Anda di halaman 1dari 6

TEORI DASAR PENGUKURAN

Pengukuran adalah membandingkan suatu besaran dengan besaran acuan atau besaran standar baik lokal, standar nasional maupun standar internasional. Besaran standar ini biasanya terdapat atau terpasang pada alat ukur, dan alat ukur ini harus di kalibrasikan agar bisa mengukur dengan baik dan tepat. Syarat - syarat besaran : Dapat didefinisikan secara fisik. Jelas dan tidak berubah terhadap waktu. Dapat digunakan dimana saja. Besaran terdiri dari : Besaran pokok Yaitu besaran yang sesuai dengan standar internasional. Besaran turunan Yaitu besaran yang diperoleh dari beberapa variabel dalam bentuk persamaan. Metrologi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari tentang cara-cara pengukuran besaran teknik. Metrologi industri adalah ilmu yang mempelajari pengukuran,karakteristik pengukuran suatu produk dengan menggunakan alat ukur tertentu,untuk mendapatkan hasil pengukuran. Agar bisa diukur, maka suatu produk teknik harus mempunyai karakteristik geometri seperti : dimensi kualitas permukaan bentuk posisi Karakteristik geometri ini akan mempengaruhi karakteristik fungsional dari produk. 1

Beberapa jenis pengukuran dalam metrologi : 1. pengukuran linear 2. pengukuran sudut 3. pengukuran profil 4. pengukuran ulir 5. Pengukuran roda gigi 6. Pengukuran posisi 7. pengukuran kerataan dan kedataran 8. Pengukuran kekasaran permukaan Dari ke delapan jenis pengukuran di atas, pengukuran linear adalah pengukuran yang paling sering digunakan. Karena bermacam-macam masalah keteknikan atau pengukuran dapat diselesaikan dengan pengukuran linear. Misalnya pengukuran dimensi dan toleransinya. Jenis-Jenis Alat Ukur a) berdasarkan sifat aslinya, dapat dibedakan atas : 1. Alat ukur langsung Alat ukur ini dilengkapi dengan skala ukur sehingga hasil pengukuran bisa langsung di baca atau diperoleh hasil pengukuran. Alat ukur ini cukup luas pemakaiannya dan banyak jenisnya. Misalnya jangka sorong. 2. Alat ukur pembanding atau comparator Alat ukur ini tidak bisa menunjukkan hasil pengukuran dengan skala ukur, tetapi hanya bisa membandingkan ukuran atau beda ukuran dari objek ukur. Misalnya Dial Indikator, Dial Test Indicator, Comparator. 3. Alat ukur standar Yaitu alat ukur yang dilengkapi dengan satu skala nominal, tidak dapat memberikan hasil pengukuran secara langsung dan digunakan untuk kalibrasi alat ukur lainnya. Misalnya Blok Ukur

4. Alat ukur kaliber batas Yaitu alat ukur yang berfungsi untuk menunjukkan apakah dimensi suatu produk berada di dalam atau di luar daerah toleransi produk tersebut. Misalnya Kaliber Lubang dan Kaliber Poros 5. Alat ukur Bantu Alat ukur Bantu bukan merupakan alat ukur tetapi mempunyai peranan penting dalam menentukan baik atau tidaknya hasil pengukuran. Misalnya adalah meja rata dan stand magnet. b) Berdasarkan sifat turunannya, dibedakan atas : 1. Alat ukur khas, contohnya alat ukur roda gigi 2. Alat ukur koordinat, contohnya alat ukur posisi c) Berdasarkan prinsip kerjanya, dibedakan atas : 1. alat ukur mekanik 2. alat ukur elektrik 3. alat ukur optik 4. alat ukur pneumatik 5. alat ukur hidrolik dan aerodinamik Adapun sifat dari alat ukur adalah : 1. Rantai kalibrasi Yaitu tingkatan dari proses penstandaran alat ukur. a. Alat ukur kerja di kalibrasi dengan alat ukur standar kerja b. Alat ukur standar kerja di kalibrasi dengan alat ukur standar c. Alat ukur standar di kalibrasi dengan alat ukur standar nasional d. Alat ukur standar nasional di kalibrasi dengan alat ukur standar internasional. 2. Kepekaan atau ( sensitivity ) Yaitu kemampuan alat ukur untuk merasakan suatu perbedaan yang relative kecil dari harga yang diukur.

3. kemudahan baca ( readibility ) Yaitu kemampuan dari sistem pembaca untuk menunjukkan hasil pengukuran dengan baik dan benar. 4. Histerisis Yaitu penyimpangan yang terjadi pada hasil pengukuran, dimana pengukuran dilakukan secara kontinu dari dua arah yang berlawanan. 5. Kepasifan atau Lambat Bereaksi ( pasivity ) Yaitu terjadinya perubahan kecil pada sensor, tetapi pada sistem penunjuk tidak menunjukkan perubahan apapun. 6. Pergeseran (Shifting) Yaitu terjadinya perubahan kecil pada sistem penunjuk padahal sesungguhnya sensor belum menunjukkan adanya perubahan. 7. Kestabilan Nol (Zero Stability) Yaitu kemampuan dari sistem penunjuk untuk kembali ke posisi semula (nol ) bila benda ukur diambil seketika, setelah dilakukannya pengukuran. 8. Pengambangan ( floating ). Yaitu keadaan dimana jarum penunjuk data atau angka digital selalu berubah rubah yang diakibatkan perubahan kecil pada sensor. Konstruksi Umum Alat Ukur : a. Sensor Bagian yang berkontak langsung dengan benda ukur Sensor terbagi atas : sensor mekanik sensor optik sensor pneumatik

b. Peubah (Tranducer ) Berfungsi mengubah besaran yang dirasakan oleh sensor menjadi besaran yang terukur, dan diteruskan ke sistem penunjuk.

Peubah terbagi atas : Peubah mekanik Peubah opto mekanik Peubah elektrik Peubah optoelektrik Peubah pneumatik Peubah optik

c. Sistem penunjuk/pencatat Bagian yang menunjukan hasil dari pengukuran yang dilakukan. Sistem penunjuk terbagi atas : penunjuk berskala - skala linear - skala melingkar penunjuk digital - mekanik - elektrik (LED) Cara-Cara Pengukuran Dalam Metrologi : 1. Pengukuran langsung Dilakukan dengan menggunakan alat ukur langsung, dimana hasil pengukuran dapat langsung diperoleh. 2. Pengukuran tak langsung Dilakukan dengan menggunakan alat ukur pembanding, alat ukur standar dan alat ukur bantu. 3. Pemeriksaan kaliber batas Dilakukan dengan menggunakan alat ukur kaliber batas, pengukuran ini untuk memeriksa apakah benda ukur berada di dalam atau di luar daerah toleransi. 4. Membandingkan dengan bentuk standar atau acuan

Dilakukan dengan membandingkan bentuk produk yang dihasilkan dengan bentuk standarnya/acuan. 5. Pengukuran geometri khusus Pengukuran dengan memperlihatkan imajinasi daerah toleransinya, alat ukur dan prosedur pengukuran dirancang dan dilaksanakan secara khusus. Karateristik Pengukuran : 1. Ketelitian ( accuracy ) Kemampuan alat ukur untuk menghasilkan nilai yang mendekati nilai sebenarnya. 2. Ketepatan ( precition ) Kemampuan alat ukur untuk menghasilkan nilai yang relatif sama dari beberapa pengukuran pada titik yang sama. 3. Kecermatan (resolition) Skala terkecil yang bisa dibaca oleh alat ukur dalam pengukuran.