Anda di halaman 1dari 15

Oleh NIDIA SAHARA BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pendidikan merupakan media yang sangat berperan untuk menciptakan manusia yang berkualitas dan berpotensi dalam arti yang seluas-luasnya, melalui pendidikan akan terjadi proses pendewasaan diri sehingga di dalam proses pengambilan keputusan terhadap suatu masalah yang dihadapi selalu disertai dengan rasa tanggung jawab yang besar. Mengingat peran pendidikan tersebut maka sudah seyogyanya aspek ini menjadi perhatian pemerintah dalam rangka meningkatkan sumber daya masyarakat Indonesia yang berkualitas. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah dinilai cukup memegang peranan penting dalam membentuk siswa menjadi berkualitas, karena matematika merupakan suatu sarana berpikir untuk mengkaji sesuatu secara logis dan sistematis. Karena itu, maka perlu adanya peningkatan mutu pendidikan matematika. Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah peningkatan prestasi belajar matematika siswa di sekolah. Dalam pembelajaran di sekolah, matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang masih dianggap 1 sulit dipahami oleh siswa. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran matematika diperlukan suatu metode mengajar yang bervariasi. Artinya dalam penggunaan metode mengajar tidak harus sama untuk semua pokok bahasan, sebab dapat terjadi bahwa suatu metode mengajar tertentu cocok untuk satu pokok bahasan tetapi tidak untuk pokok bahasan yang lain. Kenyataan yang terjadi adalah penguasaan siswa terhadap materi matematika masih tergolong rendah jika dibanding dengan mata pelajaran lain. Kondisi seperti ini terjadi pula pada SMP Negeri 1 Batuatas. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru matematika yang mengajar di kelas VIII bahwa penguasaan materi matematika oleh siswa masih tergolong rendah. Salah satu materi matematika yang penguasaan siswa rendah adalah pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah, di mana pada materi tersebut banyak siswa yang belum bisa menentukan cara yang mudah dalam menyelesaikan suatu sistem persamaan linear dua peubah dari beberapa cara yang ada, siswa juga kurang bisa menyatakan suatu bentuk model matematika dari soal cerita yang berkaitan dengan sistem persamaan linear dua peubah. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata hasil belajar matematika siswa pada semester I tahun 2004/2005 sebesar 5,0 dan pada semester II tahun 2005/2006 sebesar 4,76. Rendahnya hasil belajar matematika siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya adalah model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Hasil observasi awal yang dilakukan oleh peneliti pada SMP Negeri 1 Batuatas menunjukan bahwa pembelajaran matematika di sekolah tersebut masih menggunakan model pembelajaran konvesional yakni suatu model pembelajaran yang banyak didominasi oleh guru, sementara siswa duduk secara pasif menerima informasi pengetahuan dan keterampilan. Hal ini diduga merupakan salah satu penyebab terhambatnya kreativitas dan kemandirian siswa sehingga menurunkan prestasi belajar matematika siswa. Melihat fenomena tersebut, maka perlu diterapkan suatu sistem pembelajaran yang melibatkan peran siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar, guna meningkatkan prestasi belajar matematika disetiap jenjang pendidikan. Salah satu model pembelajaran yang melibatkan peran siswa secara aktif adalah model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif sangat cocok diterapkan pada pembelajaran matematika karena dalam mempelajari matematika tidak cukup hanya mengetahui dan menghafal konsepkonsep matematika tetapi juga dibutuhkan suatu pemahaman serta kemampuan menyelesaikan persoalan matematika dengan baik dan benar. Melalui model pembelajaran ini siswa dapat mengemukakan pemikirannya, saling bertukar pendapat, saling bekerja sama jika ada teman dalam kelompoknya yang mengalami kesulitan. Hal ini dapat meningkatkan motivasi siswa untuk mengkaji dan menguasai materi pelajaran matematika sehingga nantinya akan meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Model pembelajaran kooperatif terdiri dari empat pendekatan yaitu: STAD (Student Teams Achievement Division), Jigsaw, IK (Investigasi Kelompok), dan pendekatan struktural. Pendekatan struktural terdiri dari dua tipe yaitu tipe Think Pair Share dan tipe Numbered Heads Together (NHT). Melihat penguasaan siswa terhadap materi matematika khususnya pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah, maka dalam penelitian ini model pembelajaran yang dipilih adalah model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together), karena pada model ini siswa menempati posisi sangat dominan dalam proses pembelajaran dan terjadinya kerja sama dalam kelompok dengan ciri utamanya adanya penomoran sehingga semua siswa berusaha untuk memahami setiap materi yang

diajarkan dan bertanggung jawab atas nomor anggotanya masing-masing. Dengan pemilihan model ini, diharapkan pembelajaran yang terjadi dapat lebih bermakna dan memberi kesan yang kuat kepada siswa. Berdasarkan pemikiran di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian yang berjudul :Meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII1 SMP Negeri 1 Batuatas pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini permasalahan yang dikemukakan adalah:Apakah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah di kelas VIII1 SMP Negeri 1 Batuatas dapat ditingkatkan?. C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas dan untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII1 SMP Negeri 1 Batuatas khususnya pada pokok bahasan Sistem Persamaan Linear Dua Peubah.

D. Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat : 1. Bagi guru, dapat meningkatkan dan memperbaiki sistem pembelajaran di kelas. 2. Bagi siswa, dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa khususnya pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah. 3. Bagi sekolah, dapat memberikan sumbangan yang baik pada sekolah dalam rangka memberikan pembelajaran matematika pada khususnya. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka 1. Proses Belajar Mengajar Matematika di Sekolah Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya (Usman, 1995: 5). Belajar sebagai suatu proses, ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Winkel (1986: 36) menyatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungannya, yang menghasilkan perubahanperubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersikap secara relatif, konstan dan berbekas. Belajar adalah kegiatan yang dilakukan untuk menguasai pengetahuan, kebiasaan, kemampuan, 6 keterampilan dan sikap melalui hubungan timbal balik antara proses belajar dengan lingkungannya. Selanjutnya Soejanto (1997: 21) menyatakan bahwa belajar adalah segenap rangkaian aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan yang menyangkut banyak aspek, baik karena kematangan maupun karena latihan. Perubahan ini memang dapat diamati dan berlaku dalam waktu relatif lama. Perubahan yang relatif lama tersebut disertai

dengan berbagai usaha, sehingga Hudoyo (1990: 13) mengatakan bahwa belajar itu merupakan suatu usaha yang berupa kegiatan hingga terjadinya perubahan tingkah laku yang relatif lama atau tetap. Dari beberapa pendapat para ahli pada intinya belajar merupakan suatu proses untuk mencapai suatu tujuan yaitu perubahan kearah yang lebih baik. Perubahan tersebut adalah perubahan pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap yang bersifat menetap. Pengertian mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman-pengalaman kecakapan kepada anak didik atau usaha mewariskan nilai-nilai kebudayaan kepada generasi muda/penerus, sejalan dengan pendapat De Quelyu dan Gazali dalam Abdurrahman(1990: 73) mengatakan bahwa belajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat . Usman (1995: 6) menyatakan mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab yang cukup berat, karena berhasilnya pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses belajar (Usman, 1995: 6). Sejalan dengan itu, Hamalik (2001: 8) menyatakan bahwa mengajar adalah usaha guru untuk mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa. Pengertian ini mengandung makna bahwa guru dituntut untuk dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa dan juga hendaknya mampu memanfaatkan lingkungan, baik yang ada di kelas maupun yang ada di luar kelas yang menunjang kegiatan belajar mengajar. Menurut Tabrani (1989: 27) bahwa mengajar bukan upaya guru menyampaikan bahan pelajaran, melainkan bagaimana siswa dapat mempelajari bahan pelajaran sesuai tujuan. Dari pengertian belajar dan mengajar yang telah dikemukakan oleh para ahli, dapatlah dikatakan bahwa proses belajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya proses belajar mengajar. Interaksi dalam peristiwa belajar mengajar mempunyai arti yang lebih luas, tidak sekedar hubungan antara guru dengan siswa, tetapi berupa interaksi edukatif. Dalam hal ini bukan hanya penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar. Dalam proses belajar mengajar, keberhasilan guru dalam pengajaran ditentukan oleh prestasi atau hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Oleh karena itu, pendidikan mempunyai peranan penting dan diharapkan dapat membimbing siswa agar mereka menguasai ilmu dan keterampilan yang berguna serta memiliki sifat positif. Dalam mengajar matematika perubahan tingkah laku diarahkan pada pemahaman konsep-konsep matematika yang akan mengarahkan individu kepada berpikir matematis berdasarkan aturan-aturan yang logis dan sistematis. Materi matematika disusun secara teratur dalam urutan yang logis dan hirarkis, artinya topik matematika yang telah diajarkan merupakan prasyarat untuk topik berikutnya. Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui oleh orang itu. Karena itu untuk mempelajari suatu topik matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar matematika tersebut. Hudoyo (1988: 4) menyatakan bahwa belajar matematika yang terputusputus akan mengganggu terjadinya proses belajar. Ini berarti bahwa belajar matematika akan terjadi dengan lancar bila belajar itu sendiri dilakukan secara kontinu. Sehubungan dengan itu, maka dalam mengajar guru hendaknya dapat memberikan pengetahuan prasyarat sebagai dasar untuk mempelajari topik matematika yang diajarkan agar dalam menyelesaikan soal-soal matematika tidak terlalu banyak mengalami kesulitan. Berdasarkan pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar matematika adalah proses belajar mengajar yang melibatkan guru dan siswa secara simultan, di mana perubahan tingkah laku siswa diarahkan pada pemahaman konsep-konsep matematika yang akan mengantarkan siswa pada berpikir matematis berdasarkan aturan-aturan yang logis dan sistematis, sedangkan guru dalam mengajar hendaknya dapat memilih topik-topik matematika sesuai dengan urutan logis. 2. Prestasi Belajar Matematika Poerwadarminta (1974: 769) mendefinisikan bahwa prestasi merupakan hasil yang telah dicapai oleh seseorang

dalam suatu usaha yang dilakukan atau dikerjakan. Defenisi di atas sejalan dengan pendapat Winkel (1986: 102) yang menyatakan bahwa prestasi adalah bukti usaha yang dicapai. Istilah prestasi selalu digunakan dalam mengetahui keberhasilan belajar siswa di sekolah. Prestasi belajar adalah suatu nilai yang menunjukan hasil yang tertinggi dalam belajar yang dicapai menurut kemampuan siswa dalam mengerjakan sesuatu pada saat tertentu. Selanjutnya Soejanto (1979: 12) menyatakan bahwa prestasi belajar dapat pula dipandang sebagai pencerminan dari pembelajaran yang ditunjukan oleh siswa melalui perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan/pemahaman, keterampilan, analisis, sintesis, evaluasi serta nilai dan sikap. Prestasi belajar siswa ditentukan oleh dua faktor yaitu intern dan ekstren. Faktor intern merupakan faktor-faktor yang berasal atau bersumber dari siswa itu sendiri, sedangkan faktor ekstern merupakan faktor yang berasal atau bersumber dari luar peserta didik. Faktor intern meliputi prasyarat belajar, yakni pengetahuan yang sudah dimiliki oleh siswa sebelum mengikuti pelajaran berikutnya, keterampilan belajar yang dimiliki oleh siswa yang meliputi cara-cara yang berkaitan dengan mengikuti mata pelajaran, mengerjakan tugas, membaca buku, belajar kelompok mempersiapkan ujian, menindaklanjuti hasil ujian dan mencari sumber belajar, kondisi pribadi siswa yang meliputi kesehatan, kecerdasan, sikap, cita-cita, dan hubungannya dengan orang lain. Faktor ekstern antara lain meliputi proses belajar mengajar, sarana belajar yang dimiliki, lingkungan belajar, dan kondisi sosial ekonomi keluarga (Usman, 1995: 12). Berdasarkan pengertian prestasi yang dikemukakan para ahli, maka dapat dikatakan bahwa prestasi belajar matematika adalah tingkat penguasaan yang dicapai siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar matematika sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Prestasi yang dicapai oleh siswa merupakan gambaran hasil belajar siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dan merupakan interaksi antara beberapa faktor. 3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah. Pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu : 1. Hasil belajar akademik stuktural Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. 2. Pengakuan adanya keragaman Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang. 3. Pengembangan keterampilan sosial Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya. Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen (1993) dengan tiga langkah yaitu : 1. Pembentukan kelompok 2. Diskusi masalah 3. Tukar jawaban antar kelompok. Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan menjadi enam langkah sesuai dengan kebutuhan pelaksanaan penelitian ini. Enam langkah tersebut adalah sebagai berikut : Langkah 1. Persiapan Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.

Langkah 2. Pembentukan kelompok Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masingmasing kelompok. Langkah 3. Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan Dalam pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh guru. Langkah 4. Diskusi masalah Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang bersifat umum. Langkah 5. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas. Langkah 6. Memberi kesimpulan Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan. Ada beberapa manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh Linda Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18), antara lain adalah : 1. Rasa harga diri menjadi lebih tinggi 2. Memperbaiki kehadiran 3. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar 4. Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil 5. Konflik antara pribadi berkurang 6. Pemahaman yang lebih mendalam 7. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi 8. Hasil belajar lebih tinggi. B. Kerangka Berpikir Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika, guru harus mampu menciptakan suasana belajar yang optimal dengan menerapkan berbagai model pembelajaran. Dalam pembelajaran matematika, salah satu hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam mengajarkan suatu pokok bahasan adalah pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan, karena melihat kondisi siswa yang mempunyai karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainnya dalam menerima materi pelajaran yang disajikan guru di kelas, ada siswa yang mempunyai daya serap cepat dan ada pula siswa yang mempunyai daya tanggap yang lama. Menyikapi kenyataan ini, penulis menilai perlu digunakan model pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT, yaitu membagi siswa dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 5 orang siswa dan setiap kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang beragam, ada yang pintar, sedang, dan ada pula yang tingkat kemampuannya kurang. Kemudian setiap anggota kelompok diberikan tanggung jawab untuk memecahkan masalah atau soal dalam kelompoknya dan diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat tanpa merasa takut salah. Oleh karena itu tidak tampak lagi mana siswa yang unggul karena semuanya berbaur dalam satu kelompok dan sama-sama bertanggung jawab terhadap kelompoknya tersebut. Dengan demikian, untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII1 SMP Negeri 1 Batuatas khususnya pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah, guru perlu menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam mengajarkan pokok bahasan tersebut karena daya serap siswa dalam menerima materi pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah tidak sama dan diharapkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT setiap siswa akan mempunyai tingkat kemampuan yang relatif sama terhadap materi sistem

persamaan linear dua peubah dan pada akhirnya prestasi belajar siswa akan lebih baik. E. Hasil Penelitian yang Relevan Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh Wa Sinar (2003) yang menyimpulkan bahwa melalui model pembelajaran kooperatif tipe NHT dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam belajar matematika. Syamsidar (2004) menyimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT kemampuan siswa kelas I3 semester I SLTP Negeri 2 Raha dalam memahami konsep operasi hitung pada bilangan bulat dapat ditingkatkan. F. Hipotesis Tindakan Berdasarkan kajian teori, maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah: Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT (Numbered Heads Together) prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah siswa kelas VIII1 SMP Negeri 1 Batuatas dapat ditingkatkan. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas (PTK), dengan ciri utamanya adalah adanya tindakan yang berulang dan metode utamanya adalah refleksi diri yang bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran. B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Batuatas Kabupaten Buton. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 5 Desember 2005 sampai tanggal 13 Desember tahun 2006. C. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII1 SMP Negeri 1 Batuatas yang berjumlah 35 orang yang terdiri dari 14 orang laki-laki dan 21 orang perempuan, dengan kemampuan yang heterogen. D. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Lembar observasi, untuk memperoleh data tentang kondisi pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT di kelas. b. Tes hasil belajar, untuk memperoleh data tentang prestasi belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 17 c. Jurnal refleksi diri, untuk memperoleh data tentang refleksi diri. E. Faktor yang Diselidiki Untuk lebih memudahkan dalam pemecahan masalah, ada beberapa faktor yang diselidiki : 1. Faktor siswa, melihat atau memperhatikan keaktivan dan kemampuan siswa dalam belajar. 2. Faktor guru, melihat atau memperhatikan guru dalam menyajikan materi pelajaran secara tekhnik yang digunakan dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan benar. 3. Faktor sumber pelajaran, melihat sumber atau bahan pelajaran yang digunakan apakah dapat mendukung pelaksanaan model pembelajaran yang diterapkan dan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. F. Defenisi Operasional

Agar tidak terjadi kekeliruan menafsirkan istilah dalam penelitian, maka perlu diberikan defenisi operasional sebagai berikut: 1. Prestasi belajar adalah suatu nilai yang dicapai oleh siswa menurut kemampuannya dalam mengerjakan atau menyelesaikan soal-soal evaluasi tes hasil belajar pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah. 2. Sistem persamaan linear dua peubah adalah materi pembelajaran matematika di kelas VIII dengan subsub pokok bahasan yaitu bentuk-bentuk persamaan linear dua peubah, sistem persamaan linear dua peubah, penyelesaian sistem persamaan linear dua peubah, cara menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan sistem persamaan linear, cara menyelesaikan sistem persamaan non linear dua peubah. 3. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan suatu pendekatan yang dikembangkan oleh Spencer Kagen, yang melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Sebagai gantinya mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas. Langkah-langkah pekerjaannya yaitu penomoran, mengajukan pertanyaan, berpikir bersama, menjawab.

G. Rancangan dan Model Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Rancangan dari model PTK Sumber : Hopkins (1993) yang dikutip oleh Tim Pelatihan Proyek PGSM (1999:7). H. Prosedur Pelaksanaan Prosedur penelitian tindakan kelas ini, direncanakan terdiri dari 3 siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai seperti apa yang telah didesain dalam faktor yang diselidiki. Secara rinci prosedur penelitian tindakan kelas ini dijabarkan sebagai berikut : 1. Tahap kegiatan awal, meliputi: a. Observasi awal b. Tes awal: untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam memahami konsep persamaan linear dua peubah sebelum diadakan tindakan, yang nantinya digunakan sebagai nilai awal yang diperlukan dalam pembagian kelompok melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT. Di samping itu, diperlukan dalam pengolahan nilai peningkatan prestasi belajar siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe NHT. 2. Perencanaan, adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini meliputi: a. membuat skenario pembelajaran b. membuat lembar observasi untuk melihat kondisi belajar mengajar di kelas ketika model pembelajaran kooperatif tipe NHT diaplikasikan. c. mendesain alat evaluasi untuk melihat apakah materi matematika telah dikuasai oleh siswa. d. membuat jurnal refleksi diri. 3. Pelaksanaan tindakan, kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan skenario

pembelajaran yang telah dibuat. 4. Observasi/evaluasi, pada tahap ini dilaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan serta melakukan evaluasi. 5. Refleksi hasil yang diperoleh dalam tahap observasi/evaluasi dikumpulkan serta dianalisis dalam tahap ini. Kelemahan-kelemahan/ kekurangan-kekurangan yang terjadi pada setiap siklus akan diperbaiki pada siklus berikutnya. I. Jenis Data dan Cara Pengambilan Data a. Sumber data: sumber data dalam penelitian ini adalah personil penelitian yang terdiri dari siswa dan guru. b. Jenis data: jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dengan alat evaluasi lembar observasi, jurnal refleksi diri dan data kuantitatif diperoleh dengan alat evaluasi hasil belajar. c. Cara pengambilan data - Data tentang pelaksanaan pembelajaran serta perubahan-perubahan yang terjadi di kelas, diambil berdasarkan pengamatan langsung dengan menggunakan lembar observasi dan jurnal refleksi diri. - Data tentang hasil belajar siswa diambil melalui tes hasil belajar. J. Indikator Kinerja Indikator kinerja dalam penelitian ini ada dua macam, yaitu: 1. Indikator kinerja yang berkaitan dengan peningkatan prestasi belajar matematika siswa minimal 75% siswa telah memperoleh nilai minimal 6,0 (ketetapan sekolah yang bersangkutan). 2. Indikator kinerja yang berkaitan dengan keberhasilan pelaksanaan pembelajaran yaitu minimal 85% skenario pembelajaran yang dibuat telah dilaksanakan dengan benar. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Kegiatan Pendahuluan Sebelum melakukan tindakan dalam penelitian, peneliti melakukan observasi awal dan wawancara singkat dengan guru matematika kelas VIII SMP Negeri 1 Batuatas. Hasil observasi menunjukkan bahwa prestasi belajar matematika siswa khususnya untuk kelas VIII masih tergolong rendah dan model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran konvensional. Berdasarkan hasil tersebut, diputuskan untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam mengajarkan pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah di kelas VIII1. Pada tanggal 4 November 2006 diadakan tes awal pada siswa kelas VIII 1 untuk mengetahui kemampuan awal siswa terhadap materi sistem persamaan linear dua peubah. Nilai tes awal dijadikan acuan untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII1 SMP Negeri 1 Batuatas setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Soal-soal tes awal berupa materi yang berhubungan dengan pokok bahasan yang akan diajarkan dalam 24 hal ini materi untuk soal tes awal adalah materi persamaan linear satu variabel, sebagaimana terlihat pada lampiran 4. Dari hasil tes awal tersebut terlihat bahwa siswa yang memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan 6,0 mencapai 25,71% (9 orang siswa) dengan nilai rata-rata 4,89. Hal ini memberikan gambaran bahwa prestasi belajar matematika siswa masih tergolong rendah. 2. Tindakan Siklus I a. Perencanaan Setelah ditetapkan untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam mengajar matematika pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah, maka kegiatan selanjutnya adalah menyiapkan beberapa hal yang diperlukan pada saat pelaksanaan tindakan. Setelah berkonsultasi dengan guru bidang studi matematika, peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut : 1. membuat skenario pembelajaran untuk tindakan siklus I

2. 3. 4. 5.

membuat lembar observasi terhadap guru dan siswa selama pelaksanaan proses pembelajaran di kelas membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) membuat alat evaluasi untuk tes tindakan siklus I membuat jurnal untuk refleksi diri.

b. Pelaksanaan Tindakan Pada tahap ini, kegiatan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dilaksanakan sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dipersiapkan, sebagaimana terdapat pada lampiran 3. Dalam proses pembelajaran, siswa dibagi dalam 7 kelompok dengan nomor yang berbeda untuk setiap siswa dalam kelompoknya dan setiap kelompok beranggotakan 5 orang siswa. Selanjutnya setiap kelompok dibagikan LKS untuk didiskusikan bersama anggota kelompoknya, guru memberikan bimbingan kepada siswa dalam kelompok terutama kelompok yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah dalam LKS. Kegiatan selanjutnya adalah siswa diminta mempresentasikan hasil kerja kelompoknya di depan kelas untuk siswa yang nomornya di sebut dan siswa dikelompok lain memperhatikan dan membandingkan dengan pekerjaannya. Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti mengobservasi jalannya pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi untuk guru dan siswa sebagaimana yang tercantum pada lampiran 5 hal 58. c. Observasi Hal-hal yang diobservasi pada pelaksanaan tindakan siklus I adalah cara guru menyajikan materi pelajaran apakah sudah sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat atau belum. Selain itu juga dilihat aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Hasil observasi terhadap guru menunjukkan hal-hal sebagai berikut : 1. Guru tidak memberi motivasi dan tidak memberi apersepsi. 2. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran 3. Guru mengorganisasi siswa dalam 7 kelompok belajar dan setiap kelompok terdiri dari 5 orang 4. Guru tidak secara merata memberikan bimbingan kepada setiap kelompok 5. Guru menyiapkan LKS sebagai alat bantu dalam pembelajaran . 6. Guru belum mampu mengelola waktu dengan baik, akibatnya ada tahapantahapan dalam skenario pembelajaran yang tidak terlaksana karena kehabisan waktu. Hasil observasi terhadap siswa menunjukan hal-hal sebagai berikut : 1. Pada pertemuan pertama siswa terlihat masih kaku berada dalam kelompoknya 2. Masih banyak siswa yang kurang aktif dalam mengerjakan soal-soal dalam LKS yang telah diberikan 3. Sebagian siswa masih ragu mengemukakan pendapat 4. Hanya beberapa siswa yang mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya dan ada siswa yang merasa gugup ketika nomornya terpanggil untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Selengkapnya hasil observasi dapat dilihat pada lampiran 5 hal 58. d. Evaluasi Setelah pelaksanaan tindakan siklus I selama 3 kali pertemuan, diadakan evaluasi dengan tes seperti yang ada pada lampiran 4. Hasil tes siklus I menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jika dibandingkan dengan hasil tes awal yaitu dari 25,71% (9 orang) siswa memperoleh nilai pada tes awal dan meningkat menjadi 42,86% (15 orang) siswa memperoleh nilai . Walaupun hasil tes siklus I menunjukkan peningkatan, tetapi karena belum mencapai indikator keberhasilan maka penelitian dilanjutkan pada siklus II. Hasil tes tindakan siklus I selengkapnya terdapat pada lampiran 1 hal 39. e. Refleksi Pada tindakan siklus I ini penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam mengajarkan pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah belum sempurna sesuai dengan yang diharapkan. Analisis terhadap observasi dijadikan sebagai bahan untuk menentukan tindakan selanjutnya. Setelah diadakan

refleksi antara guru dan peneliti maka diperoleh hal-hal sebagai berikut : 1. Faktor siswa a. Sebagian siswa tidak memperhatikan penjelasan guru b. Sebagian siswa kurang aktif dalam kelompoknya dan siswa belum dapat menyampaikan pendapatnya pada saat materi pelajaran diajarkan atau pada saat siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soalsoal dalam LKS, hal ini disebabkan karena siswa merasa asing dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 2. Faktor guru a. Kehadiran peneliti mempengaruhi kinerja guru sehingga menjadi canggung dan suasana kelas agak kaku, hal ini nampak pada saat guru memberi penjelasan, volume suara kurang jelas dan gerakan kurang leluasa. b. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT dianggap hal yang baru bagi pribadi guru mata pelajaran matematika, sehingga guru tidak secara merata memberikan bimbingan kepada setiap kelompok/individual. 3. Tindakan siklus II a. Perencanaan Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi, pelaksanaan tindakan siklus I belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, sehingga peneliti bersama guru merencanakan tindakan siklus II. Kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I akan diperbaiki pada siklus II. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka memperbaiki kelemahan dan kekurangan pada siklus I untuk diperbaiki pada siklus II adalah : 1. Guru harus memotivasi siswa belajar agar siswa lebih bersemangat dalam belajar matematika serta guru harus memberikan apersepsi. 2. Guru harus bersikap tegas dengan menegur/memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru dan yang tidak mau bekerja sama dengan teman kelompoknya. 3. Guru harus selalu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti. 4. Guru harus mampu mengelola waktu dengan efisien agar semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran dapat terlaksana. Selain hal-hal yang merupakan rencana perbaikan untuk tindakan siklus I, peneliti harus mempersiapkan juga skenario pembelajaran, lembar observasi untuk guru dan siswa, alat evaluasi dan jurnal refleksi diri untuk tindakan siklus II. b. Pelaksanaan tindakan Pada pelaksanaan tindakan siklus II ini, guru kembali berusaha melaksanakan pembelajaran agar sesuai dengan skenario pembelajaran tindakan siklus II. Kegiatan pembelajaran diawali dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dengan maksud agar siswa memiliki gambaran jelas tentang pengetahuan yang akan diperoleh setelah proses pembelajaran berlangsung. Guru juga melakukan tindakan perbaikan sebagaimana yang telah direncanakan pada tahap perencanaan meskipun belum maksimal. Materi yang diajarkan masih dalam pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah dengan sub pokok bahasan menentukan penyelesaian dari sistem persamaan linear dua peubah. Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti mengobservasi pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi untuk guru dan siswa sebagaimana tercantum pada lampiran 5 hal 64. c. Observasi Secara umum pada pelaksanaan tindakan siklus II ini telah ada peningkatan dibandingkan dengan siklus I. Hal ini terlihat pada hasil observasi guru dan siswa. Hasil observasi terhadap guru menunjukan bahwa : 1. Guru selalu menjelaskan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa. 2. Guru sudah bersikap tegas dengan menegur /memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru.

3. Guru memberikan bantuan/bimbingan kepada kelompok atau siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal dalam LKS dan memberikan penghargaan kepada kelompok /siswa yang menjawab dengan benar. 4. Guru sudah dapat melaksanakan hampir semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran pada siklus II. Hasil observasi terhadap siswa menunjukan bahwa : 1. Siswa memperhatikan dengan baik penjelasan guru 2. Sebagian siswa sudah berani menanyakan hal-hal yang kurang dimengerti yang ada kaitannya dengan materi yang diajarkan. 3. Sebagian besar siswa sudah mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Hasil observasi selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 5 hal 64. d. Evaluasi Setelah 3 kali pertemuan yang membahas materi mengenai penyelesaian sistem persamaan linear dua peubah, kembali diadakan evaluasi untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar matematika siswa. Soal tes tindakan siklus II selengkapnya terdapat pada lampiran 4 hal 56. Hasil tes siklus II menunjukkan peningkatan prestasi belajar matematika siswa dibandingkan dengan siklus I yaitu dari 42,86% siswa yang telah memperoleh nilai pada siklus I meningkat menjadi 65,71% siswa telah memperoleh nilai pada siklus II. Dari hasil tes siklus II, walaupun menunjukkan peningkatan tetapi karena belum mencapai indikator keberhasilan maka penelitian dilanjutkan pada siklus III. Hasil evaluasi pelaksanaan tindakan siklus II dapat dilihat selengkapnya pada lampiran 1 hal 39. e. Refleksi Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi pelaksanaan tindakan siklus II, hal yang masih perlu diperhatikan adalah bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan latihan perlu ditingkatkan. Kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang terjadi pada tindakan siklus II akan diperbaiki pada pelaksanaan tindakan siklusIII. Hasil refleksi diri pada pelaksanaan tindakan siklus II selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 6 hal 76. 4. Tindakan Siklus III a. Perencanaan Berdasarkan hasil observasi, evaluasi dan refleksi diri pada tindakan siklusII, maka peneliti bersama dengan guru merencanakan tindakan siklus III agar kekurangan-kekurangan pada tindakan siklus II dapat diperbaiki. Adapun hal-hal yang perlu dilakukan dalam rangka memperbaiki tindakan siklus II adalah guru harus selalu membimbing siswa dalam mengerjakan soal-soal LKS yang telah diberikan. Selain itu, pada tahap perencanaan ini peneliti tetap membuat skenario pembelajaran, lembar observasi terhadap guru dan siswa, alat evaluasi dan jurnal refleksi diri untuk tindakan siklus III. b. Pelaksanaan tindakan Pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT kembali dilakukan dengan mengikuti skenario pembelajaran yang telah dibuat untuk pelaksanaan tindakan siklus III. Kegiatan yang dilakukan setiap pertemuan pada siklus III adalah diawali dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada akhir proses belajar mengajar dan memberikan motivasi kepada siswa agar bersemangat dalam belajar. Selama proses pembelajaran berlangsung guru tetap memantau dan memberikan bimbingan kepada setiap kelompok atau siswa yang mengalami kesulitan. Selama proses belajar mengajar berlangsung peneliti mengobservasi jalannya pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi untuk guru dan siswa.

c. Observasi Peneliti kembali melaksanakan observasi terhadap pelaksanaan tindakan siklus III dan hasil observasi terhadap guru menunjukkan bahwa guru telah mampu melaksanakan skenario pembelajaran dengan baik. Hasil observasi terhadap siswa menunjukkan hal-hal berikut: 1. Semua siswa sudah memperhatikan penjelasan guru 2. Siswa sudah mampu mempresentasikan hasil kerja kelompoknya 3. Siswa sudah mampu mengemukakan pendapat. Hasil observasi selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 5 hal 70. Secara umum pelaksanaan tindakan sudah sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat. Semua tahapan kegiatan dalam skenario pembelajaran telah dilaksanakan dengan sempurna oleh guru. Hanya masih ada sedikit kelemahan-kelemahan pada pihak siswa yaitu ada beberapa siswa yang belun mampu mengemukakan pendapat. d. Evaluasi Setelah 3 kali pertemuan, maka kembali diadakan tes tindakan siklus III untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar matematika siswa. Hasil tes menunjukkan adanya peningkatan dari siklus sebelumnya yaitu dari 65,71% siswa telah memperoleh nilai pada siklus II meningkat menjadi 82,86% siswa telah memperoleh nilai pada siklus III. Dari hasil tes siklus III menunjukkan adanya peningkatan dan telah mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, maka pelaksanaan tindakan dihentikan hanya sanpai pada siklus III. Hasil evaluasinya dapat dilihat pada lampiran 1 hal 39. e. Refleksi Kegiatan refleksi yang dilakukan pada tindakan siklus III menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan baik bagi guru mata pelajaran maupun bagi peneliti. Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT sudah mendapatkan hasil yang lebih baik, walaupun masih ada beberapa siswa yang belum dapat menyampaikan pendapat tetapi siswa tersebut aktif melibatkan diri dalam melaksanakan tugas kelompok. Jika dilihat dari hasil tes pada evaluasi pelaksanaan tindakan siklus III, yaitu telah mencapai 82,86% siswa yag telah memperoleh nilai atau dengan kata lain telah mencapai indikator keberhasilan, maka penelitian ini telah berhasil dilaksanakan sesuai rencana pelaksanaan penelitian dengan tiga siklus tindakan. B. Pembahasan Penelitian ini berakhir setelah pelaksanaan siklus III karena telah mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan. Pada siklus I, perolehan nilai siswa berdasarkan ketuntasan belajar hanya 42,86% siswa yang telah memperoleh nilai . Nilai evaluasi hasil tes siklus I meningkat 17,15% dari hasil tes awal. Berdasarkan hasil observasi pada siklus I, guru dan siswa telah melakukan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT, namun masih terdapat kekurangan-kekurangan dimana kekurangan itu ada yang berasal dari guru dan ada juga yang berasal dari siswa. Diantaranya ada sebagian siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru pada saat menyampaikan materi, dan kekurangan yang berasal dari guru adalah belum terlaksananya semua komponen dalam skenario pembelajaran. Hal itu dikarenakan guru belum dapat mengatur waktu sebaik mungkin, guru terlalu banyak memberikan waktu pada siswa untuk bekerja menyelesaikan soalsoal yang diberikan. Melihat kekurangan yang masih ada serta prestasi belajar matematika siswa terhadap pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah pada tindakan siklus I belum memenuhi indikator keberhasilan yang telah ditetapkan, maka penelitian dilanjutkan pada tindakan siklus II. Hal-hal yang harus diperbaiki pada tindakan siklus II adalah guru harus bersikap tegas dengan menegur/memberi sanksi kepada siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru dan yang tidak mau bekerja sama dengan teman kelompoknya. Guru juga harus mampu mengelola waktu dengan efisien agar semua tahapan kegiatan dalam

skenario pembelajaran dapat terlaksana. Pada tindakan siklus II, model pembelajaran kooperatif tipe NHT kembali dilaksanakan. Berdasarkan hasil observasi pada tindakan siklus II, kegiatan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran telah meningkat. Dimana kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus I sudah dapat diperbaiki sedikit demi sedikit. Siswa sudah lebih memperhatikan penjelasan guru walaupun hanya beberapa siswa mampu dan mau mengajukan pertanyaan jika mendapat masalah dalam menyelesaikan soal-soal LKS yang diberikan. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pada siklus II, siswa yang memperoleh nilai sebanyak 23 orang atau 65,71%. Ini berarti mengalami peningkatan dibanding hasil evaluasi pada siklus I. Melihat hasil tes tindakan siklus II ini belum mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan maka penelitian dilanjutkan kembali pada siklus berikutnya. Hal-hal yang harus diperbaiki pada siklus III adalah guru harus selalu membimbing siswa dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan. Setelah siklus III, nilai siswa menunjukkan lagi peningkatan menjadi 82,86% siswa telah memperoleh nilai dan secara rata-rata juga meningkat menjadi 6,89. Hal ini berarti telah mencapai indikator yang telah ditetapkan. Sedangkan hasil observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran bisa dikatakan sempurna, yakni 100% komponen dalam skenario telah dilaksanakan dengan baik sesuai yang diharapkan. Karena kedua indikator telah tercapai, ini berarti hipotesis tindakan telah tercapai yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT prestasi belajar matematika siswa pada pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah dapat ditingkatkan. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam mengajarkan pokok bahasan sistem persamaan linear dua peubah pada siswa kelas VIII1 SMP Negeri 1 Batuatas prestasi belajar matematika siswa dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes awal, siswa yang memperoleh nilai minimal 6,0 sebanyak 25,71% meningkat pada siklus I menjadi 42,86%; siswa yang memperoleh nilai minimal 6,0 pada siklus II meningkat pula menjadi 65,71% dan siklus III siswa yang memperoleh nilai minimal 6,0 meningkat lagi menjadi 82,86%. B. Saran Berdasarkan kesimpulan, maka peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut : 1. Bagi guru diharapkan dapat mempelajari dan memahami agar mampu menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dalam proses belajar mengajar, juga diharapkan selalu mencoba atau meneliti setiap model pembelajaran, sehingga model pembelajaran tersebut sesuai dengan materi yang diajarkan. 2. Bagi siswa diharapkan agar dalam belajar selalu menanyakan masalah-masalah yang tidak dimengerti dalam materi yang diajarkan dan selalu melakukan diskusi dengan temannya 38 dalam menyelasaikan setiap masalah.

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Bahan Pelatihan Dosen LPTK dan Guru Sekolah

Menengah). Jakarta : PGSM. Abdurrahman, H., 1991. Pengelolaan Pengajaran. Ujung Pandang : IAIN Alauddin. Ibrahim, M. dkk, 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. Hamalik, Oemar., 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara. Hudoyo, H., 1988. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Jakarta : DepDikbud. Hudoyo, H., 1990. Matematika dan Pelaksanaannya di Depan Kelas. Jakarta : DepDikbud. Ismail, 2003. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Direktoral SLTP Dirjen Dikdasman Depdiknas. Poerwadarminta, WJS., 1974. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Rusyan, Tabrani., 1989. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Karya. Sugijono, Cholik,M., 2004. Matematika untuk SMP Kelas VIII. Jakarta: Erlangga Soejanto, Agoes., 1979. Bimbingan Ke arah Belajar yang Sukses. Surabaya : Rineka Cipta. Syamsidar, 2004. Meningkatkan Pemahaman Siswa Kelas I3 SLTP Negeri 2 Raha dalam Belajar Matematika Pokok Bahasan Bilangan Bulat melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT. Kendari : Skripri Unhalu. Usman, Uzer., 1995. Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja Rosdakarya. Wa Sinar, 2003. Meningkatkan Pemahaman Siswa Kelas I SLTP Negeri 1 Kendari dalam Belajar Matematika Pokok Bahasan Sudut dan Peta Mata Angin melalui Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT. Kendari : Skripsi Unhalu. Winkel, WS., 1986. Psikologi Pengajaran. Jakarta : Grasindo.