Anda di halaman 1dari 20

TUGAS KIMIA SMA BUKU PANDUAN PENDIDIK MEMAHAMI SIFAT SIFAT LARUTAN NONELEKTROLIT DAN ELEKTROLIT SERTA REAKSI

I OKSIDASI REDUKSI KOMPETENSI DASAR 3.2 MENJELASKAN PERKEMBANGAN KONSEP REAKSI OKSIDASI REDUKSI DAN HUBUNGANYA DENGAN TATA NAMA SENYAWA SERTA PENERAPANANNYA

Disusun Oleh: SEPTI RIYANNINGSIH 0930324104 AUFA AFIFAH 09303241020 AISYIAH RESTUTININGSIH P U 09303241041 ESTERI SEPTYAHADI 09303241042

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara ( UU No.20 Tahun 2003). Dalam arti terbatas pendidikan adalah pembelajaran. Pada dasarnya setiap kegiatan pembelajaran harus direncanakan terlebih dahulu sebagaimana diisyaratkan dalam Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007. Menurut Permediknas ini bahwa perencanaan proses pembelajaran meliputi penyusunan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar. Sebenarnya proses pembelajaran terdiri atas tiga tahap secara berurutan, yaitu perencanaan proses pembelajaran, pelaksanakan proses

pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran atau penilaian hasil belajar. Ketiga tahap proses pembelajaran tersebut dilaksanakan oleh pendidik. Pendidik adalah orang yang memikul tanggung jawab untuk mendidik. Dalam hal ini yang dimaksud sebagai pendidik adalah guru. Guru bertanggung jawab untuk mendidik dalam jenjang sekolah. Sekolah terdiri dari beberapa jenjang yaitu SD, SMP, dan SMA. Sekolah Menengah Atas merupakan jenjang paling tinggi dalam jenjang pendidikan sehingga mata pelajaran yang dipelajari semakin tinggi tingkat kesukarannya. Di SMA terdiri dari beberapa mata pelajaran salah satunya adalah mata pelajaran kimia. Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari gejala

khusus yang terjadi pada zat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan zat, yaitu komposisi, struktur dan sifat, transformasi, dinamika, dan energetika zat. Ilmu kimia mempelajari zat dari skala mikro yaitu dari atomatom dan molekul-molekul, untuk menjelaskan gejala yang terjadi pada skala makro yaitu zat dalam keadaan sehari-hari yang melibatkan keterampilan dan penalaran. Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa mata pelajaran kimia itu cukup rumit dan guru yang mengajarnya pun harus yang berkompeten. Seorang guru kimia yang kompeten wajib memiliki empat kompetensi, sebagaimana telah ditetapkan dalam Undang-Undang Guru dan Dosen (UU No. 23 Tahun 2003) dan Standar Nasional Pendidikan (PP No. 19 Tahun 2005). Kompetensi tersebut ialah kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan melaksanakan proses pembelajaran, kompetensi profesional yaitu kemampuan menguasai materi kimia, kompetensi

kepribadian yaitu kemampuan menjadi teladan, dan kompetensi sosial yaitu kemampuan hidup bermasyarakat di sekolah maupun di luar sekolah. Untuk memenuhi salah satu kompetensi yaitu kompetensi pedagogik maka perlu dibuat buku panduan pendidik. Buku panduan pendidik adalah buku yang memuat prinsip, prosedur, deskripsi materi pokok, dan model pembelajaran untuk digunakan oleh para pendidik ( Permendiknas No. 2 Tahun 2008). Buku ini dibuat untuk

mempermudah seorang guru kimia mengajar dikelas. Didalam silabus terdapat 13 Standar Kompetensi untuk mata pelajaran kimia, namun penulis hanya akan membuat buku panduan pendidik untuk Standar Kompetensi memahami sifat sifat larutan elektrolit dan nonelektrolit serta reaksi oksidasi reduksi dengan Kompetensi Dasar menjelaskan perkembangan konsep reaksi oksidasi reduksi dan hubunganya dengan tata nama senyawa serta penerapanannya.

B. RUMUSAN MASALAH 1. Apakah indikator dan tujuan pembelajaran yang ada dalam buku panduan pendidik ini? 2. Apa saja ruang lingkup pengetahuan kimia dalam buku panduan pendidik ini? 3. Apakah model pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan dalam materi pada buku panduan pendidik ini? 4. Bagaimana sistem penilaian hasil belajar dan contoh soal yang sesuai untuk diterapkan dalam materi pada buku panduan pendidik ini? 5. Apakah pengetahuan kimia tambahan yang cocok diterapkan pada materi dalam buku panduan pendidik ini?

C. TUJUAN 1. Mengetahui apa indikator dan tujuan pembelajaran yang ada dalam buku panduan pendidik ini. 2. Mengetahui ruang lingkup pengetahuan kimia dalam buku panduan pendidik ini. 3. Mengetahui model pembelajaran yang sesuai untuk diterapkan dalam materi pada buku panduan pendidik 4. Mengetahui sistem penilaian hasil belajar dan contoh soal yang sesuai untuk diterapkan dalam materi pada buku panduan pendidik 5. Mengetahui pengetahuan kimia tambahan yang cocok diterapkan pada materi dalam buku panduan pendidik

BAB II PEMBAHASAN

A. STANDAR KOMPETENSI, KOMPETENSI DASAR, INDIKATOR, DAN TUJUAN PEMBELAJARAN Standar Kompetensi : Memahami sifat sifat larutan elektrolit dan nonelektrolit serta reaksi oksidasi reduksi. Kompetensi Dasar : 3.2. Menjelaskan perkembangan konsep reaksi oksidasi reduksi dan hubunganya dengan tata nama senyawa serta

penerapanannya. Materi Pembelajaran : 1. Konsep oksidasi dan reduksi. 2. Bilangan oksidasi unsur dalam senyawa atau ion. 3. Oksidator dan reduktor. 4. Tata nama menurut IUPAC. 5. Aplikasi redoks dalam memecahkan masalah lingkungan Indikator dalam Kompetensi Dasar 3.2 yaitu menjelaskan

perkembangan konsep reaksi oksidasi reduksi dan hubunganya dengan tata nama senyawa serta penerapanannya meliputi: 1. Membedakan konsep oksidasi reduksi berdasarkan urutan perkembangan seperti penggabungan dan pelepasan oksigen, pelepasan dan penerimaan elektron serta peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi. 2. 3. 4. Menentukan bilangan oksidasi atom unsur dalam senyawa atau ion. Menentukan oksidator dan reduktor dalam reaksi redoks. Memberi nama senyawa berdasarkan bilangan oksidasi dan aturan IUPAC. 5. Mendeskripsikan konsep larutan elektrolit dan konsep redoks dalam memecahkan masalah lingkungan.

Namun guru dapat mengembangkan indikator tersebut lebih luas lagi tergantung pada kebutuhan dan kondisi sekolah masing masing. Tujuan pembelajaran dari indikator-indikator tersebut adalah: 1. Peserta didik dapat membedakan konsep oksidasi reduksi berdasarkan urutan perkembangan seperti penggabungan dan pelepasan oksigen, pelepasan dan penerimaan elektron serta peningkatan dan penurunan bilangan oksidasi. 2. Peserta didik dapat menentukan bilangan oksidasi atom unsur dalam senyawa atau ion. 3. Peserta didik dapat menentukan oksidator dan reduktor dalam reaksi redoks. 4. Peserta didik dapat memberi nama senyawa berdasarkan bilangan oksidasi dan aturan IUPAC . 5. Peserta didik dapat mendeskripsikan konsep larutan elektrolit dan konsep redoks dalam memecahkan masalah lingkungan.

B. RUANG LINGKUP PENGETAHUAN KIMIA DIMENSI KOGNITIF 1. Konsep oksidasi dan reduksi Konsep reaksi oksidasi dan reaksi reduksi dapat ditinjau berdasarkan penerimaan dan pelepasan oksigen, penerimaan dan pelepasan elektron, serta perubahan bilangan oksidasi adalah: a. Reaksi penerimaan dan pelepasan oksigen Oksidasi didefinisikan sebagai reaksi suatu zat dengan oksigen.

Contohnya peristiwa perkaratan besi. Peristiwa reaksinya dapat ditulis sebagai berikut : 4 Fe(s) + 3O2(g) 2 Fe2O3(s)

Kebalikan reaksi oksidasi adalah reaksi reduksi. Pada reaksi reduksi terjadi pelepasan oksigen. Contohnya pada proses pembuatan logam tembaga dari oksidanya dapat dilakukan dengan cara mereaksikan dengan hydrogen. Persamaan reaksinya dapat ditulis sebagai berikut :

2 CuO(s) + 2 H2(g)

2 Cu(s) + 2 H2O(g)

2. Reaksi penerimaan dan pelepasan elektron. Oksidasi adalah reaksi pelepasan elektron oleh suatu zat. Contoh : Na(s) Na+(aq) + e-

Reduksi adalah reaksi penerimaan elektron oleh suatu zat. Contoh : Br2(l) + 2 eBr-(l)

3. Kenaikan dan penurunan bilangan oksidasi Oksidasi adalah reaksi yang mengalami kenaikan bilangan oksidasi, sedangkan reaksi reduksi adalah reaksi yang mengalami penurunan bilangan oksidasi. Contoh : Zn(s) + Cl2(s) 2. ZnCl2(s)

Bilangan oksidasi unsur dalam senyawa atau ion Bilangan oksidasi adalah angka yang menunjukkan jumlah elektron suatu atom yang dilepaskan atau diterima atom dalam senyawa, dimana senyawa tersebut terbentuk melalui ikatan ion. Harga bilangan oksidasi dapat positif atau negatif. Jika bilangan oksidasi berharga positif berarti atom telah melepaskan elektron dan jika bilangan oksidasi berharga negatif berarti atom telah menerima elektron. Aturan penentuan bilangan oksidasi adalah sebagai berikut : a. Dalam bentuk unsur atau molekul unsur bilangan oksidasi atomatomnya sama dengan nol. Contoh: Biloks Na dalam unsur Na = 0; biloks O dalam molekul O2 = 0; biloks Cl dalam molekul Cl2 = 0; biloks P dalam molekul P4 = 0. b. Dalam senyawa ion, bilangan oksidasi atom-atom sama dengan muatan kation dan anionnya. Contoh:

Dalam senyawa NaCl, atom Na bermuatan +1 dan atom Cl bermuatan 1 sehingga bilangan oksidasi Na = +1 dan Cl = 1 c. Bilangan oksidasi atom-atom yang lain ditentukan menurut aturan berikut: 1) Biloks atom golongan IA dalam semua senyawa adalah +1. Biloks atom golongan IIA dalam semua senyawa adalah +2. 2) Biloks atom-atom unsur halogen dalam senyawa biner adalah 1, sedangkan senyawanya. 3) Biloks atom oksigen dalam senyawa adalah 2, kecuali dalam peroksida (H2O2, Na2O) sama dengan 1 dan dalam superoksida sama dengan 4) Biloks atom hidrogen dalam senyawa adalah +1, kecuali dalam senyawa hidrida sama dengan 1. d. Jumlah total bilangan oksidasi dalam senyawa netral sama dengan nol. Jumlah total bilangan oksidasi untuk ion sama dengan muatan ionnya Contoh: Biloks total dalam molekul H2O = 0; biloks total dalam ion CO32 = 2; biloks total dalam ion NH4+ = +1. 3. Oksidator dan Reduktor Semua zat kimia dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok yakni zat-zat yang mengalami oksidasi dan zat-zat yang mengalami reduksi. Dalam reaksi redoks, pereaksi yang dapat mengoksidasi pereaksi lain dinamakan zat pengoksidasi atau oksidator. Sebaliknya, zat yang dapat mereduksi zat lain dinamakan zat pereduksi atau reduktor. Reaksi disproporsionasi atau disebut juga reaksi swaredoks dalam senyawa poliatom bergantung pada

adalah suatu reaksi yang mengalami oksidasi dan juga reduksi pada pereaksinya Contoh:

Hidrogen peroksida dipanaskan pada suhu di atas 60C dan terurai menurut persamaan reaksi berikut: H2O2(l) H2O(l) + O2(g) Biloks atom O dalam H2O2 adalah 1. Setelah terurai berubah menjadi 2 (dalam H2O) dan 0 dalam (O2). Persamaan kerangkanya

Oleh karena molekul H2O2 dapat berperan sebagai oksidator dan juga reduktor maka reaksi tersebut dinamakan reaksi disproporsionasi atau reaksi autoredoks 4. Tata nama menurut IUPAC Untuk kation-kation logam yang memiliki lebih dari satu harga biloks (khususnya unsur-unsur transisi), tata namanya ditambah angka romawi dalam tanda kurung yang menunjukkan harga biloks. Angka romawi tersebut tidak terpisahkan dari nama kationnya. Contoh: SnCl2 dan SnCl4, keduanya memiliki unsur yang sama. Untuk membedakan nama kedua senyawa itu, harga biloks timah disisipkan ke dalam nama menurut aturan sebelumnya (timah klorida). Biloks Sn dalam SnCl2 adalah +2 dan dalam SnCl4 adalah +4. Jadi,nama kedua senyawa itu adalah SnCl2 : timah(II) klorida SnCl4 : timah(IV) klorida 5. Aplikasi redoks dalam memecahkan masalah lingkungan. Sel elektrokimia di mana reaksi oksidasi-reduksi spontan terjadi dan menghasilkan beda potensial disebut sel galvani. Dalam sel galvani energy kimia diubah menjadi energi listrik. Sel galvani juga sering disebut Sel Volta. Contoh sel galvani dalam kehidupan sehari hari adalah: a. Baterai karbon-seng

Reaksi yang terjadi: anoda: Zn Zn2+ + 2 ekatoda: 2MnO2 + H2O + 2e- Mn2O3 + 2OHBaterai ini menghasilkan potensial sel sebesar 1,5 volt. baterai ini bias digunakan untuk menyalakan peralatan seperti senter, radio, CD player, mainan, jam dan sebagainya. b. Baterai alkali Reaksi yang terjadi adalah: anoda: Zn + 2 OH- ZnO + H2O + 2e katoda: 2MnO2 + H2O + 2e- Mn2O3 + 2OHPotensial sel yang dihasilkan baterai alkali 1,54 volt. Arus dan tegangan pada baterai alkali lebih stabil dibanding baterai karbonseng. c. Baterai nikel kadmium Reaksi yang terjadi: anoda : Cd + 2 OH- Cd(OH)2 + 2e katoda : NiO(OH) + H2O Ni(OH)2 + OHPotensial sel yang dihasilkan sebesar 1,4 volt. d. Aki Setiap sel galvani dalam baterai timbal-asam mempunyai dua elektroda, satu terbuat dari lempeng timbal(IV) oksida (PbO2) dan yang lain logam timbal. Dalam tiap sel logam timbal dioksidasi sedangkan timbal(IV) oksida direduksi. Logam timbal dioksidasi menjadi ion Pb2+ dan melepaskan dua elektron di anoda. Pb dalam timbal(IV) oksida mendapatkan dua elektron dan membentuk ion Pb2+ di katoda. Ion Pb2+ bercampur dengan ion SO42- dari asam sulfat membentuk timbal(II) sulfat pada tiap-tiap elektroda. Jadi reaksi yang terjadi ketika baterai timbal-asam digunakan menghasilkan timbal sulfat pada kedua elektroda. PbO2 + Pb + 2H2SO4 2PbSO4 + 2H2O

Reaksi yang terjadi selama penggunaan baterai timbal-asam bersifat spontan dan tidak memerlukan input energi. Reaksi sebaliknya, mengisi ulang baterai, tidak spontan karena

membutuhkan input listrik dari mobil. Arus masuk ke baterai dan menyediakan energi bagi reaksi di mana timbal sulfat dan air diubah menjadi timbal(IV) oksida, logam timbal dan asam sulfat. 2PbSO4 + 2H2O PbO2 + Pb + 2H2SO4 DIMENSI AFEKTIF 1. Kehadiran 2. Kerja sama 3. Ketelitian 4. Ketekunan 5. Keaktifan 6. Kemandirian 7. Kejujuran 8. Tanggung jawab C. MODEL PEMBELAJARAN KIMIA Model Pembelajaran Ceramah Plus adalah model pembelajaran yang menggunakan lebih dari satu model, yakni model ceramah yang dikombinasikan dengan model yang lain. Ada tiga macam model ceramah plus, diantaranya : 1. Model ceramah plus tanya jawab dan tugas 2. Model ceramah plus diskusi dan tugas 3. Model ceramah plus demonstrasi dan latihan Dalam buku ini model ceramah plus diterapkan pada setiap tujuan pembelajaran. Model ceramah plus yang cocok digunakan adalah model ceramah plus tanya jawab dan tugas atau ceramah plus diskusi dan tugas. Pendekatan yang digunakan pada standar kompetensi ini adalah Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). Pendekatan Kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa

dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (US Departement of Education, 2001). Pendekatan ini dapat terlihat pada tujuan pembelajaran peserta didik dapat

mendeskripsikan konsep larutan elektrolit dan konsep redoks dalam memecahkan masalah lingkungan. Media yang dapat digunakan untuk membantu proses pembelajaran adalah : 1. 2. 3. Papan tulis LCD Lembar soal

D. SISTEM PENILAIAN HASIL BELAJAR DAN CONTOH SOAL Prosedur: a. Tujuan evaluasi b. Bentuk instrument c. Penilaian Penilaian kognitif Soal Multiple choice Essay Nilai akhir = Kriteria penilaian: No 1. 2. 3. 4. Nilai Kuantitatif > 80 68 79 56 67 < 55 Nilai Kualitatif A B C D Keterangan Sangat baik Baik Kurang Sangat kurang
skoryangdidapat X 100 skorakhir

: Formatif : Tes tertulis dan tes lisan :

Lembar Skor Peserta Didik Materi

skor

Penilaian afektif Nilai didapat dari pengamatan guru terhadap peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung. Lembar pengamatan: Nama Kelas / semester
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pernyataan/ Indikator Kehadiran di kelas Aktivitas di kelas Ketepatan Waktu Kerapihan buku bacaan Mengumpulkan tugas Partisipasi dalam praktikum Partisipasi laporan praktikum Partisipasi kegiatan kelompok

: :
Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah

7.

8.

Beri tanda () pada kolom dengan intensitas sesuai kenyataan Contoh butir soal dan kunci jawaban : a. Konsep oksidasi dan reduksi 1. Oksidasi adalah. A. Perpindahan elektron B. Pelepasan elektron C. Aliran elektron D. Perputaran elektron E. Gabungan beberapa elektron 2. Untuk reaksi 2 Cu + O2 2 CuO , reaksi oksidasinya adalah. A. Cu Cu 2+ + 2 e B. Cu + 2 e Cu 2

C. Cu 2+ + 2 e Cu D. O2 + 2 e 2 O 2 E. O2 + 4 e 2 O 2 3. Untuk reaksi: 2 Na + Cl2 2 NaCl , reaksi reduksinya adalah. A. Na Na+ + e B. Na+ + e Na C. 2 Cl- Cl2 + 2 e D. Cl2 + 2 e 2 ClE. Na+ + Cl- NaCl 4. Tuliskan reaksi yang mengalami oksidasi dan reduksi dari reaksi redoks berikut : Ca + S CaS Reaksi oksidasi : Ca Ca 2+ + 2 e Reaksi reduksi : S + 2e S2 2Na + Cl2 2NaCl Reaksi oksidasi : 2Na 2Na+ + 2e Reaksi reduksi : Cl2 + 2 e 2 Cl K + Br KBr Reaksi oksidasi : K K+ + e Reaksi reduksi : Br + e Brb. Bilangan oksidasi unsur dalam senyawa atau ion. Tentukan bilangan oksidasi spesi yang digaris bawahi! a. b. NaClO2 KClO3 NaClO2 KClO3 +3 +5

Kunci jawaban: a. b. c.

Oksidator dan reduktor. Jelaskan apa yang kamu ketahui tentang istilah berikut : a. Oksidator b. Reduktor

Kunci jawaban: a. b. d. Oksidator : zat yang dapat mengoksidasi zat lain Reduktor : zat yang dapat mereduksi zat lain

Tata nama menurut IUPAC Lengkapilah tebel berikut ini dengan jawaban yang benar! No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jawaban : No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rumus Molekul PbO2 Fe2O3 NiO Ni2O3 CuO CoO Co2O3 SnO SnO2 PbO Nama timbal(IV) oksida besi(III) oksida nikel(II) oksida nikel(III) oksida tembaga(II) oksida kobal(II) oksida kobal(III) oksida timah(II) oksida timah(IV) oksida timbal(II) oksida Nama Lain plumbi oksida ferri oksida nikelo oksida nikeli oksida kupro oksida kobalto oksida kobalti oksida stanno oksida stanni oksida plumbo oksida Rumus Molekul PbO2 Fe2O3 NiO Ni2O3 ............... ............... ............... ............... ............... ............... Nama ............... ............... ............... ............... tembaga(II) oksida kobal(II) oksida kobal(III) oksida ............... ............... ............... Nama Lain ............... ............... ............... ............... ............... ............... ............... stanno oksida stanni oksida plumbo oksida

E. PENGETAHUAN KIMIA TAMBAHAN Di sekitar kita sering dijumpai peristiwa kimiawi seperti logam berkarat, pembuatan besi dari bijih besi, penyepuhan logam, terjadinya arus listrik pada aki atau baterai, buah masak, buah busuk, mercon meledak, kembang api dibakar, dan lain sebagainya. Perkaratan pada logam, pembakaran, pembusukan oleh mikroba, fotosintesis pada tumbuhan, dan metabolisme di dalam tubuh merupakan sebagian contoh-contoh reaksi oksidasi dan reduksi. Aplikasi reaksi redoks dalam kehidupan sehari-hari antara lain: Lumpur Aktif Kemajuan industri tekstil, pulp, kertas, bahan kimia, obat-obatan, dan industri pangan di samping membawa dampak positif juga berdampak negatif. Dampak negatif yang ditimbulkan antara lain menghasilkan air limbah yang membahayakan lingkungan, karena mengandung bahan-bahan kimia dan mikroorganisme yang merugikan. Cara mengatasi air limbah industri adalah dengan melakukan pengolahan air limbah tersebut sebelum dibuang ke lingkungan. Pengolahan air limbah pada umumnya dilakukan dengan metode biologi. Metode ini merupakan metode paling efektif dibandingkan metode kimia dan fisika. Salah satu metode biologi yang sekarang banyak berkembang adalah metode lumpur aktif. Metode lumpur aktif memanfaatkan mikroorganisme (terdiri 95% bakteri dan sisanya protozoa, rotifer, dan jamur) sebagai katalis untuk menguraikan material yang terkandung di dalam air limbah. Proses lumpur aktif merupakan proses aerasi (membutuhkan oksigen). Pada proses ini mikroba tumbuh dalam flok (lumpur) yang terdispersi sehingga terjadi proses degradasi. Proses ini berlangsung dalam reaktor yang dilengkapi

recycle/umpan balik lumpur dan cairannya. Lumpur secara aktif mereduksi substrat yang terkandung di dalam air limbah. Reaksi: Organik + O2 CO2 + H2O + Energi

Tahapan-tahapan pengolahan air limbah dengan metode lumpur aktif secara garis besar adalah sebagai berikut: 1. Tahap primer Tahap ini disebut juga tahap pengendapan. Partikel-partikel berukuran suspensi dan partikel-partikel ringan dipisahkan, partikel-partikel berukuran koloid digumpalkan dengan penambahan elektrolit seperti FeCl3, FeCl2, Al2(SO4)3, dan CaO. 2. Tahap sekunder Tahap sekunder meliputi 2 tahap yaitu tahap aerasi (metode lumpur aktif) dan pengendapan. Pada tahap aerasi oksigen ditambahkan ke dalam air limbah yang sudah dicampur lumpur aktif untuk pertumbuhan dan berkembang biak mikroorganisme dalam lumpur. Dengan agitasi yang baik, mikroorganisme dapat melakukan kontak dengan materi organik dan anorganik kemudian diuraikan menjadi senyawa yang mudah menguap seperti H2S dan NH3 sehingga mengurangi bau air limbah. Tahap selanjutnya dilakukan pengendapan. Lumpur aktif akan mengendap kemudian dimasukkan ke tangki aerasi, sisanya dibuang. Lumpur yang mengendap inilah yang disebut lumpur bulki. 3. Tahap tersier Tahap ini disebut tahap pilihan. Tahap ini biasanya untuk memisahkan kandungan zat-zat yang tidak ramah lingkungan seperti senyawa nitrat, fosfat, materi organik yang sukar terurai, dan padatan anorganik. Contohcontoh perlakuan pada tahap ini sebagai berikut: a. Nitrifikasi/denitrifikasi Nitrifikasi adalah pengubahan amonia (NH3 dalam air atau NH4+) menjadi nitrat (NO3) dengan bantuan bakteri aerobik. Reaksi: 2 NH4+(aq) + 3 O2(g) 2 NO2(aq) + O2(g) 2 NO3(aq) 2 NO2(aq) + 2 H2O(l) + 4 H+(aq)

Denitrifikasi adalah reduksi nitrat menjadi gas nitrogen bebas seperti N2, NO, dan NO2. Senyawa NO3 menjadi gas nitrogen bebas b. Pemisahan fosfor

Fosfor dapat dipisahkan dengan cara koagulasi/ penggumpalan dengan garam Al dan Ca, kemudian disaring. Al2(SO4)3(aq)+14H2O(s) + 2 PO43(aq) 14 H2O(l) 5Ca(OH)2(s)+3HPO42(aq) bau tak sedap. d. Penyaringan mikro untuk memisahkan partikel kecil seperti bakteri dan virus. e. Rawa buatan untuk mengurai materi organik dan anorganik yang masih tersisa dalam air limbah. f. Disinfektan Disinfektan ditambahkan pada tahap ini untuk menghilangkan mikroorganisme seperti virus dan materi organik penyebab bau dan warna. Air yang keluar dari tahap ini dapat digunakan untuk irigasi atau keperluan industri, contoh: Cl2. Reaksi: Cl2(g) + H2O(l) Emulsi zero Metode ini digunakan untuk mereduksi endapan lumpur bulki dengan teknologi ozon (ozonisasi). Proses ozonisasi mampu membunuh bakteri (sterilization), menghilangkan warna (decoloration), menghilangkan bau (deodoration), dan dapat ini menguraikan senyawa organik dibanding aq) + H+(aq) + Cl(aq) Ca5OH(PO4)3(s) + 6OH(aq) + 3H2O(l) c. Adsorbsi oleh karbon aktif untuk menyerap zat pencemar, pewarna, dan 2 AIPO4(s) + 3 SO42(aq) +

(degradation).

Proses

lebih

menguntungkan

menggunakan klorin yang hanya mampu membunuh bakteri saja. Metode ini diperkenalkan oleh Hidenari Yasui dari Kurita Co, Jepang dalam Jurnal International Water Science Technology tahun 1994. Keuntungan lumpur aktif diantaranya lumpur endapan dapat dihilangkan, bulking dapat dihilangkan, air limbah dapat didaur ulangm, diperoleh air bersih yang tidak beracun dan berbahaya.

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Buku pendidik ini berisi: 1. Standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, dan tujuan

pembelajaran pada pokok bahasan reaksi redoks dan aplikasinya. 2. Ruang lingkup pengetahuan kimia yang meliputi dimesi kognitif, afektif dan psikomotorik. 3. Model pembelajaran kimia yang sesuai untuk materi redoks dan apilkasinya. 4. Sistem penilaian hasil belajar dan contoh soal mengenai redoks dan apilkasinya. 5. Pengetahuan kimia tambahan yang diberikan pada buku ini adalah mengenai lumpur aktif.

DAFTAR PUSTAKA

Ari Harnanto dan Ruminten. 2009. Kimia SMA Kelas X. Jakarta : Depdiknas Doantara Yasa. 2008. Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). http://ipotes.wordpress.com/2008/05/13/pendekatan. Diakses pada

kontekstual-atau-contextual-teaching-and-learning-ctl/ Sabtu, 10 Maret 2012 pukul 20.30 WIB Indah F. Model Model Pembelajaran

Terbaru.

2011.

http://carapedia.com/macam_macam_model_pembelajaran_terbaru_info64 4.html. Diakses pada Sabtu, 10 Maret 2012 pukul 20.24 WIB Wiwik Suhartiningsih . 2010. Aplikasi Reaksi Redoks dalam Kehidupan Sehari Hari. http://www.scribd.com/doc/15223855/aplikasi-reaksi-redoks-dalamkehidupan-sehari . Diakses pada Sabtu, 10 Maret 2012 pukul 21.30 WIB