Anda di halaman 1dari 101

KUMPULAN ABSTRAK SKRIPSI

PROGRAM STUDII TEKNIIK SIIPIIL PROGRAM STUD TEKN K S P L PROGRAM STRATA S ATU PROGRAM STRATA S ATU PERIIODE JULII 2000 PER ODE JUL 2000

Editor: Aloysius Tjan aloysius@home.unpar.ac.id

UNIIVERSIITAS KATOLIIK PARAHYANGAN UN VERS TAS KATOL K PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIIK FAKULTAS TEKN K JALAN CIIUMBULEUIIT 94 JALAN C UMBULEU T 94 BANDUNG BANDUNG 2000 2000

DAFTAR ISI
STUDI BANDING PARAMETER TANAH YANG DIKOMPAKSI MENGGUNAKAN ALAT MODIFIED PROCTOR, MOLD BESAR (DIAMETER 10,2 CM PALU 3,5 KG), DAN MOLD KECIL (DIAMETER 3,8 CM PALU 0,35 KG) TANAH MAJALAYA DENGAN VARIASI ENERGI DAN INDEKS PLASTISITAS YANG DISTABILISASI DENGAN SEMEN (KONDISI TIDAK JENUH AIR) DENY SONDAYA 1 STUDI PEMILIHAN ELEMEN STRUKTUR LANTAI PRACETAK DENGAN METODA REKAYASA NILAI SALINA HUSNI STUDI PELAKSANAAN PEMASANGAN JARINGAN KABEL SERAT OPTIK DI LOKASI SEGITIGA EMAS JAKARTA ADE SURYA SETIAWAN STUDI PERHITUNGAN FASILITAS DASAR BANGUNAN PERKANTORAN YOHAN

3 4

STUDI KORELASI ANTARA BERAT ISI KERING, QC SONDIR, CU UNCONFINED MENGGUNAKAN TANAH MAJALAYA YANG DIKOMPAKSI DENGAN 5 VARIASI ENERGI DAN 3 KADAR SEMEN MEMAKAI MOLD 10.2CM-PALU 3.25KG, MOLD 3.8CM-PALU 0.4KG, DAN MODIFIED PROCTOR PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR RUDY HARTADI S. 5 STUDI BANDING HASIL KOMPAKSI TANAH MAJALAYA YANG DICAMPUR SEMEN MENGGUNAKAN MOLD DIAMETER 10,2 CM-PALU 3,5 KG, MOLD DIAMETER 3,8 CMPALU 0,45 KG, ALAT MODIFIED PROCTOR DENGAN VARIASI ENERGI UNTUK PARAMETER QC SONDIR, BERAT ISI KERING, DAN CU NCONFINED PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR E. AGUNG PINTOKO K. 6 PERAN QUANTITY SURVEYOR PADA TAHAP IMPLEMENTASI PROYEK DENGAN KONTRAK HARGA SATUAN BUDI SETIONO STUDI BIAYA DAN TATA LAKSANA PENYEDIAAN INSTALASI AIR BERSIH PADA KOMPLEKS PERUMAHAN BATUNUNGGAL INDAH BUAH BATU NATAL F PANE

PENGARUH TUMBUKAN PADA PARAMETER MARSHALL CAMPURAN BETON ASPAL YANG MENGGUNAKAN ABU SEKAM PADI 9 V VIORENSIS W 9 EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PEKERJAAN LEMBUR PADA TAHAPAN PELAKSANAAN BANGUNAN ARY NOVI HERYANTO 10 STUDI PENGENDALIAN PROYEK DENGAN METODE PENJADWALAN GARIS JOI P. GINTING STUDI BIAYA PEMELIHARAAN STRUKTUR ATAS JEMBATAN JALAN RAYA HANIMIN STUDI PENGENDALIAN MUTU BAHAN DAN MUTU PEKERJAAN PELAKSANAAN PERKERASAN JALAN ALOYSIUS ANINDITA 11 12

13

STUDI KORELASI BERAT ISI KERING, QC SONDIR, CU UNCONFINED UNTUK TANAH MAJALAYA HASIL UJI KOMPAKSI MENGGUNAKAN ALAT MODIFIED PROCTOR, MOLD 10,2 CM PALU 3,75 KG, MOLD 3,8 CM PALU 0,50 KG YANG DISTABILISASI SEMEN DENGAN VARIASI ENERGI PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR RUNDASYAH 14

STUDI BANDING STRUKTUR KAP BAJA MONOBEAM, RANGKA BATANG DAN TERALIS DITINJAU DARI SEGI BIAYA DAN TATA LAKSANA Y. F. FERDY INDRASAKTI T. P. 15 ANALISIS RENCANA JALUR REL GANDA PADA LINTAS YOGYAKARTA SOLO (BALAPAN) INDRATNO BAYUAJI PEMERIKSAAN VISUAL KERUSAKAN PADA JEMBATAN GELAGAR BOX BAJA DI TOMANG JAKARTA SIGIT PRIO HARTONO PRAKIRAAN BIAYA PADA TAHAP PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG 18 YOGA SETIAWAN ANALISIS PENGGUNAAN JASA SUBKONTRAKTOR PADA PEMBANGUNAN GEDUNG PARTOGI SIANTURI PERBANDINGAN ANALISIS BIAYA UNTUK PEMBUATAN PORTAL MONOBEAM STRUKTUR BAJA DENGAN PANJANG BENTANG 25M, 30M, DAN 35M HENRY LESMANA A. ANALISIS FREKUENSI GEMPA DI KAWASAN TIMUR INDONESIA FERRY LEO STUDI ANALISIS BIAYA PEMATANGAN LAHAN ARIEF BUDIMAN.S 19

16

17

20 21 22

ANALISIS WAKTU TUNDA DENGAN TEKNIK JALUR GANDA PARSIAL PADA JALAN REL KORIDOR JAKARTABANDUNG SEKSI CIKAMPEKPADALARANG R. DHOMO BUDHI SATRIO 23 ANALISIS DINAMIK PENGARUH GEMPA SUSULAN PADA STRUKTUR BETON BERTINGKAT RENDAH ANSIAS DEKANADI STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH SIKA CARBODUR TIPE S512 TERHADAP KUAT LENTUR BETON K-400 DENGAN BENDA UJI BALOK 15 15 110 CM3 HENDRA TANNADI PENGENDALIAN MUTU PEKERJAAN BETON DENGAN METODE STATISTIK MENGGUNAKAN CONTROL CHART NOVI AGUSTIAN TANUSAPUTRA

24

25

26

STUDI PENGOLAHAN DAN PENANGANAN LIMBAH PADAT PT. KERTAS PADALARANG MOCHAMMAD ABDUL RAHIM AJI 27 STUDI PERANCANGAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH PT. KERTAS PADALARANG JEFFREY ARBA SABAS ANALISIS FREKUENSI GEMPA DI KAWASAN BARAT INDONESIA RONNY PAULUS PEMILIHAN PENGGUNAAN TOWER CRANE PADA PEMBANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT DITINJAU DARI SEGI BIAYA DAVID P MANURUNG

28 29

30

STUDI EKSPERIMENTAL PENENTUAN KOEFISIEN KEKASARAN PIPA BESI GALVANIS DENGAN PERSAMAAN DARCY-WEISBACH HENDRA GUNAWAN 31 ANALISIS DAN RENCANA PENINGKATAN SIMPANG TIGA JALAN CIUMBULEUIT, SILIWANGI, DAN CIHAMPELAS WILAYAH KOTAMADYA BANDUNG ADRIAN WIRJANATA

32

HUBUNGAN BULK SPECIFIC GRAVITY SERTA APPARENT SPECIFIC GRAVITY DENGAN EFFECTIVE SPECIFIC GRAVITY PADA CAMPURAN BERASPAL MARTONO TEJOSAPUTRO 33

ii

EVALUASI PERANCANGAN POLA JALAN TERHADAP OPTIMASI PEMBAGIAN LAHAN PADA LINGKUNGAN PERUMAHAN SEDERHANA I DEWA GDE MAHENDRA 34 STUDI EKSPERIMENTAL KORELASI VARIASI ENERGI KOMPAKSI DENGAN QC SONDIR DAN PARAMETER KONSOLIDASI DARI TIGA VARIASI INDEKS PLASTISITAS TANAH EKSPANSIF DI SEKITAR PADALARANG PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR KARENINA LUKMAN SUDIRO 35 STUDI PENGARUH PARAMETER PERKERASAN TERHADAP W18 DAN TEBAL PERKERASAN KAKU PADA METODE AASHTO 1993 LOMIANTO PENGARUH PEMBANGUNAN JALAN LAYANG PASPATI TERHADAP ZONA TERPENGARUH DI KOTAMADYA BANDUNG ANDREA PIRELINA PEMILIHAN ALTERNATIF RUTE PERJALANAN AKIBAT ADANYA JALAN LAYANG PASTEUR -SURAPATI LUSI M. GUNAWAN

36

37

38

PENGEMBANGAN PROGRAM KOMPUTER UNTUK ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN SUDUT PARKIR TERHADAP KAPASITAS JALAN SYAIFUL ANWAR SOENARIA 39 EVALUASI KEBUTUHAN LAHAN PARKIR DI GEDUNG 9 UNPAR CREMONA MONOARFA STUDI TATA LAKSANA PEMBANGUNAN STRUKTUR ATAS JEMBATAN BETON PRATEGANG LEONARDA EVI PARASTUTI STUDI PERBANDINGAN PELAKSANAAN STRUKTUR LOAD BEARING WALL YANG MENGGUNAKAN BEKISTING TUNNEL FORM DENGAN STRUKTUR PORTAL TERBUKA YANG MENGGUNAKAN BEKISTING KAYU ARWIN 40

41

42

ANALISIS STRUKTUR FLAT PLATE YANG DIBEBANI DENGAN BEBAN LATERAL DAN BEBAN GRAVITASI DENGAN METODE ANALITIK DUA BALOK ESTHER NOERSHANTI 43 PANJANG TEKUK PADA PENGAKU SILANG DENGAN TITIK SILANG KAKU MATHEUS MARYONO KUSWANTORO 44

PARAMETER UJI GESER SKALA BESAR MATERIAL TANAH UNTUK PENANGGULANGAN LONGSORAN, STUDI KASUS LONGSORAN PADA RUAS JALAN SUMEDANG-WADO, JAWA BARAT VENSI KRISTANTI DEWI 45 ANALISIS TEGANGAN DAN REGANGAN PADA RENCANA BENDUNGAN JATIBARANG DI JAWA TENGAH DALAM KONDISI PENGISIAN WADUK M. ANITA SARI .D.A 46 OPTIMASI PENGELOLAAN PROSES PENJERNIHAN AIR MENGGUNAKAN METODA DYNAMIC PROGRAMMING PRIO SUNYOTO

47

PERBANDINGAN PENGGUNAAN BAJA PADA STRUKTUR RANGKA PAYON BENTANG BESAR TIPE BALOK TUNGGAL DAN TIPE RANGKA BATANG LENTO SENTOSA 48 STUDI KELAYAKAN PEMANFAATAN SEDIMEN LUMPUR UNTUK BAHAN BLANKET KONSTRUKSI DAM DI BUKIT SENTUL G. CASEY ALEXANDER WIRANEGARA ANALISIS GETARAN STRUKTUR LANTAI AKIBAT GERAKAN MANUSIA EDDIE CANDRA

49 50

iii

STUDI PENYEBAB LEPASNYA PASANGAN UBIN LANTAI DITINJAU DARI MUAI SUSUT BAHAN SERTA TATA LAKSANA PENCEGAHANNYA ELISABETH SYLVIA HERLINA 51 EVALUASI KINERJA INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH PT. SINAR MAKIN MULYA LENNY 52 STUDI PENGGUNAAN COLD FORMED STEEL UNTUK KAP ATAP DARI SEGI BIAYA HERRY SETIAWAN TINJAUAN KEPEKAAN TEMPERATUR HIGH STIFFNESS MODULUS ASPHALT BENNY SETIAWAN SUSILO STUDI PERBAIKAN PANGKAL JEMBATAN KERETA API DITINJAU DARI SEGI TATA LAKSANA RONALD ROY ANWAR 53 54

55

STUDI EKSPEPERIMENTAL PENGARUH PENYAMBUNGAN BETON BERTULANG MUTU FC=20 MPA DENGAN LATEX TERHADAP MOMEN LENTUR PADA BENDA UJI PELAT SATU ARAH UKURAN 90X30X8 CM DENGAN PERAWATAN KERING ANTON GUNAWAN 56 PEMODELAN NUMERIK PENGARUH PILE CAP TERHADAP PENINGKATAN DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG TUNGGAL DENGAN PEMBEBANAN AKSIAL, STUDI KASUS PONDASI RUKO PLAZA NIAGA - BUKIT SENTUL SUGIARTA BASUKI 57 ANALISIS RESPON DINAMIK PADA BENDUNGAN JATIBARANG DI JAWA TENGAH DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM FLUSH DANDY ALOYSIUS SONDAKH

58

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH SIKA AER DAN SIKA FUME TERHADAP KUAT TEKAN BETON RINGAN YANG MENGGUNAKAN SEMEN TIPE I DENGAN BENDA UJI SILINDER YANG BERDIAMETER 15 CM TINGGI 30 CM MICHAEL SANTOSA 59 PROTEKSI STRUKTUR BAJA TERHADAP KOROSI DI DAERAH PANTAI JOHAN CAHAYA PUTRA YOENANTO ANALISIS STABILITAS BENDUNGAN JATIBARANG DI JAWA TENGAH YUVITA 60 61

STUDI EKSPERIMENTAL KUAT TARIK BELAH BETON DENGAN FC = 25 MPA AKIBAT PENAMBAHAN IJUK PADA BENDA UJI SILINDER DENGAN DIAMETER 15 CM DAN PANJANG 30 CM BENYAMIN 62 STUDI KORELASI PARAMETER TANAH HASIL UJI KOMPAKSI, SONDIR, UNCONFINED MENGGUNAKAN ALAT MODIFIED PROCTOR, MOLD 10,2 CM PALU 4 KG, MOLD 3,8 CM PALU 0,55 KG PADA TANAH MAJALAYA YANG DISTABILISASI SEMEN, DENGAN VARIASI INDEKS PLASTISITAS DAN ENERGI PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR MARTIN SANTOSO 63 EVALUASI TINGKAT KEAMANAN DAN KENYAMANAN PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN LUAR KOTA METODE AUSTROADS DAN BINA MARGA DIBANDINGKAN DENGAN METODE AASHTO 1994 LINAWATI KARTIKA ANALISA RESPONS DINAMIK PADA BENDUNGAN JATIBARANG, JAWA TENGAH DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM SHAKE AGUS LESMANA

64

65

PENGARUH BATUAN SISIPAN PADA BUKAAN TEROWONGAN BATUAN, STUDI ANALITIK MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA DEASSY CHRISTINA 66

iv

ANALISIS TEBAL LAPIS PONDASI PERKERASAN LENTUR METODE AASHTO 1993 DAN MODEL PROBABILISTIK GUNTUR HALIM RUDY 67 TINJAUAN MASALAH TEGANGAN GESER AKIBAT TORSI PADA BATANG ELASTIS LINIER DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA RUDY CHANDRA ANALISIS BIAYA PENGGUNAAN PROFIL BAJA IWF DAN PROFIL BAJA HC UNTUK STRUKTUR KAP ATAP MARGARETHA DEWI STUDI PENGARUH UKURAN BENDA UJI KUBUS DAN PARALLELEPIPEDUM TEGAK PADA KUAT TEKAN BETON MUTU K-225 IRWAN DARMAWAN MODEL LABORATORIUM LONGSORAN AKIBAT REMBESAN AIR TANAH HENKY HYPON STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH PLASTOCRETE-NC SPECIAL TERHADAP PENINGKATAN KUAT TEKAN AWAL BETON MUTU FC = 30 MPA DENGAN PERAWATAN KERING BENNY

68

69

70 71

72

SIFAT TEKNIS DAN IDENTIFIKASI SLAKE DURABILITY DARI BATUAN SHALE DI BUKIT SENTUL MARIANA MARGONO 73 EFEK MODEL MASSA DAN P- PADA STRUKTUR BERTULANG INELASTIS AKIBAT BEBAN GEMPA ANDRIANTO WIJAYA ANALISIS SEDIMENTASI PADA TUKAD BADUNG DAN WADUK MUARA EUNIKE

74 75

STUDI PERKUATAN STRUKTUR BANGUNAN BETON BERTULANG BERTINGKAT TAHAN GEMPA DENGAN TAMBAHAN DIAGONAL PENGAKU BAJA TIPE X AKIBAT PERUBAHAN FUNGSI BANGUNAN YUDY 76 STUDI EFEK EKSENTRISITAS DAN FAKTOR K PADA STRUKTUR BAJA BERTINGKAT ENAM DENGAN PENGAKU TIPE Z EKSENTRIS M. ALBA PRASETYAWAN 77 STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH SIKAMENT-NN (SUPERPLASTICIZER) TERHADAP PENINGKATAN KUAT TEKAN BETON MUTU FC = 45 MPA INDRA GUNAWAN 78 EFEK PERENDAMAN TERHADAP KUAT GESER TERALIR TANAH EKSPANSIF DI KOTA BUKIT INDAH YUNIUS SINSIN SAPUTRA 79 ANALISIS LONGSORAN TRANSLASI AKIBAT AIR HUJAN DI DAERAH PURWAKARTA JAWA BARAT JHONNY STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH PLASTIMENT-VZ TERHADAP KEMUDAHAN PENGERJAAN DAN KUAT TEKAN BETON DENGAN MUTU K-200 YANG MENGGUNAKAN SEMEN MUTU RENDAH F.X. AGUS PRASETYO HUBUNGAN MODULUS ELASTISITAS DENGAN LENDUTAN PADA STRUKTUR PERKERASAN LENTUR TIGA LAPIS UNTUK PROSES PERHITUNGAN BACKCALCULATION YUNI HERAWATI

80

81

82

PENGARUH JUMLAH DATA VOLUME TERHADAP HASIL PREDIKSI PERJALANAN ASAL TUJUAN DENGAN METODE MAXIMUM ENTROPY HENY SETIANI 83 EVALUASI JARINGAN PIPA AIR MINUM AKIBAT PERUBAHAN LOKASI SUMBER AIR DAN PENGEMBANGAN WILAYAH PADA DAERAH CILEUNYI, BANDUNG HENRICUS HERWIN 84 STUDI KORELASI QC SONDIR DENGAN CU UNCONFINED DARI SAMPEL HASIL KOMPAKSI DENGAN ALAT MODIFIED PROCTOR, MOLD 10.2 CM PALU 4.25 KG DAN MOLD 3.8 CM PALU 0.60 KG UNTUK TANAH MAJALAYA DENGAN VARIASI INDEKS PLASTISITAS YANG DISTABILISASI DENGAN SEMEN PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR ARWIN 85 TINJAUAN MASALAH FAKTOR CB PADA KASUS TEKUK TORSI LATERAL BALOK BAJA PROFIL I DAVID HO 86 ANALISA TEGANGAN DAN REGANGAN RENCANA BENDUNGAN JATIBARANG PADA MASA KONSTRUKSI DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM PLAXIS STANLEY SULISTYONO 87 STUDI EKSPERIMENTAL PENENTUAN KADAR IJUK SEBAGAI PENGGANTI SERAT BUATAN TERHADAP KUAT TEKAN BETON MUTU FC = 25 MPA JOSEPH HARTONO

88

vi

INDEKS JUDUL
ANALISA RESPONS DINAMIK PADA BENDUNGAN JATIBARANG, JAWA TENGAH DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM SHAKE ANALISA TEGANGAN DAN REGANGAN RENCANA BENDUNGAN JATIBARANG PADA MASA KONSTRUKSI DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM PLAXIS ANALISIS BIAYA PENGGUNAAN PROFIL BAJA IWF DAN PROFIL BAJA HC UNTUK STRUKTUR KAP ATAP ANALISIS DAN RENCANA PENINGKATAN SIMPANG TIGA JALAN CIUMBULEUIT, SILIWANGI, ANALISIS DINAMIK PENGARUH GEMPA SUSULAN PADA STRUKTUR BETON BERTINGKAT RENDAH ANALISIS FREKUENSI GEMPA DI KAWASAN BARAT INDONESIA ANALISIS FREKUENSI GEMPA DI KAWASAN TIMUR INDONESIA ANALISIS GETARAN STRUKTUR LANTAI AKIBAT GERAKAN MANUSIA ANALISIS LONGSORAN TRANSLASI AKIBAT AIR HUJAN DI DAERAH PURWAKARTA JAWA BARAT ANALISIS PENGGUNAAN JASA SUBKONTRAKTOR PADA PEMBANGUNAN GEDUNG ANALISIS RENCANA JALUR REL GANDA PADA LINTAS YOGYAKARTA SOLO (BALAPAN) ANALISIS RESPON DINAMIK ANALISIS SEDIMENTASI PADA TUKAD BADUNG DAN WADUK MUARA ANALISIS STABILITAS BENDUNGAN JATIBARANG DI JAWA TENGAH ANALISIS STRUKTUR FLAT PLATE YANG DIBEBANI DENGAN BEBAN LATERAL DAN BEBAN GRAVITASI DENGAN METODE ANALITIK DUA BALOK ANALISIS TEBAL LAPIS PONDASI PERKERASAN LENTUR METODE AASHTO 1993 DAN MODEL PROBABILISTIK ANALISIS TEGANGAN DAN REGANGAN PADA RENCANA BENDUNGAN JATIBARANG DI JAWA TENGAH DALAM KONDISI PENGISIAN WADUK ANALISIS WAKTU TUNDA DENGAN TEKNIK JALUR GANDA PARSIAL PADA JALAN REL KORIDOR JAKARTABANDUNG SEKSI CIKAMPEKPADALARANG DAN CIHAMPELAS WILAYAH KOTAMADYA BANDUNG DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM FLUSH EFEK MODEL MASSA DAN P- PADA STRUKTUR BERTULANG INELASTIS AKIBAT BEBAN GEMPA EFEK PERENDAMAN TERHADAP KUAT GESER TERALIR TANAH EKSPANSIF DI KOTA BUKIT INDAH EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PEKERJAAN LEMBUR PADA TAHAPAN PELAKSANAAN BANGUNAN EVALUASI JARINGAN PIPA AIR MINUM AKIBAT PERUBAHAN LOKASI SUMBER AIR DAN PENGEMBANGAN WILAYAH PADA DAERAH CILEUNYI, BANDUNG EVALUASI KEBUTUHAN LAHAN PARKIR DI GEDUNG 9 UNPAR EVALUASI KINERJA INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH PT. SINAR MAKIN MULYA EVALUASI PERANCANGAN POLA JALAN TERHADAP OPTIMASI PEMBAGIAN LAHAN PADA LINGKUNGAN PERUMAHAN SEDERHANA EVALUASI TINGKAT KEAMANAN DAN KENYAMANAN PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN LUAR KOTA METODE AUSTROADS DAN BINA MARGA DIBANDINGKAN DENGAN METODE AASHTO 1994 HUBUNGAN BULK SPECIFIC GRAVITY SERTA APPARENT SPECIFIC GRAVITY DENGAN EFFECTIVE SPECIFIC GRAVITY PADA CAMPURAN BERASPAL HUBUNGAN MODULUS ELASTISITAS DENGAN LENDUTAN PADA STRUKTUR PERKERASAN LENTUR TIGA LAPIS UNTUK PROSES PERHITUNGAN BACKCALCULATION MODEL LABORATORIUM LONGSORAN AKIBAT REMBESAN AIR TANAH OPTIMASI PENGELOLAAN PROSES PENJERNIHAN AIR MENGGUNAKAN METODA DYNAMIC PROGRAMMING PADA BENDUNGAN JATIBARANG DI JAWA TENGAH PANJANG TEKUK PADA PENGAKU SILANG DENGAN TITIK SILANG KAKU 65 87 69 32 24 29 21 50 80 19 16 58 75 61 43 67 46 23 32 58 74 79 10 84 40 52 34 64

33 82 71 47 58 44

vii

PARAMETER UJI GESER SKALA BESAR MATERIAL TANAH UNTUK PENANGGULANGAN LONGSORAN, STUDI KASUS LONGSORAN PADA RUAS JALAN SUMEDANG-WADO, JAWA BARAT PEMERIKSAAN VISUAL KERUSAKAN PADA JEMBATAN GELAGAR BOX BAJA DI TOMANG JAKARTA PEMILIHAN ALTERNATIF RUTE PERJALANAN AKIBAT ADANYA JALAN LAYANG PASTEUR -SURAPATI PEMILIHAN PENGGUNAAN TOWER CRANE PADA PEMBANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT DITINJAU DARI SEGI BIAYA PEMODELAN NUMERIK PENGARUH PILE CAP TERHADAP PENINGKATAN DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG TUNGGAL DENGAN PEMBEBANAN AKSIAL, STUDI KASUS PONDASI RUKO PLAZA NIAGA - BUKIT SENTUL PENGARUH BATUAN SISIPAN PADA BUKAAN TEROWONGAN BATUAN, STUDI ANALITIK MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA PENGARUH JUMLAH DATA VOLUME TERHADAP HASIL PREDIKSI PERJALANAN ASAL TUJUAN DENGAN METODE MAXIMUM ENTROPY PENGARUH PEMBANGUNAN JALAN LAYANG PASPATI TERHADAP ZONA TERPENGARUH DI KOTAMADYA BANDUNG PENGARUH TUMBUKAN PADA PARAMETER MARSHALL CAMPURAN BETON ASPAL YANG MENGGUNAKAN ABU SEKAM PADI PENGEMBANGAN PROGRAM KOMPUTER UNTUK ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN SUDUT PARKIR TERHADAP KAPASITAS JALAN PENGENDALIAN MUTU PEKERJAAN BETON DENGAN METODE STATISTIK MENGGUNAKAN CONTROL CHART PERAN QUANTITY SURVEYOR PADA TAHAP IMPLEMENTASI PROYEK DENGAN KONTRAK HARGA SATUAN PERBANDINGAN PENGGUNAAN BAJA PADA STRUKTUR RANGKA PAYON BENTANG BESAR TIPE BALOK TUNGGAL DAN TIPE RANGKA BATANG PERBANDINGAN ANALISIS BIAYA UNTUK PEMBUATAN PORTAL MONOBEAM STRUKTUR BAJA DENGAN PANJANG BENTANG 25M, 30M, DAN 35M PRAKIRAAN BIAYA PADA TAHAP PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG PROTEKSI STRUKTUR BAJA TERHADAP KOROSI DI DAERAH PANTAI SIFAT TEKNIS DAN IDENTIFIKASI SLAKE DURABILITY DARI BATUAN SHALE DI BUKIT SENTUL STRUKTUR ATAS JEMBATAN JALAN RAYA STUDI ANALISIS BIAYA PEMATANGAN LAHAN STUDI BANDING HASIL KOMPAKSI TANAH MAJALAYA YANG DICAMPUR SEMEN MENGGUNAKAN MOLD DIAMETER 10,2 CM-PALU 3,5 KG, MOLD DIAMETER 3,8 CM-PALU 0,45 KG, ALAT MODIFIED PROCTOR DENGAN VARIASI ENERGI UNTUK PARAMETER QC SONDIR, BERAT ISI KERING, DAN CU NCONFINED PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR STUDI BANDING PARAMETER TANAH YANG DIKOMPAKSI MENGGUNAKAN ALAT MODIFIED PROCTOR, MOLD BESAR (DIAMETER 10,2 CM PALU 3,5 KG), DAN MOLD KECIL (DIAMETER 3,8 CM PALU 0,35 KG) TANAH MAJALAYA DENGAN VARIASI ENERGI DAN INDEKS PLASTISITAS YANG DISTABILISASI DENGAN SEMEN (KONDISI TIDAK JENUH AIR) STUDI BANDING STRUKTUR KAP BAJA MONOBEAM, RANGKA BATANG DAN TERALIS DITINJAU DARI SEGI BIAYA DAN TATA LAKSANA STUDI BIAYA DAN TATA LAKSANA PENYEDIAAN INSTALASI AIR BERSIH PADA KOMPLEKS PERUMAHAN BATUNUNGGAL INDAH BUAH BATU STUDI BIAYA PEMELIHARAAN STUDI EFEK EKSENTRISITAS DAN FAKTOR K PADA STRUKTUR BAJA BERTINGKAT ENAM DENGAN PENGAKU TIPE Z EKSENTRIS STUDI EKSPEPERIMENTAL PENGARUH PENYAMBUNGAN BETON BERTULANG MUTU FC=20 MPA DENGAN LATEX TERHADAP MOMEN LENTUR PADA BENDA UJI PELAT SATU ARAH UKURAN 90X30X8 CM DENGAN PERAWATAN KERING STUDI EKSPERIMENTAL KORELASI VARIASI ENERGI KOMPAKSI DENGAN QC SONDIR DAN PARAMETER KONSOLIDASI DARI TIGA VARIASI INDEKS PLASTISITAS TANAH EKSPANSIF DI SEKITAR PADALARANG PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR

45

17 38 30 57

66 83 37 9 39 26 7 48 20 18 60 73 12 22 6

15 8 12 77 56

35

viii

STUDI EKSPERIMENTAL KUAT TARIK BELAH BETON DENGAN FC = 25 MPA AKIBAT PENAMBAHAN IJUK PADA BENDA UJI SILINDER DENGAN DIAMETER 15 CM DAN PANJANG 30 CM STUDI EKSPERIMENTAL PENENTUAN KADAR IJUK SEBAGAI PENGGANTI SERAT BUATAN TERHADAP KUAT TEKAN BETON MUTU FC = 25 MPA STUDI EKSPERIMENTAL PENENTUAN KOEFISIEN KEKASARAN PIPA BESI GALVANIS DENGAN PERSAMAAN DARCY-WEISBACH STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH PLASTIMENT-VZ TERHADAP KEMUDAHAN PENGERJAAN DAN KUAT TEKAN BETON DENGAN MUTU K-200 YANG MENGGUNAKAN SEMEN MUTU RENDAH STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH PLASTOCRETE-NC SPECIAL TERHADAP PENINGKATAN KUAT TEKAN AWAL BETON MUTU FC = 30 MPA DENGAN PERAWATAN KERING STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH SIKA AER DAN SIKA FUME TERHADAP KUAT TEKAN BETON RINGAN YANG MENGGUNAKAN SEMEN TIPE I DENGAN BENDA UJI SILINDER YANG BERDIAMETER 15 CM TINGGI 30 CM STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH SIKA CARBODUR TIPE S512 TERHADAP KUAT LENTUR BETON K-400 DENGAN BENDA UJI BALOK 15 15 110 CM3 STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH SIKAMENT-NN (SUPERPLASTICIZER) TERHADAP PENINGKATAN KUAT TEKAN BETON MUTU FC = 45 MPA STUDI KELAYAKAN PEMANFAATAN SEDIMEN LUMPUR UNTUK BAHAN BLANKET KONSTRUKSI DAM DI BUKIT SENTUL STUDI KORELASI ANTARA BERAT ISI KERING, QC SONDIR, CU UNCONFINED MENGGUNAKAN TANAH MAJALAYA YANG DIKOMPAKSI DENGAN 5 VARIASI ENERGI DAN 3 KADAR SEMEN MEMAKAI MOLD 10.2CM-PALU 3.25KG, MOLD 3.8CM-PALU 0.4KG, DAN MODIFIED PROCTOR PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR STUDI KORELASI BERAT ISI KERING, QC SONDIR, CU UNCONFINED UNTUK TANAH MAJALAYA HASIL UJI KOMPAKSI MENGGUNAKAN ALAT MODIFIED PROCTOR, MOLD 10,2 CM PALU 3,75 KG, MOLD 3,8 CM PALU 0,50 KG YANG DISTABILISASI SEMEN DENGAN VARIASI ENERGI PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR STUDI KORELASI PARAMETER TANAH HASIL UJI KOMPAKSI, SONDIR, UNCONFINED MENGGUNAKAN ALAT MODIFIED PROCTOR, MOLD 10,2 CM PALU 4 KG, MOLD 3,8 CM PALU 0,55 KG PADA TANAH MAJALAYA YANG DISTABILISASI SEMEN, DENGAN VARIASI INDEKS PLASTISITAS DAN ENERGI PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR STUDI KORELASI QC SONDIR DENGAN CU UNCONFINED DARI SAMPEL HASIL KOMPAKSI DENGAN ALAT MODIFIED PROCTOR, MOLD 10.2 CM PALU 4.25 KG DAN MOLD 3.8 CM PALU 0.60 KG UNTUK TANAH MAJALAYA DENGAN VARIASI INDEKS PLASTISITAS YANG DISTABILISASI DENGAN SEMEN PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR STUDI PELAKSANAAN PEMASANGAN JARINGAN KABEL SERAT OPTIK DI LOKASI SEGITIGA EMAS JAKARTA STUDI PEMILIHAN ELEMEN STRUKTUR LANTAI PRACETAK DENGAN METODA REKAYASA NILAI STUDI PENGARUH PARAMETER PERKERASAN TERHADAP W18 DAN TEBAL PERKERASAN KAKU PADA METODE AASHTO 1993 STUDI PENGARUH UKURAN BENDA UJI KUBUS DAN PARALLELEPIPEDUM TEGAK PADA KUAT TEKAN BETON MUTU K-225 STUDI PENGENDALIAN MUTU BAHAN DAN MUTU PEKERJAAN PELAKSANAAN PERKERASAN JALAN STUDI PENGENDALIAN PROYEK DENGAN METODE PENJADWALAN GARIS STUDI PENGGUNAAN COLD FORMED STEEL UNTUK KAP ATAP DARI SEGI BIAYA STUDI PENGOLAHAN DAN PENANGANAN LIMBAH PADAT PT. KERTAS PADALARANG STUDI PENYEBAB LEPASNYA PASANGAN UBIN LANTAI DITINJAU DARI MUAI SUSUT BAHAN SERTA TATA LAKSANA PENCEGAHANNYA STUDI PERANCANGAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH PT. KERTAS PADALARANG

62

88 31 81

72

59

25 78 49 5

14

63

85

3 2 36 70 13 11 53 27 51 28

ix

STUDI PERBAIKAN PANGKAL JEMBATAN KERETA API DITINJAU DARI SEGI TATA LAKSANA STUDI PERBANDINGAN PELAKSANAAN STRUKTUR LOAD BEARING WALL YANG MENGGUNAKAN BEKISTING TUNNEL FORM DENGAN STRUKTUR PORTAL TERBUKA YANG MENGGUNAKAN BEKISTING KAYU STUDI PERHITUNGAN FASILITAS DASAR BANGUNAN PERKANTORAN STUDI PERKUATAN STRUKTUR BANGUNAN BETON BERTULANG BERTINGKAT TAHAN GEMPA DENGAN TAMBAHAN DIAGONAL PENGAKU BAJA TIPE X AKIBAT PERUBAHAN FUNGSI BANGUNAN STUDI TATA LAKSANA PEMBANGUNAN STRUKTUR ATAS JEMBATAN BETON PRATEGANG TINJAUAN KEPEKAAN TEMPERATUR HIGH STIFFNESS MODULUS ASPHALT TINJAUAN MASALAH FAKTOR CB PADA KASUS TEKUK TORSI LATERAL BALOK BAJA PROFIL I TINJAUAN MASALAH TEGANGAN GESER AKIBAT TORSI PADA BATANG ELASTIS LINIER DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA

55 42 4 76 41 54 86 68

INDEKS NAMA
ADE SURYA SETIAWAN ADRIAN WIRJANATA AGUS LESMANA ALOYSIUS ANINDITA ANDREA PIRELINA ANDRIANTO WIJAYA ANSIAS DEKANADI ANTON GUNAWAN ARIEF BUDIMAN.S ARWIN ARWIN ARY NOVI HERYANTO BENNY BENNY SETIAWAN SUSILO BENYAMIN BUDI SETIONO CREMONA MONOARFA DANDY ALOYSIUS SONDAKH DAVID HO DAVID P MANURUNG DEASSY CHRISTINA DENY SONDAYA E. AGUNG PINTOKO K. EDDIE CANDRA ELISABETH SYLVIA HERLINA ESTHER NOERSHANTI EUNIKE F.X. AGUS PRASETYO FERRY LEO G. CASEY ALEXANDER WIRANEGARA GUNTUR HALIM RUDY HANIMIN HENDRA GUNAWAN HENDRA TANNADI HENKY HYPON HENRICUS HERWIN HENRY LESMANA A. HENY SETIANI HERRY SETIAWAN I DEWA GDE MAHENDRA INDRA GUNAWAN INDRATNO BAYUAJI IRWAN DARMAWAN JEFFREY ARBA SABAS JHONNY JOHAN CAHAYA PUTRA YOENANTO 3 32 65 13 37 74 24 56 22 42 85 10 72 54 62 7 40 58 86 30 66 1 6 50 51 43 75 81 21 49 67 12 31 25 71 84 20 83 53 34 78 16 70 28 80 60

xi

JOI P. GINTING JOSEPH HARTONO KARENINA LUKMAN SUDIRO LENNY LENTO SENTOSA LEONARDA EVI PARASTUTI LINAWATI KARTIKA LOMIANTO LUSI M. GUNAWAN M. ALBA PRASETYAWAN M. ANITA SARI .D.A MARGARETHA DEWI MARIANA MARGONO MARTIN SANTOSO MARTONO TEJOSAPUTRO MATHEUS MARYONO KUSWANTORO MICHAEL SANTOSA MOCHAMMAD ABDUL RAHIM AJI NATAL F PANE NOVI AGUSTIAN TANUSAPUTRA PARTOGI SIANTURI PRIO SUNYOTO R. DHOMO BUDHI SATRIO RONALD ROY ANWAR RONNY PAULUS RUDY CHANDRA RUDY HARTADI S. RUNDASYAH SALINA HUSNI SIGIT PRIO HARTONO STANLEY SULISTYONO SUGIARTA BASUKI SYAIFUL ANWAR SOENARIA V VIORENSIS W VENSI KRISTANTI DEWI Y. F. FERDY INDRASAKTI T. P. YOGA SETIAWAN YOHAN YUDY YUNI HERAWATI YUNIUS SINSIN SAPUTRA YUVITA

11 88 35 52 48 41 64 36 38 77 46 69 73 63 33 44 59 27 8 26 19 47 23 55 29 68 5 14 2 17 87 57 39 9 45 15 18 4 76 82 79 61

xii

STUDI BANDING PARAMETER TANAH YANG DIKOMPAKSI MENGGUNAKAN ALAT MODIFIED PROCTOR, MOLD BESAR (DIAMETER 10,2 CM PALU 3,5 KG), DAN MOLD KECIL (DIAMETER 3,8 CM PALU 0,35 KG) TANAH MAJALAYA DENGAN VARIASI ENERGI DAN INDEKS PLASTISITAS YANG DISTABILISASI DENGAN SEMEN (KONDISI TIDAK JENUH AIR)
DENY SONDAYA NRP: 4193024 Pembimbing : Prof. Dr. Djoko Soelarnosidji, Ir., MCE. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengecek hasil uji kompaksi teknik Soelarno dengan teknik Proctor, membuat korelasi energi kompaksi dengan qc sondir (Gambar 4.106 dan 4.107), membuat korelasi antara energi kompaksi dengan cu unconfined (Gambar 4.108), membuat korelasi antara qc sondir dengan cu unconfined (Gambar 4.1184.120), dan membuktikan bahwa dengan menggunakan alat yang berbeda akan mendapatkan dry dan kadar air (w) yang relatif sama (Gambar 4.284.72). Tanah yang digunakan pada penelitian ini adalah tanah sekitar Majalaya dengan 3 (tiga) variasi indeks plastisitas (IP) yaitu tanah Cangkring (IP=35,97%), tanah Citarum (IP=54,52%), dan tanah Cipicung (IP=72,03%). Ketiga tanah tersebut dikompaksi dengan 3 (tiga) macam alat kompaksi (modified proctor, mold 10,2 cm palu 3,5 kg, dan mold 3,8 cm - palu 0,35 kg) yang menggunakan 5 (lima) variasi energi (3 kg cm/cm3, 6,05 kg cm/cm3, 16 kg cm/cm3, 27,5 kg cm/cm3, dan 38 kg cm/cm3) yang distabilisasi dengan 3 (tiga) variasi kadar semen (5%, 7,5%, dan 10%) pada kondisi tidak jenuh air. Dari Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hasil kompaksi modified proctor sedikit berbeda dengan hasil kompaksi teknik Soelarno (1.5%-3%) (Gambar 4.284.72), peningkatan dry max sekitar 3 % - 4 % untuk setiap peningkatan energi sebesar 100% (Gambar 4.824.84), peningkatan dry max sekitar 2 % - 3 % untuk setiap peningkatan kadar semen sebesar 2,5 %. (Gambar 4.854.87), peningkatan qc sondir dan cu unconfined sekitar 85 % - 90 % untuk setiap peningkatan energi sebesar 100 %. (Gambar 4.1064.108), peningkatan qc sondir dan cu unconfined sekitar 15 % - 20 % untuk setiap penurunan nilai IP sebesar 5 %. (Gambar 4.1034.105), peningkatan qc sondir dan cu unconfined sekitar 10 % - 15 % untuk setiap peningkatan kadar semen sebesar 2.5 %. (Gambar 4.884.90), dan persamaan hubungan antara qc dengan cu yang diperoleh dari penelitian ini adalah Cu = qc / ( 14 18 ), yaitu tanah Cangkring cu=qc/14 (Gambar 4.118), tanah Citarum cu=qc/16 (Gambar 4.119), dan tanah Cipicung cu=qc/18 (Gambar 4.120) serta hubungan antara modulus Young dengan qc adalah untuk tanah Cangkring E=2qc, tanah Citarum E=1.7qc, tanah Cipicung E=1.4qc lalu hubungan antara E dengan cu adalah untuk tanah Cangkring E=30cu, tanah Citarum E=27.5cu, tanah Cipicung E=25cu.

STUDI PEMILIHAN ELEMEN STRUKTUR LANTAI PRACETAK DENGAN METODA REKAYASA NILAI
SALINA HUSNI NRP. 4193029 Pembimbing: Danu Tirta Gunawan, Ir., MT. Ko-pembimbing: Zulkifli B. Sitompul, Ir., MT. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Pembangunan gedung pada saat ini membutuhkan waktu pengerjaan yang cepat agar dapat segera dimanfaatkan. Salah satunya dengan mengganti tipe pelat lantai yang dipakai dari struktur konvensional menjadi struktur pracetak. Struktur pracetak memiliki waktu pelaksanaan yang lebih cepat. Ada Bermacam jenis bentuk penampang pracetak. Untuk mendapatkan elemen pracetak yang dipilih maka diadakan studi Rekayas Nilai. Studi ini bertujuan untuk mengoptimalkan biaya dengan tetap mempertahankan kualitas dan realibilitas yang sesuai kebutuhan. Studi ini akan menerapkan metoda Rekayasa Nilai terhadap pemilihan jenis pelat pracetak. Hasil yang diperoleh dari analisis di pakai tipe HCS karena daya dukungnya besar, berat sendiri pelat ringan dan waktu pelaksanaannya lebih cepat dibandingkan tipe konvensional. Pemakaian HCS digunakan untuk bangunan bertingkat yang memiliki ukuran bentang yang seragam agar bentuk elemen pelat mudah dipesan.

STUDI PELAKSANAAN PEMASANGAN JARINGAN KABEL SERAT OPTIK DI LOKASI SEGITIGA EMAS JAKARTA
ADE SURYA SETIAWAN NRP: 4193037 PEMBIMBING : A. KARTAHARDJA, Ir. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Dengan semakin meningkatnya kebutuhan manusia akan telekomunikasi, maka kabel serat optik digunakan sebagai alternatif baru untuk mempercepat akses telekomunikasi. Apalagi Indonesia mempunyai potensi yang besar untuk pengembangannya. Diperlukan kemampuan untuk membangun jaringan telekomunikasi yang baik sehingga dapat dicapai hasil yang optimal terutama dalam pekerjaan pemasangan cable duct untuk jaringan kabel serat optik. Pada pelaksanaan pemasangan cable duct untuk jaringan kabel serat optik banyak terdapat kondisi yang harus diperhatikan seperti masalah sosial masyarakat, masalah waktu pelaksanaan pekerjaan maupun pada saat pelaksanaannya. Dengan adanya penggalian tanah terutama untuk daerah yang relatif padat bangunan dan lalu lintas seperti di lokasi segitiga emas Jakarta, maka dibutuhkan suatu analisis terhadap pekerjaan galian tersebut. Melalui survey pada studi kasus terhadap proyek pemasangan cable duct untuk jaringan kabel serat optik di lokasi segitiga emas Jakarta, dapat diambil kesimpulan bahwa untuk pemasangan cable duct pada daerah bahu jalan dilakukan dengan cara penggalian tanah. Sedangkan pemasangan cable duct dengan cara pengeboran dilakukan jika lokasi jaringan cable duct harus memotong badan jalan. Pekerjaan pemasangan cable duct dilakukan pada malam hari setiap 100 meter dengan waktu pekerjaan selama 6 jam, mulai pukul 23.00 hingga pukul 05.00 WIB agar pada saat pekerjaan galian selesai aktivitas kegiatan masyarakat dapat berjalan kembali tanpa hambatan. Untuk kelancaran pekerjaan ini maka pihak kontraktor melakukan koordinasi kerja dengan PEMDA DKI Jakarta sebagai pemberi ijin pelaksanaan proyek, aparat pengatur lalu lintas maupun instansi lain yang mempunyai jaringan infrastruktur bawah tanah. Disarankan agar dalam pekerjaan pemasangan cable duct, informasi awal pemetaan jaringan infrastruktur bawah tanah dan kondisi lapisan tanah proyek dimanfaatkan secara optimal untuk memperlancar pekerjaan dan mengantisipasi kemungkinan konflik dengan jaringan infrastruktur bawah tanah lain.

STUDI PERHITUNGAN FASILITAS DASAR BANGUNAN PERKANTORAN


YOHAN NRP: 4193043 Pembimbing: YOHANES L.D. ADIANTO, Ir., MT UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Kenyamanan dalam bekerja adalah faktor penting dalam meningkatkan produktivitas. Dan kenyamanan ini berhubungan dengan perencanaan fasilitas dasar yang baik dan hemat energi Dalam hal ini perencanaan fasilitas dasar menjadi penting untuk mencegah ketidaknyamanan bagi pengguna bangunan yang dapat mengakibatkan gangguan aktivitas perkantoran tersebut. Skripsi ini bertujuan sebagai menjelaskan perhitungan fasilitas dasar dan penerapannya pada bangunan perkantoran. Sehingga akan diperoleh bangunan gedung yang nyaman yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kerja penghuninya serta dalam pengoperasian dan pemeliharaannya dapat menghemat energi tanpa harus mengurangi dan atau mengubah fungsi bangunan, serta mempertimbangkan aspek biaya. Dari studi kasus di Kantor BII dapat disimpulkan bahwa perencanaan fasilitas dasar sudah memenuhi standar kenyamanan, tetapi ada beberapa ruangan yang dapat dihemat dalam hal tata cahaya dan tata udaranya, selain itu sistem pemeliharaan pada fasilitas dasarnya belum terorganisir dengan baik karena hanya mengarah kepada perbaikan saja.

STUDI KORELASI ANTARA BERAT ISI KERING, QC SONDIR, CU UNCONFINED MENGGUNAKAN TANAH MAJALAYA YANG DIKOMPAKSI DENGAN 5 VARIASI ENERGI DAN 3 KADAR SEMEN MEMAKAI MOLD 10.2CM-PALU 3.25KG, MOLD 3.8CM-PALU 0.4KG, DAN MODIFIED PROCTOR PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR
RUDY HARTADI S. NRP: 4193075 Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Djoko Soelarnosidji, MCE. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengecek hasil uji kompaksi teknik Soelarno dengan teknik Proctor, membuat korelasi energi kompaksi dengan qc Sondir (Gambar 4.84 dan 4.85), membuat korelasi antara energi kompaksi dengan Cu Unconfined (Gambar 4.83), membuat korelasi antara qc Sondir dengan Cu Unconfined (Gambar 4.1064.108), dan membuktikan bahwa dengan menggunakan alat yang berbeda akan mendapatkan dry dan kadar air (w) yang relatif sama (Gambar 4.284.72). Tanah yang digunakan pada penelitian ini adalah tanah sekitar Majalaya dengan 3 variasi Indeks Plastisitas (IP). Tanah tersebut adalah Tanah Cangkring (IP=35.97%), Tanah Citarum (IP=54.52%), dan Tanah Cipicung (IP=72.03%). Ketiga tanah tersebut dikompaksi dengan 3 macam alat kompaksi (modified proctor, mold 10.2cm-palu 3.25kg, dan mold 3.8cm-palu 0.4kg) yang menggunakan 5 variasi energi (3 kgcm/cm^3, 6.05 kgcm/cm^3, 16 kgcm/cm^3, 27.5 kgcm/cm^3, dan 38 kgcm/cm^3) yang distabilisasi dengan 3 kadar semen (5%, 7.5%, dan 10%) pada kondisi tidak jenuh air. Dari Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hasil kompaksi Modified Proctor sedikit berbeda dengan hasil kompaksi teknik Soelarno (1.5%-3%) (Gambar 4.284.72), peningkatan dry maksimum sekitar 3 % - 4 % untuk setiap peningkatan energi sebesar 100% (Gambar 4.894.91), peningkatan dry maksimum sekitar 2 % - 3 % untuk setiap peningkatan kadar semen sebesar 2.5 %. (Gambar 4.894.91), peningkatan qc sondir dan Cu Unconfined sekitar 85 % - 90 % untuk setiap peningkatan energi sebesar 100 %. (Gambar 4.834.85), peningkatan qc sondir dan Cu Unconfined sekitar 15 % - 20 % untuk setiap penurunan Indeks Plastisitas sebesar 5 %. (Gambar 4.834.85), peningkatan qc sondir dan Cu Unconfined sekitar 10 % - 15 % untuk setiap peningkatan kadar semen sebesar 2.5 %. (Gambar 4.834.85), dan persamaan hubungan antara qc dengan Cu yang diperoleh dari penelitian ini adalah Cu = qc / ( 14 18 ), yaitu Tanah Cangkring Cu=qc/14 (Gambar 4.106), Tanah Citarum Cu=qc/16 (Gambar 4.107), dan Tanah Cipicung Cu=qc/18 (Gambar 4.108) serta hubungan antara modulus young dengan qc adalah untuk Tanah Cangkring E=2qc, Tanah Citarum E=1.7qc, Tanah Cipicung E=1.4qc lalu hubungan antara E dengan Cu adalah untuk Tanah Cangkring E=30Cu, Tanah Citarum E=27.5Cu, Tanah Cipicung E=25Cu.

STUDI BANDING HASIL KOMPAKSI TANAH MAJALAYA YANG DICAMPUR SEMEN MENGGUNAKAN MOLD DIAMETER 10,2 CM-PALU 3,5 KG, MOLD DIAMETER 3,8 CM-PALU 0,45 KG, ALAT MODIFIED PROCTOR DENGAN VARIASI ENERGI UNTUK PARAMETER QC SONDIR, BERAT ISI KERING, DAN CU NCONFINED PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR
E. AGUNG PINTOKO K. NRP: 1993410119 PEMBIMBING: Prof. Dr. Ir. DJOKO SOELARNOSIDJI, MCE UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Selama ini uji kompaksi di laboratorium menggunakan teknik Proctor. Dengan pertimbangan kepraktisan dalam pelaksanaan uji kompaksi, maka Soelarno-IngeOkky (1998) dilanjutkan dengan Soelarno-Yoki-Steve (1999) mengembangkan teknik kompaksi baru dimana ukuran hammer dibuat seluas diameter mold. Kemudian timbul pemikiran untuk mengembangkan teknik ini dengan menggunakan mold Soelarno-Indrakila (1991) yang berdiameter 3,8 cm dengan palu yang dimodifikasi seluas diameter mold. Tujuannya adalah untuk kepraktisan penggunaan sampel bagi uji yang lain (konsolidasi, penjenuhan, unconfined compression test) dan mendapatkan parameter strength untuk mengontrol kualitas pemadatan. Oleh sebab itulah penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil uji kompaksi menggunakan alat Proctor dan alat Soelarno dengan mold diameter 10,2 cm - palu 3,5 kg, dan mold diameter 3,8 cm - palu 0,45 kg serta untuk membuat korelasi antara paramater qc sondir mold Proctor dan mold diameter 10,2 cm - palu 3,5 kg dengan Cu unconfined mold diameter 3,8 cm - palu 0,45 kg dengan variasi indeks plastisitas 35,97%, 54,52%, dan 72,03% dan tiga kadar semen yaitu 2,5%, 7,5%, dan 10% pada kondisi unsaturated (tidak jenuh air). Dari hasil uji difraksi sinar-X, tanah yang digunakan mengandung mineral halloysite, cristobalite, dan montmorillonite. Dari hasil penelitian juga didapat bahwa jika energi yang digunakan sama maka hasil kompaksi dari ketiga jenis mold hampir sama membentuk sudut 450, dengan perbedaan dry maksimum kurang dari 3%. Peningkatan qc sondir diikuti dengan Cu unconfined. Dengan hubungan Cu = qc/14,10 untuk tanah Ip 35,97%, Cu = qc/16,67 untuk tanah Ip 54,52%, dan Cu = qc/18,70 untuk tanah Ip 72,03%. Tanah dengan indeks plastisitas paling tinggi maka nilai qc sondir dan Cu unconfined akan lebih rendah dibanding dengan tanah dengan indeks plastistitas yang lebih rendah. Penambahan kadar semen akan meningkatkan nilai qc sondir dan Cu unconfined. Nilai dry akan meningkat 2% - 3% untuk setiap penambahan 2,5% kadar semen. Hubungan antara E modulus Young dengan qc adalah: E = 1,97 qc untuk tanah Ip 35,97%, E = 1,77 qc untuk tanah Ip 54,52%, dan E = 1,57 qc untuk tanah Ip 72,03%. Sedangkan hubungan antara E modulus Young dengan Cu adalah: E = 29,98 Cu untuk tanah Ip 35,97%, E = 27,68 Cu untuk tanah Ip 54,52%, dan E = 25,72 Cu untuk tanah Ip 72,03%.

PERAN QUANTITY SURVEYOR PADA TAHAP IMPLEMENTASI PROYEK DENGAN KONTRAK HARGA SATUAN
BUDI SETIONO NRP: 4193129 Pembimbing : Danu Tirta Gunawan, Ir., M.T. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Pekerjaan proyek dengan menggunakan kontrak harga satuan akan memudahkan owner untuk menambah item pekerjaan yang harus dilakukan oleh kontraktor. Sehingga hal ini dapat mempercepat dimulainya proses implementasi proyek, karena sebelum desain secara lengkap selesai, implementasi proyek sudah dapat dilakukan. Akan tetapi hal ini dapat merugikan pihak owner sendiri karena pihak kontraktor dapat memperbesar volume pekerjaan yang dilakukan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar. Quantity surveyor bertugas untuk menghitung volume yang seharusnya dikerjakan oleh kontraktor berdasarkan item-item pekerjaan. Posisi quantity surveyor pada pekerjaan proyek dengan kontrak harga satuan sangat diperlukan oleh pihak owner untuk memberikan kontrol terhadap volume yang akan dikerjakan oleh kontraktor. Pada studi kasus yang dibahas, akan diperoleh gambaran bagaimana tugas seorang quantity surveyor yang pada dasarnya menentukan volume-volume pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh kontraktor, hasil perhitungan itu akan menjadi masukan kepada pihak owner supaya dapat dikoordinasikan dengan kontraktor.

STUDI BIAYA DAN TATA LAKSANA PENYEDIAAN INSTALASI AIR BERSIH PADA KOMPLEKS PERUMAHAN BATUNUNGGAL INDAH BUAH BATU
NATAL F PANE NRP.4193150 Pembimbing : Ir. Rudy Wieadhy Sentany UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Sistem penyediaan air bersih wajib ada di setiap kompleks perumahan yang melayani semua kebutuhan masyarakat kompleks.Hal ini harus ada karena masyarakat memebeli rumah berdasarkan tingkat kenyamanannya.Apalagi kompleks perumahan Batununggal memang ditujukan untuk kelas menengah ke atas .Untuk itu diperlukan suatu perencanaan sarana penyediaan air bersih yang memadai , baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya , dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan air bersih penduduk kompleks Batununggal Indah. Pembangunan sarana penyediaan air bersih tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar .Untuk itu diperlukan studi biaya termasuk didalamnya studi kelayakan finansial .Biaya yang ada dianggap sebagai suatu investasi yang ditanamkan.Untuk itu perlu dilakukan analisis meneganai besarnya biaya dan penerimaan proyek terhadap nilai Net Present Value , Benefit Cost Ratio dan Break Even Point. Berdasarkan hasil analisis tersebut , dimana biaya investasi diperoleh dengan pinjaman lunak dengan tingkat suku bunga 7% pertahun , waktu tenggang 5 tahun , dan jangka waktu cicilan 15 tahun , diperoleh nilai NPV = Rp.1.023.184.857,- dan BCR = 2,145 Dengan melakukan studi biaya proyek penyediaan air bersih kompleks perumahan Batununggal Indah dapat disimpulkan bahwa proyek tersebut layak untuk dilaksanakan.

PENGARUH TUMBUKAN PADA PARAMETER MARSHALL CAMPURAN BETON ASPAL YANG MENGGUNAKAN ABU SEKAM PADI
V Viorensis W NRP: 4193166 Pembimbing: Santoso Urip Gunawan, Ir., MT. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Dengan meningkatnya kebutuhan akan jalan raya, maka dalam perencanaan perkerasaan jalan perlu diperhatikan bahan penyusun perkerasan jalan agar diperoleh lapisan perkerasan yang bermutu tinggi, ekonomis dan memperpanjang umur perkerasan beton aspal. Abu Sekam Padi adalah salah satu limbah yang cukup besar jumlahnya dari sisa pembakaran genteng atau bata yang tidak termanfaatkan, sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengisi atau filler campuran beton aspal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi tumbukan terhadap parameter Marshall yang menggunakan Abu Sekam Padi sebagai bahan pengisi campuran beton aspal. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai parameter Marshall campuran beton aspal yang menggunakan filler abu sekam padi tidak terdapat perbedaan rongga udara, VMA, VFA, serta kelelehannya akibat variasi jumlah tumbukan. Terdapat perbedaan yang nyata pada nilai stabilitas Marshall untuk 85 tumbukan terhadap 80 dan 75 tumbukan, sedangkan nilai stabilitas Marshall 75 dan 80 tumbukan tidak berbeda nyata.

EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PEKERJAAN LEMBUR PADA TAHAPAN PELAKSANAAN BANGUNAN


Ary Novi Heryanto NRP: 4193168 Pembimbing: Albert Kartahardja, Ir. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Pada tahapan pelaksanaan pembangunan suatu kontruksi sipil, keterlambatan jadwal penyelesaian pekerjaan seringkali terjadi. Salah satu alternatif yang biasa digunakan adalah kerja lembur dengan menambah jam kerja per hari. Untuk memperoleh cara yang efektif dan efisien, yang akan diterapkan di lapangan, dilakukan analisis dengan menentukan lintasan kritis dari kegiatan yang memerlukan pekerjaan lembur. Studi kasus dilakukan pada salah satu proyek bangunan gedung dan kerja lembur dilaksanakan pada pekerjaan beton. Dari perhitungan diperoleh hasil yaitu kurun waktu penyelesaian dapat dipercepat dua minggu dengan penambahan biaya sebesar Rp. 9.603.750,-. Hasil tersebut diperoleh berdasarkan pemilihan sebagian kegiatan yang perlu dilakukan kerja lembur sehingga tercapai efisiensi dan efektivitas kerja yang tinggi. Dengan menerapkan metode ini, diharapkan terjadi suatu pemecahan masalah yang baik sehingga bisa sampai pada sasaran pelaksanaan proyek.

10

STUDI PENGENDALIAN PROYEK DENGAN METODE PENJADWALAN GARIS


Joi P. Ginting NRP: 4193171 Pembimbing: Danu Tirta Gunawan, Ir., M.Sc. Ko-Pembimbing: Sonny Siti Sondari, Ir., MT. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Dalam pelaksanaan suatu proyek pembangunan, kadang-kadang terjadi keterlambatan dalam penyelesaian proyek. Untuk menghindari hal tersebut, maka diperlukan suatu perencanaan yang baik sebelum proyek mulai dilaksanakan. Perencanaan melibatkan dua faktor yang berpengaruh besar terhadap keberhasilannya, yaitu kecakapan perencana dan alat atau metode yang dipakai. Suatu perencanaan dapat berdaya guna secara maksimal apabila dapat menggerakkan semua pihak yang berkepentingan untuk ikut serta secara aktif dalam proses implementasi dan perencanaan tersebut. Pada skripsi ini akan dibahas pengendalian proyek, dalam hal ini pengendalian biaya dan waktu, dengan metode penjadwalan garis (line diagram). Metode ini menampilkan jadwal pelaksanaan kegiatan sekaligus biaya yang dipergunakan untuk kegiatan yang bersangkutan. Pengendalian proyek dapat dilakukan dengan cara memantau pekerjaan selama proyek berlangsung, sehingga perkembangan proyek dapat diketahui. Pada studi kasus diketahui bahwa pekerjaan proyek terlambat. Untuk mengejar keterlambatan perlu ditambah tenaga kerja dan peralatan yang lebih banyak, walaupun akan mengakibatkan penambahan biaya yang lebih tinggi dari rencana semula. Disarankan agar penggunaan metode penjadwalan garis ini hanya pada proyek yang mempunyai urutan pekerjaan dan hubungan keterkaitan antar kegiatannya relatif sedikit, agar perkembangan pekerjaan pada proyek dapat terlihat dan dikendalikan dengan baik.

11

STUDI BIAYA PEMELIHARAAN STRUKTUR ATAS JEMBATAN JALAN RAYA


HANIMIN NRP : 4193178 Pembimbing: Danu Tirta Gunawan, Ir., M.Sc. Ko-Pembimbing: Sonny Siti Sondari, Ir., MT. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Jembatan merupakan salah satu unit investasi yang paling tinggi nilainya dari semua komponen jalan raya. Masalah pemeliharaan jembatan adalah kendala yang serius bagi para sarjana teknik. Pemeliharaan yang salah akan mengurangi usia kegunaan secara drastis dan akan mengakibatkan kenaikan biaya pemeliharaan di waktu yang mendatang. Untuk menjamin keamanan dan nilai investasi nasional pada jembatan, maka hal penting yang harus diperhatikan adalah menyusun dan melaksanakan prosedur pemeliharaan yang tepat dan terjadwal. Skripsi ini akan membahas studi biaya pemeliharaan jembatan jalan raya yang baik dan efisien dengan cara membuat diagnosa jenis kerusakan setiap elemen jembatan jalan raya, mengevaluasi penyebab kerusakan, dan membuat saran/usulan pemeliharaan. Studi kasus yang diambil adalah Jembatan Citarum Rajamandala rangka baja. Jembatan Citarum Rajamandala rangka baja tidak pernah mengalami pemeliharaan semenjak selesai dibangun karena dana pemeliharaan yang tersedia terbatas. Jembatan Citarum Rajamandala rangka baja dibangun atas biaya dari PLN untuk menggantikan jembatan lama yang terendam air karena kenaikan muka air sungai akibat pembangunan Waduk Cirata. Estimasi biaya pemeliharaan Jembatan Citarum Rajamandala rangka baja per tahun adalah Rp 20.521.300,00. Pada masa krisis moneter saat ini, angka tersebut merupakan jumlah yang besar mengingat bahwa pada Jalan Propinsi dan Jalan Nasional di Propinsi Jawa Barat ada 2683 buah jembatan dan 123 diantaranya memiliki struktur atas rangka baja. Saat ini nilai kondisi Jembatan Citarum Rajamandala rangka baja adalah 2, yang berarti memerlukan pemantauan atau pemeliharaan di waktu mendatang. Faktor lain yang mempengaruhi adalah karena adanya Jembatan Citarum Rajamandala beton pratekan yang mempunyai daya layan lebih baik. Untuk menjaga agar usia kegunaan jembatan sesuai dengan yang direncanakan, sebaiknya pekerjaan pemeliharaan tetap dilakukan meskipun tidak sesuai dengan jadwal yang direncanakan.

12

STUDI PENGENDALIAN MUTU BAHAN DAN MUTU PEKERJAAN PELAKSANAAN PERKERASAN JALAN
Aloysius Anindita NRP: 4193184 Pembimbing: Ir. Zulkifli Bachtiar Sitompul, MSIE UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Mutu bahan dan mutu pekerjaan pada proyek perkerasan jalan akan sangat mempengaruhi umur dari perkerasan jalan tersebut. Pengendalian terhadap mutu terpadu sangat diperlukan untuk mencapai produk konstruksi mutu tinggi dan dapat diandalkan. Skripsi ini bertujuan untuk melihat, menganalisis dan memecahkan masalah yang timbul pada pelaksanaan perkerasan jalan khususnya untuk mencapai mutu yang diharapkan. Penulisan skripsi ini juga bertujuan untuk memberikan gambaran konsep secara menyeluruh mengenai konsep pengendalian mutu bahan dan mutu pekerjaan pada pelaksanaan perkerasan jalan. Analisa yang dilakukan adalah dengan membandingkan cara dan prosedur yang terdapat pada syarat syarat kelengkapan tender menurut Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Bina Marga dengan pelaksanaan pada lapangan selama proyek berkangsung. Kesimpulan yang dapat diambil pada pembahasan studi kasus antara lain : penyebab terjadinya penurunan mutu produk jalan dan umur perkerasan yang pendek, misalnya pada pemadatan tanah yang tidak sesuai dengan yang disyaratkan, antisipasi cuaca buruk yang kurang dan penggunaan bahan yang tidak sesuai. Akhirnya saran dan kritik bagi pelaksanaan perkerasan jalan dilakukan sesuai dengan yang disyaratkan dan prosedur yang berlaku.

13

STUDI KORELASI BERAT ISI KERING, QC SONDIR, CU UNCONFINED UNTUK TANAH MAJALAYA HASIL UJI KOMPAKSI MENGGUNAKAN ALAT MODIFIED PROCTOR, MOLD 10,2 CM PALU 3,75 KG, MOLD 3,8 CM PALU 0,50 KG YANG DISTABILISASI SEMEN DENGAN VARIASI ENERGI PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR
RUNDASYAH NRP: 4193186 Pembimbing : Prof. Dr. DJOKO SOELARNOSIDJI, Ir., MCE. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Selama ini uji kompaksi di laboraorium menggunakan alat Proctor. Hasil uji ini dalam penerapannya di lapangan adalah untuk keperluan enregi pemadatan di lapangan. Umumnya untuk mengonrtol kualitas pemadatan menggunakan parameter dry padahal yang diperlukan adalah faktor strength (kekuatan). Oleh sebab itulah penelitian ini mencoba untuk membandingkan penggunaan alat kompaksi jenis lain yang dimodifikasi untuk kepraktisan pengujian dan sekaligus untuk membuat korelasi antara paramater qc sondir mold proctor dan mold Soelarno-Yoki dan cu unconfined dari hasil uji mold mini dengan variasi indeks plastisitas dan kadar semen. Kegunaannya adalah untuk membuat alternatif lain dalam pengontrolan kualitas pemadatan di lapangan dengan menggunakan parameter qc sondir kompaksi dari hubungan yang didapat Tujuan penelitian ini adalah membandingkan penggunaan dari tiga jenis alat kompaksi yang berbeda dan membuat korelasi antara parameter tanah yaitu ; qc sondir kompaksi, cu unconfined dengan variasi energi kompaksi, dan membuat hubungan qc sondir dengan cu unconfined. Kegunaannya adalah untuk membuat alternatif lain dalam pengontrolan kualitas pemadatan di lapangan dengan menggunakan parameter qc sondir kompaksi dari hubungan yang didapat antara qc sondir dengan cu unconfined. Dari hasil penelitian didapat bahwa jika energi kompaksi yang digunakan sama maka hasil kompaksi dari ketiga jenis mold hampir sama (1.5% - 3%) . Untuk tanah dengan indeks plastisitas meningkat maka parameter qc, dan cu akan menurun sedangkan untuk kadar semen yang meningkat maka parameter qc, dan cu akan meningkat sebesar 10% - 15%. Sedangkan akan terjadi peningkatan qc dan cu sekitar 85%- 90% untuk peningkatan energi sebesar 100%. Hubungan antara cu dan qc adalah : cu=qc/n, nilai n untuk tanah dengan kadar IP=35,97 % adalah 14, dengan IP=54,52% adalah 17, dan untuk IP=72.03% adalah 19.

14

STUDI BANDING STRUKTUR KAP BAJA MONOBEAM, RANGKA BATANG DAN TERALIS DITINJAU DARI SEGI BIAYA DAN TATA LAKSANA
Y. F. Ferdy Indrasakti T. P. NRP: 4193188 Pembimbing: Danu Tirta Gunawan, Ir., MSc. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Dewasa ini sudah banyak jenis struktur kap baja yang digunakan, sehingga perlu diketahui bagaimana memilih struktur kap baja yang baik ditinjau dari segi biaya dan tata laksana. Dalam skripsi ini dianalisis struktur kap baja untuk monobeam, rangka batang , dan teralis, dengan variasi bentang 8m, 10m, 12m, 14m, 16m, 18m, dan 20m. Untuk struktur kap baja monobeam digunakan profil IWF, struktur kap baja rangka batang digunalan profil siku, sedangkan struktur kap baja teralis digunakan profil T dengan penghubung batang diagonal digunakan profil siku. Kesimpulan yang didapat dari segi biaya dan tata laksana adalah bahwa untuk bentang 8m, 12m, 14m, dan 18m dipilih struktur kap baja teralis. Sedangkan untuk bentang 10m, 16m, dan 20m dipilih struktur kap baja monobeam.

15

ANALISIS RENCANA JALUR REL GANDA PADA LINTAS YOGYAKARTA SOLO (BALAPAN)
INDRATNO BAYUAJI NRP: 4193198 PEMBIMBING : WIMPY SANTOSA, ST, M.Eng.,MSCE,Ph.D UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Untuk mengantisipasi perkembangan pengunaan sarana kereta api dan untuk meningkatkan keselamatan, kenyamanan, dan kinerja sistem transportasi kereta api, maka perlu diadakan peninjauan kembali kapasitas lintas pada jalur-jalur kereta api terutama pada jalur jalur yang padat. Pada skripsi ini ditinjau lintas kereta api Yogyakarta Solo (Balapan). Lintas tersebut selalu mengalami peningkatan volume yang berarti dari tahun ke tahun. Peningkatan ini harus diantisipasi dengan kesiapan prasarana penunjang lainnya. Salah satu faktor penting yang harus diperhitungkan adalah kapasitas lintas. Pada skripsi ini kapasitas lintas diperhitungkan untuk berbagai jenis sinyal, baik pada jalur tunggal maupun pada jalur ganda, dan dibandingkan dengan kapsitas lintas aktual yang ada. Dari hasil analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa lintas Yogyakarta- Solo (Balapan)memerlukan penambahan jalur dari jalur tunggal seperti yang ada sekarang menjadi jalur ganda, atau memerlukan pengganti sistem sinyal yang ada.

16

PEMERIKSAAN VISUAL KERUSAKAN PADA JEMBATAN GELAGAR BOX BAJA DI TOMANG JAKARTA
SIGIT PRIO HARTONO NRP: 4193207 Pembimbing: A. Kartahardja, Ir. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Jembatan merupakan aset modal yang tertinggi dalam sistem jalan raya, bila diukur berdasarkan luas jalan per meter persegi. Sebuah jembatan nilainya bisa mencapai kira-kira sepuluh kali dari nilai jalan bila diukur dengan cara tersebut. Oleh karena itu adalah penting untuk memelihara jembatan tersebut. Dalam pemeliharaan jembatan dapat dilakukan suatu pemeriksaan rutin dan pemeriksaan periodik untuk menentukan apakah ada kerusakan pada jembatan sehingga dapat diambil tindakan yang tepat. Tomang Flyover merupakan jembatan milik P.T. Jasa Marga yang terbuat dari struktur gelagar box baja dan jarang digunakan di Indonesia. Pada pemeliharaan jembatan ini perlu dilakukan pemeriksaan secara visual dan laporan pemeriksaan secara rutin serta periodik sehingga diketahui kondisi fisik dari kerusakan jembatan tersebut. Dari hasil pemeriksaan secara visual dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan harus dilakukan terhadap keseluruhan elemen-elemen jembatan yang meliputi : lapisan permukaan, expansion joint, timbunan/oprit, pelat lantai beton, gelagar/diafragma beton, gelagar/diafragma baja, abutment/pilar beton, drainase dinding, pipa cucuran, drainase lantai dan landasan/perletakan. Laporan hasil pemeriksaan dibuat dalam bentuk formulir yaitu laporan pemeriksaan rutin yang dilakukan enam bulan sekali dan laporan pemeriksaan periodik yang dilakukan lima tahun sekali. Disarankan adanya seorang inspektur terlatih dalam pemeriksaan rutin dan ahli jembatan dalam pemeriksaan periodik

17

PRAKIRAAN BIAYA PADA TAHAP PERENCANAAN BANGUNAN GEDUNG


YOGA SETIAWAN NRP: 4193211 Pembimbing: Albert Kartahardja, Ir. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Agar pelaksanaan pembangunan gedung dapat berjalan sesuai dengan perencanaan, maka diperlukan suatu alokasi biaya yang tepat serta dapat dipertanggungjawabkan. Dalam menyusun prakiraan biaya dari suatu proyek, seorang perencana dituntut untuk memahami semua unsur-unsur yang mempengaruhi biaya. Dalam menentukan harga penawaran yang diberikan para kontraktor dalam pelelangan, maka pemilik harus memiliki prakiraan biaya sebagai dasar pertimbangan harga penawaran. Tujuan umum dari usaha prakiraan ini adalah membuat perencanaan anggaran proyek dengan cara menganalisis perencanaan pekerjaan pada bangunan gedung. Dalam skripsi ini, masalah dibatasi pada perencanaan biaya dengan hanya meninjau pekerjaan pembetonan lantai 1, lantai 2 dan lantai 3 yang mencakup kolom, balok, pelat lantai dan tangga dengan menggunakan analisis BOW. Untuk studi kasus dipakai data dari proyek gedung Pasca Sarjana IAIN Sunan Gunung Djati yang terdiri dari 3 lantai dengan luas total 1200 m2. Dari pekerjaan-pekerjaan beton seperti balok, kolom, pelat lantai dan tangga, karena bagian utama dari struktur bangunan bertingkat adalah kolom, balok, pelat lantai dan tangga maka biaya pekerjaan beton yang diperhitungkan pada studi kasus ini adalah pekerjaan kolom, balok, pelat lantai dan tangga. Dari hasil analisis yang dilakukan maka dapat diperkirakan persentase biaya pekerjaan beton dari seluruh biaya pekerjaan gedung.

18

ANALISIS PENGGUNAAN JASA SUBKONTRAKTOR PADA PEMBANGUNAN GEDUNG


PARTOGI SIANTURI NRP: 4193213 Pembimbing: A. Kartahardja, Ir. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Didalam pengerjaan suatu proyek pembangunan gedung, kontraktor sebagai pelaksana mempunyai tugas untuk menyelesaikan proyeknya sesuai dengan sasaran proyek, yaitu tepat biaya, waktu, dan mutu.. Dengan kompleksnya pekerjaan proyek, akan semakin sulit bagi kontraktor untuk menyelesaikan proyeknya sesuai dengan sasaran proyek. Ada bagian-bagian dari proyek yang khusus dan sulit untuk dikerjakan oleh kontraktor bila tidak memiliki keahlian untuk mengerjakan bagian-bagian proyek yang khusus tersebut, seperti pondasi dalam (bor pile, tiang pancang), elektrikal, perpipaan, atap baja dan lain-lain. Oleh karena itu kontraktor membutuhkan bantuan kontraktor-kontraktor lain yang memiliki keahlian spesialis, yang disebut subkontraktor. Untuk mendapatkan pekerjaannya, subkontraktor membuat harga penawaran kepada kontraktor utama, lalu kontraktor utama akan memilih subkontraktor berdasarkan pertimbangan biaya, waktu dan mutu. Kontraktor utama sendiri mendapatkan laba dari pekerjaan yang tidak ia kerjakan sendiri. Namun penggunaan jasa subkontraktor tidak terbatas pada pekerjaan khusus saja. Kontraktor utama dapat menggunakan jasa para subkontraktor untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang tidak khusus dengan maksud mempercepat pelaksanaan proyek. Dari hasil analisis penggunaan jasa subkontraktor pada proyek pembangunan gedung dapat disimpulkan bahwa penggunaan jasa subkontraktor spesialis sangat membantu kontraktor utama, terutama dari segi waktu. Pada proyek pembangunan gedung, pekerjaan-pekejaan yang memerlukan penanganan khusus sebaiknya diberikan kepada subkontraktor spesialis.

19

PERBANDINGAN ANALISIS BIAYA UNTUK PEMBUATAN PORTAL MONOBEAM STRUKTUR BAJA DENGAN PANJANG BENTANG 25M, 30M, DAN 35M
Henry Lesmana A. NRP: 4193235 Pembimbing: Zulkifli Bachtiar Sitompul, Ir., MSIE. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Struktur portal monobeam baja merupakan salah satu elemen struktur yang penting dalam sebuah bangunan berbentang besar, seperti pabrik, gudang dan lainlain. Diantara berbagai struktur kap baja, portal monobeam baja seringkali menjadi pilihan karena bentuknya yang sederhana sehingga pengerjaannya tidak serumit pengerjaan struktur kap baja yang lainnya. Ada beberapa cara untuk menganalisis biaya yang diperlukan dalam pembuatan suatu struktur baja. Dalam skripsi ini biaya pembuatan struktur portal monobeam baja dianalisis dengan dua macam cara yang selama ini sudah dikenal yaitu cara Bina Marga dan cara Modern. Dari kedua cara tersebut dapat diketahui bahwa cara Modern menghasilkan perhitungan biaya yang paling minimum. Hal ini dapat dimungkinkan karena pada cara Modern analisisnya dilakukan dengan lebih terperinci dibandingkan dengan cara Bina Marga.

20

ANALISIS FREKUENSI GEMPA DI KAWASAN TIMUR INDONESIA


FERRY LEO NRP: 4194017 PEMBIMBING : THEO F.NAJOAN, Ir., M.Eng. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK Gejala gempa bumi dengan besaran (magnitude) yang meningkat makin sering tercatat di berbagai tempat di dunia termasuk di Indonesia. Dan yang merupakan tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisis terhadap datadata gempa sehingga akan diperoleh data baru berikut parameter nya yang lebih mendetail dan lebih terinci untuk setiap bagian kecil wilayah Indonesia.

Analisis data gempa dibatasi untuk Kawasan Timur Indonesia. Parameter hasil yang diperoleh dari analisa perkotak adalah: Pulau Sulawesi b1=0.6630 Pulau Flores dan Timor b1=0.7831 Pulau Maluku b1=0.8526 Pulau Irian b1=0.7560 Untuk analisa hasil gabungan per pulau diperoleh hasil sbb: Pulau Sulawesi b1=0.8876 Pulau Flores dan Timor b1=1.0725 Pulau Maluku b1=0.9953 Pulau Irian b1=0.9700

Hasil yang didapat ini tidak lah berbeda jauh dari hasil penelitian yang diperoleh oleh Beca Carter dan Hollings yaitu antara 0.9 hingga 1.1. Selain itu juga diperoleh persamaan hubungan antara Log N1(M) vs Magnitude untuk analisa gabungan adalah: Pulau Sulawesi Log N1(M) = 5.8143 0.8876 Ms Pulau Flores dan Timor Log N1(M) = 6.4881 1.0725 Ms Pulau Maluku Log N1(M) = 6.5371 0.9953 Ms Pulau Irian Log N1(M) = 6.1718 0.9700 Ms

21

STUDI ANALISIS BIAYA PEMATANGAN LAHAN


ARIEF BUDIMAN.S NRP: 4194047 Pembimbing: Danu Tirta Gunawan, Ir., MT UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Salah satu bagian penting dari pelaksanaan pembangunan suatu proyek konstruksi adalah pekerjaan galian dan timbunan. Agar pelaksanaanya berjalan dengan baik, diperlukan perencanaan dan perhitungan yang matang sehingga hasil yang diharapkan dapat memuaskan semua pihak. Tujuan penulisan skripsi ini adalah menganalisis pekerjaan pematangan lahan di lapangan dan biaya yang terkait dalam pelaksanaan proyek. Pertama-tama dilakukan penetapan cara penanganan yang tepat untuk kondisi lahan yang akan dimatangkan. Kemudian dipilih alat berat yang akan dipakai dan harus sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan, juga harus diperhatikan dari segi efisiensi dan biaya. Lalu, berdasarkan volume pekerjaan yang telah direncanakan, ditentukan waktu operasi dari peralatan berat yang telah dipilih tadi. Waktu operasi tersebut dipergunakan untuk mengetahui besarnya biaya operasi alat berat serta biaya kepemilikannya. Jumlah biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan proyek tersebut merupakan penjumlahan dari biaya operasi dan biaya pemilikan alat berat. Dari hasil analisis pada studi kasus yang dilakukan pada proyek pembangunan hotel di kawasan Jakarta Selatan, diperoleh waktu pelaksanaan yang cukup lama dan biaya yang cukup mahal. Hal ini menunjukkan proses pelaksanaan pematangan lahan serta pemilihan alat berat yang kurang efektif.

22

ANALISIS WAKTU TUNDA DENGAN TEKNIK JALUR GANDA PARSIAL PADA JALAN REL KORIDOR JAKARTABANDUNG SEKSI CIKAMPEK PADALARANG
R. DHOMO BUDHI SATRIO NRP. 4194053 Pembimbing: Aloysius Tjan, Ir., MT., Ph.D. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Peningkatan pelayanan pada kereta api tidak hanya pada bentuk pelayanan (service) di dalam gerbong saja, meningkatkan kapasitas lintas termasuk didalamnya. Meningkatkan kapasitas lintas dengan tidak mengurangi waktu tempuh dapat dilakukan dengan penggunaan jalur ganda. Pengurangan waktu tempuh adalah hal yang paling dicari oleh konsumen. Namun keterbatasan dana menyebabkan pembuatan jalur ganda hanya sebatas pada jalur ganda parsial saja. Hasil analisis yang dilakukan pada seksi Cikampek Padalarang, dengan tidak mengubah alinyemen, untuk seluruh kelas kereta api yang ada berdasarkan Gapeka 1998 menghasilkan bahwa ruas Sukatani Plered Cisomang, Maswati Sasaksaat Cilame hingga Padalarang, dengan panjang 29,276 km adalah ruas jalur ganda parsial yang memberikan waktu tunda terendah. Padahal ruas tersebut adalah ruas terpendek dari 10 (sepuluh) ruas yang dianalisis, termasuk pula dari panjang jalur ganda parsial hasil analisis P.T. Kereta Api. Hasil studi yang telah dilakukan oleh P.T. Kereta Api dan para konsultannya telah menetapkan ruas Cikampek hingga Purwakarta, Ciganea hingga Sukatani, dan Plered hingga Cisomang sepanjang 32,53 km adalah ruas antar stasiun yang akan diterapkan jalur ganda parsial, dengan catatan bahwa kereta api yang melintas hanyalah KA Argo Gede dan KA Parahyangan saja. Lebih dari itu hasil studi yang dilakukan ini mengubah alignment beberapa ruas antar stasiun. Penentuan ruas mana yang memberikan waktu tunda terendah sangat dipengaruhi oleh bobot perbandingan antar kelas kereta api. Bobot antar kereta api perlu dipertimbangkan mengingat bahwa KA Argo Gede tidak mungkin akan mempunyai nilai yang sama dengan KA Parahyangan, KA Ekonomi Ekspres, KA Ekonomi Non Ekspres, maupun KA Barang, yang dapat terlihat dengan pemberian prioritas perjalanan kepada KA Argo Gede saat bertemu ketiga kelas kereta api yang lain pada ruas rel tunggal.

23

ANALISIS DINAMIK PENGARUH GEMPA SUSULAN PADA STRUKTUR BETON BERTINGKAT RENDAH
Ansias Dekanadi NRP: 4194087 Pembimbing: Ir. Adhijoso Tjondro, ME. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK JURUSAN SIPIL BANDUNG 2000 ABSTRAK
Pada skripsi ini dipelajari respon struktur terhadap gempa susulan yang terjadi setelah gempa utama. Struktur beton bertulang dapat mengalami kerusakan akibat gempa utama, dan kerusakan tersebut dapat bertambah akibat gempa susulan pada struktur yang telah berkurang kekuatannya akibat mengalami kondisi inelastis pada saat gempa utama. Kekuatan gempa susulan yang terjadi sering kali mendekati kekuatan gempa utama dengan karakteristik gempa yang mirip, sehingga gempa susulan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap struktur yang sudah mengalami perlemahan. Perencanaan awal dilakukan dengan metode statik ekuivalen sesuai dengan Pedoman Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung (SKBI1.3.53.1987, UDC:699.841). Analisis elastis dilakukan dengan bantuan program SANS/89 ver. 3.7. Selanjutnya untuk mempelajari pengaruh gempa susulan dilakukan analisis dinamik riwayat waktu inelastis tanpa memperhitungkan degrading stiffness dan dengan memperhitungkan degrading stiffness. Analisis inelastis ini dilakukan dengan bantuan program DRAIN2D. Rekaman percepatan gempa yang dipergunakan adalah rekaman percepatan gempa Denpasar 1979, Elcentro 1940, Bucharest 1977 dan Pacoima Dam 1971, sebagai gempa susulan rekaman gempa yang sama dipergunakan dengan kekuatan yang diperkecil sampai 90% kekuatan gempa utama. Dari hasil analisis dalam skripsi ini didapatkan bahwa gempa susulan dapat mengakibatkan respon struktur yang lebih besar dari respon struktur terhadap gempa utama. Hal ini diperlihatkan dengan adanya peralihan dan rotasi sendi plastis kumulatif maksimum yang lebih besar, akibat gempa susulan.

24

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH SIKA CARBODUR TIPE S512 TERHADAP KUAT LENTUR BETON K-400 DENGAN BENDA UJI BALOK 15 15 110 CM3
HENDRA TANNADI NRP: 4194134 PEMBIMBING : Ny. WINARNI HADIPRATOMO, Ir. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Pada dewasa ini beton sangat banyak digunakan sebagai elemen struktur pada bangunan. Dengan semakin berkembangnya teknologi, telah ditemukan berbagai cara untuk memperbaiki kekuatan komponen struktur beton yang mengalami kerusakan. Salah satu cara yang telah ditemukan yaitu dengan menggunakan Sika Carbodur. Keuntungan dari pemakaian Sika Carbodur yaitu komponen struktur tidak perlu dibongkar dan kekuatan yang dihasilkan juga sangat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kuat lentur, kekakuan penampang EI, lendutan terhadap beban, ukuran tulangan dan kekuatan dari beton secara teoritis dengan hasil penelitian. Jenis Sika Carbodur yang digunakan adalah tipe S512 dan sebagai perekat Sika Carbodur ke permukaan beton dipakai Sikadur 30. Untuk mempermudah pengerjaan beton diberikan Superplasticizer yaitu Sikament NN dengan kadar 1,5% dari berat semen. Kemudian dibuat benda uji berupa balok beton berukuran 15 15 110 cm3. Pengujian kuat lentur balok tanpa Sika Carbodur dilakukan pada umur 28 hari, sedangkan untuk balok dengan Sika Carbodur dilakukan pemasangan Sika Carbodur pada umur 28 hari dan pengujian dilakukan tiga hari kemudian. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil yaitu setelah pemakaian Sika Carbodur, kekuatan lentur meningkat 75,8%, kekakuan penampang EI meningkat 18,9%, pada lendutan yang sama, balok yang memakai Sika Carbodur dapat memikul beban lebih besar, ukuran diameter tulangan utama dapat dikurangi dari 22 menjadi 10 dan untuk tulangan geser dari 8 menjadi 6, kekuatan balok beton teoritis lebih besar dari kekuatan hasil uji lentur, serta pola retak yang terjadi menjadi lebih halus.

25

PENGENDALIAN MUTU PEKERJAAN BETON DENGAN METODE STATISTIK MENGGUNAKAN CONTROL CHART
NOVI AGUSTIAN TANUSAPUTRA NRP: 4194141 Pembimbing: Danu Tirta Gunawan, Ir., MT. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Karena beton dibentuk dari berbagai macam bahan, maka terjadi variasi dalam pencapaian mutu. Hasil yang terjadi tersebar disekitar mutu beton rencana. Sehingga sebaiknya mutu beton dibuat dalam suatu rentang untuk memudahkan penerimaan mutu beton. Lebar rentang ditentukan berdasarkan analisis statistik. Sebagai intrumen untuk me-record data yang terjadi dilapangan dan untuk pengendalian proses digunakan control chart, yang terdiri dari garis lurus yang menggambarkan tingkat sasaran, tingkat batas atas, dan tingkat batas bawah.

26

STUDI PENGOLAHAN DAN PENANGANAN LIMBAH PADAT PT. KERTAS PADALARANG


Mochammad Abdul Rahim Aji NRP: 4194144 Pembimbing: R. Wahyudi Triweko, Ir., M.Eng., Ph.D. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
PT. Kertas Padalarang menghasilkan limbah padat yang berasal dari proses produksi maupun dari unit pengolahan limbah cair. Selama ini limbah padat tersebut dibuang ke tempat penampungan tanpa penanganan lebih lanjut. Upaya ini dirasakan sangat tidak efektif, sehingga perlu dilakukan suatu penanganan agar limbah padat yang dihasilkan memberikan manfaat dan dampak lingkungan secara positif. Melihat karakteristik limbah padat yang dihasilkan, limbah padat yang berasal dari unit pengolahan limbah cair dapat dijadikan pupuk kompos. Untuk itu diperlukan suatu unit pengolahan dan penanganan limbah padat yang terdiri dari unit proses pemekatan berupa kolam pemekatan, pengeluaran air berupa bak pengering lumpur yang bertujuan untuk mendapatkan lumpur dengan kadar padatan yang diinginkan agar lumpur dapat lebih mudah dimanfaatkan. Unit penanganan limbah padat dilakukan dengan proses pengomposan konvensional seperti yang dilakukan pada pembuatan pupuk kompos umumnya. Dari hasil studi diperoleh kesimpulan bahwa luas areal yang dibutuhkan untuk areal kolam pemekatan 81 m2, bak pengering lumpur 1290 m2, dan pengomposan 792 m 2.

27

STUDI PERANCANGAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH PT. KERTAS PADALARANG


Jeffrey Arba Sabas NRP: 4194148 Pembimbing: R. Wahyudi Triweko, Ir., M.Eng., Ph.D. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Dengan adanya kebutuhan akan kertas yang terus meningkat, PT. Kertas Padalarang bermaksud melakukan penambahan produksi dengan cara pengembangan dan perluasan lahan pabrik. Hal ini akan menyebabkan bertambahnya produksi air limbah yang dihasilkan, dari 7000 m3 perhari menjadi 10500 m3 perhari. Untuk mengetahui akibat dari pertambahan produksi air limbah, dilakukan evaluasi kinerja terhadap instalasi pengolahan air limbah (IPAL) PT. Kertas Padalarang yang berupa bak pengendapan (lagoon). Ternyata IPAL sudah tidak lagi berfungsi dengan baik, hal ini terlihat dari data effluent yang ada dimana kandungan bahan pencemar masih tinggi. Sehingga untuk mengolah air limbah PT. Kertas Padalarang dibutuhkan suatu perancangan IPAL yang baru. Berdasarkan atas hasil penelitian terhadap air limbah PT. Kertas Padalarang di Laboratoria Teknik Lingkungan ITB, dibuat perancangan IPAL baru berupa proses lumpur aktif sistem pencampuran sempurna, yang terdiri dari unit penyaringan kasar, unit proses koagulasi (ukuran bak 2 2 2 m3), unit proses flokulasi (10 10 3 m3), unit proses pengendapan pertama ( 15 m, tinggi 3 m), unit proses aerasi (15 25 4 m3), dan unit proses pengendapan kedua ( 19 m, tinggi 4 m).

28

ANALISIS FREKUENSI GEMPA DI KAWASAN BARAT INDONESIA


Ronny Paulus NRP: 4194170 Pembimbing: Ir. Theo F. Najoan, M. Eng. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Analisis frekuensi gempa di kawasan barat Indonesia dengan mengumpulkan data-data dari USGS National Earthquake Information Center lewat internet dan Direktorat Geologi. Data yang dikumpulkan adalah dengan kriteria sebagai berikut: Data di kawasan barat Indonesia dari tahun 1821 sampai September 1999 Magnitude gempa M4; dimana M dalam Ms Kedalaman pusat gempa sampai 150 km Data-data ini dipisah-pisah menurut derajat lintang dan bujurnya yang berkelompok menjadi satu kotak dalam satu derajat persegi yang membentuk kawasan Indonesia yang akan dibahas disini adalah dari 9o LU sampai 15o LS dan 94o BT sampai 120o BT dan ditambah dari 92o BT sampai 94o BT membentuk 624 kotak lebih. Kemudian data gempa pada setiap kotak disortir menurut frekuensi kejadian gempa dengan M4; M4,5; M5; M5,5; M6; M6,5 dan M7 pertahun, dipilih hanya untuk gempa dangkal dengan kedalaman pusat gempa 100 km, lalu dianalisis dengan metode Gutenberg-Richter.dan didapat harga a1 dan b1 -nya. Hasil dari analisis per kotak diperoleh rata-rata harga b1 dan a1 Pulau Sumatera b1= 0,70 = 0,226 a1 = 2,90 = 1,153 Pulau Jawa & sekitarnya b1= 0,71 = 0,235 a1 = 2,90 = 1,14 Untuk analisis per pulau diperoleh persamaan (model Gutenberg-Richter) pada dua daerah subduksi di Sumatera dan Jawa, dengan nilai-nilai konstanta: Pulau Sumatera b1= 0,993 a1 = 6,2 Pulau Jawa & sekitarnya b1= 1,141 a1 = 6,9 Dengan persamaan tersebut dapat dipakai untuk mencari periode ulang magnitude gempa tertentu yang dibatasi sebagai berikut : Pulau Sumatera Mmaks = 8,31 Pulau Jawa & sekitarnya Mmaks = 7,85 Selain itu dalam skripsi ini dapat juga dilihat frekuensi gempa di kawasan barat Indonesia dan dapat dijadikan petunjuk dimana saja kawasan yang relatif sering diguncang gempa dengan magnitude M> 6.

29

PEMILIHAN PENGGUNAAN TOWER CRANE PADA PEMBANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT DITINJAU DARI SEGI BIAYA
DAVID P MANURUNG NRP:.4194178 Pembimbing: Yohanes L.D. Adianto, Ir.,MT. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Tower crane adalah alat berat yang lazim digunakan pada berbagai proyek pembangunan. Kecepatan angkat, kemampuan mengangkat beban berat, dan luas daerah yang dapat dijangkau adalah faktor-faktor yang menyebabkan alat ini sangat diandalkan oleh kontraktor pelaksana proyek. Pengoperasian tower crane pada suatu proyek pembangunan membutuhkan biaya yang sangat besar. Biaya pengoperasian tower crane pada suatu proyek terdiri dari biaya pengadaan alat, biaya handling, biaya mobilisasi tower crane dari tempat penyimpanan ke lokasi proyek dan sebaliknya, biaya proses erection dan dismantle, biaya pembuatan pondasi dan pembongkarannya, biaya operator, serta biaya pengurusan ijin . Studi kasus dalam skripsi ini adalah Proyek Pembangunan Gedung Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Dari hasil penelitian di lokasi menunjukkan bahwa biaya penyewaan dua unit stationary tower crane lebih besar daripada satu unit travelling tower crane. Untuk memutuskan penggunaan jenis tower crane tertentu pada suatu proyek pembangunan gedung, juga harus mempertimbangkan jadwal kerja, ketersediaan dana, dimensi bangunan, dan keadaan lokasi proyek.

30

STUDI EKSPERIMENTAL PENENTUAN KOEFISIEN KEKASARAN PIPA BESI GALVANIS DENGAN PERSAMAAN DARCY-WEISBACH
HENDRA GUNAWAN NRP: 4194191 Pembimbing: SALAHUDIN GOZALI, Ir., ME., Ph.D UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Kehilangan energi yang terbesar dari aliran air dalam pipa adalah akibat dari gesekan yang terjadi antara air dan dinding dalam pipa. Besar kehilangan energi sangat tergantung dari jenis bahan pipa, diameter dalam pipa dan jenis aliran di dalam pipa tersebut. Untuk dapat mengetahui besar koefisien kekasaran pipa besi galvanis pada jaringan pipa yang terdapat di laboratorium hidraulika Universitas Katolik Parahyangan maka dilakukan studi eksperimental. Dari hasil penelitian untuk range Re antara 87790,19 sampai 37269,47 diketahui bahwa koefisien kekasaran pipa besi galvanis dengan diameter 1 berbeda sampai dengan 60,02 % dengan penentuan koefisien kekasaran dengan menggunakan diagram Moody, diameter berbeda sampai 26,44 % dan untuk pipa dengan diameter berbeda sampai 91,37 %. Dari hasil penelitian diperoleh nilai koefisien kekasaran pada jaringan pipa di laboratorium memiliki nilai lebih kecil dibandingkan dengan koefisien kekasaran yang diperoleh dengan menggunakan diagram Moody. Hal ini disebabkan dugaan perbedaan bahan pipa besi besi galvanis dan kondisi dari pipa besi galvanis yang sekarang dengan bahan pipa besi pada pada saat diagram Moody dibuat untuk range Re antara 87790,19 sampai 37269,47.

31

ANALISIS DAN RENCANA PENINGKATAN SIMPANG TIGA JALAN CIUMBULEUIT, SILIWANGI, DAN CIHAMPELAS WILAYAH KOTAMADYA BANDUNG
Adrian Wirjanata NRP: 4195047 Pembimbing : Zul Kasturi, ST., MT. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Saat ini kemacetan merupakan masalah yang dapat ditemui di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Kemacetan ini membawa kerugian bagi pengguna jalan dimana waktu tempuh menjadi bertambah. Pada Simpang Tiga Jalan Ciumbuleuit, Siliwangi dan Cihampelas juga terjadi kemacetan dimana sering terlihat antrian panjang kendaraan pada persimpangan tersebut. Dengan bantuan Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997 (MKJI 1997) dicoba menganalisis persimpangan tersebut untuk mengetahui kapasitas, derajat kejenuhan, panjang antrian dan tundaan simpang rata-rata dari simpang tersebut. Dari hasil analisis disimpulkan bahwa simpang tersebut sudah jenuh, dan dicoba untuk merencanakan peningkatan kapasitas dari simpang tersebut agar sesuai dengan volume kendaran yang melewatinya. Peningkatan dengan pengubahan fase sinyal dan penambahan waktu siklus sudah tidak dapat dilakukan pada persimpangan ini, maka dicoba peningkatan dengan pelebaran kaki simpang. Dari hasil analisis didapat derajat kejenuhan lebih kecil dari 0,85 setelah dilebarkan dengan waktu siklus 115 detik dan waktu hilang total 12 detik

32

HUBUNGAN BULK SPECIFIC GRAVITY SERTA APPARENT SPECIFIC GRAVITY DENGAN EFFECTIVE SPECIFIC GRAVITY PADA CAMPURAN BERASPAL
MARTONO TEJOSAPUTRO NRP: 199541079 Pembimbing: ALOYSIUS TJAN Ir., M.T.,Ph.D UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/0/1997) BANDUNG FEBRUARI 2000 ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hubungan antara Bulk Specific Gravity(Gsb) dan Apparent Specific Gravity (Gsa) dengan Effective Specific Gravity (Gse). Penelitian ini meliputi pengujian terhadap lima jenis agregat kasar dengan karakteristik sifat fisik yang bervariasi, masing-masing jenis agregat dibagi menjadi lima jenis ukuran yang berbeda. Dari variasi jenis agregat yang berbeda ukuran dan karakteristik fisiknya tersebut dibuat campuran beraspal untuk mendapatkan besaran Theoretical Maximum Specifc Gravity (Gmm). Selanjutnya dengan perhitungan terhadap Gmm dapat dihitung besarnya Effective Specific Gravity (Gse). Dengan melakukan analisis statistik ANOVA terhadap besaran Bulk Specific Gravity (Gsb) dan Apparent Specific Gravity (Gsa) dengan Effective Specific Gravity (Gse), didapati bahwa untuk jenis yang sama, besarnya Gsb, Gsa, dan Gse tidak terdapat perbedaan yang signifikan untuk ukuran yang berbeda-beda. Dengan melakukan analisis regresi linier terhadap data Gsb, Gsa, dan Gse diperoleh persamaan empiris: Gse = 0.5115(Gsb+Gsa)-0.1033

33

EVALUASI PERANCANGAN POLA JALAN TERHADAP OPTIMASI PEMBAGIAN LAHAN PADA LINGKUNGAN PERUMAHAN SEDERHANA
I Dewa Gde Mahendra NRP: 4195131 Pembimbing : Yohanes L.D. Adianto, Ir. MT.
Ko pembimbing : Sonny Siti Sondari, Ir. MT.

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI SIPIL BANDUNG 2000 ABSTRAK
Melonjaknya biaya pengembangan lahan yang harus dikeluarkan pengembang menyebabkan harga jual unit hunian pada lingkungan perumahan sederhana menjadi tinggi. Salah satu alternatif dalam meminimalkan biaya pengembangan lahan adalah dengan cara merancang pola jalan yang sesuai dengan kebutuhan rencana pembagian lahan. Ada beberapa indikator biaya dan kondisi fisik rancangan yang bervariasi. Oleh sebab itu diperlukan analisa model perancangan dan teknik optimasi untuk memperoleh rancangan pola jalan yang efisien. Dengan menggunakan empat modul dasar perencanaan pembagian lahan dan sebuah model optimasi program non linier yang diperkenalkan dalam analisis masalah, maka diperoleh rancangan pola jalan untuk luas persil 65 m2 dan 69 m2, dan variabelvariabel yang memenuhi batasan yang ada; biaya minimum pematangan lahan untuk pola Gridiron 2 dan Semi Cul De Sac (Rp. 18.500.000 & Rp. 19.769.000) lebih murah dibandingkan biaya pematangan lahan untuk pola Gridiron 1 dan Cul De Sac (Rp. 18.557.000 & Rp. 19.830.000). Sedangkan untuk luas persil 90 m2, walaupun biaya minimum pematangan lahan untuk pola Gridiron 2 dan Semi Cul De Sac (Rp. 26.310.000) lebih murah dibandingkan pola Gridiron 1 dan Cul De Sac (Rp. 26.391.000), namun variabel-variabel lebar persil dan panjang persil untuk pola jalan Gridiron 2 dan Semi Cul De Sac tidak memenuhi batasan-batasan yang ada. Ini menunjukan kalau pola jalan Gridiron 2 dan Semi Cul De Sac tidak optimum untuk persil 90 m2.

34

STUDI EKSPERIMENTAL KORELASI VARIASI ENERGI KOMPAKSI DENGAN QC SONDIR DAN PARAMETER KONSOLIDASI DARI TIGA VARIASI INDEKS PLASTISITAS TANAH EKSPANSIF DI SEKITAR PADALARANG PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR
KARENINA LUKMAN SUDIRO NRP : 4195138 PEMBIMBING: Prof. Dr. DJOKO SOELARNOSIDJI, MCE UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengecek hasil kompaksi antara alat Modified Proctor dengan alat Soelarno, kemudian mencari dan mengkorelasikan antara nilai dari hasil kompaksi, sondir dan parameter konsolidasi ( Cc dan cv ) dengan qc sondir dari tanah di sekitar Padalarang ddengan Indeks Plastisitas pada kondisi tidak jenuh air. Dari berbagai uji awal yang dilakukan, didapat Indeks Plastisitasnya, yaitu IP 1 = 85.65%, IP = 65.5%, IP 3 = 42.57%. dan uji difraksi X-ray, dapat disimpulkan bahwa ketiga jenis tanah tersebut merupakan tanah ekspansif. Sedangkan Energi yang dipakai dalam penelitian ini adalah 4.531579 kg.cm/cm3 (E1), 11.39760 kg.cm/cm3 (E2), 22.04758 kg.cm/cm3 (E3), 31.57763 kg.cm/cm3 (E4), 41.01308 kg.cm/cm3 (E5). Dan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan energi dan kadar air yang sama, dimana ukuran mold dan hammer, serta berat hammer tidak berpengaruh. Jadi dapat disimpulkan bahwa alat kompaksi Modified Proctor sama dengan alat kompaksi Soelarno. Kemudian dilakukan uji konsolidasi untuk mendapatkan nilai parameter (Cc dan cv). Dimana nilai Cc sangat dipengaruhi kadar air, dimana makin besar kadar airnya, maka makin besar pula nilai Ccnya, yaitu pada keadaan kadar air optimum pada E1-E5, berturut-turut adalah 0.2915,0.2412,0.2137,0.2465,0.2137 (IP = 42.57%), 0.354215, 0.31547, 0.442367, 0.29046, 0.194565 (IP=65.5%), 0.4322, 0.3915, 0.3255, 0.3446, 0.2771 (IP = 85.67%). Sedangkan nilai cv tidak dipengaruhi oleh besarnya kadar air dan energi. Jadi hasil perbandingan untuk nilai Cc pada keadaan tidak jenuh air lebih kecil daripada nilai Cc pada keadaan jenuh air pada kadar air dan energi yang sama.

35

STUDI PENGARUH PARAMETER PERKERASAN TERHADAP W18 DAN TEBAL PERKERASAN KAKU PADA METODE AASHTO 1993
LOMIANTO NRP: 4195143 PEMBIMBING: ALOYSIUS TJAN, Ir., M.T., Ph.D. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Dalam upaya untuk mengurangi biaya pembuatan jalan, sangat penting bagi perencana jalan raya untuk mengetahui prinsip-prinsip desain perkerasan. Faktorfaktor yang berpengaruh pada tebal perkerasan kaku (D) metode AASHTO 1993 diantaranya parameter: pengulangan beban sumbu standar (W18), tingkat keandalan, deviasi standar keseluruhan, desain selisih tingkat pelayanan, tingkat pelayanan akhir (pt), modulus keruntuhan beton, koefisien drainase, koefisien pengalihan beban, modulus elastisitas beton dan modulus reaksi tanah dasar efektif. Tulisan ini bertujuan untuk melihat besarnya pengaruh variasi nilai parameter perkerasan pada W18 dan D. Hasil perhitungannya diplot menjadi grafik. Grafik hubungan parameter perkerasan kaku tertentu dengan W18 yang dibuat memperlihatkan kecenderungan tertentu, hal yang sama juga pada grafik hubungan parameter perkerasan kaku tertentu dengan D. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa untuk suatu kondisi desain perkerasan, semua parameter perkerasan AASHTO 1993 mempunyai pengaruh yang besar pada W18. Dan untuk suatu kondisi desain perkerasan, semua parameter perkerasan kaku AASHTO 1993 mempunyai pengaruh yang besar pada D kecuali pt.

36

PENGARUH PEMBANGUNAN JALAN LAYANG PASPATI TERHADAP ZONA TERPENGARUH DI KOTAMADYA BANDUNG
ANDREA PIRELINA NRP: 1995410162 Pembimbing: Wimpy Santosa, ST., M.Eng., MSCE., Ph.D UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Perubahan fungsi kota Bandung dari kota tempat peristirahatan dan kota wisata menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, perindustrian, dan pendidikan telah menimbulkan masalah baru di bidang transportasi. Desain ruas jalan yang pada awalnya sangat terbatas, ruas jalan yang pendek, serta jalan yang relatif sempit tidak cukup untuk menampung volume pergerakan yang terjadi. Hal ini menyebabkan kemacetan hampir di setiap persimpangan pada jam sibuk. Untuk mengurangi kemacetan di Kotamadya Bandung ditawarkan suatu jalan alternatif yang dikenal sebagai Jalan Layang Paspati. Pada skripsi ini dilakukan simulasi pergerakan lalu lintas terhadap ruas jalan yang ada di Kotamadya Bandung. Simulasi dilakukan dengan menggunakan program Motors. Hasil studi ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan nilai VCR yang cukup besar pada jalan-jalan arteri dan kolektor di koridor Jalan Layang Paspati.

37

PEMILIHAN ALTERNATIF RUTE PERJALANAN AKIBAT ADANYA JALAN LAYANG PASTEUR -SURAPATI
LUSI M. GUNAWAN NRP: 4195173 PEMBIMBING: WIMPY SANTOSA,ST.,M.Eng.,MSCE.,Ph.D. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Perkembangan Kodya Bandung sangatlah pesat menyebabkan terjadinya perubahan fungsi dan peranan dari tempat peristirahatan menjadi kota perdagangan, kota industri, dan kota pelajar. Akibatnya arus lalulintas mengalami peningkatan, terutama pada arah Barat ke Timur dan sebaliknya, sementara jaringan jalan yang ada tidak mengalami peningkatan yang berarti. Salah satu hal yang menghalangi proses pergerakan lalulintas tersebut adalah keberadaan Sungai Cikapundung di wilayah Bandung Utara yang menyebabkan terputusnya ruas jalan Pasteur dan ruas jalan Cikapayang. Pergerakan lalulintas dari arah Barat ke arah Timur dan sebaliknya selama ini menggunakan Jalan Siliwangi dan Jalan Wastukencana. Di ruas-ruas jalan tersebut pada jam sibuk terjadi kemacetan dengan tundaan yang cukup tinggi. Oleh karena itu pemerintah Kodya Bandung merencanakan pembangunan jalan layang PasteurSurapati. Pada skripsi ini dilakukan analisis terhadap alternatif pemilihan rute akibat dibangunnya jembatan layang Pasteur-Surapati berdasarkan perubahan nilai biaya dan VCR. Perhitungan analisis dilakukan dengan cara simulasi menggunakan bantuan program MOTORS. Hasil studi ini menunjukkan bahwa adanya jalan layang Pasteur-Surapati menyebabkan ruas-ruas jalan Siliwangi dan Wastukencana mengalami penurunan nilai biaya pergerakan dan VCR. Karena itu pembangunan jalan layang Pasteur-Surapati dapat mengurangi kemacetan yang terjadi di kedua ruas jalan tersebut.

38

PENGEMBANGAN PROGRAM KOMPUTER UNTUK ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN SUDUT PARKIR TERHADAP KAPASITAS JALAN
SYAIFUL ANWAR SOENARIA NRP: 4195189 Pembimbing: Zul Kasturi, Ir., MT UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Salah satu permasalahan dari sistem lalu lintas di perkotaan adalah parkir. Kegiatan parkir yang sering menimbulkan masalah lalu lintas adalah parkir di tepi jalan yang sangat umum dilakukan orang sehari-hari. Kegiatan ini cenderung mengurangi kapasitas ruas jalan tersebut karena berkurangnya lebar jalan efektif yang diakibatkan disediakannya tempat parkir, dan juga karena manuver parkir yang mengganggu lalu lintas. Simulasi dengan menggunakan program komputer merupakan salah satu alternatif untuk menganalisis pengaruh parkir di tepi jalan terhadap kapasitas jalan tersebut. Oleh karena itu di buat program komputer yang dapat menganalisis pengaruh parkir tersebut. Dengan program ini dapat dilakukan berbagai percobaan sudut parkir dan dianalisis bagaimana gangguan yang ditimbulkannya terhadap kondisi lalu lintas. Untuk pemodelan lalu lintas pada program, dipilih jalan Braga di kota Bandung sebagai model dari program tersebut. Hasil dari perhitungan memperlihatkan pengurangan lebar ruas jalan terbesar terjadi pada sudut parkir 600 yaitu sebesar 6,04 meter dengan penurunan kapasitas jalan sebesar 60,76% sedangkan pengurangan lebar ruas jalan terkecil terjadi pada sudut parkir 300 yaitu sebesar 4,99 meter dengan penurunan kapasitas jalan sebesar 49,5%. Sedangkan berdasarkan hasil simulasi program komputer, penurunan kapasitas jalan terbesar terjadi pada sudut parkir 900 yaitu sebesar 22,63% sementara penurunan kapasitas jalan terkecil terjadi pada sudut 450 yaitu sebesar 7,33%. Tendensi hasil simulasi memiliki bentuk grafik yang relatif sama dengan tendensi hasil analisis perhitungan yang ditunjukkan dengan gradien dari kedua persamaan tidak jauh berbeda, yaitu 4,08 pada persamaan analisis perhitungan dan 5,165 pada persamaan hasil simulasi.

39

EVALUASI KEBUTUHAN LAHAN PARKIR DI GEDUNG 9 UNPAR


Cremona Monoarfa NRP: 4195191 Pembimbing: Zul Kasturi, ST., MT. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Tahun 1997 dimulai sebuah proyek pembangunan gedung baru di kampus Unpar Ciumbuleuit. Gedung tersebut diberi nama Gedung 9, yang akan menampung kegiatan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), D3, Perpustakaan Unpar, dan Fakultas Ekonomi (FE) yang akan memindahkan kegiatan akademiknya dari kampus Merdeka ke kampus Ciumbuleuit. Pindahnya FE ke kampus Ciumbuleuit membawa berbagai masalah pada penataan lalu lintas di sekitar Ciumbuleuit. Pembangunan Gedung 9 menyertakan pembangunan fasilitas parkir yang akan menampung kendaraan masyarakat FE. Banyaknya fasilitas parkir yang dibutuhkan dan banyaknya fasilitas yang tersedia perlu diseimbangkan sehingga tidak terjadi parkir liar di sekitar kampus Ciumbuleuit yang akan menghambat kegiatan transportasi warga masyarakat. Dengan menggunakan angket yang disebarkan di Kampus FE Unpar di Jalan Merdeka, dapat diketahui proporsi mahasiswa FE yang memilih mobil sebagai moda transportasi. Jadwal kegiatan kuliah FE untuk semester Genap 1999/2000 digunakan sebagai pendekatan terhadap tingkat kehadiran mahasiswa di kampus, sehingga bisa diperkirakan hari dan jam kebutuhan puncak (peak) sarana parkir. Sarana parkir yang bisa disediakan sebanyak 161 stall. Kebutuhan puncak untuk menampung FE adalah 163 stall. Hal tersebut berarti bahwa hanya 98,77% kebutuhan yang dapat dipenuhi oleh sarana parkir di Gedung 9.

40

STUDI TATA LAKSANA PEMBANGUNAN STRUKTUR ATAS JEMBATAN BETON PRATEGANG


LEONARDA EVI PARASTUTI
NRP: 4195216

Pembimbing : Ir. Yohanes L.D. Adianto, MT UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Salah satu sarana pendukung sistem transportasi adalah jembatan yang berfungsi sebagai konstruksi untuk meneruskan jalan yang melalui suatu rintangan seperti jurang atau sungai. Struktur atas bangunan jembatan biasanya adalah beton prategang. Jika kondisi lokasi tidak memungkinkan penggunaan perancah pada pelaksanaannya maka diperlukan teknologi dan metoda konstruksi yang memadai untuk pembangunan konstruksi tersebut. Pada masa sekarang ini ada tiga metoda konstruksi yang digunakan untuk membangun struktur bagian atas jembatan beton prategang, yaitu dengan menggunakan perancah biasa cor ditempat, metoda pracetak dan metoda segmental, dimana masing-masing dari metoda ini mempunyai kelebihan dan kekurangan. Metoda segmental dapat diterapkan dengan cara cor ditempat atau pracetak dan dibagi lagi menjadi beberapa metoda konstruksi segmental, antara lain metoda kantilever seimbang, bentang per bentang, peletakan bertahap dan peluncuran bertahap. Pada pelaksanaan konstruksi jembatan Barelang tipe busur digunakan 2 metoda konstruksi segmental, yaitu kantilever bebas dengan metoda cor ditempat menggunakan traveler formwork dan bantuan temporary cable pada pelaksanaan konstruksi busur untuk menahan defleksi selama pelaksanaan dan metoda peluncuran bertahap dengan launching nose pada pelaksanaan lantai jembatan. Dalam pelaksanaan proyek ini diperlukan ketelitian dan kontrol geometri yang tepat karena pelaksanaannya dilakukan secara bersamaan dari kedua sisi yang berbeda.

41

STUDI PERBANDINGAN PELAKSANAAN STRUKTUR LOAD BEARING WALL YANG MENGGUNAKAN BEKISTING TUNNEL FORM DENGAN STRUKTUR PORTAL TERBUKA YANG MENGGUNAKAN BEKISTING KAYU
ARWIN NRP: 4195229 Pembimbing : Rudy W. Sentany, Ir. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Perkembangan teknologi bekisting selalu mengikuti perkembangan struktur. Perkembangan teknologi bekisting adalah untuk mengantisipasi kelemahan yang telah ada. Teknologi juga diharapkan memberikan kemudahan dalam pelaksanaan. Bekisting tunnel form merupakan bekisting yang mengikuti perkembangan struktur load bearing wall. Bekisting tunnel form dikembangkan untuk menunjang pelaksanaan pada struktur load bearing wall. Bekisting tunnel form merupakan bekisting sistem yang lengkap. Sebagai suatu produk bekisting tunnel form memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan pertimbangan utama pada peruntukkan, bentuk ruangan, investasi, volume pekerjaan, waktu pelaksanaan, dan sampah buangan sesudah konstruksi, dilakukan analisa dengan perbandingan bekisting kayu tradisional yang menggunakan sistem struktur portal terbuka. Dari analisa tersebut dapat ditarik kesimpulan untuk bangunan tinggi yang memiliki bentuk kotak dan tipikal penggunaan bekisting tunnel form dengan struktur load bearing wall cukup efisien. Namun pelaksanaan memerlukan penjadwalan yang baik.

42

ANALISIS STRUKTUR FLAT PLATE YANG DIBEBANI DENGAN BEBAN LATERAL DAN BEBAN GRAVITASI DENGAN METODE ANALITIK DUA BALOK
Esther Noershanti NRP: 4195232 Pembimbing: Paulus Kartawijaya, Ir., MT Ko-Pembimbing: Lidya F. Tjong, Ir. MT UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Pemakaian elemen pelat datar tanpa balok (flat plate) lebih efisien dan lebih ekonomis dibandingkan dengan pemakaian elemen pelat konvensional dengan balok.. Hal ini dapat dilihat dari proses pembuatannya dimana pengecoran pelat dapat langsung dilakukan tanpa perlu mengecor balok lebih dahulu, sehingga dapat mengurangi biaya dan waktu pelaksanaan. Ian N. Robertson [5] memperkenalkan sebuah metode baru dalam analisis struktur flat slab yaitu Metode Analitik Dua-Balok. Metode ini diperkenalkan karena berdasarkan hasil eksperimen diketahui bahwa hasil yang didapat dengan metode tersebut lebih mendekati dengan hasil eksperimen dibandingkan dengan metode portal ekivalen. Skripsi ini membahas dan mempelajari lebih lanjut mengenai penerapan metode analitik dua-balok pada analisis struktur flat plate tiga dimensi. Adapun pemodelan yang digunakan dalam analisis adalah struktur bangunan empat lantai yang dianlisis secara dua dimensi dan tiga dimensi. Jenis struktur bangunan adalah struktur beton bertulang. Analisis yang digunakan berupa analisis statik. Hasil analisis dari gaya-gaya dalam yang terjadi berupa momen pada tumpuan dibandingkan antara kedua metode tersebut. Setelah analisis selesai dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang cukup besar antara metode portal ekivalen dengan metode analitik dua-balok.

43

PANJANG TEKUK PADA PENGAKU SILANG DENGAN TITIK SILANG KAKU


MATHEUS MARYONO KUSWANTORO NRP: 4195233 Pembimbing: Ir. Paulus Karta Wijaya, MT. Ko-Pembimbing: Lidya F. Tjong., Ir., MT. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Pada pengaku silang, jika titik pertemuan kedua pengaku dihubungkan secara kaku maka panjang tekuk akan dipengaruhi oleh kekakuan batang tarik. Tekuk dapat terjadi pada bidang gambar (in-plane buckling) ataupun keluar bidang gambar (out-ofplane buckling). Untuk tekuk pada bidang gambar, titik pertemuan akan berperilaku sebagai pegas rotasi bagi batang tekan dan untuk tekuk keluar bidang gambar berperilaku sebagai pegas translasi. Pengaruh kekakuan rotasi dan translasi dengan gaya tarik dihitung untuk mendapatkan faktor panjang efektif dengan mengunakan prinsip keseimbangan momen pada batang tekan. Hasilnya menunjukkan bahwa panjang tekuk sangat peka terhadap kekakuan pada kedua batang diagonal yang dihubungkan secara kaku. Ketika kekakuan pada batang tarik meningkat, rasio perbandingan T/P meningkat dan nilai faktor panjang efektif menurun. Untuk analisa tekuk pada bidang gambar, besarnya faktor panjang efektif untuk rasio 0 T

1 adalah berkisar antara 0,84 sampai 0,8. Sedangkan pada

tekuk keluar bidang gambar adalah antara 0,71 sampai 0,4.

44

PARAMETER UJI GESER SKALA BESAR MATERIAL TANAH UNTUK PENANGGULANGAN LONGSORAN, STUDI KASUS LONGSORAN PADA RUAS JALAN SUMEDANG-WADO, JAWA BARAT
VENSI KRISTANTI DEWI NRP: 4195234 Pembimbing: WISJNU Y. BROTODIHARDJO, Ir, MSCE UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Tahun 1995 terjadi longsoran di salah satu ruas jalan antara Sumedang-Wado pada kilometer 2.950 dari kota Sumedang. Longsoran yang terjadi diperbaiki oleh Pulitbang Jalan menggunakan Geogrid tipe 55RE dan SS1 Tensar sebagai perkuatan. Dengan material uji yang diambil dari lokasi longsoran yaitu pada ruas jalan Sumedang-Wado, maka dilakukan penelitian untuk menentukan parameter pada tanah tersebut yaitu kuat geser tanah (kohesi) dan sudut geser dalam (() dengan menggunakan Alat Uji Geser Skala Besar (Large Scale Direct Shear) yang dimiliki oleh Laboratorium Mekanika Tanah Pusat Penelitian Dan Pengembangan yang merupakan bantuan dari JICA Study Team, Jepang. Alat uji geser tersebut adalah buatan Freesia Macross model TS-351. Alat ini diharapkan dapat mewakili kondisi tanah di lapangan. Parameter yang didapat dari alat uji geser skala besar tersebut menunjukkan nilai kohesi=0.5125 kg/cm2 dan ( = 25.9105(. Dan untuk selanjutnya dianalisis dengan menggunakan program komputer Snail dan Mstabl2 serta secara manual dengan persamaan Janbu, selain itu juga didukung oleh data-data laboratorium yang telah dilakukan oleh PUSLITBANGJAL. Analisis dengan meninjau terjadinya longsoran translasi memberikan SF = 0.4454 yang relatif sangat kecil. Disimpulkan longsoran lebih akibat proses translasi daripada mengikuti bidang lingkaran sehingga disimpulkan perkuatan dengan geogrid akan tidak bermanfaat selama penyebab longsoran translasi tidak diatasi.

45

ANALISIS TEGANGAN DAN REGANGAN PADA RENCANA BENDUNGAN JATIBARANG DI JAWA TENGAH DALAM KONDISI PENGISIAN WADUK
M. ANITA SARI .D.A NRP: 4195242 Pembimbing : Ir. Theo. F. Najoan,M.Eng. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Analisis tegangan dan regangan pada rencana bendungan Jatibarang dalam kondisi pengisian waduk dilakukan menggunakan bantuan program komputer PLAXIS versi 6.31. Input data parameter material berupa nilai modulus, kohesi dan permeabilitas tanah terbagi menjadi material tanah timbunan dan material tanah pondasi. Input material pondasi diambil dari hasil pengujian Pressuremeter Test dan uji permeabilitas. Data hasil uji material tanah timbunan diambil dari pengolahan hasil pengujian Triaxial (CU dan CD) dan uji permeabilitas Test Consolidated Undrained (CU) digunakan pada material halus dan material campuran sedangkan Consolidated Drained test (CD) untuk material kasar dan batuan. Pengolahan data parameter material tanah timbunan menggunakan dua pemodelan yaitu pemodelan Mohr Coulomb dan pemodelan Hiperbolik Duncan Chang. Pemodelan Mohr Coulomb untuk mendapatkan nilai kohesi dan sudut geser dalam sedangkan pemodelan Hiperbolik untuk memperoleh nilai modulus. Program PLAXIS digunakan dua kali yaitu untuk perhitungan selama masa konstruksi dan perhitungan saat waduk sudah terisi air. Pada saat bendungan dalam masa konstruksi, perhitungan dilakukan untuk masing-masing lapis pada material timbunan bendungan yang ditentukan melalui pembagian elemen mesh bendungan. Pondasi bendungan terbagi menjadi 2 lapis dan material timbunan pada tubuh bendungan terbagi menjadi 10 lapis. Output PLAXIS disajikan dalam bentuk gambar grafik maupun kontur yang antara lain peralihan, tegangan-tegangan dan tekanan pori untuk kondisi pembangunan bendungan dan pada saat waduk terisi air. Analisis akan dibahas terhadap tegangantegangan yang terjadi, regangan dalam bentuk peralihan dan tekanan air pori. Tujuan dari penulisan skripsi ini untuk menyelidiki apakah bendungan tetap dalam kondisi aman saat bendungan dalam pembangunan dan saat bendungan terisi air. Kesimpulan yang didapat selama melakukan analisis: (a) Proses konsolidasi 50 hari tiap lapis mencapai derajat konsolidasi lebih dari 90% di akhir konsolidasi; (b) Rencana bendungan dalam kondisi aman terhadap tegangan dan regangan yang terjadi pada masa konstruksi maupun saat air waduk telah terisi.

46

OPTIMASI PENGELOLAAN PROSES PENJERNIHAN AIR MENGGUNAKAN METODA DYNAMIC PROGRAMMING


Prio Sunyoto NRP: 4196001 Pembimbing : Yohanes L.D. Adianto, Ir., MT. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Sering kali dalam kehidupan sehari-hari terjadi suatu keadaan dimana keputusan harus diambil untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, agar dapat diperoleh hasil yang optimum. Skripsi ini akan membahas masalah optimasi pengelolaan proses penjernihan air menggunakan metoda dynamic programming. Penjernihan air merupakan bagian proses pengolahan air baku, dimana terjadi proses koagulasi-flokulasi. Masalah optimasi pengelolaan proses penjernihan air merupakan masalah sistem serial sederhana dimana hanya keadaan akhirnya saja yang diketahui sedangkan keadaan awalnya tidak. Oleh karenanya penyelesaiannya dilakukan dengan analisis mundur. Stage yang terjadi adalah berbagai macam zat koagulan yang dipakai, sedangkan state variablenya berupa kadar kotoran hasil olahan yang melintasi stage. Proses penyelusuran balik dilakukan bersamaan dengan proses analisis-optimasi karena ouput state yang terjadi untuk masalah utama banyak dan bervariasi. Pada stage pertama dilakukan penyortiran hasil dengan prinsip bahwa semakin kecil kadar kotoran yang diolah maka biaya yang dikeluarkan juga semakin kecil. Penyortiran ini dilakukan karena ketidak teraturan hubungan antar kadar kotoran yang dapat digumpalkan untuk setiap koagulan. Pada studi kasus pemakaian 30 m3 air sungai setiap hari dengan kadar total suspended solid maksimum sebesar 5.875 ppm memerlukan biaya pengolahan sebesar Rp. 53.760,00 , lebih menguntungkan dibandingkan penggunaan air PAM yang membutuhkan biaya Rp. 70.596,00. Kebijakan yang harus diambil untuk mengolah air sungai dengan kadar kotoran tersebut adalah memberikan tawas butek, tawas bening, dan PAC masing-masing dengan kecepatan 335 ml/menit, 500 ml/menit, dan 400 ml/menit.

47

PERBANDINGAN PENGGUNAAN BAJA PADA STRUKTUR RANGKA PAYON BENTANG BESAR TIPE BALOK TUNGGAL DAN TIPE RANGKA BATANG
Lento Sentosa NRP: 4196011 Pembimbing: Ir.Cecilia Lauw, M.Sc UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Dengan makin berkembangnya sektor industri, pembangunan prasarana seperti pabrik dan gudang merupakan suatu kebutuhan. Sesuai fungsinya bangunan ini umumnya luas dan berbentang besar namun hanya satu lantai. Konstruksi atap untuk bangunan ini berbeda dari gedung bertingkat. Umumnya digunakan tipe rangka payon. Tipe rangka payon memiliki variasi pada balok yang dapat berupa balok tunggal atau rangka batang. Skripsi ini membahas penggunaan baja pada kedua jenis rangka payon ini dan pengaruh peralihan horizontal dan lendutan vertikal terhadapnya. Dalam analisis penggunaan baja pada kedua tipe ini digunakan bantuan program GTSTRUDL versi 9801 yang apabila diperlukan dilengkapi lagi dengan perhitungan manual. GTSTRUDL versi 9801 digunakan dalam perhitungan gaya dalam dan desain profil baja yang sesuai. Perhitungan manual yang dilakukan meliputi penentuan nilai K, Cb, dan pemenuhan persyaratan kemampuan layan. Pembahasan dilakukan dengan membandingkan berat total baja yang diperlukan untuk suatu bentang tertentu dan pengaruh peralihan/lendutan terhadapnya. Dari pembahasan yang dilakukan dapat disimpulkan penggunaan baja pada rangka payon tipe balok tunggal lebih banyak dibandingkan tipe rangka batang kecuali pada bentang 20 m. Peningkatan penggunaan baja meningkat seiring dengan meningkatnya bentang. Untuk rangka payon tipe balok tunggal, desain baja lebih ditentukan kekakuan struktur secara keseluruhan dibandingkan kekuatan profil untuk menahan gaya yang bekerja. Untuk rangka payon tipe rangka batang, desain baja ditentukan oleh kekuatan profil dalam menahan gaya-gaya dalam yang timbul.

48

STUDI KELAYAKAN PEMANFAATAN SEDIMEN LUMPUR UNTUK BAHAN BLANKET KONSTRUKSI DAM DI BUKIT SENTUL
G. CASEY ALEXANDER WIRANEGARA NRP: 4196012 PEMBIMBING: PAULUS PRAMONO RAHARDJO, S.T., MS., Ph.D. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK JURUSAN SIPIL BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Konstruksi blanket merupakan suatu konstruksi pada dam, yang berupa lapisan kedap air yang berfungsi untuk mengurangi rembesan air baik melalui tubuh bendungan maupun melalui dasar/pondasi dam. Rembesan tersebut dapat memperbesar kehilangan air bahkan dapat menyebabkan keruntuhan dam. Pada lokasi pembangunan dam di Bukit Sentul terdapat sedimen Lumpur setebal 6 m dan jumlahnya mencapai 100.000 m2. Karena pembuangan sedimen Lumpur ini akan memakan biaya yang sangat besar, maka sedimen Lumpur ini direncanakan akan digunakan sebagai dasar dari pondasi dam dan sebagai lapisan kedap air / blanket dari dam yang akan dibangun. Untuk dapat digunakan sebagai dasar pondasi dan sebagai lapisan blanket, terlebih dahulu akan dilakukan pengujian-pengujian karakteristik dari sedimen Lumpur tersebut untuk menentukan kelayakan dari sedimen Lumpur tersebut sebagai bahan untuk dasar pondasi dan blanket . Dalam studi ini akan dilakukan pengujian-pengujian, diantaranya : uji properties, uji permeabilitas dengan constant head, uji swelling, uji dispersi yang meliputi uji double hidrometer, pinhole test, dan crumb test. Dimana mula-mula sedimen Lumpur tersebut dikeringanginkankan terlebih dahulu dan diberi variasi tekanan sebelum dilakukan serangkaian uji di atas. Dari hasil analisis data hasil percobaan didapat bahwa sedimen Lumpur tersebut memenuhi syarat sebagai bahan untuk blanket tetapi tidak memenuhi syarat sebagai lapisan dasar pondasi, karena kuat gesernya sangat kecil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sedimen Lumpur tersebut hanya layak untuk digunakan sebagai blanket dari dam.

49

ANALISIS GETARAN STRUKTUR LANTAI AKIBAT GERAKAN MANUSIA


Eddie Candra NRP: 4196013 Pembimbing: Ir. Paulus Kartawijaya, M. T. Ko pembimbing: Ir. Lidya F. Tjong, M. T. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Balok dan pelat merupakan elemen struktur yang penting yang menerima beban dinamik selama masa pelayanannya. Gerakan manusia juga menghasilkan beban dinamik yang efeknya tidak dapat diabaikan begitu saja. Pada ruangan yang diperuntukkan bagi diskotik, lendutan maksimum yang didapat dari analisis tanpa adanya redaman didapat sebesar 6.8115 mm pada balok beton ukuran 40 x 80 cm dan panjang 10 m, dan 4.43037 mm untuk balok yang terbuat dari baja profil I dengan ukuran W600x200 untuk panjang yang sama. Pada pelat didapat lendutan maksimum yang sangat kecil akibat seorang yang berdisko di tengah pelatnya. Sementara redaman hanya berpengaruh jika frekuensi alamiah balok/pelat berada pada kelipatan frekuensi beban. Yang paling sering dilakukan jika seorang perencana merasa riskan dengan getaran balok/pelat yang ada adalah dengan menambah tebal balok/pelat tersebut. Mereka menganggap bahwa dengan membuat tebal balok/pelat yang lebih besar maka kegagalan tidak akan terjadi. Ini bertentangan dengan hasil analisis, karena menambah tebal balok/pelat belum tentu dapat mengurangi lendutan maksimum. Sehubungan dengan dihasilkannya lendutan maksimum yang signifikan, sebaiknya dalam desain balok/pelat perencana tidak mengabaikan getaran akibat gerakan manusia ini.

50

STUDI PENYEBAB LEPASNYA PASANGAN UBIN LANTAI DITINJAU DARI MUAI SUSUT BAHAN SERTA TATA LAKSANA PENCEGAHANNYA
ELISABETH SYLVIA HERLINA NRP: 4196014 PEMBIMBING: Ir. RUDY W. SENTANY UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Perkembangan paling menonjol dalam bidang konstruksi disamping membengkaknya ukuran proyek, juga bertambah banyaknya syarat dan tuntutan kepuasan yang diinginkan pemilik. Pemilik menginginkan bangunannya kokoh dan memiliki umur yang lama, sehingga dapat memberikan tingkat kenyamanan yang besar dan menekan biaya pemeliharaan. Demikian pula dengan finishing, diperlukan penanganan yang matang, karena dapat merupakan nilai tambah dari bangunan juga dapat meningkatkan prestise seseorang. Dewasa ini pabrik ubin mulai memproduksi ubin dengan kualitas yang semakin baik. Partikel-partikelnya dipadatkan sehingga lebih kuat, lebih awet, dan lebih tahan terhadap pengaruh luar. Hal ini menyebabkan kadar penyerapan airnya semakin menurun. Padahal perekat yang dipakai masih menggunakan jenis yang lama, yaitu mortar yang terdiri dari campuran semen dan pasir, yang cocok untuk jenis ubin lama yang memiliki kadar penyerapan air yang masih tinggi. Oleh karena itu dalam skripsi ini akan dibahas mengenai masalah lepasnya pasangan ubin lantai, khususnya peninjauan dari segi muai susut bahan, apakah itu dari ubin, perekat, atau dari substratnya sendiri beserta alternatif pencegahannya. Pada akhir studi dari skripsi ini dapat diketahui bahwa tiap bahan, yaitu mulai dari ubin, perekat maupun pelat beton mengalami muai susut yang dapat berpengaruh pada terjadinya popping. Dapat ditarik kesimpulan bahwa alternatif pencegahan popping adalah dengan pemilihan penggunaan perekat yang sesuai dengan karakteristik dari ubinnya sediri, seperti peninjauan pada kadar penyerapan air dan ukuran dari ubin. Juga proses pelaksanaan seperti memperhatikan spesifikasi bahan perekat dan prosedur pengerjaan akan berpengaruh pada hasil pemasangan ubin tersebut.

51

EVALUASI KINERJA INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH PT. SINAR MAKIN MULYA
Lenny NRP: 4196015 Pembimbing: Robertus Wahyudi Triweko, Ir., M.Eng., Ph.D. Ko Pembimbing: Suftarna Sanoesi, Ir., MT. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dibuat untuk mengurangi kadar pencemar dalam air limbah hasil proses produksi. Pada suatu IPAL yang telah beroperasi perlu dilakukan evaluasi tingkat kinerjanya setiap selang waktu tertentu karena IPAL yang ada harus tetap berfungsi dengan baik. Penelitian mengenai evaluasi kinerja IPAL dilakukan dengan tujuan mengetahui tingkat efektiftas dan efisiensi suatu IPAL, sehingga bila timbul permasalahan dalam IPAL, dapat dilakukan modifikasi pengoperasian pada IPAL atau bahkan modifikasi perancangan. Berdasarkan studi yang dilakukan pada PT. Sinar Makin Mulya (PT. SMM), diketahui bahwa IPAL yang sudah beroperasi saat ini berfungsi secara efektif dan efisien, karena tujuan pembuatan IPAL untuk menurunkan kadar pencemar dalam air limbah tercapai, dan air limbah olahan mempunyai kadar pencemar di bawah standar baku mutu yang ditentukan (SK. Gubernur Jawa Barat No. 6 Tahun 1999). Namun demikian perlu dilakukan beberapa modifikasi terhadap pengoperasian IPAL PT. SMM ini untuk meningkatkan efisiensi penurunan kadar pencemar pada air limbah, seperti penambahan motor pengaduk pada bak koagulasi/flokulasi, pengaturan kecepatan aliran air limbah, dan penambahan motor penggaruk pada bak pengendapan.

52

STUDI PENGGUNAAN COLD FORMED STEEL UNTUK KAP ATAP DARI SEGI BIAYA
Herry Setiawan NRP: 4196019 Pembimbing: Ir. Yohanes L. D. Adianto, MT. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Baja merupakan salah satu material bangunan yang banyak digunakan untuk konstruksi bangunan gedung, hal itu disebabkan karena material baja memiliki beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan material bangunan lainnya seperti kayu, dan beton. Baja sendiri berdasarkan proses pembuatannya dibagi menjadi dua macam yaitu jenis hot formed, yang sering digunakan sekarang, dan jenis cold formed. Di dalam skripsi ini akan dilakukan kajian mengenai penggunaan baja hasil proses cold formed di dalam konstruksi kap atap bangunan dari segi biaya. Analisis akan dilakukan pada bentang 12, 16, 20, 24, 28 m, baik dengan menggunakan hot formed steel maupun cold formed steel. Adapun profil yang akan digunakan adalah profil double siku dan channel. Dari analisis tersebut akan diperoleh besarnya berat baja total yang diperlukan untuk masing masing bentang. Berdasarkan berat total tersebut akan diperoleh besarnya biaya yang dibutuhkan untuk masing masing bentang pula. Dengan analisis yang dilakukan, dimana diperoleh hasil bahwa untuk bentang < 20 m akan diperoleh berat dan harga total baja yang lebih kecil jika menggunakan cold formed steel dibandingkan dengan hot formed steel. Untuk bentang > 20 m penggunaan cold formed steel akan menjadi lebih mahal dibandingkan dengan hot formed steel. Dengan analisis ini diharapkan dapat membantu pembaca untuk menentukan jenis baja yang akan dipergunakan sehingga akan diperoleh jumlah biaya yang optimum.

53

TINJAUAN KEPEKAAN TEMPERATUR HIGH STIFFNESS MODULUS ASPHALT


BENNY SETIAWAN SUSILO NRP: 4196021 Pembimbing: Wimpy Santosa, ST., M.Eng, MSCE., Ph.D. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
High Stiffness Modulus Asphalt (HSMA) adalah aspal produksi Mobil Oil Australia yang telah mengalami proses tertentu sehingga memiliki kekuatan yang lebih baik. Dengan kelebihan yang dimiliki, aspal ini digunakan untuk lapisan perkerasan yang direncanakan untuk melayani lalu lintas berat. Dalam skripsi ini dilakukan penelitian kepekaan temperatur terhadap HSMA, aspal Pertamina, Esso, CPC, Thai Lub, dan aspal Dadco-RB 60-70. Penelitian ini meliputi pengujian berat jenis aspal, pengujian penetrasi aspal, dan pengujian viskositas aspal yang dilakukan di Laboratorium Teknik Transportasi, Fakultas Teknik Jurusan Sipil, Universitas Katolik Parahyangan. Pengujian penetrasi aspal dilakukan pada temperatur 10 C, 15 C, dan 25 C. Sedangkan pengujian viskositas aspal dilakukan pada temperatur 60 C, 100 C, 135 C. Untuk perhitungan nilai kepekaan temperatur aspal digunakan rumus Penetration Index (PI), Penetration Viscosity Number (PVN), dan Viscosity Temperature Susceptibility (VTS). Dari perhitungan ketiga rumus tersebut, HSMA merupakan aspal yang tidak peka terhadap temperatur. Analisis data dilakukan dengan menggunakan rumus Koefisien Korelasi Pearson dan Koefisien Korelasi Spearman untuk mencari hubungan antara nilai selisih penetrasi aspal dan nilai selisih viskositas aspal dengan nilai PI dan nilai VTS. Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada hubungan yang cukup kuat (moderate relationship) antara nilai selisih viskositas aspal dengan nilai PI dan nilai VTS, sedangkan hubungan antara nilai selisih penetrasi aspal dengan nilai PI dan nilai VTS tidak cukup kuat (weak relationship).

54

STUDI PERBAIKAN PANGKAL JEMBATAN KERETA API DITINJAU DARI SEGI TATALAKSANA
RONALD ROY ANWAR NRP: 4196025 PEMBIMBING:RUDY WIEADY SENTANY, Ir. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG AUGUSTUS 2000 ABSTRAK
Pembahasan ini, bertujuan untuk memperoleh keputusan dalam melaksanakan perbaikan pangkal jembatan kereta api, yang dapat memberikan konstribusi biaya pelaksanaan yang efisien. Perbaikan jembatan kereta api yang dibandingkan, berupa perkuatan pangkal existing dan penggantian pangkal existing. Dari hasil studi perbaikan jembatan kereta api, dan dari hasil survei teknis dan desain jembatan kereta api, maka terlihat bahwa aspek perencanaan harus mendukung aspek pelaksanaan. Diharapkan dengan adanya pandangan secara umum dan pengalaman yang cukup tentang pelaksanaan perbaikan jembatan kereta api diperoleh perencanaan yang tepat. Pembahasan, dilakukan dengan membahas beberapa metoda perbaikan pangkal, contoh perhitungan, dan perbandingan antara perkuatan pangkal dan penggantian pangkal, dikaitkan dengan biaya pelaksanaan dan segi kekuatan konstruksi. Dari pembahasan akan diperoleh keputusan untuk memperkuat atau memperbaiki pangkal jembatan. Perbandingan antara perkuatan dan penggantian pangkal jembatan ditinjau dari pekerjaan pondasi, beton, konstruksi pembantu, dan tanah. Untuk mendapat gambaran yang konkret maka dipelajari studi kasus pada beberapa perbaikan jembatan sehingga dapat dilihat relevansi teoritis dan disite. Studi kasus yang dipilih, dilakukan pada pangkal jembatan BH 154 lintas Solo-Semarang. Pada skripsi ini jenis pondasi yang dipergunakan adalah pondasi tiang pancang. Pada pelaksanaan pekerjaan pondasi akan timbul permasalahan utama dalam perbandingan antara perkuatan dan penggantian pangkal jembatan. Keputusan pada rencana perbaikan jembatan harus dilakukan dengan seksama, agar pelaksanaan perbaikan jembatan dapat dilaksanakan di lapangan dengan baik sehingga hal-hal yang berada di luar dugaan dapat dihindari.

55

STUDI EKSPEPERIMENTAL PENGARUH PENYAMBUNGAN BETON BERTULANG MUTU FC=20 MPA DENGAN LATEX TERHADAP MOMEN LENTUR PADA BENDA UJI PELAT SATU ARAH UKURAN 90X30X8 CM DENGAN PERAWATAN KERING
ANTON GUNAWAN NRP: 4196030 Pembimbing : Ny. Winarni Hadipratomo, Ir. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Penggunaan beton sebagai salah satu komponen struktural bangunan masih merupakan pilihan utama sampai saat ini. Oleh karena itu, proses pembuatan beton haruslah dilakukan secara teliti dan benar. Salah satu dari pekerjaan yang dilakukan dalam proses pembentukan beton adalah penyambungan. Pengecoran yang belum selesai dan tidak dapat dilanjutkan maka haruslah dilakukan penyambungan. Oleh karena itu perlu diteliti dampak dari penyambungan tersebut terhadap mutu beton tersebut. Dalam penelitian ini digunakan benda uji pelat beton berukuran 90x30x8 cm3 dengan mutu beton bertulang fc=20 MPa. Tulangan yang digunakan adalah BTJP 6 250. Penyambungan dilakukan pada saat beton berumur 7, 14, dan 28 hari. Pengujian kuat lentur dilakukan setelah 28 hari dari proses penyambungan berakhir. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penyambungan dengan latex tidak mempengaruhi keretakan pada benda uji. Keretakan terjadi pada bagian beton baru, tidak terjadi pada bidang yang dilakukan penyambungan. Hal ini membuktikan bahwa penyambungan dengan latex kuat. Namun penyambungan beton menggunakan latex pada umur 7, 14, dan 28 hari cenderung menurunkan kekuatan lentur dari benda uji tersebut. Penurunan kekuatan beton pada penyambungan pada saat beton berumur 7, 14, dan 28 hari adalah 6,07%, 10,34%, dan 16,52%. Oleh karena itu untuk memperoleh hasil penyambungan yang efesien dan optimal, maka perlu diperhatikan umur beton pada saat penyambungan agar tidak menimbulkan kerugian dari penurunan kekuatan lentur beton.

56

PEMODELAN NUMERIK PENGARUH PILE CAP TERHADAP PENINGKATAN DAYA DUKUNG PONDASI TIANG PANCANG TUNGGAL DENGAN PEMBEBANAN AKSIAL, STUDI KASUS PONDASI RUKO PLAZA NIAGA - BUKIT SENTUL
SUGIARTA BASUKI NRP: 4196032 PEMBIMBING: Ir. Paulus P. Rahardjo, MSCE.,Ph.D. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Dalam desain pondasi tiang pancang, daya dukung yang dapat dipikul oleh suatu pondasi dipengaruhi oleh dua komponen, yaitu: gaya gesekan yang terjadi pada selimut tiang (skin friction) dan daya dukung pada ujung pondasi tiang pancang (end bearing). Pile cap dianggap tidak memberikan kontribusi kekuatan dalam memikul beban yang ada, sedangkan dalam pelaksanaan di lapangan pile cap dapat meningkatkan daya dukung pondasi tiang pancang apabila pile cap tersebut diletakkan di atas tanah yang keras seperti kasus yang terjadi di Ruko Plaza Niaga Bukit Sentul. Dalam kasus ini pengujian pembebanan pondasi tiang pancang dengan pile cap mengalami peningkatan daya dukung dibandingkan tiang pancang tanpa pile cap. Peningkatan daya dukung pondasi tiang pancang akibat adanya pile cap yang menjadi dasar penelitian skripsi ini. Untuk mengetahui peningkatan daya dukung pondasi tiang pancang akibat adanya pile cap akan dilakukan pemodelan numerik untuk menganalisis pengaruh pile cap terhadap peningkatan daya dukung pondasi tiang, serta prosedur perhitungan dalam menganalisis daya dukung pondasi tiang dengan memperhitungkan adanya pile cap dan langkah kerja (cara menjalankan) program yang dibuat untuk membantu analisis daya dukung pondasi tiang. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah : pile cap dapat meningkatkan daya dukung pondasi tiang, dari hasil uji pembebanan statik di lapangan diperoleh hasil peningkatan daya dukung akibat adanya pile cap rata-rata sebesar 118 %, sedangkan dari hasil pemodelan rata-rata peningkatannya 104,5 %. Pemodelan numerik pengaruh peningkatan daya dukung pile cap sudah mendekati dengan hasil iji pembebanan statis di lapangan, sehingga model ini dapat digunakan untuk mendesain daya dukung pondasi tiang yang selama ini mengabaikan pengaruh adanya pile cap untuk mendapatkan hasil desain yang lebih efisien dan efektif.

57

ANALISIS RESPON DINAMIK PADA BENDUNGAN JATIBARANG DI JAWA TENGAH DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM FLUSH
DANDY ALOYSIUS SONDAKH NRP: 4196037 Pembimbing : Ir. THEO F. NAJOAN, M.Eng. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Gempa bumi merupakan kejadian yang sangat berbahaya yang dapat merusak suatu konstruksi sipil, sehingga diperlukan perencanaan yang matang dalam pembangunannya. Bendungan merupakan suatu konstruksi yang sangat berbahaya apabila mengalami keruntuhan akibat gempa. Untuk itu perlu dilakukan analisis respon dinamik pada Bendungan Jatibarang dengan menggunakan metode elemen hingga dan bantuan Program FLUSH. Analisis ini menggunakan variasi nilai modulus geser maksimum (Gmaks) dari Sawada -100%, Sawada 60%, dan Hardin&Black (inti) Kokusho&Esashi (timbunan) pada kondisi ada air dan tanpa air. Dari hasil analisis diketahui bahwa dengan variasi nilai Gmaks di atas diperoleh hasil yang menunjukkan kecendrungan yang sama. Pada kondisi ada air, nilai tegangan yang terjadi cenderung membesar pada bagian yang berbatasan dengan air, sementara pada kondisi tanpa air, nilai yang terjadi relatif simetris terhadap kedua sisinya. Nilai percepatan gempa arah x menunjukkan kecendrungan menurun terhadap ketinggian bendungan dan dari ketiga variasi nilai Gmaks menghasilkan nilai dan pola yang hampir sama, di mana nilai maksimumnya ialah 0.1857g. Nilai maksimum ini dicapai pada Sawada 60%. Diperoleh nilai maksimum dari tegangan geser ialah 154.145 kN/m2, sementara nilai x maksimum ialah 95.85 kN/m2 dan y maksimum ialah 87.467 kN/m2. Nilai dari 1 maksimum ialah 230.213 kN/m2. Redaman maksimum yang terjadi ialah 11.2%. Dari hasil analisis juga diketahui bahwa air memberikan efek redaman walaupun nilainya relatif kecil.

58

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH SIKA AER DAN SIKA FUME TERHADAP KUAT TEKAN BETON RINGAN YANG MENGGUNAKAN SEMEN TIPE I DENGAN BENDA UJI SILINDER YANG BERDIAMETER 15 CM TINGGI 30 CM
Michael Santosa NRP: 4196044 Pembimbing: Ny. Winarni Hadipratomo, Ir. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Beton untuk struktur akan menguntungkan bila mempunyai berat volume yang ringan. Karena itu perlu adanya teknologi untuk membuat beton ringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kenaikan kuat tekan beton ringan akibat pemberian Sika Fume dan pengaruh pengurangan berat volume beton ringan karena pemberian Sika Aer. Benda uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah silinder beton berukuran 15 cm tinggi 30 cm dengan mutu beton fc 20 MPa. Semen yang digunakan adalah semen portland tipe I cap Tiga Roda, agregat ringan kasar yang digunakan adalah batu apung dengan diameter maksimum 2.5 cm, serta agregat halus dari Galunggung. Kadar Sika aer yang ditambahkan sebesar 1.5% dari berat semen, sedangkan kadar Sika Fume yang ditambahkan 0%, 3%, 6%, 10% terhadap berat semen. Perancangan campuran beton ringan menggunakan pedoman SK SNI dan persyaratan agregat menggunakan standar dari ASTM. Pengujian benda dilakukan pada umur 3, 7, 14 dan 28 hari. Perawatan benda uji dilakukan pada kondisi basah. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dengan penambahan Sika Fume 3%, 6%, 10% dapat meningkatkan kuat tekan sebesar 0.79%, 15.36% dan 21.90%, sedangkan Sika Aer mengakibatkan penurunan kuat tekan sebesar0.35 %, serta dapat menurunkan berat volume beton ringan 8.5% dibandingkan terhadap beton ringan tanpa aditif.

59

PROTEKSI STRUKTUR BAJA TERHADAP KOROSI DI DAERAH PANTAI


JOHAN CAHAYA PUTRA YOENANTO NRP: 4196046 PEMBIMBING: RUDY WIEADHY SENTANY, Ir. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/0/1997) BANDUNG JUNI 2000 ABSTRAK
Seiring dengan perkembangan teknologi, korosi merupakan satu masalah klasik yang selalu menyertai karena bahan baja menjadi salah satu bahan yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya untuk struktur-struktur sipil. Proses korosi merupakan suatu proses yang sangat merugikan bagi strukturstruktur sipil khususnya struktur baja. Proses ini menyebabkan penurunan kekuatan struktur tersebut secara berangsur-angsur hingga material bajanya hancur sama sekali. Proses ini akan menjadi lebih cepat bila struktur baja tersebut berada di lingkungan pantai. Skripsi ini memuat tentang teori bagaimana korosi tersebut dapat terjadi, pada lingkungan apa saja korosi tersebut dapat terjadi, serta dasar-dasar pengendalian (proteksi) struktur baja terhadap korosi yaitu dengan pelapisan dan proteksi secara katodik. Pada studi kasus dicoba untuk menerapkan metode-metode proteksi yang dibahas sebelumnya, struktur studi kasus diambil struktur jembatan dengan rangka baja yang berada di daerah pantai.

60

ANALISIS STABILITAS BENDUNGAN JATIBARANG DI JAWA TENGAH


Yuvita NRP: 4196049 Pembimbing: Theo F. Najoan, Ir., M.Eng. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Bendungan Jatibarang di Jawa Tengah merupakan bendungan tipe urugan batu (rock fill dam) yang tingginya 77 meter, dengan inti kedap air tegak dan mempunyai kemiringan lereng di hulu 1 : 2,6 dan di hilir 1 : 2. Fungsi utama dari bendungan ini adalah sebagai pengontrol banjir untuk daerah kota Semarang dan sekitarnya. Skripsi ini bertujuan untuk mengevaluasi keamanan bendungan Jatibarang dengan melakukan analisis stabilitas lereng bendungannya, sehingga dapat diketahui apakah desain bendungan tersebut aman atau tidak. Pada saat skripsi ini disusun belum ada desain material bendungan yang pasti, tetapi telah dilakukan uji laboratorium oleh PT. Geo ACE dan Mushashino doshitu chosa Co. Ltd. Technology Center pada beberapa jenis material yang terdapat di sekitar lokasi bendungan. Maka dalam skripsi ini dilakukan pemilihan material-material yang cocok untuk tubuh bendungan tersebut, dari jenis-jenis material yang telah diuji laboratorium, berdasarkan kriteria desain yang telah ditentukan oleh JICA (Japan International Cooperation Agency), konsultan dalam proyek pembangunan bendungan Jatibarang. Parameter-parameter material yang digunakan dalam analisis ada yang diambil langsung dari hasil uji laboratorium, dan ada juga yang diperoleh dari hasil pengolahan data uji laboratorium tersebut, seperti parameter kohesi (c dan c') dan sudut geser material ( dan ') yang diperoleh dari pengolahan data uji Triaxial dengan menggunakan p-q plot, serta parameter berat isi ( dan sat) yang diperoleh dari persamaan-persamaan hubungan tiga fase menggunakan parameter-parameter fisik lain yang telah diperoleh. Evaluasi dilakukan pada kondisi tanpa gempa maupun dengan gempa dengan menggunakan cara pseudostatik termodifikasi. Evaluasi pada kondisi gempa dilakukan untuk dua tingkat gempa, yaitu untuk persyaratan tanpa kerusakan (T=100 tahun) dan persyaratan diperkenankan ada kerusakan tanpa keruntuhan (T=10000 tahun). Evaluasi juga dilakukan pada 3 kondisi kritis, yaitu pada saat akhir konstruksi dan saat terjadi rembesan tetap (steady seepage) untuk kedua sisi lereng, serta pada saat terjadi surut cepat (rapid drawdown) untuk lereng hulu bendungan. Untuk perhitungan analisis stabilitasnya digunakan program STABL/G, yang memberikan nilai faktor keamanan dan bidang longsor kritis yang paling mempengaruhi kestabilan dari bendungan tersebut. Dari hasil analisis, untuk semua kondisi yang dievaluasi, menghasilkan nilai faktor keamanan yang berkisar antara 1,853 sampai 3,509, lebih besar dari nilai faktor keamanan minimum yang disyaratkan, yaitu antara 1,10 sampai 1,50. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa bendungan Jatibarang stabil, baik dalam keadaan tanpa gempa maupun pada saat terjadi gempa.

61

STUDI EKSPERIMENTAL KUAT TARIK BELAH BETON DENGAN FC = 25 MPA AKIBAT PENAMBAHAN IJUK PADA BENDA UJI SILINDER DENGAN DIAMETER 15 CM DAN PANJANG 30 CM
BENYAMIN NRP: 4196054 PEMBIMBING: Ny. WINARNI HADIPRATOMO, Ir. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Pada saat ini, sebagian besar proyek pembangunan menggunakan beton sebagai material pembentuk struktur. Umumnya kriteria penerimaan beton tergantung dari pengujian kuat tekan. Khusus untuk kekuatan tarik, hubungan yang monolit antar material pembentuk beton mutlak diperlukan dan uji kuat tarik pada beton dapat disederhanakan dengan menggunakan uji kuat tarik belah. Kuat tarik beton dapat diperbaiki antara lain dengan pemakaian serat dalam aduk betonnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan serat ijuk terhadap kuat tarik belah beton. Mutu beton yang direncanakan adalah fc = 25 MPa dengan benda uji berbentuk silinder diameter 150 mm dan panjang 300 mm. Kadar ijuk yang digunakan adalah 0,5 kg/m3, 1 kg/m3 dan 1,5 kg/m3 dengan umur perawatan 3, 7, 14 dan 28 hari. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan serat ijuk meningkatkan kuat tarik belah beton. Pada umur perawatan 28 hari, penggunakan serat ijuk sebesar 0,5 kg/m3, 1 kg/m3 dan 1,5 kg/m3 pada campuran beton fc = 25 MPa memberikan peningkatan kuat tarik belah sebesar 26,06%, 35,67% dan 23,11%. Sedangkan berdasarkan hasil regresi, kuat tarik belahnya pada umur parawatan 28 hari adalah 1,92 MPa, 2,32 MPa, 2,48 MPa dan 2,42 MPa. Kadar serat ijuk yang optimal untuk beton fc = 25 MPa pada umur perawatan 28 hari adalah 1,12 kg/m3. Rasio kuat tarik belah terhadap kuat tekan beton serat ijuk kira-kira sebesar 10% dengan variasi antara 7,82% sampai 15,39 % sepanjang umur perawatannya.

62

STUDI KORELASI PARAMETER TANAH HASIL UJI KOMPAKSI, SONDIR, UNCONFINED MENGGUNAKAN ALAT MODIFIED PROCTOR, MOLD 10,2 CM PALU 4 KG, MOLD 3,8 CM PALU 0,55 KG PADA TANAH MAJALAYA YANG DISTABILISASI SEMEN, DENGAN VARIASI INDEKS PLASTISITAS DAN ENERGI PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR
MARTIN SANTOSO NRP: 4196055 PEMBIMBING: PROF. DR. Ir. DJOKO SOELARNOSIDJI, MCE. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengecek hasil uji kompaksi (dry dan W opt) mold 3.8 cm - Palu 0.55 Kg, dan mold 10.2 cm - Palu 4 Kg dengan alat Modified Proctor, membuat hubungan antara energi kompaksi dengan qc dan Cu, membuat korelasi antara qc dengan Cu pada tanah yang dikompaksi, serta membuat korelasi antara parameter tanah hasil uji sondir, unconfined, dan kompaksi. Penelitian ini menggunakan tanah di daerah sekitar Majalaya, yang setelah dilakukan uji awal dan uji X-ray didapat bahwa tanah tersebut mempunyai indeks plastisitas 35.97%, 54.52%, 72.03% dan memiliki potensi pengembangan yang tinggi. Selain itu pada penelitian ini digunakan pula 3 kadar semen yaitu 5%, 7.5%, 10% dan dipakai 5 energi kompaksi yaitu 3, 6.05, 16, 27.5, 38 Kg cm/ cm3. Penelitian dilakukan pada kondisi tidak jenuh air. Uji kompaksi dilakukan dengan 3 alat kompaksi, yaitu: alat Modified Proctor dan alat Soelarno (mold 3.8 cm - Palu 0.55 Kg dan mold 10.2 cm - Palu 4 Kg) yang menggunakan hammer ber-diameter sama dengan diameter mold dan memakai teknik Soelarno. Sampel hasil uji kompaksi mold 10.2 cm - Palu 4 Kg dilakukan uji sondir, sedangkan sampel tanah hasil kompaksi mold 3.8 cm - Palu 0.55 Kg dilakukan uji unconfined utuk mendapatkan nilai Cu.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa kompaksi dengan alat Modified Proctor dengan alat Soelarno memberikan hasil kompaksi (dry) dan nilai kekuatan (qc) yang hampir sama bila digunakan energi kompaksi yang sama, perbedaan berat isi kering yang terjadi antara 1-3% dan perbedaan qc antara 3-8%. Hal ini terlihat dari grafik hubungan antara dry alat proctor dengan alat Soelarno dan grafik hubungan qc dengan alat Proctor dengan qc alat Soelarno didekati dengan garis yang mempunyai sudut 45o (Gambar 5.126-5.128). Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa bila digunakan energi kompaksi dan indeks plastisitas yang sama, kenaikan kadar semen 2,5 % akan mengakibatkan kenaikan nilai kekuatan (qc dan Cu) sebesar 9-15% (Gambar 5.39, 5.46, 5.53), kenaikan nilai dry sebesar 2-3%, dan penurunan nilai w optimum (Gambar 5.64-5.69). Bila digunakan kadar semen yang sama dan energi kompaksi yang, setiap kenaikan indeks plastisitas 5% akan mengakibatkan penurunan nilai kekuatan (qc dan Cu) sebesar 1015% (Gambar 5.39, 5.46, 5.53), penurunan nilai dry sebesar 1-3%, dan peningkatan nilai w opt (gambar 5.70-5.75. Kenaikan energi kompaksi pada kadar semen serta indeks plastisitas yang sama, akan mengakibat kenaikan nilai qc dan Cu sebesar 80-95%, kenaikan dry sebesar 3-5%, dan penurunan nilai w opt (Gambar 5.28-5.35). Juga diperoleh hubungan antara qc sondir dengan Cu, yaitu Cu= qc/14 untuk IP=35.97%, Cu= qc/16 untuk IP=54.52%, dan Cu= qc/17 untuk IP=72.03% (Gambar 5.57-5.60). Kemudian diperoleh juga hubungan antara modulus Young (E) dengan qc dan hubungan modulus Young (E) dengan Cu, yaitu E= 2.0 qc dan E= 29 Cu untuk IP=35,97%, E= 1.7 qc dan E= 27 Cu untuk IP=54.52%, E= 1.5 qc dan E= 26 CU untuk IP=72.03%. (Gambar 5.129-5.131) Hasil penelitian bisa diaplikasikan untuk pekerjaan struktur di lapangan.

63

EVALUASI TINGKAT KEAMANAN DAN KENYAMANAN PERENCANAAN GEOMETRIK JALAN LUAR KOTA METODE AUSTROADS DAN BINA MARGA DIBANDINGKAN DENGAN METODE AASHTO 1994
Linawati Kartika NRP: 1996410060 Pembimbing: Aloysius Tjan, Ir., MT., Ph.D. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Kondisi lalu lintas yang semakin padat membutuhkan perencanaan geometrik yang baik dan memberikan tingkat keamanan dan kenyamanan yang memuaskan bagi pengemudi. Pada skripsi ini dianalisis tingkat keamanan dan kenyamanan elemen perencanaan geometrik jalan luar kota metode Austroads (1993) dan Bina Marga (1997) dibandingkan dengan AASHTO (1994) sebagai standar. Elemen-elemen perencanaan geometrik yang dianalisis adalah jarak pandang, alinyemen horisontal, dan alinyemen vertikal. Hasil analisis elemen-elemen perencanaan menyimpulkan bahwa pada perencanaan Jh metode AASHTO lebih aman dari Austroads dan Bina Marga. Pada perencanaan Jm, metode Bina Marga lebih aman dari AASHTO pada VD 80 km/jam dan metode Austroads lebih aman dari AASHTO. Pada analisis alinyemen horisontal, yaitu pada analisis fmaks dan Rmin, secara keseluruhan metode AASHTO aman dari Austroads, dan Bina Marga lebih aman dari AASHTO. Pada analisis distribusi e dan f, metode AASHTO lebih aman dari Austroads, dan metode Bina Marga memiliki tingkat keamanan yang sama dengan AASHTO. Pada analisis Ls dan Le secara keseluruhan metode AASHTO lebih nyaman dari Austroads dan Bina Marga kecuali di beberapa VD dan e tertentu. Analisis pelebaran di tikungan menyimpulkan metode Austroads dan Bina Marga memiliki tingkat kenyamanan yang sama dengan AASHTO, dan analisis jarak pandang di tikungan menyimpulkan metode Austroads dan Bina Marga memiliki tingkat keamanan yang sama dengan AASHTO Analisis alinyemen vertikal, yaitu pada lengkung cembung, ditinjau dari h1dan h2, metode AASHTO lebih aman dari Austroads, sedangkan Bina Marga memiliki tingkat keamanan yang sama dengan AASHTO. Analisis lengkung cekung diperoleh bahwa AASHTO dan Austroads memiliki tingkat keamanan yang sama sedangkan metode Bina Marga menggunakan persamaan yang berbeda, yang pada metode AASHTO merupakan persamaan lengkung cembung.

64

ANALISA RESPONS DINAMIK PADA BENDUNGAN JATIBARANG, JAWA TENGAH DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM SHAKE
AGUS LESMANA NRP: 4196064 Pembimbing : Ir. Theo F. Najoan, M.Eng. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Skripsi ini mengetengahkan analisa dinamik pada Bendungan Jatibarang yang akan dibangun di desa Jatibarang, sekitar 10 km dari selatan kota Semarang, Jawa Tengah yang merupakan bendungan tipe urugan. Analisis probabilistik dari gempagempa sebelumnya digunakan untuk mencari desain magnituda dengan jangka waktu 10000 tahun dan didapatkan sebesar 7,54 SR dengan jarak hiposentrumnya sebesar 37,72 km. Dengan adanya rekaman-rekaman data gempa kuat di dunia, maka diambilah salah satu, yaitu beban gempa dari model gempa Jennings A-2 yang kemudian diskalakan sedemikian rupa terhadap riwayat percepatan waktu gerakan batuan dengan perioda ulang 10000 tahun. Nilai percepatan gempa desain yang digunakan di dalam analisa ini berasal dari Peta Zona Gempa Indonesia yang kemudian dikoreksi terhadap pengaruh jenis tanah setempat dan didapat hasilnya sebesar 0,17g. Perioda predominan didapat dari grafik Seed et al., yaitu sebesar 0,3575 detik. Modulus geser maksimum yang digunakan didalam analisa ini digunakan rumus dari Sawada 100% dan Sawada 60%. Analisa dilakukan dengan menggunakan bantuan program SHAKE untuk mendapatkan nilai-nilai respons dinamik. Hasil akhir dari analisa adalah untuk mendapatkan percepatan gempa maksimum dan acceleration time history pada beberapa lokasi di bagian tubuh bendungan. Nilai terbesar dari percepatan gempa maksimum yang diperoleh dari Sawada 100% adalah sebesar 0,33g dan dari Sawada 60% adalah sebesar 0,34g yang keduanya terletak pada puncak bendungan pada material inti yaitu pada lokasi C.

65

PENGARUH BATUAN SISIPAN PADA BUKAAN TEROWONGAN BATUAN, STUDI ANALITIK MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA
DEASSY CHRISTINA NRP: 1996410066 PEMBIMBING: PAULUS PRAMONO RAHARDJO, Ir.,MSCE.,Ph.D. KO-PEMBIMBING: LYNA MEILINDA, Ir.,MT. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Batuan merupakan salah satu unsur yang penting dalam pembangunan konstruksi bangunan, terutama dalam pembangunan konstruksi bawah tanah. Karena batuan itu sendiri berfungsi sebagai material struktur utamanya. Secara filosofi, tujuan dasar dari setiap konstruksi bawah tanah harus menggunakan batuan itu sendiri sebagai material struktur utamanya, selama penggalian mengakibatkan gangguan sekecil mungkin dan memerlukan penyangga seminimal mungkin. Dalam pembangunan terowongan batuan ini digunakan metoda NATM. Prinsip utama dari NATM adalah mengembalikan keseimbangan pada suatu massa batuan akibat dari pembuatan lubang bukaan bawah tanah yang menyebabkan terganggunya keseimbangan massa batuan atau membantu batuan menyangga dirinya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari adanya sisipan pada konstruksi bawah tanah serta penggunaan NATM dalam pembangunan terowongan. Analisis ini menggunakan metoda elemen hingga dengan bantuan program PLAXIS. Hasil analisa yang dapat diperoleh adalah deformasi, mesh elemen, tegangan efektif serta gaya gaya dalam lainnya. Hasil yang diperoleh ternyata menunjukkan bahwa adanya tanah sisipan sangat membahayakan pembuatan terowongan. Penggunaan NATM dalam pembangunan terowongan tersebut dapat mencegah terjadinya keruntuhan serta menjaga terowongan agar tetap stabil.

66

ANALISIS TEBAL LAPIS PONDASI PERKERASAN LENTUR METODE AASHTO 1993 DAN MODEL PROBABILISTIK
Guntur Halim Rudy NRP: 1996410067 Pembimbing: Aloysius Tjan, Ir., MT., Ph.D. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No.78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Dengan semakin pesatnya perkembangan di bidang transportasi maka pengetahuan di bidang transportasi harus terus digali dan dikembangkan, begitu pula pengetahuan tentang perencanaan perkerasan jalan khususnya perkerasan lentur yang sampai saat ini masih memiliki nilai ekonomis yang lebih baik dan lebih umum digunakan. Dalam merencanakan perkerasan lentur, banyak metode yang bisa dipakai diantaranya, Metode AASHTO 1993, Metode Bina Marga dan standar-standar lain yang dikeluarkan oleh tiap negara. Selain metode-metode di atas perencanaan perkerasan lentur masih dapat dilakukan dengan cara lain, salah satunya dengan pemodelan probabilistik dengan pertimbangan bahwa dalam perencanaan perkerasan lentur banyak parameter yang bersifat acak dan mempunyai tingkat ketidak pastian yang tinggi, misalnya kondisi lalu lintas yang berubah setiap waktu dan kondisi tanah dasar yang sulit untuk diprediksi. Dalam skripsi ini akan ditinjau khusus 2 metode, yaitu Metode AASHTO 1993 dan Model Probabilistik akan dilihat sejauh mana perbedaan atau persamaan dari kedua metode tersebut untuk berbagai kondisi beban lalu lintas, kondisi tanah dasar dan tingkat keandalan perencanaan yang dipakai. Untuk berbagai kondisi dilakukan perhitungan dengan kedua metode untuk mendapatkan tebal perkerasan lentur pada umumnya dan tebal lapis pondasi pada khususnya. Tebal lapis pondasi lalu dianalisis untuk dilihat kecenderungan apa yang terjadi untuk kedua metode. Hasil analisis adalah untuk kondisi beban lalu lintas yang semakin besar, tebal lapis pondasi yang dihitung dengan Metode AASHTO 1993 akan cenderung mendekati tebal lapis pondasi yang dihitung dengan Model Probabilistik dengan menggunakan nilai VCBR yang semakin besar, hal ini menunjukkan untuk kondisi beban lalu lintas dan mudulus resilien tertentu, perhitungan dengan Metode AASHTO 1993 mungkin bisa sama dengan Model Probabilistik yang dihitung dengan menggunakan nilai VCBR tertentu pula. Hal lain yang didapatkan dalam analisis adalah nilai VCBR berpengaruh dalam hal volume pekerjaan yang harus dilakukan, dimana dengan semakin besarnya nilai VCBR pada suatu segmen jalan maka volume pekerjaan yang harus dilakukan pada segmen jalan itu cenderung semakin besar juga.

67

TINJAUAN MASALAH TEGANGAN GESER AKIBAT TORSI PADA BATANG ELASTIS LINIER DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA
RUDY CHANDRA NRP: 4196100 Pembimbing: Bambang Suryoatmono, ST., MT., Ph.D. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Penulisan ini bertujuan untuk menganalisis tegangan geser yang terjadi akibat torsi pada batang elastis linier berpenampang persegi panjang dan I dengan menggunakan metode elemen hingga. Untuk penampang persegi panjang, hasil yang diperoleh dibandingkan dengan solusi analitis dan untuk penampang I hasil yang diperoleh dibandingkan dengan rumus pendekatan Timoshenko karena solusi analitis untuk penampang I belum dipecahkan. Dengan menggunakan metode elemen hingga untuk menghitung besarnya tegangan geser maksimum pada beberapa dimensi penampang I, dibuat suatu rumus empiris. Tegangan geser yang terjadi akibat torsi pada batang elastis linier dapat dihitung dengan dasar-dasar teori elastisitas yang melibatkan persamaan diferensial. Pemakaian metode elemen hingga sangat menguntungkan dalam menghitung tegangan geser yang terjadi pada batang elastis untuk bentuk penampang yang tidak beraturan karena hasil perhitungan dapat diperoleh tanpa harus mencari pemecahan persamaan diferensial secara analitis. Untuk membantu proses perhitungan, dibuat program komputer dengan memakai bahasa pemrograman Microsoft Fortran Power Station versi 4.0 Lokasi tegangan geser maksimum yang terjadi pada batang berpenampang persegi panjang dan I setelah dianalisis dengan menggunakan metode elemen hingga ternyata memberikan hasil yang sama dengan menggunakan cara analitis. Nilai tegangan geser yang diperoleh dengan menggunakan metode elemen hingga akan mendekati solusi analitis jika penampang didiskretisasi dengan ukuran elemen yang sangat kecil dan jumlah elemen yang sangat banyak.

68

ANALISIS BIAYA PENGGUNAAN PROFIL BAJA IWF DAN PROFIL BAJA HC UNTUK STRUKTUR KAP ATAP
Margaretha Dewi NRP: 4196101 Pembimbing: Yohanes L.D. Adianto , Ir., MT. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No.78/D/O/1997) BANDUNG Juli 2000 ABSTRAK
Pada saat ini pemakaian baja menjadi salah satu alternatif yang banyak digunakan untuk berbagai jenis konstruksi kap atap. Bahan baja yang umumnya dipakai adalah profil baja IWF. Namun semakin besar bentang suatu struktur kap atap, tentunya dimensi profil baja IWF yang dibutuhkan semakin besar dan mengakibatkan biayanya pun semakin besar. Untuk itu diperlukan alternatif profil baja yang dapat memenuhi semua ketentuan konstruksi tetapi biaya yang diperlukan relatif lebih rendah. Profil baja tersebut adalah profil baja HC. Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk meneliti pemilihan penggunaan profil baja IWF dan HC untuk bentang struktur kap atap 20-64 m, sehingga biaya yang diperlukan menjadi seekonomis mungkin. Dalam analisis masalah, tiap bentang struktur kap atap yang menggunakan batang tarik dilakukan analisis struktur, analisis volume bahan, dan analisis biaya. Kemudian hasil analisis tersebut dibuat grafik sehingga dapat diketahui bahwa untuk pemakaian profil baja IWF yang ekonomis pada bentang 20-40 m, sedangkan profil baja HC digunakan pada bentang 44-64 m. Studi kasus yang diambil berupa struktur kap atap tanpa batang tarik yang menggunakan profil baja HC dari bangunan pabrik dengan bentang 48 m. Analisis yang dilakukan yaitu analisis biaya untuk struktur yang terdapat pada studi kasus. Selain itu dilakukan pula analisis untuk struktur yang menggunakan profil baja IWF. Dari hasil analisis tersebut diketahui bahwa penggunaan profil baja HC untuk struktur kap atap dengan menggunakan batang tarik, adalah paling ekonomis.

69

STUDI PENGARUH UKURAN BENDA UJI KUBUS DAN PARALLELEPIPEDUM TEGAK PADA KUAT TEKAN BETON MUTU K-225
IRWAN DARMAWAN NRP: 4196102 Pembimbing : Ir. Ny. WINARNI HADIPRATOMO UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Biasanya pengujian mutu beton dilakukan dengan benda uji kubus atau silinder dengan ukuran standar, yaitu 15x15x15 cm3 untuk kubus dan 15x30 cm untuk silinder. Perlu diketahui bila dipakai ukuran benda uji yang lebih kecil dari ukuran standar, apakah akan didapat hasil yang sama. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari ukuran benda uji kubus berukuran 5x5x5 cm3, 15x15x15 cm3 dan parallelepipedum tegak berukuran 5x5x8 cm3, 10x10x15 cm3 dan 15x15x10 cm3 pada uji kuat tekan dengan mutu K-225. Juga dicari faktor pengali kuat tekan karakterisitik untuk ukuran benda uji yang lebih kecil dari ukuran standar (15x15x15 cm3) terhadap kuat tekan karakterisitk yang direncanakan. Pada penelitian ini dipakai agregat halus (pasir) dari daerah Galunggung, agregat kasar (batu pecah) berukuran maksimum 10 mm, semen portland tipe I, dan air bersih. Penelitian dilakukan dengan menggunakan 6 buah benda uji untuk masingmasing ukuran benda uji dan mengalami perawatan basah selama 14 hari, dan 28 hari. Metode perancangan yang digunakan adalah metode SKSNI (Standar Konsep Standar Nasional Indonesia). Hasil analisis menunjukkan bahwa benda uji berukuran 10x10x15 cm3 merupakan benda uji yang kuat tekan karakteristiknya paling mendekati kuat tekan karakteristik ukuran standar (15x15x15 cm3) yaitu sebesar 1.02 kali dari kuat tekan karakteristik benda uji tersebut.

70

MODEL LABORATORIUM LONGSORAN AKIBAT REMBESAN AIR TANAH


HENKY HYPON NRP: 4196105 Pembimbing: PAULUS P. RAHARDJO, Ir., MS., Ph.D. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Longsoran pada suatu lereng alam dapat mempengaruhi masalah kestabilan lereng, karena parameter kuat geser tanah tidak mampu menahan beratnya sendiri dan gaya-gaya luar. Di daerah Jawa Barat, banyak terdapat ketidakstabilan lereng yang diakibatkan oleh rendahnya kuat geser tanah. Rendahnya kuat geser tanah dapat diakibatkan oleh tingginya kadar air yang berasal dari rembesan air tanah dan air hujan. Penelitian ini dimaksudkan untuk membuat model longsoran yang disebabkan oleh rembesan air tanah dengan menggunakan benda uji dan menghitung kuat geser residual dari tanah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari mekanisme longsoran yang disebabkan oleh rembesan air tanah. Sebagai studi kasus, diambil contoh tanah dari daerah yang telah mengalami longsoran. Dalam hal ini dipilih tanah yang berasal dari Lembah Cemara, Bukit Sentul Bogor, Jawa Barat. Model dibuat dalam skala kecil dengan dimensi 120cm x 30cm x 30cm, dan contoh tanah dibuat dengan cara pemadatan dengan beban 0.5 kg/cm2. Dari hasil penelitian, diperoleh longsoran yang berbentuk rotasi dengan pola longsoran adalah toe circle, pergerakan horisontal dan vertikal dari lereng, profil muka air tanah, pengukuran debit dan kuat geser residual. Besarnya kohesi residual (cr) adalah 0.60 kg/cm2 dan sudut geser dalam residual (r) adalah 350 diperoleh dari Direct Shear. Hasil uji pada tanah yang telah basah memberikan nilai kuat geser yang tidak jauh berbeda.

71

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH PLASTOCRETE-NC SPECIAL TERHADAP PENINGKATAN KUAT TEKAN AWAL BETON MUTU FC = 30 MPA DENGAN PERAWATAN KERING
BENNY
NRP : 4196106

PEMBIMBING : Ny. WINARNI HADIPRATOMO, Ir. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Kebutuhan penggunaan beton semakin meningkat, maka kualitas dari beton yang digunakan dalam pembangunan suatu struktur harus lebih baik. Salah satu dari sifat karakteristik beton yang diperlukan adalah kuat tekan awal yang tinggi, agar pengerjaan suatu proyek dapat menjadi lebih cepat dan ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pengaruh dari Plastocrete-NC Special terhadap kuat tekan awal beton. Mutu beton yang direncanakan adalah fc = 30 MPa dengan perawatan kering dan benda uji berbentuk silinder (diameter 150 mm dan tinggi 300 mm). Plastocrete-NC Special digunakan pada kadar 0,3 %, 0,45 % dan 0,6 % dengan umur perawatan beton 0.5, 1, 3, 7, 28 dan 60 hari. Hasil akhir dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada kadar optimum Plastocrete-NC Special berdasarkan hasil ekstrapolasi (0,6 %), terjadi peningkatan kuat tekan awal terhadap kuat tekan beton normal sebesar 84,85 % pada umur 0.5 hari, 72,19 % pada umur 1 hari, 45,06 % pada umur 3 hari dan 25,51 % pada umur 7 hari.

72

SIFAT TEKNIS DAN IDENTIFIKASI SLAKE DURABILITY DARI BATUAN SHALE DI BUKIT SENTUL
Mariana Margono NRP: 4196108 Pembimbing : Ir. Paulus P. Rahardjo, MSCE, Ph.D UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Masalah kegagalan di bidang geoteknik pada umumnya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan perencana mengenai sifat dan perilaku tanah maupun batuan. Oleh karena itu, untuk menghindari masalah kegagalan geoteknik tersebut, maka perencana perlu mengetahui sifat dan perilaku dari tanah maupun batuan. Salah satu contoh adalah kawasan Bukit Sentul yang sedang dikembangkan, banyak ditemukan batuan sedimen yang disebut shale. Shale ini memiliki sifat dan perilaku yang cukup unik karena merupakan batuan yang cukup keras namun bila terekspos udara dan air shale ini akan mengalami disintegrasi dan kekuatannya akan menurun secara drastis. Peristiwa ini dikenal dengan nama slaking. Penelitian dilakukan untuk menyelidiki sifat fisis, sifat teknis, dan slake durability shale yang ada di Bukit Sentul. Dengan penelitian ini didapat beberapa korelasi antara slake durability dengan kekuatan, kekerasan, serta sifat shale yang diperoleh dari hasil uji di laboratorium seperti slake durability test, unconfined compression test, point load test, dan uji gelombang ultrasonik. Adanya korelasi tersebut akan mempermudah identifikasi durabilitas shale di lapangan. Hasil pengujian di laboratorium menunjukkan bahwa shale ini temasuk jenis clayshale sedangkan slake durability shale bervariasi dari 0 sampai 100%. Dari hasil pengujian dan analisis diperoleh korelasi antara slake durability index dengan unconfined compression strength (UCS), point load index (Is(50)), cepat rambat gelombang primer (vp) dan sekunder (vs), kedalaman, dan indeks plastisitas (IP). Semakin besar kuat tekan batuan (UCS) maka slake durability juga semakin besar. Demikian pula dengan hasil point load index dan cepat rambat gelombang primer dan sekunder. Untuk hasil korelasi slake durability dengan kedalaman diperoleh bahwa untuk fresh shale semakin dalam letak shale maka slake durability juga makin besar sedangkan untuk weathered shale tidak diperoleh suatu tendensi antara slake durability dengan kedalaman. Korelasi antara index plastisitas dan batas cair dengan slake durability memberikan hasil bahwa semakin besar indeks plastisitas dan batas cair shale maka slake durability semakin kecil.

73

EFEK MODEL MASSA DAN P- PADA STRUKTUR BERTULANG INELASTIS AKIBAT BEBAN GEMPA
ANDRIANTO WIJAYA NRP: 4196111 Pembimbing : J. Adhijoso Tjondro, Ir., ME. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Skripsi ini menganalisis pengaruh dari pemodelan massa dan pengaruh P- pada struktur portal dan struktur gedung 10 lantai. Dari struktur portal dan struktur gedung 10 lantai dianalisis pemodelan 2 massa, 3 massa dan 5 massa dan kemudian diberi P pada masing-masing pemodelan massa. Metode yang dipergunakan dalam perencanaan awal adalah metode beban statik ekivalen. Struktur didesain dengan desain kapasitas dan tingkat daktilitas 3 dengan bantuan program SANS/89 versi 4.2. Sedangkan analisis dinamik dilakukan dengan bantuan program DRAIN-2D. Rekaman-rekaman percepatan gempa yang dipergunakan adalah gempa El Centro 1940 arah Utara-Selatan dan gempa Flores 1992 dalam arah horisontal dan vertikal. Model histerisis yang dipergunakan adalah elastoplastis. Hasil analisis menunjukan bahwa perilaku struktur portal yang dianalisis dengan model massa yang bervariasi tidak memberikan perbedaan yang besar baik untuk peralihan maupun gaya-gaya dalam yang terjadi. Sedangkan pada struktur gedung 10 lantai pengaruh dari permodelan massa adalah mengurangi peralihan positif tetapi menambah peralihan negatif begitu juga dengan gaya-gaya dalam yang terjadi. Pemodelan struktur dengan 3 massa dan 5 massa memperbanyak terbentuknya sendi plastis di balok dan mengurangi terbentuknya sendi plastis di kolom tingkat 7 dan 8. Pengaruh P - pada peralihan lateral dan gaya-gaya dalam yang terjadi sangat kecil sedangkan pada pembentukan sendi plastis, dengan diperhitungkannya P - mengurangi terjadinya sendi plastis di balok dan kolom lantai atas.

74

ANALISIS SEDIMENTASI PADA TUKAD BADUNG DAN WADUK MUARA


Eunike NRP: 4196114 Pembimbing: Dr. Agung Bagiawan I., Ir.,M.Eng. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Dalam skripsi ini telah dilakukan analisis tentang kemungkinan terjadinya penggerusan dan pengendapan yang terjadi di sepanjang Tukad Badung dan Waduk Muara dengan mengaplikasikan perangkat lunak HEC-6, yaitu program yang dapat digunakan untuk memperkirakan/menghitung angkutan sedimen baik penggerusan maupun pengendapan yang terjadi di sungai dan waduk. Setelah dilakukan kalibrasi untuk mengusahakan agar hasil dari model mendekati hasil pengukuran di lapangan, dilakukan simulasi dengan menggunakan debit harian sehingga dapat diketahui besarnya dan lokasi endapan sedimen yang terjadi di setiap penampang melintang. Hasil simulasi tersebut menunjukkan perubahan dasar sungai setelah terjadi pengendapan selama 1 tahun. Di sepanjang Tukad Badung, pengendapan terbesar terjadi pada penampang melintang no.38 (daerah mulut waduk) sebesar 29,3 cm dan penggerusan terbesar terjadi pada penampang melintang no.65 (daerah hulu Tukad Badung) sebesar 28,9 cm. Di Waduk Muara pengendapan terbesar terjadi pada penampang melintang no.28 sebesar 0,6 cm yaitu di daerah mulut waduk. Berdasarkan pada dasar sungai yang didapat dari simulasi pertama, selanjutnya dilakukan simulasi kedua dengan menggunakan beberapa debit banjir rencana dengan kala ulang 2 tahun, 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun, 50 tahun, dan 100 tahun tersebut sehingga didapat elevasi muka air yang terjadi di sepanjang Tukad Badung dan Waduk Muara setelah terjadi pengendapan. Hasil simulasi dengan menggunakan debit banjir rencana dengan kala ulang tertentu menunjukkan bahwa bila terjadi debit banjir dengan kala ulang 25 tahun atau lebih, pada penampang melintang no.29 sampai dengan no.49 terjadi luapan air di tebing kiri.

75

STUDI PERKUATAN STRUKTUR BANGUNAN BETON BERTULANG BERTINGKAT TAHAN GEMPA DENGAN TAMBAHAN DIAGONAL PENGAKU BAJA TIPE X AKIBAT PERUBAHAN FUNGSI BANGUNAN
YUDY NRP: 4196115 PEMBIMBING: Ir. JOHANNES ADHIJOSO TJONDRO, ME. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Perkuatan struktur bangunan dengan tambahan diagonal pengaku baja merupakan salah satu cara yang umum digunakan untuk meningkatkan kekuatan dan kekakuan struktur. Dari hasil analisis model kasus dapat dilihat bagaimana perilaku struktur bangunan sebelum dan sesudah diperkuat dengan tambahan diagonal pengaku baja, ketika mengalami percepatan gempa. Perilaku yang diamati adalah peralihan lateral maksimum lantai, simpangan maksimum antar lantai, dan pola penyebaran sendi plastis pada elemen struktur. Dalam studi ini menunjukkan bahwa penambahan diagonal pengaku dapat meningkatkan kekuatan dan kekakuan struktur, hal ini terbukti bahwa peralihan lateral maksimum lantai struktur yang diberi diagonal pengaku menjadi lebih kecil dibandingkan sebelum diberi diagonal pengaku. Selain itu sendi plastis yang terjadi menjadi berkurang saat struktur diberi diagonal pengaku.

76

STUDI EFEK EKSENTRISITAS DAN FAKTOR K PADA STRUKTUR BAJA BERTINGKAT ENAM DENGAN PENGAKU TIPE Z EKSENTRIS
M. ALBA PRASETYAWAN NRP: 4196124 Pembimbing : J. Adhijoso Tjondro, Ir., ME. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Skripsi ini menganalisis satu struktur 6 lantai dengan pengaku tipe Z eksentris. Dari struktur tersebut digunakan harga faktor jenis struktur K yang bervariasi dari K=1.5, K=2.0 dan K=2.5. Dan juga harga eksentrisitas e pada pengaku eksentris yang bervariasi dari e-pendek, e-medium dan e-panjang. Analisis dilakukan untuk wilayah gempa 3 dengan kondisi diatas tanah keras. Metode yang dipergunakan dalam perencanaan awal adalah metode beban statis ekivalen yang dicantumkan dalam Pedoman Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Rumah dan Gedung (SKBI-1.3.53.1987, UDC:699.841) dengan bantuan program SANSPRO89 ver.4.2. Sedangkan analisis dinamik dilakukan dengan bantuan program DRAIN-2D. Rekaman-rekaman percepatan gempa yang dipergunakan adalah El Centro 1940 arah Utara-Selatan dan gempa Denpasar 1979 arah Timur-Barat. Model histeresis yang dipergunakan adalah elastoplastis. Tujuan dari skripsi ini adalah untuk mengetahui perilaku struktur rangka baja yang menggunakan pengaku tipe Z eksentris dengan perbedaan faktor jenis struktur yang bervariasi dari K=1.5, K=2.0 dan K=2.5 dan harga eksentrisitas yang bervariasi sebagai e-pendek, e-medium dan e-panjang. Tinjauan dilakukan pada peralihan lateral, peralihan antar tingkat, gaya-gaya dalam dan pola penyebaran sendi plastis. Hasil analisis menunjukkan bahwa perilaku struktur dengan pengaku Z eksentris akibat gempa El Centro pada umumnya memenuhi syarat, kecuali struktur dengan ependek akibat gempa Denpasar menghasilkan peralihan antar tingkat yang melebihi syarat. Bila dilihat dari pola penyebaran sendi plastis, akibat gempa El Centro hanya terjadi sendi plastis di balok dan pada ujung bawah kolom paling bawah, sedangkan akibat gempa Denpasar terjadi penyebaran sendi plastis di balok dan kolom, terutama di kolom bagian dalam. Hal ini dapat menyebabkan keruntuhan. Rotasi sendi plastis yang terjadi di balok dan kolom pada umumnya masih memenuhi syarat.

77

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH SIKAMENT-NN (SUPERPLASTICIZER) TERHADAP PENINGKATAN KUAT TEKAN BETON MUTU FC = 45 MPA
INDRA GUNAWAN NRP: 4196138 PEMBIMBING : Ny. WINARNI HADIPRATOMO, Ir. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Dalam pembangunan gedung bertingkat banyak, sebaiknya dipakai beton mutu tinggi (high strength concrete) yang memiliki kuat tekan minimum fc=45 MPa untuk menghemat dimensi dan berat sendirinya. Namun, biaya pembuatan beton mutu tinggi cukup mahal. Agar lebih ekonomis, dapat digunakan suatu zat additive seperti Super Plasticizer yang dapat mengefektifkan penggunaan semen. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pengaruh dari Sikament-NN terhadap peningkatan kuat tekan beton mutu tinggi. Mutu beton yang direncanakan adalah fc=45 MPa dengan benda uji berbentuk silinder diameter 150 mm dan tinggi 300 mm. Sikament-NN digunakan pada kadar 1%, 2% dan 3% dengan pengurangan kadar air sebesar 20%, dan umur perawatan beton 3, 7, 14 dan 28 hari. Hasil akhir penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kuat tekan karakteristik beton sebesar 4,50% pada kadar 1% Sikament-NN dengan pengurangan 20% kadar air, 7,88% pada kadar 2% Sikament-NN dengan pengurangan 20% kadar air, dan 1,24% pada kadar 3% Sikament-NN dengan pengurangan 20% kadar air. Kadar optimum penggunaan Sikament-NN untuk penelitian ini adalah sebesar 1,63%.

78

EFEK PERENDAMAN TERHADAP KUAT GESER TERALIR TANAH EKSPANSIF DI KOTA BUKIT INDAH
Yunius Sinsin Saputra NRP: 4196142 Pembimbing : Paulus Pramono Rahardjo, Ir., MSCE., Ph.D UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kelongsoran talud setelah dilakukan penimbunan suatu lereng dengan sudut kemiringan yang relatif landai di Kota Bukit Indah Cikampek. Kelongsoran ini terjadi terutama pada musim penghujan. Studi laboratorium ini, bertujuan untuk mengetahui pengaruh efek perendaman terhadap kuat geser teralir tanah ekspansif yang dikompaksi dan untuk memberikan masukan kepada perencana tentang bahaya kelongsoran yang mungkin dapat terjadi pada jangka waktu yang panjang (long term stability). Pada penelitian ini, contoh tanah dipersiapkan dengan kadar air alami dan dikompaksi dengan energi standar proctor (12375 ft-lb/ft3). Dari hasil perendaman, didapat hasil bahwa tanah lempung di Kota Bukit Indah bersifat ekspansif dan mempunyai potensi pengembangan yang relatif tinggi, potensi pengembangan maks 2.65 % dengan pemberian beban 1 psi (6.9 kPa) pada uji pengembangan. Akibat dari pengembangan yang relatif tinggi tersebut terjadi penurunan kekuatan tanah. Kenyataan ini dapat dilihat dari nilai kohesi (c) dan nilai sudut geser dalam (), untuk uji geser langsung tanpa perendaman menghasilkan kohesi sebesar 0.72 kg/cm2 dan sebesar 14.5o, sedangkan pada uji geser dengan perendaman menghasilkan kohesi sebesar 0.63 kg/cm2 dan sebesar 9o.

79

ANALISIS LONGSORAN TRANSLASI AKIBAT AIR HUJAN DI DAERAH PURWAKARTA JAWA BARAT
JHONNY NRP: 4196154 Pembimbing: Paulus P.Rahardjo,Ir.,MS.,PhD. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Longsoran dapat terjadi karena kemiringan lereng yang curam, pengaruh tekanan air pori, ataupun adanya bidang interface. Jika pada suatu bidang interface terdapat lapisan clay, dan disisipi air, maka bidang longsoran akan berada pada lapisan ini dan berpotensi untuk longsor. Pada analisis ini akan dibahas pengaruh muka air tanah terhadap faktor keamanan suatu lereng. Kestabilan lereng akan semakin kecil dengan naiknya muka air tanah. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi muka air tanah, semakin besar tekanan air pori yang menyebabkan tegangan efektif tanah semakin kecil sehingga tahanan geser tanah menurun. Studi kasus dilakukan di Purwakarta, Jawa Barat, analisis yang dibahas menggunakan teori dari Duncan dan Buchignani dimana penanggulangan longsoran ditanggulangi dengan menggunakan bor pile dan dikonstrusi masuk ke dalam lapisan tanah keras. Dari hasil perhitungan diperlukan bor pile diameter 60 cm, jarak spasi 2 m dan panjang tiang bor pile 14.4 sampai 19.2 m dan dikonstruksi hingga kedalaman tanah keras.

80

STUDI EKSPERIMENTAL PENGARUH PLASTIMENT-VZ TERHADAP KEMUDAHAN PENGERJAAN DAN KUAT TEKAN BETON DENGAN MUTU K-200 YANG MENGGUNAKAN SEMEN MUTU RENDAH
F.X. AGUS PRASETYO NRP: 4196157 Pembimbing: Ir. Ny. WINARNI HADIPRATOMO UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Saat ini, ada kalanya terjadi kelangkaan semen dengan mutu yang baik di pasaran sehingga dapat mempengaruhi kelancaran pelaksanaan proyek di lapangan. Untuk itu, akan diteliti pengaruh penambahan zat aditif pada beton yang menggunakan semen mutu rendah (PPC) terhadap kuat tekannya, sehinga dapat diketahui apakah dapat menggantikan semen dengan mutu yang baik atau tidak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari penambahan Plastiment-VZ dengan kadar 0.2 %, 0.4 %, dan 0.6 % dari berat semen terhadap kuat tekan beton yang menggunakan semen mutu rendah (PPC) dengan mutu rencana K200. Pada penelitian ini dipakai agregat halus (pasir) dari daerah Galunggung, agregat kasar (batu pecah) berukuran maksimum 20 mm, semen portland pozzolan (PPC), semen portland tipe I, air bersih, dan zat aditif jenis Plastiment-VZ merek Sika. Penelitian dilakukan dengan memakai benda uji berbentuk kubus dengan panjang, lebar, dan tinggi masing-masing berukuran 15 cm yang dibuat sebanyak 60 buah dan mengalami perawatan kering selama 3 hari, 7 hari, 14 hari, dan 28 hari. Metode perancangan yang digunakan adalah metode SKSNI (Standar Konsep Standar Nasional Indonesia). Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan zat aditif Plastiment-VZ sampai 0.4 % akan membuat kuat tekan beton bertambah dibandingkan kuat tekan beton yang tidak menggunakan tambahan zat aditif. Bila lebih dari 0.4 % maka lambat laun penambahan kuat tekan beton tersebut berkurang seiring bertambahnya kadar zat aditif di dalam campuran beton. Hasil analisis secara umum juga menunjukkan bahwa penambahan Plastiment-VZ dapat meningkatkan nilai slump beton segar.

81

HUBUNGAN MODULUS ELASTISITAS DENGAN LENDUTAN PADA STRUKTUR PERKERASAN LENTUR TIGA LAPIS UNTUK PROSES PERHITUNGAN BACKCALCULATION
Yuni Herawati NRP: 4196162 Pembimbing: Aloysius Tjan, Ir., MT., Ph.D. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Backcalculation dapat dilakukan dengan cara memasukkan berbagai variasi harga modulus elastisitas lapis permukaan (E1), modulus elastisitas lapis pondasi (E2), modulus elastisitas lapis tanah dasar (E3), tebal lapis permukaan (H1), dan tebal lapis pondasi (H2) pada lokasi-lokasi pengukuran lendutan yang dikehendaki sebagai data primer pada Program ELSYM5 agar menghasilkan output lendutan. Kemudian berdasarkan data E1 dan hasil lendutan permukaan dapat dibuat korelasinya dalam bentuk kurva sehingga jika ada data lendutan dari lapangan maka dengan menggunakan kurva tadi dapat diketahui nilai E1 dan CBR pada perkerasan lentur tersebut. Interpolasi linier dilakukan jika kurva yang telah dibuat tidak dapat digunakan. Interpolasi linier pada saat H1 = 100 mm dan H2 = 300 mm (H1 dan H2 adalah data primer) menghasilkan persentase error terhadap E1 = 0% dan CBR = 2.41%. Interpolasi linier pada saat H1 = 200 mm dan H2 = 350 mm (H1 adalah data primer) menghasilkan persentase error terhadap E1 = 0.9% dan CBR = 3.28%. Interpolasi linier pada saat H1 = 150 mm dan H2 = 400 mm (H2 adalah data primer) menghasilkan persentase error terhadap E1 = 36.36% dan CBR = 5.71%. Interpolasi linier pada saat H1 = 150 mm dan H2 =350 mm (H1 dan H2 bukan data primer dengan harga E1 berbeda 1.86% dengan data E1 primer) menghasilkan persentase error terhadap E1 = 22.28% dan CBR = 1.09%. Interpolasi linier pada saat H1 = 150 mm dan H2 = 350 mm (H1 dan H2 bukan data primer dengan harga E1 berbeda 54.07% dengan data E1 primer) menghasilkan persentase error terhadap E1 = 57.9% dan CBR = 4.65%.

82

PENGARUH JUMLAH DATA VOLUME TERHADAP HASIL PREDIKSI PERJALANAN ASAL TUJUAN DENGAN METODE MAXIMUM ENTROPY
Heny Setiani NRP: 4196163 Pembimbing: Aloysius Tjan, Ir., MT., Ph.D. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Dalam perencanaan transportasi, informasi mengenai pola perjalanan dan besarnya perjalanan perlu diketahui, khususnya perjalanan kendaraan. Hal ini dimaksudkan agar penyediaan sarana dan prasarana transportasi dapat dilakukan secara optimal. Salah satu metode untuk memprediksi besarnya perjalanan antarzona (asal tujuan) adalah Maximum Entropy Matrix Estimation (ME2). Pada metode ini, survei volume tidak perlu dilakukan pada semua ruas jalan (link), tetapi hanya pada link-link tertentu yang sensitif. Analisis yang dilakukan menggunakan operasi matriks untuk menghasilkan jumlah perjalanan yang dapat diandalkan. Secara umum, ada 3 macam data volume yang akan ditinjau pengaruhnya terhadap jumlah perjalanan yang dihasilkan. Data pertama adalah jumlah link minimum yang disurvei, data kedua adalah jumlah link yang disurvei kurang dari minimum, serta data ketiga adalah jumlah link yang disurvei berlebihan. Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah perjalanan yang dihasilkan akibat jumlah data volume yang kurang dari minimum tidak akan mencerminkan kondisi sesuai di lapangan. Sedangkan survei pada jumlah link minimum dan jumlah link berlebih akan menghasilkan jumlah perjalanan yang dapat diandalkan. Jadi, tidak ada manfaatnya melakukan survei dengan jumlah link berlebihan, karena akan menghabiskan waktu, biaya, dan tenaga lebih banyak.

83

EVALUASI JARINGAN PIPA AIR MINUM AKIBAT PERUBAHAN LOKASI SUMBER AIR DAN PENGEMBANGAN WILAYAH PADA DAERAH CILEUNYI, BANDUNG
Henricus Herwin NRP: 4196166 Pembimbing: Ir. R.W. Triweko, M.Eng., Ph.D. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Mata Air Goa Walet, yang merupakan sumber air baku jaringan pipa air minum di Kabupaten Cileunyi, menurun kapasitasnya. Penurunan ini menyebabkan jaringan pipa tersebut, sejak tahun 1998, tidak dapat berfungsi lagi dan masyarakat Cileunyi kehilangan sumber utama air minumnya. PDAM mengatasi masalah yang mendesak ini dengan mengirim mobilmobil tangki air disamping mencari dan menginventaris sumber-sumber air di seluruh wilayah kabupaten. Berdasarkan hasil analisis direncanakan dua buah sumber air yaitu Mata Air Legok Nyenang dan Mata Air Cihampelas sebagai sumber air baru untuk jaringan pipa air minum di Cileunyi. Analisa perencanaan kedua sumber air ini didasarkan pada kecukupan debit, letak sumber air dan kualitas air. Letak sumber air baru yang berjauhan dengan sumber air terdahulu menyebabkan perlu dilakukan evaluasi dan modifikasi pada jaringan pipa yang sudah ada. Modifikasi ini, dapat dilakukan dengan melakukan penggantian dan penambahan beberapa komponen pada jaringan yang sudah ada atau dengan membangun sistem jaringan air yang benar-benar baru. Selain perubahan letak sumber air, evaluasi yang dilakukan juga memperhitungkan pertambahan penduduk, perubahan fungsi wilayah dan penambahan cakupan pelanggan. Pengembangan dilakukan dalam dua tahap yaitu untuk memenuhi kebutuhan mendesak yang diproyeksikan dapat melayani jaringan pipa hingga tahun 2003 dan untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang hingga tahun 2008. Evaluasi yang dilakukan menunjukkan bahwa untuk pengembangan tahap I tidak perlu dilakukan banyak modifikasi pada jaringan pipa yang sudah ada dan untuk melayani kebutuhan air di Kecamatan Cileunyi hingga tahun 2003 cukup digunakan Mata Air Cihampelas. Pada pengembangan tahap II perlu dilakukan modifikasi yang besar pada jaringan pipa yang sudah ada, mencakup perubahan ruas pipa, penambahan ruas pipa baru dan pemasangan katup pelepas tekan. Untuk melayani kebutuhan air di pengembangan tahap II digunakan Mata Air Cihampelas dan Mata Air Legok Nyenang.

84

STUDI KORELASI QC SONDIR DENGAN CU UNCONFINED DARI SAMPEL HASIL KOMPAKSI DENGAN ALAT MODIFIED PROCTOR, MOLD 10.2 CM PALU 4.25 KG DAN MOLD 3.8 CM PALU 0.60 KG UNTUK TANAH MAJALAYA DENGAN VARIASI INDEKS PLASTISITAS YANG DISTABILISASI DENGAN SEMEN PADA KONDISI TIDAK JENUH AIR
ARWIN NRP: 4196180 PEMBIMBING: Prof. Dr. Ir. DJOKO SOELARNOSIDJI, MCE UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil kompaksi yang menggunakan alat Modified Proctor dengan hasil kompaksi yang menggunakan alat kompaksi dengan diameter palu sebesar diameter mold (alat kompaksi 10.2 cm palu 4.25 kg dan alat kompaksi 3.8 cm palu 0.60 kg) serta membuat korelasi antara qc sondir sampel hasil kompaksi dengan alat kompaksi 10.2 palu 4.25 kg dengan Cu Unconfined sampel hasil kompaksi dengan alat kompaksi 3.8 cm palu 0.60 kg. Penelitian ini menggunakan 3 jenis tanah dengan Indeks Plastisitas tinggi (lebih dari 35 %) yaitu tanah Cangkring (IP = 35.97 %) , tanah Citarum (IP = 54.52 %) dan tanah Cipicung (IP = 72.03 %) dan dikompaksi pada kondisi 3 variasi kadar semen (5 %, 7.5 % dan 10 % dari berat tanah) dengan 5 variasi energi masing-masing sebesar 3.00 kgcm/cm3, 6.05 kgcm/cm3, 16.00 kgcm/cm3, 27.50 kgcm/cm3 dan 38.00 kgcm/cm3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil kompaksi yang diperoleh dari alat kompaksi dengan diameter palu sebesar diameter mold sedikit berbeda dengan hasil yang diperoleh dari alat kompaksi Modified Proctor. Berat isi kering (dry) maksimum dengan alat kompaksi palu sebesar diameter mold sedikit lebih besar (sekitar 1.5-3.0 %) dari dry maksimum hasil kompaksi dengan alat Modified Proctor dan sebaliknya untuk kadar air optimum (w optimum) , sedangkan hasil kompaksi antara alat kompaksi 10.2 cm palu 4.25 kg dan alat kompaksi 3.8 cm palu 0.60 kg relatif sama (Gambar 5.1-5.45, 5.69a-5.69c). Variasi indeks plastisitas memberikan pengaruh berupa semakin meningkatnya kepadatan tanah hasil kompaksi untuk tanah dengan indeks plastisitas yang semakin rendah. Peningkatan dry maksimum sekitar 1 % - 2 % untuk setiap penurunan Indeks Plastisitas sebesar 5 % (Gambar 5.46-5.54, 5.72-5.77, 5.81-5.83, 5.84-5.86, 5.90-5.92). Variasi kadar semen memberikan pengaruh berupa semakin meningkatnya kepadatan tanah hasil kompaksi untuk tanah dengan kadar semen yang semakin besar. Peningkatan dry maksimum sekitar 2 % - 3 % untuk setiap peningkatan kadar semen sebesar 2.5 % (Gambar 5.46-5.54, 5.72-5.74, 5.84-5.86). Variasi energi kompaksi memberikan pengaruh berupa semakin meningkatnya kepadatan tanah hasil kompaksi jika energi kompaksi yang digunakan semakin besar. Peningkatan dry maksimum sekitar 3 % - 4 % untuk setiap peningkatan energi sebesar 100% (Gambar 5.46-5.54, 5.72-5.77, 5.84-5.86) Sampel hasil kompaksi dengan alat Modified Proctor dan alat kompaksi 10.2 cm palu 4.25 kg diuji dengan alat sondir untuk mendapatkan qc sondir, sedangkan sampel hasil kompaksi dengan alat kompaksi 3.8 cm palu 0.60 kg diuji dengan Unconfined Compression Test untuk mendapatkan Cu (kuat geser undrained) dan E (Modulus Young) dimana ketiga parameter tersebut dapat digunakan untuk menggambarkan kekuatan dari tanah hasil kompaksi tersebut. Variasi indeks plastisitas memberikan pengaruh berupa semakin meningkatnya kekuatan tanah hasil kompaksi (qc dan Cu) untuk tanah dengan indeks plastisitas yang semakin rendah. Peningkatan qc sondir dan Cu Unconfined sekitar 15 % - 20 % untuk setiap penurunan Indeks Plastisitas sebesar 5 % (Gambar 5.67, 5.68 & 5.70) Variasi kadar semen memberikan pengaruh berupa semakin meningkatnya kekuatan tanah hasil kompaksi (qc dan Cu) untuk tanah dengan kadar semen yang semakin besar. Peningkatan qc sondir dan Cu Unconfined sekitar 10 % - 15 % untuk setiap peningkatan kadar semen sebesar 2.5 % (Gambar 5.67, 5.68 & 5.70) Variasi energi kompaksi memberikan pengaruh berupa semakin meningkatnya kekuatan tanah hasil kompaksi (qc dan Cu) jika energi kompaksi yang digunakan semakin besar. Peningkatan qc sondir dan Cu Unconfined sekitar 85 % - 90 % untuk setiap peningkatan energi sebesar 100 % (Gambar 5.67, 5.68 dan 5.70). Parameter qc sondir dan Cu Unconfined tersebut dikorelasikan untuk mendapatkan suatu hubungan antara parameter tanah yang biasanya diperoleh melalui uji lapangan (qc sondir) dengan parameter tanah yang diperoleh melalui uji laboratorium (Cu Unconfined). Persamaan hubungan antara qc dengan Cu untuk tanah hasil kompaksi yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut (Gambar 5.71): Cu = qc / 14 untuk tanah Cangkring (IP = 35.97 %); Cu = qc / 16 untuk tanah Citarum (IP = 54.52 %); Cu = qc / 18 untuk tanah Cipicung (IP = 72.03 %). Disamping itu juga diperoleh persamaan hubungan antara qc dengan Modulus Young (E) (Gambar 5.71a) sebagai berikut: E = 2.0 qc untuk tanah Cangkring (IP = 35.97 %); E = 1.7 qc untuk tanah Citarum (IP = 54.52 %); E = 1.4 qc untuk tanah Cipicung (IP = 72.03 %); dan persamaan hubungan antara Cu dengan Modulus Young (E) (Gambar 5.71b) sebagai berikut: E = 30.0 Cu untuk tanah Cangkring (IP = 35.97 %); E = 27.5 Cu untuk tanah Citarum (IP = 54.52 %); E = 25.0 Cu untuk tanah Cipicung (IP = 72.03 %). Selain korelasi utama tersebut, dapat diperoleh juga korelasi-korelasi antar parameter tanah lainnya (Gambar 5.55-5.95) sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk berbagai pekerjaan dibidang geoteknik baik untuk perencanaan, pelaksanaan maupun pengontrolan mutu dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pekerjaan.

85

TINJAUAN MASALAH FAKTOR CB PADA KASUS TEKUK TORSI LATERAL BALOK BAJA PROFIL I
David Ho NRP: 4196189 PEMBIMBING: Bambang Suryoatmono, Ph.D. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Persamaanpersamaan untuk menghitung faktor Cb yang diberikan oleh AISC merupakan persamaanpersamaan empiris, persamaan Cb dari AISC 1986 berlaku untuk bidang momen linier tunggal sedangkan persamaan Cb dari AISC 1993 berlaku untuk segala bentuk bidang momen. Ada kemungkinan untuk bentuk bidang momen tertentu, persamaan Cb AISC memberikan hasil yang tidak tepat. Karena itu, kelayakan persamaan tersebut diperiksa dengan membandingkannya terhadap faktor Cb terekstrapolasi, yang merupakan rasio antara momen kritis akibat momen tidak konstan (yang diperoleh dari ekstrapolasi atas solusi numerik dengan metode beda hingga) dengan momen kritis akibat momen konstan. Analisis dilakukan untuk lima kasus pembebanan, yaitu: beban terbagi rata, beban terpusat, momen di kedua ujung, beban terbagi rata dengan momen di satu ujung, dan beban terbagi rata dengan momen di kedua ujung. Dari hasil analisis diketahui bahwa persamaan Cb AISC 1993 maupun AISC 1986 untuk kasuskasus yang ditinjau tidak terlalu tepat. Karena itu diajukan formula formula empiris alternatif yang berlaku spesifik, yang diperoleh dari regresi data Cb terekstrapolasi.

86

ANALISA TEGANGAN DAN REGANGAN RENCANA BENDUNGAN JATIBARANG PADA MASA KONSTRUKSI DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM PLAXIS
STANLEY SULISTYONO NRP: 41.96.203 PEMBIMBING: IR. THEO F. NAJOAN, M.ENG. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Skripsi ini difokuskan untuk menganalisa tegangan dan regangan yang terjadi pada tubuh bendungan pada saat masa konstruksi berlangsung. Tujuan pembahasan masalah ini adalah untuk mengetahui apakah tubuh bendungan dapat dibangun dengan baik dengan tingkat keamanan yang memadai. Studi kasus dilakukan terhadap rencana bendungan Jatibarang yang direncanakan dibangun di desa Jatibarang, sekitar 10 km kota Semarang, Jawa Tengah. Analisa dilakukan dengan program PLAXIS Ver. 6.31 yang berdasarkan pada Metode Elemen Hingga. Digunakan dua model teori keruntuhan tanah digunakan dalam analisa ini yaitu : Model Mohr-Coulomb dan Model Hiperbolik Duncan-Chang (Hard Soil Model) yang memiliki perbedaan mendasar dalam penentuan nilai Modulus Elastisitas dalam analisa. Model Mohr-Coulomb menggunakan nilai Modulus Elastisitas yang konstan setelah dilakukan penaksiran 3 yang terjadi. Sedangkan Model Hiperbolik Duncan-Chang menggunakan nilai modulus elastis unloading-reloading yang merupakan variabel yang bergantung pada nilai 3 yang sesungguhnya terjadi pada elemen tanah. Iterasi penentuan modulus elastis unloading-reloading dilakukan oleh PLAXIS. Hasil analisa yang diperoleh yaitu besarnya peralihan, pola keruntuhan, besar tegangan-tegangan utama, nilai tegangan geser relatif, dan gambar kurva hubungan Time dengan Displacement juga Time dengan excess pore pressure. Kesimpulan dari hasil analisa yang dilakukan sebagai berikut: 1. Model Hiperbolik Duncan-Chang lebih teliti dibandingkan model Mohr-Coulomb karena dimungkinkan memiliki nilai modulus elastis unloading-reloading yang berbeda pada tiap elemen yang dianalisa. 2. Penurunan maksimum yang terjadi pada model Mohr-Coulomb sebesar 0,679 m, sedangkan pada model Hiperbolik Duncan-Chang 1,07 m. 3. Walaupun hasil kedua pemodelan berbeda, tetapi secara umum pola peralihan dan kontur tegangan geser relatif memiliki kesamaan yang nyata. 4. Bidang gelincir melalui lereng bendungan (toe circle) yang terlihat pada hasil analisa dengan kedua pemodelan, memiliki bentuk dan faktor keamanan yang hampir sama. Faktor keamanan dengan model Mohr-Coulomb berkisar antara 1,412 sampai 1,6 sedangkan model Hiperbolik Duncan-Chang berkisar antara 1,6 sampai 1,845. 5. Pelaksanaan penimbunan tubuh bendungan dengan ketebalan 20 cm per hari dapat berlangsung dengan aman.

87

STUDI EKSPERIMENTAL PENENTUAN KADAR IJUK SEBAGAI PENGGANTI SERAT BUATAN TERHADAP KUAT TEKAN BETON MUTU FC = 25 MPA
JOSEPH HARTONO NRP: 4196213 Pembimbing : Ny. Winarni Hadipratomo, Ir. UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL (Terakreditasi Berdasarkan Keputusan Mendikbud No. 78/D/O/1997) BANDUNG JULI 2000 ABSTRAK
Banyak diperdagangkan berbagai jenis serat untuk meningkatkan mutu beton. Jenis serat tersebut ada yang serat buatan seperti serat baja, serat gelas, adapula serat alami seperti serat bambu dan serat kelapa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan kekuatan tekan beton dengan campuran ijuk dengan mutu rencana fc = 25 MPa dan menentukan kadar optimum ijuk yang digunakan sebagai pengganti serat buatan untuk campuran beton. Dalam penelitian ini kadar ijuk yang ditambahkan ke dalam campuran beton adalah 0 kg/m3, 0,5 kg/m3, 1 kg/m3, 1,5 kg/m3. Benda uji yang digunakan berbentuk silinder dengan ukuran diameter 150 mm dan tinggi 300 mm. Pengujian kuat tekan beton dilakukan pada umur perawatan 3, 7, 14, 28 hari. Dari hasil eksperimen dapat disimpulkan bahwa dengan penambahan ijuk ke dalam campuran beton, maka pengerjaan (workability) menjadi semakin sulit, sedangkan kekuatan tekan yang dihasilkan semakin besar dengan semakin bertambahnya kadar ijuk. Kadar optimum ijuk yang dicapai dalam penelitian ini adalah 1,5 kg/m3. Tetapi apabila ditinjau dari harga slump, kadar optimum ijuk untuk peningkatan kekuatan tekan beton adalah 1 kg/m3.

88