Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Korupsi merupakan permasalahan global yang harus menjadi keprihatinan semua orang.

Praktik korupsi biasanya sejajar dengan konsep pemerintahan totaliter, diktator yang meletakkan kekuasaan di tangan segelintir orang. Namun, tidak berarti dalam sistem sosial-politik yang demokratis tidak ada korupsi, bahkan bisa lebih parah praktek korupsinya. Korupsi selalu menyebabkan situasi sosialekonomi tak pasti (uncertenly). Ketidakpastian ini tidak menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi dan peluang bisnis yang sehat. Selalu terjadi asimetris informasi dalam kegiatan ekonomi dan bisnis. Korupsi merupakan permasalah mendesak yang harus diatasi, agar tercapai pertumbuhan dan geliat ekonomi yang sehat. Berbagai catatan tentang korupsi yang setiap hari diberitakan oleh media massa baik cetak maupun elektronik, tergambar adanya peningkatan dan pengembangan model-model korupsi. Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, pasal 1 menjelaskan bahwa tindak pidana korupsi sebagaimana maksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tindak pidana korupsi. Jadi perundang-undangan Republik Indonesia

mendefenisikan korupsi sebagai salah satu tindak pidana. Peraturan perundang-undang yang merupakan bagian dari politik hukum yang dibuat oleh pemerintah, menjadi meaning less, apabila tidak dibarengi dengan kesungguhan untuk manifestasi dari peraturan perundang-undangan yang ada. Politik hukum tidak cukup, apabila tidak ada recovery terhadap para eksekutor atau para pelaku hukum. Konstelasi seperti ini mempertegas alasan dari politik hukum yang dirancang oleh pemerintah tidak lebih hanya sekedar memenuhi meanstream yang sedang terjadi.

Dimensi politik hukum yang merupakan kebijakan pemberlakuan atau enactment policy, merupakan kebijakan pemberlakuan sangat dominan di Negara berkembang, dimana peraturan perundangundangan kerap dijadikan instrumen politik oleh pemerintah, penguasa tepatnya, untuk hal yang bersifat negatif atau positif. Dan konsep perundang-undangan dengan dimensi seperti ini dominan terjadi di Indonesia, yang justru membuka pintu bagi masuknya praktek korupsi di Indonesia. Korupsi di Indonesia telah membawa disharmonisasi dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat yang mengakibatkan terjadinya grafik pertumbuhan jumlah rakyat miskin terus naik karena korupsi. Dalam kehidupan demokrasi di Indonesia, praktek korupsi makin mudah ditemukan diberbagai bidang kehidupan. Pertama, karena melemahnya nilai-nilai sosial, kepentingan pribadi menjadi pilihan lebih utama dibandingkan kepentingan umum. Biro pelayanan publik justru digunakan oleh

pejabat publik untuk mengejar ambisi politik pribadi, semata-mata demi promosi jabatan dan kenaikan pangkat. Sementara kualitas dan kuantitas pelayanan publik, bukan prioritas dan orientasi yang utama. B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian korupsi ? 2. Apa penyebab orang-orang melakukan korupsi? 3. Bagaimana pandangan etis agama terhadap korupsi ?
C. Batasan Konseptual

Korupsi : penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan) untuk

kepentingan pribadi atau orang lain Subordinasi = menyubordinasikan : ke-kuatan-kekuatan politik yg saling bertarung -

lembaga-lembaga agama yg sebelumnya otonom (berdiri sendiri).


Harfiah : yang paling mendasar

Dikritisi : diberikan kritik Profesionalitas : kemampuan untuk bertindak secara profesional.

BAB II DESKRIPSI DAN ANALISIS DESKRIPSI KORUPSI

Korupsi berasal dari bahasa latin corruption dan dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutar balik, dan menyogok. Menurut Blacks Law Dictionary korupsi adalah perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memberikan suatu keuntungan yang tidak resmi dengan hak-hak dari pihak lain secara salah menggunakan jabatannya atau karakternya untuk mendapatkan suatu keuntungan untuk dirinya sendiri atau orang lain, berlawanan dengan kewajibannya dan hak-hak dari pihak lain. Korupsi juga merupakan suatu tindak perdana yang memperkaya diri yang secara langsung merugikan negara atau perekonomian negara. Jadi, negara dalam perbuatan korupsi meliputi dua aspek. Aspek yang memperkaya diri dengan menggunakan kedudukannya dan aspek penggunaan uang negara untuk kepentingannya (Prof. Subekti). Sedangkan, korupsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan) untuk kepentingan pribadi atau orang lain. Menurut Syeh Hussein Alatas, benang merah yang menjelujuri dalam aktivitas korupsi yaitu subordinasi kepentingan umum di bawah kepentingan tujuan-tujuan pribadi yang mencakup pelanggaran norma-norma, tugas, dan kesejahteraan umum, dibarengi dengan kerahasian, penghianatan, penipuan dan kemasabodohan yang luar biasa akan akibat yang diderita oleh masyarakat. Menurut Syed Hussein Alatas topologi korupsi ada 7, yaitu : 1. Korupsi transaktif yaitu korupsi yang menunjukan adanya kesepakatan tibal balik antara

pihak yang memberi dan menerima demi keuntungan bersama dimana kedua pihak samasama aktif menjalankan tindak korupsi. 2. Korupsi ekstortif yaitu korupsi yang menyertakan bentuk-bentuk koersi tertentu dimana

pihak pemberi dipaksa untuk menyuap agar tidak membahayakan diri, kepentingan, orangorangnya atau hal-hal lain yang dihargainya. 3. Korupsi investif yaitu korupsi yang melibatkan suatu penawaran barang atau jasa tanpa

adanya pertalian langsung dengan keuntungan tertentu yang diperoleh pemberi, selain keuntungan yang di harapkan akan di peroleh di masa datang. 4. Korupsi nepotistik yaitu korupsi berupa pemberian perlakukan khusus pada teman atau

yang mempunyai kedekatan hubungan dalam rangka menduduki jabatan publik. Dengan kata

lain mengutamakan kedekatan hubungan dan bertentangan dengan norma dan aturan yang berlaku. 5. Korupsi autigenik yaitu korupsi yang dilakukan individu karena mempunyai kesempatan

untuk memperoleh keuntungan dari pengetahuan dan pemahamannya atas sesuatu yang hanya diketahui sendiri. 6. Korupsi suportif yaitu korupsi yang menicu penciptaan suasana yang kondusif untuk

melindungi atau mempertahankan keberadaan tindak korupsi. 7. Korupsi defensif yaitu tindak korupsi yang terpaksa di lakukan dalam rangka

mempertahankan diri dari pemerasan. Dengan beranjak dari topoligi korupsi tersebut maka kita dapat memperoleh kegunaan dalam derajat tertentu tuntuk mengidentifikasi fenomena korupsi. Kemunculan topologi tersebut tergantung dari faktor-faktor penentu terjadinya korupsi yang berbeda antar satu negara. Namun ramuan-ramuan kebijakan nasional yang ada, tradisi birokrasi, perkembangan dinamika politik dan sejarah sosial.

BAB III PEMBAHASAN A. Pengertian Korupsi Pengertian Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri, di mana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali. Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsur-unsur sebagai berikut: perbuatan melawan hukum; penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana; memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi; merugikan keuangan negara atau perekonomian negara; Selain itu terdapat beberapa jenis tindak pidana korupsi yang lain, diantaranya: penyuapan Penyuapan dapat didefinisikan sebagai perbuatan atau tindakan dari satu pihak yang memberikan keuntungan kepada pihak lain agar tujuannya tercapai. Suap dalam lembaga pemerintahan dapat diberikan pada pelayanan publik (langsung) atau kepada orang atau entitas lain (tidak langsung). Dalam lingkungan politik, suap dapat diberikan oleh pihak yang berkepentingan untuk meminta kepada oknum pemerintah untuk mengubah keputusan atau tindakannya penggelapan Penggelapan dapat berarti mencuri atau mengambil sumber daya publik secara ilegal yang dilakukan oleh personel yang ditugasi dan diberi wewenang untuk mengendalikan sumber daya tersebut. Sebagai contoh oknum pemerintahan yang diberi wewenang untuk secara tidak benar agar kepentingannya dapat tercapai.

membagikan BLT, tetapi menyalahgunakan wewenang itu dan membagi BLT kepada masyarakat tidak sesuai dengan porsi yang seharusnya. Contoh penggelapan terselubung yang umum dilakukan adalah menggunakan fasilitas kantor, misalnya mobil dinas, untuk keperluan pribadi, misalnya mengantarkan anak ke sekolah atau istri ke pasar. Contoh ini bisa dikategorikan sebagai penggelapan, hanya saja, di Indonesia, hal tersebut sudah umum dilakukan ikut di semua level jabatan, meski ilegal dan tidak etis (unethical). pemerasan dalam jabatan; serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara); menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara). Menurut Transparency International ada beberapa bentuk korupsi: 1. Korupsi jalan pintas

Terjadi karena ada hubungan antara sektor ekonomi dan sektor politik dimana sektor ekonomi memberi keuntungan atau jasa pada jumlah tertentu pada sektor politik untuk membuat atau merubah Undang-Undang atau peraturan 2. Korupsi upeti

Yaitu korupsi yang karena jabatannya atau kewenangannya dia mengambil keuntungan. 3. Korupsi kontrak

Korupsi yang dilakukan orang yang melakukan upaya-upaya untuk memenangkan proyek pemerintah atau penyelenggara negara yang menyelenggarakan proyek pemerintah tanpa membuka tenden secara umum 4. Korupsi pemerasan

Aparat penegak hukum atau penyelenggara negara langsung meminta keuntungan atau jasa tertentu kepada perusahaan (biasanya dengan alasan keamanan). Korupsi di manapun dan kapanpun akan selalu memiliki ciri khas. Ciri tersebut bisa bermacam-macam, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Melibatkan lebih dari satu orang, 2. Korupsi tidak hanya berlaku di kalangan pegawai negeri atau anggota birokrasi negara, korupsi juga terjadi di organisasi usaha swasta, 3. Korupsi dapat mengambil bentuk menerima sogok, uang kopi, salam tempel, uang semir, uang pelancar, baik dalam bentuk uang tunai atau benda atau pun wanita, 4. Umumnya serba rahasia, kecuali sudah membudaya, 5. Melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal balik yang tidak selalu berupa uang,

6. Setiap tindakan korupsi mengandung penipuan, biasanya pada badan publik atau masyarakat umum, 7. Setiap perbuatan korupsi melanggar norma-norma tugas dan pertanggungjawaban dalam tatanan masyarakat, 8. Di bidang swasta, korupsi dapat berbentuk menerima pembayaran uang dan sebagainya, untuk membuka rahasia perusahaan tempat seseorang bekerja, mengambil komisi yang seharusnya hak perusahaan.

B. Latar Belakang terjadinya Korupsi Presepsi awal masyarakat bila mendengar pertanyaan apa alasan seseorang melakukan korupsi pasti karena penghasilan yang rendah dan tidak memadai. Namun, mari kita lihat beberapa contoh korupsi disekitar kita. Dari beberapa kasus yang kita temui ada hal yang dapat kita cermati terutama kasus yang terkait dengan beberapa anggota wakil rakyat. Seperti kita ketahui bahwa para anggota wakil rakyat tersebut sering dikritisi oleh elemen masyarakat karena fasilitas negara yang disediakan untuk mereka baik berupa gaji, tunjangan dan segala kenikmatan lainnya sudah tergolong bagus dan mengundang perasaan iri dari masyarakat pada umumnya. Dari kasus tersebut mungkin dapat mematahkan persepsi masyarakat pada umumnya bahwa penyebab utama perilaku korupsi adalah karena penghasilan yang rendah dan tidak memadai. Namun ternyata dengan penghasilan dan fasilitas yang baguspun masih mendorong orang untuk melakukan KKN. Jadi hal apa yang melandasi orang melakukan tindakan korupsi ? Pada dasarnya motif /alasan yang mendorong seseorang melakukan tindakan korupsi ada dua penyebab yaitu 1. dorongan kebutuhan (need driven) Masyarakat kita sebenarnya sudah mempraktekkan perilaku korup dari yang besar hingga yang kecil, jenjang tinggi hingga jenjang bawah. Dalam kasus koupsi kecil-kecilan misalnya, mungkin kita agak kasihan juga melihat penghasilan para pegawai tersebut yang hanya cukup untuk menunjang belanja mereka dalam kisaran minggu atau beberapa hari saja, sehingga untuk menutupi kekurangan penghasilannya ditutup dengan melakukan perbuatan tercela (need driven). Tapi sekecil apapun korupsi tersebut tetap saja itu adalah korupsi. 2. dorongan kerakusan (greed driven). Contohnya adalah pada saat kita berbelanja dipasar, apakah kita yakin bahwa beras yang kita beli sesuai dengan kwantitas atau kwalitas yang kita minta ? sangat jarang para pedagang

yang mau jujur dengan pelanggannya, meskipun tidak semuanya berperilaku demikian. Namun adakalanya korupsi dilakukan karena adanya desakan untuk memperoleh kenikmatan dan kenyamanan hidup dengan selera tinggi sedangkan daya dukungnya tidak memadai, sehingga korupsi adalah jembatan emas untuk mencapai impiannya (greed driven). Memang hal diatas sama-sama korupsi namun ternyata latar belakang orang melakukan perilaku tercela itu berlainan. perilaku korupsi telah mengakar di elemen masyarakat luas, tidak hanya terjadi di institusi baik pemerintah ataupun swasta tetapi dilakukan oleh aparatur pemerintah ataupun pegawai swasta. Praktek korupsi banyak berkembang pada situasi dimana job security tinggi dengan tingkat profesionalitas yang rendah sehingga para pegawai tersebut sering menyalah gunakan kewenangannya untuk memenuhi keinginannya daripada pelaksanaan tugas yang seharusnya dia laksanakan. Namun jika ditelaah sebenarnya penyebab timbulnya perilaku korup disebabkan adanya beberapa faktor, yaitu : a) Perilaku yang bersumber budaya masyarakat Perilaku korupsi sangat berbeda pemahamannya antar budaya masyarakat terutama budaya lain bangsa. Misalnya kita ambil contoh adalah budaya masyarakat Jepang yang terbiasa memberikan omiyage atau cendera mata kepada mitra bisnisnya. Atau contoh lain adalah budaya masyarakat Afrika pada umumnya yang terbiasa memberikan reward berupa memberi tambahan hadiah bilamana layanan jasa telah diberikan oleh suatu pihak. Jadi bentuk rasa terimakasih dalam bentuk tip ini sudah menjadi bagian budaya yang melekat di masyarakat yang sangat sulit untuk diubah, dan apabila ada pihak yang berusaha mengilangkannya dapat dianggap sebagai tindakan yang menentang nilai budaya masyarakat tersebut. Namun sebenarnya perilaku korupsi yang sangat meresahkan adalah berakar atau bersumber dari adalah perasaan tamak/rakus (greed driven) daripada sekedar berasal nilai budaya masyarakat. Jadi masyarakat harus mempunyai standar kepatutan dari sebuah figur orang dalam mengampu sebuah jabatan, bilamana figur tersebut mempunyai sesuatu diluar standar kepatutan maka masyarakat perlu bertanya darimana sesuatu miliknya itu berasal. b) Jenjang diskresi yang dimiliki Bilamana sebuah diskresi dilakukan dalam sebuah organisasi oleh orang-orang dengan kekuasaan yang relatif besar, diperkenankan mengintepretasikan dan menjabarkan diskresi tersebut dalam kebijakan2, dan ketiadaan akuntabilitas maka dikhawatirkan akan menimbulkan praktek korupsi dari dorongan tamak dalam melaksanakan diskresi tersebut. Di negara yang belum berkembang seringkali para pemimpin politiknya tidak memberikan

contoh yang baik dalam melaksanakan kejujuran, kredibilitas, transparansi serta menjaga integritas. c) Tidak adanya keterbukaan Terjadi apabila suatu tugas dan fungsi pekerjaan dilaksanakan dengan sifat kerahasiaan yang melekat akan mendorong timbulnya korupsi. Jadi adanya proses keterbukaan dengan lebih memberikan kesempatan kepada elemen masyarakat dan media massa untuk mengakses layanan publik adalah bagian dalam fungsinya menjalankan sebagai kontrol yang akan menekan angka korupsi. d) Ketiadaan akuntabilitas Dinegara yang demokratis seharusnya antara pemimpin dan aparatur pelayanan masyarakat seharusnya akuntabel kepada masyarakat yang dilayani. Akuntabel dalam artian dapat menjelaskan atau memberikan argumentasi mengenai pelaksanaan suatu kebijakan atau pelaksanaan keputusan kepada masyarakat yang dilayani. Bilamana akuntabilitas ini tidak ada, maka korupsi akan meningkat. e) Tidak adanya lembagan pengawas Perananan lembaga pengawas sangat penting keberadaannya baik adanya lembaga pengawas internal maupun eksternal. Salah satu tugas lembaga pengawas adalah melakukan proses investigasi adanya dugaan korupsi yang berasal dari keluhan masyarakat. Apabila lembaga semacam ini tidak ada maka para aparatur akan mendapatkan keuntungan dengan lemahnya fungsi kontrol tersebut, ataupun apabila pelaku korupsinya tertangkap tangan maka proses hukumnya tidak akan membuat jera pelaku korupsi. f) Kolonialisme dan penjajahan. Penjajah telah menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang tergantung, lebih memilih pasrah daripada berusaha dan senantiasa menempatkan diri sebagai bawahan. Sementara, dalam pengembangan usaha, mereka lebih cenderung berlindung di balik kekuasaan (penjajah) dengan melakukan kolusi dan nepotisme. Sifat dan kepribadian inilah yang menyebabkan munculnya kecenderungan sebagian orang melakukan korupsi. g) Rendahnya pendidikan. Masalah ini sering pula sebagai penyebab timbulnya korupsi. Minimnya ketrampilan, skill, dan kemampuan membuka peluang usaha adalah wujud rendahnya pendidikan. Dengan berbagai keterbatasan itulah mereka berupaya mencsri peluang dengan menggunakan kedudukannya untuk memperoleh keuntungan yang besar. Yang dimaksud rendahnya pendidikan di sini adalah komitmen terhadap pendidikan yang dimiliki. Karena pada kenyataannya, para

koruptor rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang memadai, kemampuan, dan skill.

DAMPAK NEGATIF YANG DITIMBULKAN DARI KORUPSI Demokrasi Korupsi menunjukan tantangan serius terhadap pembangunan. Di dalam dunia politik, korupsi mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara menghancurkan proses formal. Korupsi di pemilihan umum dan di badan legislatif mengurangi akuntabilitas dan perwakilan di pembentukan kebijaksanaan; korupsi di sistem pengadilan menghentikan ketertiban hukum; dan korupsi di pemerintahan publik menghasilkan ketidak-seimbangan dalam pelayanan masyarakat. Secara umum, korupsi mengkikis kemampuan institusi dari pemerintah, karena pengabaian prosedur, penyedotan sumber daya, dan pejabat diangkat atau dinaikan jabatan bukan karena prestasi. Pada saat yang bersamaan, korupsi mempersulit legitimasi pemerintahan dan nilai demokrasi seperti kepercayaan dan toleransi. Bagi Rakyat Miskin Korupsi, tentu saja berdampak sangat luas, terutama bagi kehidupan masyarakat miskin di desa dan kota. Awal mulanya, korupsi menyebabkan Anggaran Pembangunan dan Belanja Nasional kurang jumlahnya. Untuk mencukupkan anggaran pembangunan, pemerintah pusat menaikkan pendapatan negara, salah satunya contoh dengan menaikkan harga BBM. Pemerintah sama sekali tidak mempertimbangkan akibat dari adanya kenaikan BBM tersebut. Harga-harga kebutuhan pokok seperti beras semakin tinggi ; biaya pendidikan semakin mahal, dan pengangguran bertambah. Tanpa disadari, masyarakat miskin telah menyetor 2 kali kepada para koruptor. Pertama, masyarakat miskin membayar kewajibannya kepada negara lewat pajak dan retribusi, misalnya pajak tanah dan retribusi puskesmas. Namun oleh negara hak mereka tidak diperhatikan, karena duitnya rakyat miskin tersebut telah dikuras untuk kepentingan pejabat. Kedua, upaya menaikkan pendapatan negara melalui kenaikan BBM, masyarakat miskin kembali menyetor negara untuk kepentingan para koruptor, meskipun dengan dalih untuk subsidi rakyat miskin. Padahal seharusnya negara meminta kepada koruptor untuk mengembalikan uang rakyat yang mereka korupsi, bukan sebaliknya, malah menambah beban rakyat miskin.

C. Pandangan Agama terhadap Korupsi Agama merupakan salah satu hal yang sangat berhubungan erat dengan kasus korupsi, karena agama merupakan dasar dari segala kepercayaan dan keyakinan tiap individu. Dalam semua ajaran agama, tidak ada yang mengajarkan umatnya untuk berlaku atau melakukan tindakan korupsi. Namun pada kenyataannya, praktek korupsi sudah menjadi kegiatan yang tidak asing, dan secara sadar atau tidak, terjadi dalam berbagai aspek kehidupan, terutama kehidupan sehari-hari. Namun sebuah negara agama tidak menjanjikan kebersihan negara itu sendiri dari praktek korupsi. Indonesia sebagai negara yang memiliki penduduk mayoritas Muslim, maupun negara-negara di Amerika Latin yang mayoraitas penduduknya bukan non-Muslim memiliki citra yang serupa di mata dunia terkait dengan praktek korupsi yang terjadi di masingmasing negara. Hukum korupsi dalam berbagai ajaran agama dan tradisi lain ada beragam, diantaranya yaitu: Kristen: suap dapat butakan mata (hati), agar terus jaga tatanan hidup, hidup adalah perjuangan, takut kepada Tuhan, jauhkan koruptor. Dalam 10 Perintah Tuhan, larangan kedelapan adalah larangan untuk mencuri. 10 Perintah Tuhan adalah salah satu norma yang dituangkan di Alkitab Perjanjian Lama dan merupakan inti dari etika Alkitab Perjanjian Lama. Dalam Keluaran 20:15, Allah berfirman : Jangan mencuri. Demikian jelasnya larangan Tuhan untuk tidak mencuri. Sementara itu korupsi adalah mencuri dengan cara diam-diam, dengan cara halus mengurangi hak negara atau orang lain demi kepentingan pribadi. Larangan mencuri juga dikemukakan Yesus dalam bentuk yang berbeda, yaitu hukum mengasihi sesamamanusia seperti diri sendiri ( Matius 22:39; Mark 12:31; Lukas 10:27 ). Hukum ini sama dengan hukumpertama, yaitu hukum untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan dengan segenap akal budi. Hindu: pemimpin korup tak akan hidup kembali, suap sebagai pintu masuk dosa, pendosa tak diakui oleh Tuhan dan kena karma, etika kau rasakan apa yang kurasakan, agar terus hidup sederhana. Islam : Tindak Pidana Korupsi untuk memperkaya diri dari harta negara adalah perbuatan zhalim (aniaya), karena kekayaan negara adalah harta yang dipungut dari masyarakat termasuk masyarakat miskin yang mereka peroleh dengan susah payah. Bahkan perbuatan tersebut berdampak sangat luas serta berdampak menambah kuantitas masyarakat miskin baru .

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan dimuka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka bertimbal balik, atau dibuang dari negeri(tempat kediamannya) . Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar ( QS: al Maidah :33) Konfusianis: pendidikan beretika, pengendalian diri, pemerintahan akan hancur bila rakyat sudah tak menaruh kepercayaan terhadapnya. Buddha: tujuan hidup yaitu nirwana (puncak), manusia korup akan tak bahagia.

BAB IV PENUTUP Kesimpulan dan Saran Dari pembahasan tentang korupsi diatas kami dapat mengambil kesimpulan bahwa korupsi merupakan perilaku yang buruk yang tidak legal dan tidak wajar untuk memperkaya diri dan mengesampingkan kepentingan umum. Korupsi ini terjadi bukan hanya karena seseorang mempunyai penghasilan rendah dan harus memenuhi kebutuhannya saja namun ternyata seseorang dengan penghasilan tinggi pun melakukan korupsi. Ini membuktikan bahwa kegiatan korupsi juga terjadi karena dorongan kerakusan, seseorang dengan pekerjaan yang bagus namun tidak memiliki profesionalitas yang tinggi atas pekerjaannya. Korupsi di dalam hokum merupakan suatu tindak pidana, dimana di dalam hokum ada undang-undang yang mengaturnya. Namun bukan di dalam hokum saja korupsi itu dilarang, menurut agama korupsi juga suatu tindakan yang melanggar hokum Tuhan. Dimana disebutkan di dalam agama bahwa kegiatan korupsi adalah kegiatan mencuri dan zhalim. Maka dari itu bersama samalah kita mempunyai kesadaran diri untuk menghindari kegiatan korupsi yang berdampak buruk bagi ekonomi, kesejahteraan bersama, bahkan untuk demokrasi kita. Sikap anti korupsi ini harus ditanamkan sejak dini mulai dari hal yang kecil.

DAFTAR PUSTAKA http://definisipengertian.com/2011/pengertian-korupsi/ (17:31, 26 oktober 2011) http://pakarbisnisonline.blogspot.com/2009/12/pengertian-korupsi-dan-dampak-negatif.html http://www.beritaunik.net/unik-aneh/jenis-jenis-korupsi.html http://sai.ugm.ac.id/site/artikel/korupsi-definisi-dan-jenisnya http://beritaekspres.com/index.php?option=com_content&view=article&id=805:ciri-cirikorupsi&catid=101:tulen&Itemid=496 http://pengelolaankeuangan.wordpress.com/2009/03/07/kenapa-orang-melakukan-korupsi/ (17 OKTOBER, 20:26) http://sosbud.kompasiana.com/2011/01/11/korupsi-dalam-perspektif-agama-dan-budaya/ http://putracenter.net/2010/04/13/definisi-definisi-korupsi-dan-topologinya/ http://id.wikipedia.org/wiki/Korupsi