaman laut, sebagai alat pengukur jarak dengan menggunakan ultra sonic. Tetapi pada dasarnya alat ini sama seperti sonar karena data yang diterima oleh alat ini merupakan hasil dari pemancaran gelombang bunyi yang kemudian memantul dan diterima oleh penerima sinyal dari alat tersebut. Adapun kegunaan dasar dari echosounder yaitu menentukan kedalaman suatu perairan dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar air. Data tampilan juga dapat dikombinasikan dengan koordinat global berdasarkan sinyal dari satelit GPS yang ada dengan memasang antena GPS (jika fitur GPS pada echosounder ada). Prinsip kerjanya, yaitu pada transmiter terdapat tranduser yang berfungsi untuk merubah energi listrik menjadi suara. Kemudian suara yang dihasilkan dipancarkan dengan frekuensi tertentu. Suara ini dipancarkan melalui medium air yang mempunyai kecepatan rambat sebesar, v=1500 m/s. Ketika suara ini mengenai objek, misalnya ikan maka suara ini akan dipantulkan. Sesuai dengan sifat gelombang yaitu gelombang ketika mengenai suatu penghalang dapat dipantulkan, diserap dan dibiaskan, maka hal yang sama pun terjadi pada gelombang ini .

16

4.2.2

Aplikasi Echosounder dalam Kelautan Kegunaan echosounder adalah untuk menunjang eksplorasi dan eksploitasi

sumberdaya laut, dapat digunakan teknologi akustik bawah air (underwater acoustics). Teknologi ini dikenal luas dengann sebutan teknologi akustik yang tidak lain adalah penggunaan gelombang suara yang dalam dunia navigasi disebut Sonar atau Echosounder. Kegunaan lain dari echosounder adalah untuk penentuan kedalaman air dalam pelayaran, jenis dan komposisi dasar laut (lumpur, pasir, kerikil, karang dan sebagainya), untuk penentuan contour dasar laut, lokasi kapal berlabuh atau pemasangan bangunan laut, untuk eksplorasi minyak dan mineral didasar laut, mempelajari proses sedimentasi dan untuk pertahanan keamanan (pendeteksian kapal-kapal selam dengan pemasangan buoysystem). Sedangkan aplikasi Echosounder dalam bidang kelautan adalah sebagai Survey hidrogravi untuk monitoring alur pelayaran, pengamatan pasang surut, penentuan posisi horizontal titik fix menggunakan GPS dengan metode differensial real time kinematik.

17

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan Echosounder adalah alat untuk mengukur kedalaman air dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar air. Bagian-bagian Echosonder terdiri atas time Base, transmitter, transduser, receiver, recorder. Fungsi Echosounder adalah sebagai alat untuk mengukur kedalaman air dengan mengirimkan tekanan gelombang dari permukaan ke dasar air dan dicatat waktunya sampai echo kembali dari dasar air. Aplikasi Echosounderdalam bidang kelautan adalah sebagai Survey hidrogravi untuk monitoring alur pelayaran, pengamatan pasang surut, penentuan posisi horizontal titik fix menggunakan GPS dengan metode differensial real time kinematik.

5.2 Saran 1. Sebaiknya saat praktikum pengenalan alat-alat, alatnya dibawa dan diberikan penjelasan yang selengkap-lengkapnya. 2. Sebaiknya asisten dan praktikan lebih serius lagi dalam melaksanakan praktikum.

18

DAFTAR PUSTAKA
Caruthers, J.W. 1977. Fundamental of Marine Acoustics. Elsevier Oceanography series: 18. Elsevier Scientific Publishing Company, New York. Diktat Kuliah Pendidikan Survey Hidrografi ITB - Pertamina 1989L-3 Communications SeaBeam Instruments, 2000 FAO. Committee on Fisheries,1983. FAO WORLD CONFERENCE on FISHERIES MANAGEMENT AND DEVELOPMENT. Food and

agriculture Organization of the United Nations Hastami, F. 2010. Praktikum Gelombang: Echosounder

http://hastami.blog.uns.ac.id/files/2010/05/tamiiartikelechosounder.pdf. Diakses : Jumat, 13 April 2012 (20:56) Hamdani, A. 2012. http://akustikkelautan.blogspot.com/2012/03/penggunaanenergi-acoustic-didalam-laut.html . Diakses: Jumat, 13 April 2012 (20:58) Jane, E. 2011. http://www.scribd.com/doc/51724480/laporan1-alat . Diakses: Jumat, 13 April 2012 (21:00) Kunarso. 2009. Catatan Kuliah Mata Kuliah Akustik Kelautan. Maclenna David N, Simmond Jhon.2005.Fisheries Acoustics Theory and Practice. ISBN063205994X, 9780632059942. Simrad, 1993. Sea Fisheries Research Institute (South Africa), South Africa. Marine & Coastal Management. Universitas Michigan Supangat; Widodo S. P.; Nining S. N.; "Aplikasi Model Kopel hidrodinamika ekologi untuk Prediksi Kolam Air hangat, front Salinitas dan Zona Konvergensi", Simposium Meteorologi Pertanian VI, Bogor, 9-10 September 2003.

19