Anda di halaman 1dari 84

Hafsoh Armiya Laksita Judith Tabina Febiana Hestin Dhias Kartika Ningrum Dian Puspitasari Alys ska Dhi

a Wijaya Eko Hastuti Musho a Nessa kartika Dina Lut a Hanifah Jusuf A.N. Diana Putri Sri Maryati Suki Turyanti Pengantar EKA BUDIANTA

GURU KEHIDUPAN

Kumpulan Cerpen Pemenang Tirto Utomo Award 2012

WIDYA TARUNA LOKA PERPUSTAKAAN UMUM WONOSOBO

Ketua Pelaksana TIRTO UTOMO FOUNDATION, Ir. Gideon Sulistio (kanan) memberikan plakat untuk sebuah perpustakaan desa di Kabupaten Wonosobo. Terdapat lebih dari 12 perpustakaan tingkat desa yang mendapatkan dukungan dan berkomunikasi secara rutin. Dari perpustakaan ini diharapkan muncul bakat-bakat unggul dan cendekiawan bangsa Indonesia di masa datang. Moto dari program dukungan untuk perpustakaan ini adalah Membangun Masyarakat Membaca.

ii

Kumpulan Cerpen Pemenang Tirto Utomo Award 2012

GURU KEHIDUPAN

Bekerja Sama Dengan

WIDYA TARUNA LOKA PERPUSTAKAAN UMUM WONOSOBO

Bpk. TIRTO UTOMO, S.H.


(1930 1994) Lahir di Wonosobo, 8 Maret 1930 Wafat di Jakarta, 16 Maret 1994 Beristirahat Abadi Di Wonosobo

iv

ISI BUKU
Pengantar Dewan Juri Penghargaan dan Terima Kasih Karya-Karya Pemenang Lomba Tingkat SD Aku Ingin Sekolah Hafsoh Armiya 2 Sebuah Pelajaran Laksita Judith Tabina 5 Seandainya Aku Seorang Guru Febiana Hestin 7 Tingkat SMP dan SMA Kenangan untuk Pak Ridwan Dhias Kartika Ningrum 10 Weneby Kenanganku Dian Puspitasari 16 Berpetualang di Negeri Ilmu Alys ska Dhi a Wijaya 23 Tingkat Umum dan Mahasiswa Guru Kehidupan Eko Hastuti 27 Dia Telah Pergi Musho a 33 Menjadi Guru di kampung Halaman Nessa Kartika 39 Karya-Karya dengan Karya Khusus Kutemukan Mutiara dari Dinda Dina Lut a Hanifah 43 Anak Bungsu Sepasang Guru Jusuf A.N. 49 Seandainya Aku Seorang Guru Diana Putri 55 Mimpi Ranny Sri Maryati 58 Jasa Guruku Suki Turyanti 66 Keputusan Dewan Juri - 72 Sekilas tentang Tirto Utomo Foundation 74 Supervisor : Persiapan Naskah : Penerbit : Desain & Layout : Percetakan: Cetakan Pertama: Jusniati Suganda Winarsih Tirto Utomo Foundation Anton Ristiono Penebar Swadaya Maret 2012

PENGANTAR DEWAN JURI

MARI SELALU MENGHARGAI GURU

ntuk ketiga kalinya Tirto Utomo Foundation mengadakan lomba mengarang untuk para pencinta pencinta perpustakaan daerah di Wonosobo. Pertama kali, pada tahun 2010 kami memilih topik menghargai air. Yang kedua, tahun 2011, menghargai teman. Kedua lomba itu dituangkan dalam bentuk puisi. Hasilnya sangat memuaskan, baik bagi peserta maupun penyelenggara, dan perpustakaan yang menampung hasilnya.

bahwa meskipun sudah diwajibkan belajar 9 tahun, masih ada juga yang tidak sanggup menyelesaikan sekolah dasar.

Hafsoh Armiya mengajukan dua cerita pendek dalam lomba ini. Kedua tulisannya menunjukkan bakat besar yang cukup menjanjikan. Hal yang sama juga tampak pada pemenang tingkat SMP. Namanya Dhias Kartika Ningrum dari Perpustakaan Gemilang Catur Sakti. Dhias menyertakan tiga tulisan yang hidup dan menyenangkan. Karyanya yang Pada kali ketiga ini lomba diperluas. Bukan menang berjudul Sebuah Kenangan Untuk Pak hanya untuk anak sekolah, tetapi juga untuk Ridwan. Tentu, isinya tentang guru idola yang mahasiswa dan umum. Bentuknya bukan wafat setelah bekerja keras. menulis puisi, melainkan cerita pendek. Sambutan para peserta sungguh luar-biasa. Kisah wafat dan kesengsaraan guru menjadi Hanya dalam waktu singkat kami menerima 89 inspirasi yang menonjol bagi kalangan umum judul, yang terdiri atas 35 karya peserta Sekolah dan mahasiswa. Pak Musho a, seorang guru Dasar, 38 karya SMP dan SMA, serta 16 karya SMP Negeri 1 Leksono, Kabupaten Wonosobo, mengirim kisah Dia Telah Pergi. Isinya mahasiswa dan umum. menguraikan kematian seorang guru bernama Pemenang Pertama untuk tingkat SD adalah Hary yang meninggal karena terjatuh ketika Hafsoh Armiya, dari Perpustakaan Al Madani, membetulkan seng atap rumahnya. dengan karya berjudul Aku Ingin Sekolah. Isinya menceritakan kehidupan anak seorang Kisahnya rinci dan mengharukan. Patut pemulung yang ingin bersekolah agar dihargai karena datang dari kalangan guru, dan bisa mencapai cita-citanya, yaitu menjadi membuat kita menghargai profesi itu. Musho a Sedangkan seorang guru. Cerita ini menyadarkan kita, memenangkan juara kedua.

vi

pemenang utamanya adalah Eko Hastuti dari Perpustakaan Srikandi. Ia menyertakan cerita berjudul Guru Kehidupan yang pantas dipakai sebagai judul buku ini.

Untuk Kategori SMP / Madrasah Tsanawiyah dan SMA / SMK: 1. Dhias Kartika Ningrum dari Perpustakaan Gemilang Catursakti, Wonokasihan, Sojokerto, dengan cerita Memang buku ini memuat Sembilan karya Sebuah Kenangan Untuk Pak Ridwan. pemenang dari ketiga kategori: Sekolah Dasar; 2. Dian Puspitasari dari Perpustakaan SMP-SMA: serta Mahasiswa dan Umum. Tetapi, Gemilang Catursakti, dengan cerita selain sembilan pemenang, masih ada lima Waneby Kenanganku. orang nalis yang mendapat penghargaan 3. Alys ska Dhi a Wijayadari Perpustakaan khusus. Karya-karya mereka pantas dijadikan Srikandi, dengan cerita Bertualang di bahan renungan, sudahkah kita menghormati Negeri Ilmu. dan menghargai para guru. Untuk Kategori Sekolah Dasar (SD) dan Kelima peserta yang mendapat penghargaan Madrasah Ibtidaiyah: khusus adalah: (1) Dina Lut a Hanifah, siswi 1. Hafsoh Armiya dari Perpustakaan Al kelas 8 SMPN Kertek yang giat membaca di Madani dengan karyanya Aku Ingin Perpustakaan Widya Graha. (2) Jusuf A.N., Sekolah seorang novelis, lulusan Fakultas Syariah, UIN 2. Laksita Judith Tabina dari Perpustakaan Sunan Kalijaga, Yogyakarta; yang tinggal di Kabupaten Wonosobo dengan karyanya kampung Ngemplak, Kelurahan Selomerto, Sebuah Pelajaran Wonosobo. (3) Diana Putri dari Perpustakaan 3. Febiana Hestin dari Perpustakaan AlMTS Muhammadiyah, Butuh. (4) Sri Maryati, Manan dengan karyanya Seandainya Aku seorang mahasiswi yang aktif di Perpustakaan Seorang Guru Selokromo. (5) Suki Turyanti dari Perpustakaan SMP Negeri 3, Wonosobo. Sembilan juara inilah yang mendapatkaan Hadiah Tirto Utomo atau Tirto Utomo Award Sedangkan urutan pemenangnya untuk untuk Lomba Menulis 2012. Bersama dengan Kategori Mahasiswa dan Umum adalah: lomba ini juga diadakan lomba majalah dinding 1. Eko Hastuti dari Perpustakaan Srikandi (Mading) untuk perpustakaan daerah yang dengan cerita Guru Kehidupan tersebar di lebih dari 12 desa. 2. Musho a dari Perpustakaan Smart, Kelurahan Tawangsari dengan cerita Dia Ada tiga tujuan utama dari lomba penulisan Telah Pergi. cerpen ini.Pertama, untuk meningkatkan 3. Nessa Kartika dari Perpustakaan Istana kegiatan membaca dan menulis yang Rumbia, Lipursari, dengan cerita Menjadi dipromosikan melalui perpustakaan, Guru di Kampung Halaman. khususnya di daerah Wonosobo. Kedua, untuk memperingati dan menghormati jasa para guru

vii

yang telah berbakti kepada masyarakat. Dalam hal ini kami mengenang jasa almarhum Bapak Tirto Utomo S.H (1930-1994), putera Wonosobo yang mengajarkan hidup sehat dan inovatif melalui industrialisasi air minum. Ketiga, untuk mengisi kegiatan tahunan setiap bulan Maret yang merupakan ulang tahun Perpustakaan sekaligus mengenang hari kelahiran dan wafatnya almarhum Bapak Tirto Utomo S.H. Semoga kegiatan ini memberikan inspirasi dan dapat dilanjutkan sebagai tradisi yang berkelanjutan.

Kepada para pemenang diucapkaan selamat. Semoga pengalamannya mengikuti lomba ini dapat mendorong untuk lebih giat dan meningkatkan karya prestasinya di masa-masa mendatang. Wonosobo, 11 Maret 2012 Teriring salam, EKA BUDIANTA Ketua Dewan Juri TIRTO UTOMO AWARD 2012

Bapak Drs. H. Susanto Kepala Perpustakaan Umum Wonosobo Memberikan Sambutan dalam Penyerahan Tirto Utomo Award 2010

viii

PENGHARGAAN DAN TERIMA KASIH


Tirto Utomo Foundation menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para kolega, petugas perpustakaan, para guru dan para relawan yang telah mendukung pelaksanaan lomba ini. Terutama kepada Ibu Hartati Ngesti S.Sos, dari Perpustakaan umum Kabupaten Wonosobo yang telah mengkoordinir perlombaan menulis cerpen dan menyusun majalah dinding dengan sangat baik. Terima kasih yang tulus ikhlas kami sampaikan kepada: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Perpustakaan Al-Bidayah Perpustakaan Al-Madani Perpustakaan Al-Manan Perpustakaan Bergema Perpustakaan Cemerlang Sambek Perpustakaan Fatimah Az Zahra Perpustakaan Gemilang Catur Sakti Perpustakaan Istana Rumbia Perpustakaan Kabupaten Wonosobo Perpustakaan Puspasari Sariyoso Perpustakaan Smart Perpustakaan Srikandi Perpustakaan Tumenggung Jogonegoro

Aku Ingin Sekolah


HAFSOH ARMIYA Perpustakaan Al Madani

engais sampah itulah pekerjaanku. Namaku Tono, Aku berumur 11 tahun. Sekarang aku tidak sekolah. Dulu aku pernah sekolah sampai kelas III SD. Aku pernah diajari tentang cita-cita. Cita-citaku ingin menjadi seorang guru. Karena orang tuaku tidak mampu, aku tidak melanjutkan sekolahku. Aku harus turut mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluargaku. Ayahku telah tiada, Beliau meninggal saat sedang membersihkan jalan. Beliau terserempet mobil yang melaju sangat kencang.

keranjang itu layaknya anak-anak yang lain menggendong tas sekolah. Aku berpamitan pada ibuku dan berangkat mencari barang bekas. Aku berjalan dari satu tempat sampah ke tempat sampah yang lain, mengorek-ngorek sampah. Aku sudah mendapat gelas-gelas air mineral dan berjalan menuju pusat pembuangan sampah.

Sesampainya di sana ternyata sudah ada beberapa pemulung mencari sampah yang masih laku dijual. Aku turut mencari sampah di Sedangkan ibu hanyalah seorang situ. Namun, apa yang aku peroleh? Aku hanya pembuat Angpo, yang hanya sedikit orang memperolah rasa sakit di kaki. Ternyata ada memerlukannya. Angpo adalah sejenis obat paku menancap di kakiku. Aku memang tidak yang dapat menyembuhkan berbagai macam memakai alas kaki. penyakit. Penghasilanku mengais sampah juga tak seberapa hanya 5-12 ribu rupiah perhari. Darah mengucur membasahi setiap langkahku. Itupun kalau barang bekas yang aku bawa Aku berjalan menuju tempat sampah yang lain. banyak. Harga barang bekas hanyalah Rp 1500,- Di tengah perjalanan, aku berhenti sejenak, per kg besi, Rp 300,- untuk satu botol syrup kaca sekedar untuk mengelap darah yang keluar dari kakiku. Dengan sebuah saputangan dan Rp 800,- untuk botol plastik. berwarna merah kusam. Kemudian aku Hari ini aku bangun pukul 04.30 WIB, Aku segera mencari daun yang dapat mengobati lukaku. pergi ke belakang dan menimba air di sumur Daun itu kugosok-gosok dengan tanganku lalu untuk membasuh muka dan berwudhu, lalu kutempelkan pada luka di kakiku. sholat subuh. Setelah sholat aku mengganti bajuku, lalu keluar. Di luar tergeletak keranjang Aku meneruskan perjalananku, di dekat besar dan besi yang seperti sabit untuk perempatan sana ada tempat sampah yang di mengambil botol-botol plastik. Aku gendong depannya ada sekolahan. Aku melihat anak-

anak sedang bermain dan berlari-lari. Ingin sekali rasanya bisa bersekolah kembali. Setelah merenung beberapa saat aku dikagetkan oleh seorang guru yang mendekatiku. Karena kaget aku lari sekuat tenaga sambil menahan rasa sakit. Setelah agak jauh aku berhenti untuk menghilangkan rasa lelah. Tak sengaja aku merebahkan badanku lalu tertidur. Setelah lama tertidur, ada air yang mengguyur tubuhku yang kukira itu adalah hujan. Aku terbangun dan berteriak hujan...hujan.... Ternyata bukan hujan, tetapi seorang wanita yang membawa ember berisi air yang ia gunakan untuk membasahi tubuhku. Badanku terasa dingin. Rupanya wanita itu tidak suka kalau aku tidur di tempat ini. Orang itu marahmarah dan membentakku, Eh ...pemulung kurang ajar kamu ya...Tidur di sembarang tempat, memangnya tidak punya rumah apa? Orang tuamu kerja apa? Huhhh...!

Karena takut aku lari lagi. Sampai akhirnya melihat gundukan sampah yang banyak gelas dan botol-botl plastik disana. Aku pungut semua plastik yang berserakan. Setelah memungut barang bekas di tempat itu, keranjang sampahku terisi penuh. Aku segera berjalan menuju tempat pengolahan barang bekas. Allahu akbar-Allahu akbar. Suara adzan dikumandangkan, aku dan ibuku segera Tempat pengolahan sudah dekat, aku berwudhu dan mengerjakan sholat. Kami mempercepat langkahku. Sampai di tempat berdoa pada Allah SWT, agar kami selalu diberi pengolahan, barang-barang bekas yang aku kesehatan dan ketabahan dalam menghadapi peroleh ditimbang. Aku mendapatkan 6 kg semua cobaan. barang bekas, uang yang aku terima adalah Setelah sholat Isya aku segera tidur. Aku tertidur Rp 4800,-. Dengan jalanku yang pincang, aku sangat nyenyak dan bermimpi. Aku dapat pulang ke rumah. melanjutkan sekolahku, sampai aku menjadi

Sesampainya di rumah, ibu sudah menanti kedatanganku. Aku segera pergi ke belakang menimba air di sumur, kemudian mandi. Selesai mandi aku berpakaian dan mengerjakan sholat dhuhur dan ashar yang aku qada. Setelah sholat, aku berjalan menuju ruang makan, ibu telah menungguku di ruang makan dan bertanya. Nak, mengapa jalanmu pincang seperti itu? Oh ini bu, ehmm...Ini tadi Tono kakinya tertancap paku bu... Kamu pasti tidak hati-hati, lain kali kamu harus lebih hati-hati. Ya bu... Sini, makan dulu kamu pasti lapar. Iya kan? Ibu tahu saja. Aku makan dengan sangat lahap. Seusai makan aku duduk di pelataran rumah. Entah apa yang aku pikirkan. Ibu keluar dan duduk di sampingku. Eh Ibu, aku tadi mendapat uang Rp. 4800,- ini uangnya. Nak sebenarnya ibu tidak tega melihatmu bekerja seperti ini, tapi apa boleh buat penghasilan Ibu menjual Angpo tidak cukup untuk menyekolahkanmu, kata Ibu sedih. Biarlah Bu, Tono tidak sekolah, yang penting kita bisa selalu bersama, iya kan Bu? Iya Nak.

sarjana. Aku dapat menggapai cita-citaku menjadi seorang guru, yang dermawan, baik budi, rendah hati, serta mengajar anak-anak di Sekolahan. Tapi, itu semua hanyalah mimpi dan khayalanku saja. Itu semua hanyalah mimpi, mimpi, dan selalu saja mimpi. Sebenarnya aku ingin sekali melanjutkan

sekolahku, agar aku dapat mencapai citacitaku menjadi sosok seorang guru yang cerdas, terampil, baik budi pekertinya, dan dapat menularkan ilmunya pada anak-anak yang akan memimpin bangsa dan negara di masa mendatang. Sungguh mulia dan berjasa sebenarnya seorang guru itu. ***

Sebuah Warung Baca untuk Generasi Penerus

LAKSITA JUDITH TABINA Perpustakaan Kabupaten Wonosobo

Sebuah Pelajaran

ku membaca sekali lagi puisi yang dibuat oleh salah seorang murid kelas 5. Puisi itu sangat menarik hatiku. Padahal aku hanya minta pada murid-muridku untuk membuatnya selama 1 jam saja. Tapi ternyata ada seorang anak yang bisa menyelesaikan dengan hasil yang sungguh luar biasa. Aku lalu membaca nama yang tertulis di bagian bawah puisi itu, Nessa Mareta. Aku mengerutkan kening. Aku tahu Nessa Mareta, karena hampir semua anak selalu mengejek dirinya dengan panggilan si Gagap. Tapi yang tak kutahu adalah ternyata ia memiliki bakat yang tak terduga.

Nessa tergagap-gagap. Hi...hi...hi...tiba-tiba seluruh kelas tertawa keras. Anak-anak,diam!perintahku tegas. Tetapi masih saja terdengar tawa dari beberapa anak saat Nessa kembali membaca puisinya dengan tergagap-gagap. Anak-anak, teriakku kesal. Kalau kalian masih saja tertawa, bu Sarah akan menyuruh kalian membuat karangan Seandainya aku jadi bahan tertawaan sebanyak 10 lembar! ancamku keras.

Kelas langsung hening. Aku memandang Nessa yang masih berdiri di Nessa Mareta. aku mendongak dan menatap dekat mejaku. Wajahnya tampak pucat. Kamu deretan bangku paling belakang tempat ia boleh kembali ke tempatmu, sekarang. duduk. Tolong, ke depan sebentar! perintahku. Tadinya aku yakin Nessa akan senang. Tapi yang Nessa mendekati mejaku dengan penuh tanda kulihat adalah perasaan sedih di wajahnya. tanya. Dan Nessa berjalan ke tempat duduknya Puisimu indah sekali, pujiku tulus. Bu Sarah tanpa mengucap kata terima kasih padaku. ingin kamu membacanya untuk teman-teman Aku menghela nafas panjang karena merasa sekelas, sambungku sambil menyodorkan kecewa dengan tingkahnya. Aku kemudian memandang ke seluruh isi kelas. kertas yang berisi puisi karangannya. Nessa menyambut kertas itu lalu terdiam hingga membuat semua anak memandangnya dengan tak sabar. Nya...nya...nyi...a..an...a..a...nak...pu...pu...lau..., Anak-anak, puisi-puisi yang telah kalian buat ini semuanya bagus. Bu Sarah bangga sekali karena ternyata kalian begitu pandai menulis puisi. Dan Bu Sarah memberi waktu kalian selama

1 minggu untuk menghafalnya di rumah. Jadi Aku terpukau mendengar suaranya. Meski minggu depan kalian harus membacanya di awalnya ia terbata-bata tetapi sesaat kemudian depan kelas, beritahuku kemudian. ia mampu membaca puisinya dengan lancar. Ketika Nessa selesai membacakan puisinya tak Aku lalu memanggil satu-persatu anak untuk ada satu anakpun yang berbicara. Seluruh kelas mengembalikan karangan mereka. Tapi ketika seperti tersihir. Tiba-tiba teman sebangku Nessa aku memanggil Nessa ia menerima kertas bertepuk tangan dengan keras. Dan semua karangannya tanpa berkata apa-apa. anak seperti tersadar lalu mengikuti jejaknya. Aku hanya berdiri dengan mata berkaca-kaca. **** Nessa, kamu hebat! teriak anak-anak serempak sambil tetap bertepuk tangan. Seminggu kemudian aku memasuki kelas dengan heran. Entah kenapa hari ini anak- Selamat ya, Nak, Aku mendekati Nessa dengan anak begitu diam padahal biasanya kelas 5 perasaan bangga. Pembacaan puisimu benarterkenal tak bisa menjaga ketenangan. Setelah benar memukau. mengucapkan salam semua anak duduk dengan rapi. Te...terima kasih, Bu Sarah, ya. Karena sebelumnya telah meragukan kemampuanmu. Seperti janjiku minggu lalu hari ini aku meminta Padahal engkau begitu hebat, ungkapku jujur. anak-anak untuk maju dan membacakan Nessa menganggukan kepalanya dan berjalan puisinya. Hampir semua anak membaca menuju bangkunya. puisinya dengan indah. Ketika sampai pada nomor absen 19 Aku terdiam sejenak. Dari meja guru aku memandangnya dengan puas. Aku yakin semua anak tidak akan Nesa Mareta! panggilku enggan karena tak mengejek Nessa dan memanggilnya si Gagap yakin ia mampu membacakan puisinya. lagi. Nessa telah membuktikan bahwa ia anak yang luar biasa. Dan aku bersyukur karena Aku terkejut saat ia maju dengan penuh tekad. Nessa telah memberiku sebuah pelajaran. Matanya tampak menatap lurus ke depan. Tak Bahwa aku harus belajar memberi kesempatan ada perasaan takut di raut wajahnya yang pucat. kepada murid-muridku di saat begitu banyak Seisi kelas mendadak hening. Mungkin mereka orang yang meragukannya. juga seperti Aku yang menunggu dengan berdebar-debar. Aku memasang lebar-lebar **** telingaku saat ia mulai membacakan puisinya. Nya...nya...nyian Anak Pulau Dari jauh terdengar suara indah, Debur ombak yang saling berkejaran...

Seandainya Aku Seorang Guru


FEBIANA HESTIN Perpustakaan Al - Manan

agi itu langit cerah, tak segumpal awan kelihatan mengambang wajah matahari tampak bersinar menenrangi jalan yang berbelok. Sesekali terdengar kelepak burung terbang seakan melempa ucapan selamat pagi kepada guruku yang terdiri di samping pintu gerbang sekolah.

guru Pendidikan Agama Islam mereka. Termasuk juga Atika, atau yang sering juga dipanggil dengan nama Tika. Atika membuka-buka Pendidikan Agama Islam. buku pelajaran

Atika, sapa Pak Nami, rajin sekali kamu? Tak terasa jam dinding menunjukkan pukul tujuh, bel tanda masuk sekolah berbunyi semua Ya, Pak. Saya senang membaca buku. siswa bergegas masuk kelas. Di luar tampak sepi hanya sesekali terdengar deru suara kendaraa Atika, buku apa yang sering kamu baca ? bermotor melaju menguak kesunyian. Mendengar pertanyaan guru itu, ia diam dengan menundukkan kepala seperti sedang Assalamualaikum, anak-anak! memikirkan sesuatu yang selalu merisaukan Pak Nami, guru Pendidikan Agama Islam guru hatinya. Baca Tulis Al-Quran, tiba-tiba masuk ke ruang kelas VI. Semua anak yang tadinya bermain- Melihat wajah Atika yang tiba-tiba keruh itu, main sendiri sembari menunggu kedatangan Pak Nami heran. Kemudian tanya, Mengapa guru Pendidikan Agama Islam mereka pun Atika ? langsung menjawab salam. Atika tidak segera menjawab, ia mengangkat Waalaikumsalam, Pak Nami ! kepalanya dan kemudian menatap wajah gurunya. Baik anak-anak. Kita mulai pelajaran hari ini. Mari kita adakan tanya jawab tentang materi Hati Pak Nami berdebar memandang tatapan pelajaran yang telah pak guru sampaikan pada Atika seperti ada sesuatu yang ingin dikatakan. Minggu yang lalu. Adakah sesuatu yang ingin kau sampaikan? Semua murid-murid kelas VI menuruti perintah Kata Pak Nami setelah Atika duduk berhadapan.

Atika hanya mengangguk. Sesaat kemudian ia berkata Pak, katanya lembut. Atika sudah mempunyai siapa-siapa lagi, itulah yang selalu merisaukan hati saya. Apa yang hendak saya lakukan. Atika tak ubahnya sabut yang terapung-apung ditengah lautan. Tapi ..... Atika percaya Bapak tak akan membiarkan saya dipermainkan gelombang. Saya tahu Bapak menyanyangi Atika, bukan? Pak Nami terpengaruh mendengar ucapan muridnya itu. Kemudian katanya, Setiap guru tentu menyayangi siswanya, juga kau. Tapi Atika ..... menyayangi adalah perwujudan dari rasa kepedulian. Demikian juga kepedulian padamu adalah suatu tanda bahwa aku tak ingin melihatmu diterpa oleh gelombang lautan kemajuan zaman. Bapak menyayangi Atika hanya karena itu? Rasa sayang sesungguhnya tak bisa dipisahkan dengan jalinan kasih sekalipun Bapak mencoba memisahkan kedua makna itu. Atika, kata Pak Nami, bagaimana persiapanmu menghadapi Ujian Nasional nanti? kata Pak Nami mengawali pembicaraan setelah beberapa saat diam. itulah yang selalu merisaukan hati saya, Pak, Kau belum siap? Apakah ada kesulitan? tanya Pak Nami seraya memandang wajah muridnya yang duduk didepannya. masalah persiapan menghadapi Ujian Nasional tak ada masalah, Pak. Tapi .....

Lalu tentang apa ? tanya Pak Nami Mendahului ucapan Atika yang belum selesai itu. Atika tetap diam, menimbang-nibang apa yang harus dilakukan dihadapan gurunya. Aneh, apa yang sebenarnya yangsedang dirisaukan, pikir Pak Nami sambil memandang muridnya. Atika katakan terus terang, mungkin saya dapat membantu mengurangi kerisauanmu, desak Pak Nami. Mendengar ucapan gurunya yang tulus itu, ia memandang wajah gurunya untuk menghapus keraguannya. Kemudian katanya lembut, Syukurlah kalau Bapak memahami hati saya. Sesungguhnya yang selalu mengusik pikiran saya adalah setelah lulusan Ujian Nasional nanti. Aneh, mengapa begitu Atika ! Atika tersenyum, kemudian katanya berterus terang, Kedengarannya memang aneh, Pak. Tapi ..... Kenyataanya yang saya hadapi nanti. Tidak melanjutkan sekolah, apa yang akan saya temui nanti dengan ilmu pengetahuan yang masih terbatas ini, hendak melanjutkan sekolah rasanya tidak mungkin, Pak. Sesudah membukakan suara hatinya, ia diam dan menundukkan kepalanya. Mengapa tidak mungkin, bukankah kamu masih mempunyai orang tua. Percayalah Atika, tak mungkin orang tuamu akan membiarkanmu

patah di tengah jalan dalam menggapai citacita. Bukankah di dalam peribahasa telah mengatakan, Kasih Ibu sepanjang jalan, yang saya maksudkan cinta orang tua kepada anaknya itu selalu tulus, bukan?

Beberapa saat mereka saling membisu, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Pak Nami menarik napas dalam-dalam, kemudian mencoba menghibur hati muridnya.

Sudahlah Atika, lepaskan sejenak kerisauan Atika tidak menjawab, mendengar ucapan gu- hatimu, menuruti perasaan gundah hanyalah runya seperti itu seakan-akan hendak menan- menambah beban saja, yang penting kamu gis, menyesali nasibnya yang malang dalam harus lulus. Percayalah Tuhan tidak akan memmeniti perjalanan hidupnya. biarkan hamba-Nya dalam kesulitan. Tuhan akan membukakan jalan. Saya pun tidak akan Diam-diam Pak Nami menyesali ucapannya, tinggal diam, menutup mata. Mengapa sejauh itu saya ingin mengetahui sebab kerisauan hatinya. Sekali lagi ditatapnya Atika tak sanggup mengatakan sepatah kata wajah muridnya itu. Kemudian katanya lembut, pun. Dalam hati ia berjanji akan belajar lebih Maafkan saya Atika, sekali-kali bukan maksud tekun untuk meraih ujian yang tinggi, sekalisaya hendak menambah beban perasaanmu. pun ia terguncang oleh keadaan yang tak menentu dalam menggapai cita-citanyadi tengahBapak, tidak bersalah. Ketahuilah Pak, sejak tengah kemajuan zaman itu. kecil saya telah ditinggalkan oleh ibu dan bapak, saya dibesarkan oleh Paman dan Bibi. Ka- Dalam relung hatinya Atika akan selalu teringat rena keadaan kehidupan beliau tak mungkin nasehat Pak Nami dan akan selalu bersyukur akan melanjutkan sekolah saya. Pman bukan semangatnya tidak akan padam untuk meraih tergolong keluarga berkecukupan hidupnya, cita-citanya menjadi seorang guru yang menbeban untuk menghidupi dan menyekolah- gasihi siapa saja, yang menyayangi peserta kan anak-anaknya pun harus membanting tu- didik, yang jernih dalam ber kir dan bertindak, lang. Itulah yang menyebabkan hati saya selalu yang amanah, yang terhormat, yang pemaaf bingung, masa depan saya tidak menentu dan dan yang mampu memberikan ketrampilan kekelabu. pada murid-muridnya. Pak Nami tercengang, sedikit pun tak pernah terbesit dalam hatinya bahwa muridnya yang selelu berdandan rapi, murah senyum, dan otaknya tajam itu jauh dari kenyataan yang dialami. Ia bingung, apa yang akan dilakukan untuk mencari jalan keluarnya, mengentas kesulitan yang tengah dihadapi oleh muridnya.

Kenangan Untuk Pak Ridwan


DHIAS KARTIKA NINGRUM Perpustakaan Gemilang Catur Sakti

LianLianka tunggu aku teriak Vita mengejarku dari belakang. Aku hanya menoleh sedikit dan meneruskan berjalan tanpa memperlambat sedikitpun. Uh!! Dasar nona berhati dingin, tunggu aku sebentar kenapa sih tanyanya lagi ngos-ngosan ketika sudah berada disampingku.

Tampangku yang selalu datar dan tanpa ekspresi juga seseorang yang tidak pernah menanggis. Bahkan ketika kakekku meninggal aku tida mengeluarkan setetespun air mata dari mataku ini. Pantas apabila aku dipanggil seperti itu dan menurutku, ah terserah saja aku tak peduli.

Kejadian itu terus berlangsung hingga aku sudah berada di kelas X .Temanku hanya Kamu telat lima menit Vit! jawabku datar ada dua orang, karena yang lain tidak mau Lima menit kan sebentar Li, masa segitu aja berteman denganku, mungkin karena sikapku aku ditinggal sih, aku kan jadi harus berlari yang menjengkelkan itu. Sebenarnya aku mengejar kamu, tiga blok Lianka!,kan capek mempunyai banyak ekspresi, hanya saja aku mengeluarkannya untuk orang-orang tahu! terdekatku saja. Aku tidak menanggis karena Aku hanya mengangkat bahu dan aku berjanji untuk tidak menanggis lagi. tetap meneruskan berjalan, bila aku Walaupun aku ini perempuan tapi aku harus meladeni pertanyaa Vita ini pasti dia kuat, begitulah ajarann keluargaku. akan memburuku dengan pertanyaanpertanyaan lain yang membosankan.Vita Hari ini adalah hari pertamaku duduk di kelas hanya cemberut,memanyunkan bibirnya dan X, maka setelah Masa Orientasi Siswa tidak ada mengibaskan rambut sesekali dan membiarkan pelajaran, hanya perkenalan dengan teman angin pagi menyeka keringatnya. baru dan guru baru. Hari ini selesai dengan perkenalan guru Fisika, Matematika, Bahasa Perkenalkan, namaku Lianka. Kalian bisa Inggris dan PKN, tetapi dari semua guru itu memanggilku Nona Berhati Dingin, sama tidak ada yang berkesan menurutku . seperti teman-temanku yang memanggilku seperti itu. Mungkin aku dipanggil seperti itu Hari kedua aku sudah mulai pelajaran, seperti karena aku yang sering menjahili orang tanpa bisa pelajarannya sangat membosankan.Tapi ada satu guru yang membuatku tertarik dengan kasihan dan selalu tak peduli dengan apapun.

10

pelajarannya. Dengan cara penyampaian yang menyenangkan dan mudah di mengerti serta cepat beradaptasi dengan muridnya. Beliau adalah guru kimia bernama Pak Ridwan. Dentang bel pulang pun berbunyi, setelah berdoa, semua murid berhambur keluar kelas. Aku masih sibuk membereskan buku-buku yang ada di atas mejaku seusai pelajaran geogra tadi bersama Pak Gultom , yang membuatku mengantuk. Vita teman sebangku juga masih menata-nata buku di dalam tas biru mudanya itu. Vita tersenyum.Ayo pulang katanya sambil setengah menarik tanganku. Oke, sabar deh, aku juga tidak mau menginap disini Vit Huh! Siapa yang mau menyuruh kamu nginap!. Dengan gaya marah Vita keluar kelas meninggalkan aku. Ketika tiba di pintu gerbang, Kulihat Vita sedang bercengkrama bersama Joni, mereka melihat kearahku bersamaan. Cepetan dong ,sampai lapuk nih nunggu kamu canda Vita Hah, lapuk kenapa Vit, mananya yang lapuk?kata Joni sambil memasang tampang bingung dan mengamati Vita dengan seksama. Ha.Please deh, Jon kata Vita dengan setengah berteriak.

Gultom,untung dia gak tau yang gambar kamu Tanya Joni padaku.Vita mengedipkan mata, mengkode agar tidak keras-keras bicara. Iya, darimana kamu tahu? jawabku Gak ada yang bisa gambar se-keren kamu Li, Wowkalau Pak Gultom guru seni pasti dia akan kagum sama gambarmu jawab Joni dengan mata berbinar. Yah, tapi lain kali jangan ulangi lagi deh, coba lihat wajah Pak Gultom tadi, marah banget, seperti tomat basar yang matang dan mau pecah, karena ada anak yang gambar dipelajarannya Vita menasehati dengan nada bijak. Iya Bu Guru Vita jawabku kompak dengan Joni. Vita tersenyum bangga.Kemudian kami bertiga pulang bersama-sama, karena memang rumah kami berdekatan hanya beda blok saja. Untungnya Cuma kita berdua yah Vit yang tahu kata Joni sambil membetulkan posisi kacamatanya yang miring. I dont think so Apa sih, sok inggris, lalu memang siapa lagi yang tahu, aduh payah nih, kalau dia mengadukannya ke Pak Gultom . Aku dan Joni melihat kearah Vita.

Ada yang tahu, dia duduk dibelakangmu Jon, Eh ,tadi kamu ya yang gambar kartunnya Pak Ardhan, dia juga tahu. Tadi saat Pak Gultom

11

membentak dia tersenyum kearahku, mungkin juga maksudnya kearahmu Lianka, tapi kamu tidak melihatnya.Ardhan menunjukkan jari ke arahmu juga Li, saat pulang aku juga bertemu dia di Lobi, dia tanya pada ku, tapi karena aku tidak segera menjawabnya ia cuma bilang, gambar teman sebelahmu oke banget, dan sepertinya ia juga tidak akan mengadukanmu Li jelas Vita Hah, ada-ada saja anak itu kata Joni lega.

hal di luar pelajaran. Hanya beliau yang dapat menegerti aku, contohnya saja guru-guru lain selalu memarahiku bila aku menggambar kartun-kartun saat pelajaranya tapi pak Ridwan tidak. Oh bagus selkali, lain kali gambarkan untuk Bapak ya, Lin kata Pak Ridwan sambil memandang karyaku. Benar-benar guru yang berkesan bagiku.

Sebenarnya umur Pak Ridwan sudah 62 tahun. Aku hanya tersenyum, bisa dibilang lega juga. Beliau juga adalah kepala sekolah di sekolahku Ardhan, juga tahu ya? gumamku ini. Aku sering merasa tidak tega padanya karena harus naik turun tangga tiga tingkat Suatu hari Pak Ridwan memanggilku dan untuk sampai di kelasku dan membagikan menyuruhku mengerjakan soal yang ia berikan. ilmunya kepada kami. Tetapi beliau tetap kuat Huhhaku tak bisa berkutik dengan soal yang menghadapi semua itu. Oh ya banyak yang iri susah ini. Sudah hampir lima menit aku berdiri padaku karena aku pintar di pelajaran kimia terpaku di depan papan tulis dan terpaku ini. Padahal menurut yang lainnya ini adalah tanpa menggerakan jariku. Tiba-tiba Pak pelajaran yang membosankan dan membuat Ridwan mendekatiku. Oh!! Habislah Aku! Aku mengantuk. Tapi menurutku sungguh pasti dimarahi, pikirku.Guru itu semakin dekat, sebaliknya, dan sangat menyenangkan. lalu. Sudah satu minggu Pak Ridwan tidak datang Begini caranya kata guru itu sambil mengajar di sekolah,karena beliau harus pergi membimbingku untuk mengerjakan soal ke luar kota. Sebab beliau adalah kepala sekolah tersebut. Berbeda dengan guru lain, guru ini dan tidak hanya itu, beliau juga mengajar di bahkan tidak marah sedikitpun. Guru ini benar- kelas lainnya.Beliau mengajar di lima sekolah benar baik, pikirku. lain. Aku sangat kagum pada beliau, saat usianya yang sudah tidak muda lagi, namun Karena bimbingan guru inilah nilaiku begitu masih sanggup bekerja seberat itu. Sampai gemilang di mata pelajaran kimia. padahal suatu saat, Wali kelasku masuk ke kelas di jam sebelumnya aku tak pernah mendapat nilai pelajaran yang bukan jadwal ia mengajar. sebagus itu di pelajaran kimia. Akupun mulai Selamat siang anak-anak kata Pak Arif. Siang terbuka dengan guru tersebut. Setiap ada soal Pak. yang tidak ku mengerti aku selalu bertanya padanya. Akupun juga sering menanyakan hal- Hmm,saat ini sekolah kita sedang dalam

12

keadaan sedih, Pak Ridwan masuk rumah sakit semalam karena kesibukan beliau sehingga terkena serangan jantung, mari kita berdoa besama. Berdoa mulai. Dalam keheningan tersebut, air mataku hampir bergulir dari tempatnya.Tidak! aku tidak oleh menangis, tekadku. Dua minggu sudah Pak Ridwan masuk rumah sakit, pelajarannya digantikan oleh Bu Vivian. Aku jadi tidak konsentrasi dengan pelajaran sehingga membuat nilai-nilaiku turun drastis. Duhhh.kepalaku pusing sekali dengan pelajaran kimia ini. Saat istirahat Vita mengajakku ke kantin dan membeli beberapa makanan.

berkata apa, mungkin begitu pula Vita. Hari ini kami semua dikumpulkan di lapangan sekolah untuk mendoakan almarhumah Pak Ridwan. Pak Yohan, guruku yang juga adalah murid Pak Ridwan menceritakan kisah dan kenangannya sewaktu di SMA bersama Pak Ridwan. Banyak murid yang menangis mendengarkannya. Tidak ! aku tidak boleh menangis!

Aku beserta teman-teman pergi ke rumah Pak Ridwan untuk melayat. Banyak orang yang ikut melayat dirumahnya ,menyebabkan jalan di depan rumah Pak Ridwan macet. Kemudian giliran aku dan teman-teman masuk ke tempat diman Pak Ridwan ditempatkan, begitu pilu. Aku tak bisa berlama-lama disini, semakin lama maka aku tak akan bisa menahan air mataku. Pak Ridwan.... Aku kangen diajar Pak Ridwan Hingga pada akhirnya aku tak bisa menahan lagi rengek Vita. Perasaanku jadi tidak enak. lagi, dan menangis di depan kerumunnan Ingin sekali rasanya pergi menjenguk Pak orang ini dan banyak yang melihatku. Ridwan sebelum aku menyesal, pikirku. Tetapi hanya beberapa orang saja yang boleh Sudahlah sabar ya Li, relakan kepargian menjenguknya dan tahu tempat dimana ia Pak Ridwan kata Ardhan menghiburku. Aku dirawat. Akhirnya kuurungkan niatku itu. sebenarnya malu, menangis di depan temantemanku, namun apa daya. Iya, kami juga kangen candaannya Pak Ridwan kata So a yang datang bersama Joni dan ikut Kami semua juga merasa kehilangan sama bergabung bersama kami. seperti kamu ,tapi juga sudah tidak bias berbuat apa-apa lagi kan, Pak Ridwan sudah tenang Malamnya aku sangat pusing sejak dari sekolah disana. Ia pasti juga akan sangat sedih bila tadi.Tiba-tiba handphoneku berbunyi, ada sms melihat murid kesayangannya ini menangis, dari Joni. Li, sudah tahu belum Pak Ridwan Lianka kan harusnya kuat sambung Ardhan sudah meninggal seketika itu juga, aku tak bisa lagi. membendung air mataku . Aku menatap Ardhan Dari mana kamu tahu, Pagi harinya, aku pergi kesekolah bersama Vita aku bukan murid kesayangannya Pak Ridwan seperti bisa. Untung saja mataku tidak bengkak. kok, kamu salah kataku sambil menghapus air Hening diantara kami, aku tak tahu harus mataku

13

Kamu lupa? Kita semua adalah murid kesayangan beliau seperti yang beliau katakan saat mengajar waktu itu, tapi kamu yang special Lianka jelasnya Iya Lianka, karena kamu pintar kimia ,besok aku diajarin rumus-rumus itu ya, duh pusing kalau belajar sendiri Ucap Miranda yang juga berdiri di belakangku bersama Vita dan So a. Bagiku Pak Ridwan adalah guru yang sangat spesial bagiku. Hanya Pak Ridwan yang mampu mengerti aku yang berhati dingin dan mendukung bakat menggambarku, namun saying, aku belum sempat menggambarkan kartun untuk Pak Ridwan, seperti yang beliau minta. Hari selanjutnya aku selalu bertekat menjadi yang murid lebih baik dan meningkatkan nilainilaiku bukan hanya di pelajaran kimia saja tapi juga yang lainnya. Untuk Pak Ridwan aku akan berusaha. Aku juga menggambarkan sebuah kartun untuk Pak Ridwan dan kupasang di dinding kamarku. Kelak aku ingin menjadi guru seperti Pak Ridwan dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat bagi murid-muridku di sekolah, sehingga aku dapat berguna bagi orang lain dan akan merubah sikap jelekku ini. Kututup diariku. Kejadian itu sudah setahun yang lalu. Di dalam diari ini tertulis tanggal 5 Januari 2011 Pak Ridwan meninggal pada pukul 17.00 WIB, bahkan masih ada bekas titiktitik air mata pada lembarannya. Selamat jalan Pak Ridwan . Kami akan selalu mengingat jasajasamu sampai kapanpun walau Pak Ridwan sudah berada sejauh bintang.

LianLianka tunggu aku teriak Vita mengejarku dari belakang. Aku hanya menoleh sedikit dan meneruskan berjalan tanpa memperlambat sedikitpun. Uh!! Dasar nona berhati dingin, tunggu aku sebentar kenapa sih tanyanya lagi ngos-ngosan ketika sudah berada disampingku. Kamu telat lima menit Vit! jawabku datar Lima menit kan sebentar Li, masa segitu aja aku ditinggal sih, aku kan jadi harus berlari mengejar kamu, tiga blok Lianka!,kan capek tahu! Aku hanya mengangkat bahu dan tetap meneruskan berjalan, bila aku meladeni pertanyaa Vita ini pasti dia akan memburuku dengan pertanyaanpertanyaan lain yang membosankan.Vita hanya cemberut,memanyunkan bibirnya dan mengibaskan rambut sesekali dan membiarkan angin pagi menyeka keringatnya. Hey , ada apa dengan rambutmu Vit ,sejak kapan kamu potong? Kemarin , Ardhan bilang aku bagus begini? Ardhan? sejak kapan kamu mau mendengarkan orang lain? Ardhan lagi jawabku cuek Waktu itu Pak Ridwan menyuruhku untuk tidak keras kepala kan, Nha aku mau berubah Li. Rambutku bagus kan? jawab Vita Riang. Iya sih, bagus sekali tekadmu, model ram-

14

butmu juga bagus mode on banget, tapi kebi- Kalau begitu aku gambarin lagi dong Li, yang asaan telatmu kok tidak berubah-berubah ya? kali ini yang spesial ya, tapi tidak pakai telor goda Lianka sambil tersenyum tipis renggek Ardhan seperti anak kecil Oke, iya iya besok aku tidak telat lagi deh jawab Vita ikut tersenyum Lianka, nanti sore belajar di rumahku ya, kebetulan Mamaku buat pudding keju ajak So a, diikuti riuh rendah teman-teman yang lain .

Hai Lian, Vita. Tumben nih pagi-pagi sudah datang sapa Gerry yang muncul dari dalam kelas Mungkin istilah Nona Berhati Dingin itu bukan Lianka yang sekarang ini, iya kan Pak Ridwan. Eh Lian gambar kartunmu, yang kau buatkan Aku berjanji aku akan menjadi guru yang berwaktu itu sudah kupasang di dinding kamar manfaat seperti cita-citaku selama ini . loh, Kata kakakku gambarmu bagus sekali kata Miranda **** Oh, ya? .Aku tersipu malu karena pujian Miranda itu

Puisi Pemenang Tirto Utomo Awards 2010

15

Weneby Kenanganku
DIAN PUSPITASARI Perpustakaan Gemilang Catursakti

ni adalahangkutan terakhir yang dapat membawaku menuju desa Weneby di daerah perbatasan antara negaraku dan Negara tetangga. Aku kurang begitu tahu apakah desa ini masih ikut negaraku dan Negara tetangga. Aku kurang begitu tahu apakah desa ini masih ikut negaraku atau memilih negara tetangga yang jelas-jelas akan memberi arah hidup yang lebih jelas pada nasib warganya. Bahkan nama desa aweneby sendiri tak tercantum di atas atlas, google maps maupun Wikipediaku agak ragu dengan keberadaan desa ini, tapi surat yang ada di tanganku ini jelas-jelas mencantumkan nama Weneby di kolom yang berjudul tempat pemindahan kerja dan informasi ini pasti abash karena datang langsung dari pemerintah. Selama kurang lebih berjalan ke arah utara selama dua seperempat jam atau lebih kurang 15 km sampailah aku di sebuah gapura bobrok yang dibuat dari susunan kayu lapuk. Aku ditemani seorang penduduk asli yang sudah bisa berbahasa indonesia dengan fasih walaupun masih medok bahasa daerahnya. Disinilah kami berpisah, dia bilang tugasnya mengantarku sudah selesai. Aku menurut saja dan berjalan menyusuri jalan setapak yang berdebu dan tertutup rumput. Melihat

rumah penduduk yang berbentuk panggung dan tampak using, aku agak tak yakin mereka memiliki akses komunikasi. Bagaimana Aku harus mengajar mereka kalau mereka tidak tahu teknologi bahkan Bahasa Indonesia. Sepuluh menit kemudian sampailah Aku di depan salah satu rumah yang paling besar diantara rumah-rumah lain. Aku mengetuk pintu dan lama kemudian sesosok kepala menyebul dari balik pintu. siapa ya? saya Bu Asri dari Jawa yang dipindah tugaskan kesini. Apa benar ini rumah pemuka adat disini? ya benar, silahkan masuk Setelah agak lama bercakap tahulah aku bahwa ternyata dia adalah istri pemuka adat. Tak berapa lama muncullah sang pemuka adat yang sekaligus menjabat sebagai kepala desa. Mukanya agak seram dengan kumis tebal dan sedikit beruban. Sekitar kepala empat. Suaranya sangat mencerminkan wajahnya yang cukup angker. jadi ini orang dari jawa yang akan mengajar anak-anak kita?

16

iya pak, ini surat pemindah kerjaan saya Tidur di atas kayu sangat tidak nyaman, tapi aku kataku sambil menyodorkan surat yang dari harus terbiasa. tadi menempel di tanganku. Keesokan harinya aku mendatangi satu persatu Tanpa kusadari, mimik wajah pemuka adat itu rumah meminta ijin anak-anak di setiap rumah agak memerah dengan segera sang istri yang untuk dapat bersekolah di rumahku. Banyak berdiri di belakangnya memberikan isyarat yang menerimaku dengan tangan terbuka dengan gerakan pelan, yang mengartikan namun juga yang tidak mengijinkan anak bahwa suaminya tidak bisa membaca. Aku mereka belajar bersamaku. Banyak alasan langsung menarik surat itu sambil kelabakan. yang mereka lanturkan, lagi pula aku tak bisa berbuat apa-apa. Toh mereka yang berhak atas Jadi pak, dimana saya harus tinggal dan dimana anak-anak mereka. Namun aku sedih melihat saya harus mengajar? ekspresi anak yang sebetulnya ingin belajar namun tidak di ijinkan orang tuanya. Malah Oh mari ikut saya .. pemuka adat itu ada anak yang sampai memohon pda orang membimbingku berjalan agak kepinggiran tuanya agar bisa. Bersekolah tapi orang tuanya desa dan menunjuk kepada sebuah rumah bersikeras tak mengijin dia bersekolah. Di lain bobropk di daerah dekat pantai. sisi ada anak yang tak mau asekolah padahal orang tuanya mengijinkan, kultur tiap keluarga Itu rumah anda dan disanalah anda akan memang berbeda satu sama lain. mengajar Hari ini hari pertama sekolah di mulai. Aku Aku agak kaget melihat keadaannya tapi tak cukup gembira mendapat 7 orang siswa, langsung ku tunjukan, takut pemuka adat itu di luar harapan paling tidak mereka punya tersinggung. Setelah menunjukan rumah itu semangat untuk belajar. Pelajaran pertama aku pemuka adat undur diri karena ada pekerjaan menceritakan beberapa pengalaman inspiratif yang harus di selesaikan (katanya). dan mereka begitu antusias. Pelajaran hari ini ditambah dengan pengenalan 10 angka dasar Langkah pertamaku hari ini, memperbaiki dan 26 alfabet. Mereka tampak agak bingung rumah dengan sedikit kecakapan yang aku tapi aku senang. Itu artinya mereka ber kir. dapat dari berlatih pramuka. Aku juga menanan Lama kelamaan mereka senang dan ketagihan beberapa tanaman apotek hidup yang ada di tapi waktu bersekolah telah habis. Mereka sekitarku. Hari ini ku bereskan barangbawaan harus pulang dan membantu orang tua mereka adalah agenda utama. Disini tak ada pedagang bekerja. Catatan, hari ini mereka sangat aktif paku sehingga semuanya harus didapat dari bertanya dan kritis di setiap sesi, Fantastis ! alam langsung karena warga yang lain juga melakukan yang sama. Hari makin beranjak Hari berikutnya bertambah 3 orang lagi, aku petang, akhir hari ku gunakan untuk istirahat. senang sekali, berarti aku sudah mampu

17

memancing rasa penasaran mereka. Intinya dalam waktu hanya beberapa jam dalam sehari aku harus mampu mengisi otak mereka dengan banyak hal baru yang positif. Hari ini pelajaran penjumlahan dan pengurangan dasa, menulis kata dan mengeja. Mereka bisa mengeja nama mereka dengan baik. Mereka mampu mengurang dan menambahkan angka dengan metode tangan. Itu sangat hebat hanya dalam kurun waktu beberapa jam mereka berangkat saja aku sudah sangat senang kenapa harus terburu-buru di ajak disiplin? Biarlah mereka mengeksplor apa yang mereka dapat, aku senang melihat kepolosan mereka. Waktu semakin beranjak tak terasa kini 20 jumlah muridku. Mereka belajar banyak dari ku dan akupun belajar banyak dari mereka. di sekolah (sederhana) ini kami belajar bermain, praktikum semua dengan segala keterbatasan, tapi itu yang memacu mereka untuk memperbaiki keadaan sosial mereka. Setiap hari waktu belajar mereka bertambah, aku juga menyisipkan nilai-nilai agama dan kebangsaan. Tata perilaku juga mulai ku ajarkan pada mereka. Sekarang mereka sudah agak tenang tidak seheboh waktu hari pertama masuk sekolah. Namun kadang jumlah 20 itu tak dapat bertahan, malahan pernah hanya 1 orang saja yang ikut belajar. Biasanya itu terjadi bila sedang musim panen laut atau panen hasil hutan, anak-anak harus ikut orang tua mereka untuk panen bahkan sampai berhari-hari. Suatu hari pernah aku meliburkan sekolah karena semua anak ikut orang tua panen, aku berjalan ke negara sebelah. Di sana akses sudah sangat lebih baik ada pengairan, ada jalan

terbuat dari paving blok, terdapat sinyal televisi dan handphone, sudah ada bangunan sekolah dan puskesmas dalam keadaan yang terawat. Sangat berbeda dengan desa tempatku tinggal. Padahal hanya dipisahkan sebuah tugu keadaan sudah sangat berbeda, potret tidak kepedulian pemerintah atas daerah perbatasan yang sebenarnya merupakan titik paling rawan sebagai pintu gerbang negara. Ya, mau bagaimana lagi? Keberadaanku yang belum seumur jagung ini rupanya kurang direstui oleh penduduk Desa Weneby. Mereka merasa terganggu karena semenjak aku datang dan anak-anak belajar padaku mereka merasa penghasilan mereka sehari-hari menjadi kurang. Satu per satu anak mereka dicekal dan dipaksa berhenti untuk sekolah. Mereka harus membantu orang tua mereka bekerja, aku berusaha meyakinkan orang tua mereka bahwa sekolah juga untuk masa depan mereka namun kebanyakan menolak gagasanku dan malah sampai mengusirku. Aku dianggap sebagai biang yang merusak perekonomian mereka. Satu per satu anak didikku menghilang dari bangku tempat mereka biasa duduk. Aku merasa kesepian murid terakhirku anak kepala adat. Dia pun harus berhenti sekolah. Aku merasa tak nyaman dengan keadaan ini. Aku pergi menemui kepala adat dan meminta jalan keluar dari permasalahan yang kini kuhadapi namun apa jawaban kepala adat? Maaf saya tidak bisa berbuat apa-apa, anak mereka ya tanggung jawab mereka. Hak-hak mereka mau di bawa kemana anaknya itu urusan mereka!

18

Bahkan seorang ketua adat pun tak mampu berbuat apa-apa untuk warganya. Tolonglah pak, saya ingin membuat mereka pandai. Mereka dapat belajar dan saya berjanji akan membuat perubahan atas diri mereka! Apa yang dapat anda lakukan dalam kapasitas anda sebagai guru? Kalau anak mereka tidak bekerja, mereka tak bisa makan. Kebutuhan mereka juga banyak. Anda tak bisa memaksa mereka untuk memberikan anak mereka pada anda untuk diasuh. Bahkan saya pun tak dapat melakukannya.

Apa? Tiga hari? Ya, Bu Asri. Apakah anda sanggup? kalau keberatan anda bisa membereskan barang anda sekarang juga dan pulang ke daerah asal anda, bagaima ? Baiklah pak. Saya akan berusaha, terimakasih atas bantuan nya Aku pulang dengan langkah gontai. Di rumah aku membuat susunan kegiatan yang efektif, semua ku rencanakan dengan matang.

Pagi sudah berjalan sepertiga langkah. Aku Tolonglah pak, beri saya waktu berapa hari saja membuka jendela dan tampaklah antrian 39 untuk memantenkan ilmu mereka. Saya minta anak Wow! Anak di seluruh desa diperbolehkan satu minggu full tanpa gangguan dan setelah sekolah. Aku menyambut mereka dengan itu terserah bapak dan warga. Saya pulang atau senyuman. Senyuman yang terasa pahit tetap lanjut di sini. Saya mohon pak! karena sebentar lagi karena sebentar aku harus meninggalkan mereka. Aku harus tabah, jangan Baik, saya akan rundingkan dengan warga, menampakkan kesedihan. Sekolah adalah tapi saya tidak dapat menjanjikan betul-betul tempat bersenang-senang. Kurasa mereka amat sesuai pemikiran anda! cinta pada bumi pertiwi tapi apa yang mereka dapatkan dari pemerintah sangat tidak layak. Baik pak, mohon bantuannya semoga saya Ada sedikit genangan air di kelopak mataku berbuat sesuatu. Saya sangat berharap anak saat mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya. Upacara selesai. hal itu. Setelah percakapan itu, aku pulang kerumah. Upacara itu membuat semangat mereka berkobar. Kali ini aku mengajari mereka Apakah mereka setuju? membuat kerajinan tangan. Ada yang berupa Baik Bu Asri, kemarin kami telah mengadakan anyaman rotan, ada yang dari kelapa, ada yang pertemuan, banyak orang tua mereka yang membuat gerabah tanah liat. Hasil kerajinan merasa keberatan atas usulan Bu Asri. Setelah mereka kusimpan sebagai kenang-kenangan. mengalami perdebatan dan loby yang sulit Hari ini mereka benar-benar menikmati akhirnya kami memutuskan untuk memberikan pelajaran yang kuberikan 5 jam berlalu cepat dan mereka sudah dijemput oleh orangtua waktu 5 jam sehari selama 3 hari.

19

masing-masing. Para orangtua mereka benar semua menangis. Bahkan wali murid memasang muka tak ramah. Namun aku tetap yang menjemput pun ada yang ikut menangis. tersenyum. Aku melepas mereka untuk kembali kepada orangtua mereka. Benar-benar menyesakkan Hari kedua datang, aku semakin bersemangat dada. Tangis yang kuredam selama 3 hari ini tak karena mereka juga bersemangat untuk mampu dibendung lagi, air mata membanjiri bersekolah. Hari ini hari untuk ilmu yang benar- wajah, mereka melambaikan tangan padaku. benar menggunakan otak dan akal pikiran. Aku masuk rumah dan segera membereskan Benar saja, setelah beberapa hari tidak sekolah, barang bawaan. Besok pagi-pagi sekali aku mereka sudah lupa pelajaran yang aku berikan harus pergi dari kampung perbatasan ini, tempo hari. Untung saja mereka memang ngomong-ngomong di mana handphone ku? pandai sehingga hanya butuh beberapa saat untuk mengulang kembali dan mereka Hari sudah pagi, fajar sudah pergi. Aku langsung menguasainya. Aku senang mereka sudah bersiap dengan segala barangmampu. Sebentar lagi, kalau mereka sering barang bawaanku. Kepala desa dan warga berlatih pasti mereka pandai. Tapi beberapa menyambutku dengan wajah garang. sih waktu yang aku punya? Bahkan 3 menit lagi Sepertinya mereka semua sudah siap pelajaran usai. Aku berhasil menguasai gerimis mengantar kepergianku dengan gembira, yang datang tiba-tiba di mata aku. mereka ditemani anak-anak, saudara famili mereka. Seluruh desa berkumpul di pelataran Hari ini yang terakhir. 5 jam terakhir tatap kediaman pelataranku. mukaku bersama anak-anak yang masih polos ini. Aku hanya bercerita. Pelajaran emosional. Baiklah warga semua kepala adat memulai Banyak hal yang aku ceritakan pada mereka, pembicaraan. kisah pahlawan. Kisah sukses, keadaan orang di jawa, pengalamanku dan banyak hal tentang Di sini, kita semua telah berkumpul. Inilah dunia. Mereka selalu mengkritis setiap poin orang yang selama ini telah mengajarkan anak yang kuberi penekanan. mereka selalu antusias kita, ada yang ingin dikatakan Bu Asri? dan itulah salah satu hal yang aku suka disini mereka. Aku menghargai itu. Di saat-saat Selamat pagi warga desa sekalian. Saya adalah terakhir. Aku memberi mereka banyak nasihat, pegawai negeri baru.Ssaya di tempatkan disini rupanya mereka meresapi itu. kami bernyanyi atas keputusan negara, di luar kehendak saya. bersama, sayonara, gelang sipaku gelang, dan Saya senang datang ke tempat ini. Aku mulai lagu yang sangat ku hafal dan selalu membuatku menitikan air mata. Desa ini cantik, anakmenangis. Kami menangis bersama, tertawa anaknya baik. Saya sudah menganggap tempat dan di akhir pertemuan kami berpelukan ini sebagai kampung halaman saya yang kedua. untuk yang terakhir kalinya. Suasana haru Semua sektor di sini memiliki potensi untuk sangat terasa, semua murid menangis, benar- dikembangkan. Saya ingin membuat perbaikan

20

pada keadaan sosial masyarakat di sini. Tapi apa daya. Saya bukan siapa-siapa yang mampu langsung merubah keadaan menjadi 180 derajat berbalik. Kuusap air mataku tapi saya ingin membuat anak-anak disini khususnya, pandai, tidak tertinggal daerah lain. Anda sekalian memang kurang akses. Tapi itu tidak menutup kita semua untuk dapat melakukan perubahan. Kita ingin usaha kita membuahkan hasil. Begitu pula saya. Jadi, bila diperkenankan ..... Aku agak tercekat. Kulanjutkan pidatoku Saya ingin tinggal lebih lama disini dan mengajar anakanak seperti beberapa hari yang lalu. saya ingin berbakti lebih lama lagi pada desa ini. Baiklah itu beberapa dari Bu Asri, mungkin ada yang ingin warga sekalian katakan?

Pulanglah .....dan kembalilah dengan membawa keperluan yang lebih banyak. Mereka tak puas, kenapa anak-anak yang diajar, kenapa hanya anak-anak yang harus pintar? Yang tua juga ingin pintar Kulihat ekspresi wajah memohon mereka Maafkan kelakuan kami tempo hari. Kini kami sadar pentingnya pendidikan bagi kami dan penerus kami, jadi maukah Bu Asri pulang dan kembali dengan bahan ilmu baru untuk kami? Aku tersenyum simpul Baiklah. Dengan senang hati terimakasih atas kepercayaan kalian terhadap saya pasti saya akan kembali! Saya janji! tiba-tiba seorang anak menarik tangan kiri aku dan berkata

Bu Asri, saya sekarang sudah bisa berhitung, Seorang anak maju dan berkata Bu Asri, saya tidak di tipu makcik siti lagi kalau belanja jangan pergi saya masih bernyanyi bersama Bu Asri Anak lain maju dan berkata, Saya Seorang anak perempuan menarik tangan suka matematika. Saya ingin menjadi juragan kananku dan memaksaku berjongkok. kapal, Bu! Yang lain berdatangan dan mengemukakan hal yang ingin mereka lakukan Bu Asri, saya tidak tahu artinya pahlawan lebih jauh dugaan ku. Mereka berhamburan ke tanpa tanda jasa, tapi menurut saya itu artinya pelukanku. Lagi-lagi kami menangis haruskah seperti Bu Asri, terimakasih Bu Asri Katanya kita memulangkan Bu Asri setelah melihat sambil mencium pipi ku, aku berdiri dan adegan ini? Terus terang aku agak sedikit berjalan menuju batas desa. Seluruh warga berharap. Betapa terkejutnya aku ketika mereka desa mengiringiku sambil berteriak. Bu Asri! ... berteriak Pulangkan Bu Asri! .....Pulangkan Bu Bu Asri! ...Bu Asri! .... Asri! ..... Pulangkan Bu Asri! sepertinya sudah tidak ada harapan lagi. Di batas desa aku mengucapkan salam perpisahan. Di situ seorang pemuda Anda lihat Bu Asri, sepertinya warga desa menyodorkan handphoneku dan berkata kurang puas dengan kinerja anda ..... kata- kapan-kapan ajari saya memakai batang yang kata itu membuatku hancur tetapi kata-kata bisa berbunyi ini! kalau saya sudah pandai saya berikutnya sangat tak terduga. akan buatkan seluruh desa biar seluruh punya gambar wajah Bu Asri.

21

Wajah saya? Iya, seperti ini dia menunjukkan ke wallpaper handphone ku. Aihh, ini waktu aku masih narsis batin ku. aku tersenyum malu.

Menunggu Giliran Membaca di Perpustakaan Umum Wonosobo

22

Bertualang Di Negeri Ilmu


ALYSFISKA DHIFFA WIJAYA Perpustakaan Srikandi

rena sudah kedinginan, akhirnya Dylla memutuskan untuk pulang ke rumah. Di rumah, Ibu sudah menunggu Dylla. Dylla, kamu kemana saja nak? Ibu mencarimu kemana mana, ujar Ibu cemas. Dylla baru dari kebun bu Jawab Dylla. Ya ampun, mengapa bajumu basah nak? tanya ibu sembari memegang baju Dylla. Gelang Dylla jatuh di sungai bu. Ketika Dylla Pepohonan yang rindang seolah menyambut mencari gelang itu, baju Dylla jadi basah Bu, Dylla. Bunga berwarna-warni menciptakan sesal Dylla. keindahan. Dedaunan yang mengering menim- Ya sudah, sekarang Dylla mandi dulu yang berbulkan bunyi gemerisik. Dylla jarang bermain sih. Lalu makan, perintah Ibu. di kebun rumahnya. Dylla lebih sering meng- Iya Bu, jawab Dylla. habiskan waktu senggangnya di dalam rumah untuk sekedar membaca buku. Dylla dikenal Dylla bergegas mandi dan menuju kamarnya di sebagai murid yang cerdas di sekolahnya. Guru atas. Ia tampak cantik mengenakan gaun biru dan teman teman Dylla sangat menyayang- yang berkilau. Dylla segera menuju ruang mainya. kan. Setelah selesai makan, Dylla berjalan menuju kebun. Ketika melewati kumpulan bunga Setelah lelah berkeliling, Dylla beristirahat di melati, Ia terkejut karena melihat seorang gadis sungai kecil belakang kebun rumahnya sem- yang berjalan menuju pohon besar yang rimbari merendam kedua kakinya. Ternyata me- bun. nyenangkan mengelilingi kebun di pagi hari ujar Dylla. Ketika sedang asik bermain air ge- Dylla yang penasaran segera mengejar gadis lang yang Ia pakai terjatuh ke dalam air. Karena itu. Langkahnya cepat karena tak ingin tertingsungai itu tidak terlalu dangkal, Dylla mencoba gal jauh di belakang gadis itu. Ketika sampai di balik pohon besar, gadis itu telah menghilang. menjangkaunya. Ternyata di balik pohon itu terdapat beragam Tetapi gelangnya tak juga dapat diraihnya. Pa- bunga yang indah. Matanya tertuju pada gua kaian yang Ia kenakan sudah basah kuyup. Ka- yang terang namun tertutup oleh dedaunan agi itu mentari menampakan sinarnya, angin berhembus pelan. Udara pagi yang menyejukan menambah kehangatan. Dylla bergegas keluar rumah, menikmati suasana pagi yang menyegarkan. Hmm, sepertinya menyenangkan bermain main di kebun ujar Dylla sembari berjalan menuju kebun rumahnya yang luas.

23

yang lebat. Mungkin gadis itu menuju gua ini, pikir Dylla berjalan melewati hamparan bunga yang indah. Langkahnya perlahan memasuki gua itu. Ia berjalan mengikuti cahaya yang memancar dari ujung gua itu. Di sepanjang lorong gua itu, tergambar berbagai macam buku. Wah, penuh dengan buku, ucap Dylla. Dylla mulai melambatkan langkahnya saat merasa cahaya itu semakin terang dan dekat. Akhirnya setelah melalui perjalanan melewati gua, Dylla sampai di ujung gua itu. Suara riuh terdengar jelas. Dylla tiba di sebuah tempat yang asing baginya. Tempat itu sangat indah. Tidak ada sampah berserakan. Bunga dan pepohonan tersebar di seluruh tempat. Orang berjualan berbagai macam dagangan.

pelajaran yang telah mereka terima, atau sekedar menanyakan pelajaran yang belum jelas. Guru sangat dihormati di kota itu. Setiap murid sangat patuh kepada guru mereka. Waktu senggang mereka manfaatkan untuk berunding atau membaca buku. Di kota kecil itu, jarang terdapat mobil pribadi. Rata-rata penduduk di kota ini menggunakan angkutan kota.

Saat sedang mengelilingi kota itu, tiba- tiba Dylla bertemu dengan gadis yang dilihatnya di kebun tadi. Ia sedang berjualan kue. Dylla berjalan menghampiri gadis dan menyapanya Hai, boleh aku berkenalan denganmu? sapa Dylla. Tentu saja, namaku Elisa. Boleh aku tahu namamu? tanya Elisa. Tentu. Namaku Dylla jawab Dylla ramah. Senang berkenalan denganmu, sambut Elisa. Dylla bingung mangapa di belakang pohon itu Oh ya, aku tadi melihatmu di kebun rumahku. terdapat tempat misterius ini. Ia berjalan jalan Lalu aku mengikuti dan tiba di tempat ini, ujar mengelilingi tempat asing ini. Tempat ini tidak Dylla. terlalu luas, tetapi juga tidak sempit. Mmm, ini seperti sebuah kota kecil yang indah Oh, ternyata kamu yang memiliki kebun bunga itu. Iya, kami sering bermain di kebun rumahpikir Dylla. Seluruh orang di kota itu selalu membawa buku mu. Kebunmu sangat indah, kami juga sering kemanapun mereka pergi. Tua, muda semua bermain air di sungai kecil belakang kebunmu suka membaca buku. Seperti saat menunggu ujar Elisa. angkutan kota, memakan jalan, ataupun men- Kami? Memangnya siapa saja? tanya Dylla unggu toko. Semua orang memanfaatkan wak- bingung. Aku dan teman temanku , jawab Elisa. tu senggang mereka untuk membaca buku. Toko-toko buku bersebaran di kota itu. Setiap toko buku menjual buku yang berbeda beda. Oh, kalau kamu mau, kamu bisa bermain ke Toko toko buku itu ramai di kunjungi oleh rumahku bersama teman temanmu, Dylla anak anak. Jika ada guru yang memiliki waktu menawarkan. senggang, seperti sedang menunggu angku- Terimakasih. Kamu baik sekali. Mmm kamu tan kota, murid murid berunding tentang tunggu di sini sebentar ya, pinta Elisa sambil

24

berlari menuju Toko Kue di belakang tempat mereka berdiri. Iya Jawab Dylla. Tak lama kemudian Elisa keluar dari Toko Kue itu sambil menggenggam sebuah gelang putih. Ini milikmu kan? Kemarin aku menemukannya di dasar sungai. Ini. Elisa menyodorkan gelang itu. Iya, makasih. Lisa, tempat ini namanya apa? tanya Dylla.

lah menyelesaikan pendidikan, mereka kembali ke negeri ini untuk memberikan pendidikan pada anak anak. Anak anak sekolah tanpa dipungut biaya. Guru Guru itu tidak digaji karena negeri ini tidak ada uang untuk membayar gaji mereka. Rakyat hidup sederhana, tetapi semua anak diharuskan bersekolah. Guru sangat dihargai di negeri ini. Tanpa mereka, negeri ini akan hancur. Merekalah pahlawan yang menyelamatkan negeri dari kegelepan. Perlahan ekonomi ini mulai stabil. Anak anak yang telah tamat sekolah, bekerja di negeri tetangga dan dapat membantu ekonomi keluarga mereka. Kerajaan pun sudah dapat menggaji guru. Meski demikian Guru adalah orang yang dihormati di negeri ini. Anak anak diwajibkan bersekolah. Buku dijual dengan murah agar anak anak dapat membaca buku dengan mudah. begitu cerita Elisa.

Ini Negeri Ilmu. Meskipun tempat ini tidak luas, tetapi kami dapat memenuhi kebutuhan kami sendiri jawab Elisa. Wow ucap Dylla kagum. Dahulu negeri ini sangat kacau. Anak anak dilarang bersekolah oleh musuh. Para orang tua sibuk berperang. Para guru yang berani mengajar akan ditangkap oleh tentara musuh. Banyak juga guru yang ditawan karena tetap nekat mengajar anak anak. Akhirnya negeri ini berhasil melepaskan diri dari kekuasaan mu- Wah, aku ingin menjadi guru , ujar Dylla.. suh itu. Raja kami mulai menata tempat ini. Belajarlah dengan rajin dan jadilah guru yang cerdas dan berbudi, saran Elisa. Beliau menyekolahkan pemuda dan pemudi Terima kasih Elisa. Aku akan rajin belajar agar yang cerdas di negeri seberang dengan biaya menjadi guru yang cerdas dan berbudi, jawab yang sangat mahal agar mereka dapat menjadi Dylla. guru yang cerdas, bijaksana, berbudi, terampil, Dylla, sepertinya sudah sore. Pulanglah dulu, dan tegas. Raja berpendapat bahwa sebuah pasti ibumu mencarimu , Elisa menyuruh. negeri akan maju bila negeri itu memiliki anak- Iya, aku pulang dulu ya. Kapan kapan aku anak yang cerdas dan berbudi. Olah karena itu boleh kan bermain kesini lagi? tanya Dylla. Raja menyekolahkan pemuda-pemudi cerdas Tentu. Tetapi, kamu jangan beritahu siapapun ke negeri seberang agar dapat menjadi pendid- tentang negeri ini, pinta Elisa. ik yang berkualitas untuk mendidik anak anak Tentu. Aku janji, jawab Dylla tersenyum. di negeri ini. Makasih Dylla. Oh ya aku masih punya banyak cerita tentang negeri ini. Kamu pasti senang Rakyat bekerja keras untuk membantu Kerajaan mendengarnya, tutur Elisa. membayar biaya sekolah guru guru itu. Sete- Besok aku akan kesini lagi, janji Dylla.

25

Besok aku akan menunggumu di ujung gua. kata Elisa. Iya, aku akan datang pada pagi hari. Ayo aku antar ke gua. Iya, terima kasih, Lis. pamit Dylla. Di perjalanan menuju gua, Elisa menceritakan mangapa negeri Ilmu bisa terhubung dengan kebun rumah Dylla melalui gua itu. Dahulu, saat peperangan masih berlangsung, gua ini digunakan sebagai tempat berlindung kaum wanita, dan anak anak. Gua ini juga digunakan sebagai tempat bersekolah dengan diam diam. Ujung gua ini tidak sampai tembus di kebun rumahmu Dyl, tetapi, pasukan kerajaan akhirnya mengetahui juga tempat persembunyiaan ini dan membom habis gua ini. Tetapi, sebelum gua ini dibom oleh pasukan kerajaan, berika pemboman telah bocor terlebih dahulu. Anak anak dan kaum wanita telah diungsikan secara diam-diam. Lisa, kamu kok paham sejarah negeri ini dengan mendalam? Padahal kamu kan seumuran dengan aku. Jadi nggak pernah merasakan semua kejadian itu sendiri. Kami wajib tahu sejarah negeri ini sehingga menjadi seperi sekarang ini. Dyl. Kalau kamu menanyakan hal ini pada anak kecil, mereka pasti juga dapat menceritakan ini, jawab Elisa. Tidak terasa mereka telah sampai di ujung gua. Dylla mengucapkan terima kasih pada Elisa, dan berjalan memasuki gua. Dadaah, kata Dylla. Dadah juga, besok main kesini ya, balas Elisa. Iya. ujar Dylla. Dylla berjalan ke luar gua. Sesampainya di be-

lakang pohon besar, Dylla berlari menuju sungai. Dylla mengubah arah datangnya agar terlihat seperti dari sungai. Dylla berjalan menuju rumah. Hari sudah sore. Ibu tampak sedang duduk di depan pintu yang menghadap kebun, Ia tampak gelisah, wajahnya cemas. Ibu tidak melihat. Dylla berjalan dari arah kebun. Ibu! panggil Dylla. Ibu langsung berlari menghampiri anak perempuan semata wayangnya itu. Kamu kemana saja nak? Ibu mencarimu kemana mana, Ibu khawatir. Dylla bermain di kebun Bu Jawab Dylla menenangkan Ibu. Sekarang Dylla mandi dulu sana, lalu makan. Ibu tunggu di ruang makan ya, kata Ibu. Baik, Bu, jawab Dylla. Dylla berjalan masuk rumah. Wah pengalaman yang mengesankan, pikir Dylla..

Rama Parasu, Pejuang Keadilan. Kenang-kenangan dari Tirto Utomo Foundation untuk Bapak Bupati Wonosobo.

26

Guru Kehidupan
EKO HASTUTI Perpustakaan Srikandi

Pelanggaran ketiga, sering juga tidak mengerjakan PR. Pelanggaran lainnya, menggangu pelajaran, meremehkan teman, sampai suatu saat guru maple yang tidak terima Maaf, belum selesai koreksinya. Kan baru karena merasa dilecehkan. Belum lagi, setiap ulangan, Kaka tidak remidi karena nilainya kemarin, jawabku jujur. kurang dari KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Kalau nilai Ulanganku tidak remidi, Bu intan Anehnya, Kaka tidak pernah merasa malu atau saya kasih uang! tukas Kaka sambil berkacak sedih. Yah, ekspresinya biasa saja orang dia pinggang. Aura kesombongan muncul memang tidak pernah belajar. Wajar ia begitu persis seperti hari-hari biasanya. Wajahnya PD saja, meski nilai-nilai ulangannya jauh dari menyeringai, sorot matanya jalang, berpadu ketentuan. dengan seragam yang awut-awutan. Hem tidak dimasukan. Hasduk tidak dikenakan dan ikat Banyak bu, kan ayah saya pejabat! jawab Kaka pinggang juga tidak kelihatan. Dan kaos kaki mantap membuyarkan anganku tentang dia. hitam itu, hanya mengintip dibawah mata kaki Baik, kita berembug saja di ruang BK. Di sia karena ujungnya dilipat ke dalam. tidak enak kataku berusaha sabar. Bu Intan, gimana nilai Ulangan Harian saya kemarin, seloroh Kaka saat berpapasan denganku di samping Ruang 8-C. Oh ya, memang Kaka punya uang berapa? jawabku sambil menahan kemarahan. Soalnya, kasus anak ini sudah keterlaluan. Sejak awal masuk kelas 8c, Kaka terus-terusan membuat ulah. Setiap hari Sabtu tidak piket kelas. Alasannnya bangun kesiangan lah, mobil mogok dijalan lah, sampai alas an klasik yang menyebalkan lupa pun dijadikan senjata untuk mengelabui guru. Pelanggaran keduan yang juga sering diulang-ulang adalah terlambat dating. Meski sudah diantar sopir, namun masih juga terlambat Sesampainnya di ruang BK, Kaka kupersilahkan duduk. Kepala masih tegak, sorot mata liar, tak sedikit pun Kaka merasa takut apalagi malu. Persis seperti hari-hari sebelumnnya saat kupanggil kare melanggar tata tertib sekolah Kaka, belum cukup apa kau membuat ulah selama ini? Belum puas kau pamerkan jabatan dan kekayaan ayahmu? Ingatlah, jabatan dan kekayaan itu hanya titipan Tuhan. Kapan Tuhan berkehendak mengambilnya, tidak ada yang bias mencegahnya. Lagian semua itu kan milik ayahmu, kenapa kau bawa-bawa ke sekolah.

27

Sekolah itu bukannya mencari ilmu? Bukan untuk ajang pamer kekayaan dan jabatan? Ingatlah Kaka, di atas langit masih ada langit. Kau tahu maksudnya itu? Kaka diam saja, sepatah kata pun keluar dari bibirnya yang membiru. Agaknya Kaka sudah ketagihan merokok, meski baru kelas 8 SMP. Aku kembali menyodorkan Buku Kasus siswa, entah yang keberapa kali Artinya, kekayaan dan jabatan ayahmu itu belum seberapa dibanding kekayaan dan jabatan orang lain. Coba hitung saja uang, mobil, rumah, tanah, deposito, dan lainnya yang ayahmu miliki, itu belum seberapannya kekayaan konglomerat. Jabatan ayahmu juga apa sih? Baru Kasi di Lembaga Abal-Abal yang syarat korupsi itu kan? Masya Allah, Kaka, belum lagi kau tandingkan dengan pemilik alam semesta ini. Yah, Allah Taala. Tuhan pencipta dan pemilik segalannya. Subhanallah, kita ini tak ada apa-apanya. Kapan saja Allah menghendaki yang ayahmu miliki sekejap akan lenyap begitu saja kataku panjang lebar Kaka mulai tertunduk, matanya agak redup, meski belum terucap kata maaf dari mulutnya. Lihat Kaka, baru tiga hari yang lalu kamu berjanji tidak akan membuat salah lagi. Kenapa sekarang kau ulangi lagi? tanyaku sambil menahan amarah

tidak remidi. Itu tidak sopan tahu tidak? sergapku. Ya, biasa saja Bu. Ngomongnya memang biasa, tapi moralmu yang luar biasa. Masak anak seusiamu sudah mengenal uang sogok. Bukannya kamu sudah merasa kalau nilaimu pasti jelek. Lalu dengan cara yang diajarkan ayahmu menyogok dengan uangnya yang banyak? jelasku sedikit gusar. Kau pikir semua bias dibeli dengan uang? seperti berita-berita di TV itu. Para koruptor bisa lepas dari jeratan hukum karena uang sogokannya kepada hakim dan jaksa? Insyaf lah, Kaka kalau semua guru sudah mau disogok seperti itu, hancurlah dunia ini. Guru itu gur yang harus bisa digugu dan ditiru. Guru juga pencetak peradaban. Mendidik akhlak, mengukir nurani dan penhias jiwajiwa yang jujur, disiplin, tangguh, mandiri dan bertanggung jawab. Jadi, kalau gurunya bisa disogok, bagaimana muridnya yang kelak jadi lurah, camat, bupati, gubernur, mentri, jaksa, hakim atau presiden? Mau jadi koruptor semua? Apa jadinnya negri ini?

Kaka mulai tertunduk, dan sejenak air matanya berkilau meski disembunyikan. Dengan pelan Kaka berkata, Maaf, Bu Intan. Saya telah membuat ibu tersinggung. Saya berjanji untuk yang terakhir kali, kalau saya tidak berbuat Maaf, Bu Intan. Saya salahnya apa, bukankah salah lagi saya cuma tanya hasil ulangan Bahasa Indonesia kemarin? jawab Kaka sedikit cuek. Bagus, janjimu sudah didengar oleh Tuhan dan dicatat Malaikat yang senantiasa mengiringimu Oh jadi kamu belum tahu salahmu? Tadi kamu kemana pun kau berada, jawabku mantap bilang mau ngasih uang Bi Intan kalau nilaimu

28

Jarum jam menunjuk angka 13.35 saat kupijakan kaki ke Rumah Peradaban. Yah, kota ini dengan label RSSS. Rumah Sangat Sedikit Semen atau Rumah Sangat Sulit Selonjor julukan beberapa orang yang pernah kudengar diangkot. Segera ambil air wudhu unutuk menunaikan shalat zhuhur. Belum sampai kulepas mukena, kudengar suara suamiku sayup-sayup mengucapkan salam, Assamamualaikum? Waalaikum salam warrohmatullahi wabarakatuh, jawabku sengaja keras agar kedengaran dari luar. Nampak wajahnya sedikit pucat dan tangan kanannya terasa dingin saat kucium.

sampai di kota gunung ini. Sikap-sikap mau main hakim sendiri juga merambah sampai desa-desa yang tak tersentuh oleh hokum Negara juga hukum agama. Seolah tak percaya dengan keadilan persidangan yang memang sudah bisa dibeli denga uang. Permisi bu! Mau bertemu dengan pak RT, sudah tidak sabar lagi ini bu! kata pak Saidin membuyarkan anganku. Yah! Hanya pak Saidin yang kukenal dari lima orang yang berdiri di depanku saat itu. Oh mangga Pak, silahkan masuk, jawabku agak gugup berusaha tetap tenang. Toh kami tidak punya salah, mengapa harus takut.

Kenapa, Bi? Sakit ya? Kok pucat dan dingin? Pak RT mana bu? Saya mau lapor. Pokoknya sapaku lembut. saya tidak terima kelakuan Si Kosim seru pak Saidin mulai panas. oh iya kalau begitu Abi masuk saja, saya yang menemui tamu jawabku sekenanya dan penuh Sabar pak, kalau ada masalah itu kita bicarakan tanda tanya. baik-baik. Tunggu dulu ya, lebih baik langkahi Mendadak jantungku berdetak kencang, mayatku dulu, sergah Si Mus bernada lebih darahku mengalir deras, dan bulu kudukku tinggi. berdiri. Pedang, kelewang, gobang dan sabit Rupanya Si Mus ini putrannya Pak Saidin. berkilau kena terpaan sinar matahari yang Sabar pak, kalau ada masalah kita bicarakan begitu panas. Meski benda-benda tadi agak dengan baik-baik. Tunggu dulu ya, pak RT disembunyikan di sisi sarung dan diselipkan sedang shalat zhuhur. Sebentar lagi selesai di pinggang, tapi Nampak jelas tertangkap jawabku menengahkan. mataku. Sengaja kuulur-ulur waktu unutuk menemui Wajah-wajah sangar dan penuh amarah tamu-tamu tak diundang itu. Kubuatkan teh memancar tajam. Sejenak aku teringat hangat dan sedkit camilan yang ku beli di kerusuhan-kerusuhan, tawuran pelajar, demo warung dekat sekolah yang rencana mau buat anarkis, dan perkelahian antar suku yang buka puasa sunah nanti sore. Yah, beruntung kudengar dari televisi nyata didepan mataku. hari ini hari senin, jadi kami dalam kondisi Betapa bobroknya negri ini, korupsi, kolusi, puasa, terlindung dari amarah yang sering nepotisme, dan perkelahian telah merajalela mudah membara

29

Silakan diminum Pak. Mudah-mudahan membuat sedikit nyaman. Boleh saya tahu ada masalah apa? Kok tumben main ke rumah? sapaku dengan ramah. Bersyukurlah rasa takut dan khawatir yang tadi muncul hilang sudah. Pikirku, toh Allah akan melindungi dari orang-orang yang jahat. Gini bu, Kosim telah menginjak-injak harga diriku. Tadi pagi bebeknya yang puluhan itu telah masuk ke sawahku. Merusak tanaman padi dan memakan semua ikan yang kuceburkan di sawah itu! kata pak Saidin membuat aku mulai jelas duduk permasalahannya. Ikan yang baru sebulan ditebar habis bu! pokoknya si Kosim harus bertanggung jawab. Kalau tidak mau, biar kupenggal lehernya yang berkepala botak itu! kata si Mus berapiapi sambil mengangkat sebilah pedang dan diarahkan melintang di depan leher.

Sudah, orang saya tahu langsung saya ke rumahnya. Tapi yaitu si Kosim jawabnya ngawur, jadi saya pulang ambil parang dan pedang ini, biar si Kosim tau diri, jawab si Mus masih marah. Berapa ikan pak Saidin yang dimakan bebek itu dan seberapa banyak padi yang rusak? tanyaku berhati-hati Wah ikannya tak terhitung Bu, yang jelas saya beli ratusan ekor. Tanaman padinya juga rusak parah, jawab pemuda gondrong yang dari tadi diam saja. Rupanya masih saudara dekat si Mus

Baik mas, saya sekarang sudah tahu permasalahanya. Silakan diminum dulu, saya panggilkan pak RT, mudah-mudahan shalatnya sudah selesai. Soalnya kalau sholat khusuk sekali, jadi agak lama nunggunya kataku sambil undur diri. Lega hatiku, suamiku menemuiku menemui Sabar dik, masalah kan bisa diselesaikan. orang yang semula marah sudah mereda Sekarang mau sampeyan bagaimana? tanyaku kemarahannya. sabar. Aku yakin, tidak lama pasti masalah selesai Sebagai pihak yang dituakan kami hanya karena suamiku juga orang yang sangat bisa menengahi kalau ada pihak-pihak yang bijaksana. Makanya, di perumahan yang baru bertikai, imbuhku pelan. beberapa bulan kutempati ini, suamiku terpilih menjadi Ketua RT, sebuah jabatan sosial yang Si Kosim tidak mau ganti bu! Katanya ia tidak penuh pengorbanan dan tanggungjawab. salah waktu bebeknya masuk ke sawahku. Nah, Jabatan tanpa bayaran, tanpa komisi, apalagi itu yang membuat saya marah. Katanya yang peluang untuk korupsi. Tapi, bagi siapa saja salah bebeknya, gitu bu! jawab pak Saidin yang bisa memerankan diri, ia akan lebih sudah mereda kemarahannya. berharga ketimbang Para Dewan dan Menteri, Hakim dan Jaksa, juga Pejabat Tinggi lainnya Oh begitu, memang tadi sudah ke pak Kosim? yang dengan bangganya melakukan korupsi. tanyaku penasaran. Meski tamuku tadi belum berpamitan pulang,

30

aku berani tinggalkan Rumah Peradaban ke Rumah Pengetahuan. Yah, Rumah Peradabanku belum cukup bagiku untuk negeri ini. Kapan pun dan berapa pun uang, sekedar minum dan sepotong kue saat berembug berbagai hal kehidupan masyarakat ku keluarkan. Tak masalah, komputer rumah, kamera, sepeda motor butut di pakai untuk kepentingan kampong. Tak masalah, waktu istirahat terkuras untuk menunggu Rumah Pengetahuan yang susah payah kubangun untuk melayani peminjam buku. Tak masalah pula, aku harus terlibat berbagai hal yang kadang memenatkan kepalaku, asal semua itu sebatas tanggung jawabku sebagai Ibu PKK RT dan Ibu Rumah Pengetahuan. Karena, aku ingin menjadi Guru Kehidupan. Bukan guru yang hanya mengajarkan ilmu saja, tapi guru yang dapat menjadi cahaya penenang bagi murid-muridku, jadi teladan dan panutan dalam berperilaku. Bu Intan, saya pinjam buku ini boleh tidak? tanya Sinta, pengunjung Rumah Pengetahuan menyadarkan lamunanku.

hematlah, buang-buang waktulah, ihsebel. Bu Intan kan tahu ya, kalau sekarang ini apa-apa mahal. Masak sih sehari Cuma di suruh makan tahu tempe terus? Kan bosan, apalagi Si Imel, yang sudah tahu makanan modern yang enakenak. Kayak diiklan TV itu lho! Maunya makan sosis, soghut, kentuccy, aneka mie instan, dan macam-macam lah kata Bu Tini meledak-ledak. Ada Bu, di Rak kuning sebelah kiri televisi itu. Dicari saja di baris ketiga. Kalau belum dipinjam, pasti ada disitu. Oh ya, buku tentang Aneka Resep makanan Anak juga ada. Bahan bakunya saja kataku sambil mengembalikan buku-buku pengembalian ke rak sesuai klasi kasi buku.

Memang, Rumah Pengetahuanku tidak sekedar Perpustakaan Desa saja. Yang lebih banyak menjadi gudang buku dengan debu-debu menempel di rak, buku, dan meja. Atau sepi dan hampa karena tak ada satu pun pengguna yang datang berkunjung. Tapi Rumah tempat belajar apa saja. Rumah untuk menggali dan menimba ilmu. Rumah tempat berbagi dan Tidak boleh, sayang. Itu bukan buku untuk bersinergi. Rumah tempat berdiskusi dan usiamu. Itu untuk Mbak-Mbak yang sudah mencurahkan hati. SMA, pilih lagi yang, buku yang di rak biru itu. Yah, Rumah Pengetahuan tempat anak-anak Buku-bukumu di situ semua, kataku agak kaget bermain riang dan wadah ibu-ibu belajar saat membaca judul bukunya, Tips Berpacaran berbagai keterampilan. Rasa capai rasanya Sehat. Mungkin gambar hati berwarna pink hilang, saat berkumpul lagi dengan anakpada cover depan buku itu yang membuat anak kecil, remaja, dan ibu-ibu bertandang di Sinta yang baru kelas empat SD itu tertarik. Rumah Pengetahuan. Ada secercah harapan hadirnya masa baru yang indah dan penuh Bu, ada buku tentang Cara Mengelola keceriaan, kejujuran dan kesungguhan dalam Keuangan Keluarga? Aku lagi jenuh nih di rumah. menghadapi tantangan kehidupan. Jiwa-jiwa Lagi BT. Habis dikritik terus sama bapaknya yang bermartabat karena terbalut oleh ilmu anak-anak. Katanya aku pemboroslah, tidak dan iman yang kuat.

31

Hari yang indah, banyak kesempatan bagiku untuk berbagi ilmu dan amal hari ini, gumamku dalam hati sambil sambil menutup jendela dan pintu Rumah Pengetahuanku. Ada rasa yang membuncah dada. Melambangkan khayal dan melayangkan angan tinggi ke angkasa untuk menyongsong dunia baru, dunia peradaban. Belum sampai kupijakan kaki kembali ke Rumah Peradaban, tetangga yang menjadi Tukang Pos, mengantar surat untukku.

Studi lanjut yang sangat sulit dan menguras energi itu terlampaui juga. Semakin mantap rasanya untuk menapakkan kaki ke depan. Berbekal ilmu yang cukup, pengalaman nan penuh aral melintang, dan banyaknya makan asam garam kehidupan, membuat aku melangkah pasti menjadi GURU KEHIDUPAN.

Kejuaraan Renang Kelompok Umur memperebutkan Tirto Utomo Cup di Wonosobo, 2010

32

Dia Telah Pergi


MUSHOFFA Perpustakaan Smart

menghargai, tekun, dan sabar menjalani pekerjaan yang menopang kehidupan saya. Kalimat yang diucapkan Pak Hary ketika pagi- Pulang sore itulah yang membuat kebutuhan pagi di ruang guru. Tak biasanya ia menyalami saya dan keluarga tercukupi. Alhamdulillah, aku. Saat itu, ruang guru masih agak sepi. Dari meskipun gaji saya tinggal seberapa, tetapi 29 guru, baru ada enam orang yang telah hadir. kebutuhan keluarga tercukupi. Entah berapa Memang, waktu baru menunjukkan pukul pun uang yang saya dapat dari pekerjaan yang 06.35. Guru-guru biasanya hadir sekitar pukul saya tekuni ini. 06.45. Dari apa yang disampaikan pak Hary, aku Pak Hary adalah pembantu kepala sekolah jadi terpikirkan sebuah pepatah, Siapa giat, urusan kurikulum. Ia sebagai kurikulum ia pasti dapat. Tugas urusan kurikulum di 2. Umurnya yang sudah kepala 5 tidak sekolah merupakan tugas yang cukup berat. menghalanginya untuk tetap disiplin. Hampir Kegiatan-kegiatan akademik sekolah bermuara setiap hari, ia selalu datang pagi-pagi. Meskipun pada peran urusan kurikulum. Pembagian baru satu tahun aku bersamanya, penilaianku jam mengajar, penyusunan jadwal mengajar, padanya adalah ia pantas sebagai guru tua Kegiatan Tengah Semester, Ulangan Semester, teladan. Bagaimana tidak, ia datang paling pagi Try Out Ujian Nasional, Ujian Sekolah, dan Ujian Nasional adalah contoh-contoh kegiatan dan pulangnya selalu sore hari. akademik yang diujungtombaki oleh urusan Pernah suatu kali aku bertanya padanya. kurikulum. Dari beberapa kegiatan tersebut, Pak Mengapa Bapak selalu pulang sore? Mengapa Hary mendapatkankan penghasilan tambahan. tugas kurikulum tidak diselesaikan di rumah saja? Ia lalu bercerita sedikit tentang Pernah pula pada suatu hari yang lain, aku keluarganya. Istrinya yang sakit stroke, anaknya menanyakan padanya. Mengapa gaji Bapak yang sedang kuliah di Jogja, dan tentang gajinya tinggal sedikit? Padahal, gaji Bapak kan sudah yang tidak tinggal seberapa. Kok jawabannya mencapai tiga jutaan? sampai ke hal itu? Besar pasak dari pada tiang, Pak Ofa. SK PNS Pak Ofa, saya bisa menghidupi dan mencukupi saya disekolahkan di bank untuk kebutuhan keluarga ya dari pekerjaan ini. Jadi, saya harus keluarga, jawabnya sambil tersenyum. Giginya Maafkan saya ya, Pak Ofa.

33

yang besar-besar dan agak jarang sedikit kelihatan.

dan tekadnya.

Pagi itu, saat Pak Hary meminta maaf, hadir SK-nya nanti tambah pintar dong, Pak Hary, dalam benakku sedikit pertanyaan. Mengapa Pak Hary melakukannya? Pertanda apakah? Tak candaku. biasanya ia seperti itu. Namun, pertanyaan itu Wah, betul itu Pak Ofa. Malah, SK-nya juga tak mendapat jawaban. Hanya, sepeninggal tidak mau tamat-tamat sekolahnya. Nambah Pak Hary dari hadapanku, semerbak harum terus. Hehehe, jawabnya sambil tertawa canda. melati menelusup ke lubang hidungku, diantar oleh angin yang sepoi-sepoi. Tapi nggak apa-apa ya, Pak. Kan uang Bapak juga tambah banyak. Hehehe, sahutku sambil Waktu menunjukkan pukul 11.00. Bel istirahat turut tertawa. kedua telah dibunyikan. Aku menuju meja Bu Tri. Ia adalah guru muda kesayangan Pak Sebenarnya, pinjaman saya yang terakhir ini Hary. Bukan apa-apa, ia dianggap Pak Hary cukup berat, Pak Ofa. Tapi bagaimana lagi? seperti anaknya sendiri. Tugas-tugas keguruan Kalau tidak pinjam, keluarga saya harus pindah- yang dimiliki oleh Bu Tri sering dibantu pindah kontrakan. Akhirnya ya saya beranikan dan diselesaikan oleh Pak Hary, misalnya diri untuk pinjam dalam jumlah besar. menyusun RPP, Silabus, mengetik naskah soal ulangan harian, dan memasukkan nilai-nilai Berarti pinjaman itu untuk membangun rumag hasil ulangan ke komputer. Tidak tahu alasan jelasnya, mengapa Bu Tri sangat disayanginya? dong, Pak? tanyaku. Bu Tri adalah adik kelasku ketika kuliah di Semarang. Kebetulan setelah aku mutasi dari SMP Kalibawang, sekarang bertemu di SMP Leksono ini. Penampilannya masih seperti dulu, terutama tentang jilbabnya. Dia masih bersabar, meskipun sudah wiyata bakti hingga 7 tahun tetapi belum diangkat menjadi PNS. Bu Tri, maaf. Tadi Pak Hary membicarakan apa Pak Hary menceritakan bagian dari dengan Ibu saat istirahat pertama? Kelihatannya kehidupannya. Ia begitu lepas saat bertutur kok serius banget? tanyaku. kata. Seolah-olah hidup memang harus berjalan seperti itu. Ia tak dapat menghindarinya. Ia Tidak apa-apa, Pak. Hanya perangkat sadar akan tanggung jawabnya sebagai laki- pembelajaran agar segera disusun secepatnya. laki dan kepala rumah tangga. Rambutnya Selagi Pak Hary masih bisa membantu. Jawab yang sudah beruban tak menghalangi niat baik Bu Tri. Ya, Pak Ofa. Saya pinjam sebanyak 95 juta. Angsurannya per bulan 2,4 juta. Lamanya adalah 5 tahun. Sekarang baru diangsur satu setengah tahun. Semoga saja saya dapat mengangsur sampai lunas. Andaikan saya terlebih dahulu meninggal, ya karena ada jaminan asuransi kredit, oleh bank akan dianggap lunas.

34

Pak Hary minta maaf dengan Bu Tri tidak?

***

Iya. Pak Hary minta maaf. Saya juga tidak tahu Memandang bintang-bintang di langit. mengapa minta maaf. Memangnya ada apa, Pancaran sinarnya terlihat hingga jauh. Kerlapkerlip bak lentera tertiup angin. Menghiasi Pak Ofa? malam yang gulita. Memandu mata untuk Kalau begitu sama. Tadi pagi Pak Hary juga menemukan arah, di balik gelap yang minta maaf kepada saya. menyelimuti bumi. Ketika badan yang lelah telah rebah. Bibir Ooo, ada apa ya, Pak Ofa? melantunkan doa melepas segala urusan Saya juga tidak tahu, Bu. duniawi. Jiwa pun tenggelam dan lelap ke dalam alam mimpi. Tadi, saya bertemu Dita yang ada di kelas IX A, ternyata Pak Hary juga minta maaf di kelas Malam itu, aku berkendara di atas jalanan aspal tersebut. bersama-sama dengan beberapa teman guru SMP. Kami pulang dari Temanggung menuju Iya, tadi Egi yang ada di kelas IX D juga cerita ke Wonosobo. Mobil telah sampai di Bedakah, hal yang sama, Bu. kebun teh Tambi. Kabut tebal mengganggu pandangan mata. Sinar lampu mobil pun hanya Bincang-bincang kami harus dihentikan. Bel mampu menembus jarak 3 meter. Sungguh tanda masuk jam ke-6 sudah dibunyikan. jarak pandang yang sangat berbahaya di Aku segera mengambil buku-buku dan LKS jalan raya. Sementara dinginnya udara mulai serta perangkat mengajar yang ada di meja. mencubit-cubit kulit. Selanjutnya, bersama guru-guru yang lain menuju kelasnya masing-masing. Mobil pun berjalan dengan sangat pelan. Akan tetapi, hatiku masih was-was. Dalam sedetik Mentari berjalan perlahan dan teriknya kian ada pancaran sinar lampu berjarak 3 meter terasa. Ruang kelas IX E yang kuajar pun kelihatan, sopir langsung banting setir ke kiri udaranya menjadi agak panas. Hani dan agak menjauh. Namun di sisi lain, hati kami Riri yang tempat duduknya berada di sudut juga was-was dan hawatir kalau saja ban mobil ruang kelas sebelah kanan menjadikan buku sebelah kiri terperosok ke dalam jurang di tepi catatannya untuk kipas-kipas. Sebentar mereka jalan. Ketika beberapa kali berpapasan dengan melakukan itu, karena enggan ketika aku lihat. mobil dari arah berlawanan, hati kami selalu Akhirnya, ketika alunan nada-nada musik deg-degan. Jantung terasa berdetak lebih penanda pulang mengalun, para siswa pun kencang. Kata-kata, Awas! Ada lampu mobil bersorai kecil. Kebahagiaan terpancar di wajah- dari depan! , Hati-hati! Jangan terlalu ke kiri! wajah mereka yang telah lelah belajar seharian. selalu terulang dan terdengar di dalam mobil.

35

Ketika sampai pada jalanan yang akan menurun, tiba-tiba lampu utama bagian depan yang sebelah kiri mati. Pet!!! Kami kaget. Mobil pun dihentikan. Kami pun panik, ribut, dan bingung. Dengan dua lampu saja, jarak pandangnya 3 meter dan masih remang-remang. Sekarang, hanya dengan satu lampu? Jelas, betapa gelapnya sisi bagian kiri jalan. Badan jalan yang sebelah kiri tak tampak. Yang terlihat hanya sisi gelap dari kabut putih yang sangat tebal. Sesaat aku berpikir, mengapa kabut malam ini begitu tebal? Apakah karena pengaruh hujan tadi sore hingga malam ini yang belum reda. Tak biasanya kabut setebal ini. Selama perjalanan bolak-balik Semarang-Wonosobo yang pernah kujalani pada malam hari, belum pernah aku temui kabut setebal ini.

setengah dari perjalanan terlewati, ketika tim sedang berada di jalanan puncak dan hampir menurun, tiba-tiba salah satu lampu utama mati. Padahal malam berselimutkan kabut tebal. Apa yang harus kami lakukan? Jika berhenti, maka tak akan sampai di tujuan. Jika dilanjutkan, artinya semuanya harus bersabar, karena perjalanan akan ditempuh dengan lebih pelan dan hati-hati. Kepanikan juga harus segera diatasi dengan bersama-sama berdoa pada Tuhan yang Kuasa, semoga selamat sampai di tujuan. Bagaimana sekarang teman-teman? Kita berhenti sebentar atau melanjutkan? tanya Pak Tio, sang sopir.

Kita berhenti saja, menunggu hingga kabut tebal menghilang. Setelah itu, kita lanjutkan Sepanjang sore tadi, hujan deras mengguyur perjalanan, usul Bu Via. bumi. Angin kencang turut serta hadir beramai-ramai dan memain-mainkan air Tidak, saya tidak setuju. Lebih baik kita hujan dan pepohonan. Bahkan, banyak pohon tetap berjalan, tetapi pelan-pelan. Sekarang yang tumbang. Tak sedikit pula, seng-seng waktunya sudah menunjuk pukul 22.30, sahut atap rumah penduduk yang berterbangan. Bu Tatik. Petir dan halilintar pun tak mau kalah dalam Tapi kalau dilanjutkan, resiko perjalanan tinggi. menunjukkan kedahsatannya. Sungguh, Jurang terjal dan dalam ada di sisi kita, kata Bu kondisi yang menakutkan. Ita. Meskipun begitu, aku dan rombongan tetap pergi ke Temanggung untuk pelatihan. Tetapi kalau menunggu, kita juga tidak tahu. Tujuannya adalah untuk membekali diri Kapan kabut akan menghilang dan hujan akan agar lebih siap dalam mengantar anak didik berhenti, kataku. menempuh Ujian Nasional. Pelatihan berisi tentang bagaimana membedah Standar Terus, sebaiknya sekarang bagaimana? tanya Kompetensi Lulusan dan bentuk-bentuk soal Pak Tio kembali. Ujian Nasionalnya. Aku dan teman yang lain tak ada yang Namun dalam perjalanan pulang, ketika menjawab. Semua diam. Semua memandangi

36

apa yang ada di sisi kanan-kiri dan depan mobil. Sisi kanan-kiri bersebelahan dengan jurang. Sementara, sisi depan berhadapan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Dalam diam itu, diantara ketakutan, kebingungan, dan kesedihan, perlahan-lahan mataku benarbenar terbuka. Ku pandangi bagian depan, di sana langit-langit kamarku tampak jelas. Di bagian sisi kanan dan kiri, tubuhku berada di atas tempat tidur. Aku bermimpi. Mimpi yang cukup menakutkan. Segera aku bangun, lalu melihat jam dinding, pukul 22.30. Mengapa tepat seperti dalam mimpiku? Tanya batinku. Aku menuju kamar mandi, ku basuh mukaku. Lalu aku keluar rumah. Ku lihat langit dari halaman rumah. Tampak bintang-bintang masih bersinar gemerlapan. Sesaat kemudian, aku pun berdoa kepada Tuhan. Tiba-tiba, terdengar jelas ada dering SMS yang masuk ke hpku. Aku pun segera masuk ke dalam rumah. Ku buka SMS baru. Pengirimnya ternyata Bu Tatik. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.... Begitu kalimat pertama yang kubaca. Kalimat-kalimat berikutnya menyampaikan bahwa Pak Hary telah meninggal dunia di RSUD malam ini. Jenazah akan dimakamkan esok pagi. Temanteman diharap untuk turut berduka cita.

*** Ruang guru pagi itu begitu lengang. Sepi, tak banyak suara. Bahkan, beberapa guru wanita yang duduk di belakang mejanya, mengusap air mata. Sesekali mereka saling pandang. Dan di balik tatapan mata mereka, ada pertanyaan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Pak Hary yang kemarin masih sehat dan mengajar seperti biasa, pagi ini sudah tidak bisa lagi hadir bersama-sama. Pak Hary yang kemarin masih memperingatkan siswa yang melanggar aturan sekolah, pagi ini sudah tak lagi bisa didengar suaranya. Pak Hary yang kemarin masih memberi les jam tambahan sore hari mata pelajaran Matematika, mulai hari ini sudah tak bisa lagi. Padahal, Ujian Nasional sudah sangat dekat dan nilai Matematika siswa pun masih banyak yang belum baik. Kehadiran Pak Hary sebenarnya masih sangat dibutuhkan. Namun, takdir adalah kenyataan yang harus diterima. Sesekali, guru-guru melihat meja kerja dan kursi Pak Hary yang tidak lagi berpenghuni. Dan ... air mata pun kembali meleleh, lepas dan terjatuh.

Ku coba untuk bertanya kepada Bu Heni tentang penyebab kematian Pak Hary. Bu Heni adalah tetangga Pak Hary. Dari cerita Bu Heni, ternyata Pak Hary terjatuh dari lantai dua rumahnya. Ia bermaksud membetulkan seng rumahnya yang terlepas oleh angin. Sementara hujan Ya Allah... inilah arti dari tabir mimpiku tadi. Ini masih sangat lebat. Pada saat Pak Hary sedang juga jawaban atas pertanyaan, mengapa Pak memegang seng tersebut, angin kencang Hary tadi pagi meminta maaf kepadaku dan datang menerjang. Pak Hary yang berada di yang lain? Sungguh rahasiamu tak ada yang bibir teras lantai dua, tak kuasa menahannya. tahu, kecuali kepada orang-orang yang Engkau Akhirnya, tubuhnya terhuyung-huyung dan kehendaki. terpelanting lalu jatuh dari ketinggian tiga meter. Kepala Pak Hary menghantam pondasi

37

rumah dengan kerasnya. Itu mungkin yang menyebabkan ia akhirnya meninggal dunia setelah beberapa saat sempat dimasukkan ke Ruang ICU RSUD.

Ku langkahkan kaki menuju kelas. Begitu pun guru-guru yang lain. Sepanjang langkah tak ada kata-kata. Pembelajaran hari ini tetap dilangsungkan, walaupun dalam suasana duka. Pemakaman Pak Hary direncanakan pada pukul 10.00. Rumah duka letaknya sekitar 150 meter Ketika memasuki kelas, suara tangis ada di setiap dari sekolah. Pembelajaran untuk hari ini tidak tempat. Tidak hanya siswa putri, siswa putra pun berlangsung seperti biasanya. Kepala sekolah, ada yang tak kuasa menahan air mata. Mereka guru, karyawan, dan siswa kelas IX mendatangi kehilangan orang yang memberi cahaya ilmu, rumah duka untuk memberikan penghormatan khususnya ilmu Matematika. Mereka mungkin terakhir sekaligus doa untuk almarhum dan juga tidak menyangka-nyangka, jika Pak Hary keluarga yang ditinggalkan. akan pergi saat Ujian Nasional tinggal satu bulan lagi? Padahal, masih banyak siswa yang Air mata kembali meleleh, membasahi pipi belum menguasai materi Matematika yang dan menghiasi wajah-wajah kehilangan. Ketika diujinasonalkan. Dita, Lecha, dan Sari tak lagi keranda telah dijalankan di atas roda-roda bisa merasakan kasih sayang seorang guru manusia, menuju ke tempat peristirahatan dan sekaligus seseorang yang mereka anggap yang abadi. Selamat jalan Pak Hary, jasamu sebagai Ayah. Figur Pak Hary yang mampu tak akan terlupakan. Ilmu yang kau berikan mengayomi, melekat di hati mereka. akan menerangi langkah-langkah putra-putri penerusmu. Semangat dan etos kerjamu akan Ku coba untuk membuat mereka kuat dan lepas memacu guru-guru untuk terus mengabdikan dari tangisan. Tak ada yang harus disesali karena dirinya demi kemajuan pendidikan Indonesia. takdir Tuhan itu adalah yang terbaik. Entah Semoga amal baktimu diterima. Dosa dan terbaik untuk siapa? Di balik sebuah musibah kesalahanmu diampuni. Kami yang kau dan bencana, pasti ada hikmah bagi orang- tinggalkan, semoga tetap diberi kekuatan orang yang beriman dan bersabar. Tangisan untuk melanjutkan perjuanganmu. Amin. bukanlah jalan menyelesaikan masalah. Tetapi menerima takdir Tuhan dan memikirkan hari *** esok yang lebih baik adalah langkah awal menuju kemajuan. Mereka pun akhirnya kuat,

tangisan siswa mereda dan berhenti. Perlahanlahan kucoba untuk memulai pelajaran Bahasa Indonesia, pelajaran yang juga diujinasionalkan. Pelajaran yang membuat aku dan Pak Hary, sering berdiskusi tentang langkah-langkah agar sukses Ujian Nasional. Pelajaran yang membuat aku dan Pak Hary dekat secara tanggung jawab.

38

Menjadi Guru Di Kampung Halaman


NESSA KARTIKA Perpustakaan Istana Rumbia

esaku adalah sebuah desa yang menggantungkan hidup dari hasil alam. Hampir keseluruhan penduduknya mencari nafkah dari sector pertanian. Hanya sekitar 5% saja yang bukan, mereka adalah dari kalangan guru, pegawai pemerintah swasta. Meskipun kebanyakan mereka tetap bercocok tanam juga sebagai penghasilan sampingan. Guru dan pegawai, menjadi sosok yang sangat diidolakan di desa ini. Setiap ada pemasalahan, warga selalu mengadu pada guru dan para pegawai pemerintah itu. Sehingga ada suatu kekaguman tercipta dalam hatiku. Profesi guru pun masih menjadi favorit di mata anak-anak. Setiap anak yang ditanya, Apa cita-citamu kalau besar nanti? Mereka akan menjawab dengan, Aku ingi menjadi guru.

dari ketidakpedulian mereka akan pendidikan. Ada dua sekolah dasar di desa ini. Satu SD Negeri dan satu Madrasah ibtidaiyah setara SD swasta. Sedangkan untuk menuju SMP atau MTs (Madrasah Tsanawiyah Setara SMP swasta), apalagi SMU dan MA (madrasah Aliyah setara SMU swasta), anak-anak desa ini harus berjalan mendaki dan menuruni bukit minimal empat kilometer ke kecamatan. Kondisi jalan yang jaman dulu belum diaspal, masih berupa jalan tanah yang becek di musim hujan dan berdebu di musim kemarau mencipta rasa malas untuk bersekolah. Perlu dorongan dan kemauan keras agar mereka tetap mau bersekolah.

Sedangkan jaman sekarang, setelah jalan desa dirolak (diratakan dengan tatanan batu) bahkan diaspal, hambatan ada pada gaya hidup anakMereka tidak perlu jauh-jauh melihat sosok anak muda yang ingin sukses tanpa melalui idola dalam kehidupan sehari-hari. Karena proses. Mereka sekolah jika diberi motor untuk guru di desa ini tidak hanya mengajar anak di pergi dan pulang sekolah yang jauh jaraknya sekolahan, tapi juga mengajar masyarakat luas dari desa. Jika tidak diberi motor, anak-anak dalam setiap hal. itu tetap berangkat, namun tak pernah sampai ke sekolah dan berakhir DO (Drop Out). Putus Desa ini sangat kaya dengan sumber daya alam. sekolah. Namun tidak sebanding dengan kekayaan sumber daya manusia-nya. Setiap warga desa yang dirasa cukup umur untuk bekerja, akan diminta keluar dari sekolah Selama bertahun-tahun hidup terpencil oleh para orangtua mereka. Kemudian bekerja sebagai desa pelosok yang pernah tertinggal, di lading, mencari rumput untuk pakan ternak warga desaku telah hidup dalam kekolotan dan atau bahkan dikirim untuk merantau. Bekerja kebodohan. Pendidikan tidak dinikmati secara di luar kota, bahkan ke luar negeri. merata oleh semua warga. Sebagai dampak

39

Saat pertama dating ke desa ini sebagai mempelai salah satu warganya, aku merasa sangat kesepian karena hanya segelintir orang saja yang bias kuajak berbicara dengan bahasa Indonesia. Ada kesediahn mendalam karena merasa terasing di Negara senddiri. Berada di suatu wilayah yang masih terletak di Negara Indonesia namun mereka tak mengenal bahasa Indonesia. Warga desa ini, bahkan tidak dapat mengeja 24 huruf dalam abjad dengan ejaan yang benar sebagai efek dari salah kaprah selama beberapa generasi *** Suatu hari, anakku Satria, murid kelas 1 SD. Pulang dari sekolah dalam keadaan rambut berantakan. Pitak disana gundul disini.

karena prihatin dengan rambut anak laki-lakiku yang sekarang sudah tak berbentuk lagi. Poninya pitak tepat di tengah. Ada beberpa pitak yang nyaris menampakkan kulit kepalanya hamper di tujuh tempat. Ada bekas cukuran tidak rata dan asal-asalan nyaris di seluruh kepalanya. Anakku seperti maling ayam yang digunduli warga. Aku mengelus dada. Segera kusuruh Satria melepaskan baju seragamnya. Kuambil gunting, sisir dan pisau cukur. Kuajak dia ke teras untuk menggundul kepalanya botak plontos sekalian karena sudah tidak mungkin mencukur rambutnya dengan suatu gaya. ***

Paginya Satria meminta topi untuk dipakai ke Satria, kenapa rambut kamu begitu? tanyaku sekolah. kaget. Kupikir Satria mungkin bermain-main dengan pisau cukur. Topiku mana, Ma? Dicukur teman saya. Satria menjawab enteng, seolah rambutnya tidak ada masalah apa-apa. Harus pakai topi? tanyaklu. Setahuku Satria tidak menyukai topi. Sekolah hanya mewajibkan memakai topi di hari Senin karena harus upacara.

Ya ampuuun masa rambut kamu dicukur Satria mengusap gundulnya. Kan aku gundul, sampai seperti ini? Kalian pasti main cukur- ma. Aku tak tak mau diejek teman-teman nanti cukuran kan? aku mulai memarahinya. di sekolah. Satria mengangguk dan mulai menundukkan kepala karena takut. Kamu memang nakal. Seharusnya pulang sekolah langsung ke rumah. Ganti baju, makan bukan malah bermain sampai seperti itu. Apalagi main gunting. Berbahaya tahu aku tak adapat menahan diri untuk mengomel Aku pun memberikannya topi SD-nya. Anakku pun pergi ke sekolah segera setelah ia mengenakan topi itu. Siangnya, sepulang sekolah. Satria bilang padaku tak mau sekolah lagi sampai rambutnya tumbuh karena diejek teman-teman.

40

*** Selama beberapa hari waktu kuhabiskan untuk merayu bahkan memaksa Satria untuk mau kembali bersekolah. Namun anakku tetap menolak.

Tapi Satria menolak, dia bersikera ejaannya pada huruf m-j-l-h sudah benar. Aku hanya geleng-geleng kepala.

Keprihatinanku semakin bertambah saat mengetahui bahwa Satria mengeja semua huruf Aku sampai meyuruh gurunya untuk mengajak dengan salah. Ternyata memang seperti itulah Satria sekolah. Namun Satria tetap menolak. guru desa mengajar anak-anak. Guru mengajar dengan cara seperti itu karena berhadapan Biar saja, taka pa-apa. Kalau anak belum dengan lidah jawa dan lidah desa. Jadilah berkehendak, jangan dipaksa. Daripada kita selama Satria meliburkan diri, menunggu paksa malah nanti dia krisis kepercayaan diri, rambutnya tumbuh. Aku mengajarinya sedikit tak baik untuk pertumbuhan kepribadiannya. demi sedikit cara membaca huruf dengan lebih Guru kesayangan Satria itu menasehatiku. Aku benar. merasakan kepeduliannya yang besar terhadap anakku. Bahkan saat anakku kumat manja Aku tidak menyalahkan guru sekolah Satria dan semaunya sendiri seperti ini, dia malah yang memang sengaja tidak up-to-date membela. Dan alasannya memang sangat pada Ejaan yang Disempurnakan. Meskipun tepat. anak-anak jaman sekarang sudah tidak terlalu bermasalah lidahnya dengan generasi Aku pun membiarkan anakku tidak sekolah. terdahulu. Tapi aku juga tidak mau anakku dan anak-anak lain di desa ini menjadi salah kaprah *** dalam memahami ejaan dan bacaan. Anakku tidak sekolah selama beberapa hari. *** Namun anakku tidak pernah berhenti belajar membaca. Dia baru saja pandai mengeja. Andai aku menjadi guru, aku akan mengajar Setiap berbicara apapun pada siapapun dia anak-anak dengan cinta kasih yang sama kusuruh mengeja. dengan yang telah diajarkan guru Satria dan juga guru-guruku di masa kecil. Satria, ambilkan ibu buku. Aku memerintah Satria di suatu siang. Tapi, aku juga akan memperhatikan lebih banyak hal di luar kemonotonan dalam mengajar. Ejaan Satria bangkit dari mainan puzzle-nya dan yang Disempurnakan selalu berubah dari tahun mengambil sebuah majalah di rak buku sambil ke tahun. Memang sudah tugasku andai aku mengeja. majalah em-a-ma, ej-a-ja, el-a-eh- menjadi guru untukmenyampaikannya dengan lah. benar pada muridku. Aku memotong. Bukan begitu. Yang benar m-a-ma, j-a-ja, l-a-h-lah. Karena aku orang asing yang dating ke desa ini melalui pernikahan. Aku tidak akan menyerah pada kebiasaan guru desa dalam mengajar

41

anak-anak. Aku akan mengajarkan pada anak- terhambat dalam memikirkan masa depan. anak tentang pentingnya pendidikan pula. Pemuda seperti Raihan ada banyak di desaku. Banyak kulihat warga desa yang masih usia Profesi mereka bisa apa saja. Tak terpengaruh sekolah tak dapat berbahasa Indonesia dengan pada hari libur tanggal merah nasional. baik. Tentu saja aku tahu karena aku adalah Pekerjaan mereka bisa apa saja. Buruh di pendatang yang tak mampu berbahasa daerah pabrik-pabrik kecil home industry, penjaga kios setempat dengan baik meskipun telah berlatih atau konter seluler di seputar kota, perantau selam bertahun-tahun sejak menikah. Aku ingin atau para pengangguran. Tidak terikat pada warga sesa menyadari betul akan pentingnya tanggal di kalender, tidak juga pada dua belas bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. angka yang diputari jarum jam. Seperti suatu ketika ada kejadian lucu salah satu pemuda desa kerabat suamiku. Mereka terpaksa hanya bekerja sebagai buruh rendahan karena mereka tidak mengenyam pendidikan yang cukup ataupun menguasai Raihan, namanya. Umurnya sekitar dua puluh keterampilan yang memadai. Tidak juga lima tahun. Karena sudah dianggap cukup menguasai bahasa lisan dan tulisan dengan umur untuk menikah, ia pun gencar mencari lebih layak sehingga mereka lebih memilih teman wanita. bekerja sebagai buruh pada tetangga-tetangga sendiri. Suatu ketika ia berkenalan dengan seorang gadis di sebuah jejaring social. Namun saat Saat kusuruh Raihan dan pemuda lain untuk hubungan mereka berlanjut ke telepon, Raihan meneruskan sekolah dengan adanya Kejar menyerah. Paket, mereka menolak dengan alas an tidak punya waktu. Lho kenapa menyerah? Katanya suka? Andai aku menjadi guru, tentu saja akan Anu, Mbak anaknya ngomongnya pakai kuajarkan juga tentang kepercayaan diri pada bahasa Indonesia aku nggak bias, katanya muridku. Sehingga apapun yang terjadi, polos. mereka tak akan malu bersekolah. Menuntut ilmu tidak memandang usia dan sik. Aku terkaget-kaget. Bagaimana mungkin Raihan yang biasa bermain jejaring sosial Asalkan ada yang mau mengajar, itulah ternyata sebenarnya tidak menguasai bahasa kesempatan untuk menimba ilmu. Indonesia verbal. Jadi selama ini dia bisa menggunakan hape dan internet bermodal Andai aku menjadi guru, aku akan memajukan bisa karena terbiasa saja. Tanpa memahami desaku dengan memperbaiki kualitas setiap benar arti sebenarnya. Boro-boro soal Ejaan generasinya. Mengajar setiap muridku yang Disempurnakan. dimanapun aku ditempatkan untuk lebih Raihan sangat menyesal tidak belajar sungguh- mencintai Indonesia. sungguh saat sekolah dulu. Sekarang ia merasa keterbatasannya sangat membuatnya ***

42

Kutemukan Mutiara dari Dinda


DINA LUTFIA HANIFAH Perpustakaan Cemerlang Sambek

inar cahaya pagi menyinariku dari sela-sela anyaman bambu yang menjadi dinding rumahku.

Aku segera bangun untuk kemudian duduk meringkuk di sudut ruangan. Sinar mentari itu menghangatkan tubuhku. Aku seperti tengah berada di sebuah lapangan yang luas dan menatap langsung ke arah sang surya dari balik awan yang menggantung di langit. Dengan bermandikan sinar matahari pagi, Aku merasa bahwa sekarang ini aku sedang lelah. Perlahanlahan aku mulai menutup mataku. Namun aku kembali terbangun karena mendengar suara seseorang m,emanggilku sambil menggedorgedor pintu bilik dari anyaman bambu yang sudah lapuk dimakan usia.

Dengan perlahan kubuka pintu kamar, dan terdengarlah suara gemerotek yang keluar. Seorang ibu paruh baya dengan mamakai daster batik yang telah pudar warnanya, serta Sebenarnya aku iri melihat orang-orang selalu rambut panjangnya yang digelung sedang terlihat ceria dan bahagia saat berangkat berkacak pinggang di depan pintu bilik. sekolah. Mereka berangkat bersama-sama ke sekolah memakai seragam, tas, dan sepatu Mau sampai kapan tidurnya, Nduk? Tanya yang bagus dan mahal. Aku tahu semua itu tak emak kesal. akan pernah terjangkau olehku. Akan tetapi aku diajarkan oleh bapak dan emak untuk Aku hanya tersenyum, kemudian emak pergi ke tidak bersikap iri seperti itu. Bagaimanapun ruang depan yang hanya dipisahkan dengan juga aku harus bersyukur karena sudah diberi sekat bambu, untuk dijadikan sebagai ruang nafas dan setidaknya keluargaku masih mampu tamu. hidup meski tidak layak. Masih bisa makan dua kali sehari meskipun dengan lauk ikan asin.

Ah, ya, aku baru ingat, hari ini aku harus membantu emak mencari barang bekas. Waduh, aku benar-benar lupa. Tapi, kenapa emak tadi tidak mengingatkan aku. Aku bersiapsiap untuk meluncur ke area pembuangan sampah untuk mengumpulkan barang bekas yang masih bisa terjual. Aku memakai kaos dan celana baggy kesayanganku yang merupakan pemberian seseorang yang rumahnya dekat dengan tempat pembuangan sampah, meskipun sudah lusuh dan banyak sekali noda tinta hitam. Aku segera pergi ke belakang rumah, mengambil karung untuk menaruh barang bekas. Setelah itu aku segera keluar dari rumahku walaupun lebih pantas disebut gubuk dan menuju ke tempat biasanya aku mencari barang bekas. Kicauan burung-burung, desahan dedaunan, dan decitan sepeda tuaku yang kerap sekali terdengar, menambah semaraknya hari ini.

43

Mempunyai keluarga yang lengkap saja aku di rumah. Ada yang bisa saya bantu? tanyaku harus bahagia dan bersyukur. padanya. Karena aku tidak bersekolah, aku harus menjaga kedua adikku yang masih kecil. Setiap hari emak harus bekerja menjadi pemulung di kompleks perumahan untuk memenuhi kebutuhan. Bapak sendiri bekerja sebagai kuli bangunan yang upahnya tidak seberapa. Kadang-kadang aku membantu emak mencari barang bekas, bila bapak sedang tidak bekerja. Hari ini saat aku membantu emak mencari barang bekas di tempat yang biasa, salah satu rumah di kompleks perumahan itu memberikan buku-buku yang sangat banyak padaku. Aku menerima buku-buku itu dengan senang hati. Kemudian buku-buku tersebut aku bawa pulang dan kuletakkan menumpuk begitu saja di depan rumah. Awalnya aku tidak peduli pada benda itu karena akan kujual ke tempat penjualan barang bekas. Tetapi salah satu buku dari buku-buku tersebut menarik perhatianku. Kubuka lembar demi lembar. Aku tidak mengerti isinya, karena aku tidak bisa membaca. Tertulis angka-angka yang membentuk sebuah kelompok. Karena tidak mengerti, aku pun membiarkan buku tersebut tetap di tempatnya. Aku persilahkan dia masuk ke rumah gubukku. Dia duduk di kursi bambu yang mengeluarkan bunyi derit ketika pantat mulai menempel di bibir kursi. Wajahnya menyiratkan rasa tak nyaman ketika mulai menempelkan pantatnya di bibir kursi tersebut. Apa lagi saat dia memperhatikan dengan cermat setiap inci dari rumah gubukku. Aku merasa seperti ditikam belati melihat ekspresinya. Kami berbincang-bincang. Awalnya dia menanyakan tentang buku-buku yang kutaruh di sudut luar ruangan yang kami jadikan sebagai ruang tamu tersebut. Dia menjelaskan tentang alasannya datang ke rumah gubukku. Ternyata buku-buku yang kemarin diberikan oleh seorang ibu di kompleks perumahan itu, sebenarnya bukan miliknya yang masih di perlukan. Ibunya memberikan padaku tanpa meminta izin padanya, sehingga di tidak tahu. Dia meminta agar buku-buku tersebut dikembalikan. Kalimat permintaan yang diucapkannya sangat sopan. Meskipun begitu aku kaget juga. Mungkin karena dia melihat ekspresiku yang tercengang, dia mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan. Ia menawarkan uang tersebut sebagai pengganti buku-buku itu padaku. Awalnya aku menolak uang itu. Namun akhirnya aku ber kir mungkin uang ini bisa meringankan beban bapak dan emak.

Keesokan harinya, ketika aku akan pergi ke tempat penjualan barang bekas, tiba-tiba ada suara seseorang mengetuk pintu. Setelah pintu terbuka, berdirilah seorang gadis kecil seusiaku tersenyum ramah. Dinda, itulah namanya. Kami sempat berkenalan sebelum ia pergi dengan membawa bukuPermisi, Boleh aku bicara pada pemilik rumah bukunya. Sebelum itu ia juga menanyakan hal ini? tanyanya masih dengan mengembangkan yang aneh padaku. Dia bertanya apakah aku senyum ramahnya. bisa membaca. Tentu saja pertanyaan itu aku jawab tidak, karena aku memang tidak bisa Maaf, emak dan bapak saya sedang tidak ada membaca.

44

Perasaanku mengatakan kalau dia meremehkanku. Hal yang membuatku lebih aneh lagi adalah ketika dia bersedia menawarkan diri mengajari aku pelajaran dasarmenulis dan membaca. Entah apa yang ada dipikirannya. Bagiku tawaran itu sangat menggiurkan, Aku menerima tawaran itu. Ia berjanji kalau esok hari akan datang lagi untuk mengajariku membaca dan menulis. Janji adalah suatu perkataan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan menepati janjinya. Dia datang ke rumah gubukku pada jam yang sama dengan hari sebelumnya. Aku mempersilahkannya masuk, menyuguhkan segelas teh panas untuknya. Kami membicarakan di mana tempat yang tepat untuk belajarku nanti. Tidak mungkin kalau kami akan belajar di rumah gubukku. Dinda pasti akan sakit jika terlalu lama berada di rumah gubukku yang kotor, pengap, dan bau barang barang bekas. Sebaliknya, aku juga tidak mungkin belajar di rumahnya. Bisa bisa orang tuanya akan menendangku keluar kalau aku berani masuk ke rumahnya. Akhirnya kami memutuskan untuk belajar di Rumah Pohon di lapangan perumahan. Hijaunya dedaunan, segarnya udara, dan indahnya pemandangan di sekitar perumahan saat pagi hari menambah semangat belajarku dengan guru yang tanpa bayaran. Aku dan Dinda bersepakat untuk berlajar di tempat itu pada pagi hari sekitar pukul 09.00 Dinda bersekolah siang hari. Aku datang lebih awal dan segera naik ke rumah pohon lebih dahulu hingga aku melamun. Dalam lamunanku, aku mengatakan kalau Dinda itu berbeda dengan anak anak lain. Dia mau berteman denganku, bahkan mau mengajariku membaca dan menulis. Padahal anak anak lain yang bernasib sama denganku pun tidak mau bermain

bersamaku. Ternyata di awal pertemuan, aku sudah salah menilainya. Ya, aku sudah menilai seseorang dari penampilannya saja. Tiba tiba dari bawah rumah pohonj ada suara yang memanggil namaku hingga membuyarkan lamunanku. Seorang gadis dengan kaos biru dan celana hitam dengan rambut diekor kuda menjuntai di belakang punggungnya memanggil namaku. Ia memintaku untuk membantu membawa beberapa buku ke dalam rumah pohon. Dinda sangat baik, sabar, teladan dan telaten mengajariku membaca dan menulis. Dinda tidak merasa kesal padaku yang belum mengenal huruf sama sekali. Sebulan telah berlalu. Suatu hari ketika aku akan pergi ke rumah pohon itu lagi, emak yang biasanya tak peduli padaku, bertanya: Nduk, kamu mau kemana? Sudah sebulan ini setiap pagi kamu pergi. Kamu mengatakan hanya bermain, tapi bermain dengan siapa? tanya emak keheranan. Aku hanya bermain dengan salah satu anak yang tinggal di perumahan. Mak. Selain itu dia juga mengajariku mebaca, menulis dan berhitung, jelasku sedikit bangga dan juga sedikit meninggikan suaraku pada emak. Apa? Kamu bermain dengan anak perumahan? bentak bapak. Ternyata percakapanku dengan emak didengar dari biliknya. Yang benar saja! Kamu tahu enggak? Dia pasti bukannya ingin mengajarimu tetapi ingin menertawakanmu karena kamu tidak bisa membaca! Tidak bisa apa-apa! Sudah tidak boleh bermain dengannya lagi! Sadarlah kita ini

45

orang miskin, dia sudah memandang rendah kita! Lagi pula apa bisa belajar kalau kamu ini orang miskin! bentak bapak dengan setengah berteriak. Aku tidak terima dengan perkataan Bapak. Menurutnya seolah-olah orang miskin tetaplah orang miskin dan tidak perlu menuntut ilmu tinggi tinggi. Dalam pikiranku dunia seolah olah berputar serasa mau runtuh kemudian meledak. Emosiku naik. Aku balas perkataan bapak yang sudah menjelek-jelekan Dinda, sahabat, guruku. Memangnya kenapa kalau orang miskin? Meskipun kita orang miskin, tapi tak ada salahnya jika ingin pandai! Apa menurut Bapak orang miskin itu tidak perlu pendidikan? Salah, tidak hanya makan saja yang kita butuhkan, tapi pendidikan juga! Bapak sudah salah menilai Dinda! Temanku itu tidak seperti yang Bapak bayangkan! Dia berbeda dengan anak anak yang lain! balasku dengan teriakan pula. Aku sadar membentak bapakku. Aku berdosa. Tapi saat ini aku harus buru buru pergi menuju rumah pohon untuk belajar pada Dinda. Hatiku sedih mengingat perkataan bapakku sendiri. Aku tidak memperdulikan teriakan bapak yang memaki makiku. Aku membanting pintu dengan suara yang cukup keras. Emak tak membelaku. Mungkin saja emak sependapat dengan bapak.

gunanya aku menunggu Dinda lama-lama. Bisa bisa aku sakit. Tiba tiba di kejauhan aku melihat seorang menuju rumah pohon. Dengan celana pendek selutut, kaos biru yang ku kenal, rambut yang menjuntai ke belakang. Ya, aku tahu siapa itu. Dinda berjalan ke arahku dengan muka tertunduk di bawah payung hitamnya. Begitu dia berada di dekatku, dia meminta maaf padaku karena terlambat datang. Aku merasa ada yang tidak beres. Aku tanyakan padanya, adakah sesuatu yang terjadi. Dia menjelaskan kalau hari itu dia dan keluarganya akan pindah ke kota lain. Aku tercekat. Dia berpesan kalau aku harus belajar dan lebih giat lagi belajarnya. Kemudian dia memberikan beberapa buku yang katanya bisa aku gunakan untuk belajar. Aku menerima buku itu, untuk kemudian memeluknya. Kami berpelukan sesaat dan menangis. Terasa ada sesuatu yang hilang. Dinda adalah teman baikku, teman yang sangat berarti bagiku. Teman pertamaku. Aku pasti akan merindukanmu, bisikku di telinganya. Aku juga, ujarnya pula.

Kami melepas pelukan kemudian Dinda berlalu. Sosoknya semakin menjauh, perlahan lahan semakin menjauh akhirnya hilang. Aku berlari menuju rumah pohon tempat aku Dadaku sesak. Sangat sesak sekali. Perkataan belajar membaca pada Dinda. Aku menunggu bapak masih terngiang ngiang di telingaku. Dinda agak lama. Tak segera muncul. Tak Kenangan kenanganku bersama Dinda pun biasanya Dinda telat. Entah apa yang terjadi. terlintas dalam pikiranku. Mungkin aku akan Tiba tiba hujan turun dengan derasnya. Meski lebih baik jika beristirahat sebentas di rumah aku berada di dalam rumah pohon, kerana pohon. Bagai tertimpa ribuan jarum yang jatuh derasnya hujan tetap saja tubuhku basah dari langit dan menusuk nusuk tubuhku yang kuyup. Aku tetap menunggu Dinda, lamaaa mulai sempoyongan. Aku sudah berada di anak sekali. Sampai aku merasa yakin kalau tak ada tangga ketiga, tapi entah kenapa aku mulai

46

pusing. Penglihatanku pun mulai kabur. Aku terjatuh dan tidak ingat apa-apa. Lho dimana ini? Kenapa semuanya gelap? Aku mendengar suara angin yang menderu. Aku tak bisa menggerakkan tubuhku, juga mataku. Aku mencoba dan terus mencoba untuk membuka mata dan menggerakan tubuhku. Tak berapa lama kemudian aku berhasil membuka mataku dan menggerakan tubuhku. Ternyata aku berada di bawah rumah pohon. Hari sudah gelap. Malam yang menakutkan. Keputusanku untuk beristirahat di rumah pohon. Duduk beralaskan tikar di dalam rumah pohon, membuatku teringat pada Dinda. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku pingsan di bawah rumah pohon itu. Aku baringkan tubuhku dan memandang jauh di kaki langit. Aku berharap bisa membayangkan wajahnya, namun yang kulihat hanya kegelapan malam. Mataku mulai mengantuk, meski dadaku bergetar, pilu, akhirnya aku tertidur juga. Kupustuskan untuk pulang ke gubukku, yang masih ada emak dan bapak. Dalam perjalanan pulang aku menangis, dalam bayanganku aku tak lagi bisa belajar.

belajar. Beberapa hari setelah itu keluargaku mendapatkan rejeki. Bapak yang bekerja sebagai kuli bangunan, mendapat pekerjaan sebagai arsitek, karena kepandaiannya dalam menggambar. Suatu saat bapak menggambar bangunan seperti seorang arsitek, dan hal itu diketahui oleh atasannya, sehingga untuk selanjutnya bapak diangkat sebagai arsiteknya, untuk mendesain gambar gambar gedung yang akan dikerjakannya. Sementara emak ketika memulung di depan suatu restoran, dengan kebesaran Allah, emak dipertemukan dengan nyonya pemilik restoran tersebut dalam kondisi emak menolong nyonya pemilik restoran yang pingsan di depan restorannya, dan emak membantu dengan membawanya ke rumah sakit. Kemudian emak di pekerjakan di retoran tersebut sebagai tukang cuci piring.

Dengan kebesaran Allah tersebut akhirnya aku bisa menempuh pendidikan. Karena usiaku sudah tidak layak ke kelas 1 (satu) sekolah dasar SD, maka aku masuk ke sekolah paket A di SKB Sanggar Kegiatan Belajar untuk kemudian Aku membuka pintu rumah gubukku. Di ruang mengikuti ujian persamaan SD, dan selajutnya depan yang menjadi ruang tamu bapak dan ke paket B dan paket C. emak sudah menunggu kepulanganku. Kulihat kedua matanya sembab. Kupeluk mereka. Aku bisa mengajarkan lebih banyak pada kedua Bapak meminta maaf atas kejadian tadi pagi. adikku dan juga teman teman yang bernasib Kami saling memaafkan. Bapak berjanji akan denganku, dan yang lebih buruk dariku, yang mengusahakan pendidikan untukku. Tetapi tak mampu mengikuti pendidikan formal SD, di hatiku masih terasa pedih. Kesedihan SMP, ataupun SMA. Agar mereka bisa pintar, menyelimutiku karena perginya teman, tidak bodoh, dan tidak diremehkan oleh orang sahabat, dan guruku, Dinda. yang sederajatnya lebih tinggi dari mereka, di mata manusia. Karena pelajaran yang kuterima dari Dinda, membuatku tahu satu hal. Meskipun aku orang Suatu hari di sekolahku, di SKB, kedatangan tidak punya, tidak boleh ada kata miskin dalam guru baru. Setelah mengamatinya, sifat dan

47

ketelatenannya mirip dengan Dinda, teman, sahabat, dan guru, yang telah mengenalkanku pada huruf dan pendidikan. Senyum ramah yang ditujukan pada semua orang, disenangi oleh semua siswa. Sifat yang baik dan memiliki kharisma membuatku juga menyukainya. Anganku melayang, membumbung tinggi ke langit, khayalku mencuat, aku ingin menjadi seperti dia, menjadi guru yang sabar, baik pada semua siswa, tekun, disenangi para siswa, suka membatu anak didiknya. Ya aku ingin menjadi guru seperti dirinya, seperti Dinda, teman, sahabat, guru, yang telah mengenalkanku pada pentingnya belajar, dan membagi ilmu.

Dinda, terima kasih. Karenamu lah aku menjadi bisa di antara mereka. Aku jadi teringat senyumnya. Senyuman yang sudah kukenal dengan baik. Senyuman yang selalu muncul dikala aku kesusahan. Dia pasti tersenyum dan membantuku. Senyuman yang diperuntukkan semua orang. Kelembutan dan kebaikan, kekuatan dan kemauan, semangat. Ya aku berharap suatu hari nanti aku bisa bertemu kembali denganmu ketika itu aku telah menjadi guru yang telaten, sabar, dan tak membedabedakan orang seperti dirimu. ***

48

Anak Bungsu Sepasang Guru


JUSUF A.N. Perpustakaan Smart

ingin mengatakan itu, dengan menunjukan bukti-bukti nyata yang sangat dekat dengan kehidupannya, yakni lima kakak Agil yang sekarang hidup bahagia dan sejahtera tanpa pernah makan bangku sekolah menengah pertama. Tapi Trimo telah mengatakan semua itu semalam. Trimo yakin, kemantapan hati Dengan mata masih kemerahan lelaki tua itu istrinya untuk mendaftarkan Agil melanjutkan bangkit dari ranjang melangkah ke dapur. sekolah tidak akan berubah hanya karena Sukmi, istrinya baru saja mengangkat telur mendengar kalimat-kalimat yang sama. dadar dengan sorok-menuntaskan minyaknya di mangkuk. Tak jauh dari tempat pintu kamar Trimo beranjak dari dapur, membawa cangkir mandi terlihat mengantup, byar0byur air dan kopinya ke ruang tengah. Duduk di sofa, senandung sumbang terdengar dari dalam: setelah menyeruput kopi dan menyalakan kreteknya, Trimo mengedar pandang, menatap Aku ingin begini aku ingin begitu satu-satu foto-foto yang terpajang memenuhi Kau dengar itu? Sukmi bertanya setelah dinding ruangan. Memandang enam foto melihat suaminya muncul dari arah pintu. Trimo anaknya, Sembilan sang cucu, satu foto yang tahu, lagu yang dinyanyikan Agil itu adalah merangkum 25 wajah terdiri anak, cucu, mantu, soundtrack lm kartun Jepang. Suara hati anak istri dan dirinya sendiri, Trimo tak pernah jemu. kita pak! Sukmi menjawab pertanyaannya Pernah suatu ketika Trimo ingin memindahkan sendiri sembari mengangkat tremos kemudian foto-foto itu ke ruang tamu, tetapi Sukmi menuangkan airnya ke cangkir. Melihat melarangnya dengan alasan tak tampak ada di Trimo diam membantu, Sukmi meneruskan antara foto anaknya yang berpose mengenakan kalimatnya sambil mengaduk kopi, jarang- toga. jarang lho, anak seusia Agil sudah memikirkan Malu, apa kata orang nanti demikian Sukmi masa depan. berdalih saat Trimo mengutarakan niatnya. Memang, tapi masa depan selalu misteri bukan? Dan sekolah tidak menjanjikan cerlangnya, kenapa harus malu? tanggap Trimo waktu itu. terkadang bisa jadi menggelapkannya. Trimo kita ini guru, Pak. Bapak guru SMA, aku guru ejak semalam Trimo sudah yakin, pagi ini akan menjadi pagi yang sangat mendebarkan. Mendaftarkan Agil ke sekolahan, sungguh, bagi Trimo tidak kalah mendebarkan dibandingkan detik-detik menjelang kelahiran enam anaknya.

49

setiap hari, bujuk Sukmi. Ya kan, Pak? menoleh kea rah Trimo, disambut anggukan dan senyum Sembari mendedahkan dua telapak tapak kecil Trimo. tangan, hanya lulus esde. Noor yang tak lagi punya alasan, pada akhirnya menurut. Tapi di sekolahan, Noor yang sulit memang begitu kenyataannya. bergaul merasa terasing. Guru-guru baru, teman-teman baru, materi-materi pelajaran itu gara-gara Bapak! baru, tak ada yang menyenangkan baginya, lho! membuatnya tertarik untuk berangkat sekolah. Trimo dan Sukmi yang tak ingin anaknya Kok lho? Kalau Bapak menyuruh mereka diterkam gelap kebodohan berinisiatif membeli melanjutkan sekolah pastilah mereka kini buku-buku, mengajar Noor pelajaran setiap sudahpada jadi sarjana, insiyur, pejabat. sore dan malam. Sedang ketika pagi sampai siang Noor menhabiskan waktu dirumah belum tentu, Sukmi. Dan perlu aku tegaskan tetangganya yang penjahit. lagi, bukan aku yang nyuruh mereka tidak melanjutkan sekolah. Tiga tahun kemudian Neng yang doyan buku sejak TK meniru kakanya. Juga ana, menolak tapi Bapak menyetujui pilihan anak-anak kan? sekolah dengan alas an yang sama; tak ada kawan esde-nya yang Sejatinya, sebagai seorang guru, Trimo terkadang merasa tak enak hati jika anaknya Melanjutkan. Arif sedikit melegakan, tidak melanjutkan sekolah. Dan memang, mengurangi rasa malu sepasang guru itu. lima anak pertama Trimo, semuanya sudah Bersama beberapa anak sekampung yang didaftarkan ke SMP terdekat di Kecamatan, 3 sebagian besar adalah laki-laki, enam hari kilo jauhnya dari rumah; harus menyusuri jalan dalam seminggu Arif rela berjalan kaki sejauh setapak dan menyebrang jembatan gantung 6 kilo. Tetapi diam-diam Arif kerap membolos, Serayu pula. Pun dua setel seragam, tas, sepatu, bikin onar di kelas dan tak lupa ikut tawuran, dan peralatan tulis yang baru sudah dibelikan. hingga akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Tapi begitulah Trimo kemudian memutuskan membawa Arif ke pesantren setelah memergoki daun ganja di sekolahannya jauh, kawan-kawan Noor tidak dalam dompetnya. ada yang melanjutkan. Masa Noor harus berangkat dan pulang sendiri, kilah si sulung Empat tahun setelah peristiwa memalukan itu Noor. secara mengejutkan Sukmi hamil muda, sufyan, adiknya Arif, anak kelima yang masih kelas lima Bapak akan mengantar dan menjemputmu itu mulai merasakan perhatian Sukmi padanya TK. Tapi anak-anak kita

50

lambat laun berkurang. Dan ketika adik lelakinya lahir diberi nama Agil, Sufyan yang telah merasakan nikmatnya menjadi bungsu lebih dari sebelas tahun diserang cemburu, membuatnya jarang dirumah dan sering membantah titah Trimo dan Sukmi. Dan ketika lulus sekolah dasar, diam-diam Arif membujuk sufyan untuk tidak melanjutkan sekolah melainkan ngaji di pesantren bersamanya. Sufyan merasa sangat tertarik setelah dikatakan kepadanya bahwa hidup di pesantren jauh lebih enak dari pada tinggal dirumah. Orang tua harus siap di tinggalkan jika tidak ingin meninggal lebih awal, demikian Trimo berkeyakinan. Ia tak pernah sedih dan telah membalik kepercayaannya pada pepatah leluhur bahwa kumpul tidak kumpul asal makan. Biarlah Noor, Neng, Ana, Arif, dan Sufyan tak lagi tinggal serumah, yang penting mereka memiliki penghidupan layak, bias makan kenyang meskipun hidup saling berjauhan. Bagi Trimo lima anaknya yang pertama telah membuatnya bangga, meski tak satu pun dari mereka ada yang jadi sarjana. Tak dinyana, Noor yang telah beranak tiga kini memiliki bisnis konveksi yang memang menjadi impiannya sejak esde. Neng yang pecinta buku sempat jadi pengarang, meskipun sejak menikah dengan pegawai perpustakaan Neng tak pernah menulis, tapi ia telah melahirkan tiga anak dalam waktu enam tahun- buah karya yang cukup mengejutkan. Ana yang hobi masak, kini membuka restoran, memiliki sepuluh karyawan dan dua anak menggemaskan. Sementara Arif yang sempat lima tahun mengabdi pada Kiai di pesantren, kini jadi politisi, sering pula

mengisi pengajian di pelosok-pelosok negeri. Sedangkan sufyan yang masih bujang, setelah enam tahun di pesantren, memilih mengontrak rumah dan kini sedang merintis warung kopi dan usaha Laundry. Semuanya hidup bahagian. Dan bisa di pastikan kebahagiann mereka belum seberapa disbanding kebahagiaan yang dirasakan Trimo. Teringat masa lalu lima anaknya, pun pencapaian-pencapaian mereka, benak Trimo tak terhindar dari kesimpulan: belajar tidak berarti harus sekolah! Trimo yang baru sebulan pensiun setelah menjadi guru lebih dari tiga puluh lima tahun telah pula menyimpan riwayat mantan-mantan anak didiknya. Banyak siswa yang dulu di kenal paling pendiam di kelas kini jadi jadi tukang jual obat keliling, supir bus, atau petani salak. Sebagaian anak yang dulu di kenal rajin mengerjakan PR, dan nilai ujiannya paling baik, sekarang bekerja di pabrik kayu lapis, penjaga swalayan, dan sebagian lagi menjadi pegawai negeri. Anak-anak yang melanjutkan sampai perguruan tinggi, banyak yang menganggur, satu dua beruntung (atau sial?) bisa jadi Camat atau Bupati, tapi banyak juga yang pada akhirnya gila, mati karena narkoba, kecuali beberapa anak tetap bisa bertahan hidup karena tidak malu jadi kuli. Kadang-kadang, sambil menyungging senyum kecil Trimo membatin, buah yang jatuh memang tak jauh-jauh dari pohonnya. Betapa Trimo Remaja juga pernah menolak untuk sekolah. Tetapi karena ayahnya yang tentara mengancam hendak mengusirnya dari rumah jika tak mau sekolah Trimo pun pasrah. Menjadi guru adalah nasib yang tak pernah

51

di cita-citakannya, meskipun pada akhirnya ia bisa menikmati sepenuh hatiinilah salah satu wujud bhaktinya pada orangtua. Tahun demi tahun ia lewati dengan nurani yang menjerit-jerit oleh kenyataan; sekolah hanya menjadi penjara yang memisahkan anak didik dari persoalan-persoalan nyata di sekitar lingkungannya; sekolah bukan tempat belajar melainkan pabrik dimana robot-robot di produksi. Trimo sudah berusaha merubah iklim buruk yang ada di sekolahannya, misal dengan mengusulkan agar perpustakaan sekolah lebih banyak mengoleksi buku bacaan ketimbang buku paket yang usianya pendek dan telah banyak bertumpukan di gudang, dengan membiasakan siswa berdiskusi memecahkan persoalan actual. Tetapi ia tidak berdaya dengan system. Ia Cuma seorang guru IPS biasa, Cuma berijazah ahli muda. Pernah suatu ketika Trimo protes dengan kebijakan kepala sekolah yang mewajibkan siswanya ikut tour ke Bali. Akibat ulahnya itu, Trimo justru dimutasi ke SMA lain.

Ahai, Guru Trimo. Lihatlah, lelaki dengan kerut-merut di wajahnya itu masin ngungun di atas sofa ruang tengah, sesekali mendesah mengamati foto-foto yang terpajang di dinding. Ia tahu, sebentar lagi Agil selesai mandi, memakai seragam sekolah dasar yang sudah Sukmi siapkan, kemudian menyuruh Trimo untuk segera berkemas, meski Fajar baru saja menetas. Sejak dua minggu lalu Agil yang nilai ujiannya rangking satu sekecamatan datang kepada kepada Trimo menunjukkan brosur full color yang kemudian diketahui didapat dari Fendi, teman sekelas anaknya. Ini sekolah unggulan, Pak. Nanti, Agil mau kos bareng Fendi. Biar Bapak tidak repot-repot antar. Kasihan, Bapak, kan sekolah jauh. Mendengar kamimat Agil, Trimo terheran, atau lebih tepatnya tercengang. Dadanya berdesir, keringat akan system sekolah yang tak kunjung berubah kecuali kurikulum yang sekadar berganti nama. Bawah Agil menunjukkan minat untuk sekolah, sebuah minat yang berbeda dengan kakak-kakaknya itu hanya karena dipengaruhi lingkungan, tak murni muncul dari hati. Beberapa hari sebelum Ujian Agil pernah mengatakan kalau dirinya ingin menjadi pengusaha, dan Trimo tahu ijazah tidak diperlukan oleh seorang pengusaha. Maka, Trimo tidak menyetujui permintaannya, tidak pula berinisiatif mendaftarkannya kesekolah lain. Tetapi karena Sukmi berkalikali mendesaknya, dan Agil ngambek tak mau makan, berat hati akhirnya Trimo mengalah.

Dendamnya dengan kedzaliman mantan atasan yang menendangnya pindah ke sekolah lain itu, membuat semangatnya menjadi guru yang baik justru berkobar. Ia kerap berpesan kepada murid-muridnya, Negeri ini sedang sakit. Masa depan kalianlah yang menentukan kesembuhan atau bertambah parah sakitnya. Ia yakin, salah satu dari berpasangan-pasang telinga yang mendengar itu kelak aka nada yang menjadi guru juga. Ia yakin, guru sangat bisa menjadi agen perubahan jika ia sungguhsungguh menjadi guru. Dan ia berharap, semoga akan semakin banyak lahir guru-guru ** yang tidak hanya sibuk mengurus perutnya saja. Kalau kamu tidak diterima bagaimana?

52

Pasti diterima dong! kan nilaiku bagus. Bapak unggulan yang akan didaftar. Kalau pun Agil kecewa, biarlah. Tidak lebih dari seminggu Agil ini gimana sih? pasti akan menerima takdirnya, pikir Trimo. Ya bisa saja. Sainganmu kan banyak, Trimo ingin anaknya yang bungsu itu menjadi dan bukankah masih ada test tertulis dan manusia tangguh dan merdeka, dan karenanya wawancara juga. ia bermaksud mendidik Agil di rumah saja. Pokoknya aku harus diterima. Aku akan belajar keras biar lulus test seleksi. Hmm, kalau missal, kami sudah belajar, tapi tetap tidak diterima? Takdir. Dan kamu akan kecewa? Tidak tahu. Percakapan terhenti. Sementara sepeda motor Trimo terus melaju lambat di atas jalan aspal yang baru sebulan silam diresmikan. Melintasi sawah-ladang, tanjakan berliku tajam, jembatan gantung, lalu tiba di jalan besar, sepeda motor Trimo lebur dalam keriuhan. Agil yang mengenakan seragam merah putih dengan tas gendong berisi ijazah dan bermacam piagam penghargaan sudah tak sabar ingin cepat sampai di tujuan. Dikepalanya telah tersimpan sekian rencana, tak sabar untuk segera diwujudkan; nanti, bersama Fendi, ia akan tinggal di kamar kos di pinggiran kota, bisa keluar rumah kapan saja, jalan-jalan kemana seja, terbang bebas di angkasa, la..la..la.. Ah, masa iya? Bukankah Agil ingin sekolah dan menghalang-halangi keinginan bocah ingusan itu adalah sama saja mengekang kemerdekaannya? *** Agil, sebelum formulir ini Bapak tanda tangani, tolong jawab pertanyaan Bapak. Kemana kau ingin sekolah? Untuk mencari ilmu, Pak. Bapak ini gimana sih, gitu saja ditanyakan. Kenapa tidak ke pesantren saja, di sana juga kau bisa belajar banyak ilmu. Aku ingin di sekolah sini, bukan di pesantren. Baiklah. Memangnya apa yang menjadi citacitamu? Aku ingin menjadi penerus Bapak. Apa? Menjadi Guru

Penasaran kau pernah bilang ingin jadi Jantung Trimo kian rapat berdebar, doanya pengusaha. terus pula berdenyar, menyatu dengan butiran Tidak, pak. Sekarang aku mantap, aku ingin darah. Ia berhadap Agil tidak diterima di sekolah jadi guru. Seperti Bapak dan Ibu.

53

Sungguh? Kenapa kau ingin jadi guru? Kenapa ya? Emm Sini! Trimo menarik lengan Agil, membawa bocah itu ke luar dari ruangan tempat pendaftaran. Dituntutnya bocah itu menuju tempat yang sepi seakan ada hal rahasia yang ingin ia sampaikan. Sebenarnya Trimo tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar dari mulut anaknya. Agil ingin menjadi guru? Kanap itu tidak dikatannya dari dulu? Terus terang Trimo terharu mendengar itu. Atau, pikiran Agil telah dipengaruhi oleh Sukmi, yang kini tengah sibuk mengurus Serti kasi? Mungkinkah Sukmi telah mengatakan kepada Agil bahwa dengan menjadi guru hidup akan terjamin? Bisa jadi. Tapi bagi Trimo, menjadi Guru bukan soal kesejahteraan, melainkan lebih pada pengabdian sebagai seorang pencerah kehidupan. Jika benar kau ingin jadi guru, mulai sekarang berjanjilah Apalagi sih, Pak? Agil tidak paham dengan perasaan yang bergemuruh di dada Bapaknya. Kelak, sayangilah murid-muridmu seakanakan mereka adalah anak-anakmu. Guru bukan jabatan, melainkan panggilan hidupmu kan? Maka kau mesti ikhlas menjalani kerjamu nanti. Dan satu lagi, Gil. Kau mesti terus memperbaiki kualitas pribadi dan ilmumu, jika ingin muridmu

berpikir dan berperilaku baik. Tentu, Ah, Bapak mengguruiku melulu

54

Seandainya Aku Seorang Guru


DIANA PUTRI Perpustakaan Kabupaten Wonosobo

Beliau adalah guru IPA ku yang sangat pandai, namanya Bu Fera Setianingsih. Tiba-tiba seorang anak laki-laki pun berteriak, Apa...memperkenalkan diri??? Ini semua terjadi waktu aku masih duduk di Aduh malulah aku, katanya spontan. kelas VII, karena kejadian itu menyadarkanku Huuuuu.... Anak-anak pun menyoraki dengan bahwa Aku hanya manusia biasa yang merasa sangat keras. kurang dan selalu kurang. Oleh sebab itu aku harus berusaha agar tidak menjadi orang yang Sudah...sudah. Ibu guru menghentikan keramaian di kelas. bodoh dan mencapai apa yang aku impikan. ai...! Aku adalah anak kelas VIII yang selalu ingin menjadi orang yang sukses, pandai, dan menjadi diri sendiri. Ini semua pernah aku alami waktu saya pertama Baik...Bu. Jawab semua anak. kali masuk sekolah Madrasah Tsanawiyah. Sekarang siapa yang ingin maju ke depan untuk memperkenalkan diri??? *** Saat itu aku mulai masuk sekolah, hari itu adalah Tiba-tiba suasana menjadi sepi. hari Senin bertepatan tanggal 13 Juli 2010. Itu adalah hari pertamaku masuk sekolah dan pada Lho...kok diam? Ibu kan cuma bertanya. hari itu juga Aku merasa takut, senang, minder, Bu Guru pun kaget dengan suasana sepi. bahagia. Yah...rasanya tidak karuan. Oh...ya, sekarang perkenalan dirinya mulai dari Kriiiiiiing.... Bel masuk pun berbunyi. Semua sebelah kanan, ayo mbak!!!ujarnya memerintah anak-anak masuk ke kelas masing-masing. Aku dan mempersilahkan. pun ikut masuk ke kelas dan duduk di baris ketiga. Perkenalan terus berlanjut dan akhirnya Tiba-tiba guru pun masuk dengan senyumnya giliranku untuk memperkenalkan diri. yang manis lalu berkata, Karena sekarang awal masuk sekolah jadi materinya adalah Dengan mbak, siapa? tanya Bu Guru memperkenalkan diri yakni nama, alamat, dan asal sekolah. Diana Putri, Bu... jawabku.

55

Alamatnya di mana mbak? tanyanya kembali. Garung Butuh Kalikajar Wonosobo, jawabku. Ya....terima kasih, silahkan kembali. Ibu guru mempersilakanku dengan senyuman. Terima kasih, Bu... responku. Gilirannya pun terus berlanjut. Ketika temanteman Diana maju ke depan, tiba-tiba Diana diam, melamun dan membayangkan sesuatu. Dalam lamunan, Diana membayangkan Seandainya aku Seorang Guru, aku akan menerapkan karakter seperti Bu Fera, sosok guru yang lemah lembut, sopan, dan sabar.

Ha...ha...ha...Diana mengigau ejek Rohman. sudah...sudah Bu guru pun menenangkan suasana kelas. ehmm...sekarang giliran saya. Nama saya Fera Setyaningsih. Sudah tahu nama Ibu semuanya?tanyanya dengan suara keras. Bagus... jawabnya Jempol. dengan mengacungkan

Sudah empat hari telah lewat, hari ini adalah hari pertama kali mulai pelajaran biasa, yang Diana...Diana...Diana Bu Guru memanggil membosankan jika Guru yang disukai tidak Diana berulang kali, namun apa daya Diana hadir. Waktu pelajaran terjadilah perkelahian. terus hanyut dalam lamunannya. Hai anak miskin, minggir kamu dari jalan!!! Ujar Diana...Diana...Bu Guru terus memanggil syukur, membentak dan sambil mendorong. Diana Kenapa sih kamu, main dorong saja? responku. Apa-apa, siapa, di mana...hah... Diana pun Diam kamu, jangan pernah kamu ulangi kataterkejut karena suara bu Guru yang keras. kata itu lagi, jika aku menengar kata itu lagi kurobek-robek mulutmu!ujarku dengan suara Kamu memikirkan apa Diana...??? lantang. Aku membayangkan seandainya aku seorang guru, pasti Aku akan menjadi guru yang baik, Suka-suka aku dong emang kamu orang pintar dan sabar, seperti Bu Fera. Dengan miskin, kan? ejeknya lagi. suara keras dn mengangkat tangan kanannya dengan tinggi. Semua anak menatap Diana Syukur, emang kamu orang kaya? sahut Dhani. Iya, emang aku orang kaya tidak seperti dia, dengan wajah yang lucu. menunjuk ke arah Diana sambil melempar Ha...ha...ha...uuuuu....Semua anak menyoraki kamus ke arah muka Diana. Diana karena dia berkhayal. Buktinya apa coba? sahut Dhani lagi.

56

Tuh...rumahku besar, jawab Syukur. Emang itu rumah punya kamu, itu kan punya orang tua kamu, sindirku. Jam pun terus berputar dan hari pun terus berganti, akan tetapi kemauan Diana masihlah tetap yaitu Seandainya Aku Seorang Guru.

Jika anak banyak dipuji, maka akan terbiasa menghargai. Jika anak diterima di lingkungan, makan akan terbiasa menyayangi. Jika anak banyak disalahkan, maka akan tidak percaya diri.

Karena kemauan keras, Diana pun berpikir: Jika anak mendapat mendapat pengakuan, ia Jika anak banyak dicela, maka anak akan akan terbiasa menatap arah terbiasa menyalahkan Jika anak diperlukan jujur, ia akan terbiasa Jika anak dimusuhi, maka anak akan melihat kebenaran. menantang. Jika anak dikerumuni keramaian, maka akan Jika anak dihantui ketakutan, anak akan terbiasa. terbiasa cemas. Itulah karyaku, yang akan kuberikan kepada Jika anak sering diolok-olok, maka anak akan semua guru di Indonesia. bersalah. *** Jika anak serba dimengerti, maka akan berusaha menjadi penyabar. Jika anak banyak diberi dorongan, maka akan terbiasa percaya diri.

57

SRI MARYATI Perpustakaan Kabupaten Wonosobo

Mimpi Rainy

endung berganti hujan, menandakan musim penghujan tentunya. Tapi, seingatku bulan ini Maret, sepertinya bukan lagi musim penghujan. Tapi cuaca masih seperti di bulan Januari, yang biasa dikatakan, hujan sehari-hari. Tepatnya itu yang sering ku dengar dari orang-orang yang berada di warung, dekat halte, tempat biasa aku menunggu angkot. Musim saat ini memang tidak dapat dipastikan.

Segera aku lari menuju angkot itu berhenti. Duluan Pak pamitku pada orang yang tadi. Ya jawabnya. *

Walaupun hari ini hujan mengguyur, tapi tidak mengurungkan niatku dan pastinya anakanak lain untuk tetap menuntut ilmu. Aku seorang siswi kelas XII sebuah SMK Negeri di Huftpagi-pagi sudah hujan keluh seorang Surabaya Ranny namaku, tepatnya Maharany bapak-bapak disampingku, dengan pakaian Tribhuana Swastika, nama yang terlalu panjang rapi lengkap dengan dasinya, tapi tanpa sepatu. menurutku. Namun biarlah, karena nama itu Sekolah neng? tanyanya, sedikit adalah pemberian mendiang kakekku. Kami mengagetkanku. bergegas masuk kelas sebelum Pak Narmoko, seorang satpam yang bertubuh kekar bak Iya pak jawabku sedikit tergesa-gesa, bodyguard berteriak keras menyuruh kami mengembalikan konsentrasiku . Sekolah masuk. Hiruk pikuk kelas terasa seperti dipasar, mulai dari Shintya yang sedang asyik memoles dimana neng? tanyanya lagi. lipstiknya (walaupun sudah berulang kali mendapat teguran dari guru BK), Daren alias Di SMK Puri Indah Pak, bapak? kataku. Darno yang tengah asyik merayu cewek-cewek dengan puisi-puisi gombalnya. Gondo cowok Oo..saya di Dinas Pertanaian neng jawabnya. bertubuh gempal yang sedang menikmati Ternyata orang kantor to? batinku. Belum snaknya. Dan cewek-cewek yang sedang asyik sempat melanjutkan obrolan, angkot telah tiba. membicarakan acara konser band ternama semalam. Dan banyak lagi tingkah anak-anak Puri, Puri, Puri teriak kernet angkot yang yang biasa dilakukan sembari menunggu sang bertopi terbalik, masih gaul (kata anak-anak) guru datang. Seperti halnya aku, yang duduk karena sepertinya masih belum terlalu tua. diam tapi memendam beribu kegelisahan.

58

Entahlah terlalu banyak kegelisahan didalam hatiku. Pagi anak-anak.? Ucap seorang guru yang cantik Bu Dewix namanya, guru bahasa Indonesia sembari melangkah masuk kelas dengan keanggunannya. Banyak murid yang menyukainya bahkan mengaguminya.

masalah yang satu ini. Pelajaran Bahasa Indonesia hari ini memang berbeda dengan hari-hari yang lain. Terasa lebih tegang, walaupun guru masih tetap sama. Ya semua karena Ujian Akhir Nasional (UAN) yang kami anggap menakutkan. Kamu pasti tahu, bagaimana ketakutan yang kami rasakan, saat waktu tiga tahun ditentukan dalam waktu tiga Selamat pagi bu jawab kami serempak. atau empat hari. Di saat kamu digariskan lulus, kamu akan menangis bahagia. Namun jika Apa kabar hari ini? Tanyanya membuyarkan tidak? Ya tidak lulus karena nilai yang kamu angan sebagian besar murid didalam kelas XII dapat hanya kurang 0,01 dari nilai minimal? Multimedia (yapkelasku!) Pasti kamu juga akan merasakan hal yang sama dengan kami. Andai saja aku bisa seperti saat Baik bu, ibu bagaimana? Tanya seorang siswa Sekolah Dasar dulu. laki-laki dengan gayanya yang so cool. Aku menerawang jauh pada tahun itu. Tahun 2003. Dengan tenang aku mengerjakan soalIbu baik jawab bu Dewix dengan senyum soal ujian tanpa beban, tanpa ketakutan. Dan manisnya. aku serta 29 siswa yang lain bersorak gembira saat semua dinyatakan lulus dengan nilai yang Anak-anakku, ujian nasional tinggal beberapa memuaskan. Walaupun saat itu kami hanya hari lagi, kurang lebih empat belas hari lagi, dibimbing para bapak (karena di sekolahku bagaimana persiapan kalian? tanyanya lagi. dulu jarang sekali ada ibu guru). Tetap dengan senyum manisnya. Namun, kami diam seribu bahasa. Ternyata para bapak juga bisa mendidik kami. Tapi ada harapan dalam batin ini, satu Kenapa? tanyanya lagi dengan ekspresi wajah kebanggaan kami termasuk aku, berkata sedikit bingung. Selamat pagi bu guru. Kami menginginkan seorang Bu Guru saat itu. Mungkin karena Takut bu jawab seorang siswa lain. medan terlalu jauh. Sehingga orang-orang dinas hanya mengutus para bapak untuk Ingat, waktu empat belas hari harusnya kalian mengajar di sana. sudah memuliki persiapan lebih dari 80%? Ujian itu sama dengan ujian-ujian semester lain, jadi Andai saja gumamku di antara kebisuan tidak perlu takut anak-anak katanya. teman-temanku yang lain. Tapi sepertinya, perkataan lembut bu Dewix Ranny? terdengar suara yang membuyarkan belum bisa mengubah keadaan kami untuk lamunanku. Ternyata Bintang, teman satu

59

bangku ku. Kenapa sich? kataku sedikit kesal.

Ih, kamu. . . . yang lain pusing, bingung. Kamu enak melamun? kata Bintang, tak kalah kesal. Memang, apa yang Bu Dewix sampaikan? Ternyata hari sudah hampir larut, setelah sedikit tanyaku sedikit bingung. belajar materi untuk esok, aku memutuskan untuk lekas tidur. Letih rasanya, seperti banyak Ah, kamu ini !!! Makanya kurangi melamunnya! kegiatan hari ini. Tapi sesungguhnya bukan kata Bintang lagi, sambil keluar menuju kantin. itu yang membuat aku letih. Sikap ibu hari ini Dan aku tetap duduk diam dengan lamunanku terasa aneh. Sama sekali tidak menyapa. kembali. Entah apa saja yang Bu Dewix sampaikan tadi. Ah aku benar-benar tidak Apa aku salah? tanyaku pada diriku mendengarkan. sendiri. Ahmungkin hanya sedang lelah dengan urusan rumah tangga aku kembali * menenangkan diriku sendiri. Dan segera memejamkan mata. Tepat pukul 14.30 bel tanda pulang sekolah berbunyi. Kerumunan siswa berhamburan * keluar gerbang sekolah. Ada yang langsung menuju parkiran motor, ada yang menunggu Kicau burung terasa ramai sekali. Ternyata jemputan, dan ada juga yang berjalan. Seperti sudah pagi. Dengan sedikit rasa malas, aku halnya aku. Menunggu jemputan angkot. Tidak memaksakan untuk mandi. Dingin. Aku berganti berapa lama kemudian angkotpun datang. pakaian dan berangkat sekolah seperti biasa. Aku berpamitan. Tapi masih ada yang aneh dari * ibu hari ini. Ku kira setelah bangun tidur akan kembali seperti biasa, tapi tidak untuk hari ini. Tiga puluh menit berselang aku telah sampai Sepanjang jalan aku mengingat-ingat apakah di halte dekat rumah, tempat biasa aku kiranya aku bersalah pada ibu? Sepanjang menunggu angkot untuk berangkat sekolah. perjalanan tetap saja aku tidak menemukan Berjalan memasuki gang dalam waktu lima jawabannya. Karena seingatku, aku memang menit, sampailah aku di rumah. tidak merasa melakukan kesalahan. Assalamualaikum.. dengan setengah teriak * aku mengucap salam, seperti biasa. Tapi, tidak ada seorangpun yang menjawab salamku. Tidak terasa Ujian Nasional sudah usai. Empat Sepertinya tidak ada orang. Sepi. Tidak biasanya hari telah berlalu. Dengan keacuhan ibu

seperti ini. Tapi dengan masa bodoh aku segera menuju kamar untuk berganti baju. Paling juga dibelakang kataku menenangkan diriku sendiri. *

60

minggu belakangan ini, aku berusaha keras untuk belajar, dan berusaha sejenak melupakan masalah apapun. Seperti yang pernah Bu Dewix katakan. Slow, hidup itu untuk dijalani dan diperjuangkan bukan untuk diratapi itulah yang ku ingat, tapi rupanya kalimat itu membawa semangat tersendiri untuk kehidupanku. Sekarang tinggal menunggu hasil. Apakah aku lulus ataukah tertinggal.

dulu. Aku meninggalkan asal mula tempatku berasal, menuju kota yang sangat panas, Surabaya. Dan kini alangkah gembiranya aku, kembali ke desa tempatku berasal, sebuah desa yang sejuk, asri, ya. . . . Wonosobo. Berada di bawah kaki gunung.

Itulah sebabnya keasrian itu ada disini. Sejuknyooooo. . . .Walaupun udara sekarang telah banyak berubah karena global warming, Apapun hasilnya aku yakin itu yang terbaik. pemanasan global, setidaknya itu yang banyak Semua siswa pasti merasakan hal yang sama. aku dengar baik dari obrolan para mahasiswa Takut, gugup, itu adalah hal yang wajar. Itu maupun berita-berita di televisi. tandanya manusia itu masih hidup, karena masih memiliki hati dan perasaaan. Tapi tetap Wonosobo, aku kembali, gumamku. harus yakin. Meyakini hal yang baik tentunya. Jika sudah belajar dan berdoa pasti bisa. Karena Sesungguhnya bukan Wonosobo tepatnya belajar tanpa berdoa berarti sombong dan aku berada saat ini, melainkan berada hampir berdoa tanpa belajar berarti omong kosong. diujung kabupaten. Kecamatan Watumalang Setidaknya itu sebaris kalimat yang pernah aku tepatnya desa Gumawang Kidul. Sebuah desa baca disuatu tempat. Jadi harus seimbang. kecil, yang sedang berusaha mensejajarkan diri dengan desa-desa lain. Dengan mulai Waktu penantian terasa lama. Menurut mengaspal kembali jalan utama setelah sekian informasi, pengumuman kelulusan akan lama terbengkalai karena tidak tersentuh matadisampaikan tanggal 29 Juni 2010. Dan hari mata jeli pengurus pekerjaan umum, pekerjaan ini baru 1 Mei 2010, masih terasa lama. Satu jalan tepatnya. bulan lagi. Sambil sedikit meregangkan otot punggungku, aku berbaring ditempat tidurku. Selama ini lubang-lubang jalan hanya ditutup Nyaman sekali rasanya. dengan kumpulan-kumpulan batu atau tanah. Dan kadang kala kumpulan batu yang * sudah sedikit berhamburan meloncat-loncat terkena putaran roda mobil yang berusaha Kicau burung emprit (burung kecil yang banyak mengalahkan jalan yang dianggap ekstrim oleh berada disawah, lucu, tapi menjadi musuh para sebagian orang-orang kota itu. Tapi kini, sudah petani karena memakan padi-padi mereka di tidak perlu memakan waktu berjam-jam untuk sawah) terasa ramai sekali. Aku berada disebuah menjangkau desaku tercinta ini. Empat puluh gubuk kecil ditengah sawah. Damai rasanya. lima menit adalah waktu maksimal dari pusat Suasana alam yang selalu aku harapkan dari kota untuk menjangakau desa dengan sepeda

61

Permisi pak? sapaku kepada seorang laki-laki paruh baya yang berada di dalam ruangan, * kukenali beliau adalah Pak Muchotim, guru Pendidikan Agama Islam saat aku Sekolah Enjing mbah . . . .(Selamat pagi eyang?) Dengan Dasar (SD) dulu. masih mengenakan handuk dikepalaku, kusapa mbah kakungku (kakekku) dengan senyum. Senyum mengembang menyambut kedatangNdang siap-siap, wis awan iki? (cepat siap- anku. Kami berjabat tangan. Sedikit mengobrol siap, sudah siang ini) kata mbahku sambil asyik mengenang saat aku SD dulu. Seorang siswi nglinting (membuat rokok sendiri, dengan yang dianggap sedikit lebih pandai dari siswa campuran tembakau, kemenyan, dan cengkih lain. Dengan ranking satunya. Setidaknya itu dengan sigaret sebagai wadahnya). yang dapat kuraih, dan menjadi kenangan yang kekal dalam anganku. Upacara bendera Nggih mbah, jungkatan ndisik ki, pen putune perdana dalam umur dewasaku. Berdiri sejajar simbah iki ayu no? (Iya kek, sisiran dulu ini, dengan para bapak. Sepertinya baru kemarin, biar cucu kakek ini cantik). Jawabku sembari aku berdiri didepan bersama barisan anak-anak menyisir rambut. Bersiap-siap untuk menuju yang mengenakan baju putih-merah dan topi tempat kerjaku. merah. Sekarang, aku telah berganti dengan kemeja dan berdiri didepan mereka. Upacara Di hari pertama, aku tidak boleh terlambat. hari ini terasa sangat khikmat. Tidak terasa Setidaknya aku sudah berusaha untuk bangun sudah memasuki sesi perkenalan. pagi-pagi sekali. Setelah semuanya siap, kemeja batik rapi, lengkap dengan sepatu hak sedikit Ini adalah bu Ranny, guru baru kita kata tinggi dan tas. Aku berangkat dengan senyum Kepala Sekolah, yang sesungguhnya beliau mengembang. Semangat yang tinggi. aku adalah guru Bahasa Indonesiaku dulu. Beliau dataaaaang teriakku penuh semangat. mempersilahkan aku memperkenalkan diri. motor. Bahkan bisa lebih cepat dari itu. Selamat pagi anak-anak kataku semangat. Dan terdengar jawaban sapa mereka serentak. Tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan Senang rasanya, aku diterima dengan baik untuk dapat sampai di tempat ini dengan disini. Ya. Aku seorang guru baru di SD Negeri berjalan kaki lambat. Dan lima belas menit 1 Gumawang Kidul, tepatnya Ibu Guru baru, dengan mengendarai sepeda motor. Dengan seorang ibu yang pertama disini mendampingi langkah yang mantap, kumasuki pintu gerbang. para bapak. Seperti mimpi dan anganku selama Langkah anak-anak kecil berlarian terlihat ini. sangat menarik. Terlihat tatapan polos mereka, tanpa dosa. Terima kasih Tuhan. Semoga aku bisa berguna disini. Mengabdikan diriku untuk membina *

62

mereka, untuk menyayangi mereka dengan ilmu. Mengabdikan diriku untuk membawa perubahan dari aura para bapak dengan aura penyejuk seorang ibu. Nama saya, Maharany Tribhuana Swastika, kalian cukup memanggil saya dengan nama Ranny. Saya disini, diberi kepercayaan untuk mengampu mata pelajaran Matematika. Saya merasa sangat bahagia bisa kembali ke sini. Mengulang kenangan masa lalu, dengan kembali ke SD saya dulu. Semoga kita bisa berteman dengan baik. Bersama merangkai mimpi, merajut jalan menuju perwujudan impian dengan ilmu barisan kalimat yang ku ucapkan. Semoga kalimat ini bisa menjadi jalan masuk menuju hati mereka, para siswa untuk menerimaku menjadi bagian dalam hidup mereka. * Hari pertama terlewati dengan baik. Senang rasanya. Semoga aku bisa tetap berguna Tuhan, walupun dengan segala keterbatasanku. Karena sebaik-baik ilmu bukanlah hak seorang manusia tapi tetap milik Penciptanya. Engkau yang Maha Segalanya. Batinku sembari berjalan pulang.

Aku seneng mbah, aku diundang bu guru, aku marai bocah ngitung porogapet dina iki mbah. (Aku senang kek. Aku dipanggil Bu Guru. Aku mengajari pelajaran berhitung hari ini). Tetep ndang eling yo nduk? ( Tetap harus ingat ya nduk?) kata kakek melanjutkan pembicaraan. Aku mengangguk pasti. * Setelah makan siang aku dan kakek menuju ladang, tempat kakek mengisi hari-harinya dengan penuh keuletan, beliau merawat berbagai tanaman yang beliau tanam, mulai dari tanaman padi, dan berbagai macam sayur mayur. Tinggal di kaki gunung, tidak menghalangi kemungkinan memiliki sebuah sawah. Dengan keuletan dan kemauan, sawah bisa diciptakan. Dan tentunya dengan hasil panen yang bagus dan memuaskan.

Aku memulai dengan menyiangi rumputrumput liar yang tumbuh disekitar tanaman kol yang sudah mulai sedikit berisi. Tandanya sebentar lagi dapat dipanen. Kesejukan udara disekitar membuat aku betah berlama-lama. Saat tengah asyik menyiangi rumput, suara bisik-bisik anak kecil sedikit mengusikku. Dan tiba-tiba terdengar gertakan seorang anak, Pras Assalamualaikum, ucapku sambil membuka ternyata, seorang siswa SD tempat ku mengajar. pintu. Dia bersama dengan lima anak lain menyusulku ke ladang. Walaikumsalam nduk, ucap kakek menjawab salamku. Ada Ilham, Sita, Laras, Tino, dan Bagas. Siswa kelas 2 yang dipercayakan padaku untuk Piye anggomu kerja dina iki? (Bagaimana mengampu. Mereka tidak lupa membawa kerjamu hari ini?) tanya kakek. buku. Letak ladang memang tidak terlalu jauh

63

dengan desa. Sehingga anak-anakpun tidak merasa takut untuk beramai-ramai ataupun sendiri menuju ladang. Setelah kubersihkan tanganku yang terkena tanah tadi, kudekati anak-anak yang sedang duduk dibawah pohon papaya yang rindang. Ternyata anak-anak itu hendak bertanya padaku tentang pelajaran hari ini.

dunia lebih dari dua tahun lalu karena radang usus akut. Namun dalam mimpi itu, kakek seperti nyata, beliau masih hidup dengan kasih sayangnya. Dengan senyum manisnya membangunkan aku, mengingatkanku untuk selalu berdoa sebelum melakukan apapun. Mengingatkan aku untuk jangan pernah takut menggantungkan impian setinggi-tingginya. Dengan tetap merendah hati. Bukan rendah Bu, sing niki pripun si? Kulo klalen je (Bu, yang diri. Semua orang berhak atas impian mereka ini bagaimana si? Saya lupa). Tanya Ilham dan berkewajiban mewujudkan impian mereka dengan polosnya. Kujelaskan kembali cara masing-masing. menghitungnya. Dan Ilham menganggukangguk tanda ia sudah paham. Kemudian Nduk, ne kowe pancen bener-bener pingin ana dilanjutkan Sita. guna saka dadi guru, dadiyo guru nggo awakmu dewe ndisit, nembe wae kowe dadi guru kanggo Bu, ngitung niki, enten cara sing luwih gampil bocah cilik, durung mesti kowe luwih pinter saka malih mboten sib bu? (Bu, menghitung ini, bocah cilik, pancene awakmu luwih tuwo puluhada cara yang lebih mudah lagi tidak bu?) puluh tahun, aja wedhi, pancene kowe mung tanyanya. Kujelaskan cara-cara termudah yang putune pensiun nanging luwih seneng tani, yakin bagi mereka bisa dicerna dengan baik. Mereka kowe bisa dadi kaya sing kowe pingini. Elingmengangguk serempak. Tanda mengerti. eling pesenku. Aja rubah dasar, yen kowe wis dadi wong. Aja sombong. Tetep adepke sirahmu Tidak terasa, matahari sudah hampir kembali meng ngisor, dasare kowe saka ngendhi. (Nduk, ke peraduannya. Hampir petang. Aku, kakek, jika kamu memang benar-benar ingin berguna dan kelima anak-anak pulang menuju rumah. dari menjadi seorang guru, jadilah guru untuk Kami berjalan pulang dengan kegembiraan, dirimu sendiri dulu, baru kamu bisa menjadi sambil bernyanyi-nyanyi bersama. Kakek guru anak kecil, belum tentu kamu lebih tersenyum menatap kami. Belajar-mengajar pandai dari anak kecil, meskipun kamu lebih memang tidak pasti harus dilakukan didalam tua berpuluh-puluh tahun, jangan pernah takut kelas. Semua tempat dapat dijadikan tempat meskipun kamu hanya cucu seorang pensiun belajar. Ladang yang sejuk juga dapat dijadikan yang lebih sering bertani, yakinlah kamu bisa alternatif tempat belajar. menjadi seperti yang kamu inginkan. Ingatlah pesanku ini. Jangan berubah, jika kamu sudah Menyusuri jalan setapak menurun. Kami berjalan berhasil. Jangan sombong. Tetap hadapkan hati-hati. Ternyata ada sedikit kubangan air, kepalamu ke bawah, asal kamu darimana). dan aku terpeleset jatuh. Seketika itupun aku terbangun. Aku terjatuh dari ranjangku, dag-dig- Itulah kalimat yang kakek selalu ucapkan, saat dug detak jantungku. Kaget rasanya. Ternyata aku bercerita kepada beliau tentang impianku. semua hanya mimpi. Aku mencoba mencubit Ya. . . . aku ingin menjadi seorang pengajar. kedua pipiku. Sakit, ternyata ini memang hanya Seorang guru Sekolah Dasar tempatku benar-benar mimpi. Kakek telah meninggal menimba ilmu dulu. Menjadi seorang ibu guru

64

yang pertama. Karena jarang ada seorang Ibu Guru yang ditunjuk untuk mengajar disana dan karena aku ingin berguna untuk orang-orang disekitarku dengan ilmu yang ku miliki. Impianku saat kanak-kanak, ingin sekali berucap salam selamat pagi bu guru . . . . dan pastinya aku ingin seperti simbah, mengabdikan diri sebagai pengajar, dengan tetap ramah, walaupun saat itu hanya digaji dengan terima kasih. Hingga akhirnya, titik terang datang. Dan mengubah terima kasih menjadi sesuatu yang berguna bagi keluarga simbah saat itu, dalam wujud materi. Tapi tetap tidak ada sedikitpun angan untuk berbesar kepala. Mungkin kebahagiaan yang sama akan aku rasakan jika kenyataan suatu saat nanti bisa sama dengan mimpiku yang baru saja berakhir karena kekagetanku terjatuh dari ranjang.

dinyatakan lulus. Ya. . . . 100%. Ada yang saling berpelukan, ada yang saling berjabat tangan, ada yang menangis histeris karena terharu. Ada yang biasa-biasa saja, ada yang malah melamun, entah apa yang dia pikirkan. Aku pun ada diantara mereka, aku yang masuk dalam kumpulan siswa yang menangis terharu. Terima kasih Tuhan, Kau berikan nikmat ini. Mbah aku lulus, aku lulus mbah. Aku isa wujudake angenku. Aku isa dadi guru, aku pingin kuliah mbah, pen aku dadi guru sing guna, sing ngilmu. Aku lulus mbah. (Kakek, aku lulus, aku lulus kek. Aku bisa mewujudkan impianku. Aku bisa menjadi guru, aku ingin kuliah dulu kek, agar aku bisa menjadi guru yang berguna, guru yang berilmu. Aku lulus kek). Batinku dengan semangat dan haru.

Bu Guru, kau akan kuraih! Senyum Asstagh rullah !!! Ternyata aku hanya bermimpi mengembang di bibirku. Dan malam pun gumamku perlahan. menyambut segala anganku, untuk merenda mimpiku ke depan. Impian itu ada di depan * mata. Tidak terasa satu bulan penantian telah berlalu, tepat Selasa 29 Juni 2010. Pengumuman kelulusan akan diberikan. Semalam rumahku sepi tidak ada tanda-tanda sekumpulan guru bertamu, dan mengucapkan barisan kalimat maaf. Maaf karena anda dinyatakan tidak lulus. Aku berangkat dengan segala rasa penasaran. Semoga aku lulus, aku tak berhenti berdoa. * Sorak sorai seluruh siswa SMK Puri Indah, yang dinyatakan lulus. Sepertinya semua siswa Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku Sebagai prasasti terima kasihku Tuk pengabdianmu Engkau sebagai pelita dalam kegelapan Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan Engkau patriot pahlawan bangsa Tanpa tanda jasa. Aku bernyanyi dalam tangis bahagia penuh haru.

65

Jasa Guruku
SUKI TURYANTI Perpustakaan Gemilang Catur Sakti

i sebuah desa hiduplah sebuah keluarga kecil, yang terdiri dari Ayah, Ibu dan dua orang anak, yang sulung bernama Arya Ar-Rasyid sedangkan si bungsu bernama Naya Rasyida. Arya yang masih duduk di bangku kelas 7 SMP harus membantu ibunya yang berprofesi sebagai buruh di sebuah pasar untuk makan keluarga sehari-hari dan untuk biaya sekolah Arya dan adiknya. Meskipun demikian, keluarga kecil ini cukup harmonis, kenapa tidak? Diantara mereka terjalin kasih sayang yang erat satu sama lain, selalu berbagi dalam suka dan duka. Saling menghargai dan menghormati satu sama lain, rela berkorban untuk yang lain, dan tidak ada keegoisan dalam keluarga tersebut. Keluarga ini juga dikenal ramah terhadap tetangga mereka, dan meskipun mereka tidak selalu berkecukupan namun mereka suka berbagi dengan orang lain yang sekiranya membutuhkan bantuan mereka, di dalam keluarga ini juga sangat diutamakan beribadah, Ayah selalu mengajarkan kepada keluarga agar selalu mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan dan selalu berusaha dan senantiasa berdoa untuk mencapai suatu

keinginan atau cita-cita, niscaya dengan giat berusaha dan senantiasa berdoa, apa yang diingkinkan akan kita dapatkan tapi tidak instan tentunya, karena sesuatu yang instaninstan biasanya kenikmatannya juga instan dan memberikan efek negatif tentunya. Itulah pesan ayah yang selalu dikatakan kepada keluarganya. Di sekolah, Arya mempunyai seorang guru yang sangat di kagumi, sampai-sampai dia mempunyai cita-cita menjadi seorang guru karena ia termotivasi dari kepribadian, dan kebaikan pak Rahman gurunya. Suatu pagi ketika Arya dan adiknya sedang bersiap-siap untuk berangkat sekolah, terlebih dahulu mereka bersarapan bersama, namun Arya mempunyai perasaan yang ganjil di pagi itu, apalagi Naya tidak mau turun dari pangkuan sang bunda, sementara Ayah sudah lama sakitsakitan karena beberapa penyakit yang ada dalam dirinya membuat beliau harus beristirahat di rumah. Ayah memberikan nasehat kepada Naya, Nduk, turunlah dari pangkuan bundamu dan berangkatlah ke sekolah, bukankah dalam Islam menuntut ilum itu diwajibkan? Naya

66

masih ingat kan ngaji kita tadi malam? Ya Ayah tapi Naya tidak mau berpisah dari ayah dan bunda, Jawab Naya. Tidak nak, kita tidak akan berpisah, bukanlah hati kita selalu bersama, sekarang dengarkanlah ayah jawab Ibu. Berangkatlah ke sekolah agar nantinya kalian menjadi orang yang pandai, sukses, berakhlak mulia serta menjadi orang yang berguna bagi orang lain, jelas ayah. ya, Ayah, baiklah, jawab Naya. Kemudian mereka bersalaman mencium tangan ayah dan bundanya untuk berpamitan. Ayah berkata kepada Arya, Le, boncengkanlah adikmu itu menggunakan sepedahmu, sepeda adikmu rusak dan belum sepat ayah betulkan. Iya Ayah jawab Arya sambil keluar dari rumah untuk berangkat mengantar adiknya terlebih dahulu yang kemudian baru kesekolahnya. Hari itu Arya merasa lain, ia merasa hari itu berbeda dengan biasanya, perasaan was-was dan tidak karuan dan tiba-tiba ia teringat terus akan bundanya, namun dia tidak mengetahui penyebab dari kegelisahan itu, akhirnya Arya pun tidak menghiraukan perasaanya dan memfokuskan diri untuk belajar di sekolah. Baru beberapa jam Arya mengikuti pelajaran, sekitar jam 09.30 pak Rahman Kepala Sekolah Arya memanggilnya untuk datang ke ruang kepala sekolah, ternyata di sana sudah ada tetangga Arya yang bernama Pak Arif. Assalamualaikum Pak Arif, kenapa bapak ada di

sini? sapa Arya. Waalaikum salam Le, ceritanya panjang le, sekarang kamu ambillah tasmu dan kita pulang ! Bapak sudah memintakan izin kepada Bapak kepala sekolah kamu, Tanya Arya dengan perasaan penuh kekhawatiran. Ibundamu le, ibundamu kecelakaan ketika hendak berangkat kerja tadi pagi, jelas pak Arif. Apa!!! Arya sangat terkejut, air matanya menetes tak tertahankan. Iya nak, sekarang kamu bapak ijinkan untuk tidak mengikuti pelajaran, temuilah bundamu di Rumah Sakit dan pastikan keadaan beliau, sahut pak Rahman dengan penuh kebijaksanaan. Baiklah pak, terimakasih, jawab Arya dengan terisakisak. Ibu arya dirawat di ruang ICU. Arya ingin sekali menemui ibunya, namun perawat tidak memperbolehkan karena sedang ditangani dokter. Arya monda-manir dengan pikiran dan perasaan yang tidak menentu. Bacaan istigfar selalu keluarga dari mulut Arya. Naya tak hentihentinya menangis sambil di peluk ibu Romly tetangganya. Kemudian Arya dan Pak Arif tetangganya itu melayu menuju rumah sakit di mana ibunya Arya dilarikan ke sana. Ternyata benar ibundanya kecelakaan, setibanya mereka di rumah sakit di sana sudah ada beberapa tetangga yang sudah menolong ibundanya itu dan juga sudah ada Naya adiknya yang sedang menangis. Adiknya memeluk Arya dan berkata sambil menangis,

67

Kak, bunda kita kak, huhuhuhuhu bunda kecelakaan Kak. Iya dik, kakak tahu, sabar ya, kita berdoa saja semoga bunda selamat ya dik, jawab Arya menenangkan adiknya. Tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruang ICU dan memberitahukan keadaan bunda Arya, Keluerga pasiennya dimana ya? Tanya dokter. Kami pak dokter, kami anak dari pasien, jawab Arya. Oh, kalian ya? Kami tim dokter minta maaf nak, kami tidak dapat menyelamatkan ibundamu karena luka yang diderita bundamu cuku serius sehingga beliau tidak bisa bertahan menahan rasa sakitnya, kalian bersabarlah, kata dokter dengan penuh penyesalan. Apa? Bunda telah tiada? Tidak mungkin !! Pak dokter pasti bercanda kan ? Pak dokter hanya membohongi kami kan ? jerit Arya histeris. Isak tangis pun terpecah ketika berita ini diberitahukan Arya, Naya dan tetangganyapun tidak mempercayai akan hal itu, namun apa boleh buat itu sudah menjadi suratan takdir dari Sang Kuasa. Satu jam kemudian jenazah ibunda Arya dibawa pulang, namun demikian Arya meminta kepada para tetangganya agar tidak memberitahukan akan hal ini kepada ayahnya karena keadaan ayahnya yang sedang sakit dan takut kalau penyakitnya akan lebih parah, jadi Arya memutuskan untuk memberitahukan kepada ayahnya ketika ayahnya mulai sembuh agar lebih bisa menerima kenyataan tersebut. Namun yang

namanya kebohongan pasti akan terbongkar juga pada akhirnya, sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai pasti akan tercium juga baunya. Ketika jenazahnya tiba di rumah, Aryapun menemui ayahnya yang sedang berada di kamar dan meminta ayah untuk beristirahat, Arya berkata, Ayah, beristirahatlah saja agar ayah cepat sembuh. Namun ayahnya merasa curiga dan berkata, Kanapa baru jam 12 kamu sudah pulang le, terus ada apa dengan mata kamu le, kenapa seperti habis menangis? Tidak apa-apa Ayah, tidak ada apa-apa, jawab Arya, Apa kamu sakit le? Oh ya, itu di depan rumah ada apa kenapa ramai sekali? Sepertinya banyak tetangga berkumpul di depan rumah kita? Tanya Ayah. Tidak ayah, itu hanya tetangga yang sedang berkumpul dan berbincangbincang saja, jawab Arya menenangkan ayahnya. Tapi seperti ada acara pengajian di luar, kenapa bundamu tidak bercerita kepada Ayah kalau akan ada acara pengajian di luar, kenapa bundamu tidak bercerita kepada Ayah kalau akan ada acara pengajian ya? Ya sudah, ini sudah waktunya sholat zuhur, kita sholat berjamaah saja, ayo kita ambil air wudhu dulu le! ajak ayah. Tapi ayah! Arya berusaha mencegah ayahnya. Tidak ada tapi-tapian, tidak boleh kita menunda-nunda sholat, jawab Ayah.

68

Ayah berjalan keluar dengan sudah payah dan betapa terkejutnya sang ayah ketika keluar dari kamar yang juga terdorong rasa penasaran akan apa yang terjadi sebenarnya, Ayah seketika terjatuh melihat sesosok jenazah berada di rumahnya, yang ternyata itu adalah jenazah sang istri tercintanya, dan apa yang dikhawatirkan Arya pun terjadi, penyakit ayah semakin para. Selang tiga hari setelah kepergian bundanya Arya dan adiknya pun akhirnya juga kehilangan ayahnya. Penyakit ayahnya yang semakin parah semenjak kepergian sang bunda akhirnya membuat ayah tidak dapat bertahan lagi dan mengembuskan nafasnya yang terakhir. Namun sebelumnya itu ayah meninggalkan peasn kepada Arya agar menjaga Naya adiknya dan senantiaas jangan pernah meninggalkan ibadah, serta melaksanakan semua kewajiban dengan penuh tanggung jawab. Sejak saat itu juga Arya dan adiknya menjadi anak yatim piatu. Dan sejak saat itu pula mereka hanya hidup berdua, sejak saat itu pulalah ARya harus bangun jam 03.00 untuk melaksanakan tahajud seperti yang diajarkan ayahnya, setelah itu ia juga harus bekerja di pasar pagi sebagai kuli angkut demi mendapatkan uang untuk makan sehari-harinya dan adiknya. Untung saja Naya mengerti dan menyadari keadaan kakaknya, sehingga ia tidak minta macam-macam kepada kakaknya. Beruntunglah dari pihak sekolah juga memberikan kebijakan kepada mereka

yaitu sekolah gratis, sementara itu mereka juga mencari keberadaan pamannya yang pernah diceritakan oleh Ayah mereka, namun sayangnya mereka juga tidak menemukan pamannya itu. Meskipun mereka sudah harus menanggung hidup tanpa bantuan dan kasih sayang orang tua namun mereka tidak pernah menyerah, apalagi mereka mempunyai seorang guru yang begitu bijak, penuh perhatian dan kasih saying, beliau begitu ikhlas membimbing mereka, beliau adalah kepala sekolahnya yaitu pak Rahman. Suatu malam, ketika mereka berkunjung ke rumah pak Rahman, di tengah perbincangan mereka pak Rahmat berkata, Nak, jadilah manusia yang penuh dengan kasih saying. Senantiasa beryukur dan selalu tabah dengan segala ujian yang Allah berikan, tahukah kamu nak?

Sesungguhnya Allah mencintai orang yang sabar. Semua orang pasti mempunyai masalah, namun Allah tidak akan memberikan ujian kepada hamba-Nya di luar kemampuan hambaNya, dan jika kamu sedang menghadapi banyak cobaan dan rintangan dalam hidupnya, maka janganlah kamu berputus asa karena Allah membenci hamba-Nya yang berputus asa.

69

Dan kamu harus ingat nak, bahwa dunia atau kehidupan selalu berputar, kadang di bawah kadang di atas, mungkin saat ini kamu sedang melewati gelapnya sang malam, namun kamu harus ingat dan percaya bahwa fajar akan tiba dan menyambut pagimu yang indah dan cerita. Selain itu nak, kamu juga tidak boleh takabur ketika kamu sedang diberi kenikmatan, kamu harus selalu mengingat Allah, mengingat bahwa Allahlah yang telah memberikan segala kenikmatan dan karunia kepada mu. Seperti ketika kamu melaksanakan kewajibanmu yaitu sholat, ketika kamu berdiri dengan gagah dan tegap kamu mengucapkan takbir dan mengingat Allah, ketika kamu berdiri kembali kamu juga mengucap takbir dan mengingat Allah, bahkan ketika kamu di bawah sekalipun, ketika kamu sujud kamu juga senantiasa mengingat Allah. Syukuri dan berterima kasihlah kepada Allah nak, dan jadilah orang yang berguna bagi orang lain, mungkin kamu pernah dengan syair yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ali Akrroullahu Washsh yang berbunyi:

Bagaimana Arya, apa kamu mengerti? Tanya Pak Tahman. Oh, iya pak saya mengerti, jawab Arya. Kamu tidak boleh hanya mengerti tapi kamu juga harus memahami dan mengamalkan itu semua, tegas Pak Rahman. Baiklah Pak, terima kasih atas nasehat yang bapak berikan, ucap Arya. Tentu saja Arya karena kamu adalah anak Bapak, jawab Pak Rahmat. Kemudian Arya dan adiknya berpamitan untuk pulang. Dalam perjalanannya, terukir harapan dalam benak Arya Andai saya menjadi seorang guru seperti Pak Rahman, saya ingin seperti belai, kata Arya dalam hati. Pada malam hari Arya sering datang ke rumah Pak Rahman, kebetulan rumah Pak Rahman tidak jauh dari masjid dimana Arya biasanya melaksanakan sholat, sehingga ketika Arya pulang dari masjid dia bisa mampir ke rumah Pak Rahman. Saat itu bulan Ramadhan tiba, banyak hal yang dipikirkan oleh Arya, apalagi melihat Naya sang adik. Kadang Arya ingin menangis melihat adiknya, ia merasa kasihan dengan Naya adiknya, Kepa tidak? Suatu sore ketika mereka sedang berpuasa, mereka duduk-duduk diruang tamu. Kak? panggil naya manja. Iya dik ada apa? jawab Arya. Tibatiba Naya mendekati Arya dan menangis di pangkuan kakanya itu sambil berkata, Naya kangen sama aya bunda kak, dulu ketika ayah

Yang artinya Hidup pemuda demi Allah tergantung pada ilmu dan taqwanya, jika keduanya tidak ada maka siasialah kepemudaannya.

70

dan bunda masih ada kalau bulan ramadhan tiba kita selalu merasakakan hangatnya kekeluargaan, makan sahur bersama, tarawih dan tadarus bersama, kita bias becanda bersama dan bermanja sama ayah dan bunda, tapi sekarang kita hanya berdua kak, dan untuk makan saja kakak harus bekerja keras di pasar pagi sebagai kuli angkut. Dik, dengarkan kakak, kakak tahu bagaimana perasaan kamu, kakak juga merindukan ayah dan bunda, kakak mengerti dan paham dengan perasaan kamu, kakak juga merindukan ayah dan bunda, kakak mengerti dan paham dengan perasaan adik karena kakak juga merasakan hal yang sama, jawab Arya, Tapi kak, Tanya Naya. Tidak dik ! kamu masih ingat kan nasehat dari guru kita di? Janganlah kita menjadi orang mudah berputus asa, karena Allah membenci hamba-Nya yang berputus asa. Naya tidak mau kan di benci sama Allah? tanya Arya. Iya kak, Naya tidak mau, jawab Naya.

Ayo kita pergi. Yaps, hapus dulu dong air mata kamu!. Hehehe iya kak. Akhirnya hari raya Idul Fitri pun tiba, Arya dan Naya merayakan dengan suka cita, meskipun dalam hati masih ada duka karena tiadanya ayah dan bunda mereka. Namun, mereka sangat bersyukur dengan karunia yang telah Allah berikan dan mereka selalu ingat nasihat dari guru mereka bahwa mereka tidak boleh berputus asa karena di mana ada kesukaran, pasti dibalik itu semua ada kemudahan dan hikmah yang Allah siapkan.

Dan benar, akhirnya mereka dipertemukan paman mereka dan diasuh, serta dibesarkan dengan penuh kasih sayang. Pada usia ke25 tahun Arya selesai kuliah dan mendirikan sebuah pondok pesantren dan mengabdikan diri di pesantren tersebut, dua selalu mengingat nasihat dari gurunya tercinta, tauladan bagi dia. Nasihat dari gurunya tersebut selalu menjadi Nikmati dan syukurilah apa yang Allah dorongan dan motivasi dalam hidup Arya, berikan adikku saying, mudah-mudahan Allah semua jasa gurunya selalu melekat kuat di senantiasa memudahkan jalan rizki untuk kita, dalam hati dan pikiran Arya. dan kita senantiasa diber kelapangan dan ketabahan hati! Sekarang, kita ke took Pak Madin yuk dik, siapa tahu di sana ada pekerjaan buat kakak, ajak Arya. Naya menjawab, Iya kak.

71

KEPUTUSAN DEWAN JURI LOMBA MENGARANG CERITA PENDEK (CERPEN) TIRTO UTOMO AWARD 2012 No. 1/SK/2012 Lomba Penulisan Cerita Pendek (Cerpen) diikuti oleh 89 peserta dari 13 perpustakaan yang terdiri dari: 1. Perpustakaan Al-Bidayah 8. Perpustakaan Istana Rumbia 2. Perpustakaan Al-Madani 9. Perpustakaan Kabupaten Wonosobo 3. Perpustakaan Al-Manan 10. Perpustakaan Puspasari Sariyoso 4. Perpustakaan Bergema 11. Perpustakaan Smart 5. Perpustakaan Cemerlang Sambek 12. Perpustakaan Srikandi 6. Perpustakaan Fatimah Az Zahra 13. Perpustakaan Tumenggung Jogonegoro 7. Perpustakaan Gemilang Catur Sakti Berdasarkan penilaian dengan mengutamakan originalitas, kreativitas dan daya kreasi dalam berbahasa, diputuskan lomba pemenang sebagai berikut: Kategori SD Juara I : Hafsoh Armiya Juara II : Laksita Judith Tabina Juara III : Febiana Hesti Kategori SMP & SMA Juara I : Dhias Kartika Ningrum Juara II : Dian Puspitasari Juara III : Alys ka Dhi a Wijaya Kategori Mahasiswa & Umum Juara I : Eko Hastuti Juara II : Musho a Juara III : Nessa Kartika (Perpustakaan Al-Madani) (Perpustakaan Kabupaten Wonosobo) (Perpustakaan Al-Manan) (Perpustakaan Gemilang Catur Sakti) (Perpustakaan Gemilang Catur Sakti) (Perpustakaan Srikandi) (Perpustakaan Srikandi) (Perpustakaan Smart) (Perpustakaan Istana Rumbia)

Dewan Juri mengucapkan selamat kepada para pemenang. Semoga bakatnya dapat dimanfaatkan untuk nusa dan bangsa. Jakarta, 6 Maret 2012 Ketua Dewan Juri Eka Budianta

72

TIRTO UTOMO FOUNDATION mendorong para generasi penerus untuk melanjutkan kesenian. Di antaranya seni menenun di Kalimantan Barat, seni arsitektur tradisional di Sumba, dan seni gamelan di Jawa Tengah. Foto samping dan Bawah menunjukkan ibu-ibu di perdesaan Wonosari, Yogyakarta menabuh gamelan yang dihadiahkan oleh Ibu Lisa Tirto Utomo pada 2010.

73

Sekilas tentang

TIRTO UTOMO FOUNDATION


Di kota Wonosobo yang sejuk, pada tanggal 8 Maret 1930 lahir seorang pria bernama Tirto Utomo. Ia mulai bersekolah di SD Pius, sampai lulus sebagai sarjana hukum dari Universitas Indonesia di Jakarta. Gurunya, Prof. Dr. Djoko Sutono, menyuruhnya bekerja di perusahaan minyak negara, Pertamina. Setelah pensiun ia berusaha menjadi pengusaha, dengan merintis industri air minum dalam kemasan. Ternyata usahanya berkembang pesat, hingga menjadi perusahaan air minum terbesar di dunia yang produknya diekspor ke lebih dari 20 negara. Pabriknya tersebar di berbagai propinsi Indonesia, bahkan di Brunei Darussalam dan di Filipina. Pada tahun 1994 ia ingin memanfaatkan air berlimpah yang terdapat di Wonosobo. Maka dibangunnya pabrik dan kolam renang yang sehat dengan standar internasional. Sayangnya, Tirto Utomo tidak pernah melihat pabriknya beroperasi. Ia wafat di Jakarta, 16 Maret 1994, hanya beberapa hari sebelum pabrik itu diresmikan. Jenasahnya dimakamkan di kota kelahirannya yang indah ini. Tirto Utomo Foundation didirikan untuk mengenang kreativitas, semangatnya untuk selalu berinovasi, serta untuk melanjutkan cita-citanya. Setiap bulan Maret, diusahakan selalu ada acara untuk mengenangnya di Wonosobo. Ada kalanya dengan peristiwa olahraga, seperti lomba renang dan jalan kaki 10 km. Bisa juga dengan lomba menulis puisi, atau mengarang cerita pendek seperti ini. Tirto Utomo Foundation mendorong tumbuhnya kegiatan kebudayaan. Misalnya dengan mengadakan pementasan wayang, memugar rumah adat, dan yang paling rutin adalah membantu perpustakaan. Bisa dalam bentuk sumbangan buku, bisa juga dalam bentuk acara yang mendorong kecintaan pada lingkungan hidup, pendidikan dan kesenian. Tirto Utomo Foundation dipimpin oleh Ibu Lisa Tirto Utomo sebagai Ketua Dewan Pembina. Dibantu oleh Dewan Pengawas: Harry Tjan Silalahi, John Abdi (alm), Willy Sidharta. Ketua Pelaksana adalah Ir. Gideon Sulistio dengan anggota: Milena Utomo, Meuthia Utomo, Janto Utomo dan Ina Utomo. Tim Sekretariat terdiri dari: Jusniati Suganda, Eka Budianta, Nuri Fajari dan Winarsih. Alamat Tirto Utomo Foundation di Jalan Kemang Bangka 29 A, Jakarta Selatan. Email: yayasantirtoutomo@yahoo.co.id

74

TIRTO UTOMO FOUNDATION mendukung dan mendorong pelestarian lingkungan hidup, pengembangan pendidikan dan kebudayaan. Di antara kegiatannya adalah membantu perpustakaan, pemugaran dan pembangunan kembali rumah-rumah adat, pementasan pertunjukan tradisional sebagai pusaka nasional. Di antara rumah-rumah adat yang dilestarikan terdapat di Sintang (Kalimantan Barat), Pulau Nias, Pulau Sumba dan Pulau Flores. Foto Atas: salah seorang pengurus Tirto Utomo Foundation, Eka Budianta, bersama anak-anak di Desa Waerebo, Manggarai Barat. Tampak dua di antara tujuh rumah yang dipugar dengan dukungan Tirto Utomo Foundation di desa itu. 75

TIRTO UTOMO FOUNDATION bekerja-sama dengan Perpustakaan Umum Wonosobo. Di antaranya dengan mendukung perpustakaan desa dan mengadakan kegiatan yang mendorong gemar membaca dan menulis. Di antara kegiatannya adalah pemberian Tirto Utomo Award untuk para pencinta perpustakaan melalui lomba menulis puisi dan cerita pendek. Kegiatan ini dimulai pada tahun 2010 di Perpustakaan Widya Taruna Loka.

76

Anda mungkin juga menyukai