Anda di halaman 1dari 19

Bahaya Obat Pereda Rasa Sakit pada Wanita Hamil

Banyak obat yang bagi wanita hamil lebih disarankan untuk dihindari, hal ini untuk mencegah bahaya obat pada ibu hamil. Namun anehnya obat penghilang rasa sakit seperti Tylenol Advil tidak ada dalam daftar obat yang harus dihindari wanita hamil tersebut. Padahal sekarang ada sebuah penelitian yang menunjukan bahwa obat penghilang rasa sakit ringan seperti aspirin, asetaminofen (bahan aktif dalam Tylenol) dan ibuprofen (bahan aktif dalam Advil dan Motrin) memiliki kemungkinan untuk meningkatkan gangguan reproduksi pada laki-laki.

Para ilmuwan dari Denmark, Finlandia dan Prancis menemukan bahwa wanita yang menggunakan kombinasi analgesik ringan selama kehamilan atau menggunakannya selama trimester kedua kehamilan memiliki risiko lebih besar dalam melahirkan bayi laki-laki dengan kelainan testis, suatu kondisi yang dikenal sebagai kriptorkismus dan dapat meramalkan kualitas semen yang buruk dan kanker testis. Secara khusus, para peneliti menemukan bahwa wanita yang menggunakan lebih dari satu jenis obat penghilang rasa sakit pada saat yang sama, memiliki peningkatan risiko tujuh kali lipat dalam kemungkinan memiliki anak dengan beberapa bentuk kriptorkismus dibandingkan dengan wanita yang tidak menggunakan analgesik. Pada trimester kedua, penggunaan obat penghilang rasa sakit lebih mengakibatkan kemungkinan risiko kriptorkismus dua kali lipat, dan menggunakan obat penghilang rasa sakit simultan meningkatkan risiko 16 kali lipat. Pada percobaan yang dilakukan pada tikus ini, para ilmuwan juga menunjuk bahwa analgesik bermain-main dengan produksi androgen dan menyebabkan penurunan kadar testosteron ketika organ janin laki-laki terbentuk. Para peneliti tidak yakin mengapa itu terjadi. Jika paparan endokrin adalah suatu mekanisme di balik peningkatan masalah reproduksi antara laki-laki muda di dunia Barat, penelitian ini menunjukkan bahwa perhatian khusus harus diberikan pada penggunaan analgesik ringan selama kehamilan, karena hal ini bisa menjadi alasan utama untuk masalah-masalah tersebut , kata Henrik Leffers, seorang ilmuwan senior di Rigshospitalet di Kopenhagen yang memimpin penelitian. Tapi Virginia Lupo, ketua departemen obstetri dan ginekologi di Hennepin County Medical Center di Minneapolis dan spesialis kedokteran ibu-janin, memperingatkan bahwa data ini tidak harus membuat seorang wanita hamil benar-benar menghindari pil penahan rasa sakit.

Untuk mencapai kesimpulan mereka, para peneliti mempelajari 834 wanita hamil di Denmark dan 1.463 di Finlandia, yang baik menjawab kuesioner tertulis tentang penggunaan obat selama kehamilan dan / atau menanggapi sebuah wawancara telepon. Menariknya, data menunjukkan bahwa perempuan yang dilaporkan menggunakan obat penghilang rasa sakit dalam kuesioner tertulis: dari 298 ibu Denmark yang merespon kuesioner dan wawancara melalui telepon, 31% dilaporkan menggunakan obat penghilang rasa sakit dalam kuesioner, sementara sisanya 57% melaporkan bahwa mereka menggunakan obat itu dalam wawancara. Menggunakan obat penghilang rasa sakit tampaknya tidak berpengaruh pada bayi wanita di Finlandia, di mana 2% dari bayi laki-laki bayi dilahirkan dengan kelainan testis. Di Denmark, jumlah yang melonjak sampai 9%. Denmark telah menyaksikan peningkatan yang signifikan dalam kasus kriptorkismus, dari kurang dari 2% dalam 50 tahun yang lalu. Belum banyak penelitian yang meneliti tingkat ini di AS, tapi satu yang dilakukan di Mount Sinai Hospital di New York menemukan bahwa hampir 4% dari 6.935 bayi laki-laki yang lahir antara tahun 1987 dan 1990 memiliki kelainan testis. Penelitian ini harus dilanjutkan kata para peneliti Eropa. Sementara itu, mereka menyarankan wanita hamil untuk menghentikan penggunaan analgesik, berbicara dengan dokter ( www.ibuhamil.com )

Perubahan Farmakokinetika Obat pada saat Kehamilan


Pada masa kehamilan, perubahan fisiologis akan terjadi secara dinamis, hal ini dikarenakan terbentuknya unit fetal-plasental-maternal. Karena perubahan fisiologis inilah maka farmakokinetika obat baik absorpsi, distribusi, metabolisme maupun ekskresi pun ikut berubah. Perubahan-perubahan yang terjadi tersebut antara lain perubahan fungsi saluran cerna, fungsi saluran nafas, dan peningkatan laju filtrasi glomerulus pada ginjal. Suatu penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan obat dapat melewati sawar plasenta dengan mudah, sehingga janin yang dikandung pun ikut menerima obat. Respon ibu dan janin terhadap obat selama kehamilan dipengaruhi oleh dua faktor utama: 1) Perubahan absorbsi, distribusi, dan eliminasi obat dalam tubuh wanita hamil. 2) unit plasental-fetal yang mempengaruhi jumlah obat yang melewati sawar plasenta, persentase obat yang dimetabolisme oleh plasenta, distribusi dan eliminasi obat oleh janin. I. Perubahan Farmakokinetika Obat Akibat Perubahan Maternal 1. Absorbsi saluran cerna Pada wanita hamil terjadi penurunan sekresi asam lambung (40% dibandingkan wanita tidak hamil), disertai peningkatan sekresi mukus, kombinasi kedua hal tersebut akan menyebabkan peningkatan pH lambung dan kapasitas buffer. Secara klinik hal ini akan mempengaruhi ionisasi asam-basa yang berakibat pada absorbsinya. 2. Absorbsi paru Pada kehamilan terjadi peningkatan curah jantung, tidal volume, ventilasi, dan aliran darah paru. Perubahan-perubahan ini mengakibatkan peningkatan absorbsi alveolar, sehingga perlu dipertimbangkan dalam pemberian obat inhalan. 3. Distribusi Volume distribusi obat akan mengalami perubahan selama kehamilan akibat peningkatan

jumlah volume plasma hingga 50%. Peningkatan curah jantung akan berakibat peningkatan aliran darah ginjal sampai 50% pada akhir trimester I, dan peningkatan aliran darah uterus yang mencapai puncaknya pada aterm (36-42 L/jam); 80% akan menuju ke plasenta dan 20% akan mendarahi myometrium. Akibat peningkatan jumlah volume ini, terjadi penurunan kadar puncak obat (Cmax) dalam serum. 4. Pengikatan protein Sesuai dengan perjalanan kehamilan, volume plasma akan bertambah, tetapi tidak diikuti dengan peningkatan produksi albumin, sehingga menimbulkan hipoalbuminemia fisiologis yang mengakibatkan kadar obat bebas akan meningkat. Obat-obat yang tidak terikat pada protein pengikat secara farmakologis adalah obat yang aktif, maka pada wanita hamil diperkirakan akan terjadi peningkatan efek obat. 5. Eliminasi oleh hati Fungsi hati dalam kehamilan banyak dipengaruhi oleh kadar estrogen dan progesteron yang tinggi. Pada beberapa obat tertentu seperti phenytoin, metabolisme hati meningkat mungkin akibat rangsangan pada aktivitas enzim mikrosom hati yang disebabkan oleh hormon progesteron; sedangkan pada obat-obatan seperti teofilin dan kafein, eliminasi hati berkurang sebagai akibat sekunder inhibisi komfetitif dari enzim oksidase mikrosom oleh estrogen dan progesterone. 6. Eliminasi ginjal Pada kehamilan terjadi peningkatan aliran plasma renal 25-50%. Obat-obat yang dikeluarkan dalam bentuk utuh dalam urin seperti penisilin, digoksin, dan lithium menunjukkan peningkatan eliminasi dan konsentrasi serum steady state yang lebih rendah. II. Efek kompartemen fetal-plasental Jika pemberian obat menghasilkan satu kesatuan dosis maupun perbandingan antara kadar obat janin: ibu maka dipakai model kompartemen tunggal. Tetapi jika obat lebih sukar mencapai janin maka dipakai model dua kompartemen di mana rasio konsentrasi janin: ibu akan menjadi lebih rendah pada waktu pemberian obat dibandingkan setelah terjadi distribusi. 1. Efek protein pengikat Protein plasma janin mempunyai afinitas yang lebih rendah dibandingkan protein plasma ibu terhadap obat-obatan. Tetapi ada pula obat-obatan yang lebih banyak terikat pada protein pengikat janin seperti salisilat. Obat-obat yang tidak terikat (bebas) adalah yang mampu melewati sawar plasenta. 2. Keseimbangan asam-basa Molekul yang larut dalam lemak dan tidak terionisasi menembus membran biologis lebih cepat dibandingkan molekul yang kurang larut dalam lemak dan terionisasi selain itu PH plasma janin sedikit lebih asam dibandingkan ibu. Dengan demikian basa lemah akan lebih mudah melewati sawar plasenta. Tetapi setelah melewati plasenta dan mengadakan kontak dengan darah janin yang relatif lebih asam, molekul-molekul akan lebih terionisasi. Hal ini akan berakibat penurunan konsentrasi obat pada janin dan menghasilkan gradien konsentrasi. Fenomena ini dikenal sebagai ion trapping. 3. Eliminasi obat secara feto-placental drug eliminaton Terdapat bukti-bukti bahwa plasenta manusia dan fetus mampu memetabolisme obat. Semua proses enzimatik, termasuk fase I dan fase II telah ditemukan pada hati bayi sejak 7 sampai 8 minggu pasca pembuahan tetapi proses tersebut belum matang, dan aktivitasnya sangat rendah. Kemampuan eliminasi yang berkurang dapat menimbulkan efek obat yang lebih panjang dan lebih menyolok pada janin. Sebagian besar eliminasi obat pada janin dengan cara difusi obat kembali ke kompartemen ibu. Tetapi kebanyakan metabolit lebih polar dibandingkan dengan asal-usulnya sehingga kecil kemungkinan mereka akan melewati sawar plasenta, dan berakibat penimbunan metabolit pada jaringan janin. Dengan pertambahan usia

kehamilan, makin banyak obat yang diekskresikan ke dalam cairan amnion, hal ini menunjukkan maturasi ginjal janin. 4. Keseimbangan Obat Maternal-fetal Jalur utama transfer obat melalui plasenta adalah dengan difusi sederhana. Obat yang bersifat lipofilik dan tidak terionisasi pada pH fisiologis akan lebih mudah berdifusi melalui plasenta. Kecepatan tercapainya keseimbangan obat antara ibu dan janin mempunyai arti yang penting pada keadaan konsentrasi obat pada janin harus dicapai secepat mungkin, seperti pada kasuskasus aritmia atau infeksi janin intrauterin, karena obat diberikan melalui ibunya. III. Mekanisme Transfer Obat melalui Plasenta Obat-obatan yang diberikan kepada ibu hamil dapat menembus sawar plasenta sebagaimana halnya dengan nutrisiyang dibutuhkan janin, dengan demikian obat mempunyai potensi untuk menimbulkan efek pada janin. Perbandingan konsentrasi obat dalam plasma ibu dan janin dapat memberi gambaran pemaparan janin terhadap obat-obatan yang diberikan kepada ibunya. Waddell dan Marlowe (1981) menetapkan bahwa terdapat 3 tipe transfer obat-obatan melalui plasenta sebagai berikut: Tipe I Obat-obatan yang segera mencapai keseimbangan dalam kompartemen ibu dan janin, atau terjadi transfer lengkap dari obat tersebut. Yang dimaksud dengan keseimbangan di sini adalah tercapainya konsentrasi terapetik yang sama secara simultan pada kompartemen ibu dan janin. Tipe II Obat-obatan yang mempunyai konsentrasi dalam plasma janin lebih tinggi daripada konsentrasi dalam plasma ibu atau terjadi transfer yang berlebihan. Hal ini mungkin terjadi karena transfer pengeluaran obat dari janin berlangsung lebih lambat. Tipe III Obat-obatan yang mempunyai konsentrasi dalam plasma janin lebih rendah daripada konsentrasi dalam plasma ibu atau terjadi transfer yang tidak lengkap. Faktor-faktor yang mempengaruhi transfer obat melalui plasenta antara lain adalah: - Berat molekul obat. Pada obat dengan berat molekul lebih dari 500D akan terjadi transfer tak lengkap melewati plasenta. - PKa (pH saat 50% obat terionisasi). - Ikatan antara obat dengan protein plasma. Mekanisme transfer obat melalui plasenta dapat dengan cara difusi, baik aktif maupun pasif, transport aktif, fagositosis, pinositosis, diskontinuitas membran dan gradien elektrokimia

(Farmakinetika.com)

Efek komsumsi obat-obatan pada ibu hamil


Masa
hamil muda terutama pada trimester pertama adalah masa pembentukan organ-organ tubuh janin atau sering disebut dengan istilah organogenesis. Bahkan dikatakan pembentukan ini telah berlangsung sejak dua minggu setelah implantasi hasil konsepsi. Masa awal kehamilan dapat di kenali dengan adanya gejala mual dan muntah atau kita sering menyebutnya dengan morning sickness. Keluhan ini muncul saat kehamilan memasuki usia 6-14 minggu. Rasa mual yang datang (biasanya setiap pagi sehabis bangun tidur) bisa menjadi mabuk berat (hyperemis gravidarum), ditandai dengan gejala penurunan berat badan lebih dari 5% timbangan masa kehamilan. Penyebabnya tak lain oleh plasenta yang berkembang selama kehamilan dan menghasilkan sejenis hormon HCG (human chorionic gonadotropin). Hormon HCG ini meningkat persentasenya seiring dengan pertumbuhan plasenta. Hormon inilah yang bertanggung jawab atas keluhan muntah yang dialami para ibu hamil, melalui rangsangan terhadap otot dari poros lambung. Makin tinggi kadar hormon, makin cepat merangsang muntah. Terkadang tergoda untuk mengkonsumsi Obat-obatan kimia untuk menghilangkan rasa mual yang memang terasa mengganggu. salah satu obat yang dulu sering menjadi andalan untuk mengatasi rasa mual ini adalah Thalidomide, suatu obat untuk mengurangi mual, muntah dan perasaan cemas. Karena disinyalir aman maka obat ini di gunakan secara sembrono tanpa pertimbangan dari ahli kesehatan. Hasilnya di temukan beberapa anomali pada janin yang di kandung, mulai dari kelainan jantung dan cacat pada mata. Mekanisme cacat janin Suatu obat dapat menimbulkan kelainan pertumbuhan dan cacat pada janin melalui beberapa mekanisme berikut: Efek langsung terhadap Janin, dimana akses obat ke janin di pengaruhi oleh beberapa faktor seperti, jumlah/kadar obar, struktur biokimiawi dari plasenta, serta struktur kimia obat itu sendiri (berat molekul, larut dalam lemak atau tidak). Efek obat terhadap fungsi plasenta, dimana pada saat kehamilan plasenta berfungsi sebagai paru-paru, ginjal, usus, hati, maupun sistem endokrin sebelum organ-organ tersebut terbentuk sempurna. Efek obat terhadap metabolisme Ibu. Tahap Perkembangan Janin dalam rahim, artinya efek obat berbeda pada tiap-tiap fase perkembangan janin, embrio yang belum terdifferensiasi biasanya lebih rentan terhadap pengaruh negatif dari obat, karena pada masa inilah Janin mulai membentuk. Kerentanan Genetik atau Genetik susceptibility, di ketahui tiap-tiap ras mempunyai kecendrungan yang berbeda pada efek yang ditimbulkan oleh suatu obat. Sebaiknya konsumsi obat pada saat-saat kehamilan harus berdasarkan pertimbangan ilmiah serta petunjuk dari dokter, jangan hanya berdasar sugessti semata hanya karena termakan oleh Iklan yang gencar di media. Zat-zat Yang Berbahaya Bagi Kehamilan Masa-masa kehamilan merupakan masa-masa penting dan kritis bagi perkembangan dan pertumbuhan bayi yang dikandung. Pertumbuhan dan perkembangan tersebut sangat dipengaruhi oleh zat-zat yang masuk ke dalam tubuh ibu hamil dan janin. Banyak zat-zat berbahaya yang beredar di sekeliling kita. Zat-zat berbahaya tersebut sangat membahayakan kesehatan ibu-ibu hamil beserta bayi yang dikandungnya. ( famakinetika.com)

Obat-obatan di dalam kehamilan


Apapun yang seorang wanita hamil makan atau minum dapat memberikan pengaruh pada janinnya. Seberapa banyak jumlah obat yang akan terpapar ke janin tergantung dari bagaimana obat tersebut diabsorpsi (diserap), volume distribusi, metabolisme, dan ekskresi (pengeluaran sisa obat). Penyerapan obat dapat melalui saluran cerna, saluran napas, kulit, atau melalui pembuluh darah (suntikan intravena). Kehamilan sendiri mengganggu penyerapan obat karena lebih lamanya pengisian lambung yang dikarenakan peningkatan hormon progesteron. Volume distribusi juga meningkat selama kehamilan, estrogen dan progesteron mengganggu aktivitas enzim dalm hati sehingga berpengaruh dalam metabolisme obat. Ekskresi oleh ginjal juga meningkat selama kehamilan. Faktor lain yang juga mempengaruhi adalah seberapa banyak obat melalui plasenta (jaringan yang melekat pada rahim dan menyediakan nutrisi atau sebagai penyaring zat-zat berbahaya bagi janin). Obat yang larut dalam lemak lebih mudah melalui plasenta dibandingkan obat yang larut dalam air. Obat-obat dengan berat molekul besar lebih sulit melalui plasenta. Jumlah obat yang terikat pada plasma protein mempengaruhi jumlah obat yang dapat melalui plasenta. Selain itu spesifisitas, dosis, waktu pemberian, fisiologi ibu, embriologi, dan genetik juga dapat mempengaruhi. Spesifisitas dimaksudkan bahwa obat yang berbahaya untuk janin di satu spesies belum tentu berbahaya bagi spesies lainnya, begitu juga sebaliknya (hewan ke manusia dan sebaliknya). Dosis yang dipakai juga penting, dosis kecil mungkin tidak memiliki pengaruh apapun, dosis sedang menyebabkan kecacatan, dan dosis tinggi dapat menyebabkan kematian. Waktu pemberian berkaitan dengan kelainan organ-organ. Paparan obat teratogen (menyebabkan kecacatan) pada minggu ke 2 3 setelah pembuahan tidak memiliki efek atau menimbulkan abortus (all or nothing). Periode yang rentan dengan gangguan pembentukan organ berada pada minggu ke 3 8 setelah pembuahan atau 10 minggu dari periode menstruasi terakhir. Setelah periode ini, pertumbuhan janin ditandai dengan pembesaran organ-organ pada minggu 10 12. Gangguan pada periode ini dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan atau gangguan di sistem saraf dan alat reproduksi. Sesungguhnya semua obat dapat melalui plasenta dalam jumlah tertentu, kecuali obat-obat dengan ion organik yang besar seperti heparin dan insulin. Transfer plasenta aktif harus dipertimbangkan. Terapi obat tidak perlu dihentikan selama menyusui karena jumlah yang larut di dalam ASI tidak terlalu signifikan.

OBAT DAN KEHAMILAN -

Sikap berhati-hati menggunakan obat perlu dimiliki wanita hamil. Sikap itu didasari kenyataan terpengaruhnya calon bayi bila wanita hamil menggunakan obat yang sebagian besar merupakan bahan kimia itu. Namun sikap ini jangan pula dilanjuti ketakutan menggunakan obat. Kalau memang diperlukan, obat akan jauh bermanfaat. Masa kehamilan dibagi dalam 3 tahap. Tahap pertama disebut trisemester pertama kehamilan (tiga bulan pertama masa kehamilan). Tahap ini merupakan tahap paling kritis karena pada tahap ini berlangsung proses pembentukan organ-organ penting bayi. Dalam tahap ini janin sangat peka terhadap kemungkinan kerusakan yang disebabkan obat, radiasi dan/ atau infeksi yang menyerang. Penyebab kerusakan terhadap calon bayi tersebut disebut teratogen. Pemberian obat-obat tertentu boleh jadi akan memberikan kecacatan lahir.
Pada tahap ini hindarilah pemakaian obat yang tidak perlu dan tidak diketahui keamanannya.Tahap selanjutnya adalah trimester kedua kehamilan (bulan keempat sampai dengan bulan keenam masa kehamilan). Organ bayi sudah terbentuk. Denyut jantung sudah dapat didengar dan tulang belakang sudah dapat terlihat dengan peralatan radiologi. Beberapa obat boleh jadi akan mempengaruhi perkembangan si janin, yang dimanesfetasikan dengan rendahnya berat badan bayi ketika dilahirkan.Tahap terakhir adalah trisemester ketiga kehamilan (bulan ketujuh hingga bayi dilahirkan). Pada tahap ini resiko terbesar adalah kesulitan bernafas pada bayi baru lahir. Beberapa obat dapat mempengaruhi persalinan yang dimanesfetasikan bayi lahir prematur maupun calon bayi lebih lama dalam kandungan. Untuk memetakan obat mana yang aman bagi wanita hamil saat ini mengacu kepada percobaan-percobaan terhadap binatang, dan pengamatan terhadap penggunaan obat ketika diedarkan. Percobaan yang sangat luas terhadap wanita hamil bagi obat baru yang akan diedarkan memang tidak ada dan tidak akan pernah ada mengingat tidak etis menggunakan wanita hamil sebagai obyek penelitian. Sebagai rujukan yang paling dipercaya kalangan medis untuk sesuatu obat itu aman atau tidak untuk wanita hamil adalah Pedoman yang disusun US FDA (Badan POM Amerika Serikat). FDA membagi tingkat keaman obat tersebut kedalam 5 kategori: Kategori A:

Studi terkontrol pada wanita tidak memperlihatkan adanya resiko bagi janin pada trisemester pertama kehamilan. Dan tidak ada bukti mengenai resiko pada trisemester ke dua dan ketiga. Kemungkinan adanya bahaya terhadap janin sangat rendah. Kategori B: Studi terhadap reproduksi binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya resiko terhadap janin tetapi belum ada studi terkontrol pada ibu hamil atau sistem reproduksi binatang percobaan yang menunjukkan efek samping ( selain penurunan tingkat kesuburan), yang juga tidak diperoleh pada studi terkontrol pada trisemester 1 dan tidak terdapat bukti adanya resiko pada trisemester selanjutnya. Kategori C:

Studi pada binatang percobaan menunjukkan adanya efek samping pada janin (teratogenik) dan tidak ada studi terkontrol pada wanita. Atau studi pada wanita maupun binatang percobaan tidak tersedia. Obat dalam kategori ini hanya boleh diberikan kepada ibu hamil jika manfaat yang diperoleh lebih besar dari resiko yang mungkin terjadi pada janin. Kategori D: Terdapat bukti adanya resiko terhadap janin manusia. Obat ini hanya diberikan bila manfaat pemberian jauh lebih besar dibandingkan resiko yang akan terjadi. (terjadi situasi yang dapat mengancam jiwa ibu hamil, dalam hal mana obat lain tidak dapat digunakan/ tidak efektif). Kategori X: Studi pada binatang percobaan atau manusia telah memperlihatkan adanya kelainan janin (abnormalitas) atau terbukti beresiko terhadap janin. Resiko penggunaan obat pada wanita hamil jelas lebih besar dari manfaat yang diperoleh. Obat kategori X merupakan kontra indikasi bagi wanita hamil atau memiliki kemungkinan untuk hamil. Prinsip menggunakan obat kala hamil 1. Pertimbangkan mengatasi penyakit tanpa menggunakan obat, terutama pada 3 bulan pertama kehamilan. 2. Obat hanya digunakan bila manfaat yang diperoleh ibu lebih besar dibandingkan kemungkinan resiko yang bakal terjadi pada janin. 3. Apabila harus menggunakan obat, pilihlah obat yang telah dipakai secara luas selama kehamilan. Hindarilah penggunaan obat yang baru beredar karena belum cukup waktu untuk mengetahui keamanannya. 4. Hindari penggunaan obat polifarmasi menelan berjenis-jenis obat (4 atau 5 jenis) 5. Cari tahu apakah obat yang akan digunakan aman sesuai kategori dunia pengobatan (lihat artikel sebelum ini). Bagi yang suka browsing di internet informasi dapat diperoleh di www.safefetus.com. Informasi lain dapat diperoleh dari Buku MIMS (Indonesian Index Medical Spesialite) berbahasa Indonesia terbaru yang banyak dijual di toko buku Gramedia dan Gunung Agung. Di halaman-halaman depan buku ini terdapat indeks obat dan kategori resiko untuk wanita hamil yang cukup lengkap.
(ibuhamil.com)

Obat asma untuk wanita hamil


Bagi wanita hamil pengidap asma tentu saja penting bahwa gejala asma yang dideritanya dikendalikan dengan baik untuk menjaga kesehatan ibu dan anak. Asma yang tak terkendali dapat mengancam kesehatan wanita hamil dan perkembangan serta ketahanan hidup sang janin. Tujuan pengendalian dan pengobatan asma selama masa kehamilan sama saja seperti pasien lainnya mencegah opname, kejadian gawat darurat, kehilangan waktu kerja, dan cacat kronis. Bagi para wanita pengidap asma, segera setelah mengetahui status kehamilan Anda, hubungilah dokter ahli alergi/imunolgi untuk mengatur cara terbaik menangani asma yang Anda derita dan obat yang akan dikonsumsi. Dokter akan meresepkan pengobatan alergi dan asma yang efektif dan sesuai digunakan pada masa kehamilan. Ia pun akan mendampingi Anda selama masa kehamilan untuk meyakinkan pengobatan yang Anda jalani efektif tanpa efek samping. Jika Anda sedang hamil dan mengidap asma, mungkin ada beberapa pertanyaan menyangkut gejala asma Anda dan bayi Anda. Berikut adalah beberapa pertanyaan dan jawaban umum untuk membantu Anda. Dapatkah wanita pengidap asma menjalani masa kehamilan yang sepenuhnya aman? Studi menunjukkan bahwa asma yang dikendalikan dengan baik selama masa kehamilan tidak meningkatkan resiko komplikasi bagi ibu hamil maupun janin. Dengan pengendalian asma yang sesuai, Anda dapat memiliki bayi yang sehat. Justru ada hubungannya antara bayi dengan berat lahir rendah dan asma yang tidak terkendali. Jadi lebih menguntungkan bagi Anda dan bayi Anda jika gejala asma Anda terkendali. Mengapa asma yang tak terkendali dapat mempengaruni janin? Asma yang tidak terkendali mengurangi jumlah oksigen dalam darah si ibu. Karena janin memperoleh oksigen dari darah ibunya, berkurangnya oksigen dalam darah si ibu dapat menyebabkan berkurangnya oksifen di darah janin. Akibatnya perkembangan dan daya tahan si janin dapat terancam karena janin membutuhkan persediaan oksigen yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan yang normal (ibu hamil.com ) HATI-HATI MENGKOMSUMSI OBAT

Mengetahui diri Anda hamil tentusaja membuat Anda menjadi lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi obat obatan. Semoga artikel ini bermanfaat untuk Anda. Indonesia masih menggunakan kriteria keamanan obat bagi ibu hamil yang dilansir oleh FDA (Food and Drug Administration) sebagai pedoman dalam memberikan obat pada ibu hamil. Pada posting ini saya hanya menampilkan garis-garis besar batasan keamanan obat bagi ibu hamil yang tersusun dalam 5 kategori (kategori A, B, C, D dan X) beserta contoh-contohnya agar diketahui ibu dengan harapan dapat memberikan informasi yang bermanfaat. Kategorikategori tersebut dibuat berdasarkan ada tidaknya (besar kecilnya) resiko terhadap sistem reproduksi, efek samping dan manfaat yag diharapkan.

Obat Kategori A: adalah golongan obat yang pada studi (terkontrol) pada kehamilan tidak menunjukkan resiko bagi janin pada trimester 1 dan trimester berikutnya. Obat dalam kategori ini amat kecil kemungkinannya bagi keselamatan janin. Obat Kategori B: adalah golongan obat yang pada studi terhadap sistem reproduksi binatang percobaan tidak menunjukkan resiko bagi janin. Belum ada studi terkontrol pada wanita hamil yang menunjukkan adanya efek samping, kecuali adanya penurunan fertilitas pada kehamilan trimester pertama, sedangkan pada trimester berikutnya tidak didapatkan bukti adanya resiko. Obat Kategori C: adalah golongan obat yang pada studi terhadap sistem reproduksi binatang percobaan menunjukkan adanya efek samping bagi janin. Sedangkan pada wanita hamil belum ada study terkontrol. Obat golongan ini hanya dapat dipergunakan jika manfaatnya lebih besar ketimbang resiko yang mungkin terjadi pada janin. Obat Kategoti D: adalah golongan obat yang menunjukkan adanya resiko bagi janin. Pada keadaan khusus obat ini digunakan jika manfaatnya kemungkinan lebih besar dibanding resikonya. Penggunaan obat golongan ini terutama untuk mengatasi keadaan yang mengancam jiwa atau jika tidak ada obat lain yang lebih aman. Obat Kategori X: adalah golongan obat yang pada studi terhadap binatang percobaan maupun pada manusia menunjukkan bukti adanya resiko bagi janin. Obat golongan ini tidak boleh dipergunakan (kontra indikasi) untuk wanita hamil, atau kemungkinan dalam keadaan hamil. CONTOH OBAT KATEGORI A (nama generik):

- Ascorbic acid (vitamin C) *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*, - Doxylamine, Ergocalciferol *masuk kategori D jika dosisnya melebihi US RDA*, - Folic acid *masuk kategori C jika dosisnya melebihi 0,8 mg per hari*, - Hydroxocobalamine *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*, - Liothyronine, Nystatin vaginal sup *masuk kategori C jika digunakan per oral dan topikal*, - Pantothenic acid *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*, - Potassium chloride, Potassium citrate, Potassium gluconate, Pyridoxine (vitamin B6),
Riboflavin *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*,

- Thiamine (vitamin B1) *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*, - Thyroglobulin, Thyroid hormones, Vitamin D *masuk kategori D jika dosisnya melebihi US
RDA*,

- Vitamin E *masuk kategori C jika dosisnya melebihi US RDA*.


CONTOH OBAT KATEGORI B (nama generik):

- Acetylcysteine, Acyclovir, Amiloride *masuk kategori D jika digunakan untuk hipertensi


yang diinduksi oleh kehamilan*

- Ammonium chloride, Ammonium lactate *topical*, - Amoxicillin,


Amphotericin B, Ampicillin, Atazanavir, Azatadine, Azelaic acid, Benzylpenicillin, Bisacodyl, Budesonide *inhalasi, nasal*,

- Buspiron, Caffeine, Carbenicillin, Camitine, Cefaclor, Cefadroxil, Cefalexin, Cefalotin,


Cefamandole, Cefapirin, Cefatrizine, Cefazolin, Cefdinir, Cefditoren, Cefepime, Cefixime, Cefmetazole, Cefonicid, Cefoperazone, Ceforanide, Cefotaxime, Cefotetan disodium, Cefoxitin, Cefpodoxime, Cefprozil, Cefradine, Ceftazidime, Ceftibuten, Ceftizoxime, tenggorokan*, Ceftriaxone, Cefuroxime, Cetirizine, Chlorhexidine *mulut dan

- Chlorpenamine, Chlortalidone *masuk kategori D jika digunakan untuk hipertensi yang


diinduksi oleh kehamilan*,

- Ciclacillin, Ciclipirox, Cimetidine, Clemastine, Clindamycin, Clotrimazole, Cloxacillin,


Clozapine, Colestyramine, dan masih banyak lagi. CONTOH OBAT KATEGORI C (nama generik): Acetazolamide, Acetylcholine chloride, Adenosine, Albendazole, Albumin, Alclometasone, Allopurinol, Aluminium hydrochloride, Aminophylline, Amitriptyline, Amlodipine, Antazoline, Astemizole, Atropin, Bacitracin, Beclometasone, Belladonna, Benzatropine mesilate, Benzocaine, Buclizine, Butoconazole, Calcitonin, Calcium acetate, Calcium ascorbate, Calcium carbonate, Calcium chloride, Calcium citrate, Calcium folinate, Calcium glucoheptonade, Calcium gluconate, Calcium lactate, Calcium phosphate, Calcium polystyrene sulfonate, Capreomycin, Captopril, Carbachol, Carbidopa, Carbinoxamine, Chloral hydrate, Chloramphenicol, Chloroquine, Chlorothiazide, Chlorpromazine, Choline theophyllinate, Cidofovir, Cilastatin, Cinnarizine, Cyprofloxacin, Cisapride, Clarithromycin, Clinidium bromide, Clonidine, Co-trimoxazole, Codeine, Cyanocobalamin, Deserpidine, Desonide, Desoximetasone, Dexamethasone, Dextromethorphan, Digitoxin, Digoxin, Diltiazem, Dopamine, Ephedrine, Epinephrine, Fluconazole, Fluocinolone, Fosinopril, Furosemide, Gemfibrozil, Gentamicin, Glibenclamide, Glimepiride, Glipizide, Griseofulvin, Hydralazine, Hydrocortisone, Hyoscine, Hyoscyamine, Isoniazid, Isoprenaline, Isosorbid dinitrate, Ketoconazole, Ketotifen fumarate, Magaldrate, Mefenamic acid, Methyl prednisolone, dan masih banyak lagi. CONTOH OBAT KATEGORI D (nama generik): Amikacin, Amobarbital, Atenolol, Carbamazepine, Carbimazole, Chlordizepoxide, Cilazapril, Clonazepam, Diazepam, Doxycycline, Imipramine, Kanamycin, Lorazepam, Lynestrenol, Meprobamate, Methimazole, Minocycline, Oxazepam, Oxytetracycline, Tamoxifen, Tetracycline, Uracil, Voriconazole dan masih banyak lagi. CONTOH OBAT KATEGORI X

(nama generik): Acitretin, Alprotadil *parenteral*, Atorvastatin, Bicalutamide, Bosentan, Cerivastatin disodium, Cetrorelix, Chenodeoxycholic acid, Chlorotrianisene, Chorionic gonadotrophin, Clomifen, Coumarin, Danazol, Desogestrel, Dienestrol, Diethylstilbestrol, Dihydro ergotamin, Dutasteride, Ergometrin, Ergotamin, Estazolam, Etradiol, Estramustine, Estriol succinate, Estrone, Estropipate, Ethinyl estradiol, Etretinate, Finasteride, Fluorescein *parenteral*, Flurouracil, Fluoxymesterone, Flurazepam, Fluvastatin, Floritropin, Ganirelix, Gestodene, Goserelin, Human menopausal gonadotrophin, Iodinated glycerol, Isotretinoin, Leflunomide, Leuprorelin, Levonorgestrel, Lovastatin, Medrogestrone, Medroxyprogesterone, Menotrophin, Mestranol, Methotrexate, Methyl testosterone, Mifeprestone, Miglustat, Misoprostol, Nafarelin, nandrolone, Nicotine *po*, Norethisterone, Noretynodrel, Norgestrel, Oxandrolone,Oxymetholone, Oxytocin, Pravastatin, Quinine, Raloxifene, Ribavirin, Rosuvastatin, Simvastatin, Stanozolol, Tazarotene, Temazepam, tetosterone, Thalidomide, Triazolam, Triproretin, Urofolitropin, Warfarin.
Dari uraian di atas, obat-obat pereda nyeri seperti: asam mefenamat 500 mg (merk dagang misalnya: Ponstan, Ponstelax, Stanza, Opistan, dll) adalah obat Kategori B pada kehamilan yang artinya AMAN

Jika anda sedang hamil, hati-hati mengkonsumsi obat. Banyak obat-obatan dapat melewati sawar darah uri (fetoplacental barrier, semacam saringan darah yang terdapat pada ari-ari), kemudian menimbulkan efek buruk bagi janin yang dikandung. Oleh karena itu, selalulah kritis dengan mencari informasi lain atau second opinion terhadap obatobat yang anda konsumsi atau yang diberikan atau diresepkan untuk anda. Beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang pemberian obat selama kehamilan antara lain (MIMS, 1998):

1. Tidak ada obat yang dianggap 100% aman bagi perkembangan janin. 2. Obat diberikan jika manfaatnya lebih besar daripada resikonya baik bagi ibu maupun janin. Jika mungkin, semua obat dihindari pada tiga bulan pertama kehamilan (trimester I), karena saat ini organ tubuh janin dalam masa pembentukan. 3. Metabolisme obat pada saat hamil lebih lambat daripada saat tidak hamil, sehingga obat lebih lama berada dalam tubuh. 4. Pengalaman penggunaan obat terhadap wanita hamil sangat terbatas, karena uji klinis obat saat hendak dipasarkan tidak boleh dilakukan pada wanita hamil.

Therapeutic Good Administration Australia (TGA, 2005) mengkategorikan obat menurut beberapa kelompok. Pengakategorian tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

Kategori A : Obat-obat yang telah konsumsi oleh sejumlah besar wanita hamil dan wanita usia subur tanpa adanya bukti peningkatan frekuensi cacat lahir atau efek membahayakan baik langsung maupun tidak langsung pada janin. Beberapa obat dalam kategori A adalah :

Antasid (Obat Maag) Bisacodyl (Laksatif, obat pencahar) Digoksin (obat jantung) Preparat besi oral (dengan atau tanpa asam folat) (Obat anemia defisiensi besi) Parasetamol (Antinyeri) Dimenhidrinat, Difenhidramin, Metoklopramid (antimuntah) Betametason, Kortison Deksametason, Hidrokortison, Metilprednisolon, Prednisolon, Prednison Triamsinolon (Kortikosteroid) Amoksisilin, Ampisilin (Antibiotik, gol Penisilin) Eritromisin (Antibiotik, gol Makrolida) Kodein, Dekstrometorpan (Antitusif) Ammonium Klorida, Bromheksin, Guaifenesin (Ekspektoran) Efedrin, salbutamol, terbutalin, teofilin derivatif (Obat Asma) Klorfeniramin, difenhidramin, difenilamin (Antihistamin)

Kategori B1 : Obat-obat yang telah dikonsumsi oleh sejumlah kecil wanita hamil atau wanita usia subur, tanpa peningkatan frekuensi cacat lahir atau efek membahayakan baik langsung maupun tidak langsung pada janin. Tidak ada bukti yang menunjukkan peningkatan frekuensi gangguan janin pada penelitian dengan binatang coba. Beberapa obat dalam kategori B1 adalah :

Simetidin, Famotidin, Ranitidin, Sukralfat (Obat Maag) Sefaklor, Sefotaksim, Seftriakson (Antibiotik, gol Sefalosforin)

Kategori B2: Obat-obat yang telah dikonsumsi oleh sejumlah kecil wanita hamil atau wanita usia subur, tanpa peningkatan frekuensi cacat lahir atau efek membahayakan baik langsung maupun tidak langsung pada janin. Penelitian pada binatang jumlahnya sangat sedikit, tetapi dari hasil penelitian yang ada, tidak menunjukkan peningkatan frekuensi gangguan janin binatang coba.

Beberapa obat dalam kategori B2 adalah :

Domperidon, Hiosin, Hiosin Hidrobromida (Antimuntah)

Kategori B3 : Obat-obat yang telah dikonsumsi oleh sejumlah kecil wanita hamil atau wanita usia subur, tanpa peningkatan frekuensi cacat lahir atau efek membahayakan baik langsung maupun tidak langsung pada janin. Penelitian pada hewan menunjukkan bukti peningkatan angka kejadian gangguan janin hewan coba. Pada manusia, gangguan janin akibat obat kategori ini masih belum dapat ditentukan. Beberapa obat dalam kategori B3 adalah :

Lansoprazol, Omeprazol, Pantoprazol (Obat Maag) Loperamid (Obat Diare) Griseofulvin, Itrakonazol, Ketokonazol (Antijamur) Siprofloksasin, Ofloksasin (Antibiotik, gol Kuinolon) Asiklovir, Indinavir, Ritonavir, Valasiklivir (Antivirus)

Kategori C : Obat-obat, karena efek farmakologinya, menyebabkan atau dicurigai menyebabkan efek berbahaya pada janin atau bayi baru lahir tanpa menyebabkan cacat lahir. Efek tersebut mungkin reversibel (dapat kembali normal). Beberapa obat dalam kategori C adalah :

Amlodipin, Diltiazem, Nifedipin, Verapamil (Antihipertensi, gol Penghambat Kanal Kalsium) Dihidroergotamin, Ergotamin, Metisergid (Obat antimigrain) Aspirin (Antinyeri) Alprazolam, Bromazepam, Klordiazepoksid, Klobazam, Diazepam, Lorazepam, Midazolam (Obat anticemas) Klorpromazin (Antipsikosis) Droperidol, Haloperidol (Antipsikosis) Diklofenak, Ibuprofen, Ketoprofen, Ketorolac, Asam Mefenamat, Piroksikam (Antinyeri) Kotrimoksazol (Antibiotik, gol Sulfonamid)

Kategori D : Obat-obat yang menyebabkan, dicurigai menyebabkan, atau diperkirakan menyebabkan peningkatan angka kejadian cacat lahir atau kerusakan yang irreversibel (tidak bisa

diperbaiki lagi). Obat-obat golongan ini mungkin juga mempunyai efek farmakologi yang merugikan. Beberapa obat dalam kategori D adalah :

Kaptopril (antihipertensi, gol ACE Inhibitor) Losartan, Valsartan (antihipertensi, gol Angiotensin II Reseptor Antagonis) Doksisiklin, Minosiklin, Tetrasiklin (antibiotika, gol Tetrasiklin) Amikasin, Gentamisin, Kanamisin, Neomisin (antibiotika, gol aminoglikosid)

Kategori X : Obat-obat yang berisiko tinggi menyebabkan kerusakan permanen pada janin. Obatobat ini sebaiknya tidak digunakan pada kehamilan atau keadaan dimana seorang wanita diperkirakan telah hamil. Salah satu obat dalam kategori X adalah :

Misoprostol (Obat Maag)

Informasi lebih lengkap di sini : http://www.tga.gov.au/docs/html/mip/medicine.htm Catatan : Untuk obat pada kategori B1, B2, dan B3, data penggunaan pada manusia kurang atau tidak cukup, oleh karena itu subkategori tersebut didasarkan pada data penggunaan pada hewan coba. Kategori B tidak berarti lebih aman daripada kategori C. Obat-obat pada kategori D tidak secara mutlak dikontraindikasikan pada kehamilan (misalnya, antikonvulsan).

Dampak Epilepsi vs Terapi Epilepsi terhadap Kehamilan Menurut statistik Amerika Serikat, 0.5% kehamilan dijumpai pada wanita epilepsi. Risiko pada wanita epilepsi yang hamil lebih besar dari pada wanita normal yang hamil. Angka kematian neonatus (bayi baru lahir) pada pasien epilepsi yang hamil adalah tiga kali dibandingkan populasi normal. Sedangkan dari hampir 12.000 perempuan di Amerika Serikat mengalami kehamilan saat menjalani terapi dengan obat antiepilepsi (OAE). Kurang lebih 6% bayi yang dilahirkan oleh ibu yamg mendapat terapi OAE tersebut mengalami cacat bawaan baik secara anatomis maupun fisiologis.

Pengaruh kehamilan terhadap epilepsi bervariasi. Kira-kira kasus frekuensi bangkitan akan meningkat terutama pada trimester terakhir. Seperempatnya lagi menurun dan separuhnya tidak mengalami perubahan selama kehamilan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Pada wanita hamil terjadi perubahan fisiologis dalam tubuhnya. Salah satunya adalah fungsi ginjalnya meningkat yang ditandai dengan peningkatan creatinine clearancesekitar 50% sehingga akan menurunkan kadar Obat Anti Epilepsi (OAE) dalam sirkulasi darah yang akhirnya meningkatkan kebutuhan OAE. Selain itu, hormon esterogen bersifat epileptogenik. Hormon ini terus meningkat selama kehamilan dan mencapai puncaknya pada trimester ketiga. Hal inilah yang menyebabkan frekuensi bangkitan pada epilepsi menjadi meningkat terutama pada trimester terakhir. Lalu apakah dampaknya terhadap kehamilan? Bangkitan selama kehamilan meningkatkan risiko outcome kehamilan yang merugikan. Bangkitan pada trimester pertama diketahui meningkatkan risiko malformasi kongenital pada keturunan 12,3% berbanding 4% dengan anak yang terpapar dengan bangkitan maternal pada waktu yang lain. Bangkitan umum tonik-klonik meningkatkan risiko hipoksia dan asidosis dan juga cedera karena trauma benda tumpul. Peneliti dari Kanada menemukan bahwa bangkitan maternal selama kehamilan meningkatkan risiko keterlambatan perkembangan. Meski jarang terjadi, status epileptikus dapat menyebabkan tingkat mortalias yang tinggi bagi ibu dan anak. Di dalam sebuah penelitian terhadap 29 kasus yang dilaporkan, 9 ibu dan 14 anak meninggal selama atau sesaat setelah episode status epileptikus. Anak dari seorang perempuan yang memiliki tiga kali bangkitan tonik klonik umum selama kehamilannya dapat menyebabkan perdarahan intraserebral. Apa dampak Obat Anti Epilepsi pada ibu hamil? Paling umum dampak pada wanita hamil dengan epilepsi adalah potensial teratogenesis pada OAE. Dampak teratogenik diklasifikasikan sebagai malformasi mayor atau anomali minor dan keduanya yang berhubungan dengan penggunaan OAE. Suatu malformasi mayor adalah suatu abnormalitas yang ada pada saat lahir yang dapat memerlukan penanganan bedah. Malformasi mayor yang mungkin adalah kelainan jantung kongenital, defek urogenital,neural tube defect, dan sumbing. Anomali minor misalnya dismorfisme wajah dan anomali jari. Namun, menurut American Academy of Neurology tahun 2009, dikatakan bahwa mengkonsumsi OAE tidak menyebabkan kesulitan-kesulitan saat kehamilan. Seperti misalnya adanya bukti yang baik bahwa OAE tidak menjadi risiko tinggi untuk perdarahan selama kehamilan. Juga dikatakan risiko untuk terjadinya proses persalinanCaesar dan persalinan dini tidak cukup tinggi. Tidak cukup bukti yang mengatakan bahwa OAE berhubungan dengan peningkatan tekanan darah pada kehamilan. Namun, perlu hati-hati jika Anda tidak dapat menghindari lebih dari satu OAE saat kehamilan! Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa penggunaan Asam Valproat multidrug bisa menyebabkan cacat lahir sehingga dilarang untuk mengkonsumsi Asam Valproat khususnya pada trimester pertama. Bagaimana Tatalaksana Epilepsi pada Wanita Hamil?

Begitu hamil, seorang wanita dengan epilepsi yang diberikan OAE harus diikuti oleh seorang ahli kandungan. Seorang ahli kandungan berisiko tinggi atau spesialis fetal maternal dipilih meskipun tidak selalu mungkin. Wanita hamil harus diperiksa serologis dan USGnya pada trimester pertama untuk menentukan adanya risiko neural tube defect. Sepanjang kehamilan, pemantauan level OAE akan menolong untuk mengendalikan kejang. Farmakokinetik OAE dipengaruhi perubahan fisiologis kehamilan. Sepanjang kehamilan, aliran darah ginjal dan filtrasi glomerular meningkat sebagai suatu fungsi peningkatan curah jantung dan volume plasma, cairan ekstravaskular (luar pembuluh darah) dan jaringan lemak meningkat untuk menciptakan distribusi volume lebih besar. Level serum albumin menurun, yang mana menurunkan pengikatan obat, meningkatkan fraksi bebas, dan meningkatkan drug clearance. Farmakokinetik dapat mempengaruhi konsentrasi OAE dan paling penting untuk OAE adalah ikatan protein tinggi, metabolisasi secara hepatik (melalui hati) atau dibersihkan secara renal (melalui ginjal). OAE dengan ikatan protein tinggi dalam jumlah total dan jumlah yang bebas, termasuk untuk fenitoin dan valproat harus dimonitor. Vitamin K profilaksis direkomendasikan pada saat beberapa minggu akhir kehamilan, dimulai kira-kira minggu ke-36. Insidens perdarahan pada bayi baru lahir dilaporkan meningkat pada anak yang terpapar OAE selama kehamilan khususnya OAE yang merangsang sistem enzim sitokrom P450. OAE yang merangsang enzim sitokrom P450 adalah fenobarbital, primidon, fenitoin, karbamazepin merangsang enzim mikrosom fetal yang mendegradasi vitamin K. American Academy of Neurology dan American Academy of Pediatrics memperbolehkan wanita dengan epilepsi yang mengkonsumsi OAE untuk menyusui. Sepanjang menyusui bayi, bagaimanapun juga akan terpapar OAE pada konsentrasi OAE yang diberikan. Jika ibu menerima ethosuximid, fenobarbital, atau pirimidon memilih menyusui, mereka harus dilatih untuk memantau anaknya untuk tanda-tanda sedasi dan letargi. Pada laporan-laporan kasus, fenitoin, karbamazepin, dan valproat mungkin aman. OAE ini tidak ditransfer ke anak melalui ASI pada konsentrasi yang sama pada ibu. Kesimpulan Sekarang ini seorang wanita yang memiliki epilepsi tidak lagi dilarang untuk hamil dan melahirkan anak. Tidak mengkonsumsi obat-obat anti epilepsi bukan merupakan solusi yang baik karena jika ibu mengalami bangkitan selama kehamilan juga berefek buruk bagi janin. Oleh sebab itu, dibutuhkan kerjasama dari pasien-pasien ini untuk secara rutin kontrol kehamilan untuk melihat perkembangan janin akibat obat-obat anti epilepsi yang dikonsumsi. Ditulis oleh Catherine Maname Uli Daftar Pustaka 1. Manajemen Epilepsi pada Kehamilan. Available from the URL:http://journal.uii.ac.id/index.php/JKKI/article/viewFile/547/471 2. Clinical Management of Pregnant Women with Epilepsy. Available from the URL :http://www.medscape.com/viewarticle/530483

3. Women with Epilepsy: Drug Risks and Safety during Pregnancy. Available from the URL : http://www.aan.com/practice/guideline/uploads/338.pdf

Di seluruh dunia saat ini masih ada sekitar 3000 janin lahir tanpa tangan dan kaki akibat alergi dan efek samping obat yang dikonsumsi oleh ibu hamil. Hal ini mengingatkan bahwa perlu ketelitian dalam pemilihan dan pemberian obat khususnya pada ibu hamil. Demikian disampaikan Ketua Pengurus Besar Ikatan Ahli Farmakologi Indonesia Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, MMedSc, Ph.D dalam seminar Emergency in Dentistry yang diselenggarakan Himpunan Dokter Gigi Muda Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Asri Medical Center Yogyakarta, Jumat (28/5). Lebih lanjut Iwan menjelaskan, efek samping yang terjadi pada ibu hamil ini disebabkan karena pada trimester pertama biasanya sangat rentan terhadap obat-obatan. Hal ini perlu mendapat perhatian dari para dokter agar lebih berhati-hati dalam memberikan resep. Karena dampak dari alergi dan efek samping obat dapat menimbulkan kecacatan pada bayi yang dikandungnya, urainya. Selain pada ibu hamil alergi dan efek samping obat, juga dapat terjadi pada orang biasa. Salah satu dampak dari efek samping obat adalah alergi khususnya pada kulit. Contoh bentuk alergi dan efek samping obat adalah urticaria yang ditandai dengan bengkak yang cepat timbul dan menghilang perlahan-lahan, berwarna pucat dan kemerahan, meninggi di permukaan kulit disertai keluhan gatal, rasa tersengat atau tertusuk. Bentuk alergi ini biasa dikenal masyarakat dengan nama biduran, katanya. Iwan menambahkan, efek samping obat yang lebih serius membutuhkan rawat inap. Ini perlu karena dapat menyebabkan kecacatan, life- threatening atau mengancam jiwa pasien hingga mengakibatkan kematian, tuturnya. Tidak setiap obat memiliki efek samping dengan waktu reaksi yang sama. Dalam dunia kedokteran jangka waktu ini di sebutonset. Efek samping obat yang akut akan akan bereaksi dalam waktu 60 menit setelah obat diminum. Sedangkan yang sub akut dapat muncul dalam jangka wakti 1-24 jam, dan yang laten atau lambat baru muncul setelah lebih dari 2 hari pasca obat diminum. Iwan memaparkan bahwa sudah seharusnya dokter mengenali faktor-faktor risiko dari efek samping obat, dilihat dari umur. Karena anak dan usia lanjut selalu lebih beresiko lebih besar dibanding usia dewasa. Perubahan fisiologi, misalnya pada usia lanjut, fungsi ginjal menurun. Hal itu menyebabkan penumpukan obat yang tidak perlu pada ginjal. Sebelumnya sudah pernah mengalami efek samping obat. Alergi dan efek samping obat seringkali terjadi dalam dunia kedokteran. Sehingga dokter gigi diminta untuk berhati-hati dalam memberikan resep dan lebih teliti dalam mengedukasi pasien. Namun meskipun seringkali terjadi alergi dan efek samping obat, jangan sampai membuat dokter takut untuk memberikan resep. Selain perlu berhati-hati dalam memberikan resep seorang dokter harus terus menambah ilmunya seiring dengan semakin berkembangnya ilmu kedokteran gigi, pungkasnya.

( surabayawebs.com)

Tugas farmakologi
Obat obatan yang di perbolehkan dan dilarang untuk ibu hamil

Di susun oleh : Maruf Mega Susanti

Akademi kebidana surya sehat Tahun ajaran 2010 -2011

surabaya

Beri Nilai