Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

Katarak dan Gizi Pada Lansia


Tugas ini diajukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Gizi Lanjut Usia

Disusun Oleh : Ayu Punarsih Rahmi Nurmadinisia Rima Zeinnamira

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1432 H/ 2011 M

I.

PENDAHULUAN Salah satu ciri kependudukan abad 21 adalah meningkatnya pertumbuhan penduduk

lansia yang sangat cepat. Peningkatan jumlah lansia ini terjadi baik di Negara maju dan Negara berkembang. Gejala menuanya struktur penduduk (ageing population) juga terjadi di Indonesia. Penduduk lanjut lansia (lanjut usia) di Indonesia menunjukkan peningkatan absolute maupun relatif. Jika pada tahun 1990 jumlahnya hanya sekitar 10 juta maka tahun 2020 jumlah itu diperkirakan akan meningkat menjadi 29 juta, dengan peningkatan dari 5,5% menjadi 11,4 % dari total populasi. Menurut Dinas Kependudukan AS (1999), jumlah populsai lansia berusia 60 tahun atau lebih diperkirakan hampir mencapai 600 juta orang dan diproyeksikan menjadi 2 milyar pada tahun 2050. Peningkatan jumlah lansia akan berbanding terbalik dengan jumlah balita lebih banyak dari lansia, maka pada tahun mendatang jumlah lansia akan lebih banyak dari balita. Masalah balita tidak sama dengan masalah lansia. Masalah balita berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan, masalah lansia berhubungan dengan

ketuaan/kejompoan dan kematian. Penuaan (aging) dikaitkan dengan sejumlah besar perubahan fungsi imunitas tubuh, terutama penurunan Cell Mediated Immunity (CMI) atau imunitas yang diperantarai sel. Kemampuan imunitas kelompok lanjut usia menurun sesuai peningkatan usia termasuk kecepatan respons imun melawan infeksi penyakit. Hal itu berarti bahwa kelompok lansia beresiko tinggi terserang penyakit seperti infeksi, kanker, jantung koroner, kelainan autoimun atau penyakit kronik lainnya. Seluruh penyakit ini mudah terjadi pada lansia karena produksi imunoglobulin menurun. Akibatnya vaksinasi yang diberikan pada kelompok orang tua seringkali tidak efektif melawan penyakit. Orang-orang tua yang umumnya menderita kekurangan gizi makro dan mikro akan memiliki respons sistem dan fungsi imun yang rendah. Berdasarkan uraian di atas, maka golongan lansia akan memberikan masalah kesehatan tersendiri. Dengan usia lanjut dan sisa kehidupan yang ada, kehidupan lansia terisi dengan 40% masalah kesehatan. Sementara itu, kecendrungan perkembangan jumlah kelompok usia lanjut di Indonesia sendiri menurut M. Alwi Dahlan, yaitu seseorang disebut sebagai usia lanjut bila telah berumur 60 tahun atau lebih. Bila didasarkan usia pensiun maka usia lanjut adalah 65 tahun ke atas.

Sensus penduduk menunjukkan peningkatan jumlah penduduk sebagai berikut: Usia 65 tahun : tahun 1971 sebesar 2,98 juta (2,5%) meningkat menjadi 6,96 juta (3,88%) pada tahun 1990. Menurut perkiraan Bank Dunia kelompok ini akan menjadi 4,33% pada tahun 1995; 4,775 pada tahun 2000 dan 5,57% pada tahun 2010 serta 7,08% dalam tahun 2020. Untuk usia 55 tahun ke atas, terjadi kenaikan dari 8,9% atau 16,1 juta pada tahun 1990 menjadi 10,7% atau 18,67 juta pada tahun 2000. Kelompok usia 60+ mengalami kenaikan dari 6,9% (7,38 % juta) menjadi 7,4% atau 15,4 juta orang.

WHO sendiri mengelompokkan usia lanjut atas tiga kelompok, yaitu kelompok middle age(usia 45-59 tahun), kelompok elderly age (usia 60-74 tahun), kelompok old age(usia 75-90 tahun). Dalam profil kualitatif, dikemukakan bahwa kemajuan kesehatan yang menyebabkan penurunan angka kesakitan, peningkatan kebugaran, bertambah panjangnya umur, perubahan gaya hidup, serta pengembangan compression morbidity mempunyai potensi meningkatkan produktivitas kelompok lanjut usia.

II.

LATAR BELAKANG

Jumlah angka harapan hidup di Indonesia mengalami peningkatan. Angka harapan hidup Indonesia pada tahun 2006 adalah 70.2 tahun, kemudian diperkirakan mengalami sedikit kenaikan menjadi 70.4 tahun pada tahun 2007. Kondisi ini menunjukkan bahwa anak yang lahir pada tahun 2007 diperkirakan akan hidup rata-rata sampai umur 70.4 tahun. Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan oleh Kementrian Koordinator Kesejahteraan Rakyat , trend Usia Harapan Hidup (UHH) rakyat Indonesia terus meningkat dari 54 pada tahun 1980 menjadi 70 pada tahun 2008. UHH ini semakin meningkat apabila dibandingkan dengan UHH 5 tahun yang lalu sebagai indikator semakin meningkatnya derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Derajat kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu faktor Lingkungan, Pelayanan Kesehatan, Keturunan dan Perilaku masyarakat. Kementerian Kesehatan sebagai fokal point masalah kesehatan nasional melalui program PHBS (program hidup bersih dan sehat) melaksanakan upaya promosi kesehatan merubah perilaku tidak sehat menjadi perilaku hidup sehat. Selain itu perubahan mendasar dalam paradigma kebijakan kesehatan nasional seperti yang diamanatkan oleh UU Kesehatan Nomor 36 tahun 2009 yaitu lebih memprioritas program Promotif dan Preventif dari pada program Kuratif dan Rehabilitatif. Penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 273,65 juta jiwa pada tahun 2025. Pada tahun yang sama angka harapan hidup diperkirakan mencapai 73,7 tahun, suatu peningkatan yang cukup tinggi dari angka 69,0 tahun pada saat ini. Selain itu, dalam periode 20 tahun yang akan datang, Indonesia diperkirakan dapat menekan angka kelahiran total (Total Fertility Rate - TFR) dan angka kematian bayi (Infant Mortality Rate - IMR) serta meningkatkan proporsi penduduk usia lanjut Meningkatnya usia harapan hidup juga berperan dalam hal meningkatnya prevalensi penderita buta katarak. Jumlah penderita manula di Indonesia diperkirakan meningkat sebanyak 400% (empat kali lipat) pada tahun 2020 dibandingkan tahun 2000, sehingga tanpa invervensi program penanggulangan kebutaan katarak yang tepat akan menimbulkan masalah yang besar di masa mendatang. Penderita buta katarak di Indonesia juga cenderung berusia lebih muda (usia produktif) dibandingkan di negara-negara maju, dimana sebanyak 16% penderita buta katarak di Indonesia masih dalam usia produktif (dibawah 55 tahun). Katarak merupakan penyebab kebutaan yang pertama di dunia dimana menurut survei WHO tahun 2000 diperkirakan ada 25 juta penderita buta katarak di seluruh dunia, dimana hal ini merupakan 50% dari seluruh penyebab kebutaan lainnya. Sebagian besar penderita buta katarak berada di negara-negara berkembang, Indonesia termasuk salah satu negara dengan angka kebutaan katarak tertinggi. Survei Kesehatan Indera Penglihatan & Pendengaran tahun 1993-1996 menunjukkan angka kebutaan 1,5%, dengan penyebab utama kebutaan adalah katarak (0,78%), glaukoma (0,20%), kelainan refraksi (0,14%) dan penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan lanjut usia (0,38%).

III.

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI 1. Pengertian Lanjut Usia Proses Menua Menua (menjadi tua = aging) adalah proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Semua orang yang dikaruniai umur yang panjang, pada suatu saat pasti akan mengalami suatu proses penuaan. Proses penuaan ini tidak hanya terjadi pada suatu bagianbagian tertentu saja, tetapi seluruh bagian di tubuh kita akan mengalami proses penuaan. Hal ini dapat dilihat misalnya dengan menjadi kisutnya pipi, tumbuhnya uban pada rambut, berkurangnya proses pendengaran, mundurnya daya ingat dan kemampuan berpikir, serta berkurangnya daya penglihatan sehingga memerlukan bantuan kacamata untuk membaca (Gallo, 1998). Proses menua dapat terlihat secara fisik dengan perubahan yang terjadi pada tubuh dan berbagai organ serta penurunan fungsi tubuh serta organ tersebut. Perubahan secara biologis ini dapat mempengaruhi status gizi pada masa tua, antara lain adalah adanya penurunan indera penglihatan akibat katarak pada usia lanjut sehingga dihubungkan dengan kekurangan vitamin A, vitamin C dan asam folat. Sedangkan gangguan pada indera pengecap yang dihubungkan dengan kekurangan kadar Zn dapat menurunkan nafsu makan. Penurunan indera pendengaran terjadi karena adanya kemunduran fungsi sel saraf pendengaran.

2. Pengertian Katarak Katarak merupakan penyakit mata yang dicirikan dengan adanya kabut pada lensa mata. Lensa mata normal transparan dan mengandung banyak air, sehingga cahaya dapat menembusnya dengan mudah. Walaupun sel-sel baru pada lensa akan selalu terbentuk, banyak faktor yang dapat menyebabkan daerah di dalam lensa menjadi buram, keras, dan

pejal. Lensa yang tidak bening tersebut tidak akan bisa meneruskan cahaya ke retina untuk diproses dan dikirim melalui saraf optik ke otak. Katarak akan mempengaruhi kebanyakan orang-orang jika mereka hidupnya cukup lama (panjang umur). Kelainan-kelainan ini mempengaruhi 60 persen dari orang-orang yang lebih tua dari 60 tahun dan terjadi ketika lensa-lensa mata berukuran aspirin yang normalnya jernih mulai menjadi berkabut mengganggu atau memperburuk penglihatan.

Gejala umum gangguan katarak meliputi :


a) b) c) d) e)

Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek. Peka terhadap sinar atau cahaya. Dapat melihat dobel pada satu mata. Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca. Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.

3. Jenis Katarak 1. Congenital, merupakan katarak yang terjadi sejak bayi lahir dan berkembang pada tahun pertama dalam hidupnya. Jenis katarak ini sangat jarang terjadi. 2. 3. Traumatik, merupakan katarak yang terjadi karena kecelakaan pada mata. Sekunder, katarak yang disebabkan oleh konsumsi obat seperti prednisone dan kortikosteroid, serta penderita diabetes. Katarak diderita 10 kali lebih umum oleh penderita diabetes daripada oleh populasi secara umum.

Katarak yang berkaitan dengan usia, merupakan jenis katarak yang paling umum. Berdasarkan lokasinya, terdapat 3 jenis katarak, yakni nuclear sclerosis, cortical, dan posterior subcapsular. Nuclear sclerosis merupakan perubahan lensa secara perlahan sehingga menjadi keras dan berwarna kekuningan. Pandangan jauh lebih dipengaruhi daripada pandangan dekat (pandangan baca), bahkan pandangan baca dapat menjadi lebih baik. Penderita juga mengalami kesulitan membedakan warna, terutama warna

birru. Katarak jenis cortical terjadi bila serat-serat lensa menjadi keruh, dapat menyebabkan silau terutama bila menyetir pada malam hari. Posterior subcapsular merupakan terjadinya kekeruhan di sisi

belakang lensa. Katarak ini menyebabkan silau, pandangan kabur pada kondisi cahaya terang, serta pandangan baca menurun.

4. Penyebab katarak Penyebab katarak antara lain meliputi :


Faktor keturunan. Cacat bawaan sejak lahir. Masalah kesehatan, misalnya diabetes. Penggunaan obat tertentu, khususnya steroid. Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup lama. Operasi mata sebelumnya. Trauma (kecelakaan) pada mata Katarak dapat pula terjadi pada bayi karena sang ibu terinfeksi virus pada saat hamil muda

IV.

PEMBAHASAN

Kaitan katarak dengan status gizi dan fisiologis pada lansia Proses menua dapat terlihat secara fisik dengan perubahan yang terjadi pada tubuh dan berbagai organ serta penurunan fungsi tubuh serta organ tersebut. Perubahan secara biologis ini dapat mempengaruhi status gizi pada masa tua salah satu gangguan yang terjadi adalah penurunan indera penglihatan akibat katarak pada usia lanjut sehingga dihubungkan dengan kekurangan vitamin A, vitamin C dan asam folat. Selain itu, dengan banyaknya gigi geligi yang sudah tanggal, mengakibatkan gangguan fungsi mengunyah yang berdampak pada kurangnya asupan gizi pada usia lanjut. Hal lain yang berhubungan adalah penurunan mobilitas usus, yang menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti perut kembung, nyeri yang menurunkan nafsu makan lanjut usia yang juga berakibat pada berkurangnya asupan zat gizi ke

dalam tubuh. Zat gizi yang berguna untuk membantu mempertahankan kesehatan mata: Lutein dan Zeaxantin Lutein dan Zeaxantin terdapat dalam sayuran hijau seperti bayam, dan telur. Lutein dan Zeaxantin berguna untuk mencegah kerusakan oksidatif pada retina. Banyak penelitian menunjukkan bahwa konsumsi lutein dan zeaxantin dapat mengurangi risiko terkena penyakit mata kronis, termasuk degenerasi makula yang disebabkan oleh usia tua dan katarak. Apabila makanan Anda kurang mengandung lutein, maka dapat mengonsumsi suplemen lutein dengan dosis antara 6 sampai 30 miligram (mg) per hari. Vitamin C Vitamin C adalah vitamin yang bersifat antioksidan dan banyak terdapat pada buah dan sayuran. Penelitian menunjukkan konsumsi vitamin C dapat menurunkan risiko katarak. Apabila dikonsumsi bersama zat gizi lainnya, vitamin C dapat membantu memperlambat degenerasi makula yang disebabkan oleh usia tua. Penelitian lain menunjukkan orang yang mengonsumsi buah-buahan dan sayuran jarang mengalami gangguan mata dibandingkan dengan orang yang nyaris tidak pernah

mengonsumsinya. Penelitian yang disponsori oleh National Institute of Health menunjukkan bahwa konsumsi vitamin C, vitamin E, beta karoten, seng, dan tembaga secara berbarengan dapat membantu mencegah kebutaan pada penderita degenerasi makula akibat usia tua. Vitamin E Vitamin E juga bersifat antioksidan dan banyak ditemukan dalam kacang-kacangan, sereal yang difortifikasi. Vitamin E melindungi mata dengan cara melindungi sel-sel mata dari oksidasi oleh radikal bebas. Penelitian menunjukkan konsumsi vitamin E dapat memperlambat pembentukan katarak. Glutation Penelitian mengenai pengaruh konsumsi glutation terhadap katarak menunjukkan nahwa konsumsi 500 mg glutation setiap hari efektif mencegah katarak. Glutation banyak terdapat dalam telur, bawang putih, bawang merah, asparagus, dan alpukat.

Asam lemak esensial Ada 2 asam lemak omega-3 yang penting bagi fungsi retina dan perkembangan mata yang optimal, yaitu DHA (Docosahexaenoic acid) dan EPA (Eicosapentaenoic acid). Beberapa penelitian pada hewan menunjukkan penghilangan DHA dari diet menunjukkan hasil gangguan penglihatan dan degradasi retina. Selain itu, retinopati diabetik, degenerasi makula akibat usia tua, dan kekeringan pada mata juga berhubungan dengan kekurangan omega-3. EPA and DHA banyak ditemukan pada ikan laut dalam. Seng Seng adalah mineral mikro yang berguna mengangkut vitamin A dari hati ke retina untuk produksi melanin, yaitu pigmen yang melindungi mata. Seng banyak terdapat di mata, terutama bagian retina dan koroid. Penelitian menunjukkan ada hubungan antara defisiensi seng dengan penglihatan yang terganggu. Defisiensi seng juga dapat menyebabkan gangguan penglihatan di malam hari dan katarak. Beberapa makanan sumber seng adalah daging merah, ikan dan hasil laut, unggas, dan kacangkacangan. Prevalensi katarak di Indonesia Prevalensi nasional Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun 1,8% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). Sebanyak 12 provinsi mempunyai prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun diatas prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, DKI Jakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, dan Papua Barat. Secara nasional, 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun tertinggi adalah Aceh Selatan (53,2%), Boalemo (47,6%), Aceh Barat Daya (41,5%), Pidie (40,6%), Jeneponto (40,0%), Pasaman (39,2%), Maluku Tenggara (38,5%), Timor Tengah Utara (36,7%), Kampar (35,6%), dan Luwu Utara (35,5%). Sedangkan 10 kabupaten/kota dengan prevalensi Katarak Pada Penduduk Umur > 30 Tahun terendah adalah Yahukimo (1,1%), Kota Metro (1,6%), Kota

Magelang (2,1%), Karanganyar (2,3), Madiun (2,6%), Lampung Utara (3,5%), Jombang (3,5%), Mojokerto (3,6%), Bondowoso (3,8%), dan Karo (3,8%). Persentase nasional penderita Katarak pada penduduk umur > 30 tahun yang pernah menjalani operasi Katarak adalah 18,0% (berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan). Sebanyak 16 provinsi mempunyai persentase penderita Katarak pada penduduk umur > 30 tahun yang pernah menjalani operasi Katarak dibawah persentase nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Tengah, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat dan Papua. (RISKESDAS 2007) Evaluasi Program pemerintah terkait intervensi terhadap masalah Pemerintah memiliki program khusus untuk menangani kasus katarak di Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari adanya Keputusan Menteri Kesehatan RI Rencana Strategi Nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan Untuk Mencapai Vision 2020. Namun program yang secara khusus menangani masalah kesehatan lansia adalah adanya posyandu khusus lansia.

Pemanfaatan Pelayanan Posyandu Lansia

Kebijakan Departemen Kesehatan dalam pembinaan kesehatan lansia merupakan upaya yang ditujukan untuk peningkatan kesehatan, kemampuan untuk mandiri, produktif dan berperan aktif dalam komprehensif, azas kekeluargaan, pelaksanaan sesuai protap, dan kendali mutu (Depkes RI, 2003). Kebijakan tersebut dilakukan dengan pendekatan holistic, pelaksanaan terpadu, pembinaan komprehensif tersebut terdiri dari:

1. Pembinaan kesehatan yang mencakup kegiatan: a. Promotif, antara lain penyuluhan tentang PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), penyakit pada lansia, gizi, upaya meningkatkan kebugaran jasmani, kesehatan mental, dan kemandirian produktifitas.

b. Preventif, antara lain deteksi dini dan pemantauan kesehatan lansia yang dapat dilakukan POKSILA/puskesmas dengan menggunakan KMS Lansia, buku pemantauan kesehatan pribadi lansia. 2. Pelayanan kesehatan yang mencakup kegiatan; a. Kuratif, antara lain pengobatan bagi lansia yang sakit baik di Poksila, Pustu, Puskesmas/Rumah Sakit. b. Rehabilitatif, antara lain upaya medis, psikososial, edukatif untuk dapat mengembalikan kemampuan fungsional dan kepercayaan diri lansia. 3. Konseling yang mencakup kegiatan: a. Tidak sama dengan penyuluhan. b. Dilaksanakan oleh Konseler. c. Upaya memecahkan masalah kesehatan dan psikologis lansia. d. Dapat berfungsi preventif, promotif, kuratif, maupun rehabilitatif. 4. Pendekatan individu maupun kelompok. 5. Home Care yaitu Bentuk pelayanan kesehatan komprehensif yang dilakukan di rumah klien/lansia. Melibatkan klien serta keluarga sebagai subjek untuk berpartisipasi dalam kegiatan perawatan dalam bentuk tim (tenaga

professional/non professional di bidang kesehatan maupun non kesehatan). Bertujuan memandirikan klien dan keluarganya. Dalam kegiatan pelayanan kesehatan bagi lansia, maka dilaksanakan kegiatan di posyandu bagi lansia, agar lansia dapat mencapai hidup sehat sesuai dengan tujuan pembangunan nasional Indonesia dan Indonesia Sehat 2010.

Kegiatan yang dilakukan di posyandu bagi lansia antara lain adalah: 1. Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan, seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya. 2. Pemeriksaan status mental. 3. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan dicatat pada grafik indeks masa tubuh (IMT).

4. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi selama satu menit. 5. Pemeriksaan hemoglobin menggunakan talquist, sahli atau cuprisulfat 6. Penyuluhan Kesehatan. 7. Pemberian makanan tambahan (PMT). 8. Kegiatan olah raga, antara lain senam usia lanjut, gerak jalan santai, dan sebagainya untuk meningkatkan kebugaran (Lasma, 2007). Salah satu upaya yang telah dilakukan untuk peningkatan kesehatan terutama dalam menunjang status gizi lansia dan pencegahan penyakit, dilakukan melalui pemantauan keadaan kesehatan para lansia secara berkala dengan menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS) lansia,dengan harapan gangguan kesehatan lansia dapat dideteksi lebih dini untuk mendapatkan pertolongan secara cepat, tepat dan memadai sesuai dengan keinginan yang diperlukan (Depkes RI, 2003).

DAFTAR PUSTAKA

http://www.bappenas.go.id/node/142/1277/tahun-2025-angka-harapan-hidup-pendudukindonesia-737-tahun/ diakses pada 23 November 2011 http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2011/02/06/usia-harapan-hidup-rakyat-indonesia/ diakses pada 23 November 2011 http://www.oocities.org/infokeben/katarak.htm diakses tanggal 21 November 2011 http://www.rsmyap.com/content/view/8/43/ diakses tanggal 21 November 2011 http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22671/4/Chapter%20II.pdf diakses tanggal 21 November 2011 http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6377/1/10E00162.pdf diakses tanggal 21 November 2011

http://www.vision2020australia.org.au/assets/content/2168/INDONESIA%20%20National%20Strategic%20Plan.pdf diakses tanggal 23 November 2011 http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/09/penanggulangan_kebutaan_katarak_terpadu.pdf tanggal 23 November 2011 http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_kepmenkes/KMK%20No.%201473%20ttg%20Ren cana%20Strategi%20Nasional%20Penanggulangan%20Gangguan%20Penglihatan%2 0Untuk%20Mencapai%20Vision%202020.pdf diakses tanggal 24 November 2011 diakses