Anda di halaman 1dari 235

3

T Training Center raining Center


4
T Training Center raining Center
Siswa Siswa dapat memahami dan menjelaskan tentang : dapat memahami dan menjelaskan tentang :
a. a. Macam Macam- -macam dan karakteristik kabel serat optik. macam dan karakteristik kabel serat optik.
b. b. Kelebihan Kelebihan dan kekurangan masing dan kekurangan masing- -masing kabel serat optik. masing kabel serat optik.
c. c. Macam Macam- -macam dan karakteristik komponen optik. macam dan karakteristik komponen optik.
5
T Training Center raining Center
1. BAB-01 : SISTEM KOMUNIKASI OPTIK.
2. BAB-02 : KONSEP PERAMBATAN CAHAYA.
3. BAB-03 : SUSUNAN DAN JENIS SERAT OPTIK.
4. BAB-04 : KOMPONEN SISTEM KOMUNIKASI KABEL OPTIK.
5. BAB-05 : JENIS KABEL SERAT OPTIK DAN KODE WARNA.
6. BAB-06 : OPTICAL LINE TERMINAL EQUIPMENT (OLTE).
7. BAB-07 : KODE SALURAN.
8. BAB-08 : REKOMENDASI ITU-T.
6
T Training Center raining Center
7
T Training Center raining Center
Sistem Komunikasi Serat Optik
Adalah Sistem Komunikasi yang dalam pengiriman dan penerimaan
sinyal menggunakan Sumber Optik, Detektor Optik, dan Serat Optik
dengan panjang gelombang cahaya 850 nm, 1310 nm dan 1550 nm.
Fungsi :
1. Arah Kirim :
a. Memperbaiki dan menggabungkan sinyal-sinyal input
b. Mengubah sinyal listrik/elektris menjadi sinyal optik/cahaya
2. Arah Terima :
a. Mengubah sinyal optik/cahaya menjadi sinyal listrik/elektris
b. Memperbaiki dan memisahkan sinyal-sinyal input.
8
T Training Center raining Center
SISTEM KOMUNIKASI SERAT OPTIK TERDIRI DARI :
a. Pemancar Optik (Optical Transmitter)
- LED (Light Emitting Diode) atau diode LASER (Light Amplifi-
cation by Stimulated Emission of Radiation)
- EC (Electrical Circuit)
b. Serat Optik sebagai Media (Optical Fiber)
Dibuat dari serat kaca dengan ukuran diameter mikro meter
c. Penerima Optik (Optical Receiver)
- Diode PIN (Positive Instrinsic Negative) atau APD (Avalanche
Photo Diode)
- EC (Electrical Circuit)
9
T Training Center raining Center
DDF DDF
Pemancar Optik
(Optical Transmitter)
Serat Optik
Penerima Optik
(Optical Receiver)
DDF : Digital Distribution Frame
10
T Training Center raining Center
Signal dari multiplex oleh pemancar optik (Optical Transmitter)
akan diubah dari signal dengan daya listrik menjadi signal dengan
daya optik.
Signal dengan daya optik selanjutnya akan dipancarkan (di
kopling) kedalam kabel fiber optik, untuk diteruskan ke lokasi
tujuan.
Signal dengan daya optik dari kabel fiber optik oleh penerima optik
(Optical Receiver) akan diubah menjadi signal dengan daya listrik,
dan diteruskan ke multiplex.
11
T Training Center raining Center
Keuntungan :
Mempunyai lebar pita frekuensi (bandwidth) yang lebar, sehingga
jumlah informasi yang dibawa akan lebih banyak (sekarang > 100.000
percakapan secara simultan pada dua kabel serat optik).
Teknologi mendatang > 10.000.000 percakapan dapat dilakukan
secara simultan pada dua kabel serat optik.
Dapat mentransmisikan sinyal digital dengan kecepatan data yang
sangat tinggi dari beberapa Mbit/s s/d Tbit/s
Kebal terhadap interferensi gelombang elektromagnetik misalnya
gangguan petir, transmisi RF, sentakan elektromagnetik yang di -
sebabkan karena ledakan nuklir/ petir
Serat optik memiliki redaman yang sangat kecil dibandingkan dengan
kabel yang terbuat dari tembaga (copper)
12
T Training Center raining Center
Keuntungan :
Serat optik yang digunakan memiliki ukuran yang sangat
kecil dan ringan dibandingkan dengan kabel tembaga
Serat optik dibuat dari kaca/ silika, sehingga tidak
mengalirkan arus
Upgrading yang mudah
Versatilities yang besar
Regenerasi sinyal yang mudah
Insulator
13
T Training Center raining Center
Kekurangan & Kerugian :
Fiber optik tidak dapat menyalurkan energi listrik/ elektris, untuk itu
repeater harus dicatu secara lokal atau dicatu secara remote mengguna-
kan kabel tembaga yang terpisah (non konduktor).
Konversi optik Elektrik.
Instalasi khusus.
Perbaikan yang lebih kompleks.
Intensitas energi cahaya yang dipancarkan pada sinar infra merah dan
jika kena retina mata dapat merusakkan mata.
Konstruksi Serat Optik cukup lemah/rapuh.
Karakteristik transmisi dapat berubah bila terjadi tekanan dari luar yang
berlebihan.
14
T Training Center raining Center
15
T Training Center raining Center
Karakteristik Cahaya :
Cahaya merambat lurus dalam suatu medium
Cahaya dibiaskan(refraksif)
Cahaya dipantulkan (refleksif)
Hukum Optik :
Cahaya merambat lurus dalam suatu bahan (medium)
Cahaya yang dipantulkan ke cermin membentuk sudut
datang sama besarnya dengan sudut pantul.
16
T Training Center raining Center
Refleksi
Sudut
datang
Sudut
pantul
Cahaya
Cahaya
Sudut
bias
r
Udara
Air
Sudut
datang
Cahaya dibelokkan
pada permukaan air
Refraksi
Index bias (n) Air > index bias (n) udara
Cahaya dipantulkan oleh cermin
17
T Training Center raining Center
Cahaya yang dipantulkan ke cermin akan membentuk sudut datang
sama besarnya dengan sudut pantul.
Cahaya yang merambat melalui dua media yang berbeda akan
mengalami pembelokan arah (refraksi).
Jika cahaya yang datang dari materi dengan indeks bias kecil ke
materi dengan indeks bias besar, maka cahaya tersebut akan selalu
dibiaskan.
Jika cahaya yang datang dr materi dengan indeks bias besar ke
materi dg indeks bias kecil, maka akan dibiaskan menjauhi garis
normal.
18
T Training Center raining Center
Indeks Bias (Refractive Index)
Indeks Bias adalah perbandingan kecepatan perambatan cahaya
diruang hampa terhadap kecepatan perambatan cahaya dalam suatu
media.
Kecepatan Cahaya tidak konstan dan bergantung pada media
perambatannya
Cahaya yang merambat melalui dua media yang berbeda akan
mengalami pembelokan arah (refraksi)
Sebagai contoh kecepatan cahaya diruang hampa 300.000 km/ det dan
kecepatan cahaya di air 230.000 km/ det, maka n air adalah 1,3.
19
T Training Center raining Center
Hukum Snellius :
Sinus sudut datang sin (i) dibagi dengan sinus sudut
refraksi sin (r) memiliki nilai yang konstan
Sin ( i ) n ( r )
Sin ( r ) n ( i )
=
20
T Training Center raining Center
n1
n2
Gelas
Udara
Udara
Udara
Gelas
Hukum Snellius
Perambatan cahaya
pada kaca/ gelas
21
T Training Center raining Center
Cahaya yang merambat jika jatuh pada media permukaan datar
dan bening, maka cahaya tersebut sebagian dipantulkan dan
sebagian dibiaskan (dibelokkan).
Hubungan antara bagian cahaya yang dipantulkan dan cahaya
yang dibelokkan bergantung pada indeks bias media dan sudut
datang cahaya
22
T Training Center raining Center
Sudut Kritis
Sudut Kritis adalah :
Sudut datang cahaya dengan kondisi dimana harga diperbesar
sampai suatu nilai tertentu; sehingga seluruh cahaya yang datang
akan dipantulkan secara total, hal demikian merupakan kondisi
ideal untuk mentransmisikan cahaya dalam serat optik.
23
T Training Center raining Center
Contoh : Indeks bias dan Sudut kritis suatu materi/ media
Media Indeks Bias Kecepatan (km/dt) Sudut Kritis
Udara 1 300.000 -
Air 1,33 225.564 48,6
Gelas Kristal 1,9 157.895 31,8
Gelas Normal 1,5 186.780 41,8
Intan 2,4 125.000 24,4
24
T Training Center raining Center
25
T Training Center raining Center
Core
Jaket
Cladding
5 ~ 250 m
2 ~ 125 m
SUSUNAN SERAT OPTIK
Susunan serat optik dari lapisan paling dalam adalah :
Core : dengan diameter antara 2 s/d 125m
Cladding : dengan diameter antara 5 s/d 250m
Coating (jaket).
26
T Training Center raining Center
Core (Inti)
Terbuat dari bahan kuarsa atau silika dengan kualitas sangat tinggi.
Bagian utama dari serat optik, media tempat dimana cahaya
merambat.
Memiliki d = 2 125 m, ukuran core sangat kecil mempengaruhi
karakteristik serat optik.
Cladding (Selimut)
Terbuat dari bahan gelas atau silika dengan indeks bias < dari core.
Merupakan selubung dari core.
Hubungan indeks bias core dan cladding akan mempengaruhi
perambatan cahaya pada core.
Memiliki diameter 5 ~ 250 m.
Coating (Jaket)
Terbuat dari bahan plastik.
Berfungsi untuk melindungi serat optik dari kerusakan.
27
T Training Center raining Center
2
3
1
Coating
Cladding
n
1
> n
2
Core
Prinsip Perambatan Cahaya Dalam Serat Optik
n
1
n
2
1. Sinar merambat lurus sepanjang sumbu serat tanpa mengalami
refleksi/refraksi
2. Sinar mengalami refleksi, karena memiliki sudut datang yang lebih besar
dari sudut kritis dan akan merambat sepanjang serat melalui pantulan-
pantulan.
3. Sinar akan mengalami refraksi dan tidak akan dirambatkan sepanjang serat
karena memiliki sudut datang yang lebih kecil dari sudut kritis.
28
T Training Center raining Center
Mode Perambatan Cahaya
Cahaya dapat merambat dalam serat optik melalui sejumlah lintasan yang
berbeda.
Lintasan cahaya yang berbeda-beda ini disebut Mode dari suatu serat optik
Ukuran diameter core, besarnya sudut datang dan indeks bias menentukan
jumlah mode yang ada dalam suatu serat optik
Serat optik yang memiliki lebih dari satu mode disebut serat optik
Multimode
Serat optik yang hanya satu mode saja disebut Serat Optik Single Mode,
Serat Optik Single Mode memiliki ukuran core yang lebih kecil.
29
T Training Center raining Center
JENIS-JENIS SERAT OPTIK :
Multimode Step Index
Multimode Graded Index
Singlemode Step Index
JENIS-JENIS SERAT OPTIK :
Multimode Step Index
Multimode Graded Index
Singlemode Step Index
30
T Training Center raining Center
n
2
n
1
Multimode Step Index
100 m 140 m
Profil
indeks bias
Indeks bias core konstan
Ukuran core : 50 ~ 250 m dan dilapisi cladding yang sangat tipis
Penyambungan kabel lebih mudah karena memiliki core yang besar
Banyak terjadi dispersi
Lebar pita frekuensi terbatas/ sempit
Digunakan untuk jarak pendek dan transmisi data bit rate rendah
Harga relatif murah.
n
2
n
1
31
T Training Center raining Center
Multimode Graded Index
Profil
indeks bias
Core berupa sejumlah lapisan gelas dengan indeks bias berbeda,
indeks bias tertinggi terdapat pada pusat core dan berangsur -
angsur mengecil sampai ke batas core - cladding
Ukuran diameter core : 30 ~ 60 m
Cahaya merambat karena difraksi yang terjadi pada core sehingga
rambatan cahaya sejajar dengan sumbu serat
Dispersi lebih kecil dibanding dengan Multimode Step Index
Digunakan untuk jarak menengah dan lebar pita frekuensi besar
Harga relatif mahal dari SI, karena faktor pembuatannya lebih sulit
50 m 125 m
n
2
n
1
32
T Training Center raining Center
Singlemode Step Index
9 m 125 m
Serat optik Singlemode memiliki diameter core antara 2 ~ 10 m
dan sangat kecil dibandingkan dengan ukuran claddingnya
Cahaya hanya merambat dalam satu mode saja yaitu sejajar dengan
sumbu serat optik
Memiliki redaman yang sangat kecil
Memiliki lebar pita frekuensi yang sangat lebar
Digunakan untuk jarak jauh dan mampu menyalurkan data dengan
kecepatan bit rate yang tinggi.
Profil
indeks bias
n
2
n
1
33
T Training Center raining Center
Parameter-parameter Optik :
Kecepatan Propagasi
Pemantulan (Reflection) dan
Pembiasan (Refraction)
Sudut Kritis
Numerical Aperture
Penghamburan (Scattering)
Pantulan Fresnel
Dispersi
34
T Training Center raining Center
Kecepatan Propagasi
Kecepatan propagasi cahaya di ruang hampa menurut Maxwell dirumuskan :
o o
C =
1
Dimana :
o = Permeabilitas di ruang hampa
o = Permitivitas di ruang hampa
Sedangkan kecepatan Cahaya di ruang medium dirumuskan :
V =
C
n
Dimana :
C = Kec. cahaya pada ruang hampa sebesar 300.000 km/det
V = Kec. Perambatan cahaya melalui media/ materi
n = Indeks bias media/ materi yang dilalui berkas cahaya
35
T Training Center raining Center
Sudut kritis :
Sudut yang terbentuk pada lintasan
cahaya yang datang dari materi dengan
indeks bias yang besar ke materi dengan
indeks bias yang kecil sehingga terjadi
pemantulan total
Diformulasikan : Sin k =
n2
n1
k = Arc Sin
n2
n1
n1 > n2
n1
B
k
n2
36
T Training Center raining Center
Pemantulan dan Pembiasan
Setiap materi/bahan mempunyai indeks bias yang berlainan
Cahaya yang merambat dari materi ke materi lainnya akan selalu
dibelokkan
Jika cahaya jatuh pada media permukaan datar dan bening, maka
cahaya tersebut sebagian akan dipantulkan dan sebagian lagi akan
dibiaskan
Berlaku hukum Pemantulan yaitu Sudut Datang = Sudut Pantul
Pada pembiasan berlaku Hukum Snellius yaitu :
n
i
Sin
i
= n
r
Sin
r
37
T Training Center raining Center
Numerical Aperture
NA didefinisikan sebagai suatu ukuran atau besaran sinus sudut pancaran
maksimum dari sumber optik yang merambat pada inti serat dimana cahaya
tersebut masih dapat dipantulkan secara total.
Nilai NA dipengaruhi oleh nilai indeks bias dari core dan cladding.
Sumber cahaya harus memiliki pancaran yang sempit agar cahaya yang di
pancarkan dapat dirambatkan dalam serat optik.
n1
n2
n0
n0 = Indeks bias udara
n1 = Indeks bias core
n2 = Indeks bias cladding
NA = Sin =
n1 - n2
2 2
NA =
NA = = Arc. Sin =
n1 - n2
2 2
(ratio)
(der)
38
T Training Center raining Center
Penghamburan (Scattering) Rayleigh
Hamburan (Rayleigh scattering), disebabkan oleh struktur gelas
yang tidak murni, akan menghamburkan sebagian cahaya yang
merambat dalam serat optik.
Absorpsi, disebabkan gelas serat optik menyerap cahaya dalam se-
rat optik, terdapat tiga daerah panjang gelombang yang memiliki
redaman cukup besar yang disebut puncak OH (OH-peak). Redaman
OH terjadi karena interaksi antara cahaya dengan atom-atom air
yang masih tinggal dalam serat optik.
Redaman pada serat optik dinyatakan dengan satuan dB/km
Redaman yang terkait dengan karakteristik serat optik disebabkan
oleh hamburan dan absorpsi.
Redaman karena sambungan-sambungan (splices) serat optik
Redaman karena konektor-konektor optik.
39
T Training Center raining Center
Pantulan Fresnel
Jika berkas cahaya yang datang dari satu media ke media
lain jatuhnya tegak lurus.
n1
no
Diformulasikan :
A
f
= 10 log (1-K
f
) dB Sedangkan K
f
=
n
1
- n
o
n
1
+ n
o
{ }
2
40
T Training Center raining Center
Sinar yang di pancarkan ke serat optik akan mengalami :
- Sebagian signal diteruskan.
- Sebagian signal dipantulkan.
A = redaman kabel.
K = Konstanta fresnel.
N = index bias bahan.
41
T Training Center raining Center
Dispersi :
Dispersi adalah suatu berkas yang melintas di dalam serat optik
yang memiliki mode, panjang gelombang ataupun kecepatan yang
berbeda.
Menyebabkan pelebaran pulsa pada sinyal yang ditransmisikan
pada serat optik.
Akibat dari dispersi adalah membatasi jumlah pulsa per satuan
waktu (bit rate) dan jarak.
Pada serat optik ada 2 jenis dispersi :
- Dispersi Modal
- Dispersi Chromatic; yang terdiri dari :
= Dispersi Material
= Dispersi Waveguide
42
T Training Center raining Center
Dispersi (lanjutan) :
Dispersi Modal terjadi pada serat optik multimode dan terjadi karena
mode lintasan cahaya yang berbeda-beda.
Dispersi Material terjadi pada semua jenis serat optik dan terjadi
karena perbedaan kecepatan perambatan cahaya (indeks bias suatu
bahan merupakan fungsi dari panjang gelombang).
Dispersi waveguide, nilainya sangat kecil dibandingkan jenis dispersi
yang lainnya terjadi karena kelambatan waktu yang disebabkan dari
perbedaan panjang gelombang.
Satuan dispersi adalah ps/nm.km
43
T Training Center raining Center
Chromatic Dispersion
0,8 1,6 1,5 1,4 1,3 1,2 1,1 1,0 0,9
30
0
-30
Dispersi Chromatic terdiri dari Dispersi Material dan Dispersi
Waveguide.
Pada daerah 1.300 nm nilai dispersi chromatic sangat kecil ( = 0 )
Dispersi merupakan faktor yang lebih membatasi operasi serat optik di
1.550 nm dari pada faktor redaman.
Untuk mengkompensasikan keterbatasan pada 1.550 nm maka dibuat
jenis serat khusus yaitu Dispersion Shifted Fiber yang memiliki
dispersi 0 pada 1.550 nm dan Dispersion Flattened Fiber yang
memiliki nilai dispersi yang rendah pada rentang 1.300 - 1.550 nm.
DFC (Dispersion
Fiber Chromatic)
DSF
DFF
44
T Training Center raining Center
Celah/ Window Loss Serat Optik
0.7 1.3 1.1 1.2 0.9 1.4 1.0 0.8 1.6 1.5
0
7
1
4
3
2
5
6
Window 1
Window 3
Window 2
absorpsi
Infra merah
OH
OH
OH
absorpsi UV
Rayleigh
Scattering
Panjang Gelombang
45
T Training Center raining Center
Window 1 : 800 - 900 nm (LED)
Redaman : < 3 dB/km (850 nm) dan <0,7 dB/km (1300nm) (multi mode)
Window 2 : 1.290 - 1.300 nm (LD)
Redaman : < 0,4 dB/km (single mode)
Window 3 : 1.500 - 1.600 nm (LD)
Redaman : < 0,2 dB/km (single mode)
Window adalah batasan operasi sistem transmisi Serat Optik dengan
mempertimbangkan redaman pada batasan tsb rendah.
Garis merah = redaman akibat absorbsi ultra violet dan infra merah.
Garis biru = redaman akibat rayleigh scattering
Garis hijau = redaman akibat unsur air didalam serat optik.
Garis ungu = Total redaman didalam serat optik.
46
T Training Center raining Center
47
T Training Center raining Center
Photo
Detector
Elektronics
Optical
receiver
Optical
Transmitter
Optical
Amplifier
Signal
Restorer
Electrical
signal
out
Fiber
flylead
Optical splice
Connector
Komponen Sistem Komunikasi Kabel Serat Optik
Light
Source
Drive
Circuit
Electrical
input
signal
to other
Equipment
Optical splice
Optical
coupler or
beam splitter
Connector
48
T Training Center raining Center
Element Transmisi Serat Optik :
A. Element Utama :
1. Pemancar Optik (Drive Circuit dan Light Source) : berfungai untuk
mengubah sinyal listrik menjadi sinyal optik.
2. Kabel serat optik : untuk menyalurkan sinyal optik.
3. Optical Receiver (Photo Detector Amplifier Signal Restorer) :
menguabah sinyal optik menjadi sinyal elektrik.
B. Element Pendukung :
1. Connector (penghubung) : optik dengan optik.
2. Optical Splice (sambungan optik)
3. Optical Coupler/beam splitter : memecah satu sinyal optik menjadi lebih dari
satu dan sebaliknya.
4. Regenerator : menguatkan sinyal optik (optik optik optik atau optik
elektrik optik).
5. Optical Amplifier : menguatkan sinyal optik (sama dengan regenerator).
49
T Training Center raining Center
KOMPONEN UTAMA :
KOMPONEN UTAMA :
Sumber optik
Sumber optik
Detektor
Detektor
Optik
Optik
KOMPONEN PENDUKUNG :
KOMPONEN PENDUKUNG :
Optical coupler (Splitter
Optical coupler (Splitter
-
-
combiner)
combiner)
Optical multiplexer
Optical multiplexer
Optical
Optical
demultiplexer
demultiplexer
Konektor.
Konektor.
Attenuator.
Attenuator.
Filter.
Filter.
50
T Training Center raining Center
Sumber
Sumber
cahaya
cahaya
optik adalah bagian yang berfungsi untuk
optik adalah bagian yang berfungsi untuk
mengubah
mengubah
enerji
enerji
listrik menjadi
listrik menjadi
enerji
enerji
cahaya
cahaya
.
.
Sumber
Sumber
cahaya
cahaya
optik juga disebut sebagai
optik juga disebut sebagai
pemancar
pemancar
optik
optik
(
(
Tr
Tr
).
).
KOMPONEN UTAMA :
KOMPONEN UTAMA :
SUMBER CAHAYA OPTIK (OPTICAL SOURCE).
SUMBER CAHAYA OPTIK (OPTICAL SOURCE).
51
T Training Center raining Center
Sumber Optik yang diinginkan adalah :
Sumber Optik yang diinginkan adalah :
^
^
Cahaya
Cahaya
bersifat
bersifat
monochromatis
monochromatis
(
(
berfrekuensi
berfrekuensi
tunggal).
tunggal).
^
^
Mempunyai output
Mempunyai output
cahaya
cahaya
dengan
dengan
intensitas
intensitas
tinggi.
tinggi.
^
^
Dapat
Dapat
dimodulasi
dimodulasi
dengan mudah (response time
dengan mudah (response time
-
-
nya
nya
pendek
pendek
).
).
^
^
Kecil,
Kecil,
kompak
kompak
dan mudah
dan mudah
digandengkan
digandengkan
ke serat.
ke serat.
^
^
Dapat menghasilkan power yang
Dapat menghasilkan power yang
stabil
stabil
,
,
tdk
tdk
tergantung
tergantung
terhadap
terhadap
temperatur
temperatur
dan kondisi lingkungan lainnya.
dan kondisi lingkungan lainnya.
52
T Training Center raining Center
Komponen
Komponen
yg
yg
banyak dipakai sebagai
banyak dipakai sebagai
sumber
sumber
cahaya
cahaya
:
:
a.
a.
LED (Light Emitting Diode)
LED (Light Emitting Diode)
b.
b.
Diode LASER (Light Amplification by Stimulated
Diode LASER (Light Amplification by Stimulated
Emission of Radiation
Emission of Radiation
53
T Training Center raining Center
KARAKTERISTIK : KARAKTERISTIK :
a. a. Umumnya memakai kabel serat optik multimode. Umumnya memakai kabel serat optik multimode.
b. b. Sirkit Sirkit lebih sederhana. lebih sederhana.
c. c. Harganya Harganya lebih lebih murah murah. .
d. d. Cahaya Cahaya yang dipancarkan LED yang dipancarkan LED bersifat bersifat tidak tidak koheren koheren yang akan menyebabkan yang akan menyebabkan
dispersi dispersi chromatic sehingga LED hanya chromatic sehingga LED hanya cocok cocok untuk transmisi data dengan bit untuk transmisi data dengan bit
rate rendah sampai sedang (Untuk komunikasi rate rendah sampai sedang (Untuk komunikasi berkecepatan berkecepatan < 200 Mb/s). < 200 Mb/s).
e. e. Daya Daya keluaran keluaran optik LED adalah optik LED adalah - -30 ~ 30 ~ - -10 10 dBm dBm. .
f. f. LED memiliki lebar LED memiliki lebar spektral spektral (spectral width) 30 (spectral width) 30- -50nm pada panjang gelombang 50nm pada panjang gelombang
850 nm dan 50 850 nm dan 50- -150nm pada panjang gelombang 1300nm. 150nm pada panjang gelombang 1300nm.
Ada 2 macam LED : Ada 2 macam LED :
a. a. Surface Emitters. Surface Emitters.
b. b. Edge Emitters. Edge Emitters.
A. LED (Light Emitting Diode)
A. LED (Light Emitting Diode)
54
T Training Center raining Center
1. SURFACE EMITTER
1. SURFACE EMITTER
Metalization Metalization
Substrate Substrate
SiO SiO
2 2
isolation isolation SiO SiO
2 2
isolation isolation
Heat sink Heat sink
Bonding Bonding
material material
Metalization Metalization
Ga Ga AS AS
InP InP
Double Double
hetrojunction hetrojunction
layers layers
Circular metal Circular metal
contact contact
Active region Active region
Confinement Confinement
layers layers
Circular Circular
etched etched
well well
Fiber Fiber
KARAKTERISTIK : KARAKTERISTIK :
a. a. Tempat keluarnya Tempat keluarnya cahaya cahaya tegak tegak lurus lurus dengan kabel optik. dengan kabel optik.
b. b. Kabel serat optik Kabel serat optik ditempelkan ditempelkan ke ke substrat substrat untuk menerima untuk menerima cahaya cahaya. .
c. c. Diameter emitter 50 m. Diameter emitter 50 m.
d. d. Berpola Berpola isotropik isotropik ( (terangnya terangnya cahaya cahaya sama dari segala sudut) sama dari segala sudut)
55
T Training Center raining Center
2. EDGE EMITTER
2. EDGE EMITTER
Stripe contact (defined active area) Stripe contact (defined active area)
Metalization Metalization (for electric contact) (for electric contact)
Active area (output optik) Active area (output optik)
SIO SIO
2 2
isolation layer isolation layer
Double Double- -heterojunction heterojunction layers layers
Incoherent optical output Incoherent optical output

1 1

1 1
30 30
120 120
Light guiding layers Light guiding layers
Substrate Substrate
Metalization Metalization (for (for
electric contact) electric contact)
Heat sink Heat sink
KARAKTERISTIK : KARAKTERISTIK :
N N Struktur ini Struktur ini membentuk membentuk kanal kanal pandu pandu gelombang yang membawa gelombang yang membawa radiasi radiasi
cahaya cahaya langsung ke core kabel serat optik. langsung ke core kabel serat optik.
N N Bentuk Bentuk radiasi radiasi lebih lebih terarah terarah dibandingkan dibandingkan dengan surface emitter. dengan surface emitter.
Kabel serat optik di hubungkan ke aktif area.
56
T Training Center raining Center
B. Diode LASER
B. Diode LASER
(Light Amplification by Stimulated (Light Amplification by Stimulated Emmission Emmission of Radiation) of Radiation)
KARAKTERISTIK : KARAKTERISTIK :
a. a. Umumnya menggunakan kabel optik single mode. Umumnya menggunakan kabel optik single mode.
b. b. Response time < 1 Response time < 1 nano nano detik detik
c. c. Cahaya Cahaya yang dipancarkan oleh diode laser yang dipancarkan oleh diode laser bersifat bersifat koheren koheren. .
d. d. Diode laser memiliki lebar Diode laser memiliki lebar spektral spektral yang lebih yang lebih sempit sempit (~1nm) jika (~1nm) jika
dibandingkan dibandingkan dengan LED sehingga dengan LED sehingga dispersi dispersi chromatic dapat chromatic dapat ditekan ditekan. .
e. e. Diode Laser diterapkan untuk transmisi data dengan bit rate ting Diode Laser diterapkan untuk transmisi data dengan bit rate tinggi (Untuk gi (Untuk
komunikasi komunikasi berkecapatan berkecapatan diatas 200 Mb/s). diatas 200 Mb/s).
f. f. Daya Daya keluaran keluaran optik dari diode laser adalah 0 ~ 10dBm. optik dari diode laser adalah 0 ~ 10dBm.
g. g. Karakteristik arus kemudi Karakteristik arus kemudi- -daya optik diode laser tidak linear. daya optik diode laser tidak linear.
h. h. Kinerja Kinerja ( (keluaran keluaran daya optik, panjang gelombang, daya optik, panjang gelombang, umur umur) dari diode laser sangat ) dari diode laser sangat
dipengaruhi dipengaruhi oleh oleh temperatur temperatur operasi. operasi.
TIPE LASER SEMIKONDUKTOR : TIPE LASER SEMIKONDUKTOR :
a. a. Fabry Fabry Perrot Perrot Laser. Laser.
b. b. Distributed Distributed- -Feedback Laser (DFB) Feedback Laser (DFB)
57
T Training Center raining Center
Cavity ends are cleaved Cavity ends are cleaved
on crystal plane on crystal plane
5 5- -10( 10(
1 1
) )
Far Far- -field field
pattern pattern
Transverse Transverse
size 0.1 size 0.1- -0.2 0.2
m m
L
o
n
g
it
u
d
in
a
l s
iz
e

L
o
n
g
it
u
d
in
a
l s
iz
e

2
5
0
2
5
0
- -
5
0
0

m
5
0
0

m
Dielectric Dielectric
reflecting layers reflecting layers
(s) (s)
Optical and Optical and
carrier carrier
confinement confinement
layers layers
Cavity sides are rough cut Cavity sides are rough cut
Lasing spot Lasing spot
Lateral Lateral
size 5 size 5- -15 15
m m
Opt1cal Opt1cal
output to be output to be
coupled into coupled into
a fiber a fiber
30 30- -50( 50(
2 2
) )
FEBRY
FEBRY
-
-
PERROT LASER
PERROT LASER
KETERANGAN : KETERANGAN :
Belahan Belahan kristal kristal (cleaved crystal) yang terdapat pada kedua ujung berfungsi seba (cleaved crystal) yang terdapat pada kedua ujung berfungsi sebagai gai kaca kaca pemantul pemantul. .
Pada ujung yang tidak digunakan (facet bagian belakang) Pada ujung yang tidak digunakan (facet bagian belakang) dibungkus dibungkus dengan dielectric reflector dengan dielectric reflector
untuk untuk mengurangi mengurangi kehilangan kehilangan cahaya cahaya di dalam cavity. di dalam cavity.
Pancaran Pancaran cahaya cahaya (light beam) yang keluar dari laser (light beam) yang keluar dari laser membentuk membentuk elip elip vertikal. vertikal.
58
T Training Center raining Center
KETERANGAN :
Belahan kristal (cleaved crystal) yang terdapat pada kedua ujung
berfungsi sebagai kaca pemantul.
Pada ujung yang tidak digunakan (facet bagian belakang)
dibungkus dengan dielectric reflector untuk mengurangi kehilangan
cahaya di dalam cavity.
Pancaran cahaya (light beam) yang keluar dari laser membentuk
elip vertikal.
59
T Training Center raining Center
Laser output Laser output
Corrugated Corrugated
feedback feedback
grating grating
Substrate Substrate
Continement Continement
layer layer
Active layer Active layer
Membersihkan komponen2 Membersihkan komponen2
panjang gelombang yang panjang gelombang yang
tidak diinginkan tidak diinginkan
Panjang tertentu Panjang tertentu
DISTRIBUTED DISTRIBUTED - - FEEDBACK LASER (DFB) FEEDBACK LASER (DFB)
60
T Training Center raining Center
OPTICAL TRANSMITTER COMPONENTS
OPTICAL TRANSMITTER COMPONENTS
core
Optical Optical
modulator modulator
LASER LASER
Focusing Lens Focusing Lens
Optical Optical
fiber fiber
Varying Varying
Electrical Electrical
Current Current
Optical Optical
output output
Direct Direct
Current Current
RF RF
Signal Signal
61
T Training Center raining Center
Sinyal electrik (direct current) akan dimodulasi secara langsung
dengan sinyal RF, dengan arus listrik yang berubah-ubah; dan
diteruskan ke LASER.
Laser akan mengubah informasi elekrik yang sudah dimodulasi
menjadi sinyal optik, dan diteruskan ke Focusing Lens.
Focusing Lens akan memfokuskan berkas-berkas sinar laser, dan
diteruskan (dipancarkan) ke Core Optical Fiber.
Core Optical Fiber akan meneruskan sinyal optik tersebut
ketempat yang dituju.
62
T Training Center raining Center
a. a. Detektor Detektor optik disebut juga sebagai optik disebut juga sebagai penerima penerima (Rx). (Rx).
b. b. Photodetector Photodetector berfungsi mengubah berfungsi mengubah variasi variasi intensitas intensitas optik/ optik/cahaya cahaya
menjadi menjadi variasi variasi arus listrik. arus listrik.
c. c. Karena perangkat ini berada di ujung depan dari Karena perangkat ini berada di ujung depan dari penerima penerima optik maka optik maka
photodetector photodetector harus memiliki harus memiliki kinerja kinerja yang tinggi. yang tinggi.
d. d. Persyaratan Persyaratan kinerja kinerja yang harus dipenuhi oleh photodiode meliputi: yang harus dipenuhi oleh photodiode meliputi:
a) a) Memiliki Memiliki sensitivitas sensitivitas tinggi, tinggi,
b) b) Memiliki lebar Memiliki lebar- -bidang bidang atau kecepatan response/ atau kecepatan response/tanggapan tanggapan yang yang
cukup untuk cukup untuk mengakomodasi mengakomodasi bit rate data yang diterima, bit rate data yang diterima,
c) c) Hanya memberikan noise Hanya memberikan noise tambahan tambahan minimum, dan minimum, dan
d) d) Tidak Tidak peka peka terhadap perubahan suhu. terhadap perubahan suhu.
KOMPONEN UTAMA :
KOMPONEN UTAMA :
Detektor
Detektor
Optik/
Optik/
Photodetector
Photodetector
.
.
63
T Training Center raining Center
Photodetector
Photodetector
yang digunakan
yang digunakan
a.
a.
diode PIN/FET, dan
diode PIN/FET, dan
b.
b.
Avalanche Photo
Avalanche Photo
-
-
Diode (APD)
Diode (APD)
64
T Training Center raining Center
Diode PIN (P Intrinsic N)
Diode PIN (P Intrinsic N)
O O Time response lebih Time response lebih lambat lambat. .
O O Kecepatan tinggi. Kecepatan tinggi.
O O Tegangan yang dipakai rendah. Tegangan yang dipakai rendah.
Diode APD (
Diode APD (
Avalance
Avalance
Photodiode)
Photodiode)
O O Time response lebih cepat/ Time response lebih cepat/sensitivitas sensitivitas tinggi. tinggi.
O O Internal noise besar. Internal noise besar.
O O Lebih sensitif terhadap perubahan Lebih sensitif terhadap perubahan temperatur temperatur. .
65
T Training Center raining Center
Prinsip Kerja Photo Detector :
a. Photodiode dioperasikan pada prategangan balik (reverse
bias).
b. Cahaya yang diterima akan diubah menjadi arus listrik, pada
tahanan RL arus tersebut diubah menjadi besaran tegangan.
c. Perbandingan arus yang dihasilkan photodetektor terhadap
daya optical yang diterima disebut Sensitivitas optik .
d. Sensitivitas suatu photodetektor sangat bergantung pada
panjang gelombang operasi dan bahan photo detector.
66
T Training Center raining Center
Coaxial Cable Coaxial Cable
core
RF Amplifier RF Amplifier
Photodiode Photodiode
Focusing Lens Focusing Lens
Optical Optical
fiber fiber
Distribution Plant Distribution Plant
Optical Optical
Input Input
Direct Direct
Current Current
RF Signal RF Signal
67
T Training Center raining Center
Sinyal optik (direct current) dari Core Optical Fiber akan di
kopelkan (dipancarkan) ke penerima optik, melalui Focusing
Lens.
Focusing Lens akan memfokuskan berkas-berkas sinar laser dari
Core Optical Fiber, dan diteruskan (dipancarkan) ke Photodiode.
Photodiode akan mengubah sinyal optik menjadi sinyal elektrik
(RF Signal), dan diteruskan ke RF Amplifier.
RF Amplifier akan memperkuat sinyal RF, kemudian
didemodulasi menjadi sinyal informasi; untuk selanjutnya
diteruskan ke coaxial cable.
68
T Training Center raining Center
Adalah komponen optik yang digunakan untuk
Adalah komponen optik yang digunakan untuk
menginjeksikan
menginjeksikan
daya optik dari beberapa
daya optik dari beberapa
sumber
sumber
optik
optik
ke dalam satu saluran serat optik.
ke dalam satu saluran serat optik.
Ada 4 macam coupler :
Ada 4 macam coupler :
1.
1.
T coupler (tree & branch coupler).
T coupler (tree & branch coupler).
2.
2.
Star coupler (
Star coupler (
multiport
multiport
coupler).
coupler).
3.
3.
Wavelength
Wavelength
-
-
division MUX/DEMUX coupler.
division MUX/DEMUX coupler.
4.
4.
Directional Coupler.
Directional Coupler.
KOMPONEN PENDUKUNG :
KOMPONEN PENDUKUNG :
COUPLER (SPLITTER
COUPLER (SPLITTER

COMBINER).
COMBINER).
69
T Training Center raining Center
T
T
-
-
Coupler
Coupler
g g Berupa 3 Berupa 3- -port coupler atau 2 x 2 coupler. port coupler atau 2 x 2 coupler.
g g Membagi Membagi daya optik yang berasal dari satu fiber (port A) ke dua fiber daya optik yang berasal dari satu fiber (port A) ke dua fiber
(Port B dan C). (Port B dan C).
g g Dapat digunakan sebagai power splitter dan power combiner, a Dapat digunakan sebagai power splitter dan power combiner, atau tau
LAN terminal optical input/output coupler. LAN terminal optical input/output coupler.
T T- -coupler coupler
Port A Port A
Port B Port B
Port C Port C
70
T Training Center raining Center
APLIKASI T
APLIKASI T
-
-
COUPLER :
COUPLER :
TX TX
RX RX
T T- -coupler coupler T T- -coupler coupler
LAN " tap" LAN " tap"
TX TX
RX RX
TX TX- -1 1
RX RX- -2 2
RX RX- -1 1
TX TX- -2 2
T T- -coupler coupler T T- -coupler coupler
FIBER LINK FIBER LINK
Duplex multimode transmission Duplex multimode transmission
link link
TX TX- -1 1
TX TX- -2 2
RX RX- -1 1
RX RX- -2 2
T T- -coupler coupler T T- -coupler coupler
FIBER LINK FIBER LINK
Power Combiner and splitter Power Combiner and splitter

1 1

2 2

1 1

2 2
a
b
c
T T- -coupler coupler
71
T Training Center raining Center
1. T coupler (2 x 2 coupler) : dua input digabung menjadi satu;
satu input dipecah menjadi dua (Gambar-a).
2. T coupler (2 x 2 coupler) : Untuk memisahkan sinyal kirim
dan terima; dan meneruskan kearah yang berlawanan, panjang
gelombang yang digunakan berbeda (Gambar-b).
3. T coupler (2 x 2 coupler) : untuk fasilitas lokal loop back dan
remote loop back (Gambar-c).
72
T Training Center raining Center
STAR COUPLER : STAR COUPLER :
Adalah suatu Adalah suatu multiport multiport coupler ( coupler ( NxN NxN coupler) yang memungkinkan daya coupler) yang memungkinkan daya
optik yang berasal dari salah satu dari N port (1 s/d N) untuk d optik yang berasal dari salah satu dari N port (1 s/d N) untuk di bagi i bagi
(split) secara (split) secara merata merata ke seluruh N output port. ke seluruh N output port.
Dapat digunakan sebagai Dapat digunakan sebagai multiport multiport power splitter, combiner atau power splitter, combiner atau
multiport multiport star coupler dalam LAN. star coupler dalam LAN.
Coupling ratio (CR) adalah 1/N Coupling ratio (CR) adalah 1/N
Star Star- -coupler coupler
Coupling Ratio = 1/N (N adalah jumlah cabang).
73
T Training Center raining Center
Star Star- -Coupler Coupler
RX RX
tX tX
TX TX
RX RX
Aplikasi Star Aplikasi Star- -Coupler Coupler
Jaringan LAN Jaringan LAN
Menghubungkan sinyal dari kirim ke penerima.
74
T Training Center raining Center
WAVELENGTH MUX/DEMUX COUPLER WAVELENGTH MUX/DEMUX COUPLER
a. Adalah coupler 3 a. Adalah coupler 3- -port yang memungkinkan : port yang memungkinkan :
a). Daya optik yang a). Daya optik yang dipancarakan dipancarakan dari dua buah dari dua buah sumber sumber dengan panjang dengan panjang
gelombang yang berbeda menuju ke satu fiber (port A dan gelombang yang berbeda menuju ke satu fiber (port A dan B ke port 1). B ke port 1).
b). Daya optik yang dipancarkan dari satu arah ke satu fiber b). Daya optik yang dipancarkan dari satu arah ke satu fiber (port A ke port 1), (port A ke port 1),
sedangkan daya optik dengan panjang gelombang yang berb sedangkan daya optik dengan panjang gelombang yang berbeda diterima dari eda diterima dari
arah lain dan arah lain dan dirutekan dirutekan dari port 1 ke port B dari port 1 ke port B
c). Memindahkan daya optik dengan panjang gelombang tertentu c). Memindahkan daya optik dengan panjang gelombang tertentu ke dalam arah ke dalam arah
tertentu. tertentu.
b. Tidak terjadi splitting loss, hanya ada sedikit insertion los b. Tidak terjadi splitting loss, hanya ada sedikit insertion loss connector dan internal s connector dan internal
excess loss. excess loss.
C. Dapat berfungsi sebagai Wavelength Multiplex dan Wavelength C. Dapat berfungsi sebagai Wavelength Multiplex dan Wavelength Demultiplex Demultiplex. .

1 1

2 2

1 1

2 2
A A
B B
1 1

1 1

2 2

2 2

1 1
A A
B B
1 1
b
a
75
T Training Center raining Center
Gambar-a meneruskan dua sinyal optik dengan yang berbeda (1
dan 2) dari A dan port B ke port-1 ( kabel optik yang digunakan
sama).
Gambar-b meneruskan sinyal optik dengan x dari port A ke port-
1; dan meneruskan sinyal optik dengan y dari port-1 ke port B (
kabel optik yang digunakan sama).
76
T Training Center raining Center
APLIKASI WAVELENGTH MUX/DEMUX COUPLER APLIKASI WAVELENGTH MUX/DEMUX COUPLER
WDM WDM
S S
DET DET
Tx Tx
Rx Rx
ENCODE ENCODE
DEMOD DEMOD

1 1

2 2
CONTROL CONTROL
SIGNAL SIGNAL
VIDEO VIDEO
DATA DATA
WDD WDD
DET DET
S S
Rx Rx
Tx Tx
DECODE DECODE
MOD MOD

1 1

2 2
CONTROL CONTROL
SIGNAL SIGNAL
VIDEO VIDEO
DATA DATA

2 2

1 1
DUPLEX TRANSMISSION LINK APLICATION DUPLEX TRANSMISSION LINK APLICATION
WDM WDM
PRI PRI
Tx Tx
SBY SBY
Tx Tx
TDM TDM
MUX MUX

1 1

2 2
CH1 CH1
CH N CH N

1 1

2 2
WDD WDD
PRI PRI
Rx Rx
SBY SBY
Rx Rx
TDM TDM
DEMUX DEMUX

1 1

2 2
CH1 CH1
CH N CH N

1 1

2 2
WAVELENGTH MULTIPLEXER FOR WAVELENGTH MULTIPLEXER FOR
DOUBLING FIBER TRANSMISSION CAPACITY DOUBLING FIBER TRANSMISSION CAPACITY
OR ACCOMODATING PROTECTION CHANNEL OR ACCOMODATING PROTECTION CHANNEL
ELECTRONICS ELECTRONICS
b
a
77
T Training Center raining Center
1.Gambar-a memisahkan signal optik kirim dan terima pada core
optical yang sama (panjang gelombang yang digunakan berbeda).
2.Menggabungkan beberapa panjang gelombang sinyal optik
menjadi satu deretan sinyal optik; dan/atau memecah satu deretan
sinyal optik menjadi beberapa panjang gelombang sinyal optik
(core optical yang digunakan satu, dan panjang gelombang yang
digunakan berbeda).
78
T Training Center raining Center
WAVELENGTH DIVISION MULTIPLEXING WAVELENGTH DIVISION MULTIPLEXING
WDM WDM
Tx Tx
Tx Tx

1 1

2 2
CH1 CH1
CH N CH N

N N
Tx Tx
CH2 CH2

1 1

N N
WDD WDD
Rx Rx
Rx Rx

1 1

2 2
CH1 CH1
CH N CH N

N N
Rx Rx
CH2 CH2

1 1

N N
OUTPUT OUTPUT
FIBERS FIBERS
ROD LENS ROD LENS

1 1--------- ---------

N N

1 1
. .
. .
. .

N N
INPUT INPUT
FIBERS FIBERS
GRATING GRATING
WAVELENGTH WAVELENGTH - - DIVISION MULTIPLEXING GRATING COUPLER DIVISION MULTIPLEXING GRATING COUPLER
APLIKASI WAVELENGTH MUX/DEMUX COUPLER APLIKASI WAVELENGTH MUX/DEMUX COUPLER
b
a
79
T Training Center raining Center
Menggabungkan beberapa panjang gelombang sinyal optik
menjadi satu deretan sinyal optik; dan/atau memecah satu
deretan sinyal optik menjadi beberapa panjang gelombang
sinyal optik (Gambar-a).
Gambar-b menunjukan contoh salah satu komponen
Mux/Demux.
80
T Training Center raining Center
1
2
3
4
port
l1
l1+l2
l2
l1+l2
l1
Splitter
Combiner
Multiplexer
Demultiplexer
4-port couper
l2
81
T Training Center raining Center
1. Splitter : Memecah satu sinyal optik menjadi dua sinyal optik.
2. Combiner : Menggabungkan dua signal optik menjadi satu
signal optik.
3. Multiplexer : Menggabungkan dua signal optik menjadi satu
signal optik.
4. Demultiplexer : Memecah satu signal optik menjadi dua signal
optik.
5. 4 Port Coupler : Menggabungkan dua signal optik menjadi satu
signal optik, dan sebaliknya.
82
T Training Center raining Center
DIRECTIONAL COUPLER :
DIRECTIONAL COUPLER :
Adalah coupler 3 Adalah coupler 3- -port yang memungkinkan daya optik dikirimkan ke port yang memungkinkan daya optik dikirimkan ke
arah fiber (port A ke port 1), dimana daya optik dengan panjang arah fiber (port A ke port 1), dimana daya optik dengan panjang
gelombang yang sama diterima dari arah lain dan gelombang yang sama diterima dari arah lain dan dirutekan dirutekan dari port dari port
1 ke port B. 1 ke port B.
Tida Tida terdapat splitting loss, hanya sedikit excess loss dan connecto terdapat splitting loss, hanya sedikit excess loss dan connector r
insertion loss. insertion loss.

1 1

1 1

1 1
A A
B B
1 1
Gambar diatas menunjukkan coupler yang berfungsi :
Meneruskan sinyal optik 1 dari port A ke port-1.
Meneruskan sinyal optik 1 dari port-1 ke port B.
83
T Training Center raining Center
APLIKASI DIRECTIONAL COUPLER
APLIKASI DIRECTIONAL COUPLER
TX TX- -1 1
RX RX- -2 2
RX RX- -1 1
TX TX- -2 2
coupler coupler
coupler coupler
FIBER LINK FIBER LINK
Duplex single mode transmission Duplex single mode transmission
link (same wavelength in both link (same wavelength in both
direction direction

1 1

1 1

1 1

1 1
PULSER PULSER
FIBER LINK OR FIBER FIBER LINK OR FIBER
UNDER TEST UNDER TEST
COUPLER COUPLER
AMPLIFIER AMPLIFIER
AVERAGING AVERAGING
DISPLAY DISPLAY
Optical Optical- -time time- -domainreflectometer domainreflectometer
a
b
84
T Training Center raining Center
Gambar diatas menunjukkan coupler yang berfungsi :
1.Gambar-a meneruskan sinyal optik dari satu sumber ke fiber
link dan ke OTDR, core optik yang digunakan satu.
2.Gambar-b meneruskan sinyal optik 1 dari Tx-1 ke Rx-1 dan
sinyal optik 2 dari Tx-2 ke Rx-2, core optik yang digunakan
sama.
85
T Training Center raining Center
1
2
3
1
2
3
4
3
2
1
P
P/2
P/2
Insertion loss
(~1 dB)
4-port coupler
Coupler Coupler
3-port coupler
a
b
c
86
T Training Center raining Center
Gambar-a menunjukkan 3 port coupler yang memecah satu sinyal
input menjadi dua sinyal output (Splitter).
Gambar-b menunjukkan 3 port coupler yang menggabungkan dua
sinyal input menjadi satu sinyal output (Combiner).
Gambar-c menunjukkan contoh 4 port coupler yang memecah satu
sinyal input menjadi dua sinyal output.
87
T Training Center raining Center
Connector
Connector
^ ^ Diperlukan pada saat fiber harus dihubungkan dengan suatu alat a Diperlukan pada saat fiber harus dihubungkan dengan suatu alat atau tau
dengan fiber lainnya dan dengan fiber lainnya dan sewaktu sewaktu- -waktu atau secara waktu atau secara periodik periodik harus harus
dapat dapat dilepaskan dilepaskan. .
^ ^ Secara umum konektor diperlukan untuk Secara umum konektor diperlukan untuk koneksi koneksi ke perangkat ke perangkat
terminal, optical cross connect panel (panel terminal, optical cross connect panel (panel penyambungan penyambungan optik) dan optik) dan
coupler. coupler.
^ ^ Di dalam connector terdapat loss (insertion loss) yang harus Di dalam connector terdapat loss (insertion loss) yang harus
diperhitungkan diperhitungkan di dalam di dalam kalkulasi kalkulasi link. link.
^ ^ Ada beberapa Ada beberapa klasifikasi klasifikasi konektor sesuai dengan konektor sesuai dengan keperluannya keperluannya : :
Fiber to fiber connector . Fiber to fiber connector .
Fiber to source connector. Fiber to source connector.
Fiber to detector connector. Fiber to detector connector.
Multiport Multiport coupler connector. coupler connector.
88
T Training Center raining Center
MACAM MACAM- -MACAM CONNECTOR : MACAM CONNECTOR :
1.
1.
SMA (
SMA (Sub Minature type A)
Connector.
Connector.
2.
2.
Biconic
Biconic
Connector.
Connector.
3.
3.
ST (
ST (straight tip)
Connector.
Connector.
4.
4.
SC (
SC (Square connector)
Connector.
Connector.
5.
5.
FC (
FC (Face Contact)
Connector.
Connector.
6.
6.
FDDI
FDDI (Fiber Distributed Data Interface)
Connector.
Connector.
7. D4 (D in 4 atau Deutche Institut Normung/German
Institute for Standardization).
8. Escon connector.
89
T Training Center raining Center
1. SMA CONNECTOR
1. SMA CONNECTOR
PLUG PLUG
PLUG PLUG
SMA SMA
STYLE STYLE
PRECISION PRECISION
SLEEVE SLEEVE
SLEEVE (NUT SLEEVE (NUT
CONTROLS) END CONTROLS) END
SEPARATION SEPARATION
EPOXY FILLER EPOXY FILLER
JACKETED JACKETED
FIBER FIBER
CONCENTRIC CONCENTRIC
SLEEVE SLEEVE
STAINLESS STEEL STAINLESS STEEL
FERRULE FERRULE
WATCH WATCH- -JEWEL JEWEL
BEARING BEARING
90
T Training Center raining Center
Digunakan pada fiber optik Multi mode.
Insertion loss untuk 62,5 s/d 125 m adalah 0,7 dB 0,15 dB (typical).
Konektor SMA (Sub Miniature type A) ada 2 versi :
- Konektor SMA 905, mempunyai
straight ferrule.
- Konektor SMA 906, mempunyai
stepped design yang
menggunakan plastic sleeve
untuk alignment.
91
T Training Center raining Center
2. BICONIC CONNECTOR 2. BICONIC CONNECTOR
BULKHEAD ADAPTOR BULKHEAD ADAPTOR
BULKHEAD BULKHEAD
HOUSING HOUSING
BICONIC SLEEVE BICONIC SLEEVE
CONNECTOR PLUG CONNECTOR PLUG
PLUG RETAINER PLUG RETAINER
PLUG PLUG
Konektor Biconic mempunyai dual conical faces yang sangat
akurat untuk menghubungkan kabel dengan device (perangkat) dan
kabel dengan kabel.
Bisa digunakan pada kabel fiber multi mode maupun single mode.
Tersedia untuk fiber dengan diameter outer 125, 140, 250 dan 400 m
Insertion loss untuk fiber single-mode dan multimode 0,6 dB (typical)
92
T Training Center raining Center
3. ST Connector. 3. ST Connector.
+ +
93
T Training Center raining Center
Banyak digunakan pada kabel fiber multi mode maupun single mode.
Insertion loss untuk fiber single-mode 0,2 dB/0,3 dB (typical/max) dan
multimode 0,2 dB/0,4 dB (typical/max)
Konektor ST( straight tip), aslinya didesign oleh AT&T.
Didisain untuk push-pull(rotating).
94
T Training Center raining Center
4. SC Connector.
4. SC Connector.
Banyak digunakan pada kabel fiber multi mode maupun single mode.
Didisain untuk push-pull(non rotating).
Insertion loss untuk fiber single-mode 0,1 dB/0,25 dB (typical/max)
dan multimode 0,15/0,3 dB (typical/max).
Konektor SC (Square connector) aslinya dibuat oleh NTT (Nippon
Telephone & Telegraph).
95
T Training Center raining Center
5. FC Connector. 5. FC Connector.
96
T Training Center raining Center
Banyak digunakan baik untuk sistem fiber multimode maupun
singlemode.
Didisain untuk push-pull(non rotating).
Insertion loss untuk fiber single-mode 0,15 dB/0,30 dB
(typical/max) dan multimode 0,15/0,30 dB (typical/max)
Konektor FC (Face Contact) aslinya dibuat NTT (Nippon
Telephone & Telegraph) juga
97
T Training Center raining Center
6. FDDI Connector.
6. FDDI Connector.
Konektor FDDI (Fiber Distributed Data Interface) adalah konektor fiber optik duplex.
98
T Training Center raining Center
7. KONEKTOR D4
Konektor D4 (Din4 atau Deutche Institut Normung/German Institute
for Standardization).
Banyak digunakan untuk aplikasi elektronik di Eropa.
Digunakan baik untuk kabel multimode maupun kabel singlemode.
99
T Training Center raining Center
8. KONEKTOR ESCON
Konektor Escon aslinya dibuat oleh IBM
Hanya bisa digunakan untuk kabel multimode.
100
T Training Center raining Center
Bentuk Konektor yang Paling Populer
Aplikasi Komunikasi Data Aplikasi Komunikasi Telekomunikasi
(umumnya multi-mode) (umum nya single-Mode)
ST (paling banyak digunakan) FC (banyak digunakan)
SMA (popularitasnya menurun) ST (versi single-node )
SC (di spesifikasikan untuk sistem baru) SC (mulai populer)
FDDI (duplex) D4 (kurang digunakan)
ESCON (duplex) Biconic (kurang digunakan)
101
T Training Center raining Center
REPEATER
Didalam sistem komunikasi optik, jarak transmisi pada umumnya
dibatasi oleh dispersi chromatic dan fiber losses.
Beberapa tahun lalu, keterbatasan itu bisa dikompensasi dengan
menggunakan regenerator pada jarak tertentu, dengan maksud untuk
menguatkan kembali signal optik yang sudah mulai melemah; yaitu
dengan jalan mengubah signal optik menjadi signal elektrik, untuk
dikuatkan, kemudian diubah kembali menjadi signal optik, untuk
kemudian dipancarkan kembali.
Lihat gambar berikut.
102
T Training Center raining Center
103
T Training Center raining Center
Sinyal optik yang dipancarkan dari Transmitter akan mengalami
redaman sepanjang saluran optik.
Agar sinyal optik tetap dapat diterima dengan baik, maka kadang
diperlukan penggunaan Repeater (Regenerator) untuk memperkuat
sinyal optik yang lemah.
Repeater pada gambar berja secara :
Optical Electrical Optical.
Pada gambar diatas sinyal optik yang diterima Regenerator akan
diubah dari optik menjadi elektrik (oleh Photo detector), dikuatkan
oleh rangkaian elektronik (amplification-filtering-decision circuits),
dan diubah lagi menjadi sinyal optik (oleh Laser); untuk diteruskan
ke tujuan selanjutnya.
104
T Training Center raining Center
Regenerator seperti diatas akan menjadi sangat sulit jika diterapkan
pada sistem WDM, karena setiap kanal membutuhkan repeater
sendiri. Lihat gambar berikut.
Pada gambar diatas untuk transmisi 4 sinyal optik (WDM) dibutuhkan
4 repeater, hal ini akan menjadi sangat sulit.
105
T Training Center raining Center
Untuk mengatasi kesulitan diatas, maka digunakanlah Optical
amplifiers; yang secara prinsip bisa menguatkan seluruh kanal
secara bersamaan, tanpa timbul cross talk diantara kanal-kanal yang
ada. Lihat Gambar berikut.
Pada gambar diatas untuk transmisi 4 panjang gelombang optik
(WDM) cukup disediakan satu Optical Amplifier.
106
T Training Center raining Center
1. Booster Amplifier
2. Pre - Amplifier
3. In - Line Amplifier
OPTICAL AMPLIFIERS
107
T Training Center raining Center
Booster Amplifier berfungsi memperkuat sinyal yang akan
dikirimkan oleh Transmitter optik, dan dipasang tepat setelah
Transmitter.
Pre-Amplifier berfungsi memperkuat sinyal yang akan diterima
oleh Receiver optik, dan dipasang tepat sebelum Receiver.
In-Line Amplifier berfungsi memperkuat sinyal sepanjang saluran
optik, dan dipasang saluran (antara booster amplifier dan pre
amplifier).
108
T Training Center raining Center
PERBEDAAN TIPE-TIPE DARI OPTICAL AMPLIFIERS
Optical amplifier bisa melayani beberapa tujuan didalam design
sistem komunikasi fiber optik.
Salah satu hal terpenting didalam aplikasi sistem transmisi long haul
adalah mengganti electronic generators dengan optical amplifiers
yang dapat menguatkan beberapa kanal optik secara bersamaan.
Dengan syarat bahwa penggantian tersebut tidak menimbulkan akibat
terkumpulnya dispersi dan optical noise, yang dapat membatasi
performansi sistem.
Jika amplifier tersebut digunakan untuk menggantikan electronic
generator, maka amplifer tersebut dinamakan in-line amplifiers.
109
T Training Center raining Center
In-Line Amplifier
In-Line Amplifier berfungsi memperkuat sinyal sepanjang saluran
optik, dan dipasang saluran (antara booster amplifier dan pre
amplifier); jadi berperan sebagai pengganti Regenerator.
110
T Training Center raining Center
Cara lain untuk penggunaan optical amplifiers adalah untuk
meningkatkan daya pancar, yaitu dengan menempatkan amplifier
dimaksud pada transmitter output.
Amplifiers ini disebut booster amplifiers .
Booster Amplifier
Booster Amplifier berfungsi memperkuat sinyal yang akan
dikirimkan oleh Transmitter optik, dan dipasang tepat setelah
Transmitter.
111
T Training Center raining Center
Aplikasi lain dari penggunaan amplifier optik adalah untuk
meningkatkan sensitivitas penerima; yaitu dengan menempatkan
high gain low noise amplifier pada input receiver.
Amplifier yang demikian disebut pre-amplifiers
Pre-Amplifier
Pre-Amplifier berfungsi memperkuat sinyal yang akan diterima oleh
Receiver optik, dan dipasang tepat sebelum Receiver.
112
T Training Center raining Center
Berdasarkan prinsip-prinsip physical yang berbeda, dikenal ada beberapa tipe
optical amplifiers.
1. EDFA (Erbium Doped Fiber Amplifier) yaitu amplifier yang bekerja
berdasar kepada penempatan ion-ion Erbium yang banyak didalam core fiber.
EDFA bekerja pada panjang gelombang mendekati 1550 nm. Sementara Erbium
Doped Fiber Amplifiers (EDFA) akan tetap mendominasi pada sistem optikal fiber,
sedangkan optical amplifiers tidak (hanya sebagai cadangan).
2. Raman dan Parametric, dimana keduanya bekerja berdasar prinsip dua proses
nonlinear (SRS dan FWM secara bersamaan).
Raman dan Parametric Amplifier bekerja pada daerah 1360 and 1625 nm.
3. Semiconductor Optical Amplifiers (SOA), adalah semiconductor lasers
dimana mirror feedback sudah di eliminasi.
SOA bekerja pada daerah 1300 and 1550 nm.
113
T Training Center raining Center
114
T Training Center raining Center
JENIS KABEL SERAT OPTIK BERDASARKAN
JENIS KABEL SERAT OPTIK BERDASARKAN
PEMBUATANNYA.
PEMBUATANNYA.
Ada 3
Ada 3
jenis
jenis
kabel serat optik yang banyak digunakan,
kabel serat optik yang banyak digunakan,
yaitu :
yaitu :
1.
1.
Buffer tube
Buffer tube
2.
2.
Slotted core
Slotted core
3.
3.
Tigh
Tigh
buffer
buffer
115
T Training Center raining Center
1. BUFFER TUBE : 1. BUFFER TUBE :
_ _ Fiber ditempatkan pada Fiber ditempatkan pada tabung tabung plastik (buffer tube) sebelum plastik (buffer tube) sebelum
dimasukkan kedalam dimasukkan kedalam selongsong selongsong kabel. kabel.
_ _ Fiber dimungkinkan dapat bergerak di dalam tube pada saat instal Fiber dimungkinkan dapat bergerak di dalam tube pada saat instalasi asi
dan juga jika terjadi dan juga jika terjadi tekanan tekanan atau perubahan atau perubahan temperatur temperatur. .
_ _ Fiber dapat Fiber dapat terlindungi terlindungi dari daya dari daya tarikan tarikan atau atau tekanan tekanan oleh bagian luar oleh bagian luar
tabung tabung (tube) yang keras. (tube) yang keras.
_ _ Di dalam Di dalam tabung tabung diisi diisi dengan gel yang dengan gel yang lunak lunak untuk melindungi fiber untuk melindungi fiber
dari air atau embun yang masuk dari air atau embun yang masuk
RIP CORD RIP CORD
(OPTIONAL) (OPTIONAL)
JACKE JACKE
T T
SEPARATOR SEPARATOR
TAPE TAPE
BUFFER TUBES BUFFER TUBES
CENTER CENTER
STRENGTH STRENGTH
MEMBER MEMBER FIBER FIBER
GEL FILLING GEL FILLING
116
T Training Center raining Center
18 FIBER 18 FIBER
A B C D F G A B C D F G
12 FIBER 12 FIBER
A B C D F G A B C D F G
1 FIBER 1 FIBER
A C D E F A C D E F
2 FIBER 2 FIBER
A C D E F A C D E F
Dimana : Dimana :
A : Optical fiber A : Optical fiber
B : Jacketed Kevlar; strength member. B : Jacketed Kevlar; strength member.
C : Engineering plastic tubes. C : Engineering plastic tubes.
D : Plastic separator tape D : Plastic separator tape
E : Braided E : Braided kevlar kevlar strength member strength member
F : PVC Jacket F : PVC Jacket
G : Rip cord. G : Rip cord.
3 FIBER 3 FIBER
A B C D F G A B C D F G
117
T Training Center raining Center
EXTRUDED EXTRUDED
PLASTIC PLASTIC
OPTICAL OPTICAL
FIBER FIBER
TENSILE MEMBER TENSILE MEMBER
HEAT BARRIER HEAT BARRIER
COMPOSITE COMPOSITE
JACKET JACKET
2. SLOTTED CORE OPTICAL CABLE DESIGN 2. SLOTTED CORE OPTICAL CABLE DESIGN
Seperti pada buffer tube , memungkinkan fiber dapat bergerak pad Seperti pada buffer tube , memungkinkan fiber dapat bergerak pada saat a saat
direntangkan direntangkan sehingga dapat sehingga dapat mengisolasi mengisolasi adanya kerusakan (putus). adanya kerusakan (putus).
Core terbuat dari polyethylene dan dapat berisi mulai 6 s/d 8 sl Core terbuat dari polyethylene dan dapat berisi mulai 6 s/d 8 slot dan ot dan
dapat berisi s/d 144 fiber. dapat berisi s/d 144 fiber.
118
T Training Center raining Center
Colored marker Colored marker
threads threads
Water blocking Water blocking
tape tape
Water blocking Water blocking
core wrap core wrap
Optical Optical
fibers & fill fibers & fill
compound compound
Nylon Nylon
ripcord ripcord
12.0 12.0
mm DIA mm DIA
polyeth polyeth
ylene ylene
core core
Aramid Aramid
ripcord ripcord
3,2 mm 3,2 mm
strength strength
member member
Inner Inner
polyethylene polyethylene
jacket (1,2 jacket (1,2
mm thick) mm thick)
Corrugated Corrugated
15 mm steel 15 mm steel
Bonded Bonded
overlap overlap
black black
polyethylene polyethylene
jacket (1,4 jacket (1,4
mm thick) mm thick)
Maximum number of fibers per slot .. 18 Maximum number of fibers per slot .. 18
Maximum number of fibers per cable 144 Maximum number of fibers per cable 144
Maximum recommended pulling tension ..4400N(1000 Maximum recommended pulling tension ..4400N(1000 lbf lbf) )
Cable outside diameter .21,00 Cable outside diameter .21,00 .25 mm (.83 in) .25 mm (.83 in)
Maximum band radius static 210 mm (8,3in) Maximum band radius static 210 mm (8,3in)
dynamic .. 336 mm (13,2 in) dynamic .. 336 mm (13,2 in)
Approximate unit weight.374 kg/km (0,26 lb/ft) Approximate unit weight.374 kg/km (0,26 lb/ft)
Maximum length per reel(78" flange x 43"width) 2900m(9.500 ft) Maximum length per reel(78" flange x 43"width) 2900m(9.500 ft)
Recommended temperature range installation Recommended temperature range installation - -30C to +70C 30C to +70C
( (- -22F to +158F) 22F to +158F)
Operating ... Operating ... - -40C to +70C( 40C to +70C(- -40F to +158F) 40F to +158F)
119
T Training Center raining Center
POLYTHENE POLYTHENE
LAP SHEATH LAP SHEATH
CUSHION CUSHION
BUFFER TUBES BUFFER TUBES
STRENGTH MEMBER STRENGTH MEMBER
COATED FIBER COATED FIBER
PLASTIC STRING PLASTIC STRING
3. TIGHT BUFFER OPTICAL CABLE 3. TIGHT BUFFER OPTICAL CABLE
Dalam disain ini Dalam disain ini proteksi proteksi utama untuk melindungi kabel agar tidak utama untuk melindungi kabel agar tidak
terjadi kerusakan adalah dengan membungkus atau terjadi kerusakan adalah dengan membungkus atau melapisi melapisi kabel kabel
fiber dengan bahan yang keras (hard buffer coating) . fiber dengan bahan yang keras (hard buffer coating) .
Karena tidak ada Karena tidak ada celah celah yang memungkinkan kabel dapat bergerak yang memungkinkan kabel dapat bergerak
jika ada daya jika ada daya tarikan tarikan maka dilakukan dengan maka dilakukan dengan melilit melilit fiber dalam fiber dalam
bentuk bentuk sepiral sepiral di dalam pusat core dan sekitarnya dengan bahan di dalam pusat core dan sekitarnya dengan bahan
Kevlar atau benang Kevlar atau benang Aramid Aramid. .
120
T Training Center raining Center
O Jeni s Kabel Ser at Opt i k
O Kode War na pada Ser at Opt i k
O Penandaan Kabel Ser at Opt i k
121
T Training Center raining Center
KABEL SERAT OPTI K
Menur ut konst r uksi nya ada dua j eni s kabel opt i k, yai t u :
1. PI PA LONGGAR ( Loose Tube) .
Ser at opt i k di t empat kan di dal am pi pa l onggar ( l oose t ube)
yang t er buat dar i bahan PBTP ( Pol ybut yl ene Ter ept hal et e)
dan ber i si j el l y.
Saat i ni sebuah kabel opt i k maksi mum mempunyai kapasi t as
8 l oose t ube, di mana set i ap l oose t ube ber i si 12 ser at opt i k.
2. ALUR ( Sl ot )
Ser at opt i k di t empat kan pada al ur ( sl ot ) di dal am si l i nder
yang t er buat dar i bahan PE ( Pol yet hyl i ene) . Pada saat i ni di
Jepang t el ah di buat kabel j eni s sl ot dengan kapasi t as 1.000
ser at dan 3.000 ser at .
122
T Training Center raining Center
Penampang Penampang Kabel Opt i k Jeni s Loose Tube Kabel Opt i k Jeni s Loose Tube
123
T Training Center raining Center
Penampang Penampang Kabel Opt i k Jeni s Sl ot Kabel Opt i k Jeni s Sl ot
124
T Training Center raining Center
Sesuai dengan konst ruksinya kabel opt ik t erdiri dari :
a. Kabel duct
b. Kabel t anah
c. Kabel at as t anah
d. Kabel rumah
MENURUT APLI KASI NYA KABEL OPTI K ADA 4 MACAM : MENURUT APLI KASI NYA KABEL OPTI K ADA 4 MACAM :
125
T Training Center raining Center
Konstruksi Dasar Kabel Optik Duct
126
T Training Center raining Center
Konstruksi Dasar Kabel Optik Bawah Tanah Konstruksi Dasar Kabel Optik Bawah Tanah
127
T Training Center raining Center
Konstruksi dasar Kabel Optik Atas Tanah Konstruksi dasar Kabel Optik Atas Tanah
128
T Training Center raining Center
Konstruksi Dasar Kabel Rumah (2 s/d 6 fiber)
Konstruksi Dasar Kabel Rumah (2 s/d 6 fiber)
SINGLE FIBRE DESIGN
129
T Training Center raining Center
Konstruksi Dasar Kabel Rumah (8 s/d 12 fiber) Konstruksi Dasar Kabel Rumah (8 s/d 12 fiber)
130
T Training Center raining Center
KABEL LAUT
KABEL LAUT DOUBLE ARMOUR KABEL LAUT SINGLE ARMOUR
131
T Training Center raining Center
Kar akt er i st i k Mekani s :
1. Fibre Bending (tekukan Serat)
Tekukan serat yang berlebihan (terlalu kecil) dapat mengakibatkan bertambahnya
optical loss.
2. Cable Bending (tekukan Kabel)
Tekukan kabel pada saat instalasi harus di jaga agar tidak terlalu kecil, karena hal ini
dapat memerusak serat sehingga menambah optical loss.
3. Tensile Strength
Tensile strength yang berlebihan dapat merusakan kabel atau serat.
4. Crush
Crush atau tekanan yang berlebihan dapat mengakibatkan serat retak / patah, sehingga
dapat menaikkan optical loss
5. Impact
Impact adalah beban dengan berat tertentu yang dijatuhkan dan mengenai kabel optik.
Berat beban yang berlebihan dapat mengakibatkan serat retak / patah, sehingga dapat
menaikkan optical loss.
6. Cable Torsion
Torsi yang diberian kepada kabel dapat merusak selubung kabel dan serat
132
T Training Center raining Center
Kode warna serat
1 2 3 4 5 6
Biru Oranye Hijau Coklat Abu-abu Putih
7 8 9 10 11 12
Merah Hitam Kuning Ungu Pink Turquoise
133
T Training Center raining Center
No. Tabung Warna
1 Biru
2 Oranye
3 Hijau
4 Coklat
5 Abu-abu
6 Putih
7 Merah
8 Hitam
Kode warna tabung
134
T Training Center raining Center
Kabel Optik harus diberi tanda pengenal yang tidak mudah hilang yang
tertera pada kulit kabel di sepanjang kabel.
Adapun tanda pengenal tersebut meliputi :
- Nama pabrik pembuat
- Tahun pembuatan
* Tipe serat optik :
- SM = Single Mode
- GI = Graded Indeks
- SI = Step Index
* Pemakaian kabel optik :
- D = Duct
- A = Aerial
- B = Buried
- S = Submarine
- I = Indoor
Penandaan Kabel Serat Optik
135
T Training Center raining Center
* Jenis kabel optik :
- LT = Loose tube
- SC = Slotted core
- TB = Tight Buffered
* Struktur penguat :
- SS = Solid Steel Core
- WS = Standred Wire Steel
- GRP = Glass Reinforced Plastik
Panjang tanda pengenal kabel termasuk nama pabrik dan tahun pembuatan adalah 1 M.
Contoh: SM-D-LT SS 6-3T 2Q
Length mark Length mark
SMD-LT SS6-3T 2Q, adalah tanda pengenal kabel optik single mode untuk pemakaian duct
dengan jenis loose tube, struktur penguatnya Solid State Core, jumlah serat adalah 6
dengan 3 buah loose tube dan juga mempunyai 2 quad kabel tembaga
136
T Training Center raining Center
SINGLE MODE SINGLE MODE
Disain Disain Material Material
Core Core doped silica doped silica
glass glass
Cladding Cladding pure silica glass pure silica glass
primary coating . primary coating . UV UV- -cured cured
acrylate acrylate
Transmisi Transmisi unit unit Typical Typical
value value
Redaman pd 1265 Redaman pd 1265- -1330 nm 1330 nm dB/km dB/km 0,38 max 0,38 max
Redaman pd 1310 nm Redaman pd 1310 nm dB/km dB/km 0,36 max 0,36 max
Redaman pd 1530 Redaman pd 1530- -1570 nm 1570 nm dB/km dB/km 0,25 max 0,25 max
Geometry Geometry
Diameter cladding, .. m 125 Diameter cladding, .. m 125 2 2
Primary coating diameter.. m 245 Primary coating diameter.. m 245
10 10
MULTI MODE MULTI MODE
Disain Disain Material Material
Core Core doped silica glass doped silica glass
Cladding Cladding pure silica glass pure silica glass
primary coating . primary coating . UV UV- -cured cured acrylate acrylate
Transmisi Transmisi unit unit Typical Typical
value value
Redaman pd 850 nm Redaman pd 850 nm dB/km dB/km 3,5 max 3,5 max
Redaman pd 1300 nm Redaman pd 1300 nm dB/km dB/km 1,0 max 1,0 max
137
T Training Center raining Center
138
T Training Center raining Center
Transmission Losses atau rugi Transmission Losses atau rugi- -rugi transmisi adalah rugi transmisi adalah
karakteristik yang sangat penting untuk menentukan : karakteristik yang sangat penting untuk menentukan :
^ ^ Sepasi Sepasi atau jarak repeater. atau jarak repeater.
^ ^ Tipe dari Tipe dari pemancar pemancar optik (optical transmitter) optik (optical transmitter)
^ ^ Tipe dari Tipe dari penerima penerima optik (optical receiver) optik (optical receiver)
139
T Training Center raining Center
Redaman pada serat optik dinyatakan dengan Redaman pada serat optik dinyatakan dengan satuan satuan dB/km dB/km
Redaman yang terkait dengan karakteristik serat optik Redaman yang terkait dengan karakteristik serat optik
disebabkan disebabkan oleh oleh hamburan hamburan dan dan absorpsi absorpsi. .
Hamburan Hamburan ( (Rayleigh Rayleigh scattering), scattering), disebabkan disebabkan oleh oleh struktur struktur gelas gelas
yang akan yang akan menghamburkan menghamburkan sebagian sebagian cahaya cahaya yang yang merambat merambat
dalam serat optik. dalam serat optik.
Absorpsi Absorpsi, , disebabkan disebabkan gelas gelas serat optik serat optik menyerap menyerap cahaya cahaya dalam dalam
serat optik, terdapat tiga daerah panjang gelombang yang serat optik, terdapat tiga daerah panjang gelombang yang
memiliki redaman cukup besar yang disebut puncak OH (OH memiliki redaman cukup besar yang disebut puncak OH (OH- -
peak). Redaman puncak OH (air) terjadi karena adanya interaksi peak). Redaman puncak OH (air) terjadi karena adanya interaksi
antara antara cahaya cahaya dengan atom dengan atom- -atom air yang masih tinggal dalam atom air yang masih tinggal dalam
serat optik. serat optik.
Redaman karena Redaman karena sambungan sambungan- -sambungan sambungan (splices) serat optik (splices) serat optik
Redaman karena konektor Redaman karena konektor- -konektor optik konektor optik
140
T Training Center raining Center
CABLE ATTENUATION VS FREQUENCY CABLE ATTENUATION VS FREQUENCY
CHARACTERISTIC CHARACTERISTIC
0 0
0 0
200 200 400 400 600 600 800 800
20 20
40 40
60 60
80 80
100 100
120 120
140 140
LOW LOW- -LOSS OPTICAL FIBER LOSS OPTICAL FIBER
FREKUENSI (MHz) FREKUENSI (MHz)
A
T
T
E
N
U
A
T
I
O
N

(
D
b
/
k
m
)
A
T
T
E
N
U
A
T
I
O
N

(
D
b
/
k
m
)
R
G
R
G
- -1
9
/
U
1
9
/
U
R
G
R
G
- -
1
4
/
U
1
4
/
U
R
G
R
G
- -
6
2
/
U
6
2
/
U
R
G
R
G
- -
5
9
/
U
5
9
/
U
R
G
R
G
- -
5
8
/
U
5
8
/
U
1000 1000
141
T Training Center raining Center
Tipe-tipe cable coaxial :
RG-58/U : untuk frekwensi < 100 MHz, mempunyai redaman antara 0 s/d 140 dB;
frekwensi rendah redamannya kecil, semakin besar frekwensi semakin
tinggi redamannya.
RG-59/U : untuk frekwensi < 200 MHz, mempunyai redaman antara 0 s/d 140 dB;
frekwensi rendah redamannya kecil, semakin besar frekwensi semakin
tinggi redamannya.
RG-62/U : untuk frekwensi < 250 MHz, mempunyai redaman antara 0 s/d 140 dB;
frekwensi rendah redamannya kecil, semakin besar frekwensi semakin
tinggi redamannya.
RG-14/U : untuk frekwensi < 600 MHz, mempunyai redaman antara 0 s/d 140 dB;
frekwensi rendah redamannya kecil, semakin besar frekwensi semakin
tinggi redamannya.
RG-19/U : untuk frekwensi < 1000 MHz, mempunyai redaman antara 0 s/d 120 dB;
frekwensi rendah redamannya kecil, semakin besar frekwensi semakin
tinggi redamannya.
Sedangkan pada kabel optik (pada gambar warna hijau) mempunyai edaman rendah
pada seluruh frekwensi.
142
T Training Center raining Center
1.
1.
Loss
Loss
penghamburan
penghamburan
Rayleigh
Rayleigh
(
(
Rayleigh
Rayleigh
scattering loss)
scattering loss)
2.
2.
Loss
Loss
penyerapan
penyerapan
(
(
Absorbtion
Absorbtion
loss)
loss)
3.
3.
Loss
Loss
pembengkokan
pembengkokan
(Bending loss).
(Bending loss).
4.
4.
Loss
Loss
refleksi
refleksi
freshnel
freshnel
(
(
Fresnel
Fresnel
Reflection Loss)
Reflection Loss)
5. Loss
5. Loss
penyambungan
penyambungan
(Splicing Loss).
(Splicing Loss).
143
T Training Center raining Center
T
Terjadi karena ada erjadi karena ada variasi variasi kerapatan kerapatan optik dan optik dan campuran campuran- -
campurannya campurannya shg shg membentuk membentuk facet facet- -facet yang facet yang
memantulkan memantulkan dan dan membiaskan membiaskan serta serta menghamburkan menghamburkan
sebagian kecil sebagian kecil cahaya cahaya yang yang melewatinya melewatinya. .
Sebagian daya optik di pantulkan dan dibiaskan.
144
T Training Center raining Center
P
Penyerapan enyerapan oleh kotoran, air (ion OH) yang oleh kotoran, air (ion OH) yang tercampur tercampur pada saat pada saat
proses proses pembuatan pembuatan fiber. fiber.
OH OH
Sebagian daya optik diserap oleh ion OH, sehingga sinyal optik
yang diteruskan dayanya berkurang.
145
T Training Center raining Center
Terjadi karena akibat adanya Terjadi karena akibat adanya pembengkokan pembengkokan
ada 2 macam : ada 2 macam :
a. a. Micro bending Loss Micro bending Loss
b. b. Macro bending Loss Macro bending Loss
146
T Training Center raining Center
disebabkan disebabkan pembengkokan pembengkokan mikro mikro dalam inti serat optik. dalam inti serat optik.
Backscattered light (loss) Backscattered light (loss)
radiated light(loss) radiated light(loss)
microbend microbend
Redaman yang diakibatkan oleh adanya pembengkokan mikro
didalam core serat optik; sebagian daya diteruskan di pantulkan
di radiasikan.
147
T Training Center raining Center
disebabkan disebabkan karena adanya karena adanya belokan belokan tajam/ tajam/lengkungan lengkungan pada pada
saat instalasi. saat instalasi.

A A

B B

C C
B B
1 1
B B
2 2
Redaman yang diakibatkan oleh adanya pembengkokan makro
didalam kabel serat optik pada saat instalasi; sebagian daya
diteruskan di biaskan.
148
T Training Center raining Center
( (Freshnel Freshnel Reflection Loss) Reflection Loss)
disebabkan disebabkan karena adanya karena adanya celah celah udara, sehingga udara, sehingga cahaya cahaya
harus harus melewati melewati dua interface yang dua interface yang memantul memantul sebagian, karena sebagian, karena
perubahan perubahan indek indek bias dari inti ke udara dan ke inti lagi. bias dari inti ke udara dan ke inti lagi.
n
n
1 1
n
n
1 1
n
n
21 21
n = 1,5 n = 1,5
n = 1,0 n = 1,0
4% 4%
149
T Training Center raining Center
Redaman yang diakibatkan oleh adanya celah udara didalam
core optik; sehingga sinar akan merambat dari core - ke udara -
ke core; dan hal ini mengakibatkan sebagian daya diteruskan,
dan sebagian kecil di pantulkan.
150
T Training Center raining Center
Adalah loss yang Adalah loss yang diakibatkan diakibatkan oleh "splicing" atau oleh "splicing" atau
penyambungan penyambungan. .
SPLICING SPLICING
Loss
Loss
sambungan
sambungan
Redaman yang diakibatkan oleh sambungan optik.
151
T Training Center raining Center
Merupakan pelebaran pulsa pada pulsa cahaya yang ditransmisikan lewat
serat optik.
Akibat dari dispersi adalah membatasi jumlah pulsa per satuan waktu (bit
rate) data yang dikirimkan.
Pada serat optik terjadi tiga jenis dispersi yaitu: modal dispersion, material
dispersion, dan waveguide dispersion.
Modal dispersion terjadi pada serat optik multi mode dan terjadi karena
waktu propagasi setiap mode berbeda-beda .
Dispersi Material terjadi pada semua jenis serat optik dan terjadi karena
waktu propagasi setiap panjang gelombang cahaya berbeda-beda (indeks
bias suatu bahan merupakan fungsi dari panjang gelombang).
Dispersi Waveguide, nilainya sangat kecil dibandingkan jenis dispersi
yang lainnya, terjadi karena struktur serat optik sendiri yaitu terjadinya
perbedaan waktu propagasi cahaya karena sebagian cahaya merambat di
cladding.
Satuan dispersi adalah ps/nm.km
152
T Training Center raining Center
0,8 0,8 0,9 0,9 1,0 1,0 1,1 1,1 1,2 1,2 1,3 1,3 1,4 1,4 1,5 1,5 1,6 1,6
- - 30 30
30 30
0 0
DFF DFF
DSF DSF
Dispersi Dispersi chromatic terdiri dari chromatic terdiri dari Dispersi Dispersi material dan material dan Dispersi Dispersi
Waveguide. Waveguide.
Pada daerah 1.300 nm, nilai Pada daerah 1.300 nm, nilai dispersi dispersi chromatis chromatis sangat kecil. sangat kecil.
Dispersi Dispersi merupakan faktor yang lebih merupakan faktor yang lebih membatasi membatasi operasi serat optik operasi serat optik
pada daerah 1.550 nm dari pada faktor redaman. pada daerah 1.550 nm dari pada faktor redaman.
Untuk Untuk mengkompensasikan mengkompensasikan keterbatasan keterbatasan pada daerah 1.550 nm pada daerah 1.550 nm
dibuat dibuat jenis jenis serat optik khusus yaitu "Dispersion Shifted Fiber" yang serat optik khusus yaitu "Dispersion Shifted Fiber" yang
memiliki memiliki dispersi dispersi 0 pada 1.550 nm dan "Dispersion Flattened Fiber" 0 pada 1.550 nm dan "Dispersion Flattened Fiber"
yang memiliki nilai yang memiliki nilai dispersi dispersi yang rendah pada yang rendah pada rentang rentang 1.300 1.300 - - 1550 1550
nm. nm.
153
T Training Center raining Center
TYPICAL PERFORMANCE CHARRACTERISTICS OF CABLED FIBRE TYPICAL PERFORMANCE CHARRACTERISTICS OF CABLED FIBRE
MULTIMODE MULTIMODE SINGLE MODE SINGLE MODE
General class General class
EIA class EIA class IA & IB IA & IB IC IC II II III III IVA IVA IVB IVB IVC IVC
Index descriptor Index descriptor Graded & Graded & Step Step Step Step Step Step Dispersion Dispersion Dispersion Dispersion Dispersion Dispersion
Quasigraded Quasigraded unshifted unshifted shifted shifted flat flat
Core material Core material Glass Glass Glass Glass Glass Glass Plastic Plastic Glass Glass Glass Glass Glass Glass
Cladding material Cladding material Glass Glass Glass Glass Plastic Plastic Plastic Plastic Glass Glass Glass Glass Glass Glass
Core diameter (m) Core diameter (m) 50 50 62,5 62,5 8,5 8,5 100 100 50 50- -100 100 200 200- -600 600 484 484- -980 980 8,7 8,7- -10 10 7 7- -8,7 8,7 7 7- -8,7 8,7
Clad. Diameter (m) Clad. Diameter (m) 125 125 125 125 125 125 125 125- -140 140 125 125- -140 140 230 230- -650 650 500 500- -1000 1000 125 125 125 125 125 125
Tolerance Tolerance
Core diameter Core diameter 3 m 3 m 3 m 3 m 3 m 3 m 4 m 4 m 8 m 8 m 10 m 10 m 8 m 8 m 8 m 8 m 8 m 8 m
Clad diameter Clad diameter 2 m 2 m 3 m 3 m 3 m 3 m 4 m 4 m 10 m 10 m 10 m 10 m 2 m 2 m 2 m 2 m 2 m 2 m
Attenuation (dB/km) Attenuation (dB/km)
@ 570 nm @ 570 nm 70 70
@ 650 nm @ 650 nm 130 130- -160 160
@ 850 nm @ 850 nm 2,6 2,6- -3,5 3,5 3,0 3,0- -4,1 4,1 30,4,1 30,4,1 3,0 3,0- -70 70 4,0 4,0- -6,0 6,0 3,0 3,0- -8,0 8,0
@ 1310 nm @ 1310 nm 0,7 0,7- -1,6 1,6 0,8 0,8- -1,8 1,8 1,0 1,0- -1,8 1,8 1,5 1,5- -5,0 5,0 0,4 0,4- -0,7 0,7 0,4 0,4- -0,5 0,5
@ 1550 nm @ 1550 nm 0,25 0,25- -0,3 0,3 0,25 0,25- -0,3 0,3
@ 2 @ 2- -5 m predicted 5 m predicted 0,1 0,1
Numerical Aperture 0,19 Numerical Aperture 0,19- -0,25 0,25 0,27 0,27- -0,31 0,24 0,31 0,24- -0,3 0,21 0,3 0,21- -0,3 0,3 0,15 0,15- -0,3 0,3 0,27 0,27- -0,37 0,47 0,37 0,47
Material dispersion ( Material dispersion (ps ps/nm/km) /nm/km)
@ 850nm @ 850nm 100 100- -120 120 100 100- -120 120 100 100- -120 120 100 100- -120 120 100 100- -120 120 100 100- -120 120 Not Not Applycable Applycable
@ 1300 nm @ 1300 nm 0,9 0,9- -3,5 3,5 3,0 3,0- -10 10 3,0 3,0- -10 10 3,0 3,0- -10 10 0,9 0,9- -4,0 4,0 3,5 3,5
@ 1550 nm @ 1550 nm 20 20 3,5 3,5 3,5 3,5
(BW) (BW)
o o
(MHz (MHz- -km) km)
@ 850 nm @ 850 nm 200 200- -600 150 600 150- -500 500 150 150- -350 350 20 20- -500 500 10 10- -60 60 9 9- -25 25 0,5 0,5
@ 1300 nm @ 1300 nm 400 400- -1500 300 1500 300- -1000 300 1000 300- -1000 20 1000 20- -400 400 10 10
+5 +5
10 10
+5 +5
10 10
+5 +5
154
T Training Center raining Center
155
T Training Center raining Center
156
T Training Center raining Center
1.Transmitter Optik berfungsi untuk mengubah sinyal dengan daya
listrik menjadi sinyal dengan daya optik; dan menggabungkan
sinyal supervisory dan order wire dengan sinyal informasi.
2.Alarm Control Unit :
Mendeteksi kondisi perangkat; jika dideteksi ada gangguan, akan
dibangkitkan sinyal alarm dan diteruskan Alarm Unit.
3.Alarm Unit :
Membangkitkan indikator alarm.
4.Receiver Optik berfungsi untuk mengubah sinyal dengan daya
optik menjadi sinyal dengan daya listrik; dan memisahkan sinyal
supervisory dan order wire dari sinyal informasi.
157
T Training Center raining Center
158
T Training Center raining Center
159
T Training Center raining Center
B/U Converter Unit :
Mengubah Sinyal HDB-3/CMI menjadi sinyal Unipolar NRZ.
Membangkitkan sinyal alarm.
Coder Unit :
Mengubah Sinyal serial menjadi sinyal paralel (1 5).
Memasukkan sinyal auxiliary.
Mengubah dari paralel ke paralel (5 6).
Mengubah dari paralel ke serial (6 -1).
Optical Sender Unit :
Mengubah sinyal elektrik menjadi sinyal optik.
160
T Training Center raining Center
161
T Training Center raining Center
162
T Training Center raining Center
163
T Training Center raining Center
164
T Training Center raining Center
165
T Training Center raining Center
Optical Detector Unit :
Mengubah sinyal optik menjadi sinyal elektrik.
Decoder Unit :
Mengubah Sinyal serial menjadi sinyal paralel (1 6).
Mengeluarkan sinyal auxiliary.
Mengubah dari paralel ke paralel (6 5).
Mengubah dari paralel ke serial (5 -1).
U/B Converter Unit :
Mengubah sinyal Unipolar NRZ menjadi sinyal HDB-3/CMI.
Membangkitkan sinyal alarm.
166
T Training Center raining Center
167
T Training Center raining Center
168
T Training Center raining Center
169
T Training Center raining Center
170
T Training Center raining Center
171
T Training Center raining Center
Sinyal yang diproses didalam perangkat adalah sinyal-sinyal yang
didalamnya mengandung unsur tegangan DC, yang disebut dengan istilah
sinyal UNIPOLAR NON-RETURN TO ZERO (Unipolar NRZ) atau
sinyal BINERY.
Sinyal dengan unsur tegangan DC didalamnya, jika akan ditransmisikan
keluar perangkat, tidak akan bagus, karena :
1) Tegangan DC akan mengalami redaman yang besar.
2) Tegangan DC tidak bisa dilewatkan pada transformator penyesuai
impedansi.
172
T Training Center raining Center
Karena alasan-alasan tersebut, maka sinyal yang akan ditransmisikan harus diubah
kedalam bentuk sinyal yang didalamnya mengandung unsur tegangan AC.
Sebab :
1). Tegangan AC bisa ditransmisikan dalam jarak yang jauh tanpa
mengalami redaman yang berarti.
2.) Tegangan AC bisa dilewatkan pada matching transformer.
Untuk keperluan ini, sinyal unipolar NRZ (atau sinyal binary) harus
diubah kedalam bentuk sinyal dengan kode :
a) AMI (Alternate Mark Inversion)
b) HDB-3 (High Density Bipolar - 3 Levels)
c) CMI (Coded Mark Inversion)
173
T Training Center raining Center
Sinyal/Pulsa NRZ/RZ
Sinyal/Pulsa Non Return to Zero (NRZ) :
* Singkatan dari Non Return to Zero yang berarti tidak kembali ke Nol.
* Biasa dinamakan pulsa Unipolar.
* Memakai bilangan dasar dua (binery) yaitu bilangan (digit) 0 dan 1.
* Mempunyai dua harga yaitu high level ( + V volt ) dan low level (0 volt).
* Digit 0 dihargakan low level dan digit 1 dihargakan high level.
* Lebar pulsa sama dengan satu waktu periodenya (duty cycle = 100 %).
* Digunakan pada proses sinyal diperangkat dan perangkat saluran optik pada
kecepatan bit dibawah 622 Mb/s.
174
T Training Center raining Center
Sinyal/Pulsa Return to Zero (RZ) :
* Singkatan dari Return to Zero yang berarti kembali ke Nol.
* Biasa dinamakan pulsa Unipolar.
* Memakai bilangan dasar dua (binery) yaitu bilangan (digit) 0 dan 1.
* Mempunyai dua harga yaitu high level ( + V volt ) dan low level (0 volt).
* Digit 0 dihargakan low level dan digit 1 dihargakan high level.
* Lebar pulsa sama dengan separuh waktu periodenya (duty cycle = 50 %).
* Digunakan pada proses perubahan sinyal unipolar ke bipolar atau
sebaliknya dan perangkat saluran optik pada kecepatan diatas 622 Mb/s
175
T Training Center raining Center
SINYAL AMI (ALTERNATE MARK INVERSION).
Kode AMI digunakan pada sinyal dengan kecepatan :
- 64 Kbit/s (Order-0).
- 565 Mbit/s (Order-5).
Aturan pengkodean menurut Kode AMI adalah sbb. :
1) Disini terdapat tiga kondisi tegangan; yaitu tegangan positif,
negatif dan nol Volt.
2) Digit 1 akan dikodekan menjadi tegangan positif atau tegangan
negatif secara bergantian.
3) Digit 0 akan dikodekan menjadi tegangan 0 Volt.
Lihat Gambar-1.
176
T Training Center raining Center
Gambar-1 : Konversi dari sinyal Unipolar menjadi sinyal
dengan Kode AMI
0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
Sinyal Unipolar Non-Return to Zero (Sinyal Binary = 100 % duty cycle)
Sinyal dengan Kode AMI RZ (Sinyal Bipolar = 50 % duty cycle)
Sinyal Unipolar Return to Zero (Sinyal Binary = 50 % duty cycle)
Sinyal dengan Kode AMI NRZ (Sinyal Bipolar = 100 % duty cycle)
+
0
-
+
0
-
Pada contoh gambar diatas konversi dari unipolar ke bipolar daimulai dari polaritas positif.
177
T Training Center raining Center
SINYAL HDB-3 (HIGH DENSITY BIPOLAR - 3 LEVELS)
Kode HDB-3 digunakan pada sinyal dengan kecepatan :
- 2048 Kbit/s.
- 8448 Kbit/s
- 34368 Kbit/s.
Aturan pengkodean menurut Kode HDB-3 adalah sbb. :
1) Disini terdapat tiga kondisi tegangan; yaitu tegangan positif,
tegangan negatif dan tegangan nol Volt.
2) Digit 1 akan dikodekan menjadi tegangan positif atau tegangan
negatif secara bergantian.
3) Digit 0 akan dikodekan menjadi tegangan 0 Volt.
4) Deretan digit 0 berturut-turut maksimum 3.
178
T Training Center raining Center
Jika deretan digit 0 berturut-turut 4, atau kelipatannya; maka
deretan 0 tersebut akan diubah menjadi :
a.000V (V = bit violasi, polaritasnya sama dengan polaritas bit 1 atau bit tambahan
sebelumnya ); apabila sebelum deretan 4 0 tersebut terdapat digit 1 ganjil.
Polaritas bit violasi yang berdekatan harus berlawanan. Disini terdapat dua
kemungkinan polaritas bit V; yaitu :
a) 000V+ ; jika polaritas bit 1 atau bit tambahan sebelumnya adalah positif.
b) 000V- ; jika polaritas bit 1 atau bit tambahan sebelumnya adalah negatif.
b.B00V (B = bit tambahan, polaritasnya berlawanan dengan polaritas bit 1 atau bit
tambahan/bit violasi sebelumnya ); apabila sebelum deretan 4 0 tersebut terdapat
digit 1 genap, atau tidak ada digit 1. Disini juga terdapat dua kemungkinan
polaritas bit B dan bit V; yaitu :
a) B+ 00 V+; jika polaritas bit 1 atau bit tambahan sebelumnya adalah negatif.
b) B- 00 V-; jika polaritas bit 1 atau bit tambahan sebelumnya adalah positif.
Lihat Gambar-2
179
T Training Center raining Center
Gambar-.2 : Konversi dari sinyal Unipolar menjadi sinyal
dengan Kode HDB-3
0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
Sinyal Unipolar Non-Return to Zero (Sinyal Binary = 100 % duty cycle)
Sinyal dengan Kode HDB-3 RZ (Sinyal Bipolar = 50 % duty cycle)
Sinyal Unipolar Return to Zero (Sinyal Binary = 50 % duty cycle)
Sinyal dengan Kode HDB-3 NRZ (Sinyal Bipolar = 100 % duty cycle)
+
0
-
+
0
-
Pada contoh gambar diatas konversi dari unipolar ke bipolar dimulai dari polaritas positif.
180
T Training Center raining Center
SINYAL CMI (CODED MARK INVERSION).
Kode saluran ini digunakan pada sinyal dengan kecepatan :
- 140 Mbit/s (PDH Order-4)
- 155,52 Mbit/s (SDH STM-1)
Aturan pengkodean menurut Kode CMI adalah sbb. :
1) Disini terdapat dua kondisi; yaitu kondisi low level , dan kondisi high level.
2) Digit 1 akan dikodekan menjadi satu periode penuh high level atau satu
periode low level, secara bergantian.
3) Digit 0 akan dikodekan menjadi :
a. Setengah periode pertama low level.
b. Setengah periode sisanya high level.
Tidak boleh terbalik, setengah periode pertama high level, dan setengah periode
berikutnya menjadi low level.
Lihat Gambar-.3.
181
T Training Center raining Center
Gambar-3 : Konversi dari sinyal Unipolar menjadi sinyal
dengan Kode CMI
0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
Sinyal Unipolar Non-Return to Zero (Sinyal Binary = 100 % duty cycle)
Sinyal dengan Kode CMI
Sinyal dengan Kode CMI
Sinyal Unipolar Return to Zero (Sinyal Binary = 50 % duty cycle)
H
0
L
H
0
L
Pada contoh gambar diatas konversi dari unipolar ke CIM dimulai dari digit satu High
Level, dan gambar berikutnya digit satu Low Level.
182
T Training Center raining Center
SINYAL 1B/2B (1 BIT - 2BIT).
Kode saluran ini digunakan pada sinyal yang akan ditransmisikan melalui
kabel serat optik, dengan kecepatan :
- Sinyal elektrik 140 Mbit/s (PDH Order-4)
- Sinyal optik = 2/1 x 140 Mbit/s = 280 Mbit/s
Aturan pengkodean menurut Kode 1B/2B adalah sbb. :
1) Disini terdapat dua kondisi; yaitu kondisi low level , dan kondisi
high level.
2) Digit 1 akan dikodekan menjadi 2 digit 11 atau 00 secara
bergantian.
3) Digit 0 akan dikodekan menjadi 2 digit 01.
Lihat Gambar-.4.
183
T Training Center raining Center
Gambar-4 : Konversi dari sinyal Unipolar menjadi sinyal dengan Kode 1B/2B
0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
Sinyal Unipolar Non-Return to Zero (Sinyal Binary = 100 % duty cycle)
Sinyal dengan Kode 1B2B
Sinyal dengan Kode CMI
Sinyal Unipolar Return to Zero (Sinyal Binary = 50 % duty cycle)
H
0
L
H
0
L
0 1 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 1
0 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 1 0 1
Konversi dari sinyal unipolar menjadi sinyal 1B/2B sama dengan konversi dari sinyal
unipolar menjadi sinyal CMI
184
T Training Center raining Center
KODE 5B/6B (5 BIT - 6BIT).
Kode saluran ini digunakan pada sinyal yang akan ditransmisikan melalui kabel
serat optik, dengan kecepatan :
- Sinyal elektrik = 140 Mbit/s (PDH Order-4)
- Sinyal optik = 6/5 X 140 Mbit/s = 168 Mbit/s
Aturan pengkodean menurut Kode 5B/6B adalah sbb. :
1. Disini tidak terdapat kondisi yang baku; susunan digit 5B/6B itu harus demikian;
melainkan terserah kepada masing-masing pabrik yang membuat OLTE.
Jadi antara kode 5B/6B satu dengan lain pabrik sangat mungkin berbeda;
misalnya 5B/6B OLTE Fujitsu tidak sama dengan 5B/6B OLTE AT&T atau
dengan 5B6B OLTE Philips.
2. Setiap block 5-bit biner akan diubah menjadi 1 block 6-bit biner.
Sebagai contoh lihat Gambar-5
185
T Training Center raining Center
Gambar-5 : Konversi dari sinyal Unipolar NRZ menjadi sinyal 5B/6B
+
0
-
+
0
-
Sinyal Unipolar NRZ (satu block = 5 bit)
1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1
Sinyal 5B/6B
Sinyal Unipolar NRZ (satu block = 6 bit)
Konversi dari sinyal 5 paralel (5 bit) menjadi 6 paralel (6 bit).
Untuk kode saluran optik 5B/6B tidak ada standard baku, beda pabrik beda aturan
konversinya.
186
T Training Center raining Center
Contoh Pengkodean 5B/6B:
Kode 6B
Kode 5 B
0 00000
1 00001
2 00010
3 00011
4 00100
5 00101
6 00110
7 00111
8 01000
9 01001
10 01010
11 01011
12 01100
Mode +
50 110010
51 110011
54 110110
35 100011
53 110101
37 100101
38 100110
39 100111
43 101011
41 101001
42 101010
11 001011
44 101100
Mode -
50 110010
33 100001
34 100010
35 100011
36 100100
37 100101
38 100110
7 000111
40 101000
41 101001
42 101010
11 001011
44 101100
Mode
Berikutnya
+
-
-
+
-
+
+
-
-
+
+
+
+
Mode
Berikutnya
-
+
+
-
+
-
-
-
+
-
-
-
-
187
T Training Center raining Center
Contoh :
Sinyal 5B :
00000 00001 00010 00011 00100
Sinyal 6B :
110010 110011 100010 100011 110101
188
T Training Center raining Center
Contoh Pengkodean 5B/6B:
Kode 6B
Kode 5 B
13 01101
14 01110
15 01111
16 10000
17 10001
18 10010
19 10011
20 10100
21 10101
22 10110
23 10111
24 11000
25 11001
Mode +
45 101101
46 101110
14 001110
49 110001
57 111001
58 111010
19 010011
52 110100
21 010101
22 010110
23 010111
56 111000
25 011001
Mode -
5 000101
6 000110
14 001110
49 110001
17 010001
18 010010
19 010011
52 110100
21 010101
22 010110
20 010100
24 011000
25 011001
Mode
Berikutnya
-
-
+
+
-
-
+
+
+
+
-
+
+
Mode
Berikutnya
+
+
-
-
+
+
-
-
-
-
+
+
-
189
T Training Center raining Center
Contoh :
Sinyal 5B :
01101 01110 01111 10000 11001
Sinyal 6B :
101101 000110 001110 110001 011001
190
T Training Center raining Center
Kode 5 B
26 11010
27 11011
28 11100
29 11101
30 11110
31 11111
Mode +
26 011010
27 011011
28 011100
29 011101
30 011110
13 001101
Mode
Berikutnya
+
-
+
-
-
+
Mode -
26 011010
10 001010
28 011100
9 001001
12 001100
13 001101
Mode
Berikutnya
-
+
-
+
+
-
Kode 6 B
Contoh :
Sinyal 5B :
11010 11100 11100 11111 11111
Sinyal 6B :
011010 011100 011100 001101 011101
191
T Training Center raining Center
192
T Training Center raining Center
Pertama kali sistem transmisi optik menggunakan single mode fiber (SMF) dengan
panjang gelombang zero-dispersion terletak pada window 1310 nm, yang diatur dengan
Recommendation ITU-T G.652.
SMF ini cocok untuk produksi masal, karena struktur core kabelnya sangat sederhana.
SMF menjadi kabel yang sederhana, instalasinya mudah dan penggunaannya sangat
murah; sehingga SMF menjadi kabel fiber optik standard.
Kemudian berikutnya ditemukan tipe optik yang lebih bagus lagi, yaitu dengan menggeser
(shifted) zero-dispersion dari 1310 nm ke posisi 1550 nm, dan tipe kabel ini disebut
ZERO DISPERSION SHIFTED FIBER (ZDSF), yang diatur pada Rec. ITU-T G.653.
Tahap berikutnya dikembangkan tipe optik dari zero dispersion shifted fiber (ZDSF) ke
1550 nm WAVELENGTH LOSS-MINIMIZED SINGLE-MODE OPTICAL FIBRE
CABLE, yang diatur pada Rec. ITU-T G.654.
Produk ini kurang bagus (dianggap gagal), dan tidak (kurang) digunakan pada sistem
transmisi optik; dan kembali kepada Rec. ITU-T G.653.
Untuk Transmisi multi panjang gelombang didalam satu serat optik, G.653 (ZDSF) kurang
bagus, karena menimbulkan Four wave Mixing (FWM). Untuk itu maka dikembangkan
lagi serat optik jenis baru, dengan menggeser Zero Dispersi menjadi Non Zero Dispersion
Shifted Fiber (NZDSF); diatur pada Rec. ITU-T G.655.
193
T Training Center raining Center
1. ITU-T RECOMMENDATION G.652
(SINGLE-MODE OPTICAL FIBRE CABLE)
194
T Training Center raining Center
Kabel optik yang diatur didalam ITU-T G.652A ini adalah single-mode optical fibre cable bisa
digunakan untuk sistem transmisi sampai dengan STM-16.
Fibre attributes
Attribute Detail Value
Mode field diameter Wavelength 1 310 nm
Range of nominal values 8.6-9.5 m ( 0.7) m
Cladding Diameter Nominal 125.0 m 1 m
Core concentricity error Maximum 0.8 m
Cladding noncircularity Maximum 2.0%
Cable cut-off wavelength Maximum 1 260
Macrobend loss Radius 37.5 mm
Number of turns 100
Maximum at 1 550 nm 0.50 dB
Proof stress Minimum 0.69 GPa
Chromatic dispersion coefficient 0min/0max 1 300 nm/1 324 nm
S0max 0.093 ps/nm2km
Cable attributes
Attribute Detail Value
Attenuation coefficient Wavelength
Maximum at 1 310 nm 0.5 dB/km
Maximum at 1 550 nm 0.4 dB/km
Table 1/G.652 G.652A
195
T Training Center raining Center
Kabel optik yang diatur didalam ITU-T G.652B ini adalah single-mode optical fibre cable bisa digunakan
untuk sistem transmisi sampai dengan STM-64. Dispersi Chromatic pada umumnya akan dibutuhkan untuk
mengakomodasi transmisi high bit-rate pada daerah panjang gelombang 1 550 nm.
Fibre attributes
Attribute Detail Value
Mode field diameter Wavelength 1 310 nm
Range of nominal values 8.6-9.5 m (0.7 m)
Cladding Diameter Nominal 125.0 m 1 m
Core concentricity error Maximum 0.8 m
Cladding noncircularity Maximum 2.0%
Cable cut-off wavelength Maximum 1 260 nm
Macrobend loss Radius 37.5 mm
Number of turns 100
Maximum at 1 550 nm/at 1625nm 0.50 dB/0.50 dB
Proof stress Minimum 0.69 GPa
Chromatic dispersion 0min/0max 1 300 nm/1 324 nm
coefficient S0max 0.093 ps/nm2km
Cable attributes
Attenuation coefficient Maximum at 1 310 nm 0.4 dB/km
Maximum at 1 550 nm//at 1625 nm 0.35 dB/km//0.4 dB/km
Table 2/G.652 G.652B
196
T Training Center raining Center
Kabel optik yang diatur didalam ITU-T G.652C ini adalah single-mode optical fibre cable bisa
digunakan untuk sistem transmisi sampai dengan STM-64.. Dispersi Chromatic pada umumnya akan
dibutuhkan untuk mengakomodasi transmisi high bit-rate pada daerah panjang gelombang 1 550 nm.
Kabel optik ini bisa untuk transmisi ITU-T G.957 (SDH), pada panjang gelombang diatas 1 360 nm
dan dibawah 1 530 nm.
Fibre attributes
Attribute Detail Value
Mode field diameter Wavelength 1 310 nm
Range of nominal values 8.6-9.5 m (0.7 m)
Cladding Diameter Nominal 125.0 m 1 m
Core concentricity error Maximum 0.8 m
Cladding noncircularity Maximum 2.0%
Cable cut-off wavelength Maximum 1 260 nm
Macrobend loss Radius 37.5 mm
Number of turns 100
Maximum at 1 550 nm/at 1625 nm 0.50 dB/0.50 dB
Proof stress Minimum 0.69 GPa
Chromatic dispersion 0min/0max 1 300 nm/1 324 nm
coefficient S0max 0.093 ps/nm2km
Cable attributes
Attenuation coefficient Maximum at 1 310 nm 0.4 dB/km
Maximum at 1 383 nm s/d1 480 nm 0.4 dB/km
Maximum at 1 550 nm//at 1625nm 0.35 dB/km//0.4 dB/km
Table 3/G.652 G.652C
197
T Training Center raining Center
Table 4/G.652 G.652D (Low-Water-Peak Single-Mode Fiber)
Untuk WDM Optical Transmission pada Metropolitan Networks
Full-Spectrum Utilization (Low Attenuation pada daerah 1383nm)
Parameters Unit FutureGuide

-LWP
Mode Field Diameter at 1310nm m 9.2 0.4
Mode Field Diameter at 1550nm m 10.4 0.8
Attenuation at 1310nm dB/km 0.35
Attenuation at Water Peak dB/km 0.31
Attenuation at 1550nm dB/km 0.21
Attenuation at 1625nm dB/km 0.23
Attenuation vs. wavelength (1285-1330nm) dB/km 0.05
Attenuation vs. wavelength (1525-1575nm) dB/km 0.05
Cable Cut-off Wavelength nm 1260
Chromatic Dispersion (1285-1330nm) ps/(nm km) 3.5
Chromatic Dispersion (1550nm) ps/(nm km) 18
Zero Dispersion Slope ps/(nm
2
km) 0.092
Zero Dispersion Wavelength nm 1300-1324
Polarization Mode Dispersion ps/ km 0.2
Proof Level % 1.0
198
T Training Center raining Center
ITU-T G.652D : Small-Bending, High Reliability, Low-Water Peak
SM Fibre.
Memungkinkan Fibre di Bending s/d
Radius: 15mm
Excellent Bending Performance
Good Spliceability dengan
Conventional SM fibre
Cocok untuk kabel di pelanggan
(optical fibre cord, etc) dan drop cable
199
T Training Center raining Center
LWP = Low Water Peak
SR15 - SR15E - SR12E = Tipe kabel optik
O = Origin
E = Expanded
S = Short
C = Convensional
L = Long
U = Ultra Long
Radius Bending untuk core tipe SMF s/d 30 mm.
Radius Bending untuk core tipe SR15/SR15E s/d 15 mm
200
T Training Center raining Center
2. ITU-T G.653
( DISPERSION-SHIFTED SINGLE-MODE OPTICAL FIBRE CABLE )
201
T Training Center raining Center
Table 1/G.653 G.653.A cable base category
0.35 dB/km Maximum at 1550 nm Attenuation coefficient
Cable attributes
Maximum Uncabled fibre PMD coefficient

w

0max
D
max
(chromatic dispersion coefficient)
S
0max
(chromatic dispersion slope coefficient)
Chromatic dispersion coefficient
Minimum Proof stress
Maximum at 1550 nm
Number of turns
Radius
Macrobend loss
Maximum Cable cut-off wavelength
Maximum Cladding noncircularity
Maximum Core concentricity error
Nominal Cladding Diameter
Range of nominal values
Wavelength Mode field diameter
Detail
Attribute
Fibre attributes

0min//

0max
ps/km (Note)
25 nm
50 nm
3.5 ps/(nmkm)
0.085 ps/(nm
2
km)
0.69 GPa
0.5 dB
100
37.5 mm
1270 nm
2.0%
0.8 m
125 m 1 m
7.8-8.5 m (0.8 m)
1550 nm
Value
1500 nm/1600 nm
202
T Training Center raining Center
Sementara itu, Dispersion Shifted Fiber (DSF) - Rec. ITU-T G.653
mempunyai suatu karakteristik redaman yang rendah.
Panjang gelombang zero-dispersion dari DSF 1550 nm ini mempunyai
redaman paling rendah dibandingkan dengan type-type fiber optik yang ada
sekarang, dan mempunyai dispersi rendah (hampir sama dengan nol).
Karenanya, DSF sangat cocok digunakan untuk transmisi jarak jauh;
misalnya pada sistem transmisi trunk.
203
T Training Center raining Center
4. ITU-T G.654
(CUT-OFF SHIFTED SINGLE-MODE OPTICAL FIBRE CABLE)
204
T Training Center raining Center
Attribute Detail Value
Mode field diameter Wavelength 1550 nm
Range of nominal values 9.5-10.5 m (0.7 m)
Cladding Diameter Nominal 125 m 1 m
Core concentricity error Maximum 0.8 m
Cladding non-circularity Maximum 2.0%
Cable cut-off wavelength Maximum 1530 nm
Macrobend loss Radius 37.5 mm
Number of turns 100
Maximum at 1550 nm 0.50 dB
Proof stress Minimum 0.69 GPa (Giga Pascal)
Chromatic dispersion coefficient D
1550max
20 ps/nmkm
S
1550max
0.070 ps/nm2km
Cable attributes
Attenuation coefficient Wavelength
Maximum at 1550 nm 0.22 dB/km
Table 1/G.654 G.654.A
G.654 Adalah subkategori cut-off shifted single-mode optical fibre cable. Subkategori ini
cocok untuk sistem ITU-T G.691 (SDH s/d STM-256) dan ITU-T G.692 (WDM) dengan
Optical Amplifier pada daerah panjang gelombang 1550 nm.
205
T Training Center raining Center
4. ITU-T G.655
(NON-ZERO DISPERSION SHIFTED FIBER)
206
T Training Center raining Center
Non-Zero Dispersion Shifted Fiber (NZDSF).
Pada sistem WDM/DWDM, multi wavelength dipancarkan secara
bersamaan didalam satu optikal fiber. Pada kondisi panjang
gelombang mendekati dispersi nol akan mengalami beberapa
gangguan FWM.
Untuk mengatasi keadaan ini, yaitu menekan munculnya FWM;
maka pada kondisi wavelength dengan dispersi nol harus digeser
dari posisi panjang gelombang 1550 nm, menjadi sedikit lebih
besar atau menjadi sedikit lebih kecil.
Fiber dimana zero-dispersi wavelength digeser ini, disebut NON-
ZERO DISPERSION SHIFTED FIBER dan disingkat NZDSF;
dan ditetapkan pada Rec. ITU-T G.655. Lihat Gambar berikut.
207
T Training Center raining Center
Attenuation
0,40dB/km
0,25dB/km
Single WDM
channel multi-channel
1319 nm 1550 nm
wavelength
Kurva Redaman versus wavelength
208
T Training Center raining Center
Pada window 1319 nm mempunyai redaman kecil (0,40 dB/km),
dan cocok untuk transmisi single channel.
Pada window 1550 nm mempunyai lebih kecil lagi (0,25 dB/km),
dan cocok untuk transmisi multi channel (WDM/DWDM).
209
T Training Center raining Center
Dispersi(+)
Dispersi Zero
Dispersi(-)
wavelength
1319 nm 1550 nm
NZDSF(- )
(Rec. G.655)
DSF
G.653
NZDSF(+)
(Rec. G.655)
SMF ( Rec.G.652)
Shifted
C-band : 1530-1565nm
L-band : 1565-1625nm
WDM multi-channel area
Wavelength versus karakteristik dispersi; dan sejarah
pergeseran (shifted) zero dispersi dari 1310 nm ke 1550 nm.
210
T Training Center raining Center
Produksi kabel optik Single Mode pertama adalah SMF (Rec. ITU-
T G.652), bekerja pada center panjang gelombang 1319 nm, yang
kabelnya disebut Single Mode Fiber (SMF).
Kemudian berikutnya diketemukan tipe kabel optik yang lebih
bagus lagi, yaitu pada window 1550 nm (center frekwensi); diatur
dalam Rec. ITU-T G.653, yang dikenal dengan Shifted SMF. Jadi
kabel Shifted SMF ini mempunyai dispersi 0 pada panjang
gelombang 1550 nm.
Untuk transmisi multi panjang gelombang pada window 1550 nm
tidak bagus, karena pada dispersi 0 akan mengalami gangguan
Four Wave Mixing (FWM).
Efek FWM bisa diatasi dengan menggeser zero dispersi menjadi
lebih besar (dispersi +) atau menjadi lebih kecil (dispersi -); dan
diatur pada ITU-T G.655.
211
T Training Center raining Center
Wavelength zero-dispersi SMF 1310 nm (Rec. ITU-T G.652) digeser
(shifted) ke wavelength zero-dispersi single mode fiber 1550 nm, dan
yang disebut DSF (Rec. ITU-T G.653).
Dari zero-dispersion 1550 nm, diubah menjadi non-zero dispersion
shifted fiber (NZDSF) 1550 nm; NZDSF (+) dan NZDSF (-) (Rec.
ITU-T G.655.
212
T Training Center raining Center
Ada 2 tipe kabel optik NZDSF; yaitu :
1) Dispersi negatif pada 1550 nm, dan disebut NZDSF (-).
NZDSF(-) digunakan pada jaringan komunikasi ULTRA LONG HAUL
SUBMARINE CABLE SYSTEM.
Karena mempunyai panjang gelombang > dari 1550 nm; redamannya lebih kecil
dan pembuatannya lebih sulit, yang berarti harganya mahal.
2) Dispersi positif pada 1550 nm, dan disebut NZDSF (+).
NZDSF (+) sangat cocok digunakan untuk jaringan komunikasi terrestrial jarak jauh
dengan kapasitas besar; sistem transmisi WDM/DWDM.
Mempunyai panjang gelombang <1550 nm; pembuatannya lebih mudah, dan
harganya lebih murah.
213
T Training Center raining Center
3. CHARAKTERISTIK NZDSF DAN KABEL.
Tipe NZDSF (+) telah banyak dikembangkan dan diimplementasikan
dalam 2 standard susunan kabel; yaitu :
1) Susunan kabel core ribbon-slotted
2) Susunan kabel loose tube
3.1.Karakteristik NZDSF.
Karakteristik umum dari kabel optik NZDSF (+) bisa dilihat pada
Tabel-1; dimana Geometrical properties nya sama dengan fiber single
mode konvensional.
214
T Training Center raining Center
Table 1/G.655 G.655.A
0.35 dB/km Maximum at 1550 nm Attenuation coefficient
Value Detail Attribute
Cable attributes
positive atau negative Sign
0.1 ps/nm km//6.0 ps/nm km Minimum value of D
min
/D
max
1530 nm & 1565 nm
min
&
max
Chromatic dispersion
coefficient
Band: 1530-1565 nm
0.69 GPa Minimum Proof stress
0.50 dB Maximum at 1550 nm
100 Number of turns
37.5 mm Radius Macrobend loss
1480 nm Maximum Cable cut-off wavelength
2.0% Maximum Cladding noncircularity
0.8 m Maximum Core concentricity error
125 m 1 m Nominal Cladding Diameter
8-11 m (0.7 m) Range of nominal values
1550 nm Wavelength Mode field diameter
Value Detail Attribute
Fibre attributes
215
T Training Center raining Center
Table 2/G.655 G.655.B
0.4 dB/km Maximum at < 1625 nm
0.35 dB/km Maximum at 1550 nm Attenuation coefficient
Value Detail Attribute
Cable attributes
TBD Sign
TBD Maximum value of D
max
TBD Minimum value of D
min
TO BE DETERMINED

min
&
max Chromatic dispersion coefficient
Band: 1565- <1625 nm
5.0 ps/nm km
D
max
D
min
Positive atau negative Sign
1.0 ps/nm km//10.0 ps/nm km
Minimum value of D
min
/D
max
1530 nm & 1565 nm

min
&
max
Chromatic dispersion
coefficient
Band: 1530-1565 nm
0.69 GPa Minimum Proof stress
0.50 dB Maximum at < 1625 nm
0.50 Db Maximum at 1550 nm
100 Number of turns
37.5 mm Radius Macrobend loss
1480 nm Maximum Cable cut-off wavelength
2.0% Maximum Cladding noncircularity
0.8 m Maximum Core concentricity error
125.0 m 1 m Nominal Cladding Diameter
8-11 m (0.7 m) Range of nominal values
1550 nm Wavelength Mode field diameter
Value Detail Attribute
Fibre attributes
216
T Training Center raining Center
TABLE 1 CHARACTERISTICS OF NZDSF
Fiber type Non-zero dispersion-shifted single
mode fiber dengan dispersi
positive pada 1550nm.
Mode field diameter at 1550nm 8.40.6 microns
Chromatic dispersion at 1550nm +4.32.0 ps/nm/km
Dispersion slope at 1550nm Less than 0.05 ps/nm/km2 (Ave.
0.045)
Attenuation at 1550nm Max. 0.25 dB/km
Cladding diameter 1251 microns
Coating diameter Approx. 0.25mm
217
T Training Center raining Center
3.1. Tipe core Ribbon-slotted.
3.1.1. Susunan Kabel.
Kabel ini banyak digunakan di Jepang Dimana 2, 4 atau lebih
kabel diberi warna dan disusun didalam ribbon (pita).
Susunan kabel ini cocok untuk jumlah kabel fiber yang besar;
misalnya : 200 - 300 atau bahkan sampai dengan 1000 fiber.
Lihat Gambar berikut.
218
T Training Center raining Center
Central strength member
Slotted Core
Four-fiber ribbon
Optical fiber
Binder
Wrapping
Sheath
Gambar Contoh kabel core Ribbon-slotted (200 fiber)
219
T Training Center raining Center
3.1.2. Performansi Redaman.
Hasil pengukuran redaman terhadap kabel core ribbon-slotted
seperti Gambar-3 adalah sbb. :
- Redaman rata-rata 0,209 dB/km
- Redaman maksimum 0,230 dB/km
3.1.3. Kehilangan (loss) Sambungan.
Hasil pengukuran splice loss pada ribbon-slotted (splicing
menggunakan mesin penyambung) rata-rata adalah sbb. :
- Loss Rata-rata 0,039 dB
- Loss maksimum 0,130 dB.
220
T Training Center raining Center
3.1.4. Redaman versus Perubahan Temperatur.
Gambar berikut memperlihatkan redaman kabel versus perubahan
temperatur untuk kabel ribbon-slotted. Perubahan temperatur dari -
30 s/d +70 derajad celcius; dimana setiap perubahan temperatur
berlangsung 6 jam, dan ternyata NZDSF mempunyai kestabilan
redaman terhadap perubahan temperatur sangat stabil..
221
T Training Center raining Center
Kenaikan
Loss (dB/km)
0,10
0,05
0,00
-0,05
-0,10
awal 20 -30 70 -30 70 -30 70 20
Temperatur (derajad C)
Gambar Contoh Redaman versus Perubahan Temperatur NZDSF.
222
T Training Center raining Center
3.2. Tipe Kabel Loose Tube
3.2.1. Susunan Kabel.
Kabel loose tube adalah susunan kabel fiber optik standard yang
banyak digunakan didunia telekomunikasi. Satu atau lebih fiber
optik diberi warna (biasanya 6, 8 atau 12 fiber), dan dibungkus
didalam tabung thermoplastic, dan dibalur kompon.
Lihat Gambar berikut.
223
T Training Center raining Center
Central member
Optical Fiber
Cable filling compound
Wrapping
Inner Sheath
Corrugated steel amour
Gambar Contoh kabel loose tube dengan 96 fiber
Loose tube filling compound
Loose tube
Outer Sheath
224
T Training Center raining Center
3.2.2. Performansi Redaman.
Hasil pengukuran redaman terhadap kabel loose tube (1550 nm)
adalah sbb. :
- Redaman rata-rata 0,204 dB/km
- Redaman maksimum 0,230 dB/km
225
T Training Center raining Center
5. ITU-T G.656
(ULTRA SMALL-DISPERSION-SLOPE
NON-ZERO DISPERSION-SHIFTED SINGLE-MODE FIBER )
226
T Training Center raining Center
Ultra Small-Dispersion-Slope Non-Zero Dispersion-Shifted
Single-Mode Fiber (ITU-T G.656)
Digunakan untuk DWDM Optical Transmission, pada S-, C- &
L-Bands pada Metro Networks
Fitur-fitur.
Ultra Small Dispersion Slope didalam suatu Wide Range dari
Wavelengths pada S-, C- dan L-bands.
Small Chromatic Dispersion didalam suatu Wide Range dari
Wavelengths pada S-, C- dan L-bands.
Sama dengan Relative Dispersion Slope (RDS) pada SM fiber
227
T Training Center raining Center
1.0
%
Proof Level
0.1
ps/ km
Polarization Mode Dispersion
0.0033(Typical)
nm
-2
Relative Dispersion Slope (1550nm)
4.0-7.0
ps/(nm km)
Chromatic Dispersion (1530-1565nm)
2.0-8.0
ps/(nm km)
Chromatic Dispersion (1460-1625nm)
1450
nm
Cable Cut-off Wavelength
0.1
dB/km
Attenuation vs. wavelength (1460-
1625nm) Ref 1550nm
0.26
dB/km
Attenuation at 1625nm
0.23
dB/km
Attenuation at 1550nm
0.35 dB/km Attenuation at 1460nm
45(Typical)
mm
2
Effective Area(A
eff
)
7.7 0.4 Mode Field Diameter at 1550nm
Parameters Unit FutureGuide-USS
Specification ITU-T G.656
228
T Training Center raining Center
KESIMPULAN.
ITU-T G.652 standard Single
Mode Fiber (SMF) atau Non
Dispersion Shifted Fiber (NDSF).
Paling banyak dikembangkan
(95% dari produksi diseluruh
dunia).
Water Peak Region: ini adalah
daerah panjang gelombang sekitar
80 nm dari pusat panjang
gelombang 1383 nm dengan
redaman tingi.
229
T Training Center raining Center
ITU-T G.652c - Low Water Peak Non Dispersion Shifted Fiber.
230
T Training Center raining Center
ITU-T G.653 Dispersion Shifted Fiber (DSF)
Dia menggeser harga zero dispersion diantara window 1550nm.
Kanal-kanal yang dialokasikan dekat dengan panjang gelombang
1550 nm pada DSF akan sangat dipengaruhi oleh induksi noise
nonlinear effects yang disebabkan oleh Four Wave Mixing
(FWM).
231
T Training Center raining Center
ITU-T G.655 Non Zero Dispersion Shifted Fiber (NZDSF)
Sedikit dispersi chromatic pada panjang gelombang 1550 nm:
akan meminimalkan nonlinear effects.
Bagus untuk transmisi DWDM (band C dan L)
232
T Training Center raining Center
ITU-T
Standard
Nama Typical
Attenuation
value
(1550nm)
Typical CD
value
(1550nm)
Applicability
G.652 standard Single
Mode Fiber
0.25dB/km 17 ps/nm-km OK untuk xWDM
G.652c Low Water
Peak SMF
0.25dB/km 17 ps/nm-km Baik untuk CWDM
G.653 Dispersion-
Shifted Fiber
(DSF)
0.25dB/km 0 ps/nm-km Jelek untuk xWDM
G.655 Non-Zero
Dispersion-
Shifted Fiber
(NZDSF)
0.25dB/km 4.5 ps/nm-km Bagus untuk
DWDM
233
T Training Center raining Center
234
T Training Center raining Center
235
T Training Center raining Center
236
T Training Center raining Center
237
T Training Center raining Center