Anda di halaman 1dari 84

.1 Darah Darah berbentuk cairan yang berwarna merah, agak kental dan lengket.

Darah mengalir di seluruh tubuh kita, dan berhubungan langsung dengan sel-sel di dalam tubuh kita. Darah terbentuk dari beberapa unsur, yaitu plasma darah, sel darah merah, sel darah putih dam keping darah (Anonim, 2009). Plasma darah Unsur ini merupakan komponen terbesar dalam darah, karena lebih dari separuh darah mengandung plasma darah. Hampir 90% bagian dari plasma darah adalah air. Plasma darah berfungsi untuk mengangkut sari makanan ke sel-sel serta membawa sisa pembakaran dari sel ke tempat pembuangan. Fungsi lainnya adalah menghasilkan zat kekebalan tubuh terhadap penyakit atau zat antibody (Hidayati, 2008) Sel darah merah (Eritrosit) Sel darah merah mengandung banyak hemoglobin. Darah berwarna merah sebab haemoglobin berwarna merah tua. Sel darah merah dihasilkan dilimpa atau kura, hati dan sumsum merah pada tulang pipih. Sel darah merah yang sudah mati dihancurkan di dalam hati (Hidayati, 2008) Sel darah putih (Leukosit) Sel darah putih bentuknya tidak tetap. Sel darah putih dibuat di sumsum merah, kura dan kelenjar limpa. Fungsinya untuk memberantas kuman-kuman penyakit(Hidayati, 2008) Keping darah (Trombosit) Bentuk keping darah tidak teratur dan tidak mempunyai inti. Diproduksi pada sumsum merah, serta berperan penting pada proses pembekuan darah(Hidayati, 2008).

Gambar 1. Eritrosit, leukosit dan trombosit

(Anonim, 2009) Darah memiliki fungsi penting bagi tubuh, antara lain : 1. Mengangkut sari-sari makanan dari usus dan mengedarkannya ke seluruh tubuh. 2. Mengangkut oksigen dari paru-paru serta mengedarkannya ke seluruh tubuh dan juga mengambil karbon dioksida dari seluruh tubuh untuk dibawa ke paru-paru. 3. Mengangkut hormon dari pusat produksi hormon ke tempat tujuannya di dalam tubuh. 4. Mengangkut sisa-sisa metabolisme sel untuk dibuang di ginjal. 5. Menjaga kestabilan suhu tubuh. Suhu tubuh manusia tetap, yaitu berkisar antara 36C sampai 37C. Suhu tubuh manusia tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Darah mampu menjaga suhu tubuh tetap stabil. Caranya, darah melakukan penyebaran energi panas dalam tubuh secara merata.

6. Membunuh kuman yang masuk ke dalam tubuh. 2.2 Eritrosit 2.2.1 Sel Darah Merah Sel darah merah merupakan sel darah berbentuk lempeng bikonkaf dan berwarna merah akibat adanya haemoglobin. Fungsi sel-sel darah merah, yang juga dikenal sebagai eritrosit adalah mengangkut hemoglobin, dan seterusnya mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan. Pada beberapa hewan tingkat rendah, hemoglobin beredar sebagai protein bebas dalam plasma, tidak terbatas dalam sel darah merah. Selain mengangkut hemoglobin, sel-sel darah merah juga mempunyai fungsi lain. Contohnya, ia mengandung banyak sekali karbonik anhidrase, yang mengkatalisis reaksi antara karbondioksida dan air, sehingga meningkatkan kecepatan reaksi bolak-balik ini beberapa ribu kali lipat (Guyton, 1997). Sel darah normal berbentuk lempeng bikonkaf dengan diameter kira-kira 7,8 mikrometer dan pada bagian tengah 1 mikrometer atau jurang. Volume rata-rata sel darah merah adalah 90 samapi 95 mikrometer kubik. Bentuk sel darah merah dapat berubah-ubah ketika sel berjalan melewati kapiler. Pada bayi biasanya ditemukan sel darah merah sebesar 6.83 juta/ml, namun ketika tumbuhn maka berkurang menjadi 4 juta/ml. Pada pria normal, jumlah rata-rata sel darah merah per millimeter kubik adalah 3.2-5.5 juta/ml dan pada wanita normal 4.8-5.2 juta/ml (Guyton, 1997). 2.2.2 Pembentukan Sel Darah Merah Sel darah merah dihasilkan dilimpa atau kura, hati dan sumsum merah pada tulang pipih.Sel darah merah primitif yang berinti pada minggu-minggu pertama kehidupan embrio diproduksi dalam yolk sac. Selama pertengahan trimester, hati dianggap sebagai organ utama untuk memproduksi sel-sel darah merah walaupun jumlah cukup banya yang diproduksi dalam limpa dan limfonodus. Selam bulan terakhir kehamilan dan sesudah lahir sel-sel darah merah diproduksi oleh sumsum tulang. Pada dasarnya sumsum tulang dari semua tulang memproduksi sel darah merah sampai seseorang berusia lima tahuntetapi sumsum dari tulang panjang kecuali bagian proksimal humerus dan tibia menjadi sangat berlemak dan tidak memproduksi sel darah merah setelah kurang lebih berusia 20 tahun. Setelah usia tersebut kebanyakan sel darah merah diproduksi dalam sumsum tulang membranosa seperti vertebra, iga, sternum dan ilium (Guyton, 1997). Pada sumsum tulang terdapat sel stem hemapoietik pluripoten yang merupakan asal dari seluruh sel-sel dalam darah sirkulasi. Suatu sel stem commited yang menghasilkan eritrosit disebut unit pembentuk koloni eritrosit (CFU-E). Sel stem CFU-E dengan rangsangan yang sesuai akan membentuk proeritoblas. Proeritoblas yang terbentuk akan membelah beberapa kali sampai akhirnya membentuk sel darah merah yang matur (Guyton, 1997). Sel generasi pertama disebut basofil eritroblas dan pada saat ini sel mengumpulkan sedikit sekali hemoglobin. Sel generasi berikutnya adalah polikromatofil eritoblas dimana hemoglobin telah banyak terkumpul sekitar 34%. Setelah hemoglobin terkumpul nukleus memadat menjadi kecil disebut ortokromatik eritoblas (Guyton, 1997). 2.2.3 Masa Hidup dan Perombakan Sel Darah Merah Sel darah merah akan bersirkulasi selama 120 hari sebelum rusak. Sel darah merah yang sudah mati dihancurkan di dalam hati. Walaupun sel darah merah matur tidak mempunyai inti, mitokondria ataupun retikulum endoplasma namun sebenarnya mereka mempunyai enzim-enzim

sitoplasmik yang mampu mengadakan metabolisme glukosa dan membentuk sedikit ATP dan khususnya sedikit bentuk NADPH (Guyton, 1997). NADPH yang terbentuk berfungsi antara lain mempertahankan kelenturan membran sel, mempertahankan pengagkutan ion-ion melalui membran, membertahankan besi hemoglobin sel agar tetap dalam bentuk fero, dan mencegah oksidasi protein dalam sel darah merah. Sistem metabolik dalam sel darah merah makin lama makin kurang aktif dan sel menjadi semakin rapuh, diduga karena proses kehidupannya sudah selesai. Begitu membran sel menjadi rapuh , maka selbisa robek sewaktu melewati tempat-tempat yang sempit dalam sirkulai. Dalam limpa akan dijumpai banyak sekali pecahan sel darah merah karena sel-sel ini terperas sewaktu melalui pulpa merah lienalis (Guyton, 1997). Hemoglobin yang dilepaskan dari sel waktu sel darah merah pecah, akan segera difagosit oleh hampir semua sel-sel makrofag di hampir seluruh tubuh namun terutama di hati., limpa dan sumsum tulang. Selama beberapa jam atau beberapa hari sesdahnya makrofag akan melepaskan besi yang didapat dari hemogloin, yang masuk kembali dalam darah dan diangkut oleh transferin menuju sumsum tulang untuk membentuk sel darah merah baru atau menuju hati dan jaringan lainya untuk disimpan dalam bentuk feritin. Bagian porfirin dari molekul hemoglobin diubah oleh sel-sel makrofag melalui serangkaian tahap menjadi pigmen empedu bilirubin yang dilepaskan ke dalam darah dan akhirnya disekresikan oleh hati masuk ke dalam empedu (Guyton, 1997). 2.3 Leukosit 2.3.1 Sel Darah Putih Leukosit merupakan unit yang mobil/aktif dari sistem pertahanan tubuh. Leukosit ini sebagian dibentuk di sumsum tulang (granulosit, monosit dan sedikit limfosit) dan sebagian lagi di jaringan limfe (limfosit dan sel-sel plasma). Setelah dibentuk sel-sel ini diangkut dalam darah menuju berbagai bagian tubuh untuk digunakan Kebanyakan sel darah putih ditranspor secara khusus ke daerah yang terinfeksi dan mengalami peradangan serius (Guyton, 1997). Ada enam macam sel darah putih yang secara normal ditemukan dalam darah yaitu netrofil polimorfonuklir, eosinofil polimorfonuklir, basofil polimorfonuklir, monosit, limfosit dan kadang-kadang sel plasma. Selain itu terdapat sejumlah besar trombosit, yang merupakan pecahan dari tipe ketujuh sel darah putih yang dijumpai dalam sumsum tulang yaitu megakariosit. Prosentase normal dari sel darah putih yaitu netrofil polimorfonuklir 62%, eosinofil polimorfonuklir 2,3%, basofil polimorfonuklir 0,4%, monosit 5,3%, dan limfosit 30% (Guyton, 1997). Sel - sel polimorfonuklir seluruhnya mempunyai gambaran granular sehingga disebut granulosit. Granulosit dan monosit melindungi tubuh terhadap organisme penyerang terutama dengan cara mencernanya yaitu melalui fagositosis. Fungsi utama sel limfosi dan sel-sel plasma berhubungan dengan sistem imun. Fungsi trombosit erutama mengaktifkan mekanisme pembekuan darah. Pada manusia dewasa dapat dijumpai sekitar 7000 sel darah putih per mikroliter darah. (Guyton, 1997). 2.3.2 Pembentukan Sel Darah Putih Sel-sel commited dari sel stem homopoietik pluripoten juga membentuk sel darah putih melalui dua jalur yaitu miolositik dan limfositik. Granulosit dan monosit hanya ditemukan pada sumsum tulang. Limfosit dan sel plasma terutama diproduksi pada berbagai organ limfogen, termasuk kelenjar limfe,limpa, timus, tonsil dan berbagai kantong jaringan limfoid. Sel darah

putih yang dibentuk dalam sumsum tulang, terutama granulosit, disimpan dalam sumsum sampaimereka diperlukan dalam sistem sirkulasi. Limfosit sebagian besar disimpa dalam berbagai jarinagn limfoid kecuali sedikit limfosit yang temporer diangkut dalam darah. Megakariosit yang dibentuk dalam sumsum tulang dan merupakan bagian dari kelompok mielogenosa dalam tulang. Megakariosit ini lalu pecah dalam sumsum tulang, menjadi frgmen kecil yang dikenal sebagai trombosit selanjutnya masuk ke dalam darah (Guyton, 1997). 2.3.3 Masa Hidup Leukosit Masa hidup granulosit sesudah dilepaskan dari sumsum tulang normalnya 4-8 jam dalam darah sirkulasi dan 4-5 hari berikutnya dalam jaringan. Monosit juga mempunyai masa edar yang singkat, yaitu 10-20 jam , berada dalam darah sebelum mengembara melalui membran kapiler ke dalam jaringan. Begitu sampai di jaringan menjadi makrofag jaringan dapat hidup erbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kecualibial mereka dimusnahkan melalui fungsi fagositik. Limfosit memiliki masa hidup berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tetapi hal tersebut tergantung kebutuhan tubuh akan sel-sel tersebut. Trombosit dalam darah akan diganti kira-kira setiasp 10 hari (Guyton, 1997). 2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Eritrosit dan Leukosit Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi adanya desakan darah antara lain sebagai berikut: Berat badan. Orang yang memiliki berat badan berbeda, maka jumlah eritrosit dan leukositnya juga berbeda. Nutrisi. Nutrisi dapat mempengaruhi jumlah eritrosit dan secara tidak langsung juga mempengaruhi leukosit. Bila kita memakan makanan yang banyak mengandung zat besi misalnya bayam maka jumlah eritrosit kita akan meningkat. Hal ini secara tidak langsung juga akan mempengaruhi leukosit. Kondisi Tubuh. Kondisi tubuh dapat mempengaruhi jumlah leukosit, bila kondisi tubuh sedang lemah/tidak enak badan maka jumlah leukosit secara otomatis juga akan menurun. Lokasi Tempat Tinggal. Orang yang tinggal di tempat yang lebihi tinggi(dataran tinggi) biasanya memiliki jumlah eritrosit yang lebih banyak daripada orang yang hidup di daerah dataran rendah Jenis kelamin. Pria memiliki jumlah eritrosit yang lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan darah wanita, hal ini disebabkan karena wanita mengakami proses menstruasi yang mana hal ini mempengaruhi jumlahnya (Pearce, 2002). 2.5 Haemacytometer Haemacytometer merupakan alat yang didesain khusus untuk menghitung sel darah tetapi haemocytometer juga dapat digunakan untuk menghitung sel tipe lain yang berukuran mikroskopik (Anonim, 2008). Haemacytometer ditemukan oleh Louis Charles Malassez dan terdiri atas gelas kaca mikroskop dengan bentuk seperti empat persegi panjang dengan lekukan yang membentuk kamar. Kamar diukir dengan menggoreskan laser yang membentuk garis tegak lurus. Alat ini dibuat dengan angat hati-hati oleh orang yang ahli sehingga batas area bergaris diketahui dan kedalaman kamar diketahui

Gambar 2. Haemocytometer

Gambar 3. Bagian-bagian Haemocytometer

(Anonim, 2008) 2.6 Kelainan Darah Penyakit yang disebabkan kelainan pada darah antara lain sebagai berikut : 1. Anemia, yaitu penyakit karena kurangnya sel darah merah 2. Leukimia, yaitu penyakit yang disebabkan oleh kelebihan produksi sel darah putih. Penyakit ini biasa disebut kanker darah 3. Hemofilia, yaitu penyakit yang mengakibatkan darah sukar membeku. Jika si penderita mengalami luka ringan, dapat mengakibatkan pendarahan yang serius 4. Leukopenia, yaitu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan sel darah putih, biasanya penyakit ini menyertai penyakit lain. 5. Polisitemia, yaitu penyakit yang disebabkan kelebihan sel darah merah. (Anonim, 2009) 2 Pembahasan Praktikum menghitung Eritrosit dan Leukosit bertujuan untuk menghitung jumlah eritrosit dan leukosit dengan menggunakan bilik hitung (Chamber Haemacytometer). Praktikum diawali dengan menyiapkan berbagai alat dan bahan yang dibutuhkan. Peralatan dan bahanbahan yang dibutuhkan antara lain haemacytometer, alkohol, mikroskop, larutan turk, larutan hayem, pipet tetes, pipet ukur, tissue, jarum franke. Haemacytometer dibersihkan terlebih dahulu dengan NaCl. Pembersihan dilakukan untuk menghilangkan sisa-sisa darah atau kotoran yang mungkin masih menempel pada alat. Mula-mula praktikan ditimbang berat badannya untuk menentukan siapa yang akan diambil sampel darahnya. Sampel darah diambil pada praktikan yang mempunyai jenis kelamin berbeda tetapi mempunyai berat badan yang hampir sama. Berdasarkan penimbangan berat badan praktikan yang beratnya hampir sama. Praktikan yang diambil sampel darahnya adalah Faris dn Yuni dengan berat masing-masing adalah 48 kg. Sebelum mengambil sampel darah kedua praktikan terlebih dahulu focus mikroskop dicari agar memudahkan saat mengamati eritrosit dan leukosit yang akan dihitung jumlahnya. Sampel darah probandus diambil dengan menusuk jari ketiga atau keempat pada tangan kiri dengan menggunakan jarum franke. Jarum franke digunakan pada skala empat. Skala tersebut memiliki kedalaman yang cukup. Sebelum ditusuk dengan jarum franke terlebih dulu daerah yang akan ditusuk diusap dengan alkohol 70%. Pengusapan dengan alkohol bertujuan untuk sterilisasi area sehingga mikroorganisme yang kemungkinan ada di area tersebut akan

mati. Setelah ditusuk darah yang keluar pertama kali diusap dengan kapas, lalu dihisap dengan menggunakan pipet pengencer (pipet thoma) hingga skala 1. Pengambilan sampel darah hingga skala 1 berarti sample mengalami pengenceran 100X. Kemudian ujung pipet diusap dengan tisu. Setelah diusap, larutan hayem segera dihisap hingga skala 101 agar darah tidak menggumpal. Larutan hayem merupakan larutan yang digunakan untuk mencegah penggumpalan darah saat akan dihitung jumlah eritrositnya. Selain itu, larutan hayem juga berfungsi sebagai pewarna agar eritrosit dapat terlihat jelas bentuknya. Komposisi larutan hayem menurut Anonim (2007) terdiri atas 5 gram Na2SO4, 1 gram NaCl, 0.5 gram HgCl2, dan 200 ml akuades. Kedua ujung pipet dipegang dan dikocok larutan selama dua menit. Pengocokan berfungsi untuk mencampurkan darah dengan larutan hayem. Larutan dalam pipet dibuang 3-4 tetes pertama. Pembuangan dilakukan karena pada 3-4 tetes pertama umumnya tidak steril atau terkontaminasi. Larutan diteteskan ke haemacytometer yang sudah ditutp dengan kaca penutup pada kedua ujung. Haemacytometer merupakan perangkat serupa kaca objek yang didalamnya bersekat-sekat membentuk kamar-kamar dengan ukurang yang sama. Haemacytometer didisgn untuk menghitung sel darah. Cara meneteskannya yaitu satu tetes pada daerah atas dan satu tetes pada daerah bawah haemacytometer. Larutan diteteskan pada haemacytometer yang telah diberi kaca penutup agar tidak terdapat gelembung udara yang akan mengganggu saat pengamatan di bawah mikroskop. Sampel darah dibiarkan sampai mengalir ke kamar-kamar haemacytometer. Haemacytometer diletakkan di bawah mikroskop. Perbesaran yang digunakan adalah 100X. Penghitungan eritrosit dilakukan pada kamar atas dan kamar bawah. Pengamatan pada masingmasing kamar dilakukan di pojok kanan atas, pojok kanan bawah, pojok kiri atas,pojok kiri bawah dan bagian tengah. Data yang diperoleh saat menghitung rata-rata jumlah eritrosit dari praktikan adalah Yuni 4.800.000/ml, Evi K. 2.130.000/ml , Faris 2.590.000/ml, dan Daniel 2.387.500/ml. Hasil tersebut menunjukkan bahwa jumlah eritrosit yang tertinggi adalah Yuni. Pada umumnya jumlah eritrosit pria lebih banyak dibandingkan dengan jumlah eritrosit wanita. Perbedaan jumlah tersebut terkait dengan proses menstruasi yang dialami wanita sedangkan pria tidak. Menurut Guyton (19997) pada pria normal, jumlah rata-rata sel darah merah per millimeter kubik adalah 5.200.000 ( 300.000) dan pada wanita normal 4.700.000 ( 300.000). Hasil ini tidak sesuai dengan hasil praktikum yang menunjukkan bahwa eritrosit yuni lebih banyak daripada faris dan Daniel. Perbedaan tersebut bukan berarti kedua praktikan tidak normal. Perbedaan dapat terjadi karena kesalahan perhitungan atau adanya faktor lain yang berpengaruh, seperti terkait dengan kondisi kesehatan praktikan. Saat praktikum, praktikan yang menjadi objek sedang dalam masa penyembuhan. Jadi dapat diasumsikan eritrosit berlebih jumlahnya, karena adanya proses metabolisme tubuh yang berlebih dalam proses penyembuhan. Selain itu, jumlah rata-rata eritrosit tidak hanya dipengaruhi oleh jenis kelamin tetapi juga dipengaruhi oleh berat badan. Seseorang yang mempunyai berat badan yang lebih besar akan mempunyai volume darah yang besar pula sehingga jumlah eritrosit maupun leukositnya akan lebih besar dibandingkan dengan orang yang mempunyai berat badan lebih ringan. Pada kondisi tertentu, seseorang dapat mengalami penurunan jumlah eritrosit dibawah rata-rata. Penurunan ini juga dibarengi dengan penurunan haemoglobin dan hematokrit. Hal ini dalam dunia medis sering dikenal dengan anemia. Perhitungan leukosit juga dilakukan dengan menggunakan prosedur yang sama dengan perhitungan eritrosit hanya saja larutan yang digunakan untuk mencegah penggumpalan darah berbeda. Pada perhitungan eritrosit larutan yang digunakan adalah larutan hayem sedangkan pada perhitungan leukosit larutan yang digunakan adalah larutan turk. Komposisi larutan turk

menurut Anonim (2007) terdiri atas 4 ml asam asetat, 10 tetes gentian violet, dan 200 ml akuades. Larutan turk selain mencegah penggumpalan darah juga berfungsi sebagai pewarna leukosit. Asam asetat pada larutan turk berfungsi untuk mencegah penggumpalan darah sedangkan gentian violet berfungsi untuk pewarna leukosit. Pengenceran pada perhitungan eritrosit lebih besar dibandingkan dengan leukosit yaitu pada eritrosit pengencerannya 200X dan pada leukosit 20X karena jumlah eritrosit manusia jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah leukosit. Pengenceran yang lebih besar pada eritrosit agar sel darah merah dapat dilihat jelas pada mikroskop tidak saling bertumpukan satu sama lain. Data yang diperoleh dari perhitungan jumlah rata-rata leukosit kedua praktikan adalah Yuni 5.087,5/ml, Evi K. 55.500/ml, Faris 6.950/ml dan Daniel 21.250/ml. Hasil tersebut menunjukkan bahwa jumlah leukosit jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah eritrosit. Menurut Hidayati (2008), jumlah rata-rata leukosit normalnya 7000-9000 sel per ml. Adanya perbedaan jumlah leukosit pada praktikan dengan literatur dapat dimungkinkan adanya penyebab lain, seperti kondisi praktikan saat pengambilan sample darah. Kondisi tersebut berkaitan dengan proses produksi darah pada hati. Saat masa penyembuhan, sel-sel dalam tubuh yang terserang penyakit membutuhkan lebih banyak sel darah putih sebagai kekebalan tubuh untuk memfagositosis mikroorganisme asing. Selain itu perbedaan itu dpat disebabkan karena kesalahan dalam perlakuan maupun perhitungan. BAB V KESIMPULAN

Darah merupakan jaringan penyambung khusus yang terdiri dari sel-sel dan banyak interstitial ekstrasel. Darah tersususun atas elemen atau sel-sel darah dan plasma. Sel darah merah merupakan sel darah berbentuk lempeng bikonkaf dan berwarna merah akibat adanya haemoglobin. Eritrosit terutama berperan dalam mengikat haemoglobin. Leukosit merupakan unit yang mobil/aktif dari sistem pertahanan tubuh. Untuk menghitung eritrosit dan leukosit dibutuhkan suatu alat yaitu haemocytometer yang terdiri atas counting chamber dan pipet pengencer. Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh eritosit Yuni dan Evi K. adalah 4.800.000/ml dan 2.130.000/ml, sedangkan pada Faris dan Daniel adalah 2.590.000/ml dan 2.387.500/ml. Hal ini tidak sesuai dengan literatur yang menyabutkan bahwa eritrosit pria lebih banyak daripada wanita. Leukosit yuni adalah 5.087,5/ml, Evi K. 5500/ml, Faris 6.950/ml dan Daniel 2.125/ml. Jumlah leukosit Daniel dibawah normal yaitu 4000-11.000/ml. Hal ini mungkin dapat disebabkan karena beberapa faktor antara lain kondisi tubuh yang tidak baik, salah perhitungan dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Perhitungan Sel Darah Merah.http://www.unsjournal.com/. Diakses tanggal 16 April 2010 Pukul 20.15 WIB Anonim. 2008. Haemacytometer. http//id.wikipedia.com/haemacytometer. Diakses tanggal 16 April 2010 Pukul 20.15 WIB Anonim. 2009. Fungsi Darah. http: //www.e-smartschool.com/ PNU/ 003/PNU0030011.asp. Diakses tanggal 4 April 2009 Pukul 19.30 WIB Guyton, Arthur.C. 1997. Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta Hidayati, Dewi. 2008. Modul Fisiologi Hewan. FMIPA ITS : Surabaya Suripto. 2002. Fisiologi Hewan. ITB : Bandung

LAMPIRAN I. Perhitungan 1. Yuni a. Eritrosit Ne1 = 79+103+101+93+95 = 471 Ne2 = 92+112+85+95+105 = 489 Ne = 471+489 = 480 2 SDM = ne x p x 50 = 480 x 200 x 50 = 4.800.000/ml b. Leukosit Nl1 = 69+62+38+129 = 298 Nl2 = 21+23+33+32= 109 Ne = 298+109 = 203,5 2 SDP = nl x p x 2,5 = 203,5 x 10 x 2,5 = 5.087,5/ml 2. Evi K.

a. Eritrosit Ne1 = 103+79+97+88+78 = 445 Ne2 = 90+75+79+67+96 = 407 Ne = 445+407 = 426 2 SDM = ne x p x 50 = 426 x 100 x 50 = 2.130.000/ml b. Leukosit Nl1 = 41+36+20+20 = 118 Nl2 = 26+28+31+19= 104 Ne = 118+104 = 111 2 SDP = nl x p x 2,5 = 111x 20 x 2,5 = 5.550/ml 3. Faris a. Eritrosit Ne1 = 103+99+86+100+106 = 494 Ne2 = 109+94+104+125+110 = 542 Ne = 494+542 = 518 2 SDM = ne x p x 50 = 518 x 100 x 50 = 2.590.000/ml b. Leukosit Nl1 = 37+40+37+50 = 164 Nl2 = 32+25+27+30= 114 Ne = 164+114 = 139 2 SDP = nl x p x 2,5 = 139 x 20 x 2,5 = 6.950/ml 4. Daniel a. Eritrosit Ne1 = 119+84+97+106+80 = 486 Ne2 = 97+86+94+88+104 = 469 Ne = 486+469 = 477,5 2 SDM = ne x p x 50 = 477,5 x 100 x 50 = 2.387.000/ml b. Leukosit

Nl1 = 16+6+9+11 = 42 Nl2 = 17+5+7+14= 43 Ne = 42+43 = 42,5 2 SDP = nl x p x 2,5 = 42,5 x 20 x 2,5 2.125/ml II. Perbedaan perbandingan Eritrosit dan Leukosit No Perbedaan Eritrosit 1. 2. 3. Inti Ukuran/bentuk Tempat sintesis Tidak ada (mamalia) 7,5 m / diskus bikonkaf

Leukosit Polimorfonuklear/mononuklear 6-12 m merah, kura dan

Limpa, hati dan sumsum Sumsum merah pada tulang pipih dalam 3,2 5,2 juta sel/mm Hemoglobin Karbominohemoglobin Anemia Oligocythemia Polycythemia
3

kelenjar limpa 4000-11000 sel/mm3

4.

Jumlah darah

normal

4,2 5,5 juta sel/mm3 protein Tidak ada Leucopenia Leucocytosis Leukemia (kanker darah) AIDS (virus HIV/sel T yang hingga menurun) menyerang immunitas limfosit tubuh

5.

Kandungan

pigmen pengikat O2/CO2 6. Jenis keabnormalan

7.

Differensiasi

Tidak ada

Berdasarkan Granulosit

granula

dalam

sitoplasmanya : Neutrofil (60-70%) Eosinofil (1-4 %) Basofil (0-1 %) Agranulosit Limfosit Monosit

Berdasarkan intinya : Polimorfonuklear Mononuclear 8. Umur 120 hari Sel darah putih memiliki siklus hidup agak pendek, hidup dari beberapa hari sampai beberapa minggu. 9. Fungsi Tranpor oksigen Transport karbondioksida Mengatur pH dalam darah Bersifat dalam tubuh Berperan fagositosis zat asing Bersifat ameboid sehingga dapat mendekati atau dalam immunologic

menjauhi zat asing Diapedesis Kemotaksis (mampu

menembus jaringan) (menjauhi

atau mendekati jaringan yang rusak)

III. Faktor Kesalahan Dalam Perlakuan 1. Pipet pengencer dibersihkan dengan kertas saring pada ujungnya dan diusahakan tidak terdapat gelembung udara di dalamnya. Namun saat penyedotan harus dulang 2x karena terdapat gelembung udara di dalamnya, sehingga faktor pengencerannya tidak jelas. 2. Penusukan jari pada Faris harus diulang nenerapa kali karena darah tidak keluar pada skala 3 hingga 4. 3. Pemasangan selang terbalik, sehingga penusukan pada Daniel juga harus diulang 2x. 4. Pemijitan jari pada probandus umumnya dilakukan setelah jari ditusuk. Hal ini disebabkan karena darah tidak keluar. Padahal seharusnya pemijitan jari dilakukan setelah penusukan jari.

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Darah Darah terbentuk pada jaringan ikat lalu terbawa oleh plasma. Lebih berat dan lebih kental dibandingkan air. Rasa cenderung asin karena membawa garam-garam mineral bau khas (anyir). Darah memiliki pH 7,35 7, 45. Warna darah adalah merah terang sampai kebiruan tergantung kadar oksigen yang dibawa. Volume darah total 5 liter pada laki-laki dewasa, tergantung ukuran tubuh, dan konsentrasi elektrolit dalam tubuh. Ada 3 tipe unsur-unsur darah ialah sel-sel darah merah atau eritrosit, sel-sel darah putih atau leukosit dan keping-keping darah atau trombosit (Kimball, 1999)

Gambar 1. Sel darah manusia, Platelets and T-lymphocyte (erythocytes = red; platelets = yellow; T-lymphocyte = light green) (SEM x 9,900). 2.2 Eritrosit Sel darah merah atau eritrosit berbentuk cakram kecil bikonkaf, cekung pada kedua sisinya, sehingga dilihat dari samping tampak seperti dua buah bulan sabit yang saling bertolak belakang. Dalam setiap mm3 darah terdapat 5.000.000 sel darah. Bila dilihat satu per satu warnanya kuning pucat, tetapi dalam jumlah besar kelihatan merah dan memberi warna pada darah. Strukturnya terdiri atas pembungkus luar atau stroma dan berisi masa hemoglobin. Sel darah merah terbentuk di dalam sumsum tulang (Pearce, 2002). Jangka hidup sel darah merah kira- kira 120 hari. Sel- sel darah merah yang telah tua akan ditelan oleh sel- sel fagostik yang terdapat dalam hati dan limpa. Jumlah sel darah merah pada wanita normal kira- kira 4,5 juta sel / mm3 darah. Sedangkan untuk laki- laki normal 5 juta / mm3 darah. Meskipun demikian nilai-nilai ini dapat turun-naik dalam suatu kisaran yang luas sekali, tergantung pada faktor-faktor seperti ketinggian tempat seorang hidup dan kesehatan (Kimball, 1999). Hematokrit merupakan jumlah persen sel darah merah dari sejumlah darah. Nilai normal hematokrit tergantung dari jenis kelamin yaitu pada laki- laki 47% dan pada wanita 45%. Hematokrit dapat dihitung dengan cara memasukkan sejumlah darah pada tabung mikrohematokrit yang sudah diberi antikoagulan, kemudian disentrifugasi sehingga menghasilkan endapan di bawahnya (Suripto, 2004). Fungsi eritrosit antara lain mentranspor oksigen melalui pengikatan oksihemoglobin dan mentranspor karbondioksida melalui pengikatan karbominohemoglobin serta mengatur pH darah (Hidayati, 2005) Menurut Guyton & Hall (1997), Pengaturan produksi sel darah merah sebagai berikut:

Produksi eritrosit diatur oleh eritropoietin, suatu hormon glikoprotein yang dikeluarkan oleh ginjal Kehilangan darah akibat Haemoragi dapat mengakibatkan peningkatan produksi sel darah merah Ketinggian lingkungan tempat tinggal memacu produksi sel darah merah agar dapat mengikat oksigen lebih banyak Gagal jantung atau penyakit paru juga dapat meningkatkan produksi sel darah merah Hormon kortison, tiroid, dan hormon pertumbuhan lainnya dapat memacu produksi sel darah merah

Gambar 1. Sel darah merah (eritrosit) 2.3 Abnormalitas Kondisi Eritrosit 1. Anemia : kekurangan sel darah merah 2. Polisitemia : peningkatan jumlah eritrosit yang mengakibatkan peningkatan viskositas dan volume darah, darah mengental dan aliran darah menjadi lambat. Ada 2 macam polisitemia : a. Polisitemia kompensatori : terjadi akibat kekurangan oksigen dikarenakan tinggal di tempat yang terlalu tinggi, aktivitas fisik berkepanjangan, atau penyakit jantung b. Polisitemia vera : gangguan pada sumsum tulang (Hidayati, 2005). 3. Hemolisa : peristiwa keluarnya hemoglobin dari eritrosit ke cairan di sekelilingnya. Ada 2 macam hemolisa, yaitu : a. Hemolisa osmotik : terjadi karena perbedaan tekanan osmosis antara eritrosit dengan cairan di sekelilingnya b. Hemolisa kimiawi : terjadi karena membran eritrosit dirusak oleh substansi lain misalnya aseton, alkohol, dll. 4. Krenasi : peristiwa mengkerutnya dinding eritrosit karena air yang berada di dalam eritrosit keluar menuju medium di sekelilingnya. 5. Fragilitas : kerapuhan eritrosit, merupakan gambaran kemampuan membran eritrosit dalam menahan bertambahnya tekanan osmosis dalam sel akibat masuknya air dari medium (Suripto, 2004).

Gambar 2. Pembentukan Sel-sel Darah Merah, dan Sel Darah Merah Dalam Berbagai Tipe Anemia (Guyton & Hall, 1997) 2.4 Leukosit Sel darah putih atau leukosit berwarna bening, ukurannya lebih besar daripada sel darah merah, tetapi jumlahnya lebih kecil. Dalam setiap mm3 darah terdapat 6.000 sampai 10.000 sel darah putih. Fungsi umum dari sel darah putih yaitu melindungi tubuh dari infeksi (Evelyn, 2002). Sel darah putih terdiri dari 2 macam yaitu : a. Granulosit : memiliki granula sitoplasma. Terdiri dari neutrofil, eusinofil, dan basofil b.Agranulosit : tanpa granula sitoplasma. Terdiri dari limfosit dan monosit (Hidayati, 2005). Monosit dan neutrofil adalah fagosit, yang menelan dan mencerna bakteri dan serpihan selsel mati dari tubuh. Sel darah putih menghabiskan sebagian besar waktu di luar system sirkulasi, berkeliling di dalam cairan interstitial dan system limfatik untuk melawan pathogen (Campbell, 2004). 2.5 Abnormalitas Kondisi Leukosit 1. Leukimia : kanker yang ditandai dengan meningkatnya jumlah leukosit yang tidak terkendali sehingga dapat memakan (memfagosit) sel darah merah. 2. Leukositosis : penambahan jumlah keseluruhan sel darah putih dalam darah melampaui 10.000 butir / mm3. 3. Leukopenia : berkurangnya jumlah sel darah putih sampai 5.000 atau kurang. 4. Limfositosis : pertambahan jumlah limfosit 5. Agranulositosis : penurunan jumlah granulosit secara menyolok (Pearce, 2002).

gambar 3. Pembentukan sel darah putih. (Guyton & Hall, 1997).

2.6

Haemocytometer Improved Neubaeur (Counting Chamber) Haemocytometer Improved Neubaeur berupa lempeng kokoh yang dirancang untuk mendapatkan suspensi sel dalam lapisan tipis di atas guratan yang digoreskan pada lempeng. Guratan-guratan terdiri dari segiempat-segiempat dan bujur sangkar yag besar yang tersusun dalam baris dan kolom. Satu kelompok yang terdiri dari 25 bujur sangkar di pusatnya dipisahkan lebih jauh menjadi 16 bujur sangkar kecil. Bagian tengah lempeng lebih rendah daripada serambi di bagian luar. Jalur yang mirip dengan parit dalam memisahkan bagian tengah dari bagian luar serambi pada setiap sisi. Lapisan penutupnya tebal sehingga tahan bengkok. Hal ini memungkinkan adanya lapisan tipis suspensi sel dengan ketebalan yang diketahui dan seragam, yang terletak di atas segiempat-segiempat dengan luas yang diketahui. Rapatan sel diperkirakan dengan menghitung sel dalam bujur-sangkar yang khas. Jenis pengaturan dalam guratan tidak akan mempengaruhi penentuan. Yang penting adalah penggunaan yang benar dari lempenglempeng penghitung (Michael, 1994).

Gambar 4. Haemocytometer Improved Neubaeur

Gambar 5. Counting Chamber Untuk menghitung jumlah eritrosit maupun leukosit, maka jumlah bujur sangkar dalam Bilik hitung hemocytometer type Double Improved Neubeur perlu diketahui: a. Ukuran seluruh bilik hitung adalah 3x3 mm (9 mm persegi yang terbagi menjadi 9 bujur sangkar (masing-masing bersisi 1 mm). b. Bujur sangkar terbagi lagi monjadi 9 kotak kecil. c. 4 kotak kecil yang terletak dj. bagian pojok (ditandai huruf. W) masing-masing terbagi lagi menjadi 16 kotak, (dengan sisi mm) sedangkan kotak kecil yang terletak di tengah terbagi menjadi 25 bujur sangkar dengan sisi 1/5 mm (disebut kotak R) dari kotak R tersebut masing-masing terbagi lagi menjadi 16 kotak dengan sisi 1/20 mm (tampak lebih rapat dari kotak W). d. Leukosit dihitung di dalam bujur sangkar bersisi mm (kotak W)

e. Eritrosit dihitung dari dalam bujur sangkar dengan sisi 1/20 mm (kotak R) Jarak antara bilik hitung dengan gelas penutup: 1/10 mm sehingga volume bujur sangkar adalah sebagai berikut:

2,5

METODOLOGI 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat Peralatan yang digunakan dalam praktikum ini adalah haemacytometer, lanset, dan mikroskop. 3.1.2 Bahan Bahan yang digunakan adalah darah segar, larutan hayem, larutan turk, kapas, tissue dan alkohol 70%, larutan pembilas (NaOH 0,9%) 3. 2. Cara Kerja 3.2.1 Menghitung Eritrosit (Sel Darah Merah) Penghitungan jumlah eritrosit dapat dilakukan dengan alat Hemacytometer yang terdiri dari counting chamber dan pipet pengencer yang mempunyai skala hingga 101 serta mempunyai inti gelas berwarna merah. Mikroskop disiapkan dengan menutup bagian diafragma dan stage diturunkan. counting chamber diletakkan pada bagian stage dan dinaikkan secara perlahan lahan dengan menggunakan lensa obyektif 5x atau 10x. Sebelum digunakan, counting chamber

dibersihkan dengan tissue secara perlahan lahan dan pipet pengencer dibilas terlebih dahulu dengan menggunakan NaCl 0,9%. Pada counting chamber, bagian ujung yang akan ditutup dengan kaca penutup, diberi setetes air kemudian dorong secara perlahan kaca penutupnya sehingga daerah kotak penghitungan tertutup dengan sempurna. Ujung jari diolesi dengan alkohol 70% lalu ditusuk dengan lanset steril dan biarkan darah keluar. Kemuadian darah yang keluar diisap dengan pipet pengencer hingga skala 0,1. Hindarkan supaya tidak ada gelembung udara di dalam pipet. Jika ada gelembung, ulangi kembali perlakuan seperti semula. Ujung pipet pengencer dibersihkan dengan tissue. Larutan hayem dihisap menggunakan pipet pengencer hingga skala 101. Kedua ujung pipet dipegang dengan jari telunjuk dan dikocok dengan hati hati selama 3 menit. Larutan pertama dalam pipet pengencer dibuang 3 4 tetes. Ujung pipet pengencer diletakkan pada counting chamber dan kaca penutup hemacytometer yang bersih hingga larutan dengan sendirinya menyebar ke sekeliling counting chamber. hati hati jangan sampai larutan darah mengalir ke parit di sekeliling counting chamber. diamkan 1 2 menit supaya sel sel darah mengendap. Amati di bawah mikroskop dan dihitung jumlah eritrosit dalam kotak R pada counting chamber. 3.2.2 Menghitung Leukosit ( Sel Darah Putih) Penghitungan jumlah leukosit dapat dilakukan dengan alat Hemacytometer yang terdiri dari counting chamber dan pipet pengencer yang mempunyai skala hingga 11 serta mempunyai inti gelas berwarna putih. Mikroskop disiapkan dengan menutup bagian diafragma dan stage diturunkan. counting chamber diletakkan pada bagian stage dan dinaikkan secara perlahan lahan dengan menggunakan lensa obyektif 5x atau 10x. Sebelum digunakan, counting chamber dibersihkan dengan tissue secara perlahan lahan dan pipet pengencer dibilas terlebih dahulu dengan menggunakan NaCl 0,9%. Pada counting chamber, bagian ujung yang akan ditutup dengan kaca penutup, diberi setetes air kemudian dorong secara perlahan kaca penutupnya sehingga daerah kotak penghitungan tertutup dengan sempurna. Ujung jari diolesi dengan alkohol 70% lalu ditusuk dengan lanset steril dan biarkan darah keluar. Kemuadian darah yang keluar diisap dengan pipet pengencer hingga skala 0,1. Hindarkan supaya tidak ada gelembung udara di dalam pipet. Jika ada gelembung, ulangi kembali perlakuan seperti semula. Ujung pipet pengencer dibersihkan dengan tissue. Larutan hayem dihisap menggunakan pipet pengencer hingga skala 11. Kedua ujung pipet dipegang dengan jari telunjuk dan dikocok dengan hati hati selama 3 menit. Larutan pertama dalam pipet pengencer dibuang 3 4 tetes. Ujung pipet pengencer diletakkan pada counting chamber dan kaca penutup hemacytometer yang bersih hingga larutan dengan sendirinya menyebar ke sekeliling counting chamber. hati hati jangan sampai larutan darah mengalir ke parit di sekeliling counting chamber. diamkan 1 2 menit supaya sel sel darah mengendap. Amati di bawah mikroskop dan dihitung jumlah leukosit dalam kotak R pada counting chamber. ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Pengamatan PEMBAHASAN Pada awal percobaan, ujung jari ketiga dan keempat ditusuk dengan jarum lanset (frankee), sebab jari tangan ketiga dan keempat memiliki saraf sedikit dan memiliki pembuluh darah yang banyak sehingga bila luka akan cepat sembuh.

Gambar Frankee

Gambar penusukan dengan Frankee Sebelum ditusuk jari disemprot dengan alkohol 70% sebagai tindakan aseptik dan mencegah adanya kontaminan. Setelah darah keluar dihisap dengan pipet thoma. Untuk pemeriksaan jumlah leukosit inti gelas warna putih digunakan, eritrosit digunakan inti gelas warna merah.

Gambar pengambilan darah dengan pipet thoma Setelah itu diteteskan pada bilik hemacitometer dan ditutup dengan kaca penutupnya dan diamati sel darah dan banyak sel yang ditemukan di bilik.

Gambar hemacytometer pada mikroskop Pada praktikum ini digunakan faktor pengenceran eritrosit dan leukosit, karena jika tidak dilakukan pengenceran akan terlalu sulit melakukan pengamatan di bawah mikroskop, sebab darah terlalu pekat/ kental. Faktor pengenceran untuk eritrosit yaitu 200, sedangkan untuk leukosit yaitu 20. Faktor pengenceran yang digunakan berbeda karena jumlah eritrosit lebih banyak dibandingkan leukosit sehingga pengenceran eritrosit lebih besar dibanding leukosit ( Pearce, 2002) Konsentrasi sel-sel darah merah dalam darah pada laki-laki normal, jumlah rata-rata sel darah merah per mililiter kubik adalah 5.200.000 buah (300.000) dan pada perempuan normal 4.700.000 buah (300.000). ketinggian akan mempengaruhi jumlah sel darah merah manusia yang tinggal didaerah itu. Konsentrasi bermacam macam sel darah putih dalam darah pada manusia dewasa dapat dijumpai sekitar 7.000 sel darah putih per mikroliter darah. Jumlah trombosit, yang hanya merupakan fragmen- fragmen sel, dalam keadaan normal jumlahnya kirakira 300.000 per mikroliter darah (Guyton, 1997) 4.2.1 Pemeriksaan Jumlah Eritrosit

Praktikum penghitungan sel darah merah ini menggunakan hemacitometer dan pipet thoma yang digunakan berwarna digunakan inti gelas warna merah. Darah dihisap sampai 1 ml pada batas pipet thoma kemudian dilanjutkan dengan larutan hayem hingga batas 101, artinya pengenceran 100 kali. Digunakan larutan hayem karena larutan hayem tersusun atas natrium sulfat kristal 5 gram, natrium chlorida c.p. 1 gram, merkuri chlorida 0,5 gram dan air suling 200 ml. Larutan hayem berfungsi sebagai isotonik pada eritrosit, mengencerkan darah, merintangi pembekuan darah, memperjelas bentuk eritrosit, dan mempertahankan bentuk disoid eritrosit serta tidak menyebabkan aglutinasi. Kemudian eritrosit dan larutan hayem dikocok 2 menit dengan tujuan menghomogenisasi darah dengan larutan hayem berlangsung sempurna. Sedangkan isi dari pipet thoma dibuang satu-dua tetes pertama dengan tujuan mengeluarkan sisa larutan hayem yang berhubungan dengan udara dan mengantisipasi adanya kontaminasi dimana selanjutnya diletakkan pada gelas obyek haemacytometer improved neubaver. Didiamkan 1-2 menit supaya sel darah mengendap, kemudian dilakukan perhitungan dalam salah satu kotak R pada kaya obyek. Jumlah eritrosit pada kondisi normal mencapai 4.000.000 sel per mm 3. Hasil pengamatan didapatkan hasil dari rata-rata perhitungan untuk pobandus Ratna sebesar 11.100.000 sel per mm3 dan probandus Rayi sebesar 10.320.000 sel per mm3.

Gambar eritrosit pada hemasitometer Menurut Guyton (1997), jumlah sel darah merah (eritrosit) pada kondisi normal mencapai 4.000.000 sel per mm3. Sel darah merah dipengaruhi oleh faktor beberapa faktor antara lain jenis kelami, berat badan, umur gizi, dan aktivitas. Eritrosit merupakan cakram bikonkaf tidak mempunyai inti tidak mempunyai mitokondria dan retikulum endoplasma. Sel-sel darah merah mempunyai bentuk cakra, dengan diameter 7,5 m dan ketebalan di tepi 2 m. Tengah-tengah dari cakra tersebut lebih tipis (1 m) dari pada tepinya. Bentuknya binkonkaf yang menarik ini mempercepat pertukaran gasgas antara sel-sel dan plasma darah. Pada mula-mula dibentuk eritrosit mempunyai sebuah nukleus dan hemoglobin tidak begitu banyak. Akan tetapi, ketika dewasa, jumlah hemoglobin dalam sel naik sampai 280 juta molekul menunjukan kira-kira 90 % bobot bersih sel. Kemudian pada akhirnya dari proses sintesis hemoglobin ini, nukleus diperas keluar sel (Kimball, 1993).

Gambar eritrosit

4.2.2 Pemeriksaan Jumlah Leukosit Praktikum penghitungan sel darah merah ini menggunakan hemacitometer dan pipet thoma yang digunakan berwarna digunakan inti gelas warna putih. Diawal menghisap darah sampai skala 1 kemudian diencerkan dengan larutan turk sampai 11 jadi terjadi pengenceran 20. Faktor pengenceran untuk leukosit yaitu 20. Faktor pengenceran yang digunakan berbeda karena jumlah eritrosit lebih banyak dibandingkan leukosit sehingga pengenceran eritrosit lebih besar dibanding leukosit ( Pearce, 2002). Larutan turk tersusun atas asam asetat glacial 15 ml, larutan gentian violet 1%, dan air suling 475 ml. Larutan turk berfungsi memberi warna pada inti dan granulanya, memecah eritrosit dan trombosit tetapi tidak memecah leukosit. Kemudian larutan turk dan leukosit dikocok selama 2 menit untuk menyempurnakan proses homogenesis kemudian darah diteteskan dalam haemacytometer. Didiamkan 1-2 menit supaya sel darah mengendap, kemudian dilakukan perhitungan dalam salah satu kotak W pada kaya obyek.

Gambar Leukosit pada hemasitometer Hasil pengamatan didapatkan hasil dari rata-rata perhitungan untuk pobandus Ratna sebesar 5.950 sel per mm3 dan probandus Rayi sebesar 10.150 sel per mm3. Padahal menurut Gutton (1997), normalnya 4.000 11.000 sel per mm3. Hal ini berkaitan dengan jenis kelamin, berat badan, umur, gizi, aktivitas dan penyakit yang terkandung atau sedang dalam posisi sakit. Jumlah leukosit mempengaruhi imunitas manusia karena sifat fagositosis (memakan kumankuman yang masuk dalam tubuh dan menghasilkan antibodi). Leukosit adalah sel yang mempunyai inti dan banyak jenis yaitu Neutrofil, Eosinofil, Basofil, Monosit, Limfosit dan Sel plasma. Leukosit bersifat fagositosit yaitu memakan kuman-kuman penyakit dalam tubuh. Dapat bergerak amoeboid dan dapat menembus dinding pembuluh darah yang disebut diapedesis. Jumlah leukosit jauh lebih kurang dari pada sel-sel darah merah, dan rasio antara kedua tipe kirakira 1 : 700. Leukosit mempunyai nukleus. Ukuran dari limfosit yang tidak jauh lebih besar (10 m) dari pada eritrosit sampai monosit monosit yang mungkin tiga kali lebih besar (25 m) (Kimball,1993). KESIMPULAN Prinsip kerja haemacytometer improved neubaver adalah menghitung eritrosit pada kotak R dan leukosit pada waktu W, perhitungan jumlah Sel Darah Merah Ratna adalah 11.100.000 buah/ milimeter dan Rayi adalah 10.320.000 buah/mililiter dan jumlah Sel Darah Putih Ratna adalah 5.950 buah/mililiter dan Rayi adalah 10.150 buah/ milimeter. Jumlah normal Eritrosit 4.000.000 buah/mililiter dan Leukosit 4.000-11.000 buah/mililiter. Sel darah merah jumlahnya dipengaruhi oleh faktor kelamin, berat badan, umur gizi, dan aktivitas. Sel darah putih jumlahnya dipengaruhi oleh jenis kelamin, berat badan, umur, gizi, aktivitas dan penyakit yang terkandung atau sedang dalam posisi sakit.

DAFTAR PUSTAKA Kimball, Jhon W, (1993). Biologi, Jilid 2, Erlangga, Jakarta. Saktiyono, (1999). Biologi, Erlangga, Jakarta. Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta Wagener, TA, (1980). Pengantar Ilmu Penyakit Darah. Penerbit Bina Cipta, Bandung Bevelander, G.; Ramaley, J. A. (1988). Dasar-dasar Histologi, edisi kedelapan. Erlangga, Jakarta. Guyton dan Hall. (1997). Fisiologi Kedokteran. Penerbit EGC, Jakarta. Hidayati, Dewi. (2006). Modul Ajar Fisiologi Hewan. Program Studi Biologi FMIPA-ITS, Surabaya. Michael, P. (1994). Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. UI Press, Jakarta. Pearce, Evelyn. (2002). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia, Jakarta. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Darah Secara umum istilah darah dipakai untuk menjelaskan fluida yang beredar dalam tubuh

yang berfungsi untuk mengangkut gas, nutrien dan bahan sisa metabolisme. Darah manusia terdiri atas (1) plasma darah yang terdiri atas 92% air, protein plasma 7% dan zat-zat terlarut lainnya sekitar 1% dan (2) elemen-elemen darah putih (leukosit) dan keping-keping darah (trombosit). Protein plasma antara lain terdiri atas : albumen 60%, globulin 35%, fibrinogen 4%, dan protein pengatur seperti enzim, proenzim, hormon yang jumlahnya kurang dari 1%. Zat-zat terlarut lainnya adalah: (1) elektrolit-elektrolit yang penting untuk aktivitas sel itu sendiri dan menjaga tekanan osmosis cairan tubuh (Na+, K+, Mg2+, cal-, HCO3-, HPO42-, SO42-), Jenis otot pada vertebrata ada tiga : Otot polos, Otot rangka / Otot lurik dan otot jantung. (2) nutrien organik yang penting untuk menghasilkan energi ATP, untuk pertumbuhan dan pemeliharaan sel-sel, yang antara lain terdiri atas; asam lemak, kolesterol, karbohidrat, dan protein. (3) bahan organik sisa metabolisme seperti urea, asam urat, kreatinin, bilirubin,dan amonia.

Elemen seluler yang disebut leukosit terdiri atas : neutrofil 50-70%, eosinofil 2-4%, basofil < 1%, limfosit 20-30% dan monosit 2-8%.

(Suripto, 2002)

2.2

Fungsi Darah Secara umum darah berfungsi untuk : 1. alat transportasi yang berkaitan dengan nutrisi, respirasi, ekskresi dan regulasi 2. mengatur keseimbangan antara darah dengan cairan jaringan (osmoregulasi) 3. mengatur keseimbangan asam-basa tubuh 4. mengatur suhu tubuh (termoregulasi) 5. sebagai alat pertahan tubuh dengan adanya antibodi 6. mencegah pendarahan yang terus menerus

2.3

Eritrosit (Sel Darah Merah) Pada mamalia eritrosit tidak berinti, eritrosit mengandung Hb (hemoglobin) yaitu suatu

protein mengandung senyawa hemin dan mengandung Fe. Hb mempunyai daya ikat terhadap O2 dan CO2 (Saktiyono, 1999). Wanita normal mempunyai 4,5 juta sel dalam setiap milimeter kubik darah. Pada laki-laki normal, rata-rata jumlah 5 juta sel. Meskipun demikian nilai-nilai ini dapat turun-naik dalam suatu kisaran yang luas sekali, tergantung pada faktor-faktor seperti ketinggian tempat seorang hidup dan kesehatan (Kimball,1993). Sel-sel darah merah mempunyai bentuk cakra, dengan diameter 7,5 m dan ketebalan di tepi 2 m. Tengah-tengah dari cakra tersebut lebih tipis (1 m) dari pada tepinya. Bentuknya binkonkaf yang menarik ini mempercepat pertukaran gas-gas antara sel-sel dan plasma darah. Pada mula-mula dibentuk eritrosit mempunyai sebuah nukleus dan hemoglobin tidak begitu banyak. Akan teteapi, ketika dewasa, jumlah hemoglobin dalam sel naik sampai 280 juta molekul menunjukan kira-kira 90 % bobot bersih sel. Kemudian pada akhirnya dari proses sintesis hemoglobin ini, nukleus diperas keluar sel (Kimball, 1993).

2.4

Leukosit (Sel Darah Putih) Leukosit bersifat fagositosit yaitu memakan kuman-kuman penyakit dalam tubuh. Dapat

bergerak amoeboid dan dapat menembus dinding pembuluh darah yang disebut diapedesis (Saktiyono, 1993). Jumlah leukosit jauh lebih kurang dari pada sel-sel darah merah, dan rasio antara kedua tipe kira-kira 1 : 700. Leukosit mempunyai nukleus. Ukuran dari limfosit yang tidak jauh lebih besar (10 m) dari pada eritrosit sampai monosit- monosit yang mungkin tiga kali lebih besar (25 m) (Kimball,1993).

Pada manusia dewasa dapat dijumpai sekitar 7000 sel darah putih per mikroliter darah. Persentase normal dari sel darah putih adalah sebagai berikut: Netrofil polimorfonuklir eosinofil polimorfonuklir basofil polimorfonuklir monosit limfosit 62,0 % 2,3 % 0,4 % 5,3 % 30 %

Jumlah trombosit yang hanya merupakan fragmen-fragmen sel, dalam keadan normal jumlahnya kira-kira 300.000 per mikroliter darah. Sel darah putih atau leukosit sebagai kelompok berbeda dengan sel sel darah merah terhadap perlakuan pada pembuatan hapusan. Eritrosit hanya kehilangan volume sedikit maka karena itu lebih kecil dalam hapusan. Leukosit sebaliknya, bentuknya lebih pipih dalam hapusan dan ukuranya menjadi lebih besar. Leukosit mengandung nukleus dan organel-organel sel. Leukosit menunjukkan gerakan amoboid terbatas.Pada sediaan yang diwarnai dengan hematoksilin atau eusin, leukosit lebih menonjol dari pada eritrosit karena nukleus leukosit yangh berwarna gelap. Kadang kadang ada kemungkinan untuk mengidentifikasi limfosit, monosit dan granulosit (Bevelander, et.al, 1988)

2.5

Haemocytometer IMPROVED NEUBAUER (Counting Chamber). Counting Chamber adalah alat pengukuran yang presisi yang terbuat dari kaca optik,

digunakan untuk menghitung sel atau partikel lain dalam suatu suspensi dibawah mikroskop. Counting Chamber sering digunakan dalam analisis darah (menghitung eritrosit, leukosit, dan trombosit) dan menghitung sel dari suatu usapan lendir misalnya sel sperma dan vaginal smear. Counting Chamber juga dapat digunakan untuk menghitung spora bakteri dan jamur.

Gb. Haemocytometer IMPROVED NEUBAEUR (Counting Chamber) Gambar di atas merupakan desain Counting Chamber secara umum. Terdapat empat cekungan longitudinal pada bagian tengah yang terbuat dari kac optik khusus. Cekungan

tersebut diparalelkan dengan adanya cekungan kecil/pendek di bagian tengah denga diameter

yang sama. Pada bagian tengah terdapat dua bagian utama yang mempunyai permukaan yang halus yang digunakan untuk menempatkan suspensi yang akan diukur jumlah selnya.

Bila dilihat dari samping, counting chamber akan terlihat sebagai berikut:

Pada umumnya terdapat dua model counting chamber, yaitu counting chamber single net dan counting chamber double net.

Single net ruling: middle support without division (one counting net)

Double net ruling: middle support with one division (two counting nets) Cara penggunaan counting chamber adalah sebagai berikut : Pertama-tama bagian eksternal counting chamber dibasahi dengan aquades untuk memudahkan pergerakan cover glass. Cover glass dapat diambil dengan cara menariknya dari bagian samping. Cover glass sangat tipis dan rapuh sehingga harus hati-hati dalam memindahkannya agar tidak pecah.

Peralatan lain dalam perhitungan darah adalah pipet pengenceran. Bentuk pipet pengnceran seperti pipet biasa tapi bagian tengahnya menggembung dan terdapat skala untuk menunjukkan volume larutan pengencer. Leucocyte pipette (white bulb)

Erythrocyte pipette (red bulb)

(Marienfeld laboratory)

Cara menghitung partikel dalam counting chamber adalah sebagai berikut : Di bawah mikroskop jumlah partikel dalam kotak R pada counting chamber dihitung. Cara menghitung tampak terlihat pada gambar yaitu dimulai dari kiri atas.

. Ukuran seluruh bilik adalah 3x3 mm (9mm2) yang terbagi dalam 9 bujur angkar kecil. Bujur sangkar terbagi lagi menjadi 16 kotak kecil yang terletak di bagian pojok (W) masing-masing terbagi lagi menjadi 16 kotak (dengan sisi mm), sedangkan kotak kecil yang terletak ditengah terbagi menjadi 25 bujur sangkar dengan sisi 1/5 mm(disebut kotak R) dari kotak r tersebut masing-masing terbagi lagi menjadi 16 kotak dengan1/20 mm. formula yang digunakan untuk menghitung sel/partikel yaitu :

2.6

Reagen Larutan pengencer yang digunakan untuk menghitung leukosit adalah larutan turk.

Larutan turk merupakan larutan asam asetat 2% ditambah gentlan violet 1%, sehingga warnanya menjadi biru muda. Penambahan gentlan violet ini bertujuan untuk memberi warna pada inti dan granula leukosit. Larutan ini memecah eritrosit dan trombosit, tetapi tidak memecah leukosit. Sedangkan untuk menghitung eritrosit, digunakan larutan Hayem, yang mengandung 10 ml formalin 40%. Larutan ini mudah didapat dan tidak berubah dalam jangka waktu lama serta bentuk discoid eritrosit tetap dipertahankan dan tidak menyebabkan terjadinya aglutinasi

(Wirawan, 2000).

BAB III METODOLOGI 3.1 Alat dan bahan

3.1.1 Alat Alat yang digunakan adalah Haemacytometer Improved Neubauer, Mikroskop, lanset, hand tally counter, dan cawan petri. 3.1.2 Bahan Bahan yang digunakan adalah darah segar, larutan Hayem, larutan Turk, Alkohol 70% dan NaCl 0,9%.

3.2

Cara kerja

3.2.1 Menghitung Eritrosit Perhitungan jumlah eritrosit dilakukan dengan Haemocytometer. Pipet pengencer / pipet toma mempunyaui skala 101 dengan inti gelas berwarna merah.

Gb Haemacytometer

Gb Pipet thoma sel darah merah memiliki inti gelas merah

Ujung jari diolesi dengan alkohol 70 % lalu ditusuk dengan lanset steril dan biarkan darah keluar. Kemudian darah dihisap dengan pipet thoma hingga skala 0,5. Kemudian larutan hayem dihisap hingga tepat pada skala 101. kemudian kedua ujung pipet dipegang dengan jari dan dikocok secara hati-hati selama 2 menit. Setelah itu tetesan pertama dari pipet tersebut dibuang, kemudian sampel diteteskan didekat celah penutup counting chamber, dan dibiarkan suspensi tersebut mengalir dengan sendirinya disekeliling counting chambers. Sampel tidak boleh sampai mengalir dalam parit-parit atau cekungan-cekungan kecil pada counting chambers.

Gb Larutan darah bercampur hayem diteteskan ke haemacytometer Baru kemudian dipasang cover glass dan diamati sel serta jumlahnya dengan bantuan mikroskop dan hand tally counter. Pengamatan dilakukan pada 5 kotak R yaitu 4 kotak ditiap ujung dan 1 kotak paling tengah.

Gb Ruang R pada counting chamber ditunjukkan dengan nomor 5 Penentuan jumlah eritosit dalam tiap mm3, digunakan rumus: eritrosit dimana N eritrosit P = jumlah eritosit dalam 5 kotak R = besar pengenceran = n eritrosit x p x 50

3.2.1 Menghitung Leukosit Perhitungan jumlah eritrosit dilakukan degan Haemocytometer. Pipet pengencer mempunyaui skala 11 dengan inti gelas berwarna putih.

Gb Haemacytometer

Gb Pipet thoma sel darah putih memiliki inti gelas putih

Ujung jari diolesi dengan alkohol 70 % lalu ditusuk dengan lanset steril dan biarkan darah keluar. Kemudian darah dihisap dengan pipet pengencer hingga skala 0,5. Kemudian larutan turk dihisap, hingga tepat pada skala 11. kemudian kedua ujung pipet dipegang dengan jari dan dikocok secara hati-hati selama 2 menit. Setelah itu tetesan pertama dari pipet tersebut dibuang, kemudian sampel diteteskan, dan dibiarkan suspensi tersebut mengalir dengan sendirinya disekeliling counting chambers. Sampel tidak boleh sampai mengalir dalam parit-parit atau cekungan-cekungan kecil pada counting chambers.

Gb Larutan darah bercampur larutan turk diteteskan ke haemacytometer Baru kemudian dipasang cover glass dan diamati sel serta jumlahnya dengan bantuan mikroskop. Dibiarkan 1-2 menit supaya sel-sel mengendap. Pengamatan dilakukan pada 5 kotak W yaitu 4 kotak ditiap ujung.

Gb Ruang W pada counting chamber ditunjukkan dengan nomor 1, 2, 3 dan 4 Penentuan jumlah leukosit/mm3, digunakan rumus : leukosit dimana N leukosit P = jumlah leukosit dalam 4 kotak w = besar pengenceran = n leukosit x p x 2.5

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Data Pengamatan Probandus Jenis Kelamin Pria Usia Berat Badan 75 kg Eritrosit (jumlah sel/mm3) 5.420.000 Leukosit (jumlah sel/mm3) 200

Sulfahri

22 tahun

Hutami

Wanita

20 tahun

69 kg

2.720.000

1.850

4.2

Perhitungan

4.2.1 Perhitungan Eritrosit a. Perhitungan Eritrosit Sulfahri Jumlah Eritrosit /mm3 = Ne x p x 50 p = pengenceran dihitung dari 0,5 ml yang diencerkan dengan larutan hayem hingga volume menjadi 101 ml, sehingga : p = 100 / 0,5 p = 200 kali pengenceran Jumlah Eritrosit /mm3 = Ne x p x 50 = 542 x 200 x 50 = 5.420.000 jumlah sel/mm3 b. Perhitungan Eritrosit Hutami Jumlah Eritrosit /mm3 = Ne x p x 50 p = pengenceran dihitung dari 0,5 ml yang diencerkan dengan larutan hayem hingga volume menjadi 101 ml, sehingga : p = 100 / 0,5 p = 200 kali pengenceran Jumlah Eritrosit /mm3 = Ne x p x 50 = 272 x 200 x 50 = 2.720.000 jumlah sel/mm3

4.2.2 Perhitungan Leukosit a. Perhitungan Leukosit Sulfahri Jumlah Leukosit /mm3 = Nl x p x 2.5

p = pengenceran dihitung dari 0,5 ml yang diencerkan dengan larutan turk hingga volume menjadi 11 ml, sehingga : p = 10 / 0,5 p = 20 kali pengenceran Jumlah Leukosit /mm3 = Nl x p x 2.5 = 4 x 20 x 2.5 = 200 jumlah sel/mm3 b. Perhitungan Eritrosit Hutami Jumlah Leukosit /mm3 = Nl x p x 2.5

p = pengenceran dihitung dari 0,5 ml yang diencerkan dengan larutan turk hingga volume menjadi 11 ml, sehingga : p = 10 / 0,5 p = 20 kali pengenceran Jumlah Leukosit /mm3 = Nl x p x 2.5 = 37 x 20 x 2.5 = 1.850 jumlah sel/mm3

4.3

Pembahasan Praktikum bertujuan untuk menghitung jumlah eritrosit dan leukosit dengan

menggunakan bilik hitung. Praktikum menggunakan dua orang probandus yang diambil darah segarnya dengan menggunakan lanset untuk kemudian diberi pengencer dan diamati di haemacytometer pada mikroskop. 4.3.1 Menghitung Eritrosit Perhitungan jumlah eritrosit dilakukan dengan Haemocytometer. Pipet pengencer / pipet toma mempunyaui skala 101 dengan inti gelas berwarna merah. Praktikum dilakukan dengan langkah sebagai berikut. Ujung jari diolesi dengan alkohol 70 % lalu ditusuk dengan lanset steril dan biarkan darah keluar. Alkohol diusapkan dengan tujuan supaya ujung jari steril sehingga ketika darah keluar tidak bercampur dengan zat-zat lain yang dapat mengkontaminasi. Kemudian darah dihisap dengan pipet thoma hingga skala 0,5. Darah yang ada dalam pipet thoma tidak boleh ada gelembung. Hal ini disebabkan karena gelembung udara dapat menambah volume pipet, sehingga dapat berpengaruh pada perhitungan. Kemudian larutan hayem dihisap hingga tepat pada skala 101. Darah dihisap sampai 0,5 ml dan hayem dihisap sampai 101 dengan tujuan supaya pengenceran dilakukan sebanyak 200 kali. Larutan hayem memiliki fungsi diantaranya adalah mengencerkan darah, merintangi pembekuan, bentuk bentuk eritrosit terlihat jelas, sedangkan bayangan leukosit dan trombosit lenyap. Komposisi larutan hayem adalah Natrium sulfat kristal (5,0 gram), natrium klorida (1,0 gram), merkuri klorida (0,5 gram) dan air suling (200 ml). Larutan hayem yang telah melebihi waktu 3 minggu hendaknya jangan digunakan. Karena didalam larutan akan terbentuk endapan logam merkuri dengan globulin darah. Keadaan ini bisa terjadi bila memasukkan pipet thoma ke tempat botol larutan. Untuk menghindarkan hal ini sebaiknya setiap menghitung eritrosit, larutan hayem dituangkan sedikit kedalam gelas arloji dan sisanya langsung dibuang. Pengenceran sel darah merah dilakukan lebih banyak (200 kali) dibandingkan dengan sel darah putih karena jumlah sel darah merah pada tubuh manusia lebih banyak daripada sel darah putih sehingga dengan pengenceran 200 kali diharapkan dapat mempermudah proses perhitungan. Selain itu juga ukuran sel darah merah lebih kecil dibandingkan dengan sel darah putih. Sehingga perlu pengenceran skala besar untuk melihat dan menghitung sel darah merah yang banyak dan berukuran kecil. Kemudian kedua ujung pipet dipegang dengan jari dan dikocok secara hati-hati selama 2 menit. Pengocokan berfungsi untuk menjadikan darah

homogen dengan larutan hayem saat pengenceran. Setelah itu tetesan pertama dari pipet tersebut dibuang. Pembuangan tetes pertama diasumsikan karena tetes pertama masih mengandung larutan hayem yang belum homogen dengan darah, kemudian sampel diteteskan didekat celah penutup counting chamber, dan dibiarkan suspensi tersebut mengalir dengan sendirinya disekeliling counting chambers. Sampel tidak boleh sampai mengalir dalam parit-parit atau cekungan-cekungan kecil pada counting chambers karena dapat menyebabkan kesalahan perhitungan.

Gb Larutan darah bercampur hayem diteteskan ke haemacytometer Baru kemudian dipasang cover glass dan diamati sel serta jumlahnya dengan bantuan mikroskop dan hand tally counter. Pengamatan dilakukan pada 5 kotak R yaitu 4 kotak ditiap ujung dan 1 kotak paling tengah.

Kotak R

Hasil praktikum menunjukkan bahwa jumlah sel darah merah Sulfahri adalah 5.420.000 sel/ mm3. Jumlah ini menunjukkan sel darah normal, karena menurut Kimbal pada laki-laki normal, rata-rata jumlah eritrosit adalah 5 juta sel. Sedangkan Hutami memiliki jumlah eritrosit sebesat 2.720.000 sel per mm3. Hutami menunjukkan kekurangan sel darah merah karena menurut Kimbal jumlah sel darah merah perempuan normal sebesar 4,5 juta sel dalam setiap milimeter kubik darah. Hutami menunjukkan jumlah sel darah merah yang tidak normal disebabkan karena ada faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti pola hidup yang kurang

tidur kekurangan zat besi dan sebagainya. Faktor utama penyebab anemia adalah kekurangan zat besi yang menjadi salah satu unsur penting dalam memproduksi hemoglobin. Kekurangan zat ini, bisa karena penderita memang kurang mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi seperti sayuran hijau, ikan, hati, telur, dan daging. Atau bisa juga mereka sudah mengonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi, tetapi terjadi gangguan absorsi dalam usus karena ada cacing atau gangguan pencernaan. Karena faktor utama anemia karena kekurangan zat besi, anemia sering disebut anemia defisiensi besi (Pertiwi, 2011). 4.3.2 Menghitung Leukosit Perhitungan jumlah eritrosit dilakukan dengan Haemocytometer. Pipet pengencer mempunyaui skala 11 dengan inti gelas berwarna putih. Ujung jari diolesi dengan alkohol 70 % lalu ditusuk dengan lanset steril dan biarkan darah keluar. Alkohol diusapkan dengan tujuan supaya ujung jari steril sehingga ketika darah keluar tidak bercampur dengan zat-zat lain yang dapat mengkontaminasi. Kemudian darah dihisap dengan pipet thoma hingga skala 0,5. Darah yang ada dalam pipet thoma tidak boleh ada gelembung. Hal ini disebabkan karena gelembung udara dapat menambah volume pipet, sehingga dapat berpengaruh pada perhitungan. Kemudian larutan turk dihisap, hingga tepat pada skala 11. kemudian kedua ujung pipet dipegang dengan jari dan dikocok secara hati-hati selama 2 menit. Pengenceran untuk perhitungan leukosit hanya dilakukan sebanyak 20 kali, dihitung dari 0,5 ml darah yang ditambah larutan turk hingga volume menjadi 11 ml. Ukuran sel darah putih lebih besar daripada sel darah merah sehingga dengan pengenceran yang hanya 20 kali ukuran selnya sudah dapat dilihat dengan jelas. Pada perhitungan leukosit larutan yang digunakan bukan larutan Hayem melainkan larutan Turk yang berwarna biru. Larutan Turk berfungsi untuk pengenceran, melisiskan eritrosit, dan mencegah koagulasi darah, selain itu larutan Turk berfungsi sebagai pewarna leukosit karena adanya gentian violet yang terkandung dalam larutan Turk tersebut. Dalam 100 ml larutan Turk terkandung 3 ml asam asetat glasial, 1 ml gentian violet, dan 96 ml aquades. Setelah itu tetesan pertama dari pipet tersebut dibuang, kemudian sampel diteteskan, dan dibiarkan suspensi tersebut mengalir dengan sendirinya disekeliling counting chambers. Sampel tidak boleh sampai mengalir dalam parit-parit atau cekungan-cekungan kecil pada counting chambers. Baru kemudian dipasang cover glass dan diamati sel serta jumlahnya dengan bantuan mikroskop. Dibiarkan 1-2 menit supaya sel-sel mengendap. Pengamatan dilakukan pada 5 kotak W yaitu 4 kotak ditiap ujung.

KOTAK W

Gb Ruang W pada counting chamber ditunjukkan dengan nomor 1, 2, 3 dan 4 Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jumlah leukosit Sulfahri sangat sedikit, jauh dari normal yakni hanya 200 sel/mm3, sedangkan Hutami memiliki jumlah leukosit agak lebih banyak dari Sulfahri, namun masih saja di bawah batas normal, yakni 1850 sel/mm 3. Menurut Guyton, 1997 pada manusia dewasa dapat dijumpai leukosit sekitar 7000 sel per mikroliter darah, sehingga dapat dikatakan sel darah putih kedua probandus jauh dari normal. Hal ini bisa disebabkan karena adanya kesdalahan dalam perhitungan yang disebabkan karena faktor teknis atau sampling. Faktor teknis bisa terjadi karena mungkin pengamat kurang jeli dalam membaca atau menghitung jumlah sel darah putih. Sedangkan faktor sampling bisa menyebabkan kesalahan karena mungkin sempat terjadi penggumpalan dalam pipet thoma sebelum diberi larutan turk, sehingga larutan tidak homogen.

4.4 1.

Faktor yang mempengaruhi jumlah sel darah Kekurangan Zat Besi.

Perempuan akan lebih mudah menderita anemia bila dibandingkan dengan laki laki karena perempuan mengalami kehilangan darah tiap bulan saat menstruasi. Perempuan juga rentan mengalami kekurangan zat besi. Pada orang dewasa, kekurangan zat besi sering disebabkan oleh karena kehilangan darah khronis seperti menstruasi. 2. Pendarahan

Pendarahan yang banyak saat trauma baik di dalam maupun di luar tubuh akan menyebabkan anemia dalam waktu yang relatif singkat. Pendarahan dalam jumlah banyak biasanya terjadi pada maag khronis yang menyebabkan perlukaan pada dinding lambung.

3.

Genetik

Kelainan herediter atau keturunan juga bisa menyebabkan anemia. Kelainan genetik ini terutama terjadi pada umur sel darah merah yang terlampau pendek sehingga sel darah merah yang beredar dalam tubuh akan selalu kekurangan. Anemia jenis ini dikenal dengan nama sickle cell anemia. Gangguan genetik juga bisa menimpa haemoglobin dimana produksi haemoglobin menjadi sangat rendah. Kelainan ini kita kenal dengan nama thalasemia. 4. Kekurangan Vitamin B12

Anemia yang diakibatkan oleh karena kekurangan vitamin B12 dikenal dengan nama anemia pernisiosa. 5. Kekurangan Asam Folat

Kekurangan asam folat juga sering menyebabkan anemia terutama pada ibu-ibu yang sedang hamil. 6. Pecahnya Dinding Sel Darah Merah

Anemia yang disebabkan oleh karena pecahnya dinding sel darah merah dikenal dengan nama anemia hemolitik. Reaksi antigen antibodi dicurigai sebagai biang kerok terjadinya anemia jenis ini. 7. Gangguan sumsum tulang

Sumsum tulang sebagai pabrik produksi sel darah juga bisa mengalami gangguan sehingga tidak bisa berfungsi dengan baik dalam menghasilkan sel darah merah yang berkualitas. Gangguan pada sumsum tulang biasanya disebabkan oleh karena mestatase sel kanker dari tempat lain.

BAB V KESIMPULAN Kesimpulan praktikum adalah jumlah eritrosit Sulfahri normal yakni sejumlah 5.420.000 sel/mm , sedangkan eritrosit Hutami tidak normal yakni sebesar 2.720.000 sel/mm3. Jumlah leukosit Sulfahri jauh di bawah normal yakni 200 sel/mm3, sedangkan Hutami juga masih di bawah normal yakni sebesar 1850 sel/mm3.
3

DAFTAR PUSTAKA

Bevelander, Gerrit, Judith, Ramaley.1988. Dasar-dasar Histologi. Erlangga: Jakarta Guyton and Hill.1997. Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta Kimball, Jhon W.1993. Biologi.Jilid 2 Erlangga : Jakarta Pertiwi, Putri. 2011. Gejala dan Penyebab Anemia diakses dari http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=31201&jenis=Kesehatan pada Senin, 11 April 2011 pukul 11.37 wib Saktiyono. 1999. Biologi. Erlangga : Jakarta Suripto. 2002. Fisiologi Hewan. ITB : Bandung Wirawan, R,dkk. 2000. Hematologi Sederhana Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta

LAMPIRAN

Perbedaan Ukuran dibentuk diinti diferensiasi

Tabel Perbandingan Eritrosit dan Leukosit Eritrosit Leukosit sekitar 7,5 m berbentuk 6-12 m amorf diskus bikonkaf sum-sum merah tulang tidak ada pada mamalia tidak ada sum-sum tulang berinti satu atau banyak granulosit: neutrofil, basofil, dan eosinofil. Agranulosit: Limfosit, dan monosit. 4.000 11.000 sel/ml

Jumlah

jantan: 4,2 5,5 juta sel/ml betina: 3,2 5,2 juta sel/ml sekitar 120 hari pengikat karbon dioksida dan oksigen, pengatur pH.

umur fungsi

tergantung jenisnya sistem imun tubuh.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Darah Darah adalah cairan yang beredar melalui jantung, arteri, kapiler, dan vena membawa zat

makanan dan oksigen ke sel-sel tubuh, yang secara fisik lebih kental dan mengalir lebih lambat daripada air, dengan pH 7,4 (7,35-7,45), temperatur sekitar 100,4 0F (380C). Darah membentuk sekitar 6-8% dari berat tubuh total dan memiliki volume rata-rata 5 liter pada wanita dan 5,5 liter pada pria. Darah terdiri dari tiga jenis unsur sel yaitu eritrosit, leukosit, dan trombosit yang terendam dalam cairan kompleks plasma (Gambar 1). Fungsi darah adalah mentranspor berbagai zat (O2, CO2, zat makanan, produk metabolisme, vitamin, mineral, elektrolit, panas, dll), regulasi suhu tubuh (pemanasan, pendinginan), menjalarkan sinyal (hormon), sebagai sistem dapar, mencegah kehilangan darah serta pertahanan tubuh melawan zat asing dan mikroorganisme. Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas 2 bagian. Bagian interseluler adalah cairan yang disebut plasma dan di dalamnya terdapat unsure-unsur padat, yaitu sel darah. Volume darah secara keseluruhan kira-kira merupakan satu per duabelas badan atau kira-kira 6 liter. Sekitar 55% adalah cairan, sedangkan 45% sisanya terdiri dari sel darah. Angka ini dinyatakan dalam nilai hematokrit atau volume sel darah yang dipadatkan yang berkisar antara 40 sampai 47. Di waktu sehat volume darah adalah konstan dan sampai batas tertentu diatur oleh tekanan osmotic dalam pembuluh darah dan dalam jaringan. (Pearce,2002). 2.1.1 Komponen Darah Medium transport dalam system sirkulasi adalah darah. Darah tidak hanya mengangkut O2 dan CO2 ke dan dari jantung serta paru-paru, tetapi juga mengangkut bahan lainnya ke seluruh tubuh. Zat-zat tersebut meliputi molekul-molekul makanan (seperti gula, asam amino), limbah metabolisme (uine), macam-macam ion (Ca2+, Na+, Cl-, HCO3-) dan hormon. Darah memiliki 8% dari bobot tubuh. Biasanya laki-laki dengan bobot 70 kg, memiliki volume darah 5,4 liter. (Kimball,1996). Komponen penyusun dari darah terdiri atas : a. Plasma Plasma darah terdiri dari: Air 91%; Protein 8% berupa Albumin, Globulin, Protrombin dan fibrinogen; Mineral berupa NaCl, NaCO3, Ca, F, Mg, Fe dan seterusnya.

Sisanya diisi oleh sejumlah bahan organic yaitu glukosa, lemak, urea, asam urat, kreatinin, kolesterol dan asam amino plasma (cairan yang terdapat dalam sel darah berwarna kuningkuningan) ini juga berisi gas O2 dan CO2; hormone; enzim dan antigen (Pearce, 2002). b. Darah Darah adalah suatu jaringan yang bersifat cair. Darah terdiri atas sel-sel fragmen. Fragmen sel yang terdapat secara bebas dalam medium yang bersifat seperti air (plasma). Sel-sel darah ini disebut sebagai unsur jadi atau 3 tipe unsurjadi yaitu: Sel-sel darah merah (Eritrosit) Sel-sel darah putih (Leukosit) Keping darah (Trombosit). (Pearce, 2002) 2.1.2 Fungsi Darah Secara umum darah berfungsi untuk : 7. alat transportasi yang berkaitan dengan nutrisi, respirasi, ekskresi dan regulasi, 8. mengatur keseimbangan antara darah dengan cairan jaringan (osmoregulasi), 9. mengatur keseimbangan asam-basa tubuh, 10. mengatur suhu tubuh (termoregulasi), 11. sebagai alat pertahan tubuh dengan adanya antibodi, 12. mencegah pendarahan yang terus menerus. (Kimball,1996) 2.2 Sel Darah Merah (Eritrosit) Sel darah merah atau eritrosit berbentuk cakram kecil bikonkaf, cekung pada kedua sisinya, sehingga dilihat dari samping tampak seperti dua buah bulan sabit yang saling bertolak belakang. Dalam setiap mm3 darah terdapat 5.000.000 sel darah. Bila dilihat satu per satu warnanya kuning pucat, tetapi dalam jumlah besar kelihatan merah dan memberi warna pada darah. Strukturnya terdiri atas pembungkus luar atau stroma dan berisi masa hemoglobin. Sel darah merah terbentuk di dalam sumsum tulang (Pearce, 2002). Sel darah merah pada mamalia berbentuk seperti cakram dengan penampang cekung ganda. Bentuk diskoid memberikan luas permukaan maksimum untuk sel dengan volume yang sama, yang memungkinkan untuk mengubah gas maksimum antara jaringan dan sel. Membran Sel darah merah terdiri dari lapisan lipid ganda tersusun asimetris, dengan molekul bertindak

sebagai batas, dimana protein integral tertanam. Secara struktural dan fungsional integritas lapisan lipid ganda dan protein integral tergantung pada asosiasi dengan jaringan protein perifer (sitoskeleton) yang menempel pada permukaan membran dalam. Peran sitoskeleton adalah untuk mengembalikan bentuk sel darah merah setelah pembentukan secara mekanik bagian kapiler (Selim, 2009). Eritrosit pada manusia dibuang intinya selama pematangan, dan diperkirakan tidak akan mampu mensintesis protein (Kabanova, 2009). Jangka hidup sel darah merah kira- kira 120 hari. Sel- sel darah merah yang telah tua akan ditelan oleh sel- sel fagostik yang terdapat dalam hati dan limpa. Jumlah sel darah merah pada wanita normal kira- kira 4,5 juta sel / mm3 darah. Sedangkan untuk laki- laki normal 5 juta / mm3 darah. Meskipun demikian nilai-nilai ini dapat turun-naik dalam suatu kisaran yang luas sekali, tergantung pada faktor-faktor seperti ketinggian tempat seorang hidup dan kesehatan (Kimball, 1996). Hematokrit merupakan jumlah persen sel darah merah dari sejumlah darah. Nilai normal hematokrit tergantung dari jenis kelamin yaitu pada laki- laki 47% dan pada wanita 45%. Hematokrit dapat dihitung dengan cara memasukkan sejumlah darah pada tabung mikrohematokrit yang sudah diberi antikoagulan, kemudian disentrifugasi sehingga

menghasilkan endapan di bawahnya (Saktiyono,1999). Fungsi eritrosit antara lain mentranspor oksigen melalui pengikatan oksihemoglobin dan mentranspor karbondioksida melalui pengikatan karbominohemoglobin serta mengatur pH darah (Hidayati, 2005). Menurut Guyton & Hall (1997), Pengaturan produksi sel darah merah sebagai berikut: Produksi eritrosit diatur oleh eritropoietin, suatu hormon glikoprotein yang dikeluarkan oleh ginjal. Kehilangan darah akibat Haemoragi dapat mengakibatkan peningkatan produksi sel darah merah. Ketinggian lingkungan tempat tinggal memacu produksi sel darah merah agar dapat mengikat oksigen lebih banyak. Gagal jantung atau penyakit paru juga dapat meningkatkan produksi sel darah merah. Hormon kortison, tiroid, dan hormon pertumbuhan lainnya dapat memacu produksi sel darah merah.

Gambar 1. sel darah merah (Anonim, 2011) 2.2.1 Abnormalitas Kondisi Eritrosit 3. Anemia 4. Polisitemia : kekurangan sel darah merah : peningkatan jumlah eritrosit yang mengakibatkan peningkatan viskositas

dan volume darah, darah mengental dan aliran darah menjadi lambat. Ada 2 macam polisitemia : c. Polisitemia kompensatori : terjadi akibat kekurangan oksigen dikarenakan tinggal di tempat yang terlalu tinggi, aktivitas fisik berkepanjangan, atau penyakit jantung d. Polisitemia vera : gangguan pada sumsum tulang (Hidayati, 2005). 5. Hemolisa : peristiwa keluarnya hemoglobin dari eritrosit ke cairan di sekelilingnya. Ada 2 macam hemolisa, yaitu : c. Hemolisa osmotik : terjadi karena perbedaan tekanan osmosis antara eritrosit dengan cairan di sekelilingnya d. Hemolisa kimiawi : terjadi karena membran eritrosit dirusak oleh substansi lain misalnya aseton, alkohol, dll. 6. Krenasi : peristiwa mengkerutnya dinding eritrosit karena air yang berada di dalam eritrosit keluar menuju medium di sekelilingnya. 7. Fragilitas : kerapuhan eritrosit, merupakan gambaran kemampuan membran eritrosit dalam menahan bertambahnya tekanan osmosis dalam sel akibat masuknya air dari medium (Suripto, 2004).

2.3

Sel Darah Putih (Leukosit) Leukosit atau sel darah putih merupakan unit yang mobil/aktif dari sistem pertahanan

tubuh. Leukosit ini sebagian dibentuk di sumsum tulang (granulosit dan monosit serta sedikit

limfosit) dan sebagian lagi di jaringan limfe (limfosit dan sel-sel plasma). Setelah dibentuk, selsel ini diangkut dalam darah menuju berbagai bagian tubuh untuk digunakan. Manfaat dari sel darah putih ialah bahwa kebanyakan ditranspor secara khusus ke daerah yang terinfeksi dan mengalami peradangan serius, jadi, menyediakan pertahanan yang cepat dan kuat terhadap setiap bahan infeksius yang mungkin ada (Guyton, 1997). Sel darah putih terdiri dari 2 macam yaitu : a. Granulosit : memiliki granula sitoplasma. Terdiri dari neutrofil, eusinofil, dan basofil. b. Agranulosit : tanpa granula sitoplasma. Terdiri dari limfosit dan monosit (Hidayati, 2005).

Gambar 2. Sel darah putih (Anonim, 2011) 2.3.1 Macam macam Sel Darah Putih (Leukosit) Ada lima macam sel darah putih yang secara normal ditemukan dalam darah yaitu netrofil polimorfonuklir, eosinofil polimorfonuklir, basofil polimorfonuklir, monosit, limfosit dan kadang-kadang sel plasma. Selain itu terdapat sejumlah besar trombosit, yang merupakan pecahan dari tipe ketujuh sel darah putih yang dijumpai dalam sumsum tulang yaitu megakariosit (Guyton, 1997). 1. Neutrofil yang berfungsi membunuh bakteri, pada infeksi akut jumlah sel ini meningkat. Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri serta proses peradangan kecil lainnya, serta biasanya juga yang memberikan tanggapan pertama terhadap infeksi bakteri; aktivitas dan matinya neutrofil dalam jumlah yang banyak menyebabkan adanya nanah. 2. Basofil, melepaskan histamin, sel ini berperan pada reaksi hipersensitif tipe cepat seperti urtikaria, rhinitis alergika, syok anafilaktik 3. Eosinofil menyerang beberapa jenis parasit, sel ini meningkat pada penderita alergi.

4. Monosit termasuk darah dari sumsum tulang, kemudian masuk jaringan, berubah namanya menjadi makrofag jaringan. Monosit berfungsi seperti netrofil membunuh bakteri.. 5. Limfosit terdiri dari sel limfosit B dan sel limfosit T yang keduanya berperan dalam kekebalan imunitas (Anonim, 2011).

Gambar 3. Macam-macam Leukosit (Anonim, 2011)

Pada manusia dewasa dapat dijumpai leukosit sekitar 7000 sel per mikroliter darah. Persentase normal dari sel darah putih kira-kira sebagai berikut : No 1 2 3 4 5 Nama Netrofil polimorfonuklir Eosinofil polimorfonuklir Basofil polimorfonuklir Monosit Limfosit Total Persentase 62,0 2,3 % 0,4 % 5,3 % 30,0 % 100 % (Guyton, 1997) 2.3.2 Abnormalitas Kondisi Sel darah Putih (Leukosit) 6. Leukimia : kanker yang ditandai dengan meningkatnya jumlah leukosit yang tidak terkendali sehingga dapat memakan (memfagosit) sel darah merah. 7. Leukositosis : penambahan jumlah keseluruhan sel darah putih dalam darah melampaui 10.000 butir / mm3. 8. Leukopenia : berkurangnya jumlah sel darah putih sampai 5.000 atau kurang. 9. Limfositosis : pertambahan jumlah limfosit 10. Agranulositosis : penurunan jumlah granulosit secara menyolok

(Pearce, 2002).

2.4

Haemocytometer Improved Neubaeur (Counting Chamber) Haemocytometer Improved Neubaeur berupa lempeng kokoh yang dirancang untuk

mendapatkan suspensi sel dalam lapisan tipis di atas guratan yang digoreskan pada lempeng. Guratan-guratan terdiri dari segiempat-segiempat dan bujur sangkar yag besar yang tersusun dalam baris dan kolom. Satu kelompok yang terdiri dari 25 bujur sangkar di pusatnya dipisahkan lebih jauh menjadi 16 bujur sangkar kecil. Bagian tengah lempeng lebih rendah daripada serambi di bagian luar. Jalur yang mirip dengan parit dalam memisahkan bagian tengah dari bagian luar serambi pada setiap sisi. Lapisan penutupnya tebal sehingga tahan bengkok. Hal ini memungkinkan adanya lapisan tipis suspensi sel dengan ketebalan yang diketahui dan seragam, yang terletak di atas segiempat-segiempat dengan luas yang diketahui. Rapatan sel diperkirakan dengan menghitung sel dalam bujur-sangkar yang khas. Jenis pengaturan dalam guratan tidak akan mempengaruhi penentuan. Yang penting adalah penggunaan yang benar dari lempenglempeng penghitung (Michael, 1994). a b

Gambar 4. Hemacitometer : a. lempeng, b. Kaca obyek c. rincian memperlihatkan guratan yang dibesarkan. Praktikum ini bertujuan untuk menghitung jumlah eritrosit dan leukosit dengan menggunakan bilik hitung. Praktikum dilakukan terlebih dahulu dengan menentukan probandus yang akan diambil darahnya, yaitu praktikan sebanyak 2 orang tiap kelompok. Langkah awal dari praktikum ini yaitu Penentuan probandus ini didasarkan pada jenis kelamin dan berat badan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan perbedaan jumlah eritrosit pada laki-laki

dan perempuan. Praktikan yang menjadi probandus adalah Puput Perdana W. (Dana) dan Eka Budi Lestari (Eka). Kemudian ujung jari diolesi dengan alkohol 70% sebelum dilakukan penusukan jari. Penggunaan alcohol 70% berfungsi sebagai antiseptic untuk membunuh mikroorganisme dan bakteri yang ada di sekitar jari yang akan ditusuk sehingga tak akan muncul infeksi pada luka. Penusukan dilakukan pada jari ketiga (jari tengah) dan keempat (jari manis) pada tangan kiri. Pemilihan jari ketiga (jari tengah) dan keempat (jari manis) pada tangan kiri dikarenakan pada kedua jari tersebut memiliki jaringan syaraf yang jumlahnya paling sedikit dibandingkan jari-jari yang lain dan juga mempunyai pembuluh darah yang lebih banyak, sehingga tidak membahayakan tubuh dan juga karena dekat dengan jantung sehingga aliran darah cepat dan lancar. Penggunaan tangan kiri karena jaringan epidermis pada tangan kiri lebih tipis dibandingkan tangan kanan sehingga pembuluh darah lebih cepat terluka dan darah lebih cepat keluar, selain itu lebih cepat sembuh dari luka. Jari ditusuk dengan lanset steril dan dibiarkan darah keluar tanpa harus dipijit, hal ini dimaksudkan agar komponen darah tidak tercampur dengan plasmanya. Penusukan ini bertujuan untuk membuat luka (merusak) pembuluh darah sehingga darah mengucur keluar. Sedangkan penggunaan jarum lanset yang baru dan steril bertujuan untuk mencegah infeksi atau pencampuran darah yang tidak homogen. Darah yang keluar kemudian dihisap menggunakan pipet thoma dengan inti gelas merah dan inti gelas putih. Pipet thoma merupakan pipet yang digunakan untuk pengenceran darah. Pipet yang berinti gelas merah untuk pengenceran eritrosit dengan skala pengenceran 101, sedangkan pipet inti gelas putih untuk pengenceran leukosit dengan skala pengenceran 11. Penghisapan darah pada pipet thoma menggunakan skala 0.5 dikarenakan dengan adanya tinggi rendahnya jumlah atau kepadatan suatu sel darah yang akan dilihat/ dihitung. Perbedaan kedua pipet thoma ini terletak pada ukuran/volume dalam pipet thoma itu sendiri. Pipet thoma inti gelas merah untuk eritrosit volumenya hingga 101 dengan pengenceran 100 - 200 kali, sedangkan pipet thoma inti gelas putih untuk menghitung leukosit dengan pengenceran 10 - 20 kali. Hal ini dikarenakan jumlah eritrosit dan leukosit yang berbeda. Jumlah leukosit dalam darah hanya sedikit (4000 - 11000 leukosit/ml3 darah) dibandingkan eritrosit (4.4 juta/ml3) sehingga perlu pengenceran lebih banyak agar jumlah eritrosit bisa dihitung secara manual. Pengenceran pada eritrosit menggunakan larutan hayem, sedangkan pad leukosit menggunakan larutan turk.

Setelah pengenceran kedua ujung pipet dipegang dan dikocok selama 2 menit. Pengocokan ini dilakukan agar larutan yang ada didalam pipet thoma terlarut homogen. Lalu sebelum dimasukkan ke dalam hemasitometer, 2-3 tetesan pertama dibuang. Hal ini bertujuan sebagai validitas darah, karena pada ujung pipet thoma kemungkinan kecil tidak terdapat sel-sel darah. Setelah tercampur homogen, larutan tersebut diteteskan ke gelas objek Hemasitometer Improved Neubauer pada kamar hitung R untuk eritrosit dan kamar hitung W untuk leukosit. Dibiarkan 1-2 menit supaya sel-sel mengendap, kemudian dilakukan perhitungan pada counting camber di bawah mikroskop. Kotak yang digunakan untuk menghitung eritrosit adalah kotak R (kotak kecil yang terletak di tengah terbagi menjadi 25 bujur sangkar dengan sisi 1/5 mm). Kotak ini lebih kecil dari pada kotak perhitungan leukosit, yaitu kotak W (kotak kecil yang terletak di bagian pojok dan masing-masing terbagi lagi menjadi 16 kotak dengan sisi mm).

4.1.1 Menghitung Eritrosit/Sel Darah Merah (SDM) Praktikum penghitungan sel darah merah ini menggunakan hemacitometer dan pipet thoma yang digunakan berwarna digunakan inti gelas warna merah. Prinsip dalam perhitungan eritrosit adalah darah diencerkan dengan suatu larutan isotonis tertentu, kemudian sel-sel darah dimasukkan dan dihitung dalam kamar hitung. Darah dihisap sampai skala 0,5 ml pada batas pipet thoma kemudian dilanjutkan dengan menghisap larutan hayem hingga batas 101, artinya pengenceran 200 kali. Pengambilan darah dengan pipet thoma cukup dengan menyentuhkan pipet pada daerah atau jari yang telah berdarah, maka darah tersebut akan masuk dan naik ke dalam pipet karena pipet bersifat kapiler. Pengenceran 200 kali dilakukan karena darah terlalu kental dan juga agar memudahkan dalam perhitungan. Penggunaan larutan hayem berwarna bening berfungsi sebagai larutan isotonis pada eritrosit, untuk mengencerkan eritrosit, merintangi pembekuan, memperjelas bentuk eritrosit dan mempertahankan bentuk diskoid eritrosit dan tidak menyebabkan aglutinasi. Komposisi dari larutan hayem adalah Natrium Sulfat kristal (5gr), Natrium clorit c.p (1 gr), Merkuri Clorida (0,5 gr), air suling (200 ml) dan formalin (0,4

gram). Larutan hayem yang telah melebihi waktu 3 minggu hendaknya jangan digunakan. Karena di dalam larutan akan terbentuk endapan logam merkuri dengan globulin darah. Keadaan ini dapat terjadi bila memasukkan pipet thoma ke tempat botol larutan. Untuk menghindarkan hal ini sebaiknya setiap menghitung eritrosit, larutan hayem dituangkan sedikit ke dalam gelas arloji dan sisanya langsung dibuang (Syaifuddin,1997).

Hasil pengamatan didapatkan jumlah eritrosit pada kamar bilik hitung 1, 2, 3, 4 dan 5 untuk probandus Dana sebesar 7.280.000 sel/mm3 dan Eka sebesar 8.010.000 sel/mm3. Dari hasil pengamatan dapat dikatakan bahwa jumlah eritrosit dari kedua praktikan tersebut adalah tidak normal karena jumlah eritrositnya melebihi dari konsentrasi sel-sel darah merah dalam darah pada pri normal sebesar 4,2 5,5 juta sel/mm3 dan pada wanita normal sebesar 3,2 5,2 juta sel/mm3. Kedua praktikan dapat dikatakan mengalami abnormalitas sel darah merah, yaitu polisitemia (kelebihan jumlah sel darah merah). Angka tersebut dapat menunjukkan ketidaknormalan dari praktikan ataupun dapat dikarenakan kesalahan dalam melakukan praktikum. Kemungkinan kesalahan yang dilakukan dalam praktikum dipengaruhi beberapa faktor, antara lain adalah : - Teknik Teknik yang dilakukan kurang tepat, misalnya kemampuan pengamat dalam melakukan penghitungan yang berbeda-beda sehingga mempengaruhi jumlah

eritrosit/leukosit yang dihitung, kurang ketelitian pengamat dalam menghitung jumlah eritrosit/leukosit, kesalahan dalam membuang tetesan awal sebelum ditetesi pada counting chamber. - Sampling Pada waktu sampling kemungkinan terjadi kesalahan yaitu ketika jari ditusuk dengan jarum lanset darahnya menyebar, adanya pengurutan/pemijitan pada jari pada saat penghisapan darah, pengambilan darah melebihi skala 0,5 sehingga terlalu banyak darah yang terambil atau darah belum banyak sudah dilakukan penghisapan, adanya gelembung udara pada pipet thoma saat penghisapan, pengenceran tidak tepat (tidak mencapai batas 101 atau 11). - Peralatan Peralatan yang digunakan belum terlalu bersih dan dalam keadaan tidak baik (misalnya pada pipet thoma dan jarum lanset yang digunakan sedikit rusak, sehingga mempengaruhi volume darah yang diambil pada saat penghisapan).

4.1.2 Menghitung Leukosit / Sel Darah Putih (SDP) Praktikum penghitungan sel darah putih ini menggunakan hemacitometer dan pipet

thoma yang digunakan berwarna digunakan inti gelas warna putih. Teknik perhitungan untuk jumlah leukosit dalam darah secara prinsipal sama dengan teknik perhitungan jumlah eritrosit dalam darah, perbedaannya adalah terletak pada pengenceran, pipet thoma yang digunakan dan larutan pengencer/reagennya. Pada perhitungan leukosit dilakukan pengenceran 20 kali. Hal ini disebabkan jumlah leukosit di dalam tubuh manusia jumlahnya lebih sedikit dibandingkan jumlah eritrosit, yaitu 4000-11000 sel/ mm3 sehingga untuk menghitungnya tidak diperlukan pengenceran yang tinggi. Kotak yang digunakan untuk menghitung leukosit adalah kotak W (kotak kecil yang terletak di bagian pojok dan masing-masing terbagi lagi menjadi 16 kotak dengan sisi mm). Kotak W lebih besar daripada kotak perhitungan eritrosit (kotak R). Apabila pengenceran yang dilakukan terlalu tinggi (seperti pada perhitungan eritrosit), maka jumlah leukosit yang terdapat pada kotak W sangat sedikit sehingga tidak mewakili jumlah SDP yang seharusnya. Pipet thoma yang digunakan untuk menghitung leukosit memiliki skala maksimum yang lebih kecil, yaitu 11, sedang skala maksimum pipet thoma untuk eritrosit adalah 101. Selain berbeda pada skala maksimum, pipet thoma untuk leukosit memiliki warna inti gelas putih, sedangkan pada perhitungan eritrosit inti gelas berwarna merah. Pada perhitungan leukosit larutan yang digunakan bukan larutan Hayem melainkan larutan Turk yang berwarna biru. Larutan Turk berfungsi untuk pengenceran, melisiskan eritrosit, dan mencegah koagulasi darah, selain itu larutan Turk berfungsi sebagai pewarna leukosit karena adanya gentian violet yang terkandung dalam larutan Turk tersebut. Dalam 100 ml larutan Turk terkandung 3 ml asam asetat glasial, 1 ml gentian violet, dan 96 ml aquades (Syaifuddin,1997). Perhitungan dilakukan pada bilik A, B, C, dan D dari Hemasitometer. Hasil perhitungan dari pengamatan didapat jumlah leukosit pada probandus Dana sebesar 8750 sel/mm3 dan Eka sebesar 9400 sel/mm3. Hasil ini juga menunjukkan jumlah leukosit sesuai dengan teori yang ada, dimana pada orang dewasa sehat jumlah leukosit kira-kira 4000-11000 sel/ mm3. Jumlah eritrosit dan leukosit pada kedua praktikan berbeda dipengaruhi beberapa faktor yaitu jenis kelamin, aktivitas, umur/usia, berat badan, nutrisi dan kondisi praktikan yang berbeda. Jumlah eritrosit dan leukosit pada probandus Eka lebih besar dibandingkan dengan probandus Dana. Hal ini dilihat dari segi usia (usia Dana lebih tua 1 tahun dibandingkan Eka), segi aktivitas (Eka lebih sering berolahraga dibandingkan Dana), segi berat badan (berat badan Eka lebih besar daripada Dana), berdasarkan ketiga hal tersebut kemungkinan jumlah eritrosit dan leukosit Eka

lebih besar daripada Dana. Sedangkan dari segi jenis kelamin (Dana berjenis kelamin laki-laki dan Eka berjenis perempuan) jadi seharusnya jumlah sel darah merah Dana lebih besar daripada Eka, bukan sebaliknya. Dari segi nutrisi jumlah eritrosit dan leukosit kedua praktikan tidak dapat dibandingkan karena berkaitan dari asupan yang dimakan oleh kedua praktikan sehari-hari yang berbeda-beda. Kemungkinan nutrisi yang dimakan Eka lebih banyak dibandingkan dengan Dana melihat dari jumlah eritrosit dan leukosit Eka lebih besar daripada Dana. Adapun faktor yang mempengaruhi banyak sedikitnya jumlah sel darah adalah : Nutrisi, bila seseorang diberikan nutrisi yang banyak maka orang tersebut akan memiliki jumlah sel darah lebih besar dibandingkan orang yang kekurangan nutrisi; Usia/umur, pada saat bayi baru lahir jumlah eritrosit yaitu sekitar 6.83 juta/ml, kemudian pada saat bayi tumbuh menurun sampai sekitar 4 juta/ml, kemudian naik lagi pada orang dewasa sehat kira-kira 4.5 juta/ml; Faktor lingkungan, di daerah dataran tinggi orang akan lebih banyak memiliki sel darah. Hal ini dikarenakan di dataran tinggi seseorang membutuhkan oksigen lebih banyak sehingga tubuh akan meningkatkan produksi eritrosit lebih banyak agar hemoglobin dapat lebih banyak mengikat oksigen. Hemoglobin merupakan protein yang mengandung senyawa hemin yang mengandung besi yang memiliki daya ikat terhadap oksigen dan karbondioksida. Aktivitas fisik yang berkepanjangan dapat meningkatkan jumlah sel darah. Jenis Kelamin, pada umumnya jumlah sel darah (eritrosit dan leukosit) pada laki-laki jumlahnya lebih tinggi dari pada perempuan. Hal ini disebabkan karena pada wanita mengalami siklus menstruasi di mana setiap bulan mengeluarkan sejumlah darah akibat dari luruhnya dinding endometrium. Keluarnya darah pada wanita akibat siklus menstruasi menyebabkan jumlah total sel darah pada tubuh wanita berkurang atau lebih rendah dari pada jumlah total sel darah pada laki-laki (Kimball, 1996). Faktor yang mempengaruhi nomal atau tidaknya darah yaitu antara lain : Kekurangan Zat Besi. Perempuan akan lebih mudah menderita anemia bila dibandingkan dengan laki laki karena perempuan mengalami kehilangan darah tiap bulan saat menstruasi. Perempuan juga rentan mengalami kekurangan zat besi. Pada orang dewasa, kekurangan zat besi sering disebabkan oleh karena kehilangan darah khronis seperti menstruasi.

Pendarahan Pendarahan yang banyak saat trauma baik di dalam maupun di luar tubuh akan

menyebabkan anemia dalam waktu yang relatif singkat. Pendarahan dalam jumlah banyak biasanya terjadi pada maag khronis yang menyebabkan perlukaan pada dinding lambung. Genetik Kelainan herediter atau keturunan juga bisa menyebabkan anemia. Kelainan genetik ini terutama terjadi pada umur sel darah merah yang terlampau pendek sehingga sel darah merah yang beredar dalam tubuh akan selalu kekurangan. Anemia jenis ini dikenal dengan nama sickle cell anemia. Gangguan genetik juga bisa menimpa haemoglobin dimana produksi haemoglobin menjadi sangat rendah. Kelainan ini kita kenal dengan nama thalasemia. Kekurangan Vitamin B12 Anemia yang diakibatkan oleh karena kekurangan vitamin B12 dikenal dengan nama anemia pernisiosa. Kekurangan Asam Folat Kekurangan asam folat juga sering menyebabkan anemia terutama pada ibu-ibu yang sedang hamil. Pecahnya Dinding Sel Darah Merah Anemia yang disebabkan oleh karena pecahnya dinding sel darah merah dikenal dengan nama anemia hemolitik. Gangguan sumsum tulang Sumsum tulang sebagai pabrik produksi sel darah juga bisa mengalami gangguan sehingga tidak bisa berfungsi dengan baik dalam menghasilkan sel darah merah yang berkualitas. Gangguan pada sumsum tulang biasanya disebabkan oleh karena mestatase sel kanker dari tempat lain.

BAB V KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dalam pratikum ini adalah perhitungan jumlah sel darah merah (eritrosit) dan sel darah putih (leukosit) dapat dilakukan dengan menggunakan haemacytometer improved neubaver. Prinsip kerja haemacytometer improved neubaver adalah menghitung eritrosit pada kotak R dan leukosit pada waktu W. Berdasarkan hasil perhitungan dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa jumlah sel darah merah (eritrosit) Dana dan Eka tidak normal, karena tidak dapat dihitung dengan maksimal. Jumlah sel darah putih

(leukosit) pada dan dan Eka normal. Jumlah darah normal untuk eritrosit adalah 4.000.000 sel/mm3 dan Leukosit 4.000-11.000 sel/mm3. Factor yang mempengaruhi jumlah sel darah merah dan sel darah putih adalah jenis kelamin, berat badan, umur, nutrisi, kondisi praktikan dan aktivitas.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Sel Darah Merah. http://www.harunyahya.com. Diakses pada tanggal 3 April 2011 pukul 08.00 WIB. Anonim. 2010. Sel Darah Putih. http://www.medicastore.com. Diakses pada tanggal 3 April 2011 pukul 08.00 WIB. Guyton dan Hall. 1997. Fisiologi Kedokteran. Penerbit EGC: Jakarta. Hidayati, Dewi. 2005. Modul Ajar Fisiologi Hewan. Program Studi Biologi FMIPA-ITS: Surabaya. Kabanova, Sveta, Petra Kleinbongard, Jens Volkmer, Birgit Andree, Malte Kelm, Thomas W. Jax. 2009. Gene Expression Analysis Of Human Red Blood Cells. Department of Medicine, Division of Cardiology and Angiology, Universittsklinikum Dsseldorf : Germany. Kimball, John W.1996. Biologi Umum jilid 2. IPB: Bogor. Michael, P. (1994). Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. UI Press, Jakarta. Pearce, Evelyn. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia: Jakarta. Saktiyono. 1999. Biologi. Erlangga: Jakarta. Selim, Nabila s., O.S. Desouky, Seham M. Ali, I.H. Ibrahim dan Hoda A. Ashry. 2009. Effect Of Gamma Radiation On Some Biophysical Properties Of Red Blood Cell Membrane. National Center for Radiation Research and Technology: Egypt. Romanian J. Biophys., Vol. 19, No. 3, P. 171185, Bucharest, 2009 Suripto. 2004. Fisiologi Hewan. ITB : Bandung Syaifuddin. 1997. Anatomi Fisiologi. Buku Kedokteran EGC: Jakarta.

LAMPIRAN

Tabel Perbedaan Eritrosit dan Leukosit Perbedaan Ukuran Eritrosit Sekitar 7,5 m berbentuk diskus bikonkaf Temap pembentukan sum-sum tulang merah sum-sum tulang dan sebagian lagi di jaringan limfe Inti diferensiasi tidak ada pada mamalia tidak ada berinti satu atau banyak granulosit: neutrofil, basofil, dan eosinofil. Agranulosit: Limfosit, dan monosit. Jumlah Pria: 4,2 5,5 juta sel/ml Wanita: 3,2 5,2 juta sel/ml Umur Fungsi Sekitar 120 hari Untuk mentranspor oksigen melalui oksihemoglobin, entranspor karbondioksida melalui pengikatan karbominohemoglobin pengatur pH. Tergantung jenisnya Untuk membantu tubuh melawan penyakit infeksi berbagai 4.000 11.000 sel/ml Leukosit 6-12 m amorf

FISIOLOGI HEWAN

MENGHITUNG JUMLAH ERITROSIT DAN LEUKOSIT I.TUJUAN Tujuan dari praktikum kali ini yaitu agar mahasiswa mampu menggunakan bilik hitung, serta menghitung jumlah eritrosit dan leukosit dengan menggunakan bilik hitung.

II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DARAH Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas 2 bagian. Bagian interseluler adalah cairan yang disebut plasma dan didalamnya terdapat unsure-unsur padat, yaitu sel darah. Volume darah secara keseluruhan kira-kira merupakan satu per duabelas badan atau kira-kira 6 liter. Sekitar 55% adalah cairan, sedangkan 45% sisanya terdiri dari sel darah. Angka ini dinyatakan dalam nilai hematokrit atau volume sel darah yang dipadatkan yang berkisar antara 40 sampai 47. Di waktu sehat volume darah adalah konstan dan sampai batas tertentu diatur oleh tekanan osmotic dalam pembuluh darah dan dalam jaringan. (Pearce,2002). 2.2 FUNGSI DARAH Dua fungsi utama dari darah ialah mengangkut bahan-bahan (dan panas) ke dalam dari semua jaringanjaringan badan dan mempertahankan badan terhadap penyakit menular. Air adalah sebagai pelarut yang terbaik didalam plasma yang menyebabkan darah sebagai medium transport yang demikan efektif. Glukosa, asam-asam amino, asam lemak berantai pendek, vitamin, hormone, nitrogen dan banyak ion-ion lain semuanya diangkut terlarut dalam plasma darah. (Kimball,2000). 2.3 KOMPONEN DARAH Medium transport dalam system sirkulasi adalah darah. Darah tidak hanya mengangkut O 2 dan CO2 ke dan dari jantung serta paru-paru, tetapi juga mengangkut bahan lainnya ke seluruh tubuh. Zat-zat tersebut meliputi molekul-molekul makanan (seperti gula, asam amino), limbah metabolisme (uine), macam-macam ion (Ca2+, Na+, Cl-, HCO3-) dan hormon. Darah memiliki 8% dari bobot tubuh. Biasanya laki-laki dengan bobot 70 kg, memiliki volume darah 5,4 liter. (Kimball,1996). A. PLASMA Plasma darah terdiri dari: Air 91%; Protein 8% berupa Albumin, Globulin, Protrombin dan fibrinogen; Mineral berupa NaCl, NaCO3, Ca, F, Mg, Fe dan seterusnya. Sisanya diisi oleh sejumlah bahan organic yaitu glukosa, lemak, urea, asam urat, kreatinin, kolesterol dan asam amino plasma (cairan yang terdapat dalam sel darah berwarna

kuning-kuningan) ini juga berisi gas O2 dan CO2; hormone; enzim dan antigen (Pearce,2002). B. SEL DARAH Darah adalah suatu jaringan yang bersifat cair. Darah terdiri atas sel-sel fragmen. Fragmen sel yang terdapat secara bebas dalam medium yang bersifat seperti air (plasma). Sel-sel darah ini disebut sebagai unsur jadi atau 3 tipe unsurjadi yaitu: 1) 2) 3) 2.4 Sel-sel darah merah (Eritrosit) Sel-sel darah putih (Leukosit) Keping darah (Trombosit) (Pearce,2002). SEL DARAH MERAH (ERITROSIT)

Setiap sel darah merah adalah bulatan berbentuk tipis rata dengan tengahnya yang cekung seperti dimampatkan pada permukaan atas dan bawah dari bulatan tadi. Diameternya 7,5 m dan ketebalan tepinya 2 m. Sedangkan bagian tengah yang lebih mampat (biknkaf) ketebalannya 1 m. Hampir semua anterior (bagian dalam) dilengkapi oleh molekul pengangkut O2 yaitu hemoglobin. Hemoglobin terdapat dalam jumlah besar (250 juta molekul) dalam setiap sel darah merah (Kimball,1996). Pada orang dewasa, eritrosit dibentuk dari sel-sel pokok yang terletak dalam sumsum tulang, teritama tulang rusuk, sternum dan vertebrae. Pada waktu mula-mula dibentuk, eritrosit memiliki sebuah nucleus dan hemoglobin tidak begitu banyak terdapat di eritrosit. Namun saat dewasa, hemoglobin dalam sel meningkat, dan pada akhir proses, nucleus diperas keluar dari sel. Eritrosit ini tidak memiliki nucleus dan kemampuan diri sendiri, sehingga umurnya pendek. Jangka hidup sel eritrosit hanya sekitar 120 hari (Kimball, 1996). Sel-sel darah merah yang telah tua akan ditelan oleh sel-sel fagosit yang terdapat dalam hati dan dalam struktur suatu kantung (limfa). Sebagian besar besi (Fe) dari hemoglobin didapat untuk digunakan kembali. Sedangkan sisa dari molekul hemoglobin dipecah. Beberapa hasil dari pemecahan ini, pigmen empedu disekresikan oleh hati ke dalam empedu (Kimball, 1996). Bila terjadi pendarahan maka sel darah merah dengan haemoglobinnya sebagai pembawa O2 hilang. Pada pendarahan sedang, sel-sel itu diganti dalam waktu beberapa minggu berikutnya. Tetapi bila kadar haemoglobinnya turun sampai 40 % atau dibawahnya, maka diperlukan transfusi darah (Pearce, 2002).

Dalam minggu-minggu pertama kehidupan embrio, sel-sel darah primitive yang berinti diproduksi dalam yolk sac. Selama pertengahan trisemester maka gastasi, hati dianggap sebagai organ utama untuk memproduksi sel-sel darah merah, walaupun terdapat juga sel-sel darah merah dalam jumlah cukup banyak yang diproduksi dalam limpa dan limfonodus. Lalu selama bulan terakhir kehamilan dan sesudah lahir, sel-sel darah merah hanya diproduksi oleh sumsum tulang (Pearce, 2002).

Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sel darah merah yaitu: 1. Oksigenasi jaringan sebagai pengatur dasar.
Setiap keadaan yang menyebabkan penurunan transportasi jumlah oksigen ke jaringan biasanya meningkatkan kecepatan produksi sel darah merah. Bila seseorang menjadi begitu anemic akibat adanya pendarahan atau kondisi lainnya, maka sumsum tulang segera memulai produksi sel darah merah dalam jumlah yang banyak sekali. Pada suatu daerah dengan ketinggian yang sangat tinggi, dimana jumlah oksigen dalam udara sangat rendah, maka jumlah oksigen yang diangkut ke jaringan tidak cukup dan produksi sel darah merah meningkat. Bermacam-macam penyakit pada system sirkulasi yang menyebabkan penurunan aliran darah ke jaringan sehubungan dengan pembuluh darah perifer, dan terutama yang dapat menyebabkan kegagalan absurbsi oksigen oleh darah sewaktu melewati paru-paru dan juga dapat meningkatkan kecepatan produksi sel darah merah. Hal ini tampak jelas pada keadaan gagal jantung yang lama serta kebanyakan penyakit paru-paru, karena hipoksia jaringan yang timbul akibat keadaan ini akan meningkatkan kecepatan produksi sel darah merah dan hasilnya kenaikan hematokrit dan biasanya meningkatkan volume darah total (Guyton,1997). 2. Eritroprotein Faktor utama yang dapat merangsang produksi sel darah merah adalah hormone dalam sirkulasi yang disebut eritroprotein, yaitu glikoprotein dengan berat molekul kira-kira 34.000. Bila eritroprotein ini tidak ada, maka keadaan hipoksia adalah berpengaruh sedikit atau tidak ada sama sekali dalam perangsangan produksi sel darah merah. Sebaliknya, bila system eritroprotein ini berfungsi, maka hipoksia akan dengan nyata meningkatkan produksi eritroprotein selanjutnya akan memperkuat produksi sel darah merah sampai keadaan hipoksia tertanggulangi (Guyton,1997). 2.5 SEL DARAH PUTIH ( LEUKOSIT ) Kurang dari 1 % darah manusia adalah leukosit. Ukuran leukosit lebih besar daripada eritrosit. Leukosit tidak mengandung haemoglobin, memiliki nucleus dan pada dasarnya dijumpai dalam keadaan tidak berwarna (Kimball, 1996).

Ada 2 macam tipe leukosit yaitu granular dan agranular. Granulosit adalah leukosit sirkular dan memiliki granule pada sitoplasmanya. Sedangkan agranulosit tidak memiliki granule pada sitoplasmanya. Granulosit terdiri atas 3 tipe yaitu sel metrofil, dimana paling banyak dijumpai, mewarnai dirinya dengan pewarna netral atau campuran pewarna asam basa dan tampak berwarna ungu; sel eusinofil, dimana sel ini sedikit dijumpai, penyerap warna yang bersifat asam atau eosin dan kelihatan merah; sel basofil yang menyerap pewarna basa dan menjadi biru. Sedangkan agranulosit terdiri atas monosit, yang berfungsi untuk menutup daerah luka, membungkus dan memfagosit setelah netrofil dan basofil (Pearce, 2002). Diferensiasi dini dari sel stem hemopoietik pluripoten menjadi berbagai sel stem commited. Selain sel-sel commited untuk membentuk sel darah merah, terbentuk pada dua silsilah utama dari sel darah putih, silsilah mielositik dan limfositik. Silsilah mielositik dimulai dengan mieloblas dan silsilah limfositik yang dimulai dengan limfoblas (Guyton, 1997).

Granulosit dan monosit hanya ditemukan pada sumsum tulang. Limfosit dan sel plasma teritama diproduksi dalam organ limfogen, termasuk kelenjar limfe, limpa, timus, tonsil dan berbagai kantung jaringan limfoid dimana saja dalam tubuh, terutama dalam sumsum tulang dan plak player dibawah epitel dinding usus(Guyton, 1997).
Sel darah putih yang dibentuk dalam sumsum tulang, terutama granulosit, disimpan dalam sumsum sampai mereka diperlukan di sistem sirkulasi. Kemudian bila kebutuhannya meningkat, bermacam-macam factor menyebabkan granulosit dikeluarkan. Dalam keadaan normal, granulosit yang bersirkulasi dalam seluruh darah kirakira 3X jumlah yang disimpan dalam sumsum. Jumlah ini sesuai dengan persediaan granulosit dalam 6 hari (Guyton, 1997).

Limfosit sebagian besar disimpan dalam berbagai area jaringan limfoid kecuali pada sedikit limfosit yang secara temporer diangkut dalam darah. Megakariosit juga dibentuk dalam sumsum tulang dan merupakan bagian dari kelompok mielogenosa dalam sumsum tulang. Megakariosit ini lalu pecah dalam sumsum tulang, menjadi fragmen kecil yang dikenal dengan platelets atau trombosit yang selanjutnya masuk ke dalam darah (Guyton, 1997).

2.6 KEPING DARAH (TROMBOSIT) Keping darah (trombosit) adalah fragmen sel yang dihasilkan oleh sel besar (megakariot) dalam sumsum tulang. Keping darah ini berbentuk seperti cakram dan jauh lebih kecil (2 m) daripada eritrosit. Sel-sel ini sangat penting dalam pembekuan darah (Kimball, 1996). 2.7 PENGHITUNGAN SEL DARAH Bisa dilakukan secara: a. Langsung yaitu dengan menggunakan kamar hitung atau dengan alat-alat elektronik b. Tidak langsung yaitu dengan kesan jumlah apusan darah. Hemasitometer merupakan alat untuk mnghitung jumlah sel darah yang terdiri dari : 1. Pipet a. pipet thoma untuk pengencer eritrosit (Pipet Eritrosit) terdiri dari sebuah pipa kapiler yang bergaris bagi dan yang membesar pada salah satu ujung menjadi bola. Dalam bola terdapat sebutir kaca merah Pada pertengahan pipa kapiler itu ada garis bertanda angka 0.5 dan pada bagian atasnya yaitu dekat bola terdapat 1.0 diatas bola dan angka lin lagi, yaitu pada garis tanda 101 (angka-angka itu merupakan perbandingan volume) Yang penting dan menentukan ialah pengenceran darah yang terjadi dalam pipet itu. bentuknya sama dengan pipet eritrosit. Di dalam bola terdapat sebutir kaca putih Pada batang kapiler juga terdapat garis-garis yang bertandakan 0.5 dan 1.0 b. pipet thoma untuk mengencerkan leukosit (Pipet leukosit)

2. HEMASITOMETER

Ini adalah lempeng kokoh yang dirancang untuk mendapatkan suspensi sel dalam lapisan tipis diatas guratan yang digoreskan pada lempeng. Guratan terdiri dari segiempat-segi empat dan bujur

sangkar yang besar yang tersusun dalam baris dan kolom. Satu kelompok yang terdiri dari 25 bujur sangkar dipusatnya dipisahkan lebih jauh menjadi 16 bujur sangkar kecil (gambar 3). Pengaturan guratan dapat beragam dalam berbagai model, namun semua memiliki bujur sangkar dan segi empat dengan ukuran yang spesifik. Bagian tengah lempeng lebih rendah daripada serambi bagian luar, jalur yang mirip parit dalam memecahkan bagian tengah dari bagian luar serambi pada setiap sisi lapisan penutupnya tebal sehingga tahan bengkok. Ini memungkinkan adanya lapisan tipis suspensi sel dengan jetebalan yang diketahui dan seragam, yang terletak di atas segi empat- segi empat dengan luas yang diketahui. Rapatan sel diperkirakan dengan menghitung sel dalam bujur sangkar yang khas jenis pengatoran dalam guratan tidak akan mempengaruhi penentuan. Yang penting adalah penggunaan yang benar dan lempeng penghitung. Dengan demikian disarankan untuk membiasakan diri dengan tata kerja sebelum melakukan penghitungan sel. (Pearce , 2002).
c b

Gambar Hemacitometer : a. lempeng, b. Kaca obyek c. rincian memperlihatkan guratan yang dibesarkan.

Hemacitometer harus di bersihkan bagian lempengnyadan lapisan penutupnya dengan bahan lunak dan kering, atau tissue sebelum hemacitometer tersebut digunakan. Lembabkan lempeng sedikit dengan meniupnya. Sekarang letakkan salah satu sisi lapisan penutup diatas serambi pusat yang rendah, menutupi sisi lempeng di dekat anda, dengan menggunakan jari telunjuk anda, tekanlah sisi-sisi lapisan penutup yang di tumpu oleh serambi luar yang tinggi. Sambil memberikan tekanan pada sisi-sisi lapisan penutup, doronglah maju dengan jari jempol, sampai lapisan penutup terletak di atas guratan, dan sisi lapisan penutup yang tidak ditumpu oleh oleh lempeng. Lapisan penutup tersebut mahal. Bila lapisan penutup telah diletakkan dengan benar, cincin hamburan berwarna pelangi akan tampak. Penempelan lapisan penutup pada lempeng harus cukup kuat untuk menjaga lempeng tetap menempel padanya, pada saat lapisan penutup di angkat. (Pearce , 2002).

Gunakan pipet kapler atau alat suntikan untuk memasukkan sampel sebagai tetesan di bawah lapisan penutup, mengisi ruang antara serambi pusat dan lapisan penutup dengan amat cermat. Ini harus dilakukan dalam satu gerakan. Tidak boleh ada kelebihan dalam daerah sekeliling paiit. Hilangkan kelebihan cairan dari bagian atas dan samping lapisan penutup, dan usaplah bagian bawah lempeng sampai kering. Biarkan lempeng tidak terganggu selama 1,2 menit, untuk membiarkan suspensi mengendap sehingga memungkinkan perhitungan tanpa mefokus pada sebagai jarak. Periode ini tidak boleh terlalu lama, karena pengeringan bagian tepi lapisan penutup akan menyebabkan aliran yang menghasilkan perpindahan sel setelah mereka mengendap. Letakkan lempeng pada alas mikroskop, temukan guratan dan sesuaikan perbesarannya sedemikian, sehingga sebuah bujur sangkar besar terletak di dalam daerah fokus (Pearce , 2002).

Bilik Hitung Improved Neubauer

R F R Haemocytometer tampak muka Untuk menghitung jumlah sel dapat digunakan rumus : F

Jumlah sel Area hitung (mm2) x kedalaman chamber (mm) x pengenceran

= ... sel per l darah Untuk menentukan jumlah eritrosit dalam

tiap

mm3

digunakan rumus :

Jumlah Eritrosit = n eritrosit x p x 50 Dimana n eritrosit = jumlah eritrosit dalam 5 kotak R p = besar pengenceran

Untuk menentukan jumlah leukosit dalam tiap mm3 digunakan rumus : Jumlah Leukosit = n leukosit x p x 2.5 Dimana N leukosit = jumlah leukosit dalam 4 kotak W p = besar pengenceran LARUTAN HAYEM

Merupakan larutan formal sitrat yang mengandung 10 ml formalin 40% dan natrium sulfat 0.109 M hingga volume 1 liter. Mudah didapat dan tidak berubah dalam jangka waktu lama. Berfungsi untuk mempertahankan bentuk discoid eritrosit dan tidak menyebabkan aglutinasi Bersifat isotonic pada eritrosit LARUTAN TURK merupakan larutan yang mengandung azam asetat 2 % dan gentian violet 1 % yang menimbulkan warna ungu muda. Berfungsi memberi warna pada inti dan granula eritrosit Dapat memecah eritrosit berinti(Syaifuddin, 1997). dan trombosit, tetapi tidak memecah leukosit/eritrosit

III. METODOLOGI 3.1 Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan ialah Haemasitometer, darah segar, larutan Hayem, larutan Turk, lanset, alcohol 75 % dan mikroskop.

3.2 Skema kerja 3.2.1 Menghitung Eritrosit

Ujung jari

- diolesi dengan alcohol, lalu ditusuk dengan lanset steril

Darah
- dihisap dengan pipet pengencer hingga skala 1.0 - dibersihkan ujung pipet dengan kertas saring - dihisap larutan Hayem hingga skala 101 - dipegang dengan kedua jari dan telunjuk dan dikocok menit - dibuang tetesan pertama -diletakkan ujung pipet ke gelas objek dan kaca penutup hemasitometer hingga larutan ke sekeliling counting chamber - didiamkan selama 1-2 menit sampai sel darah mengendap, diamati dibawah mikroskop - dihitung jumlah eritrosit selama 2

HASIL

3.2.2 Menghitung Leukosit

Ujung jari
- diolesi dengan alcohol, lalu ditusuk dengan lanset steril

Darah
- dihisap dengan pipet pengencer hingga skala 1.0 - dibersihkan ujung pipet dengan kertas saring

- dihisap larutan Turk hingga skala 11 - dipegang dengan kedua jari dan telunjuk dan dikocok menit - dibuang tetesan pertama -diletakkan ujung pipet ke gelas objek dan kaca penutup hemasitometer hingga larutan ke sekeliling counting chamber - didiamkan selama 1-2 menit sampai sel darah mengendap, diamati dibawah mikroskop - dihitung jumlah leukosit selama 2

HASIL

IV. PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Perhitungan Jumlah Eritrosit dalam tiap mm3 Diketahui n eritrosit = 72 p = 200 Jumlah Eritrosit dalam tiap mm3

eritrosit

= n eritrosit x p x 50 = 72 x 200 x 50 = 720.000 sel /mm3

Angka 50 berasal dari : 1/volume kotak R kotak kecil dalam kotak R Dimana, Volume kotak R = pxlxt = 1/20x1/20x1/10 = 1/4000= 0.00025 kotak kecil dalam kotak R = 5x16 = 80 kotak kecil Jadi : 1/0.00025 = 4000 = 50 80 Jumlah Leukosit dalam tiap mm3 Diketahui n leukosit = 23 p = 20 Jumlah leukosit dalam tiap mm3 leukosit = n leukosit x p x 2.5 = 23 x 20 x 2.5 = 1150 sel/mm3 Angka 2.5 berasal dari : volume kotak w (160) bujur sangkar (64) Dimana, volume kotak w (160) berasal dari: pxlxt = 4x4x10 = 160 bujur sangkar (64) berasal dari 16x4 = 64 80

4.2 Pembahasan Praktikum ini bertujuan untuk menghitung jumlah eritrosit dan leukosit dengan menggunakan bilik jantung. Dalam perhitungan eritrosit dan leukosit, darah diambil dari ujung jari ke-3 dan ke-4 pada tangan sebelah kiri karena dari kedua ujung jari ini memiliki jaringan saraf yang sedikit, sehingga apabila ditusuk dengan lanset tidak akan terlalu sakit dan mengganggu syaraf. Selain itu ujung jari ke-3 dan jari ke-4 banyak kapiler darah sehingga darah

yang dikeluarkan lebih banyak. Digunakan tangan sebelah kiri karena darah yang mengalir pada bagian ini merupakan darah yang dipompa jantung ke tubuh pertama kali ( dekat dengan jantung ) sehingga aliran darah lebih lancar. Sebelum ditusuk dengan lanset, ujung jari dibersihkan dengan alcohol 70 % yang berfungsi sebagai antiseptic untuk membunuh mikroorganisme dan bakteri yang ada di sekitar jari yang akan ditusuk sehingga tak akan muncul infeksi pada luka. Darah yang keluar kemudian dihisap menggunakan pipet thoma dengan inti gelas merah dan inti gelas putih. Pipet thoma merupakan pipet yang digunakan untuk pengenceran darah. Pipet yang berinti gelas merah untuk pengenceran eritrosit dengan skala pengenceran 101. Pipet inti gelas putih untuk pengenceran leukosit dengan skala pengenceran 11. Perbedaan kedua pipet thoma ini terletak pada ukuran/volume dalam pipet thoma itu sendiri. Pipet thoma eritrosit volumenya hingga 101 dengan pengenceran 100-200 kali, sedangkan pipet thoma inti gelas putih untuk menghitung leukosit dengan pengenceran 10-20 kali. Hal ini dikarenakan jumlah eritrosit dan leukosit yang berbeda. Jumlah leukosit dalam darah hanya sedikit (4000-11000 leukosit/ml3 darah) dibandingkan eritrosit (4.4 juta/ml3) sehingga perlu pengenceran lebih banyak agar jumlah eritrosit bisa dihitung secara manual. Setelah darah keluar dari luka, darah langsung dihisap dengan pipet thoma dan harus dilakukan dengan segera, jika tidak darah akan membeku dan akan menyumbat pipet thoma. Selain itu, untuk mencegah penyumbatan pipet thoma digunakan larutan NaCl. Penghisapan juga harus dilakukan hati-hati dan tidak boleh timbul gelembung udara karena hal ini akan mengganggu pengamatan. Untuk praktikum perhitungan jumlah eritrosit, darah dihisap hingga skala 0,5 , lalu diteruskan dengan menghisap larutan Hayem hingga skala 0.1. Hal ini berarti pengenceran yang digunakan yaitu 200 kali. Larutan Hayem terdiri dari Natrium Sulfat yang merupakan zat anti koagulan yang akan mencegah terjadinya aglutinasi. Selain itu Natrium Sulfat 5 gr berfungsi untuk melisiskan leukosit dan trombosit, sehingga yang dapat diamati eritrosit sja. Larutan Natrium clorit 1 gr bersifat isotonis pada eritrosit (Syaifuddin,1997). Kandungan lain adalah formalin 40 % yang berfungsi untuk mengawetkan/mempertahankan bentuk discoid eritrosit. Kandungan larutan Hayem ini mengakibatkan larutan Hayem dikenal sebagai larutan Formasitrat. Digunakan larutan hayem karena larutan hayem tersusun atas : 1. natrium sulfat kristal 2. natrium clorit c.p 3. merkuri klorida 4. air suling 5. formalin 1. isotonis pada eritrosit 2. untuk pengencer eritrosit 3. merintangi pembekuan 4. memperjelas bentuk eritrosit 1 gr 0,5 gr 200 ml 0,4 gram Fungsi dari larutan hayem antara lain adalah : 5 gr

5. mempertahankan bentuk diskoid eritrosit dan tidak menyebabkan aglutinasi ( Syaifuddin,1997 ) Pada leukosit, digunakan larutan Turk, karena larutan ini terdiri atas asam asetat 2 % berfungsi untuk melisiskan trombosit dan eritrosit, sehingga hanya leukosit yang bisa diamati; dan gention violet 1 % yang memberikan warna ungu muda pada inti dan sitoplasma granula leukosit, sehingga jelas dibawah mikroskop dan memudahkan perhitungan. Untuk pengenceran leukosit, darah yang keluar dari luka dihisap hingga skala 0.5. Lalu dihisap larutan Turk hingga skala 11. Yang berarti dalam praktikum ini digunakan pengenceran 20 kali. Larutan turk terdiri dari : 1. asam asetat glasial 2. air suling 3. larutan gention violet Larutan turk ini berfungsi sebagai : 1. memberi warna putih pada inti dangranula eritrosit 2. memecah eritrosit dan granula tetapi tidak memecah leukosit ( Syaifuddin,1997 ) Setelah pengenceran kedua ujung pipet dipegang dan dikocok selama 2 menit. Pengocokan ini dilakukan agar larutan yang ada didalam pipet thoma terlarut homogen. Lalu sebelum dimasukkan kedalam hemasitometer, 2 tetesan pertama dibuang. Hal ini bertujuan sebagai validitas darah, karena pada ujung pipet thoma kemungkinan kecil tidak terdapat sel-sel darah. Ada 2 kemungkinan, yaitu darah hanya terdapat dibagian atas pipet dan bagian ujung hanya terdapat larutan Hayem atau larutan Turk. Hal ini berhubungan dengan berat jenis dimana berat jenis darah lebih kecil dibandingkan larutan Hayem atau larutan Turk sehingga larutan terletak diujung pipet thoma. Kedua, saat pengocokan, darah dan larutan Hayem atau Turk tercampur sempurna hanya pada gelembung pipet, sedangkan ujung pipet tidak. Kemungkinan ujung pipet telah terjadi pengendapan darah sehingga sulit untuk dilewati darah maupun larutan Hayem atau Turk. Oleh karena itu, larutan diujung pipet harus dibuang agar data yang didapat benar-benar akurat. Setelah tercampur homogen, larutan tersebut diteteskan ke gelas objek Hemasitometer Improved Neubauer pada kamar hitung R untuk eritrosit dan kamar hitung W untuk leukosit. Dibiarkan 1-2 menit supaya sel-sel mengendap. Sebaiknya selama 2 menit, darah langsung diamati dibawah mikroskop. Hal ini dikhawatirkan sel darah akan bergeser sehingga saling tumpang tindhih, tentu saja berpengaruh pada perhitungan. Penetesan larutan Hayem atau larutan Turk dengan darah pada bagian pematangnya. Larutan tersebut akan bergerak mengisi counting chamber yang ada. Penetesan dilakukan berhati-hati agar tidak terjadi gelembung udara yang menyulitkan pengamatan. Untuk perhitungan eritrosit pada hemasitometer dilakukan pada kotak R yang mempunyai garis-garis lebih rapat. Hal ini dikarenakan eritrosit berukuran sangat kecil, sehingga pada pembesaran mikroskop yang besar, garis-garis kotak dapat terlihat dan perhitungan lebih akurat. Pada percobaan ini, perhitungan eritrosit hanya 15 ml 475 ml 1% / 1ml

dilakukan pada kotak R, karena banyaknya sel sehingga hasil yang didapat dikalikan dengan 5. Sedangkan leukosit dihitung pada kamar hitung W hemasitometer. Garis-garis didalamnya lebih besar daripada kotak R, akan tetapi tidak mempersulit perhitungan leukosit karena jumlah leukosit yang tidak terlalu banyak. Hasil perhitungan dikalikan dengan 4 karena terdapat 4 kamar hitung W.

No. 1,2,3,4,5 merupakan daerah R yang digunakan untuk menghitung eritrosit Huruf A,B,C,D merupakan daerah W yang digunakan untuk menghitung leukosit Dari pengamatan dan perhitungan eritrosit, didapatkan jumlah eritrosit probandus RIDHO ANGGORO K.A. sebanyak 72. Jumlah eritrosit total yaitu sebesar 720.000 sel/mm3 , dengan pengenceran 200 kali dan volume kotak R = 50. Hasil ini menunjukkan jumlah eritrosit yang berbeda sangat jauh dengan teori, dimana pada orang dewasa sehat jumlah eritrosit kira-kira 4,5 juta/ml untuk wanita dan 5 juta/ml untuk pria. Hal ini kemungkinan disebabkan karena banyaknya eritrosit yang menggumpal pada saat pengamatan sehingga tidak dimasukkan perhitungan. Eritrosit ini dapat diamati dari ciri-cirinya antara lain bulat kompak, bikonkaf dan tidak berinti (Kimball , 1996). Sedangkan untuk pengamatan leukosit, diperoleh jumlah leukosit sebanyak 23. Jumlah total leukosit yaitu sebesar 1.150 sel/mm3 dengan pengenceran 20 kali dan volume kotak W = 2.5. Hasil ini juga menunjukkan jumlah leukosit yang jauh berbeda dengan teori yang ada, dimana pada orang dewasa sehat jumlah leukosit kira-kira 400011000/millimeter. Hal ini disebabkan karena leukosit yang sangat sulit untuk diamati. Pada pengamatan leukosit sulit diamati karena masa hidup leukosit dalam darah relatif singkat karena biasanya leukosit masuk ke dalam jaringan untuk menuju jaringan yang terinfeksi , di mana di dalam jaringan leukosit dapat hidup selama berbulanbulan bahkan bertahun-tahun. Monosit mempunyai masa edar yang singkat yaitu sepuluh sampai 20 jam, berada dalam darah sebelum mengembara melalui membran kapiler ke dalam jaringan. Limfosit terus menerus memasuki sistem sirkulasi bersama dengan pengaliran limfe dari nodus limfe dan jaringan limfoid lain. Kemudian setelah beberapa jam limfosit berjalan kembali ke jaringan dengan cara diapedesis dan selanjutnya kembali memasuki limfe dan kembali ke jaringan limfoid atau ke darah lagi begitu seterusnya (Guyton, 1997).

Adapun factor yang mempengaruhi banyak sedikitnya jumlah sel darah antara lain nutrisi, bila seseorang diberikan nutrisi yang banyak maka orang tersebut akan memiliki jumlah sel darah lebih besar dibandingkan orang yang kekurangan nutrisi; usia/umur, pada saat bayi baru lahir jumlah eritrosit yaitu sekitar 6.83 juta/ml, kemudian pada saat bayi tumbuh menurun sampai sekitar 4 juta/ml, kemudian naik lagi pada orang dewasa sehat kira-kira 4.5 juta/ml; factor lingkungan, di daerah dataran tinggi orang akan lebih banyak memiliki sel darah. Hal ini dikarenakan di dataran tinggi seseorang membutuhkan oksigen lebih banyak sehingga tubuh akan meningkatkan produksi eritrosit lebih banyak agar hemoglobin dapat lebih banyak mengikat oksigen. Hemoglobin merupakan protein yang mengandung senyawa hemin yang mengandung besi yang memilki daya ikat terhadap oksigen dan karbondioksida (Kimball , 1996). Pembentukan sel darah merah dimulai oleh proeritoblas yang dihasilkan oleh sel-sel stem hemopoietik kemudian menjadi basofil eritroblas setelah itu menjadi polikromatofil eritoblas selanjutnya menjadi ortokromalik eritroblas dilanjutkan dengan pembentukan retikulosit dan akhirnya menjadi eritrosit. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema berikut: Proeritoblast

Basofil eritroblas

Polikromatofil eritroblas

Orikromatofil erttroblas

Retikulaosit

Eritrosit Hormon yang mempengaruhi pembentukan sel darah merah adalah eritropoietin yaitu glikoprotein dengan berat molekul kira-kira 34.000. bila eritropoietin tidak ada maka keadaan hipoksia tidak akan berpengaruh atau pengaruhnya sedikit sekali dalam perangsangan sel darah merah. Sebaliknya bila sistem eritropoietin ini berfungsi

maka hipoksia akan dengan nyata meningkatkan produksi eritropoietin dan akan memproduksi sel darah merah sampai keadaan hipoksia tertanggulangi. Pengaruh utama eritropoiten adalah merangsang produksi proeritroblas dari sel-sel stem hemopoietik dalam sumsum tulang. Selain itu begitu proeritoblas terbentuk, maka eritroprotein juga menyebabkan sel-sel ini dengan cepat melalui berbagai tahap eritroblas ketimbang pada keadaan normal, dan selanjutnya akan melampaui batas kecepatan produksi sel baru. Cepatnya produksi ini terus berlangsung selama orang tersebut tetap dalam keadaan oksigen rendah atau sampai jumlah sel darah merah yang terbentuk cukup untuk mengangkut oksigen ke jaringan walaupun kadar oksigen rendah, pada saat ini kecepatan produksi eritroprotein menurun sampai kadar tertentu yang akan mempertahankan jumlah sel darah merah yang dibutuhkan namun tidak sampai berlebihan (Guyton,1997). V. KESIMPULAN Berdasarkan hasil perhitungan dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa didapatkan hasil bahwa jumlah eritrosit 720.000 sel /mm3 dan jumlah leukositnya adalah 1150 sel/mm3. Hormon yang mempengaruhi pembentukan sel darah merah adalah eritroprotein. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah eritrosit adalah jenis kelamin, umur dan hormon yang mempengaruhinya serta ketinggian ( kadar oksigen ). Pada pengamatan leukosit sulit diamati karena masa hidup leukosit dalam darah relatif singkat karena biasanya leukosit masuk ke dalam jaringan untuk menuju jaringan yang terinfeksi.

DAFTAR PUSTAKA
Guyton,CA,1997, Fisiologi Kedokteran, EGC Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta Hidayati,D,2004, Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan, Laboratorium Zoologi FMIPA Biologi, ITS Kimball, John W,1996, Biologi Umum jilid 2, IPB, Bogor Pearce,E, 2002, Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Syaifuddin,1997, Anatomi Fisiologi, Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

1. Menghitung jumlah eritrosit dengan menggunakan bilik hitung BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Komponen Darah Darah adalah suatu jaringan bersifat cair. Darah terdiri dari sel-sel (dan fragmen-fragmen sel) yang dapat bergerak secara bebas dalam medium yang bersifat air (plasma darah). Ada 3 tipe unsurunsur darah ialah sel-sel darah merah atau eritrosit, sel-sel darah putih atau leukosit dan keping-keping darah atau trombosit (Kimbbal,1993)

A . Sel Sel Darah Merah (Eritrosit)


Diantara tiga tipe tersebut, sel sel darah merahlah (SDM ), yang paling banyak jumlahnya. Sel sel darah merah memiliki bentuk cakra, dengan diameter 7,5 m ) dan ketebalan di tepi 2 m. Tengah tengah dari cakra tersebut lebih tipis ( 1m ) dari pada tepinya. Bentuk bikonkaf yang menarik ini mempercepat pertukaran gas gas antara sel sel dan plasma darah. Pada mamalia eritrosit tidak berinti, eritrosit mengandung Hb (hemoglobin) yaitu suatu protein mengandung senyawa hemin dan mengandung Fe. Hb mempunyai daya ikat terhadap O2 dan CO2 (Saktiyono, 1999). Wanita normal mempunyai 4,5 juta sel dalam setiap milimeter kubik darah. Pada lakilaki normal, rata-rata jumlah 5 juta sel. Meskipun demikian nilai-nilai ini dapat turun-naik dalam suatu kisaran yang luas sekali, tergantung pada faktor-faktor seperti ketinggian tempat seorang hidup dan kesehatan. (Kimball,1993). Jangka hidup sel-sel ini kira-kira 120 har, sel darah merah yang tlh tua akan ditelan oleh sel-sel fagostik yang terdapat dalam hati dan di dalam suatu struktur berbentuk kantong yang disebut limfa. Hilangnya eritrosit yang terus-menerus secara normal diimbangi oleh aksi sumsum tulang. Kenyataanya bila diperlukan sumsum tulang yang sehat dapat menghasilkan eritrosit empat atau lima kali, laju kerusakan sel yang normal. Jadi, setelah pendarahan yang parah (menyumbangkan darah) sumsum tulang secara tepat mengembalikan jumlah eritrosit darah menjadi normal kembali. (Kimball, 1993). Kekurangan eritrosit, Hb dan Fe akan mengakibatkan anemia, Kekurangan eritrosit disebut oligocythemia dan jika jumlah eritrosit lebih besar dari pada normal disebut polycythemia. (Saktiyono, 1999). B. Leukosit

Leukosit mempunyai nukleus dan bersifat fagositosit yaitu memakan kuman-kuman penyakit dalam tubuh. Dapat bergerak amoeboid dan dapat menembus dinding pembuluh darah yang disebut diapedesis (Saktiyono, 1993). Jumlah leukosit jauh lebih kurang dari pada sel-sel darah merah, dan rasio antara kedua tipe kira-kira 1 : 700. Dalam keadaan normal jumlah rata-rata leukosit dalam 1 mm3 darah kira-kira 6000-9000 sel. (Kimball,1993). Leukosit dibedakan : a. Granulosit :Netrofil, Eosinofil dan Basofil b. Agranulosit : Limfosit dan Monosit Keadaan dimana leukosit kurang dari normal disebut lekopeni, sedangkan keadaan dimana leukosit normal disebut lekositosis, bila tubuh terjadi infeksi jumlah leukosit akan meningkat. (Saktiyono,1999).

C. Trombosit
Trombosit jangka hidupnya adalah 3-5 hari. Keping darah ini berperan penting dalam proses pembekuan darah. Sel yang telah mati akan digantikan dengan sel yag baru. 2.2 Penghitungan Eritrosit dan Leukosit Ketiga Jenis sel darah dihitung jumlahnya persatuan volume darah dengan terlebih dahulu melakukan pengenceran. Tujuannya adalah agar perhitungan lebih teliti dan akurat. A. Peralatan dan Bahan Peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk penghitungan jumlah sel darah antara lain adalah :

Haemocytometer

Berikut ini adalah gambar Haemocytometer :

Gambar 1 Keterangan : - Counting chamber adalah bilik hitung. - Cover glass adalah kaca penutup tingginya 1/5 mm atau 0,2 mm

Berikut adalah gambar Counting chamber yang diperbesar

Gambar 2

Keterangan : Bilik A,B,C dan D digunakan untuk menghitung leukosit, sedang bilik tengah digunakan untuk menghitung eritrosit. Eritrosit dihitung pada bilik tengah yang berwarna kuning. Atau cukup dengan menhitung eritrosit dalam satu bilik kuning lalu dikalikan lima. Eritrosit yang menempel pada garis bilik bagian kiri dan atas tetap dihitung sedang yang menempel pada bagian kanan dan bawah tidak ikut dihitung.

Pipet pengencer darah. Pipet ini dinamakan pipet thoma. Untuk eritrosit dan leukosit. Pipet ini terdiri dari sebuah pipa

kapiler dengan tanda angka 0,5. Pada salah satu ujungnya membesar dan sedidkit lonjong. Pipet thoma untuk eritrosit memiliki tanda di dalam bulatannya terdapat kaca merah dan untuk leukosit terdapat kaca

putih. Cairan pengencer darah

1. Untuk eritrosit Syarat utama larutan pengencer darah adalah bersifat isotonis agar sel darah tidak rusak. Salah satu contoh larutan pengencer darah adalah larutan hayem. Larutan hayem ini tersusun atas natrium sulfat krisal, natrium chlorida, mercury chlorida dan air suling. Fungsi utama larutan hayem adalah mengencerkan darah, merintangi pembekuan, dan membuat bentuk erythrosit terlihat jelas serta membuat bayangan leukosit dan trombosit lenyap. 2. Untuk Leukosit Cairan pengencer yang dipakai adalah larutan turk yang memiliki komposisi sebagai berikut : asam asetat glasial Air suling Larutan gentianviolet : 1 ml : 15 ml : 475 ml

Asam lemah ini membuat leukosit terlihat lebih jelas. Dalam keadaan leukopenia ( kekurangan leukosit ) pengenceran darah dilakukan dengan pengenceran rendah sedangkan jika kadar leukosit terlalu berlebihan pengenceran yang dilakukan lebih tinggi. Mikroskop Mikroskop berfungsi untuk melihat sel darah dalam haemocytometer improved neubauer dan menghitung jumlahnya.

2.3 Cara penghitungan eritrosit dan leukosit

1. Eritrosit Eritrosit dihitung dari dalam bujursangkar / bilik tengah dengan sisi 0,05 mm. Eritrosit dihitung pada bilik tengah yang berwarna kuning (seperti pada gambar 2). Atau cukup dengan menghitung eritrosit dalam satu bilik kuning lalu dikalikan lima. Eritrosit yang menempel pada garis bilik bagian kiri dan atas tetap dihitung sedang yang menempel pada bagian kanan dan bawah tidak ikut dihitung. Penentuan jumlah SDM (sel darah merah ) tiap mm kubik nya adalah sebagai berikut :

JUMLAH SDM

: Ne x p x 50

Keterangan : Ne P 50 : Jumlah SDM dalam 5 kotak : Besar pengenceran : 1/Volume kotak R (4000) dibagi jumlah bujursangkar ( 5 kotak R = 80)

2. Leukosit Leukosit dihitung dari bilik A,B,C dan D pada hemocytometer (gambar 2) Penentuan jumlah sel darah putih dalam tiap mm kubik nya

JUMLAH SDP

: Nl x p x 2,5

Keterangan : Nl : jumlah SDP dalam 4 kotak

P 2,5

: besar pengenceran : 1/Volume kotak A (160) dibagi jumlah bujursangkar (4 kotak, R : 64)

4.1 Hasil Pengamatan 4.1.1 Sel Darah Merah (SDM) Satu kotak haemacytometer memiliki rata-rata 192 eritrosit perbuah sehingga 1 haemacytometer adalah 192 x 5 kotak adalah 960 buah. Jumlah SDM = ne x p x 50 = = 960 x 100 x 50 4.800.000 /mm3

4.1.2 Sel Darah Putih (SDP) Satu kotak haemacytometer memiliki rata-rata 7 leukositt perbuah sehingga 1 haemacytometer adalah 7 x 4 kotak adalah 28 buah. Jumlah SDP = = = 4.2 Pembahasan Pada awal percobaan, ujung jari ketiga dan keempat ditusuk dengan jarum lanset (frankee), sebab jari tangan ketiga dan keempat memiliki saraf sedikit dan memiliki pembuluh darah yang banyak sehingga bila luka akan cepat sembuh, sebelum ditusuk jari diusap dengan alkohol 70 % sebagai tindakan aseptik dan anastesi / pembius. Setelah darah keluar dihisap dengan pipet thoma. Pemeriksaan Jumlah Eritrosit Darah dihisap sampai 1 ml pada batas pipet thoma kemudian dilanjutkan dengan larutan hayem hingga batas 101, artinya pengenceran 100 kali. Digunakan larutan hayem karena larutan hayem tersusun atas sodium sulfat 2.5 gm, sodium chlorida 0.5 gm, merkuri chlorida 0.25 gm dan aquades 100 ml. Larutan hayem berfungsi untuk mengencerkan darah, melisiskan leukosit sehingga bentukan eritrosit lebih jelas tampak terlihat dan lebih mudah dilakukan perhitungan, juga mempertahankan bentuk discoid eritrosit serta tidak menyebabkan aglutinasi. Kemudian eritrosit dan larutan hayem dikocok 2 menit dengan tujuan menghomogenisasi darah dengan larutan hayem supaya berlangsung sempurna. Sedangkan pipet thoma dibuang satu-dua tetes pertama dengan tujuan mengeluarkan sisa larutan hayem yang berhubungan dengan udara dan mengantisipasi adanya kontaminasi selanjutnya diletakkan nl x p x 2.5 28 x 20 x 2.5 1400 /mm3

pada gelas obyek haemacytometer improved neubaver. Didiamkan 1-2 menit supaya sel darah mengendap, kemudian dilakukan perhitungan dalam salah satu kotak R pada kaca obyek. Jumlah eritrosit 4.800.000 / mililiter, Jumlah ini merupakan jumlah yang normal pada orang dewasa yaitu 4-5 juta per mililiter. Sel darah merah dipengaruhi oleh faktor kelamin, berat badan, umur gizi, aktivitas. Pemeriksaan Jumlah Leukosit Darah dihisap sampai 0,5 mililiter kemudian diencerkan dengan larutan turk sampai 101 jadi terjadi pengenceran 20. Larutan turk tersusun atas Asam asetat glacial 3 ml, gentian violet 1 ml, aquades 100 ml. Larutan turk berfungsi untuk memberi warna pada inti dan granula eritrosit serta memecah eritrosit dan trombosit tapi tidak memecah leukosit. Kemudian larutan dikocok selama 2 menit untuk menyempurnakan proses homogenesis Selanjutnya darah diteteskan dalam haemacytometer. Jumlah leukosit hasil perhitungan adalah 1400 /mililiter merupakan jumlah yang jauh di bawah batas normal yaitu 4.000 mililiter. Hal ini berkaitan dengan faktor-faktor : jenis kelamin, berat badan, umur, gizi, aktivitas. Jumlah leukosit mempengaruhi imunitas manusia karena sifat fagositosis (memakan kuman-kuman yang masuk dalam tubuh dan menghasilkan antibodi). Jika jumlah leukosit terlalu banyak bisa disebabkan oleh mekanisme pertahanan tubuh akibat adanya benda asing (bakteri / virus ) yang masuk pada tubuh. Jika jumlah leukosit terlalu sedikit bisa karena memang jumlah leukositnya sedikit dan hal ini berpengaruh pada imunitas tubuh. BAB V KESIMPULAN Prinsip kerja haemacytometer improved neubaver adalah menghitung eritrosit pada kotak R dan leukosit pada waktu W, hasil perhitungan jumlah Sel Darah Merah adalah 4.800.000/ mililiter dan jumlah Sel Darah Putih adalah 1400/ mililiter. Sedangkan normalnya Eritrosit 4-5 juta / mililiter dan Leukosit 4000 / mililiter. Hasil ini terutama yang leukosit tidak sesuai dengan jumlah normal. Sebab ada banyak faktor yang mempengaruhi jumlah tersebut, seperti faktor-faktor dari kondisi tubuh ataupun kesalahan dalam perhitungan.