Anda di halaman 1dari 4

PERAWATAN NON BEDAH PERIODONTAL SEDERHANA

1.1 Latar Belakang Plak yang berakumulasi di dalam mulut akan mengalami mineralisasi membentuk karang gigi. Karang gigi tidak secara langsung menjadi penyebab penyakit jaringan periodontal gigi, tetapi menjadi media untuk bakteri yang menimbulkan peradangan, yang memicu terjadinya penyakit periodontal. Apabila tidak segera diatasi, akan terjadi kerusakan jaringan penyangga gigi yang lebih dalam yaitu kerusakan tulang alveolar yang menyangga gigi. Gigi menjadi goyang dan berisiko pencabutan gigi. Salah satu cara pembersihan professional yang dilakukan oleh dokter gigi untuk menghilangkan plak gigi adalah dengan scaling. Scaling dilakukan untuk menghilangkan kerak gigi dan kalkulus yang keras, yang penuh dengan bakteri disekitar dan dibawah garis gusi. Scaling adalah suatu prosedur atau cara untuk menghilangkan pengotoran dari toksintoksin, mikroorganisme, plak, kerak gigi, sementum, dentin yang kasar dan atau diserap oleh kalkulus dari sekitar, dibawah garis gusi. Penghalusan akar melibatkan penggoresan dan penghalusan permukaan-permukaan akar gigi dengan alat kuretase tipis sehingga jaringan gusi dapat lebih kuat melekat kembali pada akar gigi yang bersih dan halus, untuk mencegah kehilangan gigi dan masalah-masalah sensivitas. Ultrasonik scaling dapat menghilangkan kalkulus dan mengurangi jumlah bakteri berbahaya di bawah garis gusi. Alat inipenting dalam pencegahan dan perawatan dari penyakit periodontal.Scaling dengan alat ultrasonic sekarang sudah banyak dilakukan diindonesia. Pengaruh dan pemakaian alat ultrasonic serta pemolesan permukaan dengan mesin kecepatan tinggi (jet) mengakibatkan jaringan gigi turut terambil sehingga bakteri dapat masuk ke dalam tubulus yang terbuka. Jadi penggunaannya harus dengan tekanan ringan dan mengenai sedikit mungkin daerah. Pada ujung alat ultrasonic terdapat semprotan air yang bertujuan untuk menghilangkan panas yang umumnya terjadi akibat vibrasi ultrasonic. Selain itu juga berfungsi sebagai pembersih permukaan gigi. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apakah dasar pemikiran, indikasi dan kontra indikasi dari DHE, dan bagaimana prosedur pelaksanaannya? 2. Bagaimana dasar pemikiran, indikasi dan kontra indikasi dari scaling dan root planing dan bagaimana prosedur pelaksanaannya? 3. Apa sajakah perawatan pasca terapi periodontal fase I? 4. Bagaimanakah Fase pemeliharaan dan Fase evaluasi dari prosedur perawatan periodontal? 1.3 Tujuan 1. Mengetahui dasar pemikiran, indikasi dan kontra indikasi dari DHE serta prosedur pelaksanaannya 2. Mengetahui dasar pemikiran, indikasi dan kontra indikasi dari scaling dan root planing dan bagaimana prosedur pelaksanaannya 3. mengetahui perawatan yang dilakukan pasca terapi periodontal fase

4. Mengetahui Fase pemeliharaan dan Fase evaluasi dari prosedur perawatan periodontal 1.4 Skenario Perawatan Non Bedah Periodontal Pasien laki-laki usia 24 tahun datang ke dokter gigi mengeluhkan adanya bau yang tidak sedap dari mulutnya. Sebelumnya pasien belum pernah mengunjungi dokter gigi untuk berobat. Setelah dilakukan pemeriksaan terlihat geligi anterior rahang bawah berdesakan, hygiene oral secara umum buruk dan dijumpai kalkulus yang menyeluruh. Gingiva tampak kemerahan, interdental papil edema dan probing mudah berdarah. Pasien didiagnosis menderita gingivitis berat karena keradangan hingga mengenai daerah gingiva cekat tetapi belum terjadi kehilangan perlekatan. Dokter menjelaskan bahwa pasien perlu perawatan periodontal yang non bedah atau biasa disebut terapi periodontal fase I. BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Cara Penentuan Rencana Perawatan Tujuan perawatan adalah menghilangkan penyakit serta membuat restorasi fungsi yang efisien. Selain itu juga membuat produksi estetik yang baik. Atau dapat pula ditambah dengan upaya mendapat kepuasan dari pasien. Dari daftar di atas terlihat bahwa perawatan periodontal tidak hanya berhubungan dengan upaya mempertahankan satu gigi tetapi juga berhubungan dengan mempertahankan semua gigigeligi tetap sehat. Walaupun demikian, tetap ada situasi di mana gigi-gigi individual harus dikorbankan untuk mendapat hasil yang lebih baik. Konsep merawat gigi-geligi sebagai unit fungsional berlawanan dengan pengajaran tradisional di mana gigi bukan gigi-geligi yang merupakan fokus perawatan. (Manson, 1993) Karena setiap pasien mempunyai masalah yang berbeda, kita tidak dapat memberikan perawatan yang kaku. Perawatan juga ditentukan oleh usia pasien, kesehatan umum, dan sikap serta aspirasinya. Selain itu, rencana kerja yang tersusun baik juga harus dibuat dengan mengingat bahwa penyimpangan dari rencana ini mungkin perlu dilakukan ketika perawatan makin berkembang. Tidak ada perawatan selain perawatan darurat yang dapat dimulai sebelum rencana yang pasti dapat dibuat dan dijelaskan kepada pasien. Garis besar berikut ini merupakan acuan perawatan: 1. Perawatan darurat 2. Pencabutan gigi dengan prognosa yang buruk 3. Informasi kepada pasien 4. Kontrol plak dan skaling 5. Modifikasi oklusal 6. Pemeriksaan ulang 7. Operasi 8. Rekonstruksi 9. Pemeliharaan (Manson, 1993) 1. Perawatan Darurat

Kontrol rasa sakit harus dilakukan sebelum perawatan lainnya, tetapi agar efektif perlu ditentukan diagnosis yang akurat. Abses alveolar yang berasal dari pulpa dapat salah didiagnosis sebagai lesi periodontal yang menyebabkan kesalahan perawatan dan tetap adanya rasa sakit. Pembengkakan bahkan yang tidak disertai rasa sakit, perlu mendapat penanganan segera. Infeksi akut memerlukan pemberian antibiotik sebelum dapat dilakukan perawatan lebih lanjut, tetapi penggunaan antibiotik hanya dapat dibenarkan bila sakit dan infeksi tidak dapat dikontrol dengan cara lain. Abses yang menonjol dan terlokalisir harus dirawat dengan insisi dan drainasi bukan dengan antibiotik. Kavitas karies yang besar dan penyakit pulpa harus dirawat. Perawatan endodontik mungkin perlu dilakukan sebagai perawatan darurat bila ada pulpitis, abses apikal atau kombinasi abses periapikal-periodontal. Gigi-gigi yang sangat goyang yang sangat mengganggu funsi harus displinting atau dicabut (Manson, 1993). 2. Pencabutan Gigi dengan Prognosa yang Sangat Buruk Keputusan untuk mencabut gigi harus didasarkan tidak hanya pada kondisi gigi tersebut tetapi juga pada keadaan jaringan penopang serta akibat yang mungkin terjadi akibat pencabutan. Bila kerusakan periodontal cukup lanjut, pencabutan gigi yang lemah dapat menimbulkan masalah prostetik. Perkembangan seperti ini perlu diantisipasi sebelum pencabutan. Pembuatan protesa lepasan mungkin perlu dilakukan pada saat ini dan desainnya harus diperhatikan walaupun sifatnya sementara (Manson, 1993). 3. Informasi Kepada Pasien Berikan waktu sebelum melakukan perawatan untuk menjelaskan kepada pasien tentang sifat masalah dan jenis perawatan yang diperlukan. Bila ada beberapa pilihan perawatan, pilihan ini bersama dengan keuntungan dan kerugiannya harus dijelaskan. Seringkali, keputusan harus dirundingkan bersama pasien dan hanya dapat diambil dengan berdasarkan pada informasi yang ada (Manson, 1993). 4. Kontrol Plak dan Skaling Kontrol plak dan skaling merupakan prosedur terpenting pada perawatan periodontal. Bila kondisi ini didiagnosis dan dirawat cukup dini, maka ini adalah bentuk perawatan satu-satunya yang diperlukan. Perawatan ini juga memberikan indikator tentang sikap pasien, kemampuan manual, dan kerjasama pasien. Bila kerjasama pasien buruk, sebaiknya jangan melakukan perawatan operasi atau perawatan lain yang rumit. Fase perawatan ini juga harus melibatkan perbaikan restorasi yang berlebih dan penggantian restorasi yang sudah rusak. Sungguh tidak realistik dan tidak dapat dibenarkan untuk mengharapkan tingkat pengkontrolan plak yang tinggi bila kondisi pasien tidak memungkinkan dilakukannya hal tersebut; oleh karena itu, semua faktor retensi plak harus dikoreksi pada tahap ini (Manson, 1993).

5. Modifikasi Oklusal Perlu dilakukan untuk menghilangkan lesi periodontal dan dapat dilakukan bersama dengan pengkontrolan plak. Ketidakharmonisan oklusal yang besar harus dihilangkan dan dibuat splint sementara untuk setiap gigi yang sangat goyang. Pada tahap ini, pergerakan gigi yang minimal perlu dilakukan. Pergerakan ini harus menyeluruh dan pesawat retensi harus dipasang sebelum dilakukan operasi. Bite guard (pelindung gigitan) sering digunakan untuk kasus mengerot yang hebat (Manson, 1993). 6. Pemeriksaan Ulang Pemeriksaan ulang dari kondisi periodontal harus dilakukan pada tahap ini. Respons jaringan terhadap perawatan dapat lebih baik daripada yang diperkirakan, sehingga tidak diperlukan atau hanya perlu dilakukan operasi minimal. Poket dapat mengecil dan gigi-gigi yang goyang menjadi stabil setelah dilakukan perawatan yang sederhana. Stabilisasi dramatis dari gigi-gigi tetangga juga dapat berlangsung setelah gigi yang terinfeksi dicabut.