Anda di halaman 1dari 7

TEORI PSIKOLOGI OLEH JEAN PIAGET

MAKALAH Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar-Dasar Pembelajaran Matematika 1 Dosen Pengampu : Mohammad Asikin

Rombel 4

oleh : 1. 2. 3. 4. 5. Ayu Gumilang Apri Kurniawan Findasari Gilang Anjar Permatasari Arum Wulandari 4101409001 4101409014 4101409040 4101409083 4101409090

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2011

Jean Piaget 1. Teori Perkembangan Intelektual Teori Piaget menyatakan bahwa perkembangan intelektual manusia terjadi menurut kronologi empat tahap secara berurutan. Keempat konsep yang dimaksud adalah skema, asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrium. Skema. Skema menggambarkan tindakan mental dan fisik dalam mengetahui dan memahami objek. Skema merupakan kategori pengetahuan yang membantu seseorang dalam memahami dan menafsirkan dunianya. Dalam pandangan Piaget, skema meliputi kategori pengetahuan dan proses memperoleh pengetahuan. Dalam kehidupan seseorang, dia selalu mengalami sesuatu, dan informasi yang diperoleh melalui pengalaman itu kemudian digunakan untuk memodifikasi, menambahkan, atau mengubah skema yang telah dimiliki sebelumnya. Misalnya, anak memiliki skema jenis binatang, misalnya ayam. Apabila anak hanya memiliki pengalaman bahwa ayam itu kecil, maka dia akan menggeneralisasikan bahwa semua ayam itu kecil. Tetapi apabila dia melihat ayam yang besar maka anak itu memasukkan informasi yang baru, memodifikasi skema yang telah dimiliki sehingga dapat mengatakan bahwa ayam ada yang besar ada yang kecil. Asimilasi. Asimilasi adalah proses memasukkan informasi ke dalam skema yang telah dimiliki. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang agak atau sesuai dengan keyakinan yang telah dimiliki sebelumnya. Dengan menggunakan contoh tersebut diatas , dengan melihat ayam, kemudian anak itu menamakannya ayam. Maka anak telah mengasimilasikan binatang tersebut ke dalam skema ayam yang ada pada anak tersebut. Akomodasi. Akomodasi merupakan proses mengubah skema yang telah dimiliki dengan informasi baru. Akomodasi itu melibatkan kegiatan pengubahan skema, atau gagasan yang telah dimiliki karena adanya informasi atau pengalaman baru. Skema baru itu dikembangkan terus selama dalam proses akomodasi. Ekuilibrium. Ekuilibrium menjelaskan bagaimana anak mampu berpindah dari tahapan berpikir ke tahapan berpikir selanjutnya. Anak mengalami kemajuan karena adanya perkembangan kognitif, maka penting untuk mempertahankan

keseimbanagan antara menerapkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya (asimilasi) dan mengubah perilaku karena adanya pengetahuan baru (akomodasi). Susunan tahap perkembangan intelektual pada manusia ditemukan masih tetap sama. Namun demikian, usia di mana seorang individu memasuki tahap perkembangan intelektual apapun, mungkin bervariasi tergantung pada faktor genetiknya dan lingkungan. a. Teori Proses Belajar ` Dalam teorinya, Piaget menekankan bahwa: a) Dasar dari semua pembelajaran adalah aktivitas diri anak saat berinteraksi dengan lingkungan baik secara fisik maupun sosial. b) Aktivitas mental anak diatur dalam struktur mental. Tindakan mental yang berbeda berhubungan satu sama lain dan dapat dikelompokkan bersama sebagai skema atau pola perilaku. c) Aktivitas mental ini adalah proses adaptasi terhadap sekitarnya. Ada proses adaptasi dua yang saling terkait: asimilasi dan akomodasi. b. Teori Perkembangan Kognitif Perkembangan kognitif anak berbeda antara satu anak dengan anak yang lain dan berubah tergantung umur anak tersebut. Tahap-tahap perkembangan kognitif dalam teori Piaget mencakup tahap sensori-motorik, pre-operasional, dan operasional (tahap operasi konkret dan tahap operasi formal). a) Tahap Sensori-Motorik (0-2 tahun) Tahap pertama perkembangan intelektual adalah tahap sensori-motorik yang dimulai sejak bayi dilahirkan sampai berumur 2 tahun. Selama dalam tahap ini, pengetahuan bayi tentang dunia adalah terbatas pada persepsi yang diperoleh dari penginderaannya dan kegiatan motoriknya. Perilaku yang dimiliki masih terbatas pada respon motorik sederhana yang disebabkan oleh rangsangan penginderaan. Contohnya , bayi mungkin menyadari apabila pintu diketok pada waktu tertentu saat ayahnya pulang bekerja. Pada tahap ini, bayi juga mempunyai kemampuan untuk membawa aktifitas refleks, berjalan, dan berbicara pada akhir tahap ini. b) Tahap Pre-Operasional (2-7 tahun) Tahap ini dimulai sejak umur 2 tahun sampai umur 7 tahun. Pada tahap ini anak secara mental sudah mampu mempresentasikan obyek yang tidak nampak dan

penggunaan bahasa mulai berkembang ditunjukkan dengan sikap bermain, sehingga muncul egoisme. Egosentris ini terjadi ketika anak tidak mampu membedakan antara perspektif yang dimilki dengan perspektif yang dimilki oleh orang lain. Anak-anak cenderung mengambil pandangan tentang objek seperti yang dia lihat, dan tidak dapat memahami pandangan orang lain pada objek yang sama. Mereka sudah dapat berpikir deduktif (umum-khusus) maupun induktif (khusus-umum). Anak-anak pada tahap ini tidak mempunyai kemampuan untuk memahami proses perubahan dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain. Mereka juga kesulitan memahami jumlah, isi, ruang kosong, dan area. Mereka juga kesulitan memahami proses yang dibalik. c) Tahap Operasional konkret (7-12 tahun) Pada tahap ini dimulai ketika anak berusia 7 tahun sampai 12,13, atau 14 tahun. Pada tahap ini tingkat egosentris anak mulai berkurang. Anak-anak juga dapat mengidentifikasi karakteristik dari suatu objek dan mengklasifikasikan objek tersebut kedalam kumpulan dan mengelompokkan objek berdasarkan

karakteristik tertentu. Mereka juga mendapatkan konsep tentang transformasi dan proses pembalik sebaik untuk mengamati proses pembalikan dan berpikir induktif maupun deduktif. Tapi bagaimanapun mereka belum mampu berpikir abstrak dan logika, mereka baru mampu berpikir pada situasi konkret. Mereka kesulitan menyelesaikan masalah matematika seperti Jika Alex lebih tinggi daripada John dan John lebih pendek daripada Koko, kemudian siapa yang terpendek diantara ketiganya?. Anak-anak pada tahap ini sudah mampu menyimpulkan dari contoh yang diberikan. Seperti 3+4=4+3, 5+9=9+5, dan kemudian a+b=b+a. Mereka juga kesulitan belajar lebih dari satu konsep pada saat yang bersamaan. d) Tahap Operasi Formal (12 tahun ke atas) Anak-anak pada rentang umur 12 sampai 16,17, atau 18 tahun dikatakan berada pada tahap operasi formal. Mereka tidak hanya dapat berpikir terhadap benda konkret saja tapi sudah bisa berpikir tentang benda yang abstrak serta dapat menyelesaikan permasalahan yang lebih kompleks. Mereka dapat berpikir induktif atau deduktif untuk membuktikan teorema dan hukum matematika, dan membuat kesimpulan. Mereka juga sudah dapat menggunakan simbol untuk menunjukkan ide abstrak , menghubungkan konsep yang satu ke konsep yang lain, menggunakan logika untuk menyelesaikan masalah, mereka dapat

menyatakan implikasi seperti jika x maka y. Mereka juga dapat membuat hipotesis, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan. Pada akhir tahap ini anak-anak sudah mampu untuk memahami dan menggunakan konsep yang kompleks seperti permutasi, kombinasi, korelasi, dan probabilitas.

2. Teori Piaget dan Pembelajaran Matematika Guru sering tidak memperhatikan hubungan antara mengajar dan mempelajari suatu masalah yang di temui dalam kelas dan mempelajari suatu teori-teori seperti teori pembelajaran Piaget. Ini membuktikan bahwa mereka tidak benar-benar memahami teori pembelajaran yang telah mereka pelajari di universitas dan bagaimana mengaplikasikannya secara efektif di dalam kelas. Seorang guru sekolah dasar yang mungkin mengajar kelas satu sampe kelas enam perlu untuk mengerti kemampuan anak-anak dari rentang umur 2 sampe 12 tahun. Begitu juga guru untuk jenjang berikutnya yang mengajar dari kelas satu sampe kelas enam dan matrikulasi level, perlu untuk memahami kemampuan dan kesiapan anak dalam rentang umur 13 sampe 19 tahun untuk pembelajaran. Meskipun demikian, seorang guru perlu untuk sadar bahwa terdapat beberapa anak di jenjang SMP ( mungkin SMA juga) yang masih dalam masa perkembangan. Jadi, Penting bahwa guru matematika menguji atau mengidentifikasi karakteristik kemampuan intelektual siswanya sebelum dimulainya pelajaran di awal tahun. Guru sebaiknya memperhatikan siswa yang masih dalam tahap perkembangan dalam menghadapi sesuatu hal terutama mempelajari materi yang baru. Siswa-siswa ini tidak akan menerima pernyataan metematika berdasarkan apa yang guru terangkan pada mereka atau mereka sulit untuk mempelajari konsep matematika yang melebihi dari kemampuan mereka. Dalam belajar geometri, guru seharusnya mengira bahwa beberapa siswa mungkin mempunyai masalah dalam visualisasi objek tiga dimensi dan hubungan antar objek. Meskipun dalam tahap operasional konkret dapat menjelaskan dan menggambarkan suatu konsep tertentu dengan benar, mereka mungkin menghadapi kesulitan menjelaskan konsep yang sama menggunakan simbol dan pernyataan matematika. Karena itu, siswa tidak dapat memecahkan masalah dengan pernyataan matematika. Ketika memecahkan masalah, mereka menggunakan cara yang tidak sistematis atau bahkan metode tidak akurat trial and error. Siswa juga tidak dapat membuat generalisasi seperti 2+3=3+2 dan 8+11=11+8 yang merupakan sifat komutatif. Selain itu, siswa juga tidak dapat menangani banyak variabel dalam sekali atau mengamati hubungan yang kompleks. Beberapa siswa belajar aljabar dengan mengingat semua aturan dan manipulasi simbol tetapi tidak paham bagaimana teknik kerja aljabar. Seperti contoh, ; dan tampak pernyataan yang masuk akal bagi beberapa siswa, meskipun dalam matematika tidak benar. Piaget mengedepankan perkembangan teori intelektual dan tidak menyediakan atau menyarankan metode spesifik dalam meningkatkan standar mengajar dan belajar.

Ini terserah pada guru apakah ingin menggunakan teori piaget dalam rencana belajar dan instruksi matematika. Namun, semua guru matematika seharusnya mempunyai cukup pengetahuan teori piaget khususnya tentang kesiapan mental siswa dan kemampuan mereka berdasar umur dan level intelektual dalam mempersiapkan masing-masing instruksi.

Daftar Pustaka Saad, Noor Shah dan Ghani, Sazelli Abdul.2008.Teaching Mathemathics in Secondary Schools:Theories adn Practices. Universiti Pendidikan Sultan Idris:Tanjong Malim. Rifai, Achmad dan Anni, Catharina Tri. 2009. Psikologi Pendidikan. Unnes Press:Semarang.