Anda di halaman 1dari 2

PERKEMBANGAN BELAJAR REMAJA Secra umum karakteristik pemikiran remaja pada tahap ini adalah diperolehnya kemampuan berfikir

secara abstrak, menalar secara logis dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia 1. Berfikir secara abstrak Pada tahap ini anak yang menginjak usia remaja sudah dapat berfikir secara abstrak dan hipotesis, sehingga ia mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi, sesuatu yang bersifat abstrak. Pemikiran remaja sudah tidak lagi terbatas di sini dan sekarang, mereka sudah mampu memahami waktu historis dan ruang luar angkasa. Mereka dapat menggunakan symbol untuk menyimbol (misalnya, menjadikan huruf X sebagai angka yang tidak diketahui), dank arena itu, ia sudah dapat mempelajari aljabar dan kalkulus. Mereka dapat menghargai lebih baik metafora dan alegori, sehingga ia bias menemukan makna yang lebih kaya dan literature (Papalia, Old & Feldman, 2008). 2. Menalar secara logis Remaja di tahap ini dapat mengintegrasikan apa yang telah mereka pelajari dengan tantangan dimasa mendatang dan membuat rencana untuk masa depan. Meraka juga sudah mampu berfikir secara sistematik, mampu berfikir dalam kerangka apa yang mungkin terjadi, bukan hanya apa yang terjadi. Mereka DEWASA Pertanyaan yang paling banyak menimbulkan kontroversi dalam studi tentang perkembangan rentang hidup manusia adalah apakah kemampuan kognitif orang dewasa paralel dengan penurunan kemampuan fisik. Pada umumnya, orang percaya bahwa proses kognitif -- belajar, memori, dan inteligensi -- mengalami kemerosotan bersamaan dengan terus berkembangnya usia. Bahkan, ada yang menyimpulkan bahwa usia terkait dengan penurunan proses kognitif ini juga tercermin dalam masyarakat ilmiah. Akan tetapi, belakangan ini sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan tentang terjadinya kemerosotan proses kognitif bersamaan dengan penurunan kemampuan fisik, sebenarnya hanyalah salah satu stereotip budaya yang meresap dalam diri kita. 1. Perkembangan pemikiran postformal. Secara umum, orang dewasa lebih maju dalam penggunaan intelektualitas. Pada masa dewasa awal misalnya, orang biasanya berubah dari mencari pengetahuan menjadi menerapkan pengetahuan, yakni menerapkan apa yang diketahuinya untuk mencapai jenjang karier dan membentuk keluarga. Akan tetapi, tidak semua perubahan kognitif pada masa dewasa mengarah pada peningkatan potensi. Bahkan, kadang-kadang beberapa kemampuan kognitif mengalami kemerosotan seiring dengan pertambahan usia. Meskipun demikian, sejumlah ahli percaya bahwa kemunduran keterampilan kognitif yang terjadi, terutama pada masa dewasa akhir, dapat ditingkatkan kembali melalui serangkaian pelatihan. 2. Perkembangan memori. Salah satu karakteristik yang paling sering dihubungkan dengan orang dewasa dan usia tua adalah penurunan dalam daya ingat. Namun, sejumlah bukti menunjukkan bahwa perubahan memori bukanlah sesuatu yang pasti terjadi sebagai bagian dari proses penuaan, melainkan lebih merupakan stereotip budaya. 3. Perkembangan inteligensi. Suatu mitos yang bertahan hingga sekarang adalah bahwa menjadi tua berarti mengalami kemunduran intelektual. Mitos ini diperkuat oleh sejumlah peneliti awal yang berpendapat bahwa seiring dengan proses

memikirkan kemungkinan secara sistematik untuk memecahkan permasalahan. 3. Menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia Pada masa ini seorang remaja sudah mampu menyimpulkan sesuatu dari kejadian kejadian yang dialaminya. Sebagai contoh, sebuah mobil yang tiba tiba mogok misalnya, bagi anak yang berada pada tahap konkret operasional seger a diambil kesimpulan bahwa bensinnya habis. Ia hanya bias menghubungkan sebab akibat dalam satu rangkaian. Lain halnya dengan remaja, ia bia memikirkan beberapa kemungkinan yang menyebabkan mobil tersebut mogok, seperti mungkin businya mati, mungkin platinanya atau kemungkinan kemungkinan lain yang memberikan dasar bagi pemikirannya. Desmita, (2009). Psikologi Perkembangan Peserta Didik, Bandung: Rosda

penuaan selama masa dewasa, terjadi kemunduran dalam inteligensi umum. Hampir semua studi menunjukkan bahwa setelah mencapai puncaknya pada usia 18 dan 25 tahun, kebanyakan kemampuan manusia terus-menerus mengalami kemunduran. Witherington dalam bukunya, "Educational Psychology", menyebutkan 3 faktor penyebab terjadinya kemunduran kemampuan belajar dewasa. 1. Ketiadaan kapasitas dasar. Orang dewasa tidak akan memiliki kemampuan belajar bila pada usia mudanya juga tidak memiliki kemampuan belajar yang memadai. 2. Terlampau lamanya tidak melakukan aktivitasaktivitas yang bersifat intelektual. Orang-orang yang sudah berhenti membaca bacaan-bacaan yang "berat" dan berhenti melakukan pekerjaan intelektual, akan terlihat bodoh dan tidak mampu melakukan pekerjaanpekerjaan semacam itu. 3. Faktor budaya. Faktor yang dimaksud terutama dengan cara-cara seseorang memberikan sambutan, seperti kebiasaan, cita-cita, sikap, dan prasangkaprasangka yang telah mengakar, sehingga setiap usaha untuk mempelajari cara sambutan yang baru akan mendapat tantangan yang kuat. www.sabda.org/c3i/perkembangan_masa_dewasa