Anda di halaman 1dari 144

Akal dan Konsep Ketuhanan Meskipun meyakini adanya Tuhan adalah masalah Fithri yang tertanam dalam diri

setiap manusia, namun karena kecintaan mereka kepada dunia yang berlebihan sehingga mereka disibukkan dengannya, mengakibatkan mereka lupa kepada Sang Pencipta dan kepada jati diri mereka sendiri. Yang pada gilirannya, cahaya Fitrah mereka redup atau bahkan padam. Walaupun demikian, jalan menuju Allah itu banyak. Para Ahli ma'rifat berkata,"Jalan-jalan menuju ma'rifatullah sebanyak nafas makhluk." Salah satu jalan ma'rifatullah adalah akal. Terdapat sekelompok kaum muslim, golongan ahli hadis (Salafi) atau Wahabi, yang menolak peran aktif akal sehubungan dengan ketuhanan. Mereka berpendapat, bahwa satusatunya jalan untuk mengetahui Allah adalah nash (Al-Qur'an dan hadis). Mereka beralasan dengan adanya sejumlah ayat atau riwayat yang secara lahiriah melarang menggunakan akal (ra'yu). Padahal kalau kita perhatikan, ternyata Al-Qur'an dan hadis sendiri mengajak kita untuk menggunakan akal, bahkan menggunakan keduanya ketika menjelaskan keberadaan Allah lewat argumentasi (burhan) Aqli. Pada edisi berikutnya, Insya Allah akan kita bicarakan tentang Al-Qur'an, hadis dan konsep ketuhanan. Dalam persepsi mereka, membicarakan agama adalah suatu hal yang sangat sensitif dan akan merenggangkan hubungan antara manusia. Agama merupakan sesuatu yang sangat personal dan tidak perlu diungkap dalam forum-forum umum dan terbuka. Jika harus berbicara agama pun, maka ruang lingkupnya harus dibatasi pada sisi peribadatan saja.

Bisakah Tuhan dibuktikan dengan akal ? Sebenarnya pertanyaan ini tidaklah tepat, karena bukan saja Allah bisa dibuktikan dengan akal. Bahkan, pada beberapa kondisi dan situasi hal itu harus dibuktikan dengan akal, dan tidak mungkin melakukan pembuktian tanpa akal. Anggapan yang mengatakan, bahwa pembuktian wujud Allah hanya dengan nash saja adalah anggapan yang sangat naif. Karena bagaimana mungkin seseorang menerima keterangan Al-Qur'an, sementara dia belum mempercayai wujud (keberadaan) sumber AlQur'an itu sendiri, yaitu Allah Ta'ala. Lebih naif lagi, mereka menerima keterangan Al-Qur'an lantaran ia adalah kalamullah atau sesuatu yang datang dari Allah. Hal itu berarti, mereka telah meyakini wujud Allah sebelum

menerima keterangan Al-Qur'an. Lalu mengapa mereka meyakini wujud Allah. Mereka menjawab,"Karena Al-Qur'an mengatakan demikian." Maka terjadilah daur (Lingkaran Setan?, lihat istilah daur pada pembahasan selanjutnya). Dalam hal ini, AlQur'an melalui dan ringkas. dijadikan pendekatan sebagai kalami pendukung (teologis) dan atau penguat dalil aqli. filosofis. Para ulama, ketika membuktikan wujud Allah dengan menggunakan burhan aqli, terkadang pendekatan Pada kesempatan ini Insya Allah kami mencoba menjelaskan keduanya secara sederhana

Burhan-burhan Aqli-kalami tentang keniscayaan wujud Allah Ta'ala

1.

Burhan

Nidham

(Keteraturan)

Burhan ini dibangun atas beberapa muqaddimah (premis). Pertama, bahwa alam raya ini penuh dengan berbagai jenis benda, baik yang hidup maupun yang mati. 2. Kedua, bahwa alam bendawi (tabi'at) tunduk kepada satu peraturan. Artinya, setiap benda yang ada di alam ini tidak terlepas dari pengaruh undang-undang dan hukum alam. Ketiga, hukum yang menguasai alam ini adalah hukum kausalitas ('ilaliyyah), artinya setiap fenomena yang terjadi di alam ini pasti dikarenakan sebuah sebab ('illat), dan tidak mungkin satu fenomena terjadi tanpa sebab. Dengan demikian, seluruh alam raya ini dan segala yang ada di dalamnya, termasuk hukum alam dan sebab-akibat, adalah sebuah fenomena dari sebuah puncak sebab (prima kausa, atau 'illatul 'ilal). Keempat, "sebab" atau 'illat yang mengadakan seluruh alam raya

ini tidak keluar dari dua kemungkinan, yaitu "sebab" yang berupa benda mati atau sesuatu yang hidup. Kemungkinan pertama tidak mungkin, karena beberapa alasan berikut : Pertama, alam raya ini sangat besar, indah dan penuh keunikan. Hal ini menunjukkan bahwa "sebab" yang mengadakannya adalah sesuatu yang hebat, pandai dan mampu. Kehebatan, kepandaian dan kemampuan, merupakan ciri dan sifat dari sesuatu yang hidup. Benda mati tidak mungkin disifati hebat, pandai dan mampu. Kedua, benda-benda yang ada di alam ini beragam dan bermacammacam, di antaranya adalah manusia. Manusia merupakan salah satu bagian dari alam yang palin menonjol. Dia pandai, mampu dan hidup. Mungkinkah manusia yang pandai, mampu dan hidup terwujud dari sesuatu yang mati ? Kesimpulannya, bahwa alam raya ini mempunyai "sebab" atau 'illat, dan "sebab" tersebut adalah sesuatu yang hidup. Kaum muslimin menamai "sebab" segala sesuatu itu dengan sebutan Allah Ta'ala. 2. tidak ada. Burhan Burhan ini al-Huduts terdri atas (Kebaruan) beberapa hal :

Al-Huduts atau al-Hadits berarti baru, atau sesuatu yang pernah Pertama, bahwa alam raya ini hadits, artinya mengalami perubahan dari tidak ada menjadi ada dan akhirnya tidak ada lagi. Kedua, segala sesuatu yang asalnya tidak ada kemudian ada, tidak mungkin ada dengan sendirinya. Pasti dia menjadi ada karena "sebab" sesuatu. Ketiga, yang menjadikan alam raya ini ada haruslah sesuatu yang qadim, yakni keberadaannya tidak pernah mengalami ketiadaan. Keberadaannya kekal dan abadi. Karena, jika sesuatu yang mengadakan alam raya ini hadits juga, maka Dia-pun ada karena ada yang mengadakannya, demikian seterusnya (tasalsul). Tasalsul yang tidak berujung seperti ini mustahil. Dengan demikian, pasti ada 'sesuatu' yang keberadaannya tidak pernah mengalami

ketiadaan. Kaum muslimin menamakan 'sesuatu' itu dengan sebutan Allah Ta'ala.

Burhan-burhan Aqli-Filosofi tentang kenicayaan wujud Allah Ta'ala

A. Burhan Imkan Sebelum menguraikan burhan ini, ada beberapa istilah yang perlu diperjelas terlebih dahulu : a. Wajib, yaitu sesuatu yang wujudnya pasti, dengan sendirinya dan tidak membutuhkan kepada yang lain. b. Imkan atau mumkin, sesuatu yang wujud (ada) dan 'adam (tiada) baginya sama saja (tasawiy an-nisbah ila al-wujud wa al-'adam). Artinya sesutu yang ketika 'ada' disebabkan faktor eksternal, atau keberadaannya tidak dengan sendirinya. Demikian pula, ketika 'tidak ada' disebabkan faktor eksternal pula, atau ketiadaannya juga tidak dengan sendirinya. Dia tidak membias kepada wujud dan kepada ketiadaan. Menurut para filosuf, hal ini merupakan ciri khas dari mahiyah (esensi). c. Mumtani' atau mustahil, yaitu sesuatu yang tidak mungkin ada dan tidak mungkin terjadi, seperti sesuatu itu ada dan tiada pada saat dan tempat yang bersamaan (ijtima'un naqidhain). d. Daur (siklus atau lingkaran B, setan). Misal, B A keberadaannya keberadaannya tergantung/membutuhkan sedangkan

tergantung/membutuhkan A. Jadi A tidak mungkin ada tanpa keberadaan B terlebih dahulu, demikian pula B tidak mungkin ad tanpa keberadaan A terlebih dahulu. Dengan demikian, A tidak akan ada tanpa B dan pada saat yang sama A harus ada karena dibutuhkan B. Ini berarti ijtima'un naqidhain (lihat Mumtani'). Contoh lainnya, A keberadaannya tergantung/membutuhkan B, dan B kebradaannya tergantung membutuhkan C, sedangkan C keberadaannya tergantung/membutuhkan A. Jadi, A tidak mungkin ada tanpa keberadaan B terlebih dahulu, demikian juga B tidak

mungkin ada tanpa keberadaan C terlebih dahulu, demikin pula C tidak mungkin ada tanpa keberadaan A terlebih dahulu. Daur adalah suatu yang mustahil adanya. e. Tasalsul, yaitu susunan sejumlah 'illat dan ma'lul, dengan pengertian bahwa yang terdahulu menjadi 'illat bagi yang kemudian, dan seterusnya tanpa berujung. Tasalsul sama dengan daur, mustahil adanya. Burhan mumkin. Kedua, wujud yang wajib ada dengan sendirinya dan wujud yang mumkin pasti membutuhkan atau berakhir kepada wujud yang wajib, maka akan terjadi daur (siklus) atau tasalsul (rentetan mata rantai yang tidak berujung) dan keduanya mustahil. Ketiga, bahwa yang mumkin berakhir kepada yang wajib. Dengan demikian, yang wajib adalah 'sebab' dari segala wujud yang mumkin (prima kausa atau 'illatul 'ilal). Kaum muslimin menamakan wujud yang wajib dengan sebutan Allah Ta'ala. B. Burhan ash-Shiddiqin Imkan dapat dijelaskan dengan beberapa point berikut ini :

Pertama, bahwa seluruh yang ada tidak lepas dari dua posisi wujud, yaitu wajib atau

Burhan ini menurut para filosuf muslim, merupakan terjemahan dari ungkapan Ahlibait as. yang berbunyi,"Wahai Dzat yang menunjukkan diri-Nya dengan diri-Nya." (Doa Shabah Amir al-Mukminin Ali bin Abi Thalib as.) Artinya, burhan ini ingin menjelaskan pembuktian wujud Allah melalui wujud diri-Nya sendiri. Para ahli mantiq (logika) menyebutnya dengan burhan Limmi. Penjelasan burhan ini, hampir sama dengan penjelasan burhan Imkan. Ada beberapa penafsiran tentang burhan shiddiqin ini. Di antaranya penafsiran Mulla Shadra. Beliau mengatakan, "Dengan demikian, yang wujud terkadang tidak membutuhkan kepada yang lain (mustaghni) dan terkadang pula, secara substansial, ia membutuhkan kepada yang lain (muftaqir). Yang pertama adalah wujud yang wajib, yaitu wujud murni. Tiada yang lebih sempurna dari-Nya dan Dia tidak diliputi ketiadaan dan Dia tidak diliputi ketiadaan dan kekurangan. Sedangkan yang kedua , adalah selain wujud yang wajib, yaitu perbuatan-perbuatan-Nya yang tidak bisa tegak kecuali dengan -Nya. (Nihayah al-Hikmah, hal. 269).

Allamah al-Hilli , dalam kitab Tajrid al-'I'tiqad karya Syekh Thusi, menjelaskan, "Diluar kita secara pasti ada yang wujud. Jika yang wujud itu wajib, maka itulah yang dimaksud (Allah Ta'ala) , dan jika yang wujud itu mumkin, maka dia pasti membutuhkan faktor yang wujud (ntuk keberadaannya). Jika faktor itu wajib , maka itulah yang dimaksud (Allah Ta'ala). Tetapi jika faktor itu mumkin juga, maka dia membutuhkan faktor lain dan seterusnya (tasalsul) atau daur. Dan keduanya mustahil adanya. Kitab Thabathabai. 2. Kasyf al-Murad fi Syarh at-tajrid, karya Hilli 4. 5. Al-Ilahiyyat, Muhadharah karya fi Syekh Ja'far Subhani. Ilmi al-Kalam (kaset), ceramah Sayyid Kamal Haydari. Sumber: Buletin Dwi Mingguan RISALATUNA diterbitkan oleh Yayasan AlJawad, Edisi 03-Tahun 1997 Al-Qur'an dan Konsep Ketuhanan (1) Sebelum menyebutkan ayat-ayat yang berkenaan dengan ketuhanan, kami terlebih dahulu ingin menjelaskan bahwa Al-Qur,an tidak pernah melarang umat manusia menggunakan akalnya. Bahkan, menganjurkan mereka menggunakan akalnya. Allah Ta'ala berfirman, "Sungguh, Kami turunkan al-Qur,an dengan (berbahasa) Arab, agar kalian berpikir."(QS.Yusuf.2). Banyak ayat-ayat senada lainnya yang diakhiri dengan kalimat afala ta'qilun, afala tatafakkarun, afala ta'lamun, atau Iafala yafqahun." Selain itu, al-Qur,an menganggap orang yang tidak menggunakan akalnya sebagai binatang, dengan ungkapan, "Mereka memiliki akal, tetapi mereka tidak memahami (berpikir). Mereka mempunyai mata, tapi mereka tidak melihat, mereka mempunyai telinga, tetapi mereka tidak mendengar. Mereka bagaikan binatang. Mereka adalah orang-orang yang Allamah al-Hilli. 3. Bab al-Hadi 'Asyr, karya Allamah alRujukan :

1. Nihayah al Hikmah, karya Allamah

lengah."

(QS.al

A,raf:

179).

Al-Quran sendiri menguji kebenaran dirinya kepada akal, "Tidakkah mereka merenungkan al-Quran. Sekiranya ia bukan dari Allah, pasti mereka mendapatkan perselisihan yang banyak didalamnya."(QS.an-Nisa: 82) Ayat di atas ditujukan kepada orang-orang yang meyakini wujud Allah, namun mereka masih ragu apakah al-Quran itu kalamullah atau bukan. Karena itulah Allah berfirman, "Sekiranya al-Quran itu bukan dari Allah, maka pasti mereka menemukan perselisihan yang banyak di dalamnya." Akan tetapi, karena tidak ditemukan perselisihan di dalamnya, berarti al-Qur,an itu benarbenar dari Allah. Argumentasi yang dipakai al-Quran semacam ini, dalam istilah para ahli mantiq (logika), dinamakan Qiyas Istitsnai. Jadi, akal dijadikan sebagai alat yang digunakan untuk mengetahui kebenaran dan kesalahan sebatas ruang lingkup diri sendirinya. Dengan demikian, benarkah al-Qur,an melarang penggunaan akal? Bagaimana pulakah alQuran berbicara tentang ketuhanan? Perlu diketahui, bahwa al-Quran dijadikan sebagai dalil atas wujud Allah setelah terbuktikan keberadaan-Nya melalui akal. Oleh karena itu, kalangan Syiah Imamiah menjadikan al-Quran sebagai penguat dan pendukung dalil-dalil aqli (lihat Buletin RISALATUNA, wujud Fitrah Pada beberapa ayat al-Quran, masalah tauhid atau ketuhanan dianggap sebagai masalah fitrah, sehingga tidak perlu lagi dicari dalilnya, karena ia merupakan bagian dari fitrah (ciptaan) manusia. Betapa seringnya al-Quran berusaha membangkitkan fitrah ketuhanan ini 1. dari kedalaman ayat-ayat Surat hati orang-orang yang yang mengingkari wujud ayat Allah Taala. : 30: Simaklah berikut, berbicara mengenai ketuhanan Allah Taala, edisi antara lain, nomor sebagai berikut 3). : Terdapat beberapa metode pendekatan yang dipakai al-Qur'an dalam membahas tentang

Rum

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama sebagi fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia atasnya. Tidak ada perubahan pada ciptaan (fitrah) Allah." Pada ayat ini jelas sekali, bahwa Din merupakan fitrah manusia dan bagian dari fitrah

manusia

yang

tidak

akan

pernah

berubah.

Syekh Muhammad Taqi Mishbah, seorang mujtahid dan filosuf kontemporer, ketika mengomentari ayat di atas menyatakan, bahwa ada duia penafsiran yang dapat diambil dari ayat ini, (1) Pertama, maksud ayat ini ialah, bahwa prinsip-prinsip agama, seperti tauhid dan hari akhir, dan hukum-hukum agama secara global, seperti membantu orang-orang miskin, menegakkan keadilan dan lainnya, sejalan sengan kecenderungan manusia. (2)Kedua, tunduk kepada Allah Taala mempunyai akar dalam diri manusia. Lantaran manusia secara fitrah, cenderung untuk bergantung dan mencintai Kesempurnaan yang mutlak Kedua penafsiran di atas bisa diselaraskan. Penafsiran pertama mengatakan, bahwa mengenal agama adalah fitrah, sedangkan penafsiran kedua menyatakan bahwa yang fitri adalah ketergantungan, cinta dan menyembah kepada Yang Sempurna. Namun menyembah kepada Yang Sempurna tidak mungkin dilakukan tanpa mengenal-Nya terlebih dahulu. Dengan demikian, penafsiran kedua kembali kepada yang pertama. (Maarif al-Quran, juz 1 halaman 31-32). Allamah Thabathabai memberikan penjelasan mengapa Din itu merupakan fitrah. Dalam kitab Tafsir al-Mizan, beliau berkata,"(Lantaran) Din tidak lain kecuali tradisi kehidupan dan jalan yang harus dilalui manusia, sehingga dia bahagia dalam hidupnya. Tidak ada tujuan yang ingin dicapai manusia, melainkan kebahagiaaan." Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa setiap fitrah mendapat bimbingan untuk sampai kepada tujuannya masing-masing. Sebagaimana terungkap dalam firman Allah berikut, "Tuhan kami yang menciptakan segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk."(QS. Thaha: 50). Manusia, seperti juga makhluk lainnya, mempunyai tujuan dan mendapat bimbingan agar sampai kepada tujuannya. Bimbingan tersebut berupa fitrah yang akan mengantarkan dirinya kepada tujuan hidupnya." (Tafsir al-Mizan, juz 21 halaman 178-179).

2. Surat al-Araf ayat 172: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi anak-anak Adam keturunan mereka dan mengambil kesaksian dari mereka atas diri mereka sendiri, Bukankah Aku ini Tuhan kalian? Seraya mereka menjawab, Benar (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi. (Hal ini Kami lakukan), agar dihari kiamat kalian tidak mengatakan, Sesungguhnya kami lengah atas ini (wujud Allah). Dalam ayat tersebut dikatakan, bahwa setiap manusia sebelum lahir ke muka bumi ini

pernah dimintai kesaksiannya atas wujud Allah Taala dan mereka menyaksikan atau mengenal-Nya dengan baik. Kemudian, hal itu mereka bawa terus hingga lahir ke dunia. Oleh karena itu, manusia betapapun besarnya dia, kuat dan kaya, namun dia tetap tidak dapat mengingkari bahwa dirinya tidak memiliki wujud dirinya sendiri dan tidak dapat berdiri sendiri dalam mengurus segala urusannya. Sekiranya dia memiliki dirinya sendiri, niscaya dia dapat mengatasi berbagai kesulitan dan kematian. Dan sekiranya dia pun berdiri sendiri dalam mengurus segala urusannya, maka dia tidak akan membutuhkan fasilitas-fasilitas alam. Ketidakberdayaan manusia dan ketergantungannya kepada yang lain, merupakan bagian dari fitrah (ciptaan) manusia. Jadi, selamanya manusia membutuhkan dan bergantung kepada yang lain. Dan dia tidak akan mendapatkan tempat bergantung yang sempurna, kecuali Allah Taala semata. Itulah yang dinamakan fitrah bertuhan (fitrah Ilahiyah). (Lihat kitab Tafisr al-Mizan, juz 9 halaman 306-323). Selanjutnya ayat tersebut menyatakan, bahwa dengan dibekalinya manusia (dengan) fitrah, maka ia tidak mempunyai alasan untuk mengingkari dan lengah atas wujud Allah Taala. Syekh Taqi Misbah berpendapat, bahwa pengetahuan dan pengakuan manusia akan Allah, dalam ayat tersebut, adalah pengetahuan yang sifatnya huduri-syuhudi (ilmu huduri) dan bukan 3. hushuli (Lihat Surat kitab Maarif Yasin, al-Quran, juz ayat 1 halaman 33). 60-61:

"Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian, wahai anak-anak Adam, agar kalian tidak menyembah setan. Sesungguhnya setan itu adalah musuh kalian yang nyata. Dan sembahlah Aku. Itulah jalan yang lurus." Sebagian ulama, seperti Ayatullah Syahid Muthahhari berpendapat, bahwa perintah ini terjadi di alam sebelum alam dunia, dan dijadikan sebagai bukti, bahwa mengenal Allah adalah 4. sebuah Surat fitrah (Kitab al-Ankabut Fitrat, halaman ayat 245). 65:

"Dikala mereka menaiki kapal, mereka berdoa (memanggil) Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka ke daratan, mereka kembali berbuat syirik." Ayat ini menjelaskan, bagaimana fitrah itu mengalami pasang surut dalam diri manusia. Biasanya, fitrah itu muncul saat manusia merasa dirinya tidak berdaya dalam menghadapi

kesulitan. Dalam kitab tafsir Namuneh disebutkan, bahwa kesulitan dan bencana dapat menjadikan fitrah manusia tumbuh, karena cahaya tauhid tersimpan dalam jiwa setiap manusia. Namun, fitrah itu sendiri bisa tertutup, disebabkan oleh tradisi dan tingkah laku yang menyimpang, atau pendidikan yang keliru. Lalu ketika bencana dan kesulitan dari berbagai arah menimpanya, sementara dia tidak berdaya menghadapinya, maka pada saat seperti itu dia berpaling kepada Sang Pencipta. (Tafsir Namuneh, juz 16 halaman 340-341) Oleh karena itu, para ahli marifat dan ahli hikmah meyakini, bahwa dalam suatu musibah besar, yaitu kesadaran manusia terhadap (keberadaan) Allah muncul kembali. Afaqi

Ayat-ayat

Selain menegaskan bahwa masalah tauhid adalah fitrah, al-Quran juga berusaha mengajak manusia berpikir dengan akalnya bahwa di balik terciptanya alam raya dan perubahanperubahan yang terjadi di dalamnya (membuktikan) adanya Sang Pencipta. Allamah al-Hilly dalam kitab Bab Hadi al-Asyr halaman 7 menjelaskan, bahwa para ulama dalam upaya membuktikan wujud Sang Pencipta mempunyai dua jalan. Salah satunya, adalah dengan jalan membuktikan wujud Allah melalui fenomena-fenomena alam yang membutuhkan sebab, seperti diisyaratkan dalam ayat al-Quran berikut ini: "Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di alam raya ini (afaq) dan di dalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa sesungguhnya Dia itu benar (haq)."(QS. Fush-shilat: 53). Inilah jalan yang ditempuh Nabi Ibrahim as. Pengembaraan rasional Nabi Ibrahim as. seperti ini dalam mencari Tuhan, yang sebenarnya beliau tujukan untuk mengajak kaumnya berpikir, merupakan metode Afaqi yang efektif sekali. Untuk lebih jelasnya, kita dapat melihat langsung ayat-ayat yang menjelaskan pengembaraan rasional Nabi Ibrahim as. tersebut dalam al-Quran, surat al-Anam ayat 75 sampai 79. Ayat-ayat al-Quran yang mengajak kita untuk merenungkan fenomena alam dan keunikankeunikan makhluk yang ada di dalamnya, sangatlah banyak. Tentang hal ini, kami mencoba mengklasifikasikan kepada dua kelompok: Pertama, ayat-ayat tentang benda-benda mati di langit dan di bumi. Misalnya, ayat yang berbunyi, "Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memiliki akal." (QS. Ali

Imran:190). Atau ayat l Bagaimana Ust. Husein Al-Kaff Ingatlah, ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku akan menciptakan di muka bumi seorang khalifah. Para malaikat serentak berkata, Apakah Engkau hendak menciptakan di muka bumi (makhluk) yang akan melakukan kerusakan dan akan menumpahkan darah di dalamnya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan menyanjung-Mu dan mensucikan-Mu? Seraya Allah menjawab, Sungguh Aku lebih mengetahui apa-apa yang tidak kalian ketahui. (QS. Al-Baqarah ayat 30). Ayat di atas termasuk dari sekian firman Allah Taala yang senantiasa segar dibahas dan dikaji. Hingga saat ini para ulama, khususnya Mufassirin (ahli tafsir Al-Quran), belum puas-puas dan tidak henti-hentinya mengungkap dan mengeksplorasi sedalam-dalamnya maksud dari ayat tersebut, untuk mendapat kebenaran darinya. Alasan mereka jelas dan sederhana. Karena ayat ini menyangkut eksistensi manusia yang sebenarnya. Dengan memahami ayat tersebut secara baik dan benar, maka akan terpecahkan sebuah problema yang maha besar, yaitu hakikat manusia. Memahami hakikat manusia sangat menentukan pandangan dunia, ideologi, sikap, perjalanan dan nasib manusia setelah mati. Hakikat manusia bagi sebagian pemikir dan filosof, masih merupakan teka-teki yang membingungkan. Umat Islam dengan pancaran cahaya Al-Quran, sedikit banyaknya terbantu dalam mengetahui hakikat manusia dan itu pun tergantung sejauh mana mereka memahami Apa Arti ayat tersebut. Khalifah? Menjadi Khalifatullah ?

Islam memandang manusia sebagai khalifatullah, yakni khalifah Allah. Itulah hakikat manusia. Namun apakah dalam kenyataannya setiap manusia itu khalifatullah ? Bukankah di antara mereka ada yang kafir ? Lalu apa yang dimaksud dengan manusia sebagai khalifatullah ? Atau bagaimana manusia menjadi khalifatullah ?Sebelum pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dijawab, maka terlebih dahulu harus dipahami arti khalifah itu sendiri. Khalifah atau khilafah, berasal dari akar kata khalaf yang berarti di belakang punggung,

meninggalkan sesuatu di belakang atau sesuatu yang menempati tempat sesuatu yang lain. Al-Quran menyebut kata khalifah atau khilafah dengan berbagai turunannya. Selain itu, AlQuran menggunakan kata khalifah untuk manusia dan untuk selain manusia. Misalnya, ayat yang berbunyi, Dialah yang menciptakan malam dan siang silih berganti (malam menempati siang dan siang menempati malam), bagi mereka yang mau berpikir atau Maksudnya bersyukur. bisa untuk (QS. kebaikan dan Al-Furqan bisa pula : untuk 62) keburukan. Ketika kata khalifah digunakan untuk manusia, kata ini mempunyai arti yang netral. Lalu datanglah setelah mereka generasi (pengganti), yang melalaikan shalat dan mengikuti hawa napsu. Mereka kelak niscaya akan mendapatkan kesesatan."(QS. Maryam : 59). Atau firman-Nya yang berbunyi, "Maka datanglah setelah mereka generasi (pengganti), yang mewarisi kitab." (QS. Al-Araf : 169). Tetapi ketika kata khalifah disandarkan (di-idhafah-kan) kepada Allah atau Rasulullah, maka kata itu mengandung arti yang positif. Maksudnya jika yang diganti (al-mustakhlif) baik, maka yang menggantikannya (khalifah, mustakhlaf) harus baik juga. Andaikata tidak, maka akan merusak reputasi mustakhlif. Manusia adalah khalifah dari Allah dan Allah adalah puncak segala kebaikan dan kesempurnaan. Dengan demikian manusia adalah titisan dari kebaikan dan kesempurnaanNya. Jadi manusia berkedudukan sebagai wakil atau pengganti Allah di muka bumi. Yaitu manusia yang mempunyai kemampuan untuk mengatur dan mengubah alam. Manusia yang sedikit banyak mengetahui rahasia alam. Semua itu tidak berlaku bagi makhlukmakhluk lainnya. Akan tetapi bagaimana dengan kenyataan umat manusia zaman kini ? Sungguh ironis sekali bukan. Syekh Taqi Mishbah berpendapat, bahwa kedudukan khalifah tidak terbatas pada Adam saja, melainkan manusia lain pun dapat menduduki jabatan khilafah dengan satu syarat, yaitu mengetahui asma. (lihat kitab Maarif Al-Quran, juz 3 hal 73). Allamah Thabathabai dalam kitab Tafsir al-Mizan, jilid I halaman 116 berkata, Khilafah tidak terbatas pada diri Adam as. saja, tetapi para keturunannya pun sama menduduki khilafah tanpa kecuali. Selanjutnya beliau menjelaskan, Maksud mengajarkan asma, adalah menyimpan ilmu pada manusia yang senantiasa akan tampak secara bertahap. Jika manusia mendapatkan petunjuk, maka dia akan membuktikannya secara faktual (bil-fili) setelah sebelumnya

berupa

potensial

(bil-quwwah).

Maksud dari penjelasan Allamah Thabathabai di atas, bahwa manusia secara potensial adalah khalifah Allah. Namun yang mampu memfaktualkannya tidak semua manusia. Hanya sebagian kecil saja di antara mereka yang mampu. Hal itu kembali kepada ikhtiar dan pilihan manusia itu sendiri. Khalifatullah

Kriteria-Kriteria

Pada dasarnya manusia diciptakan Allah sebagai khalifah-Nya. Namun hal itu masih berupa potensi, seperti yang telah dijelaskan terdahulu. Nah, agar potensi itu berkembang dan mewujud secara nyata, maka terdapat seperangkat kriteria yang harus dipenuhi sehingga manusia benar-benar khalifah menjadi Allah khalifah itu Allah ialah Taala. : Ilmu dengan ayat yang berbunyi : Kriteria-kriteria 1. disambung

Kriteria pertama adalah ilmu. Pada ayat yang telah disebutkan terdahulu, selanjutnya Dia mengajarkan kepada Adam asma (nama benda-benda) semuanya, kemudian dia mempertunjukkannya kepada para malaikat. Lalu Allah berfirman (kepada para malaikat), Sebutkanlah kepada-Ku asma-asma itu, jika kalian memang benar ?"(QS. AlBaqarah : 31).

Para mufasir berbeda pendapat tentang pengertian asma yang tercantum pada ayat di atas. Walaupun mereka berbeda pendapat tentang makna asma, tetapi yang pasti (al-qadru almutayaqqan) dan yang tidak diperselisihkan lagi adalah, bahwa Adam as. dibekali pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh para malaikat. Sebagaimana telah kami kutipkan komentar Allamah Thabathabai tentang pengertian asma pada surat Al-Baqarah ayat 31 tersebut, beliau menjelaskan bahwa Allah telah menyimpan dalam diri manusia sebuah potensi ilmu, yang akan nyata dengan mengikuti petunjuk-Nya. Jadi untuk menjadi khalifatullah, hendaknya manusia berilmu. Manusia yang tidak berilmu, 2. tidak bisa Iman dikatakan sebagai khalifah dan Allah Taala. Amal

Pada

ayat

yang

lain,

Allah

Taala

berfirman

tentang

kriteria

khalifah-Nya.

"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal shaleh (kebaikan), bahwa Dia akan menjadikan mereka sebagai khalifah di bumi, Sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka sebagai khalifah. Sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah diridhaiNya untuk mereka, serta Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka menjadi aman setelah mereka ketakutan. Mereka akan menyembah-Ku dan tidak menyekutukan apapun dengan-Ku. Dan barang siapa kafir setelah itu, maka mereka adalah orang-orang yang fasik." (QS. An-Nur : 55). Pada ayat tersebut, jelas sekali Allah berjanji akan menjadikan hamba-hamba-Nya sebagai khalifah yang akan menguasai dan memimpin dunia. Tetapi janji itu akan ditepati-Nya bagi manusia iman yang dan beriman dan amal beramal kebaikan. shaleh. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa kriteria lain dari seorang khalifatullah adalah

3. Memberi keputusan dengan benar (haqq) dan tidak mengikuti hawa nafsu Allah Taala berfirman, "Wahai Dawud, Kami jadikan engkau sebagai khalifah di bumi, maka berilah keputusan dengan benar dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena hawa nafsu akan menyesatkanmu dari jalan Allah." (QS. Shad : 26).

Allamah Thabathabai berkata, Maksud khalifah di sini secara lahiriah adalah khalifatullah, sama dengan maksud dari firman Allah (pada surat Al-Baqarah ayat 30). Dan seorang khalifah seharusnya menyerupai Yang mengangkat dirinya sebagai khalifah dalam sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya. Oleh karena itu khalifatullah di bumi hendaknya berakhlak dengan akhlak-akhlak Allah, berkehendak, bertindak sebagaimana yang Allah kehendaki dan memberi keputusan dengan keputusan Allah serta berjalan di jalan Selanjutnya jalan ketika menafsirkan ayat Allah. : Allah."

"Dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena hawa nafsu akan menyesatkanmu dari Beliau berkata, Makna ayat tersebut adalah, bahwa engkau dalam memutuskan (sesuatu)

janganlah mengikuti hawa nafsu, maka engkau akan disesatkan olehnya dari kebenaran, yaitu 4. jalan Allah. (Tafsir Maruf al-Mizan, dan jilid 17 halaman Nahi 194-195). Munkar

Amar

Rasulullah saww bersabda, Barang siapa ber-amar maruf dan nahi munkar, maka dia adalah khalifatullah di bumi dan khalifah kitab-Nya serta khalifah rasul-Nya. (Kitab Mizan al-Hikmah, Kesimpulan Semua manusia secara potensial (bil-quwwah), diciptakan untuk menjadi khalifatullah. Namun agar potensi tersebut menjadi nyata (bil-fili), terdapat sejumlah kriteria yang harus dimilikinya, yaitu ilmu, iman, amal shaleh, memberi keputusan dengan benar, tidak mengikuti hawa nafsu dan ber-amar maruf dan nahi munkar. [] Filsafat Ilmu Teori Pengetahuan Pengetahuan (knowledge atau ilmu )adalah bagian yang esensial- aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya,yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan " barangkali " keunggulannya dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuannya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang menjadi tolak ukur kebenaran ? Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi jilid 3 hal 80).

sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. Atas dasar itu, manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatasperlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Dalam hal ini, ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak, yaitu menerima, merekam, dan mengolah apa yang ada dalam benak, tetapi ia menjadi objek. Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah). Epistemologi menjadi sebuah kajian, sebenarnya, belum terlalu lama, yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti, Mutahhari dengan bukunya "Syinakht", Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya, Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. Sebelumnya, pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela bukubuku filsafat klasik dan mantiq. Mereka -barat- sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini, karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. Mereka telah bebas dari trauma intelektual. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama, mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). Maka dari itu, bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua, yakni aliran rasionalis dan empiris. Dan sebagian darinya telah lenyap. Dari kaum rasionalis muncul Descartes, Imanuel Kant, Hegel dan lain-lain. Dan dari kaum empiris adalah Auguste

Comte dengan Positivismenya, Wiliam James dengan Pragmatismenya, Francis Bacon dengan Sensualismenya. Berbeda dengan barat, di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu, karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan, meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu, tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Malah tidak sedikit dari ulama Islam, juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina, al Farabi, Jabir bin al Hayyan, al Khawarizmi, Syekh al Thusi dan yang lainnya. Oleh karena itu, ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang. Filsafat Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. (dan masih konon juga) Dia menggunakan kata ini karena dua alasan, Pertama, kerendah-hatian dia. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya, dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. Kedua, pada waktu itu, di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Mereka pandai bersilat lidah, sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Kebenaran yang riil tidak ada. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis, artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu, karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Dalam keadaan seperti ini, Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. Meski dia berhasil, ia tidak ingin dikatakan pandai, tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato, yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian.

Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2) urusa rumah tangga; (3) sosial dan politik. Filusuf adalah orang yang mengetahui semua cabang-cabang ilmu pengetahuan tadi. Mungkinkah Manusia itu Mempunyai Pengetahuan ? Masalah epistemologis yang sejak dahulu dan juga sekarang menjadi bahan kajian adalah, apakah berpengetahuan itu mungkin ? Apakah dunia (baca: realita) bisa diketahui ? Sekilas masalah ini konyol dan menggelikan. Tetapi terdapat beberapa orang yang mengingkari pengetahuan atau meragukan pengetahuan. Misalnya, bapak kaum sophis, Georgias, pernah dikutip darinya sebuah ungkapan berikut, "Segala sesuatu tidak ada. Jika adapun, maka tidak dapat diketahui, atau jika dapat diketahui, maka tidak bisa diinformasikan." Mereka mempunyai beberapa alasan yang cukup kuat ketika berpendapat bahwa pengetahuan sesuatu yang tidak ada atau tidak dapat dipercaya. Pyrrho salah seorang dari mereka menyebutkan bahwa manusia ketika ingin mengetahui sesuatu menggunakan dua alat yakni, indra dan akal. Indra yang merupakan alat pengetahuan yang paling dasar mempunyai banyak kesalahan, baik indra penglihat, pendengar, peraba, pencium dan perasa. Mereka mengatakan satu indra saja mempunyai kesalahan ratusan. Jika demikian adanya, maka bagaimana pengetahuan lewat indra dapat dipercaya ? Demikian pula halnya dengan akal. Manusia seringkali salah dalam berpikir. Bukti yang paling jelas bahwa di antara para filusuf sendiri terdapat perbedaan yang jelas tidak mungkin semua benar pasti ada yang salah. Maka akalpun tidak dapat dipercaya. Oleh karena alat pengetahuan hanya dua saja dan keduanya mungkin bersalah, maka pengetahuan tidak dapat dipercaya. Pyrrho ketika berdalil bahwa pengetahuan tidak mungkin karena kasalahan-kesalahan yang indra dan akal, sebenarnya, ia telah mengetahui (baca: meyakini) bahwa pengetahuan tidak mungkin. Dan itu merupakan pengetahuan. Itu pertama. Kedua, ketika ia mengatakan bahwa indra dan akal seringkali bersalah, atau katakan, selalu bersalah, berarti ia mengetahui bahwa indra dan akal itu salah. Dan itu adalah pengetahuan juga.

Alasan yang dikemukakan oleh Pyrrho tidak sampai pada kesimpulan bahwa pengetahuan sesuatu yang tidak mungkin. Alasan itu hanya dapat membuktikan bahwa ada kesalahan dalam akal dan indra tetapi tidak semua pengetahuan lewat keduanya salah. Oleh karen itu mesti ada cara agar akal dan indra tidak bersalah. Menurut Ibnu Sina, ada cara lain yang lebih efektif untuk menghadapi mereka, yaitu pukullah mereka. Kalau dia merasakan kesakitan berarti mereka mengetahui adanya sakit (akhir dawa' kay). " Cogito, ergosum "-nya Descartes. Rene Descartes termasuk pemikir yang beraliran rasionalis. Ia cukup berjasa dalam membangkitkan kembali rasionalisme di barat. Muhammad Baqir Shadr memasukkannya ke dalam kaum rasionalis. Ia termasuk pemikir yang pernah mengalami skeptisme akan pengetahuan dan realita, namun ia selamat dan bangkit menjadi seorang yang meyakini realita. Bangunan rasionalnya beranjak dari keraguan atas realita dan pengetahuan. Ia mencari dasar keyakinannya terhadap Tuhan, alam, jiwa dan kota Paris. Dia mendapatkan bahwa yang menjadi dasar atau alat keyakinan dan pengetahuannya adalah indra dan akal. Ternyata keduanya masih perlu didiskusikan, artinya keduanya tidak memberika hal yang pasti dan meyakinkan. Lantas dia berpikir bahwa segala sesuatu bisa diragukan, tetapi ia tidak bisa meragukan akan pikirannya. Dengan kata lain ia meyakini dan mengetahui bahwa dirinya ragu-ragu dan berpikir. Ungkapannya yang populer dan sekaligus fondasi keyakinan dan pengetahuannya adalah " Saya berpikir (baca : ragu-ragu), maka saya ada ". Argumentasinya akan realita menggunakan silogisme kategoris bentuk pertama, namun tanpa menyebutkan premis mayor. Saya berpikir, setiap yang berpikir ada, maka saya ada. Keraguan al Ghazzali. Dari dunia Islam adalah Imam al Ghazzali yang pernah skeptis terhadap realita, namun iapun selamat dan menjadi pemikir besar dalam filsafat dan tashawwuf. Perkataannya yang populer adalah " Keraguan adalah kendaraan yang mengantarkan seseorang ke keyakinan ". Sumber Dana Alat Pengetahuan.

Setelah pengetahuan itu sesuatu yang mungkin dan realistis, masalah yang dibahas dalam lliteratur-literatur epistimologi Islam adalah masalah yang berkaitan dengan sumber dan alat pengetahuan. Sesuai dengan hukum kausaliltas bahwa setiap akibat pasti ada sebabnya, maka pengetahuan adalah sesuatu yang sifatnya aksidental -baik menurut teori recolection-nya Plato, teori Aristoteles yang rasionalis-paripatetik, teori iluminasi-nya Suhrawardi, dan filsafat-materialisnya kaum empiris- dan pasti mempunyai sebab atau sumber. Tentu yang dianggap sebagai sumber pengetahuan itu beragam dan berbeda sebagaimana beragam dan berbedanya aliran pemikiran manusia. Selain pengetahuan itu mempunyai sumber, juga seseorang ketika hendak mengadakan kontak dengan sumbersumber itu, maka dia menggunakan alat. Para filusuf Islam menyebutkan beberapa sumber dan sekaligus alat pengetahuan, yaitu : 1. Alam tabi'at atau alam fisik 2. Alam Akal 3. Analogi ( Tamtsil) 4. Hati dan Ilham 1. Alam tabi'at atau alam fisik Manusia sebagai wujud yang materi, maka selama di alam materi ini ia tidak akan lepas dari hubungannya dengan materi secara interaktif, dan hubungannya dengan materi menuntutnya untuk menggunakan alat yang sifatnya materi pula, yakni indra (al hiss), karena sesuatu yang materi tidak bisa dirubah menjadi yang tidak materi (inmateri). Contoh yang paling konkrit dari hubungan dengan materi dengan cara yang sifatnya materi pula adalah aktivitas keseharian manusia di dunia ini, sepert makan, minum, hubungan suami istri dan lain sebagianya. Dengan demikian, alam tabi'at yang materi merupakan sumber pengetahuan yang "barangkali" paling awal dan indra merupakan alat untuk berpengetahuan yang sumbernya tabi'at. Tanpa indra manusia tidak dapat mengetahui alam tabi'at. Disebutkan bahwa, barang siapa tidak mempunyai satu indra maka ia tidak akan mengetahui sejumlah pengetahuan. Dalam filsafat Aristoteles klasik pengetahuan lewat indra termasuk dari enam pengetahuan yang aksioamatis (badihiyyat). Meski indra berperan sangat signifikan dalam berpengetahuan, namun indra hanya sebagai syarat yang lazim bukan syarat yang cukup. Peranan indra

hanya memotret realita materi yang sifatnya parsial saja, dan untuk meng-generalisasikannya dibutuhkan akal. Malah dalam kajian filsafat Islam yang paling akhir, pengetahuan yang diperoleh melalui indra sebenarnya bukanlah lewat indra. Mereka mengatakan bahwa obyek pengetahuan (al ma'lum) ada dua macam, yaitu, (1) obyek pengetahuan yang substansial dan (2) obyek pengetahuan yang aksidental. Yang diketahui secara substansial oleh manusia adalah obyek yang ada dalam benak, sedang realita di luar diketahui olehnya hanya bersifat aksidental. Menurut pandangan ini, indra hanya merespon saja dari realita luar ke relita dalam. Pandangan Sensualisme (al-hissiyyin). Kaum sensualisme, khususnya John Locke, menganggap bahwa pengetahuan yang sah dan benar hanya lewat indra saja. Mereka mengatakan bahwa otak manusia ketika lahir dalam keadaan kosong dari segala bentuk pengetahuan, kemudian melalui indra realita-realita di luar tertanam dalam benak. Peranan akal hanya dua saja yaitu, menyusun dan memilah, dan meng-generalisasi. Jadi yang paling berperan adalah indra. Pengetahuan yang murni lewat akal tanpa indra tidak ada. Konskuensi dari pandangan ini adalah bahwa realita yang bukan materi atau yang tidak dapat bersentuhan dengan indra, maka tidak dapat diketahui, sehingga pada gilirannya mereka mengingkari hal-hal yang metafisik seperti Tuhan. 2. Alam Akal Kaum Rasionalis, selain alam tabi'at atau alam fisika, meyakini bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang kedua dan sekaligus juga sebagai alat pengetahuan. Mereka menganggap akal-lah yang sebenarnya menjadi alat pengetahuan sedangkan indra hanya pembantu saja. Indra hanya merekam atau memotret realita yanng berkaitan dengannya, namun yang menyimpan dan mengolah adalah akal. Karena kata mereka, indra saja tanpa akal tidak ada artinya. Tetapi tanpa indra pangetahuan akal hanya tidak sempurna, bukan tidak ada. Aktivitas-aktiviras Akal 1. Menarik kesimpulan. Yang dimaksud dengan menarik kesimpulan adalah mengambil sebuah hukum atas sebuah kasus tertentu dari hukum yang general. Aktivitas ini dalam istilah logika disebut silogisme kategoris demonstratif.

2. Mengetahui konsep-konsep yang general. Ada dua teori yang menjelaskan aktivitas akal ini, pertama, teori yang mengatakan bahwa akal terlebih dahulu menghilangkan ciri-ciri yang khas dari beberapa person dan membiarkan titik-titik kesamaan mereka. Teori ini disebut dengan teori tajrid dan intiza'. Kedua, teori yang mangatakan bahwa pengetahuan akal tentang konsep yang general melalui tiga tahapan, yaitu persentuhan indra dengan materi, perekaman benak, dan generalisasi. 3. Pengelompokan Wujud. Akal mempunyai kemampuan mengelompokkan segala yang ada di alam realita ke beberapa kelompok, misalnya realita-realita yang dikelompokkan ke dalam substansi, dan ke dalam aksdensi (yang sembilan macam). 4. Pemilahan dan Penguraian. 5. Penggabungan dan Penyusunan. 6. Kreativitas.

3. Analogi (Tamtsil) Termasuk alat pengetahuan manusia adalah analogi yang dalam terminologi fiqih disebut qiyas. Analogi ialah menetapkan hukum (baca; predikat) atas sesuatu dengan hukum yang telah ada pada sesuatu yang lain karena adanya kesamaan antara dua sesuatu itu. Analogi tersusun dari beberapa unsur; (1) asal, yaitu kasus parsial yang telah diketahui hukumnya. (2) cabang, yaitu kasus parsial yang hendak diketahui hukumnya, (3) titik kesamaan antara asal dan cabang dan (4) hukum yang sudah ditetapkan atas asal. Analogi dibagi dua; 1. Analogi interpretatif : Ketika sebuah kasus yang sudah jelas hukumnya, namun tidak diketahui illatnya atau sebab penetapannya. 2. Analogi Yang Dijelaskan illatnya : Kasus yang sudah jelas hukum dan illatnya. 4. Hati dan Ilham

Kaum empiris yang memandang bahwa ada sama dengan materi sehingga sesuatu yang inmateri adalah tidak ada, maka pengetahuan tentang in materi tidak mungkin ada. Sebaliknya kaum Ilahi ( theosopi) yang meyakini bahwa ada lebih luas dari sekedar materi, mereka mayakini keberadaan hal-hal yang inmateri. Pengetahuan tentangnya tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal atau hati. Tentu yang dimaksud dengan pengetahuan lewat hati disini adalah penngetahuan tentang realita inmateri eksternal, kalau yang internal seperti rasa sakit, sedih, senang, lapar, haus dan hal-hal yang iintuitif lainnya diyakini keberadaannya oleh semua orang tanpa kecuali. Bagaimana mengetahui lewat hati ? Filusuf Ilahi Mulla Shadra ra. berkata, "Sesungguhnya ruh manusia jika lepas dari badan dan berhijrah menuju Tuhannya untuk menyaksikan tanda-tanda-Nya yang sangat besar, dan juga ruh itu bersih dari kamaksiatan-kemaksiatan, syahwat dan ketarkaitan, maka akan tampak padanya cahaya makrifat dan keimanan kepada Allah dan malakut-Nya yang sangat tinggi. Cahaya itu jika menguat dan mensubstansi, maka ia menjadi substansi yang qudsi, yang dalam istilah hikmah teoritis oleh para ahli hikmat disebut dengan akal efektif dan dalam istilah syariat kenabian disebut ruh yang suci. Dengan cahaya akal yang kuat, maka terpancar di dalamnya -yakni ruh manusia yang suci- rahasia-rahasia yang ada di bumi dan di langit dan akan tampak darinya hakikat-hakikat segala sesuatu sebagimana tampak dengan cahaya sensual mata (alhissi) gambaran-gambaran konsepsi dalam kekuatan mata jika tidak terhalang tabir. Tabir di sini -dalam pembahasan ini- adalah pengaruh-pengaruh alam tabiat dan kesibukan-kesibukan dunia, karena hati dan ruh -sesuai dengan bentuk ciptaannya- mempunyai kelayakan untuk menerima cahaya hikmah dan iman jika tidak dihinggapi kegelapan yang merusaknya seperti kekufuran, atau tabir yang menghalanginya seperti kemaksiatan dan yang berkaitan dengannya " Kemudian beliau melanjutkan, "Jika jiwa berpaling dari ajakan-ajakan tabiat dan kegelapan-kegelapan hawa nafsu, dan menghadapkan dirinya kepada Alhaq dan alam malakut, maka jiwa itu akan berhubungan dengan kebahagiaan yang sangat tinggi dan akan tampak padanya rahasia alam malakut dan terpantul padanya kesucian (qudsi) Lahut ." (alAsfar al-Arba'ah jilid 7 halaman 24-25).

Tentang kebenaran realita alam ruh dan hati ini, Ibnu Sina berkata, "Sesungguhnya para 'arifin mempunyai makam-makam dan derajat-derajat yang khusus untuk mereka. Mereka dalam kehidupan dunia di bawah yang lain. Seakan-akan mereka itu, padahal mereka berada dengan badan mereka, telah melepaskan dan meninggalkannya untuk alam qudsi. Mereka dapat menyaksikan hal-hal yang halus yang tidak dapat dibayangkan dan diterangkan dengan lisan. Kesenangan mereka dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat mata dan didengar telinga. Orang yang tidak menyukainya akan mengingkarinya dan orang yang memahaminya akan membesarkannya." (al-Isyarat jilid 3 bagian kesembilan tentang makam-makam para 'arif halaman 363-364) Kemudia beliau melanjutkan, "Jika sampai kepadamu berita bahwa seorang 'arif berbicara -lebih dulu- tentang hal yang gaib (atau yang akan terjadi), dengan berita yang menyenangkan atau peringatan, maka percayailah. Dan sekali-sekali anda keberatan untuk mempercayainya, karena apa yang dia beritakan mempunyai sebab-sebab yang jelas dalam pandangan-pandangan (aliran-aliran) tabi'at." Pengetahuan tentang alam gaib yang dicapai manusia lewat hati jika berkenaan dengan pribadi seseorang saja disebut ilham atau isyraq, dan jika berkaitan dengan bimbingan umat manusia dan penyempurnaan jiwa mereka dengan syariat disebut wahyu. Islam dan Sumber-sumber Pengetahuan Dalam teks-teks Islam -Qur'an dan Sunnah- dijelaskan tentang sumber dan alat pengetahuan: 1. Indra dan akal Allah swt. berfirman, "Dan Allah yang telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian, sementara kalian tidak mengetahui sesuatu pun, dan (lalu) Ia meciptakan untuk kalian pendengaran, penglihatan dan hati ( atau akal) agar kalian bersyukur ". (QS. al-Nahl: 78). Islam tidak hanya menyebutkan pemberian Allah kepada manusia berupa indra, tetapi juga menganjurkan kita agar menggunakannya, misalnya dalam al-Qur'an Allah swt. berfirman, "Katakanlah, lihatlah segala yang ada di langit-langit dan di

bumi." (QS. Yunus: 101 ). Dan ayat-ayat yang lainnya yang banyak sekali tentang anjuran untuk bertafakkur. Qur'an juga dalam membuktikan keberadaan Allah dengan pendekatan alam materi dan pendakatan akal yang murni seperti, "Seandainya di langit dan di bumi ada banyak tuhan selain Allah, niscaya keduanya akan hancur." (QS. al-Anbiya': 22). Ayat ini menggunakan pendekatan rasional yang biasa disebut dalam logika Aristotelian dengan silogisme hipotesis. Atau ayat lain yang berbunyi, "Allah memberi perumpamaan, seorang yang yang diperebutkan oleh banyak tuan dengan seorang yang menyerahkan dirinya kepada seorang saja, apakah keduanya sama ?" (QS. al-Zumar: 29) 2. Hati Allah swt berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, niscaya Ia akan memberikan kepada kalian furqon." (QS. al-Anfal: 29) Maksud ayat ini adalah bahwa Allah swt. akan memberikan cahaya yang dengannya mereka dapat membedakan antara yang haq dengan yang batil. Atau ayat yang berbunyi, "Dan bertakwalah kepada Allah maka Ia akan mengajari kalian. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. al-Baqarah: 282). Dan ayat-ayat yang lainnya.

Syarat dan Penghalang Pengetahuan. Meskipun berpengetahuan tidak bisa dipisahkan dari manusia, namun seringkali ada halhal yang mestinya diketahui oleh manusia, ternyata tidak diketahui olehnya. Oleh karena itu ada beberapa pra-syarat untuk memiliki pengetahuan, yaitu : 1. Konsentrasi Orang yang tidak mengkonsentasikan (memfokuskan) indra dan akal pikirannya pada benda-benda di luar, maka dia tidak akan mengetahui apa yang ada di sekitarnya.

2. Akal yang sehat Orang yang akalnya tidak sehat tidak dapat berpikir dengan baik. Akal yang tidak sehat ini mungkin karena penyakit, cacat bawaan atau pendidikan yang tidak benar. 3. Indra yang sehat Orang yang salah satu atau semua indranya cacat maka tidak mengetahui alam materi yang ada di sekitarnya. Jika syarat-syarat ini terpenuhi maka seseorang akan mendapatkan pengetahuan lewat indra dan akal. Kemudian pengetahuan daat dimiliki lewat hati. Pengetahuan ini akan diraih dengan syarat-syarat seperti, membersihkan hati dari kemaksiatan, memfokuskan hati kepada alam yang lebih tinggi, mengosongkan hati dari fanatisme dan mengikuti aturan-aturan <i

LOGIKA
Ijtihad Ust. Husein Al-Kaff Dalam terminologi yurisprudensi (hukum) Islam, kata Ijtihad dan Taqlid adalah dua kata yang tidak asing dan telah menjadi bahan pembahasan para fuqaha dan ushuliyyun sejak generasi terdahulu sampai sekarang. Akhir-akhir ini bahasan tentang keduanya mulai marak kembali, khususnya ketika muncul sebuah gerakan yang menamakan dirinya sebagai pengikut Al-Quran dan Sunnah Nabi saaw. Mereka acapkali disebut dengan mujaddidin (kaum pembaharu). Gerakan mujaddidin menolak segala bentuk taqlid, khususnya kepada para mujtahid yang telah wafat seperti Imam Abu Hanifah (80-150H), Imam Malik Bin Anas (93-179 H), Imam Syafii (150-198 H) dan Imam Ahmad Bin Hambal (164-241 H). Kehadiran mereka tidak dapat dipungkiri lagi, bahkan mengundang reaksi yang cukup keras dari kaum taqlidiyyin (para pengikut empat imam mujtahid tersebut). Letak perbedaan kedua golongan ini, mujaddidin dan taqlidiyyin, sehubungan dengan dan Taqlid

masalah hukum Islam, adalah kaum mujaddidin berpendapat bahwa umat Islam hanya harus mengikuti Al-Quran dan Sunnah, dan tidak boleh mengikuti selain keduanya. Dengan demikian setiap muslim harus merujuk kepada Al-Quran dan Hadis secara langsung, tidak diperbolehkan mengikuti (taqlid) kepada pendapat ulama. Sementara kaum taqlidiyyin berpendapat, bahwa sah-sah saja seorang muslim mengikuti pendapat seorang ulama, khususnya para imam mazhab yang empat, karena pendapat mereka tidak lepas dari empat dasar hukum, Al-Quran, Sunnah, Ijma dan Qiyas. Apalagi mereka lebih dekat ke zaman kenabian dari pada umat Islam sekarang ini. Lebih dari itu kaum taqlidiyyin membatasi ijtihad hanya kepada empat imam mazhab tersebut. Dengan pengertian, setelah keempat mujtahid tersebut tidak ada lagi mujtahid yang lain. Walaupun ada, maka itu hanya sebagai mujtahid fatwa bukan mujtahid mutlak, seperti Imam Nawawi di Mesir dan Imam Rafii di Suria. Jadi satu pihak mewajibkan setiap muslim merujuk langsung kepada Al-Quran dan Sunnah, walaupun dengan seperangkat ilmu alat seadanya serta dengan latar belakang pendidikan yang berbeda. Dengan kata lain, menurut pihak ini setiap muslim harus berijtihad (definisi ijtihad pada keterangan berikut) dan diharamkan taqlid. Sementara di pihak lain menutup pintu ijtihad rapat-rapat, sehingga tidak diperkenankan seseorang setelah empat imam mujtahid untuk berijtihad. Mereka harus mengikuti salah satu dari empat imam mujtahid tersebut. Definisi Ijtihad Sebelum mendiskusikan masalah ijtihad dan taqlid, terlebih dahulu perlu dijelaskan definisi ijtihad. Para ushuliyyun (pakar ushul fiqh) dan fuqaha dalam mendefinisikan ijtihad berkata, Ijtihad adalah mencurahkan segenap upaya untuk mendapatkan hukum syariat dari sumber aslinya. Ulama Ahlu Sunnah dan Syiah berpendapat, bahwa sumber hukum Islam yang utama adalah Al-Quran dan Sunnah. Dan mereka beranggapan bahwa segala kasus yang dihadapi umat manusia pasti ada penyelesaiannya dalam Islam (Al-Quran dan Sunnah) baik secara langsung atau tidak dan kaum muslimin wajib merujuk dan mengikuti keduanya. Yang menjadi masalah, apakah setiap orang muslim dapat memahami maksud Al-Quran dan Sunnah, atau lebih dari itu apakah setiap muslim mampu bahkan harus mengambil hukum langsung dari keduanya ? Oleh karena masalah ijtihad adalah masalah bakat (malakah) yang ada pada seseorang, yang dengannya dia mampu menarik hukum (istinbath) dari sumber-sumbernya (Kitab

Rasail, karya Imam Khumainy), maka tidak realistis kalau setiap muslim harus berijtihad. Karena setiap orang mempunyai bakat dan kecenderungan yang berbeda-beda. Sangat tidak realistis seseorang yang sibuk dengan keahliannya dalam bidangnya seperti dokter, insinyur dan lainnya dituntut untuk berijtihad. Demikian pula seorang buruh yang bersusah payah membanting tulang untuk mencari nafkah seharian penuh, dituntut berijtihad. Oleh karena itu, ijtihad tidak diharuskan atas setiap muslim. Akan tetapi, seseorang yang mempunyai bakat dan kemampuan karena penguasaannya terhadap beberapa disiplin ilmu, wajib berijtihad dan tidak boleh taqlid. Jadi, ijtihad tidak harus dilaksanakan oleh setiap muslim dan juga tidak terbatas pada beberapa orang saja. Ijtihad dapat dilakukan oleh setiap orang yang berbakat dan mempunyai kemampuan. Persepsi ini, barangkali bisa menjadi jembatan dan penengah antara kaum mujaddidin dan kaum taqlidiyyin. Memang, untuk menjadi mujtahid tidaklah mudah. Ayatullah Muthahhari, seorang mujtahid juga filosof menyebutkan beberapa disiplin ilmu yang harus dikuasai oleh seorang mujtahid, 1. antara Bahasa lain : Arab

Mencakup nahwu, sharaf, maani, bayan dan badi. Karena sumber rujukan hukum Islam adalah Al-Quran dan Sunnah yang berbahasa Arab. Tanpa menguasai bahasa Arab dengan baik, 2. 3. Oleh tepat 4. pembagiannya Ilmu karenanya, seorang seseorang sulit untuk memahami keduanya dengan baik.

Tafsir Manthiq mujtahid harus dan Ilmu dan atau menguasainya agar

Al-Quran logika dia dalam logis. Hadist macam-macamnya.

Ilmu ini membahas tentang bagaimana cara berpikir logis dan berargumentasi yang tepat. menginterpretasikan hukum dari Al-Quran dan Sunnah berdasarkan argumentasi yang

Seorang mujtahid harus menguasai benar hadis, asbabul wurud (konteksnya), pembagian-

5.

Ilmu

Rijal

Yaitu ilmu tentang perawi hadis. Seorang mujtahid harus mengetahui tentang biografi setiap perawi hadis sebelum mengkaji tentang matan hadis. Karena pengetahuan tentang ilmu ini akan menentukan kedudukan hadis dan akan mempengaruhi validitas hukum yang dikeluarkan 6. oleh seorang Ilmu mujtahid dari Ushul suatu hadis. Fiqih

Ilmu yang membahas tentang cara mengintrepretasikan hukum (dustur istinbath). Ilmu ini menggunakan peranan dari setiap disiplin ilmu yang dibutuhkan dalam istinbath (kitab alHalaqat, karya Ayatullah Muhammad Baqir Shadr).

Banyak bahasan yang tercakup dalam ilmu ini, misalnya apakah setiap kata kerja perintah (fiil amr) mengandung arti wajib (al-wujub) atau tidak ? kalau tidak mengapa dan kapan ? atau misalnya bahasan tentang hujiyyah dhawahir yang ringkasnya apakah pemahaman secara lahiriah seorang mujtahid tentang sebuah ayat atau hadis itu (berstatus) hujjah atau tidak dan bahasan lainnya. Enam disiplin ilmu tersebut dapat dikuasai oleh siapa saja, sehingga tidak ada pembatasan jumlah mujtahid, tapi pada waktu yang sama keharusan menguasai enam disiplin ilmu tersebut membatasi orang-orang agar tidak menganggap enteng berijtihad (merujuk langsung kepada Al-Quran dan Sunnah) hanya dengan bermodalkan bahasa Arab yang ala kadarnya Bolehkah Wasilah, karya atau tanggung, apalagi hanya mengandalkan terjemahan belaka. ? Khumainy).

bertaqlid Imam

Taqlid adalah beramal atas dasar fatwa seorang faqih / mujtahid (Lihat kitab Tahrir alSebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa setiap muslim harus merujuk kepada AlQuran dan Sunnah, meskipun tidak semua orang muslim mampu merujuk kepada keduanya secara langsung (berijtihad) karena enam persyaratan tersebut, maka bagi yang tidak mampu diperkenankan bertaqlid. Kata-kata taqlid bagi sementara kaum muslimin adalah kata yang berkonotasi negatif. Bahkan sebagian ada yang mengharamkannya. Padahal masalah taqlid adalah sesuatu yang lumrah, wajar dan logis terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Kehidupan sosial umat manusia tegak atas dasar taqlid, karena taqlid tidak lain dari perbuatan seseorang yang tidak tahu merujuk kepada yang tahu dalam segala urusan. Misalnya seorang yang sakit merujuk kepada Dokter sebagai ahli kesehatan, seorang ulama meminta bantuan seorang insinyur ketika hendak membangun masjid dan pesantren dan sebagainya. Setiap orang yang tidak tahu dalam satu masalah atau urusan pasti merujuk kepada yang ahli dalam masalah dan urusan tersebut. Itulah yang dinamakan taqlid. Dalam hal ini tidak ada yang menganggap taqlid itu tidak baik. Demikian halnya dalam masalah syariat atau hukum (baca, fiqih), tidak semua orang mampu mengambilnya langsung dari Al-Quran dan Sunnah, karena pengambilan langsung dari keduanya bukan sesuatu yang mudah, akan tetapi perlu ada spesialisasi. Nah, orang yang awam tentang syariat, baik itu pedagang, petani, kaum intelek dan lainnya yang tidak membidangi syariat secara khusus, mau tidak mau mereka harus merujuk kepada orang yang ahli dalam masalah syariat. Alasan ini dalam istilah para ushuliyyun dan fuqaha disebut diperbolehkannya 1. taqlid dalam al-uruf urusan syariat, antara ayat al-uqalai. lain : 122 Disamping itu ada beberapa ayat yang oleh sebagian ulama dijadikan dalil tentang

Surat

At-Taubah

"Tidak sepatutnya bagi semua orang mukmin pergi (berjihad). Mengapa tidak pergi dari setiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk tafaqquh (belajar secara mendalam) dalam urusan agama. Dan (setelah itu) mereka hendaknya memberi peringatan kepada kaumnya kalau kembali kepada mereka, agar mereka dapat menjaga diri mengikuti 2.Surat "Maka bertanyalah dan menerima keterangan orang-orang ayat dzikir, jika kalian tidak yang mereka."" bertafaqquh. 70 mengetahui." Ayat ini secara implisit menyatakan, bahwa kewajiban orang yang tidak bertafaqquh untuk

Al-Anbiya kepada ahli

Ayat ini mengandung arti yang umum, karena ahli dzikir dapat diartikan sebagai ahli kitab, jika yang menjadi mukhatab (obyek) adalah kaum musyrikin dan juga dapat diartikan sebagai para imam atau ulama (ketika tidak ada imam) kalau yang menjadi mukhatab adalah umat Islam. Berdasarkan pengertian kedua, ketika Allah menyuruh umat Islam

bertanya kepada para imam dan ulama, berarti mereka harus menerima jawaban yang diberikan Kesimpulan Dalam mengikuti Al-Quran dan Sunnah, secara garis besar terdapat dua cara, pertama ijtihad dan kedua taqlid. Keduanya dibenarkan dan berlaku untuk seluruh kaum muslimin. [] oleh mereka.

Kenabian Ust. Husein Al-Kaff Apa Tujuan Hidup Manusia

(1)

Dalam Pandangan Dunia Tauhid (Jahan Bini-e Tauhid), alam raya ini ada tidak dengan sendirinya, tetapi diciptakan oleh Sang Maha Pencipta dengan tujuan-tujuan tertentu. Tidak mungkin alam diciptakan tanpa tujuan, karena penciptaan alam termasuk dari perbuatan-Nya Lantas apa yang tujuan tidak penciptaan alam mungkin raya ini sia-sia. ?

Para filosof Ilahiyyin dan mutakallimin mengatakan, bahwa segala yang ada di alam raya tabiat ini bergerak sesuai dengan status dan posisi tabii-nya (alaminya) menuju kesempurnaannya masing-masing. Tumbuh-tumbuhan, binatang, bahkan benda-benda yang secara lahiriah tampak mati, bergerak secara alami dan sesuai dengan kapasitas wujudnya menuju kesempurnaan wujudnya masing-masing, tidak kurang dan tidak lebih. (QS. Al-Qamar ayat 49). Pergerakan mereka menuju kesempurnaan merupakan bukti ketaatan mereka kepada Sang Pencipta.

Sebagian mufasir menafsirkan tasbih dan sujudnya segala yang ada di alam raya ini dengan

pergerakan mereka menuju kesempurnaan. Dalam hal ini manusia tidak berbeda dengan makhluk lainnya, artinya sama-sama bergerak. Akan tetapi karena manusia adalah makhluk yang berikhtiar, maka titik gerakan yang ditujunya tergantung pada pilihan mereka. Terkadang mereka menuju kesempurnaan dan terkadang menuju kehancuran.

Akhir dari kesempurnaan adalah Allah Taala sebagai Kesempurnaan yang mutlak. Untuk itulah manusia diciptakan. Sedangkan Kesempurnaan kehancuran, adalah segala tujuan selain yang mutlak.

Ketika seseorang bergerak menuju kesempurnaan, manfaat pergerakannya itu dirasakan oleh dirinya dan alam sekitarnya. Bagaikan minyak kesturi yang wangi semerbak, selain dirinya wangi juga menebarkan wewangiannya kepada sekitarnya. Tentang hal di atas, Allah Taala berfirman, Katakanlah, Sungguh shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku semata untuk Allah, Tuhan semesta alam. (Surat Al-Anam ayat 162). Demikian pula Allah berfirman, Dan sekiranya penghuni kampung beriman dan bertaqwa, niscaya Kami bukakan untuk mereka barakah-barakah dari langit dan bumi. (QS. Al-Araf 96)

Demikian halnya, orang yang bergerak menuju kehancuran, disamping dirinya hancur dia juga menghancurkan sekitarnya. Allah berfirman, Dan jika dia berpaling, maka dia berusaha untuk membuat kehancuran di dalamnya dan membinasakan tanaman dan keturunan. (QS. Al-Baqarah ayat 205).

Bahkan mereka juga berusaha membendung dan menghalangi golongan pertama, seperti Allah lukiskan dalam Al-Quran, Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, namun Allah tidak menghendakinya melainkan menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang kafir membencinya. (QS. Al-Anfal ayat 32).

Selama perjalanan sejarah umat manusia, sejak dari Habil dan Kabil hingga hari akhir dunia, senantiasa terdapat orang-orang yang bergerak menuju kesempurnaan dan yang bergerak menuju kehancuran. Kedua kelompok ini saling berseberangan dan tarik menarik.

Pada

gilirannya

kedua

kelompok

ini

memiliki

pengikut

dan

musuh.

Syahid Muthahhari dalam buku Jadzibeh wa Dafieh-e Ali menyebutkan, bahwa Ali bin Abi Thalib as. adalah orang yang mempunyai kawan dan lawan, dan ini adalah ciri seorang mukmin. Dia dicintai para kekasih Allah dan dibenci musuh-musuh-Nya.

Jadi tujuan penciptaan manusia adalah kesempurnaan (Allah), sebagaimana ucapan sang kekasih Allah, Ibrahim as. yang direkam Al-Quran, Berkata (Ibrahim as) : Sesungguhnya aku pergi menuju Tuhanku yang akan membimbingku. (Surat As-shafat ayat 99). Bagaimana manusia sampai kepada Kesempurnaan Ilahi? Untuk sampai kepada tujuan yang Allah inginkan dari seluruh makhluk-Nya, maka dengan luthf-Nya (karunia dari Allah yang dengannya manusia dekat dengan-Nya) Allah memberikan bimbingan kepada segala ciptaan-Nya. Sebagaimana Allah firmankan, Tuhan Kami yang telah menciptakan segala sesuatu, kemudian memberinya petunjuk. (QS. Thaha ayat 50).

Memberi bimbingan kepada semua makhluk-Nya disamping luthf, itu merupakan bagian dari konsekuensi logis (lazim aqli) wujud-Nya yang Sempurna dan Mutlak. Dia sendiri telah menetapkan atas diri-Nya untuk melakukan hal itu (QS. Al-Anam ayat 12 dan ayat 54). Demikian pula manusia yang tujuan (penciptaannya) amat agung telah diberi bimbingan oleh Allah, karena tanpa bimbingan-Nya tidak mungkin ia sampai kepada tujuan yang Allah inginkan darinya.

Lebih dari itu manusia berbeda dengan makhluk lainnya dalam pergerakan dirinya menuju kesempurnaan, ia dihadapkan kepada musuh hebat yang senantiasa akan merintangi dan menghalangi manusia untuk sampai kepada kesempurnaan. Musuh tersebut berupa hawa nafsu, setan dan manusia-manusia yang telah menjadi budak keduanya. Oleh karena itu manusia dibimbing dengan dua macam bimbingan, yaitu bimbingan batiniah dan bimbingan lahiriah.

Hal itu merupakan kelebihan manusia dari makhluk lainnya, sehingga seorang manusia yang dengan konsisten mengikuti kedua macam bimbingan tersebut benar-benar menjadi

khalifah Allah di muka bumi ini, serta disediakan untuknya sorga di akhirat kelak. Bimbingan batiniah berupa akal, sedangkan bimbingan lahiriah berupa para Nabi dan Washi (penerus) mereka. Imam Musa al-Kadzim as. berkata, Sesungguhnya Allah mempunyai dua hujjah atas manusia, hujjah lahiriah dan hujjah batiniah. Hujjah lahiriah adalah para Rasul dan Imam, sedangkan hujjah batiniah adalah akal.

Keduanya sama penting sehingga tidak mungkin seseorang sampai kepada kesempurnaan hanya dengan salah satunya. Bimbingan para Nabi laksana jalan yang mengantarkan seseorang kepada kesempurnaan, sedangkan akal laksana lampu yang menerangi jalannya. Berjalan tanpa ada jalan yang akan dilalui, tidak mungkin sampai ke tujuan. Demikian pula, berjalan tanpa cahaya akan menabrak ke sana ke mari.

Keduanya selalu berjalan seiring dan tidak akan pernah bertolak belakang. Banyak keterangan dari agama tentang akal dan peranannya (hal ini perlu kajian tersendiri). Akal senantiasa menunjukkan dan mengajak kepada kebenaran serta cenderung mendorong (manusia) untuk melakukan kebaikan.

Meskipun demikian tidak cukup seseorang mengandalkan akalnya saja. Dia membutuhkan bimbingan para Nabi agar tidak keliru dalam menjalankan praktek-praktek pendekatan diri kepada Para Nabi dan Rasul kesempurnaan adalah Para Pembimbing Ilahi. Ilahi

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa manusia walaupun dibekali akal, dia tetap membutuhkan (bimbingan) para Nabi. Mereka memang diutus oleh Allah untuk mengantarkan manusia kepada-Nya, Katakanlah, Inilah jalanku. Aku mengajak kepada Allah atas dasar bashirah (matahari atau akal). Aku dan orang yang mengikutiku. (QS. Yusuf 108).

Kehadiran Nabi dan Rasul sangatlah dibutuhkan oleh umat manusia, karena banyak di antara mereka yang tidak dapat menghidupkan dan mengaktifkan akalnya disebabkan

tertutup oleh hawa nafsu dan bujukan setan. Para Nabi diutus untuk menggali kembali khazanah-khazanah akal yang terpendam di kedalaman jiwa manusia.

Imam Ali bin Abi Thalib as. dengan sangat indah menjelaskan filsafat pengutusan para Nabi, Allah mengutus di tengah-tengah mereka rasul-rasul-Nya dan mengirim kepada mereka nabi-nabi-Nya, untuk meminta pertanggung jawaban perjanjian fitrah-Nya, mengingatkan mereka atas nikmat-Nya yang terlupakan, menuntut mereka dengan tabligh, menggali untuk mereka khazanah-khazanah akal dan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan-Nya. (Nahjul Balaghah, khutbah nomor 1).

Selain itu para Nabi dibutuhkan pula oleh mereka yang telah mengaktifkan akal sehingga mengenal Sang Pencipta tanpa bimbingan para Nabi, karena para Nabi selain mengajarkan Tauhid, juga mengajarkan ubudiyyah yang benar. Jadi kehadiran para Nabi sangat dibutuhkan oleh seluruh umat manusia.

Karena itulah Allah tidak mempunyai alasan untuk membinasakan suatu kaum, kecuali setelah diutus kepada mereka seorang Nabi, Dan tidaklah pantas bagi Kami membinasakan (suatu kaum) kecuali (setelah) Kami utus seorang Rasul. (QS. Al-Isra ayat 15). Perjalanan menuju Allah tidak akan pernah berakhir, karena Dia adalah Dzat yang Tidak Terbatas, selain banyak pula duri-duri yang harus dihindari. Maka satu-satunya cara yang paling dijamin untuk sampai dengan selamat, adalah bergabung dengan kafilah orangorang yang suci dan terjamin.

Mereka adalah pilihan-pilihan Allah, yang sebelum mengajak umat manusia untuk mereguk air cinta yang suci, menyaksikan kebesaran-Nya serta merasakan lezat dan nikmatnya munajat dan liqa (perjumpaan) dengan-Nya, mereka telah menggapai semua itu. Tidak perlu heran jika ajakan dan ajaran para Nabi atau orang-orang yang mengikuti mereka dengan konsisten, lebih menyentuh dan merasuk ke dalam kalbu dari pada ajakan dan ajaran orang-orang yang belum sampai kepada kesempurnaan (Allah).

Para Nabi menyerukan kepada sesuatu yang sudah mereka rasakan, sementara kebanyakan orang mengajak kepada sesuatu yang belum mereka rasakan (wa syattana maa bainahuma). Para Nabi siap mengorbankan segalanya demi menyampaikan kebenaran dan menegakkan keadilan, lantaran mereka cinta kepada kebenaran dan keadilan, serta sangat penyayang kepada umat manusia. Hal itu Allah lukiskan dalam ayat berikut, Sungguh, telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian, yang sangat berat (terasa) baginya penderitaan kalian, yang sangat berharap dari kalian (untuk beriman) dan sangat sayang serta belas kasih terhadap orang-orang yang beriman. (QS. Al-Anfal : 128).

Para Nabi adalah khalifah-khalifah (wakil-wakil) Allah dan penghubung antara Allah dengan umat manusia. Karena itu barang siapa mencintai mereka berarti mencintai Allah dan barang siapa menaati mereka berarti menaati Allah. Sangat tidak logis jika seseorang mengaku mencintai Allah tetapi tidak mencintai para Nabi. Karena jika dia benar-benar mencintai Allah, maka konsekuensinya dia akan mencintai para kekasih-Nya.

Adakah di antara umat manusia yang lebih dicintai oleh Allah dari pada para Nabi ? []

Kenabian Ust. Husein Al-Kaff

(2)

Siapakah

Muhammad

Saaw

Untuk menjawab pertanyaan ini perlu diperjelas sudut pandang kita dalam melihat pribadi Nabi Muhammad saaw. Dari sisi mana kita memandang beliau. Karena tanpa itu kita akan terjebak pada pandangan yang dingin terhadap beliau. Pandangan yang tanpa muatan pensucian (taqdis) dan penghormatan (tasyrif). Bahkan terkadang memandangnya hanya sebagai satu sosok manusia yang bernyawa, makan, minum, nikah dan akhirnya mati, titik.

Lalu bagaimana seharusnya kita memandang pribadi Rasulullah saaw ? Memang Rasulullah saaw adalah seorang manusia sebagaimana saudara-saudaranya dari keturunan Adam. Akan tetapi bukankah justru kemanusiaan seorang manusia tidak dilihat dari unsur jasmaninya (fisik) ? Karena melihat manusia dari sisi jasmaninya, tidak lebih dari binatang yang juga bernyawa, makan, minum, nikah dan mati. Dengan demikian kita harus melihat manusia dari sisi ruhani atau spiritualnya. Karena dari sisi inilah, manusia lebih mulia dari binatang. Dalam hal ini derajat manusia berbeda-beda.

Jika manusia dipandang dari sisi jasmaninya saja, kita tidak boleh membedakan seorang manusia dari manusia lain atau satu golongan manusia dari golongan lainnya, sebab manusia secara substansial adalah sama. Perbedaan fisik yang ada, sifatnya hanya eksidental, seperti warna kulit, ras, etnis dan lain-lain. Terkadang mereka menuju kesempurnaan dan terkadang menuju kehancuran. Tidak demikian halnya bila dipandang dari sisi ruhani, manusia mempunyai perbedaan dan tingkatan-tingkatan kemuliaan.

Allah Taala berfirman, Wahai manusia, Kami ciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian, adalah yang beberapa paling taqwa. (QS. (QS. Al-Hujurat Al-Mujadalah : : 13). 11). Allah mengangkat orang-orang beriman dan berilmu pengetahuan di antara kalian derajat.

Ayat pertama ingin menekankan, bahwa perbedaan jenis kelamin, warna kulit dan bangsa merupakan pertanda kebesaran Allah Taala dan jangan dijadikan sebagai penyebab yang satu lebih mulia dari yang lain. Karena kemuliaan hanya dilihat dari ketaqwaan yang merupakan ciri spiritualitas seseorang dan bukan dilihat dari ciriciri fisikal.

Demikian pula ayat kedua menjelaskan, bahwa ketinggian derajat manusia diukur dari iman dan ilmu. Keduanya merupakan bagian dari unsur ruhani. Jadi andaikan saja kita tidak boleh melihat dan membedakan manusia dari unsur jasmani, maka alangkah naifnya jika kita melihat Rasulullah saaw dari sisi jasmani. Kita harus melihat Nabi dari sisi ruhani, sehingga akan jelas siapa sebenarnya beliau. Apakah beliau seperti manusia lainnya ?

Kemudian apakah pantas kita mengatakan, bahwa Muhammad saaw sama dengan kita, hanya karena beliau adalah manusia ?

Apabila kita bermaksud membicarakan pribadi Rasulullah saaw, maka harus kita jauhkan unsur jasmaninya. Sebab jika tidak, berarti kita membicarakan maaf-maaf unsur kebinatangannya. Sehingga dengan menjauhkan unsur jasmaninya, kita dapat mendudukkan beliau pada proporsi yang sesuai dengan ketinggian ruhaninya. Memang kita yakini, bahwa dari sisi jasmaninya pun beliau mempunyai banyak kelebihan dan itu merupakan percikan sekian persennya saja dari kemuliaan ruhaninya Nabi Muhammad yang saaw dalam sangat pandangan Allah agung. Taala

Lantaran keterbatasan dan kerendahan spiritual kita (manusia selain Rasulullah), maka sulit bagi kita untuk mengetahui siapakah sebenarnya Nabi Muhammad saaw itu ?

Benar adanya apa yang dikatakan Imam al-Bushiri dalam salah satu bait syair pujian beliau terhadap Rasulullah, yang termuat dalam kitab al-Burdah. Beliau berujar : Sungguh, keutamaan tiada dengan yang mulut manusia. Yang paling layak dan benar melihat dan menilai Rasulullah saaw, adalah yang menciptakan beliau sendiri, yaitu Allah Taala. dapat Rasulullah dibatasi batas diungkap

Marilah kita lihat bagaimana Allah Subhanahu wa Taala memandang Rasulullah saaw. 1. Dalam banyak ayat Al-Quran diterangkan, bahwa Muhammad adalah seorang Nabi dan utusan Allah. Ini merupakan suatu kemuliaan yang tidak sembarangan orang dapat menggapainya. Kenabian adalah kedudukan spiritual yang sangat tinggi. Hanya manusia-manusia tertentu yang meraihnya. Dengan kedudukan ini, beliau dapat berkomunikasi langsung dengan Allah. Bahkan lebih dari itu, beliau telah mengalami perjalanan spiritual dan fisik yang tidak pernah dialami seorang pun manusia sebelum dan sesudahnya, yaitu Isra dan Miraj. Saya kira dengan pengangkatan Muhammad saaw sebagai Nabi dan Rasul, cukup menjadi bukti bahwa beliau benar-benar mulia dan patut dimuliakan dan diagungkan, serta tidak bisa disetarakan dengan manusia lainnya. Begitu tingginya kedudukan beliau, sampai-sampai Allah menyertakan ketaatan kepada Nabi dengan ketaatan kepadaNya dan mengikuti Nabi adalah syarat kecintaan karena kepada-Nya beliau (Lihat Al-Quran seorang surat Ali-Imran ayat ? 31). Setelah itu apakah kita pantas mengatakan bahwa Nabi sama dengan kita, hanya manusia

2. Dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 21, Allah Taala berfirman : Sungguh bagi kalian pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik, bagi orang yang mengharapkan (ridha) Allah dan hari akhirat, serta banyak berzikir. 3. Dalam Al-Quran surat Al-Qalam ayat 4, Allah Taala berfirman : Sesungguhnya engkau berada pada akhlak yang agung.

4. Dalam surat At-Taubah ayat 128, Allah berfirman : Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari (jenis) kalian. Berat terasa olehnya penderitaan kalian, yang sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian. Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

5. Dalam surat Al-Insyirah ayat 4, Allah berfirman : Dan Kami tinggikan sebutanmu (Muhammad saaw).

Demikian pula masih banyak ayat-ayat lainnya yang mengungkapkan keagungan Rasulullah saaw, yang tidak mungkin dicantumkan semua dalam lembaran yang sangat terbatas ini.

Ungkapan-ungkapan di atas dan yang sejenisnya dalam Al-Quran keluar dari perkataan Sang Pencipta seluruh alam semesta. Sudah jelas semua itu bukan sekedar basa-basi yang acapkali dilakukan oleh manusia ketika memuji yang lain. Karena Allah sama sekali tidak berkepentingan untuk menyanjung, dengan sanjungan yang sifatnya basa-basi atau mencari muka.

Seluruh ungkapan di atas benar-benar menjelaskan fakta yang sesungguhnya, bahwa Nabi Muhammad saaw sebagai suri tauladan untuk umat manusia. Beliau adalah seorang yang berakhlak agung dan luhur, dan beliau adalah seorang yang sangat penyayang dan pengasih (terhadap umatnya). Adakah pujian dan sanjungan yang lebih tulus dan lebih benar, dari pujian dan sanjungan-Nya ? Kalau saja Allah sedemikian tinggi memuji Rasulullah saaw, lantas apakah kita

diam tidak mengikuti sunnatullah, karena alasan khawatir terjerembab ke dalam pengkultusan individu ?

Nabi

Muhammad

saaw

menurut

Hadis

Ketinggian dan kebesaran Nabi Muhammad saaw banyak dikutip dalam berbagai kitab Hadis. Kajian tentangnya, membutuhkan tulisan yang khusus dan luas. Mengenai keagungan dan kebesaran Nabi Muhammad saaw dapat kita lihat dalam kitab-kitab Hadis dan sejarah beliau. Dalam lembaran yang sangat terbatas ini, hanya akan dikutip sebagian kecil saja dari Hadis-Hadis yang menceritakan ketinggian dan kebesaran beliau, antara lain :

1. Abu Abdillah Jafar as Shadiq as. berkata, Suatu malam Rasulullah saaw berada di rumah Ummu Salamah ra., salah seorang isteri beliau. Beliau mendatangi isterinya tersebut di tempat tidurnya. Kemudian beliau melakukan hubungan dengannya sebagaimana layaknya beliau lakukan pada isteri-isteri lainnya. Setelah itu, Ummu Salamah mencari-cari beliau di sekitar rumahnya, sampai ia menjumpai beliau di sudut kamarnya dalam keadaan berdiri dan mengangkat kedua kepadaku dengan selamatkan sekejap seorang daku pun yang darinya untuk tangannya sambil menangis selama-lamanya. dengki selamanya. selama-lamanya. selama-lamanya. dan berucap, Ya Allah, janganlah Engkau renggut kebaikan yang telah Engkau anugerahkan Ya Allah, janganlah Engkau hibur daku dengan seorang musuh dan janganlah pula Janganlah Engkau kembalikan daku kepada kejelekan, yang telah Engkau Ya Allah, janganlah Engkau jadikan daku berserah diri kepada diriku sendiri, walau

Kemudian Ummu Salamah berpaling sambil menangis, hingga Rasulullah pun berpaling, lantaran mendengar tangisan isterinya tersebut. Lalu beliau bertanya kepadanya, Gerangan apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Ummu Salamah ?

Seraya ia menjawab, Demi ayah dan ibuku, bagaimana aku tidak menangis, sementara Tuan dengan kedudukan yang telah Allah berikan kepada tuan sekarang, yang mana Allah telah menjamin Tuan dengan ampunan atas dosa-dosa Tuan yang telah lalu dan yang akan datang masih memohon kepada-Nya, agar Dia tidak mengembalikan Tuan ke dalam kejelekan yang Tuan telah diselamatkan-Nya darinya untuk selama-lamanya, agar Dia tidak mengambil kembali kebaikan yang telah dianugerahkan kepada Tuan selama-lamanya, dan agar tidak menjadikan Tuan berpasrah diri kepada diri Tuan sendiri walau sekejap pun, untuk selamalamanya ? Rasulullah saaw balik bertanya, Wahai Ummu Salamah, apa yang dapat menjadikan aku aman (dari azab Tuhan) ? Sungguh, Yunus bin Mata telah berserah diri kepada dirinya sendiri untuk sekejap mata, maka terjadilah apa yang pantas terjadi pada dirinya ?

2. Al-Husein bin Ali, ketika menjelaskan tentang kekhusyuan Rasulullah saaw dalam shalatnya, beliau berkata, Rasulullah saaw menangis hingga air matanya membasahi tempat shalatnya. Tidak syak lagi hal itu disebabkan rasa takut beliau kepada Allah swt.

Nabi Muhammad Saaw menurut pandangan Imam Ali bin Abi Thalib as. Sengaja kami kutip komentar Imam Ali as. mengenai Rasulullah saaw, karena Ali adalah seorang sahabat yang paling dekat dengan beliau dan paling kenal kepada beliau. Imam Ali bin Abi Thalib as. ketika menerangkan pribadi Rasulullah saaw berkata : Ikutilah Nabimu yang paling baik dan paling suci, karena pada dirinya terdapat suri tauladan bagi yang meneladaninya dan tempat berduka yang paling duka. Hamba yang paling Allah cintai adalah orang yang meneladani Nabi-Nya dan mengikuti jejaknya.

Dia telah melepaskan dunia dan tidak memperdulikannya. Dia adalah penghuni dunia yang paling kurus dan paling sering lapar. Telah ditawarkan padanya dunia,

namun dia enggan menerimanya. Dia mengetahui bahwa Allah tidak menyukai sesuatu, maka diapun tidak menyukainya. Allah meremehkan sesuatu, maka diapun meremehkannya dan jika Allah menganggap kecil sesuatu, maka diapun menganggapnya kecil.

Sekiranya yang kita cintai adalah sesuatu yang Allah dan Rasul-Nya murkai, dan yang kita besarkan adalah sesuatu yang oleh Allah dan Rasul-Nya kecilkan, maka itu cukup menjadi bukti penolakan dan penentangan kita terhadap perintah Allah. Rasulullah saaw adalah orang yang makan di atas tanah, yang duduk laksana duduknya seorang budak, yang menambal sandalnya dengan tangannya sendiri, yang menjahit bajunya dengan tangannya sendiri, yang mengendarai keledai yang tak berpelana dan yang membawa tumpangan di belakangnya.

Pernah suatu hari di atas pintu rumahnya dipasang tabir yang bergambar. Lalu beliau berkata kepada salah seorang isterinya, Wahai Fulanah, hilangkan tabir itu dariku, karena aku jika melihatnya, maka aku akan ingat dunia dan segala keindahannya. Dia berpaling dari dunia dengan hatinya, mematikan ingatan kepada dunia dari dalam jiwanya dan menyukai hilangnya hiasan dunia dari pandangannya, agar dia tidak menjadikan perhiasan darinya, menganggapnya kekal dan mengharapkan kesempatan darinya. Maka dia keluarkan (cinta) akan dunia dari jiwanya, dia enyahkan hal itu dari hatinya, serta dia hilangkan semua itu dari perhatiannya. Kesimpulan Setelah kita melihat bagaimana tinggi dan agungnya pribadi Rasulullah saaw dari sisi ruhaninya, lantas apakah hati kita tidak tergerak untuk menyatakan kekaguman dan keterpesonaan terhadap beliau, dengan memuji dan menyanjungnya ? Sungguh telah banyak orang yang terpesona dengan keindahan akhlak beliau dan berdecak kagum dengan kepribadian beliau sepanjang sejarah umat manusia. Kekaguman itu mereka ungkapkan dalam puisi-puisi, pembacaan-pembacaan

maulud

dan

manaqib

Rasulullah

saaw.

Merekalah yang benar-benar memahami arti sebuah kebesaran dan keindahan. Entahlah kita, apakah termasuk dari mereka atau termasuk dari orang yang enggan karena malu, atau karena hati yang keras, sehingga tidak mengenal arti keindahan dan kebesaran pribadi beliau, serta menganggap bahwa memuji dan menyanjung beliau sebagai pengkultusan individu ? []

LOGIKA
Mantiq (Logika) Definisi dan Urgensi Mantiq Mantiq adalah alat atau dasar yang penggunaannya akan menjaga kesalahan dalam berpikir. Lebih jelasnya, Mantiq adalah sebuah ilmu yang membahas tentang alat dan formula berpikir, sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari cara berpikir salah. Manusia sebagai makhluk yang berpikir tidak akan lepas dari berpikir. Namun, saat berpikir, manusia seringkali dipengaruhi oleh berbagai tendensi, emosi, subyektifitas dan lainnya sehingga ia tidak dapat berpikir jernih, logis dan obyektif. Mantiq merupakan upaya agar seseorang dapat berpikir dengan cara yang yang dimaksud benar, dengan tidak keliru. "berpikir". Sebelum kita pelajari masalah-masalah mantiq, ada baiknya kita mengetahui apa Berpikir adalah proses pengungkapan sesuatu yang misteri (majhul atau belum diketahui) dengan mengolah pengetahuan-pengetahuan yang telah ada dalam benak kita (dzihn) sehingga yang majhul itu menjadi ma'lm (diketahui).

Faktor-Faktor Kesalahan Berpikir 1. Hal-hal yang dijadikan dasar (premis) tidak benar.

2. Susunan atau form yang menyusun premis tidak sesuai dengan kaidah mantiq yang benar. Argumentasi (proses berpikir) dalam alam pikiran manusia bagaikan sebuah bangunan. Suatu bangunan akan terbentuk sempurna jika tersusun dari bahanbahan dan konstruksi bangunan yang sesuai dengan teori-teori yang benar. Apabila salah satu dari dua unsur itu tidak terpenuhi, maka bangunan tersebut tidak akan terbentuk dengan baik dan sempurna. Sebagai misal, "[1] Socrates adalah manusia; dan [2] setiap manusia bertindak zalim; maka [3] Socrates bertindak zalim". Argumentasi semacam ini benar dari segi susunan dan formnya. Tetapi, salah satu premisnya salah yaitu premis yang berbunyi "Setiap manusia bertindak zalim", maka konklusinya tidak tepat. Atau misal, "[1] Socrates adalah manusia; dan [2] Socrates adalah seorang ilmuwan", maka "[3] manusia adalah ilmuwan". Dua premis ini benar tetapi susunan atau formnya tidak benar, maka konklusinya tidak benar. (Dalam pembahasan qiyas nanti Ilmu akan dijelaskan susunan argumentasi yang benar, pen). Idrak

dan

Dua kata di atas, Ilmu dan Idrak, mempunyai makna yang sama (sinonim). Dalam ilmu mantiq, kedua kata ini menjadi bahasan yang paling penting karena membahas aspek terpenting dalam pikiran manusia, yakni ilmu. Oleh karena itu, makna ilmu sendiri perlu diperjelas. Para ahli mantiq (mantiqiyyin) mendefinisikan ilmu sebagai berikut: Ilmu adalah gambaran tentang sesuatu yang ada dalam benak (akal). Benak atau pikiran kita tidak lepas dari dua kondisi yang kontradiktif, yaitu ilmu dan jahil (ketidak tahuan). Pada saat keluar rumah, kita menyaksikan sebuah bangunan yang megah dan indah, dan pada saat yang sama pula tertanam dalam benak gambaran bangunan itu. Kondisi ini disebut "ilmu". Sebaliknya, sebelum menyaksikan bangunan tersebut, dalam benak kita tidak ada gambaran itu. Kondisi ini disebut "jahil". Pada kondisi ilmu, benak atau akal kita terkadang hanya [1] menghimpun gambaran dari sesuatu saja (bangunan, dalam misal). Terkadang kita tidak hanya menghimpun tetapi juga [2] memberikan penilaian atau hukum (judgement).

(Misalnya, bangunan itu indah dan megah). Kondisi ilmu yang pertama disebut tashawwur dan yang kedua disebut tashdiq. Jadi tashawwur hanya gambaran akan sesuatu dalam benak. Sedangkan tashdiq adalah penilaian atau penetapan dengan dua ketetapan: "ya" atau "tidak/bukan". Misalnya, "air itu dingin", atau "air itu tidak dingin"; "manusia itu berakal", atau "manusia Kesimpulan, Dharuri itu ilmu bukan dibagi binatang" menjadi dan dua; dan lain dan sebagainya. tashdiqi. Nadzari tashawwuri

Ilmu tashawwuri dan ilmu tashdiqi mempunyai dua macam: dharuri dan nadzari. Dharuri adalah ilmu yang tidak membutuhkan pemikiran lagi (aksiomatis). Nadzari adalah ilmu yang membutuhkan pemikiran. Lebih jelasnya, dharuri (sering juga disebut badihi) adalah ilmu dan pengetahuan yang dengan sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu yang lain. Jadi Ilmu tashawwuri dharuri adalah gambaran dalam benak yang dipahami tanpa sebuah proses pemikiran. Contoh: 2 x 2 = 4; 15 x 15 = 225 atau berkumpulnya dua hal yang kontradiktif adalah mustahil (tidak mungkin terjadi) adalah hal yang dharuri. Sedangkan nadzari dapat diketahui melalui sebuah proses pemikiran atau melalui pengetahuan yang sudah diketahui sebelumnya. (Lihat kembali definisi berpikir). Jadi ilmu tashawwuri nadzari adalah gambaran yang ada dalam benak yang dipahami melalui proses pemikiran. Contoh: bumi Kulli itu bulat adalah dan hal yang nadzari. Juz'i

Pembahasan tentang kulli (general) dan juz'i (parsial) secara esensial sangat erat kaitannya dengan tashawwur dan juga secara aksidental berkaitan dengan tashdiq. Kulli adalah tashawwur (gambaran benak) yang dapat diterapkan (berlaku) orang; pada Budi, beberapa Novel, Yani benda dan di luar. lainnya. Misalnya: gambaran tentang manusia dapat diterapkan (berlaku) pada banyak

Juz'i adalah tashawwur yang dapat diterapkan (berlaku) hanya pada

satu

benda

saja.

Misalnya: gambaran tentang Budi hanya untuk seorang yang bernama Budi saja. Manusia dalam berkomunikasi tentang kehidupan sehari-hari menggunakan tashawwur-thasawwur yang juz'i. Misalnya: Saya kemarin ke Jakarta; Adik saya sudah mulai masuk sekolah; Bapak saya sudah pensiun dan sebagainya. Namun, yang dipakai oleh manusia dalam kajian-kajian keilmuan adalah tashawwurthasawwur kulli, yang sifatnya universal. Seperti: 2 x 2 = 4; Orang yang beriman adalah orang bertanggung jawab atas segala perbuatannya; Setiap akibat pasti mempunyai universal), Nisab dan sebab jarang dan lain dengan sebagainya. juz'i. Arba'ah Dalam ilmu mantiq kita akan sering menggunakan kulli (gambaran-gambaran yang bersangkutan

Dalam benak kita terdapat banyak tashawwur yang bersifat kulli dan setiap yang kulli mempunyai realita (afrad) lebih dari satu. (Lihat definisi kulli ). Kemudian antara tashawwur kulli yang satu dengan yang lain mempunyai hubungan (relasi). Ahli mantiq menyebut bentuk hubungan itu sebagai "Nisab Arba'ah". Mereka menyebutkan bahwa ada empat kategori relasi: [1] Tabyun (diferensi), [2] Taswi (ekuivalensi), [3] Umum wa khusus Mutlaq (implikasi) dan [4] Umum wa Khusus Minwajhin (asosiasi). 1. Tabyunadalah dua tashawwur kulli yang masing-masing dari keduanya tidak bisa diterapkan pada seluruh afrad tashawwur kulli yang lain. Dengan kata lain, afrad kulli yang satu tidak mungkin sama dan bersatu dengan afrad kulli yang lain. Misal: tashawwur manusia dan tashawwur batu. Kedua tashawwur ini sangatlah berbeda dan afradnya tidak mungkin sama. Setiap manusia pasti bukan batu dan setiap batu pasti bukan manusia. 2. Taswi adalah dua tashawwur kulli yang keduanya bisa diterapkan pada seluruh afrad kulli yang lain. Misal: tashawwur manusia dan tashawwurt berpikir. Artinya setiap manusia dapat berpikir dan setiap yang berpikir adalah manusia. 3. Umum wa khusus mutlak adalah dua tashawwur kulli yang satu dapat diterapkan pada seluruh afrad kulli yang lain dan tidak sebaliknya. Misal:

tashawwur hewan dan tashawwur manusia. Setiap manusia adalah hewan dan tidak setiap hewan adalah manusia. Afrad tashawwur hewan lebih umum dan lebih luas sehingga mencakup semua afrad tashawwur manusia. 4. Umum wa khusus min wajhin adalah dua tashawwur kulli yang masing-masing dari keduanya dapat diterapkan pada sebagian afrad kulli yang lain dan sebagian lagi tidak bisa diterapkan. Misal: tashawwur manusia dan tashawwur putih. Kedua tashawwur kulli ini bersatu pada seorang manusia yang putih, tetapi terkadang keduanya berpisah seperti pada orang yang hitam dan pada kapur tulis yang putih. Hudud dan Ta'rifat Kita sepakat bahwa masih banyak hal yang belum kita ketahui (majhul). Dan sesuai dengan fitrah, kita selalu ingin dan mencari tahu tentang hal-hal yang masih majhul. Pertemuan lalu telah dibahas bahwa manusia memiliki ilmu dan pengetahuan (ma'lm), baik tashawwuri ataupun tashdiqi. Majhul (jahil) sebagai anonim dari ma'lm (ilmu), juga terbagi menjadi dua majhul tashawwuri dan majhul tashdiqi. Untuk mengetahui hal-hal majhul tashawwuri, kita membutuhkan ma'lm tashaswwuri. (Lihat definisi berpikir. Pencarian majhul tashawwur dinamakan "had" pertanyaan atau "ta'rif". "Apa?". Had/ta'rif adalah sebuah jawaban dan keterangan yang didahului Saat menghadapi sesuatu yang belum kita ketahui (majhul), kita akan segara bertanya "apa itu?". Artinya, kita bertanya tentang esensi dan hakikat sesuatu itu. Jawaban dan keterangan yang diberikan adalah had (definisi) dari sesuatu itu. Oleh karena itu, dalam disiplin ilmu, mendefinisikan suatu materi yang akan dibahas penting sekali sebelum membahas lebih lanjut masalah-masalah yang berkaitan dengannya. Perdebatan tentang sesuatu materi akan menjadi sia-sia kalau definisinya belum jelas dan disepakati. Ilmu mantiq bertugas menunjukkan cara membuat had atau definisi yang benar. (Ta'rif)

Macam-Macam

Definisi

Setiap definisi bergantung pada kulli yang digunakan. Ada lima kulli yang

digunakan untuk mendefinisikan majhul tashawwuri (biasa disebut "kulliyat khamsah"). Lima kulli itu adalah: [1] Nau' (spesies), [2] jins (genius), [3] fashl (diferentia), [4] 'aradh 'aam (common accidens) dan [5] 'aradh khas (proper accidens). Pembahasan tentang kulliyat khamsah ini secara detail termasuk pembahasan filsafat, bukan pembahasan mantiq. 1. Had Tm, adalah definisi yang menggunakan jins dan fashl untuk menjelaskan bagian-bagian dari esensi yang majhul. Misal: Apakah manusia itu? Jawabannya adalah "Hewan yang berpikir (natiq)". "Hewan" adalah jins manusia, dan "berpikir" adalah fashl manusia. Keduanya merupakan bagian dari esensi manusia. 2. Had Nqish, adalah definisi yang menggunakan jins saja. Misal: "Manusia adalah hewan". Hewan adalah salah satu dari esensi manusia. 3. Rasam Tm, adalah definisi yang mengunakan 'ardh khas. Misal: "Manusia adalah wujud yang berjalan, tegak lurus dan dapat tertawa". "Maujud yang berjalan", "tegak lurus" dan "tertawa" bukan bagian dari esensi manusia, tetapi hanya bagian yang eksiden. 4. Rasam Nqish, adalah definisi yang menggunakan 'ardh 'm, misalnya, "Manusia adalah wujud yang berjalan". Qadhiyyah (Proposisi)

Sebagaimana yang telah kita ketahui, tashdiqi adalah penilaian dan penghukuman atas sesuatu dengan sesuatu yang lain (seperti: gunung itu indah; manusia itu bukan kera dan lain sebagainya). Atas dasar itu, tashdiq berkaitan dengan dua hal: maudhu' dan mahmul ("gunung" sebagai maudhu' dan "indah" sebagai mahmul). Gabungan dari dua sesuatu itu disebut qadhiyyah (proposisi). Qadhiyyah.

Macam-macam

Setiap qadhiyyah terdiri dari tiga unsur: 1) mawdhu', 2) mahmul dan 3) rabithah (hubungan antara mawdhu' dan mahmul). Berdasarkan masing-masing unsur itu, qadhiyyah kategoris) dibagi dan menjadi syarthiyyah beberapa (proposisi bagian. hipotesis). Berdasarkan rabithah-nya, qadhiyyah dibagi menjadi dua: hamliyyah (proposisi Qadhiyyah hamliyyah adalah qadhiyyah yang terdiri dari mawdhu',

mahmul

dan

rabithah.

Lebih jelasnya, ketika kita membayangkan sesuatu, lalu kita menilai atau menetapkan atasnya sesuatu yang lain, maka sesuatu yang pertama disebut mawdhu' dan sesuatu yang kedua dinamakan mahmul dan yang menyatukan antara keduanya adalah rabithah. Misalnya: "gunung itu indah". "Gunung" adalah mawdhu', "indah" adalah mahmul dan "itu" adalah rabithah (Qadhiyyah hamliyyah, proposisi kategorik) Terkadang kita menafikan mahmul dari mawdhu'. Misalnya, "gunung itu tidak indah". Yang pertama disebut qadhiyyah hamliyyah mujabah (afirmatif) dan yang kedua disebut qadhiyyah hamliyyah salibah (negatif). Qadhiyyah syarthiyyah terbentuk dari dua qadhiyyah hamliyah yang dihubungkan dengan huruf syarat seperti, "jika" dan "setiap kali". Contoh: jika Tuhan itu banyak, maka bumi akan hancur. "Tuhan itu banyak" adalah qadhiyyah hamliyah; demikian pula "bumi akan hancur" sebuah qadhiyyah hamliyah. Kemudian keduanya dihubungkan dengan kata "jika". Qadhiyyah yang pertama (dalam contoh, Tuhan itu banyak) disebut muqaddam dan qadhiyyah yang kedua (dalam contoh, bumi akan dua: hancur) disebut tali. Qadhiyyah syarthiyyah dibagi menjadi muttasilah dan munfasilah.

Qadhiyyah syarthiyyah yang menggabungkan antara dua qadhiyyah seperti contoh di atas disebut muttasilah, yang maksudnya bahwa adanya "keseiringan" dan "kebersamaan" antara dua qadhiyyah. Tetapi qadhiyyah syarthiyyah yang menunjukkan adanya perbedaan dan keterpisahan antara dua qadhiyyah disebut munfasilah, seperti, Bila angka itu genap, maka ia bukan ganjil. Antara angka genap dan angka ganjil tidak mungkin kumpul. Qadhiyyah Mahshurah dan Muhmalah Pembagian qadhiyyah berdasarkan mawdhu'-nya dibagi menjadi dua: mahshurah dan muhmalah. Mahshurah adalah qadhiyyah yang afrad (realita) mawdhu'-nya ditentukan jumlahnya (kuantitasnya) dengan menggunakan kata "semua" dan "setiap" atau "sebagian" dan "tidak semua". Contohnya, semua manusia akan mati atau sebagian manusia pintar. Sedangkan dalam muhmalah jumlah afrad mawdhu'nya tidak ditentukan. Contohnya, manusia akan mati, atau manusia itu pintar. Dalam ilmu mantiq, filsafat, eksakta dan ilmu pengetahuan lainnya, qadhiyyah

yang

dipakai

adalah

qadhiyyah

mahshurah.

Qadhiyyah mahshurah terkadang kulliyah (proposisi determinatif general) dan terkadang juz'iyyah (proposisi determinatif partikular) dan qadhiyyah sendiri ada yang mujabah (afirmatif) dan ada yang salibah (negatif) . Maka qadhiyyah mahshurah mempunyai empat macam: 1. Mujabah kulliyyah: Setiap manusia adalah hewan 2. Salibah kulliyyah: Tidak satupun manusia yang berupa batu. 3. Mujabah juz'iyyah: Sebagian manusia pintar 4. Salibah juz'iyyah: Sebagian manusia bukan laki-laki. Sebenarnya masih banyak lagi pembagian qadhiyyah baik berdasarkan mahmulnya (qadhiyyah muhassalah dan mu'addlah), atau jihat qadhiyyah (dharuriyyah, daimah dan mumkinah) dan qadhiyyah syarthiyyah muttasilah (haqiqiyyah, maani'atul jama' dan maani'atul khulw). Namun qadhiyyah yang paling banyak dibahas dalam ilmu filsafat, mantiq dan lainnya adalah qadhiyyah mahshurah. Hukum-Hukum Qadhiyyah Setelah kita ketahui definisi dan pembagian qadhiyyah, maka pembahasan berikutnya adalah hubungan antara masing-masing dari empat qadhiyyah mahshurah. Pada pembahasan terdahulu telah kita ketahui bahwa terdapat empat macam hubungan antara empat tashawwuri kulli: [1] tabyun, [2] taswi, [3] umum wa khusus mutlak dan [4] umum wa khusus min wajhin. Demikian pula terdapat empat macam hubungan antara masing-masing empat qadhiyyah mahshurah: [1] tanaqudh, [2] tadhadd, [3] dukhul tahta tadhadd dan [4] tadakhul. 1. Tanaqudh (mutanaqidhain [kontradiktif]) adalah dua qadhiyyah yang mawdhu' dan mahmul-nya sama, tetapi kuantitas (kam) dan kualitasnya (kaif) berbeda, yakni yang satu kulliyah mujabah dan yang lainnya juz'iyyah salibah. Misalnya, "Semua manusia hewan" (kulliyyah mujabah) dengan "Sebagian manusia bukan hewan" (juz'iyyah salibah). 2. Tadhad (kontrariatif) adalah dua qadhiyah yang sama kuantitasnya (keduanya kulliyyah), tetapi yang satu mujabah dan yang lain salibah. Misalnya, "Semua manusia dapat berpikir" (kulliyyah mujabah) dengan "Tidak satupun dari manusia dapat berpikir" (kulliyyah salibah).

3. Dukhul tahta tadhad (dakhilatain tahta tadhad [interferensif subkontrariatif]) adalah dua qadhiyyah yang sama kuantitasnya (keduanya juz'iyyah), tetapi yang satu mujabah dan lain salibah. Misalnya: "Sebagian manusia pintar" (juz'iyyah mujabah) dengan "Sebagian manusia tidak pintar" (juz'iyyah salibah). 4. Tadakhul (mutadakhilatain [interferensif]) adalah dua qadhiyyah yang sama kualitasnya tetapi kuantitasnya berbeda. Misalnya: "Semua manusia akan mati" (kulliyyah mujabah) dengan "Sebagian manusia akan mati" (juz'iyyah mujabah) atau "Tidak satupun dari manusia akan kekal" (kulliyyah salibah) dengan "Sebagian manusia tidak kekal" (juz'iyyah salibah). Dua qadhiyyah ini disebut pula Hukum dua qadhiyyah mutanaqidhain (kontradiktif) jika salah satu dari dua qadhiyyah itu benar, maka yang lainnya pasti salah. Demikian pula jika yang satu salah, maka yang lainnya benar. Artinya tidak mungkin (mustahil) keduanya benar atau keduanya salah. Dua qadhiyyah biasa dikenal dengan ijtima' al naqidhain mustahil (kombinasi kontradiktif). Hukum dua qadhiyyah mutadhaddain (kontrariatif), jika salah satu dari dua qadhiyyah itu benar, maka yang lain pasti salah. Tetapi, jika salah satu salah, maka yang lain belum tentu benar. Artinya keduanya tidak mungkin benar, tetapi keduanya mungkin salah. Hukum dua qadhiyyah dakhlatain tahta tadhad (interferensif sub-kontrariatif), jika salah satu dari dua qadhiyyah itu salah, maka yang lain pasti benar. Tetapi, jika yang satu benar, maka yang lain belum tentu salah. Dengan kata lain, kedua qadhiyyah itu tidak mungkin salah, tetapi mungkin saja keduanya benar. Hukum dua qadhiyyah mutadakhilatain (interferentif), berbeda dengan masalah tashawwuri. (Lihat pembahasan tentang nisab arba'ah, pen); bahwa tashawwur kulli (misalnya, manusia) lebih umum dari tashawwur juz'i (misalnya, Ali). Di sini, qadhiyyah kulliyyah lebih khusus dari qadhiyyah juz'iyyah. Artinya, jika qadhiyyah kulliyyah benar, maka qadhiyyah juz'iyyah pasti benar. Tetapi, jika qadhiyyah juz'iyyah benar, maka qadhiyyah kulliyyah belum tentu benar. Misalnya, jika "setiap A adalah B" (qadhiyyah kulliyyah), maka pasti "sebagian A pasti B". Tetapi jika "sebagian A adalah B", maka belum pasti "setiap A adalah B".

Tanaqudh Salah satu hukum qadhiyyah yang menjadi dasar semua pembahasan mantiq dan filsafat adalah hukum tanaqudh (hukum kontradiksi). Para ahli mantiq dan filsafat menyebutkan bahwa selain mawdhu' dan mahmul dua qadhiyyah mutanaqidhain itu harus sama, juga ada beberapa kesamaan dalam kedua qadhiyyah tersebut. Kesamaan itu terletak pada: 1. Kesamaan tempat (makan) 2. Kesamaan waktu (zaman) 3. Kesamaan kondisi (syart) 4. Kesamaan korelasi (idhafah) 5. Kesamaan pada sebagian atau keseluruhan (juz dan kull ) 6. Kesamaan dalam potensi dan aktual (bil quwwah dan bil fi'li). Qiyas (silogisme) Pembahasan tentang qadhiyyah sebenarnya pendahuluan dari masalah qiyas, sebagaimana pembahasan tentang tashawwur sebagai pendahuluan dari hudud atau ta'rifat. Dan sebenarnya inti pembahasan mantiq adalah hudud dan qiyas. Qiyas adalah kumpulan dari beberapa qadhiyyah yang berkaitan yang jika benar, maka dengan sendirinya (li dzatihi) akan menghasilkan qadhiyyah yang lain (baru). Sebelum kita lebih lnjut membahas tentang qiyas, ada baiknya kita secara sekilas beberapa macam hujjah (argumentasi ). Manusia disaat ingin mengetahui hal-hal yang majhul, maka terdapat tiga cara untuk mengetahuinya: 1. Pengetahuan dari juz'i ke juz'i yang lain. Argumenatsi ini sifatnya horisontal, dari sebuah titik yang parsial ke titik parsial lainnya. Argumentasi ini disebut tamtsil (analogi). 2. Pengetahuan dari juz'i ke kulli. Atau dengan kata lain, dari khusus ke umum (menggeneralisasi yang parsial) Argumentasi ini bersifat vertikal, dan disebut istiqra' (induksi).

3. Pengetahuan dari kulli ke juz'i. Atau dengan kata lain, dari umum ke khusus. Argumentasi ini disebut qiyas (silogisme). Macam-macam Qiyas

Qiyas dibagi menjadi dua; iqtirani (silogisme kategoris) dan istitsna'i (silogisme hipotesis). Sesuai dengan definisi qiyas di atas, satu qadhiyyah atau beberapa qadhiyyah yang tidak dikaitkan antara satu dengan yang lain tidak akan menghasilkan qadhiyyah baru. Jadi untuk memberikan hasil (konklusi) diperlukan beberapa qadhiyyah yang saling berkaitan. Dan itulah yang namanya qiyas. 1. Qiyas Iqtirani Qiyas iqtirani adalah qiyas yang mawdhu' dan mahmul natijahnya berada secara terpisah pada dua muqaddimah. Contoh: "Kunci itu besi" dan "setiap besi akan memuai jika dipanaskan", maka "kunci itu akan memuai jika dipanaskan". Qiyas ini terdiri dari tiga qadhiyyah; [1] Kunci itu besi, [2] setiap besi akan memuai jika dipanaskan dan [3] kunci itu akan memuai jika dipanaskan. Qadhiyyah pertama disebut muqaddimah shugra (premis minor), qadhiyyah kedua disebut muqaddimah kubra (premis mayor) dan yang ketiga adalah natijah (konklusi). Natijah merupakan gabungan dari mawdhu' dan mahmul yang sudah tercantum pada dua muqaddimah, yakni, "kunci" (mawdhu') dan "akan memuai jika dipanaskan" (mahmul). Sedangkan "besi" sebagai had awshat. Yang paling berperan dalam qiyas adalah penghubung antara mawdhu' muqadimah shugra dengan mahmul muqaddimah kubra. Penghubung itu disebut had awsath. Had awsath harus berada pada kedua muqaddimah (shugra dan kubra) Empat muqaddimah shugra tetapi tidak tecantum Bentuk dan kubra dalam natijah. Qiyas mempunyai empat (Lihat contoh, pen).

Iqtirani bentuk :

Qiyas iqtirani kalau dilihat dari letak kedudukan had awsath-nya pada 1. Syakl Awwal adalah Qiyas yang had awsth-nya menjadi mahmul pada muqaddimah shugra dan menjadi mawdhu' pada muqaddimah kubra. Misalnya, "Setiap Nabi itu makshum", dan "setiap orang makshum adalah teladan yang baik", maka "setiap nabi adalah teladan yang baik". "Makshum" adalah had awsath, yang

menjadi mahmul pada muqaddimah shugra dan menjadi mawdhu' pada muqaddimah Syarat-syarat memenuhi dua syarat berikut ini: a. Muqaddimah shugra harus mujabah. b. Muqaddimah kubra harus kulliyah. 2. Syakl Kedua adalah Qiyas yang had awshat-nya menjadi mahmul pada kedua muqaddimah-nya. Misalnya, "Setiap nabi makshum", dan "tidak satupun pendosa itu makshum", maka "tidak satupun dari nabi itu pendosa". Syarat-syarat syakl kedua. a. Kedua muqaddimah harus berbeda dalam kualitasnya (kaif, yakni mujabah dan salibah). b. Muqaddimah kubra harus kulliyyah. 3. Syakl Ketiga adalah Qiyas yang had awshat-nya menjadi mawdhu' pada kedua muqaddimahnya. Misalnya, "Setiap nabi makshum", dan "sebagian nabi adalah imam", maka "sebagian orang makshum adalah imam". Syarat-syarat Syakl ketiga. a. Muqaddimah sughra harus mujabah. b. Salah satu dari kedua muqaddimah harus kulliyyah. 4. Syakal Keempat adalah Qiyas yang had awsath-nya menjadi mawdhu' pada muqaddimah shugra dan menjadi mahmul pada muqaddimah kubra (kebalikan dari Syarat-syarat Syakl keempat. a. Kedua muqaddimahnya harus mujabah. b. Muqaddimah shugra harus kulliyyah. Atau c. Kedua muqaddimahnya harus berbeda kualitasnya (kaif) d. Salah satu dari keduanya harus kulliyyah. syakl awwal.) syakl kubra. awwal.

Syakl awwal akan menghasilkan natijah yang badihi (jelas dan pasti) jika

Catatan: Menurut para mantiqiyyin, bentuk qiyas iqtirani yang badihi (jelas sekali) adalah yang pertama sedangkan yang kedua dan ketiga membutuhkan pemikiran. Adapun yang keempat sangat sulit diterima oleh pikiran. Oleh karena itu Aristoteles sebagai penyusun mantiq yang pertama tidak mencantumkan bentuk yang keempat. 2. Qiyas Istitsna'i

Berbeda dengan qiyas iqtirani, qiyas ini terbentuk dari qadhiyyah syarthiyyah dan qadhiyyah hamliyyah. Misalnya, "Jika Muhammad itu utusan Allah, maka dia mempunyai mukjizat. Oleh karena dia mempunyai mukjizat, berarti dia utusan Allah". Penjelasannya: "Jika Muhammad itu utusan Allah, maka dia mempunyai mukjizat" adalah qadhiyyah syarthiyyah yang terdiri dari muqaddam dan tali (lihat definisi qadhiyyah syarthiyyah), dan "Dia mempunyai mukjizat" adalah qadhiyyah hamliyyah. Sedangkan "maka dia mempunyai mukjizat" adalah natijah. Dinamakan istitsna'i karena terdapat kata " tetapi", atau "oleh karena". Macam-Macam Qiyas istitsna'i (silogisme) Ada empat macam qiyas istitsna'i: Muqaddam positif dan tali positif. Misalnya, "Jika Muhammad utusan Allah, maka dia mempunyai mukjizat. Tetapi Muhammad mempunyai mukjizat berarti Dia utusan Allah". Muqaddam negatif dan tali positif. Misalnya, "Jika Tuhan itu tidak satu, maka bumi ini akan hancur. Tetapi bumi tidak hancur, berarti Tuhan satu (tidak tidak satu)". Tali negatif dan muqaddam negatif. Misalnya, "Jika Muhammad bukan nabi, maka dia tidak mempunyai mukjizat. Tetapi dia mempunyai mukjizat, berarti dia Nabi (bukan bukan nabi)". Tali negatif dan muqaddam positif. Misalnya, "Jika Fir'aun itu Tuhan, maka dia tidak akan binasa. Tetapi dia binasa, berarti dia bukan Tuhan".

(Makalah Ust. Husein Al-Kaff dalam Kuliah Logika "Pengantar Menuju Filsafat Islam" di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad pada tanggal 25 Oktober - 1 November 1999 M)

Pemimpin Ust. Husein Al-Kaff

Yang

Dijanjikan

Pak Sukiman yang telah bertahun-tahun tinggal bersama istri dan anaknya pada sebuah rumah yang sempit dan berhimpitan dengan rumah para tetangganya. Kini ia terdiam menatap masa depannya yang belum pasti. Seonggok perabotan rumah dan barang-barang milik pribadinya bertumpuk di luar, diterpa sinar matahari dan ditimpa curahan air hujan. Apa yang terjadi pada keluarga pak Sukiman ? Dia baru saja dipaksa keluar oleh oknum petugas yang tidak bertanggung jawab, dengan alasan rumahnya harus dijual dan kena gusuran pembangunan sebuah gedung yang kekar dan mencakar langit, yang akan dibangun di atas tanahnya tersebut. Sebelumnya terjadi perang mulut antara dia dengan para petugas tersebut. Pak Sukirman pada dasarnya menerima keharusan rumahnya digusur demi kepentingan umum. Akan tetapi, ia meminta ganti rugi yang layak. Namun ternyata rumahnya dihancurkan dengan tanpa mendapatkan ganti rugi seperti yang ia inginkan. Malang benar nasibmu wahai pak Sukiman ! Meski pak Sukiman menelan rasa pahit kehidupan sebagai orang kecil yang tidak berdaya, namun dia sedikit merasa terhibur. Lantaran dia tidak sendirian. Masih ratusan orang di negeri ini yang mengalami hal serupa. Sepahit-pahitnya kehidupan, akan menjadi ringan jika dipikul bersama. Begitulah pikir pak Sukirman. Setefanus, Uray dan kawan-kawannya mungkin hangus terpanggang oleh si jago merah yang melahap hutan luas di Irian Jaya dan Kalimantan. Mata pencaharian orang-orang yang tinggal di sekitar hutan, habis dan hangus. Entah bagaimana mereka akan menyambung kehidupan selanjutnya ? Para penjual jasa dengan tenaganya harus rela meninggalkan keluarga dan kampung halamannya menuju tempat yang nun jauh di sana, demi mewujudkan

impian segala keperluan pemberangkatannya ke daerah baru

mereka. tersebut.

Mereka berusaha dengan meminjam ke sana ke mari, untuk menyediakan biaya dan Mereka lugu dan sederhana. "Saya ingin bekerja sekarang ini," sahut Sumirah binti Samadikun. "Saya ingin kerja di Arab Saudi, biar sekalian dapat naik haji," timpal Muthiah berharap. Lain dalam alam khayal, lain pula dalam alam nyata. Tidak sedikit dari mereka yang diperlakukan seperti budak dan pemuas hasrat nafsu birahi. Bahkan sebagian dari mereka ada yang diperas dan dinodai kehormatannya sebelum berangkat ke luar negeri. Misalnya Mat Syafei, karena satu dan lain hal dia menjual tanah yang ia warisi dari ayahnya, dengan segepok uang bernilai 700 juta rupiah. Sebagian kecil darinya, dia pakai untuk naik haji bersama istrinya. Sementara sisanya dia simpan di sebuah Bank yang akhir-akhir ini terkena likuidasi. Habislah uangnya begitu saja, tanpa arti. Semua peristiwa di atas, adalah kasus-kasus sosial yang menyesakkan dada. Jeritan hati wong cilik akibat penindasan, merebak di seantero dunia. Orang-orang bijak atau orang yang menaruh rasa peduli pada kemanusiaan, hanya bisa mengelus dada dan bersuara. Namun, suara mereka tidak sampai ke telinga para jagoan dan gladiator yang bercokol di balik benteng-benteng kekuasaan. Suara mereka tidak tembus ke dalam hati sanubari kaum kapitalis, yang rakus dan tidak mengindahkan norma-norma kemanusiaan. Mereka orang-orang yang tak berdaya. Hari-hari mereka terus terancam. Mereka resah dan gelisah. Mereka bingung, hendak ke mana gerangan dan kepada siapa akan berlindung serta minta pertolongan ? Wakil-wakil mereka di Parlemen sudah berubah dari fungsinya sebagai wakil rakyat, menjadi sekelompok manusia yang datang ke Parlemen hanya sekedar untuk mendengarkan program-program pemerintah yang telah ditunggangi segelintir konglomerat, seraya mereka mengaminkannya. Penggusuran, perampasan, perkosaan, pembunuhan dan perbuatan-perbuatan kriminal lainnya, selalu menghantui setiap rumah, setiap orang dan setiap keluarga. Dunia tidak lagi aman. Dunia makin sadis dan kejam. Si kuat makin sulit mengalah, sementara yang miskin terus dipaksa harus mengalah kepada si kuat.

Kasus-kasus seperti ini tidak hanya terjadi di negeri persada yang kita cintai ini. Akan tetapi di negeri-negeri lain pun hal itu terjadi. Mungkin dengan bentuk yang sama, atau berbeda sama sekali. Selagi obsesi dan ambisi manusia berupa kepuasan materi dan kebutuhankebutuhan fisik, maka nilai-nilai kemanusiaan dengan sendirinya tergilas. Janji Allah

Kita selaku umat yang beriman kepada Allah Swt. dan berkeyakinan, bahwa Dialah Dzat yang Maha Adil, Maha Pengasih lagi Penyayang, merasa terhibur dengan janjijanji Allah yang tidak mungkin diingkari-Nya. Dalam sejumlah ayat Al-Qur'an, Allah menjanjikan bahwasanya pada akhirnya kelak bumi ini akan diwariskan dan dikuasai oleh orang-orang baik, adil dan bertaqwa. Allah Swt. berfirman, "Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin dan akan mewarisi bumi ini." (QS. Al-Qashash ayat 5). Ayat di atas secara kontekstual menceritakan tentang orang-orang Yahudi yang ditindas Fir'aun, dan Allah menjanjikan kepada mereka nanti untuk menjadi pemimpin dan pewaris bumi. Meskipun demikian, maksud ayat tersebut tidak dibatasi dengan peristiwa yang dialami bangsa Yahudi waktu itu saja, karena ayat ini ingin menjelaskan bahwa orang-orang yang tertindas dan diperlakukan zalim, suatu saat nanti akan menjadi penguasa dan pemimpin di atas bumi ini. Jadi ayat tersebut menyatakan, bahwa yang akan menjadi pemimpin dan pewaris bumi adalah orang-orang yang tertindas. Pada ayat lainnya Allah berfirman, "Sesungguhnya, bumi ini akan diwarisi hambahamba-Ku yang shaleh." (QS. Al-Anbiya, 105). Ayat tersebut dengan jelas menyatakan, bahwa bumi ini akan diwariskan kepada orang-orang yang baik dan shaleh. Jadi yang akan mewarisi dan menguasai bumi, pada Dalam akhirnya Al-Qur'an adalah surat An-Nur orang-orang ayat 55, yang Allah shaleh. berfirman,

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman dan beramal kebaikan di antara kalian, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa.

Dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menggantikan keadaan mereka aman setelah mereka ketakutan." Ayat di atas menjelaskan, bahwasanya Allah berjanji akan menyerahkan kekuasaan atas bumi ini kepada orang-orang yang beriman dan beramal kebaikan. Beranjak dari tiga ayat di atas dan keimanan, tampak bahwa Allah tidak akan melanggar janji-Nya. Kita selaku kaum muslim yakin, bahwa penderitaan, penindasan dan kezaliman akan berakhir, dan dunia ini akan berada di bawah kepemimpinan orang-orang yang bijak dan shaleh, sehingga pemerataan keadilan dan kedamaian akan tegak. Andaikata kita amati dengan baik, bahwa kekuasaan dan kepemimpinan akan diserahkan kepada orang-orang tertindas, orang-orang shaleh, orang-orang beriman dan beramal kebaikan. Tiga kriteria tersebut harus ada pada diri seorang pemimpin yang akan mewarisi bumi dan memimpin dunia sesuai dengan janji Allah. Kriteria-kriteria yaitu tertindas, pemimpin beramal yang baik Allah dan Janjikan beriman.

Ada tiga kriteria yang harus ada pada seorang calon pemimpin yang Allah janjikan, Maksud tertindas pada pemimpin yang Allah janjikan, adalah seorang yang selama hidupnya selalu mengalami penindasan, tekanan, dan penderitaan. Sedangkan yang dimaksud beramal baik, adalah dan pemimpin tersebut akan menebarkan manusia. persaudaraan, kedamaian keadilan kepada seluruh umat

Adapun maksud dari beriman, adalah dia bukan seorang yang materialis dan kapitalis, yang hanya berusaha memuaskan kebutuhan fisik saja. Bahkan sebaliknya, ia mengajak manusia agar menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan menyadarkan manusia bahwa kehidupan tidak hanya di dunia ini saja, tetapi di hari kemudian juga. Oleh karenanya pemimpin yang dijanjikan, adalah pemimpin yang beriman Siapakah kepada pemimpin Allah yang dan dijanjikan hari itu akhir. ?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita tidak perlu mereka-mereka, karena jawabannya dapat kita peroleh dengan mudah dari keterangan hadis-hadis Nabi

Muhammad Saaw. Hadis Nabi, sebagaimana fungsinya sebagai penjelas Al-Qur'an, menjelaskan tentang siapa pemimpin yang Allah janjikan itu. Dalam banyak kitab Hadis dari kalangan Ahlu Sunnah dan Syi'ah disebutkan, bahwa pemimpin yang dijanjikan itu adalah Imam al-Mahdi al-Muntadzar. Di sini akan kami sebutkan sebagian kecil dari Hadis-Hadis tentang al-Mahdi alMuntadzar. Ahmad, Turmudzi, Abu Daud dan Ibnu Majah meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah Saaw bersabda, "Sekiranya dunia ini hanya tinggal sehari saja, niscaya Allah mengutus seorang manusia dari keluargaku (keturunanku) yang akan memenuhi dunia dengan keadilan, setelah dunia dipenuhi kezaliman." (Kitab Is'af ar-Raghibin). Rasulullah Saaw bersabda, "Di akhir zaman kelak, akan keluar seorang dari keturunanku, namanya seperti namaku dan julukannya seperti julukanku. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi kezaliman. Itulah al-Mahdi." (Kitab Tadzkirah al-Khawwas, 204). Rasulullah Saaw bersabda, "Barangsiapa mengingkari keluarnya al-Mahdi, maka dia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad, dan barang siapa mengingkari tentang kemunculan Dajjal, maka dia telah kufur." (Kitab Faraid as-Simthain). Menurut Abu Said al-Khudri, Rasulullah Saaw bersabda, "Sampaikanlah kabar gembira tentang al-Mahdi. Sesungguhnya dia akan datang di akhir zaman ketika terjadi kesulitan dan gempa. Allah akan menebarkan keadilan dan kedamaian melalui al-Mahdi di muka bumi ini." (Kitab Dalail al-Imamah, 171).[] Bagaimana seharusnya kita beragama? Pertanyaan di atas layak diketengahkan dalam rangka introspeksi diri atas keagamaan kita, sehingga kita benar-benar beragama sebagaimana mestinya. Karena betapa banyak orang beragama, namun keberagaman mereka sekedar warisan dari orang tua atau ingkungan sekitar mereka. Bahkan ada sebagian orang beranggapan, bahwa agama hanya sebagai pelengkap kehidupan yang sifatnya eksidental. Mereka tidak ambil peduli yang lazim terhadap agama. Karenanya mereka beragama asalasalan, sekedar tidak dikatakan 'Tidak Beragama'. Gejala perpindahan dari satu agama kepada agama yang lain bukanlah semata karena faktor ekonomi. Bahkan, anggapan bahwa

semua agama itu sama merupakan akibat dari ketidakpedulian yang lazim terhadap agama. Gejala Pluralisme semacam ini menjadi trend abad kedua puluh. Dalam persepsi mereka, membicarakan agama adalah suatu hal yang sangat sensitif dan akan merenggangkan hubungan antara manusia. Agama merupakan sesuatu yang sangat personal dan tidak perlu diuungkap dalam forum-forum umum dan terbuka. Jika harus berbicara agamapun, maka ruang lingkupnya harus dibatasi pada sisi peribadatan saja. Agama telah dirampingkan, sedemikian rupa sehingga, hanya mengurus masalah-masalah ritual belaka. Agama jangan dibawa-bawa ke dalam kancah politik, sosial, dan ekonomi. Karena jika agama dibawa ke dalam arena politik dan sosial, maka kanterjadi perang antar agama dan penindasan atas agama tertentu oleh agama yang berkuasa. Demikian pula, jika agama diperanaktifkan dalam urusan ekonomi, maka akan membatasi kebebasan perilaku menimbun kekayaan, karena banyak lampu-lampu merah dan peringatan-perigatan yang sudah Apakah tentu akan benar menghambat kelancaran demikian bisnis. ?

Tentu, bagi mereka yang masih memiliki keterikatan dengan agama akan mengatakan, bahwa pernyataan di atas relatif kebenarannya. Sebab, boleh jadi pernyataan di atas adalah suatu kesimpulan dari beberapa kasus sejarah yang parsial dan situasional, bahkan tidak bisa digeneralisasikan. Namun bagi kau muslimin, pernyataan di atas sama sekali tidak benar, karena secara teoritis agama Islam adalah pegangan hidup (way of life) yang lengkap dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, baik secara individu maupun kemasyarakatan. Islam agama yang sangat luas dan fleksibel. Secara praktek hal ini telha dibuktikan, bahwa dalam sebuah pemerintahan yang di terasa dan menjlankan syariat Islam dengan maju aspek kehidupan baik, kehidupan pesat. kita. masyarakatnya --baik muslim maupun non-muslim-- aman, damai dan sejahtera, pengetahuan benar-benar dalamnya mewarnai seluruh Yang menjadi acauan kita adalah bagaimana seharusnya kita beragama, agar ajarannya Sebagaimana telah kita bahas pada edisi sebelumnya, bahwa ajaran-ajaran Din terdiri atas tiga macam , yaitu aqidah (keyakinan), syariah (hukum atau fiqih) dan akhlaq. Semuanya harus kita perhatikan secara proporsional. Di sini kami akan menjelaskan, walaupun ringkas, ketiga jenis ajaran tersebut.

1.

Aqidah

Aqidah adalah perkara-perkara yang mengikat akal, pikiran dan jiwa seseorang (mabani-e Syenakht, Syeikh Muhammad Raysyahri). Misalnya, ketika seseorang meyakini adanya satu Dzat yang senantiasa mengawasi gerak-gerik kita, maka keyakinan tersebut mengikat kita sehingga tidak leluasa berbuat sesuatu yang akan menyebabkan-Nya murka. Pada dasarnya, inti dari Aqidah semua agama, adalah keyakinan akan eksistensi Dzat pencipta alam raya ini, dan ini merupakan fitrah manusia. Dengan demikian, dari sisi ini semua agama sama, khususnya agama samawi. Allah Ta'ala berfirman, "Katakanlah, Wahai Ahli Kitab, marilah kita menuju (membicarakan) kalimat (keyakinan) yang sama antara kami dan kalian." (QS. Ali Imran:64). Namun perbedaan muncul ketika berbicara tentang siapa Pencipta alam raya ini, bagaimana wujud-Nya, apakh tunggal atau berbilang, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang berkaitan dengan ketuhanan. Tentu, tidak mungkin semua agama itu benar dalam memahami sang pencipta. Oleh karenanya , hanya ada satu agama yang benar dalam memahami Siapa dan bagaimana Dzat Pencipta Lalu bagaimana cara menetukan mana agama yang itu. benar?

Dalam hal ini, masing-masing agama tidak bisa membicarakan hal itu menurut kacamatanya sendiri, baik melalui kitab sucinya atau pendapat para pakarnya. Ummat Islam tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan itu Allah dengan Al-Qur'an' maupun hadits, atau Ummat Kristiani dengan kitab Injilnya. Demikian pula ummat lainnya. Berbicara mengenai tentang Siapa dan bagaimana Tuhan Pencipta, harus dengan sesuatu yang disepakati dan dimiliki oleh setiap agama, yaitu akal. Keunggulan dan keberhasilan suatu agama atau aliran, tergantung sejauh mana dapat dipertahankan kebnarannya oleh akal. Maka di sinilah pelunya kita mempelajari aqidah melalui pendekatan akal, atau yang sering disebut dengan ushuluddin, atau ilmu Tawhid dan ilmu Kalam (theologi). aqidah ? Bagaimana kita beraqidah bagaiman kita mempelajari

Ayatullah Muhammad Raysyahri dalam Kitab Mabani-e Syenakht membafi manusia beraqidah keapda dua kelompok , yaitu sebagian orang beraqidah atas dasar Taqlid dan lainnya beraqidah atas dasar Tahqiq. Taqlid ialah menerima pendapat orang tanpa dalil dan argumentasi (burhan) aqli, sebaliknya Tahqiq adalah menerima pendapat berdasarkan dalil dan argumentasi (burhan) Aqli. Beraqidah atas dasar taqlid, menurut akal tidak dapat dibenarkan.Karena masalah Aqidah

adalah masalah keyakinan dan kemantapan. Sementara taqlid tidak memberikan keyakinan dan kemantapan.Oleh karenanya, alangkah banyak kalangan awam, dalam masalah keagamaan, karena satu dan lain hal, pindah agama atau keluar dari agamanya. Al-Qur'an sendiri, dalam beberapa ayatnya, mengkritik cara berpikir seprti ini, yang merupakan cara berpikir yang biasa dijadikan alasan oleh orang-orang musyrik untuk tidak mengikuti ajakan para nabi. Misalnya, Al-Qur'an mengatakan,"Jika dikatakann kepada mereka ,'ikutilah apa yang Allah turunkan.' Mereka menjawab,'Tidak.' Akan tetapi kami mengikuti (melakukan) apa yang kami dapati dari pendahulu kami." (QS. Luqman :21). Selain itu, Al-Qur'an juga melarang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan,"Dan janganlah kalian mengikuti apa yang tidak kalian ketahui." (QS. al-Isra :36). Bahkan Al-Qur'an menyebut orang yang tidak menggunakan akalnya sebagai binatang yang paling buruk,"Sesungguhnya binatang yang paling buruk di sisi Allah adalah orang yang bisu dan tuli, yaitu orang-orang yang tidak berpikir." (QS. al-Anfal:22) dan ayat-ayat lainnya. Disamping itu, terdapat hadits Rasulullah saww. yang menganjurkan ummatnya agar beragama atas dasar pengetahuan. Atara lain hadits yang berbunyi,"Jadilah kalian orang yang berilmu atau yang sedang menuntut ilmu, dan jangan menjadi orang yang ikutikutan." (Kitab an-Nihayah Ibnu Atsir, jilid I hal. 67) Ala Kulli Hal, akal diciptakan sebagai sumber kekuatan manusia untuk mengetahui kebenaran dan kesalahan. Salah seorang Ma'shumin berkata, "Allah mempunyai dua hujjah (bukti kebenaran), hujjah lahiriah dan hujjah batiniah. Hujjah lahiriah adalah para Rasul dan Hujjah batiniah adalah akal." Sementara itu, para mutakallimin dan filosof muslim telah bersusah payah membangun argumentasi-argumentasi yang kuat dan kokoh tentang pembuktian keberadaan Allah Ta'ala. Dengan demikian, kesimpulan yang dapat kita tarik dari keterangan di atas, adalah bahwa dalam masalah aqidah seseorang mesti ber-tahqiq dengan dalil-dalil akal dan tidak boleh ber-taqlid. 2. Syariat

Syariat menurut arti bahasa adalah tempat menagalirnya air. Lalu syariat diartikan lebih luas, yaitu untuk segala jalan yang mengantarkan manusia kepada maksudnya (Lihat tafsir Namuneh kepada dan tafsir Mizan dalam menafsirkan tujuan surat al-Jatsiyah ayat 18). Dengan demikian, Syariat Islamiyah berarti jalan yang mengantarkan umat manusia Islami.

Setelah seseorang meyakini keberadaan Allah sebagai pencipta dan pemberi Kehidupan sesuai dengan dalil-dalil akal, maka konsekuensi logisnya (bil mulazamah aqliyah) dia akan merasa berkewajiban untik menaati dan menyembah-Nya. Namun sebelumnya, tentu dia harus mengetahui cara bertaat dan menyembah kepada-Nya, agar tidak seperti orang-orang arab jahiliyah yang menyembah Allah, namun melalui patung-patung (QS.az-Zumar: 3). Mereka, sesuai dengan fitrah-ilahiah, meyakini keberadan Tuhan Sang Pencipta alam raya. Berkenaan dengan itu, Allah Ta'ala berfirman, "Jika kamu bertanya kepada mereka,'Siapakah yang menciptakan bumi dan langit ? Niscaya mereka menjawab 'Allah.' (QS. Luqman : 25). Kemudian , mereka ingin mengadakan hubungan dan berkomunikasi dengan-Nya (menyembah-Nya), sebagaiman Allah lukiskan dalam firmanNya,"Sebenarnya kami menyembah patung-patung sebagai upaya mendekatkan diri kami kepada Allah semata." (QS. az-Zumar, 3). Meskipun mereka meyakini keberadaan Allah Ta'ala, namun mereka salah dalam cara mengadakan komumikasi dengan-Nya. Nah, agar tidak terjadi kesalahan dalam kontak dan komunikasi dengan Allah, maka kita mesti melakukannya menurut cara yang dikehendaki-Nya dan tidak mengikuti cara yang kita inginkan. Allah dengan luthuf-Nya (upaya mendekatkan hamba pada ketaatan dan menjauhkannya dari kemaksiatan) mengutus para nabi dan mengajarkan tata cara menyembah (beribadah). Oleh karena itu, kita mesti mengikuti bagaimana Rasulullah saww. beribadah,"Shalatlah kalian, sebagaimana kalian melihat aku shalat." Kaum muslimin yang menyaksikan Rasulullah beribadah secara langsung, tidak mengalami kesulitan untuk mengikuti beliau. Namun, bagi kita yang telah dipisahkan dari beliau dengan renatang waktu yang cukup panjang (lima belas abad),untuk mengetahui cara beliau beribadah hanyalah dapat dilakukan melalui perantaraan Al-Qur'an dan hadits. Dan untuk memahami maksud Al-Qur'an dan Hadits tidakklah mudah. Menyangkut Al-Qur'an, Imam Ali bin Abi Thalib as. berkata,"Kitab Tuhan kalian (berada) ditengah-tengah kalian. Ia menjelaskan tentang halal dan haram, kewajiban dan keutamaan, nasikh (ayat yang menghapus) dan mansukh (ayat yang dihapus), rukhshah dan Azimah, khusus dan umum,'ibrah dan perumpamaan, mursal (mutlaq) dan mahdud (muqayyad), muhkam (ayat yang jelas maksudnya) dan mutasyabih (ayat yang belum jelas maksudnya).." (Tashnif Nahjul Balaghah: 207). Sedangkan mengenai hadits yang sampai kepada kita, ribuan jumlahnya dari berbagai kitab hadits, dan tidak sedikit darinya pertentangan satu dengan lainnya. Dengan demikian, untuk dapat memahami malsud Al-Qur'an dan hadits, harus terlebih

dahulu menguasai sejumlah disiplin ilmu dengan baik, antara lain Bahasa Arab, Tafsir, Ulumul Quran, Ushul iqh, Mantiq, Ilmu Rijal, Ulumul Hadits dan sebagainya. Orang yang telah menguasai semua disiplin ilmu tersebut dengan baik, dia dapat beristinbath (menginterpretasikan hukum) secara langsung dari Al-Qur'an dan hadits (pelakunya disebut Mujtahid). Tetapi orang yang tidak menguasai semua ilmu di atas dengan baik, maka cukup baginya mengikuti (bertaqlid) kepada hasil istinbath seorang Mujtahid. Dalam masalah aqidah taqlid tidak diperkenankan, sementara dalam masalah syariat 3. taqlid diperbolehkan. Akhlak

Para ulama dalam mengartikan akhlaq umumnya mengatakan,"Akhlaq adalah ilmu yang menjelaskan tentang mana yang baik dan mana yang buruk, serta apa yang harus di amalkan." Mereka membagi ilmu akhlaq kepada dua bagian, yaitu akhlaq teoritis dan akhlaq praktis. Mempelajari dan mengamalkan akhlaq sangat diperlukan sebagai proses mencapai tujuan hidup yaitu kesempuranaan. Kalimat penutup, sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana seharusnya kita beragama, adalah beraqidah atas dasar tahqiq dan menjalankan syariat dengan baik atas dasar ijtihad atau Kitab 1. 2. 3. 4. Tafsir Tafsir Asyna'i Tashnif ba al-Mizan, Namuneh, Ului-e Nahjul karya Islami, karya Balaghah, taqlid Rujukan karya Allamah Ayatullah Ayatullah karya Makarim Syahid Labib dan berakhlaq. : Thabathabai Sirazi. Muthahhari. Baidhun

5. Mabani-e Syenakht, karya Muhammad Raysyahri Sumber: Buletin Dwi Mingguan RISALATUNA diterbitkan oleh Yayasan Al-Jawad, Edisi 02-Tahun 1997

Rahbar: Amerika Serikat berambisi Jadikan Iran Seperti Uni Soviet

Menjelang keberangkatan Presiden Iran Mohammad Khatami ke Jerman, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei ditemui oleh para pejabat senior dari berbagai instansi pemerintahan Republik Islam Iran (RII), mulai dari Lembaga Pengadilan (yudikatif), pemerintah (ekskutif), parlemen, hingga Dewan Kebijaksaan, Dewan Pengawas UUD, Dewan Ahli, angkatan bersenjata, dan Lembaga Penyiaran RII (IRIB). Dalam pertemuan Ahad 19 Juli 2000 ini, mula-mula Presiden Iran Sayid Muhammad Khatami menyampaikan kata sambutan yang mengupas keagungan pribadi Imam Ali dan membahas berbagai persoalan dalam negeri RII. Setelah itu, Rahbar menyampaikan pidato panjang lebar tentang reformasi di Iran serta obsesi AS dan koncokonconya untuk menggulingkan Iran melalui strategi yang pernah digunakan untuk memporak-porandakan adi daya Uni Soviet. Berikut ini adalah petikan pidato beliau. "Saudara dan saudari sekalian, para pejabat dan para pimpinan pemerintahan Republik Islam, saya ucapkan selamat datang. Ini merupakan pertemuan yang sangat baik dan insyallah bermanfaat. Pernyataan Presiden Khatami sangatlah baik, bermanfaat, dan menandakan adanya berbagai motivasi yang sangat besar. Kita berharap, insyallah tematema yang beliau utarakan, khususnya bagian pertama yang terfokus kepada sirah Amirulmukminin Ali as, selalu menjadi renungan untuk kita semua. Tujuan pertemuan ini pertama-tama ialah membangun keharmonisan dan solidaritas. Betapa baiknya jika dalam berbagai persoalan terdapat keselarasan dan kesepahaman, dan kalau toh terdapat perbedaan cara dalam sejumlah persoalan, maka kesamaan hati akan menutupi celah-celah yang ada. "Kesamaan hati akan mudah dicapai dengan mengingat Allah SWT. Mengingat Allah akan menjadi pelita hati manusia, menerangi hati manusia, dan menghilangkan debu-debu permusuhan dan semangat egoisme dari hati manusia, serta menjadi tambatan yang akan menentramkan hati yang guncang. Mengingat Allah akan selalu bisa digapai oleh hati yang bersih, dan bukan hati yang ternoda dengan kotoran. Mengingat Allah sukar sekali dilakukan oleh orang yang menodai hatinya sendiri. Dia tidak akan sukses dan tidak akan menemukan jalan untuk memasuki wilayah suci Ilahi. Hati yang sudah tercemari dengan hawa nafsu, gila kekuasaan, dan semangat permusuhan kepada hamba-hamba Allah, kedengkian, egoisme, dan gila kepada harta benda tidak mungkin akan menemukan jalan untuk memasuki wilayah suci Ilahi, kecuali jika dia menyucikan hatinya terlebih dahulu.

"Jika hati seseorang sanggup menghiasi dan mengharumkan dirinya dengan zikrullah, maka Allah tentu akan mengabulkan keinginannya. Allah berfirman, Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku akan mengabulkannya. Tidak ada doa yang tidak mustajab atau dikabulkan Allah. Mustajab di sini bukan berarti kehendak manusia pasti terpenuhi. Mustajab bisa jadi keinginan manusia terpenuhi dan bisa jadi tidak terpenuhi karena faktor-faktor dan demi maslahat-maslahat tertentu. Istijabah Ilahi ialah respon, perhatian, dan inayah Allah. Istijabah Ilahi bisa berupa tidak terwujudnya keinginan yang kita anggap akan menguntungkan kita, tapi pada hakikatnya justru merugikan kita. "Kita berusaha untuk mengharumkan hati kita. Dewasa ini kita sangat memerlukan penyucian hati. Saya pun lebih memerlukan pengobatan Ilahi ini, dan kita semua yang mengemban tanggungjawab berat lebih memerlukannya ketimbang orang lain yang tidak mengemban tanggungjawab ini. Pekerjaan kita sangatlah berat. Allah SWT sendiri memandang Nabi Besar SAWW perlu beribadah dengan penuh jerih payah, menunaikan solat malam, menangis dan merintih. Allah menghendaki demikian karena tugas Nabi sangatlah berat. Semakin berat tugas seseorang, semakin perlu pula orang itu untuk memperkuat hubungannya dengan Allah. Kalau kita bisa memperkuat hubungan ini, maka pekerjaan-pekerjaan kita terbenahi, jalan akan terbuka untuk kita, pikiran kita akan terang, dan cakrawala akan cerah di depan kita. Namun jika, kesulitan ini tidak kita pecahkan, maka pekerjaan-pekerjaan kita tidak akan membuahkan hasil yang semestinya. Boleh jadi orang terlihat sukses dalam hal-hal terte! ntu, namun tujuan kita tidak cukup hanya kesuksesan-kesuksesan duniawi. Tujuan manusia yang bertauhid jauh lebih agung dari hanya sekedar tujuan dalam konteks alam materi. Dan kalau kita punya tujuan dalam konteks alam materi, maka itu kita pandang sebagai pendahuluan, jalan, dan jembatan untuk tujuan-tujuan yang lebih tinggi. Mau tidak mau Anda harus melintasi jembatan dunia ini, namun Anda jangan berhenti di jembatan ini.Tujuan harus lebih tinggi daripada keinginan-keinginan dalam bingkai alam materi. Kita berharap semoga Allah memberi kita taufik untuk melakukan pekerjaanpekerjaan ini. Saudara dan saudari yang mulia, sebagaimana yang dinyatakan oleh Presiden Khatami, di negara kita terdapat berbagai potensi yang besar dan cakrawala yang cerah.Namun, berbagai problema tentunya juga ada. Potensi-potensi ini harus dimanfaatkan dan

problematika harus diatasi. Dalam kondisi sekarang ini, masalah yang menurut saya paling penting dalam dunia komunikasi kita ialah persatuan dan kesamaan hati.Iklim jangan sampai keruh. Jika Allah memberikan taufik-Nya kepada para pejabat pemerintahan ini untuk berjalan dengan kesamaan hati, maka sebagian besar persoalan akan teratasi. Kesamaan hati di sini bukan harus berarti kesamaan pikiran. Metode dan cara boleh berbeda, tetapi jangan sampai perbedaan ini dilandasi dengan jiwa permusuhan. Revolusi dan pemerintahan Islam adalah peluang emas bagi upaya melakukan penyaringan mental dan kondisi pekerjaan negara, dan peluang ini harus digunakan secara maksimal. "Ada upaya-upaya tertentu untuk mempersepsikan masalah-masalah sekunder sebagai masalah primer, atau mempersepsikan keinginan-keinginan yang bukan hakiki, atau yang hakiki namun tergolong sekunder, sebagai masalah nasional yang prinsipal. Namun masalah kita yang prinsipal bukanlah demikian. Masalah kita yang prinsipal ialah bahwa semuanya harus menemukan jalan untuk mengokohkan pemerintahan, memperbaiki kinerja, menuntaskan kesulitan, menjelaskan berbagai aspirasi dan tujuan yang ada kepada segenap lapisan masyarakat, memanfaatkan besarnya daya kreativitas, dinamika, kehendak, motivasi, dan keimanan rakyat, serta menempuh jalan ke arah cita-cita agung pemerintahan Islam yang semuanya akan membawa kita kepada kebahagian. Inilah yang harus menjadi fokus perhatian dan bahan renungan. Banyak tentunya pekerjaan yang harus kita lakukan. Kita memikul beban tugas dan tanggungjaab yang besar. Masing-masing kita harus menunaikan tugas ini semaksimal mungkin ! sesuai dengan kemampuannya. "Dalam kesempatan ini saya akan utarakan apa yang terlintas dalam benak saya. Dan itu ialah tentang bagaimana caranya kita untuk mengatasi berbagai kekurangan yang ada, memerangi kebobrokan, dan menciptakan reformasi dalam arti yang sebenarnya. Hal ini sangat penting, dan karena itu tepat kiranya jika semua orang yang memiliki kepedulian kepada nasib negeri dan bangsa ini memfokuskan perhatian kepada masalah ini. Banyak orang yang membicarakan soal reformasi, dan berusaha keras untuk reformasi. Apakah reformasi itu? Manakah jalan untuk menggapai reformasi? Apa yang harus diprioritaskan dalam reformasi? Ini semua adalah pertanyaan yang sangat penting. "Pertanyaan penting lainnya sehubungan dengan ini ialah apa sebenarnya yang diincar oleh musuh dalam propaganda-propagandanya menyangkut reformasi? Bukankah reformasi ini milik kita?! Anda tahu bahwa propaganda dunia banyak terfokus kepada reformasi di Iran.

Apa sebabnya? Propaganda ini jelas berasal dari pusat-pusat tertentu yang tidak bisa dianggap mengharapkan kebaikan untuk bangsa Iran. Bukankah adanya fasad, belenggu dan kerusakan kondisi di negara ini tak lain adalah disebabkan oleh dominasi dan pengaruh kekuasaan negara arogan Inggris yang kemudian disusul oleh AS?! Kekuatan manakah yang telah menciptakan belenggu di negara ini? Kekuatan manakah yang telah membangun instansi-instansi nasional dan pemerintahan yang berasaskan kefasadan di negara ini? Tangan siapakah yang telah menaikkan Reza Khan ke puncak kekuasaan? Selama 50-an tahun, siapakah yang telah melakukan propaganda yang paling tercela untuk menyeret bangsa ini ke arah kebejatan,! kebebasan tanpa batas, ketidak percayaan kepada prinsip-prinsip moral dan agama? Para pemuda kita sekarang ttahu menahu tentang pers pada masa Rezim Pahlevi. Namun, Anda tentu mengingatnya. Pers yang fasad itu dipromosikan oleh siapa? Dari manakah pers itu mendapatkan dana dan sorakan? Kepada siapa pers itu mencontoh kalau bukan kepada kekuatan-kekuatan yang telah menciptakan dan memperkuat pemerintahan saat itu? "Sekarang ini, kita memerlukan alasan mengapa kita melawan dominasi dan arogansi pemerintah AS? Dan alasannya apalagi kalau bukan karena Rezim yang pernah berkuasa 50 tahun di Iran itu telah menghancurkan sumber daya manusia, keuangan, moralitas, dan berbagai potensi yang kita miliki? Apa yang dihasilkan oleh Rezim Pahlevi untuk negara ini selama 50 tahun? Bagaimanakah caranya dan sampai kapan kerusakan yang mereka ciptakan itu bisa dibenahi? Siapakah yang membuat peluang untuk kerusakan ini? Siapakah yang membantu dan mengarahkannya? Siapakah yang memperkuat badan inteljen saat itu? Siapakah yang menentukan garis mereka? Anehnya, pemerintah AS dan Inggris, yang notabene pemimpin mereka, politisi mereka, dan pusat media massa mereka, sekarang malah tampil membela apa yang disebut reformasi dan kebebasan di Iran. Gelagat ini tentu akan membuat orang yang berakal sehat akan berpikir dan bahkan akan menyadarkan orang yang tidak waspada. Bagaiman! akah duduk persoalannya? Ini adalah satu persoalan yang amat vital dan fundamental. Sebagai orang yang sejak awal revolusi dampai sekarang telah mengalami berbagai persoalan yang menyangkut pemerintahan ini beserta segala sisi dan berbagai kecenderungan yang ada, saya mengenal banyak orang, mengenal retorikanya, dan tahu persis propaganda media massa dunia. Dalam hal ini saya memperoleh kesimpulan yang ringkasnya ialah bahwa AS membuat rancangan multidimensional untuk meruntuhkan

pemerintahan republik Islam. Rancangan ini merupakan rekonstruksi dari apa yang terjadi dalam kasus tumbangnya Uni Soviet. AS berpikir untuk menerapkan rancangan ini di Iran. Inilah yang dikehendaki musuh. Berbagai tanda dan buktinya sekarang ada dalam benak saya. Bukan hanya tanda, tetapi bahkan terdapat bukti yang mencolok dalam pernyataan pemerintah AS. Dalam beberapa tahun terakhir, kita bisa membuktikannya dari pernyataan-pernyataan mereka yang terkesan angkuh, arogan, dan adakalanya tidak dipertimbanganya sebelumnya sebagaimana yang pernah m! ereka katakan sendiri dalam suatu wawancara tertentu diamana mereka mengaku telah memberikan pernyataan yang terburu-buru. Pernyataan-pernyataan mereka itu secara tegas membuktikan bahwa mereka berimajinasi untuk merekonstruksi rancangan dalam peristiwa tumbangnya Uni Soviet untuk disesuaikan dengan situasi di Iran. Rancangan ini ingin mereka terapkan di Iran. "Dalam beberapa kasus, AS telah tergelincir kepada kesalahan, dan ini tentu berkat pertolongan Ilahi kepada kita. Dalam situasi genting, musuh-musuh kita terperangkap pada pertimbangan-pertimbangan yang salah. Tetapi, ini bukan berarti mereka lantas bisa meralatnya ketika saya sebutkan kesalahan-kesalahan itu, sebab kesalahannya terletak pada pemahaman mereka di depan fakta-fakta yang ada. Berdasarkan kesalahan inilah program yang mereka rangkai, karena itu mereka tidak akan berhasil. Mereka membuat program untuk membela Rezim Pahlevi dengan mengerahkan segenap kekuatanya. Hanya saja, mereka salah dalam memahami berbagai persoalan di Iran, dalam memahami rakyat, spritualitas, dan agama di Iran. Karena itu mereka selalu kandas dan tetap akan kandas. "Mereka salah dalam beberapa kasus. Pertama, Presiden Khatami tidaklah seperti Gorbacev. Kedua, Islam tidaklah seperti komunisme. Kedua, pemerintahan Islam berbasiskan kerakyatan dan bukanlah pemerintahan diktator dan proletariat. Keempat, Iran adalah negara yang utuh sedangkan Uni Soviet terdiri dari wilayah-wilayah yang berbeda satu dengan lain. Kelima, peranan pemimpin agama dan spiritual di Iran bukanlah main-main. Kesalahan-kesalahan ini akan saya jelaskan nanti. Saya akan singgung rancangan AS dalam kasus tumbangnya Uni Soviet. Gambaran yang sekarang ada dalam pikiran saya sebagian besar berasal dari catatan yang saya tulis sejak tahun 1991 tentang berita-berita mengenai kasus Uni Soviet. Dan tentu saja kemudian catatan itu dilengkapi dengan berbagai informasi yang diperoleh para sahabat kami dari berbagai sumber penting, baik orang-orang Rusia maupun orang-orang non-Rusia.

Informasi-informasi itu masuk kepada saya dan melengkapai catatan saya, tetapi tentu saja sekarang saya tidak bisa menjelaskannya panjang lebar. Yang jelas ini merupakan peristiwa besar. Ketika kita mengatakan rancangan orang-orang AS untuk meruntuhkan Uni Soviet, ada tiga poin yang perlu kita utarakan di sisi kalimat orang-orang AS ini. "Poin pertama ialah ketika kita mengatakan rancangan orang-orang AS, ini bukan berarti negara-negara blok Barat tidak bekerjasama dengan AS dalam masalah ini. Barat dan Eropa gigih bekerjasama dengan AS dalam proyek ini. Sebagai contoh, peranan Jerman, Inggris dan sebagian negara lainnya terlihat sangat mencolok dan serius dalam kerjasama ini. Poin kedua, tatkala kita menyebut rancangan AS bukan berarti kita akan mengabaikan faktorfaktor internal yang meruntuhkan Uni Soviet. Sama sekali tidak demikian. Faktor-faktor yang menyebabkan tumbangnya Uni Soviet juga ada pemerintahan Uni Soviet, dan faktorfaktor inilah yang paling dimanfaatkan oleh musuh-musuh Uni Soviet. Apakah faktorfaktor itu? Faktor-faktor itu ialah kemiskinan yang ekonomi parah, tekanan terhadap rakyat, belenggu yang kuat, buruknya administrasi dan birokrasi. Di samping itu, di sana sini juga terlihat faktor-faktor rasial dan kebangsaan. Poin ketiga, rancangan AS dan Barat in! i bukanlah rancangan militer, melainkan rancangan yang pada tahap awal digarap melalui publikasi yang sebagian besar berbentuk tabloid, spanduk, koran, film dsb. Dengan memperhitungkan hal ini orang akan melihat bahwa sekitar 50 atau 60 persen pengaruhnya berasal dari media massa dan sarana-sarana kebudayaan. Saudara-saudari yang mulia, pertimbangkanlah dengan serius masalah serangan kebudayaan yang pernah saya kemukakan 7 atau 8 tahun silam. Serangan kebudayaan tidaklah main-main. Setelah faktor media komunikasi dan propaganda, faktor kedua ialah faktor politik dan ekonomi, sedangkan faktor militer sama sekali tidak berperan. "Pada tahun 1995, ketika Gorbacev berada di puncak kekuasaan, dia menampilkan slogan Perestroika yang ditempatkan dalam peringkat pertama, dan slogan Glasnost yang diletakkan dalam peringkat kedua. Perestroika ialah rekonstruksi dan reformasi ekonomi, sedangkan Glasnost ialah reformasi di bidang-bidang sosial seperti kebebasan berekspresi dsb. Dalam satu dua tahun pertama, Gorbacev diserbu oleh berbagai pernyataan, analisis, applaus, pengarahan, dan usulan, dan sedemikian berartinya Gorbacev sehingga lembagalembaga pusat di AS menampilkan Gorbacev sebagai man af the year. Ini terjadi justru di saat Perang Dingin. Sebelum Gorbacev, kalau di Uni Soviet terdapat fakta-fakta yang bagus, niscaya AS akan segera mengingkarinya, dan bahkan menggempurnya dengan

propaganda. Namun kepada Gorbacev tiba-tiba AS mengambil sikap sedemikian rupa. Rangkulan dan sorakan Barat inilah yang membuat Gorbacev terkecoh. Saya tidak bisa mengklaim bahwa ! Gorbacev adalah orang yang sudah dibentuk oleh Barat atau instansiinstansi CIA, sebagaimana yang diklaim sebagian orang di dunia. Saya sama tidak menemukan adanya tanda-tanda sedemikian rupa, dan saya juga tidak memiliki suatu berita dari balik layar tentang ini. Yang jelas, Gorbacev telah tertipu oleh pelukan, pencitraan, penghormatan, apresiasi, dan applaus Barat kepadanya. Dia terlalu percaya kepada Barat dan AS, tetapi dia tertipu. Dari karya tulisan Gorbacev yang berjudul Perestroika: Revolusi Kedua, orang akan melihat tanda-tanda bahwa dia telah tertipu. "Dalam keadaan sulit yang mencekik Uni Soviet saat itu, slogan-slogan ini membahana. Sekitar tahun 1980 atau 1981, seperti yang saya tulis dalam catatan-catatan saya, Gorbacev menghapus surat izin perjalanan dari kota ke kota lain di Uni Soviet. 73 tahun setelah terbentuknya Uni Soviet, yaitu setelah berakhirnya 30 tahun kStalin, 19 tahun masa kekuasaan Brezhnev dan seterusnya, diantara hal yang dilakukan Gorbacev dalam kebijakan Glasnost-nya ialah penghapusan kewajiban membawa surat izin perjalanan tersebut. Dalam kondisi seperti ini bisa Anda lihat bagaimana pengertian pikiran dan rancangan masalah kebebasan berekspresi. Untuk rakyat, betapa mempesonanya ketika Gorbacev bicara soal kebebasan berekspresi. Sepanjang masa Uni Soviet tersebut, koran yang paling penting di seluruh Uni Soviet ialah koran Pravda yang merupakan harian umum, dan sebuah koran lain yang berkaitan dengan kaum remaja. Beberapa koran spesial lain juga ada. Namun, sama ! sekali tidak terlihatnya adanya perkembangan jumlah surat kabar dan buku-buku yang membahas macam-macam. Seorang penulis yang mengkritik sebagian saja dari dasar-dasar komunisme akan kena cekal dan tidak bisa keluar dari Uni Soviet selama bertahun-tahun. Orang-orang AS tentunya juga sering mempromosikan Gorbachev. Banyak hal yang mereka katakan dan itu saya ingat sejak masa sebelum revolusi Islam Iran. Dalam keadaan sedemikian ini, slogan tersebut dikumandangkan oleh Gorbachev. Walau demikian, mereka juga telah melakukan kesalahan yang tidak ingin saya utarakan sekarang, karena sebagian kesalahan itu akan terlihat dengan sendirinya di selasela pembicaraan ini. "Setelah sekian lama, gelombang propaganda, kebudayaan, dan simbol-simbol Barat seperti model pakaian, restoran Mc Donald dsb yang merupakan simbol-simbol AS, akhirnya menemukan jalan di Uni Soviet. Apa yang saya katakan ini bukanlah pikiran seorang santri

yang berada di dalam posisi marginal. Saya sendiri membaca di majalah Time dan News Week laporan-laporan tentang maraknya restoran-restoran Mc Donald di Moskow. Ini adalah berita menarik dan merupakan irama pendahuluan untuk masukannya kebudayaan Barat dan AS di Uni Soviet. "Slogan yang dikampanyekan Gorbachev mencapai klimaknya selama dua tahun, tetapi kemudian tiba-tiba seorang tokoh baru bernama Yeltsin muncul di samping Gorbachev. Peranan Yeltsin sangat determinan dan kuat. Dia mengatakan slogan-slogan ini tidak ada gunanya karena gerakannya lamban sehingga reformasi pun berjalan lamban. Kalau seandainya ada orang pandai yang menggantikan Gorbachev, mungkin dalam 20 tahun reformasi itu bisa dilaksanakan tanpa ada rasa cemas, sebagaimana yang terjadi di China. Tetapi kesabaran inipun akhirnya hilang dari diri Gorbachev sehingga dia memecat wakilnya, Yeltsin. Namun, media AS dan Barat tidak mendiskreditkan Yeltsin tetapi malah mengukuhkannya. Sekitar satu tahun atau lebih, Yaltsin dipromosikan Barat dan AS sebagai tokoh reformis terkemuka yang berpikiran cemerlang namun teraniaya. "Salah satu hal yang dilakukan Gorbacev ialah mengatakan bahwa pemilu harus diselenggarakan. Di negara ini, sejak masa pasca dinasti Tsar, pemilu sama sekali belum pernah terjadi. Di zaman dinasti Tsar pun, pemilu diselenggarakan persis seperti pemilu di Iran pada zaman Syah, dan kebetulan sejarah revolusi konstitusi mereka sama persis dengan sejarah revolusi konstitusi Iran dengan selisih waktu hanya satu tahun. Pada masa dinasti Tsar, majlis permusyawaratan nasional Duma hanya satu bentuk, persis seperti majlis permusyawaratan nasional Iran pada masa kekuasaan Rezim Pahlevi. Setelah kaum komunis muncul ke permukaan, majlis permusyawaratan tidak ada lagi, begitu pula halnya dengan pemilu. Kemudian, setelah 73 tahun berlalu, untuk pertama kalinya pemilu diselenggarakan di Republik Rusia, dan bukan di seluruh Uni Soviet. Kandidatnya adalah Yeltsin.Tokoh radikal ini mendapatkan suara terbanyak sehingga sukses menjadi presiden. Dari sini ceri! tanya mulai menarik. Dari tanggal 14 Juni 1991, yaitu saat Yeltsin menjadi presiden hingga sekitar tanggal 22 hingga 23 Desember 1999, yaitu tanggal dimana Uni Soviet resmi dinyatakan runtuh, waktu hanya berjalan sekitar 7 bulan. Jadi, beberapa tahun sebelumnya hanya merupakan pendahuluan. Sebagian dari pendahuluan ini dipegang oleh Gorbachev, dan ketika periode sejarah Gorbachev selesai, segalanya dilakukan Yeltsin. Pada masa kekuasaan Yeltsin-lah program yang dicanangkan AS dan Barat berjalan cepat.

"Begitu Yeltsin menggapai kekuasaan, menjadi presiden Rusia, dan ketika dia menjadi orang nomor dua di Uni Soviet, inovasi ada di tangannya. Pada tanggal 14 Juni 1991, Yeltsin remi menjadi presiden dan dua hari kemudian yaitu 26 Juni 1991, Presiden AS menyatakan bahwa tiga negara republik di kawasan Baltik yaitu Latvia, Estonia, dan Lithuania bukan lagi milik Uni Soviet, karena itu Uni Soviet harus membebaskan tiga negara republik ini kemudian mengakui kemerdekaannya. Kalau tidak mengakui kemerdekaan ini, maka AS akan membatalkan bantuan-bantuan yang pernah dijanjikannya. Beberapa lama kemudian, Yeltsin menyatakan pengakuannya atas kemerdekaan tiga negara republik tersebut. Dua bulan kemudian, untuk meningkatkan prestisnya, terjadilan kudeta yang menghebohkan di Uni Soviet, sebuah kudeta yang sepenuhnya mencurigakan. Lensa televisi AS CNN dan lain sebagainya aktif di Moskow dan terus meneropong Yeltsin. Televisi kita juga menayangkan gambar ! yang diambil CNN. Kita melihat Yeltsin ada di atas tank dan meneriakkan yel-yel ditengah masyarakat. Dia mengatakan tidak akan menyerah kepada para pelaku kudeta. Yeltsin kemudian mendatangi parlemen, tetapi para pelaku yang bergabung di parlemen Duma sama sekali tidak berbuat apa-apa terhadap Yeltsin. Mereka tidak berurusan dengannya, tetapi malah mendatangi dan menangkap Gorbachev yang sedang menghabiskan hari-hari liburnya di semenanjung Krimea. Yeltsin sendiri tetap meneriakkan slogan-slogannya serta menciptakan berita-berita heboh di dunia. Tetapi banyak tentunya berita-berita yang tidak merefleksikan fakta yang terjadi. Sejumlah tank muncul di jalan-jalan Moskow, tetapi tiga hari kemudian menghilang. Dikatakan bahwa para pelaku kudeta sudah ditangkap. Hasil peristiwa kudeta ini ialah bahwa Yeltsin yang tadinya adalah orang kedua akhirnya menjadi orang nomor satu. Negara-negara republik kemudian satu persatu menginginkan kemerdekaan. Ukrania, misalnya, menyatakan ingin merdeka. Gorbachev menentangnya, tetapi Yeltsin menerimanya sehingga setelah dua atau tiga hari kemudian Gorbachev pun ikut menerimanya. Dengan demikian, benar anggapan bahwa kalau tidak ingin mundur, Gorbachev harus menampilkan dirinya ke depan sambil mempertahankan sloganslogannya. Atau kalau tidak demikian, maka dia terpaksa harus mengikuti langkah Yeltsin karena propaganda dunia tidak memberikannya kesempatan untuk mengatakan sesuatu kecuali seperti yang dikatakan Yeltsin. Peristiwa ini disusul dengan mencuatnya masalah penyingkiran Gorbacev dari jabatan Sekjen Partai, kemudian usulan pembubaran Partai Komunis, lalu diumumkannya kekandasan komunisme, sebuah peristiwa yang membuat AS

sangat terpesona, dan terakhir tersiarnya berita mengenai isu pengunduran diri Gorbachev. Ketika itu, dalam sebuah wawancara, saat ditanya apakah dia akan ! mengundurkan diri, dia mengatakan: Saya menantikan kedatangan Menlu AS ke Moskow untuk saya lihat apa yang bakal terjadi nanti. Menlu AS kemudian mendatangi Moskow. Namun, sebelum menghubungi Gorbachev, Menlu AS mengubungi Yeltsin, itupun dilakukan di tempat pertemuan utama Istana Kremlin. Ini menandakan tamatnya riwayat Gorbachev. Tiga hari kemudian Gorbachev mengundurkan dan keluarlah pengumuman bubarnya Uni Soviet. Inilah rancangan AS yang penuh sukses di Uni Soviet. Sebuah adi daya, dengan sebuah rancangan yang sangat cerdas, dengan mengeluarkan sedikit dana, dengan membeli sebagian orang, dan dengan mengerahkan media propaganda, berhasil menyukseskan sebuah rancangan 3 atau 4 tahun yang hasilnya dituai 6 atau 7 bulan dan telah menghancurkan segalanya. "AS tentunya masih ingin menjadikan Rusia sebagai Brazil kedua, tetapi itu tidak kesampaian. Mengapa? Sebab Rusia memiliki bangsa yang tangguh dan kuat. Dari segi etnis, rakyat Rusia adalah rakyat yang tangguh. Kemudian, kemajuan industrinya, senjata nuklirnya, para ilmuannya, penelitian-penelitian, dan semua fasilitasnya layak dipertimbangkan. "Para perancang peristiwa-peristiwa tersebut sebermimpi untuk berbuat sedemikian rupa di Iran. Mereka memang tidak berpikir bahwa kalau RII mengalami nasib seperti Uni Soviet, maka Iran akan menjadi negara seperti Rusia. Yang mereka pikirkan ialah menjadikan negara ini seperti pada masa kekuasaan dinasti Pahlevi, yaitu negara yang berada di urutan ke-10 setelah Turki. Sebab mereka tahu bahwa di Iran tidak ada nuklir dan tidak ada kemajuan ilmu pengetahuan sedemikian rupa. Iran tidak memiliki penduduk 300 juta. Iran tidak sebesar Rusia yang sampai sekarang masih terhitung negara terbesar di dunia. "Namun sekarang, apakah realitas tersebut? Perbedaan antara realitas dan hal-hal yang mereka rencanakan seperti perbedaan antara bumi dan langit. Mereka telah berbuat kesalahan besar. Saya benar-benar tidak rela dan tak akan pernah bersedia memaparkan nama Khatami kita tercinta-seorang sayyid keturunan Rasul yang mulia dan mukmin, mencintai ajaran-ajaran agama, mencintai Imam, dan pelajaran agama seperti kita semua sebagaimana yang dilakukan oleh Barat dalam membandingkan beliau dengan Gorbachev.

Akan tetapi mereka membandingkannya dan dengan tegas berkata bahwa di Iran pun telah muncul seorang Gorbachev. Tentu saja tak boleh kita lupakan bahwa sayangnya sejumlah orang di dalam negeri merasa senang dengan perbandingan tersebut. Mereka tidak menyadari bahwa itu adalah penghinaan. Dan lebih lagi, mereka tidak menyadari konspirasi yang tersembunyi di balik penghinaan tersebut. Saat ini saya tidak berurusan dengan para penyimpan niat jahat dan mereka! yang memahami apa yang tengah berlangsung dan apa yang mereka inginkan agar terjadi. Namun ada sejumlah orang yang sebetulnya bukan penyimpan niat jahat, tetapi mereka tidak menyadari apa yang terjadi dan apa yang akan dilakukan oleh musuh. "Perbedaan pertama ialah perbedaan antara presiden kita dengan Gorbachev. Gorbachev adalah seorang cendikiawan yang kemungkinan besar bahkan tidak begitu meyakini dasardasar Marksisme. Seorang yang sama sekali tidak menerima struktur Uni Soviet. Dia sendiri mengatakan hal itu dengan berbagai bahasa. Tentu saja pada saat masih berkuasa, ia tidak dapat menyatakan hal tersebut dengan tegas. Namun pada akhirnya ia mengetahuinya juga setelah itu. Ia amat cenderung ke Barat. Kata-kata yang ia ucapkan adalah kata-kata orang Barat. Hanya saja ia mengucapkannya dengan bahasa Rusia. Sedangkan presiden kita, menganggap Republik Islam adalah agama dan keyakinan hatinya. Imam adalah kecintaan dan teladannya. Ia adalah seorang ruhaniawan. Pada mulanya mereka (para musuh) di dalam mimpi-mimpi indah mereka, mengucapkan banyak hal. Sampai sekarang pun, pejabat politik tertinggi dengan dan yang paling mengganggu di antara mereka, masih saja mengatakan hal-! hal tersebut. Namun sebagian mereka, sejak dua tahun terakhir, merasa ketakutan dan berkali-kali di dalam propaganda mereka berkata: Tidak, yang ini pun (Khatami) sama saja dengan mereka. Ia pun bagian dari para fundamentalis. Kebetulan mereka benar dalam hal ini. "Perbedaan kedua ialah bahwa Islam bukan Marsisme. Marksisme tidak diterima oleh rakyat Uni Soviet. Memang komunisme adalah agama partai komunis Uni Soviet. Partai Komunis Uni Soviet terdiri dari beberapa juta anggota, yang berhadapan dengan hampir 300 juta penduduk Uni Soviet. Mungkin sekitar 10 juta atau 12 juta orang anggota partai Komunis Uni Soviet. Anggota partai Komunis selalu menikmati berbagai fasilitas istimewa. Oleh sebab itu bisa diperkirakan bahwa diantara sejumlah orang ini, hal yang pada tingkat pertama, penting bagi mereka ialah fasilitas-fasilitas tersebut. Jadi, Marksisme bukan penentu yang berperan sebagai agama bagi mereka. Islam adalah agama rakyat, cinta rakya

dan dan Iman rakyat. Islam ialah seruan dimana bangsa Iran yang besar ini mengirimkan orang-orang yang mereka cintai, bagian tubuh dan belahan hati mereka ke medan perang demi membelanya. Dan ketika jasad mereka yang berlumuran darah kembali, mereka bersyukur kepada Allah. Apakah beliau tidak pernah melihat ayah dan ibu yang seperti ini? Setiap kita mungkin pernah melihat ratusan kasus semacam ini. Hari ini pun ketika ayah dan ibu empat syahid datang ke tempat kami, kalaupun mereka mengeluhkan beberapa hal yang mereka hadapi, namun mereka merasa gembira bahwa putra-putra mereka syahid di atas jalan Islam. Bangsa ini dengan segala wujudnya, setia terhadap Islam. Setelah 50 tahun usaha penghapusan agama, sebuah bangsa melakukan suatu gerakan besar (revolusi Islam) di belakang Imam yang mulia, alim agama dan panutan mereka, menegakkan pemerintahan Islam ini. Islam ialah suatu agama dimana ketika nama dan benderanya telah berkibar di Iran, maka dimanapun seorang Muslim yang tahu dan sadar akan merasakan memiliki identitas dan keperibadian serta kemuliaan. Mereka menyamakan ini dengan Marksisime?!?! ....................... artinya: Syukur dan segala puji bagi Allah yang telah menjadikan musuh-musuh kita orang-orang yang bodoh. "Yang ketiga ialah pemerintahan Islam bukan pemerintahan komunis. Pemerintahan Islam, pemerintahan yang masih segar, fleksibel, aktif dan merakyat. Suatu ketika saya pernah katakan kepada Khatami bahwa tak ada satu pun pemerintahan di dunia, bahkan negaranegara demokrasi Barat, di AS, di Perancis dsb - yang dapat mengaku sebagai pemerintahan rakyat seperti pemerintahan kita. Karena di negara-negara demokrasi Barat sejumlah orang pergi ke kotak-kotak suara dan memberikan suara mereka. Umpamanya, sebuah partai berkata kepada Zaid bin Amr, berilah suara. Iapun, begitu kertas suaranya sudah ia masukkan ke kotak suara, habislah perkara. Para pemilihpun, kadang kala mencapai 37 persen dari para pemilik syarat pilih. Umpamanya di dalam pemilihan terakhir di AS, sekitar 37 persen para pemilih, dan tidak pernah lebih daripada itu. Tidak pernah mencapai 67 persen dan 70 persen sebagaimana kalian lihat di dalam pemilihan presiden dan parlemen. Baik parl! emen ke 5 maupun ke 6. Akan tetapi di Iran tidak seperti itu. Disini rakyat mencintai para pejabat. Hubungan diantara mereka adalah hubungan cinta kasih. Bukan sekedar hubungan pemberian suara. "Di sepanjang 70 dan beberapa tahun pemerintahan Uni Soviet, sampai sebelum pemilihan Rusia akhir-akhir ini, satu pun pemilihan umum tak terjadi. Tetapi kita selama 21 tahun, telah melaksanakan 21 kali pemilihan. Apakah keduanya dapat dibandingkan? Di sana,

kehidupan para anggota tingkat proletariat adalah kehidupan Istana Kremlin. Akan tetapi di sini, kita duduk di atas karpet. Dan kita berbangga dengan itu. Di sini, para pejabat negara - mereka yang mampu - tekad dan kebanggaan mereka ialah bahwa mereka selalu mendekatkan diri kepada kehidupan rakyat. Di dalam pemerintahan Uni Soviet, ketika Stalin berkuasa, selama dia belum mati, tak ada satupun jalan lain untuk mengabadi kediktatorannya. 30 tahun ia berkuasa, sampai pada akhirnya, oleh karena suatu peristiwa atau tanpa peristiwa, atau karena meminum minuman keras Rusia, ia meninggal. Kemudian taruhlah, Khruschev datang. Setelah itu Breznev pun berkuasa. Setelah 18 atau 19 tahun memerint! ah, Breznev pun meninggal, dan orang lain datang berkuasa. Pemerintahan ini, dengan pemerintahan RII yang berdiri di atas pemilihan-pemilihan dan pendapat rakyat, dan setiap 4 tahun mengadakan pemilihan sekali untuk parlemen dan untuk presiden, sangat berbeda. "Di tingkat kepemimpinan tertinggi (rahbari)-nya pun lebih tinggi daripada mereka, karena kepemimpinan tertinggi di Iran adalah kepemimpinan maknawi yang memiliki komitmen maknawi. Para ahli yang duduk di Dewan Kepemimpinan serta rakyat berharap darinya agar tidak melakukan satu pun perbuatan dosa. Jika dia berbuat dosa, maka tanpa perlu dijatuhkan dia sudah terjatuh dengan sendirinya. Kata-katanya tidak lagi bersifat hujjah baik berkenaan dengan dirinya maupun rakyat. Pemerintahan yang sedemikian fleksibel, hidup, aktif, dan berkembang, dapatkan diperbandingkan dengan pemerintahan yang tertutup, kaku, diktator, dan proletariat? "Kekeliruan mereka berikutnya berkenaan dengan negara kita, Iran adalah negara yang satu. Bahkan bagian-bagian tertentu yang pada beberapa abad silam telah terpisah dIran, jika ditanya lubuk hati mereka, mereka ingin bergabung dengan kita. Hati mereka ingin bersatu dengan induk mereka. Ini dimana dan Uni Soviet dimana? Sepuluh atau sebelas negara disatukan dengan peniti atau dengan cambuk. Lalu dikatakan semua itu sebagai satu negara. Maka jelas sekali, setelah cambuk tak lagi berperan, pecahlah mereka...." "Tentu terdapat sejumlah orang berusaha memperkecil peranan penting faktor persatuan bangsa Iran yang kokoh, yaitu iman Islami. Akan tetapi mereka tidak akan mampu, karena negara dan bangsa Iran adalah satu padu. Memang, keterpaduan ini adalah karena sejarah, geografi, adat istiadat, dan kebudayaan. Namun yang terpokok ialah karena agama dan

masalah kepemimpinan yang telah menyatukan bagian-bagian bangsa ini, dan semuanya merasakan keterpaduan ini. "Pemimpin tertinggi memiliki tanggungjawab. Tanggungjawab pemimpin ialah menjaga pemerintahan dan revolusi. Pengelolaan negara berada di atas pundak kalian, saudarasaudara para pejabat. Setiap kali mengelola negara ini di tempatnya masing-masing. Sedangkan tugas utama pemimpin ialah mengawasi agar jangan sampai terjadi ketidak harmonisan di dalam bagian-bagian yang ada sehingga tidak akan muncul ancaman bagi pemerintahan, Islam, dan revolusi. Dimana pun ketidak harmonisan ini muncul, disitulah kehadiran pemimpin. Kepemimpinan ini bukan pribadi tertentu, bukan seorang manusia, seorang santri, seorang Ali Khamenei, ribuan Ali Khamenei lain. Bukan demikian. Kepemimpinan ini adalah sebuah topik, kepribadian, sebuah hakikat yang bersumber kepada iman, cinta, dan semangat rakyat. Ia adalah sebuah kehormatan. Ratusan orang seperti Ali Khamenei telah mengorbankan jiwa dan kehormatannya di atas jalan hakikat ini. Saya ini tidak berarti apa-apa. Imam kita yang mulia pun (Imam Khomaini) yang merupakan pemimpin setiap hati bagi bangsa ini dalam arti yang sebenarnya- juga demikian. Beliau pun bersedia mengerahkan kemuliaannya demi mempertahankan pemerintahan dan kepemimpinan pemerintahan ini. "Saya meyakini bahwa reformasi adalah sebuah realitas yang urgen dan mesti dilaksanakan di negara kita. Reformasi di negara kita dilakukan bukanlah karena faktor keharusan untuk membebani seorang pejabat tertentu dengan tuntutan-tuntutan yang keras supaya melakukan reformasi dalam segala bidang.Bukan demikian. Reformasi adalah bagian dari esensi revolusi dan keagamaan sistem pemerintahan kita. Kalau reformasi tidak dilakukan untuk melakukan pembaharuan demi pembaharuan, pemerintahan kita akan rusak dan berjalan tanpa arah. Reformasi adalah sebuah kewajiban. Adapun dimanakah sasaransasaran reformasi, ini adalah pembahasan lain. Reformasi pada prinsipnya adalah sebuah pekerjaan yang wajib dilaksanakan. Kalau reformasi tidak dilakukan, niscaya kita terbentur pada hasil-hasil yang sebagian sangat menyulitkan kita seperti yang ada sekarang. Harta negara akan terbagi secara tidak adil, orang-orang yang baru menjamah harta kekayaan di sana sini akan mendominasi sistem ekonomi masyarakat tanpa belas kasih, kemiskinan akan merajalela, kehidupan akan sulit, sumber-sumber kekayaan negara akan digunakan secara tidak benar, akal budi akan kabur, dan pikiran yang masih tersisa tidak bisa digunakan secara maksimal. Namun, jika reformasi dilaksanakan, maka puluhan

malapetaka seperti ini tidak akan muncul. Dengan demikian, masalah pertama ialah bawa reformasi adalah suatu keharusan. Masalah kedua ialah keharusan untuk menentukan definisi reformasi yang jelas untuk kita dan masyarakat agar kita bisa dengan mudah memberikan gambaran tentang tujuan akhir reformasi yang hendak kita capai dan agar semua orang tahu manakah tujuan yang akan mereka gapai." "Gorbachev mengetahui adanya berbagai kecacatan dan problematika, tetapi masalahnya dia tidak memiliki konsep yang jelas tentang apa apa yang harus dia lakukan, dan kalau toh dia memilikinya masyarakat tidak mengetahui konsep itu. Atas dasar ini, kalau reformasi tidak diberi definisi yang jelas, niscaya model-model lain yang dipaksakan kepada kita akan dominan, persis seperti yang terjadi di Uni Soviet karena mereka (masyarakat Uni Soviet) tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan sehingga mereka mencontoh model-model di Barat secara membuta. Pemimpin agung kita (Imam Khomaini), dengan kepiawaiannya telah menemukan titik-titik kelemahan ini pada mereka. Karena itu dalam suratnya kepada Gorbachev, Imam Khomaini telah mengingatkan masalah ini. Beliau menuliskan, Jika Anda ingin menyelesaikan kesulitan ekonomi sosialisme dan komunisme dengan cara berlindung kepada pedoman kapitalisme Barat, maka penderitaan masyarakat Anda bukan hanya tidak akan ter! obati, tetapi bahkan akan datang orang-orang lain untuk menebus kesalahan Anda. Sebab sekarang ini, kendati marxisme memang membentur kebuntuan dalam sistem-sistem ekonomi dan sosialnya, namun dunia Barat juga membentur keadaan yang sama tetapi dalam bentuk yang lain. Karena inilah saya berkali-kali mengatakan bahwa Imam Khomaini adalah seorang filsuf yang hakiki. Di saat hiruk pikuk media massa dunia sedang berlangsung, Imam Khomaini telah memperlihatkan titik prinsipal tersebut. Sekarang ini, sebagian pejabat, terutama Presiden kita yang terhormat, sudah berkali-kali menegaskan bahwa reformasi kita adalah reformasi yang Islami dan sesuai dengan nilainilai revolusi, dan tujuan kita ialah mencapai madinatunnabi." "Masalah ketiga ialah reformasi harus dikemudikan oleh satu pusat yang kokoh dan sabar agar keadaan bisa dikontrol. Betapa banyak pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan dengan baik dan aman dalam kurun waktu 10 tahun, tetapi jika dilakukan dalam masa 2 tahun malah akan menghasilkan berbagai kerusakan yang tidak bisa diperbaiki. Ibarat kendaraan yang dikebut di jalanan yang sulit dan berbahaya, aneh jika kendaraan ini tidak menabrak atau mengalami kecelakaan. Jadi harus ada sentral yang brialian, kuat, dan sabar agar gerakan yang hendak dilakukan tidak sampai melebihi batas kecepatan, dan agar

semua pekerjaan bisa dilaksanakan dengan pertimbangan yang benar. Di Uni Soviet, ketika pekerjaan ini mulai dilakukan, terbukalah pintu-pintu perfilman, buku-buku, surat-surat kabar, mode-mode pakaian, dan model-model Barat lainya. Keadaan sedemikian ini sangat membahayakan." "Kemudian Anda perlu memperhatikan peranan media massa. Media massa memiliki tanggungjawab. Media massa memiliki peranan vital. Pembahasan tentang surat kabar dan pers bukanlah pembahasan tentang kebebasan. Sebagian orang tidak menghendaki adanya makna kebebasan untuk kita. Namun kita tahu arti kebebasan. Jantung kita sendiri juga berdetak untuk kebebasan. Yang dimaksud dengan kebebasan tentunya ialah kebebasan berekspresi dan berpikir. Toh demikian, jika Anda, sesuai dengan tugas Anda, menutup sebuah toko yang memperdagangkan barang-barang selundupan, maka si pemilik toko tidak berhak mengatakan bahwa Anda menentang kebebasan untuk bekerja dan mencari penghasilan. Duduk persoalannya bukanlah kebebasan bekerja dan mencari penghasilan. Bekerja dan mencari penghasilan memang bebas, tetapi yang dilarang ialah penjualan barang selundupan. Jadi duduk persoalan bukanlah kebebasan berpendapat dan berpikir. Berpendapat dan berpikir memang bebas! , tetapi yang dilarang ialah tindakan meracuni dan menyesatkan pikiran orang lain, apalagi di saat situasi negara sedang sensitif seperti sekarang ini. Saya sudah berkali-kali mengatakan kepada para pejabat urusan propaganda negara, di saat Anda memiliki kemampuan dan kekuatan untuk melawan serangan propaganda musuh, maka orang yang paling banyak terjun di bidang pengembangan pers, surat kabar, buku, film, dan lain sebagainya adalah saya sendiri. Tapi coba Anda katakan, sudah berapa filmkah yang Anda produksi untuk mengimbangi film-film yang menggoyang dasar-dasar kebudayaan, keyakinan, agama, spirit revolusi, dan semangat pengorbanan dan syahadah masyarakat. Inilah yang membuat saya merasakan adanya bahaya. Kita tentunya harus berpikir mengenai pekerjaaan prinsipal dan jangka panjang kita untuk memproduksi apa yang membawa kebaikan. Tetapi, hingga kebaikan itu datang, saya tidak bismenerima datangnya banjir lumpur kotor yang akan menenggelamkan para pemuda, kaum rema! ja, dan berbagai lapisan masyarakat. Orang-orang yang mendapat sorakan dan dididik oleh musuh menggunakan segala cara untuk menghadapi ideologi revolusi Islam, dan kalau seseorang yang menentang mereka, maka orang itu akan segera dituding dan difitnah. Mereka katakan bahwa di sini tidak ada kebebasan, tidak ada logika, dan tidak ada birokrasi negara. Anda harus memperhatikan peranan media massa. Ini sangat penting.

"Masalah keempat ialah tentang pemeliharaan struktur UUD di bidang reformasi. Dalam UUD, yang paling ditekankan ialah peranan Islam dan keharusan Islam untuk dijadikan sumber dan pedoman bagi UU, pembentukan struktur, dan penentuan pilihan.Struktur UUD harus dipelihara secara cermat.Coba Anda perhatikan bagaimana musuh memperlakukan UUD kita. Mereka menolak bagian dari konstitusi kita dan menerima bagian lainnya. Di satu waktu mereka berpegangan kepada konstitusi kita, tetapi di lain saat mereka mengutuk konstitusi kita. UUD adalah sumpah agung nasional, keagamaan, dan revolusi kita. Islam yang merupakan segalanya bagi kita mengkristal dalam UUD dasar kita. Pasal keempat UUD kita telah menentukan segala sesuatu. Kalau dalam UU biasa dan bahkan dalam bagian lain dalam UUD sendiri terdapat

Tradisi Tasyayyu Betapa banyak kenikmatan yang telah Allah limpahkan kepada kita sehingga kita tidak akan mampu menghitungnya. Dan setiap kenikmatan harus disyukuri sesuai dengan bentuk dan kadar kenikmatan itu. Semakin besar dan berarti sebuah kenikmatan, maka semakin besar tanggung jawab kita untuk mensyukurinya. Dari sekian banyaknya kenikmatan Allah, kenikmatan yang paling besar adalah kita diperkenalkan olehNya pribadi Nabi saww dan Ahlul baitnya, sehingga kita, karena karunia Allah, mengenal mereka dan berusaha untuk mengikuti mereka. Pada akhir surat al Takaatsur, disebutkan bahwa manusia kelak akan dimintai pertanggung jawabannya atas kenikmatan-kenikamatan yang telah Allah berikan kepadanya, Kemudian kalian benar-benar akan dimintai pertanggungan jawaban pada hari itu tentang kenikmatan (naiim) .

Salah satu bentuk kenikmatan dari Allah yang besar dan sekaligus akan dipertanyakan oleh-Nya kepada kita adalah kecintaan kepada Rasulullah Saww. dan Ahlul baitnya. Dalam tafsir al Mizan dikutip sebuah riwayat dari Abu Abdillah as. Beliau berkata, Umat ini akan dipertanyakan tentang apa yang telah Allah berikan kepada mereka berupa kehadiran Rasul-Nya dan Ahlil baitnya .

Kehadiran Nabi dan keluarganya yang suci merupakan karunia Allah yang paling besar.

Untuk itu, tugas umat manusia adalah memelihara dan menjaga karunia ini dengan sebaik mungkin. Memelihara dan menjaga karunia ini dengan mengikuti ajaran-ajaran mereka, mengikatkan diri dan meleburkan segenap wujud kita ke dalam wujud mereka. Tanpa itu, kita belum menjaga dan memelihara kenikmatan yang besar itu. Salah satu bentuk pengikatan dan peleburan diri dengan Nabi dan Ahlul baitnya ialah memahami dan melibatkan diri dalam tradisi para pecinta dan pengikut Ahlul bait yang sudah berjalan puluhan atau ratusan tahun.

Sebelum kami jelaskan beberapa bentuk tradisi para pengikut Ahlul bait as., ada sebuah pengantar yang perlu diketahui, yaitu bahwa ketika seseorang secara konsisten mengikuti sebuah agama atau sebuah aliran, maka semua ajaran agama yang ia lakukan menjadi sebuah tradisi dan kebiasaan baginya. Demikian pula sebuah komunitas dari sebuah agama akan mempunyai tradisi keagamaan yang sama. Kita sebagai pencinta Ahlul Bait berusaha untuk terus mengikuti mereka. Kita tidak ingin keluar dari pesan-pesan Ahlul Bait a.s. Ajaran-ajaran Ahlul bait ini jika kita jalankan terus menerus maka dengan sendirinya akan mengkristal dan menjadi sebuah tradisi.

Setiap agama, aliran dan mazhab mempunyai tradisi tersendiri. Kita juga mempunyai tradisi Ahlul Bait, tradisi tasyayyu. Kita tidak bicara apa dasar dari tradisi ini. Bisa saja dasarnya adalah ayat Quran atau hadis Nabi dan para Imam mashum atau, boleh jadi, keterangan para ulama. Yang penting segala perbuatan yang kita kerjakan apapun dasarnya, selagi tidak melanggar dan menyimpang dari prinsip-prinsip agama, maka menjadi sebuah tradisi.

Kita sebagai komunitas tasyayyu, pecinta Ahlul Bait as.yang baru dan masih muda, harus berjalan menuju sebuah tradisi tasyayyu, agar kita tidak terpisah dari komunitas Syiah lainnya yang ada di pelbagai belahan dunia. Banyak tradisi tasyayyu yang harus kita kembangkan dan kita pertahankan. Memang usia tasyayyu kita belum tua. Kita dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan tradisi yang non tasyayyu, kemudian kita pindah ke tasyayyu, sehingga banyak dari tradisi ke-syiah-an yang belum kita jalankan, bahkan belum kita ketahui. Kita belum akrab dengan tradisi tasyayyu.

Kita semua ini mempunyai latar belakang tradisi keagamaan yang berbeda-beda. Di antara

kita ada yang mempunyai latar belakang dari golongan yang begitu konsern dengan Quran dan Sunnah. Mereka mempunyai tradisi, setiap kali menerima informasi tentang ajaran agama maka mereka mempertanyakan apa dalilnya dari Quran atau hadis. Golongan ini biasanya diwakili oleh Persis. Mereka mempunyai tradisi ketika mendapatkan sebuah informasi keagamaan, maka akan bertanya apa dalilnya, apa Hadisnya. Apapun informasi keagamaan yang mereka terima maka dia secara spontanitas menanyakan apa dasarnya, apa dalilnya. Ini tradisi kaum Persis.

Dari kita juga ada yang berasal dari kelompok haroqiyyin. Mereka mempunyai tradisi misalnya baiat. Ketika dia bergabung dengan sebuah kelompok tertentu, maka dia akan bertanya, Siapa imam kita ?, Bagaimana berbaiat dengannya ? Berapa infaq yang harus diberikan ?. Ini adalah tradisi sejumlah golongan dari kaum muslimin, yang sebagian dari mereka masuk ke tasyayyu.

Ada juga dari kita yang sebelum ke tasyayyu termasuk ke dalam kaum tradisionalis, seperti NU atau Habaib yang mempunyai tradisi tersendiri. Jadi kita ini adalah komunitas yang heterogen dan berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda., Kita sekarang kumpul dalam sebuah komunitas yang baru, wadah yang baru yaitu Syiah. Kita sebagai pengikut Ahlul bait mempunyai tradisi tersendiri yang tidak sama dengan tradisi-tradisi di luar tasyayyu. Seringkali dari kita membawa tradisi lama ke dalam tradisi tasyayyu, sehingga terjadi benturan-benturan dan ketidak sesuaian - ketidak sesuaian antara perbuatan kita dengan tradisi tasyayyu yang benar. Semua ini harus dihilangkan. Kita harus berjalan dengan bahtera Nuh dan meninggalkan tradisi-tradisi di luar tasyayyu dan masuk ke dalam tradisi yang baru. Tradisi tasyayyu sudah bertahan puluhan tahun, malah ratusan tahun yang diwariskan oleh para ulama Ahlul Bait a.s. Tradisi tasyayyu terkadang berdasarkan pada al Quran dan sunnah nabi dan ahlul bait, dan terkadang berdasarkan pada sirah uqalaiyyah dan sirah mutasyarriah.

Salah satu contoh dari tradisi yang bertahan di kalangan tasyayyu adalah masalah marjaiyah dan taqlid. Dalam tradisi tasyayyu, seseorang ketika ingin mengikuti ajaran Ahlul Bait, maka terbentang baginya dua pilihan- sebenarnya tiga pilihan, tapi di sini dijelaskan dua saja-, ijtihad atau taqlid, dan tidak ada pilihan lain. Tradisi ini tentu

bertentangan dengan tradisi sejumlah kaum muslimin yang mengharuskan setiap individu untuk berijtihad, atau minimal ber-ittiba. Tradisi ini bertentangan seratus delapan puluh derajat dengan tradisi tasyayyu yang mengharuskan taqlid bagi sejumlah orang. Taqlid artinya menerima fatwa dari seorang ulama tanpa harus bertanya, Apa dasar fatwanya ?. Bertaqlid termasuk tradisi tasyayyu. Dalam hal ini, tidak akan dijelaskan apa dasar taqlid itu. Dasar taqlid bisa diambil ayat Quran atau hadis atau sirah uqalaiyyah. Contoh lain dari tradisi tasyayyu adalah dalam hal memilih marja ,atau mengetahui seseorang itu mujtahid atau bukan mujtahid. Imam Mahdi a.s. mengatakan, Adapun dalam menghadapi masalah-masalah kontemporer yang bermunculan setelah kegahibanku, maka kembalikanlah kepada para perawi hadis kami.

Maksud dari para perawi di sini adalah para ulama faqih. Namun, seseorang itu dikatakan faqih bagaimana ? atau kapan seorang itu dianggap telah manjadi faqih ?. Dalam tradisi tasyayyu sekarang ini, seseorang ketika ingin menjadi mujtahid mesti belajar beberapa tahun. Dalam tempo itu, dia harus menyelesaikan sejumlah kitab fiqih dan ushul fiqih tertentu, dari kitab yang paling rendah, menengah sampai yang paling pelik sekali. Apa dasar dari ketentuan ini ? Apakah ada hadis dari Imam mashum yang menentukan kitab yang harus diselesaikan ?. Tentu tidak ada dasar tektual dari hadis, apalagi ayat Quran. Yang penting kata Imam Mahdi a.s., bahwa ketika aku gaib tanyalah segala permasalahan keagamaan kepada para ulama faqih yang menguasai hadis-hadis kami. Para ulama faqih ini disebut pula mujtahid. Tetapi itu menjadi bagian dari tradisi tasyayyu yang sudah berjalan puluhan tahun.

Juga misalnya, dalam memilih marja, ada kode etiknya yang sudah menjadi tradisi. Yaitu dengan tiga cara, seperti yang disebutkan oleh Imam Khomeini dalam Tahrir al wasilah. Pertama, kita menguji seorang mujtahid itu ,apakah dia itu alam atau tidak alam. Kedua, dengan kesaksian dua orang mujtahid yang adil. Ketiga, dengan berita yang terseber. Ini adalah tradisi dalam memilih mujtahid untuk dijadikan marja. Tradisi ini berlaku sudah sejak puluhan tahun. Orang Syiah mesti paham masalah ini, masalah Taqlid dan marjaiyyah. Tidak sembarangan dia mengikuti sebuah hadis secara langsung dari kitabnya. Misalnya , ada sebuah buku yang berjudul Fiqih Lima Mazhab karangan Allamah Jawad Mugniyah. Ada seorang dari kita setelah tasyayyu, mengikuti fiqih yang tercantum dalam

kitab Fiqih Lima Mazhab itu. Jelas hal demikian menyalahi tradisi tasyayyu, dan ibadahnya tidak sah. Atau mengikuti fatwa yang tercantum dalam kitab Fiqih Jafari. Cara ini juga menyalahi tradisi tasyayu.

Jadi ada kode etik untuk bertasyayu, tidak sembarangan. Tasyayyu mempunyai tradisi yang baku, dan tidak bisa dilanggar begitu saja. Ini yang harus kita pahami dengan baik. Banyak dari kita yang tidak memahami hal demikian. Itu wajar, karena latar belakang kita yang berbeda. Tapi insya Allah, dengan perjalanan waktu tradisi tasyayyu akan makin kita pahami dengan baik dan akan kita jalankan seperti pendahulu kita dari para pencinta Ahlul Bait a.s. Jadi tradisi taqlid dan marjaiyyah adalah tradisi yang bertahan sudah lama puluhan tahun.

Untuk merobah tradisi ini, itu tidak mudah dan jangan sembarangan. Tidak dengan mudah, seseorang merobah tradisi tasyayyu, kecuali orang itu mempunyai kapasitas ilmu yang cukup dan diakui. Saya contohkan, dalam tradisi tasyayyu proses untuk menjadi mujtahid mengalami perobahan-perobahan. Misalnya beberapa tahun yang lalui, seseorang ketika hendak menjadi mujtahid, maka disamping menguasai bahasa Arab dan logika dengan baik, dia harus belajar kitab Ushul fiqih yang paling sederhana, yaitu kitab Maalimuddin, kemudian Al Rosaail. Setelah itu, masuk bahtsul khorij (belajar tentang tata cara, sekaligus praktek, mengambil hukum dari sumber-sumbernya bersama seorang mujtahid atau marja). Kemudian proses ini, mangalami perubahan. Yaitu, setelah mempelajari kitab Maalimuddin tidak bisa langsung ke al Rosail, dia harus membaca kitab al Kifayah dulu. Kemudian pada masa Syech Al Mudofar ada tambahan, yaitu membaca kitab Ushul fiqih al Mudhoffar setelah kitab Maalimuddin dan sebelum kitab al Kifayah. Yang merobah ini adalah para ulama yang diakui keilmuannya oleh ulama lainnya.

Yang terkini, adalah Ayatullah Muhammad Baqir Shadr yang merombak kitab-kitab Ushul fiqih tersebut dan menggantikannya dengan kitab yang beliau tulis, yaitu kitab al Halaqoot al Tsalaats. Menurutnya, untuk menjadi mujtahid tidak usah membaca kitab Maalimuddin yang merupakan kitab kuning yang lama, yang tidak relevan dengan kondisi sekarangi, juga kitab-kitab Ushul fiqih lainnya. Tetapi cukup dengan kitab tulisannya tersebut lalu baranjak ke Bahtsul khorij. Ini adalah terobosan dari Baqir Sadr yang merombak tradisi tasyayyu

untuk mewujudkan mujtahid. Orang semacam beliau, memang, mempunyai kelayakan dan kompetensi untuk melakukan hal itu. Meskipun juga ada yang kontra terhadap terobosan Baqir Sadr itu,. Namun, yang kontra pun mengakui kehebatan beliau.

Jadi untuk merobah tradisi ketasyayuan tidak sembarangan. Tidak bisa seseorang bertaqlid kepada seorang marja Fulan, misalnya, dengan alasan fatwa-fatwa marja itu kontroversial dan berani. Atau mengatakan, saya berpindah kepada mujtahid fulan karena ada kesamaan selera. Berpindah kepada seorang marja hanya karena alasan seperti itu menyalahi tradisi tasyayyu, dan juga tidak dibanarkan.

Atau malah menentukan seorang mujtahid karena dia orang alim dan banyak karyakaryanya. Menentukan Fulan itu mujtahid atau bukan mujtahid bukan karena banyak karya-karyanya. Sebenarnya, untuk menentukan seseorang itu mujtahid atau bukan mujtahid bukan tugas kita. Kita tidak mempunyai kapasitas atau kompetensi untuk menilai seorang itu mujtahid atau bukan mujtahid. Itu tugas para mujtahid yang lain. Dalam tradisi tasyayyu ada caranya. Tidak hanya karena dia pakai sorban atau banyak karyanya, maka dia mujtahid, atau karena fatwa seorang mujtahid itu beran dan sesuai dengan selera saya, maka saya bertaqlid kepadanya. Itu jelas menyalahi tradisi tasyayyu .

Ayatullah Baqir Shadr yang demikian jeniusnyapun ditentang oleh banyak orang. Padahal dia mujtahid pada usia 21 tahun. Untuk merobah tradisi yang sudah baku, telah berjalan bertahun-tahun, tidak bisa dirobah begitu saja. Ini yang perlu dipahami oleh kita, bahwa kita dalam bertasyayu mempunyai tradisi ketasyayuan yang harus dijaga dengan baik. Semua manusia, khususnya kaum muslimin meyakini wujudnya Allah swt., tetapi pengetahuan atau marifah mereka tentang-Nya benar atau tidak, wallahu alam. Pengetahuan tentang Tuhan yang belum benar bukan fondasi pertama dari agama. Fondasi pertama agama adalah marifatullah yang benar. Itulah yang dimaksud oleh Allah SWT, bahwa seseorang yang bermarifah dengan benar sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ali as adalah caraya untuk mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT.

Jadi dengan tiga perkara manusia akan mendapatkan kemuliaan dari Allah SWT. Yang mulia di sisi Allah adalah orang yang bertakwa, berjihad dan bermarifah kepada Allah

SWT. Tanpa tiga ini maka seseorang tidak mungkin mendapatkan kemuliaan dan kehormatan dari Allah SWT.

Kemudian sepanjang sejarah manusia dari Nabi Adam as sampai hari ini dan hari-hari yang akan datang terus sampai hari kiamat, pasti ada setiap zaman manusia-manusia yang mulia di sisi Allah SWT. Dalam sebuah ungkapannya yang indah sekali Imam Ali as mengatakan, Senantiasa Allah SWT mempunyai manusia-manusia yang mana Allah membisikkan kepada mereka dengan bisikan-bisikanNya.. Allah Maha Bijaksana dan Maha Adil memberikan kesempatan kepada seluruh manusia untuk meraih kemuliaan Illahi. Tidak hanya untuk satu generasi manusia saja. Tidak hanya untuk orang-orang yang hidup pada zaman Nabi saja.

Selain para Nabi as. dan Imam Ahlulbait a.s. yang telah memperoleh kemuliaan dan kehormatan di sisi Allah SWT, juga sejumlah wanita, dan kita sekarang memperingati hari kelahiran dan wafatnya Sayyidah Fathimah Az-Zahra as, yang telah mendapatkan hal yang sama atau hampir sama dengan mereka. Dalam Quran, Allah menjelaskan kepada kita dua sosok wanita yang tinggi kedudukannya di sisi Allah SWT.; Sayyidah Asiyah, istri Firaun dan Sayyidah Maryam binti Imran. Kedua wanita ini, sebagaimana yang Allah sebutkan nanti, merupakan teladan dan model yang baik tidak hanya untuk wanita mukminah saja, tetapi untuk seluruh kaum mukminin, laki-laki maupun perempuan. Allah swt. berfirman, Allah memberikan contoh untuk orang-orang yang beriman, istri Firaun ketika ia berkata, Ya Tuhan, bangunkan untukku di sisi-Mu rumah di surga, dan selamatkan aku dari Firaun dan kelakuannya dan selamatkan aku dari orang-orang yang dhalim. Dan Maryam putri Imron yang telah menjaga kehormatannya, lalu Kami tiupkan padanya dari Ruh-Ku. Dan Dia telah membenarkan kalimat-kalimat Tuhan-Nya dan kitab-kitab-Nya, dan Dia termasuk orang-orang yang tunduk .( QS : al Tahrim 11-12 ) .

Setelah keterangan di atas tadi, mari kita lihat sosok pribadi Sayyidah Fathimah Zahra as. Beliau adalah wanita teladan, bukan teladan wanita. Dua kata yang berbeda. Beliau adalah wanita teladan untuk semuanya, baik laki-laki maupun perempuan, bukan teladan wanita, yang hanya untuk wanita saja. Lantas mengapa Sayyidah Fathimah Az Zahra as sedemikian rupa dipuji oleh Allah SWT dan Rasulullah saww.? Mengapa beliau mendapatkan kemuliaan yang sedemikian tinggi sehingga dia menjadi wanita teladan untuk kaum

mukmin

dan

mukminah

?.

Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa untuk mendapatkan kemuliaan dari Allah Taala ada tiga cara; takwa, jihad dan marifah. Sekarang mari kita lihat dari keterangan-keterangan hadis dan kehidupan Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. Pada kesempatan ini akan dijelaskan beberapa riwayat tentang ketakwaan Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. sehingga beliau menjadi wanita penghulu alam semesta (sayyidatu nisaai al aalaminn). Sebelum menjelaskan tentang tiga hal itu, kami ingin menjelaskan beberapa sifat atau julukan yang disandang oleh Sayyidah Fathimah Az Zahra as.

Yang pertama adalah al-Batul. Beliau digelari dengan sebutan al-Batul. Apa arti al-batul ?, Ibnu al Mandzur meriwayatkan bahwa Nabi saww. ditanya tentang sebab dinamainya al batul?, beliau menjawab, Karena dia tidak sama dengan perempuan zamannya dan perempuan umat manusia dari segi kesuciannya, kemuliaannya, agamanya dan kedudukannya. digelarinya Dikatakan juga, karena dia telah dengan melepaskan diri dari dunia menggantungkannya hanya untuk Allah SWT. Itulah salah satu sebab dinamakan atau Fathimah Al-Batul.

Juga beliau digelari dengan al-Muhaddatsah, orang yang dapat bisikan dari malaikat. Memang setelah Rasulullah Saww meninggal dunia, tidak ada lagi wahyu turun. Namun ilham atau bimbingan dari Allah Taala terus berlaku sampai akhir zaman, tetapi tidak berbentuk wahyu. Kita mengenal istilah ilham atau tahdits atau muhaddatsah. Tiga kata ini punya arti yang sama yaitu mendapatkan bimbingan berupa bisikan dari Allah SWT. Perbedaannya dengan wahyu adalah kalau wahyu bimbingan dari Allah Taala yang diberikan kepada para Nabi untuk disampaikan kepada manusia dan berbentuk ajaran atau syariat. Sementara ilham atau tahdits adalah bimbingan dari Allah SWT. tidak untuk disampaikan kepada manusia dan tidak berbentuk ajaran. Wahyu berhenti dengan wafatnya Rasulullah Saww. Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. adalah figur wanita yang mendapatkan bisikan atau bimbingan langsung dari Allah SWT.

Ada sebuah Hadis Al Ishak bin Jafar bin Muhammad bin Isa bin Zaid bin Ali, dia berkata, Aku mendengar Abu Abdillah Jafar ash-Shadiq a.s. berkata, Fathimah dipanggil dengan sebutan muhaddatsah karena para malaikat turun kepada Fathimah Az-Zahra a.s. dari

langit. Para malaikat itu membisiki Fathimah Az Zahra as sebagaimana mereka membisiki Maryam putri Imran. Malaikat berkata kepada Fathimah, Wahai Fathimah sesungguhnya Allah telah memilih anda, telah mensucikan anda dan mengangkat anda di atas wanitawanita alam semesta ini. Wahai Fathimah, taatlah kepada Allah SWT, bersujudlah, rukulah bersama orang-orang yang ruku.

Para malaikat disamping berbisik dengan Fathimah, juga Fathimah berbincang-bincang dengan para malaikat. Pada suatu malam Fathimah Az Zahra as berkata kepada para malaikat, Bukankah wahai para malaikat, wanita yang diutamakan atas seluruh wanita alam semesta adalah Maryam binti Imran?. Wahai Fathimah kata para malaikat, Sesungguhnya Maryam adalah pemimpin wanita zamannya. Tetapi Allah SWT menjadikan anda penghulu wanita zamanmu dan zaman Maryam serta seluruh wanita awal dan akhir. Jadi ada dialog antara Sayyidah Fathimah Az Zahra as dengan para malaikat. Oleh karena itu Sayyidah Fathimah digelari Al-Muhadasah. Demikian pula Sayyidah Zainab as putri dari Sayyidah Fathimah, seorang perempuan yang muhaddatsah, yang mendapatkan bisikan dari para malaikat. Inilah beberapa gelar dari Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. Tentu kemuliaan yang beliau raih dikarenakan tiga hal tadi; takwa, jihad dan pengetahuan tentang Allah SWT.

Ada beberapa hadis tentang ibadahnya Sayyidah Fathimah Az Zahra a.s. Disebutkan dari Imam Hasan bin Ali a.s. Beliau berkata, Aku lihat ibuku Fathimah a.s. bangun di tengah malam di mihrabnya pada malam Jumat. Beliau senantiasa ruku, sujud sampai cahaya subuh muncul. Aku mendengarkan ibuku Fathimah mendoakan kaum mukmin dan mukminat dan menyebutkan nama-nama mereka. Beliau banyak mendoakan mereka kaum mukmin dan mukminat, tetapi beliau tidak mendoakan untuk dirinya sendiri. Aku berkata kepada ibuku, Wahai ibuku mengapa anda tidak mendoakan dirimu sendiri, sebagaimana mendoakan orang lain?. Wahai putraku, kata Fathimah, tetangga dulu baru penghuni rumah (al jaaru tsumma al daaru).

Juga ada Hadis yang lain dari Muhammad al Baqir bin Ali al Sajjad bin Husein bin Ali a.s. Pernah Rasulullah saww mengutus Salman al Farisi untuk menjumpai Sayyidah Fathimah Az Zahra. Salman menjelaskan, ketika aku sampai di rumah Fathimah, aku berdiri di depan

pintu Fathimah lalu aku mengucapkan salam kepada Fathimah. Aku mendengarkan suara Fathimah membaca Al-Quran di depan, sementara suara batu untuk penggiling gandum di belakang rumahnya. Salman menyampaikan ini kepada Rasulullah saww tentang kejadian yang menarik itui. Rasulullah mendengarkan dari Salman tentang Fathimah, lalub beliau berkata, Wahai Salman, putriku Fathimah Az-Zahra a.s. Allah telah memenuhi hatinya dan raganya dengan iman sampai ubun-ubunnya. Dia khusyu atau menyibukkan dirinya untuk taat kepada Allah SWT, sehingga Allah mengirim untuknya malaikat yang namanya Jukoil, atau Jibril namanya. Allah mengutus malaikat Jibril kepada Fathimah untuk memutarkan gilingan untuk menggiling gandum tersebut. Allah telah memberikan kepadanya bantuan dari malaikat.

Itulah Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. yang telah mendapatkan kehormatan dari Allah SWT karena ketakwaannya. Tentu banyak lagi Hadis-Hadis tentang Sayyidah Fathimah Az Zahra as, sebagai akhir tentang ibadah Sayyidah Fathimah atau ketakwaannya. Pernah Rasulullah saww bertanya kepada Ali bin Abi Thalib a.s. Wahai Ali, bagaimana engkau mendapatkan istrimu Fathimah? Imam Ali menjawab, Ya Rasulullah istriku Fathimah sebaik-baiknya orang yang membantuku menyembah Allah SWT Itulah komentar Imam Ali tentang Sayyidah Fathimah a.s., istri yang membantu suaminya untuk taat, tidak untuk bermaksiat. Juga Rasulullah bertanya kepada Fathimah, Wahai Fathimah apa yang engkau dapatkan dari suamimu Ali ? Jawabannya, Ia sebaik-baiknya suami yang bertanggung jawab. Inilah contoh suami istri yang ideal. Istri yang membantu suaminya untuk taat kepada Allah Taala dan suami yang paling baik dalam bertanggung jawab pada keluarganya. Hasan Basri menjelaskan tentang Sayyidah Fathimah Az Zahra as, tidak ada di umat ini seorang perempuan yang lebih abid (ahli ibadah) dari Fathimah. Dia berdiri di tengah malam sampai kedua kakinya bengkak.

Kemudian disamping ketakwaannya, Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. juga seorang mujahidah dan pembela ayahandanya, Rasulullah saww. Diriwayatkan dalam sebuah Hadis, pernah suatu hari Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. keluar ikut perang bersama ayahnya dan suaminya dalam fathu Makkah. Sayyidah Fathimah berangkat dari Madinah

bersama Rasulullah dan suaminya Ali bin Abi Thalib as. Beliau membuat kubah ( kemah ) di sebuah pegunungan sebelum masuk Mekah. Rasulullah mandi di atas tersebut dan Sayyidah Fathimah Az-Zahra a.s. menutupinya dari pandangan manusia. Artinya dalam banyak kesempatan Sayyidah Fathimah as ikut mendampingi Rasulullah dan suaminya dalam peperangan.

Juga riwayat ketika sejumlah sahabat Nabi berbaiat kepada khalifah pertama, sementara Ahlulbait sedang mengurusi jenazah Rasulullah Saww. Setelah selesai proses pembaiatan, Imam Ali a.s. bersama Sayyidah Fathimah keliling ke semua sahabat Ansor dan Muhajirin, tentang mengapa kalian telah berbaiat kepada kepada khalifah pertama. Yang pergi menjumpai para sahabat tidak hanya Imam Ali a.s., tetapi beliau bersama istrinya Sayyidah Fathimah Az Zahra as. sebagai bukti kesetiaan dan loyalitas Sayyidah Fathimah kepada Imam Juga Sayyid Ali as sebagai imam zamannya.

SEJARAH
FATHIMAH Ust. Husein Al-Kaff SUNGGUH, Allah Taala dengan iradah azaliyah-Nya telah menghadirkan seorang wanita, yang langit dan bumi belum pernah dan tidak akan pernah menyaksikan, sebelum dan sesudahnya, wanita seperti dia. Ia dilahirkan dari dua manusia suci. Yang satu Muhammad bin Abdullah, ayahandanya yang sangat menyayanginya, yang sekaligus merupakan seorang nabi yang paling mulia di antara nabi yang diutus, dan makhluk Tuhan yang paling dicintai-Nya. Yang satunya lagi adalah ibunda tercintanya, Khadijah binti Khuwailid, seorang wanita yang mengorbankan segala yang dimilikinya demi kebenaran. Tidak heran kalau sang bayi mungil, yang terlahir dari dua orang suci tersebut, mewarisi segala kemuliaan dan kebesaran kedua orang tuanya, dan kelak bumi dan langit serta segala isinya akan menjadi saksi tentang ketegaran dan keagungan bayi tersebut. YANG BERDUKA

Kehadirannya di tengah-tengah bangsa yang biadab, keras kepala, dan yang mengubur wanita hidup-hidup, menjadikannya lebih cemerlang dan bersinar. Semua itu terjadi bukan secara kebetulan dan tanpa perhitungan, akan tetapi akibat dari sebuah rekayasa Tuhan yang amat cermat dan tepat. Dia lahir lima tahun setelah ayahanda tercintanya diberi tugas yang amat berat dan sangat suci, yaitu untuk menyelamatkan seluruh umat manusia dari kehancuran menuju kedamaian. Sang bayi mungil, sebagaimana bayi-bayi lainnya, mendapatkan belaian kasih sayang dari kedua tangan ibundanya dan curahan kecintaan dari kedua mata ayahandanya. Dia mulai menyadari bahwa kehadirannya benar-benar merupakan anugrah Tuhan untuk kedua orang tuanya. Hari demi hari silih berganti, dilewatkannya dengan penuh keindahan dan kesenangan. Namun, kesenangan dan keceriaan si kecil tadi hanyalah merupakan satu episode khusus dari serangkaian episode skenario Tuhan yang penuh keharuan, kesedihan, deraian air mata, dan tekanan batin. Seakan-akan Sang Sutradara Agung Yang Mahabijak hendak menampilkannya sebagai sosok yang menjadi tumbal keserakahan umat manusia. Di saat Fathimah kecil beranjak usia lima tahun, ibunda tercintanya pergi untuk selamanya. Dan segera setelahnya, paman ayahanda beliau yang kharismatik, Abu Thalib, juga menyusul ke alam baka. Belaian kasih sayang kedua tangan ibundanya tidak akan pernah dialaminya lagi. Sejak kepergian Abu Thalib dan Khadijah, Fathimah kecil harus bersiap-siap menghadapi kegetiran dan kepahitan hidup. Serigala-serigala padang pasir yang lapar dan sadis, sudah mulai meneteskan air liurnya dan meraung-raung, yang menandakan pesta jahiliah segera dimulai. Mereka tidak sabar lagi untuk merobek-robek relung hati si kecil yang suci, Fathimah, yang baru saja kehilangan ibundanya. Maka babak baru kehidupan Fathimah kecil yang sangat berbeda dengan sebelumnya, segera dimulai. Ketegaran yang diwarisi Fathimah kecil dari ibunda dan ayahandanya, tidak menjadikannya sebagai seorang anak kecil yang mudah merengek. Dia tampil seakan-akan seorang wanita dewasa yang matang dan penuh pengertian. Jika dia menangis, hal itu bukan karena dan untuk dirinya sendiri, tetapi disebabkan dan untuk ayahandanya dan para sahabatnya yang senantiasa diganggu dan disiksa kaum musyrikin. Para ahli sejarah menceritakan, pernah sutu waktu ketika Rasulullah Saww sedang menunaikan shalat di Masjid Al-Haram, beliau tunduk bersujud di hadapan Sang Pencipta.

Tiba-tiba datanglah sejumlah pembesar Quraisy menghampirinya dan melempari kepala dan punggung beliau dengan kotoran binatang. Beliau diam dan tetap meneruskan sujudnya. Fathimah kecil menyaksikan sendiri perbuatan amoral yang menimpa ayahandanya itu di hadapan kedua matanya yang bening. Lalu, dia segera mendekatinya dan membersihkan kotoran binatang tersebut dari kepala dan punggung ayahandanya dengan kedua tangannya yang lembut. Kedua matanya berderai air mata. Sekali-kali terdengar isak tangis dari rongga dadanya yang dalam, keluar tidak tertahan lagi. Rasulullah Saww segera menatap muka Fathimah yang sedih, kemudian memeluknya sambil bersabda, "Putriku, janganlah engkau bersedih. Hal ini tidak akan berlangsung lama," sambil menghiburnya. Betapa besar perjuangan dan pembelaan Fathimah terhadap ayahandanya, sehingga posisi Fathimah seakan-akan tidak lagi sebagai putri Rasulullah. Tetapi sebaliknya, Fathimah yang begitu dewasa dan matang pribadinya dan selalu berada di samping ayahandanya, seakan-akan menjadi ibu bagi ayahandanya sendiri. "Fathimah Ummu Abihaa," demikianlah Rasulullah Saww menggelarinya. Sebagai seorang putri Rasulullah Saww, Fathimah hidup dengan penuh kesederhanaan. Dalam kitab-kitab hadis diriwayatkan, Salman Al-Farisi kelaparan, lalu dia berkeliling ke rumah istri-istri Nabi yang sembilan, tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa. Ketika hendak kembali, dia melihat rumah Fathimah. Kepada dirinya, dia bergumam, "Mudah-mudahan ada rezeki di rumah Fathimah putri Nabi Muhammad Saww." Kemudian dia mengetuk pintu rumah Fathimah. Dari balik pintu terdengar suara, "Siapa di balik pintu ?" "Aku, Salman Al-Farisi," sahut Salman. "Wahai Salman, apa yang Anda inginkan ?" tanya Fathimah. Lalu Salman menceritakan maksudnya. Setelah itu, Fathimah berkata, "Wahai Salman, Demi Yang mengutus Muhammad Saww dengan kebenaran sebagai nabi. Sungguh, aku sudah tidak makan selama tiga hari. Demikian pula, Al-Hasan dan Al-Husain, gemetar sekujur tubuhnya karena lapar yang sangat. Lalu keduanya tertidur bagaikan dua ekor anak burung yang tidak berbulu. Tapi aku tidak menolak kebaikan, jika datang di pintuku," jelas Fathimah. Kemudian Fathimah melanjutkan perkataannya, "Wahai Salman. Ambillah baju perang ini, lalu pergilah kepada Syamun Yahudi dan katakan kepadanya bahwa Fathimah putri Muhammad berkata kepadamu, "Berilah aku seikat kurma dan gandum, dengan jaminan baju besi ini. Nanti Insya Allah aku akan membayarnya kepadamu."

Lalu Salman mengambil baju besi itu danmembawanya kepada Syamun Yahudi. "Wahai Syamun, ini adalah baju besi Fathimah putri Muhammad Saww., dia berkata kepadamu, Berilah aku utang seikat kurma dan gandum, nanti Insya Allah aku akan membayarnya kepadamu." Kemudian Syamun mengambil baju besi tersebut, dan membolak-balikannya dengan telapak tangannya, sementara kedua matanya berderai air mata sambil berkata, "Wahai Salman, inilah kezuhudan dalam dunia. Inilah yang diberitakan oleh Musa bin Imran kepada kami di dalam Taurat. Kini aku bersaksi, tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya." Si Yahudi tersebut akhirnya masuk Islam. Selain hidupnya yang amat sederhana dan kepedulian sosialnya yang sangat tinggi, Siti Fathimah -alaiha salam juga dikenal sebagai seorang abidah (ahli ibadah). Al-Hasan bin Ali salam atas mereka berdua berkata, "Aku melihat ibuku, Fathimah, berdiri di mihrab-nya pada malam Jumat. Beliau senantiasa ruku dan sujud hingga cahaya fajar menyingsing. Aku mendengar dia mendoakan orang-orang Mukmin dan Mukminat, bahkan menyebutkan nama-nama mereka satu demi satu. Dia banyak mendoakan mereka, tetapi tidak mendoakan dirinya. "Lalu aku bertanya kepadanya, Wahai Ibu, mengapa engkau tidak mendoakan dirimu sendiri, sebagaimana Ibu mendoakan yang lainnya ? Beliau menjawab, Wahai anakku. Tetangga lebih dahulukan, baru rumah sendiri." Fathimah juga adalah seorang Muslimah yang sangat afifah. Pernah suatu waktu Nabi bertanya kepadanya, "Apa yang terbaik bagi wanita ?" "Yaitu wanita yang tidak melihat lakilaki dan tidak dilihat laki-laki," jawabnya dengan yakin. Lalu Nabi memeluknya sambil membacakan ayat berikut, "Satu keturunan yang sebagiannya dari yang lain." (QS Ali Imran, 3 : 34). Fathimah as yang sejak usia dini sudah menderita, maka penderitaan baginya menjadi suatu yang biasa. Penderitaan, tekanan, dan kehidupan yang demikian pas-pasan telah menghiasi kehidupan Fathimah. Ironisnya, penderitaan dan kepedihan tersebut makin menguat sepeninggal ayahandanya tercinta. Jika Fathimah ketika kecil dan dewasa menyaksikan dengan sedih gangguan dan rongrongan kaum Musyrikin terhadap ayahandanya hingga akhir hayatnya, Fathimah menyaksikan pengkhianatan dan eksploitasi umat ayahandanya terhadap suaminya, Ali, dan dirinya sendiri.

Sudah tentu, yang terakhir lebih melukai dan menyakitkan hatinya. Simaklah kisah berikut, ketika Fathimah as bersimpuh di pusara ayahandanya, untuk melaporkan padanya tentang keadaan yang telah berubah secara drastis sepeninggal ayahnya. Dengan suara parau dan mengharukan, dia berkata, "Wahai ayahku, sepeninggalmu sungguh betapa banyak berita duka dan tekanan terhadapku. Sekiranya engkau masih berada di tengah-tengah kami, maka keserakahan-keserakahan itu tidak akan banyak." Walaupun Fathimah masih berduka dengan kematian ayahandanya tercinta, dia tetap tampil tegar ketika melihat adanya penyimpangan-penyimpangan di tengah masyarakat Islam. Sejarah telah merekamkan untuk kita, setelah sepeninggal ayahandanya, lalu kaum Muslimin mengangkat Abubakar sebagai khalifah, maka Siti Fathimah menjelaskan tentang tauhid, kenabian, dan kepemimpinan serta memperingatkan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan sejumlah kaum Muslimin. Banyak dari kalangan sahabat Nabi yang menangis tatkala mendengarkan khutbah dan peringatan Fathimah tersebut. Akhirnya, Fathimah berpulang ke haribaan Tuhan, enam bulan setelah kepergian ayahandanya. Fathimah pergi dengan hati yang duka dan terluka. Fathimah diciptakan seakan-akan hanya untuk mendampingi ayahandanya. Sejak dia berusia lima tahun, dia sudah menjadi seorang ibu bagi ayahandanya. Kemudian setelah sang ayah pergi, diapun segera pergi menyusulnya. [] Besar nian jasamu, wahai Fathimah, dalam membela ayahmu. Sungguh panjang dan dalam deritamu, sejak ayahmu menjadi bulan-bulanan kaum Musyrikin. Betapa sakit hati dan pedih hatimu di kala engkau menyaksikan pengkhianatan dan penyimpangan sebagian umat ayahmu. Salam sejahtera atasmu, wahai Fathimah, di hari lahirmu, di hari penderitaanmu dan di hari wafatmu.

Taqlid dan Ijtihad (1) Secara global, menjalankan praktik-praktik ubudiyah, fiqih dan hukum Islam, seseorang bisa memilih taqlid atau ijtihad. Taqlid adalah menjalankan hal-hal tersebut dengan

berdasarkan pada fatwa marja. Ijtihad adalah menjalankan hal-hal tersebut berdasarkan perolehannya Soal: Apakah Jawab: Muqolib Soal: Apakah Jawab: Mujtahid Soal: Apakah Jawab: Marja adalah seorang mujtahid yang telah memenuhi syarat-syarat marjaiyyah. Soal: Jawab: Syarat-syarat marjaiyyah adalah mujtahid, adil, wara dalam agama Allah, tidak rakus dengan dunia kedudukan dan harta. Dalam hadis disebutkan, "Barangsiapa di antara para fuqaha (mujtahid) terdapat seorang faqih yang mengawasi dirinya, menjaga agamanya, tidak mengikuti hawa nafsunya dan menaati perintah Allah, maka orang-orang awam wajib mentaqlidinya." Soal: Wajibkah Jawab: Wajib menurut akal-urfi dan teks syariat. orang awam bertaqlid dalam masalah-masalah ubudiyah (fiqih)? (Tahrir al-Washilah hal.3 jil.I). Apakah syarat-syarat marjaiyyah? marja itu? adalah orang yang berijtihad. mujtahid itu? adalah orang yang bertaqlid. muqolid itu? dari sumber-sumber syariat/hukum.

Soal: Apakah Jawab: Bertaqlid dalam masalah syariat (fiqih) kepada mujtahid yang telah memenuhi syaratsyarat marjaiyyah tidak disyaratkan berada pada suatu negeri dengan muqolidnya. Taqlid dan Ijtihad (2) Soal: Apakah diperbolehkan ber-taqlid kepada seorang yang bukan marja dan tidak mempunyai Risalah Jawab: Jika menurut orang yang ber-taqlid terbukti bahwa dia mujtahid yang telah memenuhi syarat, Soal: Sebagian orang yang tidak memiliki informasi yang memadai ketika ditanya tentang siapakah marja-nya? Mereka menjawab, "Kami tidak tahu." Atau mereka mengatakan, "Marja kami adalah fulan." Namun mereka tidak merasa perlu untuk merujuk dan mengamalkan risalah amaliah-nya, bagaimana hukum perbuatan mereka ? Jawab: Jika perbuatan-perbuatan mereka sesuai dengan ikhtiat atau hukum yang sebenarnya (waqi) atau fatwa Mujtahid yang harus diikuti, maka perbuatan-perbuatan mereka Soal: Apakah boleh ber-taqlid kepada (Mujtahid) yang telah wafat secara langsung? Jawab: Untuk ber-taqlid kepada Mujtahid yang sudah wafat secara langsung hendaknya mengikuti (ketentuan) Soal: Bagaimana Jawab: Memperoleh (bukti) ke-mujtahid-an atau ke-alam-an marja adalah dengan mengujinya caranya memilih marja dan memperoleh fatwanya ? Mujtahid alam yang masih hidup. itu sah. maka tidak ada masalah (ber-taqlid kepadanya). Amaliah (buku kumpulan fatwa seorang Mujtahid)? boleh bertaqlid kepada mujtahid yang berada di luar negeri?

atau dengan memperoleh informasi yang pasti walaupun dengan berita yang menyebar atau dengan kemantapan jiwa atau dengan kesaksian dua orang adil dari para ahli (fiqih). Dan untuk mendapatkan fatwa marja dengan mendengar (secara langsung) darinya, atau dengan kutipan dari orang yang adil atau dengan kutipan orang yang perkataannya dapat dipercaya atau merujuk ke risalah amaliah-nya yang terjamin dari kesalahan. Taqlid dan Ijtihad (3) Soal: Apakah boleh berpindah dari Mujtahid Alam (lebih alim) dalam masalah-masalah kontemporer karena dia tidak dapat (mempunyai) fatwa tentangnya dari dalil-dalil yang terperinci Jawab: Jika mukallaf hendak berhati-hati dalam masalah itu atau tidak dapat (berhati-hati) dan dia mendapatkan seorang mujtahid lain yang alam dalam masalah itu, maka dia wajib berpindah dan ber-taqlid kepadanya. ?

Soal: Apakah untuk berpindah dari fatwa-fatwa Imam Khomeini r.a. harus merujuk kepada fatwa mujtahid yang diminta darinya izin untuk tetap ber-taqlid kepada mujtahid yang telah Jawab: Berpindah taqlid tidak membutuhkan (meminta) izin, tetapi boleh pindah kepada mujtahid yang memenuhi syarat-syarat sahnya taqlid. wafat ? Ataukah boleh merujuk kepada mujtahid yang lain ?

Soal: Orang yang ber-taqlid kepada Imam Khomeini r.a. dan (sampai sekarang) tetap ber-taqlid kepadanya, apakah diperbolehkan merujuk kepada selainnya dalam suatu masalah tertentu, Jawab: Boleh. Akan tetapi, sebaiknya tidak meninggalkan kehati-hatian untuk tetap ber-taqlid kepada Imam Khomeini, kalau dia melihatnya lebih alam dari mujtahid-mujtahid yang hidup. *) Imam Khomeini r.a. membagi kota pada dua kategori : besar dan tidak besar. Kota seperti tidak menganggap kota Teheran termasuk kota besar ?*)

besar seperti Teheran, Jakarta, dan lain-lain mempunyai ketentuan-ketentuan fatwa tersendiri Soal: Saya sampai pada usia akil baligh pada saat Imam Khomeini masih hidup dan saya bertaqlid kepadanya dalam beberapa masalah. Namun masalah taqlid bagi saya (waktu itu) belum Jawab: Jika Anda melakukan perbuatan-perbuatan ritual dan lainnya pada saat Imam Khomeini hidup itu sesuai dengan fatwa-fatwanya dan ber-taqlid kepadanya, meskipun pada beberapa masalah saja, maka Anda boleh tetap bertaqlid kepadanya dalam semua masalah. Wilayat Al-Faqih Soal: Apakah keyakinan terhadap prinsip wilayat al-faqih, baik dari sisi konseptual maupun aktual, merupakan masalah rasional (aqli) ataukah masalah tekstual (syari)? Jawab: Sesungguhnya wilayat al-faqih yang berarti kekuasaan seorang faqih yang adil dan mumpuni (handal) dalam masalah agama adalah masalah syari taabudi yang didukung oleh akal. jelas, maka apakah kewajiban saya sekarang ? sehubungan dengan safar.

Soal: Apakah hukum syariat itu bisa berubah dan invalid (tidak berlaku) jika wali al-faqih memberikan keputusan yang bertentangan dengan (hukum syariat) karena tuntutan kemaslahatan Jawab: umum Tergantung Islam dan situasi kaum yang Muslimin ? beragam.

Soal: Apakah orang yang tidak meyakini wilayat al-faqih yang mutlak dianggap Muslim ? Jawab: Tidak meyakini wilayat al-faqih yang mutlak karena hasil ijtihad ataupun karena taqlid, pada masa ghaibnya Imam Al-Mahdi (nyawa kami adalah tebusannya), tidak menyebabkan murtad dan keluar dari Islam.

Soal: Apakah wali al-faqih memiliki wilayah takwiniyyah yang dengannya dia dapat menghapus hukum-hukum agama karena adanya maslahat umum ? Jawab: Sepeninggal Rasulullah Saww tidak boleh menghapus hukum-hukum syariat Islam.

Adapun perubahan obyek hukum atau adanya darurat ataupun adanya kendala yang temporer untuk melaksanakan hukum, maka itu bukan penghapusan hukum. Wilayah takwiniyyah, menurut pendapat yang meyakininya, khusus untuk Para Mashumin as. Soal: Apa sikap kita terhadap orang-orang yang tidak meyakini otoritas seorang faqih yang adil kecuali dalam urusan-urusan yang hasbiyah * saja ? Perlu diketahui bahwa wakil-wakil mereka menyebarkan hal itu. Jawab: Otoritas (Wilayah) faqih dalam memimpin masyarakat dan mengatur urusanurusan sosial di setiap zaman merupakan rukun mazhab Syiah Itsna Asyariyyah. Masalah ini mempunyai akar dalam prinsip Imamah. Jika seseorang mempunyai dalil untuk tidak meyakininya, maka dia madzur (beralasan), tetapi dia tidak boleh menyebarkan perpecahan dan perselisihan.

*) Urusan-urusan Hasbiyah adalah urusan-urusan kifayah yang harus dijalankan dan memerlukan izin hakim (penguasa) syari selain amar makruf nahi munkar (Al-Ishtilahat fi Rasail Amaliyyah, hal.42).

Thaharah (Bersuci) Macam-macam Air: 1. Air Mutlak 2. Air Mudhaf 3. Air Mutanajjis Air mutlak adalah air yang suci dan menyucikan hadats dan khobats (kotoran manusia dan air kencing) seperti air mengalir, sumber air, air sumur, air hujan, dan air yang diam (Ada dua macam air diam yakni air yang banyak dan air yang sedikit. Air yang banyak adalah air yang mencapai satu kurr *). Air mudhaf adalah air yang suci tetapi tidak menyucikan hadats dan khobats (kotoran) seperti air buah-buahan (air jeruk, air anggur, air delima dll.), atau air yang telah dicampur

dengan zat lain seperti air gula, air garam, air kopi, air bunga mawar dll. Air mutanajjis adalah air mutlak yang bersentuhan dengan benda-benda najis seperti, kotoran, kencing, darah dan lain-lain sehingga tidak suci dan menyucikan. Air mutlak yang sedikit ketika bersentuhan dengan benda najis, maka berubah menjadi mutanajjis, sekalipun tidak berubah salah satu sifatnya, yakni warna, bau dan rasanya. Sedangkan air mutlak yang banyak akan berubah menjadi mutanajjis jika bersentuhan dengan benda najis dan berubah salah satu sifatnya (baunya, rasanya, atau warnanya). Demikian pula air mutlak lainnya (air yang mengalir, sumber air, air sumur dan air hujan) akan menjadi mutanajjis jika bersentuhan dengan benda najis dan berubah salah satu sifatnya. Air diam yang bersambung dengan air yang mengalir dihukumi sama dengan air yang mengalir dalam arti air itu tidak menjadi mutanajjis jika bersentuhan dengan benda najis kecuali terkumpul jika darinya berubah di salah saat satu hujan sifatnya. turun. Yang dimaksud dengan air hujan di atas adalah air yang tengah turun dari langit atau yang Air musta'mal (air yang sudah terpakai) untuk wudhu' masih suci dan menyucikan demikian pula yang musta'mal dari hadas besar (mandi wajib) suci dan menyucikan dari hadats dan khobats. Air musta'mal untuk khobats disebut "ghasalah" dan hukumnya mutanajjis. catatan: 1 kurr kira-kira 374 liter. Kalau menggunakan jengkal tangan [normal] kira-kira panjang tiga setengah, lebar tiga setengah, dalam tiga setengan. [jengkal]

Takhalli, Istinja, dan Istibra A. Takhalli (Buang Hajat)

1. Menutup aurat dari pandangan manusia baik laki-laki maupun wanita, dewasa maupun anak-anak dan orang gila yang mumayyiz*. Diharamkan melihat aurat orang lain, sekalipun orang gila dan anak kecil yang mumayyiz, kecuali anak kecil yang belum mumayyiz dan antara suami istri. Yang dimaksud dengan aurat di sini adalah : bagi wanita, aurat depan dan aurat belakang; dan bagi laki-laki, selain dua aurat itu, juga kedua buah

pelir. Tidak diperbolehkan melihat aurat orang lain meskipun dari belakang cermin, kaca, dan air bening, kecuali dalam keadaan darurat (terpaksa) seperti operasi.

2. Tidak menghadap atau membelakangi kiblat dengan dada atau perutnya. B. tidak Istinja' (Membersihkan cukup aurat dengan dari najis selain [khobats]) air.

1. Zakar (tempat keluar air kencing) wajib dibasuh dengan air. Meskipun sekali saja dan

2. Tempat keluar air besar dapat disiram dengan air ataupun diusap dengan benda yang dapat menghilangkan najis seperti batu, tanah keras dan lain-lain. Tetapi lebih afdhal disiram dengan air dengan keduanya lebih sempurna. Untuk membersihkan tempat keluar air besar tidak disyaratkan tiga kali siraman atau usapan. Yang penting, tempat itu bersih dan suci. Jika disiram dengan air, maka harus hilang najis dan sisanya (yakni bagian-bagian kecil yang tidak terlihat). Tetapi jika diusap, maka cukup dengan hilangnya najis. C. Istibra' (Membersihkan sisa-sisa air dengan kencing di dalam zakar) cara:

Istibra'dilakukan

1. Mengusap dengan kuat antara lubang anus dan zakar sebanyak tiga kali; 2. Meletakkan telunjuk di bawah batang zakar dan ibu jari di atas batang zakar dan lalu mengusapkannya 3. Menekan dengan ujung tekanan hingga ujung [kepala zakar sebanyak tiga tiga kali; kali. zakar zakar]

Jika setelah istibra' keluar cairan yang meragukan apakah air kencing atau bukan maka dianggap suci dan tidak membatalkan wudhu tetapi jika tidak istibra', maka dihukumi najis dan Catatan: * Mumayyiz ialah batas kemampuan anak kecil mengetahui yang baik dan yang buruk. membatalkan wudhu'.

Wudhu dan Tatacaranya

Wudhu' 1. kiri. Keterangan 1. Kadar Garis vertikal, dari Tiga basuhan yakni

terdiri wajah, tangan

dari kanan, dan tangan

: kiri.

2. Tiga usapan yakni kepala bagian depan [sekitar kepala bagian atas], kaki kanan dan kaki : Basuhan yang tempat tumbuhnya wajib rambut sampai ke wajah : dagu.

- Garis horizontal, lebar wajah yang tercakup oleh ibu jari dan jari tengah. 2. kiri 3. rambutnya. 4. Mengusap kaki tidak boleh Basuhan menyentuh air lagi (mengambil air tangan baru). kepala

Tangan kanan dan tangan kiri, mulai dari siku hingga ujung kari. Selesai membasuh tangan

Mengusap

Dengan sisa air yang berada di tangan kita mengusap kepala bagian depan, kulit atau

Mulai dari ujung jari kaki sampai kepada sesuatu yang menonjol pada bagian atas kaki (tempatnya lurus dengan ibu jari kaki. Tapi yang afdhal pengusapan tadi dilanjutkan hingga pergelangan kaki. [Dari sisi lebar cukup selebar satu jari, meskipun lebih baik seluruh bagian PERLU 1. [maksudnya, haram. c. Dalam membasuh harus dilebihkan dari kadar yang wajib agar kita yakin bahwa kadar wajib benar-benar sudah terbasuh. kaki terusap. PERHATIAN! Basuhan bolak-balik].

a. Ketika membasuh, basuhan harus dari atas ke bawah dan tidak boleh dikembalikan b. Dalam membasuh, basuhan pertama wajib, basuhan kedua sunnah, dan basuhan ketiga

2. tersebut tidak basah yang akan berpindah ke tangan

Usapan kita.

a. Anggota yang diusap harus kering. Tolok ukur kering adalah apabila kita sentuh bagian b. Untuk mengusap kepala dan kaki diperbolehkan mengambil sisa air yang berada di anggota wudhu' kita. Hal tersebut jika sisa air yang berada di telapak tangan kita sudah kering [Apabila kita belum mengusap kepala dan kaki namun seluruh anggota wudhu' yang lain sudah kering, maka kita harus mengulangi lagi wudhu' dari permulaan]. Syarat-Syarat buletin 2. 3. 4. 5. 6. 7. 9. 10. Ada Berwudhu' Tempat Al-Jawad Air Tempat air Anggota kesempatan harus untuk niat dengan tidak nomor tersebut air terbuat wudhu' berwudhu' qurbah sendiri air tidak dengan dari 7 Sahnya yang harus membahas mubah harus emas wajib cukupnya diri) kepada (mendekatkan jika dan Wudhu': masalah air]. (halal) mubah perak suci waktu Allah mampu membahayakan

1. Air yang dipergunakan untuk berwudhu' harus suci dan mutlak (tidak mudhaf) [Lihat

8. Pelaksanan wudhu' harus tertib atau berurutan dan berkesinambungan (tidak terputus) Dilakukan Penggunaan

11. Tidak ada penghalang yang bisa menghalangi sampainya air kepada anggota wudhu' 12. Ruang yang diperlukan untuk berwudhu' harus mubah.

Perkara-perkara yang Membatalkan Wudhu 1. Keluarnya air kencing dan sesuatu yang dihukumi air kencing seperti cairan (yang belum jelas) setelah kencing dan sebelum istibra' (tentang istibra' lihat buletin Al-Jawad nomor 7). 2. Keluarnya tinja, baik dari tempatnya yang tabi'i atau yang lain, banyak ataupun sedikit. 3. Keluarnya angin dari dubur, baik bersuara maupun tidak. 4. Tidur yang mengalahkan indera pendengar dan indera penglihat (hilang kesadaran). 5. Segala sesuatu yang menghilangkan kesadaran seperti gila, pingsan, mabuk, dan lainlainnya.

6. Catatan

Istihadhah

kecil

dan

sedang

(bagi

wanita). :

Seseorang yang mengidap penyakit beser (maslun) dan sering kentut (mabthun) maka : 1. Jika dia mempunyai waktu yang cukup untuk bersuci dan shalat, maka wajib menanti waktu tersebut dan mendirikan shalat pada waktu tersebut. 2. Jika dia tidak mempunyai waktu untuk bersuci dan shalat, dan setiap shalat keluar hadats, sekali atau dua kali atau tiga kali tetapi dia dapat wudhu' dan melanjutkan shalat, maka setiap kali hadats hendaknya dia segera berwudhu' dan melanjutkan shalatnya. 3. Jika dia tidak dapat melakukan (seperti yang kedua), karena terus menerus kencing dan kentut, kantong maka hendaknya yang berwudhu' setiap akan shalat. busa/kapas. 4. Orang yang beser wajib menjaga kencingnya agar tidak menyebar dengan mengenakan mengandung 5. Orang yang mengidap beser dan sering kentut tidak wajib meng-qodlo shalat yang dilakukannya setelah sembuh. Kecuali kalau dia sembuh sementara waktu shalat masih ada, maka dia wajib mengulanginya.

Wudhu Jabirah* 1. Anggota wudhu yang dibasuh dan (muka dan tangan)

a. Jabirah yang menutupi muka atau tangan jika dapat dilepaskan, maka hendaknya dilepaskan; b. Jika tidak dapat dilepaskan, dan dapat menyentuhkan air ke bagian bawah jabirah, maka menyentuhkan air ke bagian bawah jabirah, harus dilakukan, kalau tidak dapat menyentuhkan 2. dengan Anggota air, maka wudhu cukup yang mengusap diusap di atas jabirah dan saja. kaki) air.

(kepala

a. Jika jabirah itu dapat dilepaskan, maka wajib dilepaskan dan mengusap kepala atau kaki b. Jika tidak dapat dilepaskan, maka cukup dengan mengusapkan [air] di atas jabirah. 3. Balutan yang menutup kulit yang sehat yang berada di sekitar luka. Jika tertutupi dengan jabirah, dihukumi sama dengan yang terluka. Tetapi jika jabirah itu menutupi kulit sehat

yang bukan berada di sekitar luka, maka wajib dilepaskan dan lalu membasuh atau mengusapnya. Dan jika tidak bisa dilepaskan, maka ihtiyath (hati-hati) berwudhu juga bertayammum. 4. Jika jabirah itu najis, maka hendaknya meletakkan kain di atasnya dan lalu mengusapnya. 5. Luka yang terbuka yang tidak bisa dibasuh cukup dengan membasuh di sekitarnya, tetapi lebih hati-hati di samping itu, juga meletakkan kain di atasnya, lalu mengusapnya.

Mandi Junub (1) Sebab-sebab Mandi Junub 1. Keluarnya mani dan cairan yang dihukumi mani, seperti cairan yang meragukan sebelum istibra'. Ciri-ciri mani adalah cairannya keluar memuncrat dengan syahwat dan setelah itu badan menjadi lemas, kecuali bagi orang yang sakit dan wanita cukup dengan adanya syahwat atau orgasme. 2. Jima' (bersebadan), sekalipun tidak ejakulasi. Jima' terjadi dengan masuknya bagian atas zakar (hasyafah) ke dalam vagina atau anus. Hukum-hukum Junub Perkara-perkara yang kesahannya tergantung pada mandi junub : 1. Shalat dengan semua macamnya kecuali shalat jenazah 2. Thawaf 3. Puasa Ramadhan dan puasa qadha Ramadhan artinya seorang yang dengan sengaja menunda mandi sampai waktu subuh, maka puasanya batal. Perkara-perkara yang diharamkan bagi orang yang junub : 1. Menyentuh tulisan Alquran, nama Allah, Sifat-sifat dan Asma-Nya, juga nama para nabi dan para imam. 2. Masuk ke dalam Masjid Al-Haram ( di Mekah dan Madinah) 3. Menetap di dalam masjid 4. Meletakkan sesuatu di dalam masjid sekalipun dari luar atau sambil lewat.

5. Membaca surat-surat 'azhimah yakni surat Al-'Alaq, An-Najm, As-Sajdah, dan Fushilat. Perkara-perkara yang dimakruhkan bagi yang junub : 1. Makan 2. Minum 3. Membaca lebih dari tujuh ayat selain dari surat-surat 'azhimah 4. Menyentuh kulit dan kertas Alquran 5. Tidur 6. Memakai daun pacar 7. Berjima' 8. Membawa mushhaf.

Mandi Junub (2) Cara-cara Mandi Junub 1. Niat. Dalam niat harus ikhlas 2. Membasuh permukaan kulit. - Jika ada penghalang sampainya air ke kulit maka wajib dihilangkan dan jika seseorang mempunyai rambut atau bulu yang tebal, maka wajib memasukkan jari-jarinya ke tengah rambut /bulu sehingga air sampai ke kulit. - Tidak diharuskan membasuh bagian dalam mata, hidung, telinga dan lainnya. 3. Tertib bagi yang mandi tartibi (yakni membasuh seluruh kepala, termasuk leher. Kemudian membasuh/menyiram badan sebelah kanan termasuk leher dan membasuh/menyiram badan sebelah kiri termasuk leher juga. - Kemaluan dan pusar masuk kepada dua bagian badan (kanan dan kiri) - Setelah tertib dilakukan sebaiknya membasuh/menyiram seluruh tubuh sekaligus. Syarat-syarat Mandi Junub 1. Air yang mutlak (suci dan menyucikan) 2. Air yang mubah (bukan air milik orang lain atau tanpa seizin pemiliknya) 3. Mandi sendiri (tidak dimandikan orang lain) kecuali bagi yang tidak mampu. 4. Tidak ada yang menghalangi penggunaan air, seperti sakit. 5. Tempat air yang suci. - Setelah mandi wajib tidak diwajibkan wudhu untuk shalat - Jika di tengah mandi wajib, keluar angin, sah mandinya, tetapi wajib wudhu untuk shalat.

- Jika seorang yang junub shalat lalu ragu-ragu apakah sebelum shalat, mandi atau tidak, maka shalatnya dianggap sah. Tetapi untuk shalat berikutnya harus mandi lagi. - Jika banyak penyebab mandi baik mandi wajib ataupun sunnah, maka cukup mandi sekali saja untuk seluruhnya.

Tujuan-tujuan Mandi Pertama, untuk sahnya perbuatan seperti shalat dan bagian-bagiannya yang tertinggal karena lupa (kecuali shalat jenazah), thawaf, dan puasa di bulan Ramadhan dan puasa Qadha. Kedua, untuk diperbolehkannya atau tidak diharamkannya melakukan sebuah perbuatan seperti menyentuh nama (isim) Allah dan sifat-sifat-Nya yang tertentu, menyentuh nama para Nabi as. dan para Imam as., masuk ke dalam Mesjid Haram (di Mekah dan Madinah), menetap di mesjid-mesjid, meletakkan sesuatu di dalam mesjid, dan membaca surat-surat 'Azhimah (yaitu surat yang mengandung ayat sajdah seperti surat An-Najm, Fushshilat, AsSajdah dan Al-'Alaq).

Catatan-catatan : 1. Jika ragu-ragu tentang bagian dari anggota-anggota mandi setelah melakukannya, seperti jika seseorang ragu-ragu tentang kesahan badan sebelah kanan setelah ia membasuhnya, maka anggaplah sah. 2. Jika seseorang berhadas kecil (seperti kentut, kencing, buang air) di tengah-tengah mandi, maka teruskanlah mandinya dan setelah mandi hendaknya wudhu. 3. Jika seorang yang sedang junub melaksanakan shalat, kemudian ragu-ragu apakah dia sudah mandi atau belum, maka anggaplah shalatnya sah dan hendaknya mandi untuk melakukan shalat-shalat berikutnya. Tetapi jika keraguan itu muncul di tengah-tengah shalat, maka shalatnya batal dan wajib baginya mengulangi shalat setelah mandi. 4. Segala jenis mandi tidak bisa menggantikan wudhu kecuali mandi junub.

5. Seorang yang pada badannya terdapat jabirah (luka yang dibalut / diperban) kemudian dia berhadas besar (seperti junub), maka hendaknya dia mengusapkan air ke atas jabirah itu dan membasuh anggota badan yang sehat dan hendaknya mandi secara tartibi, bukan irtimasy (lihat buletin Al-Jawad No.12 Tahun I).

Hukum-hukum Tentang Mayat (1) Seorang yang telah tampak padanya tanda-tanda mati (sekarat) diwajibkan menunaikan hak-hak Allah seperti shalat, puasa, dan lain-lain serta hak-hak manusia seperti melunaskan utang dan mengembalikan amanat kepada para pemiliknya. Jika dia tidak dapat menjalankan kewajiban-kewajiban itu, maka dia wajib memberikan wasiat. Hukum 1. Di saat Mayat sakratul : maut

Di saat seorang sedang sakratul maut diwajibkan dipalingkan ke arah kiblat, dengan cara terlentang di atas punggungnya yang jika dia duduk maka posisinya menghadap kiblat. Memalingkan 2. mayat ke arah kiblat hukumnya fardhu kifayah. mayat

Memandikan

- Memandikan mayat hukumnya fardhu kifayah (mayat anak-anak atau dewasa) kecuali : a. Bayi keguguran yang belum berusia empat bulan. Bayi ini tidak wajib dimandikan tetapi cukup dibalut dengan kain lalu dikuburkan. Adapun jika sudah berusia empat bulan maka mayat bayi dimandikan, dikafani, dan dikuburkan. b. Seorang syahid yang dibunuh demi membela Islam, tidak wajib dimandikan dan tidak wajib dikafani. Dia cukup dikuburkan dengan bajunya. Gugurnya kewajiban mandi dan kafan bila seorang syahid mati di tengah berkecamuknya Syarat-syarat 1. 2. 3. Orang yang perang. Memandikan Baligh Berakal Beriman

4. Sesama jenis kelamin antara yang memandikan dengan yang dimandikan kecuali :

a. b.

Anak Suami

kecil

yang

usianya Masing-masing

belum boleh

lebih

dari

tiga yang

tahun. lain.

isteri.

memandikan

c. Mahram. Jika tidak ada orang yang sejenis kelamin dengan mayat, maka saudara mahramnya boleh memandikannya.

Hukum-hukum Tentang Mayat (2) Cara Memandikan Mayat 1. Menghilangkan benda-benda najis dari badan mayat. 2. Dimandikan tiga kali : pertama, dimadikan dengan air yang dicampuri daun bidara (sidr), kemudian dimandikan dengan air yang dicampuri kapur barus dan terakhir dimandikan dengan air murni. Adapun cara memandikannya dengan tiga macam air tersebut sama dengan cara mandi junub, yaitu terlebih dahulu membasuh kepala dan lehernya, kemudian membasuh badan sebelah kanan (yakni badan bagian kanan dari pusar ke samping kanan dan dari leher sampai ke kaki) dan membasuh badan sebelah kiri. Beberapa Masalah Yang Berkaitan Dengan Memandikan Mayat. 1. Jika kesulitan (berhalangan) mendapatkan daun bidara atau kapur barus atau keduanya, maka ada beberapa gambaran. Pertama, [bila] yang tidak ada adalah daun bidara, maka dimandikan dengan air murni sebagai ganti air yang dicampuri daun bidara, kemudian dimandikan dengan air yang dicampuri kapur barus dan dimandikan dengan air murni. Kedua, [bila] yang tidak ada adalah kapur barus, maka dimandikan dengan air yang dicampuri daun bidara, kemudian dengan air murni sebagai ganti air yang dicampuri dengan kapur barus dan dimandikan dengan air murni. Ketiga, [bila] yang tidak ada adalah keduanya ( daun bidara dan kapur barus), maka dimandikan tiga kali dengan air murni semuanya.

2. Jika tidak ada air untuk memandikan mayat, maka ditayammumi sebanyak tiga kali sebagai ganti ketiga mandi tersebut. Mayat yang terluka atau terbakar boleh ditayammumi jika memandikannya akan menyebabkan kulitnya terkelupas. 3. Jika tidak terdapat air yang cukup kecuali untuk satu kali mandi saja, maka jika yang ada adalah daun bidara, maka dimandikan dengan air yang dicampuri daun bidara, kemudian ditayammumi dua kali sebagai ganti mandi dengan air campuran kapur barus dan mandi dengan air murni. Dan jika daun bidara tidak ada, maka dimandikan dengan air murni sebagai ganti air yang dicampur dengan daun bidara, dan kemudian ditayammumi dua kali sebagai ganti air campuran kapur barus dan air murni. 4. Jika tidak terdapat air yang cukup kecuali untuk dua kali mandi saja, maka ada beberapa gambaran. Pertama, jika yang ada adalah daun bidara saja, maka dimandikan dengan air daun bidara kemudian dengan air murni sebagai ganti air campuran kapur barus kemudian ditayammumi sebagai ganti air murni. Kedua, Jika yang ada adalah kapur barus saja, maka dimandikan dengan air murni sebagai ganti air campuran daun bidara, kemudian dimandikan dengan air kapur barus kemudian ditayammumi sebagai ganti mandi dengan air murni. Ketiga, Jika daun bidara dan kapur barus ada, maka dimandikan dengan air yang dicampur daun bidara dan air yang dicampur kapur barus kemudian ditayammumi sebagai ganti mandi dengan air murni.

Mengkafani Mayat 1. Cara Mengkafani Mayat : Mengkafani mayat hukumnya fardhu kifayah dan kafan harus terdiri dari tiga helai kain ; mi'zar ( kain yang menutupi antara pusar dan lutut), qomish ( kain yang menutupi antara dua bahu sampai betis ) dan izar ( kain yang menutupi seluruh badan ). 2. Syarat-syarat kain kafan : a. Kain yang mubah ( tidak boleh menggunakan kain milik orang lain kecuali kalau diizinkan), b. Kain yang suci ( tidak boleh menggunakan kain yang terkena najis atau terbuat dari barang najis, seperti kulit bangkai ), c. Kain kafan tidak terbuat dari sutra, walaupun mayat itu wanita atau anak kecil, d. Kain kafan tidak terbuat

kulit Tahnith mayat telapak

binatang

yang

tidak

boleh

dimakan

dagingnya. Mayat

Men-tahnith mayat hukumnya fardhu kifayah, baik mayat itu anak kecil atau besar. Tahnith dilakukan tangan, kedua lutut dan setelah kedua ibu jari memandikan. telapak kaki ). Tahnith adalah mengusapkan kapur barus di tujuh anggota sujud ( dahi, perut kedua

Menshalati kafir.

Mayat

Menshalati mayat muslim hukumnya fardhu kifayah dan tidak boleh menshalati mayat a. Cara Shalat Mayat adalah setelah niat bertakbir lima kali; setelah takbir pertama mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah takbir kedua membaca shalawat. Setelah takbir ketiga mendoakan kaum muslimin dan muslimat, dan mukminin dan mukminat. Setelah takbir keempat mendoakan mayat dan kemudian takbir kelima sebagai penutup shalat. b. Dalam pelaksanaan shalat mayat tidak ada azan, iqamat, ruku', sujud, tasyahhud dan salam. Syarat-syarat 1. 2. 3. 4. Shalat Menentukan mayat yang akan dishalati, sambil misalnya kiblat. berdiri shalat mayat Menghadap Shalat Mayat. Niat. ini.

5. Meletakan mayat didepan orang yang shalat dengan posisi terlentang di atas punggungnya dan kepala mayat terletak di sebelah kanan orang yang shalat. 6. 7. 9. Antara Jarak Shalat orang antara yang orang shalat yang setelah dengan shalat mayat tidak ada tidak penghalang. terlalu jauh. dengan mayat

8. Salah satu diantara keduanya tidak lebih tinggi posisinya atau lebih rendah. dilakukan memandikan, mengkafani dan men-tahnith. Dalam pelaksanaan shalat mayat tidak disyaratkan suci dari hadas (berwudhu).

Menguburkan

Mayat

Menguburkan mayat muslim hukumnya fardhu kifayah. Caranya adalah meletakan badannya di dalam lubang kubur sambil menghadap kiblat dengan berbaring di atas samping kanan dan kemudian menutupinya dengan tanah sehingga aman dari binatang buas dan baunya tidak tercium oleh manusia.

Shalat Jenazah Shalat jenaza hukumnya wajib kifayah bagi setiap muslim. Apabila telah ada seorang muslim yang melakukan shalat jenazah untuknya, maka gugurlah kewajiban itu menshalatinya bagi yang lain. Shalat jenazah harus dilakukan dengan niat qurbatan ilallah (mendekatkan Tata Cara diri pada Shalat Allah). Jenazah

Shalat jenazah terdiri dari lima takbir. Pelaksanaannya, setelah takbir pertama bacalah dua kalimat syahadat. Setelah takbir kedua, bacalah shalawat kepada Rasulullah Saww. Setelah takbir ketiga bacalah doa untuk kaum muslimin. Setelah takbir keempat, bacalah doa khusus untuk jenazah, kemudian bacalah takbir kelima sebagai penutup shalat jenazah. Secara maka ringkas, lakukanlah cara pelaksanaan shalat dan jenazah amalan tersebut berikut adalah: ini,

Setelah niat dan menentukan (nama dan jenis kelamin) jenazah yang akan dishalatkannya, serangkaian bacaan

Takbir pertama,

(Allah Mahabesar),aku bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Takbir kedua, Muhammad adalah utusan Allah.

(Allah Mahabesar), ya Allah, curahkanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad Saww. dan keluarga Takbir Ketiga, Muhammad.

AGAMA
MENGAPA Ust. Husein Al-Kaff "Dasar pertama agama (din) adalah mengenal-Nya." Perkataan di atas sangat tepat dan pada tempatnya, mengingat banyak orang yang beragama, tetapi tidak mengenal agamanya dengan baik. Padahal, mengenai agama seharusnya berada pada tahapan awal sebelum mengamalkan ajarannya. Tetapi secara realita, keberagamaan sebagian besar dari mereka tidak sebagaimana mestinya. Nah, dalam kesempatan ini kami akan memberikan penjelasan tentang mengapa kita beragama dan bagaimana seharusnya kita beragama. Sehingga kita beragama atas dasar bashirah (pengetahuan, pengertian, dan bukti). Allah Taala berfirman : "Katakanlah (wahai Muhammad). Inilah jalan-Ku. Aku mengajak kepada Allah dengan bashirah (hujjah yang nyata)" (QS Yusuf, 12 : 108). Namun sebelum menjawab dua pertanyaan di atas, ada baiknya kami terlebih dulu membicarakan Apa tentang itu din Din itu sendiri. ? KITA BERAGAMA ?

Din berasal dari bahasa Arab dan dalam Alquran disebutkan sebanyak 92 kali. Menurut arti bahasa (etimologi), din diartikan sebagai balasan dan ketaatan. Dalam arti balasan, Alquran menyebutkan kata din dalam surat Al-Fatihah ayat 4, Maliki Yaumiddin (Dialah Pemilik (Raja) Hari Pembalasan)." Demikian pula dalam sebuah hadis, din diartikan sebagai ketaatan. Rasulullah Saww bersabda : "Ad-diinu nashiihah (agama adalah ketaatan)." Sedangkan menurut terminologi teologi, din diartikan sebagai : "sekumpulan

keyakinan, hukum, norma yang akan mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan manusia, baik di dunia maupun akhirat." Berdasarkan hal di atas, din mencakup tiga dimensi : (1) keyakinan (akidah); (2) hukum (syariat); dan (3) norma (akhlak). Ketiga dimensi tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga satu sama lain lain saling berkaitan, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Dengan menjalankan din, kebahagiaan, kedamaian, dan ketenangan akan teraih di dunia dan di akhirat. maka dia Seseorang dikatakan mutadayyin (ber-din dengan baik), pasti berbahagia. jika dia dapat melengkapi dirinya dengan tiga dimensi agama tersebut secara proporsional, Dalam dimensi keyakinan atau akidah, seseorang harus meyakini dan mengimani beberapa perkara dengan kokoh dan kuat, sehingga keyakinannya tersebut tidak dapat digoyahkan lagi. Keyakinan seperti itu akan diperoleh seseorang dengan argumentasi (dalil aqli) yang dapat dipertahankan. Keyakinan ini pada intinya berkisar kepada Allah dan Hari Akhirat. Adapun syariat adalah konsekuensi logis dan praktis dari keyakinan. Mengamalkan syariat merupakan representasi dari keyakinan. Sehingga sulit dipercaya jika seseorang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, tetapi tidak mengindahkan syariatNya. Karena syariat merupakan kewajiban dan larangan yang datang dari-Nya. Sedangkan akhlak adalah tuntunan akal budi (aqal amali) yang mendorong seseorang untuk mengindahkan norma-norma dan meninggalkan keburukan-keburukan. Seseorang belum bisa dikatakan mutadayyin selagi tidak berakhlak, la diina liman la akhlaqa lahu. Demikian pula, keliru sekali jika seseorang terlalu mementingkan akhlak daripada syariat. Dari ketiga dimensi din tersebut, akidah menduduki posisi yang paling prinsip dan menentukan. Dalam pengertian bahwa yang menentukan seseorang itu mutadayyin atau tidak adalah akidahnya. Dengan kata lain, yang memisahkan seseorang yang beragama dari yang tidak beragama (ateis) adalah akidahnya. Lebih khusus lagi, bahwa akidahlah yang menjadikan Mengapa orang itu disebut Kita Muslim, Kristiani, Yahudi Beragama atau yang lainnya. ?

Marilah kita kembali pada pertanyaan semula : "mengapa kita beragama ?" Manusia adalah satu spesies makhluk yang unik dan istimewa dibanding makhlukmakhluk lainnya, termasuk malaikat. Karena, manusia dicipta dari unsur yang berbeda, yaitu unsur hewani/materi dan unsur ruhani/immateri. Memang dari unsur hewani

manusia tidak lebih dari binatang, bahkan lebih lemah darinya. Bukankah banyak di antara binatang yang lebih kuat secara fisik dari manusia ? Bukankah ada binatang yang memiliki ketajaman mata yang melebihi mata manusia ? Bukankah ada pula binatang yang penciumannya lebih peka dan lebih tajam dari penciuman manusia ? Dan sejumlah kelebihan-kelebihan lainnya yang dimiliki selain manusia. Sehubungan ini Allah Swt berfirman : "Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah" (QS An-Nisa, 4 : 28); "Allah telah menciptakan kalian lemah, kemudian menjadi kuat, lalu setelah kuat kalian menjadi lemah dan tua." (QS Rum : 54). Masih banyak ayat lainnya yang menjelaskan hal serupa. Karena itu, sangatlah tidak pantas bagi manusia berbangga dengan penampilan fisiknya, di samping itu penampilan fisik adalah wahbi sifatnya (semata-mata penberian dari Allah, bukan hasil usahanya). Kelebihan manusia terletak pada unsur ruhani (mencakup hati dan akal, keduanya bukan materi). Dengan akalnya, manusia yang lemah secara fisik dapat menguasai dunia dan mengatur segala yang ada di atasnya. Karena unsur inilah Allah menciptakan segala yang ada di langit dan di bumi untuk manusia (lihat surat Luqman ayat 20). Dalam salah satu ayat Alquran ditegaskan : "Sungguh telah Kami muliakan anak-anak, Kami berikan kekuasaan kepada mereka di darat dan di laut, serta Kami anugerahi mereka rezeki. 17 : Dan 70). sungguh Kami utamakan mereka di atas kebanyakan makhluk Kami lainnya." (QS Al-Isra, Unsur akal pada manusia, awalnya masih berupa potensi (bilquwwah) yang perlu difaktualkan (bilfili) dan ditampakkan. Oleh karena itu, jika sebagian manusia lebih utama dari sebagian lainnya, maka hal itu semata-mata karena hasil usahanya sendirinya. Karenanya, dia berhak bangga atas yang lainnya. Sebagian mereka ada pula yang tidak berusaha memfaktualkan dan menampakkan potensinya itu, atau memfaktualkannya hanya untuk memuaskan tuntutan hewaninya, maka orang itu sama dengan binatang, bahkan lebih hina dari binatang (QS Al-Araf, 7 : 170; Al-Furqan : 42). Termasuk ke dalam unsur ruhan adalah fitrah. Manusia memiliki fitrah yang merupakan modal terbesar manusia untuk maju dan sempurna. Din adalah bagian dari fitrah manusia. Dalam kitab Fitrat (edisi bahasa Parsi), Syahid Muthahhari menyebutkan adanya lima macam fitrah (kecenderungan) dalam diri manusia yaitu mencari kebenaran (hakikat), condong kepada kebaikan, condong kepada keindahan, berkarya (berkreasi), dan cinta (isyq) atau menyembah (beragama). Sedangkan menurut Syeikh Jafar Subhani, terdapat

empat macam kecenderungan pada manusia, dengan tanpa memasukkan kecenderungan berkarya seperti pendapat Syahid Muthahhari (kitab Al-Ilahiyyat, juz 1). Kecenderungan beragama merupakan bagian dari fitrah manusia. Manusia diciptakan oleh Allah dalam bentuk cenderung beragama , dalam arti manusia mencintai kesempurnaan yang mutlak dan hakiki serta ingin menyembah Pemilik kesempurnaan tersebut. Syeik Taqi Mishbah Yazdi, dalam kitab Maarif al-Quran juz 1 hal. 37, menyebutkan adanya dua ciri fitrah, bik fitrah beragama maupun lainnya, yang terdapat pada manusia, yaitu pertama kecenderungan-kecenderungan (fitrah) tersebut diperoleh tanpa usaha atau ada dengan sendirinya, dan kedua fitrah tersebut ada pada semua manusia walaupun keberadaannya pada setiap orang berbeda, ada yang kuat dan ada pula yang lemah. Dengan demikian, manusia tidak harus dipaksa beragama, namun cukup kembali pada dirinya untuk menyebut suara dan panggilan hatinya, bahwa ada Sesuatu yang menciptakan dirinya dan alam sekitarnya. Meskipun kecenderungan beragama adalah suatu yang fitri, namun untuk menentukan siapa atua apa yang pantas dicintai dan disembah bukan merupakan bagian dari fitrah, melainkan tugas akal yang dapat menentukannya. Jadi jawaban dari pertanyaan mengapa manusia harus beragama, adalah bahwa beragama merupakan fitrah manusia. Allah Taala berfirman, "Maka hadapkanlah wajahmu kepada din dengan lurus, sebagai fitrah Allah yang Sekilas 1. Agama dasar atasnya manusia Teori-teori muncul aliran karena diciptakan." (QS. Rum: 30). Agama manusia perkembangan

Kemunculan kebodohan bahwa

Kaum materialis memiliki sejumlah teori tentang kemunculan agama, antara lain: Sebagian mereka berpendapat, bahwa agama muncul karena kebodohan manusia. August Comtepeletak positivismemenyebutkan, pemikiran manusia dimulai dari kebodohan manusia tentang rahasia alam atau ekosistem jagat raya. Pada mulanyaperiode primitifkarena manusia tidak mengetahui rahasia alam, maka mereka menyandarkan segala fenomena alam kepada Dzat yang ghaib. Namun, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan (sains) sampai pada batas segala sesuatu terkuat dengan ilmu yang empiris, maka keyakinan terhadap yang ghaib tidak lagi mempunyai tempat di tengah-tengah mereka. Konsekuensi logis teori di atas, adalah makin pandai seseorang akan makin jauh ia dari agama bahkan akhirnya tidak beragama, dan makin bodoh seseorang maka makin kuat

agamanya. Padahal, betapa banyak orang pandai yang beragama, seperti Albert Einstein, Charles Darwin, Hegel dan lainnya. Demikian sebaliknya, alangkah banyak orang bodoh yang 2. Agama muncul tidak karena kelemahan jiwa beragama. (takut)

Teori ini mengatakan, bahwa munculnya agama karena perasaan takut terhadap Tuhan dan akhir kehidupan. Namun, bagi orang-orang yang berani keyakinan seperti itu tidak akan muncul. Teori ini dipelopori oleh Bertnart Russel. Jadi, menurut teori ini agama adalah indikasi dari rasa takut. Memang takut kepada Tuhan dan hari akhirat, merupakan ciri orang yang beragama. Tetapi agama muncul bukan karena faktor ini, sebab seseorang merasa takut kepada Tuhan setelah ia meyakini adanya Tuhan. Jadi,takut merupakan akibat 3. dari Agama meyakini adanya adalah Tuhan produk (baca: beragama). penguasa

Karl Marxbapak aliran komunis-sosialismengatakan, bahwa agama merupakan produk para penguasa yang diberlakukan atas rakyat yang tertindas, sebagai upaya agar mereka tidak berontak dan menerima keberadaan sosial-ekonomi. Mereka (rakyat tertindas) diharapkan terhibur dengan doktrin-doktrin agama, seperti harus sabar, menerima takdir, jangan marah dan lainnya. Namun, ketika tatanan masyarakat berubah menjadi masyarakat sosial yang tidak mengenal perbedaan kelas sosial dan ekonomi, sehingga tidak ada lagi (perbedaan antara) penguasa dan rakyat yang tertindas dan tidak ada lagi (perbedaan antara) si kaya dan si miskin, maka agama dengan sendirinya akan hilang. Kenyataannya, teori di atas gagal. Terbukti bahwa negara komunis-sosialis sebesar Uni Soviet pun tidak berhasil menghapus agama 4. dari Agama para pemeluknya, adalah sekalipun produk dengan cara kekerasan. lemah

orang-orang

Teori ini berseberangan dengan teori-teori sebelumnya. Teori ini mengatakan, bahwa agama hanyalah suatu perisai yang diciptakan oleh orang-orang lemah untuk membatasi kekuasaan orang-orang kuat. Norma-norma kemanusiaan seperti kedermawanan, belas kasih, kesatriaan, keadilan dan lainnya sengaja disebarkan oleh orang-orang lemah untuk menipu orang-orang kuat, sehingga mereka terpaksa mengurangi pengaruh kekuatan dan kekuasaannya. Teori ini diperoleh Nietzche, seorang filsuf Jerman.

Teori di atas terbantahkan jika kita lihat kenyataan sejarah, bahwa tidak sedikit dari pembawa agama adalah para penguasa dan orang kuatmisalnya Nabi Daud dan Nabi Sulaimankeduanya adalah raja yang kuat. Sebenarnya, mereka ingin menghapus agama dan menggantikannya dengan sesuatu yang mereka anggap lebih sempurna (seperti, ilmu pengetahuan menurut August Comte, kekuasaan dan kekuatan menurut Nietszche, komunis-sosialisme menurut Karl lainnya). Padahal mencintai dan menyembah kesempurnaan Marx dan fitrah. adalah

Perbedaan kaum agamawan dengan mereka, adalah bahwa kaum agamawan mendapatkan kesempurnaan yang mutlak hanya pada Tuhan. Jadi, sebenarnya mereka (kaum Atheis) beragama dengan pikiran mereka sendiri. Atau dengan kata lain, mereka mempertuhankan diri mereka sendiri.

Daftar 1. 2. 3. 4. 5. 7. Nahj Tafsir Namuneh Al-Ilahiyyat, Maarif Fitrah al-Quran, (bahasa Parsi), (bhs. Al-Quran al-Balaghah, Parsi), karya karya Ayatullah Ayatullah karya Ibn Ayatullah Jafar Muhammad Ayatullah Taqi Abil

Rujukan: al-Karim Hadid Syirazi. Subhani. Misbah. Makarim

6. Al-Manhaj al-Jadid fi Talimi al-Falsafah, karya Muhammad Taqi Misbah Syahid Murthahhari. 8. Manusia Seutuhnya, Studi Kritis Berbagai Pandangan Filosofis, diterjemahkan oleh Abdillah Hamid Baabud dari kitab aslinya Insone Komil, karya Syahid Murthahhari. Pesan Dzulhijjah 1420 H/Maret 2000 M Haji

Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. 2:127) Saudara dan saudari umat Islam sekalian, para jemaah haji umat Islam, assalamualaikum wr.wb. Suatu hari dimana Sang Penyeru Besar Tauhid (Ibrahim AS) bersama puteranya, Ismail AS mendirikan fondasi-fondasi Kaabah di tengah-tengah lembah dan gunung-gunung terpencil dan gersang, sejauh apapun kecerdasan akal manusia tidak akan pernah menduga bahwa kelak Kaabah akan menjadi sentral kehangatan iman dan harapan serta kiblat untuk jiwa dan raga. Kaabah sekarang adalah pusat spiritual Dunia Islam dan merupakan arena pertemuan terbesar umat Islam setiap tahun. Ia merupakan sumber yang memancarkan kecintaan dan harapan, ia merupakan samudera pekikan keagungan dan kepercayaan serta merupakan tempat bertemunya aliran-aliran besar suku dan bangsa. Ketulusan para pendirinya serta keridhaan Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui telah menjadikan benih ini sebagai pohon yang sedemikian rimbun dan penuh ranting. Apakah umat Islam memanfaatkan sumber ini dengan sepatutnya? Jawaban untuk pertanyaan ini menyakitkan dan mengerikan. Dewasa ini Dunia Islam mengalami berbagai penderitaan yang kronis. Penderitaan-penderitaan ini yang paling krusial boleh jadi ada sepuluh jenis: Pertikaian politik dan mazhab, dekadensi akar-akar moral dan iman, keterbelakangan ilmu pengetahuan dan industri, ketergantungan politik dan ekonomi, royal dan keglamoran serta kesombongan di depan kemiskinan, kelaparan dan kepapaan, lemahnya rasa percaya diri dan rendahnya optimisme terhadap masa depan, pengesampingan dan penceraian agama dari politik dan kehidupan, hilangnya kreativitas untuk menciptakan konsep-konsep baru dimana AlQuran merupakan sumbernya yang abadi, kepasrahan di depan serangan kebudayaan yang dipaksakan oleh Barat, dan terakhir diterinjaknya kehormatan bangsa-bangsa muslim lantaran sebagian pemimpin politik mudah terserang kehinaan dan perbuatan rakus. Semua penyakit yang sebagian ditimbulkan oleh sebagian yang lain ini sepanjang zaman terwujud dalam pengkhianatan, tidak adanya kemauan, kebodohan dan penindasan oleh unsur-unsur internal atau yang tercipta karena aksi permusuhan, kebiadaban dan

kezaliman para musuh. Ini semua merupakan pukulan terbesar yang menimpa umat Islam. Ketidakberdayaan umat Islam adalah akibat dari penyakit-penyakit ini. Satu-satunya jalan keberuntungan dan kesuksesan ialah pembebasan dari penyakit-penyakit ini. Dewasa ini, kekayaan alam Dunia Islam dirampas, warisan budaya dan pemikirannya yang bernilai sebagian besar tersembunyi dibalik hijab yang terbuat dari kemasan propaganda para pelaku serangan kebudayaan, potensi dan akal para pemudanya disandera, kekuatan mereka dalam konfrontasi militer dan politik musnah, ketidakpedulian moral dan akidah ibarat air kubangan yang menyusup ke dalam lingkungan hidup, pendidikan dan olah raga para pemuda Dunia Islam, kekayaan minyaknya hari demi hari semakin menambah kekayaan perusahaan-perusahaan asing dan para pemungut pajak asing, kekayaan ini bukannya kembali kepada para pemiliknya tetapi malah semakin mengenyangkan musuhmusuh mereka. Di jantung Dunia Islam dan di seluruh pelosoknya di Asia, Afrika dan Eropa- cambuk kezaliman dan amarah kaum kafir mendera umat Islam. Palestina dan Lebanon dibakar oleh api kekejaman kaum Zionis,. Semua penderitaan ini tidak membangkitkan para politisi, pemuka agama dan intelektual umat Islam untuk mencarikan solusinya. Padahal, di semua tempat terdapat berbagai modal yang berharga untuk menegakkan sebuah kondisi baru yang membawa keselamatan, serta terlihat jelas instrumen dan sebuah motivasi yang memadai untuk terciptanya perubahan segenap negara-negara Islam. Sekarang ini, sedikit sekali negara Islam yang terlihat jelas kaum mudanya memiliki sensibilitas dan motivasi Islami, mayoritas penduduknya memiliki komitmen iman yang mendalam, merasa prihatin atas situasi yang ada dan optimis kepada masa depan Islam. Masalah yang mencegah aktifnya potensi-potensi ini pertama-tama ialah bahwa kekuatan politik di dalam negara-negara itu tidak mengarah kepada aspirasi dan tuntutan-tuntutan tersebut. Dan dalam banyak kasus, berbagai pemerintahan memang tidak bisa sinkrun dan bekerjasama dengan aspirasi-aspirasi besar dan Islami rakyat tersebut karena mengalami kelemahan, atau ketergantungan, atau penindasan terhadap rakyat. Dari sisi lain kebesaran Dunia Islam serta kekuatan pengaruhnya atas peristiwa-peristiwa dunia tidaklah tampak di mata mereka. Akibatnya, setiap bangsa (muslim) merasa sendirian di depan tekanan kekuatan-kekuatan anti Islam dan arogan sehingga tidak mungkin mereka bisa menghadapi serangan politik, propaganda dan terkadang serangan militer.

Dari satu sisi lagi, pengalaman operasional dan nyata pemerintahan Islam pada zaman sekarang ini, yaitu Republik Islam Iran tertutup oleh debu tebal propaganda yang diwarnai sikap permusuhan. Ratusan media audio, visual dan penulisan serta ribuan otak dan penapena bayaran setiap hari sibuk bekerja untuk menjatuhkan fakta-fakta Republik Islam Iran, membesar-besarkan kelemahan dan kegagalannya serta mengingkari berbagai kesuksesan dan kemajuannya. Jika umat Islam memahami nilai ibadah haji dan memanfaatkan titik dan pusat pertemuan setiap tahun ini dengan benar maka bagian penting dari blokade rasa frustasi dan doktrinasi kelemahan yang membelenggu berbagai bangsa ini akan hancur. Musim haji bisa memperlihatkan keagungan, keaneka ragaman, serta kekuatan spiritual dan insaniah Dunia Islam secara spektakuler setiap tahun di depan mata masyarakat dari segenap negara-negara muslim sekaligus menjalin komunikasi, perkenalan dan pertukaran pendapat antar tokoh pilihan setiap bangsa. Dalam haji, setiap bangsa bisa memperoleh berita-berita faktual mengenai kondisi saudara-saudara mereka dan menyingkap tirai propaganda musuh-musuh Islam. Dengan memanfaatkan spiritualitas Baitullah Al-Haram, mereka bisa mempersiapkan sebuah gerakan yang terkoordinir dan tulus di atas jalan pengembalian kekuasaan Islam, pencapaian kehormatan dan kemerdekaan serta usaha menciptakan perubahan mendasar di negara-negara mereka. Terciptanya kekuasaan Islam di negara-negara Islam ibarat kelahiran seorang bayi yang penuh berkah, namun banyak diselimuti dengan penderitaan. Tahap berikutnya yang merupakan tahap pemeliharaan dan usaha memenuhi kebutuhan materi dan spiritual serta menjaga pertumbuhannya adalah jauh lebih berat dimana masa perjuangan untuk itu akan jauh lebih panjang. Di Iran yang Islami, bayi yang terlahir ini banyak mengalami aksi-aksi permusuhan baik secara terbuka maupun terselubung. Tetapi, alhamdulillah, sekarang ia berada di era kemerdekaan, stabilitas dan kejayaan. Walau demikian, badai-badai permusuhan yang datang dari sentra-sentra kaum arogan dan anti Islam masih tetap menerjangnya dari pelbagai penjuru. Institusi ini merupakan model pertama kalinya dalam dunia modern dan bisa menjadi contoh bagi negara-negara lain serta mengancam sepenuhnya interes AS, Israel dan kepentingan negara-negara rakus lainnya di Dunia Islam. Karena itu, ia menjadi

sasaran amuk permusuhan dan ketidaksabaran segenap pusat kekuatan yang haus dominasi di dunia. Aksi membangkitkan gerakan kesukuan di dalam negeri adalah gerakan musuh yang pertama kalinya. Langkah-langkah berikutnya ialah mengaktifkan benih-benih yang terdiri dari orang-orang bayaran rezim lama, mempersiapkan kudeta militer, kemudian memotivasi sebuah negara tetangga supaya melancarkan serangan ke perbatasan sepanjang 1.300 kilometer. Satu saja dari masing-masing langkah ini sudah cukup untuk mencabut dan menghancurkan sebuah pemerintahan nasionalistis. Tetapi Republik Islam Iran bukan sekedar pemerintahan nasionalistis, melainkan juga merupakan bangunan yang terdiri dari seluruh komponen bangsa yang beriman dan memiliki motivasi-motivasi keimanan yang mendalam. Perang yang dilancarkan tetangga pengkhianat itu berlangsung delapan tahun, dan kendati upaya ambisius AS sudah membuat kami menjadi sasaran prasangka buruk sebagian lain negara tetangga kami dan mereka gencar membantu agresor, toh pada akhirnya pihak yang menyulut perang itu loyo, tak berdaya, kalah dan mundur dari wilayah-wilayah perbatasan kami. Selama 21 tahun usia Republik Islam, imperialisme pemberitaan kaum arogan gencar menyebarkan provokasi anti kami. Mereka menaruh modal dalam berbagai bentuk untuk memobilisasi opini publik dunia terhadap pemerintahan Islam. Politik luar negeri dan instansi keamanan AS dengan bantuan besar para kapitalis Zionis berusaha sebisa mungkin untuk menciptakan blokade ekonomi dan menghadang politik luar negeri Republik Islam Iran. Di pelbagai penjuru dunia, puluhan kelompok teroris atau himpunan para politisi bayaran yang menjual bangsa dan berkhianat, dengan uang, janji, dan dukungan musuh, masih sedang melancarkan operasi-operasi makar. Ratusan syuhada yang namanya harum dan abadi korban kejahatan-kejahatan hina orang-orang bayaran tersebut telah mewarnai sejarah revolusi kami dengan keadaan yang senantiasa teraniaya. Singkatnya, lebih dari 20 tahun front musuh kami, khususnya AS dan Zionisme, dengan segala kekuatan, manejemen dan sepak terjangnya telah memerangi apa yang dilahirkan oleh revolusi, yaitu pemerintahan Republik Islam. Walau demikian, selama lebih dari 20 tahun, pemerintahan Republik Islam sedikitpun tidak pernah kehilangan detik pertumbuhan, kejayaan dan kestabilannya, dan sekarang ia justru menjadi lebih kuat. Dengan kekuatan dan motivasi itu, ia memulai seruan Islam, persatuan Islam, dan kehormatan Islam yang merupakan biang kecemasan dan khawatiran musuh.

Sebelas tahun setelah wafatnya arsitek dan pendiri bangunan tersebut, Imam Khomaini yang agung, Republik Islam tetap bergerak maju ke arah tujuan yang beliau gariskan dan berjalan melalui jalur yang beliau perlihatkan. Stablitas dan kekuatan ini adalah kebanggaan pertama-tama bagi esensi Islam serta ajaran-ajarannya yang membuka jalan kelapangan dan kehormatan, dan yang kedua adalah bagi rakyat Iran yang telah menempuh jalan Islam dengan penuh keimanan, berkorban dengan penuh keikhlasan serta menjaga hasil-hasilnya dengan penuh kesabaran. Seandainya tidak ada kelemahan dari diri kami para pejabat pemerintahan Republik Islam serta tidak ada kekurangan dan kealpaan baik yang beralasan maupun tidak, tak syak lagi dewasa ini berkat hukum-hukum dan ajaran Islam yang cemerlang Republik Islam sudah berhasil melewati era problematika yang lebih besar serta lebih mendekati tujuantujuannya. Seperti biasa, tipuan utama propaganda kaum arogan ialah menciptakan persepsi bahwa rakyat Iran dan pemerintah Islamnya sudah berpaling dari tujuan-tujuan yang sudah digariskan. Kebohongan yang murahan ini bertujuan menciptakan rasa frustasi para pengagum kedaulatan Islam di pelbagai penjuru dunia serta melumpuhkan spirit para pemuda di dalam negeri kami. Setelah pemilu ke 21 kami berlangsung dan menentukan para wakil dalam Majlis Syura Islam, para pemuka kaum mustakbir itu menyatakan gembira atas adanya apa yang mereka sebut dengan demokrasi. Sulit bagi mereka untuk mengakui adanya partisipasi rakyat sepanjang tahun-tahun pasca revolusi sampai sekarang. Berat bagi mereka untuk menerima bahwa pemilu dengan antusias dan sambutan luas seperti ini juga terjadi empat tahun silam guna membentuk majlis parlemen periode sebelumnya serta pemilu tiga tahun silam untuk memilih presiden. Mereka ingin menghibur kesia-siaannya dengan asumsi bahwa para pembangkang kedaulatan Islam dan mereka yang berambisi memperbaharui dominasi kaum arogan terhadap Iran bisa menemukan jalan masuk ke pusat-pusat kekuasaan. Dengan bertawakkal dan percaya penuh kepada Allah Yang Maha Agung lagi Maha Bijaksana, dengan keimanan yang mendalam dan tak kenal goyah kepada hukum Islam yang cemerlang dan sumber kebagiaan, dengan kesadaran penuh kepada bangsa (Iran) yang besar dimana saya berasal dari tengah-tengah mereka dan telah menghabiskan

segenap usia di tengah-tengah mereka, dan dengan kecintaan penuh kepada mereka hingga akhir hayat, saya tegaskan kepada kawan dan lawan bahwa bangsa ini tetap akan menempuh jalan Islam sampai tujuan-tujuan besar mereka tercapai. Bangsa ini akan memperlihatkan kepada semua orang bahwa kehormatan, pertumbuhan, dan kemajuan materi dan ruhani serta penggapaian kemuliaan insani hanya bisa dilakukan dengan mempraktikkan Islam dan AlQuran secara menyeluruh. AS tidak bisa berharap mampu memasukkan kembali Iran ke dalam dominasinya, meredakan gelora aspirasi dan tuntutan kedaulatan Islam di negara-negara Islam, menjatuhkan Palestina ke dalam cengkaraman kaum Zionis yang rasis dan fasis tanpa ada gejolak, dan membius gelombang kebencian yang kian hari semakin merebak kepadanya. Jika perspektif ini umum di tengah pemerintah-pemerintah muslim, niscaya bendera keagungan Islam akan berkibar di dunia sebagaimana mestinya, haji akan menjadi sentral solidaritas yang hakiki dan sumber kekuatan Islam yang abadi, kekayaan mineral Dunia Islam akan menguntungkan bangsa-bangsa muslim, dan kebudayaan Islam yang kaya dan pemberi kalapangan hidup akan menjadi sarana yang melayani umat manusia. Saya berdoa kepada Allah SWT agar hari itu sudah dekat. Saya memohon kepada para jemaah haji yang mulia supaya berdoa demi kelapangan umat Islam dunia dan agar bangsa Iran yang pejuang mendapat pertolongan Ilahi, dan saya menyerukan para jemaah haji Iran yang mulia supaya berusaha dengan segenap upaya agar bisa memperoleh limpahan maknawiah, menjaga keteguhan dan persatuan, berpartisipasi dalam jemaah-jemaah serta menimba perolehan spiritual dan moral. Wassalam Sayid Ali Khamenei ___________________ * Diterjemahkan oleh Moh.Moesa (salah satu penyiar di IRIB [islamic republic of iran broadcasting] Teheran.

Pidato Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei pada Hari Ghadir Khoum di Masyhad 18 Dzulhijjah 1420 H/25 Maret 2000 M

Berkenaan dengan hari raya Ghadir Khum yang didalam riwayat-riwayat kita disebut dengan ied akbar, saya ucapkan selamat kepada segenap umat Syiah dunia, kepada bangsa Iran yang mulia, kepada hadirin sekalian yang terhormat, dan kepada segenap orang mengakui tingginya kedudukan makrifat-makrifat Ilahi yang murni. Pada hari-hari pertama tahun ini, terdapat beberapa hari bahagia untuk masyarakat secara umum yaitu hari raya Norouz yang sebelumnya adalah Idul Adha, dan sekarang ialah hari raya Ghadir Khoum. Dalam suasana penuh vitalitas, suka cita dan di sisi makam suci Hazrat Abul Hasan Imam Ali bin Musa Arridha A.S ini masalah pertama yang ingin saya kemukakan di depan para hadirin saudara dan saudari sekalian ialah menyangkut masalah AlGhadir sendiri. Al-Ghadir adalah masalah keislaman dan bukan masalah kesyiahan saja. Dalam sejarah Islam disebutkan bahwa suatu hari Rasulullah mengutarakan suatu pernyataan dan beliau aktualisasikan. Pernyataan dan aktualisasi ini memiliki pelajaran dan makna dari berbagai aspeknya. Kita tidak bisa mengatakan bahwa AlGhadir dan hadits AlGhadir hanya digunakan oleh kaum Syiah sedangkan umat Islam lainnya tidak memanfaatkan kandungan ucapan mulia Rasul yang kaya muatan dan tidak dikhususkan untuk masa tertentu ini. Hanya saja, karena dalam kasus Ghadir Khoum ini terdapat pengangkatan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib A.S, maka umat Syiah lebih menaruh perhatian kepada hari dan hadits ini. Tetapi, kandungan hadits AlGhadir tidak hanya menyangkut masalah pengangkatan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, melainkan juga mengandung muatan-muatan lain yang bisa digunakan oleh umat Islam lainnya.

Mengenai prinsip terjadinya peristiwa AlGhadir, sudah sepatutnya semua orang yang berminat kepada masalah-masalah sejarah Islam mengetahui bahwa masalah Ghadir Khoum adalah satu masalah yang diakui dan tidak diragukan kebenarannya. Bukan hanya orang Syiah yang meriwayatkannya. Para ahli hadits Sunni maupun Syiah, baik pada periode terdahulu maupun periode pertengahan dan setelahnya, telah meriwayatkan peristiwa yang terjadi dalam perjalanan Haji Wada Rasul di Ghadir Khoum. Rombongan besar umat Islam yang turut menunaikan haji bersama Rasul dalam perjalanan ini sebagian ada yang di depan. Rasul mengirim para kurir kepada mereka yang ada di depan supaya kembali ke belakang dan berhenti agar mereka yang berada di barisan belakang tiba di tempat. Rapat akbar pun terjadi. Sebagian orang mengatakan jumlahnya 90 ribu, sebagian lagi mengatakan 100 ribu, ada pula yang mengatakan 120 ribu. Di saat cuaca panas, masyarakat Jazirah Arab yang sebagian besar adalah penghuni gurun sahara dan desa-desa yang terbiasa dengan cuaca panas bahkan ada yang tidak tahan dengan panas cuaca saat itu. Mereka berdiri di atas tanah yang panas menyala. Mereka meletakkan pakaian abaah di bawah kaki supaya tahan panas. Hal ini juga disebutkan dalam riwayat-riwayat Ahlussunah. Dalam situasi seperti ini, Rasululllah SAWW menampilkan Amirul Mukminin di depan mata orang-orang kemudian berkata: "Barang siapa menjadikan aku sebagai pemimpinya, maka Ali-lah pemimpinnya. Ya Allah tolonglah orang yang menolongnya, dan musuhilah orang yang memusuhinya." Kata-kata ini tentunya juga beliau utarakan sebelum dan sesudahnya. Tetapi masalahnya yang terpenting ialah bahwa di sini beliau mengutarakan secara resmi dan tegas masalah wilayat (kepemimpinan), yakni masalah pemerintahan Islam serta menunjuk Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sebagai figur pilihan. Seperti yang tentu pernah Anda dengar dan pernah pula saya utarakan, saudara-saudara kita dari kalangan Ahlussunah juga meriwayatkannya dalam puluhan kitab-kitab muktabar mereka, dan bukan dalam satu atau dua kitab saja. Riwayat-riwayat ini sudah dihimpun oleh Almarhum AlAllamah AlAmini. Selain beliau, juga banyak para penulis yang mencatatnya dalam jumlah kitab yang besar.

Atas dasar ini, pertama-tama hari ini adalah hari wilayat (kepemimpin), dan kedua adalah hari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Dalam kalimat yang diucapkan Rasul ini, apakah makna wilayat? Secara ringkas, maknanya ialah bahwa Islam tidak terbatas hanya pada solat, puasa, zakat, dan amal-amal ibadah individual. Islam juga memiliki sistem politik dan pemerintahan yang berlandaskan ketentuan-ketentuan yang sudah dipertimbangkan. Dalam terminologi Islam, pemerintahan Islam ialah wilayat. Dalam bentuk bagaimanakah wilayat itu? Wilayat ialah suatu pemerintahan di mana sosok yang berkuasa memiliki ikatan-ikatan cinta, batin, pemikiran dan akidah dengan segenap lapisan masyarakat. Makna wilayat bukanlah pemerintahan yang dipaksakan, pemerintahan yang disertai kudeta, pemerintahan yang penguasanya tidak menerima akidah rakyatnya, tidak mementingkan pikiran-pikiran dan sensibilitas rakyatnya, dan bahkan pemerintahan yang sudah umum ditengah masyarakat sebagaimana pemerintahan-pemerintahan yang ada di dunia sekarang ini- dimana penguasanya menikmati berbagai fasilitas khusus dan perl! akuan istimewa serta terdapat zona khusus untuknya guna mendapatkan kenikmatan-kenikmatan duniawi. Wilayat adalah pem0erintahan yang didalamnya terdapat ikatan-ikatan pemikiran, akidah, kasih sayang, kemanusiaan, dan cinta antara penguasa dan rakyat. Pemerintahan dimana rakyat bersambung dan bergabung dengan penguasa, menaruh simpati kepadanya, dan penguasanya pun menganggap sumber seluruh sistem politik beserta tugas-tugasnya ini adalah dari Allah, serta memandang dirinya sebagai hamba dan abdi Allah. Dalam wilayat tidak ada aroganisme. Pemerintahan yang diperkenalkan oleh Islam lebih merakyat daripada demokrasi-demokrasi yang popular di dunia. Pemerintahan ini memiliki ikatan dengan pikiran, perasaan, akidah dan berbagai kebutuhan pemikiran rakyat. Pemerintahan adalah untuk melayani masyarakat. Secara materi, pemerintahan tidak boleh dipandang sebagai santapan untuk diri penguasa da00n komponen pemerintahan. Bermegah-megahan bukanlah wilayat. Bukanlah sosok pemimpin orang yang berada di pucuk pemerintahan Islam kemudian mengincar materi demi kekuasaan, demi dirinya, demi kedudukan yang sudah dan akan dicapainya. Dalam pemerintahan Islam sosok wali amr yaitu orang yang diserahi urusan mengelola sistem politik secara hukum sederajat dengan orang lain. Dia memang berhak untuk

melaksanakan berbagai pekerjaan besar untuk rakyat, negara, Islam dan umat Islam, namun dia sendiri juga berada di bawah hukum. Sejak hari pertama hingga sekarang, khususnya setelah berdirinya pemerintahan Republik Islam, terdapat orang-orang yang menyelewengkan makna wilayat. Wilayat diperkenalkan sebagai sesuatu yang bukan apa adanya. Mereka katakan makna wilayat ialah bahwa rakyat itu terlarang dan memerlukan ketua dan pemimpin. Orang-orang yang punya nama secara tegas menulis sedemikian ini di dalam buku-buku dan artikel-artikel mereka. Ini adalah dusta belaka dan merupakan fitnah kepada Islam dan wilayat. Dalam AlGhadir, masalah wilayat diutarakan Rasul sebagai satu masalah resmi, dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ditunjuk sebagai substansinya. Tentu saja terdapat banyak rincian dalam masalah ini, dan Andapun mengetahuinya. Dan kalau masih ada orang yang tidak mengetahui rincian itu, khususnya para pemuda, maka hendaknya merujuk kepada berbagai tulisan dan kitab argumentatif dan ilmiah. Dalam hal ini berbagai kitab sudah ditulis dan bermanfaat. Dalam permulaan tahun ini saya sudah mengemukakan seruan persatuan nasional dan keamanan nasional. Mengenai dua seruan ini, saya berminat untuk menjelaskan dua materi ringkas kepada hadirin yang mulia serta kepada segen00ap masyarakat Iran. Masalah Ghadir Khoum bisa dijadikan sebagai sumber persatuan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Almarhum Ayatullah Syahid Mutahari dalam artikelnya yang berjudul Ghadir Khoum dan Persatuan Islam. Beliau menyebut kitab AlGhadir yang membicarakan berbagai persoalan menyangkut peristiwa Ghadir Khoum sebagai salah satu poros persatuan Islam. Dan ini memang benar. Kelihatannya mungkin aneh, tetapi inimerupakan kenyataan. Masalah AlGhadir, selain aspek dimana Syiah menerimanya sebagai keyakinam, yaitu penobatan Amirul Mukminin oleh Rasul sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits AlGhadir, juga mengemukakan masalah wilayat yang merupakan masalah lintas Sunnah dan Syiah. Jika sekarang ini umat Islam dunia dan bangsa-bang0sa di negara-negara Islam meneriakkan seruan wilayat Islami, niscaya sebagian besar jalan keluar tidak akan hilang, berbagai kebuntuan umat Islam akan terbuka dan berbagai dilematika dunia Islam akan segera teratasi.

Masalah pemerintahan, sistem, dam otoritas politik adalah salah satu masalah yang tersulit untuk berbagai negara. Sebagian negara terbentur kepada despotisme dan diktatorial, kepada pemerintahan yang korup, kepada pemerintahan yang rentan, dan kepada pemerintahan boneka. Jika pemerintahan Islam sesuai maknanya yang hakiki, yakni wilayat, ditampilkan sebagai satu syiar untuk umat Islam, maka kelemahan akan terobati, begitu pula masalah ekonomi, masalah status sebagai negara boneka, dan masalah diktatorial.00 Atas dasar ini, bendera wilayat adalah satu bendera Islami. Kepada segenap saudara-saudara dari kalangan Syiah dan Sunni di negara kita ini untuk sementara ini sengaja saya kemukakan batasan geografis-, saya menghimbau supaya masalah AlGhadir ditinjau dengan kacamata ini, serta menaruh perhatian kepada bagian dari hadits dan masalah AlGhadir ini. Saudara-saudara kita dari kalangan Ahlussunah hendaknya juga merayakan hari raya AlGhadir, hari raya wilayat, sebagaimana kami. Hari ini adalah merupakan asal kelahiran masalah wilayat, karena itu hari ini sangatlah penting, sebagaimana pentingnya wilayat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib yang disepakati bersama oleh kita dan saudara-saudara kita dari kalangan Sunni. Baik pada masa pasca kemenangan revolusi maupun pada masa pra revolusi, saya selalu meyakini bahwa Syiah dan Sunnah sudah seharusnya menyingkirkan pertikaian lamanya dalam pergaulan mereka sehari-hari. Konfrontasi dan perdebatan harus disingkirkan lalu merekatkan berbagai persamaa0n mereka. Ini sendiri juga merupakan salah satu dari berbagai kesamaan itu. Sampai sekarang saya masih meyakini hal ini. Dewasa ini, banyak sekali upaya untuk menciptakan ikhtilaf antara Syiah dan Sunnah. Namun orang-orang yang berpikir dan pandai menganalisis tentunya mengetahui keuntungan dan manfaat yang bisa diperoleh kaum mustakbirin dari upaya ini. Tujuan mereka ialah menceraikan Iran dari himpunan negara-negara Islam. Revolusi Islam hanya terbatas pada teritorial Iran. Mereka menciptakan kondisi supaya Iran mendapat tekanan dari negara-negara Islam lainnya, serta mencegah bangsa-bangsa lain mengambil pelajaran dari bangsa Iran. Kita harus benar-benar melawannya. Siapapun, baik dari lingkungan Sunnah maupun Syiah, yang membantu terjalinnya solidaritas dan komunikasi yang baik dan bersahabat antara Syiah dan Sunnah, maka ia telah melakukan pekerjaan yang menguntungkan revolusi, Islam dan cita-cita umat Islam. Dan siapapun yang berusaha menciptakan perpecahan, maka ia telah bergerak kepada arah yang berlawanan.

Saya mendapat informasi jelas bahwa sekarang sebagian negara Islam yang tidak ingin saya sebutkan namanya menaruh dan menggunakan uang dari kotak-kotak dana yang berkaitan dengan tujuan dan kehendak pihak-pihak asing, khususnya untuk menulis buku-buku yang mendiskreditkan Syiah, akidah Syiah, dan sejarah Syiah yang kemudian dipublikasikan ke Dunia Islam. Apakah mereka itu memang bersimpati kepada Ahlussunnah? Tidak. Mereka tidak menghendaki Syiah, tidak pula Sunnah. Mereka tidak bersahabat dengan Syiah maupun Sunnah. Namun, karena di Iran sekarang ini pemerintahan dan bendera Islam ada di tangan kelompok Syiah dan karena mereka memandang segenap komitmen rakyat Iran tertumpu pada Syiah, m0aka segala bentuk permusuhan mereka kepada revolusi tertumpu kepada revolusi Islam. Mereka berusaha memberantas Syiah agar pemerintahan politik Islam dan bendera kehormatan ini tidak menjalar ke tempat-tempat lain dan menarik simpati kaum muda di negara-negara lain.! Jangan sampai ada orang yang membantu pengkhianatan para musuh ini. Siapapun, baik di negara kita, di lembaga-lembaga Islam, di kalangan Syiah maupun diantara saudara-saudara kita dari kalangan Ahlussunah di negara kita, jangan sampai ada yang melakukan tindakan yang membantu ambisi kaum mustakbirin untuk menciptakan kebencian dan permusuhan. Dengan pernyataan ini, tentu saja kami tidak bermaksud mengatakan supaya orang Syiah menjadi Sunni, atau orang Sunni menjadi Syiah, juga bukan supaya orang Syiah dan Sunni tidak lagi melakukan kegiatan ilmiah sesuai dengan kemampuannya untuk memperkuat akidah mereka. Kegiatan ilmiah kebetulan baik sekali. Sama sekali tidak ada masalah. Silahkan mereka menulis buku-buku ilmiah dan dalam lingkungan ilmiah, bukan dalam lingkungan non-ilmiah, apalagi dengan nada yang tercela dan keras. Dengan demikian, jika seseorang bisa membuktikan logikanya, maka kita tidak boleh mencegah kegiatannya. Namun, jika seseorang menghendaki perpecahan dengan kata-kata, tindakan dan berbagai macam cara, maka kita menganggapnya sebagai melayani musuh. Orang-orang Sunni harus waspada, begitu pula orang-orang Syiah. Persatuan nasional yang kami katakan tadi juga meliputi masalah ini. Perlu ju0ga saya ungkapkan di sini bahwa dewasa ini terdapat orang-orang yang memperlakukan persatuan nasional bukan sebagai semboyan-semboyan agamis, melainkan mencemarinya dengan slogan-slogan politik belaka. Kami sudah menasehati mereka dan sekarang pun kami juga menghimbau supaya persatuan bangsa yang besar dan bersatu ini jangan sampai goyah. Memisahkan bangsa yang besar ini satu dengan yang lain adalah

tindakan melayani musuh bangsa ini. Jika bangsa yang besar dan matang ini memelihara persatuan nasional di negeri ini, niscaya akan tercipta peluang untuk persatuan bangsabangsa lain. Jika umat Islam yang berjumlah sekitar satu setengah milyar ini bersatu dalam berbagai persoalan prinsipal mereka, maka bisa Anda lihat betapa besarnya kekuatan yang akan tercipta di dunia ini. Namun, jika persatuan nasional ternyata retak, maka bicara soal persatuan Dunia Islam adalah omongan yang fiktif dan mengundang tawa semua orang. Sebagian orang menginginkan! supaya ini terjadi. Bagaimanakah persatuan nasional bisa dipenuhi? Salah satu hal yang bisa menjamin persatuan nasional ialah bahwa orang-orang yang kata-katanya punya pengaruh di tengah masyarakat, atau para pejabat dan figur-figur agamawan dan rohaniwan hendaknya tidak memberikan pernyataan yang mengotori perasaan sekelompok masyarakat kepada kelompok-kelompok lain. Mereka jangan sampai membangkitkan fitnah. Membangkitkan fitnah dan membuat masyarakat saling curiga adalah salah satu bahan program para musuh terhadap bangsa ini. Radio-radio asing dan pusat-pusat pemberitaan ini mungkin bisa dikatakan bahwa separoh dari pernyataan-pernyataan mereka sudah direkayasa supaya satu kelompok masyarakat tertentu berburuk sangka kepada kelompok yang lain. Mereka duduk dan merancang pernyataan sedemikian rupa agar punya pengaruh. Orang-orang yang bekerja dengan lisan dan pena pertama-tama harus waspa0da agar apa yang mereka nyatakan jangan sampai menciptakan prasangka buruk, jangan sampai menjadikan masyarakat saling berburuk sangka dan pessimis kepada pemerintah, karena hal ini juga merupakan satu bentuk tindakan membangkitkan fitnah dan perbuatan dosa lain. Sebagian orang sangat berkepentingan dengan pembuatan isu, membikin-bikin berita, mendistorsi berita, dan boleh jadi asal usul beritanya benar, namun berita ini dikemukakan sedemikian rupa agar materinya yang tidak sesuai dengan kenyataan bisa ditanamkan pada persepsi lawan bicaranya, agar hati rakyat, para pemuda, para pembaca dan pendengarnya berburuk sangka kepada para pejabat pemerintah, dan supaya orang-orang mengalami keragu-raguan. Apa untungnya perbuatan ini? Perbuatan ini tidak mendatangkan hasil apapun kecu0ali menghambat laju perkembangan bangsa dan negara, membuat pemerintah ragu-ragu dalam bekerja, membuat rakyat frustasi kepada masa depan, dan merampas kekuatan optimisme yang besar dari tangan rakyat. orang berusaha menciptakan prasangka buruk

orang-orang lain kepada pemerintahan secara keseluruhan atau kepada sebagian pejabat pemerintah. Padahal, kalau memang ada pernyataan yang benar, maka pernyataan ini bisa menghasilkan pengaruh yang jauh lebih baik jika disalurkan melalui jalur tertentu kepada pejabat atau kepada pejabat yang ada di atasnya. Ketika suatu peristiwa terjadi, kasus teror terjadi, kejahatan terjadi di suatu tempat, terdengarlah pernyataan yang sedemikian menyimpang, menimbulkan kecurigaan, dan membangkitkan keheranan para pembaca pernyataan orang-orang yang sama sekali tidak memiliki tanggungjawab. Coba lihat, betapa mereka yang memberitakan tentang fakt! a-fakta yang ada itu ternyata sangat jauh atau memang sengaja menjauhi fakta. Ini semua adalah masalah-masalah yang merusak persatuan nasional. Atas dasar ini, persatuan nas0ional adalah salah satu aspirasi yang paling mendasar dari sebuah bangsa. Sebuah bangsa akan maju jika bersatu dalam memasuki gelanggang ekonomi dan terjadi peperangan. Dengan persatuan nasional wibawa bangsa akan lebih terpelihara. Di bawah naungan persatuan suatu bangsa akan berhasil meraih segala cita-cita besarnya. Perselisihan, perpecahan, hati yang saling tercerai, membenturkan berbagai kelompok dan tokoh tidak akan bisa memberikan pengabdian. Dengan demikian, ini merupakan satu prinsip yang mudah-mudahan bisa dijaga oleh kita semua. Ini adalah harapan kami kepada para pejabat yang berurusan dengan opini khalayak umum. Materi kedua ialah materi keamanan nasional. Keamanan nasional sangatlah penting. Keamanan nasional tentunya mencakup keamanan dalam dan luar ne0geri. Keamanan luar negeri ialah menyangkut keamanan negara yang terancam dari arah kekuatan-kekuataan di luar perbatasan, atau tentara militer yang menyerang perbatasan suatu negara seperti beberapa perang yang pernah terjadi, atau berupa serangan politik dan propaganda terhadap sebuah negara yang adakalanya menimbulkan kekacauan dan kerusuhan. Hal ini berulang kali terjadi di pelbagai negara sehingga menimbulkan berbagai kesulitan. Keamanan dalam negeri merupakan upaya dalam skala besar yangmana jika segenap pejabat terkait bekerja dengan mengerahkan segenap kemampuannya akan sanggup menjamin aspirasi besar ini. Maka dari itu, keamanan bukanlah masalah kecil. Seperti yang pernah saya katakan pada awal tahun, jika keamanan tidak ada, m0aka aktivitas ekonomi juga tidak akan ada, keadilan sosial tidak akan ada, pengetahuan dan kemajuan ilmu pengetahuan tidak akan terjadi, semua sektor sebuah negara secara

bertahap akan porak poranda. Dengan demikian, keamanan merupakan tonggak dan fondasi. Dalam masalah keamanan tentu ada contoh-contoh yang tidak begitu krusial, seperti ketidak amanan yang dialami oleh segenap masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya, atau pernah didengarnya dari orang-orang lain. Ini adalah sesuatu yang kalau toh penting, namun tidak terlalu mengancam. Contohnya ialah pencurian, walaupun aparat keamanan tetap harus mencegahnya. Pencurian adalah masalah yang tentu harus dicegah dengan serius oleh aparat kepolisian. Sejumlah orang mengacaukan keamanan rumah tangga orang lain demi tujuannya yang terselubung dan hina. Ini merupakan satu contoh untuk ketidak amanan, namun ini bukanlah contoh utama. Ini merupakan ketidak amanan dari orangorang yang cuek, jahat dan hina yang tentunya menimbulkan dampak buruk dan mengganggu keamanan li0ngkungan. Ini juga merupakan ketidak amanan. Di kanan kiri kita terdapat laporan-laporan yang tentunya sebagian dari Anda sudah pernah melihat atau mendengarnya. Orang-orang yang tidak komitmen kepada UU dan ketentuan adalah orang-orang jahat yang menciptakan ketidak amanan di berbagai tempat dan di majalah-majalah terhadap bangsa serta kehormatan dan wibawa masyarakat. Aparat kepolisian dan badan legislatif bertanggujawab menindaklanjuti kekejian dan kebrutalan para pengacau keamanan lingkungan dan urusan masyarakat, supaya mereka yang menjadikan titik kelemahan yang ada sebagai batu loncatan itu jangan sampai berpikir bahwa mereka berhak melakukan segala kesalahan dan perbuatan-perbuatan menyimpang. Mereka harus tahu bahwa mengacaukan kemanan lingkungan hidup masyarakat hukumannya bukan hanya meringkuk 0di dalam tahanan dalam waktu singkat. Islam memberikan hukuman yang lebih berat untuk para pengacau keamanan dan mereka yang menakut-nakuti masyarakat. Jika hukum Ilahi diterapkan kepada mereka dan para pencuri, khususnya mereka yang menjadikan pekerjaan ini sebagai profesi, tentu hukum ini akan punya pengaruh besar. Tak usah mereka memperhatikan sebagian apa yang dianggap tabu di dunia serta berbagai gelombang propaganda, tetapi coba lihat apa itu hukum Allah? Hukum Allah menentukan segala sesuatu pada tempatnya dan sesuai dengan kadarnya. Kekacauan di bidang ekonomi juga merupakan bagian dari ketidak amanan. Mereka mengacaukan lingkungan ekonomi. Jika ada orang yang memiliki modal kecil, maka mereka menghancurkan modal-modal

kecil dan fasilitas rakyat dengan tindakan-tindakan ilegal dan kelicikan. Mereka merampasnya demi keuntungan mereka sendiri. Selagi ada kesempatan, mereka tidak bosan melakukan penyalahgunaan-penyalahgunaan pribadi. Mereka mengacaukan lingkungan ekonomi. Coba Anda perhatikan, jika kondisi ekonomi dalam sebuah negara sakit, maka salah satu penyakitnya ialah adanya celah-celah pelarian dari hukum yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk memenuhi kantong-kantong mereka. Mereka merebut fasilitas masyarakat dan pemerintah demi interes dan kedudukan mereka. Masalah yang lebih krusial ialah ketidak amanan sosial yang pada hakikatnya ketidak amanan nasional banyak berkaitan dengan masalah ini. Mereka mengacaukan keamanan lingkungan kerja, lingkungan ilmu, lingkungan mahasiswa. Sebelumnya pernah saya singgung bahwa seorang pejabat AS sebulan lalu menyatakan di Iran bakal terjadi kekacauan. Ini juga merupakan ketidak amanan. Mereka mempunyai berbagai program. Karena itu, segenap komponen masyarakat harus waspada. Orang-orang yang banyak mendapat gelombang konspirasi mereka juga harus waspada. Sejak awal revolusi hingga sekarang, musuh sudah berkali-kali berusaha mengacaukan lingkungan kerja. Mereka berusaha menciptakan aksi mogok agar tenaga kerja berhenti melakukan kegiatan konstruktif di dalam negeri. Kendati sampai sekarang tidak pernah bisa, mereka tetap merancangnya. Mereka juga mengacaukan keamanan di dalam berbagai universitas. Mereka sudah mencobanya dalam satu dua kasus, tetapi mahasiswa sendiri telah menampar mulut musuh. Namun, boleh jadi musuh pernah berhasil di tempat-tempat tertentu. Upaya mereka ialah menghentikan aktivitas, kegiatan dan usaha di dalam kelas dan membuat para dosen dan mahasiswa menganggur, dengan cara menyulut ketegangan dan kerusuhan atas nama semboyan, unjuk rasa dsb. Semua orang mengetahui bahwa para mahasiswa kita memiliki potensi yang cemerlang. Di tengah kegiatan para mahasiswa, kita melihat hal-hal yang memang benar-benar membangkitkan harapan dan sinyalemen cerahnya masa depan. Salah satu pekerjaan musuh ialah menciptakan ketidak amanan di lingkungan universitas. Yakni mereka melakukan tindakan untuk mempersulit dan memustahilkan kegiatan belajar, sekolah, mengajar dan kegiatan di laboratorium, atau mereka berusaha merusak keamanan kota

sebagaimana yang pernah terjadi di Teheran pada tanggal 12 dan 13 Juli 1999, dimana jiwa para pemuda, anak kecil, para wanita, para pejalan kaki dan orang-orang yang berada di balik jendela rumahnya terancam bahaya. Mengapa? Karena sebagian orang lebih mementingkan aksi turun ke jalan-jalan dan menciptakan kerusuhan dengan melancarkan gerakan kekerasan dan pembangkangan. Mereka membakari kendaraan bermotor atau memecahkan kaca-kaca. Kemudian mereka membuat-buat alasan. Tetapi alasan manakah yang membolehkan sekelompok orang menciptakan kerusuhan di sebuah negara yang merupakan rumah mereka sendiri -ini bukan rumah orang asing-? Di saat peristiwa seperti ini terjadi, petugas keamanan, pasukan militer, dan pasukan sukarelawan tentu tidak akan diam berpangku tangan. Siapakah yang harus waspada di depan kseperti ini? Jawabannya tak lain ialah masyarakat sendiri, para pemuda sendiri, para aparat sendiri, para mahasiswa sendiri dan lingkungan-lingkungan yang menjadi sasaran aksi makar ini sendiri. Haruslah diperhatikan, kalau mereka melihat seseorang tampil ke depan untuk mengompori situasi, maka orang itu harus ditangkap. Ketahuilah, mulut musuhlah yang sedang berkoar, suara musuhlah yang keluar dari kerongkongan orang ini. Sebagaimana di

Rahbar: Sebagai Biang Krisis Timteng, Rezim Zionis Harus Dienyahkan Masa depan Palestina harus diperjuangkan sendiri oleh rakyat sipil Palestina melalui gerakan intifadah, karena para elit politik formal Palestina terbukti sangat permisif, enggan menjadikan semangat Islam sebagai basis dan bahkan berkolusi dengan Israel. Rezim Zionis ini tidak layak dijadikan lawan dalam dialog dan perundingan karena bermaksud menghapus bangsa Palestina dari lembaran sejarah. Sebagai biang krisis, rezim ini harus dimusnahkan untuk kemudian ditampilkan pemerintahan yang dikehendaki rakyat Palestina sendiri. Demikian ditegaskan Rahbar dalam upacara pasukan sukarelawan Iran (Basij) Jumat 20 Oktober 2000 di sebuah tanah lapang di sekitar kota suci Qum. Berikut ini adalah bagian akhir pidato beliau upacara tersebut:

Hadirin yang mulia, di Palestina pun juga terdapat pasukan rakyat (basij). Basij di Palestina yang sekarang menyedot perhatian dunia terjadi tatkala nasib persoalan Palestina berada di tangan sejumlah elit politik tertentu sedangkan rakyat tidak terlibat di dalamnya dan suara para pemuda tidak digubris. Nasib Palestina itu tak lain ialah kehinaan yang datang susul menyusul, mengalah dan mengalah, memberikan kesempatan kepada musuh, meninggalkan kubu-kubu pertahanan satu persatu untuk kepentingan musuh yang otoriter, agresor, arogan, dan bobrok. Basij terjadi manakala rakyat dikesampingkan.

Para elit politik itu mengabaikan motivasi-motivasi hakiki yaitu motivasi keimanan yang telah mengeruk kepedulian rakyat. Sudah puluhan tahun mereka mengulur masalah Palestina. Pada awal-awal revolusi, sudah saya pertanyakan kepada salah seorang pemimpin Palestina yang datang ke Iran; Mengapa Anda tidak menyuarakan slogan keislaman? Dia malah meminta uzur yang tak ada maknanya. Mereka memang tidak menghendakinya. Hati mereka memang tidak menaruh keyakinan kepada Islam. Namun, sudah 12 atau 13 tahun lebih rakyat Palestina terjun sendiri ke lapangan dengan semboyansemboyan Islam sehingga musuh segera menyadari persoalan yang terjadi.

Ketika intifadah di Palestina bermula pada dekade lalu, para musuh yaitu kaum Zionis dan rekan-rekan mereka dari AS segera merasakan bahaya yang mengancam mereka. Mereka memastikan bahwa gerakan ini harus dilenyapkan karena mengatasnamakan Islam. Mereka bermaksud menanganinya namun mereka tidak sanggup.

Rezim Zionis di tanah pendudukan Palestina adalah rezim yang rasialis. Ini adalah rezim yang diciptakan oleh kekuatan-kekuatan politik dan ekonomi dunia. Pada prinsipnya, rezim ini diciptakan untuk membendung persatuan dan kejayaan Dunia Islam. Mereka tidak menghendaki umat Islam membentuk kesatuan besar yang bakal membahayakan mereka. Untuk inilah rezim Zionis diciptakan. Karena itu, mana mungkin rezim ini bisa diharapkan berlaku adil. Polos sekali orang-orang yang beranggapan bisa berunding dengan rezim Zionis karena bagi Israel setiap perundingan tak ubahnya dengan terbukanya satu kesempatan untuk melangkah maju. Orang-orang ini dulu membantu terjadinya perundingan-perundingan dengan Israel, tetapi sekarang mengaku membela Masjidil Aqsha. Inilah jadinya ketika seseorang tidak tahu apa yang harus diperbuat di depan sosok kekuatan yang represif kemudian rela ditekan AS dan kaum Zionis. Akhirnya, rakyat

sendirilah

yang

tampil

ke

lapangan.

Tiga pekan lalu, kedatangan seorang Zionis yang najis dan terkutuk ke Masjidil Aqsha telah menghilangkan kesabaran rakyat Palestina. Andaikata saat itu para pemimpin yang mengaku peduli terhadap masalah Palestina atau para pemimpin negara-negara Arab melakukan protes, rakyat Palestina pasti akan merasakan adanya orang yang meneriakkan suara mereka. Namun, masyarakat melihat bahwa mereka sendirilah yang harus terjun ke lapangan. Sekarang ini sudah tiga pekan berkobar api perlawanan di tanah-tanah Palestina. Saya katakan kepada para pemuda Palestina; Ketahuilah bahwa kalian adalah adalah generasi yang sadar, generasi yang tampil di lapangan (Gerakan) mereka tidak mungkin bisa dipadamkan dengan bualan. Sekelompok orang telah melakukan kejahatan dan pembunuhan yang menggugurkan sejumlah para pemuda yang teraniaya. Namun, tumpahnya darah mereka adalah air yang menyuburkan kebangkitan dan revolusi Palestina. Ini bukanlah satu masalah yang bisa ditangani kekuatan arogan AS atau negara bonekanya, Rezim Zionis.

Sebuah bangsa telah diusir dari rumah, tanah air, dan negeri mereka, sedangkan mereka yang tersisa di negeri ini dianggap asing. Bangsa yang seperti ini mana mungkin akan diam. Kekuatan-kekuatan arogan mencap Iran Islami sebagai penentang proses perdamaian. Kami memang menentangnya. Tapi perlu kalian (AS dan Zionis) ketahui bahwa seandainya Iran Islami pun tidak menentangnya dan seandainya tidak ada satupun bangsa dan negara dunia yang membantu bangsa Palestina, tetap merupakan ilusi kosong jika kalian berangan-angan bahwa ada satu bangsa yang bisa dihapus dari lembaran sejarah kemudian digantikan dengan satu bangsa buatan. Bangsa Palestina adalah bangsa yang berbudaya, bersejarah, memiliki latar belakang, dan berperadaban. Sudah ribuan tahun mereka tinggal di Palestina. Kemudian kalian datang mengusir mereka dari rumah, kampung halaman, dan lembaran sejarah mereka, lalu kalian mendatangkan kaum imigran, orang-orang galandangan dengan aneka ragam bangsa, dan orang-orang yang cuman mencari keuntungan untuk kalian jadikan sebuah bangsa. Ini tidak mungkin bisa berlanjut, dan sekarangpun sudah terlihat tanda-tandanya.

Kata-kata awal saya mengenai Palestina ialah bahwa tidak ada satupun kekuatan di dunia ini yang sanggup memadamkan cita-cita kebebasan dan kembalinya Palestina kepada para

pemiliknya di hati umat bangsa-bangsa muslim, khususnya bangsa Palestina. Hanya ada satu jalan untuk menanganinya. Sebagian orang melihat masalah Timteng sebagai krisis dunia dan mengatakan bahwa kita harus berusaha mengendalikan krisis Timteng. Kita tanyakan, cara apakah yang dapat memadamkan krisis Timteng? Hanya ada satu cara, dan itu ialah mematikan akar krisis. Apakah itu akarnya? Akarnya ialah rezim Zionis yang keberadaannya dipaksakan di Timteng. Krisis tetap akan menyala selagi akarnya masih berwujud. Jalan penyelesaiannya ialah pemulangan para pengungsi Palestina dari Lebanon dan dari berbagai wilayah lain yang mereka tinggali. Jutaan warga Palestina yang hidup di luar bumi Palestina harus kembali ke Palestina. Penduduk asli Palestina, baik muslim, Kristen maupun Yahudi harus menyelenggarakan referendum untuk memutuskan rezim manakah yang harus berdaulat di negara mereka.

Penduduk asli Palestina adalah mayoritas mutlak warga muslim beserta sejumlah minoritas warga Yahudi dan Kristen. Orang-orang tua mereka hidup di Palestina. Yang perlu diterapkan adalah pemerintahan yang dikehendaki warga Palestina. Setelah itu, pemerintahan inilah yang akan mengambil keputusan untuk menyikapi orang-orang yang mendatangi Palestina dalam kurun waktu 40, 45, atau 50 tahun. Kalau mereka mau dibiarkan atau dipulangkan atau ditempatkan di lokasi tertentu, itu semua adalah hak pemerintah yang berdaulat di Palestina tersebut. Inilah jalan penyelesaian krisis, dan tidak ada jalan lain. AS pun, dengan segala kemampuannya, juga tidak akan sanggup berbuat suatu apapun. Apa yang bisa ia lakukan sudah ia lakukan, tetapi hasilnya ialah seperti yang dapat kalian saksikan sekarang. Kalian (AS dan Israel) tentu berang menyaksikan kebangkitan para pemuda, kegagah beranian kaum lelaki dan wanita (Palestina) serta semangat dan tekad rakyat yang teraniaya dan marah tersebut.

Mereka (AS dan Israel) selalu ingin cuci tangan dari dosa-dosa mereka. Tetapi, Republik Islam Iran bukanlah pihak yang membangkitkan Palestina dan rakyat Lebanon. Yang menyebabkan kebangkitan dan intifadah adalah bangsa Palestina sendiri beserta penderitaan dan kegundahan yang sudah terakumulasi dalam diri generasi muda Palestina yang kini terjun ke lapangan dengan penuh harapan dan semangat. Kami memang menyanjung mereka dan menganggap mereka sebagai bagian dari diri kami. Kami memandang Palestina sebagai bagian dari tubuh Islam. Kami merasakan para pemuda Palessebagai saudara sedarah kami. Namun demikian, mereka sendirilah yang tengah

melakukan

intifadah.

Perjanjian-perjanjian yang dijalin di Syarmussyaikh dan lain sebagainya antar pihak-pihak yang tak bertanggungjawab juga tidak memberikan efek apapun. Ini semua justru akan menjadi bahan yang memalukan para penjalin perjanjian-perjanjian tersebut.

Dalam waktu dekat ini KTT Arab akan digelar. Saya merasa perlu memberikan himbauan kepada para pemimpin negara-negara Arab mengenai tanggungjawab besar yang mereka hadapi sekarang. Harapan umat Islam sekarang ini terarah kepada para pemimpin Arab. Dalam KTT Syerm El-Syaikh, AS berusaha berbuat sesuatu yang kiranya dapat mempengaruhi KTT Arab. Keputusan apapun yang bakal diambil dalam KTT Arab akan menjadi vonis yang kekal dalam sejarah. Para pemimpin Arab bisa meraih kebanggaan abadi untuk mereka sendiri dalam KTT ini dengan mengambil keputusan yang benar. Sungguhpun demikian, masalah Palestina tetap tak akan teratasi dengan konferensikonferensi seperti ini. Hanya saja, konferensi-konferensi ini dapat menyodorkan kepada dunia apa yang dituntut oleh bangsa Palestina. Tuntutan bangsa Palestina yang paling kritis dan mendesak ialah diadilinya para pelaku pembunuhan bangsa Palestina dalam tiga pekan ini di mahkamah Islam atau Arab. Sosok najis yang telah melukai perasaan umat Islam dengan mendatangi Masjidil Aqsha harus diadili. Kota Baitul Maqdis harus dibersihkan secara total dari kaum Zionis, bangsa Palestina harus dibiarkan menentukan sendiri nasib dan masa depan mereka sendiri dengan penuh kebebasan. Ini semua adalah tuntutantuntutan kritis yang bisa dikemukakan oleh para pemimpin negara-negara Arab. Kepada saudara dan saudariku bangsa Palestina saya serukan, teruskanlah jihad kalian, lanjutkanlah keteguhan kalian! Ketahuilah bahwa tidak ada satupun bangsa yang dapat menggapai kehormatan, idenditas, dan kemerdekaannya kecuali dengan keteguhan dan perjuangan. Tidak akan ada musuh yang akan memberikan sesuatu kepada bangsa yang mengemis. Tidak ada bangsa yang dapat meraih sesuatu karena kelemahan dan tindakannya merunduk-runduk di depan musuh. Semua bangsa yang berhasil di dunia ini adalah bangsa yang memiliki kehendak, tekad serta keteguhan dan pantang merundukkan kepala. Sebagian bangsa tidak memiliki kemampuan seperti ini. Namun, bangsa yang menaruh keyakinan kepada Islam, kepada AlQuran, dan kepada janji Allah yang berbunyi: wal yansurunnallahu man yansuruhu (Dan Allah sungguh-sungguh akan menolong

orang

yang

menolong

(agama)-Nya),

pasti

memiliki

kemampuan

ini.

Himbauan lain dari saya ialah jangan sampai takluk kepada konspirasi musuh, karena yang ditargetkan musuh sekarang ini ialah perselisihan di tengah barisan bangsa Palestina, dan ini bahkan juga ditargetkan oleh unsur-unsur pengkhianat Palestina yang berkolusi dengan musuh. Elemen-eleman Hamas, Jihad Islam, dan Gerakan Fath yang diisi oleh kaum muda yang baru terjun ke lapangan, jangan sampai meninggalkan gelanggang. Semuanya harus bahu membahu. Para pimpinan (Palestina) yang membual untuk kepentingan musuh dan mengeluarkan instruksi, instruksinya sama sekali tidak layak didengar. Segenap elemen bangsa Palestina harus berpadu dalam orientasi semua kalangan yang ikhlas, mukmin, dan siap berkorban.

Ketahuilah bahwa hati umat Islam menyanjung Bangsa Palestina yang kini menjadi pusat perhatian Dunia Islam. Umat Islam berdoa untuk mereka, dan jika pintu bantuan sudah terbuka, maka sekarang juga bantuan itu akan mengalir, baik di saat pemerintahnya menghendaki bantuan itu atau tidak. Umat Islam tidak akan membiarkan Palestina dan bangsa Palestina begitu saja. Umat Islam tidak akan memandang para pemuda Palestina dengan sebelah mata.

Saya katakan pula kepada bangsa kami sendiri (Iran) bahwa berbanggalah dengan semangat dukungan dan pengorbanan untuk saudara-saudara kalian bangsa Palestina. Alhamdulillah, di tengah Dunia Islam kalian unggul dalam memberikan dukungan secara terbuka dan penuh kepada saudara-saudara kalian bangsa Palestina. Seluruh dunia mengetahui bahwa negara Iran yang Islami beserta segenap rakyat, pemerintah, kaum wanita dan lelaki di Iran sangat peduli dan peka terhadap masalah Palestina, dan kalau bisa mereka akan membantu. Betapa baiknya jika bantuan-bantuan keuangan dari masyarakat yang mampu dikumpulkan.

Jika memang kita tidak bisa memberikan bantuan dari segi persenjataan dan tidak ada kemungkinan untuk mengirim tenaga manusia agar rakyat dan para pemuda bangsa ini dapat pergi ke sana, maka secara keuangan kita dapat mengirim bantuan kepada mereka demi mengobati sebagian penderitaan dan luka-luka yang mereka alami dan agar hati ibuibu mereka serta tekad ayah-ayah mereka terhibur oleh belas kasih ini. Kalian sudah

menyaksikan sendiri bagaimana seorang bocah terbunuh dalam pelukan ayahnya. Ini bukanlah satu-satunya kasus, melainkan bagian dari banyak kasus-kasus lain.

Sedemikian agungnya gerakan ini sehingga pengorbanan-pengorbanan ini tidak terlihat begitu besar di mata mereka sendiri, persis seperti pada masa perang yang dipaksakan (Irak terhadap Iran) dimana pengorbanan yang kalian berikan tidaklah tampak dimata kalian sendiri. Namun, pengorbanan kalian telah mengundang decak kagum dunia. Sekarang bangsa Palestina pun juga demikian. Pengorbanan tidaklah tampak di mata mereka sendiri, namun dunia takjum menyaksikannya. Satu syahadah, seperti syahidnya seorang bocah dalam pelukan ayahnya, adalah badai yang menerjang hati bangsa-bangsa dunia. Ini semua sangat bernilai.

Ilahi, dalam kesempatan sebelum tengah hari Jumat ini, hari Wali dan Hamba Salih-Mu, Hazrat Hujjah Ibn AlHasan yang jiwa kami adalah tebusannya, kami bersumpah kepadanya, kepada keluarga Rasul, kepada wujud suci Rasul, dan kepada para auliya. Ilahi, berikan pertolongan-Mu kepada rakyat Palestina dan segenap pejuang umat Islam di seluruh pelosok dunia.

Ilahi, jayakanlah, tolonglah, dan sukseskanlah bangsa Iran. Demi Muhammad dan keluarganya, sukseskanlah dan teguhkanlah para pemuda sekarelawan (basij) kami dalam semua gelanggang. Musnahkanlah musuh-musuh Islam dan umat Islam. Teguhkanlah persatuan umat Islam dari hari ke hari. Ceriakanlah hati suci Waliyul Asr yang jiwa kami adalah tebusannya saat menyaksikan kami, menyaksikan pertemuan ini, dan menyaksikan segenap bangsa Iran, khususnya kaum relawan basij. Relakan dan gembirakanlah jiwa suci Imam atas apa yang dilakukan oleh para pemuda mukmin ini. Liputkan doanya atas keadaan kami semua. Wassalamualaikum.Wr.Wb.

Penterjemah: Moh. Moesa [Penyiar IRIB - Teheran]