Anda di halaman 1dari 25

BABI PENDAHULUAN

a. Latar belakang Sinar matahari di satu pihak , sangat diperlukan oleh makhluk hidup sebagai sumber energi dan penyehat kulit dan tulang, misalnya dalam pembentukan vitamin D dan pro vitamin D yang mencegah penyakit polio atau riketsia, tetapi dilain pihak sinar matahari mengandung sinar ultraviolet yang membahayakan kulit. Sinar ultraviolet ini dapat menimbulkan berbagai kelainan pada kulit mulai dari kemerahan, noda hitam, penuaan dini, kekeringan , keriput, sampai kanker kulit.
Kulit adalah organ tubuh yang terletak yang paling luar yang mempunyai fungsi sangat penting yaitu menutupi dan melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan serta merupakan pembungkus tubuh yang sangat elastis. Pada kondisi kulit tertentu, pelembaban diperlukan oleh kulit untuk mempertahankan struktur dan fungsinya. Pengaruh berbagai faktor baik dari luar maupun dalam tubuh, misalnya: udara kering, terik sinar matahari, bertambahnya usia, ras, serta penyakit kulit dapat menyebabkan kulit menjadi lebih kering akibat kehilangan air oleh penguapan yang tidak kita rasakan. Secara alamiah kulit telah berusaha untuk melindungi diri dari kemungkinan ini yaitu dengan adanya tabir lemak di atas kulit yang didapat dari kelenjar lemak dan sedikit kelenjar keringat dari kulit serta adanya lapisan kulit luar yang berfungsi sebagai sawar kulit. Namun dalam kondisi tertentu, faktor perlindungan alamiah tersebut tidak mencukupi dan karena itu dibutuhkan perlindungan tambahan nonalamiah yaitu dengan memberikan kosmetika pelembab kulit. Dasar pelembaban kulit yang didapat adalah efek emolien, yaitu mencegah kekeringan dan kerusakan kulit akibat sinar matahari atau penuaan kulit, sekaligus membuat kulit terlihat bersinar. Bentuk sediaan kosmetika pelembab biasanya emulsi minyak dalam air (M/A) namun dapat pula berbentuk emulsi air dalam minyak (A/M). Krim siang berbentuk emulsi minyak dalam air yang lebih encer sehingga terasa lebih dingin dan tidak lengket, berisi minyak mineral, propilen glikol dalam air (Wasitaatmadja, 1997). Krim merupakan cairan kental atau emulsi setengah padat baik bertipe air dalam minyak atau minyak dalam air (Ansel, 1999). Nanoteknologi diciptakan dan digunakan dari material pada ukuran yang sangat kecil. Alat atau bahan ini berukuran sekitar 1 sampai 100 nanometer (nm). Satu nm sama dengan 1

1:109 meter (10-9 m) (Sartono, 2006). Aplikasi nanoteknologi sangat luas sekali termasuk aplikasi dalam bidang kesehatan dan farmasi yang mencakup penghantaran obat, implant medis, serta dalam bidang kosmetik (Soebandrio, 2007). Di kosmetik contoh aplikasi nanoteknologi adalah penggunaan tabir surya berbasis nanopartikel TiO2 dan ZnO (Merkle, 2007). TiO2 dan ZnO merupakan perlindungan kulit secara fisik yang bekerja dengan cara memantulkan kembali sinar yang mengenai kulit (Tranggono & Latifah, 2007).

b. Tujuan dan Manfaat


Adapun tujuan dari makalah ini adalah agar Mahasiswa mengetahui kandungan cream siang yang ideal digunakan. Mengetahui cara membuat sediaan krim pelembab yang aman dan nyaman

digunakan,mengetahui metode-metode pembuatan krim yang tepat.Mampu mengevaluasi sediaan krim pelembab.

c. Permasalahan Banyak cream siang yang kurang mengandung moustirizer sehingga kadang menyebabkan kulit agak kering.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Cream Siang & Sediaan Tabir Surya ( Sunscreen Preparations )

Sediaan tabir surya adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud membaurkan atau menyerap secara efektif cahaya matahari, terutama daerah emisi gelombang ultraviolet dan inframerah, ssehingga dapat mencegah terjadinya gangguan kulit karena cahaya matahari. Bahan tambahan yang digunakan adalah Klasium karbonat, kaolin, magnesium oksida, talek, dan sebagainya. Dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap sejumlah bahan pelindung matahari di daerah tropic didapat hasil sebagai berikut : 1. Antranilat ( orto aminobenzoat ; benzyl , fenil, feniletil, linalil, metal, mentil, sikloheksil, dan terpenil ester. 2. Asam p- aminobenzoat dan derivatnya ( asam p demetilaminobenzoat,etil, gliseril, isobutyl ester. ) 3. Asam tanat dan derivatnya. 4. Aswam urat dan asam violurat. 5. Azol (2 asetil 3 bromoindazol, fenil benzoksazol, metil nalfoksazol, berbagai aril benzotiazol. 6. Benzalasetofenon, dan dibenzalaseton.
7. Dervat asam dihidroksinamat ( umbeliferon, metal umbeliferon, metilaseto umbeliferon

). 8. Derivate asam sinamat ( benzyl dan metal ester ; alfafenil sinamonitril, butyl sinamoil piruvat ). 9. Derivate asam trihidroksinamat ( eskutin, daftanein, dafnin, glukosida eskutin, dan metileskutin ). 10. Derivate kinolin. 11. Derivate kumarin. 12. Derivate kina ( bisulfate, klorida,oleat, sulfat dan tanat ).
3

13. Hidrokarbon ( difenilbutadien, stilben ).

14. Hidrokinon . 15. o dan p hidroksibifenildisulfonat. 16. Naftol sulfonat ( asam 2-naftol-6,8-disulfonat dan natrium 2-naftol-3,6-disulfonat ). 17. Salisil (amil , benzyl, dipropilen gliol, fenil,gliserin, dan mentil ester )

Cream adalah sediaan setengah padat berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Sumber : Farmakope Indonesia III Cream adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Sumber : Farmakope Indonesia IV Cream adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi kental mengandung air tidak kurang dari 60 % dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Sumber : Formularium Nasional B. Perlindungan kulit Secara alami ,kulit sudah berusaha melindungi dirinya beserta organ organ bawahnya dari bahaya sinar UV matahari, antara lain dengan membentuk butir pigmen kulit ( melanin ) yang sedikit banyak memantulkan kembali matahari. Jika kita terpapar sinar matahari, misalnya ketika seseorang berjemur maka timbul dua tipe reaksi melanin : Penambahan melanin dengan cepat ke permukaan kulit. Pembentukan tamabahn melanin baru. Jika pembentukan tambahan melanin itu berlebihan dan terus menerus pada kulit dapat terjadi. Secara artificial, ada dua cara perlindungan kulit, yaitu :
4

1. Perlindungan secara fisik, misalnya memakai payung, topi lebar, baju lengan panjang,

celana panjang, sertan pemakaian bahan bahan kimia yang memelihara kulit dengan jalan memantulkan sinar yang mengenai kulit, misalnya dioksida, zinc oksida, kaolin, kalsium karbonat, magnesium Karbonat, silisium dioksida dan bahan bahan lainnya sejenis yang sering dimasukkan dalam dasar bedak ( foundation )atau bedak. 2. Perlindungan secara kimiawi dengan memakai bahan kimia,tersebut yaitu : a. Bahan yang menimbulkan dan mempercepat proses penggelapan kulit ( tanning ), misalnya dioxy acetone dan 8 methoxy psoralen, yang dikonsumsi 2 jam sebelum berjemur. Bahan ini mempercepat pembentukan pigmen melanin di permukaan kulit. b. Bahan yang menyerap UV B tetapi meneruskan UV a ke dalam kulit misalnya Para Amino Benzoic Acid (PABA ) dan derivatnya, Cinnamates, Anthranilates, Benzophenons, Dighalloyl trioleat, dan petrolatum veteriner merah. Tetapi perlu diingat bahwa PABA dan sejumlah bahan tersebut bersifat photosensitizer, yaitu jika terkena sinar matahari terik seperti halnya Negara tropis Indonesia dapat menimbulkan berbagai reaksi negative pada kulit, seperti photoallergy, photoxic, disamping pencoklatan kulit ( tanning ) yang tidak disukai oleh orang ASIA yang menyukai kulit yang berwarna putih. C. Syarat dan Bentuk Cream Siang Syarat syarat preparat kosmetik tabir surya (sunscreen ) Enak dan mudah dipakai. Jumlah yang menempel mencukupi kebutuhan. Bahan aktif dan bahan dasar mudah tercampur. Bahan dasar harus dapat mempertahankan kelembutan dan kelembaban kulit. Syarat syarat bagi bahan aktif untuk preparat tabir surya :
-

Efektif menyerap radiasi UV B tanpa perubahan kimiawi, karena jika tidak demikian akan mengurangi efisiensi, bahkan menjadi toksik atau menimbulkan iritasi. Meneruskan UV A untuk mendapatkan tanning ( di kulit Kaukasia / Eropa ). Stabil , yaitu tahan keringat dan tidak menguap.
5

Mempunyai daya larut yang cukup untuk mempermudah formulasinya. Tidak berbau atau boleh berbau ringan. Tidak toksik , tidak mengiritasi, dan tidak menyebabkan sensitasi. Bentuk bentuk preparat (sunscreen ) dapat berupa : 1. Preparat anhydrous. 2. Emulsi ( non greasy O/ W, semi greasy dual emulsion, dan fatty W/O ).
3. Preparat tanpa lemak ( greaseless preparation )

1.) Preparat Anhidrous. Minyak Suntan cair menduduki tempat terpenting. Keuntungan khusus dari preparat tabir surya yang berdasar minyak ini adalah daya tahannya terhadap air, sehingga tidak terganggu oleh perspirasi dan air kolam renang atau laut. Minyak tumbuhan ,terutama minyak wijen,paling umum digunakan, hasil terbaik diperoleh bila preparat minyak dicampur 10 15 % bubuk bahan murni penolak sinar matahari, misalnya Zinc oksida. Konsentrasi bahan aktif 2 10 %, tergantung jenis bahan aktif yang digunakan. 2.) Emulsi Segala jenis emulsi, non greasy O/ W, semi greasy dual emulsion, dan fatty W/O,digunakan sebagai preparat sunscreen. Yang kandungan lemaknya tinggi tampak mirip minyak, sedangkan yang non greasy mirip preparat yang berdasar air. Keuntungan dar preparat Emulsi adalah penampakannya yang menarik, serta konsistensinya yang menyenangkan sehingga memudahkan pemakaian. Tak ada resiko tumpah dengan membalikkan botolnya ( kecuali liquid emulsi ) dan produk produk itu dapat dikemas di dalam tube yang mudah digenggam. Bahan bahan tabir surya untuk emulsi O/W larut dalam aair, sedangkan untuk emulsi W/O larut dalam minyak. Dalam emulsi ganda ( dual emulsion ) kadang kadang digunakan kombinasi antara keduanya. Polano (1945 ) melakukan pengamatan yang menarik dan menemukan bahwa bahan bahan aktif yang larut dalam air, seperti tannin, altrazeozone dan Cibazol hanya memperlihatkan efek protektif bila dalam emulsi O/W tetapi tidak dalam emulsi W/O.
3.) Preparat tanpa lemak 6

Dibandingkan tabir surya yang terbuat dari minyak , preparat tanpa minyak ini memiliki keuntungan, yaitu tidak berlemak dan tidak lengket, sehingga lebih menyenangkan untuk dipakai. Kekurangannya adalah preparat ini mudah larut dalam air. Preparat tanpa lemak ini dapat dibagi berdasarkan tinggi rendahnya kandungan alcohol, yaitu ethil alcohol atau isopropyil alcohol yang terutama digunakan dalam aerosol. D. Kelebihan dan Kekurangan sediaan Cream Kelebihan sediaan Cream -

Mudah udah menyebar rata Praktis Lebih mudah dibersihkan atau dicuci dengan air terutama tipe m/a ( minyak dalam air. Cara kerja langsung pada jaringan setempat Tidak lengket, terutama pada tipe m/a ( minyak dalam air ) Bahan untuk pemakaian topical jumlah yang diabsorpsi tidak cukup beracun, sehingga pengaruh aborpsi biasanya tidak diketahui pasien. Memberikan rasa dingin, terutama pada tipe a/m ( air dalam minyak ) Bisa digunakan untuk kosmetik, misalnya mascara, krim mata, krim kuku, dan deodorant. Bisa meningkatkan rasa lembut dan lentur pada kulit, tetapi tidak menyebabkan kulit berminyak.

Kekurangan
-

Mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m ( air dalam minyak ) karena terganggu system campuran terutama disebabkan karena perubahan suhu dan perubahan komposisi disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran 2 tipe crem jika zat pengemulsinya tidak tersatukan.

Susah dalam pembuatannya, karena pembuatan cream harus dalam keadaan panas. Mudah lengket, terutama tipe a/m ( air dalam minyak ) Gampang pecah, disebabkan dalam pembuatan formulanya tidak pas.
7

Pembuatannya harus secara aseptic

E. Komponen Sediaan Cream Siang a) Zat berkhasiat

Sifat fisika dan kimia dari bahan atau zat berkhasiat dapat menentukan cara pembuatan dan tipe krim yang dapat dibuat, apakah krim tipe minyak dalam air atau tipe air dalam minyak.
b) Minyak

Salah satu fase cair yang bersifat nonpolar


c) Air.

Salah satu fase cair yang bersifat polar. Untuk pembuatan digunakan air yang telah dididihkan dan segera digunakan setelah dingin.
d) Pengemulsi :

Umumnya berupa surfaktan anion, kation atau nonion.pemilihan surfaktan didasarkan atas jenis dan sifat krim yang dikehendaki. Untuk krim tipe minyak air digunakan zat pengemulsi seperti trietanolaminil stearat dan golongan sorbitan, polisorbat, poliglikol, sabun. Untuk membuat krim tipe air-minyak digunakan zat pengemulsi seperti lemak bulu domba, setil alkohol, stearil alkohol, setaseum dan emulgida.
e) Bahan tambahan;

Untuk sediaan semi solid agar peningkatan penetrasi pada kulit: - Zat untuk memperbaiki konsistensi Konsistensi sediaan topical diatur untuk mendapatkan bioavabilitas yang maksimal, selain itu juga dimaksudkan untuk mendapatkan formula yang estetis dan acceptable. Konsistensi yang disukai umumnya adalah sediaan yang dioleskan, tidak meninggalkan bekas, tidak terlalu melekat dan berlemak. Hal yang penting lain adalah mudah dikeluarkan dari tube. Perbaikan konsistensi dapat dilakukan dengan mengatur komponen sediaan emulsi diperhatikan ratio perbandingan fasa. Untuk krim adalah jumlah konsentrat campuran zat pengemulsi.

- Zat pengawet.
-

Pengawet yang dimaksudkan adalah zat yang ditambahkan dan dimaksudkan untuk meningkatkan stabilitas sediaan dengan mencegah terjadinya kontaminasi mikroorganisme. Karena pada sediaan krim mengandung fase air dan lemak maka pada sediaan ini mudah ditumbuhi bakteri dan jamur. Oleh karena itu perlu penambahan zat yang dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme tersebut. Untuk pembuatan cream dugunakan air yang telah dididihkan dan segera digunakan setelah dingin. Zat pengawet yang digunakan umumnya metil paraben 0.12 % sampai 0,18 % atau propil paraben 0,02% - 0,05 %.

Pendapar Pendapar dimaksudkan untuk mempertahankan pH sediaan untuk menjaga stabilitas sediaan. pH dipilih berdasarkan stabilitas bahan aktif. Pemilihan pendapar harus diperhitungkan ketercampurannya dengan bahan lainnya yang terdapat dalam sediaan, terutama pH efektif untuk pengawet. Perubahan pH sediaan dapat terjadi karena: perubahan kimia zat aktif atau zat tambahan dalam sediaan pada penyimpanan karena mungkin pengaruh pembawa atau lingkungan. Kontaminasi logam pada proses produksi atau wadah (tube) seringkali merupakan katalisator bagi pertumbuhan kimia dari bahan sediaan.

Pelembab Pelembab atau humectan ditambahkan dalam sediaan topical dimaksudkan untuk meningkatkan hidrasi kulit. Hidrasi pada kulit menyebabkan jaringan menjadi lunak, mengembang dan tidak berkeriput sehingga penetrasi zat akan lebih efektif. Contoh zat tambahan ini adalah: gliserol, PEG, sorbitol.

Pengompleks (sequestering)

Pengompleks adalah zat yang ditambahkan dengan tujuan zat ini dapat membentuk kompleks dengan logam yang mungkin terdapat dalam sediaan, timbul pada proses pembuatan atau pada penyimpanan karena wadah yang kurang baik. Contoh : Sitrat, EDTA, dsb. Anti Oksidan.

Antioksidan dimaksudkan untuk mencegah tejadinya ketengikan akibat oksidasi oleh cahaya pada minyak tidak jenuh yang sifatnya autooksidasi, antioksidan terbagi atas :

Anti oksidan sejati (anti oksigen) Kerjanya: mencegah oksidasi dengan cara bereaksi dengan radikal bebas dan mencegah reaksi cincin. Contoh: tokoferol, alkil gallat, BHA, BHT.

Anti oksidan sebagai agen produksi. Zat-zat ini mempunyai potensial reduksi lebih tinggi sehingga lebih mudah teroksidasi dibandingkan zat yang lain kadang kadang bekerja dengan cara bereaksi dengan radikal bebas. Contoh; garam Na dan K dari asam sulfit.
Anti oksidan sinergis.

Yaitu senyawa yang bersifat membentuk kompleks dengan logam, karena adanya sedikit logam dapat merupakan katalisator reaksi oksidasi. Contoh: sitrat, tartrat, EDTA. Peningkat Penetrasi. Zat tambahan ini dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah zat yang terpenetrasi agar dapat digunakan untuk tujuan pengobatan sistemik lewat dermal (kulit). Syarat-syarat: - Tidak mempunyai efek farmakologi. - Tidak menyebabkan iritasi alergi atau toksik. - Bekerja secara cepat dengan efek terduga (dapat diramalkan). - Dapat dihilangkan dari kulit secara normal.
10

- Tidak mempengaruhi cairan tubuh, elektrolit dan zat endogen lainnya. - Dapat bercampur secara fisika dan kimia dengan banyak zat. - Dapat berfungsi sebagai pelarut obat dengan baik. - Dapat menyebar pada kulit. - Dapat dibuat sebagai bentuk sediaan. - Tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Pada umumnya senyawa peningkat penetrasi akan meningkatkan permeabilitas kulit dengan mengurangi tahanan difusi stratum corneum dengan cara merusaknya secara reversible. Contoh; dimetil sulfida (DMSO), zat ini bersifat dipolar, aprotik dan dapat bercampur dengan air, pelarut organik pada umumnya.
-

Zat pengemulsi Pemilihan zat pengemulsi harus disesuaikan dengan jenis dan sifat cream yang dikehendaki. Sebagai zat pengemulsi dapat digunakan emulgid, lemak bulu domba, setaseum, setil alkohol, stearilalkohol, trietanolaminil stearat dan golongan sorbitan, polisorbat, polietilenglicol, sabun. Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik atau tube, ditempat sejuk Penandaan Pada etiket harus juga tertera : Obat Luar

F. Metode Pembuatan
1. Metode Pelelehan ( fusion)

Zat khasiat maupun pembawa dilelehkan bersama-sama, setelah meleleh diaduk sampai dingin. Yang harus diperhatikan: kestabilan zat khasiat.
2. Metode Triturasi

Zat yang tidak larut dicampur dengan sedikit basis, sisa basis ditambahkan terakhir. Di sini
11

dapat juga digunakan bantuan zat organik untuk melarutkan zat khasiatnya. Pada skala industri dibuat dalam skala batch yang cukup besar dan keberhasilan produksi sangat tergantung dari tahap-tahap pembuatan dan proses pemindahan dari satu tahap pembuatan ke tahap yang lain. Untuk menjaga stabilitas zat berkhasiat pada penyimpanan perlu diperhatikan, antara lain: Kontaminasi dengan kotoran Kondisi temperatur /suhu Kemungkinan hilangnya komponen yang mudah menguap.

Dasar dasar proses pembuatan sediaan semi solid (termasuk krim) dapat dibagi:
Reduksi ukuran partikel, skrining partikel dan penyaringan.

Bahan padat dalam suatu sediaan diusahakan mempunyai ukuran yang homogen. Skrining partikel dimaksudkan untuk menghilangkan partikel asing yang dapat terjadi akibat adanya partikel yang terflokulasi dan aglomerisasi selama proses.
Pemanasan dan pendinginan

Proses pemanasan diperlukan pada saat melarutkan bahan berkhasiat, pencampuran bahan- bahan semisolid pada proses pembuatan emulsi. Pembuatan sediaan semi solid dibutuhkan pemanasan, sehingga pada proses homogenisasi bahan- bahan yang digunakan tidak membutuhkan penanganan yang sulit, kecuali apabila didalam sediaan tersebut ada bahan-bahan yang termolabil.
Pencampuran

Pencampuran terdiri tiga macam:


-

Pencampuran bahan padat. Pada prinsipnya pencampuran bahan padat adalah menghancurkan aglomerat yang terjadi menjadi partikel dengan ukuran yang serba sama.

Pencampuran untuk larutan. Tujuan pencampuran larutan didasarkan pada dua tujuan yaitu: adanya transfer panas dan homogenitas komponen sediaan.
12

Pencampuran semi solida. Untuk pencampuran sediaan semi solid dapat digunakan alat pencampuran dengan bentuk mixer planetary dan bentuk sigma blade. Alat dengan sigma blade dapat membersihkan salep/ krim yang menempel pada dinding wadah dan menjamin homogenitas produk serta proses transfer panas lebih baik.

Penghalusan dan Homogenisasi. Proses terakhir dari seluruh rangkaian pembuatan adalah penghalusan dan homogenisasi produk semi solid yang telah tercampur dengan baik.

G. EVALUASI SEDIAAN AKHIR


Uji evaluasi yang dilakukan adalah : 1. Uji daya sebar cream 2. Uji daya lekat cream 3. Uji kemampuan proteksi 4. Uji homogenitas cream 5. Uji Ph. Secara umum evaluasi sediaan cream dapat dibagi dalam 3 kelompok yaitu : 1) Evaluasi Fisik.

Homogenitas diantara dua lapis film, secara makroskopis : alirkan di atas kaca. Konsistensi, tujuan : mudah dikeluarkan dari tube dan mudah dioleskan. Pengukuran konsistensi dengan pnetrometer. Konsistensi / rheologi dipengaruhi suhu; sedian non newton dipengaruhi oleh waktu istirahat oleh karena itu harus dilakukan pada keadaan yang identik. Bau dan warna untuk melihat terjadinya perubahan fasa. pH, pH berhubungan dengan stabilitas zat aktif, efektifitas pengawet, keadaan kulit.
13

2) Evaluasi Kimia.

Kadar dan stabilitas zat aktif dan lain-lain.


3) Evaluasi Biologi.

- Kontaminasi mikroba. Salep mata harus steril untuk salep luka bakar, luka terbuka dan penyakit kulit yang parah juga harus steril. - Potensi zat aktif. Pengukuran potensi beberapa zat antibiotik yang dipakai secara topikal.

H. STABILITAS

Stabilitas obat merupakan faktor penting dalam formulasi sediaan farmasi. Mengingat suatu sediaan biasanya diproduksi dalam jumlah besar dan memerlukan waktu lama untuk sampai pada pasien maka stabilitas obat sangat penting. Obat yang disimpan dalam jangka waktu lama dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan dosis yang diberikan oleh pasien berkurang. Kadang kadang hasil uraiannya bersifat toxic, sehingga dapat membahayakan pasien. Cream rusak jika terganggu system campurannya terutama disebabkan perubahan suhu dan perubahan komposisi disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran dua tipe cream jika zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain. Pengenceran cream hanya dapat dilakukan jika diketahui pengenceran yang cocok yang harus dilakukan dengan teknik aseptic. Agar lebih stabil zat pengawet ditambahkan zat anti oksidan. Cream yang sudah diencerkan harus digunakan dalam waktu satu bulan. Penentuan kestabilan suatu zat dapat dilakukan dengan cara kinetik kimia, yaitu :
14

1. Kecepatan reaksi

Factor factor yang mempengaruhi kecepatan reaksi : Suhu Kekuatan ion 2. Pengaruh pH
3. Tingkat reaksi atau orde reaksi.

Orde reaksi adalah banyaknya factor konsentrasi yang ikut berperan dalam kecepatan raeksi. Orde reakasi O adalah terjadi bila kecepatan reaksi tidak bergantung pada konsentrasi pereaksinya. Jadi akan terjadi perubahan konsentrasi yang konstan pada setiap waktu. Orde reaksi 1 adalah terjadi bila kecepatan reaksi bergantung pada konsentrasi satu pereaksi. Orde reaksi 2 adalah terjadi bila pada konsentrasi dua pereaksi. Tujuan Uji Stabilitas
a) Cream yang beredar tersebut stabil dalam jangka waktu yang lama yang

disimpan dalam suhu kamar.


b) Menentukan umur simpan dari suatu sediaan cream.

Tipe pereaksi penguraian kosmetik


-

Reaksi hidrolisis : Reaksi penguraian struktur kimia zat dengan adanya air/ pelarut . Reaksi Oksidasi : Penguraian karena interaksi cream dengan oksigen atau terbentuknya radikal radikal bebas. Reaksi isomerisasi : Penguraian cream yang terbentuknya isomer yang mungkin tidak berkhasiat/ toksis. Reaksi fotolisis : Pengurian cream oleh cahaya. Reaksi polimerisasi : Proses bergabungnya dua atau lebih molekul cream menjadi struktur yang lebih rumit.

Faktor factor yang mempengaruhi stabilitas :


15

Pelarut : mengubah konstanta dielektrik pelarut aslinya Oksigen : karena bersifat oksidan pH larutan : ditentukan oleh konstanta H+ dan OHCahaya Larutan penyangga Suhu Kekuatan ion

I. F O R M U L A S I FORMULA Contoh formula cream siang Formula 1 (Olay Total White ) Gliserin 10 % Niasiamida 2 % Formula 2 Stearic acid 14 % Niasiamida 2 % Formula 3
Cutina MD 5 % Setil alkohol 1 %

Formula 4 Minyak kelapa 15% Asam stearat 14%

Keterangan

Butilen glikol 3 % Cyclopentasiloxane 1 % Polyethylene 3 % Butien glikol 3 % Dimeticon 2 % Gliserin 10 % Isopropyl palmitat 2% Etilexyil

Stearil alkohol 1 % Parafin cair 10 % Gliserin Sterol 10 %

Gliserin 10% Borax 0,25% TEA 1%

5%

Nipagin 0,1-0,2% Aquades ad 100%

methoxycinnamate 2 ZinClear-S 3 % Setil alcohol 3 % % Benzyl alcohol 1


OMC
16

3%

% TEA 1 % Ethiparaben 1 %

Sorbitan sterat 1 % Potassium hydroxide 1% Tocopheryl asetat

Benzofenon 3 % Pengawet 0,2 % Pewangi 0,1 %

Fragrance 0,5 % 1% Sulfonic acid 1 % Metilparaben 1 % Metilparaben 1 % Dimetikon 1 % Acid stearic 14 % Propilparaben 1 % Mentol 0,5 % Aluminium Aonium polyacrylate 0,5 % Fruit ectract 0,5 % Hidroksipropil Sodium ascorbat 1% Zinci oxide 1 % Bahan pengawet 0,5 % Air ad 100 % Sodium ascorbat 1 % Bahan pengawet 0,5 % Air ad 100%
Pemerian Bahan bahan yang digunakan.
17

Viskolam AT 100/P 0,5 % Aquadest ad 100

hidroksida 0,5 % Lycophen 2 % Benzoic acid 1 %

selulosa 1 %

Coconut Oil (minyak kelapa)

Sinonim : oleum vegetable, oleum neutralea, Medium Chain Triglycerides. Fungsi : pengemulsi, solvent, suspending agent, therapeutic agent. Pemerian : cairan minyak berwarna kuni, tidak berbau dan tidak berasa. Minyak membeku pada suhu 0 0C dan viskositas menjadi rendah bila mendekati suhu 0 0C. OTT : polistiren, polietilen, dan polipropilen. Asam stearat

Sinonim : Crosterene, hystrene, Pristerene Rumus empiric : C18H36O2 Berat Molekul : 284,47 Struktur : CH3(CH2)16COOH Fungsi : pengemulsi, solubilizing agent Ointments/ krim : 1-20% Pemerian : kristal atau serbuk putih atau kuning, bau lemah Kelarutan : benzen larut,etanol larut, propilen glikol larut, air praktis tidak larut OTT : agen pengoksidasi
-

Gliserin

Sinonim : trihidroxypropane glycerol Rumus empiric : C3H8O3


18

Berat molekul : 92,09 Struktur : CH2 OH CH OH CH2 OH Fungsi : - Antimikroba>20% - Emolient up to 30 - Humektan up to 30 - Plasticizer - Solvent - Pemanis - Agen pengion Pemerian : larutan bening tidak berwarna, tidak berbau, kental, larutan higroskopis, rasa manis seperti sukrosa. Kelarutan : etanol 95% mudah larut, minyak praktis tidak larut, air mudah larut. OTT : agen pengoksidasi seperti potasium klorat atau potasium permanganat.
-

Borax/ Natrium tetraborat

Rumus molekul : Na2B4O7.10H2O Berat molekul : 381,37 Pemerian : hablur transparan tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak bebrbau, rasa asin dan basah, dalam udara kering merapuh.
19

Kelarutan : etanol 96% tidak larut, gliserol 1:1 mudah larut, air mudah larut. Fungsi : antiseptikum extern. Triethanolamine (TEA)

Rumus empiris : C6H15NO3 Berat molekul : 149,19 Struktur formula : N(CH2CH2OH)3 Fungsi : agen pengalkali,agen pengemulsi Pemerian : cairan bening tidak berwarna sampai kuning pucat, bau amoniak lemah Kelarutan : etanol 95% larut, metanol larut, water larut OTT : golongan amin dan hidroksi
-

Nipagin/ Methylparaben

Sinonim : Solbrol M, Tegosept M, Nipagin M. Rumus empirik : C8H8O3 Berat molekul : 152,15 Fungsi : antimikroba untuk sediaan topikal 0,02%-0,3% Pemerian : kristal putih, tidak berbau, panas Kelarutan : etanol 1:2, gliserin 1:60, air 1:400, OTT : besi, mengalami hidrolisis dengan basa lemah dan asam kuat. Cethyl alkohol
20

Sinonim : n- hexadecyl alcohol, palmityl alcohol Rumus empirik : C16H34O Berat molekul : 242,44 Struktur : CH3(CH2)14CH2OH Fungsi : pembasah 5%, pengemulsi 2-5%, stiffening 2-10%, emolient 2-5%. Pemerian : bentuknya seperti lilin, lapisan putih, granul, bau lemah. OTT : pengoksidasi kuat. Butylated Hydroxytoluene (BHT)

Sinonim : Sustane, Tenox BHT, Tropanol, Vianol. Rumus empiris : C15H24O Berat molekul : 220,35 Fungsi : antioksidan untuk sediaan topikal 0,0075-0,1% Pemerian : kristal putih atau kuning pucat, bau lemah. OTT : pengoksidasi kuat seperti peroksida dan permanganat. Natrium Hidroksida (NaOH)

Berat molekul : 40 Pemerian : Bentuk batang, butiran, massa hablur/keping, kering, keras, rapuh serta menunjukkan susunan hablur putih, mudah meleleh, basah, sangat alkalis dan korosif, segera menyerap karbondioksida Kelarutan : etanol 96% dan air sangat mudah larut
21

Fungsi : zat tambahan yang bersifat basa

BAB III PEMBAHASAN


Pada makalah Kosmetologi ini kami membuat sediaan krim siang sekaligus pelembab dengan menggunakan bahan utama Coconut oil. Kosmetik pelembab (moisturizers) merupakan kosmetik perawatan yang bertujuan untuk mempertahankan struktur dan fungsi kulit dari berbagai pengaruh seperti udara kering, sinar matahari terik, angin keras, umur lanjut, berbagai penyakit kulit maupun penyakit dalam tubuh yang mempercepat penguapan air sehingga kulit menjadi lebih kering. Pelembab yang kami buat merupakan sediaan dengan basis vanishing cream, dimana dalam basis ini terdapat lebih banyak fase air daripada fase minyak. Krim didefinisikan sebagai cairan kental atau emulsi setengah padat baik bertipe air dalam minyak atau minyak dalam air, dan termasuk dalam sediaan setengah padat berupa emulsi kental yang mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakain luar. Sedangkan yang biasa disebut dengan vanishing cream pada dasarnya berupa emulsi minyak dalam air (M/A), mengandung air dalam persentase yang besar dan asam stearat. Setelah pemakaian krim air menguap meninggalkan sisa berupa selaput asam stearat yang tipis. Vanishing cream lebih mudah dibersihkan dan menguapnya air dapat menyegarkan jaringan. Vanishing cream terkesan menghilang dan nyaman dipakai setelah dioleskan dipermukaan kulit. Kami membuat formula sediaan krim siang dengan bahan tambahan dan konsentrasi bahan utamanya (Coconut oil), yaitu 15%. Berat krim pelembab dalam satu formula yang kami buat adalah 50 gram. Bahan tambahan yang kami gunakan dalam formula adalah asam stearat yang berfungsi sebagai pengemulsi, gliserin sebagai emolient, borax dan nipagin yang berfungsi
22

sebagai pengawet atau antimikroba, TEA sebagai pengemulsi, NaOH sebagai larutan penambah sifat alkali sediaan, dan ditambah oleum rosae sebanyak 3 tetes sebagai pengharum untuk memperbaiki bau sediaan dan terakhir ad air 50 gram. Bahan utama pembuatan krim pelembab kami adalah coconut oil yang merupakan minyak nabati. Minyak nabati cenderung lebih mudah bercampur dengan lemak kulit, lebih mampu menembus sel-sel stratum korneum, dan memiliki daya adhesi yang lebih kuat daripada minyak mineral, seperti paraffin liquid. Coconut oil termasuk ke dalam fase minyak, selain itu fase minyak juga berisi bahan tambahan yang larut dalam minyak, seperti asam stearat dan BHT. Sedangkan bahan yang larut dalam fase air, yaitu gliserin, boraks, TEA, nipagin, cetyl alkohol, dan NaOH. Pembuatan krim dapat dilakukan dengan dua metode berbeda. Metode pertama yaitu bahan-bahan yang larut dalam minyak (fase minyak) dilebur bersama di atas penangas air pada suhu 700C sampai semua bahan lebur, dan bahan-bahan yang larut dalam air (fase air) dilarutkan terlebih dahulu dengan air panas juga pada suhu 700C sampai semua bahan larut, kemudian baru dicampurkan, digerus kuat sampai terbentuk massa krim. Sedangkan dengan metode kedua, semua bahan, baik fase minyak maupun fase air dicampurkan untuk dilebur di atas penangas air sampai lebur, baru kemudian langsung digerus sampai terbentuk massa krim. Baik metode pertama maupun metode kedua, samasama menghasilkan sediaan krim yang stabil, bila proses penggerusan dilakukan dengan cepat dan kuat dalam mortar yang panas sampai terbentuk massa krim.

23

BAB IV KESIMPULAN Kosmetik cream siang merupakan kosmetik perawatan yang bertujuan untuk mempertahankan struktur dan fungsi kulit dari berbagai pengaruh seperti udara kering, sinar matahari terik, angin keras, umur lanjut, berbagai penyakit kulit maupun penyakit dalam tubuh yang mempercepat penguapan air sehingga kulit menjadi lebih kering. Bahan tambahan yang kami gunakan dalam formula adalah asam stearat yang berfungsi sebagai pengemulsi, gliserin sebagai emolient, borax dan nipagin yang berfungsi sebagai pengawet atau antimikroba, TEA sebagai pengemulsi, NaOH sebagai larutan penambah sifat alkali sediaan, dan ditambah oleum rosae sebanyak 3 tetes sebagai pengharum untuk memperbaiki bau sediaan dan terakhir ad air 50 gram.

24

DAFTAR PUSTAKA
1. Wasitaatmadja Sjarif M. Penuntun Ilmu Kosmetika Medik, Penerbit Universitas Indonesia. 1997 2. Ilmu pegangan kosmetik Dr Retno Iswari Tranggono, SpKK 3. Ansel, Howard.1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi IV. Jakarta : UI press. 4. Curtis,J&R,Caroline.2007.SunProtectionFactor

http://www.revolutionhealth.com/Conditions/skin/skin-care/sun protection/sunscreen.
5. Wasitaatmadja, S.M. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: Universitas Indonesia Press. 6. Panitia Farmakope Indonesia. 1978. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta : Depatemen

Kesehatan RI.
7. Panitia Farmakope Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta : Departemen

Kesehatan RI.
8. Reynold, James E F. 1982. Martindale The Extra Pharmacopoeia. Twenty Eight edition.

London : The Pharmaseutical Press.


9. Waide, Ainley, and Waller, Paul J. 1994. Handbook of Pharmaseutical Exipients. Second

edition. Washington : American Pharmaseutical Association

25