Anda di halaman 1dari 18

1

T
ujuan Pembangunan Milenium atau yang lebih dikenal dengan (Millenium Development Goals
(MDGs), tertuang dalam Deklarasi Milenium yang disepakati oleh 189 negara anggota PBB, termasuk
Indonesia, pada KTT Milenium PBB pada bulan September 2000. MDGs disebut sebagai suatu
pendekatan yang inklusif dalam pemenuhan hak-hak dasar manusia, terdiri dari delapan tujuan (goals)
yang dijabarkan ke dalam delapan belas target dan lima puluh dua indikator terkait untuk dapat dicapai
dalam jangka waktu 25 tahun antara 1990 dan 2015. Deklarasi Milenium menandai abad perjuangan yang
lebih menitikberatkan pada hak ekonomi sosial dan budaya, dan mendorong menguatnya gerakan global
yang ditujukan untuk penghapusan kemiskinan, menuju manusia yang bermartabat.
Kehadiran MDGs dimaknai beragam, terutama oleh masyarakat sipil. Gagasan utama keterlibatan GAPRI
adalah adanya kegelisahan atas realitas ekonomi-politik dan meluasnya kemiskinan-pemiskinan di negeri
ini (meski secara statistik BPS menurun). Bagi GAPRI keberadaan dan capaian MDGs merupakan potret yang
dapat digunakan sebagai alat ukur kinerja pemerintah, terutama dalam melawan kemiskinan-pemiskinan.
Dengan demikian MDGs merupakan alat strategis advokasi dalam konteks perubahan kebijakan yang
berpihak pada kaum miskin.
Sebagai alat Advokasi, GAPRI menerjemahkannya dengan membuka ruang bagi suara-suara publik
dalam menilai capaian target MDGs. Setidaknya hal tersebut telah dilakukan sejak tahun 2005. Sementara
pada tahun 2007, GAPRI membuka ruang publik di 14 Provinsi dengan serangkaian aktivitas guna menjaring
pandangan, penilaian dan rekomendasi terhadap pelaksanaan MDGs. Meminta pendapat publik tentang
suatu capaian dari target merupakan keniscayaan. Sebab jika hanya mengandalkan angka-angka statistik
dan mengolahnya di belakang meja, tentu saja akan sangat menjauhkan dengan kenyataan yang ada,
hasil uji-uji angka atau model tentu tidak akan sama dengan perasaan manusia.
Laporan Capaian MDGs pemerintah pertama kali dibuat tahun 2004. Laporan itu yang menjadi bahan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono datang menghadiri KTT PBB MDGs pada 14-16 September 2005 di
New York. Laporan tersebut menunai kritis pedas dari CSOs termasuk GAPRI. Kritik utamanya terhadap
laporan itu karena hanya menampilkan agregat nasional, menyederhanakan masalah, menyembunyikan
disparitas, dan menafkan kenyataan kondisi kaum miskin yang tidak bermartabat. Laporan tersebut
akhirnya diperbarui akhir tahun 2005. Dan pada tahun 2007 ini, Pemerintah juga membuat Laporan
PRAkA7A
Prakata
2
Capaian MDGs Indonesia. Ada beberapa kemajuan, misalnya dengan menampilkan konteks wilayah,
namun laporan itu masih kurang berwarna dan belum berani mengusulkan langkah strategis bagaimana
mencapai target baik dari sisi kebijakan, anggaran maupun pengelolaannya.
Lepas dari Laporan Pemerintah tersebut, GAPRI ingin mengawali sesuatu yang baru, dimana potret
capaian MDGs pada wilayah kabupaten/kota dapat menjadi cermin dari sebuah kesimpulan atas capaian
provinsi dan nasional. Bahwa, apa yang dicapai oleh provinsi maupun nasional belum tentu sesuai dengan
kondisi kabupaten/kota, bisa lebih baik atau justru sebaliknya. Jika data nasional merupakan kumpulan
data provinsi, sementara data provinsi merupakan akumulasi kabupaten/kota, maka memotret capaian dan
tantangan yang dihadapi oleh pemerintah kabupaten/kota menjadi sangat penting. Potret tersebut bukan
hanya dari angka, tetapi juga menyangkut komitmen terutama alokasi anggaran dan bentuk pelayanan.
Sebab bisa jadi, angka yang baik disebabkan oleh tingginya partisipasi warga dengan mengorbankan
kebutuhan dasar rumah tangganya.
Itulah yang ingin ditampilkan GAPRI dalam Sintesis Laporan yang ditulis berdasarkan Laporan Capaian
MDGs di lima kabupaten/kota. Tiga daerah penulisan Laporan ini mendasarkan pada hasil-hasil rangkaian
Kegiatan MDGs yang diselenggarakan oleh GAPRI, sementara dua daerah didasarkan pada hasil kajian
kemiskinan partisipatif dan data sekunder. Sintesis Laporan ini bukan hasil dari rangkaian kegiatan MDGs
yang diselenggarakan oleh GAPRI dan INFID pada 14 Provinsi. Hasil Kegiatan tersebut akan diterbitkan
dalam bentuk tersendiri. Sintesis ini juga bukan bermaksud menandingi Laporan Pemerintah, atau Lembaga
lain, namun lebih ditujukan untuk membuka hati dan mata bahwa konteks kabupaten/kota belum tentu
tercermin dalam Laporan yang selama ini dibuat. Dengan demikian, capaian agregat bukanlah hal yang
selesai, sebab masih banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan.
Akhirnya, atas nama GAPRI, saya mengucapkan terimakasih kepada Sugeng Bahagijo yang telah
menyusun Sintesis ini. Juga kepada teman-teman penulis kabupaten/kota, kepada saudara Yola, Siswan,
Mul, Hery dan Yana yang telah meluangkan waktu di tengah kesibukan lembaga masing-masing. Tentu saja
Sintesis ini tidak akan selesai tanpa kalian semua. Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada Oxfam GB
yang telah mendukung GAPRI selama 3 tahun ini, kepada Sam Jethwa (Programme Manager) dan Agung
Wiyono (Project Ofcer), teman-teman yang masih bekerja dan yang telah meninggalkan Oxfam GB dalam
program ini. Rasa bangga dan salut juga disampaikan kepada mitra jaringan, serta pihak-pihak lain yang
tidak dapat disebutkan satu-per satu.
Semoga Sintesis laporan ini memberi manfaat bagi upaya pencapaian target MDGs, khususnya dalam
memastikan kualitas hidup yang bermartabat, hidup sebagaimana manusia sesungguhnya.
Jakarta, Desember 2007
Dwi Astuti
Ketua Steering Committee
Gerakan Antipemiskinan Rakyat Indonesia (GAPRI)

Prakata
3
Daftar Isi
Bagian Satu
Pengantar [ 4 ]
Bagian Dua
Bagaimana Kita Mengukur Capaian MDGs [ 6 ]
Bagian Tiga
Temuan-Temuan Utama [ 9 ]
A. Integrasi Sasaran dan Target MDGs di Daerah [ 9 ]
B. Alokasi Anggaran [ 10 ]
C. Kinerja Pendidikan dan Kesehatan [ 13]
Bagian Empat
Catatan Penutup [ 17 ]
Daftar Isi
4
B
agi Indonesia yang dihuni oleh 37 juta lebih warga miskin dan rentan kemiskinan, Tujuan
Pembangunan Milenium (MDGs) yang akan dicapai pada tahun 2015, atau 8 tahun lagi, penting dan
berguna dalam tiga hal : pertama, sebagai sebuah harapan, cita cita dan idam-idaman bahwa suatu
saat di masa depan, perikehidupan, kesejahteraan dan martabat mereka akan menjadi lebih baik dan lebih
bebas; Sementara bagi pemerintah dan elit politik, yang belum atau sudah memiliki komitmen mengatasi
kemiskinan, MDGs menyediakan fokus yang lebih tajam kepada model pembangunan Indonesia yang
lebih sesuai dengan kebutuhan dan hak-hak warga negara; dengan kata lain, MDGs mendorong agar
model pembangunan lebih bertujuan kepada terciptanya kesejahteraan warga negara yang makin
meningkat dan makin luas. Dan, bukan sekadar tujuan pertumbuhan ekonomi dan jumlah investasi yang
masuk ke Indonesia; Kepada dua-duanya, warga negara dan elit politik, MDGs berguna dan penting untuk
kedua, menciptakan momentum bagi kaum elit politik dan warga untuk lebih memiliki komitmen dan
kemampuan dalam menyediakan barang dan jasa yang menjadi hak-hak dan kebutuhan dasar warga;
ketiga, memberikan patokan, standar dan batas waktu yang diterima dan diakui secara internasional bagi
pencapaian keadaan yang lebih baik.
Pada tahun 2015, atau 8 tahun lagi sejak tahun 2007, capaian-capaian Tujuan Pembangunan Milenium
(MDGs) akan menjadi agenda semua bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Indonesia sebagai peserta
dalam kesepakatan MDGs, juga akan menilai dan dinilai, seberapa jauh telah mencapai kemajuan atau
kemunduran.
Pertanyaan utama yang muncul kemudian adalah :
1. Apakah jumlah penduduk miskin sudah berkurang separuhnya, (target 1: proporsi penduduk
yang tingkat pendapatannya di bawah $1 per hari menjadi setengahnya antara 1990 2015);
2. Apakah angka kelaparan di Indonesia berhasil dikurangi separuhnya (Target 2: Menurunkan
proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya antara tahun 1990 2015)
3. Apakah semua anak Indonesia, laki laki dan perempuan, sudah bersekolah (Target 3: Memastikan
pada 2015 semua anak-anak dimana pun, laki-laki maupun perempuan, dapat menyelesaikan
pendidikan dasar)
agian Satu
PNCAN7AR
agian Satu
PNCAN7AR
Pengantar
5
4. Apakah ketimpangan gender di sekolah dasar dan menengah serta di semua jenjang pendidikan
telah berhasil dihapus?(target 4: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar
dan lanjutan pada 2005, dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari tahun 2015)
5. Apakah angka kematian balita sudah berhasil ditekan dan dikurangi hingga dua pertiganya (Target
5: Menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya, antara 1990 dan 2015)
6. Apakah angka kematian ibu sudah berhasil ditekan dan dikurangi hingga tiga perempatnya (Target
5: Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya, antara 1990 dan 2015)
Mengapa dari dan tentang Daerah. Indonesia bisa dilihat dari kacamata makro, misalnya pencapaian
makro dan agregat secara nasional dengan memasukkan DKI Jakarta, Provinsi NAD dan juga NTT [yang
situasi dan kondisinya beragam dan berbeda]. Dari sana lalu ditarik garis median atau garis rata-rata
nasional tentang suatu capaian atau kondisi. Maka diperoleh gambaran Indonesia yang umum, makro-
agregat, yang terkadang membuat kita melupakan disparitas yang terjadi. Gambar makro-agregat
semacam itu tentu tidak bisa menampilkan keadaan dan capaian yang lebih lokal dan spesifk. Misalnya
apakah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kemajuan yang
positif dalam menurunkan angka kematian ibu dan balita yang sama dengan Kotamadya Jakarta Timur di
DKI Jakarta? Apakah kota Makassar, Sulsel mengalami peningkatan angka partisipasi sekolah yang sama
dengan Kab Jembrana, Bali atau Kab. Sleman, DIY? Dengan singkat, data-data nasional berguna secara
makro, tetapi bisa menutupi atau mengaburkan kesenjangan pencapaian dan tantangan antar berbagai
daerah.
Lebih dari itu, adalah pendapat kami bahwa keberhasilan penanggulangan kemiskinan di daerah daerah
juga akan menciptakan pondasi yang kokoh untuk nation building, kerukunan nasional dan solidaritas
sosial dalam negara bangsa Indonesia, yang berbhineka tunggal ika, berwarna warni suku dan bahasa
tetapi satu nasib dan sepenanggungan. Karena itu sangat perlu dan penting untuk melihat Indonesia dari
keadaan dan pencapaian (serta tantangan) daerah-daerah. Karena daerah-daerah itu juga Indonesia dan
sekaligus mewakili Indonesia. Angka capaian di Indonesia tentu tidak akan ada tanpa capaian di sebuah
daerah.
Jadi, sudah dimana Indonesia jika diteropong dari daerah? Apakah daerah daerah juga mencatat
kemajuan dan perkembangan yang positif menuju tahun 2015? Apakah Indonesia, dari segi capaian
capaian daerah, sudah bergerak menuju sasaran dan target MDGs, ataukah Indonesia masih jalan di
tempat, bahkan mundur? Jika dilihat dari daerah, maka seberapa jauh Indonesia menjelang separuh
jalan (mid point) menuju sasaran pembangunan milenium tahun 2015? Laporan ini berusaha menjawab
pertanyaan tersebut. Kami sadar bahwa laporan ini tidak berpretensi mewakili Indonesia secara umum
dan keseluruhan, karena situasi dan kondisi daerah akan sangat beragam dan berbeda. Namun yang pasti,
laporan ini dapat memberikan sebuah gambar capaian MDGs yang bisa menjadi refeksi semua pihak jika
masih ingin berada di atas jalur kereta MDGs.
Laporan ini disusun bersumber pada 5 laporan daerah (pada level kota dan kabupaten) yang disusun
oleh jaringan kerja dan mitra kerja Gerakan Antipemiskinan Rakyat Indonesia (GAPRI) yang terdiri dari:
PIAR, FIK Ornop, YPSHK, JPKP, dan YMM. Laporan-laporan itu sendiri secara umum disusun berdasarkan
data dan informasi yang diperoleh melalui Kajian Kemiskinan Partisipatif (PPA), diskusi terfokus (FGD),
maupun kajian data-data sekunder terhadap pencapaian tujuan MDGs di kota Makassar (Sulawesi Selatan),
kabupaten Timor Tengah Selatan di Nusa Tenggara Timur, kabupaten Konawe dan kota Bau-Bau di Sulawesi
Tenggara serta kabupaten Bangkalan di Pulau Madura, Jawa Timur.
Pengantar
6
K
alau boleh bertamsil, pemenuhan tujuan-tujuan MDGs adalah peristiwa di masa depan dimana
rangkaian kereta api akan datang pada tahun 2015 untuk menjemput barisan rakyat negara bangsa
yang telah menyepakati komitmen tersebut sebagai penumpangnya. Adalah pasti bahwa kereta api
akan datang. Persoalannya adalah apakah 37 juta warga Indonesia akan berada di stasiun untuk menaiki
kereta MDGs itu? Bagaimana caranya agar mereka semua mampu pergi ke stasiun, apakah mereka cukup
memiliki pendapatan, apakah mereka semua cukup sehat dan memiliki informasi (terdidik)? Dan lebih
dari itu apakah kebijakan dan institusi pemerintah dan masyarakat peduli dan menolong mereka sesama
warga dan sebagai hak sosial ekonomi mereka?
Sasaran dan target MDGs pada intinya tidak bisa diserahkan kepada kinerja pertumbuhan ekonomi
atau pasar bebas semata. Meski pertumbuhan ekonomi tinggi, belum tentu sasaran dan target MDGs
tercapai. Hasil dari pertumbuhan ekonomi itu apakah 6-10 persen per tahun- masih perlu diterjemahkan
ke dalam berbagai tindakan dan kebijakan pemerintah. Misalnya saja dalam hal besar kecilnya pendanaan
dan belanja sosial (pendidikan dan kesehatan) baik di APBN dan APBD, kemampuan kelembagaan (apakah
Askeskin dan Puskemas menolong sebagian besar warga miskin), dan juga pemihakannya kepada mereka
si miskin. Dengan kata lain, MDGs sebagian besar mengandalkan diri pada kebijakan publik, pada tindakan
masyarakat dan pada investasi pemerintah.
Sebagai contoh, menurut pengalaman Indonesia, kemajuan Indonesia dalam 30 tahun terakhir sejak
tahun 1970an dalam menurunkan angka kematian ibu dan balita, akan sangat bergantung pada (1)
belanja sosial pemerintah (APBN dan APBD) kepada kebijakan kesehatan dan pangan dan (2) seberapa
baik lembaga-lembaga pelaksana kebijakan kesehatan dan keluarga, termasuk kinerja dan ketersediaan
Posyandu dan Puskemas serta rumah sakit (3) belanja sosial pemerintah daerah pada sektor kesehatan dan
pangan dan kinerja Dinas Kesehatan dan BKKBN.
Itu artinya, pencapaian MDGs akan sangat bergantung pada komitmen, prioritas, jumlah dan kualitas
tindakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta dan tindakan masyarakat untuk mengurangi
agian Dua
ACAIMANA kI7A MNCUkUR
CAPAIAN MDCs
Bagaimana Kita Mengukur Capaian MDGs
7
dan menghapuskan hambatan-hambatan bagi warga miskin termasuk kaum ibu dan anak anak untuk
memperoleh akses dan jaminan pelayanan kesehatan, pendidikan dan pendapatan. Lebih tegas lagi,
pencapaian sasaran dan target MDGs hanya mungkin terwujud dan tercipta jika dan hanya jika seluruh
modal pemerintah sebesar besarnya ke arah pencapaian target MDGs (pendanaan dan penganggaran,
kelembagaan dan regulasi serta personalia). Atas dasar itu, maka untuk mengukur kemajuan MDGs, laporan
ini bertolak dari tiga kriteria atau ukuran:
Pertama, sejauh mana sasaran dan target serta indikator-indikator MDGs sudah diintegrasikan ke dalam
dokumen perencanaan pembangunan baik di tingkat nasional seperti Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) maupun di tingkat daerah yakni Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) dan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Di daerah, komitmen pencapaian
MDGs harus diperiksa dalam rencana pembangunan daerah (RPJMD). Bagaimanapun juga, dokumen
perencanaan pembangunan ini merupakan (a) pernyataan politik dan sekaligus pernyataan teknokratis
tentang apa dan kemana arah pembangunan: apakah hanya akan mengejar tujuan tujuan yang bersifat
agregat dan produktivis seperti pertumbuhan PDB dan jumlah investasi, ataukah juga memacu kehidupan
yang layak, kesejahteraan dan keadilan sosial untuk semua warga negaranya, atau dengan singkat, niat
resmi pemerintah dan elit politik, untuk menunjukkan kemauan dan kemampuan meraih sasaran dan
target MDGs;
1
Kedua, sejauh mana alokasi anggaran untuk pemenuhan target MDGs telah memadai. Asumsinya adalah
semakin luas belanja sosial dijalankan di Indonesia, maka semakin tinggi prospek Indonesia mencapai
tujuan dan target MDGs. Benar bahwa aspek efektivitas penggunaan anggaran juga penting. Akan tetapi,
dengan menggunakan asumsi itu, atau bahwa efektivitas penggunaan anggaran kurang dari 70% persen
(karena kebocoran dan salah sasaran sebesar 30%), maka alokasi anggaran yang lebih luas dan lebih banyak
masih tetap diperlukan. Contohnya adalah Askeskin. Jika dukungan dana pemerintah kepada Askeskin
yang bernilai (premi) Rp 5 ribu rupiah per orang per tahun, maka tingkat pelayanan yang dapat diberikan
kepada penerima Askeskin juga akan jauh lebih rendah jika nilainya (premi) misalnya Rp 9.000 per orang
per tahun. Di Indonesia, alokasi untuk pendidikan telah ditetapkan sebesar 20 persen,
2
kesehatan sebesar
15 persen.
3
Alokasi anggaran semestinya lepas dari warna warni ideologi dan politik para pejabat publik
(Presiden, Gubernur, Bupati, dan Walikota), rencana yang baik belum dapat dikatakan menjadi komitmen
dan kemampuan (ability) apabila rencana itu tidak didanai dalam jumlah yang memadai dan dilaksanakan;
4

Dengan singkat, alokasi anggaran dapat membedakan antara retorika dengan realita, atau antara janji-
janji dengan amalan nyata
Ketiga, sejauh mana kinerja dan capaian atau kemajuan nyata dalam bidang kesehatan dan pendidikan,
diukur dari segi segi akses, ketersediaan dan kualitas pendidikan dan kesehatan. Pencapaian sasaran dan
target MDGs, hanya bisa dicapai dari keadaan yang nyata, dan dari trend yang berlangsung selama 5 tahun
terakhir ini.
Oleh karena itu, meski rencana yang baik dan alokasi dana yang memadai sudah disusun dan ditetapkan,
pada tahap pelaksanaan dan hasilnya, akan menjadi lebih penting karena dititik inilah ujian sesungguhnya:
sejauh mana semua warga merasakan dan menikmati program-program dan pelayanan hak hak dasaryang
disediakan oleh lembaga-lembaga pemerintah dan sejauh mana semua warga, termasuk kaum perempuan,
anak anak dan kaum miskin, ikut menikmatinya.
1 Lebih jauh, dokumen perencanaan pembangunan itu, merupakan dokumen resmi dan publik yang dapat dijadikan bukti sejauh mana ke-
miskinan dipandang sebagai prioritas utama atau sebaliknya, bukan prioritas, dan sekaligus, jika dia dianggap sebagai isu publik priroitas,
rencana untuk mengatasi masalah kemiskinan dan pencapaian MDGs. Dengan kata lain, semakin isu kemiskinan menduduki prioritas yang
rendah, maka dapat diharapkan bahwa isu kemiskin dan pencapaian MDGs juga tidak akan menjadi fokus dari pemerintah.
2 Sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 49 UU No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS. dan juga Ketetapan Politik yang digunakan secara resmi
oleh DPR dan pemerintah. Meskipun batas dan pengertiannya masih menjadi bahan perdebatan antara pemerintah, DPR dan Mahkamah
Konstitusi. Perdebatan mencakup cakupan yang dikandung dalam 20 persen itu, apakah (a) belanja rutin dan pegawai dimasukkan dalam
cakupan 20 persen itu; (b) apakah program-program pelatihan dan pendidikan PNS juga dimasukkan ke sana, dan apakah 20 persen itu hanya
mencakup belanja program ?
Patokan atau ketentuan dalam alokasi anggaran sektor atau bidang kesehatan dalam dokumen SPM (Standar PeIayanan MinimaI) bidang
Kesehatan yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Kesehatan, tahun 2002.
Rencana yang bagus dalam dokumen perencanaan pembangunan (RPJMD, RKPD) belum dapat dikatakan sebagai prioritas
hingga rencana itu dirinci dalam penganggaran. Birokrasi sebagai pelaksana kebijakan hanya bisa bergerak jika dan hanya jika
sebuah rencana disertai pendanaan.
Bagaimana Kita Mengukur Capaian MDGs
8
Bisa saja ada dana yang besar dan rencana yang canggih dan masuk akal. Akan tetapi, pada tahap deliveri,
sering terjadi bahwa para petugas dan pelaksana (street level birocracy) tidak melaksanakan prosedur dan
ketentuan dengan benar, atas dasar seribu satu sebab dan alasan. Juga mungkin saja terjadi bahwa sebuah
program katakanlah BOS [bantuan operasional sekolah], banyak mengalami salah sasaran, karena salah
alokasi [justru yang memperolehnya adalah mereka yang sudah mampu]. Karena itu, adalah penting dan
perlu untuk bisa memetakan apa yang telah dicapai selama 2 sampai 5 tahun terakhir ini, khususnya dalam
bidang pendidikan, kesehatan dan air minum/sanitasi.
Bagaimana Kita Mengukur Capaian MDGs
9
A. Integrasi sasaran dan target MDCs di Daerah
D
okumen perencanaan pembangunan daerah (RPJMD) dari 5 daerah yang dipantau, hampir semua
daerah sudah memasukkan atau mengintegrasikan sasaran dan target atau indikator MDGs dalam
dokumen perencanaannya. Makna sudah memasukkan di sini bisa berarti dua hal (a) Istilah MDGs
secara eksplisit disebut dan dijadikan patokan; atau (b) program-program dan indikatornya dapat disamakan
atau disejajarkan dengan target dan sasaran MDGs. Dengan kata lain, dari segi niat dan rencana kebijakan
(dalam dokumen), MDGs secara umum telah diketahui dan dipahami oleh para perencana pembagunan
di daerah.
Di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, RPJMD tahun 2004 - 2008 pada bidang
pendidikan, kesehatan dan air bersih telah mengarah pada pencapaian tujuan MDGs antara lain tercermin
dalam berbagai tujuan dan program misalnya (a) Pendidikan; Program Pembangunan Pendidikan Dasar
dan Pra Sekolah, Program Pembangunan Pendidikan Menengah, Program Pendidikan Tinggi, Program
Pembangunan Pendidikan Luar Sekolah; (b) Kesehatan: Program Peningkatan Fungsi Sarana dan
Prasarana Kesehatan, Program Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat, Program Penyuluhan Kesehatan
dan Pengembangan Swadaya Masyarakat, Penciptaan Lingkungan Pemukiman Sehat, Pemberantasan
Penyakit Menular, Laten, dan Penyebaran Virus HIV; (c) Air Bersih: Program pelayanan air bersih, Program
Pengembangan dan pengelolaan sumber daya air,
Di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, RPJMD secara umum, sudah spesifk sudah memasukkan target
MDGs ke dalam dokumen perencanaan ataupun kalau ada yang sama baru sebatas kebetulan, hal ini juga
karena muatan MDGs merupakan sesuatu yang universal. Lebih jauh, di kota Makassar, target-target MDGs
itu juga sudah dimasukkan dalam dokumen SPKDnya.
Di Kab Konawe, Sulawesi Tenggara, dokumen RPJM dan dokumen rencana pembangunan lainnya juga
telah menunjukkan kesejajaran atau kesesuaian arah dan tujuan dengan target-target pencapaian MDGs.
agian 7iga
7MUAN 7MUAN U7AMA
Temuan temuan Utama
10
Dalam bidang pangan misalnya, ada beberapa program (a) Meningkatkan pengetahuan masyarakat
miskin tentang diversifkasi konsumsi pangan tanpa diskriminasi gender; (b) Menjamin kecukupan pangan
masyarakat miskin dan kelompok rentan akibat goncangan ekonomi, sosial dan bencana alam; Dalam
bidang kesehatan misalnya ada program-program seperti (a) Meningkatkan ketersediaan pelayanan
kesehatan, khususnya kesehatan anak yang bermutu dan terjangkau bagi masyarakat miskin: (b)
Meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat miskin tentang keluarga berencana; (c) Meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam pengembangan pelayanan kesehatan untuk perempuan pada masyarakat
miskin; (d) Meningkatkan kemampuan identifkasi masalah kesehatan perempuan masyarakat miskin;
(e) Mengutamakan penanggulangan masalah kesehatan masyarakat miskin khususnya kematian ibu saat
melahirkan; (f ) Meningkatkan investasi kesehatan guna menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan
perempuan bagi masyarakat miskin di berbagai tingkat pemerintahan
Juga dalam bidang pendidikan, misalnya: (a) Meningkatkan pelayananan pendidikan pada jalur
pendidikan SD/MI/Paket A bagi masyarakat miskin; (b) Meningkatkan kesadaran dan pemahaman
masyarakat miskin terhadap pentingnya ilmu pengetahuan melalui dunia pendidikan; (c) Meningkatkan
partisipasi pendidikan dasar bagi penduduk miskin melalui Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar
9 tahun baik melalui jalur formal maupun non formal; (d) Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam
penyelenggaraan pendidikan dasar 9 tahun; (e) Meningkatkan mutu Pendidikan SD/MI/Paket A; (f )
Meningkatkan pelayananan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non-formal bagi masyarakat
miskin.
Di Kab Bangkalan, Pemerintah kabupaten juga sudah memasukkan sasaran-sasaran penanggulangan
kemiskinan dan target-target MDGs ke dalam dokumen perencanaannya. Dalam bidang pendidikan
misalnya, beberapa sasaran dan target telah dirumuskan, antara lain, (a) meningkatnya kualitas sistem dan
sarana serta prasarana pendidikan; (b) tercapainya kualitas penataan sistem pendidikan; (c) penurunan
angka anak putus sekolah dan pemberantasan buta aksara; (d) Peningkatan kompetensi tenaga pendidik
dan anak didik; (e) Peningkatan kualitas pendidikan non formal; (f ) Meningkatnya budaya baca.
Sasaran itu akan dicapai dengan kegiatan dan program sbb: (a) Pembangunan, rehabilitasi dan
pemeliharaan gedung-gedung sekolah; (b) Perbaikan dan pengadaan sarana dan prasarana penunjang
pendidikan; (c) Pembinaan penataan dan peningkatan kualitas tenaga pendidikan guna meningkatkan
kinerja tenaga pendidik yang profesional, (d) Melakukan pembinaan terhadap 750 penyandang buta
aksara dan penyelenggaraan kejar paket C pada 400 orang; (e) Distribusi BOS secara merata di 758 lembaga
pendidikan di 18 kecamatan; (f ) Menyelenggarakan sertifkasi dan uji kompetensi tenaga pendidik,
. AIokasi Anggaran
Alokasi anggaran
5
di APBD untuk pendidikan dan kesehatan di lima daerah yang dicakup dalam laporan
ini, masih jauh dari harapan dan masih jauh dari diperlukan untuk memastikan capaian-capaian pendidikan
dan kesehatan. Jika kita memakai patokan/ukuran alokasi pendidikan 20% dan alokasi kesehatan 15%,
untuk pendidikan untuk mencapai sasaran di bidang kesehatan, maka alokasi anggaran itu masih sangat
sangat jauh dari mencukupi. Karena rata rata belanja total kedua bidang itu kesehatan dan pendidikan --
kurang dari 10 persen dari total belanja APBD, dan alokasi anggaran lebih banyak untuk memenuhi belanja
rutin yakni belanja pegawai.
Ini misalnya jelas jauh berbeda dengan daerah-daerah sejahtera atau budiman seperti Jembrana,
meskipun bukan daerah kaya (minyak maupun indutri), tetapi telah mengalokasikan dana kesehatan dan
pendidikan di atas 30 persen dari APBD di luar belanja rutin personalia/pegawai.
Di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) kebijakan anggaran. terhadap sektor kesehatan sepintas
menunjukkan (a) mengalami kenaikan terus menerus secara nominal mapun secara proporsional. Misalnya
dari tahun 2002 sebesar 7 milyar lebih (3,66%) naik tahun 2005 sebesar 17 milyar (6,32%), dan meningkat
lagi menjadi 29 milyar (7,18%) tahun 2006. Di bawah ini disajikan anggaran untuk bidang kesehatan 5
tahun terakhir. Akan tetapi, hal ini ternyata tidak benar karena belanja pendidikan itu ternyata berisi
dua komponen, biaya personalia dan biaya program. Dan ternyata belanja langsung ke masyarakat atau
belanja program rata-rata di bawah 10%, dengan pengeluaran terbesar untuk belanja administrasi umum
yang terdiri dari biaya perjalanan dinas, makan minum dan pakaian dinas yang hampir tiga kali dibanding
anggaran untuk pembangunan yang langsung pada masyarakat.
Alokasi anggaran di sini dimngerti sebagai alokasi anggaran khusus untuk belanja langsung atau belanja program, dan tidak memasukkan
belanja rutin seperti gaji pegawai dan biaya dinas rutin lainnya seperti makan minum dan lainnya
Temuan temuan Utama
11
Tabel 1. APBD TTS Sektor Kesehatan 2002 - 2006
7ahun
7otaI APD
(Rp.000)
DAU
(Rp.000)
PAD
(Rp.000)
PengeIuaran untuk
kesehatan
7otaI %
2002 208.458.127 193.260 5.537.569 7.642.690. 3,66
2003 246.078.968 203.030 13.601.000 15.974.200 6,49
2004 249.663.094 206.900.095 21.329.990 15.727.000 6,29
2005 271.815.405 211.747.000 32.521.770 17.184.317 6,32
2006 403.673.129 325.363.000 15.576.796 29.020.683 7,18
Ket : Anggaran untuk kesehatan terdiri dari anggaran untuk Dinas kesehatan dan RSUD
Bagaimana dengan Anggaran Pendidikan? Ternyata, tidak berbeda dengan bidang kesehatan. Data
menunjukkan alokasi untuk pendidikan tampak meningkat [35%], namun masih tergambar secara global
tanpa pemisahan antara belanja administrasi umum dan belanja pelayanan publik. Pada kenyataannya,
anggaran (APBD) dari alokasi sektor pendidikan itu, biaya ke masyarakat atau belanja program hanya 10%
atau maksimal sepertiganya, dengan pengeluaran terbesar [75%-90%] untuk belanja administrasi umum
yang terdiri dari biaya perjalanan dinas, makan minum dan pakaian dinas. Biaya-biaya ini memakan hampir
tiga kali dibanding anggaran untuk pembangunan yang langsung pada masyarakat.
Tabel 2. APBD TTS Sektor Pendidikan 2002 - 2006
7hn
7otaI APD
(Rp)
DAU
(Rp)
PAD
(Rp)
PengeIuaran untuk
Pendidikan
NominaI %
2002 208.458.127.589 193.260.000.000 5.537.569.500 74.673.478.429 35,82
2003 246.078.968.705 203.030.000.000 13.601.000.000 83.800.000.000 34,05
2004 249.663.094.000 206.900.095.000 21.329.990.087 95.700.000.000 38,33
2005 271.815.405.000 211.747.000.000 32.521.770.712 93.969.509.118 34,57
2006 403.673.129.224 325.363.000.000 15.576.796.176 142.650.280.684 35,33
Ket: Anggaran untuk Pendidikan terdiri dari anggaran untuk Dinas P dan K, dan Perpustakaan Daerah
TTS (khususnya Tahun 2002 hanya Dinas P dan K).
Di kota Makassar misalnya, anggaran pendidikan memang cukup besar (33,91%) namun anggaran
yang langsung bersentuhan kepada masyarakat (anggaran langsung) hanya sekitar 2,89 %. Hal ini terjadi
karena anggaran pendidikan lebih banyak diarahkan kepada belanja tidak langsung yang diantaranya
lebih banyak kepada belanja pegawai. Untuk bidang kesehatan, nominal anggaran sangat kecil, hanya
5,74 % dari total APBD sedangkan belanja langsung sekitar 2,47 % dari total APBD.
Data dari kota Makassar ini menimbulkan pertanyaan, seberapa cukup dana-dana itu dapat memecahkan
masalah, apabila kita lihat tantangan dan kebutuhan pembangunannya. Data pemerintah kota sendiri,
menyatakan bahwa tantangan atas masalah kematian balita dan potensi kematian karena kurang gizi
dan gizi buruk, sangat besar di kota Makassar. Di sisi lain, untuk alokasi lain, yakni belanja pada pegawai
ternyata jauh lebih besar.
Dengan melihat fakta fakta tersebut, sangat sulit kiranya mempercayai bahwa pencapaian MDGs
dalam bidang pendidikan dan kesehatan akan tercapai, Kalaupun ada program yang mengarah kepada
pencapaian tersebut lebih cenderung kepada hal-hal yang kurang menyentuh substansi mengingat
minimnya dana peruntukan kepadanya. Secara makro, anggaran pendidikan tidak sesuai dengan amanat
UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional yang mengisyaratkan belanja pendidikan di
luar gaji pegawai minimal 20% dari total APBD.
Di Kabupaten Konawe, Kebijakan peningkatan mutu pendidikan selama ini belum menjadi prioritas
dibanding pemerataan pendidikan. Berbagai upaya peningkatan mutu pendidikan seringkali kurang
berhasil karena terhalang oleh kurangnya jumlah guru yang bermutu, terbatasnya anggaran, terbatasnya
sarana serta prasarana pendidikan yang tersedia. Setiap tahun, anggaran pendidikan mengalami
peningkatan, tetapi masih belum dapat mendukung upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Sebagian besar anggaran digunakan untuk membiayai belanja pegawai.
Menurut data data anggaran tahun anggaran 2007, Kabupaten Konawe juga belum bergerak jauh dari
status quo. Baik dalam bidang pendidikan dan kesehatan, kab Konawe tampak masih tertinggal. Dalam
bidang Pendidikan, belanja aparatur/tidak langsung sebesar 12,7 milyar lebih, dan Belanja publik/langsung
Temuan temuan Utama
12
27,1 milyar dan persentase dalam APBD sebesar 7.79 persen. Dalam bidang kesehatan, belanja aparatur /
tidak langsung sebesar 17,4 milyar dan belanja publik/langsung sebesar 20,2 milyar dan persentase dalam
APBD sebesar 1.06 persen.
Di Kota Bau Bau dan Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, analisa atas alokasi anggaran menunjukkan
bahwa alokasi anggaran pendidkan sebesar 28 % dari total APBD Kota Bau-Bau tahun 2007. Namun ternyata
peruntukan belanja Tidak Langsung (belanja pegawai) 20% sedangkan Belanja langsung (Belanja yang
diperuntukkan bagi belanja Publik) hanya sebesar 8%, dan Kabupaten Buton Alokasi anggaran pendidikan
dari Total APBD Tahun 2007 Bidang pendidikan sebesar 34,4% dengan hitungan 6,9% diperuntukkan bagi
belanja langsung (Belanja Publik) dan 27,5% untuk belanja tidak langsung (Belanja Pegawai).
Dilihat dari alokasi kasar anggaran pendidikan baik kota Bau-bau (dan juga di Kabupaten Buton) telah
terlihat menempati porsi yang lebih dari 20% dari Total anggaran APBD. Namun yang menjadi kendala
adalah, dari masing masing peruntukan komponen belanja langsung (belanja untuk Publik) ternyata
masih sangat minimalis.
Di Kab Bangkalan, data data resmi tentang APBD tahun 2008, dan alokasinya dalam bidang pendidikan
dan kesehatan juga menunjukkan porsi yang besar. Yakni pendidikan sebesar 19, 57 persen dan kesehatan
sebesar 49 persen. Sebagaimana tampak pada data berikut. Jika angka itu benar dalam arti fokus dan
alokasi yang nyata untuk program dan belanja program, dan bukan untuk gaji pegawai saja, maka hal itu
merupakan kemajuan luar biasa. Sudah barang tentu dapat dikatakan misalnya bahwa itu untuk gaji guru
dan tenaga pendidikan lain, yang akan memperbaiki kesejahteraan guru dan tenaga pendidik dan yang
merupakan pilar utama dalam upaya perluasan mutu dan akses pendidikan.
Akan tetapi, hal itu bisa saja tidak merupakan kenyataan. Seperti juga pola belanja di daerah lain di
Indonesia, angka kasar itu belum menjelaskan seberapa besar belanja langsung ke masyarakat dalam
bidang pendidikan dan kesehatan.
Tabel 3 . Belanja Anggaran Per Sektor Kabupaten Bangkalan Tahun 2008
No idang Anggaran Prosentase
1 Diknas 37,365,532,530 19.57
2 Kimpraswil 14,328,498,500 7.50
3 Dinkes 94,355,920,000 49.42
4 Bappeda 2,325,000,000 1.22
5 Dishub 520,000,000 0.27
6 KLH 1,871,550,000 0.98
7 Dispenduknakertrans 5,210,000,000 2.73
8 KBKS 1,655,916,800 0.87
9 Kessos 1,117,900,000 0.59
10 Koperasi 1,300,258,500 0.68
11 Satpol PP 434,382,950 0.23
12 Kesbang 2,223,000,000 1.16
13 Bag Sosial 1,602,160,310 0.84
14 Bag Tapem 1,450,000,000 0.76
15 Bag Ekonomi 528,000,000 0.28
16 DPRD 233,140,000 0.12
17 PMD 5,459,700,000 2.86
18 Disperta 4,188,932,500 2.19
19 Perkebunan 1,737,500,000 0.91
20 Kukp 1,535,500,000 0.80
21 Kehutanan 936,895,000 0.49
22 Pertambangan 4,617,198,500 2.42
23 Pariwisata 150,000,000 0.08
24 DKP 3,253,000,000 1.70
25 Pasar 2,005,477,145 1.05
26 Disperindag 530,000,000 0.28
Jumlah 190,935,462,735
Sumber : Kantor Bappekab Bangkalan, Diolah
Temuan temuan Utama
13
C. kinerja kesehatan dan Pendidikan
Di lima daerah yang dicakup oleh laporan ini, berbagai kemajuan dalam bidang pendidikan dan
kesehatan nyata nyata telah dicapai. Misalnya, di berbagai daerah angka partisipasi sekolah meningkat,
dan angka kematian ibu dan balita terus menurun. Akan tetapi capaian itu tidak atau belum memberikan
alasan yang optimis untuk mencapai MDGs pada tahun 2015, karena capaian dan kemajuan itu, masih
tampak jelas masih timpang karena masih adanya kelemahan dan kekurangan yang berat. Hal itu antara
lain tampak pada beberapa fakta: (a) angka partisipasi sekolah di tingkat SMP dan SMA/SMK tampak ada
trend menurun, artinya karena perluasan putus sekolah sebagai akibat beban biaya sekolah (buku) yang
tinggi (b) masih adanya tingkat buta huruf yang masih tinggi di beberapa daerah, sebagai akibat akses dan
pelayanan pendidikan (formal dan non formal) yang tidak merata;
Di Kabupaten TTS, kinerja pendidikan dapat dilihat dari Angka Partisipasi Kasar (APK) atau rasio jumlah
siswa berdasarkan kelompok umur yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah
penduduk kelompok umur yang berkaitan dengan jenjang pendidikan, digambarkan pada tabel di bawah
ini:

Tabel 4. Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun 2002 2005. Kab TTS
Menurut Kelompok Umur
keIompok Umur
7 a h u n
2002 2003 2004 2005
7 - 12 109,8 106,07 105,1 107,4
13 - 15 178,8 132,5 131,6 151,3
16 - 18 267,9 337,06 246,9 336,9
19 - 24 3302,6 4927,6 7029,2 3879,2
Sumber: TTS Dalam Angka
Tabel di atas menunjukkan Angka Partisipasi Kasar di Kabupaten TTS untuk pendidikan dasar dan
lanjutan yang sejalan dengan tujuan MDGs dalam mencapai pendidikan dasar dan lanjutan untuk semua
masyarakat, tampak angka partisipasi kasar lebih dari 100%. Ini tentu merupakan kemajuan, akan tetapi
kemajuan itu tidak diiringi dengan capaian lainnya yakni masih masih besarnya angka putus sekolah di
Kabupaten TTS selama 4 tahun terakhir. Dengan jumlah terbanyak ada pada kelompok perempuan. Tabel
di bawah ini menunjukkan trend tersebut.
Tabel 5. Angka Putus Sekolah SD SMA Tahun 2002 - 2005
Tahun Laki-laki Perempuan Jumlah
2002 146.286 152.397 298.663
2003 98.243 93.830 192.073
2004 99.620 95.429 195.049
2005 98.342 97.413 195.755
Sumber: TTS Dalam Angka
Hal ini sejalan dengan berbagai data dan informasi mikro dan kualitatif yang menjadi temuan
Participatory Poverty Assessment (PPA) yang dilakukan oleh PIAR di Kabupaten TTS, di 5 desa yakni (a) Desa
Naukae, Kecamatan Amanuban Barat, (b) Desa Nununamat, Kecamatan Kolbano, (d) Desa Baki, Kecamatan
Amanuban Tengah dan (d) Desa Tetaf, Kecamatan Amanuban Barat sebab utamanya tidak lain dari
pelayanan pemerintah bidang pendidikan, antara lain: (i) Tingginya biaya pendidikan terutama tingkat
SLTP ke atas karena adanya kebijakan biaya sekolah yang tinggi, (ii) Penyebaran sekolah, tenaga guru
dan buku pelajaran tidak merata untuk diakses secara bebas oleh semua masyarakat terutama sekolah
lanjutan; (iii) hal ini makin diperparah akibat banyak kasus tenaga guru tidak mau ditempatkan di daerah
kantong kemiskinan dan kasus guru-guru yang tidak disiplin dalam bekerja sesuai hari dan jam kerja yang
ditentukan.
Di kota Makassar, meski target MDGs secara substansi bersesuaian dengan sasaran pembangunan
kota Makassar, namun pada tingkat program dan politik anggaran mengalami erosi. Berbagai persoalan
pencapaian pendidikan dasar bagi setiap warga tidak direspon dengan tepat oleh pemerintah kota Makassar
pada 2006. Ketidakmengertian tentang MDGs baik masyarakat maupun pemerintah serta kelemahan data
selain komitmen merupakan penyebab utama hal tersebut.
Dalam bidang pendidikan, pada satu sisi, ada fakta bahwa capaian pendidian diukur dari APS telah
signifkan akan mendekati 99,57% sebagaimana sasaran RPJMD pada 2010 untuk usia 7-12 tahun. Hal ini
Temuan temuan Utama
14
melihat tingkat kenaikan pada tahun sebelumnya yang bisa sampai 4 % seperti pada tahun 2003 ke 2004,
atau 2005 ke 2006 bagi laki-laki. Hal sama kemungkinan akan terjadi pada perempuan. Aspek gender pada
perempuan dan laki-laki telah terpenuhi. Akan tetapi disisi lain, ada kenyataan lain yang membuat kita
belum optimis (i) pada jenjang usia 13-15 tahun, angka partisipasi sekolah justru mengalami penurunan.
Hal sama juga tampak pada usia 16-18 bagi laki-laki. Salah satu sebab utamanya adalah biaya sekolah
seperti buku dan iuran sekolah. Sehingga, sasaran RPJMD 2005-2010 untuk mencapai APS usia 13-15 tahun
96,64% dan usia 16-18 tahun 90% kemungkinan sulit dicapai jika intervensi pemerintah masih bersifat
konvensional.
Di tengah perkembangan itu, yang menggembirakan adalah bahwa pemerintah kota Makassar telah
melansir kebijakan baru. Satu kebijakan pemerintah kota Makassar yang dianggap dapat memberikan
lompatan peningkatan melalui kebijakan sekolah gratis beberapa SD dan SMP di pulau dan sekolah lokasi
komunitas miskin dan kumuh. Melalui SK Walikota No. 396/Kep/420/2007 ada 18 sekolah, 15 Sekolah Dasar
dan 3 Sekolah Menengah Pertama, yang harus menyelenggarakan sekolah gratis. Kesemuanya terdiri atas
11 sekolah di pulau dan 7 sekolah di daratan.
Program didanai anggaran sebesar Rp 2 milyar yang seyogyanya dilaksanakan tahun ajaran baru 2007,
yaitu pada bulan Juli 2007. Kebijakan tersebut menggratiskan buku pelajaran, alat tulis dan insentif bagi
kepala sekolah, staf, guru dan bujang sekolah.
6
Dalam bidang kesehatan misalnya, meskipun fasilitas kesehatan telah tersedia, potensi kematian
karena kurang gizi dan gizi buruk beberapa masalah yang menjadi target MDGs masih tinggi. Pada 2005,
terdapat 934 (4,60%) balita penderita gizi buruk sedangkan balita kurang gizi 12.762 (20,30%). Persentase
itu sedikit menurun pada tahun berikutnya, meski jumlahnya mengalami fuktuatif. Pada 2006, terdapat
1.747 (3,09%) balita penderita gizi buruk sedangkan balita kurang gizi sekitar 8.654 (15,30%). Secara
persentase mengalami penurunan namun kualitatif meningkat.
Berdasarkan hasil kajian kemiskinan bersama masyarakat miskin di kota Makassar, soal pentingnya gizi
bagi keluarga kurang dipahami. Selain itu karena faktor pendapatan mereka yang miskin dan tidak tentu
membuat warga miskin tidak banyak memiliki pilihan-pilihan dalam menentukan makanan yang bergizi.
Di kabupaten Konawe, Sebagai akibat krisis ekonomi jumlah pos pelayanan terpadu (Posyandu) terus
menurun karena tingginya drop out kader (40%). Oleh sebab itu, pemberdayaan masyarakat miskin perlu
dilakukan dengan menempatkan masyarakat sebagai subjek, bersifat terpadu dengan program kesehatan
masyarakat miskin dan dilaksanakan secara menyeluruh. Upaya pemerintah kabupaten Konawe dalam
menciptakan pemerataan pelayanan kesehatan dan meningkatkan akses masyarakat ke fasilitas pelayanan
kesehatan tampaknya masih belum terwujud. Fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit
memiliki jangkauan yang terbatas.
Penyebaran tenaga kesehatan masih terkonsentrasi di daerah perkotaan menyebabkan banyak
puskesmas dan puskesmas pembantu yang kekurangan tenaga kesehatan. Kurangnya tenaga dokter
umum dan dokter spesialis serta tenaga medis lainnya menyebabkan pelayanan kesehatan di Kabupaten
Konawe masih belum maksimal.
Dalam bidang pendidikan, jumlah buta aksara di Sulawesi Tenggara sebanyak 68.787 jiwa. Dari 12 kab/
kota, Kabupaten Konawe menjadi penyumbang buta aksara terbanyak di Sulawesi Tenggara yakni 22.472
jiwa.
Di Kota Bau Bau, Kab Buton, di samping kemajuan dan pembangunan prasarana dan sarana kesehatan,
lihat tabel 6, secara umum di bidang Kesehatan, pemerintah kota mengalami berbagai permasalahan-
permasalahan selama tahun 2003-2006 di antara : (a) rendahnya pola hidup bersih dan sehat di masyarakat;
(b) rendahnya partisipasi/ peran serta masyarakat dalam menjaga dan memelihara kesehatan diri,
lingkungan dan masyarakat; (c) Kondisi lingkungan yang kurang sehat; (d) Angka Kematian bayi yang perlu
diturunkan; (e) rendahnya SDM Kesehatan dan belum meratanya distribusi tenaga kesehatan; (f ) Masih
tingginya kasus-kasus penyakit yang berpotensi KLB.
Hal ini juga tampak pada pelayanan kesehatan yang masih kurang apabila dikaitkan dengan kebutuhan
jumlah bidan untuk kota Bau-Bau hanya sebanyak 41 orang pada tahun 2005 sedangkan Kabupaten
Hanya saja, hingga sekarang program tersebut belum maksimal pada tingkat teknis. Hal ini karena dana belum turun sementara proses be-
lajar telah lama berlangsung.
Temuan temuan Utama
15
Buton data tentang seberapa banyak bidan desa belum teridentifkasi. Namun secara umum tenaga medis
yang ada pada data 2005 sebanyak 229 orang tersebar pada 21 kecamatan dan 185 desa / kelurahan.
Perkembangan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan di Kota Bau- Bau dari tahun 2003 2006 yaitu
Tabel 6. Perkembangan pelayanan kesehatan di Bau-Bau
Uraian 2002 2003 2004 2005 2006
RSU 1 2 2 2 2
Puskesmas 8 9 11 12 12
Pustu 17 16 14 13 13
Pusling 4 4 4 9 12
Puskesmas plus 0 0 0 1 3
Sumber: data Dinas Puskesmas Kota
Di Kab Bangkalan, masalah masalah kemiskinan yang selama ini terjadi adalah sebagai berikut: Jumlah
penduduk miskin tahun 2005 adalah 35%, tahun 2006, kemiskinan bertambah 4% menjadi 39%. Jumlah
penduduknya pada tahun 2005 sebanyak 926.559 jiwa tersebar di 18 Kecamatan, terdiri atas 439.571
penduduk lakilaki (47,44%) dan 486.988 penduduk perempuan (52,56%). Dari jumlah itu, tercatat jumlah
penduduk miskin Kabupaten Bangkalan tahun 2005 sebesar 288.446 Jiwa atau lebih dari seperempat dari
total penduduk (data PT Askes dalam Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Masyarakat Miskin-JPKMM).
Jumlah Pengangguran total tahun 2005 sebesar 27.359 jiwa.
Dalam bidang kesehatan, salah satu indikator pokok dalam capaian dan kinerja bidang kesehatan adalah
tingkat kematian ibu dan balita. Lebih khusus lagi, hal ini dapat kita lihat pada proses persalinan di kab
Bangkalan Tabel di bawah menunjukkan bahwa terdapat 4,2% yang persalinannya ditangani oleh dokter,
kemudian persalinan yang ditangani oleh bidan atau tenaga medis sebesar 47,33% dan yang ditangani oleh
tenaga dukun bayi sebesar 48,47 %. Jika dibandingkan dengan kondisi yang sama pada tahun sebelumnya
menunjukkan bahwa tidak banyak perubahan yang cukup berarti bahkan terjadi penurunan. Penurunan
terjadi pada pertolongan pertama pada persalinan dengan bantuan bidan / tenaga medis sebesar 5,06
% dari tahun 2005 sebesar 52,39 % menjadi 47,33 %. Yang harus menjadi perhatian adalah peningkatan
yang cukup tinggi pada proses persalinan yang dibantu oleh dukun bayi. Persalinan bantuan dukun bayi
mengalami peningkatan sebesar 4,62% dari 43,71 % dalam tahun 2005 menjadi 48,47 % dalam tahun 2006.
Peningkatan persalinan yang dibantu dokter terjadi peningkatan hanya 0,3%. Ini berarti bahwa dari tahun
2005 ke tahun 2007, resiko kematian bayi dan ibu melahirkan menjadi makin besar.
Tabel 7, Pertolongan Pada Persalinan
PenoIong PersaIinan
7ahun 2005 7ahun 2006
1umIah Prosentase 1umIah Prosentase
Dokter
Bidan / Tenaga Medis
Dukun Bayi
2.700
36.298
30.288
3,90
52,39
43,71
2.175
24.509
25.099
4,20
47,33
48,47
Sumber : Data diolah, BPS Kabupaten Bangkalan
Trend ini juga dikuatkan oleh pentingnya fasilitas Puskesmas dan Pustu dalam menjangkau keluarga
miskin, baik karena biaya maupun karena kedekatan dengan rumah warga ketika mereka memerlukan
berobat jalan
Tabel 8. Fasilitas Kesehatan yang Dimanfaatkan oleh Warga, Tahun 2006
No Cara erobat 1aIan Prosentase
1 Rumah Sakit Pemerintah 4,59
2 Rumah Sakit Swasta 1,40
3 Praktek Dokter 28,47
4 Puskesmas / Puskesmas Pembantu 45,72
5 Poliklinik 0,00
6 Praktek Petugas Kesehatan 16,55
7 Pengobatan Tradisional 0,00
8 Lainnya 3,27
Sumber : Susenas 2006, BPS Kabupaten Bangkalan
Temuan temuan Utama
16
Dalam bidang pendidikan, data menunjukkan bahwa penduduk di Kabupaten Bangkalan untuk
kelompok umur 7 24 tahun yang masih sekolah dasar mempunyai persentase yang paling besar, yaitu
untuk kelompok umur 7 -12 sebesar 96,27 persen dan kelompok umur 13 15 sebesar 56,13 persen.
Sedangkan untuk kelompok umur usia sekolah tingkat atas, kelompok 16 18 sebesar sebagian besar
tidak melanjutkan atau tidak bersekolah lagi, yaitu untuk 77,88 persen dan kelompok umur 19 24 persen
sebesar 91,83 persen. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Kabupaten Bangkalan rata-
rata menyelesaikan pendidikan sampai pendidikan dasar 9 tahun. Namun, sebagian besar dari mereka
tidak melanjutkan pendidikan hingga tingkat sekolah tingkat atas (SLTA) bahkan hanya sedikit yang
melanjutkan ke perguruan tinggi. Diperiksa dengan indikator lain, Angka Partisipasi Sekolah juga tampak
bahwa pencapaian tingkat pendidikan juga masih rendah. Hal ini tampak pada dua data dari Susenas 2006
dan data dari dinas pendidikan sebagai berikut:
Tabel 9. Persentase Penduduk Kelompok Umur 7 24 Tahun 2006
Kelompok
Umur
Belum
Pernah Sekolah
Masih
Sekolah
Tidak Bersekolah
Lagi
7otaI
7 - 12 1,25 96,27 2,48 100
13 - 15 2,88 56,13 40,99 100
16 18 3,17 18,95 77,88 100
19 24 2,64 5,53 91,83 100
Sumber : Susenas 2006, BPS Kabupaten Bangkalan
Tabel 10. Angka Partisipasi Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan
Kabupaten Bangkalan Tahun 2006
1enjang Pendidikan APk APM
Sekolah Dasar
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Sekolah Menengah Umum
96,27
56,13
35,40
99,77
80,19
43,01
Sumber : Data Diolah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bangkalan
Di sektor lain, data data mikro hasil PPA menunjukkan bahwa kondisi kemiskinan dan kerentanan
masih memprihatinkan. Meski UMK (Upah Minimum Kabupaten) ditetapkan Rp. 590.000, namun di tataran
implementasi upah buruh masih belum berjalan optimal. Pada kenyataannya, para pengusaha hanya
membayar antara Rp. 175.000 hingga Rp. 250.000. Pertanian dan petani masih menjadi mata pencaharian
mayoritas di kabupaten Bangkalan. Sektor pertanian menyumbang kurang lebih 40% dari total PDRB kab
Bangkalan. Data data hasil Pelaksanaan PPA di kecamatan Kokop menunjukkan minimnya ketersediaan air
bersih yang berpengaruh pada semua sendi kehidupan. Air bersih ini menjadi persoalan karena kebanyakan
warga untuk memperoleh air bersih, harus berjalan ke sumber penampungan air sejauh 1 - 2 km dan harus
antri. Dan selama ini selama ini masalah air bersih ini tampak kurang menjadi fokus perhatiaan Pemkab.
Temuan temuan Utama
17
A
pa yang bisa disimpulkan dari data data dan laporan dari lima daerah itu? Seperti disinggung di
muka, maka KERETA API MDGS PASTI AKAN DATANG, tetapi pekerjaan rumah bagi kita semua adalah
sejauh mana warga miskin sudah siap di stasiun ?? Sejauh mana dan seberapa banyak warga miskin
akan ikut menikmati perjalanan kereta api itu?
Pertama, laporan dari lima daerah itu menunjukkan bahwa keadaan dan hasil pembangunan selama
5 tahun terakhir ini tampaknya memang belum seperti yang diharapkan, atau masih jauh dari yang
diharapkan. Di Bangkalan misalnya angka kematian ibu dan balita masih tinggi. Di Makassar akses dan
mutu pendidikan dan kesehatan masih harus diperbaiki.
Di TTS, akses dan mutu pendidikan dan kesehatan masih rendah. Di kab. Konawe, perluasan akses
pendidikan dan kesehatan belum dibarengi dengan mutu. Dan di kelima daerah itu, alokasi anggaran
sebagai bukti dari niat dan amalan kebijakan publik dalam pendidikan dan kesehatan masih jauh dari
yang diperlukan.
Ini bukan kesimpulan yang mengejutkan dan tidak aneh sebenarnya. Karena bila kita bandingkan
dan kita cocokkan dengan laporan lain, Indonesia memang masuk kelompok tertinggal. Laporan
perkembangan pencapaian MDGs di wilayah Asia Pasifk oleh UN ESCAP, UNDP dan ADB tahun 2006 dan
2007 melaporkan bahwa nilar rapor Indonesia masih merah: Indonesia termasuk dalam kategori negara
yang ketinggalan dari negara negara lain.
Dalam kalimat laporan itu sendiri dikatakan The countries of greatest concern are those that are falling
behind, i.e., countries that score negatively on both progresds index and the latest status index. Bangladeh,
Indonesia,... [hal. 7, tanda tebal asli dari laporan].
agian mpat
CA7A7AN PNU7UP
Catatan Penutup
18
Indonesia ternyata masih menempati kursi yang sama dengan Bangladesh, Laos, PNG, Myanmar dan
Filipina. Sementara Malaysia, Thailand dan bahkan Vietnam termasuk yang berstatus moving ahead.
7
Kedua, meski berbagai statemen resmi dan dokumen perencanaan pembangunan resmi di pusat dan
daerah sudah mencantumkan MDGs (baik implisit dan eksplisit), namun hal itu tidak dilanjutkan dengan
upaya nyata dalam hal alokasi atau realokasi anggaran untuk belanja sosial yang lebih luas dan dalam
penguatan institusi-institusi kebijakan sosial. Sederhananya, kebutuhan akan tenaga dan prasarana
pendidikan dan kesehatan yang baik sudah diakui, tetapi dana-dana yang memadai, sekolah yang bermutu,
guru guru yang bermutu dan buku buku sekolah belum tersedia/disediakan oleh pemerintah (gratis).
Lima daerah itu juga memerlukan berbagai sarana dan prasarana kesehatan misalnya yang bisa
meminimalkan angka kematian balita dan ibu, seperti penyediaan bidan, obat dan vitamin dan sosialisasi
hidup sehat. Secara umum, maka lima daerah itu memerlukan kepemimpinan yang kuat dan visioner,
memprioritaskan, menghormati dan mengayomi warga miskin sebagai aset bangsa di masa kini dan
masa depan. Contoh Jembrana kiranya penting untuk menjadi bahan perbandingan dan pengalaman
bahwa kepemimpinan bisa menelurkan inovasi birokrasi dan negara kesejahteraan, meski berangkat dari
sumberdaya yang tidak melimpah.
Ketiga, Kementrian Kesra dan TKPK (Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan) dengan arahan
Presiden dan Wapres perlu terus memberi dukungan yang nyata agar berbagai kebijakan dan program
di lima daerah itu dan daerah lain di Indonesia tetap konsisten dengan tujuan MDGs. Satu area penting
adalah soal alokasi anggaran di APBN dan APBD. Agar kiranya lebih banyak dana diarahkan kepada sasaran
dan tujuan MDGs. Patokan 20% untuk pendidikan dan 15% untuk Kesehatan, di luar belanja personalia,
dapat menjadi patokan.
Area lainnya yang penting adalah peningkatan kinerja dinas pendidikan, kesehatan dan pangan.
Agar mereka memiliki target dan tujuan yang lebih rinci, spesifk dan terukur. Birokrasi di daerah yang
terlalu gemuk seringkali menjadi rintangan kinerja yang baik, karena menyedot banyak anggaran dan
sumberdaya publik. Reformasi birokrasi di daerah, seperti model Jembrana, kiranya patut dipertimbangkan,
agar dinas-dinas menjadi lebih ramping, berdaya dan mampu menunaikan berbagai tugas.
Terakhir, agar Menko Kesra dan TKPK menyusun Laporan Tahunan MDGs untuk memantau kinerja
dan perkembangan daerah, dengan membuat 4 peringkat dari berbagai daerah di Indonesia. Laporan
itu sekurang-kurangnya dapat disusun berdasarkan dua ukuran: (a) keadaan yang nyata (pendidikan,
kesehatan, aloikasi anggaran, dll); dan (b) upaya-upaya yang telah ditempuh untuk menuju target dan
pencapaian MDGs (dana-alokasi anggaran, penguatan/perombakan institusi, pemutakhiran data, dll).
The Millenium Development Goals: Progress in Asia and The Pacifc 2006; Bangkok: UN ESCAP, UNDP dan ADB. Negara-negara di golongkan
menjadi (i) Moving ahead, (MeIesat Maju), status paling bagus yang artinya telah mencetak banyak kemajuan dan memulai kemajuan itu pada po-
sisi awal yang bagus; contoh, Malaysia, China, Iran, Thailand dan Vietnam (ii) Losing momentum, (HiIang 7enaga), artinya kurang mencetak kema-
juan, meski negara itu memulai dari status yang baik; contoh Georgia, Uzbekistan; (iii) Catching up (Mengejar) yakni negara-negara yang mencetak
banyak kemajuan, tetapi bertolak dari status yang lebih rendah; contoh India, Nepal, dan Afghanistan; (iv) Falling further behind, (7ertinggaI) yakni
tidak mecetak kemajuan bahkan negatif dan juga memulai dari status yang rendah (negatif ). Contohnya Bangladesh, Indonesia, PNG, Lao dan
Myanmar. Ini artinya, laporan resmi Indonesia tentang MDGs selama ini, yang optimis dan tidak rumit itu, tidak cocok dengan pengakuan dan
penilaian ketiga lembaga tersebut. Atau, bahwa laporan resmi Indonesia perlu menjelaskan dan menjawab mengapa penilaian Indonesia sendiri
berbeda dengan ketiga lembaga tersebut.
a
a
Catatan Penutup