Anda di halaman 1dari 3

BERKAS USULAN JUDUL SKRIPSI HUBUNGAN INTERNASIONAL, ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Nama Mahasiswa Nomer Mahasiswa Alamat Asal

: Mohammad Rianda Al-Rasyid : 20070510103 : Kotabumi, Lampung Utara. Jl. Lintas Sumatera KM.03 Bernah.

Dosen Wali Akademik Konsentrasi

: Nur Azizah. Dra, M.Si. : Dunia Islam

Usulan Judul : Strategi Ekspor Batik kepasar Internasional Oleh Pengusaha Batik Yogyakarta Menghadapi Dampak Kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) 1 April 2012

A.

Latar Belakang Yogyakarta merupakan kota yang dikenal secara luas dengan kekayaan seni dan

budayanya, yang merupakan andalan bagi kota Yogyakarta sendiri untuk bersaing kekancah internasional mewakili Indonesia guna memperkuat soft power dikancah internasional. Perkembangan perekonomian suatu negara tidak dipungkiri lagi adalah dengan menggunakan kekuatan-kekuatan selain militernya (soft power) untuk mendapatkan pengaruh yang kuat dimata internasional, maka hal tersebut membuat pemerintah Indonesia mengembangkan industri-industri yang berpotensi di setiap provinsi di Indonesia salah satunya adalah Yogyakarta. Berkaitan dengan hal ini Yogyakarta mempunyai potensi yang cukup menjanjikan dengan predikat sebagai kota budaya dan seni. Yogyakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang masih memelihara kekentalan warisan budayanya. Mulai dari acara-acara adat yang masih terpelihara ditengah hiruk pikuknya modernisasi, hingga

keberagaman seni Daerah Istimewa Yogyakarta yang terus menerus berkembang, dan merupakan salah satu sumber pendapatan rakyat Yogyakarta itu sendiri. Batik merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Yogyakarta sejak awal terbentuknya Daerah Istimewa Yogyakarta, batik merupakan pakaian resmi bagi keraton. Dengan pembuatan pewarnaan yang khas menggunakan Canting dan Malam, batik Yogyakarta merupakan salah satu warisan tertua di Yogyakarta. Seiring dengan perkembangan zaman, perkembangan batik di Yogyakarta pun tumbuh pesat dan menjadi produk yang paling diminati oleh masyarakat di Indonesia maupun masyarakat Internasional. Perkembangan produksi batik di Yogyakarta bersaing dengan kota Batik di Indonesia yaitu Pekalongan, yang dinisbatkan sebagai kota batik Indonesia berkenaan dengan produksi di Pekalongan yang pesat, motif yang beragam serta industri pembatikan yang menjamur dikota tersebut yang mengangkat taraf ekonomi bagi warga pekalongan. Akan tetapi Yogyakarta memiliki ciri khasnya sendiri dalam membuat corak batik. Salah satu corak batik Yogyakarta yang terkenal dipasaran adalah motif Parang, yang lahir atau muncul diawal masa kekeratonan Yogyakarta. Batik parang dipakai sebagai sarung (bawahan) yang dipadukan dengan pakaian adat berupa topi dan keris bagi orang-orang di keraton. Tak bisa dipungkiri lagi bahwasannya batik adalah salah satu komoditi yang berkembang amat pesat untuk provinsi Yogyakarta, animo masyarakat Indonesia akan batikbatik buatan Yogyakarta terlihat dari besarnya jumlah produksi batik di Yogya yang selalu laku keras dipasaran lokal maupun luar Yogya. Kita bisa melihat dari data dibawah ini bahwa minat wisatawan terhadap batik Yogyakarta merupakan yang tertinggi dari pada produksi lainnya. Data komoditi D.I Yogyakarta: No. Komoditi 1 2 3 4 5 6 Batik Perak Lukisan Kayu,rotan & bambu Keramik Kulit Persen 56.05% 35.21% 30.92% 22.21% 16.82% 14.57%

Data diatas merupakan sumber dari Arsip Dinas Pariwisata Provinsi DIY pada tahun 2000. Melihat dari data diatas kita dapat mengerti bahwa tingginya minat wisatawan terhadap kerajinan batik merupakan sesuatu hal yang harus dimanfaatkan untuk perkembangan budaya kerajinan batik itu sendiri. Dengan kata lain para pengusaha batik di Indonesia dan di Yogyakarta khususnya harus mendapat perhatian khusus guna memajukan industri batik Indonesia sekaligus melestarikan kekayaan kesenian batik itu sendiri. Batik sendiri merupakan salah satu sarana bagi Indonesia untuk mengangkat derajat dan martabat negara Indonesia dikancah internasional. Dengan keberagaman batik di Indonesia yang telah diakui UNESCO pada tanggal XXXXXX maka hal tersebut dapat menjadi kesempatan bagi negara Indonesia untuk menjadikan komoditi batik sebagai produk andalan Indonesia kepasar internasional. Dengan hal tersebut maka batik dapat dijadikan sebagai Soft Power bagi Indonesia dalam hal kekayaan kesenian dan budaya.