Anda di halaman 1dari 24

TUGAS KELOMPOK VII KESEHATAN REPRODUKSI PSK, DRUG ABUSE, PENDIDIKAN dan UPAH

DI SUSUN OLEH: DESI PUJIATI INTAN PUSPITASARI KARTIKA RIANY NURHAFIZAH RULY SARTIKA SITORUS YENNY ASMARDIANY

YAYASAN WIRA BAKTI INDONESIA AKADEMI KEBIDANAN SINGKAWANG TAHUN AKADEMIK 2009 / 2010

KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah Swt, atas berkat rahmat dan karuniaNya rahmat dan hidayahNya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul PSK, DRUG ABUSE, PENDIDIKAN dan UPAH. Pada penyusunan makalah ini kami banyak menadapat bimbingan, arahan serta bantuan dari berbagai pihak. Kami menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari semua pihak makalah ini tidak akan terselesaikan. Untuk itu dengan segala kerendahan hati, perkenankan kami mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ibu Golda Mira Siregar, S.ST selaku pengampu mata kuliah Kesehatan Reproduksi yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan sehingga kami memiliki landasan untuk penyusunan makalah ini. 2. Citra Nurhandayani sebagai penanggung jawab mata kuliah Kesehatan Reproduksi Kami menyadari bahwa makalah kami ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kami minta kritik dan saran bagi semua pembaca. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini. Singkawang, Maret 2010

Penyusun

DAFTAR ISI KATAPENGANTAR.. DAFTAR ISI BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang... B. Tujuan Penulisan C. Rumusan Masalah. i ii 1 1 1 1 2 2 5 7 8 19 20

BAB 2 PEMBAHASAN.. Pekerja Seks Komersial. Drug Abuse Pendidikan. Upah.. BAB 3 PENUTUP.. Kesimpulan............................................................................... Saran.......................................................................................... DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Wanita adalah sosok makhluk hidup yang istimewa, dan kita tahu semua makhluk hidup patut dihargai termasuk wanita. Tetapi mengapa sebagian mereka memilih menjadi PSK ? Mereka memilih pekerjaan itu, apakah karena kurangnya kasih sayang atau perhatian dari orang tua dan kurangnya mengenyam pendidikan atau tergiur dengan upah yang tinggi sebagai PSK. Akibat pergaulan bebas, selain terjerumus didalam dunia PSK mereka juga terjerumus megkonsumsi obat-obatan terlarang seperti sabu-sabu, morfin dan ganja. B. 1. Tujuan Tujuan Umum Untuk 2. Tujuan Khusus a. b. c. d. C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas masalah yang ingin diketahui adalah: 1.Apakah yang menjadi dasar sekelompok wanita memilih PSK? 2.Mengapa mengapa mengkonsumsi narkoba itu bisa menyebabkan ketagihan ? 1 BAB II PEMBAHASAN PSK, DRUG ABUSE, PENDIDIKAN dan UPAH 1. Psk (Pekeja Seks Komersial) Untuk mengetahui pekerja seks komersial Untuk mengetahui drug abuse Untuk mengetahui pendidikan Untuk mengetahui upah menjelaskan dimensi sosial wanita dan Permasalahannya

Industri seks merupakan percetakan terbesar dibandingkan bisnis senjata dan narkoba, lebih mudah dijalankan dan tanpa resiko. Sebagai contoh: keuntungan tahunan dari industri seks di Jepang pertengahan tahun 1990-an adalah sekitar 4,2 juta triliunyen, di Indonesia diperkirakan 0,8 dan 2,4 % dari gross domestic product.Mereka yang mendapat keuntungan adalah juga para dokter dan pengusaha farmasi, karena pelacuran terkait dengan masalah aborsi dan pengobatan penyakit menular kelamin, perdagangan, pembelian dan penjualan perempuan untuk pelacuran merupakan perdagangan meluas yang dikelola oleh jaringan raksasa. Beberapa dari mereka adalah para professional berpengalaman dalam industri seks, dan sejumlah lainnya terdiri dari pada pedagang kecil yang meraup laba sekali pukuldari tubuh anak-anak dan perempuan muda. 30% PSK Indonesia, adalah anak_anak di bawah umur Kalau fakta ini benar, tentu saja akan membuat miris kita dan orangtua yang punya anak remaja. Pasalnya, diperkirakan, 30 persen pelacur atau pekerja seks komersial (PSK) di Indonesia dijalani oleh anak-anak di bawah umur atau di bawah usia 18 tahun. Hal itu ditandaskan Deputi Perlindungan Anak pada Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan, Dr Surjadi Soeparman MPH. Secara nasional memang tidak ada angka pasti jumlah anak di bawah umur yang dilacurkan. Sebab fenomenanya ibarat gunung es. Namun diperkirakan jumlah itu sekitar 30 persen. Surjadi mengungkapkan, persebaran pelacur anak di bawah umur hampir 2 merata di tiap daerah. Mereka mudah ditemukan di kantong-kantong kemiskinan. Karena itu, pemerintah daerah bertanggung jawab untuk menekan jumlah anak yang dieksploitasi menjadi pelacur. Pemerintah daerah harus melindungi anak-anak, utamanya yang putus sekolah, agar tidak dieksploitasi. Menurut dia, eksploitasi seks komersial terhadap anak (Eska) terjadi dalam

tiga hal. Yakni, prostitusi, perdagangan anak (trafficking), dan pornografi. Ia mengatakan, Eska bukan hanya masalah moral, tapi masalah sosial. Anak-anak itu melacurkan diri atau dipaksa melacurkan diri karena desakan ekonomi. "Selain desakan ekonomi, adanya perkawinan pada usia dini, kawin cerai yang terjadi para orang tua, dan anak-anak putus sekolah juga mendorong terjadinya Eska," ujarnya PELACURAN Pelacuran atau prostitusi adalah penjualan jasa seksual untuk uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK). Dalam pengertian yang lebih luas, seseorang yang menjual jasanya untuk hal yang dianggap tak berharga juga disebut melacurkan dirinya sendiri, misalnya seorang musisi yang bertalenta tinggi namun lebih banyak memainkan lagu-lagu komersil. Di Indonesia pelacur sebagai pelaku pelacuran sering disebut sebagai sundal atau sundel. Ini menunjukkan bahwa prilaku perempuan sundal itu sangat begitu buruk hina dan menjadi musuh masyarakat, mereka kerap digunduli bila tertangkap aparat penegak ketertiban, Mereka juga digusur karena dianggap melecehkan kesucian agama dan mereka juga diseret ke pengadilan karena melanggar hukum. Pekerjaan melacur sudah dikenal di masyarakat sejak berabad lampau ini terbukti dengan banyaknya catatan tercecer seputar mereka dari masa ke masa. Sundal selain meresahkan juga 3 mematikan, karena merekalah yang ditengarai menyebarkan penyakit AIDS akibat perilaku seks bebas tanpa pengaman bernama kondom. PELACUR Pelacur adalah profesi yang menjual jasa untuk memuaskan kebutuhan seksual pelanggan. Biasanya pelayanan ini dalam bentuk menyewakan tubuhnya.

Pandangan terhadap Pelacuran Di kalangan masyarakat Indonesia, pelacuran dipandang negatif, dan mereka yang menyewakan atau menjual tubuhnya sering dianggap sebagai sampah masyarakat. Ada pula pihak yang menganggap pelacuran sebagai sesuatu yang buruk, malah jahat, namun dibutuhkan (evil necessity). Pandangan ini didasarkan pada anggapan bahwa kehadiran pelacuran bisa menyalurkan nafsu seksual pihak yang membutuhkannya (biasanya kaum laki-laki); tanpa penyaluran itu, dikhawatirkan para pelanggannya justru akan menyerang dan memperkosa perempuan mana saja. Salah seorang yang mengemukakan pandangan seperti itu adalah Augustinus dari Hippo (354-430), seorang bapak gereja. Ia mengatakan bahwa pelacuran itu ibarat "selokan yang menyalurkan air yang busuk dari kota demi menjaga kesehatan warga kotanya." Pandangan yang negatif terhadap pelacur seringkali didasarkan pada standar ganda, karena umumnya para pelanggannya tidak dikenai stigma demikian.

Pelacuran dalam sastra


Penyair W.S. Rendra pernah menulis dua buah puisi tentang pelacur yang 4 lebih netral dalam "Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta!" Bahkan lebih dari itu, dalam puisinya "Nyanyian Angsa", Rendra melukiskan Maria Zaitun, seorang pelacur, yang justru menjadi kekasih Tuhan, yang dikontraskannya dengan kaum agamawan yang menjauhkan diri daripadanya.

Istilah lain untuk pelacur


Istilah pelacur sering diperhalus dengan pekerja seks komersial, wanita tunasusila, istilah lain yang juga mengacu kepada layanan seks komersial.

2. Drug Abuse A. Narkoba Istilah narkoba itu sebenarnya muncul didalam masyarakat untuk mempeermudah mengingat. Ingat yang diartikan sebagai narkotika dan obat berbahaya /terlarang secara umum sebenarnya narkoba adalah singkatan narkotika dan bahan berbahaya. Bahan berbahaya ini juga termasuk didalamnya zatkimia, linbah beracun peptisida atau lainnya. Dari waktu ke waktu istilah narkoba ditambah dengan alcohol sering disebut sebagai naza (narkotika, alkohol dan zat adiktif lainnya, tetapi kemudian muncul obat-obatan yang sejenis dengan narkotika, hanya saja tidak ada kandungan narkotika di dalamnya. Yang kini beredar dipasaran illegal disebut dengan psikotropika (NADZA). Adapun yang dimaksud dengan zat adiktif lainnya disini adalah nicotin pada tembakau dengan kafein pada kopi. Narkoba yang populer saat ini adalah narkotika dan psikotropika. Sebagaimana yang disebutkan oleh UU. No 22 tahun 1997 tentang narkotika pada pasal 1 ke 1, Narkotika adalah zat/obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan/perubahan kesadaran hilangnya 5 rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan yang dibedakan kedalam golongangolongan. UU No.5 tahun 1997 tentang psikotropika pada pasal 1 ke1 bahwa Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis, bukan narkotika, ynag berkahasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktvitas mental dan perilaku. zat-zat pada umumnya dapat membuat adictie/ketergantungan kecanduaan seperti

Narkoba (narkotika dan psikotropika)dibutuhkan didalam medis sebagai pengoabatan (dalam waktu operasi sebagai obat bius dan untuk penenang).UU yang juga membenarkan dan memberi izin penggunaannya kepada 2 hal yakni keperluan medis/rumah sakit dan keperluan penelitian /ilmu pengetahuan. Pada prinsipnya narkoba tidak dilarang jika digunakan dari pemerintah. Yang dilarang adalah peredaran gelap dan penyalah gunanya. Pengaruh negative penyalahgunaan narkoba pd alat reproduksi wanita sebenarnya sangat besar. Pengaruhnya bukan hanya pada reproduksi wanita, melainkan kepada keadaan sperma pria juga akan terpengaruhi, sebagai contoh kecil yang mengenai nikotin di tembakau. Pada setiap bungkus rokok pemerintah telah memberi tulisan nikotin tersebut dapat menimbulkan impotensi & gangguan kehamilan & janin. Apalagi dengan penyalahgunaan narkoba yang daya hancurnya lebih parah dari nikotin, sudah tentu dapat merusak organ pada manusia karena narkoba pada dasarnya adalah obat/zat yang berproses secara kimia yang bersifat toksi bagi tubuh dan mempengaruhi kondisi orang yang menggunakannya.terutama penularan HIV/AIDS bukan saja dikarenakan hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS, tetapi 6 dapat juga ditularkan melalui transfusi darah. Dari beberapa kasus pecandu narkoba saat ini, peningkatan jumlah tertular HIV/AIDS semakin meningkat dari tahun sebelumnya. Sebagian besar diantaranya mereka mengkonsumsi narkorba dari jenis heroin (putaw). Hubungan antara narkoba dengan HIV sangat dekat dgn para pencandunya , ( putaw) yang menggunakan terutama yang mengkonsumsi heroin terinfeksi HIV kepada pecandu lainya . sebagaimana mestinya untuk 2 keperluan tersebut. Namun, demikian kepemilikannya juga harus ada izin tertentu

jarum suntik tidak steril secara bergantian anti seorang pencandu yang

3. Pendidikan Pendidikan memiliki peranan strategis menyiapkan generasi berkualitas untuk kepentingan masa depan. Pendidikan dijadikan sebagai institusi utama para pencandunya terdalam upaya pembentuk sumber daya manusia berkualitas yang diharapkan suatu bangsa. Pendidikan terkait dengan ekstensi dan kelangsungan hidup kebudayaan suatu bangsa. Pengambilan keputusan dalam pendidikan Menurut Fitzigibbons (1981) berpendapat bahwa jika suatu keputusan dibuat secara rasional maka keputusan ini didasarkan atas kepercayaan pengambilan keputusan. Salah satu aspek penting yang perlu didalami dalam konteks pengambilan keputusan pendidikan adalah jenis-jenis kepercayaan antara filsafat yang diyakini manusia terhadap pendidikan, sebab kepercayaan berfungsi sebagai dasar bagi usaha mereka dalam pembuatan keputusan secara rasional. 1. Perempuan dalam proses pengambilan keputusan di lingkungan lembaga resmi pendidikan nasional masih sangat rendah, bahkan boleh dikatakan kurang berarti, kartena menyangkut masalah jabatan, semakin tinggi jabatan struktural, semakin kecil partisipasi perempuan dalam proses pengambilan keputusan. 2. Proporsi perempuan yang hanya sebesar 21,50% yang menduduki jabatan eselon v, secara konsisten semakin mengecil proporsinya 7 untuk posisi jabatan-jabatan yang lebih tinggi hingga jabatan eselon I, yang hanya mencapai 8,50% saja. Gejala ini menunjukkan bahwa kesenjangan gender yang terjadi dalam sistem pengelolaan pendidikan di Indonesia sangatlah mendasar karena perempuan hanya menempati posisi sebagai penerima keputusan yang harus tunduk tehadap kebijaksanaan apapun yang

ditentukan oleh para pejabat birokrasi, yang umumnya dikuasai oleh laki-laki. 3. Pada masyarakat yang menganut budaya patriarkat ditandai oleh kekuasaan laki-laki terhadap perempuan, sehingga bias gender perempuan banyak menjadi persoalan. Beberapa bentuk relasi diskriminatif / bias gender: a. Sub-ordinasi: kekuasaan yang satu lebih tinggi/lebih penting dari yang lain. Misalnya laki-laki selalu dianggap lebih berkuasa dari pada perempuan. b. Marjinalisasi: menempatkan atau menggeser sesuatu kaum kepinggiran, dianggap lemah. Misalnya perempuan dianggap kurang rasional, kurang berani sehingga tidak pantas jadi pemimpin akibatnya perempuan selalu dinomorduakan. c. Stereotype (pelabelan): pandangan bahwa perempuan hanya mempunyai peran tertentu. Misalnya perempuan sebagai ibu rumah tangga yang hanya mengurusi tugas-tugas didalam riumah tangga. 4. Upah Pekerja Perempuan dan Upaya Perlindungan Pada tulisan edisi april, disinggung sedikit masalah kondisi perempuan Indonesia khususnya kaum pekerja. Dimana mereka sebagian besar masih 8 menempati sektor sektor yang rendah pendidikan, rendah ketrampilan sehingga berimplikasi pada rendah upah. Permasalahan lain yang dihadapi kaum pekerj perempuan dengan kondisi tersebut adalah rentan dengan pengurangan hak-haknya. Dimana telah diatur dalam undang-undang bahwa pekerja perempuan mempunyai hak-hak khusus yang tidak diberikan oleh pekerja laki-laki. Hal ini terkait dengan perlindungan fungsi reproduksi yang dimiliki oleh perempuan, dan tidak dimiliki oleh laki-laki. Perlindungan fungsi reproduksi ini antara lain menstruasi, hamil,

melahirkan perlindungan 1.Kerja tenaga kerja

dan perempuan

menyusui. meliputi : Wanita

Menurut Undang-undang dan konvensi ILO yang telah diratifikasi, Malam

Perempuan yang bekerja di malam hari harus mendapat perlindungan khusus berdasarkan pertimbangan bahwa perempuan itu lemah dari segi fisik maupun untuke menjaga kesehatan dan kesusilaan. Menurut UU no.13 tahun 2003, perempuan dilarang bekerja pada malam hari bila berumur kurang dari 18 tahun atau pekerja / buruh perempuan hamil yang menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya dan dirinya. Sedangkan bagi pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan pada malam hari mempunyai kewajiban memberikan makanan dan minuman bergizi, menjaga kesusilaan dan keamanan selama bekerja dan menyediakan angkutan antar jemput bagi pekerja/buruh yang berangkat dan pulang antara jam 23.00 2. Cuti s/d05.00 Haid

Cuti ini diberikan kepada pekerja perempuan yang menderita gangguan kesehatan karena haidnya, sehingga hak istirahat ini tidak bersifat mutlak sehingga bagi pekerja perempuan yang akan menggunakan hak ini harus disertai surat keterangan dari dokter atau bidan. Sehubungan dengan hak ini, pengusahan berkewajiban untuk tidak 9 mempekerjakan pekerja perempuan pada hari pertama dan kedua waktu haid dan membayar upah penuh bagi pekerja perempuan yang menggunakan hak ini. 3. Cuti Hamil melahirkan dan Gugur Kandungan Untuk menjaga kesehatan dan keselamatan pekerja perempuan beserta anaknya, maka khusus pekerja perempuan mendapatkan cuti selama 1,5 (satu setengah) bulan dan 1,5 (satu setengah) bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter.

4.

Kesempatan

Menyusui

Anaknya

Menurut pasal 83 UU No.13 tahun 2003, pekerja perempuan yang masih menyusui harus diberi kesempatan sepatitnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan di wakt kerja. Ketentuan ini dimaksudkan untuk menjamin agar pekerja perempuan dapat memenuhi kewajibannya sebagai ibu untuk memberi ASI walaupun harus bekerja untuk membantu mencari nafkah bagi keluarganya. 5. Larangan Pemutusan Hubungan Kerja Bagi Pekerja Perempuan Karena Menikah, Hamil dan Melahirkan Pekerja perempuan yang karena menikah, hamil atau melahirkan dilindungi peraturan Menteri Tenaga Kerja, yaitu pengusaha dilarang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena ketiga hal di di atas. Apabila di suatu perusahaan ada pekerjaan yang tidak mungkin dilakukan perempuan hamil, maka harus dilakukan pengalihan pekerjaan kepada pekerja lain. Bila pengalihan kerja tidak dimungkinkan maka pengusaha wajib memberikan cuti di luar tanggungan perusahaan sampai waktu cuti hamil atu melahirkan dengan ketentuan jangka waktu cuti 7,5 bulan. Tenaga kerja perempuan yang sudah mendapatkan cuti hamil atau melahirkan,pengusaha wajib mempekerjakan wanita tersebut pada tempat dan jabatan 6. yang Penghapusan sama tanpa Diskriminasi mengurangi Terhadap hak-haknya. Perempuan

Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa 10 diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan. Bunyi pasal 5 UU No.13 tahun 2003 tersebut mencerminkan bahwa tidak ada perbedaan hak antara pria dan wanita untuk memperoleh pekerjaan. Disamping diatur dalam undang-undang, Pemerintah juga telah meratifikasi konvensi ILO Nomor 100 tentang pengupahan yang sama dalam pekerjaan yang sama nilainya bagi laki-laki dan perempuan. Konvensi yang kedua nomor 111 tentang Diskriminasi dalam pekerjaan dan jabatan , isinya antara lain memuat ketentuan-ketentuan tentang larangan segala bentuk diskriminasi

dalam pekerjaan berdasarkan ras, warna kulit, seks,agama,aliran politik dan sebagainya. Larangan diskriminasi ini termasuk kesempatan mengikuti pelatihan ketrampilan, memperoleh pekerjaan dan mematuhi syarat-syarat mendapatkan kondisi 7. Perlindungan Upah Bagi Pekerja kerja. Perempuan

Pada prinsipnya, upah yang diberikan kepada pekerja adalah sama dan berbentuk uang. Menurut Peraturan Pemerintah No.8 tahun 1981 disebutkan bahwa pengusaha dalam menetapkan upah, tidak boleh mengadakan diskriminasi antara pekerja / buruh laki-laki dan perempuan untuk pekerjaan yang sama nilainya. Yang dimaksud dengan tidak boleh mengadakan diskriminasi dalam pasal di atas adalah bahwa upah dan tunjangan-tungangan lainnya yang diterima oleh pekerja/buruh laki-laki harus sama besarnya dengan upah dan tunjangan lain-lain yang diterima pekerja/buruh perempuan.

Berbagai bentuk perlindungan kepada pekerja/buruh perempuan di atas, pada awalnya untuk melindungi pekerja perempuan dari kemungkinan eksploitasi yang dilakukan pengusaha untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, sehingga perlakuan terhadap pekerja perempuan lebih manusiawi. Disamping itu, perlindungan ini didasarkan pula bahwa secara kodrati pekerja perempuan memiliki kondisi fisiologi yang berbeda dengan pria. Dimana pekerja perempuan mempunyai fungsi reproduksi, sebagai salah satu fungsi sosial yang dimiliki kaum 11 perempuan yang akan berpengaruh pada kehidupan keluarga, masyarakat dan bernegara. Dengan berbagai aturan ini diharapkan fungsi reproduksi dapat berlangsung aman dan sehat, sehingga peran ganda yang dimiliki bisa berjalan dengan seimbang disamping menjadi pekerja yang lebih bermartabat. Kondisi Kelas Pekerja Amerika Yang Semakin Memburuk

Oleh 21 Januari 1999

Nick

Beams

Presiden Amerika Serikat Bill Clinton, dalam pidato di depan Detroit Economic Club pada awal bulan Januari 1999, menyambut baik berita mengenai penurunan pengangguran, dengan menyatakan bahwa keadaan ekonomi saat ini seperti "gelombang pasang naik yang sedang mengangkat semua kapal". Pernyataan ini merupakan sebuah referensi keklaim yang dibuat oleh Kennedy pada awal tahun 1960an, pada puncak ledakan ekonomi setelah Perang Dunia Kedua, ketika pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya keuntungan bisnis tampaknya, berjalan beriringan dengan majunya tingkat kehidupan untuk kelas pekerja dan keluargakeluarga kelas menengah. Dekade 1980an yang berkulminasi pada resesi di awal dekade ini, melihat suatu proses ekonomi berbeda mengungkapkan diri: keuntungan perusahaan yang bertambah, didampingi dengan jatuhnya upah nyata dan meningkatnya ketidaksamaan sosial. Tetapi, pada akhir resesi itu di tahun 1992, para pembela sistem profit mengatakan bahwa dengan penurunan mantap tingkat pengangguran dan dengan pengembangan "ekonomi baru", yang berdasarkan atas teknologi informasion dan komputerisasi, tingkat kehidupan akan mulai naik kembali. Sebuah laporan baru yang diterbitkan pada bulan ini mengungkapkan kebohongan dari skenario ini. Kondisi dari kelas pekerja Amerika selama 1998-99 12 (The State of Working America 1998-99), yang terakhir dari publikasi Institut Kebijaksanaan Ekonomi dalam seri dua tahunannya, menunjukkan bahwa tidak hanya kecenderungan-kecenderungan yang berkembang di tahun 1980an telah terus berlanjut, tetapi kejahatan sosial baru telah juga berkembang. Studi ini menemukan bahwa di samping peningkatan 2,6 persen upah nyata semenjak 1996, upah rata-rata adalah tetap di bawah tingkatnya pada tahun 1989,

dan keluarga-keluarga pada umumnya harus bekerja lebih banyak hanya untuk mempertahankan tingkat kehidupannya. Menurut pernyataan pers dari Institut Kebijaksanaan Ekonomi: "Dengan menempatkan pendapatan ekonomi yang terakhir dalam hubungan sejarahnya, studi ini menemukan bahwa standar hidup dari sebagian besar keluarga pekerja tetap belum pulih dari kondisi pada saat resesi di awal tahun 1990an, demikian halnya dengan upah mereka yang tidak mengikuti pertumbuhan produktivitas. Pertumbuhan pendapatan yang telah ditimbulkan di kalangan keluarga dengan pendapatan menengah, ternyata didorong kuat oleh bertambahnya jam kerja-bertambah 6 minggu setiap tahun sejak tahun 1989--untuk menutupi memburuknya upah dalam jangka panjang. Kenyataan ekonomi yang dihadapi keluarga-keluarga Amerika pada umumnya dalam tahun 1990an, menyangkut bertambahnya waktu kerja, menurunnya atau tidak berubahnya penghasilan, dan pekerjaan-pekerjaan yang tidak terjamin dan menawarkan keuntungan yang lebih kecil. "Kelompok-kelompok pekerja baru telah mengalami penurunan-penurunan upah pada tahun 1990an, termasuk sarjana-sarjana baru dan banyak, pekerja-pekerja teknologi informasi, dan karyawan-karyawan kantor (pekerja berkerah putih) lainnya. Pekerja wanita pada posisi menengah dan menengah atas dalam distribusi upah, yang upah nyatanya naik secara menyolok pada tahun 1980an, telah mengalami perlambatan kenaikan upah secara tajam pada tahun 1990an." 13 Kesimpulan-kesimpulan ini tercermin dalam sejumlah statistik. Penghasilan para pekerja yang telah disesuaikan dengan inflasi pada tahun 1997 adalah 3,1 persen lebih rendah dari tahun 1989. Dalam kurun waktu 1989-97, upah nyata turun lebih cepat untuk para pekerja (minus 0,4 persen per tahun) dibanding dalam kurun waktu 1979-89 (minus 0,2 persen per tahun). Upah dari pekerja pria pada tahun 1997 adalah 6,7 persen lebih rendah dari 1989, sementara upah pekerja wanita

tumbuh hanya 0,8 persen pada 1990an dibanding pertumbuhannya sebesar 5,7 persen pada dekade sebelumnya. Salah satu dari temuan yang sangat penting adalah mengenai upah pekerjaan tingkat permulaan. Antara tahun 1989 dan 1997, upah nyata per-jam untuk pekerjaan di posisi ini, turun 7,4 persen untuk pekerja pria dan 6,1 persen untuk wanita. Berlawanan dengan pandangan bahwa penurunan upah adalah hasil dari kurangnya kualifikasi, sarjana pria dengan 1 sampai 5 tahun pengalaman kerja upahnya turun 6,5 persen dan 7,4 persen untuk sarjana wanita. Dalam kurun waktu yang sama, gap antara upah dari pekerja rata-rata dan para pimpinan eksekutif (CEO), terus membesar. Pada tahun 1965, CEO pada umumnya mendapat penghasilan 20 kali lipat dari pekerja produksi pada umumnya, pada tahun 1989 perbandingan itu telah naik menjadi 56 kali lipat, lalu semakin menanjak pada tahun 1997 menjadi 116 kali lipat. Salah satu faktor dari pertumbuhan upah yang lambat adalah pertambahan dari keuntungan perusahaan pada tahun 1990an. Bila pertumbuhan keuntungan berjalan pada tingkat normal secara historis selama tahun 1990an, maka kompensasi per-jam (upah ditambah keuntungan) pada tahun 1997, dapat menjadi sekitar 7 persen lebih tinggi dari yang sebenarnya terjadi. Studi ini menemukan bahwa penghasilan total keluarga dipengaruhi oleh pertumbuhan yang lebih lambat dan lebih besarnya ketidaksamaan, dengan pendapatan keluarga pada tahun 1996 lebih rendah 1.000 dollar Amerika (lebih 14 rendah 2,3 persen) daripada di tahun 1989, puncak terakhir dari siklus bisnis sebelum resesi di awal 1990an. Tanpa pernah terjadi dalam sebuah siklus bisnis sebelumnya, studi itu mencatatkan, fase pemulihan berlangsung sedemikian lama tanpa penghasilan keluarga pada umumnya melebihi apa yang telah dicapai pada puncak sebelumnya.

"Keluarga-keluarga muda khususnya," studi itu melaporkan, "telah terpukul kuat oleh lambatnya pertumbuhan penghasilan keluarga dan melebarnya ketidaksamaan." Suatu studi antar generasi menunjukkan bahwa sejumlah keluarga muda belakangan ini mulai dengan pendapatan yang lebih rendah dan mendapat pertumbuhan penghasilan yang lebih rendah ketika mereka telah mencapai usia setengah baya. Walaupun dengan adanya ledakan bursa saham, keluarga kelas menengah pada umumnya telah berkurang kesejahteraannya mendekati 3 persen pada tahun 1997 dibanding pada tahun1989, dengan 10 persen yang terkaya memanen hampir 86 persen dari pertumbuhan nilai bursa saham semenjak 1989. Kekayaan total lebih terkonsentrasi pada kalangan atas daripada penghasilan, dengan ketidaksamaan yang makin memburuk di tahun 1990an. Menurut proyeksi yang dilakukan oleh studi itu, bagian kekayaan dari kalangan 1 persen paling atas dari populasi bertambah dari 37,4 persen di tahun 1989 menjadi 39,1 persen di tahun 1997. Dalam waktu yang sama, bagian kekayaan yang dimiliki oleh kalangan menengah yang sekitar seperlima dari populasi turun dari 4,8 persen menjadi 4,4 persen. Pada kenyataannya, setelah dilakukan penyesuaian untuk inflasi, strata menengah Amerika ini melihat kekayaannya turun 3 persen, secara utama disebabkan oleh bertambahnya kondisi berhutang. Pada bagian bawah dari skala, proporsi kalangan masyarakat dengan tingkat kesejahteraan nol atau minus (keluarga-keluarga yang memiliki hutang lebih dari yang mereka miliki) bertambah dari 15,5 persen menjadi 18,5 persen. 15 Angka kemiskinan juga meningkat pada kurun waktu 1990an. Angka kemiskinan 13,7 persen pada 1996 naik dari 12,8 persen di tahun 1989. Lebih dari satu dari lima anak-anak (20,5 persen) hidup dalam kemiskinan di tahun 1996, naik dari 19,6 persen di tahun 1989 dan 16,4 persen di tahun 1979. Angka kemiskinan

anak kulit hitam dan etnis hispanik adalah 39,9 persen dan 40,3 persen secara berturut-turut. Pada bagian lapangan pekerjaan, studi menemukan bahwa sementara angka pengangguran telah turun menjadi sekitar 4,5 persen, perubahan struktural dalam ekonomi telah meningkatkan ketidakamanan kerja dan menurunkan proporsi dari pekerjaan berjangka panjang. Proporsi pekerja yang bekerja dalam pekerjaan yang berjangka panjang (sekitar sedikitnya selama 10 tahun) menurun dari 41 persen di tahun 1979 menjadi 35,4 persen di tahun 1996. Sebagian besar dari penurunan dimulai semenjak akhir tahun 1980an. Pekerja-pekerja yang di-PHK mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, sepertiga dari yang yang diwawancarai masih tidak memiliki pekerjaan untuk 1 sampai 3 tahun setelah PHK. Mereka yang mendapatkan pekerjaan, menerima upah rata-rata 13 persen lebih rendah dari pekerjaan sebelumnya, sementara sekitar seperempat dari mereka tidak lagi menerima asuransi kesehatan yang diberikan oleh perusahaan. Pekerjaan makin lama makin menjadi tak menentu--hampir 30 persen dari bekerja dalam pekerjaan yang tak dapat digambarkan sebagai pekerjaan yang tetap. Proces ini dicerminkan dalam statistik yang lain yaitu: proporsi para pekerja yang bekerja melalui badanbadan bantuan sementara, meningkat dari 1,3 persen di tahun 1989 menjadi 2,4 persen di tahun 1997. Dalam beberapa cara, statistik yang paling dapat mengungkapkan, adalah statistik yang membuktikan kekeliruan klaim bahwa "ekonomi baru" sedang diciptakan untuk menyediakan akses pekerjaan dengan bayaran lebih tinggi untuk mereka yang sarjana dan memiliki kemampuan teknologi informasi. Studi menemukan kecenderungan upah karyawan kantor dan pekerja yang 16 berpendidikan sarjana tidak baik pada tahun 1990an."Hal ini secara khusus adalah nyata," studi itu mencatatkan, "untuk para pekerja pria dalam kurun waktu tahun 1989-97: upah untuk hampir tiap kelompok pekerjaan dari karyawan kantor tidak

berubah atau menurun; jaminan asuransi kesehatan tidak meluas; upah untuk pekerja berpendidikan sarjana naik hanya 1,2 persen; dan besarnya upah premi perguruan tinggi atau sekolah menengah bertahan tetap semasa kurun waktu pemulihan antara tahun 1992 dan 1997. Luar biasanya, upah pekerjaan tingkat permulaan yang didapat oleh sarjana-sarjana baru, pria maupun wanita pada tahun 1997, adalah 7 persen lebih rendah dari tahun 1989. Bahkan mereka yang disebut sebagai pekerja teknologi informasi belumlah mendapatkan kemajuan yang memuaskan. Sebagai contoh: rekayasawan dan ilmuwan yang baru dipekerjakan mendapatkan pertumbuhan sebesar sebesar 11 persen dan 8 persen lebih rendah di tahun 1997 dibanding sesama kalangannya pada tahun 1989, meskipun dengan pertumbuhan upah yang baik dalam kurun waktu 1996-97. Para penyusun laporan studi ini menunjukkan pada bagian pengantar dari laporan mereka: "Kecenderungan-kecenderungan ini tidak sesuai dengan cerita bahwa teknologi informasi melakukan transformasi penempatan pekerjaan, memberikan peluang bagi mereka yang diperlengkapi untuk berpartisipasi dan menikmati desejahteraan sementara mereka yang kurang memiliki ketrampilan tertinggal di belakang. Sebaliknya, tampaknya pengalaman karyawan kantor pada tahun 1990an--penurunan upah, perubahan tempat, ketidaktetapan kerja-mencerminkan pengalaman yang tidak menyenangkan dari pekerja berkerah biru (pekerja kasar) di tahun 1980an. "Fenomena ini dapat digambarkan sebagai 'pengkerahbiruan' ('blue collarization') atas kehidupan kerja dari karyawan kantor pada 1990an. Bagaimanakah ekonomi era informasi yang baru ini dapat diharapkan untuk mengangkat seluruh upah kami, jika ekonomi tersebut tidak dapat melakukannya untuk karyawan kantor, sarjana baru yang bekerja dalam pekerjaan-pekerjaan 17 teknik, yang dapat dianggap sebagai kalangan yang berpendidikan terbaik, paling mengerti komputer, dan segmen paling fleksibel dari tenaga kerja kita?"

18 BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan Industri seks merupakan percetakan terbesar dibandingkan bisnis senjata dan narkoba, lebih mudah dijalankan dan tanpa resiko. Sebagai contoh: keuntungan tahunan dari industri seks di Jepang pertengahan tahun 1990-an adalah sekitar 4,2 juta triliunyen, di Indonesia diperkirakan 0,8 dan 2,4 % dari gross domestic product.Mereka yang mendapat keuntungan adalah juga para dokter dan pengusaha farmasi, karena pelacuran terkait dengan masalah aborsi dan pengobatan penyakit menular kelamin, perdagangan, pembelian dan penjualan perempuan untuk pelacuran merupakan perdagangan meluas yang dikelola oleh jaringan raksasa. Istilah narkoba itu sebenarnya muncul didalam masyarakat untuk mempeermudah mengingat. Ingat yang diartikan sebagai narkotika dan obat berbahaya /terlarang secara umum sebenarnya narkoba adalah singkatan narkotika dan bahan berbahaya. Bahan berbahaya ini juga termasuk didalamnya zatkimia, linbah beracun peptisida atau lainnya. Pendidikan memiliki peranan strategis menyiapkan generasi berkualitas untuk kepentingan masa depan. Pendidikan dijadikan sebagai institusi utama para pencandunya terdalam upaya pembentuk sumber daya manusia berkualitas yang diharapkan suatu bangsa. Pendidikan terkait dengan ekstensi dan kelangsungan hidup kebudayaan suatu bangsa. Pada tulisan edisi april, disinggung sedikit masalah kondisi perempuan Indonesia khususnya kaum pekerja. Dimana mereka sebagian besar masih 19

menempati sektor sektor yang rendah pendidikan, rendah ketrampilan sehingga berimplikasi pada rendah upah

B.

Saran Diharapkan mahasiswa semester 2 dapat memahami makalah tentang PSK, Drug Abuse, Pendidikan dan Upah

20

DAFTAR PUSTAKA

Jakarta : Pendidikan Buletin

http: //www.disnakertrans jateng .go.id /

buletin.php?xicix = detail buletin 8-id buletin =6 http: //id. Wikipedia. Org /wiki /pelacuran Jalal, Fasip. 2005. Suara Pendidikan 2005.

Willy, Heriadi. 2005. Berantas Narkoba tidak

Cukup Hanya Bicara. Yogyakarta. Kedaulatan Rakyat Brown, Louise. 2005. Sex Staves Serikat

Perdagangan Perempuan di Asia. Jakarta: Yayasan Obat Indonesia Anzizhan, Syafaruddin. 2004. Sistem Pengambialn

Keputusan Pendidikan. Jakarta : Grasindo