Anda di halaman 1dari 12

I. II.

Judul Percobaan

: Uji Asam Amino

Hari/Tanggal Percobaan : Jumat/ 11 Maret 2011 : Untuk mengetahui uji positif dan negative terhadap asam amino dari protein.

III. Tujuan Percobaan

IV. Landasan Teori Asam amino merupakan monomer yang menyusun polimer-polimer pada protein. Kunci struktur ribuan protein yang berbeda-beda adalah gugus pada molekul unit pembangun protein yang relative sederhana. Semua protein, baik yang berasal dari bakteri yang paling tua atau yang berasal dari bentuk kehidupan tertinggi, dibangun dari rangkaian dasar yang sama 20 asam amino yang berikatan kovalen dalam urutan yang khas. Karena masing-masing asam amino mempunyai rantai samping yang khusus, yang memberikan sifat kimia masing-masing individu kelompok 20 molekul unit pembangun ini dapat dianggap sebagai abjad struktur protein. A. Ciri-Ciri dan Struktur Asam Amino Struktur asam amino secara umum adalah satu atom C yang mengikat empat gugus: gugus amina (NH2), gugus karboksil (COOH), atom hidrogen (H), dan satu gugus sisa (R, dari residue) atau disebut juga gugus atau rantai samping yang membedakan satu asam amino dengan asam amino lainnya. Atom C pusat tersebut dinamai atom C ("C-alfa") sesuai dengan penamaan senyawa bergugus karboksil, yaitu atom C yang berikatan langsung dengan gugus karboksil. Oleh karena gugus amina juga terikat pada atom C ini, senyawa tersebut merupakan asam -amino. Asam amino biasanya diklasifikasikan berdasarkan sifat kimia rantai samping tersebut menjadi empat kelompok. Rantai samping dapat membuat asam amino bersifat asam lemah, basa lemah, hidrofilik jika polar, dan hidrofobik jika nonpolar. Semua asam amino (20) yang ditemukan pada protein mempunyai ciri yang sama, gugus karboksil dan gugus amino diikat pada atom karbon yang sama. Masingmasing berbeda satu dengan yang lainnya pada rantai sampingnya, atau gugus R,

yang bervariasi dalam struktur, ukuran muatan listrik dan kelarutan di dalam air. Ke20 asam amino pada protein seringkali dipandang sebagai asam amino baku, utama, atau normal, untuk membedakan molekul-molekul ini dari jenis-jenis asam amino lain yang ada pada organisme hidup, tetapi tidak terdapat di dalam protein. Asam amino baku dapat dinyatakan dengan singkatan tiga huruf atau lambang satu huruf yang digunakan secara ringkas untuk menunjukkan komposisi dan urutan asam amino di dalam rantai polipeptida. Struktur asam amino yang terdapat dalam protein ditemukan dalam bentuk ionik. Warna hitam menunjukkan bagian yang umum pada semua asam -amino pada protein (kecuali prolin). Asam amino satu dengan yang lainnya akan bersambung membenrtuk struktur primer protein oleh ikatan peptida. Susunan asam amino menentukan sifat struktur sekunder dan tersier. Hal ini akan mempengaruhi secara bermakna sifat-sifat fungsiu protein makanan dan perilakuknya selama pemrosesan. Dari 20 asam amino, hanya 8 asam amino yang merupakan asam amino esensial yang terdapat dalam protein dan ketersediaannya menentukan kualitas gizi protein. Pada umumnya, kualitas protein hewan lebih tinggi daripada kualitas protein tumbuhan. Protein tumbuhan dapat ditingkatkan mutu gizinya dengan pencampuran secara bijaksana atau dengan modifikasi genetik melalui persilangan. B. Sifat-Sifat Asam Amino Hampir semua asam amino baku, keculai satu mempunyai atom karbon asimetrik, karbon, yang mengikat empat gugus substituen yang berbeda, yakni, gugus karboksil, gugus amino, gugus R, dan atom Hidrogen. Atom karbon asimetrik karenanya, merupakan pusat khiral. Seperti yang telah diketahui, senyawa dengan pusat khiral terdapat dua bentuk isomer yang berbeda, yang bersifat identik dalam semua sifat kimia dan fisiknya, kecuali satu, yakni arah perputaran sinar terpolarisasi didalam polarimeter. Kesemua dari 20 asam amino yang diperoleh dari hidrolisa protein dengan kondisi yang cukup ringan, bersifat optik aktif; yakni senyawa-senyawa ini dapat memutar sinar bidang polarisasi meuju ke suatu arah atau kebalikannya. Karena susunan tetrahedral ikatan valensi disekitar atom karbon pada asam amino, keempat gugus substituen yang berbeda ini dapat menempati dua

susunan yang berbeda dalam ruang, yang merupakan bayanngan cermin yang tidak saling menutupi sesamanya. Kedua bentuk ini dinamakan isomer optik, enensiomer, atau stereoisomer. Sifat asam amino dalam larutan, maka ia akam terionisasi dan dapat bersifat sebagai asam atau basa. Sifat-sifat asam dan basa ini sangat penting didalam pengertian pengetahuan mengenai sifat protein. Hal ini sangat penting diterapkan dalam seni pemisahan, identifikasi, dan kuatifikasi asam amino yang berbeda, yaitu dalam hal menentukan komposisi dan urutan asam amino dari molekul protein, yang didasarkan atas tingkah laku asam basa yang khas. Dan bila protein dilarutkan ke dalam larutan asam atau basa kuat, maka unit pembangun asam amino dibebaskan dari ikatan kovalen yang menghubungkan molekul-molekul ini menjadi rantai. Asam amino yang bebas yang terbentuk merupakan molekul yang relatif kecil, dan struktur masing-masing telah diketahui. C. Golongan-Golongan Asam Amino Struktur ke-20 asam amino dibagi menjadi 4 golongan, yaitu: 1) Golongan dengan gugus R nonpolar atau hidrofobik Gugus R di dalam golongan ini merupakan hidrokarbon. Lima asam amino dengan gugus R alifatik (alanin, valin, leusin, isoleusin, dan prolin), dua dengan lingkaran aromatik (fenilalanin dan triptofan), dan satu yang mengandung sulfur (metionin).

2) Golongan dengan gugus R polar tetapi tidak bermuatan Gugus R dari asam amino polar lebih larut dalam air, atau lebih hidrofilik, dibandingkan dengan asam amino nonpolar, karena golongan ini mengandung gugus fungsionil yang membentuk ikatan hidrogen dengan air. Golongan ini meliputi glisin, serin, treonin, sistein, tirosin, asparagin, dan glutamin.

3) Golongan dengan gugus R bermuatan negatif (asam) Golongan asam amino ini mengandung gugus R yang bermuatan total negatif pada pH 7,0. asam amino ini meliputi asam aspartat dan asam glutamat, yang masing-masing memiliki tambahan gugus karboksil.

4) Golongan dengan gugus R bermuatan positif (basa) Golongan asam amino ini mempunyai gugus R dengan muatan total positif pada pH 7,0. asam amino ini meliputi lisin, arginin, dan histidin.

D. Uji Asam Amino 1) Uji Millon Pereaksi Millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein, akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah menjadi merah oleh pemanasan. Pada dasarnya reaksi ini positif untuk fenol-fenol, karena terbentuknya senyawa merkuri dengan gugus hidroksifenil yang berwarna. 2) Uji Hopkins-Cole Larutan protein yang mengandung triptofan dapat direaksikan dengan pereaksi Hopkins-Cole yang mengandung asam glioksilat. Pereaksi ini dibuat dari asam oksalat dengan serbuk magnesium dalam air. Setelah dicampur dengan pereaksi Hopkins-Cole, asam sulfat dituangkan perlahan-lahan sehingga membentuk lapisan di bawah larutan protein. Beberapa saat kemudian akan terjadi cincin ungu pada batas antara kedua lapisan tersebut.

V.

Alat dan Bahan 1. Alat - Pipet tetes - Gelas ukur - Beker gelas - Neraca analitik - Bunsen - Tabung reaksi 2. Bahan - Telur mentah diambil kuning dan putih telurnya - Reagen Millon - Reagen Hopkins Cole - Tyrosin - Triptofan - Arginin - Alanin - Susu - Aquades - Rak tabung reaksi - Pengaduk - Kertas Saring - Corong - Penjepit tabung

VI. Prosedur Percobaan - Membuat larutan protein dari albumin telur (putih telur dan kuning telur dengan perbandingan 1 % : 5 %) - Membuat larutan protein yang disiapkan (tyrosin, triptofan, arginin, alanin, susu) dengan perbandingan 1 % - 5 %) 1) Uji Millon Membuat reagen Millon terlebih dahulu yaitu : Melarutkan 10 gr Mercuri ke dalam 20 ml asam nitrat pekat. Dan apabila telah melarut semua dan uap cokelat tidak kelihatan lagi, maka diencerkan dengan 60 ml air. Kemudian disimpan.

Menambahkan 10 tetes reagen Millon ke dalam 3 ml larutan protein, kemudian dipanaskan campuran tersebut baik-baik. Jika reagen yang yang digunakan terlalu banyak, maka warna akan hilang pada pemanasan. Mengulangi langkah ketiga dengan menggantikan larutan protein dengan larutan tyrosin, triptofan, arginin dan alanin 1% - 5%. 2) Uji Hopkins Cole Ke dalam 2 ml larutan protein ditambahkan 2 ml reagen Hopkin-Cole. Kemudian ditambahkan sedikit demi sedikit kira-kira sebanyak 5 ml H2SO4 melalui sisi tabung. Lalu mengamati warna yang terbentuk pada pertemuan kedua cairan. Jika perlu putar perlahan-lahan tabung tersebut, sampai terbentuk cincin berwarna. Mengulangi langkah diatas dengan menggunakan sampel larutan tyrosin, triptofan, arginin dan alanin 1% - 5%.

VII. Hasil Pengamatan 1) Uji Millon


(15 menit) Arginin ditambah Reagen Millon 1 % larutan putih keruh + endapan putih 2 % larutan putih keruh + endapan putih yang kurang dari (<) 1 % 3 % larutan putih keruh + endapan putih yang kurang dari (<) 2 % 4 % larutan putih keruh + endapan putih yang kurang dari (<)3 % 5 % larutan putih keruh + endapan putih yang kurang dari (<) 4 % 3 % larutan keruh yang kurang dari (<) 2 % 4 % larutan keruh yang kurang dari (<) 3 % 5 % larutan keruh yang kurang dari (<) 4 % 2 % larutan keruh Arginin ditambah Reagen Millon 1 % larutan bening

(15 menit) Alanin ditambah Reagen Millon 1 % larutan bening 2 % larutan bening 3 % larutan bening 4 % larutan bening 5 % larutan bening

Alanin ditambah Reagen Millon 1 % larutan bening 2 % larutan bening 3 % larutan bening 4 % larutan bening 5 % larutan bening

(15 menit) Tyrosin ditambah Reagen Millon 1 % larutan berubah warna menjadi merah tua (merah bata) 2 % larutan berubah warna menjadi merah tua (merah bata) 3 % larutan berubah warna menjadi merah tua (merah bata) 4 % larutan berubah warna menjadi merah tua (merah bata) 5 % larutan berubah warna menjadi merah tua (merah bata) Putih Telur ditambah Reagen Millon (dipanaskan dengan Bunsen) 1 % larutan bening + endapan merah bata 2 % larutan bening + endapan merah bata 3 % larutan bening + endapan merah bata 4 % larutan bening + endapan merah bata 5 % larutan bening + endapan merah bata

Tyrosin ditambah Reagen Millon (dipanaskan dengan Bunsen) 1 % larutan merah larutan warna coklat tua 2 % larutan merah larutan warna coklat tua 3 % larutan merah larutan warna coklat tua 4 % larutan merah larutan warna coklat tua 5 % larutan merah larutan warna coklat tua Kuning Telur ditambah Reagen Millon (dipanaskan dengan Bunsen) 1 % larutan putih keruh merah bata 2 % larutan putih keruh merah bata 3 % larutan putih keruh merah bata 4 % larutan putih keruh merah bata 5 % larutan putih keruh merah bata

(15 menit) Triptofan ditambah Reagen Millon

Triptofan ditambah Reagen Millon (dipanaskan dengan Bunsen)

1 % larutan berubah warna menjadi 1 % larutan coklat muda + endapan coklat larutan coklat tua + merah tua (merah bata)

endapan coklat (sedikit larut) 2 % larutan berubah warna menjadi 2 % larutan coklat muda + endapan coklat (< 1 %) larutan merah tua (merah bata)

coklat tua + endapan coklat (sedikit larut) 3 % larutan berubah warna menjadi 3 % larutan coklat muda + endapan coklat (< 2 %) larutan merah tua (merah bata)

coklat tua + endapan coklat (sedikit larut) 4 % larutan berubah warna menjadi 4 % larutan coklat muda + endapan coklat (< 3 %) larutan merah tua (merah bata)

coklat tua + endapan coklat (larut) 5 % larutan berubah warna menjadi 5 % larutan coklat muda + endapan coklat (< 4 %) larutan merah tua (merah bata)

coklat tua + endapan coklat (larut)

2) Uji Hopkins Cole


Putih Telur ditambah Reagen Hopkins Cole + H2SO4 1 % larutan keruh + cincin kuning 2 % larutan keruh + cincin kuning lebih banyak dari 1 % (> 1 %) 3 % larutan keruh + cincin ungu lebih banyak dari 2 % (> 2 %) 4 % larutan keruh + cincin kuning lebih banyak dari 3 % (> 3 %) 5 % larutan keruh + cincin kuning lebih banyak dari 3 % (> 4 %) Kuning Telur ditambah Reagen Hopkins Cole + H2SO4 1 % larutan keruh 2 % larutan keruh + cincin kuning 3 % larutan keruh + cincin kuning lebih banyak dari 2 % (> 2 %) 4 % larutan keruh + cincin kuning lebih banyak dari 3 % (> 3 %) 5 % larutan keruh + cincin kuning lebih banyak dari 3 % (> 4 %)

Susu ditambah Reagen Hopkins Cole + H2SO4 1 % larutan keruh dan ada cincin coklat 2 % larutan keruh dan ada cincin coklat > 1 % 3 % larutan keruh dan ada cincin coklat > 2 % 4 % larutan keruh dan ada cincin coklat > 3 % 5 % larutan keruh dan ada cincin coklat > 4 %

VIII. Reaksi 1) Uji Millon


HO O OH H N H tyrosin O OH Hg HO N H
+ +

Hg

NO 2

mercuri

berw arna merah bata

2) Uji Hopkis Cole


O OH NH tryptofan OH NH2

COOI COO-

NH2 CH3 cicin ungu

10

IX. Pembahasan Percobaan dilakukan untuk menentukan uji positif dan negatif asam amino terhadap reagen millon dan hopkins cole. Pertama yaitu uji millon, uji ini positif terhadap asam amino yang mengandung gugus fenol. Selain itu akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah menjadi merah bata karena pemanasan. Reagen millon terbuat dari Mercuri yang dilarutkan ke dalam asam nitrat pekat. Berdasarkan hasil pengamatan asam amino yang memiliki hasil positif terhadap reagen millon adalah arginin yang di inkubasi selama 15 menit, tyrosin yang di inkubasi dan dipanaskan dengan bunsen, kemudian putih dan kuning telur. Adanya perubahan warna menjadi merah bata pada putih dan kuning telur menunjukkan bahwa keduanya memiliki asam amino, yaitu tryrosin. Hal ini dikarena reagen millon bereaksi paling positif dengan tyrosin, tirosin merupakan asam amino yang mempunyai molekul fenol pada gugus R-nya, yang akan membentuk garam merkuri dengan pereaksi millon. Kemudian pada kuning telur dan putih telur warna merah bata yang terbentuk tidak begitu pekat seperti pada tyrosin, sehingga dapat dinyatakan bahwa pada kuning telur dan putih telur sedikit mengandung tyrosin selain itu ada kemungkinan di dalam kuning telur dan putih telur banyak mengandung asam amino negatif terhadap uji Millon. Percobaan selanjutnya yaitu uji hopkins cole. Reagen Hopkins coleterbuat dari asam oksalat (asam glioksilat)dan serbuk Mg dalam air. Uji positif nya terlihat dari terbentuknya cincin ungu. Uji ini bereaksi paling positif terhadap asam amino triptofan. Asam amino triptofan akan berkondensasi dengan aldehid ketika ditambahkan asam kuat dan membentuk cincin berwarna ungu. Untuk melakukan uji ini, digunakan susu, kuning telur dan putih telur. Dan berdasarkan hasil pengamatan yang menunjukkan adanya cincin ungu adalah putih telur dengan konsentrasi 3 %. Cincin ungu benar-benar terbentuk pada putih telur 3 %, namun cincin yang terbentuk sangat sedikit karena pengaruh gerakan dari praktikan. Untuk pembentukan cincin ungu yang sempurna pada larutan sangat dipengaruhi saat penambahan asam sulfat pekat. Asam sulfat yang ditambahkan harus

11

setetes demi setetes pada dinding tabung reaksi yang digunakan serta tabung digoyang-goyang saat penetesan. Hal ini dilakukan agar asam sulfat yang diteteskan tersebar pada semua bagian pinggir tabung. Kegagalan dalam mendapat cincin ungu ini juga dipengaruhi oleh gerakan dari praktikan yang membawa tabung reaksi. Selain itu juga dikarenakan ketidak akuratan praktikan dalam mencampurkan larutan.

X.

Kesimpulan 1. Pada uji Millon positif terhadap asam amino tyrosin, karena tyrosin memiliki gugus fenol. Selain itu positif juga terhadap protein arginin, putih dan kuning telur. 2. Uji millon akan menghasilkan endapan berwarna putih dan berubah menjadi merah bata karena pemanasan. 3. Uji Hopkins Colle positif untuk protein yang mengandung Triptofan. Triptofan akan berkondensasi dengan aldehid bila ada asam kuat sehingga membentuk cincin berwarna ungu. 4. Protein yang juga positif terhadap uji Hopkins cole adalah putih telur.

12