Anda di halaman 1dari 19

ABSTRAK Dalam meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan pegawai negeri sipil berhak untuk memperoleh gaji dan uang

tunjangan sesuai dengan tingkat golongan dan jabatannya yang adil dan layak, namun dalam pelaksanaanya tidak demikian Alternatif untuk menunjangnya adalah melalui kredit. Peluang bisnis tersebut dimanfaatkan oleh PT. Bank Mutiara dengan menyalurkan kredit dengan jaminan SK Pegawai tersebut menggunakan Surat Kuasa Memotong Gaji. Untuk mengkaji hal tersebut dilakukan pengkajian yang bersifat deskriptif. Dilakukan melalui pendekatan yuridis normatif dan yuridis sosiologis. dianalisis secara kualitatif dengan membandingkan data sekunder, menggunakan metode berpikir induktif dan deduktif. Adapun Hasil Menunjukan :
1. Faktor yang mendorong pegawai negeri sipil mengambil kredit adalah untuk menghindari jeratan rentenir dan suku bunga bank relatif murah. 2. Kredit pegawai negeri sipil tersebut membuat debitur lebih mampu memanfaatkan pendapatan yang akan diterima pada masa mendatang. 3. Penilaian kelayakan debitur dilakukan untuk memperoleh keyakinan bahwa kredit yang disalurkan akan kembali sesuai dengan syarat-syarat yang diperjanjikan. 4. Jaminan pokok kredit berupa hak tagih (gaji) tidak diikat, tetapi bank meminta surat kuasa memotong gaji. 5. Tidak diperlukan adanya persyaratan agunan tambahan, namun tingkat pengembalian kredit sangat baik. 6. Kredit macet diakibatkan adanya risiko bisnis maupun non bisnis, yang dapat diminimalkan dengan jalan monitoring. 7. Adanya ketenangan bagi pihak keluarga yang ditinggalkan oleh si debitur/peminjam manakala meninggal terlebih dahulu sebelum pinjaman kredit dilunaskan, karena adanya pihak asuransi yang sudah menanggung.

A. Latar Belakang B. Kegiatan pinjam-meminjam uang telah dilakukan sejak lama dalam kehidupan masyarakat yang telah mengenal uang sebagai alat pembayaran. Secara umum dapat dikatakan bahwa pihak peminjam uang kepada pihak yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari atau untuk memenuhi keperluan dana guna pembiayaan kegiatan usahanya. Dengan demikian, kegiatan pinjam-meminjam uang sudah merupakan bagian dari kehidupan masyarakat saat ini. Berdasarkan data statistic beberapa Bank BUMN khususnya BRI dan BJB diketahui telah memberikan fasilitas kredit untuk golongan berpenghasilan tetap, adanya pertumbuhan pasar yang pesat sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat, telah membuka potensi yang sangat besar untuk mengembangkan fasilitas kredit kepada golongan berpenghasilan tetap. Data menunjukan bahwa semakin maju masyarakat sebuah negara, maka tingkat ratio kredit konsumer terhadap pendapatan penduduk semakin besar. Hal tersebut dikarenakan dengan semakin majunya tingkat perekonomian sebuah bangsa, yang ditandai dengan semakin meningkatnya jumlah unit produksi barang dan jasa, yang berati jumlah kelompok fixed income (pekerjallabour) semakin masif sebagai target utama pasar kredit konsumer

Istilah perjanjian "credit ditemukan dalam instruksi pemerintah dan berbagai surat edaran, antara lain :

A. Instruksi Presidium Kabinet Nomor 15/EKA/10/96, yang berisi instruksi kepada bank bahwa dalam memberikan "credit bentuk apa pun, bank-bank mempergunakan "akad perjanjian 'credit". B. Surat Edaran Bank Negara Indonesia Unit I Nomor: 2/539/UPK/Pemb/1996 dan, C. Surat edaran Bank Negara Indonesia Nomor: 2/539/Pemb/1996 tentang Pedoman Kebijaksanaan di Bidang Perkreditan. Kredit kepada Golongan Berpenghasilan Tetap, selanjutnya disebut Kupedes Golbertap adalah "credit yang diberikan kepada calon debitur/debitur dengan sumber pembayaran (repayment) berasal darifixed income (gaji/pensiunan). Kupedes Golbertap dapat digunakan untuk membiayai pembelian barang bergerak maupun tidak bergerak, untuk biaya perbaikan rumah, biaya kuliah/sekolah, biaya pengobatan, pernikahan dan lain-lain. Kupedes Golbertap dapat pula diberikan untuk keperluan produktif.

Didalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 sebagaimana telah dirubah dengan UndangUndang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, telah mengatur hak-hak PNS, sehingga dapat diketahui apa yang menjadi hak atau bukan, haruslah mengacu pada ketentuan yang berlaku yang mengatur hak-hak PNS. Adapun perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, Pasal 1 angka 1 memberikan defenisi mengenai pegawai negeri, sebagai berikut :

"Pegawai Negeri adalah setiap warga negara Republik Indonesia yang telah memenuhi syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri, atau diserahi tugas negara lainnya, dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku." Lebih lanjut penjelasan atas Undang-Undang tersebut dalam ketentuan umum angka 7 menyebutkan bahwa untuk meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan, pegawai negeri berhak memperoleh gaji yang adil dan layak sesuai dengan beban kerja dan tanggung jawabnya. Untuk itu negara dan pemerintah wajib mengusahakan dan memberikan gaji yang adil sesuai standar yang layak. Pasal 7 ayat 1 Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan gaji yang adil dan layak adalah gaji yang mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, sehingga yang bersangkutan dapat memusatkan perhatian, pikiran dan tenaganya hanya untuk melaksanakan tugas yang dipercayakan kepadanya. Gaji yang diterima oleh pegawai negeri hams mampu memacu produktifitas dan menjamin kesejahteraanya. Bank sebagai lembaga keuangan yang kegiatan utamanya menghimpun dana dan masyarakat dalam bentuk simpanan (giro, tabungan, deposito) dan kemudian menyalurkannya kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit dana atau bentukbentuk lainnya, untuk meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Mengingat kondisi perekonomian Indonesia yang masih di bawah standar, dimana pendapatan masyarakat masih di bawah rata-rata, maka dalam hal ini peranan bank dalam bidang penyaluran kredit sangat penting keberadaannya. Kriteria pegawai yang dikategorikan sebagai pegawai berpenghasilan tetap untuk diberikan fasilitas kredit konsumtif adalah :

1. 2. 3.

Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pusat dan Daerah Anggota TNI, POLRI Pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

4. 5. . 6 7. 8.

Pegawai Perusahaan Milik Negara (Perum) Pegawai Perusahaan Persero Pegawai Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)1 1 Pegawai perusahaan yang telah Go Public Pegawai perusahaan swasta nasional, asing, yayasan, yang dinilai mempunyai dan dapat dipercaya kemampuan dan kelangsungan usahanya, mempunyai peraturan ketenagakerjaan / kepegawaian.

"Pegawai tersebut di atas hams sudah berstatus pegawai tetap. Sedangkan pegawai sementara maupun pegawai kontrak belum dapat dilayani. Demikian juga, perusahaan milik perorangan atau keluarga, walaupun dalam bentuk Perseroan Terbatas, belum dapat dilayani dengan kredit konsumtif."

Hak-hak pegawai negeri sipil seperti yang disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 adalah : a. b. c. d. Hak untuk memperoleh gaji Hak untuk cuti Hak pensiun Hak untuk mendapatkan perawatan, tunjangan cacat dan uang duka.

Dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat, terutama kepada pegawai, baik pegawai negeri maupun pegawai swasta, serta guna meningkatkan pendapatan BANK, maka dikeluarkanlah sistem kredit pegawai, yang peruntukannya bebas sesuai kebutuhan debitur, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan, perundang-undangan dan kaidah (norma) yang berlaku pada masyarakat. Keperluan tersebut antara lain untuk membeli barang tak bergerak, barang bergerak, atau keperluan-keperluan lainnya seperti biaya sekolah, biaya pengobatan, pernikahan dan sebagainya. Asas kesepakatan dalam mengadakan perjanjian adalah merupakan suatu dasar yang menjamin kebebasan orang dalam melakukan perjanjian. Hal ini juga tidak terlepas dart sifat Buku III KUHPerdata, yang hanya merupakan hukum yang mengatur sehingga para pihak dapat mengenyampingkan, kecuali terhadap pasal-pasal tertentu yang sifatnya memaksa.

Salah satu fungsi Bank sebagai perantara adalah untuk mengelola uang, oleh karena itu peranan bank sangat penting dalam perekonomian suatu negara. Bank juga sebagai transmisi membantu pemerintah dalam pembangunan nasional dengan berbagai fasilitas yang dimilikinya. Salah satu fasilitas yang disediakan adalah kredit, hal tersebut banyak diminati oleh masyarakat dengan motif dan konsumsi yang berbedabeda. Terdorong oleh desakan ekonomi yang kian hari semakin menghimpit, maka kredit adalah salah satu alternatif untuk mendapatkan modal atau dana yang diperlukan guna modal usaha, biaya kuliah/sekolah, biaya pengobatan, pernikahan, dan lain- lain. Jasa Perbankan pada umumnya terbagi atas dua tujuan, yaitu :
1.

Sebagai penyedia mekanisme dan alat pembayaran yang efesien bagi nasabah, untuk ini bank menyediakan uang tunai, tabungan, dan kartu kredit. Ini adalah peran bank yang paling penting dalam kehidupan ekonomi tanpa adanya penyediaan alat pembayaran yang efesien ini, maka barang hanya dapat diperdagangkan dengan cara barter yang memakan waktu.

2.

Dengan menerima tabungan dan nasabah dan meminjamkannya kepada pihak yang membutuhkan dana, berarti bank meningkatkan arus dana untuk investasi dan pemanfaatan yang lebih produktif. Bila peran ini berjalan dengan baik, ekonomi suatu negara akan meningkat. Tanpa adanya arus dana ini, uang hanya berdiam di saku seseorang, orang tidak dapat memperoleh pinjaman dan bisnis tidak dapat dibangun karena mereka tidak memiliki dana pinjaman

"Pemberian kredit merupakan salah satu kegiatan usaha bank konvensional dalam rangka mengelola dana yang agar produktif dan memberikan keuntungan. Dalam kegiatan operasional bank konvensional pada umumnya ditemukan adanya jaminan utang atau yang lazim disebut jaminan kredit (agunan)"

Dalam pelaksanaan penilaian jaminan utang dari segi hukum, pihak pemberi pinjaman seharusnya melakukanya menurut ketentuan hukum yang berkaitan dengan objek jaminan utang dan hukum tentang penjaminan utang yang disebut sebagai hukum jaminan. Hukum jaminan merupakan himpunan ketentuan yang mengatur atau berkaitan dengan penjamin dalam rangka utang piutang (pinjaman utang) yang terdapat dalam berbagi peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini.

Pada umumnya agunan dijadikan sebagai jaminan untuk memenuhi persyaratan pemberian kredit. Setiap pemberian suatu fasilitas kredit hams menyerahkan agunan berupa barang atau surat-surat berharga yang nilainya sesuai dengan besarnya pinjaman kredit. Agunan kredit berfungsi untuk melindungi bank dan segala kemungkinan yang dapat terjadi. Pihak bank hams teliti dan cermat dalam melakukan penelitian terhadap agunan yang diberikan oleh debitur, sehingga dikemudian hari agunan tidak menimbulkan masalah. "Pembagian jenis kredit yang disalurkan oleh bank dilihat dan jenis kegunaan, tujuan kredit, jangka waktu dan jaminan, jaminan yang diberikan merupakan satu hal yang penting dalam penilaian pemberian kredit oleh bank".

Agunan yang dijadikan salah satu persyaratan dalam pemberian kredit yaitu: agunan bempa benda yang menumt hukum digolongkan sebagai barang tidak bergerak seperti tanah dan bangunan, hak pakai yang diberikan bempa benda yang menumt hukum digolongkan sebagai barang bergerak seperti kendaraan bermotor yang dilengkapi dengan surat tanda nomor kendaraan bermotor dan bukti kepemilikan (BPKB), agunan bempa surat-surat berharga yang mempunyai hak tagih, agunan berupa SK PNS dan agunan bempa SK pensiunan PNS. Kita telah melihat di depan bahwa masalah hak-hak jaminan berkaitan erat dengan masalah eksekusi. Dan sehubungan dengan adanya kaitan tersebut kiranya logis, bahwa benda-benda jaminan seharusnya merupakan benda yang bisa dipindahtangankan, sebab suatu eksekusi pada hakikatnya merupakan pemindahtanganan benda jaminan dari pemilik kepada pembeli. "Walaupun dipindahtangankan SK Pegawai bukan merupakan nilai benda-benda tetapi yang di dapat dalam

(yang

mempunyai

pengoperan),

perkembangan dunia perkreditan, karena adanya kebutuhan surat tersebut dapat diterima oleh bank-bank tertentu sebagai jaminan kredit".7 Caranya adalah dengan menyerahkan SK Pegawai, serta memberikan surat kuasa kepada pihak bank untuk mengambil gaji serta memberikan surat kuasa kepada pihak bank untuk mengambil gaji si penerima kredit. Surat kuasa tersebut ditandatangani pula oleh bendahara kantor pemohon kredit. Sekalipun surat kuasa menerima gaji tersebut dibuat sebagai kuasa mutlak, tetapi jaminan semacam itu kedudukannya sangat lemah, karena gaji sangat bersifat pribadi, sehingga kematian yang bersangkutan akan berakhirnya gaji tersebut. Perwujudan dari nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila (khususnya sila kelima) tersebut, paling tidak terjelma dalam Pembukaan (UUD 1945) yang menyebutkan dengan tegas mengenai landasan pokok pembangunan bidang ekonomi dan sosial, yaitu adanya

ungkapan yang menyatakan "adil dan makmur, memajukan kesejahleraan umum, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Pasal 27 ayat (2) UUD1945 menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Keberhasilan tiap-tiap warga Negara Indonesia dalam memperoleh pekerjaan serta penghidupan yang layak bagi kemanusiaan tersebut adalah merupakan gambaran perwujudan masyarakat adil dan makmur. Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 menyatakan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan kemakmuran masyarakat hams diutamakan, bukan kemakmuran orang-perorangan. Masyarakat hams memegang peran aktif dalam kegiatan perekonomian, dan pemerintah berkewajiban untuk memberikan

pengarahan/bimbingan terhadap pertumbuhan ekonomi serta menciptakan iklim yang sehat bagi perkembangan dunia usaha. Manfaat dari adanya penyaluran kredit yang disalurkan oleh perbankan adalah sebagai berikut : 1. Manfaat kredit bagi masyarakat a) Kredit Konsumtif Manfaat yang dapat dirasakan debitur kredit konsumtif yang disalurkan kepada pegawai dan pensiunan yang membutuhkan adalah: Pertama, secara umum mereka menjadi mampu memanfaatkan pendapatannya, yang akan diterima pada masa mendatang untuk membeli kebutuhan barang dan jasa mereka. Kedua, untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keperluan yang bersifat mendesak (force majeur). b) Kredit Komersial Kegiatan usaha sangat tergantung pada tersedianya modal usaha (dana). Secara umum pengusaha mengalami kesulitan dana dalam upayanya untuk dapat memperluas pangsa pasar usaha (ekspansi pasar), sehingga memerlukan dana dalam bentuk kredit bank. Fasilitas kredit yang diberikan bank kepada nasabahnya untuk kepentingan pembiayaan piutang dan persediaan (inventory), disebut dengan kredit modal kerja (KMK). Sedangkan fasilitas kredit yang akan dipergunakan untuk memperluas jaringan kerja atau kapasitas produksi perusahaan, diberikan dalam bentuk kredit investasi (KI).

2. Manfaat kredit bagi perekonomian negara Peran kredit sangat penting dalam penetapan kebijakan moneter suatu negara, khususnya dalam pengawasan suku bunga pinjaman. Penetapan kebijakan moneter suatu negara terhadap perubahan money supply dapat dilakukan dengan pengawasan suku bunga pinjaman. Dalam keadaan resesi, kebutuhan pengeluaran negara meningkat, oleh karena itu money supply dibutuhkan lebih banyak lagi.Kebijakan ini dapat dilakukan dengan menurunkan suku bunga perbankan sehingga kredit yang disalurkan kepada masyarakat akan meningkat, akhirnya perekonomian negara menjadi terbantu. Sebaliknya, bila perekonomian berkembang cukup tinggi, maka suku bunga pinjaman ditingkatkan sehingga dampak inflasi yang lebih tinggi dapat dikendalikan dan pengeluaran negara dapat ditekan.8 Dalam keadaan resesi, kebutuhan pengeluaran negara meningkat, oleh karena itu money suply dibutuhkan lebih bayak lagi. Kebijakan ini dapat dilakukan dengan menurunkan suku bunga perbankan sehingga kredit yang di salurkan kepada masyarakat akan meningkat, akhirnya perekonomian negara menjadi terbantu. Sebaliknya, bila perekonomian berkembang cukup tinggi, maka suku bunga pinjaman ditingkatkan sehingga dampak inflasi yang lebih tinggi dapat dikendalikan dan pengeluaran negara dapat ditekan.9 Dalam kegiatan operasional perkreditan sehari-hari, mulai dan kegiatan permohonan kredit sampai dengan pelunasan kredit, misalnya dalam pembuatan perjanjian kredit, pengikatan jaminan, pada dasarnya di dalamnya terkandung aspekaspek hukum. Dalam praktek perbankan, risiko kredit lazimnya dikelompokkan menjadi dua macam/jenis :

(1). Risiko bisnis Risiko yang semata-mata disebabkan oleh adanya faktor yang murni dari sisi bisnis, baik yang berasal dari perusahaan penerima kredit, dampak ekonomi, bencana alam maupun faktor lain yang bersifat force mejeure. Debitur tidak dapat memenuhi kewajiban sesuai dengan syarat-syarat yang diperjanjikan, disebabkan oleh halhal yang tidak dikehendaki, misalnya krisis ekonomi, sehingga keuntungan yang diharapkan tidak terelisasi yang pada gilirannya tidak dapat membayar dan melunasi fasilitas kredit yang diterima dari bank/kreditur. (2). Risiko non bisnis Risiko yang timbul bukan disebabkan oleh faktor bisnis, tetapi lebih banyak disebabkan oleh adanya faktor negatif dari pejabat kredit bank penyalur kredit. Petugas kredit bank melakukan rekayasa kondisi/keadaan usaha debitur agar seolah-olah layak atau flekseable untuk diberikan kredit, dengan tujuan untuk mendapatkan imbalan dari debitur. Fasilitas kredit tersebut biasanya dipergunakan oleh debitur tidak sesuai dengan peruntukan yang

seharusnya, sehingga pada gilirannya kredit akan menjadi bermasalah. Dan jenis-jenis pengelompokan kredit yang ada, ditinjau dari banyaknya jumlah peminjam (debitur), kredit konsumtif menempati urutan pertama, yang diperuntukkan bagi pegawai berpenghasilan tetap secara perorangan. Untuk menjamin bahwa kredit konsumtif yang disalurkan akan dilunasi sesuai dengan persyaratan yang diperjanjikan, disamping penilaian mengenai aspek watak/karakter didasarkan pula pada kelangsungan pembayaran, tingkat pendapatan dan status kepegawaian debitur yang bersangkutan. Kredit konsumtif hams dijamin dengan suatu kepastian bahwa dapat dibayar langsung dari penghasilannya. B. Pengaturan dan Prosedur (SISDUR) Pelayanan Kredit Pengajuan awal fasilitas kredit oleh instansi/perusahaan, dilakukan secara kolektif minimal 5 (lima) calon debitur. Mesh demikian, Pimpinan Cabang (Pinca) diberikan kewenangan untuk melayani permohonan fasilitas kredit terhadap instansi/perusahaan yang pada awal pengajuannya dilakukan kurang dan lima calon debitur, dengan mempertimbangkan efesiensi pelayanan dan kemungkinan pengembangan kredit dimasa yang akan datang. Bank Unit dilarang memberikan fasilitas kredit kepada instansi/debitur yang telah mendapat fasilitas kredit jaminkan SK Pegawai dari Bank lain atau dari Unit-unit Bank yang telah memebrikan fasilitas kredit jaminan SK. (KC/KCP/PUSAT).

Calon debitur Pegawai Negeri Sipil yang hendak mengambil ktedit ke Bank terlebih dahulu mengisi formulir permohonan, dengan dilampiri : 1. 2. 3. 5. Foto copy identitas diri (suami/isteri) Foto copy Kartu Keluarga Asli SK Pengangkatan Pertama sebagai Pegawai tetap dan SK Terakhir, atau disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku di masing-masing instansi/perusahaan. Apabila SK Pegawai Tetap diberikan dalam bentuk SK kolektif, maka hams ada foto copy SK Kolektif yang disahkan oleh pimpinan perusahaan. Selanjutnya apabila SK definitif per individu diterbitkan, maka SK tersebut hams diserahkan ke BRI sebagai pengganti copy SK kolektif yang telah disahkan tersebut.Daftar Perincian Gaji terakhir yang disahkan oleh pejabat yang berwenang. Surat Pernyataan debitur. Surat Rekomendasi dari atasan debitur. Surat Kuasa Potong Gaji (Model PJ.05) kepada bendaharawan/juru bayar tempat gaji debitur dibayarkan, diatas materai cukup. Surat Kuasa Pendebetan rekening bagi debitur yang gajinya dibayarkan melalui Bank yang bersangkutan.

6. 7. 8. 9.

1. Analisis dan Putusan Kredit. a. Setelah seluruh persyaratan permohonan 'credit dipenuhi dan diserahkan oleh calon debitur, maka selanjutnya Pejabat Pemrakarsa memeriksa seluruh kelengkapan dan memastikan bahwa seluruh dokumen adalah sah dan masih berlaku. b. Pejabat Kredit (balk Pemrakarsa maupun Pemutus) hams meyakini dan memastikan bahwa calon debitur adalah benar-benar merupakan pegawai instansi atau pegawai tetap perusahaan, serta memastikan telah ada PKS dengan instansi/perusahaan yang bersangkutan. c. Pejabat Pemrakarsa kemudian menghitung jumlah 'credit yang bisa diberikan kepada debitur dengan menggunakan rumusan sebagaimana tertulis dibawah : X n (50% X THP) = 1 + (i X n) Keterangan : 1 = Konstanta i = Suku bunga flat per bulan n = Jangka waktu kredit (bulan) THP = Pendapatan bersih setelah dikurangi potongan Contoh perhitungan : A seorang calon debitur Kretap, dengan take home pay (THP) sebesar Rp.1.500.000,- per bulan. Yang bersangkutan mengajukan permohonan pinjaman dengan jangka waktu 4 tahun (48 bulan). Suku bunga yang berlaku sebesar 1,30% flat perbulan. Maka maksimum plafond Kretap yang dapat diberikan kepada calon d e b i t u r t e r s e b u t a d a l a h s e b e s a r : 1 X n (60 % X THP) = 1 + (i X n) 1 __________________ X 48 (60 % X 1.500.000) = 1 + (1,30 % X 48) = Rp. 26.598.240,- ( maksimum plafond kredit) Rumus ini dibuat dalam Model 75 kredit serta memberikan rekomendasi putusan dengan dilampiri hasil perhitungan Credit Risk Scoring (CSR). d. Seluruh berkas permohonan Kredit diajukan kepada Pejabat Pemutus untuk diputus sesuai limit.

C. Realisasi Dan Dokumentasi Kredit (a). Pada saat kredit akan direalisasi, hams dipastikan bahwa dokumen telah lengkap sesuai dengan yang dipersyaratkan dan biaya-biaya telah dilunasi oleh debitur, baik secara tunai atau overboolking dari simpanan debitur. (b). Sebelum realisasi, perlu diperhatikan syarat-syarat realisasi dengan melengkapi berkas kredit sebagai berikut: 1. Kuitansi pencairan 2. Foto copy KTP atau tanda pengenal lainnya 3. Foto copy Kartu Keluarga 4. Formulir Permohonan Kredit 5. Form Credit Risk Scoring (CRS) 6. Form Analisa dan Putusan Kredit/form Kredit. 7. Surat Pengakuan Hutang (Apabila debitur yang bersangkutan menikmati suplesi kredit, maka Addendum atas suplesi kreditnya disatukan dengan SPH kredit sebelumnya) 8. Untuk debitur pegawai aktif : Ash surat keputusan (SK) pengangkatan pegawai tetap, ash SK Kenaikan pangkat terakhir, dan atau persyaratan sebagaimana yang dipersyaratkan oleh Pinca/Pejabat Pemutus. 9. Untuk pensiunan, dokumen pensiun disesuaikan dengan ketentuan dari perusahaan asuransi/perusahaan dan pensiun debitur yang bersangkutan 10. Daftar perincian gaji 11. Surat pernayataan debitur 12. Surat pernyataan kesediaan memotong gaji dari pejabat yang berwenang 13. Rekomendasi atau izin pimpinan instansi/perusahaan yang bersangkutan 14. Surat Kuasa Potong Gaji / Surat kuasa Debet Rekening. "Jika dokumen sudah diyakini kelengkapan dan keabsahannya, maka Deskman mengisi dan menandatangani pada kuitansi pencairan (UM-01) sebagai maker, sedangkan sebagai cheker dan signer adalah Kepala Unit".

D. Perjanjian Kerja Sama (PKS) Pada prinsipnya, pemberian 'credit hanya bisa dilakukan apabila telah ada Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Bank dengan instansi/perusahaan tempat calon debitur/debitur bekerja. Untuk PKS yang barn dilakukan pertma kali dengan instansi/perusahaan, maka Pinca hams memperhatikan aspek hukum tentang :
a. b.

Pihak yang berwenang menandatangani PKS dengan Bank Kemungkinan adanya syarat/klausula yang dapat melemahkan Bank. PKS dibuat antara kanca Bank dengan suatu instansi/perusahaan, berlaku untuk seluruh Unit Kerja di bawah

kanca. Dengan demikian apabila suatu instansi/perusahaan telah mengadakan PKS dengan kanca, maka seluruh BRI unit yang berada dibawah kanca yang bersangkutan, dapat melayani pemberian kredit tanpa hams

membuat PKS lagi. Penandatanganan PKS oleh pimpinan atau kepala instansi/perusahaan atau pejabat yang berwenang dari instansi/perusahaan tempat calon debitur bekerja, hams dilakukan dihadapan pejabat Bank. Untuk instansi tertentu yang cakupan organisasinya besar (misalnya Polda, Mabes TNI, dan instansi sejenis lainnya) dimana setiap sub organisasi yang ada dibawahnya memiliki kewenangan untuk mengelola pembayaran gaji pegawainya, maka instansi tersebut dimungkinkan untuk melakukan PKS dengan lebih dari satu unit kerja Bank yang melakukan PKS dengan instansi-instansi tersebut hams melakukan hal-hal :
a.

Melakukan koordinasi dengan unit kerja Bank lain

Apabila terdapat perbedaan penetapan suku bunga, collection fee atau fitur lainnya oleh masing-masing unit kerja, maka penetapan perbedaan tersebut tidak boleh menyebabkan adanya perpindahan debitur dari satu unit kerja ke unit kerja lainnya dan tetap menjaga image BRI secara corporate. Sebelum proses pembuatan PKS, pejabat kredit (MBM / AMBM / Kaunit / Mantri) wajib melakukan on the spot ke instansi/perusahaan yang bersangkutan untuk menilai kelayakan instansi/perusahaan yang bersangkutan. Penilaian dituangkan dalam form Penilaian Kelayakan Instansi/Perusahaan. Asli PKS disimpan dan di tata kerjakan oleh Supervisor Administrasi Unit/Petugas Administrasi Unit, sedangkan untuk Bank Unit cukup mengadministrasikan foto copy/salinan PKS. Guna kelancaran angsuran pinjaman dan untuk mengantisipasi kemungkinan risiko yang mungkin timbul sebagai akibat adanya kebijakan instansi/perusahaan, maka dibuat perjanjian kerjasama (PKS) antara Bank dengan instansi/perusahaan tempat debitur bekerja. Perjanjian kerjasama tersebut isinya mencakup hak dan kewajiban masing-masing pihak, tanggung jawab dan kewenangan masing-masing pihak serta ketentuan lainnya yang dipandang perlu (misal : cara penyelesaian kredit bermasalah). Dalam memberikan pelayanan kredit, pejabat kredit harus melakukan analisis dan evaluasi atas instansi/perusahaan yang pegawainnya akan dilayani kredit, maupun terhadap individu per calon debitur. Sepertihalnya Bank BRI dan BJB yang teranalisis sebagai berikut :

1) Analisa kualiitatif (i) Penilaian Kelayakan Instansi/Perusahaan Penilaian terhadap instansi/ perusahaan dimaksudkan sebagai tahapan prescreening untuk melakukan perjanjian kerja sama pemberian kredit, serta untuk meyakinkan PKL bahwa perusahaan/instansi calon debitur layak untuk melakukan kerjasama dalam rangka pemberian kredit. Hasil penelitian tersebut dituangkan dalam form penilaian kelayakan Instansi/ Perusahaan. Hal utama yang menjadi perhatian dan dicermati adalah bonafiditas dari perusahaan tempat calon debitur bekerja. Kondisi perusahaan dinilai stabil apabila laba, omzet penjualan dan asset perusahaan minimal konstan dalam beberapa tahun terakhir. Dengan demikian secara teoretis perusahaan tersebut dalam jangka panjang akan terus mampu mempekerjakan dan menggaji para pegawainya, sehingga fasilitas Kretap yang diberikan kepada karyawan perusahaan dimaksud (dilihat dari sumber pembayaran kembali/gaji) relatif dapat terhindar dari risiko bermasalah. Disamping itu, prospek perusahaan baik secara regional maupun nasional, dapat menggambarkan kelangsungan perusahaan dalam jangka panjang, yang pada gilirannya akan berpengaruh kepada stabilitas perusahaan. Apabila instansi / perusahaan tersebut ternyata pernah/masih menjadi nasabah BRI, maka riwayat hubungan bisnisnya dapat di gunakan sebagai acuan dalam menetapkan struktur kredit, atau sebaliknya dapat digunakan sebagai dasar penolakan karena memiliki catatan yang buruk atau pernah merugikan BRI. Berkaitan dengan ketentuan kepegawaian, pemsahaan tersebut hams sudah memenuhi standar peraturan kepegawaian sebagaimana yang ditetapkan oleh pemerintah (misal astek,upah minimum regional). Jenjang karier pegawai hams jelas, karena apabila tidak jelas maka akan menimbulkan rasa frustasi dan suasana kerja yang tidak sehat, yang pada gilirannya akan dapat menimbulkan masalah kepegawaian. Sistem pemberian pesangon harus mendapatkan perhatian, karena mempakan sumber pengembalian kredit jika pemsahaan tersebut bermasalah. Demikian juga mengenai batas usia pensiun pegawai, karena menentukan maksimum jangka waktu kredit dan akan mempengaruhi besarnya kredit yang dapat diberikan. Hal utama lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah cara instansi/perusahaan tersebut menyalurkan atau membayarkan gaji pegawainya. Untuk lebih meningkatkan pengamanan, diupayakan secara optimal agar bersedia menyalurkan gajinya setiap bulan melalui BRI, sehingga pembayaran Kretap dapat langsung dipotong melalui rekening simpanannya (penampungan gaji debitur). Dari sisi legal aspek, adanya perjanjian kerjasama (PKS) antara BRI dengan pemsahaan, debitur bekerja mempakan syarat, mutlak dalam pelayanan Kretap, mengingat kesediaan untuk diikat dalam PKS sangat menentukan kelanjutan proses atas permohonan Kretap dan pegawai instansi/pemsahaan tersebut. Dokumen-dokumen yang dipersyaratkan oleh BRI adalah dokumen yang lengkap, benar dan sah (misal : rekomendasi

atasan, daftar perincian gaji hams dibuat dan ditandatangani atasan, daftar perincian gaji hams dibuat dan ditandatangani oleh pejabat yang berwenang untuk itu). (ii) Penilaian kelayakan calon debitur Perangkat yang dipergunakan dalam penilaian risiko kredit adalah dengan menggunakan CSR, dimana pengukuran tingkat risiko dilakukan dengan mengevaluasi faktor-faktor utama dalam "siklus hidup" debitur yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kegagalan pemberian kredit. Tata cara pengisian Credit Risk Scoring (CRS) menggunakan Score Card. Calon debitur hams memiliki status, kondisi dan karakter yang baik, yang dapat diketahui dan informasi atasannya, sesama calon debitur lainnya atau dari tetangga tempat domisili calon debitur. Apabila calon debitur tersebut adalah merupakan debitur lama, perlu diteliti lebih jauh apakah yang bersangkutan pernah masuk daftar hitam atau pernah tercatat sebagai debitur penunggak dengan itikad tidak baik. Demikian juga apakah yang bersangkutan sedang menikmati fasilitas kredit dari bank lain. Informasi tersebut akan dipakai sebagai salah satu daftar pertimbangan pemberian kreditnya. Status kepegawaian calon debitur hams sebagai "pegawai tetap", yang dibuktikan dengan ash surat keputusan pengangkatan sebagai pegawai tetap,

ditambah dengan ash surat keputusan kenaikan pangkat terakhir. Untuk lebih memperkecil risiko perlu persyaratan tambahan berupa asli kartu Taspen dan Asuransi. Sedangkan Penilaian kelayakan calon debitur kredit pegawai dilakukan untuk memperoleh keyakinan bahwa kredit yang akan disalurkan dapat dikembalikan sesuai dengan ketentuan yang diperjaniiikan, dengan melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan dan prospek usaha (The SC's Of Crediet). Untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan utuh, BRI melakukan irk) analisa secara : a. Analisa Kualitatif Dilaksanakan untuk mengetahui apakah calon debitur kredit konsumtif (Kretap) dan instansi/perusahaan tempat calon debitur bekerja dibayarkan memenuhi kriteria nasabah yang dilayani (KND) dan kriteria risiko yang dapat diterima ( K R D ) .

b.

Analisa kuantitatif Dilaksanakan untuk menentukan maksimum Kretap yang dapat diberikan kepada calon

debitur, terkait dengan besar keclinya penerimaan gaji bersih per bulan, (take home pay). Maksimum plafond Kretap didasarkan pada maksimum angsuran setiap bularmya, dikaitkan dengan jangka waktu kredit.

Tabel 4 : Jangka Waktu Kredit No Debitur 1. Pegawai Negeri Sipil, TNI, POLRI, BUMN/BUMD Pegawai Tetap perusahaan Swasta Pensiunan 38

Jangka Waktu (bulan) Maksimal 96 bulan Maksimal Maksimal 60 60 bulan bulan

Jangka waktu kredit dari 12 bulan sampai dengan 96 bulan (12 bulan, 18 bulan, 24 bulan, 30 bulan, 36 bulan, 42 bulan, 48 bulan, 54 bulan dan 60 bulan, 72 bulan, 84 bulan, 96 bulan). Meskipun jangka waktu kredit sampai dengan 96 bulan, namun penentuan jangka waktu benar-benar hams didasarkan kepada kebutuhan dan kemampuan membayar kembali dari calon debitur. Suku bunga flat/tetap, selama jangka waktu kreditnya sesuai dengan ketentuan suku bunga Kretap yang ditetapkan oleh BRI. Biaya provisi dan administrasi hams dibayar lunas pada saat realisasi kredit, baik secara tunai maupun overbooking sepanjang tidak berasal dari rekening pinjaman yang akan direalisasi.

Tabel 5 : Provisi dan Biaya Administrasi NO. Plafond 1. 2. 3. 4. Sid Rp. 10 juta > Rp. 10 Juta s/d Rp. 25 juta > Rp. 25 juta s/d Rp. 50 juta > Rp. 50 juta Biaya Administrasi Minimal Rp. 15.000,Rp. 25.000,Rp. 50.000,Rp. 100.000,Provisi Minimal

1 % dari plafond

38 Batas Maksimum usia debitur pensiunan pada saat kredit jatuh tempo adalah 75.

Bea materai sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan menjadi beban debitur. Agunan utama adalah gaji debitur yang bersangkutan, namun apabila dipandang perlu adanya agunan tambahan sebagai pendukung bagi

keamanan kredit, maka dalam pelaksanaannya sepenuhnya diserahkan kepada Judgement Pinca. Khusus untuk Pegawai Negeri yang gajinya tidak dibayarkan melalui BRI, apabila diberikan fasilitas Kredit dengan jangka waktu sampai dengan 96 bulan, agar dipertimbangkan mitigasi risiko lainnya, misalnya melalui adanya agunan tambahan, kecuali PKL benar-benar menguasai cash flow yang menjadi sumber repayment kredit. Denda atau pinalti dikenakan sebesar 50% kali besarnya suku bunga flat per bulan kali tunggakan angsuran pokok pinjaman. 2) Tahap realisasi pinjaman : (i) Delegasi wewenang memutus kredit Sebelum Kretap direalisasi, hams telah diyakini bahwa permohonan pinjaman tersebut telah diprakarsai / dianalisa, direkomendasi dan diputus oleh pejabat kredit ini yang berwenang. Pejabat kredit ini yang bertindak sebagai pemrakarsa, perekomendasi dan pemutus tidak boleh dirangkap (hams orang yang berbeda). Yang dimaksud dengan pejabat kredit ini adalah account officer yang telah diberi delegasi wewenang memutus kredit (sesuai limit kredit yang diberikan).

(ii) Persiapan dan realisasi Kretap Setelah semua persyaratan dapat dipenuhi oleh calon debitur, permohonan Kretap dianggap layak dan telah diputus oleh pejabat kredit ini yang berwenang, maka kredit dapat direalisasi. Dokumen-dokumen yang perlu dan harus ada pada saat realisasi adalah: formulir permohonan, formulir analisa permohonan dan putusan, asli surat keputusan pengangkatan pegawai pertama, surat keputusan kenaikan pangkat terakhir, foto copy identitas diri dan foto suami/istri, surat kuasa memotong gaji, surat kesanggupan juru bayar untuk memotong gaji, surat keterangan gaji terakhir, rekomendasi atasan.

Debitur suami/istri diminta untuk menandatangani surat pengakuan hutang yang telah dipersiapkan oleh petugas operasional pelayanan kredit (OPK). Proses selanjutnya petugas OPK menerbitkan instruksi pencairan kredit sebagai dasar pelaksanaan realisasi kredit. Petugas pembukuan melakukan pencatatan pembukuan yang diperlukan dan teller menyerahkan uangnya kepada debitur sesuai yang tercatat dalam surat pengakuan hutang.

3) Tahap angsuran dan pelunasan pinjaman Setiap bulan bank menerbitkan kuitansi tagihan secara perorangan (debitur), menyampaikannya kepada bendaharawan/juru bayar gaji instansi/perusahaan tempat debitur bekerja. Berdasarkan surat kuasa yang diterima dari debitur yang bersangkutan, bendaharawan/juru bayar tersebut melakukan pemotongan gaji sebesar yang tertera didalam kuitansi tagihan. Hasil pemotongan gaji tersebut disetorkan ke BRI sebagai angsuran atau pelunasan pinjaman Kretap. Untuk memperlancar pemotongan gaji, kepada pimpinan / bendaharawan / jurubayar / pejabat yang berwenang di perusahaan tempat debitur bekerja, diberikan insentif atas jasa pemotongan gaji dan pelimpahan setoran Kretap ke BRI. Besarnya insentif adalah 1% dari jumlah angsuran pokok dan bunga yang disetorkan ke BRI pada bulan yang bersangkutan. Apabila dikehendaki tambahan insentif, sehingga menjadi lebih besar dari 1%, maka dikompensasikan dengan menaikkan suku bunga kreditnya, dengan rumus :

Contoh : Kredit dengan jangka waktu 12 bulan dengan suku bunga 1,25% perbulan flat rate (15% per tahun), dengan insentif 1%. Apabila menghendaki tambahan insentif menjadi 2%, maka atas tambahan tersebut dapat dikompensasikan dengan menaikkan suku bunga kreditnya menjadi :

15% + 12

1 12

= 16 % =1, 33% per bulanflat rate

Kenaikan insentif diberlakukan secara khusus dengan mempertmbangkan tingkat persaingan dan performance kredit instansi yang bersangkutan. Terhadap insentif tersebut karena merupakan imbalan/penghasilan yang diterima oleh bendaharawan sehubungan dengan pekerjaan/jasa yang telah dilakukannya, maka dikenakan pajak (PPh pasal 21). Namun, terhadap bendaharawan pemotong gaji berupa badan/perusahaan, atas insentif yang diterimanya dikenakan PPN. Karena BRI sebagai instansi yang melaksanakan wapu (wajib pungut), maka sebelum insentif diberikan kepada bendaharawan, diperhitungkan terlebih dahulu dengan pajak yang hams dibayarkan.

Tabel 6 : Jangka Waktu Kredit Pegawai

No.
1. 2. 3.

Usia (Tahun)
S/d 65 tahun 66 s/d 70tahunI 71 s/d 79 tahun

Jangka Waktu Maksimum


1.

4 tahun (48 bulan) 3 tahun (36 bulan) 2 tahun (24 bulan)

Untuk mengantisipasi adanya risiko kemacetan kredit yang ditanggung oleh BRI akibat meninggalnya debitur, setiap debitur Kretap hams diasuransikan dengan fasilitas asuransi jiwa kredit kepada pemsahaan asuransi (penanggung) yang ditunjuk BRI, meskipun debitur yang bersangkutan secara perorangan telah mengasuransikan jiwanya. Asuransi jiwa kredit merupakan pertanggungan jiwa oleh pihak asuransi atas risiko jiwa pihak debitur tertanggung (nasabah Kretap), apabila debitur tertanggung tersebut meninggal dalam masa jangka waktu kredit. Besar nilai pertanggungan adalah sebesar pokok pinjaman yang tercantum dalam perjanjian kredit. Pemberlakuan ketentuan yang mewajibkan debitur kredit pegawai untuk diikut sertakan dalam asuransi jiwa adalah merupakan alternatif yang ditempuh oleh bank dalam rangka mengurangi/memperkecil risiko kredit. Apabila debitur meninggal dalam masa pertanggungan, maka hasil klaim asuransi jiwa tersebut dijadikan pembayaran/pelunasan kreditnya. Ditinjau dan sisi debitur, ketentuan pemberlakuan asuransi jiwa tersebut juga dirasakan menguntungkan, karena ahli warisnya tidak dibebani kewajiban untuk melunasi hutang debitur yang meninggal dunia. Berkaitan dengan penggunaan surat kuasa memotong gaji (sehingga tidak menggunakan lembaga jaminan gadai), dari hasil wawancara dengan Pimpinan PT. BRI (Persero) Cabang Iskandar Muda Medan diperoleh informasi bahwa pada prinsipnya BRI adalah lembaga yang berorientasi kepada laba (profit oriented), meskipun tidak terlepas adanya misi sebagai asas pembangunan (agent of development).

PROSPEK BISNIS Perkembangan PNS dilingkungan jawa barat dari tahun ketahun mengalami peningkatan yang signifikan. Berdasarkan catatan dinas pemerintah profinsi jawabarat tahun 2010 tercatatat sekitar 300 ribu PNS guru dengan 1200 CPNS honorer yang akan diangkat menjadi PNS dilingkungan Diknas Pemprof jawabarat. Mengingat jumlah PNS yang cukup besar dilingkungan jawabarat , maka besar kemungkinan peluang perbankan dalam merealisasikan kredit yang ditujukan pada PNS guru. Dengan berasumsi pada competitor yang telah memegang 70 % dari jumlah PNS guru di jawabarat, maka masih terdapat peluang yang progresif dengan memanfaatkan celah 30% dari populasi yang ada,. Dengan membaca peluang pertumbuhan PNS yang terus meningkat setiap tahunnya disertai dengan jumlah guru yang pension, maka dapat di asumsikan bahwa perkembangan bisnis kredit PNS guru akan dapat terus berjalan secara simultan.

MEKANISME BUSINESS BKN

LEMBAGA KEUANGAN

BKD

DIKNAS

KEPALA INSTANSI BENDAHARAW AN GURU