Kematian ikan dalam jumlah besar yang selalu terjadi sepanjang tahun di Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur

, memaksa pemerintah pusat turun tangan untuk bekerja sama dengan Australian Centre for International Agriculture Research (Pusat Penelitian Pertanian Australia untuk Internasional - ACIAR). Pasalnya, penurunan pasokan ikan bisa berakibat fatal, seperti menimbulkan generasi IQ jongkok (intelektual rendah). Demikian dikatakan Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kab. Bandung, Ir. Ernawan Mustika, di kantornya, Selasa (11/1). “Kematian ikan di ketiga waduk itu terutama Saguling dan Cirata sangat tinggi baik di musim kemarau, pancaroba, maupun hujan. Adapun kematian ikan di Jatiluhur lebih sedikit karena airnya sudah tersaring lebih dahulu di Saguling dan Cirata,” katanya. Berdasarkan hal itu, menurut Ernawan, pemerintah pusat (Departemen Kelautan dan Perikanan) dan ACIAR sudah sepakat untuk mengkaji secara menyeluruh ketiga waduk tersebut sejak 1 Desember 2004 lalu hingga 2007 mendatang. “Kerusakan ketiga waduk itu tidak hanya mengancam wilayah regional saja, tetapi juga nasional,” katanya. Menteri Kelautan dan Perikanan, katanya, sejak 3 Oktober 2002 melalui keputusan No. Kep.40/Men/2002 menetapkan Pulau Jawa dan Bali sebagai daerah terjangkit penyakit koi herves virus pada ikan mas dan koi (satu famili dengan ikan mas). “Padahal, 3 bulan sebelumnya yaitu Juli 2002, baru Pulau Jawa saja yang dinyatakan terjangkit,” katanya. Malah, katanya, penyakit itu saat ini sudah menyebar ke Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. “Artinya, penyakit itu harus segera ditangani termasuk di Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Jangan sampai terus meluas,” katanya. Ia menjelaskan, kematian yang sangat tingggi disebabkan faktor kerusakan lingkungan, virus, dan arus balik. “Sebagai contoh, ikan mati oleh limbah di saat kemarau, mati oleh virus saat musim hujan, dan oleh arus balik ketika musim pancaroba. Bencana itu terus berulang setiap tahunnya,” katanya
PURWAKARTA, RABU — Kematian ikan yang dibudidayakan di petak-petak keramba jaring apung di Waduk Ir H Djuanda Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, terus berlangsung. Hingga Rabu (11/2), jumlah ikan yang mati diperkirakan telah lebih dari 100 ton.

Ketua Himpunan Pembudidaya Ikan Keramba Jaring Apung (Hipni KJA) Jatiluhur Darwis mengatakan, sejak awal pekan ini, beberapa indikator kualitas air berada di level yang kurang menguntungkan bagi usaha budi daya. Kandungan oksigen terlarut, suhu air, dan kandungan nitrit, misalnya, membuat ikan rentan mati atau terserang virus.

"Hujan beberapa hari berturut-turut serta rendahnya jumlah penyinaran matahari membuat suhu air anjlok, virus berkembang, dan endapan dasar waduk teraduk oleh arus bawah. Beberapa faktor penyebab kematian ikan itu mengakumulasi," tambahnya.

Hasil pengukuran Hipni KJA Selasa kemarin menunjukkan, suhu air pada kedalaman 1-20 meter masih 28 derajat celsius. Padahal, pada suhu di bawah 29 derajat, virus koi herpes berkembang pesat. Dinginnya suhu air juga membuat daya tahan ikan menurun.

09 miligram per liter pada kedalaman 1-3 meter.5-0. Terletak di kabupaten Bandung. Waduk ini dikenal sebagai waduk pembangkit listrik di Bandung. dan kita bisa melihat indahnya pegunungan dari sini. Padahal. waduk ini tidak dapat dilihat jika kita melihatnya dari kota Bandung karena Waduk ini berada di balik pegunungan yang mengelilingi kota Bandung. kandungan oksigen terlarutnya 0 miligram per liter. . kandungan oksigen terlarut juga anjlok 0.Selain itu. Ukurannya sangat luas. Pada kedalaman 20 meter. pada kondisi normal kandungan oksigen terlarut mencapai 4 miligram per liter atau lebih.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful