Anda di halaman 1dari 2

Hipertensi adalah salah satu kondisi kardiovaskulat yang tidak terobati di United States. 29% dari penduduk US (58.

4 juta) memiliki hipertensi, tetapi hanya 31% dari orang-orang tersebut yang tekanan darah nya terkontrol secara adekuat (TD Sistolik < 140 mmHg dan TD Diastolik < 90 mmHg). Walaupun krisis hipertensi terlihat hanya sekitar 1% dari pasien yang dievaluasi hipertensinya, krisis ini terhitung meningkat hingga seperempat dari seluruh kunjungan kegawatdaruratan. Hasil klinis untuk pasien tanpa terapi dengan hipertensi emergensi sangat menyedihkan : kematian 1 tahun sekitar 70%-90%, angka kematian 5 tahun mendekati 100%. Pada tahun 1939, angka harapan hidup pada pasien dengan papiledema hanya 17%. Pada kasus ini, gagal ginjal terhitung sebanyak 40% dari kematian, diikuti dengan stroke (24%), infark miocard infark (11%), dan gagal jantung (10%). Tersedianya kemajuan terapi antihipertensi dan dialisis mengubah angka harapan hidup 1 tahun dan 5 tahun menjadi 75% dan 50%, masing-masing, dengan kontroln TD yang adekuat dalam 2 seri besar yang dilaporkan pada tahun 1990.

Krisis hipertensi dibagi menjadi emergencies dan urgencies. Hipertency emergency merupakan gabungan peningkatan berat dari tekanan darah, dengan akut, sedang berlangsung kerusakan target organ, dan ini merupakan kegawatdaruratan medis yang memerlukan penurunan TD segera (walaupun tidak perlu sampai rentang normal). Sebaliknya, hipertensi urgensi, terjadi peningkatan TD berat tanpa kerusakan target organ. Kebanyakan pasien ini tidak mengikuti terapi obat atau memiliki terapi hipertensi yang inadekuat.

DEFINISI HIPERTENSI EMERGENSI Hipertensi Emergensi dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah yang tiba-tiba dan berat, disertai dengan disfungsi organ target. Dapat dilihat berupa gangguan pembuluh darah otak akut atau kekacauan fungsi otak, acute coronary syndrome dengan iskemia atau infark, edema paru akut, atau disfungsi renal akut. Walaupun peningkatan tekanan darah sering terlihat sangat tinggi (Tekanan Darah Sistolik biasanya . 180 mmHg atau Tekanan Darah Diastolik > 120 mmHg), hal ini bukan merupakan peningkatan derajat tekanan darah, tetapi status klinis pasien yang memperlihatkan kegawat daruratan. Jarang pasien yang mengalami peningkatan sedang dari tekanan darah mengalami emergensi. Contohnya, tekanan darah dari seorang laki-laki 65 tahun dengan akut diseksi aorta dan wanita pada kehamilan trimester ketiga dengan eklamsia memperlihatkan hipertensi emergensi. Pasien dengan hipertensi emergensi hampir selalu membutuhkan terapi dengan obat parenteral di ICU atau bangsal rumah sakit. Status sosioekonimi dengan akses kesehatan yang sulit, ketidaktaatan terapi obat antihipertensi, ketergantungan obat dan alkohol, penggunaan kontrasepsi oral, dan merokok meningkatkan resiko dari hipertensi emergensi.

Peningkatan Tekanan Darah yang Parah (HIPERTENSI URGENSI) Menurut JNC 7, hipertensi urgensi adalah situasi yang berhubungan dengan peningkatan tekanan darah yang parah tanpa disfungsi organ target yang progresif. Contohnya termasuk peningkatan hipertensi derajat II berhubungan dengan sakit kepala yang berat, sesak nafas, mimisan, atau kecemasan yang berat. Sumber lain mendefinisikan bahwa hipertensi urgensi adalah pasien dengan Tekanan Darah Sistolik lebih dari 115-120 mmHg atau Tekanan Darah Sistolik lebih dari 180 mmHg. Walaupun pasien ini memiliki gejala kerusakan kronis target organ, seperti pada retinopati hipertensi derajat II, hipertrofi ventrikular, atau gagal ginjal kronik dengan proteinuria, adanya perburukan kerusakan target organ membedakan pasien ini dengan hipertensi emergensi. Meskipun dengan tekanan darah yang sangat tinggi, pasien ini memiliki resiko kecil dari serangan kardiovaskular setelah beberapa bulan pertama (walaupun mereka tidak diobati). Sekarang, tidak ada bukti yang menunjukkan adanya keuntungan daru penurunan TD pada pasien tanpa gejala dengan hipertensi berat.

Beri Nilai