Anda di halaman 1dari 45

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Produk hortikultura merupakan produk pangan yang masih dapat melakukan respirasi setelah dilakukan pemanenan. Buah dan sayur merupakan makanan yang umumnya dikonsumsi dalam keadaan segar yang bearti tidak mengalami kerusakan baik secara mekanis, akibat serangan serangga, kapang dan hama lainnya. Buah dan sayur dapat mengalami penurunan mutu akibat dari reaksi etilen, respirasi dan transpirasi. Respirasi merupakan reaksi biokimia yang dapat merusak mutu dari produk hortikultura. Kerusakan mutu ini harus dapat diminimalisir dengan penyimpanan yang benar. Penyimpanan yang benar harus dapat menghambat laju respirasi, etilen dan transpirasi sehingga dapat memperpanjang umur simpan. Proses respirasi dapat dihambat dengan penyimpanan menggunakan suhu rendah dengan chilling maupun freezing. Penyimpanan pada suhu ruang tidak dapat menghambat proses respirasi sehingga umur simpan pada produk hortikultura akan semakin pendek. Penyimpanan juga dapat dilakukan dengan menggunakan kemasan yang berfungsi sebagai penghambatan laju respirasi pada produk hortilutura. Pengemasan juga dapat mempertahanan mutu produk sehingga dapat

memperpanjang umur simpan. Untuk dapat mempetahankan mutu maka produk tomat disimpan dengan menggunakan plastik PP yang berlubang atau tidak berlubang, karton berlubang dan tidak berlubang serta besek yang berlubang dan tidak berlubang. 1.2 TUJUAN Mengetahui pengaruh penyimpanan dengan berbagai kemasan (plastik PP, karton dan besek) terhadap mutu produk.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Faktor yang mempengaruhi pemasakan / pematangan Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pemasakan dan pematangan produk hortikultura adalah respirasi dan produksi etilen. Pada buah yang tergolong klimakterik akan menunjukkan peningkatan CO2 sehingga akan terjadi proses pemasakan atau pematangan. Buah klimakterik akan menghasilkan produksi etilen yang lebih banyak dibandingkan dengan produksi buah non klimakterik. Buah non klimakterik akan menurunkan produksi CO2 (Santoso dan Purwoko, 1993). Respirasi merupakan sebuah proses biologis menyerap oksigen yang akan digunakan pada proses pembakaran (oksidasi) dan kemudian akan menghasilkan energi diikuti oleh pengeluaran sisa-sisa pembakaran yaitu berupa gas karbondioksida dan air. Proses dari respirasi terdiri dari 3 tahapan yaitu polisakarida akan dirombak menjadi gula-gula sederhana, oksidasi dari gula sederhana menjadi asam piruvat dan transformasi dari asam-asam piruvat dan asam-asam organic lainnya menjadi monosakarida, air dan energi. Laju respirasi yang tinggi akan menurunkan umur simpan. Laju respirasi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti umur dan jenis komoditas, penaikan atau penurunan suhu sebesar 100C (Q10), konsentrasi O2 yang rendah dan CO2 yang tinggi dan produksi etilen. Proses respirasi dapat menyebabkan kebusukan. Suhu yang rendah dapat menurunkan laju respirasi dan akan mempertahankan umur simpan serta mempertahankan mutu. Konsentrasi O2 yang rendah dan CO2 yang tinggi dapat menyebabkan respirasi yang rendah sehingga akan menunda proses pematangan buah. Proses etilen (C2H4) akan mempercepat buah klimakterik dengan menstimulasi respirasi. Perubahan-perubahan kimia yang terjadi akibat respirasi akan menghasilkan CO2, H2O, dan etilen yang jika diakumulasikan akan menyebabkann reaksi pembusukan. Pengaruh O2 dan CO2 dalam penyimpanan memiliki hubungan yang akan mempengaruhi laju pematangan, pembusukan dan produksi etilen. Tingkat CO2 harus diatur sesuai dengan sifat fisiologis buah, jika terlalu tinggi maka akan

merusak buah tersebut. Berikut merupakan kelompok komoditas hortikultura berdasarkan laju respirasinya.

Gambar 2.1 Kelompok komoditas Hortikultura berdasarkan laju respirasi Sumber : Santoso dan Purwoko, 1993

Menurut Santoso dan Purwoko (1993), faktor yang mempengaruhi kecepatan respirasi digolongkan menjadi 2 faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri dari tingkat perkembangan, komposisi kimia jaringan, ukuran produk, lapisan alami dan jenis jaringan. Faktor eksternal terdiri dari suhu, etilen, ketersediaan oksigen, karbondioksida, zat pengatur tumbuh, kerusakan fisik. Tingkat perkembangan ditentukan oleh ukuran komoditi, jika semakin lama semakin membesar maka jumlah CO2 akan semakin meningkat maka kecepatan respirasi akan terus turun berdasarkan unit berat. Pada waktu pemasakan kecepatan respirasi akan turun sedangkan pada waktu pemasakan maka kecepatan respirasi akan meningkat setelah itu baru perlahan-lahan akan menurun ini terjadi pada buah klimakterik (Santoso dan Purwoko, 1993). Pada komposisi kimia jaringan, respirasi anaerob terjadi karena kelarutan oksigen yang rendah. Kondisi ini menyebabkan pengeluaran CO2 lebih besar dibandingkan dengan O2 yang dikonsumsi. Sehingga diperlukan penyimpanan dengan kontrol atmosfir. Berdasarkan ukuran produk, kecepatan respirasi lebih tinggi pada produk yang berukuran lebih kecil. Ukuran yang kecil mempunyai permukaan yang luas sehingga dapat memudahkan oksigen untuk berdifusi masuk ke dalamnya sama halnya dengan transpirasi (Santoso dan Purwoko, 1993).

Pada lapisan alami, dapat dilihat bahwa jika produk memiliki kulit lapisan yang baik akan memperlambat kecepatan respirasi karena oksigen akan sulit masuk berdifusi ke dalamnya. Pada jenis jaringan, yang muda akan lebih aktif untuk bermetabolisme sehingga laju respirasi akan berjalan dengan cepat (Santoso dan Purwoko, 1993). Pada pengaruh suhu, 0OC 35OC laju respirasi akan berjalan cepat pada setiap kenaikan 10OC. ini akan berpengaruh pada reaksi biologis dan kimia selama proses respirasi. Respirasi yang meningkat akan menyebabkan kandungan gula yang tinggi sehingga akan mempercepat pelepasan CO2. Pada buah klimakterik, etilen akan mempercepat pemasakan yang dikombinasikan dengan suhu tinggi (Santoso dan Purwoko, 1993). Ketersediaan oksigen yang banyak akan memicu kecepatan respirasi tetapi jika ketersediaan oksigen diatur menjadi lebih rendah maka kecepatan reaksi akan menurun sedangkan jika CO2 tersedia cukup tinggi maka akan memperpanjang umur simpan dari komoditas tersebut yang akan menghambat laju respirasi. Senyawa atau zat pengatur tumbuh harus dapat mempercepat atau memperlambat reaksi respirasi. Jenis luka juga dapat mempengaruhi laju respirasi pada komoditas tersebut (Santoso dan Purwoko, 1993). 2.2. Klimaterik Berdasarkan pola respirasinya, buah-buahan dapat digolongkan menjadi dua, buah klimaterik dan buah nonklimaterik (Rukmana, Tanpa Tahun). Buah klimaterik merupakan buah yang dapat matang sempurna meskipun dipanen pada saat buah tersebut belum cukup tingkat ketuaannya. Buah klimaterik ditandai dengan adanya produksi CO2 yang meningkat secara tajam pada akhir proses pematangan buah. Buah yang termasuk ke dalam buah klimaterik adalah apel, jambu, kesemek, mangga, melon, pepaya, sawo, tomat, sirsak, dan semangka. Buah nonklimaterik merupakan buah yang tidak dapat matang secara optimal meskipun sudah dilakukan proses pemeramam, ditandai dengan lonjakan produksi CO2 yang rendah dan relatif semakin menurun. Buah nonklimaterik antara lain adalah anggur, nanas, rambutan, jeruk, leci dan stroberi (Soesanto, 2006). Menurut Grierson dan Kader (1986), proses respirasi pada buah tomat hijau hingga matang akan melalui proses perubahan warna, aroma, komposisi,

rasa hingga tekstur pada buah tomat tersebut. Pematangan akan dipengaruhi oleh reaksi sintetis dan juga degradatif yang secara alami terjadi dalam buah tomat. Proses tersebut akan meningkat hingga pada titik puncak klimaterik hingga kemudian akan menurun secara perlahan. Karbohidrat dan asam organik merupakan sumber karbon yang berperan selama proses respirasi berlangsung. Reaksi sintesis etilen akan meningkat hingga mencapai titik puncaknya pada hari ke-10 dan kemudian akan menurun secara perlahan. 2.3 Kandungan dan Komposisi Gizi Buah Tomat dalam 100 gram buah
Kandungan Gizi Jenis Tomat Buah Muda Buah Masak 1 Energi (kal) Protein (gr) Lemak (gr) Karbohidrat (gr) Serat (gr) Abu Calsium (mg) Fosfor (mg) Zat besi (mg) Natrium (mg) Kalium (mg) Vitamin A Vitamin B1 (mg) Vitamin B2 (mg) Niacin (mg) Vitamin C (mg) Air (gr) 23,00 2,00 0,70 2,30 5,00 27,00 0,50 320,00 0,07 30,00 93,00 20,00 1,00 0,30 4,20 5,00 27,00 0,50 1.500,00 0,06 40,00 94,00 2 19,00 1,00 0,20 4,10 0,80 0,60 18,00 18,00 0,80 4,0 266,00 735,00 0,06 0,04 0,60 29,00 15,00 1,00 0,20 3,50 7,00 15,00 0,40 600,00 0,05 10,00 94,00 Sari Buah

Sumber: Direktorat Gizi Depkes R.I (1981) Food and Nutrition Research Center-Hand Book No. 1 Manila (1964)

2.4 Standar Mutu Tomat Segar


No. Jenis Uji Satuan Mutu I 1 2 Kesamaan sifat, varietas Tingkat ketuaan seragam Tua, tapi tidak terlalu matang Persyaratan Mutu II Seragam Tua, tapi tidak terlalu matang

dan tidak lunak 3 4 5 6 Ukuran Kotoran Kerusakan (jumlah/jumlah) Busuk (jumlah/jumlah) % % seragam Tidak ada Maks. 5 Maks. 1

dan tidak lunak seragam Tidak ada Maks. 10 Maks. 1

Sumber: SNI.01-3162-1992

2.5 Manfaat tomat Menurut Haryoto (Tanpa Tahun), Kandungan karotin pada buah tomat berfungsi sebagai pembentuk provitamin A dan lycoppen yang berfungsi sebagai salah satu faktor pencegah kanker. Buah tomat juga berfungsi untuk mencegah atau mngobati radang usu buntu, membantu penyembuhan penyakit rabun senja, mengobati penyakit yang disebabkan oleh kekurangan vitamin C, membantu mengatasi penyakit gigi dan gusi, mempercepat penyembuhan luka, mengobati jerawat, mencegah pembentukan batu empedu pada saluran kencing, membantu penyembuhan penyakit skorbut, menjaga stamina, serta membantu penyembuhan penyakit lever, encok, asma, dan TBC. Buah tomat juga dapat dimakan sebagai buah segar, sebagai minuman, buah tomat dapat dijadikan minuman panas atau dingin, seperti juice atau sari buah dan dapat pula diolah menjadu saus. 2.6 Cara Penyimpanan Produk sayur dan buah merupakan bahan pangan yang sangat mudah rusak. Kerusakan fisik, mekanis, dan mikrobiolosis merupakan kerusakan yang dialami oleh bahan pangan tersebut. Faktor penyimpanan dapat menjadi salah satu faktor yang berfungsi untuk memperpanjang umur simpan dari produk buah dan sayur tersebut. Cara penyimpan dengan suhu rendah dapat memperpanjang umur simpan dari produk buah dan sayur tersebut. Pada proses pendinginan, aktivitas mikroba akan dapat diperlambat sehingga umur simpan produk menjadi lebih lama. Proses pendinginan, proses respirasi juga berjalan lebih lambat dan aktivitas atau reaksi enzimatis akan dapat dicegah ketika produk buah dan sayur disimpan pada suhu dingin. Penyimpanan dingin juga memiliki beberapa kendala kepada produk buah dan sayur yang disimpan. Produk pangan yang disimpan terlalu lama akan

menyebabkan produk kehilangan air sayuran menjadi layu dan kering karena air dalam jaringan mengalami penguapan dan terjadi proses transpirasi. Proses metabolisme pada sayur dan buah yang disimpan pada suhu dingin akan berjalan secara tidak normal sehingga akan terjadi adanya cacat, bercak kecoklatan, penyimpanangan warna pada bagian dalam, ataupun kematangan yang tidak sempurna pada produk yang disimpan pada suhu dingin tersebut. Pada saat sayur dan buah dikeluarkan dari ruang dingin, produk sayur dan buah tersebut akan mengalami proses kondensasi, air kondensasi harus dikurangi karena dapat menyebabkan kebusukan pada produk. Produk yang dikeluarkan dari ruang penyimpanan tidak boleh mengalami terlalu banyak keringat untuk mencegah kebusukan tersebut (Soesanto, 2006). 2.7 Faktor Faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Penyimpanan Produksi yang berlebih dalam bidang pertanian adalah masalah yang cukup mengerikan bagi para petani dan pebisnis di bidang pertanian atau agrobisnis. Hal ini sangat masuk akal karena hasil dari pertanian adalah hasil yang tidak dapat tahan lama dan sangat cepat mengalami kerusakan, termasuk sayuran dan buah buahan seperti tomat. Ketika sayur sayuran dan buah buahan disimpan terlalu lama, maka besar kemungkinan akan terjadi kerusakan sehingga mutu dari hasil pertanian tersebut akan menurun. Mutu yang menurun akan membuat jatuhnya harga sehingga kerugian dapat terjadi. Oleh sebab itu, dengan adanya kemajuan teknologi, bidang pascapanen menjadi lebih diperhatikan dan saat ini mampu mengatasi beberapa masalah yang diperhatikan pada saat penyimpanan (Cahyono, 2008). Cahyono (2008) melanjutkan bahwa teknik penyimpanan yang dilakukan untuk mempertahankan mutu dan kesegaran dari buah tomat dalam jangka waktu lama pada prinsipnya adalah meminimalisir adanya respirasi. Respirasi yang dimaksud adalah pernapasan yang dilakukan oleh buah klimaterik seperti tomat. Selain respirasi, hal lain yang perlu ditekan adalah transpirasi dan produksi etilen sehingga proses enzimatis dan kematangan dari buah tomat menjadi terhambat/tertunda. Sehingga, waktu pemanenan/pemetikan dari buah tomat menjadi sangat berpengaruh terhadap mutu buah tomat itu sendiri. Mutu dari buah tomat dapat menjadi rendah apabila waktu pemetikkan/pemanenan tidak tepat.

Semakin lama waktu pemanenan, maka semakin rendah mutu dari tomat yang dihasilkan karena tomat yang lebih lama dipanen artinya sudah terlalu matang/masak. Tomat yang sudah terlalu matang memiliki umur simpan yang lebih pendek, terlebih lagi memiliki rasa yang kurang baik. Tetapi, buah tomat yang dipetik/dipanen ketika masih terlalu muda pun tidak baik karena ukuran dan rasa dari buah tomat masih belum optimal. Tanda tanda fisik secara umum yang dapat dilihat untuk menilai kriteria keoptimalan dari buah tomat adalah warna kulit, ukuran buah, keadaan daun tanaman, dan batang tanaman. Warna dari kulit buah tomat yang ingin dipanen sebaiknya telah berubah dari hijau menjadi kekuningan. Ukuran dan bentuk tomat sebaiknya dipilih yang berbentuk seperti layaknya tomat. Selain itu, bagian tepi daun tua dan batang dari tanaman sebaiknya telah mengering ketika memetik buah tomat. Perubahan warna, tekstur, berat, dan tingkat dari kesegaran dari tomat akan berubah pada saat pascapanen. Oleh sebab itu, hal ini perlu diperhatikan dalam rangka strategi penyimpanan buah tomat. Pendinginan dalam suhu dingin sewaktu waktu memang diperlukan, misalnya pada saat penyimpanan sebelum pemasaran. Tetapi, tomat merupakan buah yang sangat sensitif terhadap suhu dingin. Tomat yang mengalami chilling injury akan gagal untuk matang sehingga warna dari kulit buah serta rasa yang dihasilkan oleh tomat menjadi tidak sempurna. Warna dari kulit tomat menjadi tidak rata dan berantakan, kemudian akan mengalami softening, browning, dan pembusukan. Keadaan tomat menjadi lebih buruk apabila disimpan pada suhu di bawah 10C selama lebih dari dua minggu atau disimpan pada suhu 5C selama lebih dari enam sampai delapan hari (Naika et al., 2005). Menurut Pracaya (1998), buah tomat yang berada pada tingkatan warna hijau pada saat pemetikan dapat diperam di ruangan yang memiliki suhu 12.8C 21.1C serta kelembaban yang diatur dalam kisaran 90% 95%. Ketika buah tomat disimpan pada suhu diatas 29.4C, maka buah itu menjadi tidak baik pada saat kematangannya. Sedangkan buah tomat yang berada pada tingkatan warna peralihan pada saat pemetikan dapat disimpan pada suhu 26.7C saat siang hari dan suhu 18.3C pada saat malam hari. Dengan kondisi seperti ini, tomat memerlukan 9 hari untuk matang sampai berwarna merah sempurna.

Kualitas tomat berdasarkan Pracaya (1998) dibagi menjadi tiga kelas mutu, yaitu Mutu I, Mutu II, dan Mutu III. Selain itu ada pembagian kelas mutu untuk varietas tomat yang lebih kecil. a. Mutu I Tomat yang masuk pada mutu I memiliki berat lebih dari 150 g, warnanya kemerahan (setengah masak), mulus dan mengkilat, bentuk bulat dan keras, beraroma baik, sehat, serta tidak ada cacat, baik dari keretakan, luka mekanis, maupun luka akibat sinar matahari b. Mutu II Berat buah untuk mutu II adalah sekitar 100 g 150 g dengan kualitas yang sebenarnya tidak terlalu kalah dengan mutu I. c. Mutu III Berat buah untuk mutu III kurang dari 100 g dengan kualitas yang kalah dengan mutu I dan II karena bisa saja ada cacat. Untuk varietas tomat yang lebih kecil, penggolongannya hanya terbagi dalam dua kelas mutu. Mutu I memiliki berat 100 g atau 50 g dan mutu II beratnya 50 g atau 25 g. Pengangkutan buah tomat dari kebun ke gudang, atau dari kebun langsung ke pasar haruslah dilakukan dengan hati hati. Jarak pengangkutan yang jauh beresiko bagi buah tomat untuk mengalami kerusakan, misalnya adanya gesekan atau benturan antar buah. Untuk masalah efisiensi, untuk tujuan jarak dekat sebaiknya menggunakan angkutan darat seperti truk, pick up, ataupun kereta api. Tetapi untuk pengiriman jarak jauh sebaiknya menggunakan kapal laut atau pesawat udara untuk menghindari kerusakan yang terjadi. Selain kendaraan, pada saat pengangkutan, hal hal lain yang berhubungan dengan kondisi tomat itu sendiri seperti yang telah disebutkan sebelumnya haruslah tetap diperhatikan (Cahyono, 2008).

BAB III METODE KERJA


3.1 Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah timbangan, kemasan (PP, karton dan besek), silica, kain, kromatometer, tekstur analyzer, sealer, pipet ukur 10ml, Erlenmeyer 25ml dan 50ml, buret, corong, spatula, kertas saring, gelas ukur 10 ml, gelas beaker, aluminium foil, blender, dan kertas saring. Bahan-bahan yang digunakan adalah tomat yang masih berwarna hijau dan larutan indophenol untuk menghitung kadar vitamin C, aquades, larutan asam askorbat, dan larutan metaphosphoric acid-acetic acid. 3.2 Prosedur Kerja 1. Sampel tomat yang masih hijau dicuci bersih dan ditimbang. 2. Sampel dikemas dengan menggunakan masing-masing kemasann yang telah tersedia yaitu plastik PP yang kemudian di-seal, besek maupun karton. 3. Sampel disimpan pada suhu ruang. Perlakuan Sampel Penyimpanan 1 2 3 4 5 6 Tomat Tomat Tomat Tomat Tomat Tomat Suhu ruang Suhu ruang Suhu ruang Suhu ruang Suhu ruang Suhu ruang Kemasan Plastik PP Plastik PP berlubang Karton Karton berlubang Besek Besek berlubang

4. Sampel yang telah merah atau berubah warna diamati dengan menggunakan kromatometer, tekstur analyzer dan mengukur kadar vitamin C setiap sampel. 3.2.2 Analisa warna 1. Sampel tomat yang digunakan bersihkan terlebih dahulu. 2. Kromameter dikalibrasi untuk dapat menganalisa warna. 3.Tomat yang telah dibersihkan diukur dengan menggunakan kromameter.

10

4. Nilai L, a, dan b hasil perhitungan warna tomat dicatat dan dilakukan 3 kali dengan tempat yang berbeda. 3.2.2 Analisa Tekstur 1. Texture analyzer diatur dengan menggunakan probe berbentuk cylinder yang diatur jaraknya. 2. Tomat diletakkan dengan bagian yang rata pada texture analyzer, kemudian ditusuk dengan cara menjalankan program. 3. Pengukuran dilihat berdasarkan hardness dan cohesiveness. 3.2.3 Pengukuran vitamin C dengan menggunakan metode indophenol 3.2.3.1 Standarisasi Larutan Dye 1. 5 ml larutan metaphosphoric acid-acetic acid dimasukkan ke dalam tabung erlenmeyer 50 ml. 2. Ditambahkan 2 ml larutan asam askorbat standard ke erlenmeyer tersebut. 3. Larutan indophenol dimasukkan ke dalam buret. 4. Kemudian dilakukan titrasi hingga terbentuk warna merah muda. 5. Lalu blanko disiapkan dengan 7 ml larutan metaphosphoric acid-acetic acid yang dititrasi yang sama pada tahapan no 3 sampai 5. 3.2.3.2 Analisa Sampel 1. 5 ml larutan metaphosphoric acid-acetic acid dimasukkan ke dalam tabung erlenmeyer 50 ml. 2. Ditambahkan 2ml sampel ke tabung erlenmeyer tersebut. 3. Titrasi dilakukan dengan menggunakan larutan indophenol hingga terbentuk warna merah muda.

11

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Perubahan Yang Terjadi Selama Penyimpanan Saat penyimpanan, buah dapat mengalami susut fisik (penurunan bobot buah), susut kualitas (terjadi perubahan bentuk, warna, dan tekstur) serta susut nilai gizi (penurunan kadar asam organik dan vitamin) (Tranggono dan Sutardi, 1990). 4.1.1 Berat Kelompok Jenis Kemasan Perlakuan Pengamatan keTomat ke1

Berat (g)

99.36

2 (kontrol)

83.45

97.86

4 1 plastik tidak dilubangi

87.4

73.63

DATA HILANG!!

98.6822

96.61

12

85.7066

70.68

56.62

55.78

70.84

5
2 plastik dilubangi

(kontrol)

74.42

52.6

65.8344

65.401

65.8223

kardus

tidak dilubangi

107.19

13

114.78

119.01

120.05

5 (kontrol)

99.83

103.64

109.81

114.08

4 4 5 (kontrol)

104.863

84.183

1 4 kardus dilubangi 0 2

112.7584

92.6831

14

104.6256

4 (kontrol)

93.4875

114.1138

111.169

85.1823

101.0175

5 4 4

99.5889

81.2032

(kontrol) 1
77.9682

(kontrol)

besek

tidak dilubangi

2 0

107.066

68.9336

70.6585

15

95.3881

93.0761

62.1575

65.8825

4 4 1 (kontrol)

91.0353

64.4086

121.55

2 6 besek dilubangi 0 3

90.39

56.45

86.64

16

5
95.62

(kontrol)

55.109

84.24

72.95

95.65

Tabel 4.1 Penurunan Berat dari Lama penyimpanan Tomat dan Beda Jenis Tempat

Dilihat dari tabel 4.1, semakin lama penyimpanan tomat akan terjadi penurunan berat. Hal ini sesuai dengan literatur yang didapatkan karena hilangnya air pada tomat. Menurut Santoso (tanpa tahun), kehilangan air pada bahan tersimpan selama periode penyimpanan tidak hanya menyebabkan kehilangan berat, tetapi dapat juga menyebabkan kerusakan yang akhirnya menyebabkan penurunan kualitas. Kehilangan air dengan kadar yang besar akan menyebabkan pengkeriputan dan pelayuan pada komoditi hortikultura. Kehilangan air dapat dicegah dengan cara pengaturan suhu dan kelembaban ruang simpan dengan tepat. Sebagian besar air tersebut akan menguap selama penyimpanan. Kehilangan air atau pelepasan air oleh jaringan hidup dikenal sebagai transpirasi. Dengan mengurangi laju transpirasi melalui peningkatan kelembaban relatif udara, menurunkan suhu, dan mengurangi gerakan udara dalam ruang penyimpanan, maka pelayuan dapat dicegah. Kehilangan air yang menyebabkan kehilangan berat pada umumnya dapat mencapai 3 sampai dengan 15 persen, tergantung pada jenis komoditi dan kondisi penyimpanan. Pada kondisi penyimpanan yang baik,

17

kehilangan air dapat hanya berkisar 3 sampai 6 persen, bahkan tomat dapat kehilangan air hanya 0,9 persen dan mentimun 2,5 persen. 4.1.2 Warna Kelompok Jenis Kemasan Perlakuan Pengamatan keTomat ke1

Hue

-69.539

2 (kontrol)

-78.878

-77.059

-66.433

plastik

tidak dilubangi

-21.53

-19.513

-61.152

-78.721

82.893

plastik

dilubangi

-62.44

18

-62.3

-82.19

-64.22

5
-62.34

(kontrol)

76.21

72.86

82.58

76.99

-65.182

kardus

tidak dilubangi

-69.957

-49.718

19

-71.99

5 (kontrol)
-69.849

81.746

91.081

47.305

4 4 5 (kontrol)

71.023

64.874

-69.739

2 4 kardus dilubangi 0 3

-74.988

64.355

4 (kontrol)

???????

20

???????

-87.192

66.591

72.846

5 4 4 (kontrol) 1 (kontrol)

64.211

74.32

-72.18

-74.313

besek

tidak dilubangi

-70.163

-71.623

-71.58

28.043

21

83.293

84.53

4 4 1 (kontrol)

58.383

77.65

-68.2967

-75.5533

0 6 besek dilubangi

-74.5833

-77.6433

5 (kontrol)
-69.8633

26.18

22

72.74

-32.95

-84.63

Tabel 4.2 Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Warna Tomat

Dilihat dari tabel 4.2, warna tomat yang tadinya berwarna hijau lama kelamaan menjadi warna orange. Hal ini menunjukkan bahwa tomat masih melakukan proses respirasi dan menyebabkan proses pematangan. Adanya perubahan warna menjadi kekuningan menunjukkan adanya perubahan warna yang disebabkan karena adanya degradasi klorofil atau proses sintesis dari pigmen-pigmen yang terdapat dalam tomat (Muchtadi dan Sugiyono, 1992). Tomat adalah salah satu contoh buah klimakterik yaitu dipanen pada saat belum matang tapi akan terjadi peningkatan respirasi dan produksi etilen pada saat pematangan berlangsung selama proses penyimpanan.Pemasakan pada buah merupakan hasil perubahan beberapa komponen seluler yang dapat terjadi secara individu maupun saling berinteraksi satu sama lainnya. Pemasakan merupakan kejadian dramatik dalam kehidupan komoditi panenan karena peristiwa perubahan organ dari matang secara fisiologis, namun sebagian besar belum dapat dikonsumsi menjadi masak dan akhirnya layu. Hal yang dapat terlihat pada pemasakan adalah warna buahnya (Santoso, tanpa tahun). 4.1.3 Tekstur Kelompok Jenis Kemasan
plastik

Perlakuan

Pengamatan ke0

Tekstur (force(g))

Firmness

tidak dilubangi

23

726.66

0.163

1046.318

0.266

593.89

0.178

616.973

0.121

plastik

dilubangi

24

799.6399

0.126

610.151

0.096

649.909

0.108

481.299

0.07

kardus

tidak dilubangi

25

843.394

0.279

616.353

0.134

690.287

0.052

570.738 4 556.819

0.275

0.057

0
4 kardus dilubangi

1 2

749.821 560.3

0.214 0.557

26

598.506

0.558

517.75 4 613.459

0.078

0.154

besek

tidak dilubangi

605.052

0.243

715.92

0.098

27

521.33

0.087

4
521.33 0.087

besek

dilubangi

764.704

0.085

705.722

0.081

568.257

0.069

28

479.439

0.213

Tabel 4.3 Pengaruh Lama Penyimpanan dan Beda Kemasan Terhadap Tekstur Tomat

Dilihat dari tabel 4.3, tekstur Dari hasil percobaan yang didapat tekstur setiap tomat dengan pengemasan yang berbeda-beda baik yang diberi lubang maupun tidak diberi lubang akan mengalami penurunan tekstur. Hal ini sesuai dengan literatur yang didapatkan. Konsentrasi uap air yang ada di udara lingkungan sekitar lebih tinggi dibandingkan di dalam tomat, sehingga uap air di udara masuk ke dalam tomat. Hal ini menyebabkan kadar air di dalam tomat bertambah sehingga menjadi lembab maka tesktur tomat menjadi semakin lunak. Pelunakan tomat juga disebabkan karena adanya air akibat proses respirasi. Proses respirasi memecah glukosa dan oksigen menjadi karbondioksida dan air. Air inilah yang menyebabkan pelunakan pada sayur-sayuran tersebut. Proses respirasi ini terjadi karena produk disimpan di suhu ruang, di mana enzim yang mengkatalis proses respirasi dapat aktif, sehingga proses respirasi dapat berjalan. Perubahan tekstur tomat dapat terjadi selama penyimpanan karena adanya pengaruh suhu lingkungan terhadap tekstur produk yang disebabkan karena kadar air di dalam produk tersebut. Dengan demikian suhu udara lingkungan penyimpanan sangat berpengaruh terhadap tekstur tomat (Muchtadi dan Sugiyono, 1992). 4.1.4 Vitamin C Kelompok Jenis Kemasan Perlakuan Pengamatan keTomat keVitamin C

1 tidak dilubangi

plastik

0 2 (kontrol)

29

0.2761

0.6269

1.2275

1.0291

plastik

dilubangi

5 (kontrol)

30

0.576

0.6777

0.9287

0.7781

kardus

tidak dilubangi

5 (kontrol)

0.928

1.932

31

2.179

4 4 5 (kontrol)

1.229

1.481

4 (kontrol) 4 kardus dilubangi 5

1.930775

1.4307

1.05525

32

5 4 4 (kontrol)

0.8785

0.9789

1 (kontrol)

besek

tidak dilubangi

1.0291

0.5773

0.8768

4 4 1 (kontrol)

1.5813

1.3303

33

besek

dilubangi

5 (kontrol)

1.1295

1.379

0.6777

0.6777

34

Tabel 4.4 Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Kandungan Vitamin C

Dilihat dari tabel 4.4, hasil kandungan vitamin C dengan pengemasan dilubangi akan lebih cepat berkurang dibanding kandungan vitamin C dengan pengemasan yang tidak dilubangi. Semakin lama penyimpanan kandungan vitamin C akan berkurang. Hal ini sesuai dengan literatur yang ada karena vitamin C ini bersifat sangat sensitif. Selama penyimpanan vitamin C mudah

terdegradasi karena pengaruh suhu, konsentrasi gula, pH, oksigen, enzim, katalisis logam. Penurunan kandungan vitamin C ini dapat menyebabkan kualitas buah tomat menurun (Muchtadi et al., 1993). Kandungan vitamin C pada sayur atau buah-buahan akan berkurang sampai 50% hanya dalam beberapa hari. Kehilangan vitamin C ini dapat dicegah dengan penyimpanan pada suhu rendah (Pracaya, 1999).

4.2 Pengaruh Kemasan dan KMnO4 Pada praktikum ini kemasan yang digunakan untuk menyimpaan tomat adalah plastik, kardus, dan besek. Hasil pengamatan pengaruh kemasan berdasarkan kemasan yang dilubangi dapat dilihat pada tabel 4.5.
Tabel 4.5 Hasil pengamatan tomat pengaruh kemasan yang dilubangi Kemasan Pengamatan ke 0 1 Plastik 2 3 4 0 1 Kardus 2 3 4 Besek 0 1 Water Loss (%) 0 5,70 7,07 7,47 -16,25 0 1,41 7,76 3,45 12,73 0 2,38
o

Tekstur (force/g) 799,6399 610,151 649,909 481,299 749,821 560,3 598,506 517,75 764,704

Firmness 0,126 0,096 0,108 0,07 749,821 560,3 598,506 517,75 0,085

Vit C (mg/ml) 0,576 0,6777 0,9287 0,7781 1,930 1,430 1,055 0,8785 1,129

-62,44 76,21 72,86 82,58 76,99 115,477 -87,192 66,591 72,846 64,211 -69,8633 26,81

35

2 3 4

2,77 19,29 21,31

72,74 -32,95 -84,63

705,722 568,257 479,439

0,081 0,069 0,213

1,379 0,677 0,677

Berdasarkan tabel 4.5, pada parameter water loss kemasan besek mengalami penurunan berat yang lebih tinggi dibandingkan dengan kemasan plastik dan kardus. Hal ini disebabkan karena udara pada besek memiliki kelembaban yang cukup tinggi. Tekstur pada tomat dipengaruhi oleh penurunan berat, semakin banyak berat yang hilang menyebabkan tekstur pada tomat menjadi semakin lembek, sehingga mudah ditembus oleh probe dari texture analyzer. Berdasarkan tabel 4.5 tekstur tomat pada kemasan besek memiliki tekstur yang lebih lembek dibandingkan dengan tekstur pada kemasan kardus, dan tekstur tomat pada kemasan plastik memiliki tekstur yang paling baling dibandingkan kemasan lainnya. Pada praktikum ini tomat kontrol, yang merupakan tomat yang tidak diberikan KMnO4, telah mengalami kerusakan sebelum pengamatan selesai sehingga pengaruh KMnO4 terhadap gas etilen tidak dapat diukur pada praktikum kali ini. KMnO4 berfungsi untuk menyerap gas etilen, sehingga respirasi tomat menjadi lebih lambat. Kandungan vitamin C baik pada kemasan plastic, kardus, ataupun besek mengalami penurunan.

4.4 Umur Penyimpanan Pada praktikum ini penyimpanan tomat menggunakan 3 kemasan yang berbeda yaitu palstik, kardus, dan besek. Masing-masing dari kemasan diberikan 2 perlakuan yang berbeda yaitu dilubangi dan tidak dilubangi. Selain itu juga, penyimpanan tomat dikondisikan dalam 2 bentuk yaitu tomat dengan KMnO4 dan tidak menggunakan KMnO4 atau disebut sebagai tomat control. Masing-masing perlakuan diamati dalam 4 kali pengamatan. Tomat yang disimpan dalam plastik yang tidak dilubangi mengalami mengalami kerusakan pada pengamatan ke-4. Hal ini dapat dilihat dari kadar vitamin C yang mengalami penurunan pada penagamatan ke 4. Selain itu, tekstur tomat pada pengamatan ke-4 terlihat lebih lembek daripada pengamatan sebelumnya. Tomat yang disimpan dalam plastik yang dilubangi lebih cepat

36

mengalami kerusakan dibandingkan dengan tomat yang disimpan dalam plastik yang tidak dilubangi. Hal ini ditunjukkan oleh berat tomat yang mengalami penurunan, dan juga tekstur tomat yang mengalami penurunan. Tomat yang disimpan pada kardus yang tidak dilubangi mengalami kerusakan pada pengamatan ke-4. Hal ini ditunjukkan oleh kadar vitamin C yang mengalami penurunan pada minggu ke-4. Selain itu juga, berat tomat mengalami penurunan dari pengamatan ke-1. Secara keseluruhan tekstur tomat juga mengalami penurunan yang signifikan pada pengamatan ke-4. Tomat yang disimpan dalam kardus yang dilubangi mengalami kerusakan lebih cepat daripada tomat yang disimpan dalam kardus yang tidak dilubangi. Hal ini ditunjukkan oleh kadar vitamin C yang terus mengalami penurunan dari pengamatan ke-1 dan tekstur yang juga mengalami penurunan. Tomat yang disimpan dalam besek yang tidak dilubangi mulai mengalami kerusakan pada pengamtan ke-2. Hal ini ditunjukkan oleh berat tomat yang turun secara keseluruhan, kada vitamin c yang mengalami penurunan, dan tekstur juga mengalami penurunan dari pengamatan ke-1. Tomat yang disimpan dalam besek yang dilubangi mengalami penurunan dari pengamatan ke-1 sampai pengamatan ke-4. Hal ini ditunjukkan oleh kadar vitamin C yang mengalami penurunan yang signifikan pada pengamatan ke-3, tekstur juga mengalami penurunan secara keseluruhan pada setiap pengamatan. Penyimpanan tomat dengam menggunakan besek yang dilubangi menyebabkan tomat menjadi lebih cepat rusak dibandingkan dengan tomat yang disimpan dalam besek yang tidak dilubangi. 4.5 Pengaruh ventilasi terhadap tomat yang disimpan Massa tomat dapat mengalami perubahan selama penyimpanan dan hal tersebut dipengaruhi oleh faktor jenis pengemas. Data perubahan massa tomat selama penyimpanan dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Perubahan massa tomat selama penyimpanan Kemasan Tanpa ventilasi Pengamatan ke1 2 3 4 Perubahan massa (Awal-Akhir) Plastik -11.28 2.75 -12.08 Kardus 3.55 4.97 4.93 15.19 Besek 2.31 6.78 4.78 16.03

37

Dengan ventilasi

1 2 3 4

3.18 5.01 5.28 -9.20

1.59 7.50 3.61 14.52

1.34 2.40 17.44 25.90

Berdasarkan Tabel 4.6, peningkatan massa tomat yang disimpan dalam plastik tanpa ventilasi lebih besar daripada tomat yang disimpan dalam plastik dengan ventilasi. Hal ini terkait dengan respirasi tomat yang menghasilkan uap air. Uap air tersebut berada dalam kemasan dan membuat suasana kemasan menjadi lembab sehingga tomat melakukan penyesuaian dengan cara

mengabsorpsi uap air tersebut. Pada tomat yang disimpan dalam plastik tanpa ventilasi, uap air hasil respirasi tidak dapat keluar dari kemasan atau hanya sedikit uap air yang keluar dari kemasan sehingga jumlah uap air yang diserap tomat cukup tinggi. Sebaliknya, plastik dengan ventilasi memungkinkan uap air hasil respirasi tomat keluar dari kemasan sehingga keadaan di dalam kemasan tidak selembab plastik tanpa ventilasi dan akibatnya, tomat tidak mengabsorspsi uap air sebanyak ketika tomat disimpan dalam plastik tanpa ventilasi. Hal tersebut menyebabkan massa akhir tomat yang disimpan dalam plastik tanpa ventilasi meningkat lebih tinggi daripada tomat dalam plastik berventilasi. Kardus dan besek termasuk kemasan yang lebih mudah untuk ditembus uap air daripada kemasan plastik sehingga massa tomat dalam kardus dan besek menurun. Tomat yang disimpan dalam kardus dengan ventilasi mengalami penurunan massa yang lebih kecil daripada tomat yang disimpan dalam kardus tanpa ventilasi sedangkan tomat yang disimpan dalam besek dengan ventilasi mengalami penurunan massa yang lebih besar daripada tomat yang disimpan dalam besek tanpa ventilasi. Penurunan massa yang lebih besar seharusnya dialami oleh kemasan berventilasi karena uap air hasil respirasi tomat akan lebih banyak yang keluar ketika tomat disimpan dalam wadah berventilasi. Selain massa, tomat juga mengalami perubahan warna selama

penyimpanan. Data perubahan warna tomat dalam bentuk derajat hue dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 Derajat hue tomat selama penyimpanan Kemasan Pengamatan keDerajat Hue Plastik Kardus Besek

38

Tanpa ventilasi

1 2 3 4

-19.513 -61.152 -78.721 82.893 76.21 72.86 82.58 76.99

81.746 91.081 47.305 71.023 -87.192 66.591 72.846 64.211

28.043 83.293 84.53 58.383 26.18 72.74 -32.95 -84.63

Dengan ventilasi

1 2 3 4

Nilai derajat hue yang semakin tinggi menandakan bahwa tomat berwarna hijau dan semakin rendah nilai derajat hue, berarti tomat cenderung berwarna kekuningan hingga merah. Warna tomat berkaitan erat dengan tingkat kematangan tomat. Tomat masak ditandai dengan warna merah. Warna tomat yang disimpan dalam kemasan tanpa ventilasi memiliki nilai derajat hue yang lebih tinggi daripada tomat pada kemasan berventilasi. Hal ini berarti bahwa tomat yang disimpan dalam kemasan berventilasi lebih mudah mencapai pemasakan yang optimal selama penyimpanan daripada tomat pada kemasan tanpa ventilasi. Hal tersebut dikarenakan oksigen akan lebih mudah masuk ke dalam kemasan yang berventilasi sehingga respirasi tomat berlangsung dengan lebih cepat dan menyebabkan tomat dalam kemasan berventilasi lebih cepat masak daripada tomat dalam kemasan tanpa ventilasi. Tekstur tomat juga berubah selama penyimpanan berlangsung. Data tekstur tomat yang terdiri atas force dan firmness dapat dilihat pada Tabel 4.8 dan Tabel 4.8.
Tabel 4.8 Force (tekstur) tomat selama penyimpanan Kemasan Tanpa ventilasi Pengamatan ke1 2 3 4 Dengan ventilasi 1 2 3 4 Force Plastik 726.66 1046.318 593.89 616.973 799.6399 610.151 649.909 481.299 Kardus 843.394 616.353 690.287 570.738 749.821 560.3 598.506 517.75 Besek 605.052 715.92 521.33 521.33 764.704 705.722 568.257 479.439

39

Tabel 4.9 Firmness tomat selama penyimpanan Kemasan Tanpa ventilasi Pengamatan ke1 2 3 4 Dengan ventilasi 1 2 3 4 Firmness Plastik 0.276 0.266 0.178 0.121 0.126 0.096 0.108 0.070 Kardus 0.279 0.134 0.052 0.275 0.214 0.557 0.558 0.078 Besek 0.243 0.098 0.087 0.087 0.085 0.081 0.069 0.213

Force menunjukkan kekuatan kulit tomat dalam menahan tekanan yang diberikan sedangkan firmness menunjukkan kekuatan daging buah tomat dalam menahan tekanan yang diberikan. Tomat yang disimpan dalam kemasan berventilasi memiliki tekstur akhir yang lebih lunak daripada tomat dalam kemasan tanpa ventilasi. Hal ini dapat terjadi karena keberadaan ventilasi akan meningkatkan laju respirasi dan pemasakan tomat. Respirasi tersebut

menghasilkan air yang menyebabkan pelunakan pada tomat masak. Data yang berbeda ditemukan pada tomat dalam kemasan besek dengan ventilasi karena tomat tersebut memiliki firmness yang lebih tinggi dibandingkan dengan tomat dalam kemasan tanpa ventilasi. Hal ini mungkin terjadi akibat tingkat kematangan awal tomat yang tidak seragam. Kadar vitamin C tomat juga merupakan parameter yang mengalami perubahan selama penyimpanan. Data kadar vitamin C tomat dapat dilihat pada Tabel 4.10.
Tabel 4.10 Vitamin C tomat selama penyimpanan Kemasan Tanpa ventilasi Pengamatan ke1 2 3 4 Dengan ventilasi 1 2 3 Vitamin C Plastik 0.2761 0.6269 1.2275 1.0291 0.5760 0.6777 0.9287 Kardus 0.928 1.932 2.179 1.481 1.931 1.431 1.055 Besek 1.0291 0.5773 0.8768 1.5813 1.1295 1.3790 0.6777

40

0.7781

0.879

0.6777

Pada Tabel 4.10 dapat diketahui bahwa kadar vitamin C tomat mengalami peningkatan selama proses pemasakan tomat namun menurun pada pengamatan terakhir. Tomat yang disimpan dalam kemasan yang dilubangi memiliki kadar vitamin C akhir yang lebih rendah daripada tomat yang disimpan dalam kemasan tanpa lubang. Hal ini dapat terjadi karena kemasan berlubang membuat tomat yang dikemas lebih terpapar dengan oksigen daripada tomat yang dikemas dengan kemasan tanpa lubang. Hasil pengamatan sesuai dengan literatur Simpson (2012) yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan kerusakan pada vitamin C adalah oksigen dan oksidasi menyebabkan jumlah vitamin C pada bahan pangan menurun.

4.6 Analisis penyebab kerusakan tomat Tomat mengalami kerusakan setelah disimpan dalam waktu yang cukup lama. Kerusakan yang terjadi pada tomat yang diamati dapat dipengaruhi oleh faktor seperti jenis pengemas dan keberadaan ventilasi pada kemasan. Kemasan plastik memiliki struktur penyusun yang bersifat lebih rapat dibandingkan dengan kemasan kardus dan besek. Hal tersebut mengakibatkan oksigen lebih mudah menembus kardus dan besek sehingga respirasi tomat dalam kedua kemasan tersebut berlangsung dengan lebih cepat daripada tomat dalam plastik. Selain jenis pengemas, keberadaan ventilasi pada kemasan juga berperan dalam proses respirasi tomat. Kemasan yang memiliki ventilasi membuat tomat lebih terpapar oleh oksigen sehingga tomat lebih cepat masak dibandingkan ketika tomat tersebut disimpan dalam kemasan tanpa ventilasi. Baik jenis kemasan maupun ventilasi dapat mempengaruhi kerusakan tomat karena terkait dengan respirasi dari tomat tersebut. Tomat yang berespirasi dengan cepat akan mencapai tahap masak dalam waktu yang lebih cepat pula. Apabila proses respirasi tersebut terus berlanjut, maka tomat akan memasuki tahapan yang disebut sebagai kelayuan (Jongen, 2002) sehingga dapat dikatakan bahwa respirasi menjadi salah satu penyebab kerusakan tomat. Selain itu, tomat yang mengalami respirasi akan menghasilkan uap air yang menyebabkan kadar air tomat meningkat. Hal ini dapat berakibat pada kontaminasi mikroorganisme pada

41

tomat. Tomat juga disimpan pada suhu ruang dan tidak dikemas dalam kemasan hermetik sehingga kemungkinan mikroorganisme untuk tumbuh dan merusak tomat menjadi semakin besar.

42

BAB V KESIMPULAN
Lama penyimpanan dan jenis kemasan mempengaruhi penurunan berat, perubahan warna tomat akan semakin orange, tekstur yang ada semakin lunak, kandungan vitamin C akan semakin berkurang. Bedasarkan pengaruh kemasan yang dilihat dari parameter water loss, tekstur, dan kadar vitamin C, kemasan besek secara keseluruhan mengalami penurunan pada setiap pengamatan. Hal ini dapat disebabkan karena kelembaban udara yang dimiliki besek lebih tinggi daripada kemasan lain, sehingga tomat yang disimpan dalam besek lebih cepat rusak. Berdasarkan umur simpan, penyimpanan dengan perlakuan dilubangi lebih cepat rusak dibandingkan dengan yang tidak dilubangi. Selain itu juga penyimpanan dengan besek juga mengalami kerusakan yang lebih cepat diabndingakan dengan kemasan lain. Umur simpan yang paling pangjang dimiliki oleh tomat yang disimpan dalam plasticktdiak dilubangi, sedangkan umur simpan tomat yang paling pendek dimiliki oleh besek yang dilubangi. Keberadaan ventilasi pada kemasan akan meningkatkan laju respirasi dan pematangan tomat serta turut menjadi penyebab terjadinya kerusakan pada tomat.

43

DAFTAR PUSTAKA
Cahyono, Bambang. 2008. Tomat, Usaha Tani dan Penanganan Pasca Panen. Jogjakarta : Kanisius.

Grierson and Kader. 1986. In The Tomato crop: a scientific basis for improvement By J. G. Atherton,J. Rudich. USA: Springer. Haryoto. Tanpa tahun. Membuat Saus Tomat. Yogyakarta: Kanisius. Muchtadi, Tien R. dan Sugiyono.1992. Ilmu Pengatahuan Bahan Pangan. Bogor: IPB. Muhtadi, D., N.S. Palupi dan M. Astawan, 1993, Metabolisme zat Gizi, Jilid II, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. Naika, Shankara, Joep van Lidt de Jeude, Marja de Goffau, Martin Hilmi, dan Barbara van Dam. Cultivation of tomato : production, processing and marketing. Wageningen : Agromisa Foundation and CTA. 2005 Pracaya. 1998. Bertanam Tomat. Jogjakarta : Kanisius. Pracaya, 1999. Kol Alias Kubis. Penebar swadaya. Jakarta Rukmana, Rahmat. Tanpa tahun. Tomat dan Cherry. Yogyakarta: Kanisius. Santoso, Bambang B. Penurunan Berat pada Penyimpanan Produk Hortikultura, Google Online. Home page on-line. Available from

http://fp.unram.ac.id/data/DR.Bambang%20B%20Santoso/BahanAjarPascapanenHortikultura/BAB-6-Penyimpanan.pdf Internet; accessed 23 April 2012. Santoso, B.B dan B.S. Purwoko. 1993. Fisiologi dan Teknologi Pasca Panen Tanaman Hortikultura. Indonesia Australia Eastern Universities Project. Soesanto, Loekas. 2006 Penyakit Pascapanen. Yogyakarta: Kanisius. Standar Nasional Indonesia. 1992. SNI.01-3162-1992. Tomat Segar. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta. Tranggono dan Sutardi, 1990, Biokimia dan teknologi Pasca Panen. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

44

Wills, R.B.H., Mc. Glasson, W.B., Graham, D., Lee, T.H., and Hall, E.G., 1989. Postharvest An Introduction to The Physiology and Handling of Fruits, and Vegetables. An Avi Book, Van Nostrand Reinhold, New York.

45