Anda di halaman 1dari 6

Disaster Preparednes Program : Bencana Banjir di Perpustakaan Oleh : Muhammad Fadli Bencana, terutama yang banjir, tampaknya tak

terelakkan dalam sejarah sebuah per pustakaan. Fokus program ini adalah pada bencana yang mengakibatkan bahan pustak a rusak akibat banjir; tujuannya adalah untuk memaksimalkan respon yang efisien pada saat bencana terjadi dan untuk meminimalkan hilangnya serta kerusakan pada bahan pustaka. Kerusakan tersebut tidak terbatas pada koleksi perpustakaan saj a akan tetapi juga mencakup kerusakan akibat dari masalah structural. Perencana an kesiapan bencana mencakup tiga tahap: 1) pencegahan, 2) respon, dan 3) pemuli han. Secara umum program ini mengambarkan prosedur untuk menyelamatkan berbagai bahan pustaka pada saat terjadi bencana atau dalam keadaaan darurat. Rencana disusun untuk membantu staf pepustakaan mengatasi kedaaan sebelum terjadi, setelah da n saat bencana berlangsung hingga penyelamatan koleksi perpustakaan pasca bencan a. Sebagian besar dari keadaan darurat yang semestinya dapat ditangulangi dengan be rbagai kegiatan pencegahan untuk meminimalisir kerusakan yang diakibatkan oleh b encana. Misalnya saja keadaan darurat yang disebabkan oleh banjir akibat interio r seperti bocorya pipa penyaluran air pada gedung perpustakaan dan banjir yang d iakibatkan bencana alam. Semestinya bencana banjir tersebut dapat diatasi dengan perencanaan gedung, penempatan koleksi, tata ruang perpustakaan, staf dan menja lin berbagai kerjasama dengan berbagai pihan dalam perencanaan program mengatas i bencana. Sebuah program disaster preparedness program dibuat mulai dari tahapan perencana an sebelum terjadinya bencana, upaya yang dilakukan disaat bencana terjadi. Tuju an utama dari program terbatas pada penyelamatan bahan pustaka, walaupun evakuas i staf dan penguna terdapat dalam program ini namun keamanan pribadi perlu diper timbangkan jika terjadi suatu bencana. A. Sebelum Banjir (Pencegahan) Sebelum terjadinya banjir ada bebe rapa tahapan yang dapat dilakukan untuk sebagai berikut ini. 1. Pembentukan Tim Tahap awal yang dilakukan untuk pembuatan disaster preparedness program adalah pembentukan tim. Pembentukan tim dalam membuat program, menjalankan dan mengev aluasi program bertujuan untuk mengkaji lebih mendalam tentang perencanaan untuk pencegahan sebelum bencana terjadi. Tim tersebut semestinya terdiri dari pustakawan bagian pelestarian, siSrkulasi, bidang fasilitas, pengembangan koleksi, informasi teknologi, pusat penelitian dan berbagai pihak yang terkait dalam bidang penanganan bencana. Tim diberdayak an untuk mengambil tindakan atau gerakan cepat dan mengalokasikan pengeluaran da na dalam situasi darurat. Adapun yang menjadi tangung jawab tim ini untuk membuat program tersebut adalah sebagai berikut. 1. Menjadi pusat pengetahuan tentang pencegahan bencana dan pemulihan dala m rangka untuk melayani sebagai sumber daya informasi. 2. Staf ini bertangungjawab untuk meningkatkan kesadaran pencegahan bencana dan pemulihan melalui program dan pelatihan. 3. Review rencana kesiapsiagaan terhadap bencana yang terjadi setiap tahuny a misalnya kesiapan dalam peningkatan curah hujan dan musim penghujan. 4. Memperoleh dan memelihara perlengkapan darurat sebelum musim banjir data ng yang dapat dipergunakan sepanjang tahunya. 2. Unsur-unsur yang perlu diperhatikan Aspek yang perlu diperhatikan pada saat pra bencana banjir yaitu gedung, koleksi , staf, users dan kerjasama dengan instansi terkait. Hal tersebut perlu menjadi perhatian utama, karena berpengaruh besar jika terjadi bencana banjir di perpust akaan. Aspek yang perlu di perhatikan pra bencana banjir adalah sebagai berikut.

2.1 Gedung Perpustakaan Sebuah gedung perpustakaan perlu untuk direncanakan secara baik agar berfungsi s ecara efektif dan efesien untuk memudahkan pengguna perpustakaan dan memberikan rasa nyaman, menyenangkan dan menarik. Hal tersebut dapat dilakukan dengan ranca ngan arsitektur dan pemilihan lokasi perpustakaan yang aman dari bencana banjir. Dalam mencegah dan meminimalisir kerusakan yang terjadi akibat banjir perencaan gedung dapat memperhatikan beberapa aspek berikut ini. Posisi gedung sebaiknya berada jauh dari sungai (kali), karena jika s uatu saat terjadi luapan pada air sungai dapat memicu terjadinya banjir pada per pustakaan. Selain pintu umum, setiap perpustakaan harus mempunyai pintu darurat yang hanya digunakan sewaktu-waktu saja terutama dalam keadaan darurat dan jalur evakuasi dapat mudah, dan aman untuk diakses dari berbagai penjuru diperpustak aan. Saluran air dibangun 1 meter disekitar gedung perpustakaan, dengan ke dalam 50 cm berutujuan untuk menyalurkan air hujan. Lantai satu perpustakaan lebih tinggi 50 cm dari permukaan tanah dapa t disesuaikan dengan keadaan geografis pada suatu daerah. Pemasangan instalasi listrik pada titik yang aman. Saluran air yang dibangun untuk mengatasi luapa air hujan disekeliling perpustak aan masih terlihat dangkal serta pengerukan selokan tidak dilakukan secara berka la. Jika musim hujan terjadi, maka sanggat rentan untuk terjadi luapan karena ti dak mampu untuk menampung volume air yang cukup tinggi dan dapat memicu terjadin ya banjir. 2.2 Koleksi Koleksi merupakan hal yang utama bagi sebuah perpustakaan. Penyelamatan koleksi perpustakaan merupakan hal yang terpenting untuk penyelamatan informasi didalamn ya. Perencanaan untuk penempatan koleksi sebelum terjadinya bencana dapat dilakukan dengan pemilihan perabotan/mebel perpustakaan yang didesain seefektif mungkin un tuk penempatan koleksi. Hal tersebut dapat diakukan dangan memberi jarak dan rua ng untuk masing-masing perabotan dengan lantai perpustakaan, hal ini dilakukan u ntuk memberikan ruang untuk air dan menghindari koleksi basah jika terjadi banj ir. Penempatan koleksi pada setiap rak diusakan untuk tidak menempati rak pada b agian paling bawah jika kolekasi perpustakaan berada pada lantai satu. Penataan ruangan untuk penempatan koleksi perlu dilakukan dalam upaya penyelamat an koleksi perpustakaan. Misalnya saja jika perpustakaan memiliki beberapa lanta i, maka sebaiknya lantai dua dapat dipilih menjadi tempat peyimpanan koleksi kar ena dapat mengamankan koleksi dari banjir yang terjadi akibat bencana. 2.3 Pustakawan Pustakawan adalah orang yang memberikan dan melaksanakan kegiatan perpustakaan d alam usaha pemberian layanan kepada penguna. Peran pustakawan sangat besar dalam upaya pencegahan kerusakan koleksi yang diakibatkan oleh banjir. Jika terjadi b encana pustakawanlah yang akan menjadi pionir yang berada pada garis terdepan, k arena pustakawan mengetahui seluk beluk gedung perpustakaan mulai dari jalan eva kuasi, instalasi listik yang membahayakan dan posisi koleksi serta berbagai info rmasi yang harus diselamatkan. Upaya yang perlu dilakukan pustakawan untuk meminimalisir kerusakan bahan perpus takaan jika terjadi bencana dapat dilakukan beberapa kegiatan berikut ini. memberi pendidikan dan pelatihan tanggap bencana khususnya banjir melakukan berbagai simulasi untuk mengevakuasi pengguna perpustakaan ( library users) anak-anak, lansia dan ibu hamil untuk menjadi target sasaran utam a dalam penyelamatan. pelatihan mengevakuasi koleksi perpustakaan dengan mengunakan peralatan tanggap bencana seperti perahu karet atau mengunakan tanga darurat untuk naik pa da lantai berikutnya. daftar nomor telepon yang penting dihubungi jika bencana terjadi

Bagian tekniksi perpustakan mematikan sesmua mesin, aliran lisrik yan g tidak diperlukan pada malam hari dan disaat perpustakaan tutup mengingat jika banjir terjadi pada malam hari. Membuat salinan/copy drive dokumen yang penting di perpustakaan Menjaga kebersihan drainase disekitar perpustakaan secara berkala 2.4 Penguna Perpustakaan (User) User adalah pengguna perpustakaan yang perlu dievakuasi saat bencana terjadi. Un tuk mencegah timbulnya korban di perpustakaan pustakawan dapat menginformasikan kepada users pintu evakuasi keluar dari ruangan perpustakaan dengan membuat papa n informasi yang berisikan jalur evakuasi diposisikan pada meeting point di perp ustakaan. Perpustakaan dapat bekerjasama dengan pihak yang terkait untuk memberikan penget ahuan kepada penguna mengenai banjir. 2.5 Kerjasama Perpustakaan tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya kerjasama dengan pihak lai n yang mendukung operasional kegiatan perpustakaan. Dalam perencanaan program ta nggap bencana seperti banjir perpustakaan dapat bekerjasama dengan TIM SAR Kota, Badan Penangulangn Bencana, Pemuda Tanggap Bencana. Kerjasama tersebut perlu d ilakukan untuk memberikan pengetahuan untuk mencegah bencana dan supply peralata n evakuasi dan komunikasi disaat terjadinya bencana. B. Disaat Banjir Bencana seperti banjir memang tidak pernah diharapkan, akan tetapi sering terjad i sepanjang sejarah. Respon yang baik sangat diperlukan oleh berbagai pihak dal am menangapi banjir sangat dibutuhkan untuk penyelamatan jiwa manusia dan koleks i perpustakaan. Disaat terjadinya banjir semestinya dilakukan beberapa respon be rikut. 1. Evakuasi Pengunjung a) Memberikan peringatan dini pada seluruh pengunjung dan pustakawan melal ui alarm bahaya untuk langkah evakuasi awal. b) Pastikan jalan keluar dari perpustakaan atau tempat yang lebih aman ti dak terhalang oleh apapun. c) Bantu pengunjung anak-anak, orang tua (lansia), ibu hamil dan orang ya ng memiliki keterbatasan fisik menuju tempat yang aman d) Bila terpaksa berjalan melewati air, jangan berjalan melewati arus air dan gunakan tongkat untuk memeriksa keadaan jalan untuk kedepan 2. a) matikan b) ng aman c) d) embaran Evakuasi Barang Elektronik Matikan seluruh aliran listrik dari sentralnya dan hubungi PLN untuk me listrik pada wilayah banjir Pindahkan peralatan elektronik seperti computer, hardisk ke tempat ya Matikan computer dan cabut dari aliran listrik Tutup semua komputer, printer dan peralatan elektronik lainnya dengan l plastik.

3. Evakuasi Koleksi dan Dokumen a) Pindahkan koleksi yang mungkin akan terkena air kepada tempat yang aman / tidak basah b) Tutup koleksi dengan mengunakan plastic c) Kunci dan amankan semua lemari, dokumen dan peralatan dengan aman d) Tutup dan kunci dengan aman lemari arsip, sampai memungkinkan tidak mas uk air kedalamnya 4. Hubungi Pihak terkait a. Menghubungi PLN wilayah Kota Padang setempat untuk mematikan listrik p ada wilayah tersebut dan memberitahukan kalau sedang terjadi banjir. b. Menghubungi TIM SAR untuk mengevakuasi korban yang masih terjebak dida

lam ruangan perpustakaan c. Menghubungi Ambulance dan Rumah Sakit, untuk memberikan pertolongan p ertama kepada korban d. Bertitakan kepada bagian tanggap bencana kota dan mempertahankan konta k dengan staf perpustakaan lain saat evakuasi berlangsung e. Staf menghubungi orang-orang pada daerah lainya untuk mengetahui kem ana akan pergi untuk evakuasi. C. Setelah Banjir (Pasca Banjir) Setelah terjadinya banjir pastikan ruangan perpustakaan telah aman dan tidak ada lagi terdapat aliran listrik. Untuk tahapan awal perlu dilakukan survey mengana i kerusakan yang terjadi pada gedung perpustakaan, koleksi dan menetukan kemampu an semua personil perpustakaan (pustakawan) untuk dapat kembali bekerja melakuka n pembenahan terhadap banjir. Tahapan yang dilakukan pasca banjir adalah sebagai berikut ini. 1. Observasi Perpustakaan a. Memperkirakan jumlah volume yang basah koleksi perpustakaan, peralatan perpustakaan dan ruangan yang basah akibat banjir b. Menentukan jumlah ruangan yang dibutuhkan untuk proses evakuasi bahan pustaka dan memperkirakan pengunaan mesing pengering c. Menganalisis apakah gedung perpustakaan masih layak untuk digunakan . 2. Mencari Ruang Untuk perkerjaan lanjutan penanganan pasca bencana banjir adalah mencari ruang y ang bersih dan kering dalam artian yang memiliki sirkulasi udara yang baik, meng unakan kipas untuk menjaga udara bergerak dan suhu terendah. Untuk bekerja dalam menindaklanjuti semestinya ruangan memenuhi kriteria sebagai berikut ini. Memiliki Aksesbilitas Memiliki aksesbilitas yang mudah dijangkau untuk keperluan apa pun, misalnya jika perlu perbaikan yang lebih serius pada koleksi yang rus ak berat membutuhkan akses mobil dan truk untuk membawa koleksi ketempat peminda han sementara. o Area bekerja yang bersih o Mempertimbangkan jarak koleksi yang akan dievakuasi dan dibersihkan dengan ruangan o Ruangan terbuka, dengan permukaan datar memberikan kenyamanan kepada pengun a dan pembaca untuk tetap memanfaatkan koleksi perpustakaan setelah banjir o Memastikan suplly udara pada ruangan tetap terjaga dengan baik menghindari kedap udara. 3. Instrument Penyelamatan Koleksi a. Pengorganisasian Pustakawan menilai kerusakan. Penilaian dilakukan dengan memeri catatan tingkat dan sifat kerusakan koleksi. Membuat catatan dan foto jika diperlukan Menstabilkan lingkungan. Kondisi ideal untuk pemulihan adalah suhu normal Tempat ( menentukan lokasi pengeringan udara, pendingin dan ruang penyimpanan k oleksi) Menentukan transportasi yang akan digunakan dari daerah pemaketan dengan ruan gan yang digunakan untuk menyortir dan paket bahan perpustakaan. Area yang memuat dan menerima pasokan untuk pengiriman buku basah Rute koleksi yang akan dibuang dari gedung perpustakaan (dalam kondisi rusak pa rah) Areal istirahat bagi para pekerja mengatur makanan dan minuman serta melakukan ibadah sholat zuhur b. Pekerja Mengidentifikasi dan meminta pustakawan yang telah memiliki pengetahuan atau me ngikuti pelatihan tetang pelestarian bahan pustaka Mempertimbangkan dan mendata orang lain (relawan) yang bersedia membantu peke rjaan pelestarian bahan pustakan Menentukan status karyawan dibayar dengan honor atau dengan sukarela c. Peralatan

Peralatan yang digunakan untuk pekerjaan adalah sebagai berikut. Krat plastik atau kotak karton untuk pemaketan buku Kertas alumunium atau kertas berlapis lilin Pena untuk menandai bukti basah, clipboard, kertas berwana, tag Kipas Angin, generator listrik, pompa air, vacuum basah dan kering, thermomet er Trolly (kereta buku) untuk memindakah kotak-kotak yang berisi buku. d. Penyortiran dan Packing Penyortiran dan packing dilakukan oleh tim yang telah dibentuk sebelumnya yang m erencakan program ini dapat dibantu oleh pekerja lainya untuk membantu pekerjaan penyortiran. Tugas: Bawalah dan persiapkan peralatan untuk merakit tempat kemasan buku Kelompokan bahan pustaka yang rusak dan bungkus masing-masing buku yang basah d engan kertas pada tulang buku sebagai tanda. Selama koleksi, kemasan koleksi dan jenis bahan dapat digunakan (kering) kemba likan koleksi tersebut ke rak semula jika kondisinya memungkinkan Catata dan buat ringkasan pekerjaan penyortiran setelah dilakukan penelompoka n bahan pustaka e. Proses Pelestarian Koleksi yang rusak Pilihan yang dilakukan dalam pelestarian bahan pustaka terhadap banjir dapat dil akukan sesuai dengan tingkat kerusakan, jenis, tenaga kerja, keahlian, fasilitas yang dimiliki Beberapa metode yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut ini. Pengeringan Air Pengeringan air adalah proses yang sudah lama dilakukan dan merupakan hal yang p aling umum dilakukan jika berhubungan dengan buku-buku basah. Metoda ini dapat d igunakan untuk salah satu item untuk koleksi dengan jumlah kecil untuk buku yang lembab dan basah. Karena metode ini tidak memerlukan peralatan khusus, sering p andang dengan metode murah yaitu metode pengeringan. Metoda Pengeringan ini sanggat padat karya dan dapat menempati banyka ruangan. L angkah yang dilakukan adalah sebagai berikut ini. Berdirikan atau tengakan buku pada ruangan yang berfentilasi, pengeri ngan daerah dengan pengering atau kipas angin untuk menjaga sirkulasi udara. S ebuah buku dikatakan benar-benar kering ketika tidak lagi dingin untuk disentuh. Pengeringan udara dengan cara yang dijelaskan diatas, halaman buku da ri beberapa buku mungkin mulai merarik diri dan menyatu dengan lembaran-lembaran yang telah kering. Putar-putar buku setiap 30 menit untuk mendistribusikan uda ra secara merata dan menarik Untuk buku yang basah disisipkan untuk menghilangkan kelebihan kelemb aban tambahan. Bagian buku yang berisikan tulisan disispkan handuk bersih rata s etiap 20 lembar halaman atau lebih dan menganti halaman handun dan alternative s etiap 15 sampai 20 menit untuk mencegah distorsi. Pengeringan Pembekuan Koleksi ditematkan pada ruangan vakum baik koleksi yang basah maupun koleksi yan g suah membeku. Proses fisik yang dikenal sebagai sublimasi terjadi, yaitu, kris tal es menguap tanpa mencair berarti bahwa tidak ada distorsi pembengkakan atau tambahan di luar itu, sebelum materi ditempatkan dalam ruangan Proses ini membutuhkan peralatan yang sangat canggih dan sangat cocok untuk seju mlah besar buku sangat basah. Meskipun metode ini pada awalnya mungkin tampak le bih mahal karena peralatan yang diperlukan, hasilnya sering begitu memuaskan bah wa dana tambahan untuk dijilid ulang tidak diperlukan, dan lumpur, kotoran dan / atau jelaga diangkat ke permukaan, membuat pembersihan dapat dilakukan dalam wa ktu yang singkat Mencuci Proses mencuci ini diperlukan jika terdapat koleksi yang berlumpur. Hal yang dap at dilakukan adalah sebagai berikut ini. 1. Jaga buku agar tetap tertutup rapat dan tahan aliri dengan air berish 2. Hapus seperti lumpur yang melekat pada koleksi sebertis mungkin denga

n cara menyeka dengan spons halaman-halaman atau tepi buku. 3. Remas buku dengan lembut untuk membenuk kembali buku dan mengikatnya kembali. 4. Jangan mencuci volume , binding atau tulisan dari halaman, jika koleksi berbahan rapuh karena ditakutkan komponen larut bersama air Penyelamatan Koleksi Non Buku Untuk penyelamatan koleksi non buku dapat dilakukan beberapa tahapan berikut in i. CD-ROM dan DVD Bilas dengan air suling dan udara kering atau kering dengan kain bebas serat, m engelap disc dari pusat ke tepi Jika berlumpur, cuci dalam air sabun berhati-hati untuk menghindari gesekan yan g dapat menggores Bilas disk dalam air suling dan udara kering atau kering denga n lap bebas serat mengelap disc dari pusat ke tepi Mikrofilm Rolls Jangan keluarkan film dari kotak Tahan kardus (dan label) bersama dengan band-band karet. Isi kotak dengan air. Bungkus 5 karton film ke sebuah blok dengan bungkus plastik. Pack blok ke dalam kotak karton tugas berat dilapisi dengan kantong s ampah. Label sebagai film basah dan kapal untuk prosesor mikrofilm.

Kaset video Membongkar kaset dan kering sebagai untuk pita reel-to-reel Salin segera

Foto Prioritas pertama adalah untuk mengeringkan foto-foto collodion basah dan daguer reotypes meskipun tingkat pemulihan tidak mungkin sangat tinggi. Cetakan, negatif, dan transparansi Dalam rangka preferensi, metode pengeringan adalah: udara kering, beku, mencair dan udara kering, dan beku kering. Pengeringan vakum akan membuat foto tetap ber satu menjadi benjolan. Jika foto-foto yang telah direndam dalam air kotor, bersi hkan sebelum udara pengeringan atau pembekuan. Waktu dan fasilitas dapat menguba h hal berikut: Hitam dan putih cetak dan negatif Cuci selama setengah jam di perubahan air dingin. Seka kotoran dengan lembut da ri permukaan lalu bilas dengan air suling Referensi: Gladney, Henry. M. 2007. Preserving Digital Information. New York : Springer Ber lin Heidelberg Gupta, K Hars. 2003. Disaster Management. India: Universities Press (New Delhi) Gustin, Joseph F. 1996. Disaster Recorvery Planing : guide facilities for manang er. (electronic book)