Anda di halaman 1dari 2

Teori Sewa Lahan Salah satu hal yang paling penting dalam pemikiran ekonomi adalah cara mengalokasikan

tanah pada berbagai alternative pemakaian. Untuk menganalisis pemanfaatan tanah dapat menggunakan teori sewa tanah dan alokasi tanah, yang merupakan bagian dari teori mikro ekonomi tentang alokasi dan penentuan harga faktor-faktor produksi. sewa tanah adalah harga atas jasa tanah, sehingga harga menunjukkan faktor penentu bagi penyesuaian penggunaan input (faktor produksi) dan output (hasil) di pasar. sewa tanah adalah harga/nilai jasa yang dihasilkan oleh tanah selama suatu periode tertentu, sehingga suatu sewa tanah memiliki dua dimensi pengukuran yaitu waktu dan unit. Untuk perkotaan, penggunaan tanah pada umumnya masih harus ditambah dengan suatu bangunan yang diletakkan di atas tanah yang bersangkutan. Nilai tanah yang tidak diusahakan adalah harga tanah tanpa bangunan diatasnya. Sedangkan nilai tanah yang diusahakan adalah harga tanah ditambah dengan harga bangunan yang terdapat diatasnya. Terdapat beberapa teori yang menyatakan tentang teori sewa lahan, seperti yang diungkapkan oleh David Ricardo dan Von Thunen. Secara lebih detail akan dijelaskan dalam penjelasan berikut : David Ricardo David Ricardo mempertimbangkan faktor kesuburan lahan. Untuk menghasilkan satu satuan unit produksi diperlukan biaya rata-rata dan biaya marjinal yang lebih rendah. Makin rendah tingkat kesuburan, maka makin tinggi pula biaya-biaya untuk mengolah tanah dan dengan sendirinya keuntungan per hektar tanah semakin kecil pula. Jadi sewa tanah yang lebih subur lebih tinggi dibanding sewa tanah yang kurang subur. Menurut Ricard, sewa lahan (land rent), adalah surplus ekonomi suatu lahan yang dapat dibedakan atas surplus yang selalu tetap (rent as an unearned increment), dan surplus sebagai hasil dari investasi (rent as return on investment). Surplus tetap adalah surplus yang selalu tetap atau mendapat hasil tanpa berusaha (windfall return), yang diperoleh akibat pemilikan lahan. Sedangkan surplus sebagai hasil dari investasi dalam pengertian ini lahan dipandang sebagai faktor produksi.

Von Thunen Teori sewa tanah yang diungkapkan oleh Von Thunen hanya menambahkan kekurangan teori sewa tanah dari David Ricardo yaitu mengenai jarak tanah dari pasar. Menurut Von Thunen, beberapa hal yang mempengaruhi sewa tanah: a. Kualitas tanah yang disebabkan oleh kesuburan tanah, pengairan, adanya fasilitas listrik, jalan dan sarana lainnya; b. Letaknya strategis untuk perusahaan/industri; dan c. Banyaknya permintaan tanah yang ditujukan untuk pabrik, bangunan rumah, perkebunan. Von Thunen juga mengidentifikasi tentang perbedaan lokasi dari berbagai kegiatan pertanian atas dasar perbedaan sewa lahan (pertimbangan ekonomi). Menurut Von Thunen tingkat sewa lahan adalah paling mahal di pusat pasar dan makin rendah apabila makin jauh dari pasar. Von Thunen menentukan hubungan sewa lahan dengan jarak ke pasar dengan menggunakan kurva permintaan. Berdasarkan perbandingan (selisih) antara harga jual dengan biaya produksi, masing-masing jenis produksi memiliki kemampuan yang berbeda untuk membayar sewa lahan. Makin tinggi kemampuannya untuk membayar sewa lahan, makin besar kemungkinan kegiatan itu berlokasi dekat ke pusat pasar. Dalam model tersebut, Von Thunen membuat asumsi sebagai berikut : a. Wilayah analisis bersifat terisolir sehingga tidak terdapat pengaruh pasar dari kota lain; b. Tipe permukiman adalah padat di pusat wilayah dan semakin kurang padat apabila menjauh dari pusat wilayah; c. Seluruh wilayah model memiliki iklim, tanah dan topografi yang seragam; d. Fasilitas pengengkutan adalah primitive (sesuai dengan zaman-nya) dan relative seragam. Ongkos ditentukan oleh berat barang yang dibawa; dan e. Kecuali perbedaan jarak ke pasar semua factor alamiah yang mempengaruhi penggunaan tanah adalah seragam dan konstan.