Anda di halaman 1dari 40

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Manusia tidak bisa melihat, merasa, mencium atau menyadari adanya keberadaan listrik dengan inderanya. Baik untuk muatan maupun untuk medan listriknya. Pada akhir abad ke- 18 hal-hal mengenal listrik ditemui. Sekarang ini listrik tidak menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari untuk digunakan sebagai sumber tenaga, misalnya listrik lampu, mesin listrik, telepon, alat-alat listrik, radio dan lain-lain. mulai berkembang dengan pesat apalagi stelah transistor maka jalan untuk pengembangan elektronika menjadi terbuka dan sampai sekarang teknik semikonduktor yang dapat dalam transistor dan terus berkembang sehingga menghasilkan elektronika yang semakin canggih, semakin kecil semakin murah. Inti dari semua alat elektronika masih tetap, yaitu beberapa elemen ini sangat penting diterapkan. Walaupun sekarang sudah ada IC yang merupakan rangkaian kompleks dengan banyak transistor. Oleh karena itu, percobaan karakteristik V-I dari beberapa elemen ini sangat penting diterapkan. Sehingga dapat dengan mudah mengerti dan mempelajari berbagai prinsip-prinsip dalam elektronik pada kehidupan sehari-hari.

1.2 Tujuan 1. Mengukur karakteristik V-I dari suatu elemen 2. Mengenal sifat-sifat diode 3. Mengenal bahan-bahan yang memenuhi hukum Ohm

1.3. Rumusan Masalah 1. Membahas tentang karakteristik V-I 1 1

2. Membahas tentang Hukum Ohm dan bahan yang termasuk didalamnya 3. Aplikasi dan manfaat karakteristik V-I 4. Hasil yang diperoleh dari percobaan beserta faktor-faktor yang mempengaruhi

1.4. Manfaat 1. Dapat mengetahui nilai-nilai hasil pengukuran karakteristik V-I dari suatu elemen 2. Dapat mengetahui alat-alat yang dihasilkan dari tepri karakteristik V-I 3. Dapat mengetahui tegangan dan kuat arus dari suatu elemen.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Arus (I) listrik terdapat dalam suatu area ketika muatan listrik total dipindahkan dari satu titik ke titik lain dalam area tersebut,misalnya muatan bergerak melewati sebuah kawat. Jika suatu muatan q dipindahkan melewati suatu luas penampang kawat yang diketahui dalam suatu waktu t maka arus yang melewati kawat tersebut adalah I= Disini q dalam coloumb,t dalam detik dan I dalam ampere (1A = 1 C/det). Sesuai dengan arah arus sama dengan arah aliran positif jadi aliran electron kekanan bersesuaian dengan arah arus ke kiri. Hambatan (R) sebuah kawat atau benda lain adalah beda potensial (V) yang harus terpasang dalam antara benda tersebut sehingga arus sebesar satu ampere dapat mengalir melewatinya R= Suatu hambatan adalah Ohm, dimana symbol digunakan 1 = 1 V/A. Hukum Ohm pada mulanya terdiri dari dua bagian. Bagian pertamanya hanya merumuskan persamaan hambatan V = I.R. kita sering kali merujuk pada persamaan ini sebagai hokum Ohm, akan tetapi Ohm juga menyatakan bahwa R adalah sebuah kostanta yang indipenden terhadap V dan I. Hubungan V = I.R dapat diterapkan pada resistor apapun dimana V adalah beda potensial (p.d) antara kedua ujung resistor tersebut. I adalah arus yang melewati resistor itu dan R adalah hambatan resistor pada kondisi-kondisi tertenrtu. Pengukuran hambatan dengan menggunakan ampere meter dan voltmeter. Rangkaian seri terdiri dari hambatan yang akan diukur. Sebuah ammeter dan digunakan sebuah baterai. Arusnya diukur oleh ammeter (hambatan rendah). Beda potensial diukur dihubungkan terminal-terminal sebuah voltmeter (hambatan tinggi) dengan hambatanya yaitu secara parallel dengannya. Hambatannya dihitung dengan

membagi pembacaan voltmeter dengan pembacaan ammeter menurut hukum ohm R= . Beda potensial terminal ( tegangan jepit, voltase) dari sebuah baterai atau generator ketika menghasilkan arus I berkaitan dengan gaya listrik dan hambatan dalam r sebagai berikut : 1. Ketika mengalirkan arus Tegangan terminal = (ggl)-( penurunan teganggan pada hambatan dalam)

2. Ketika menerima arus Tegangan terminal = (ggl)- (penurunan tegangan pada hambatan dalam) 3. Ketika tidak ada arus Tegangan arus terminal = ggl baterai atau generator hambatan jenis. Hambatan R dari sebuah kawat dengan panjang L dan luas penampang A adalah R= Dimana adalah konstanta yang disebut hambatan jenis (resistivitasi). adalah .m.

Hambatan jenis adalah karakteristik bahan kawat. Untuk L dalam m, dalam m2 dan R pada temperature R dalam . Satuan

Hambatan bervariasi dengan temperatur : jika sebuah kawat memiliki hambatan Ro pada temperature bahan kawat. Untuk L, maka hambatan R pada temperatur T adalah R = Ro + Ro (T-To) Dimana adalah koefisien temperature hambatan dari bahan kawat biasanya bervariasi dengan temperatur sehingga hubungan ini berlaku hanya pada rentang temperature yang kecil. Satuan adalah K-1 atau oC-1. Hubungan yang sama berlaku untuk variasi hambatan jenis dengan temperature. Jika o dan masing-masing adalah hambatan jenis pada To dan T1 maka
o

Perubahan potensial banding beda potensial pada resistor R dimana arus I yang mengalir, menurut hukum Ohm adalah I.R begian ujung resistor dimana arus masuk adalah ujung mengalir kebawah dari potensial tinggi. Arus selalu mengalir kebawah dari potensial tinggi ke potensial rendah melewati sebuah resistor. Usaha listrik (dalam joule) yang dibutuhkan untuk mengalirkan suatu muatan q melewati suatu beda potensial V ditentukan oleh W = q.V. jika q dan V diberi tanda yang sesuai, usaha akan memiliki tanda yang tepat. Jadi, untuk mengalirkan muatan positif terus dilakukan terhadap muatan tersebut. Daya listrik (p) dalam watt yang dihasilkan oleh sebuah sumber energy saat mengalir muatan q melewati kenakan potensial V dalam waktu t adalah Daya yang disesuaikan = P= Karena q/t = I persamaan ini dapat ditulis P = V.I Daya yang hilang dalam resistor ini ditentukan dengan mengganti V pada VI dengan RI atau mengganti I pada VI dengan V/R untuk memperoleh P = V.I=I.R Resistor rangkaian seri : ketika arus hanya dapat mengalir mengikuti satu jalur saat alur tersebut mengalir melalui dua atau lebih resistor yang dihubungkan satu sama lain. Resistor-resistor tersebut terangkai secara seri dengan kata lain. Jika satu dan hanya satu terminal resistor dihubungkan secara langsung kesatu dan hanya satu terminal resistor yang lain. Keduanya terangkai secara seri dan arus mengalir secara melewatkan keduannya. Sebuah simpul adalah satu titik dimana tiga atau lebih cabang atau kawat yang membawa arus bertemu. Dalam rangkaian seri tidak ada simpul antara elemen-elemen rangkaian ( seperti kapasitor, resistor dan baterai) kasus umum dapat diikat pada gambardibawah ini :

I a R1 b R2 (resistor rangkaian seri )


Gambar 2.1. Rangkaian seri

c R3

Untuk beberapa resistor yang terangkai sacara seri hambatan ekuivalenya Rek ditentukan oleh: Rek = R1 + R2 +R3 + Dalam rangkaian seri arus yang melewati setiap hambatan sama dengan yang melewati hambatan yang lainnya.penurunan potrensial pada rangkaian setara dengan jumlah penurunan potensial masing-masing. Hambatan ekuivalan dalam rangkaian seri selalu lebih besar dari pada hambatan-hambatan individu terbesar. Resistor rangkaian paralel : beberapa resistor dihubungan secara paralel antara dua simpul jika satu ujung dari masing-masing resistor dihubungkan dengan simpul yang lain.

I1 I R1 I2 I

R2
Gambar 2.2. Rangkaian paralel

Kerapatan arus dalam sebuah konduktor bergantung pada medan listrik dan sifat-sifat material itu. Umumnya, ketergantungan ini dapat agak rumit. Tetapi untuk beberapa material, khususnya logam, pada sebuah suhu yang diberikan. hampir berbanding langsung dengan , dan rasio besarnya dan besarnya adalah konstan. Hubungan ini dinamakan dengan hukum ohm yang ditemukan pada tahun 1826 oleh fisikawan Jerman George Simon ohm ( 1787-1854). Perkataan hukumseharusnya dalam tanda kutip,karena hokum ohm sepertipersamaan gas ideal dan hokum hooke adalah sebuah model yang diidealkan dengan menjelaskan perilaku dari beberapa material cukup baik tetapi bukan merupakan deskripsi umum dari semua materi. Dalam pembahasan berikut kita akan menganggap bahwa hukum ohm berlaku, tetapi walaupun ada banyak situasi dimana hokum itu tidak berlaku. Situasi itu dapat dibandingkan dengan penyajian kita mengenai perilaku gaya gesekan statik dan gaya gesekan kinetic. Kita memperlakukan gaya gaya gesekan ini sebagai gaya berbanding langsung dengan gaya normal, walaupun kita mengetahui bahwa ini paling baik hanya berupa deskripsi aproksimasi saja. Ada dua syarat agar arus listrik (electron-elektron) dapat mengalir, yaitu rangkaian listrik harus tertutup dan harus ada beda potensial. Oleh karena itu, pada rangkaian listrik digunakan alat amperemeter dan voltmeter. Amperemeter harus dihubungkan seri pada komponen yang diukur kuat arusnya. Resistor Tetap Ciri resistor tetap adalah hanya memiliki nilai hambatan tertentu. Nilai tersebut telah ditetapkan oleh pabrik pembuatnya dan tidak dapat diubah - ubah. Resistor jenis ini ada yang terbuat dari padatan karbon, lapisan logam tipis, lapisan karbon tipis, atau lilitan kawat. Resistor yang terbuat dari padatan karbon cukup banyak dijual. Resistor ini tersedia dalam berbagai nilai hambatan dan ukuran. Selain ditentukan oleh nilai hambatannya, perbedaan utama antara tiap jenis resistor adalah kemampuannya

mengatasi (melepaskan) panas. Resistor mengalami kenaikan suhu ketika digunakan. Makin besar arus listrik yang dilewatkan, maka makin besar pula kenaikan suhu yang timbul. Resistor dengan kemampuan mengatasi panas yang rendah akan terbakar, jika dialiri arus listrik yang cukup tinggi. Sebaliknya, resistor dengan kemampuan mengatasi panas yang baik akan tetap dapat digunakan meskipun dialiri arus listrik yang cukup tinggi. Umumnya, makin besar ukuran fisik (panjang serta diameter) resistor maka makin baik pula kemampuannya mengatasi panas. Besar nilai hambatan sebuah resistor karbon tidak tertulis di badan komponennya. Nilai hambatan resistor jenis ini dapat diketahui dari kode warna yang melingkari badan komponen. Kode warna yang melingkari resistor karbon berjumlah empat buah. Tipe kode warna memiliki nilai sendiri. (Lihat Tabel 2.1) Warna Cincin ke - 1 (angka pertama) Hitam Cokelat Merah Jingga Kuning Hijau Biru Ungu Abu - abu Putih Emas Perak Tanpa warna 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Cincin ke - 2 (angka kedua) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Cincin ke - 3 (banyak nol) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Cincin ke - 4 (toleransi) 5% 10% 20%

Resistor dengan nilai hambatan yang tepat sangat sulit dibuat. Kita hanya dapat membuat resistor dengan nilai hambatan disekitar nilai tertentu. Jika ketiga kode warna resistor menyatakan nilai hambatannya adalah 160 , nilai yang sebenarnya ternyata tidak tepat sebesar itu. Batas variasi nilai hambatan yang diperbolehkan disebut toleransi resistor. Nilai toleransi suatu resistor dapat diketahui dari cincin ke - 4. Resistor Variabel Ciri resistor variabel adalah memiliki nilai hambatan yang dapat diubah ubah. Contoh resistor variabel adalah hambatan geser, potensiometer, termistor, dan fotoresistor. a) Hambatan Geser. Resistor jenis ini terdiri dari silmaer berbahan isolator yang dililiti bahan konduktor. Dipermukaan lilitan terdapat titik kontak yang dapat digeser sepanjang lilitan. Nilai hambatan maksimal terjadi jika titik kontak berada di ujung lain lilitan kawat. Hambatan minimal (nol) terjadi jika titik kontak berada pada ujung yang sama dengan tempat arus listrik masuk. Fungsinya adalah menghasilkan nilai hambatan yang kecil, yang dapat diubah - ubah. b) Potensiometer. Prinsip kerjanya sama dengan Hambatan geser. Bedanya, potensiometer terbuat dari bahan yang hambat jenisnya besar. Akibatnya, nilai hambatan yang mampu diberikan komponen listrik ini tergolong besar meskipun ukuran fisiknya kecil. Ada juga beberapa potensiometer hambatannya 1 m. c) Termistor. Resistor ini peka terhadap perubahan suhu. Ada 2 jenis, yaitu termistor koefisien suhu negatif dan termistor koefisien suhu positif. Termistor sering digunakan sebagai komponen dalam alarm kebakaran. d) Fotoresistor. Nilai hambatan resistor jenis ini akan berubah jika dikenai cahaya. Perubahan nilai hambatan tersebut dapat diamati melalui perubahan tegangan atau arus listrik yang mengalir pada fotoresistor.

Jika kita melewatkan sebuah bidang hipotetik melalui kawat tersebut, maka banyaknya electron yang melalui bidang tersebut per satuan waktu dari kanan ke kiri adalah sama seperti banyaknya electron yang melalui bidang tersebut per satuan waktu adalah nol. Sesungguhnya, karena banyaknya electron adalah berhingga, maka akan terdapat fluktuasi-fluktuasi statistic yang kecil di dalam banyaknya electron yang lewat per satuan waktu dan sebuah penghantar akan mengandung suatu kecil yang berfluktuasi secara cepat, walaupun jika di rata-ratakan pada periode waktu yang cukup panjang, maka arus netto, tersebut adalah nol. Inilah salah satu segi (aspek) dari derau listrik (electrotical noise) yang dapat di ukur dengan mudah yang sangat di kenal oleh orang-orang yang mengetahui sedikit elektronika. Jika ujung-ujung kawat tersebut di hubungkan ke sebuah baterai maka sebuah medan listrik akan di timbulkan pada setiap titik di dalam kawat tersebut. Jika perbedaan potensial yang di pertahankan oleh baterai adalah 10 V dan jika kawat tersebut (yang di anggap uniform) mempunyai panjang 5m, maka kekuatan medan ini setiap titik akan sama dengan 2V/m. Medan E ini akan bertindak pada elektronelektron dan akan memberikan suatu gerakresultan pada elektron-elektron tersebut di dalam arah E. Kita mengatakan bahwa sebuah arus listrik (electric current) i di hasilkan; jika sebu muatan netto q lewat melalui suatu penampang penghantar selama t, maka arus (yang di anggap konstan) adalah i = q/t. Satuan-satuan SI yang sesuai adalah ampere (A) untuk i, coulomb untuk muatan q, dan detik untuk t. Jika banyaknya muatan yang mengalir persatuan waktu tidak konstan, maka arus akan berubah dengan waktu dan di berikan oleh listrik potensial. Arus i adalah sama untuk semua penampang penghantar, walaupun luas penampang mungkin berbeda pada titik-titik yang berbeda. Dengan cara yang sama maka banyaknya air (yang di anggap tak termampatkan) yang mengalir persatuan waktu melewati setiap penampang pipa adalah sama walaupun jika penampang tersebut berubah. Air mengalir lebih cepat di tempat di mana pipa adalah lebih kecil dan mengalir lebih lambat di tempat di mana 10

pipa adalah lebih besar sehingga banyaknya volume yang mengalir persatuan waktu, yang barangkali di ukur dalam L/detik, tetap tidak berubah. Tetapnya arus listrik ini di peroleh karena muatan harus kekal; muatan tersebut tidak menumpuk terus-menerus atau mengalir terus-menerus dari suatu titik di dalam penghantar tersebut di bawah kondisi-kondisi keadaan tunak yang di anggap. Adanya sebuah medan listrik di dalam sebuah pengantar tidak bertentangan. Di dalam mana kita tegaskan bahwa E sama dengan nol di dalam sebuah penghantar. Di dalam bagian tersebut yang membahas sebuah keadaan di dalamnya semua gerakan netto tidak dari muatan telah berhenti (elektrostatik), kita telah menganggap bahwa penghantar tersebut di isolasi dan bahwa tidak ada perbedaan potensial yang dengan sengaja di pertahankan antara setiap dua titik pada penghantar tersebut, seperti yang di lakukan oleh sebuah baterai. Walaupun pengangkut muatan-muatan di dalam logam adalah elektronelektron, namun di dalam elektrolit atau di dalam penghantar yang berbentuk gas (plasma) pengangkut-pengangkut muatan tersebut dapat juga merupakan ion positif atau ion negatif, atau kedua-duanya. Kita memerlukan sebuah perjanjian (konvensi) untuk menandai arah-arah arus karena muatan-muatan yang tandanya berlawanan bergerak di dalam arah-arah yang berlawanan di dalam sebuah medan yang di berikan. Sebuah muatan positif yang bergerak di dalam satu arah dalam ekivalen hampir semua efek luasnya dengan sebuah muatan negatif yang bergerak di dalam arah yang berlawanan. Maka, untuk sederhananya dan untuk kekonsistenan aljabarnya, maka kita menganggap bahwa semua pengangkut muatn adalah positif. Arus listik (I) terdapat dalam suatu area ketika muatan listrik total di pindahkan dari satu titik ke titik lain dalam area tersebut. Misalnya muatan bergerak

11

melewati sebuah kawat. Jika suatu muatan q di pindahkan melewati suatu luas penampang melintang kawat yang di ketahui dalam suat waktu t1 maka arus yang melewati suatu luas penampang melintang kawat yang di ketahui dalam waktu maka arus yang melewati kawat tersebut adalah i= q/t. Di sini q dalam coulomb, t dalam detik, dan I dalam ampere (1A= 1 C/det). Sesuai dengan kebiasaan arah arus sama dengan arah muatan positif. Jadi, aliran elektron yang melewati ke kanan bersamaan dengan arah arus ke kiri. Hambatan (R) sebuah kawat atau benda lain adalah ukuran beda potensial (V) yang harus terpasang antara benda tersebut sehingga arus sebesar satu ampere dapat mengalir melewatinya R= V/I. Satuan hambatan adalah ohm, di mana simbol digunakan 1= 1V/A. Hukum Ohm pada mulanya terdiri dari dua bagian. Bagian pertamanya hanya merumuskan persamaan hambatan V= I.R. kita seringkali merujuk pada persamaan ini sebagai hukum Ohm. Akan tetapi, hukum Ohm juga menyatakan bahwa R adalah sebuah konstanta yang independen terhadap V dan I. Hubungan V= I.R dapat di terapkan pada resistor apapun, di mana V adalah beda potensial (p.d) antara kedua ujung resistor tersebut. I adalah arus yang melewati resistor itu dan R adalah hambatan resistor pada kondisi-kondisi tertentu. Pengukuran hambatan dengan menggunakan amperemeter dan voltmeter. Rangkaian seri terdiri dari hambatan yang akan di ukur, sebuah ammeter, dan di gunakan sebuah baterai. Arusnya di ukur oleh ammeter (hambatan rendah). Beda potensial di ukur di hubungkan terminal-terminal sebuah voltmeter (hambatan tinggi) dengan hambatannya yaitu setara paralel dengannya. Hambatannya di hitung dengan membagi pembacaan voltmeter dengan pembacaan ammeter menurut hukum ohm R= V/I.

12

Beda potensial terminal (tegangan jepit, voltase) dari sebuah baterai atau generator ketika menghasilkan arus I berkaitan dengan gaya listriknya G dan hambatan dalam r sebagai berikut : 1. Ketika mengalirkan arus tegangan terminal= (ggl) (penurunan tegangan pada hambatan dalam) V= G-Ir. Usaha listrik (dalam Joule) dapat di tuliskan sebagai berikut W= q.v. L dan luas penampang A adalah : R= P. L/A. Di mana P adalah konstanta yang di sebut rambat jenis (resistivitas). Rambat jenis adalah karakteristik bahan kawat untuk L dalam m, A dalam m2 dan R dalam , satuan P adalah .m. hambatan bervariasi dengn temperatur: jika sebuah kawat memiliki hambatan Ro pada temperatur To, maka hambatan R pada temperatur T adalah. R= Ro + Ro (T-To) Di mana adalah koefisien temperatur hambatan dari bahan kawat biasanya bervariasi dengan temperatur sehingga hubungan ini berlaku hanya pada rentang temperatur yang kecil. Satuan adalah K-1 atau 0C-1. Hubungan yang sama berlaku untuk variasi hambat jenis dengan temperatur jika Po dan P masing-masing adalah hambat jeni pada To dan T, maka : P= Po + Po (T To) Perubahan potensial: beda potensial pada sebuah resistor R di mana arus I yang mengalir. Menurut hukum Ohm adalah IR. Bagian ujung resistor di mana arus masuk adalah ujung masuk dengan potensial tinggi arus selalu mengalir ke bawah dari potensial tinggi ke potensial rendah melewati sebuah resistor. Usaha listrik (dalam joule), W= q.V. jika q dan V di beri tanda yang sesuai, usaha akan memiliki tanda yang tepat. Jadi, untuk mengalirkan muatan positif, melewati kenaikan potensial. Sejumlah usaha positif harus di lakukan terhadap muatan tersebut. Daya listrik dalam watt, P= V.I= I.R.

13

Hukum Ohm mulanya terdiri dari dua bagian. Bagian pertamanya hanya merumuskan persamaan hambatan V= I.R. Kita seringkali merujuk pada persamaan inisebagai hukum Ohm. Hukum Ohm berbunyi sebagai berikut : besarnya kuat arus yang timbul pada suatu penghantar berbanding dengan beda potensial atau tegangan antara kedua ujung penghantar tersebut. Hukum Ohm menggambarkan bagaimana arus, tegangan antara kedua ujung penghantar tersebut. Hukum Ohm menggambarkan bagaimana arus, tegangan, dan tahanan berhubungan. George Ohm menentukan secara eksperimental bahwa jika tegangan yang melewati sebuah tahanan bertambah nilainya maka arusnya juga akan bertambah nilainya. Begitu juga sebaliknya. Setiap benda yang ada di bumi ini terdiri atas kumpulsn-kumpulan partikel. Jika sebua benda di potong-potong hingga di dapat potongan bendatersebut yang paling kecil yang tidak dapat di belah lagi maka kita akan memperoleh sebuah partikel yang sangat kecil sekali. Partikel tersebut di namakan atom. Atom adalah partikel terkecil dari sebuah elemen yang masih memiliki tipe atom yang berbeda pula. Bahkan setiap elemen memiliki tipe struktur seperti sistem tata surya kita yang di sebut dengan nukleus dan di keliling oleh elektron-elektron. Nukleus terdiri atas partikel-partikel bermuatan positif yang di sebut netron. Elektron adalah partikel bermuatan negatif ysng mengorbit nukleus. Setiap jenis atom memiliki jumlah elekton dan proton tertentu yang membedakannya dengan atom daru elemen lainnya. Sebagai contoh, atom yang paling sederhana adalah atom hidrogen. Atom ini memiliki satu proton dan satu elektron. Elektron adalah partikel bermuatan negatif yang mengorbit nukleus.semua elemen di dunia ini di susun dalam sebuah tabel menurut nomor atom yaitu jumlah proton dalam nukleus. Namun, elemen juga dapat di susun menurut berat atom yang di milikinya, yang beratnya kira-kira sama dengan jumlah proton dan netron di nukleus. Sebagai contoh, hidrogen memiliki nomor atom satu dan berat atomnya

14

adalah satu. Pada keadaan normal atau netral semua atom memiliki jumlah elektron dan protonyang sama, sehingga muatan positif meniadakan muatan negatif dan muatan atom di katakan bermuatan nol. Pada aplikasi elektronika, tembaga merupakan jenis metal yang sering di gunakan.atom tembaga memiliki 29 elektron pada orbitnya. Semua elektron tidak berada pada satu orbit saja, tetapi berada pada orbit yang jaraknya bervariasi dari nukleus. Orbit tempat elektron berevolusi di sebut dengan kulit. Jumlah elektron yang dapat di tampung oleh sebuah orbit bervariasi dengan pola yang dapat di perkirakan. Di dalam dunia elektronika terdapat tiga jenis bahan berdasarkan jumlah elektron bebas yaitu : konduktor atau penghantar, semikonduktor, dan isolator. Konduktor adalah bahan yang dapat mengalirkan arus listrik dengan mudah.

15

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Waktu dan Tempat Percobaan karakteristik V-I dari beberapa elemen ini dilaksanakan pada hari jumat tanggal 20 Mei tahun 2011 pada pukul 08.00 WITA . Bertempat di Laboratorium Fisika Dasar gedung C lantai 3 Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman Samarinda.

3.2 Alat dan Bahan 1. Catu Daya DC 2. Voltmeter 3. Amperemeter 4. Multimeter 5. Kabel penghubung 6. Resistor 7. Lampu pijar 8. Dioda silikon

1.5. Prosedur percobaan 3.3.1 Hambatan karbon

1. Disusun rangkaian pada gambar 1 dengan memasang hamabtan pada posisi Rx ( perhatikan catu daya sebelum dihidupkan) 2. Dimulai dengan tegangan 2 volt (pada catu daya )kemudian diukur V dan I 3. Diulangi pengukuran untuk V = 4,6,8 volt 4. Dibuat grafik V-I tarik garis lurus yang terbaik. 3.3.2. Lampu pijar 1. Disiapkan balon senter,tengangan maksimum 5 volt

16 16

2. Disusun rangkaian pada gambar 1 dengan memasang hambatan pada posisi Rx 3. Dihitung dengantegangan 2 volt (pada catu daya) kemudian diukur untuk V dan I 4. Diulangi pengukuran untuk V = 4,6,8 volt 5. Dibuat grafik V-I dengan menarik garis singgung pada V = 0 (titik asal) 3.3.3. Dioda silikon 1. Dicatat nomor dioda yang disediakan 2. Disusun rangkaian pada gambar 2 3. Dihitung dengan tegangan 2,4,6,8 ( pada catu daya ) kemudian diukur dengan untuk V dan I ke Rv. 4. Dibuat grafik V-I dengan pengamatan tersebut untuk arah maju dan bias mundur.

17

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Data Pengamatan 1. Hambatan Karbon No Resistor GGL (E) 2 1. Hijau,Biru,Merah,Emas 4 6 8 2 2. Kuning,Ungu,Merah,Emas 4 6 8 2 3. Coklat,Hijau,Merah,Emas 4 6 8 2 4. Coklat,Hitam,Merah,Emas 4 6 8 Arus (I) 1,2 1,8 2,8 3,6 1 2 2,8 3,6 1,2 2,4 3,2 4,4 1,4 2,4 2 4,6 Tegangan (V) 2 3 4 5,5 2 3 4,5 5,5 2,5 3,5 5 5,5 2,5 4 5,5 5,5

18

18

2. Lampu Pijar No Resistor GGL (E) 2 1. Lampu Pijar 4 6 8 Arus (I) 1,6 2,6 3,6 4,8 Tegangan (V) 2,5 4 5,5 5,5

3. Dioda Silikon No Resistor GGL (E) 2 1. Hijau,Biru,Merah,Emas 4 6 8 2 2. Kuning,Ungu,Merah,Emas 4 6 8 2 3. Coklat,Hijau,Merah,Emas 4 6 8 Arus (I) 0,4 0,6 1 1,2 0,4 0,5 2 1,4 0,9 1,6 2,4 3,2 Tegangan (V) 0,4 0,5 0,5 0,5 0,4 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5

Resistor Pelindung Nst I = 0,2 Nst V = 0,05

4.2. Analisis data 4.2.1. Tanpa KTP

19

1. Hambatan karbon

Resistor 1 ( hijau,biru,merah,emas )

Resistor 2 ( kuning,ungu,merah,emas )

Resistor 3 ( coklat,hijau,merah,emas )

Resistor 4 (coklat,hitam,merah,emas )

20

2. Lampu pijar

P = 4 . 2,6 = 10,4 Watt P = 5,5 . 3,6 = 19,8 Watt P = 5,5 . 4,8 = 26,4 Watt

3. Dioda silikon

Resisror 1 ( hijau,biru,merah,emas )

Resistor 2 ( kuning,ungu,merah,emas )

21

Resistor 3 ( coklat,hijau,merah,emas )

4.2.2. Dengan KTP 1. Hambatan Karbon

{( )

( )

) }

{( )

) }

Resistor 1 ( hijau,biru,merah,emas ) {( { { ) ) } ) ( ) )} ) }

22

{( { {

) )

) )} }

) }

{( { {

) )

) )} }

) }

{( { {

) )

) )} }

) }

Resistor 2 ( kuning, ungu,merah,emas ) {( ) { { ) } ) ( ) )} ) }

{( ) {

) )

) } )}

23

{( { {

) )

) )} }

) }

{( { {

) )

) )} }

) }

Resistor 3 ( coklat,hijau,merah,emas ) {( { { ) ) } ) ( ) )} ) }

{( { {

) )

) )} }

) }

24

{( { {

) )

) )} }

) }

{( { {

) )

) )} }

) }

Resistor 4 ( coklat,hitam,merah,emas ) {( { { ) ) } ) ( ) )} ) }

{( { {

) )

) )} }

) }

{( ) {

) )

) )}

) }

25

{( { {

) )

) } )}

2. Lampu pijar {( { ) ) ) ( ) } ) ) }

1.

{ {

) }

) }

2.

{ {

) }

) }

3.

{ {

) }

) }

4.

{ {

) }

) }

26

3. Dioda silikon

{( )

( )

) }

{( )

) }

Resistor 1 ( hijau,biru,merah,emas ) {( { { ) ) ) } ( ) )} ) }

{( { {

) )

) )} }

) }

{( ) { { )

) )} }

) }

27

{( { {

) )

) )} }

) }

Resistor 2 ( kuning, ungu,merah,emas ) {( { { ) ) ) } ( ) )} ) }

{( { {

) )

) } )}

{( ) { {

) )

) } )}

{( {

) )

) )}

) }

28

Resistor 3 ( coklat,hijau,merah,emas ) {( { { ) ) ) } ( ) ) } )}

{( { {

) )

) )} }

) }

{( { {

) )

) } )} }

{( { {

) )

) } )} }

29

4.2.3. KTP Mutlak 1. Hambatan karbon Resistor 1 ( hijau,biru,merah,emas) ( R R ) 1,67 0,167 1,67 0,1 1,43 0,07 1,52 0,054 Resistor 2 ( kuning,ungu,merah,emas ) ( R R ) 2 0,19 1,67 0,097 1,61 0,07 1,53 0,054 Resistor 3 ( coklat,hijau,merah,emas ) ( R R ) 2,08 0,18 1,46 0,08 1,56 0,06 1,25 0,042 Resistor 4 ( coklat,hitam,merah,emas ) ( R R ) 1,8 0,15 1,67 0,084 2,75 0,124 1,20 0,04

30

2. Lampu pijar ( P P ) Watt 4 0,315 10,4 0,454 19,8 0,705 26,4 0,882

3. Dioda silikon Resistor 1 ( hijau,biru,merah,emas) ( R R ) 1 0,21 0,83 0,097 0,50 0,037 0,42 0,027 Resistor 2 ( kuning,ungu,merah,emas ) ( R R ) 1 0,173 0,625 0,056 0,25 0,011 0,36 0,027 Resistor 3 ( coklat,hijau,merah,emas ) ( R R ) 0,56 0,046 0,3125 0,016 0,208 0,009 0,16 0,006

31

4.2.4. KTP Relatif 1. Hambatan karbon Resistor 1 ( hijau,biru,merah,emas) Resistor 2 ( kuning,ungu,merah,emas ) Resistor 3 ( coklat,hijau,merah,emas ) Resistor 4 ( coklat,hitam,merah,emas ) -

32

2. Lampu pijar 3. Dioda silikon Resistor 1 ( hijau,biru,merah,emas) Resistor 2 ( kuning,ungu,merah,emas ) Resistor 3 ( coklat,hijau,merah,emas ) -

33

4.3. Grafik 1. Hambatan Karbon Resistor 1 ( hijau,biru,merah,emas )

Resistor 1
4 3 2 1 0 0 2 4 6

Resistor 2 ( kuning,ungu,merah,emas )

Resistor 2
4 3 2 1 0 0 2 4 6

34

Resistor 3 ( coklat, hijau,merah, emas )

Resistor 3
5 4 3 2 1 0 0 2 4 6

Resistor 4 ( coklat,hitam,merah,emas )

Resistor 4
6 5 4 3 2 1 0 0 2 4 6 8

2. Lampu Pijar
6 5 4 3 2 1 0 0 2 4 6

35

3. Dioda Silikon Resistor 1 ( hijau,biru,merah,emas )

Resistor 1
1.5 1 0.5 0 0 0.2 0.4 0.6

Resistor 2 ( kuning,ungu,merah,emas )

Resistor 2
1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 0 0.2 0.4 0.6

Resistor 3 ( coklat, hijau,merah, emas )

Resistor 3
4 3 2 1 0 0 0.2 0.4 0.6

36

4.4 Pembahasan Karakteristik V-I dari suatu elemen biasanya dapat diukur dengan menggunakan rangkaian sederhana seperti pada gambar berikut :

Rv E
V

Rx

Dimana tegangan dan arus dibatasi sesuai dengan sifat danelemen masing-masing. Rangkaian tersebut dapat memberi hasil yang baik asal hambatan dala, voltmeter jauh lebih besar dari Rx. Biasanya hambatan dalam voltmeter Rv kira kira 10 KOhm/ volt keatas. Sehingga arus melalui voltmeter kira kira 0,1 Ma kebawah : asal jauh lebih kecil arus dari total dengan demikian efek dapat diabaikan. Jika Rx besar, Rx > Rv/ 20 berarti rangkaian dapat diubah dengan memindahkan ammeter ke posisi A. dalam posisi ini perlu dijaga agar hambatan dalam ammeter RA, jauh lebih kecil dari Rx. Hukum ohm adalah suatu pernyataan bahwa besar arus atau kuat arus yang mengalir melalui sebuah penghantar, selalu berbanding lurus dengan tegangan dan berbanding terbalik dengan hambatan, persamaan dari hukum ohm ini adalah : I = V/R Dimana I adalah kuat arus listrik (A), V adalah tegangan listrik (V), dan R adalah hambatan listrik (ohm). Hukum ohm pada mulanya terdiri dari dua bagian. Bagian pertamanya hanya merumuskan persamaan hambatan. V = IR. Kita sering kali merujuk pada persamaan sebagai hukum ohm. Tetapi, ohm juga menyatakan bahwa R adalah sebuah kostanta yang indipenden terhadap V dan I. Pada percobaan ini diode silicon termasuk hukum ohm. Hal ini dikarenakan diode silicon juga digunakan dalam pengukuran tegangan dan kuat arus dimana diode 37

hanya mengantar arus dalam satu arah ( bias maju). Sedangkan pada arah berlawanan ( bias undur) arus terlalu kecil untuk diamati dengan alat ukur biasa (< 10 -6A). selain itu arus satu arah dipakai untuk mengubah arus bolak balik terhadap besarnya polentas menjadi arus searah atau jembatan wheatstone. Bedasarkan grafik yang diperoleh dapt diketahui bahwa nilai tegangan dan kuat arus semakin tinggi poltase pada catu daya maka nilainya semakin mengecil atau menurun. Aplikasi rangkaian listrik dalam kehidupan sehari-hari digunakan sebagai sumber tenaga, misalnya lampu, telpon, medan listrik, alat alat elektronik dan lainlain. Adapun faktor-faktor kesalahan yaitu pada saat pemasangan kabel penghubung kita salah meletakkannya, tegangan listrik yang ada kurang besar sehingga nilai yang diperoleh tidak akurat.

38

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan 1. Karakteristrik VI dari suatu elemen dapat diukur dengan rangkaian sederhana dimana beda tegangan dan arus dibatasi sesuai dengan sifat dari masingmasing elemen. 2. Sifat-sifat dioda adalah arus mengalir bebas jika dibias maju arus tidak mengalir jika dibias mundur, arus satu arah dipakai untuk mengubah araus belok menjadi arus searah dapat mengalami breakthrough, voltase balik sangat besar 3. Sebuah benda atau pengantar diketahui memenuhi hokum ohm apabila nilai resistornya tidak berbanding terhadap besarnya polentas dan beda potensial yang dikenakan padanya.

5.2. Saran Sebaiknya pada praktikum selanjutnya dapat digunakan juga diode jermanium agar dapat dilihat perbandingan data yang dihasilkan dengan diode silicon.

39 39

DAFTAR PUSTAKA

Gie, Tan Ik dan Sutrisno. 1979. Fisika Dasar Listrik, Magnet dan Termofisika.Bandung : ITB Dr. Peter Soedojo,B .Sc. 1999.Fisika Dasar. Yogyakarta : Andi Halliday dan Resnick.1984.Fisika.Jakarta : Erlangga Stephen Bresnick, M.D.1996. Intisari Fisika.Jakarta : Hipokrataes.

40