Anda di halaman 1dari 2

I.

KESIMPULAN Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan pada dewasa muda, dengan konsekuensi mulai dari cacat fisik jangka panjang, gangguan kognitif, psikologis dan sosial. Salah satu dampak dari cedera kepala yaitu disfungsi hipotalamus-hipofisis. Cedera kepala yang mengakibatkan disfungsi pada hipotalamus hingga kelenjar pituitari posterior berdampak pada gangguan hormon yang dapat mengakibatkan suatu kondisi yang disebut dengan Diabetes insipidus. Diabetes insipidus (DI) merupakan suatu kondisi kronik dimana terjadi peningkatan rasa haus dan peningkatan kuantitas urin dengan berat jenis yang rendah. Kondisi ini merupakan manifestasi klinis dari defisiensi antidiuretic hormone (ADH) atau merupakan kondisi klinis akibat dari ketidak pekaan tubulus ginjal terhadap ADH. Penyebab DI dapat karena penyebab sentral (neurogenik) yang menyebabkan penurunan produksi ADH maupun kelainan ginjal (nefrogenik) yang menyebabkan ginjal kurang peka terhadap ADH, serta idiopatik. Gejala klinis khas diabetes insipidus yaitu poliuri dan polidipsi, gejala lainnya dapat berupa dehidrasi, hipertermia, nyeri kepala, lemah dan lesu, nyeri otot, hipotermia dan takikardia. Gejala dan tanda lain tergantung pada lesi primer. Diagnosis ditegakkan dengan anamnesa dan pemeriksaan penunjang (laboratorium: darah, urinalisis fisis dan kimia), fluid deprivation test (tes kehilangan cairan), radioimunoassay untuk vasopresin, rontgen kranium, dan MRI. Pada DIS yang komplit, terapi hormon pengganti (hormonal replacement) yaitu desmopressin atau DDAVP (1-desamino-8-darginine vasopressin) merupakan pilihan utama. Selain terapi hormon pengganti, bisa juga digunakan terapi adjuvant yang mengatur keseimbangan air, seperti: diuretik tiazid, klorpropamid, klofibrat, karbamazepin. Komplikasi DI dapat berupa dehidrasi berat dan ketidakseimbangan elektrolit, yaitu hiperatremia dan hipokalemia yang dapat berdampak pada gagal jantung kongesti. Untuk mencegah dehidrasi, penderita harus selalu minum cairan dalam jumlah yang cukup ketika mereka merasa haus. DI jarang mengancam jiwa, namun Di dengan komplikasi jika tidak ditangani secara cepat dan tepat maka dapat memberikan prognosis yang buruk. Penderita dengan DI tanpa komplikasi dapat hidup selama bertahun-tahun dengan kesulitan polyuri dan

polidipsi sepanjang mereka memiliki mekanisme haus yang utuh dan mendapatkan air dengan bebas.